Anda di halaman 1dari 76

ISBN: 979-3149-48-5

INVENTARISASI DATA DASAR SURVEI SUMBERDAYA ALAM PESISIR DAN LAUT

SUMBERDAYA IKAN KARANG KEPULAUAN KANGEAN - SUMENEP MADURA JAWA TIMUR

PUSAT SURVEI SUMBERDAYA ALAM LAUT BADAN KOORDINASI SURVEI DAN PEMETAAN NASIONAL (BAKOSURTANAL) 2003
Jl. Raya Jakarta Bogor Km.46 Cibinong, Jawa Barat 16911 Telp. (021) 8752063, 8759481. Fax. (021) 8759481. Telex : 48305 BAKOST IA Box 46 CBI CIBINONG

TIM PENYUSUN INVENTARISASI DATA DASAR SURVEI SUMBERDAYA ALAM PESISIR DAN LAUT

SUMBERDAYA IKAN KARANG KEP. KANGEAN - MADURA JAWA TIMUR


TIM PENGARAH DAN NARASUMBER Ketua Anggota : Dr. Aris Poniman (Deputi Survei Dasar dan Sumberdaya Alam) : Drs. Suwahyuono, MSc (Kepala Pusat Survei Sumberdaya Alam Laut) Ir. Badrudin, MSc., APU. (BRPL, Departemen Kelautan dan Perikaan) Drs. Suprajaka, MTP (Pemimpinn Proyek INEV-SDAL) Drs. A.B Suriadi M.A, MSc (KaBid. Inventarisasi Sumberdaya Alam Laut) Drs. Yudi Siswantoro, MSi ( PJTU Inventarisasi Data Dasar SDA Pesisir dan Laut) TIM PELAKSANA ; Ketua (merangkap anggota ) : Drs. Yudi Siswantoro, MSi (PJTU Inventarisasi Data Dasar SDA Pesisir dan Laut) Anggota : 1. Drs. Isa Nagib Edrus, M.Sc (Analis Ikan Karang) 2. Imam Suprihanto, S.Si (Analis Terumbu Karang) 3. Ir. Hari Suryanto (Analis Tanah) 4. Drs. Turmudi, MSi (Analis Geomorfologi) 5. Yusuf Effendi (Analis, Operator SIG) 6. Masduki (Analis, Operator SIG) 7. Dedy Mukhtar (Analis, Operator SIG) 8. Abdul Jamil (Analis, Operator SIG) 9. Aswelly (Administrasi, Operator SIG) PENULIS : !" Drs. Yudi Siswantoro, M.Si !" Drs. Isa Nagib Edrus, M.Sc !" Imam Suprihanto, SSi PENYUNTING : !" Drs. Suwahyuono, M.Sc !" Drs. A.B Suriadi M.A, M.Sc Desain Sampul : Yudi Siswantoro

TIM TEKNIS:

KATA PENGANTAR

Ucapan terima kasih dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT dengan telah dilaksanakannya Penyusunan Inventarisasi Data Dasar Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut untuk tema Sumberdaya Ikan Karang. Kegiatan Inventarisasi Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut untuk Sumberdaya Ikan Karang di Kepulauan Kangean merupakan sebagian dari Kegiatan Pusat Survei Sumberdaya Alam di wilayah ALKI II. Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan survei terintegrasi dari tiga bidang untuk kegiatan Sumberdaya Pesisir dan Laut yaitu; Bidang Inventarisasi, Bidang Neraca Sumberdaya Alam, serta Bidang Basisdata yang merupakan uji aplikasi Pedoman dari Norma Pedoman Prosedur Standard dan Spesifikasi (NPPSS). Dari hasil Inventarisasi Sumberdaya Ikan Karang ini diharapkan diperoleh pengkayaan untuk penyusunan Spesifikasi Teknis khususnya spesifikasi teknis sumberdaya ikan karang, yang merupakan bagian dari NPPSS. Buku ini disusun atas dukungan penuh dari Proyek Inventarisasi dan Evaluasi Sumberdaya Nasional Matra Laut (INEV-SNML) BAKOSURTANAL pada tahun anggaran 2003. Ucapan terima kasih disampaikan kepada beberapa pihak, yang telah turut membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan ini yaitu : 1. Pimpinan BAKOSURTANAL, yang telah mempercayakan pelaksanaan serta mendukung kegiatan ini. 2. Pimpinan beserta staf Proyek INEV-SNML BAKOSURTANAL, yang membantu dan mendukung seluruh pembiayaan dari kegiatan ini 3. Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Timur, atas kerjasama dan bantuannya demi kelancaran kegiatan. 4. Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, atas kerjasama dan bantuannya untuk koordinasi dengan instansi di daerah sehingga kegiatan ini dapat berjalan lancar. 5. Instansi sektoral, Tim Penyusun Sektoral, dan Narasumber, atas kerjasama dan bantuannya sehingga pelaksanaan kegiatan ini dapat selesai sesuai dengan yang diharapkan 6. Seluruh tim pelaksana di BAKOSURTANAL, atas kerjasama dan dukungan penuh sehingga peyusunan kegiatan ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang diharapkan. 7. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan ini.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

Penyusun menyadari bahwa pelaksanaan kegiatan dan penyusunan buku ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu masukan dan kritikan serta saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan di masa mendatang. Cibinong, Desember 2003 Pusat Survei Sumberdaya Alam Laut Kepala,

Drs. Suwahyuono, M.Sc. 370 000 135

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

ii

ABSTRAK

Inventarisasi Data Dasar Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut merupakan kegiatan yang sangat diperlukan, dan dibutuhkan guna ketersediaan data bagi perencanaan daerah, terutama wilayah yag sangat komplek, beragam dan saling berkaitan seperti wilayah pesisir dengan laut. Ikan Karang merupakan jenis ikan yang spesifik dan hidup di wilayah sekitar terumbu karang. Meningkatnya eksploitasi terumbu karang dan penangkapan ikan karang yang tidak ramah lingkungan, menyebabkan kerusakan yang semakin meluas, terutama lingkungani wilayah dimana ikan karang hidup, yaitu terumbu karang. Dikhawatirkan perubahan dan perusakan ekosistem ini akan mempengaruhi ekologi wilayah terumbu karang, yang secara tidak langsung akan mempengaruhi keadaan sosial ekonomi masyarakat sekitarnya dan menurunkan asset daerah di bidang perikanan tangkap dan ikan hias. Ketersediaan data yang akurat dan up to date, terutama di wilayah habitat ikan karang yang tersebar luas di wilayah timur Jawa Timur ini sangat diperlukan, guna perencanaan pengembangan wilayah, terutama wilayah yang memiliki potensi sumberdaya ikan karang agar dapat dipantau dan diawasi perkembangannya. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah melaksanakan inventarisasi data dasar sumberdaya alam wilayah pesisir dan laut, terutama sumberdaya Ikan Karang, yang akan digunakan sebagai data dasar bagi berbagai kepentingan di wilayah pesisir dan laut agar sesuai dengan potensi yang dimiliki. Metodologi yang diterapkan dalam penelitian ini berdasarkan aplikasi inderaja dan SIG, yang akan menghasilkan peta digital skala 1:250.000 dan skala 1:50.000 dengan tema Ikan Karang. Jenis citra yang digunakan yaitu Citra Landsat TM7, dengan dibantu berbagai peta dari BAKOSURTANAL seperti peta Rupabumi, LPI, LLN dan RePProT dari berbagai skala, serta survei lapang berupa penyelaman di beberapa titik sampel guna membantu dalam pembuatan petanya.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Maksud dan Tujuan 1.3. Sasaran 1.4. Peralatan 1.5. Tahapan Kegiatan 1.6. Outline Penulisan Hasil Kegiatan GAMBARAN UMUM TERUMBU KARANG DAN IKAN KARANG 2.1. Gambaran Umum Terum,bu Karang dan Lingkungannya 2.2. Status Terumbu Karang Secara Umum 2.3. Satus Terumbu Karang di Indonesia 2.4. Pemulihan Terumbu Karang dan Rehabilitasinya 2.5. Pemulihan Organisma Indikator dalam Monitoring Terumbu Karang 2.6. Ekologi Ikan Karang 2.6.1. Jaringan Makanan dan Cara makan 2.6.2. Keanekaragaman Ikan Karang 2.6.3. Interaksi Sosial 2.6.4. Simbiosis Mutualisme 2.6.5. Penyerupaan dan Mimicry METODOLOGI 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian 3.2. Metoda 3.3. Alat dan Bahan 3.4. Analisa Data

i iii iv vi vi 1 1 3 3 4 5 6 8 8 12 13 15 16 18 18 22 26 27 28 31 31 32 32 33

II

III

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

iv

IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Komunitas Ikan Karang 4.1.1. Keanekaragaman Ikan karang 4.1.2. Pengelompokan Ikan Karang 4.1.3. Ikan Indikator dan Indeks IRDI 4.1.4. Ikan Sebagai Sumberdaya yang Bernilai Ekonomis 4.2 Pemetaan Ikan Karang

36 36 36 40 42 44 46 53 55 60

KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Tabel 2.

Jumlah jenis ikan di berbagai terumbu karang Gambaran umum lokasi transek pada setiap stasiun

Tabel 3

Kondisi ikan karang di Pulau-Pulau Kangean, Sumenep Madura, menurut stasiun penelitian

Tabel 4.

Kebiasaan makan Chaetodontidae

Tabel 5. Tabel 6.

Sebaran dan LuasTerumbu Karang Skala 1:50.000 Daftar Titik Sampel Penelitian Ikan karang dan Terumbu Karang di Kepulauan Kengean

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.
Gambar 2. Gambar 3 Gambar 4. Gambar 5.

Hubungan tropik pada ikan-ikan terumbu karang


Wilayah penelitian inventarisasi sumberdaya ikan karang Titik Sampel Wilayah Penelitian Skala 1:50.000 sheet 1708-07 Titik Sampel Wilayah Penelitian Skala 1:50.000 sheet 1709-01 Titik Sampel Wilayah Penelitian Skala 1:50.000 sheet 1808-01.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

vi

INVENTARISASI SUMBERDAYA IKAN KARANG DI PULAU MADURA KEP. KANGEAN SUMENEP MADURA BAB I PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang Pulau-pulau Kangean yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Sumenep, Madura, menyimpan aneka potensi pesisir dan kelautan yang dapat diekploitasi dari tiga ekosistem utama, seperti terumbu karang, padang lamun, dan mangrove. Sumberdaya terumbu karang Pulau-pulau di Kangean memberikan kontribusi yang cukup besar bagi sektor perikanan di Jawa Timur, sama halnya dengan kontribusi Kepulauan Seribu pada perikanan di Jawa Barat./ DKI Jakarta. Komoditas yang menarik dari terumbu karang di Madura antara lain adalah ikan kerapu, lobster, teripang, rumput laut, ikan hias, kekerangan, kerang mutiara, dan kepiting. Usaha perikanan yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir ditambah managemen lingkungan yang buruk, seperti penangkapan ikan dengan racun dan bahan peledak, menyebabkan tekanan yang besar atas terumbu karang di Kangen (Effendi 2003). Karena ikan karang mempunyai afinitas yang kuat atas habitatnya di area terumbu karang, kegiatan penangkapan yang ilegal ini akan menjadi ancaman pada eksistensi ikan karang di Kangean. Sebagaimana telah terbukti di perairan lain bahwa kerusakan terumbu karang telah membawa dampak negatif atas sumberdaya karang. Kerusakan terumbu karang di Bali menyebabkan penurunan produksi lobster, dari 78,3 ton pada 1978 menjadi 21 ton pada tahun 1985, dan juga menyebabkan penurunan hasil tangkapan muroami di pulau-pulau Seribu Teluk Jakarta, dari 68,1 ton pada tahun 1970 menjadi 35,2 ton pada tahun 1981 (Subani, 1987). Selain tingkat produktivitas atau hasil tangkapan ikan tersebut, indikator yang lebih spesifik digunakan dalam menilai kerusakan terumbu karang adalah persen tutupan karang batu. Namum demikian karena ikan karang selalu memberikan respon yang baik dan cepat
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

terhadap perubahan-perubahan lingkungan, seorang evaluator sering pula menggunakan jenis ikan karang tertentu sebagai indikator kerusakan perairan karang, walaupun dia bukan tergolong specialist (Nash, 1989). Beberapa indikator ini sebenarnya merupakan pertanda (warning) penting yang justru kurang mendapat respon posistif dari aparat terkait di daerah, sehingga usaha-usaha inventarisasi sumberdaya selalu terlambat dilakukan setelah kerusakan berat terjadi di suatu perairan karang. Dengan kata lain, usaha pengelolaan sumberdaya perairan karang selalu tidak didukung oleh ketersediaan informasi yang cukup. Adapun inventarisasi ikan-ikan karang bukan saja strategis dalam hubungannya dengan monitoring kemunduran mutu lingkungan perairan terumbu karang, tetapi juga strategis untuk mendukung usaha-usaha pengelolaan sumberdaya karang. Sebab kurangnya informasi tentang kondisi perairan pulau-pulau kecil di setiap wilayah turut menambah peningkatan masalah yang sudah ada, seperti tidak adanya pola pengelolaan yang spesifik dan buruknya managemen lingkungan yang ditandai oleh lemahnya sistem hukum dan kelembagaan kelautan serta lemahnya koordinasi antara unsur terkait. Perhatian atas meningkatnya masalah lingkungan dan implikasi jangka panjangnya sehubungan dengan hilangnya berbagai sumberdaya karang terus berkembang. Wilayahwilayah yang berpotensial mengalami degradasi terus dimonitoring dan dipetakan. Beberapa ahli telah membagi berbagai pola pengelolaan berdasarkan teori ekologis, yang hasil dari studi lapangannya seringkali merupakan langkah awal untuk mengelola wilayah karang. Namun saat ini, cara-cara yang praktis untuk mewujudkan pola-pola pengelolaan wilayah terumbu karang masih langka. Hanya sedikit sekali wilayah-wilayah terumbu karang di dunia dan bahkan hampir tidak ada di Asia Tenggara secara efektif diproteksi dan dimonitor secara berkala. Bahkan pada wilayah dengan proteksi resmi, dalam beberapa kasus yang ada, managemen di lapangannya belum betul-betul efektif (White, 1987). Dengan alasan yang sama, dapat kita duga bahwa mengapa sebagian besar wilayah karang di banyak tempat telah mengalami degradasi sumberdaya. Sejauh mana hal ini terjadi di perairan terumbu karang Kangean dapat diketahui melalui usaha inventarisasi sumberdaya, dan yang terpenting dari itu semua adalah sifat kondisional komunitas ikan karang selayaknya dapat tercermin melalui format desimanasi yang representatif untuk berbagai kepentingan melalui analisa keruangan dengan menggunakan Geographical Information System (GIS).
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

Pada satu sisi, kerusakan area karang dapat mempengaruhi komunitas ikan karang. Dalam hal ini timbul pertanyaan bahwa berapa besar jenis yang hadir dan jenis apa saja yang hilang dari lingkungan karang di lokasi tersebut. Indeks-indeks ekologis keragaman, kekayaan dan keseimbangan populasi ikan karang, yang dapat digunakan sebagai bench mark bagi wilayah kajian yang lain atau sebagai atribut GIS, dapat memperbandingan satu area karang dengan area karang yang lain. Pada sisi yang lain, jumlah jenis dan individu dari populasi ikan tertentu, seperti ikan kepe-kepe (Chaetodontidae), dapat menjadi petunjuk kesehatan dan keragaman karang. Penelitian ini terfokus pada analisis ke dua masalah ini, sementara pola penyajian hasilnya dimaksudkan untuk memberikan satu pembelajaran dalam standarisasi format teknis survei kelautan dan pelaporan, yang dengannya usahausaha pemetaan sumberdaya pesisir dalam kaitannya dengan GIS dapat diseragamkan secara nasional dan dapat menjadi acuan bagi daerah-daerah yang memiliki tujuan yang sama. 1.2. Maksud dan Tujuan Maksud kegiatan ini adalah melakukan inventarisasi dan pemetaan ikan karang di P. Madura - Kepulauan Kangean. Tujuan kegiatan ini secara umum adalah untuk menggali potensi sumberdaya hayati ikan karang guna memenuhi kebutuhan informasi dan data yang cukup berkualitas sesuai dengan prosedur guna penyusunan Norma, Prosedur, Pedoman, Standar dan Spesifikasi (NPPSS), sedangkan tujuan utamanya adalah untuk menguji coba penerapan Pedoman Inventarisasi dan pemetaan ikan karang. 1.3. Sasaran Sasaran dari penelitian ini adalah : - Interpretasi citra untuk mengetahui sebaran ikan karang - Melakukan survei lapang untuk mengecek hasil interpretasi dan identifikasi kondisi terumbu karang secara in situ - Sebagai masukan perbaikan Pedoman inventarisasi Sedangkan sasaran dari kegiatan ini secara lebih spesifik adalah untuk menginvetarisasi ikan karang (coral fishes) dan mengetahui kondisi kesehatan karang yang secara tidak langsung saling berkaitan dengan keberadaan ikan indikator.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

1.4. Peralatan 1.4.1. Peralatan Pemetaan Digital Peralatan pemetaan digital untuk kegiatan ini berupa Software dan peralatan hardware. Software yang digunakan untuk analisis citra yaitu : 1. Software ER Mapper 5.5 Software ini digunakan untuk menganalisa citra Landsat ETM-7, untuk melihat kenampakan wilayah atau tutupan terumbu karang yang ada. 2. Arc info, dan Arc View digunakan untuk proses digitasi, analisa sampai pembuatan format kartografi guna plotting atau cetak ke hard copy. Adapun peralatan hardware yang digunakan untuk pemetaan digital ini diantaraya : 1. Komputer untuk digitasi dan analis citra/digital, dan Komputer Administrasi 2. Printer dan Plotter 1.4.2. Peralatan Lapangan Dalam mempersiapkan pengambilan data terumbu karang di perairan Kepulauan Kangean diperlukan bahan dan peralatan pendukung yang antara lain : a. Peralatan, - SCUBA Equipment (Tabung selam, Bouyancy Conpensator Device/BCD, Regulator, Fins, Booties, Masker dan snorkel, Wetsuits, Timah pemberat) - High Pressure Compressor - Kapal Motor berukuran sedang (7 ton) - Underwater Camera photo dan Underwater Camera video - Alat tulis bawah air - Roll meter, untuk transek di bawah air - Buku identifikasi karang dan ikan karang - Tas sampel - Sechi disk - Water Checker - Current meter - GPS untuk pengukuran koordinat titik kontrol guna mengetahui posisi titik sample atau posisi lokasi pembuatan training area di lapangan

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

b. Bahan, - Film negatif, video film, Alkohol, formalin, Gasoline/Bensin Selain peralatan di atas, untuk kelancaran dan memudahkan kegiatan diperlukan alat transportasi kendaraan darat seperti mobil dan motor 1.5. Tahapan Kegiatan Kegiatan untuk penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan yang harus dilaksanakan, tahapan tersebut diantaranya meliputi : 1.5.1. Persiapan Sebelum pelaksanaan kegiatan diperlukan persiapan-persiapan agar kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan maksud/tujuan kegiatan. Pada tahap ini dilakukan pra survei di wilayah yang akan diteliti, yang dilaksanakan oleh ketua tim disertai oleh penanggung jawab kegiatan. Adapun persiapan yang diperlukan diantaranya adalah persiapan administrasi berupa perijinan untuk melakukan kegiatan dan pemetaan terumbu karang, rute dan jadwal kapal, transportasi menuju wilayah kegiatan / penelitian, serta literatur pendukung. Pada tahap ini ditentukan kapan waktu pelaksanaan kerja lapang yang sebaiknya dilaksanakan, karena dalam pelaksanaan survei ini dilakukan di laut/perairan yang sangat tergantung oleh cuaca. 1.5.2. Tahap Pra Lapangan Pada tahap ini dilakukan interpretasi citra wilayah kegiatan, citra yang digunakan yaitu citra Landsat ETM-7. Dengan diketahuinya habitat terumbu karang dapat diperoleh gambaran sementara habitat ikan karang dan wilayah yang perlu di survei lapang atau diambil sampelnya untuk acuan atau guidence bagi wilayah lainnya yang serupa sehingga identifikasi data di lapangan tidak perlu dilakukan pada seluruh wilayah penelitian. Selain interpretasi citra dilakukan pula penentuan rute atau jalan yang akan dilalui guna kelancaran kegiatan, base camp, serta peralatan dan kendaraan yang akan digunakan.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

1.5.3. Tahap Kerja Lapang Pelaksanaan kerja lapang dilakukan setelah semua kegiatan persiapan selesai dilaksanakan. Pada tahap ini tiga bahan yang paling penting untuk kelengkapan survei lapangan adalah: !" Peta tentative yang akan di cek (di lapangan) !" Peta Rupabumi untuk memandu perjalanan lapangan !" Citra Inderaja hasil interpretasi (hard-copy) yang akan digunakan untuk cek lapang. Pada tahap kerja lapang yang perlu dilakukan diantaranya : a. Pembuatan Titik Sampel Lapangan b. Penentuan stasiun pengamatan (pengambilan contoh/pengamatan in situ) c. Prosedur pengamatan (pengambilan contoh) 1.5.4. Tahap Paska Lapangan Setelah melaksanakan survei lapang perlu tahap paska lapangan yang terdiri dari: #" re-interpretasi guna mengetahui dan memperbaiki kesalahan hasil interpretasi awal, sehingga diperoleh hasil sesuai dengan kenyataan pada titik sample di lapang. #" Digitasi peta tematik berdasarkan hasil re-interpretasi yang telah diperbaiki #" Analisa hasil 1.6. Outline Penulisan Hasil Kegiatan Penulisan hasil kegiatan ini disusun menjadi lima bab, yaitu: Bab 1. Pendahuluan. Menjelaskan latar belakang kegiatan Inventarisasi Data Dasar Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut untuk sumberdaya ikan karang di sebagian P. Madura dan kepulauan Kangean, maksud dan tujuan, kerangka konseptual, sasaran daerah penelitian beserta ruang lingkupnya. Tujuan dari Bab ini adalah agar dapat memahami latar belakang dan tujuan dari kegiatan ini.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

Bab 2. Gambaran Umum Ikan Karang dan Terumbu karang Berisi gambaran umum tentang ikan karang dan terumbu karang. Dengan memberikan gambaran umum tentang hubungan antara ikan karang dan terumbu karang ini diharapkan pembaca dapat memahami keterkaitan antara berbagai faktor fisik dengan kondisi ikan karang di pesisir wilayah Madura Kangean, Jawa Timur. Bab 3. Metoda Bab ini menerangkan data dan peralatan beserta metode yang digunakan untuk kegiatan ini. Metode pemetaan ikan karang dijelaskan tahap demi tahap, beserta bagan alirnya. Dengan memaparkan metodologi dari kegiatan ini, diharapkan pembaca dapat memahami bagaimana peta ini dibuat, spesifikasi yang digunakan untuk pembatasan pemetaan sumberdaya ikan karang serta sumber data yang digunakan. Bab 4. Hasil dan Pembahasan Bab ini menyajikan penjelasan tentang hasil akhir Peta Sumberdaya Ikan Karang wilayah pesisir beserta analisanya. Analisa Peta Sumberdaya Ikan Karang mencakup penyebaran ikan karang, jenis, kelimpahan serta dominansi dari ikan karang di wilayah penelitian. Bab 5. Kesimpulan dan Saran Bab ini menyajikan pokok-pokok kesimpulan dari rangkaian pemetaan Ikan Karang di wilayah pesisir Madura dan Kangean serta beberapa saran untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

BAB II GAMBARAN UMUM TERUMBU KARANG DAN IKAN KARANG


2.1. Terumbu karang dan lingkungannya Terumbu karang adalah suatu ekosistem yang memiliki keanekaragaman hayati laut dan produktivias yang tinggi dan merupakan sumberdaya yang bernilai ekonomis bagi orang-orang yang tinggal di sekitarnya dan sering pula sebagai sumber utama untuk ruang hidup, makanan, dan pendapatan bagi mereka yang tinggal dekat terumbu karang (Wilkinson and Buddemeier, 1994; Grassle et al. 1990). Terumbu karang terbentuk dalam batasan-batasan yang terdifinisikan dengan baik dari lingkungan fisik. Karang ditemukan di daerah tropis dan subtrofis pada kedalaman kurang dari 100 meter. Batimetri, suhu, cahaya, sifat-sifat air, arus laut dan sejarah perubahan-perubahan pada permukaan laut semuanya memberikan andil dalam menentukan distribusi, komposisi dan keragaman dari ekosistem terumbu karang (Achituv and Dubinsky, 1990; Kleypas, 1997, as cited by Lough, 1998). Komunitas terumbu karang hidup tumbuh secara kontinyu melampaui struktur komposit kalsium karbonat dari karang sebelumnya dan membangun karang batu dan ganggang coralline, seperti Halimeda (ganggang hijau) dan Lithothamnion (ganggang merah). Coral dan ganggang ini membangun sejumlah besar unsur kalsium karbonat dalam skeleton-skeletonnya (rangkanya), dan ini adalah bahan-bahan yang membentuk struktur geologis dari terumbu karang. Penumpukkan yang kontinyu membuat suatu karang tumbuh dan selalu mempertahankan posisi tumbuhnya terhadap kenaikan permukaan laut. Koral pembangun karang semuanya bergabung dalam membentuk satu sifat penting. Sel-sel ganggang mikroskopik (Zooxanthellae) yang bersimbiose dengan koral dapat hidup dalam jaringan karang dan menyediakan dengan banyak sekali kebutuhan-kebutuhan makanan bagi koral melalui kemampuannya dalam fotosintesa. Hubungan simbiotik ini dapat dibayangkan sebagai suatu mikrokosmos dalam komunitas karang, di mana ganggang yang mampu bersimbiotik menyediakan bahan orgaik yang membentuk basis dari rantai makanan dalam komunitas (Wilkinson and Buddemeier, 1994).

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

Terumbu karang adalah ekosistem yang dinamis dan terintegrasi dengan bahan penyusun mineral yang disumbangkan oleh hewan dan tanaman. Karena adanya unsur-unsur seperti ini terumbu karang menjadi suatu ekosistem dengan keragaman dan kompleksitas yang tinggi. Kondisi seputar lingkungan yang ada juga dapat membuat terumbu karang menjadi rapuh dan cepat rusak, karena karang tumbuh dengan baik didekat permukaan air laut yang hangat dan dekat dengan batas-batas daratan. Karenanya perubahan-perubahan dalam kondisi lingkungan di laut, udara atau daratan yang berinteraksi dengan laut adalah memungkinkan untuk mempengaruhi kehidupan ekosistem karang. (Smith and Buddemeier, 1992; Wilkinson and Buddemeier, 1994). Menurut Wilkinson and Buddemeier (1994), pertumbuhan dan fungsi terumbu karang adalah terbaik di bawah kondisi umum seperti di bawah ini: 1 2 3 4 5 6 Suhu air dalam kisaran optimum antara 23 30 C; Iradiasi matahari konstan, laut yang jernih di lintang tropis. Tingkat sedimentasi yang rendah; Rendahnya konsentrasi unsur nutrien organik dan inorganik; Kisaran salinits antara 25 sampai 40 ppt; dan Terlindung dari tingkat radiasi UV-B yang berlebihan.

Sementara, faktor-faktor lingkungan kunci yang memainkan peranan dalam mengontrol kesehatan terumbu karang didiskusikan di bawah ini. #" Cahaya Cahaya adalah penting untuk perawatan dan pertumbuhan karang keras dan sebagian besar jenis-jenis lain yang hidup dalam ekosistem terumbu karang, dan terutama sekali untuk kepentingan produksi primer yang mendukung keseluruhan komponen ekosistem. Tetapi, tidak semua cahaya/sinar menguntungkan. Pada umumnya, radiasi matahari yang tak tampak seperti ultraviolet adalah merugikan bagi organisma hidup. Menurut panjang gelombang dari radiasi matahari yang tak tampak, sinar tersebut dibagi menjadi tiga band ultraviolet, yakni UV-C (200-280nm); UV-B (280-320nm) and UV-A (320-400nm). Sinar UV-B dan sinar dengan panjang gelombang yang terpendek dari UV-A dapat merusak DNA

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

secara fisikologis. Sementara UV secara potensial memiliki daya perusak yang besar, tetapi UV tidak dapat melewati lapisan atmosfir (Wilkinson and Buddemeier, 1994). Komunitas karang terbatas keberadaannya pada perairan dangkal, karena ganggang simbiotik membutuhkan sinar matahari untuk fotosintesa. Kebutuhan dan adaptasi sinar pada koral seperti untuk kepentingan memelihara laju maksimum dari pengkapuran dan fotosintesa adalah dapat dipertahankan hingga di bawah kedalaman 20 meter dalam kondisi perairan bersih (Falkowski et al., 1990). Penetrasi cahaya matahari di badan air dapat dihambat oleh tingkat turbiditas, sehingga laju sidementasi yang tinggi dapat berpengaruh buruk pada koral dan karang, diantaranya adalah menurunnya kecepatan tumbuh dan menghambat pembentukan kolonikoloni baru (Brown and Howard, 1985; Babcock and Davies, 1991; Wilkinson and Buddemeier, 1994). Sebaliknya, perairan yang jernih dapat memberikan kesempatan untuk penetrasi sinar ultraviolet (UV-B), sehingga terumbu karang lebih terbuka terhadap radiasi yang mempunyai pengaruh buruk pada organisma karang (Jokiel and York, 1982). Tetapi, koral dan kebanyakan dari fauna karang di perairan dangkal telah mengembangkan suatu mekanisma baik untuk memblok atau menghindar dari radiasi UV yang merugikan dengan cara menghasilkan bahan-bahan yang dapat menyerap UV, yang mungkin disintesa oleh simbion-simbionnya atau akumulasi biologis melalui rantai makanan. Jadi, ganggang simbiotik menolong untuk melindungi hewan hospes terhadap pengaruh-pengaruh yang merugikan dari radiasi UV, seperti menyediakan makanan (Chalker et al., 1986; Dunlap and Chalker, 1986). Gangguan potensial yang berhubungan dengan peningkatan radiasi UV salah satunya disebabkan oleh penurunan lapisan ozon. Jika terjadi gangguan UV menunjukkan perimbangan antara kerusakan DNA dan mekanisma perbaikan alami saling bergantian menghadapi kerusakan yang tidak dapat diperbaiki serta konsekuensi pengurangan komunitas plankton dan pengurangan dalam kelangsungan hidup larva (Jokiel and York, 1982). #" Gerakan Air Gerakan air, termasuk ombak, adalah faktor penting yang menentukan zonasi karang, morfologi karang, dan distribusi kedalaman terumbu karang, ganggang, dan fauna karang yang lain (Wilkinson and Evans, 1989). Badai biasanya membentuk kendali tidak tetap dan

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

10

terputus-putus dalam masa yang panjang terhadap struktur perkembangan komunitas karang dengan jalan memangkas habis dan atau mengganti substrat sehingga akan tumbuh koloni baru. Badai, ombak, dan arus adalah juga kekuatan-kekuatan yang menyebabkan sedimentasi dan transpor nutrien, yang akan membentuk garis pantai dengan jalan penumpukan dan erosi (Wilkinson and Buddemeier, 1994). #" Salinitas Tingkat optimum salinitas untuk komunitas karang kira-kira 35 ppt, tetapi karang dapat bertahan hidup di atas kisaran salinitas antara 25 sampai 42 ppt, di mana kehilangan organisme akan terjadi dengan cepat pada tingkat salinitas yang lebih tinggi. Sebaliknya salinitas dengan konsentrasi yang tetap di bawah 20 ppt untuk waktu lebih dari 24 jam menyebabkan kematian pada koral dan sebagian besar fauna karang yang lain, sehingga kejadian kematian lebih cepat dapat terjadi pada tingkat salinitas yang terendah (Smith and Buddemeier, 1992). #" Nutrien Hubungan antara tingkat nutrien inorganik (nitrat, fosfat) dan terumbu karang agak bersifat paradox. Koral membutuhkan sangat sedikit suplay nutrien karena koral mempunyai mekanisme internal yang efektif untuk mendaur ulang nutrien antara coral sebagai inang (hewan) dan zooxantella (tanaman) sebagai simbion (Muscatine and Porter, 1977). Organisme karang lainnya yang mempunyai kemampuan fotosintesis juga biasa hidup dan tumbuh pada konsentrasi nutrien yang rendah. Komunitas terumbu karang dapat terpengaruh secara buruk oleh tingkat nutrien yang tinggi dan akhirnya mengalami degradasi kehidupan. Hal ini terjadi karena meningkatnya turbiditas perairan dari sebab plankton, meningkatnya bioerosi, rekruitmen koral gangang filamen, briozoa, dan teritip. Jadi kelebihan nutrien (eutrofikasi) tidak selalu membawa pengaruh yang baik untuk terumbu karang (Wilkinson and Buddemeier, 1994). #" S u h u Pertumbuhan terumbu karang yang intensif terbatas pada lingkungan perairan hangat (tropis dan subtropis). Banyak ahli menemukan bahwa garis isotermal tahunan rata-rata 20C atau garis isotermal pada wilayah dingin 18-C yang bersamaan dengan garis lintang yang tinggi membatasi pertumbuhan terumbu karang. Tetapi, pengertian dari respon koral
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

11

terhadap suhu sulit dijelaskan secara tepat karena adanya perbedaan antar jenis dan perbedaan di dalam jenis sendiri serta kuatnya pengaruh dari adaptasi jenis lokal (Coles et al., 1976; Smith and Buddemeier, 1992). Peningkatan suhu pada tempat yang terbatas yang hanya sedikit di atas rata-rata suhu maksimum setempat dapat membawa kematian pada banyak koral (Jokiel and Coles, 1990), dan bahkan kenaikkan yang terkecilpun dapat menyebabkan pemutihan (bleaching) pada koral (Glynn, 1993). Ketika terumbu karang berhadapan dengan perubahan suhu lingkungan yang terjadi dengan cepat, koral lebih peka terhadap proses pemanasan dari pada pendinginan, dan banyak yang menampakan kehidupan di dekat batas atas suhu yang mematikan (Jokiel and Coles, 1990). #" Kondisi Kejenuhan Kondisi kejenuhan kalsium karbonat adalah satu variabel yang menampakan pengaruh dari laju pembentukan kalsium pada sebagian kecil koral dan ganggang, tetapi sedikit sekali diketahui hubungannya dengan efek keseluruhannya terhadap formasi karang. Kondisi kejenuhan menghimpun semua pertimbangan tentang pengaruh-pengaruh suhu atas biogeografi, karena ada suatu korelasi yang sangat kuat antara tingkat kejenuhan aragonida yang tinggi dengan suhu air yang tinggi. Hal ini sekarang menjadi pokok perhatian para ahli karena pengaruh penambahan karbon dioksida pada atmosfir akan mengurangi kejenuhan kalsium karbonat dari permukaan laut, yang pada akhirnya dapat mengurangi terjadinya kalsifikasi pada sebagian kecil organisme (Smith and Buddemeier, 1992; Wilkinson and Buddemeier, 1994). 2.2. Status Terumbu Karang Secara Umum Terumbu karang sangat sensitif pada gangguan-gangguan dan dapat mati oleh tekanan dari kejadian-kejadian yang bersifat lokal atau global. Tanda-tanda dalam catatan fosil, sebagai terlihat dalam suksesi karbonat lintas kontinen seperti menurunnya keragaman hayati dan hilangnya taksa karang yang merupakan bagian penting dari terumbu karang, dsb, adalah sama baik untuk tingkat kejadian-kejadian wilayah atau global (Cooper, 1994). Sementara, dipandang dari keterbukaan pemanfaatan terumbu karang oleh umum, terumbu karang mengalami ekploitasi secara intensif dan degradasi habitat yang disebabkan oleh sebagian besar kegiatan manusia (McManus and Cabanban, 1992), khususnya kegiatan
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

12

penangkapan ikan yang merusak seperti penangkapan dengan bahan peledak yang membawa dampak buruk langsung pada ekosistem terumbu karang (Jennings and Polunin, 1996; Soede and Erdmann, 1998). Pada awal tahun 1990an, peringatan dini telah diberikan di semua wilayah bahwa terumbu karang di dunia dalam kondisi masalah yang serius, di mana degradasi skala besar terjadi di Afrika Timur, Asia Selatan dan Tenggara, bagian wilayah Pasifik, dan lintas Karibia (Wilkinson, 1998). 2.3. Status Terumbu Karang di Indonesia Sejak tahun 1990an, kerusakan terumbu karang dan usaha-usaha pelestariannya telah menjadi pokok bahasan dalam kebijakan lingkungan hidup baik di tingkat nasional maupun internasional (Moosa, 1996). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan alam dan manusia yang menyebabkan penurunan persentasi tutupan karang telah terjadi di Indonesia. Badai tropis telah menimbulkan sedikit pengaruh buruh pada terumbu karang di Indonesia, tetapi gejolak lautan dan aliran air tawar ke laut yang terjadi akibat pergantian dua musim setiap tahun sangat menentukan pertumbuhan karang di beberapa lokasi. Peristiwa El Nio pada tahun1983 menyebabkan peningkatan suhu air laut di laut Jawa dan kematian koral sampai 90% sebagai akibat pemutihan (bleaching) di beberapa lokasi perairan karang pulau-pulau Seribu Teluk Jakarta. Lima tahun kemudian hanya separuhnya dari karang batu yang rusak dapat pulih kembali. Sementara, kira-kira 75 % 100 % kasus pemutihan karang, di mana katagori 25 % tutupan karang batu pada saat itu, terjadi di sekitar Taman Nasional Bali Barat, dan juga terlihat pada perairan karang Tulamben (Bali bagian Timur), sehingga yang nampak hidup hanya karang lunak (soft coral) yang terpisah-terpisah letaknya. Juga ada sedikit kasus pemutihan karang pada Nusa Penida dan Nusa Lembongan, Bali. Banyak anemon sampai kedalaman 36 m di Tulamben Bali terkena pemutihan, tetapi lainnya pada kedalaman 44 m kelihatan normal (Chou, 1998; Wilkinson, 1998). Kecuali itu, umumnya karang di bagian Barat Indonesia telah mengalami tekanan yang berlebih akibat kegiatan manusia dibanding karang yang ada di wilayah Timur Indonesia. Pada tahun 1998, berdasarkan pada persentasi tutupan karang batu yang diukur pada 190 lokasi transek menunjukkan bahwa 41,6 % adalah buruk, 31,6 % sedang, 24,3 % baik dan 26 % sangat baik (Chou, 1998).
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

13

Kesadaran yang meningkat akan pentingnya perlindungan ekosistem perairan telah melahirkan program besar skala nasional, yakni Proyek Rehabilitasi dan Pengelolaan Sumberdaya Terumbu Karang yang diimplementasikan di lima provinsi. Proyek ini didukung oleh pinjaman lunak dari World Bank, JICA, AusAid and Global Environment Facility. Proyek ini mengembangkan sistem rehabilitasi dan pengelolaan berbasis masyarakat yang tujuannya antara lain adalah pemanfaatan sumberdaya karang yang berkelanjutan dan menyelamatkan karang dari kerusakan dan kesehatan karang yang menurun secara perlahan-lahan (Moosa, 1996 ; Chou, 1998). Pendekatan partisipasi penting untuk laksanakan dengan berbagai strategi oleh daerah-daerah tertentu. Adalah sangat penting suatu program rehabilitasi yang terdiri dari tehnik-tehnik yang tepat memiliki kemampuan untuk memperbaiki secara efektif. Sistem yang mengalami penurunan mutu menjadi beberapa kondisi yang diinginkan melalui percepatan perubahan biotik atau proses suksesi (Luken, 1993, as cited by Hobbs and Norton, 1996). Banyak cara pengelolaan karang yang berjalan baik di daerah dan beberapa Area Perlindungan Laut (APL) telah dibangun di Asia Tenggara. Kira-kira 10 % dari 106 APL yang dibentuk di beberapa negara ASEAN telah dikelola dengan efektif. Tetapi, selalu ada koordinasi dan komunikasi yang buruk antara badan pemerintah yang mengatur bagianbagian wilayah pantai yang berbeda, dan konflik-konflik yang terjadi mempengaruhi usahausaha konservasi dan perlindungan. Untuk alasan itu, ada suatu kebutuhan untuk meningkatkan komitmen politik untuk memelihara sumberdaya terumbu karang di Asia Tenggara. Akhir-akhir ini pengelolaan berbasis masyarakat telah menunjukkan wilayahwilayah keberhasilan, khususnya dalam penerapkan satu kisaran model yang berbeda, contohnya adalah Filipina dan Thailand. Chou (1998) menekankan bahwa pengelolaan masyarakat atas area-area setempat menyediakan motivasi yang terbaik untuk mengelola sumberdaya yang banyak dibutuhkan masyarakat, dan juga menghasilkan kendali-kendali yang efektif atas kegiatan-kegiatan yang merusak, sementara ko-manajemen antara badan pemerintah, masyarakat setempat, dan organisasi non-pemerintah lebih efektif jika diterapkan untuk area yang luas.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

14

2.4. Pemulihan Terumbu Karang dan Rehabilitasinya Endean (1977, dalam Fucik et al, 1984) menyatakan bahwa pulihnya kondisi ekosistem karang dengan sempurna dari kondisi rusak adalah tidak mudah didifinisikan atau diukur, seperti mudahnya mengukur kerusakannya. Teori menyebutkan bahwa difinisi pemulihan terumbu karang melibatkan kembalinya jenis-jenis tipikal yang selalu berasosiasi dengan koral, terbentuknya komponen-komponen penting dari komunitas karang dalam wilayah geografis tertentu, dan terbentuknya kembali hubungan-hubungan komplek yang biasa ada di antara jenis-jenis biota karang. Dari sudut pandang yang praktis mengukur pemulihan terumbu karang mungkin terlampau berdimensi luas. Karena di antara kebanyakan ekosistem laut yang komplek dalam hubungannya dengan struktur komunitas dan fungsi ekologis, monitoring semua aspek biologi karang untuk keperluan mencari bukti pemulihan atau untuk mendifinisikan satu tingkat penyembuhan adalah sangat sukit.. Tetapi, ada beberapa aspek dari struktur karang dan fungsi yang dapat digunakan secara logis sebagai petunjuk (indikator) dari satu tingkat pemulihan. Secara spesifik terumbu karang mempunyai komposisi jenis, kelimpahan, dominasi, reproduksi, pertambahan koloni, pertumbuhan, dan kematian di antara organisma hermapitik (contohnya koral dan ganggang koralin). Pemulihan mungkin dapat diukur dengan cara membandingkan hasil pengamatan kualitatif dan pengukuran kuantitatif terhadap pola-pola penggunaan indikator ini atas pemulihan karang dengan asumsi bahwa pemulihan biota koral adalah hasil yang terjadi dari pemulihan seluruh komunitas karang. Menurut Fucik et al. (1984), pengukuran kepulihan karang adalah rumit, karena pemulihan terumbu karang cenderung menjadi proses yang membutuhkan periode waktu yang panjang. Berdasarkan temuan-temuan Endean (1977), periode penyembuhan adalah berhubungan dengan luasnya area kerusakan yang dapat dilihat dari tutupan karang keras (hard corals). Pemulihan pada lokasi kerusakan skala sempit umumnya membutuhkan waktu kurang dari 10 tahun, yang mana pemulihan terjadi pada bagian-bagian utama dari sisa-sisa komunitas yang tidak mengalami kerusakan secara penuh dan wilayahnya memungkinkan untuk pertumbuhan karang. Pemulihan secara penuh terumbu karang yang mengalami kerusakkan berat membutuhkan 10 sampai 20 tahun, sementara yang mengalami kerusakan paling buruk dalam skala luas membutuhkan beberapa dekade untuk kembali
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

15

seperti kondisi semula. Rinkevich and Loya (1977) menyatakan bahwa jika sumber-sumber polusi yang menyebabkan kronisnya kesehatan karang hadir dalam daerah karang yang mengalami kerusakan, maka pemulihan mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama lagi atau bisa saja tidak terjadi pemulihan sama sekali. Karena pemulihan terumbu karang yang rusak dapat menjadi satu proses yang berkepanjangan, tujuan utama dari program rehabilitasi apa saja harus dapat mendukung atau mempercepat pemulihan karang rusak. Proses-proses penting yang harus diperhatikan untuk merancang suatu program rehabilitasi adalah antara lain: 1. Penempatan kembali larva koral untuk pertumbuhan yang kontinyu dan reproduksi dari koral-koral yang tersisa dan membentuk koloni-koloni baru pada area yang rusak (Endean, 1977, in Fucik et al. 1984); 2. Rekolonisasi (lebih dari sekedar regenerasi dari koral-koral yang bertahan hidup) untuk tujuan pemulihan atas karang-karang yang berfungsi sebagai kontrol (Loya, 1976 in Fucik et al. 1984); 3. Penempatan kembali larva-larva dari terumbu karang sekitar untuk tujuan pemulihan area karang yang rusak (Shinn, 1976, in Fucik et al. 1984). 4. Transplantasi karang untuk tujuan rehabilitasi terumbu karang yang rusak dalam kondisi lingkungan yang memungkinkan percepatan pertumbuhan karang (Maragos, 1974; Shinn, 1976, in Fucik et al. 1984); dan 5. Persiapan substrat, ruang dan sumberdaya untuk rekolonisasi jenis-jenis yang bergerak dan penempatan kembali larva karang, misalnya persiapan terumbu karang buatan atau habitat buatan (Randall, 1963, in Fucik et al. 1984). 2.5.Pemilihan Organisma Indikator dalam Monitoring Terumbu Karang Penggunaan suatu jenis sebagai indikator adalah diukur dari kemampuannya dalam memperlihatkan tanda-tanda yang dapat diukur oleh pengamat pada waktu sedini mungkin. Diasumsikan bahwa jika organisma yang dipilih untuk monitoring adalah merupakan satu kesatuan dari sistem kehidupan karang, tanggapan-tanggapannya harus cukup mencerminkan adanya proses-proses yang mengancam sistem tersebut secara keseluruhan, di mana tentu saja juga mempengaruhi berbagai komponen lainnya. Karena pemulihan terumbu karang yang rusak adalah suatu proses jangka panjang, indikator pertama yang

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

16

dapat digunakan untuk mengkaji perubahan-perubahan seiring waktu dalam tingkat populasi adalah ikan. Kecuali itu, indikator kedua adalah makroalga yang hidup di dasar, tutupan karang batu, dan keragaman jenis (Gomez and Yap, 1988). Ikan adalah organisma yang relatif lebih kompleks, di mana banyak aspek biologinya dan perilakunya dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesesuian habitatnya. Kehadiran atau ketidakhadiran jenis-jenis tertentu adalah juga petunjuk yang akurat dalam kasus-kasus tertentu, karena kemampuan ikan dapat berpindah-pindah, ikan dapat keluar dari wilayah tetapnya untuk memilih habitat-habitat dengan keadaan yang lebih menyenangkan. Contoh dari calon-calon yang mungkin dijadikan sebagai organisma indikator adalah jenis-jenis tertentu dari ikan kepe-kepe (Chaetodontidae), yang adalah ikan predator karang (Reese, 1981). Ikan-ikan dari suku ini dianggap sebagai ikan pemakan polyp karang yang berguna untuk memantau pengaruhnya pada terumbu karang atau sebagai indikator yang sensitif untuk menentukan kondisi kesehatan terumbu karang. Perubahan-perubahan dalam distribusi dan kelimpahannya dapat menjadi suatu petunjuk bahwa komunitas karang telah mengalami gangguan atau tekanan (Vivien and Navarro, 1983; Reese, 1977, 1981). Selain itu, mereka dapat berguna dalam mendeteksi beberapa keadaan pada tingkat yang rendah, dengan polusi yang kronis melampaui periode waktu yang panjang atau mereka dapat berguna dalam mendeteksi keadaan-keadaan tanpa gangguan seperti hanya sekadar untuk mengetahui struktur karang (Reese, 1981; Manthachitra et al., 1991). Makroalga yang hidup di dasar perairan umumnya menjadi mata rantai pertama dalam jaring-jaring makanan. Tanaman-tanaman besar yang hidup di dasar pada daerah sublittoral (pasang surut) munkin dapat menjadi bukti dari rantai penghubung yang paling sensitif pada kisaran luas faktor-faktor, seperti suhu, sehingga dapat digunakan sebagai organisma indikator yang bernilai tinggi. Juga karena mereka mempunyai struktur dan fisiologi yang sederhana, dan mereka cenderung bersifat oportunis, alga dapat diprogram secara alami untuk merespon lebih cepat pada fluktuasi-fluktuasi yang terjadi dalam lingkungannya. Beberapa respon ini, seperti pertumbuhan, kematian dan gejala-gejala patologi tertentu, adalah tidak sulit untuk diukur (Gomez and Yap, 1988). Suatu pengkajian kondisi karang harus melibatkan secara menyeluruh yang sedikitnya beberapa catatan tentang koral itu sendiri. Respon karang adalah tidak mudah dilihat, dan tidak sebagaimana hal-hal yang mudah diukur pada suatu skala yang signifikan,
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

17

sebagaimana hal itu menjadi signifikan bila mengukur ikan atau alga. Tetapi berbagai tehnik telah dikembangkan yang menggunakan koral sebagai organisma indikator. Meluasnya tutupan oleh karang dan jenis benthik lainnya pada dasar perairan karang yang tersedia di tempat itu dan kisaran kehadiran jenis diterima sebagai indikator yang signifikan dari kondisi kesehatan karang. Umumnya persentasi tutupan karang dan keragaman jenis yang tinggi menunjukkan kesehatan karang (Gomez and Yap, 1988). Tehnik yang populer akhirakhir ini untuk memperkirakan tutupan atau kelimpahan karang dan fauna karang benthik lainnya adalah menggunakan pendekatan struktur fisiognomik (benthic life-form). Penelitian benthic lifeforms adalah suatu persyaratan untuk mengerti lebih baik variasi yang membingungkan dari bentuk jenis-jenis dalam suatu terumbu karang (English et al., 1994). Penggunaan lifeform coding dari biota karang yang hidup dalam terumbu karang dan komunitas karang di daerah ASEAN (Tabel 1) telah membuka kemungkinan baru untuk memperbandingkan struktur komunitas karang dalam wilayah masing-masing dan dengan Great Barrier Reef di Australia (Licuanan and Montebon, 1991). 2.6. Ekologi Ikan Karang Mengetahui sifat-sifat ekologi ikan karang adalah penting, karena akan mempermudah proses pekerjaan dalam sensus visual. Pengetahuan ini akan menggiring pengamat secara praktis dalam membedakan berbagai variasi ikan, baik yang terlihat serupa maupun yang jelas-jelas berbeda satu sama lain. Satu jenis ikan bisa mudah dikenali melalui kebiasaan, perilaku, habitat, warna, tempat makan, makanan dan teman sisbiosisnya. Di bawah ini akan diuraikan sekelumit sifat-sifat ekologis ikan karang. 2.6.1. Jaring makanan dan cara makan Menurut White (1987), empat puluh persen jenis ikan yang diketahui di dunia, atau 8.000 jenis, hidup di perairan hangat paparan kontinental pada kedalaman kurang dari 200 m. Perairan tropis di dekat dan di area karang, dibandingkan dengan area tempered, mengandung lebih beragam jenis tetapi dengan sedikit individu dalam setiap jenis. Seorang penyelam yang untuk pertama kalinya menyelam di area karang tentu saja merasa sulit untuk membedakan beribu-ribu ikan yang hadir dan bergerak anggun di antara berbagai jenis karang dan fauna lain yang selalu berasosiasi dengan karang. Karena jumlahnya banyak dan hidup di antara ruang dan celah-celah terumbu karang, maka status ikan karang
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

18

merupakan penyokong hubungan yang ada dalam ekosistem terumbu karang, terutama sekali berperan dalam tingkat tropik rantai makanan di terumbu karang. Hewan mungkin diklasifikasikan menurut tempatnya dalam rantai makanan. Dalam bentuk yang paling sederhana, satu rantai makanan terdiri dari produser (tanaman), konsumer (hewan), dan dekomposer (bakteri). Tiap deretan bertingkat mulai dari produser sampai karnivore teratas disebut tingkat tropik (Gambar 1). Kebanyakan rantai makanan adalah kompleks dengan sejumlah tingkat, subdivisi, dan alur-alur yang berganti-ganti, sehingga istilah jaring makanan juga digunakan, yang mana ribuan celah karang yang yang berliku-liku dan area permukaan terumbu karang menyokong keberagaman yang besar sekali dari intevetebrata laut dan ganggang yang pada gilirannya menyediakan makanan untuk berbagai jenis ikan dan non ikan. kakap, bambangan, swanggi dan ikan lainya yang berdiam di celah karang sepanjang hari tetapi bergerak ke sembarang tempat untuk makan pada malam hari adalah jenis ikan yang hanya sebagian waktunya bergantung pada ekosistem karang. Mereka masuk ke dalam jaring-jaring makanan di karang ketika mereka dimangsa oleh pemangsa ikan yang lebih besar seperti kerapu, dan membuang feses di situ. Sementara itu feses-feses ini merupakan nutrien bagi jenis karang dan ikan yang lain. Di antara konsumer, ada tiga tingkat tropik dasar: herbivora, omnivora, dan karnivora. Untuk ikan, istilah planktivora digunakan untuk mengidentifikasi karnovora yang memakan zooplankton (sangat sedikit sekali ikan yang memakan fitoplankton, seperti mullet). Istilah coralivora digunakan untuk omnivora yang memakan karang, karena karang mengandung 2 jaringan yang terdiri dari jaringan tanaman sekaligus hewan. Istilah detritivora digunakan untuk ikan-ikan omnivora yang memakan bagian-bagian tanaman dan hewan yang mengalami dekomposisi (membusuk). Istilah piscivora mengacu pada karnivora yang terutama sekali memakan ikan. Pada tingkat dasar dari jaring makanan di terumbu karang adalam tanaman laut, termasuk ganggang diatom, dinoflagelata, fitoplankton, zooxantela, ganggang bentik, dan rumput laut. Ada beberapa ikan yang memakan masing-masing tanaman laut ini. Sedikit jenis ikan yang memakan fitoplankton: belanak dan bandeng memakan ganggang diatom dan sampah-sampah detritus dari dasar perairan. Sejumlah ikan kepe-kepe dan coralivora lain memakan zooxantella yang terkandung dalam jaringan karang. Sejumlah kecil ikan kakatua dan sekartaji/butana memakan rumput laut, dan sejumlah besar ikan-ikan herbivora
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

19

memakan ganggang bentik yang berbentuk filamen. Ikan-ikan kakatua, sekartaji, dan baronang adalah tergolong ikan-ikan yang suka berkeliling untuk merumput (grazers), mirip ternak di laut. Perumput yang paling kecil seperti ikan blenid dan kebanyakan ikan betok umumnya memiliki daerah teritorial sendiri sekitar area sempit yang mampu menghasilkan pelindung (shelter) yang cukup. Beberapa ikan kakatua, sekartaji, baronang, dan rudderfishes kesana-kemari memakan daun ganggang besar (Lieske dan Myers, 1997).

PEMANGSA IKAN BESAR (Hiu, kerapu, kuwe, barakuda)

PEMANGSA IKAN KECIL (Bambangan, kakap, kerapu, kuwe)

PEMANGSA IKAN PERAIRAN TENGAH (Ikan kuwe)

PEMANGSA KARANG (Kepe-kepe, Kakatua dan Buntal) PEMANGSA INVERTEBRATA PERAIRAN TENGAH (Ikan Betok dan Klupid) Zooplankton HERBIVORA (Ikan Pakol, sekartaji, Blenid, Gobid, Bayeman, Keling)

PEMANGSA INVERTEBRATA BENTIK (Ikan Kepe-kepe dan Kerapu)

Karang

PEMANGSA DETRITUS (Belanak dan Bandeng)

Invertebrata bentik

Ganggang Bentik

Detritus

Fitoplankton

Gambar 1. Hubungan tropik pada ikan-ikan terumbu karang (Sumber: Nybaken, 1988) Pada rataan terumbu dan goba, komunitas ikan bentik hidup di sekitar kepala-kepala karang dan area pasir di antaranya. Karang-karang massive yang umumnya tanpa lekukan celah yang dalam seringkali dikunjungi oleh pemakan polyp karang seperti ikan kakatua, ikan mendut, dan ikan kepe-kepe. Karang-karang bercabang menyediakan permukaan untuk
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

20

sejumlah besar ikan-ikan kecil seperti ikan gobi dan betok yang mungkin mengurumuni dan memakan zooplankton dan debris makanan lainya yang ada di balik permukaan karang tersebut. Ikan kepe-kepe seperti juga ikan mendut dan buntal ayam adalah terutama sekali tergolong omnivora. Banyak jenis kepe-kepe memakan berbagai invertebrata kecil dan polyp karang. Beberapa ikan kepe-kepe dan kupas-kupas (Oxymonacanthus longirostris) memiliki makanan khusus, yaitu polyp karang yang digunting dari skeleton karang oleh moncong dan gigi yang khusus. Kakatua kepala besar (Bolbometapon muricatum) dan beberapa ikan mendut, tato/kupas-kupas, dan buntal ayam memakan potongan-potongan karang dan skeleton. Sejumlah ikan mendut, tato, dan buntal ayam juga memakan beragam invertebrata seperti bulu babi, krustase, bintang laut dan ganggang berangka kapur yang keras. Detritus masuk ke dalam rantai makanan ikan terutama sekali melalui invertebrata bentik yang dimangsa oleh karnivora. Hanya sedikit sekali ikan-ikan yang memakan langsung detritus, seperti ikan beberapa ikan gobid dan belanak (Lieske dan Myers, 1997). Ganggang karang juga menyokong sebagian besar populasi ikan-ikan herbivora yang termasuk jenis-jenis sekartaji/butana (surgionfish), betok (damselfish), mendut (triggerfish), kepe-kepe (butterflyfish), baronang (rabbitfish) dan buntel (pufferfish). Sementara jenis-jenis ikan herbivora yang biasa memindahkan substrat atau mencabit potongan-potongan struktur karang termasuk blenid, gobi, ekartaji, kakatua (parrofish), dan sedikit dari jenis betok dan mendut. Semua jenis ikan pada terumbu karang menyesuaikan diri dengan jaring makanan dalam beberapa cara sehingga ada suatu keseimbangan yang rumit dari banyak hubungan mangsa memangsa. Beberapa kelompok ikan tentu saja penting untuk ekosistem terumbu karang. Beberapa jenis ikan kepe-kepe sebagai contoh, memiliki makanan kegemarannya sendiri seperti polyp karang. Jadi, ikan-ikan ini hanya ada di tempat mana karang tumbuh dan mungkin dapat digunakan sebagai satu indikator yang sederhana bagi kondisi kesehatan karang , yaitu dengan jalan memperhatikan jumlah individu dan keragaman jenisnya. Karena ikan kakatua memakan karang dan batuan kalsium dan membuang butiran-butiran putih yang telah dihaluskan oleh gilingan pharyngealnya, mereka secara signifikan menyebabkan erosi karang dan pembentukan pasir. Satu individu dewasa kakatua dapat menumpuk 500 kg pasir per tahun pada area karang (White, 1987).
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

21

Menurut Nybaken (1988), tipe pemangsaan yang paling banyak terdapat di terumbu karang adalah karnivora, mungkin sekitar 50 70 % dari jenis ikan. Banyak dari karnivora ini tidak mengkhususkan makanannya pada suatu sumber makanan tertentu, tetapi sebaliknya merupakan opportunistik, mengambil apa saja yang berguna bagi mereka. Selain itu, mereka juga memakan mangsa yang berbeda pada setiap tingkatan tropik yang berbeda menurut siklus kehidupan mereka. Dalam hubungannya dengan kebiasaan makan yang umum dari kebanyakan ikan karnivora, jumlah ikan pemakan bangkai (scavenger) sangat kecil, karena karnivora hanya mengkonsum setiap organisme yang baru mati (masih segar). Selanjutnya, sekitar 15 % dari kelompok ikan karang merupakan herbivora dan pemakan karang yang diwakili oleh ikan-ikan dalam suku kakatua (Scaridae) dan Sekartaji/butana (Acanthuridae). Sisanya tergolong omnivora atau multivora (pemakan segala), seperti diwakili oleh ikan-ikan penghuni sejati dalam terumbu karang, yaitu kepekepe (Chaetodontidae), betok/giru (Pomacentridae), injel (Pomacantidae), ikan tato/kipaskipas (Monocanthidae), buntel kotak (Ostraciontidae), dan buntel ayam (Tetraodontidae). Sementara yang tergolong pemakan plankton (plankton feeder) dijumpai hanya sedikit. Mereka umumnya bertubuh kecil dan dijumpai dalam bentuk schooling (kawanan), seperti ikan-ikan dalam suku Clupeidae (Klupid) dan Atherinidae (ikan berkulit perak). 2.6.2. Keanekaragaman ikan karang Lebih jauh Nybaken menjelaskan bahwa daerah Indo-Pasifik bagian tengah khususnya di wilayah perairan Filipina dan Indonesia memiliki jumlah jenis yang besar, tetapi menjauhi wilayah ini jumlahnya berangsur-angsur berkurang (Tabel 1), seperti terumbu atlantik mempunyai jenis yang relatif sedikit. Tabel 1. Jumlah jenis ikan di berbagai terumbu karang
Daerah Geografis Kepulauan Filipina Nuigini Great Barrier Reef Kepulauan Seychelle Kepulauan Marshall dan Mariana Kepulauan Bahama Kepulauan Hawaii
Sumber: Goldman dan Talbot, 1976, dalam Nybaken, 1988)
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

Jumlah Species Ikan 2177 1700 1500 880 669 507 448

22

Terumbu karang menyediakan beragam habitat, yang masing-masing dengan seperangkat sifat-sifat jenisnya sendiri. Perbedaan dalam tingkat kontak atau kepekaan terhadap hempasan ombak, arus, cahaya, jumlah gangang, plankton dan makanan lain, dan kelimpahan, bentuk, dan keragaman dari karang dan shelter lain menyatu untuk terciptanya suatu keberagaman relung-relung (niche) yang cocok. Tidak hanya satu relung yang mungkin dapat dihuni oleh satu jenis ikan, tetapi juga beberapa relung nampak didiami oleh sekumpulan acak dari sejumlah jenis ikan-ikan (Lieske dan Myers, 1997) Jumlah jenis ikan yang menghuni sebuah area terumbu karang tunggal adalah sangat luar biasa banyaknya, yaitu mencapai 500 untuk satu terumbu dalam sistem Great Barrier Reef. Dalam hal ini jelas bahwa besar jumlah spesies mempunyai hubungan yang signifikan dengan sebaran dan keberagaman jenis karang. Tetapi bagaimana keragaman jenis yang besar ini dapat terbentuk dan terpelihara eksistensinya ? Hanya sedikit asumsi yang dapat ditelusuri oleh ahli biologi karang untuk menjawab pertanyaan yang rumit ini. Asumsi yang umum adalah bahwa keragaman ikan karang dibentuk karena adanya keanekaragaman habitat dalam ekosistem terumbu karang. Seperti disebutkan di atas, dalam satu area karang kita biasa menemukan banyak ruang, celah, lekukan, liang tempat hidup yang ada di badan karang sendiri, di substrat batuan, pasir, ganggang, lamun, dan sebagainya. Habitat yang beragam ini ternyata mampu membawa pada suatu asumsi bahwa semakin beragam habitat semakin beragam pula jenis-jenis ikan yang ditemukan. Namun habitat yang banyak itu belum mampu menerangkan bagaimana tingginya keragaman tersebut dapat dipertahankan? Teori yang timbul ternyata mengandung sedikit pertentangan menyangkut keragaman ikan karang dan struktur komunitasnya. Pandangan yang dianggap klasik saat ini adalah bahwa hidup berdampingan merupakan hasil dari tingkat spesialisasi yang tinggi sehingga setiap jenis mempunyai tempat beradaptasi khusus yang diperoleh dari persaingan pada suatu keadaan di karang atau spesialisasi dalam jenis makanan dan peran dari jenis tersebut dalam ekosistem dan keberhasilan dalam membentuk interaksi positif antara jenis. Jadi dapat dikatakan bahwa, ikan-ikan karang memiliki relung ekologi (ecology niche) yang sempit dalam satu struktur terumbu karang yang luas, sehingga daerah itu dapat menampung lebih banyak jenis. Asumsi ini berkembang dari teori ecology niche. Sementara pandangan Sale (1977, dalam Nybaken, 1988) tentang uniknya keanekaragaman ikan karang ini dituangkannya dalam hipotesis yang dia sebut lottery, yaitu bahwa ikan
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

23

tidak mempunyai sifat khusus, di mana banyak jenis yang cenderung pada pada kebutuhan yang sama, sehingga timbul persaingan aktif di antara jenis. Tempat yang baik dan ketekunan tersedia karena kesempatan yang terbentuk bagi setiap jenis ikan untuk menempati ruang yang kosong. Jika diamati secara seksama, walaupun ikan-ikan karang ini dijumpai dalam jumlah besar pada area yang relatif sempit dan dengan gerakan yang jelas, ternyata mobilitasnya terbatas dan hampir tidak melakukan migrasi ke tempat yang jauh. Hal ini nampak sebagai akibat dari pembagian habitat yang kemudian terlokalisasi dalam konsep relung ekologi. Dari sini timbul asumsi bahwa ikan-ikan tertentu memiliki wilayah otorita dan perilaku pertahanan otorita, contoh ini diperlihatkan oleh perilaku ikan belosoh, tempakul, giru, dan betok. Lebih jauh Nybaken (1988) menjelaskan bahwa fenomena menarik lainnya yang digambarkan oleh perilaku ikan-ikan nokturnal dan diurnal juga memberikan dasar pada asumsi tentang tingginya keberagaman ikan di area karang. Meskipun beberapa dari jenis nokturnal ini secara ekologis sama dengan jenis diurnal tertentu (contohnya serinding malam - Apogonidae menggantikan betok - Pomacentridae), ini merupakan cara lain yang memungkinkan timbulnya sejumlah besar jenis di terumbu tanpa persaingan secara langsung. Menurut Lieske dan Myers (1997), pada terumbu karang, lebih dari 75 % ikan-ikan merupakan jenis diurnal yang menghabiskan waktu siangnya pada permukaan karang atau sedikit diatasnya. Banyak dari jenis-jenis diurnal adalah ikan-ikan berwarna-warni dan menyolok mata yang paling sering berhubungan dengan terumbu karang, termasuk jenisjenis dari bayeman, nori, keling, lamboso, betok, baslet, kerapu, kepe-kepe, sekartaji, kakatua, bambangan, injel, mendut, hawkfish dan beberapa bijinangka. Kira-kira 30 % ikan karang bersifat kriptik (bersembunyi, meliang) dan jarang bisa terlihat oleh pengamat/penyelam awam. Kebanyakan ikan-ikan ini bertubuh kecil dan merupakan penyamar yang baik atau menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bersembunyi dalam bangunan karang. Ikan-ikan yang tergolong kriptik termasuk belut laut, gobid, blenid, tangkur, dan kebanyakan dari ikan lepu batu. Jenis-jenis ini ada yang termasuk diurnal seperti juga nokturnal dan beberapa dari padanya mungkin aktif sepanjang waktunya. Banyak belut laut dan lepu seperti juga bijinangka menjadi lebih aktif dan mengeluarkan
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

24

sebagian besar waktunya di senja hari. Selebihnya kira-kira 10 % ikan karang adalah jenis ikan nokturnal yang tetap bersembunyi dalam gua dan celah sepanjang siang tetapi muncul kepermukaan untuk mencari makan pada malam hari. Contoh ikan-ikan ini adalah gelagah, gete-gete, swanggi, gora swanggi, murjan, brajanata yang memakan makanan khusus seperti elemen-elemen besar zooplankton dalam air di atas karang, sementara murjan, brajanata dan banyak dari gete, gelagah memakan invertebrata motile pada permukaan karang. Yang mengherankan kira-kira 10 % ikan karang hidup di atas atau menyelinap di bawah pasir, lumpur, atau pecahan kecil karang (rubbles). Contohnya : belut laut, tempakul (Synodus spp), ikan sebelah, percis pasir ( Parapercis spp.), penyelam pasir (Trichonotus spp.), belenid, gobid dan bayeman, keling, koja, belodok (Wrasses). Kebanyakan dari ikan-ikan ini adalah karnivora pemakan invertebrata kecil. Banyak juga ikan-ikan yang berlindung di badan karang bepergian ke luar wilayah yang luas mencakup area pasir dan rubble. Ini termasuk beberapa ikan sekartaji yang herbivora dan beberapa kelompok karnivora seperti kerapu, kakap, bambangan, dan lentjam. Sejumlah besar ikan-ikan karang yang kecil selalu berenang tidak pernah jauh dari rumah karangnya. Pada porsi yang relatif kecil, 8 %, fauna ikan pantai dikelompokan dalam jenis ikan yang berpergian jauh (pelintas karang), contohnya ekor kuning, barakuda, hiu, dan ikan kuwe. Kebanyakan ikan-ikan ini adalah karnivora, tetapi hanya sedikit, terutama ekor kuning, yang termasuk planktivora. Asumsi-asumsi di atas menjadi nampak kontroversial jika kita menelaah lebih jauh tentang hubungan-hubungan dalam jaring makanan. Seperti telah disebutkan di atas, kenyataannya mayoritas ikan karang adalah karnivora yang opportunistik, sehingga bagaimana mungkin untuk menjelaskan adanya kekayaan jenis akibat dari relung-relung ekologi yang sempit. Sementara jika kita mengabaikan konsep ecology niche tersebut pada akhirnya akan menyulitkan kita dalam menjelaskan kekayaan jenis ikan pada area karang. Tetapi dalam hal ini, bukan berarti bahwa tidak ada sama sekali karnivora yang mengkhususkan makanannya pada organisme tertentu. Di samping itu konsep ekologi niche bukan harga mati yang berhubungan dengan kebiasaan makan, tetapi juga menyangkut peran satu organisme dalam habitat mikronya. Relung ekologi mempunyai pengertian yang laus, meliputi ruang fisik yang dihuni satu organisme, peranan fungsionalnya dalam komunitas dan posisinya dalam gradian berbagai parameter kimia-fisik. Tiga aspek relung ekologi meliputi relung spasial dan ruang (habitat), relung tropik dalam rantai makanan, dan
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

25

relung multidemensi atau relung hipervolume (Odum, 1975). Jadi relung ekologi suatu jenis ikan tidak hanya menyangkut tempat hidupnya tetapi juga meliputi peran (kemampuan mereka merubah energi, sikap dan prilaku, dan merespon terhadap lingkungan biotik dan abiotik) serta bagaimana jenis lain yang merupakan tetangganya menjadi kendali baginya (kompetisi intraspesifik). 2.6.3. Interaksi Sosial Ikan-ikan memperlihatkan beragam kebiasaan atau gaya hidup untuk mengatasi hidup bersama dalam dunia karang yang padat dan penuh persaingan. Beberapa jenis ikan selalu ditemukan dalam kelompok sementara yang lain hidup berpasangan atau menyendiri (soliter). Schooling (hidup bergerombol) adalah satu strategi yang diadopsi oleh banyak jenis ikan yang tinggal atau berpergian dari tempat perlindungan karang ke lautan terbuka, di mana maksudnya untuk mempertahan diri dari serangan predator dan juga pertahanan teritorial. Sejumlah besar ikan karang memiliki wilayah teritorial. Jenis teritorial menjaga secara khusus satu area yang menutup satu atau lebih sumber makanan, rumah (shelter), pasangan dan sarang. Mereka biasanya sangat agresif terhadap pendatang dari jenisnya sendiri. Penguasa area yang dominan biasanya akan mengusir rivalnya seperti dewasa lainnya dari jenis kelamin yang sama tetapi akan berbagi area yang dikuasai dengan lawan jenisnya yang lebih kecil. Ikan-ikan teritorial ini secara berkala memiliki satu tempat istirahat yang paling disenangi yang untuknya mereka kembali dan mempertahankannya secara agresif pada akhir dari hari berselang. Banyak jenis memelihara satu area teritorial untuk berkembangbiak. Tempat seperti ini mungkin memiliki batas sebagai area teritorial untuk makanan atau menjadi porsi kecil rentang tempat kediaman. Pandangan dan warna adalah yang terpenting dalam kehidupan sosial dari kebanyakan ikan karang. Adanya pola-pola warna yang berbeda memungkinkan setiap jenis untuk mengenal jenisnya sendiri. Perubahan-perubahan yang dikontrol perilaku dalam pewarnaan dan dalam pengabilan sikap menyampaikan pesan di antara ikan-ikan sama halnya ekspresi wajah yang diperlihatkan manusia. Dalam beberapa species suara dan baubauan mungkin juga memainkan peranan dalam interaksi sosial. Operculae dan sirip yang mengembang umumnya untuk memperlihatkan agresi. Betina-betina dari banyak jenis

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

26

memancarkan warna-warna yang kuat cemerlang selama masa bercumbu. Pada malam hari, banyak jenis memperlihatkan pola-pola warna yang lemah, sering dengan benjolan-benjolan atau batang-batang yang kontras yang dapat menolong mereka menyesuaikan dengan latar belakangnya (kamuflase). 2.6.4. Simbiosis: Mutualisme Kehidupan beberapa hewan karang berhubungan secara dekat dengan, dan sering bergantung atas hidup jenis lainnya. Ini dikenal sebagai simbiosis. Ada tiga bentuk dasar simbiosis: mutualisme, yaitu merupakan interaksi suatu jenis biota yang memberi keuntungan bagi kedua jenis yang berasosiasi akan tetapi terdapat ketergantungan di antara kedua jenis; komensalisme, suatu organisme bergantung kepada organisme yang lain tanpa merugikannya; dan parasitisme, ketika satu organisme mendapat keuntungan dari organisme yang lain. Semua bentuk ini ditemukan antara ikan-ikan karang Micronesia (Lieske dan Myers, 1997). Hubungan simbiotik di antara hewan laut mencakup spektrum yang luas. Hubungan simbiotik komensialisme lebih banyak ditemukan di antara hewan laut dibandingkan assosiasi mutualisme. Assosiasi mutualistik antara ikan dengan species lain yang telah banyak dipelajari yaitu antara ikan dengan cnidaria (Nybaken, 1988; Tandipayuk dan Hartati, t.t). Beberapa contoh asosiasi yang unik disajikan di bawah ini. Di Wilayah Indo-Pasifik Barat di daerah terumbu karang terdapat asosiasi mutualistik antara ikan-ikan kecil dan genera Amphiprion (apace/giru), Premnas (giru belang) dan Dascyllus (dakocan/betok karang) dengan berbagai jenis anemon besa. Ikan-ikan kecil tersebut dapat hidup di antara tentakel anemon dengan mencegah lepasnya nematokis dari tentakel anemon, Ikan-ikan lain dengan ukuran yang sama ternyata tidak mampu mencegah pelepasan nematokis anemon yang mematikan dirinya yang selanjutnya menjadi mangsa dari anemon. Asosiasi mutualistik juga terjadi antara Sifonofora yang berbahaya, yaitu ubur-ubur serdadu portugis (Physalia) dengan ikan kecil Nomeus gronovii yang berenang di anatara tentakel-tentakel dan menahan nematokis. Ikan-ikan muda sering berkumpul di bawah genta ubur-ubur Shifozoa yang besar (Cyanea dan Crysaora) untuk berlindung dari pemangsaan. Keadaan yang sama juga terjadi antara ikan-ikan dengan bulu babi berduri panjang,

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

27

Diadema spp. Bulu babi bersifat sirkumtropik dalam perairan yang dangkal dan memiliki duri-duri yang panjang dan tipis yang dengan mudah dapat menembus daging. Terdapat dua jenis ikan tropis yaitu Aeoliscus strigatus (ikan piso-piso - Shrimpfish) dan Diademichthys deversor (keling garis - Striped clingfish) yang telah beradaptasi hidup di antara duri-duri Diadema spp. sebagai tempat perlindungan. Ikan-ikan tersebut nampak seperti duri-duri bulu babi sehingga aman dari gangguan predator. Asosiasi antara ikan dengan ikan lain, umumnya antara ikan besar dengan ikan-ikan kecil. Ikan pemandu (Neucrates ductor) dan remoras (Echeneis remora) selalu ditemukan pada ikan-ikan yang lebih besar atau vertebrata laut yang lain seperti penyu. Tipe asosiasi lain yang dikenal sebagai tingkah laku membersihkan terjadi antara berbagai species ikan kecil (ikan dokter - Labroides spp.) dan udang yang secara aktif menarik ikan-ikan besar dengan maksud membersihkan mereka dari berbagai ektoparasit. Tingkah laku rnembersihkan tersebar luas dan nampaknya terdapat di semua terumbu. Pada proses asosiasi ini ikan-ikan pembersih (atau udang-udang) sering membuat stasiun pembersihan, yaitu tempat mereka mengumumkan kehadirannya dengan warna yang terang dan menyolok. Selama proses pembersihan, ikan yang dibersihkan tetap tinggal diam saat ikan pembersih bergerak di atas tubuhnya untuk membersihkan parasit-parasit yang menempel. Setiap karnivora nampak menahan diri seperti gencatan senjata. Sehingga ikan pembersih merasa aman. Para pembersih bahkan sering masuk ke dalam rongga mulut dan celah-celah insang. Asosiasi mutualistik antara ikan dan cumi-cumi dengan bakteri lumenesens umum ditemukan di zona mesopelagik. Dari asosiasi ini bakteri memperoleh makanan dari hewan yang lebih besar. Sebaliknya, ikan atau cumi-cumi menggunakan cahaya yang dihasilkan bakteri untuk melakukan pertahanan dan atau penyerangan. 2.6.5. Penyerupaan dan Mimicry: sebagai cara ikan memproteksi diri Di antara banyak gaya hidup ikan-ikan karang adalah sifat-sifatnya yang bergantung pada warna tanaman dan hewan lain. Menurut Lieske dan Myers (1997), Penyerupaan dan mimicry adalah cara-cara yang digunakan oleh sejumlah jenis ikan untuk menangkap mangsa atau melepaskan diri dari predator. Banyak jenis ikan bergantung pada kamuflase

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

28

untuk memadukan penampilan diri dalam dan dengan lingkungan sekitarnya. Ikan-ikan jenis lepu (Scorpionidae) dan ikan-ikan kodok (Antenariidae) memiliki jumbai yang dapat mengembang atau kutil-kutil yang menyerupai daun ganggang, dan bahkan beberapa membawa ganggang yang tumbuh pada permukaan tubuhnya. Banyak kerapu mempunyai pola-pola warna yang tidak menyerupai latar belakang apapun, tetapi ketika memasuki wilayah gelap, mereka mendadak tidak tanpak. Beberapa ikan tidak cocok dengan latar belakangnya secara keseluruhannya tetapi menyerupai yang lain secara lebih dekat, sehingga menjadi suatu yang tidak menarik bagi predator atau pemangsa. Juvenil ikan keling tanduk (Novaculichthys taeniaorus) serupa menyerupai dan berenang seolah-olah dia adalah serumpun rumput laut yang berayun-ayun. Kemiripan sebagai suatu cara perlindungan diri dikenal sebagai mimicry. Ini terjadi ketika suatu organisme menyerupai lainnya yang dilindungi dari predasi oleh sifat ketidak sukaan, daya peracunan, atau beberapa sifat lainnya. Mimicry terjadi dalam dua bentuk dasar. Pertama, batesian mimicry terjadi ketika satu hewan yang tidak terproteksi menyerupai hewan lain yang terproteksi. Ke dua, mullirian mimicry terjadi ketika dua hewan atau lebih terproteksi dengan menyerupai secara lebih dekat satu sama lain. Di antara ikan-ikan karang, batesian mimicry adalah lebih umum dari yang kedua. Jenis-jenis ikan yang terproteksi atau model, umumnya mempunyai pola warna yang jelas berbeda dan sering menyolok sekali (disebut aposematic coloration) yang karena predator tertentu belajar untuk menghindar setelah pengalaman pertama atau kedua, sehingga mimic yang nampak serupa juga dihindari. Contoh tipikal batesian mimicry adalah termasuk ikan buntal ayam berbisa, Canthigaster valentini dan ikan kupas-kupas yang bisa dimakan, Paraluterus prionurus. Buntal ayam tidak disukai dan beracun kuat, dia perenang yang relatif lambat yang membuat sedikit usaha untuk bersembunyi. Sementara kupas-kupas yang bisa dimakan tidak hanya serupa dengan buntal ayam tetapi juga berenang seperti buntal. Dalam mimicry yang agresif, mimic mengambila permainan tebak-tebakan suatu langkah lanjutan untuk maksud memperoleh suatu keuntungan lain daripada proteksi terhadap pengorbanan hewan-hewan lainnya. Mimicry yang agresif kira-kira baik dikembangkan di antara blenid yang memiliki mimic perawat (clener), contohnya blenid Aspidontus taeniatus yang telah mengembangkan suatu pola warna yang identik dengan ikan dokter (Labroides dimidiatus). Seperti diketahui ikan dokter ini mempunyai kebiasaan
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

29

merawat ikan-ikan lain dengan cara membuang/membersihkan parasit-parasit dan potonganpotongan jaringan rusak. Sementara jenis pemangsa ikan akan bersikap dengan membuka mulutnya karena ikan pembersih ini berenang ke dalam untuk mencari makanan. Seolaholah ada gencatan senjata. Pemangsa tersebut mengenali pelayanan pembersihan ini dan tidak akan berusaha memakannya. Sementara blenid tersebut menggunakan samarannya untuk melakukan pendekatan lebih pada ikan-ikan lain yang mengharapkan perawatan. Tetapi untuk mengganti perawatan yang sebenarnya, blenid tersebut berenang dengan cepat untuk mendapatkan makanan dari kepingan sirip atau sisik. Penyamaran blenid tidak sempurna : ikan-ikan yang lebih tua dan berpengalaman biasanya belajar untuk membedakan mimic palsu ini dan menghindarinya. Beberapa juvenil ikan raja bau atau bibir tebal, Plectorhinchus spp., adalah memungkinkan untuk memiliki mullirian mimicry, tetapi itu belum sepenuhnya dipertunjukan bahwa mereka beracun. Mereka secara khusus memiliki pola warna serupa dari cahaya yang kontras dan tonjolan gelap, dan berenang atau melayang-layang di tempat terbuka dengan gerakan badan dan sirip yang menyolok mata. Dengan cara menyerupai satu sama lain, kefektifan dari aposematic coloration diperkuat karena predator dapat belajar untuk menghindari mereka secara kolektif melalui satu pengalaman buruk yang hanya sekali terjadi.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

30

BAB III METODOLOGI


3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 19 Juni s/d 02 Juli 2003 di wilayah perairan karang Pulau-pulau Kangean, Kabupaten Sumenep Madura, di mana secara geografis terletak pada lintang 06! 50,00 - 07! 20,00 dan bujur 115! 10,00 - 116! 00,00 yang terdiri dari lembar peta/sheet Kangean dan sheet Kayuwaru yaitu lembar/sheet 1708-06 (Kangean), sheet 1708-07 (Kangean), sheet 1709-01 (Kangean), sheet 1709-02 (Kayuwaru), dan sheet 1808-01 (P. Sepanjang) yang diperoleh dari Peta Lingkungan Pantai Indonesia, yang dikeluarkan oleh BAKOSURTANAL dan DISHIDROS (Gambar 2). Titik sampel sebagai stasiun penelitian dipilih berdasarkan keberadaan terumbu karang yang berpotensial adanya tekanan kegiatan manusia, tekanan alam, dan jauh dari gangguan atau wilayah perlindungan (Tabel 2). Pengambilan data dilakukan antara tanggal 25 s/d 28 Juni 2003.

Sumber : Peta Lingkungan Laut Nasional skala 1:500.000 (BAKOSURTANAL DISHIDROS)

Gambar 2. Wilayah penelitian inventarisasi sumberdaya ikan karang


Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

31

3.2.

Metoda Survai ini dilakukan dengan pendekatan sensus visual pada garis transek (English et

al., 1994). Data ikan karang didapat melalui sensus visual yang dikerjakan oleh penyelam sepanjang garis transek 70 meter, dengan luas area sensus (70 x 10) m2. Jenis dan perkiraan jumlah ikan dicatat dalam data sheet kedap air. Identifikasi jenis ikan menggunakan buku petunjuk bergambar (Kuiter, 1992 dan Lieske dan Myers, 1994). Penyelaman pendahuluan dilakukan untuk membuat daftar species baku ikan setempat. Ikan karang dikelompokkan menurut statusnya, seperti ikan indikator, ikan major, dan ikan target (English et al., 1994). Ikan indikator kebanyakan dari suku Chaetodontidae yang kehadirannya dapat merefleksikan kondisi kesehatan karang. Ikan major adalah golongan ikan hias dan non-ikan hias yang selalu berasosiasi dengan karang, baik sebagai penetap maupun pelintas. Ikan target adalah dari golongan ikan yang biasa dicari oleh nelayan untuk dimakan dan dijual. 3.3. Alat dan Bahan Dalam mempersiapkan pengambilan data ikan karang di perairan Kepulauan Kangean diperlukan bahan dan peralatan pendukung yang antara lain : a. Peralatan, - SCUBA Equipment ( Tabung selam, Bouyancy Conpensator Device/BCD, Regulator, Fins, Booties, Masker dan snorkel, Wetsuits, Timah pemberat) - High Pressure Compressor - Kapal Motor berukuran sedang ( sekitar 7 ton) - Underwater Camera photo dan Underwater Camera video - Alat tulis bawah air, Roll meter untuk transek di bawah air - Buku identifikasi karang dan ikan karang - Tas sample, untuk penyimpanan sampel - Sechi disk, untuk mengukur kecerahan air laut - Water Checker, untuk mengukur Ph, Salinitas, Suhu, kandungan oksigen, dsb - Current meter, untuk mengukur arus laut - GPS, untuk pengukuran koordinat titik kontrol guna mengetahui posisi titik sample atau posisi lokasi pembuatan training area di lapangan

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

32

b. Bahan, - Film negatif, film video, Alkohol, formalin, Gasoline/Bensin 3.4. Analisa Data Analisa keragaman hayati ikan karang menggunakan beberapa indek yang dianggap penting sebagai baseline data. Indeks-indeks itu adalah Indeks Kekayaan Jenis (Richness Indices), Indeks Keanekaragaman (Diversity indices) dan Indeks Keseimbangan (Evenness Indices) (Ludwig dan Reynold, 1988). Indeks Kekayaan Jenis (Richness Indices) mengacu pada (1) Indeks Margalef "R1 = (S-1)/ln(n)#, dan (2) Indeks Menhinick "R2 = S / $n#, di mana S = banyaknya jenis, n = jumlah individu ikan untuk semua jenis. Indeks Keanekaragaman mengacu pada (1) Indeks Simpson " % = & '(ni(ni 1) / (N(N 1)(# dan (2) Indeks Shannon "H = )'(ni/N) ln(ni/N)( #, di mana ni = jumlah ikan jenis ke I, dan N = total individu ikan untuk semua jenis. Indeks Simpson adalah identik dengan Indeks Dominasi "D = (1 H)#, di mana nilai kedua Indeks ini berbanding terbalik dengan Indeks Shannon. Semakin besar prediksi nilai dominasi terhadap komunitas biota, berarti semakin kecil nilai prediksi terhadap keanekaragaman komunitas tersebut. Dalam hal ini keanekaragaman komunitas dianggap terbaik jika nilai % atau D mendekati 0 dan terburuk jika nilainya mendekati 1 (misalnya terjadi pada lingkungan hidup yang mengalami tekanan atau pencemaran). Berarti bahwa kisaran nilai kedua Indeks (% dan D) tersebut antara 0 dan 1. Semakin mendekati nilai 0, menyebabkan nilai Indeks H akan semakin besar (keanekaragaman hayati dianggap tinggi). Sebaliknya semakin mendekati 1, menyebabkan nilai Indeks H semakin kecil (keanekaragaman hayati dianggap buruk). Dalam kondisi alamiah besarnya nilai Indeks H untuk komunitas ikan karang berkisar diantara nilai 3 (sedang). Dalam ekosistem yang matang seringkali nilai H menjadi > 3. Dalam kondisi lingkungan yang buruk menyebabkan hanya sebagian kecil populasi biota yang bertahan dan menjadi berkembang mendominasi komunitas biota setempat. Ini berarti nilai Indeks Dominasi atau nilai Indeks Simpson untuk komunitas tersebut akan membesar dari 0 mendekati 1 dan akibatnya keanekaragaman (H)
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

33

mengecil dari 3 mendekati 1. Selain itu, unsur yang membentuk keanekaragaman hayati juga ditinjau dari banyaknya populasi yang menonjol (melimpah atau paling melimpah). Keragaman populasi ini mengacu pada besarnya diversity number dari Hill yaitu N1 dan N2, di mana N1 ditafsirkan sebagai banyak populasi dari suatu species yang cukup melimpah, sedangkan N2 adalah banyaknya populasi dari suatu species yang paling melimpah. Rumusnya adalah N1 = eH , dan N2 = 1/ %, di mana H adalah Indeks Shannon dan % adalah Indeks Sampson. Karena dominasi suatu populasi dalam komunitas juga mempengaruhi keseimbangan ekosistem, berarti besaran nilai Indeks Keanekaragaman (H) bukan hanya tergantung pada nilai Indek Simpson atau Indeks Dominasi, tetapi juga sangat ditentukan oleh nilai Indek Keseimbangan populasi dalam suatu komunitas. Karena itu analisis data ini juga memperhitungkan Indeks-Indeks Keseimbangan. Pada beberapa tulisan Indeks ini juga disebut Indeks Kemerataan. Indeks tersebut antara lain adalah Indeks Pielou "E1 = 'H / ln (S)(#; Sheldon " E2 = (eH/ S) # ; Heip "E3 = '(eH - 1 / (S - 1)(# ; Hill "E4 = '(1 / %) / eH(# ; Modifikasi dari Hill "E5 = '(1 / %) - 1( / (eH 1)#, di mana S = banyaknya jenis, H = Indeks Shannon, % = Indeks Simpson, dan e = bilangan natural. Analisis hasil penelitian lebih terfokus pada Indeks Shannon (H), Indeks Simpson (%) atau Indeks Dominasi (D) dan Indeks Keseimbangan (E1 ; Pielou). Sementara sisanya digunakan sebatas bench mark bagi hasil kajian yang serupa. Sedangkan kepadatan ikan karang merupakan perhitungan jumlah individu per satuan luas transek (10 m x 70 m). Semua prosedural untuk perhitungan rumus-rumus di atas menggunakan prinsif-prinsif Microsoft Excel. Contoh aplikasinya disajikan pada Lampiran A. Untuk menganalisis kondisi kesehatan karang berdasarkan kehadiran ikan indicator (Chaetodontidae) digunakan Irian Jaya Reef Diversity Index (IRDI), di mana persamaannya IRDI = Cx/41 x 100 %. Cx adalah jumlah jenis ikan indicator yang terdapat di suatu lokasi. Kondisi karang yang sehat memiliki nilai IRDI * 75 %, sementara kondisi yang buruk memiliki nilai IRDI + 30 % (Nash, 1989).

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

34

Tabel 2. Gambaran umum lokasi transek pada setiap stasiun


Posisi Geografis Transek Stasiun (Geographical (Station) Position of the Transects)
1 2 S 6 57 27,2 E 115 26 09 S 7 03 06 E 115 38 14,4 S 7 00 41,7 E 115 40 23 S 6 57 38,8 E 115 42 17,13 S 6 50 03,6 E 115 12 38 S 6 49 55,7 E 115 13 41

Dasar Perairan dan Jarak Persentasi Tutupan Pandang Karang Horizontal (Sea Bottom & (Body Water Percent Cover of Corals) Visibility)
Reef slope, pasir, rubble 56.90 % Reef slope, pasir, rubble 17.10 % Reef slope, pasir, rubble 27.17 % Reef slope, pasir, rubble 18.07 % Fringing reef, pasir, rubble 22.47 % Fringing reef, pasir, rubble 11.40 % Baik (10 m) Baik (10 m) Baik (10 m) baik (10 m) Sangat baik (> 20 m) baik (> 10 m)

Arus Air (Water Current)


Sedang Sedang

Nama Lokasi (Study site)


P. Keriting Tanpa penduduk Wilayah konservasi P. Sapangkur besar Berpenduduk P. Paliat Berpenduduk, Wilayah budidaya mutiara P. Stabok Berpenduduk Area Wisata P. Maburit Bependuduk Area transportasi P. Kangean Utara Berpenduduk Area berlabuh

Sedang

4 5 6

Sedang Sedang Sedang

Sumber : Hasil Survei Lapang INSDAL, Juni Juli 2003

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

35

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Kondisi Komunitas Ikan Karang 4.1.1. Keanekaragaman ikan karang Survei secara detail untuk ikan karang adalah sulit. Beberapa tehnik pendataan populasi ikan karang secara detail sering berhubungan dengan penggunaan racun ikan dan bahan peledak untuk membunuh dan mengumpulkan sampel ikan. Oleh karena itu, sering menimbulkan dampak negatif dan tidak sesuai digunakan untuk area perlindungan. Sementara itu teknik visual sensus memiliki kelemahan-kelemahan tertentu dan sangat bergantung pada keterampilan dan konsistensi pengamat yang harus memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengingat serta mencatat ratusan jenis-jenis ikan karang. Tetapi dengan berbagai kelemahannya, tehnik ini lebih disetujui untuk pendataan ikan karang dengan maksud-maksud yang praktis dan keamanan lingkungan (Kenchington, 1988). Dalam kontek ini, hasil penelitian ini tentu saja tidak lepas dari kelemahankelemahan metoda yang digunakan, seperti sensual visual. Survei ini telah berhasil mengindentifikasi secara minimal jenis-jenis ikan karang, sejauh mereka dapat dilihat (Lampiran B). Namun demikian peran pengamat (biologist) yang sabar, berpengalaman, penyelam yang tangguh, dan waktu inventarisasi yang tepat diharapkan dapat memperkecil kelemahan tersebut dan memperbesar hasil temuan. Penentuan waktu sensus dan penyelaman pendahuluan untuk membuat daftar jenis-jenis baku ikan setempat adalah sangat penting untuk mengurangi bias hasil sensus. Waktu sensus yang baik adalah ketika puncak pasang dan atau sore hari menjelang petang. Pada saat ini ikan-ikan keluar untuk makan dan ikan yang bersifat nokturnal biasanya sudah mulai keluar. Keanekaragaman hayati (biodiversity) ikan karang di suatu area terumbu karang perlu diekspos untuk kepentingan managemen penangkapan, terutama sekali untuk pengaturan penangkapan dan atau proteksi bagi ikan-ikan yang memiliki kelimpahan rendah sementara bernilai ekonomis tinggi dan rentan terhadap penangkapan yang berlebih. Untuk alasan desiminasi keanekaragaman hayati, hasil sensus visual pada area transek yang berupa sederet nama-nama ikan karang yang berhasil dikenali disajikan secara detail pada Lampiran
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

36

B. Dari Lampiran ini telah dihimpun berbagai aspek praktis dan indeks-indeks ekologis dari populasi ikan karang sebagaimana disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 Kondisi ikan karang di Pulau-Pulau Kangean, Sumenep Madura, menurut stasiun penelitian
No. 1 1.1. 1.2 1.3 2 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. 2.6. 2.7. 2.8. 2.9. 2.10 2.11. 2.12 2.13 3 3.1. 3.2. 3.3. 4. 4.1 4.2 5 5.1. 5.2. 5.3. Katagori (Catagories) Kondisi Taksonomi Ikan : (Disciption of Fish Taxonomy) Jumlah jenis (Species Number) Jumlah marga (Genus Number) Jumlah suku (Family Number) Kondisi Populasi Ikan : (Fish Population State) Richness Index, Margalef: R1 Menhinick Index: R2 Simpson Diversity Index: Lambda Shannon Diversity Index: H Hill's diversitry Number: N1 Hill's diversitry Number: N2 Evenness Index: E1 Evenness Index: E2 Evenness Index: E3 Evenness Index: E4 Evenness Index: E5 Jumlah Individu (Individual Number) Kepadatan (individual/m2) Pengelompokan Status ikan : (Fish Grouping) Percentage of the major fishes (M ; % ) Percentage of the target fishes ( T ; % ) Percentage of indicator fishes ( I ; % ) Ikan Indicator (Indicator Fishes) 5.47 0.49 0.08 2.94 18.85 12.69 0.74 0.36 0.34 0.67 0.65 11148 16 7.94 0.71 0.09 2.94 18.96 11.05 0.68 0.25 0.24 0.58 0.56 11147 16 10.82 0.77 0.04 3.68 39.50 26.32 0.79 0.37 0.36 0.67 0.66 19793 28 8.61 0.74 0.07 3.21 24.79 13.74 0.73 0.30 0.29 0.55 0.54 12237 17 8.84 0.70 0.07 3.21 24.73 13.73 0.72 0.29 0.28 0.56 0.54 15068 22 11.97 1.08 0.07 3.40 29.96 14.40 0.72 0.27 0.26 0.48 0.46 10679 15 STASIUN 1 2 3 ( STATION ) 4 5 6

52 32 18

75 43 18

108 63 28

82 46 23

86 47 18

112 63 24

61.5 32.7 5.8

74.7 24.0 1.3

63.9 26.9 9.3

58.5 34.1 7.3

60.5 32.6 7.0

56.3 36.6 7.1

IRDI Index (%) Jumlah jenis (Species number)


Status Ekonomi Ikan : (Fish-economic valuing) Low valuable fishes (%) Fair valuable fishes (%) High valuable fishes (%)

7.32 3

2.44 1

24.39 10

14.63 6

14.63 6

19.51 8

75.0 13.5 11.5

76.0 13.3 10.7

63.0 20.4 16.7

63.4 20.7 15.9

66.3 16.3 17.4

67.0 14.3 18.8

Sumber : Hasil Survei Lapang INSDAL, Juni Juli 2003 37

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

Sederet nama yang ditabulasi terkadang hanya menyajikan nomenklatur dari berbagai jenis ikan karang dan mungkin dapat membosankan bagi pembaca, kecuali diberikan informasi penting bagi ikan-ikan tersebut. Status masing-masing ikan, apakah tergolong ikan Target, Mayor, atau ikan Indikator akan menunjukan peran ikan-ikan karang dalam komunitasnya dan ini mudah dikenali melalui petunjuk-petunjuk (simbol T, M, dan I) yang disiapkan di bagian kolom tabel, sama seperti status ekonomi dari masing-masing ikan, seperti (*) cukup mempunyai nilai, (**) bernilai ekonomis sedang, dan (***) bernilai ekonomis tinggi. Nilai ekonomis ikan-ikan ini didasarkan pada a) Jika ia ikan pangan (ikan target), maka permintaan pasar akan jenis itu apakah tinggi, sedang, atau rendah; b) jika ia ikan hias (baik ikan mayor atau ikan indikator), nilainya sangat ditentukan dari sifat warna, bentuk, gerakan-gerakan yang anggun dan unik, kelangkaan jumlahnya di terumbu karang, adanya usaha dan tujuan pasarnya (apa untuk ekspor atau pasar domestik). Tabel 4 menunjukkan bahwa stasiun yang memiliki jumlah jenis ikan karang yang relatif tinggi adalah untuk lokasi pulau Kangean sebelah utara (stasiun 6), seperti juga diperlihatkan oleh Indeks kekayaan jenis (R1=11,97 dan R2=1,08) yang relatif tinggi dibanding nilainya pada stasiun lainnya, walaupun ditinjau dari Indeks keragamannya (H) yang relatif lebih rendah dibanding nilai H pada Pulau Paliat sebelah selatan (stasiun 3). Karena komunitas ikan pada stasiun 3 memiliki tingkat keseimbangan populasi yang relatif tinggi dengan indeks dominasi yang rendah dibanding yang ditemukan pada stasiun 6. Disamping itu stasiun 3 memiliki jumlah ikan-ikan berkoloni lebih banyak (N1=39,5 koloni dan N2= 26,3 koloni) dan juga memiliki kelimpahan ikan yang tertinggi (dari kisaran 15 sampai 28 individual/m2 untuk semua stasiun). Tabel 3 juga menunjukkan bahwa kisaran jumlah jenis ikan karang menurut letak stasiun berkisar antara 52 sampai 112 jenis, sementara Indeks keanekaragaman (H) berkisar antara 2,94 sampai 3,68. Indeks kesimbangan berkisar antara 0,68 sampai 0,79 dan Indeks dominasi berkisar antara 0,04 sampai 0,09. Ini berarti bahwa keanekaragaman komunitas ikan di sini masuk dalam interval sedang sampai tinggi dengan keseimbangan populasi yang cukup baik. Tetapi jika ini menjadi patokan, maka dibandingkan dengan area-area terumbu karang yang sehat dengan keragaman yang tinggi, seperti di kepulauan Banda, Maluku, kondisi keragaman ikan karang di Pulau-Pulau Kangean relatif masih lebih rendah. Variasi indeks keanekaragaman ikan karang pada 6 lokasi di kepulauan Banda berkisar antara 3,57
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

38

sampai 4,27 dengan jumlah jenis berkisar antara 142 sampai 224 species. Variasi Indeks Dominasi berkisar antara 0,0256 sampai 0,1148 dan variasi Indeks Keseimbangan 0,68 sampai 0,81 (Edrus et al., 1992). Alasan yang mungkin dapat diterima dari perbedaan ini adalah telah rusaknya habitat ikan yang dijumpai pada setiap lokasi penelitian Pulau-pulau Kangean disamping rendahnya persen tutupan karang (Tabel 2). Secara tidak langsung, tingginya keanekaragaman ikan karang, khususnya ikan-ikan mayor dan ikan indikator, dapat menjadi petunjuk sehatnya suatu perairan karang. Menurut Odum (1975), keragamanan biota merupakan bukti yang digunakan untuk melihat ada tidaknya tekanan terhadap lingkungan sebagai akibat ekploitasi atau pencemaran. Ekosistem yang matang (dalam arti perkembangannya dan tidak ada komponen yang membuat tekanan terhadap kesimbangan komunitas atau tidak ada kekuatan lain yang memutuskan fungsi dari masing-masing komponen dalam ekosistem) biasanya ditandai oleh keragaman yang tinggi dan kesimbangan populasi yang serasi. Kondisi pada saat itu disebut steady state, di mana kisaran kesimbangan masih dianggap moderat dan berada pada skala 0,6 0,8. Secara umum kiasaran keragaman dinyatakan dengan skala Simpson 0 1. Nilainya merupakan selisih dari 1 D (D= indeks dominasi). Keragaman maksimum, di mana proporsi jumlah individu antar populasi sama besar, tercapai apabila nilainya = 1. Tetapi pada kenyataannya secara alamiah keragaman maksimum jarang terjadi di alam. Jadi rendahnya keragaman ikan yang disertai dengan ekstrimnya dominasi suatu jenis pada suatu area terumbu karang merupakan petunjuk adanya tekanan-tekanan yang buruk pada area tersebut. Karena hanya ikan-ikan tertentu yang mampu beradaptasi dan bertahan hidup dan berkembang biak di area yang mengalami tekanan. Tekanan ini bisa diartikan sebagai hasil dari pencemaran perairan dan rusaknya habitat ikan. Menurut Gomez dan Yap (1984) ikan merupakan organisma yang relatif kompleks, banyak aspek dari biologisnya dan perilakunya dapat digunakan untuk ukuran atau tanda-tanda tentang tingkat kesesuaian (suitability) dari habitat-habitatnya. Oleh karena itu disamping faktor musim, kerusakan habitat seringkali disinyalir sebagai faktor penyebab tidak tanpaknya berbagai jenis ikan karang yang penting dan bernilai ekonomis pada waktu tertentu. Kecenderungan adanya keinginan untuk memperbandingkan potensi sumberdaya dari lokasi yang satu dengan yang lain, baik berdekatan atau mungkin berjauhan, secara umum semua indeks ekologis di atas (Tabel 3) perlu disajikan secara menyeluruh sebagai
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

39

suatu baseline data yang dapat dijadikan bench mark bagi hasil kajian lanjutan. Semua indeks tersebut merupakan data yang baik dan refresentatif bagi usaha pemetaan sumberdaya perikanan karang dalam konteks GIS. Sangat disarankan bahwa semua survei perikanan karang dapat menyajikan indeks-indeks yang sama seperti di atas. 4.1.2. Pengelompokan ikan karang Menurut Hutomo (1993), ikan-ikan karang sebagian besar tergolong ikan bertulang keras (Teleostei) dari ordo Percifomes. Dalam sejarah evolusinya, ordo ini berkembang pada zaman tersier. Kelompok yang paling erat kaitannya dengan lingkungan terumbu karang meliputi delapan suku. Dari subordo Labridei, terdiri atas ikan cina-cina (Labridae), ikan kakatua (Scaridae) dan ikan betok (Pomacentridae). Dari subordo Acanthuroidei terdiri atas ikan butana (Acanthuridae), ikan baronang (Siganidae) dan ikan bendera (Zanclidae). Dari subordo Chaetodontidei meliputi ikan kepe-kepe (Chaetodontidae) dan kambing-kambing (Pomacanthidae). Sementara suku-suku ikan yang lain dan biasa berasosiasi dengan terumbu karang juga tercatat sebagai ikan karang, meskipun habitat aslinya adalah pasir, batuan, atau lamun. Untuk kepentingan yang lebih praktis dalam pengelolaannya, pengelompokan ikan karang ini berkembang di luar taksonominya yang resmi ke arah penentuan status ikan karang, di mana di dalamnya ikan karang digolongkan menjadi kelompok ikan Major, ikan Target dan ikan Indikator. Lampiran B dengan jelas menunjukkan jenis mana yang tergolong Major, Target dan Indicator. Tetapi Lampiran B tidak menunjukan seluruh jenis yang biasa hadir atau berasosiasi dengan terumbu karang. Tidak banyak jenis ikan Target ekonomis penting yang teridentifikasi di area transek, seperti jenis yang berasal dari kelompok suku Holocentridae (Murjan/Brajanata), Serranidae (Kerapu), Lutjanidae (Kakap, Bambangan), Haemullidae (Bibir tebal), Scaridae (Kakatua), Siganidae (Baronang) dan Acanthuridae (Butana). Bahkan jenis-jenis dari Lethrinidae (Lentjam) tidak muncul sama sekali. Sama seperti ikan Napoleon (Cheilinus undulatus), satu jenis ekonomis penting tetapi kontropersial dalam pemanfaatannya. Begitu juga untuk jenis-jenis ikan major atau ikan hias, banyak yang absen. Apalagi untuk jenis jenis ikan indicator yang tergolong dalam suku Chaetodontidae.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

40

Ratio dari ketiga kelompok ikan Mayor, Target dan Indikator dalam kecenderungan normal, yaitu masing-masing 60 %, 30 % dan 10 % khususnya untuk stasiun 1,3,4,5 dan 6. Sementara stasiun 2 miskin akan ikan target dan hanya memiliki satu jenis ikan indikator. Walaupun keberadaan ikan karang dapat digeneralisasi, artinya di mana ada terumbu karang selalu dijumpai berbagai jenis ikang karang yang sama, tetapi sekali lagi hadirnya jenis ikan karang tertentu sangat ditentukan oleh habitatnya atau relung ekologinya (ecology niche) di mana ikan menunjukkan perannya di situ dalam tingkat yang lebih mikro atau dapat pula kehadirannya untuk keperluan-keperluan reproduksi dan makanan yang spesifik. Seperti diketahui bahwa sejumlah besar lubang dan celah pada karang menyediakan tempat perlindungan yang melimpah untuk berbagai jenis ikan dan invertebrata dan ini adalah penting untuk tempat asuhan ikan. Beberapa ikan-ikan yang biasa menetap di terumbu karang memiliki tempat-tempat perlindungan, yang dihuni secara bergantian antara ikan-ikan diurnal dan nokturnal. Selama siang hari banyak ikan nokturnal menempati lubang-lubang dan celah-celah ini sementara ikan-ikan diurnal keluar mencari makan dan jenis-jenis ikan lain menunggu di sekitarnya. Sebaliknya malam hari peran-peran mereka digantikan. Lebih jauh Salm dan Kenchington (1988) menjelaskan bahwa untuk startegi interaksi antar jenis, jenis yang tinggal dalam kondisi yang padat pada terumbu karang dapat mengembangkan berbagai macam interaksi, baik itu berupa antibiosis (mengeluarkan bahan kimia yang berbahaya bagi organisma lain) atau simbiosis (hubungan yang saling menguntungkan). Ikan-ikan yang hidup di area terumbu karang memiliki tempat spesifik untuk berproduksi dan berkembang biak. Ada yang memiliki sarang sementara selama masa kawin dan reproduktif, dan ada pula ikan-ikan yang menetap dan menguasai wilayahnya. Sebagai contoh adalah jenis-jenis ikan anemon (Amphiprion spp.; Premnas spp.) dan ikan sersan mayor (Abudefduf spp.). Ikan giru pasir (anemon) merupakan ikan yang hidup bersimbiosis dengan anemon, sebagai tempat untuk menetap dan berkembang biak. Sementara ikan-ikan sersan mayor selama musim kawin bergerak keluar batas area karang mencari celah atau gua untuk menetap sampai selesai masa musim kawin (Fahmi, 2001). Dapat diasumsikan bahwa dengan absennya anemon tersebut di area terumbu karang, berarti juga hilangnya jenis ikan giru pasir di tempat itu.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

41

Contoh

yang

lain

adalah

berkenaan

dengan

assosiasi

ikan

kepe-kepe

(chaetodontidae) dengan jenis karang tertentu. Seperti misalnya jenis Chaetodon trifascialis, distribusi dan kelimpahannya tergantung dari adanya jenis karang Acropora confertus dan Acropora hyacinthus (Rees, 1977). Kehadiran Chaetodon baronessa dan Chaetodon trifasciatus di suatu perairan biasanya merupakan suatu pertanda bahwa di lokasi tersebut banyak terdapat karang keras akropora tabular dan bercabang, karena makanan pokoknya adalah polyp karang dari marga acropora (Mackay, 1994). Menurut Nybakken (1988) dan Mackay (1994, dalam Edrus dan Syam, 1998) bahwa ketertarikan ikan kepe-kepe terhadap terumbu karang kuat sekali dan ini disinyalir karena alasan jenis makanan. Ikan ini meskipun bersifat omnivora, ada sebagian besar yang hanya senang dengan makanan tertentu saja. Makanan kegemarannya adalah polyp karang, sedangkan jenis-jenis makanan yang lain dapat dilihat pada Tabel 4. Untuk alasan ini mungkin saja jenis-jenis dari Chaetodont tidak tampak hadir pada suatu lokasi. Untuk alasan yang sama, yaitu makanan, dalam 24 jam sering dijumpai ikan-ikan pelintas yang keluar masuk area terumbu karang berulang-ulang dalam sehari. Ikan ini kebanyakan mencari mangsa di terumbu karang, sehingga digolongkan juga dalam kelompok ikan target yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Contoh ikan ikan ini adalah kebanyakan dari golongan ikan ekor kuning (Caesio spp.; Paracaesio spp.) ; ikan kuwe (Caranx spp. ; Carangoides spp.), dan ikan barakuda (Sphyraena barracuda). Karena ikanikan ini termasuk dalam golongan ikan pelagis yang memiliki mobilitas tinggi, jarang dapat disensus di area transek karang yang dangkal. Walaupun sering ditemukan di luar batas wilayah transek. Ikan kuwe sering terlihat melintas di area pelabuhan atau di area karang yang dalam dan terjal (slope atau drop off). 4.1.3. Ikan indikator dan Indeks IRDI Sensus ikan kepe-kepe (Chaetodontidae) sangat mudah dilakukan bagi tehnisi (nonspecialist), khususnya baik untuk kepentingan monitoring kondisi karang secara periodik. Ikan ini paling kentara di antara ichthyfauna karang. Jenis-jenisnya mudah dikenali dan taksonominya telah ditentukan. Jenis-jenis ikan ini sering dijumpai berpasangan dan memiliki daerah teritorial, karennya mudah dihitung secara individual.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

42

Tabel 4. Kebiasaan makan Chaetodontidae


Chaetodontidae
Chaetodon auriga Chaetodon baronessa Chaetodon citrinelus Chaetocion ephippium Chaetodon punctatofasciatus Chaetodon kleinii Chaetodon melannotus Chaetodon meyeri Chaetodon oceilicaudus Chaetodon octofasciatus Chaetodon ornatissimus Chaetodon rafflesi Chaetodon speculum Chaetodon trifascialis Chaelodon trifasciatus Chaetodon unimaculatus Chaetodon vagabundus Chaetodon xanthurus Chelmon rostratus Coradion melanoppus Forcipiger flavissiimus Hemitaurichthys polylepis Heniochus chrysozonus Heniochus varius

Makanan (Food)
a;b;c;y A a;d;e a;d;f;g a;d;e;h I;y;k a** a l** u m a* ; b ; c a;d a;n a c;e;h;l;o a;b;c;y u c;o u c;g;o;q;r;s;t t a u

Catatan (Remark)
A : Karang polips (Coral polyps) B : Anemon laut (Sea anemones) C : Polychaetes d : Benthos kecil (Small benthic invertebrates) E : Ganggang filamenta (Filamentous algae) F : Spons (Sponges) G : Telur ikan (Fish eggs) H : Karang (Corals) I : Soft coral polyps y : Ganggang (Algae) K : Zooplankton L : Karang lunak (Soft corals) m : Coral tissue, particularity damaged areas that exude large quantities of mucous n: O: p: Q: R: S: T: U: *: Mucous of acropora coral Krustase kecil (Small crustaceans) Hydroids Echinoderma (Echinoderms) Pediceria of sea urchins Kepiting kecil (Small crabs) Planktons Tidak ada data (No information) Primarily on octocolallian and scleractinian coral polyps

** : Litophyton viridis, and species of the genera Sarcophyton, Nepthia and Clavularia

Sumber : Mackay, 1994

Keunikan ikan kepe-kepe adalah kelimpahan dan jumlah jenisnya pada suatu perairan dapat memberikan gambaran mengenai kualitas terumbu karang setempat. Para ahli telah sepakat dalam menempatkan jenis-jenis dari Chaetodontide sebagai species indicator kondisi terumbu karang, terutama hal yang berhubungan dengan perilaku dan makannya. Jenis makanan merupakan alasan yang utama dari keberadaan ikan kepe-kepe di area terumbu karang. Mackay, 1994 telah mengamati kebiasaan makan Chaetodontidae (Tabel 4).
43

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

Untuk terumbu karang di Wilayah Timur Indonesia, seperti Irian, di mana kondisi karang masih dalam katagori sehat, ikan kepe-kepe hampir selalu dijumpai dalam jumlah jenis dan individu yang tinggi. Dengan alasan ini, Nash (1989) telah mengembangkan tolok ukur kesehatan dan keragaman terumbu karang yang dikenal sebagai Irian Diversity Index (IRDI). Melalui indeks ini satu lokasi terumbu karang dengan lokasi lainya dapat diperbandingkan. Indeks ini juga data refrensentatif untuk kepentingan GIS. Dalam kontek studi ini, ikan kepe-kepe yang merupakan kelompok ikan indicator kesehatan karang hadir dalam jumlah yang sangat kecil di beberapa lokasi penelitian PulauPulau Kangean, yaitu antara 1 sampai 10 jenis. Dari jumlah ini diperoleh Indeks IRDI di bawah 30 % (Table 4). Ini berarti kondisi kesehatan karang batu di semua stasiun masuk dalam katagori buruk. Buruk dalam arti keragaman karang batu yang rendah dan atau persentasi tutupan karang batu yang rendah. 4.1.4. Ikan sebagai sumberdaya yang bernilai ekonomis Tujuan penilaian sumberdaya selalu melibatkan identifikasi perubahan-perubahan dalam kontek ongkos dan keuntungan karena perubahan-perubahan berkenaan dengan dampak lingkungan. Penilaian sumberdaya adalah suatu pengembangan dari analisis cost & benefit. Ini berhubungan dengan konsep nilai yang berhubungan dengan apa yang seseorang ingin bayar untuk barang dan jasa. Dalam kontek lingkungan alam, pertanyaan yang paling relevan untuk penilaian sumberdaya adalah bagaimana perubahan-perubahan dalam kepuasan masyarakat atau kesejahteraan yang disebabkan dari perubahan-perubahan dalam kualitas lingkungan. Pertanyaan mendasar yang paling umum digunakan dalam pendekatan penilaian sumberdaya adalah keuntungan ekonomis dan kehilangan apa saja yang disebabkan dari perubahan-perubahan kualitas lingkungan? (Briones, 1999). Dalam interaksi perdagangan ternyata banyak pengalaman yang dapat diperoleh bahwa sekecil apapun atau seburuk apapun rupa ikan ternyata memiliki nilai ekonomis, baik itu ikan pangan maupun ikan hias. Dalam kontek interaksi manusia dengan alam, keuntungan hakiki yang didapat dari ikan sebagai sumberdaya perairan karang bukan terletak pada ketersediaan protein hewani dan tingginya harga jual tetapi lebih menjurus pada bagaimana pengelolaan sumberdaya itu dapat memelihara atau mempertahankan tingginya persentasi dari ikan-ikan yang bernilai ekonomis dalam suatu perairan karang. Ini
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

44

hanya akan didapat jika pengguna-pengguna mau sedikit menghargai dan memelihara dengan baik habitat-habitat ikan tersebut. Data tentang status ekonomi ikan-ikan karang sangat berarti bagi pengelolaannya, setidaknya dapat menimbulkan rangsangan untuk meningkatkan pemanfaatan dan penetapan regulasinya. Ratio dari berbagai tingkat penilaian ekonomi (Tabel 4) juga dapat menjadi petunjuk tentang nilai dan kualitas dari ekosistem karang. Ini juga merupakan atribut yang baik untuk GIS. Dalam hubungannya dengan sumberdaya ikan karang, hasil temuan survei ini menunjukkan bahwa seluruh lokasi perairan karang Pulau-Pulau Kangean didominasi oleh ikan-ikan yang bernilai ekonomis rendah (berkisar antara 63 % sampai 75 %). Sementara ratio penilaian yang relatif bisa dikatakan normal untuk komunitas ikan karang adalah seperti yang diperlihatkan pada stasiun 3 (bernilai ekonomis rendah 63 %, bernilai ekonomis sedang 20,4 % dan bernilai ekonomis tinggi 16,7 %). Seperti telah disebutkan di atas, banyak jenis ikan-ikan yang bernilai ekonomis tinggi dan sedang absen dari pengamatan di wilayah transek. Diasumsikan bahwa hal ini disebabkan oleh rusaknya habitat ikan. Jadi kemunduran mutu lingkungan sangat berpengaruh pada nilai sumberdaya ikan karang. Sebagaimana hal ini juga diakui oleh beberapa pengusaha perikanan setempat. Nampak bahwa mereka tidak merasa puas dengan kondisi mutu lingkungan saat ini. Keuntungan jangka pendek yang diperoleh saat ini dari perairan karang tidak berarti apa-apa jika return costnya diikuti oleh kerusakan terumbu karang. Sebagai contoh, analisis ekonomi oleh Soede dan Pet (2000) menunjukkan besarnya kerugian bersih penangkapan ikan dengan peledak setelah 20 tahun sebesar US$ 306.800 per km2 untuk terumbu karang yang memiliki potensi wisata tinggi, dan perlindungan pantai sebesar US$ 33.900 per km2 terumbu karang untuk daerah yang potensinya rendah. Saat ini, pengelolaan terumbu karang dan mangrove cenderung untuk keuntungan yang berfihak pada kepentingan manusia dan bukan pada ekosistem karang dan mangrove itu sendiri, walaupun efek dari pengelolaan atas sumberdaya tersebut tidak dapat dianggap untuk memperoleh keuntungan semata-mata. Pengelolaan seperti ini lebih terarah pada pendekatan yang lebih terorganisir pada masalah-masalah produksi dari pada penurunan mutu lingkungan dan konservasi. Pengelolaan ini terfokus pada kuantitas dari produk sumberdaya, dimana pada kenyataannya bahwa tujuan dari perikanan komersil dan
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

45

kehutanan

adalah

untuk

memperoleh

produksi

yang

sebesar-besarnya

tanpa

memperhitungkan input dari faktor lain, seperti environmental cost. Keseimbangan yang serasi antara pemanfaatan dan proktesi diharapkan dapat memperkecil beban lingkungan tersebut, sehingga pada akhirnya akan dicapai kesinambungan pemanfaatan. 4.2. Pemetaan Ikan Karang Sebenarnya sangat sulit untuk memetakan sebaran dari ikan karang yang ada di perairan. Tetapi dengan korelasi antara tutupan karang dengan jenis dan kelimpahan ikan dapat diprediksi area sebaran ikan karang di Kepulauan Kangean dan Madura. Ikan karang merupakan ikan yang menetap, dalam arti kata tidak seperti ikan pelagis yang mencari makan sampai ke tempat jauh dan selalu bergerak sesuai dengan musim, arus, dan suhu air laut. Dengan adanya sifat ikan karang yang mancari makan dan hidup hanya disekitar terumbu karang tersebut, maka sebaran dari ikan karang dapat diprediksi keberadaannya. Hanya sulitnya, untuk mengetahui jenis maupun kelimpahan ikan karang tersebut tetap harus melakukan survei lapang langsung di dalam air atau melakukan penyelaman. Titik sampel yang diperlukan dengan penyelaman, untuk mengetahui jenis dan polulasi ikan karang di seluruh wilayah Madura dan kangean cukup banyak. Hal ini cukup sulit dilakukan, sehubungan dengan waktu yang diperlukan untuk melakukan penyelaman cukup memakan waktu dan tenaga, sehingga dengan waktu yang terbatas maka wilayah yang di teliti atau digunakan sebagai titik sampel sangat sedikit. Terbatasnya titik sampel yang diteliti menyebabkan kondisi ikan karang yang ada di seluruh perairan Madura dan Kangean hanya dapat diprediksi secara umum saja. Hanya pada wilayah penelitian/titik sampel saja yang dapat secara rinci diketahui jenis dan populasinya, sedangkan pada wilayah lainnya berdasarkan prediksi dan kemungkinan saja, sesuai dengan citra Landsat yang digunakan untuk membantu mendekteksi sebaran terumbu karang di Kangean dan Madura. Jika melihat korelasi antara kelimpahan ikan karang, jumlah ikan major, ikan target dan ikan indikator dengan kondisi perairan kurang begitu berkorelasi karena kondisi air di perairan Kangean tersebut termasuk baik. Sehingga dapat disimpulkan sementara bahwa perbedaan jumlah dan kelimpahan ikan di Kangean tersebut dipengaruhi oleh campur tangan manusia, yaitu dengan cara merusak habitat (terumbu karang) tempat ikan karang tersebut
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

46

hidup, serta penangkapan ikan karang dengan cara yang kurang ramah lingkungan. Beberapa kerusakan karang di wilayah Kangean diantaranya diakibatkan oleh adanya pengeboman terumbu karang dan peracunan perairan, yang menyebabkan ikan menjadi mabuk dan mudah untuk diambil, tetapi pengambilan dengan cara ini menyebabkan rusaknya terumbu karang, tempat dimana ikan karang tersebut hidup dan berkembang biak. Dari 23 lembar pemetaan terumbu karang dan ikan karang tersebut, maka wilayah yang memiliki terumbu karang terdiri dari 11 lembar (NLP) yang dapat dilihat pada tabel 5. Adapun wilayah penelitian atau pengambilan sampel dapat dilihat pada peta survei lapang di belakang. Pada peta ini dapat dilihat lokasi titik pengambilan sampel yang disertai oleh data perairan, foto dan video yang menggambarkan keadaan atau kondisi terumbu dan ikan karang tiap titik sampel, dan dikemas dalam album terpisah. Pada lampiran pemetaan sebaran ikan karang di belakang dapat dilihat hasil prediksi yang dilakukan berdasarkan penelitian yang dilakukan di beberapa titik sampel di wilayah Kangean. Tabel 5. Sebaran dan LuasTerumbu Karang Skala 1:50.000 Nomor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Lembar / NLP Tamberu (NLP 1609-22) Ambuten (NLP 1609-31) Kwanyar (NLP 1608-02) Kalowang (NLP 1708-01) Pulau Guwaguwa (NLP 1708-05) Kangean (NLP 1708-06) Kangean (NLP 1708-07) Kangean (NLP 1709-01) Kayuwaru (NLP 1709-02) Pulau Sepanjang (NLP 1808-01) Sampang (NLP 1608-04) Jumlah Luas (Ha) 3639.48 64.78 6689.75 10586.04 2864.74 65.29 6219.57 176.60 704.88 19287.50 2827.62 53126.25 % 6.85 0.12 12.59 19.93 5.39 0.12 11.71 0.33 1.33 36.31 5.32 100.00

Sumber : Hasil interpretasi Citra Landsat ETM 7 tahun 2002 2003, dan digitasi tahun 2003

Pada tabel di bawah (tabel 6) dapat dilihat kondisi air di wilayah penelitian di beberapa perairan yang berdekatan dengan pulau-pulau sekitar Kepulauan Kangean.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

47

Beberapa parameter yang di ukur dengan peralatan Water Checker dan Seechi disk diantaranya yaitu : Kecerahan air laut, Ph (keasaman air), Conductivity (penghantar listrik), Turbidity (kekeruhan), Disolve Oksigen (kelarutan oksigen dalam air), Temperatur, dan Salinitas (kandungan garam dalam air). Adapun Titik sampel wilayah penelitian, yang terdiri dari 3 sheet peta skala 1:50.000 dapat dilihat pada gambar/peta nomor 3, sampai nomor 5. di bawah ini.yaitu sheet 1708-07, sheet 1709-01 dan 1808-01.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

48

Tabel 6. DAFTAR TITIK SAMPEL PENELITIAN IKAN KARANG DAN TERUMBU KARANG DI KEP. KANGEAN
POSISI S 060 57 27,2 E 1150 26 09 25 Juni 2003 Pk. 12.58 Kecerahan Seechi 7 m Ph 4.54 DO 6.66 Temp. 28.9 Salin. 3.48 WAKTU KETERANGAN

NO.

STASIUN

1.

P. Keriting

AIR Conduct Turb. 52.7 10

2. 5.71 53.1 10 6.48 28.2 1.51 Seechi 11 m 6.75 Seechi 7.5 m 6.62 10 6.56 28.2 52.8 10 6.58 28.8 5.51 3.53

Kedalaman , 3 m

P. Keriting tdk ada penghuni (monyet) P. Kangean foto 22, Time 16.40 P. Sabunten Foto 23, 24. P. Saur Foto 25. Air Jernih, kondisi cuaca cerah 26 Juni 2003 Pk. 09.51 26 Juni 2003 Pk. 12.53 26 Juni 2003 Pk. 14.59 27 Juni 2003 Pk. 08.53 27 Juni 2003 Pk. 10.48 Foto 33 - 36

3.

P. Saur P. Sepangkur P. Saur P. Sepangkur Peternakan mutiara Maxima P. Paliat P. Sitabok

Antara P. Paliat dan P.Salerangan Seechi 9 m (sudah sampai dasar) 7.5 53.0 8.94 53.9 10

5.

P. Mamburit

6.60

28.0

3.57

28 Juni 2003 Pk. 08.53 10 6.70 28.3 3.51 28 Juni 2003 Pk. 11.33

Kondisi coral kerusakan <50% Kondisi coral rusak >80% Pengukuran Ph dng lakmus

6.

P. Kangean Sebelah Utara pelabuhan (antara mercusuar pelabuhan)

S 070 03 01 E 1150 38 13 S 070 03 03 E 1150 38 22 S 070 00 41.7 E 1150 40 23 S 060 57 38.0 E 1150 42 17.8 S 060 57 39.5 E 1150 42 17.9 S 060 50 03.6 E 1150 12 38.0 S 060 49 55.7 E 1150 13 41.0

Sumber :Hasil penelitian Tim Inventarisasi Sumberdaya Alam Laut BAKOSURTANAL, 2003

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

49

Gambar 3. Titik Sampel Wilayah Penelitian Skala 1:50.000 sheet 1708-07

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

50

Gambar 4.

Titik Sampel Wilayah Penelitian Skala 1:50.000 sheet 1709-01

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

51

Gambar 5.

Titik Sampel Wilayah Penelitian Skala 1:50.000 sheet 1808-01

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

52

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


-. Kesimpulan : 1. Keanekaragaman jenis ikan karang di Pulau-pukau Kangean tergolong katagori sedang dengan kisaran jenis antara 52 sampai 112. Indeks keanekaragaman terendah (2,94) dijumpai di Pulau Keriting dan Pulau Sapangkur dan tertinggi (3,68) ditemukan di Pulau Paliat bagian Selatan. 2. Keseimbangan populasi ikan karang dalam komunitasnya cukup stabil (E = 0,68 sampai 0,79) dan tidak ada tanda-tanda adanya ledakan satu atau lebih populasi atau dengan kata lain tidak ada dominasi yang menonjol di antara populasi (D = 0,04 sampai 0,09). 3. Sumberdaya perikanan karang di wilayah ini masuk dalam kategori rendah jika dibandingkan dengan Wilayah Timur Indonesia. Banyak jenis ikan karang yang memiliki nilai ekonomis tinggi tidak ditemukan (absen), baik itu menyangkut ikan target maupun ikan hias. Sementara potensi ikan hias tidak cukup menjanjikan pengembangan usaha pemanfaatannya, karena disamping kurang jenisnya, habitatnya telah banyak yang rusak. 4. Indek keanekaragaman ikan indikator (IRDI index) menunjukan bahwa kondisi kesehatan dan keragaman karang adalah buruk pada semua lokasi transek. 5. Sebaran jenis ikan karang yang berkorelasi dengan sebaran terumbu karang masih sulit dilakukan dengan citra. Perkiraan sebaran jenis ikan masih mengacu pada penelitian survei langsung dengan penyelaman, dan hanya pada wilayah yang tidak terlalu besar. -. S a r a n : 1. Perlu adanya pencanangan dan pelembagaan sistem pengelolaan sumberdaya alam laut berbasis masyarakat. 2. Pengawasan, proteksi, dan usaha-usaha konservasi sumberdaya alam laut hendaknya menjadi bagian terpenting dari program partisipasi masyarakat di samping program peningkatan pemanfaatannya.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

53

3. Zona pemanfaatan dan konservasi sumberdaya sudah semestinya ditata sejak dini. 4. Hentikan penangkapan ikan yang merusak 5. Kembangkan wisata laut yang berkelanjutan 6. Kembangkan pemetaan, pemantauan, dan jaringan kerja informasi terumbu karang guna mendukung pengelolaan yang baik.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

54

DAFTAR PUSTAKA
Achituv, Y. and Z. Dubinsky. 1990. Evolution and Zoogeography of Coral Reefs. In: Coral Reefs. Ecosystem of the world 25. Z. Dubinsky (Ed.), Elsevier, Amsterdam, pp. 1 9. Babcock, R. and P. Davis. 1991. Effects of sedimentation on settlement of Acropora millepora. Coral Reefs 9:205-208. Barnes, R.S.K. 1974. Estuarine Biology. In : Studies in Biology. No. 49. Edward Arnold Ltd. (pbl) London, 76 pp. Butler, M.J.A., M.C. Mouchot, V. Barole, C. LE Blanc. 1988. The Application of Remote Sensing Technology to Marine Fisheries: An Introductory Manual. FAO Fisheries Technical Paper No.295. FAO. Rome. Brown, B.E. and L.S. Howard. 1985. Assessing the effects of stress on reef corals. Adv. Mar. Biol. 22:1-63. Briones, N.D. 1999. Economic valuation of environmental impacts. Lecture Notes for ENS 211. School of Environmental Science and Management, UPLB, Los Banos, Philippines. Chalker, B.E., W.C. Dunlap and P.L. Jokiel. 1986. Ligh and coral. Oceanus 29:22-23. Coles, S.L., P.L. Jokiel and C.R. Lewis. 1976. Thermal tolerance in tropical versus subtropical Pacific reef corals. Pacific Science 30: 159-166. Chou, L.M., 1998. Status of Southeast Asian Coral Reefs. In: Status of Coral Reefs of the World: 1998. C. Wilkinson (Ed). Sida Australian Institute of Marine Science ICLARM Publ., Quensland, Australia. Copper, P. 1994. Ancient reef ecosystem expansion and collapse. Coral Reefs 13: 3 11. Dartnal, A. J.. and M. Jones. 1986. A Manual of Survey Method for Living Resources in Coastal Area. ASEAN-Australia Cooperative Program in Marine Science. Australian Institute of Marine Science. Dollar, S.J. 1982, Wave stress and coral community structure in Hawaii. Coral Reefs 1:7181. Dunlap, W.C. and B.E. Chalker. 1986. Identification and quantitation of near-UV absorbing compounds (S-320) in a hermatypic scleratinian. Coral Reefs 5: 155-160.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

55

Edrus, I.N., A.R. Syam dan La Sui. 1992. Potensi, Pemanfaatan dan Prospek Pengembangan Perikanan Karang di Kepulauan Banda, Maluku Tengah, dalam hubungannya dengan Kepariwisataan. Jurnal Penelitian Perikanan Laut 74: 32 39. Edrus, I.N. dan A.R. Syam. 1998. Sebaran Ikan Hias Suku Chaetodontidae di Perairan Karang Pulau Ambon dan Peranannya dalam Penentuan Kondisi Terumbu Karang. Jurnal Penenlitian Perikanan Indonesia Vol. IV (3) : 1 10. Effendy, M. 2003. Banyak potensi yang hilang sia-sia. Wawancara wartawan Harian Jawa Post Radar Madura, Senin 30 Juni 2003, dengan Ketua Pusat Studi Perikanan dan Kelautan Universitas Trunojoyo. English, S., C. Wilkinson and V. Baker.1994. Survey Manual for Tropical Marine Resources. Australian Institute of Marine Science, Townsville. Australia. Fahmi. 2001. Tingkah laku reproduksi pada ikan. Oseana, Vol. XXVI (1): 17 24. Falkowski, P.G., P.L. Jokiel and R.A. Kinzie III. 1990. Irradiance and Corals. In: Coral Reefs: Ecosystem of the world 25. Z. Dubinski (Ed.). Ellsevier, Amsterdam. Pp. 89107. Folk, R.L., 1980. Petrology of Sedimentary Rocks. Hemphill Publishing Company, Austin, Texas 78703. Fucik, K.W., T.J. Bright, and K.S. Goodman. 1984. Measurements of Damage, Recovery, and Rehabilitation of Coral Reefs Exposed to Oil. In: Restoration of Habitats Impacted by Oil Spills. J. Cairns, Jr. and A.L. Buikema, Jr. (Eds). Butterworth Publishers, Boston. Gomez, E.D. and H.T. Yap. 1988. Monitoring Reef Condition. In: Coral Reef Management Handbook. R.A. Kenchingt6on and B.E.T. Hudson (Eds). Unesco Publisher, Jakarta, p. 171. Glynn, P.W. 1993. Coral reef bleaching: ecological perspective. Coral reefs 12: 1-18. Grassle, J.F., P. Laserre, A.D. McIntyre and G.C. Ray. 1990. Marine Biodiversity and Ecosystem Function. Biology International 23, 19 p.HEALD, E.J. and W.E ODUM. 1972. The Contribution of Mangrove Swamps to Florida Fisheries. Gulf and Carib. Fish Inst. Proc. 22nd. Ann. Sess : 130 -135. Hutomo, M. 1986b. Methods of Samplings Coral Reef Fish. Training Course in Coral Reef Research Methods and Management. SEAMEO BIOTROP, No. 2. Bogor. Hal 37-53.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

56

. 1993. Pengantar Studi Ekologi Komunitas Ikan Karang dan Metoda Pengkajiannya. Dalam: Materi Kursus Pelatihan Metodologi Penelitian Penentuan Kondisi Terumbu Karang. P30-LIPI Jakarta. . 1995. Pengantar Ekologi Komunitas Ikan Karang dan Metode Pengkajiannya. P3O-LIPI. Jakarta. Hobbs, R.J. and D.A. Norton. 1996. Commentary: Towards a conceptual framework for restoration Ecology. Restoration Ecology 4 (2): 93 110. Jennings, S. and N.V.C. Polunin. 1996. Impacts of fishing on tropical reef ecosystems. AMBIO 25 (1): 44-49. Jokiel, P.L. and R.H. York Jr. 1982. Solar ultraviolet photobiology of reef coral Pocillopora damicornis and symbiotic zooxanthellae. Bull. Mar. Sci. 32:301-315. Jokiel, P.L. and S.J. Coles. 1990. Response of Hawaiian and other Indo-Pacific reef corals to elevated temperature. Coral reefs 8: 155-162. Kenchington, R.A. 1984. Scientific investigations for planning. In: Coral Reef Management Handbook. R.A. Kenchingt6on and B.E.T. Hudson (Eds). Unesco Publisher, Jakarta. P. 53. Kleypas, J.A. 1007. Modeled estimates of global reef habitat and carbonate production since the last glacial maximum. Paleoceanography 12: 533 545. Kuiter, R.H. 1992. Tropical Reef-Fishes of the Western Pacific Indonesia and Adjacent Waters. Gramedia, Jakarta. Lieske, E. and R. Myers. 1997. Reef Fishes of the World. Periplus Edition. Jakarta, Indonesia. Licuanan, W.Y. and A.R.F. Montebon. 1991. An evaluation of minimum life-form transect lengths for classification studies. In: Proceeding of the Regional Symposium on Living Resources in Coastal Water Areas, A.C. Alcala (Ed), 30 January 1 February 1989, Marine Science Institute, Univ. of the Philippines, Manila, Philippines. Lillesand, T. M. dan R. W. Kiefer. 1990. Penginderaan Jauh dan Intepretasi Citra. Terjemahan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Ludwig, J.A. and J.F. Reynolds. 1988. Statistical Ecology. A Primer on Methods and Computing. Jhon Wiley & Son, New York. 337 p. Mackay, K.T. 1994. Butterfly fishes of the family Chaetodontidae at Hila reef. Ambon, Maluku, Indonesia. Fakultas Perikanan Universitas Pattimura (Unpublished).

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

57

Manthachitra, V., S. Sudara and S. Satumanapatpan. 1991. Chaetodon octofasciatus as indicator species for reef condition. In: Proceeding of the Regional Symposium on Living Resources in Coastal Water Areas, A.C. Alcala (Ed), 30 January 1 February 1989, Marine Science Institute, Univ. of the Philippines, Manila, Philippines McManus, J.W. and A.S. Cabanban. 1992. Coral reef recruitment studies in Southeast Asia: background and implications. Proc. Workshop on coral and fish recruitment, Report No. 7, ASEAN-Australian Living Coastal Resources Project, 1-8 June 1992, Bolinao Marine Lab. Bolinao, Pangasinan, Philippines. p 7-17. Moosa, M.K., 1995. Coral Reef Rehabilitation and Management Project (COREMAP). A Paper presented in the Mataram Marine Communication Forum, Mataram, Indonesia, August 18 23, 1995 (in press). Muscatine, L. and J.W. Porter. 1977. Reef corals : mutualistic symbioses adapted to nutrient-poor enviroments. Bioscience 27: 454-459. Nash, S.V. 1989. Reef Diversity Index Survey Method for Non Sspecialist. Tropical Coastal Area Management Vol. 4 (3): 14 17. Nybakken, J. W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis (Terjemahan Muhammad Eidman, Koesoebiono, Dietriech G. B., Malikusworo Hutomo dan Sukristijono). Penerbit PT Gramedia. Jakarta. Odum, E.P. 1975. Fundamental of Ecology. E.B. Sounders Co., Philadelphia, 574 pp. Reese, E. 1977. Coevolution of Coral and Coral Feeding Fishes of Family Chaetodontidae. Proceeding of the third International Coral Reef Symposium 1:267-274. Reese, E. 1981. Predation on corals by fishes of the family Chaetodontidae: implication for conservation and management of coral reef ecosystem. Bulletin of Marine Science 31 (3): 594-604. Rinkevich, A.A. and Y. Loya. 1977. Harmful effects of chronic oil pollution on a Red Sea scleractinian coral population. In: Proceeding of the Third International Coral Reef Symposium, Vol. II: Geology, D.L. Taylor (Ed), Miami: Rosenstiel School of Marine and Atmospheric Science. Salm, R.V. and R.A. Kenchington, 1988. The Need for Management. In: Coral Reef Management Handbook. R.A. Kenchingt6on and B.E.T. Hudson (Eds). Unesco Publisher, Jakarta, p. 9. Smith S.V. and R.W. Buddemeier. 1992. Global change and coral reef ecosystems. Ann Rev. Ecol. Syst. 23:89-118.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

58

Soede, L.P. and M.V. Erdmann. 1998. Blast fishing in Southwest Sulawesi, Indonesia. Naga, the ICLARM Quarterly, April-June 1998: 4-9. Soede, L.P. , H.S.J. Cesar, J.S. Pet. 2000. Economic issues related to blast fishing on Indonesian coral reefs. Jurnal Pesisir dan Lautan, Vol. 3 (2): 33 40. Subani, W. 1987. Kerusakan ekosistem perairan pantai dan dampaknya terhadap sumberdaya perikanan di pantai selatan Bali Barat, Timur Lobok dan Teluk Jakarta. Jurnal Penelitian Perikanan Laut No. 42. Tandipayuk, L.S. dan Hartati. t.t. Interaksi antara ikan dengan lingkungan biotik. Makalah pada Pelatihan Ekologi Perikanan di Universitas Hasanudin Ujung Pandang. (Unpublished). Vivien, H.M.L. and Y.B. Navarro. 1983. Feeding diets and significance of coral feeding among chaetodontidae fishes in Moorea (French Polynesia). Coral Reefs 2:119127. White, A.T. 1987. Coral Reefs, Valuable Resources of Southeast Asia. ICLARM Education Series 1. Manila, Philippines. Wilkinson, C. 1998. Executive Summery. In: Status of Coral Reefs of the World: 1998. C. Wilkinson (Ed). GCRMN Global Coral Reef Monitoring Network: SIDA-AIMS ICLARM, Australian Institute of Marine Science, Cape Ferguson, Queensland, Australia. Wilkinson, C.R. and R.W. Buddemeier. 1994. Global Climate Change and Coral Reefs: Implications for People and Reefs. Report of the UNEP-IOC-ASPEI-IUCN Global Task Team on the Implication of Climate Change on Coral Reefs. IUCN Publications Service Unit, Cambridge, 124 pp. Wilkinson, C.R. and E, Evans. 1989. Sponge distribution across Davies Reef, Great Barrier Reef, relative to location, depth and water movement. Coral Reefs 8: 1-7.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

59

LAMPIRAN A PETUNJUK PENGHITUNGAN INDEKS KEANEKARAGAMAN IKAN KARANG BERDASARKAN APLIKASI MICROSOFT EXCEL (Ludwig and Reynold, 1988)
Tabel Simulasi lembar kerja/worksheet aktif dari Microsoft Excel :
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 A B Data ikan Stasiun 1 Luas area transek: Jenis-jenis C 700 m2 ni 2 16 4 100 100 2 2 1000 50 20 60 60 60 20 20 250 1 30 20 25 10 10 Total : : 22 Jumlah jenis (S) 2.66 Kepadatan (Ind./m2) : 1) Richness Index, Margalef: R1 = ( S - 1 ) / ln ( n ) 2) Menhinick Index: R2 = S / V n 3) Diversity: Simpson Index: % = ) ( ni ( ni-1 )) / (n ( n-1)) 4) Shannon Index: H = - ) [ ( ni / n ) ln ( ni / n ) ] H 5) Hill's diversitry Number: N1 = e 6) N2 = 1 / % 7) Evenness Index: E1 = (ln N1)/ln (No) 8) E2 = (N1 / No ) 9) E3 = (N1 - 1) / (No - 1) 10) E4 = (N2 / N1) 11) E5 = (N2 - 1) / (N1 - 1) 1862 ni*(ni-1) 2 240 12 9900 9900 2 2 999000 2450 380 3540 3540 3540 380 380 62250 0 870 380 600 90 90 1097548 (N*(N-1) = = = = = = = = = = = = (ni/n)*Ln(ni/n) -0.00734292 -0.04087491 -0.0131968 -0.15704813 -0.15704813 -0.00734292 -0.00734292 -0.33386207 -0.09713704 -0.04869682 -0.11068943 -0.11068943 -0.11068943 -0.04869682 -0.04869682 -0.26959527 -0.00404372 -0.0665125 -0.04869682 -0.05787501 -0.02807101 -0.02807101 -1.80221994 3465182 2.789064466 0.509838752 0.316736033 1.802219939 6.063092231 3.157203147 0.583046 0.275595101 0.230140556 0.520724909 0.426064359 D E F G H

Taeniura lymma Sargocentron rubrum Anyperodon leucogrammicus Scolopsis ciliata Scolopsis margaritifer Plectorhyncus chatodonnoides Plectorhyncus gaterinoides Apogon aureus Apogon compressus Apogon fuscus Sphaeramia nematoptera Lutjanus decussatus Scarus bleekeri Scarus dimidiatus Scarus ghoban Scarus rivulatus Scarus tricolor Siganus puellus Siganus virgatus Siganus vulpinus Zebrasoma scopas Zanclus cornutus

Prosedur: 1. Isi sel F5 s/d F26 dengan jumlah individu ikan sesuai dengan jenisnya (data hasil transek). 2. Ketik pada sel F28 : =SUM(F5:F26), selanjutnya akan didapat Total indivudu 1862. 3. Ketik pada sel G5 : =F5*(F5 1), selanjutnya akan diperoleh nilai 2. Kemudian copy sel G5 tsb untuk semua sel dibawahnya sampai sel G26. Semua nilai hitungnya akan muncul secara otomatis. 4. Ketik pada sel G28 : =SUM(G5:G26), selanjutnya akan didapat Total ni*(ni-1) = 1097548.
Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

60

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20.

Ketik pada sel H5 : =F5($F$28)*LN(F5/$F$28), selanjutnya akan didapat nilai -0.00734292. Kemudian copy sel H5 tsb untuk semua sel dibawahnya sampai sel H26. Ketik pada sel H28 : =SUM(H5:H26), selanjutnya akan didapat Total (ni/n)*Ln(ni/n) = -1.80221994 Ketik pada sel E30 :=COUNT(F5:F26), selanjutnya akan didapat jumlah jenis (S) = 22. Ketik pada sel E31 : =F28/C2, selanjutnya akan didapat nilai kepadatan individual/m2 = 2,66. Ketik pada sel H30 : =(F28)*(F28-1), selanjutnya akan didapat N*(N-1) = 3465182. Ketik pada sel H32 : =((E30)-1)/LN(F28), selanjutnya akan didapat indeks R1 = 2.789064466. Ketik pada sel H33 : =E30/SQRT(F28), selanjutnya akan didapat indeks R2 = 0.509838752. Ketik pada sel H34 : =G28/H30, selanjutnya akan didapat indeks Simpson = 0.316736033. Ketik pada sel H35 : =(H28)*-1, selanjutnya akan didapat indeks H = 1.802219939. Ketik pada sel H36 : =EXP(H28), selanjutnya akan didapat N1 = 6.063092231. Ketik pada sel H37 : =1/H34, selanjutnya akan didapat N2 = 3.157203147. Ketik pada sel H38 : =LN(H36)/LN(E30), selanjutnya akan didapat E1 = 0.583046. Ketik pada sel H39 : =H36/E30, selanjutnya akan didapat E2 = 0.275595101. Ketik pada sel H40 : =(H36-1)/E30, selanjutnya akan didapat E3 = 0.230140556. Ketik pada sel H41 : =H37/H36, selanjutnya akan didapat E4 = 0.520724909. Ketik pada sel H42 : =(H37-1)/(H36-1), selanjutnya akan didapat E5 = 0.426064359.

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

61

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

62

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

63

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

64

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

65

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

66

Lampiran C

DAFTAR PETA skala 1 : 50.000


NO NAMA LEMBAR NOMOR LEMBAR

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23.

Gresik Kwannyar Pasuruan Sampang Probolinggo Pamekasan Besuki Sumenep Panarukan Klampis Tanjung Bumi Tamberu Ambuten Gapura Kalowang Kangean Pulau Raas Pulau Guwa - Guma Kangean Kangean Dungkek Kangean Pulau Sepanjang

1608 01 1608 - 02 1608 03 1608 04 1608 05 1608 - 06 1608 07 1608 - 08 1608 - 09 1609 - 12 1609 - 21 1609 - 22 1609 - 31 1609 - 32 1708 - 01 1708 - 02 1708 - 03 1708 - 05 1708 - 06 1708 - 07 1709 - 11 1709 - 02 1808 - 01

Inventarisasi Data Dasar Survei Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Sumberdaya Ikan Karang

67