Anda di halaman 1dari 13

JENIS-JENIS PERANCAH

JENIS PERANCAH MENURUT BAHAN YANG DI GUNAKAN:





Fabricated frame scaffold
(tubular-welded frame scaffold)



Two point adjustable suspension
Scaffold
JENIS PERANCAH MENURUT BENTUKNYA:
1. Independent Scaffold
2. Birdcage
3. Tower
4. Cantilever
5. Putlog Scaffold
6. Suspended
7. Mobile

1. Independent Scaffold
Suatu perancah dengan dua baris standar jarak 1.2m
Mempunyai daya dukung sendiri
Satu baris mendukung bagian luar dan bagian dalam dari deck dengan jarak
1.2m hingga 2.4m
Balok lintang tidak dipasang ke dinding dari gedung
Tetapi tidak berdiri sendiri, ini ditopang oleh struktur gedung
Independent scaffold memerlukan ties untuk stabilitas lateral.
Tanpa beban vertikal yang dialihkan pada gedung.
Pasangan standards yang dihubungkan dengan gedung sejajar horizontal
dengan horizontal tubes called ledgers.
Ledgers berjarak vertikal pada the working height of 2m.
Bagian dalam dan luar dari standar (tiang) dihubungkan dengan dengan
transoms.
Transoms umumnya dihubungkan dengan dengan standar di atas ledgers.
Transoms dapat berjarak dari tiang 250mm untuk menyesuaikan panjang
papan.









Figure 1
2. Birdcage Scaffold
Terdiri dari dua baris tiang yang semuanya dihubungkan dengan Ledgers,
Transoms and Braces
Biasanya digunakan pada pemasangan plafon dan pengecatan.
Hand rail and toe boards dipasang di bagian luar dari perimeter dari scaffold
platform

3. Access Tower Scaffold
Scaffold yang hanya digunakan untuk access.
Digunakan untuk menimbun material atau peralatan tidak diperbolehkan.
Dibangun dengan pipa-pipa dan fittings atau berupa modul-modul A-Frames.
Terutama digunakan untuk jalan masuk aman pada area perbaikan
Access menggunakan tangga atau papan-papan aluminium steps setiap level.
Tidak diperuntukkan sebagai papan kerja.
Tergantug dari tingginya access tower umumnya ringan dan digunakan untuk
pekerjaan sedang.
Bila lebih dari 15m harus diperhitungkan dan di setujui penanggung jawab.
Handrail, mid-rails dan kick boards harus dipasang setiap level.
Tower harus dikencangkan (secured) dengan gedung atau structure setiap dua
lift.
Tower tidak dapat berdiri sendiri.
Pembebanan peralatan atau material pada tower ini tidak praktis.
Ladders harus bersandar pada kemiringan 1-4m, tidak vertical
Ladders harus dikencangkan atas dan bawah.

4. Cantilever Scaffold
Cantilever scaffold ditopangkan atau disangga pada salah satu ujungnya
Cantilever scaffold umumnya dibangun dengan pipa (tubular) dan fittings,
tetapi sistem lain dari scaffold dapat digunakan juga.

5. Putlog Scaffold
Ditumpu oleh jajaran tiang sebelah dan yang sebelah ditopang oleh gedung,
berbeda dari independent scaffold.
Jajaran tiang berjarak antara 1.5 - 2.1m.
Scaffold didirikan 1.2 m dari bangunan dinding
Ledgers dipasang pada tiang
Ketinggian Lift 1.8 - 2m.
Putlog tubes dipasang (ditempelkan) pada tiang.
Panjang pipa (Transoms) 1.5m

6. Suspended Scaffold
Suspended scaffold ditopang dari atas
Tidak ada penyangga dari bawah
Digunakan pada bukaan yang tinggi
Panjang suspended scaffold tidak boleh lebih dari 6m
Semua suspended tubes perlu selalu diperiksa sesuai peraturan safety
Digunakan terutama pada tempat di atas air dimana scaffolding tidak dapat
dibangunan di atas tanah

7. Mobile Scaffold
Mobile work platform digunakan pekerjaan yang pindah dari satu tempat ke
tempat lain
Alasnya harus 2 kali lipat tingginya untuk yang lebih tinggi lebih dari 3 m
Tiang-tiangnya dipasang dengan roda
Penggunaan ban (berisi angin) tidak diperkenankan
Castor wheels (roda) harus mempunyai locking brake
Julah roda tidak dibatasi sesuai kebutuhan
Ladder access dapat ditambahkan
Plan, side and heel and toe bracing harus dipasang sebagai bagian dari scaffold

1) Pengaman saat memindahkan perancah
Amankan atau singkirkan semua bahan atau peralatan dari anjungan
sebelum memindahkan perancah
Gunakan pengunci roda setiap saat bila perancah tidak sedang bergerak
berpindah
Jangan mencoba menggerakkan atau memindahkan perancah tanpa bantuan
yang cukup
Hati-hati dengan adanya lubang dilantai atau sesuatu di atas perancah
Gunakan batang pengguat mendatar pada perancah pada setiap 6 meter
2) Tidak seorang pun boleh menaiki perancah ini kecuali pada kondisi:
Lantai atau permukaan tanahnya dalam kemiringan maksimum 30 dan
bebas dari lubang, tidak rata, atau benda-benda penghalang
Ukuran minimum sisi dasar perancah adalah setengah ukuran tingginya
Roda-rodanya dilengkapi dengan lapisan karet atau sejenis
Perancah logam yang tinggi harus selalu dikontrol untuk memastikan tidak
terkena kabel listrik diatas.
Berikut beberapa panduan umum dalam penggunaan perancah di tempat kerja ;

1. Perancah harus dibuatkan untuk semua pekerjaan, yang tidak bisa dijamin
keamanannya bila dikerjakan secara aman pada suatu ketinggian dan / atau
setiap ketinggian pekerjaan yang melebihi 2 meter harus menggunakan
perancah yang memenuhi standar.
2. Papan untuk perancah harus tahan retak atau pecah.
3. Paku harus mempunyai panjang dan tebal yang cukup.
4. Paku besi yang getas (cast iron) tidak boleh digunakan.
5. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan perancah harus disimpan
dengan baik dan jauh dari material yang berbahaya.
6. Perancah harus dihitung dengan faktor pengaman (safety factor) sebesar 4
kali beban maksimal.
7. Perancah harus diberi tangga pengaman untuk tempat berjalan dan lain-lain
fasilitas yang aman.
8. Perancah harus cukup diberi penguat (Brace).
9. Semua kerangka berdirinya perancah bangunan harus berdasarkan standard
konstruksi; mempunyai pondasi yang kuat dan cukuup tertanam dan diberi
penguat untuk kesetabilan.
10. Batu bata, pipa yang rusak, bahan pembuat cerobong asap dan bahan-bahan
lain yang tidak semestinya dipakai untuk penahan perancah, tidak boleh
dipakai.
11. Paku-paku harus ditanam penuh, tidak boleh separuh dan kemudian
dibengkokkan.
12. Paku tidak boleh menerima gaya tegangan langsung.
13. Tali baja yang digunakan untuk perancah, tidak boleh terkena asam atau
bahan kimia, yang memudahkan keadaan korosi (karat) dan bahan ini tidak
boleh digunakan, untuk tali perancah kayu yang terbuat dari serat tidak dapat
digunakan atau yang dapat mengundang bahaya.
14. Bila terpaksa menggunakan perancah kayu karena ketiadaan perancah yang
terbuat dari besi/pipa, maka pemilihan bahan harus berurat lurus, padat, tidak
ada mata kayu yang besar-besar, kering tidak membusuk, tidak ada lubang
ulat dan lain-lainya yakni tidak ada kerusakan yang dapat membahayakan
runtuhnya susunan perancah.
15. Untuk perancah yang berdiri sendiri harus terdiri atas gelagar memanjang
dan melintang yang dihubungkan dengan kuat pada tiang penyanggah, ke atas
atau ke samping, bergantung pada pemakaiannya untuk menjamin kesetabilan
sampai perancah dapat dilepas.
16. Setiap bagian dari perancah harus diperiksa sebelum dipasang.
17. Setiap bentuk dan komposisi perancah harus diperiksa sebelumnya oleh
petugas K3L untuk meyakinkan:
a. dalam kondisi yang stabil
b. bahan yang dipakai tidak rusak
c. cukup baik untuk digunakan, dan
d. sudah diberi pengaman.
18. Pemeriksaan perancah harus dilaksanakan oleh petugas K3L dan
didokumentasikan:

a. sedikitnya seminggu sekali
b. sesudah cuaca buruk, atau gangguan dalam masa pembangunan yang agak
lama
19. Setiap bagian harus dipelihara dengan baik dan teratur sehingga tidak ada
yang rusak atau membahayakan waktu dipakai.
20. Perancah tidak boleh sebagian dibuka dan ditinggal terbuka, kecuali kalau
hal itu tetap menjamin keselamatan.
21. Perancah yang tidak bebas harus dikaitkan ke bangunan dengan sistem jepit
(rigid connections) yang kuat dengan jarak tertentu.
22. Perancah yang tidak boleh terlalu tinggi di atas angker yang tertinggi,
karena dapat membahayakan kesetabilan dan kekuatannya.
23. Pada waktu mengangkat perlengkapan yang digunakan pada perancah:
a. Bagian-bagian dari perancah harus diperiksa dengan cermat dan kalau
perlu diperkuat.
b. Setiap penggeseran dan penyanggah ( putlog ) harus dicegah.
c. Tiang penyanggah harus dihubungkan erat pada bagian bangunan yang
kuat, di tempat alat pengangkat dipasang.
24. Dalam melakukan kegiatan pemasangan perancah dan pembongkaran
perancah hanya boleh dilakukan oleh petugas yang telah memiliki keahlian
dalam pekerjaan perancah dan wewenang dalam melakukan kegiatan
tersebut.
25. Setiap tahapan pekerjaan perancah harus mengikuti urutan sesuai ketentuan
teknis yang telah ditentukan oleh petugas yang mempunyai wewenang.
26. Tahapan atau urutan yang dibuat oleh tenaga teknis berkeahlian pekerjaan
perancah harus di dokumentasikan oleh:
a. Tenaga ahli perancah yang mempunyai sertifikat perancah dan / atau
b. Petugas K3L khusus perancah/petugas K3L konstruksi