Anda di halaman 1dari 30

LUKA BAKAR

Oleh :
Dicky
Maral Bimanti Febrilina
Mentari Fitria Rachman
Angelina Utama
Winda Lestari
Duas Jourgie S
Astrie Hanada F
Gia Cellisa Sianosa
Anita
Harris Hardian

090100265
090100133
090100139
090100158
090100179
090100274
090100299
090100271
090100293
099010075

Pembimbing :
dr. M. Jaelani, Sp.BP
DEPARTEMEN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK
MEDAN
2014

ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat hidayah-Nya makalah
ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Pada makalah ini, kami menyajikan
pembahasan mengenai Luka bakar. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk
meningkatkan pemahaman kami mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan
Luka bakar, di samping untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik di Departemen
Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/ Rumah Sakit Umum
Pusat Haji Adam Malik Medan. Pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. M. Jaelani, Sp.BP atas kesediaan
beliau sebagai pembimbing dalam pembahasan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna, baik dari segi
materi maupun tata cara penulisannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan
hati, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah
ini. Atas bantuan dan segala dukungan dari berbagai pihak baik secara moral maupun
spiritual, kami ucapkan terima kasih. Semoga makalah ini dapat memberikan
sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang
kesehatan.
Medan, 2 Desember 2014

Penulis

iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................................ iii
BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 3
2.1. Definisi ..................................................................................... 3
2.2. Klasifikasi Luka Bakar.............................................................. 3
2.3. Luas Luka Bakar....................................................................... 6
2.4. Patofisiologi Luka Bakar........................................................... 8
2.5. Menentukan Keparahan Luka Bakar......................................... 10
2.6. Berat Ringannya Luka Bakar.................................................... 11
2.7. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Keparahan Luka
Bakar......................................................................................... 12
2.8. Terapi......................................................................................... 12
2.8.1. Manajemen Akut............................................................. 12
2.3.2. Resusitasi Luka Bakar..................................................... 15
2.3.3. Antibiotika Yang Sesuai.................................................. 17
2.3.4. Dukungan Nutrisi............................................................ 18
2.3.5. Analgetik dan Sedatif...................................................... 20
2.3.6. Perawatan Luka............................................................... 22
BAB III LAPORAN KASUS............................................................................ 23
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 27

1
BAB I
PENDAHULUAN
Luka bakar berat adalah luka yang kompleks. Sejumlah fungsi organ tubuh
mungkin ikut terpengaruh. Luka bakar bisa mempengaruhi otot, tulang, saraf, dan
pembuluh darah. Sistem pernapasan dapat juga rusak, kemungkinan adanya
penyumbatan udara, gagal nafas dan henti nafas. Karena luka bakar mengenai kulit,
maka luka tersebut dapat merusak keseimbangan cairan atau elektrolit normal tubuh,
temperatur tubuh, pengaturan suhu tubuh, fungsi sendi, dan penampilan fisik. Sebagai
tambahan terhadap kerusakan fisik yang disebabkan oleh luka bakar, pasien juga bisa
menderita permasalahan psikologis dan emosional yang dimulai sejak peristiwa
terjadi dan bisa bertahan / berlangsung untuk jangka waktu yang lama.1
Luka bakar hingga saat ini masih merupakan salah satu penyebab morbiditas
dan mortalitas pada anak. Di Amerika, lebih dari 2 juta orang mengalami luka bakar
setiap tahun. Sekitar 700.000 dirawat di unit gawat darurat dan 50.000 membutuhkan
perawatan di rumah sakit. Luka bakar menempati peringkat ketiga penyebab
mortalitas di seluruh dunia.1,2
Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan etiologi, kedalaman serta luasnya
luka bakar yang menentukan gejala klinis serta beratnya luka bakar.1,3 Luka bakar
menyebabkan terjadinya hipermetabolisme akibat stimulasi sitokin-sitokin berlebihan
yang menyebabkan meningkatnya respons stres akibat proses infeksi. Proses inflamasi
umumnya meningkat segera setelah trauma terjadi dan bertahan sekitar 5 minggu
paska trauma. Respons metabolisme yang terjadi diantaranya peningkatan suhu,
kebutuhan O2, glukosa serta peningkatan produksi CO2. Komplikasi yang terjadi pada
pasien luka bakar antara lain, gagal napas, syok dan infeksi sistemik ke berbagai
organ yang dapat menyebabkan kematian. Seringkali pasien luka bakar mengalami
syok akibat kehilangan banyak cairan atau sepsis, sehingga diperlukan pemantauan
hemodinamik ketat. Tatalaksana penanganan luka bakar di ruang perawatan intensif
harus bersifat holistik yang mencakup tatalaksana jalan napas dan oksigenasi,
resusitasi cairan, pemberian antibiotika, tatalaksana nutrisi, penanganan nyeri hingga
perawatan luka untuk menurunkan mortalitas.1,2

2
Pasien luka bakar memiliki keunikan baik dalam resusitasi, stres metabolik,
komplikasi dan luaran. Perawatan berkelanjutan sangat penting dalam menilai infeksi,
penyembuhan dan kemampuan untuk memberikan penanganan luka bakar yang baik.
Kebanyakan luka bakar hanya melibatkan kulit (jaringan epidermis dan dermis), tapi
jaringan yang lebih dalam seperti otot, tulang dan pembuluh darah juga bisa terlibat.
Luka bakar juga dapat mengalami komplikasi syok, infeksi, disfungsi multiorgan,
gangguan elektrolit dan gangguan pernapasan. Pasien dengan kegagalan dua organ
atau lebih memiliki nilai mortalitas sebesar 98%, sementara infeksi adalah penyebab
75% kematian dalam luka bakar.1,2

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Definisi
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi

seperti api, air panas, listrik, bahan kimia, dan radiasi. Luka ini dapat menyebabkan
kerusakkan jaringan. Cedera lain yang termasuk luka bakar adalah sambaran petir,
sengatan listrik, sinar X dan bahan korosif. Kerusakan kulit yang terjadi tergantung
pada tinggi suhu dan lama kontak. Suhu minimal untuk dapat menghasilkan luka
bakar adalah sekitar 44C dengan kontak sekurang-kurangnya 5-6 jam. Suhu 65C
dengan kontak selama 2 detik sudah cukup menghasilkan luka bakar. Kontak kulit
dengan uap air panas selama 2 detik mengakibatkan suhu kulit pada kedalaman 1 mm
dapat mencapai suhu 47C, air panas yang mempunyai suhu 60C yang kontak
dengan kulit dalam waktu 10 detik akan menyebabkan kehilangan sebagian ketebalan
kulit dan diatas 70C akan menyebabkan kehilangan seluruh kulit. Temperatur air
yang digunakan untuk mandi adalah berkisar 36C-42C. Pelebaran kapiler dibawah
kulit mulai terjadi pada saat suhu mencapai 35C selama 120 detik, vesikel terjadi
pada suhu 53C-57C selama kontak 30-120 detik.1,2,3
2.2.

Klasifikasi Luka Bakar


Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan 2 cara: sumber penyebab dan

derajat luka bakar.1,2


Berdasarkan sumber penyebab dibedakan atas:

Panas. Termasuk api, radiasi, atau pajanan panas dari api, uap dan cairan
panas serta benda benda yang panas

Bahan kimia. Termasuk berbagai macam asam dan basa

Listrik. Termasuk didalamnya arus listrik dan sambaran petir

Cahaya. Luka bakar yang disebabkan oleh sumber cahaya yang kuat atau
cahaya ultra violet, juga termasuk sinar matahari

Radiasi. Seperti radiasi nuklir, cahaya ultra violet juga termasuk salah satu
sumber penyebab luka bakar karena radiasi 1,2

Klasifikasi Berdasarkan Derajat Luka Bakar


1. Luka bakar derajat 1 (luka bakar superfisial). Luka bakar hanya terbatas pada
lapisan epidermis. Luka bakar derajat ini ditandai dengan kemerahan yang
biasanya akan sembuh tanpa jaringan parut dalam waktu 5 7 hari. 1,2,3

Gambar 1. Luka Bakar Derajat I


2. Luka bakar derajat 2 (luka bakar dermis)
Luka bakar derajat dua mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada elemen
epitel yang tersisa, seperti sel epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan
folikel rambut. Dengan adanya sisa epitel yang sehat ini, luka dapat sembuh
sendiri dalam 10 21 hari. Oleh karena kerusakan kapiler dan ujung saraf di
dermis, luka derajat ini tampak lebih pucat dan lebih nyeri dibandingkan luka
bakar superfisial, karena adanya iritasi ujung saraf sensorik. Juga timbul bula
berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas dindingnya
meninggi. 1,2
Luka bakar derajat 2 dibedakan menjadi : a. Derajat dua dangkal dimana
kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis dan penyembuhan terjadi
secara spontan dalam 10- 14 hari. b. Derajat dua dalam dimana kerusakan
mengenai hampir seluruh bagian dermis. Bila kerusakan lebih dalam mengenai
dermis, subyektif dirasakan nyeri. Penyembuhan terjadi lebih lama tergantung
bagian dari dermis yang memiliki kemampuan reproduksi sel-sel kulit (epitel,
stratum germinativum, kelenjar keringat, kelenjar sebasea dan lain sebagainya)
yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.3

5
Gambar 2. Luka Bakar Derajat II

Gambar 3. Evaluasi
luka bakar derajat 2
1 jam ,

Gambar 4 Evaluasi luka bakar derajat 2 1 hari

Gambar 5 Evaluasi luka bakar derajat 2 dua hari, lepuh tampak

3. Luka bakar derajat 3.


Luka bakar derajat tiga meliputi seluruh kedalaman kulit, mungkin subkutis, atau
organ yang lebih dalam. Oleh karena tidak ada lagi elemen epitel yang hidup
maka untuk mendapatkan kesembuhan harus dilakukan cangkok kulit. Koagulasi
protein yang terjadi memberikan gambaran luka bakar berwarna keputihan, tidak
ada bula dan tidak nyeri.4,5

Gambar 6. Luka Bakar Derajat III


2.3.

Luas Luka Bakar

6
Penentuan luas luka bakar pada kulit adalah penting pada kasus-kasus dimana
kematian terjadi lambat oleh karena luas dan derajat luka bakar sangat penting
pengaruhnya terhadap prognosis dan manajemen pengobatannya. Untuk perhitungan
luas luka bakar secara tradisional dihitung dengan menggunakan `Rule of Nines` dari
Wallace. Dikatakan bahwa luka bakar yang terjadi dapat diindikasikan sebagai
presentasi dari total permukaan yang terlibat oleh karena luka termal. Bila permukaan
tubuh dihitung sebagai 100%, maka kepala adalah 9%, tiap tiap ekstremitas bagian
atas adalah 9%, dada bagian depan adalah 18%, bagian belakang adalah 18%, tiaptiap ekstremitas bagian bawah adalah 18% dan leher 1%. 3,4
Rumus tersebut tidak dapat digunakan pada anak dan bayi karena relatif luas
permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil.
Oleh karena itu, digunakan `Rule of ten` untuk bayi dan `Rule of 10-15-20` dari Lund
and Browder untuk anak. Dasar presentasi yang digunakan dalam rumus tersebut
adalah luas telapak tangan dianggap seluas 1%.3,4
Derajat dan luas luka bakar tergantung pada banyak faktor seperti jarak korban
dengan api, lamanya pajanan, bahkan pakaian yang digunakan korban pada waktu
terjadinya kebakaran. Komposisi pakaian dapat menentukan derajat keparahan dan
luasnya luka bakar. Kain katun murni akan mentransmisi lebih banyak energi panas ke
kulit dibandingkan dengan bahan katun polyester. Bahan katun terbakar lebih cepat
dan dapat menghasilkan luka bakar yang besar dan dalam. Bila bahan yang dipakai
kandungan poliesternya lebih banyak akan menyebabkan luka bakar yang relatif
ringan atau kurang berat. Bahan rajutan akan menghasilkan daerah luka bakar yang
relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan bahan pintalan. Sehingga dapat dikatakan
bahwa bila bahan yang dipakai bertambah berat maka daerah yang terbakar akan
berkurang. Selain itu derajat luka bakar akan berkurang bila pakaian yang dipakai
korban ketat dan mengelilingi tubuh.5,6

Gambar 4. Perhitungan Luas Luka Bakar

1 th

5 th
14
18
9

9
18 18

18 18
16
14

16

14

15 th

Dewasa
10

18 18

18 18
1

18

18

18

18

Tabel 2. Rule of Nines untuk Penatalaksanaan Luka Bakar Pada Permukaan


Tubuh
Struktur Anatomi
Kepala
Badan Depan
Punggung
Tiap Kaki
Tiap Lengan
Genitalia/perineum

2.4.

Patofisiologi Luka Bakar

Area Permukaan
9%
18%
18%
18%
9%
1%

8
Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi, akan rusak dan permeabilitasnya
meningkat. Sel darah yang ada didalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia.
Meningkatnya permeabilitas menyebabkan edema dan menimbulkan bula yang
mengandung banyak elektrolit. Hal itu menyebabkan berkurangnya volume cairan
intra vaskuler. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan
akibat penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke bula yang terbentuk pada luka
bakar derajat dua, dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat tiga.3,4
Bila luas luka bakar <25%, biasanya mekanisme kompensasi tubuh, masih
bisa mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20%, akan terjadi syok hipovolemik dengan
gejala yang khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat,
tekanan darah menurun, dan produksi urin yang berkurang. Pembengkakan terjadi
pelan-pelan, maksimal terjadi setelah 8 jam. 1,2
Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat
terjadi kerusakan mukosa jalan nafas karena gas, asap, atau uap panas yang terhisap.
Edema laring yang ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan nafas dengan
gejala sesak nafas, takipnea, stridor, suara serak, dan dahak berwarna gelap akibat
jelaga. 7,8
Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lainnya. Karbon
monoksida akan mengikat hemoglobin dengan kuat, sehingga hemoglobin tidak
mampu lagi mengikat oksigen. Tanda keracunan ringan adalah lemas, bingung,
pusing, mual dan muntah. Pada keracunan yang berat terjadi koma. Bila dari 60%
hemoglobin terikat CO, penderita dapat meninggal. 1,2
Setelah 12 24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi
mobilisasi serta penyerapan kembali cairan edema ke pembuluh darah. Ini ditandai
dengan meningkatnya diuresis.3,4
Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati, yang merupakan
medium yang baik untuk pertumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi
ini sulit untuk diatasi karena daerahnya tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang
mengalami trombosis. Padahal pembuluh ini membawa sistem pertahanan tubuh atau
antibiotik. Kuman penyebab infeksi pada luka bakar selain berasal dari kulit penderita
sendiri, juga dari kontaminasi kuman saluran atas dan kontaminasi kuman di
lingkungan rumah sakit. Infeksi nosokomial ini biasanya sangat berbahaya karena

9
kumannya banyak yang sudah resisten terhadap berbagai macam antibiotik.
Perubahan luka bakar derajat 2 menjadi derajat 3 akibat infeksi, dapat dicegah dengan
mencegah infeksi.7,8
Pada awalnya, infeksi biasanya disebabkan oleh kokus Gram positif yang
berasal dari kulit sendiri atau dari saluran nafas, tetapi kemudian dapat terjadi invasi
kuman Gream negatif. Peudomonas aeruginosa yang dapat menghasilkan eksotoksin
protease dan toksin lain yang berbahaya, terkenal sangat agresif dalam invasinya pada
luka bakar. Infeksi Pseudomonas dapat dilihat dari warna hijau pada kasa penutup
luka bakar. Kuman memproduksi enzim penghancur keropeng yang bersama dengan
eksudasi oleh jaringan granulasi membentuk nanah.7,8
Infeksi ringan dan non invasif (tidak dalam) ditandai dengan keropeng yang
mudah terlepas dengan nanah yang banyak. Infeksi yang invasif ditandai dengan
perubahan jaringan di tepi keropeng yang kering dengan perubahan jaringan di tepi
keropeng yang mula-mula sehat menjadi nekrotik; akibatnya, luka bakar yang mulamula derajat 2 menjadi derajat 3. Infeksi kuman menimbulkan vaskulitis pada
pembuluh kapiler di jaringan yang terbakar dan menimbulkan trombosis sehingga
jaringan yang diperdarahinya mati.1,4
Bila luka bakar di biopsi dan eksudatnya dibiak, biasanya ditemukan kuman
dan terlihat invasi kuman tersebut ke jaringan sekelilingnya. Luka bakar demikian
disebut luka bakar septik. Bila penyebabnya kuman Gram positif, seperti
Staphylococcus atau basil Gram negatif lainnya, dapat terjadi penyebaran kuman
lewat darah (bakteremia) yang dapat menimbulkan fokus infeksi di usus. Syok septik
dan kematian dapat terjadi karena toksin kuman yang menyumbat di darah.2,4
Bila penderita dapat mengatasi infeksi, luka bakar derajat 2 dapat sembuh
dengan meninggalkan cacat berupa parut. Penyembuhan ini dimulai dari sisa elemen
epitel yang masih vital, misalnya sel kelenjar sebasea, sel basal, sel kelenjar keringat,
atau sel pangkal rambut. Luka bakar derajat 2 yang dalam mungkin menimbulkan
parut hipertrofik yang nyeri, gatal, kaku, dan secara estetik sangat jelek.7,8
Luka bakar derajat 3 yang dibiarkan sembuh sendiri akan mengalami
kontraktur. Bila ini terjadi dipersendian, fungsi sendi dapat berkurang atau hilang.

10
Pada luka bakar dapat ditemukan ileus paralitik. Pada fase akut, peristaltik
usus menurun atau berhenti karena syok, sedangkan pada fase mobilisasi, peristalsis
dapat menurun karena kekurangan ion kalium.3,4
Stress atau beban faali yang terjadi pada penderita luka bakar berat dapat
menyebabkan terjadinya tukak di mukosa lambung atau duodenum dengan gejala
yang sama dengan gejala tukak peptik. Kelainan ini dikenal sebagai tukak Curling.
Yang di khawatirkan pada tukak Curling ini adalah penyulit perdarahan yang tampil
sebagai hematemesis dan/atau melena. 7,8
Fase

permulaan

luka

bakar

merupakan

fase

katabolisme

sehingga

keseimbangan protein menjadi negatif. Protein tubuh banyak hilang karena eksudasi,
metabolisme tinggi, dan infeksi. Penguapan berlebihan dari kulit yang rusak juga
memerlukan kalori tambahan. Tenaga yang diperlukan tubuh pada fase ini terutama
didapat dari pembakaran protein dari otot skelet. Oleh karena itu, penderita menjadi
sangat kurus, otot mengecil dan berat badan menurun. Dengan demikian, korban luka
bakar menderita penyakit berat yang disebut penyakit luka bakar. Bila luka bakar
menyebabkan cacat, terutama bila luka bakar mengenai wajah sehingga rusak berat,
penderita mungkin menderita beban kejiwaan berat. Jadi, prognosis luka bakar
terutama ditentukan oleh luasnya luka bakar. 7,8
2.5.

Menentukan Keparahan Luka Bakar

Sumber luka bakar. Luka bakar minor yang disebabkan oleh radiasi nuklir
lebih parah dibandingkan dengan suatu luka bakar termal. Luka bakar yang
disebabkan oleh bahan kimia adalah berbahaya sebab bahan kimia mungkin
masih terdapat pada kulit. 4,7

Bagian tubuh yang terbakar luka bakar yang terdapat pada wajah lebih
berbahaya sebab bisa mempengaruhi jalan nafas atau mata. Luka bakar pada
telapak tangan dan kaki juga membutuhkan perhatian khusus sebab bisa
membatasi pergerakan jari dan jari kaki. 4,7

Derajat luka bakar. Derajat luka bakar adalah penting untuk ditentukan sebab
bisa

menyebabkan

infeksi/peradangan

jaringan

memudahkan invasi kuman ke sistem sirkulasi.6,7

yang

terbakar

dan

11

Luas daerah luka bakar. Adalah penting untuk mengetahui persentase dari
jumlah permukaan kulit yang terbakar. Tubuh orang dewasa dibagi menjadi
beberapa regio, masing-masing mewakili sembilan persen dari total
permukaan tubuh. Regio

ini adalah kepala dan leher, masing-masing

ekstremitas bagian atas, dada, abdomen, punggung bagian atas, pantat dan
punggung bagian bawah, bagian depan dari masing-masing ekstremitas
bawah, dan bagian belakang dari masing-masing ektremitas bagian bawah.
Jumlahnya 99 persen. 1 persen sisanya adalah area genital. Pada bayi atau
anak kecil, persentase yang lebih besar ditempatkan pada kepala dan batang
tubuh.7,8

Umur pasien. Ini sangat penting sebab anak-anak kecil dan orang tua pada
umumnya mempunyai reaksi yang lebih berat terhadap luka bakar dan berbeda
proses penyembuhannya.4,6

Kondisi fisik dan mental sebelum terjadinya luka bakar. Pasien dengan
penyakit saluran pernapasan, kelainan jantung, diabetes atau penyakit ginjal
berada dalam bahaya yang lebih besar dibanding orang-orang yang sehat.7,8

2.6.

Berat Ringannya Luka Bakar


Dibagi menjadi :
1. Berat = Parah
a. Luka bakar derajat II 25% atau lebih
b. Luka bakar derajat III 10% atau lebih
c. Luka bakar derajat III pada tangan, kaki dan muka
d.Terdapat komplikasi pada saluran nafas, jantung, patah tulang, kerusakan
soft tissue yang luas
2. Sedang
a. Luka bakar derajat II 15 25%
b. Luka bakar derajat III 2 10% kecuali pada muka, tangan dan kaki
3. Ringan
a. Luka bakar derajat II <15%
b. Luka bakat derajat III <2%. 8

12
2.7.

Faktor faktor yang Mempengaruhi Tingkat Keparahan Luka Bakar


Tingkat keparahan luka bakar dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut :

Intensitas panas
Pada kebakaran rumah, biasanya suhu berada pada kisaran di bawah 1200
16000F. 4,6

Durasi terpajan panas


Misalnya, kulit manusia dipanaskan sampai 45 0C selama 2 jam, maka kulit
akan menjadi hiperemis tanpa terjadi kerusakan epidermis, namun bila durasi
pajanan diperpanjang sampai 3 jam, akan terjadi kerusakan total atau nekrosis
pada epidermis. 7,8

Pada pelaksanaan pembakaran jenazah (kremasi) orang dewasa, alat yang


digunakan harus dipanaskan terlebih dahulu selama 1,5 jam dengan suhu
15000F. 4,6,8

2.8.

Terapi

2.8.1.

Manajemen akut (Clinical Practice)

Tujuan:
Segera diidentifikasi kondisi yang mengancam kehidupan dan manajemen
kegawatdaruratan dimulai.
1. Primary Survey
A. Pemeliharaan Airway dengan kontrol tulang belakang leher
Stabilisasi leher untuk suspek cervical spine injury.
Hal ini penting untuk menjaga patensi jalan napas. Periksa saluran napas untuk
benda asing / edema. Jika pasien tidak dapat merespon perintah verbal, membuka
jalan napas dengan chin lift atau jaw trust.
Minimumkan pergerakan cervical spine dan tidak pernah hiperfleksi atau
hiperekstensi kepala atau leher.
Masukkan Guedel Airway jika patensi jalan napas terganggu. Pikirkan untuk
intubasi lebih awal. 10

13
B. Breathing dan Ventilasi
Berikan oksigen 100%
Menilai dan memastikan bahwa ekspansi/gerakan dada memadai dan sama bilateral
Waspadalah kulit dalam melingkar atau dada ketebalan penuh luka bakar nilai
apakah escharotomy diperlukan?
Palpasi untuk krepitus dan patah tulang rusuk
Lakukan auskultasi untuk napas suara bilateral
Ventilasi via bag dan mask atau intubasi pasien jika perlu.
Memantau laju pernapasan - berhati-hatilah jika <10 atau> 20 per menit.
Nilai saturasi oksigen dengan pulsa oksimeter
Pertimbangkan apakah terjadi keracunan karbon monoksida

10

C. Circulation dengan Kontrol Perdarahan


Periksa untuk setiap perdarahan yang terlihat - berhenti dengan penekanan langsung.
Memantau dan mencatat nadi perifer untuk frekuensi, kekuatan (kuat, lemah) dan
irama,
Nilai waktu pengisian kapiler, kembali normal dua detik. Jika memanjang
menunjukkan hipoperfusi karena hipotensi, hipovolemia
sirkulasi perifer Monitor jika ada luka bakar hadir melingkar. Pertama meningkatkan
ekstremitas untuk mengurangi edema dan aliran darah bantuan (Kagan & Smith
2000). Jika ini tidak terbukti efektif maka mungkin perlu untuk melakukan
escharotomy. 10
D. Disability: Status neurologis
Menetapkan tingkat kesadaran:
A - Alert
V - Respon terhadap rangsangan Vocal
P - Merespon rangsangan Menyakitkan
U - Merespons
Periksa respon pupil terhadap cahaya untuk reaksi dan ukuran.

14
Waspada terhadap kegelisahan dan penurunan tingkat kesadaran - hipoksemia, CO
intoksikasi, shock, alkohol, obat-obatan dan analgesia yang mempengaruhi tingkat
kesadaran. 10
E. Exprosure dengan kontrol lingkungan
Lepaskan semua pakaian dan perhiasan.
Jaga kehangatan pasien
Hipotermia dapat memiliki efek merugikan pada pasien. Hal ini penting untuk
memastikan
bahwa pasien tetap hangat, terutama selama periode bantuan pendinginan pertama.
Log roll pasien, menghapus lembar basah dan memeriksa permukaan posterior untuk
luka bakar dan luka lain. 10
2.

Secondary Survey

Melakukan survei sekunder yang komprehensif.


History
A - Allergies
M - Medications
P - Past Illnesses
L - Last Meal
E - Events/Environment related to injury 10
b. Mekanisme Cedera
- Kumpulkan informasi dari pasien atau orang lain sebagai berikut:
1. Tanggal dan waktu luka bakar, tanggal dan waktu terjadi pertama.
2. Sumber cedera dan lamanya waktu kontak.
3. Pakaian yang dikenakan.
4. Aktivitas pada saat luka bakar
5. Kecukupan pertolongan pertama. 10

15
C . Penilaian Head to toe
menilai kembali A, B, C, D, E 10
d. Tindakan lain
Mencatat dan dokumen
membuat hapusan luka bakar dan kirim ke mikrobiologi. 10
2.8.2. Resusitasi Luka Bakar
Resusitasi cairan merupakan tatalaksana utama pada saat fase awal
penanganan luka bakar terutama pada 24 jam pertama. Pemberian cairan yang adekuat
akan mencegah syok yang disebabkan karena kehilangan cairan berlebihan pada luka
bakar.9
Luka bakar dapat menyebabkan berbagai perubahan parameter anatomis,
imunologis bahkan fisiologis tubuh. Luka bakar dapat menyebabkan hilangnya cairan
intravaskular melalui luka atau jaringan yang tidak mengalami cedera. Hilangnya
cairan umumnya terjadi dalam 24 jam pertama setelah cedera. Teknik resusitasi cairan
pada luka bakar terus mengalami perkembangan. Prinsip resusitasi cairan luka bakar
mengacu pada rumus Parkland yaitu :
4 cc/kg/luas permukaan tubuh + cairan rumatan
Cairan rumatan dapat digunakan dekstrosa 5% dalam ringer laktat yang
jumlahnya disesuaikan dengan berat badan :
10 Kg

100 mL/kg

11-20 Kg :

1000 mL + (Berat badan 10 Kg) x 50 mL

>20 Kg

1500 mL + (Berat badan 20 Kg) x 20 mL 10

Pemberian cairan ini diberikan 24 jam pertama, 50% diberikan 8 jam pertama
dan 50% diberikan 16 jam berikutnya. Formula ini telah digunakan secara luas sejak
40 tahun yang lalu untuk terapi cairan pada luka bakar selama 24 jam pertama setelah
trauma, namun penelitian terbaru mengatakan bahwa formula Parkland tidak dapat
memprediksi kehilangan cairan secara akurat khususnya pada pasien dengan luka
bakar luas, akibatnya pasien seringkali mendapatkan jumlah cairan lebih sedikit
dibandingkan seharusnya. Hal ini sesuai dengan penelitian Cancio dkk yang

16
melaporkan bahwa penggunaan formula Parkland menyebabkan penurunan kebutuhan
cairan pada 84% pasien. Penelitian ini juga menyebutkan jumlah cairan yang
diberikan pada pasien luka bakar tidak hanya memperhatikan luas serta kedalaman
luka, namun harus diperhatikan apakah pasien ini membutuhkan bantuan ventilasi
mekanik atau tidak karena diperkirakan hal ini dapat meningkatkan kebutuhan
cairan.10
Metode lain resusitasi cairan dikembangkan oleh Baxter pada tahun 1979, ia
memberikan teknik resusitasi cairan pada 954 pasien luka bakar dengan menggunakan
formulasi cairan 3,7 4,3 mL/Kg/total luas permukaan tubuh (TLPT) dan didapatkan
hasil sekitar 70% yaitu 438 dewasa dan 516 anak-anak mengalami keluaran yang
baik. Formulasi lain terapi cairan menurut gavelstron menggunakan rumus
(5000 mL x LPT yang mengalami luka bakar) + (2000 mL x TLPT)

Protokol

saat

ini

melanjutkan

pemberian

resusitasi

cairan

dengan

menggunakan formulasi 2 4 mL/kgBB/TLPT selama 24 jam pertama. Setelah


pemberian terapi cairan, dilakukan pemantauan tanda kelebihan cairan yaitu
terdapatnya gangguan hemodinamik pasien seperti sesak napas, hepatomegali atau
terdapatnya ronkhi basah halus pada basal paru. Pemantauan ini kerap kali harus
dilakukan karena pemberian cairan berlebihan akan menyebabkan terjadinya edema
yang merupakan komplikasi akibat pemberian cairan resusitasi dan berpotensi
menimbulkan kompikasi misalnya abdominal compartement syndrome dan edema
paru. 10,11
Keterlambatan resusitasi meningkatkan mortalitas dan memperparah luka
bakar. Akses intravena dapat dilakukan perifer dengan luka yang kecil tetapi
memerlukan penempatan sentral untuk luka bakar yang lebih ari 20% TBSA. 9,10
Sebagian besar penelitian tidak mendapatkan peningkatan insidens edema paru
pada pasien yang mendapatkan cairan kristaloid. Holm dkk dalam penelitiannya
mengemukakan bahwa sebagian besar luka bakar tidak memperlihatkan peningkatan
permeabilitas kapiler paru setelah trauma, dan insidens edema paru jarang terjadi
sepanjang tekanan pengisian intravaskular dipertahankan dalam batas normal.
Berdasarkan tinjauan sistematik oleh Schierhout dan Roberts dari 26 penelitian acak
terkontrol dengan 1622 pasien yang mendapatkan koloid atau kristaloid, mortalitas

17
merupakan outcome utama yang dinilai. Hasil yang didapat adalah, mortalitas pada
pasien yang mendapat cairan koloid lebih besar 4% dibanding yang mendapat
kristaloid. Direkomendasikan cairan koloid dan atau cairan hipertonik sebaiknya
dihindari dalam 24 jam pertama setelah trauma luka bakar (level II B). 10,11
Koloid tidak memperlihatkan keuntungan dibanding kristaloid pada awal
resusitasi cairan pada pasien luka bakar dan bahkan memperburuk edema formation
pada awal awal terjadinya luka bakar. Hal ini oleh karena selama 8-24 jam setelah
luka bakar terjadi peningkatan permeabilitas kapiler sehingga koloid mengalami
influx masuk ke dalam interstitium sehingga memperburuk edema. Studi metaanalisis terakhir memperlihatkan mortalitas lebih tinggi pada pasien yang
mendapatkan albumin sebagai bagian resusitasi awal dengan 2,4 kali risiko relatif
mortalitas dibanding yang mendapatkan kristaloid. 10,11
2.8.3. Antibiotika yang sesuai
Pasien luka bakar terutama luka bakar luas berpotensi mengalami infeksi
sekunder maupun sepsis sehingga berpotensi meningkatkan mortalitas. Penelitian
yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap 175 pasien luka bakar luas dikatakan
bahwa infeksi berhubungan dengan disfungsi multiorgan yang dapat menimbulkan
kematian pada 36% pasien. 9
Infeksi sekunder pada luka bakar terutama disebabkan oleh bakteri gram
positif terutama stafilokokus yang berdomisili di kelenjar keringat dan folikel rambut,
perubahan kondisi akibat luka bakar akan mempercepat pertumbuhan bakteri,
sedangkan infeksi bakteri gram negatif umumnya disebabkan karena translokasi dari
kolon karena berkurangnya aliran darah mesenterika. Selain itu kondisi pasien
diperberat akibat penurunan respons limfosit T sitotoksik, maturasi mieloid yang
menyebabkan terganggunya aktivitas netrofil dan makrofag. Tujuan penanganan luka
adalah mempercepat epitelisasi sehingga dapat mengurangi risiko infeksi sekunder.
Sepsis seringkali menyertai luka bakar. 9,11
Menurut Centre for Disease Control (CDC), infeksi luka bakar adalah keadaan
apabila:

Terdapat perubahan kesadaran pasien yaitu menjadi


Tampak letargis, hipotermia, hipertermia maupun tanda-tanda syok
Perubahan pada luka yang terjadi misalnya warna maupun bau

18

Pada pemeriksaan kultur jaringan positif mengandung mikroorganisme


Pemberian antibiotik profilaksis sebenarnya tidak dianjurkan, namun antibiotik
profilaksis dapat direkomendasikan pada keadaan:
- Pencegahan selulitis sehingga memerlukan antibiotika antistreptokokal
- Pemberian obat anti jamur oral atau enteral untuk mencegah kandidiasis
- Pemberian obat-obatan perioperatif
- Pemberian antibiotika spektrum luas pada keadaan syok sepsis 11

2.8.4. Dukungan Nutrisi


Pada keadaan luka bakar terlebih pada luka bakar derajat luas, terjadi
hipermetabolisme akibat respons stres berlebihan. Hal ini akan mengakibatkan pasien
akan mengalami keadaan malnutrisi, dan lambatnya proses penyembuhan. Keadaan
hipermetabolisme dapat bertahan sekitar 12 bulan setelah cedera. Keadaan ini
berhubungan dengan luasnya luka bakar, dan berkaitan dengan stres yang terjadi.
Pada anak kebutuhan kalori mencakup 60%-70% karbohidrat, 15%-20% lemak,
sedangkan protein harus terpenuhi 2,5-4gram/kgbb/hari. Apabila diberikan asupan
berlebih dapat menyebabkan peningkatan produksi CO2 yang dapat memperberat
fungsi paru dan dapat meperlambat proses penyapihan ventilator. Di samping itu
pemberian karbohidrat berlebihan akan menyebabkan disfungsi hepar, hiperglikemia
sehingga dapat memicu dehidrasi akibat meningkatnya diuresis. Pemantauan proses
metabolisme dilakukan melalui pemantauan kadar gula darah, albumin, elektrolit,
fungsi hati dan ginjal. 9,10
Tabel 2. Perhitungan kebutuhan kalori pada luka bakar adalah sebagai berikut11:
Usia (tahun)
0-1
1-11
12-18

Kebutuhan kalori
2100 kkal/m2/LPT + 1000 kkal/m2/LPT
1800 kkal/m2/LPT + 1300/m2/LPT
1500 kkal/m2/LPT + 1500 kkal/m2/LPT

Selain penatalaksanaan secara farmakologik, perawatan luka bakar juga tak


lepas dengan masalah nutrisi. Nutrisi bagi penderita luka bakar tak kalah pentingnya
dalam proses penyembuhan luka. 9
Memperkirakan jumlah kebutuhan nutrisi pada pasien luka bakar sangat
penting dalam proses penyembuhan. Terdapat beberapa rumus untuk menghitung
kebutuhan nutrisi pasien kula bakar. Persamaan Harris-Benedict dibuat untuk
menghitung kebutuhan kalori orang dewasa sementara Galvaston digunakan pada

19
anak-anak. Rumus Curreri digunakan untuk menghitung kebutuhan kalori dewasa dan
anak-anak. Studi terbaru menunjukkan bahwa rumus ini cenderung bersifat berlebihan
(over estimate) sebesar kira kira 150% dari kebutuhan kalori. Karena tidak ada
satupun rumus yang dapat memperhitungkan secara akurat berapa banyak kalori yang
dibutuhkan oleh pasien, adalah penting bagi dokter dan ahli gizi untuk memonitor
secara ketat kondisi nutrisi pasien.9,10
Kebutuhan protein pada umumnya meningkat daripada kebutuhan energi dan
tampaknya berhubungan dengan besarnya massa tubuh. Tubuh kehilangan protein
melalui luka dan karena hal ini tubuh meningkatkan kebutuhan kalori untuk
penyembuhan. Bagaimanapun juga mayoritas dari peningkatan kebutuhan protein
berasal dari adanya kerusakan otot dan terkait penggunaannya dalam memproduksi
energi. Memberikan indeks protein yang lebih tinggi tidak dapat menghentikan proses
perusakan ini akan tetapi protein penting untuk menyediakan bahan untuk sintesis
jaringan yang rusak atau hilang. Karbohidrat merupakan penyuplai kalori terbesar
pada kebanyakan kondisi terrmasuk stress pada luka bakar. Memberikan kalori yang
adekuat dari karbohidrat dapat mengurangi penggunaan protein sebagai bahan bakar.
Tubuh memecah karbohidrat menjadi glukosa yang akan digunakan sebagai energi.
Luka bakar membutuhkan glukosa untuk energi dan tidak dapat menggunakan sumber
energi lain.9
Lemak dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan akan asam lemak esensial dan
juga sebagai sumber kalori. Rekomendasi umum memberikan 30% kalori dalam
bentuk lemak, dan jumlah ini bisa lebih besar jika diperlukan. Kekurangan asupan
lemak berimplikasi pada penurunan fungsi imun.10
Kebanyakan institusi kesehatan mengetahui bahwa luka bakar membutuhkan
jumlah vitamin dan mineral yang lebih tinggi akan tetapi berapa peningkatan
kebutuhan ini belum dapat ditentukan. Beberapa vitamin yang penting adalah vitamin
C dan E bersama dengan zinc dapat membatasi kerusakan oksidatif dan mempercepat
penyembuhan luka. 10
Memberikan kalori dan zat gizi yang adekuat adalah tugas yang sangat sulit
pada pasien luka bakar terutama pada anak-anak. Adalah sangat penting bagi para
tenaga kesehatan untuk dapat memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dalam rangka
meminimalisasi efek buruk dari kehilangan masa tubuh,dan malnutrisi energi protein.

20
Kegagalan memenuhi kebutuhan ini dapat bermanifestasi sebagai penyembuhan luka
yang tidak sempurna, balance nitrogen yang negatif, penurunan BB dan penurunan
fungsi kekebalan tubuh. 10
Penilaian status nutrisi awal sebaiknya dilakukan secepatnya setelah masuk
rumah sakit. Hal ini sangat penting agar pemberian makan yang adekuat dapat
diberikan dalam 24-48 jam pertama setelah pasien mengalami luka bakar. Pengukuran
berat badan dan tinggi badan yang akurat seperti sebelum luka bakar terjadi yang
dapat dilihat pada Tabel Standar Pertumbuhan Anak sangat diperlukan untuk
memperkirakan kebutuhan nutrisi pada anak. 10
2.8.5. Analgetik dan Sedatif
Luka bakar dapat menimbulkan rasa nyeri terlebih lagi pada luka bakar luas.
Nyeri tersebut akan sangat mengganggu proses emosi dan fisiologi anak. Sehingga
diperlukan analgetika dan sedatif yang dapat mengontrol nyeri agar anak menjadi
nyaman. Derajat luka bakar akan menentukan nyeri yang ditimbulkannya. Pada luka
bakar superfisial, persyarafaan masih utuh sehingga pergerakan maupun sentuhan
akan sangat memicu rasa nyeri. Sedangkan luka bakar luas dan dalam (deep partial
thickness) beberapa persarafan bahkan hampir seluruh saraf mengalami kerusakan,
akibatnya pasien tidak begitu merasakan rangsangan nyeri. Namun hal yang harus
diperhatikan adalah apabila sekeliling luka mengalami kemerahan yang dapat
menimbulkan nyeri. Luka bakar jenis full thickness, seluruh persarafan telah
mengalami kerusakan, oleh sebab itu respons terhadap rasa nyeri sama sekali tidak
ada, namun daerah sekeliling luka masih berespons terhadap rangsang nyeri. 9,10
Seringkali anak yang mengalami luka bakar, rangsangan sekecil apapun
mampu menstimulasi pusat nyeri sehingga akan menimbulkan nyeri kronik dan nyeri
neuropatik. Nyeri neuropatik terjadi sekunder akibat kerusakan saraf. Hal ini dapat
menyebabkan kurangnya respons terhadap analgetika sehingga dibutuhkan obatobatan sedatif.14 Analgetika yang diberikan pada anak yang mengalami nyeri akibat
luka bakar adalah parasetamol dan anti inflamasi non steroid (AINS). Namun bila
dengan pengobatan oral masih tidak berespons, dapat diberikan obat analgetika
intravena.
Obat - obat analgetika sebaiknya memiliki persyaratan sebagai berikut:1

21
-

Mudah diberikan
Dapat ditoleransi dengan baik
Memiliki onset kerja singkat namun memiliki efek samping minimal 10,11
Penanganan nyeri pada anak mencakup terapi farmakologik dan non

farmakologik. Terapi farmakologik dilakukan dengan pemberian analgetika spesifik


yaitu pemberian parasetamol asetaminofen obat Parasetamol adalah derivat
paraaminofenol yang dapat bekerja secara sentral dan perifer untuk mengatasi rasa
nyeri. Obat anti inflamasi non steroid memiliki sifat analgetika dan antipiretik melalui
hambatan sintesis prostaglandin dan tromboksan. 10,11
Opioid Memiliki efek analgetika melalui reseptor opioid sentral dan perifer.
Morfin memiliki efek sekitar 10 20 menit setelah diberikan melalui jalur intravena
dengan dosis 0,1mg/Kg. Dosis morfin yang diberikan pada anak >5 tahun yaitu 20
mikrogram/Kg

diberikan

secara

bolus

dilanjutkan

dengan

titrasi

4-8

mikrogram/kg/jam. Pada saat diberikan morfin, harus dilakukan pemantauan


pernapasan dan saturasi O2. 9,10
Oxycodone merupakan opioid semisintetis yang memiliki bioavailabilitas
lebih baik dibandingkan morfin. Oxycodone dapat diberikan dengan dosis 0,2mg/Kg
secara per oral maupun intravena. 11
Fentanyl merupakan analgetika narkotik dengan potensi lebih tinggi
dibandingkan dengan morfin. Memiliki kemampuan larut lemak yang tinggi dan mula
kerja cepat (12 menit). Durasi kerjanya mencapai 60 menit dan dosis yang diberikan
adalah 1520 mikrogram/Kg. 11
Agonis a2 Adrenergic umumnya diberikan pada anak yang tidak berespons
terhadap pemberian analgetika. Dalam hal ini dapat digunakan klonidin yang diberikan dengan cara menghambat jalur korda spinalis. Dosis yang diberikan 13
mikrogram/Kg diberikan 3 kali sehari secara oral atau intravena. 11

2.8.6. Perawatan Luka


Perawatan luka merupakan salah satu tatalaksana yang perlu diperhatikan
dalam penanganan luka bakar. Karena tidak jarang luka yang tidak dibersihkan
dengan baik dapat memicu infeksi sekunder. Cleansing dan debridement merupakan

22
tindakan rutin yang harus dilakukan. Bilas luka dapat menggunakan sabun dan air
bersih atau clorhexidin atau NaCl 0,9%. Setelah dibersihkan, diberikan antibiotika
topikal yang kemudian menutup luka dengan kasa steril untuk mengurangi risiko
infeksi sekunder. Antibiotik topikal dapat diberikan sehari 2 kali sambil dilakukan
ganti balutan. 9
Tujuan utama perawatan luka adalah mencegah infeksi dan melindungi luka
terhadap terjadinya infeksi sekunder. Bula yang terbentuk apabila berukuran <2cm
dapat dibiarkan tetap utuh, sedangkan bula yang besar harus dipecahkan kemudian
dilakukan debridement. Pasien luka bakar yang dirawat umumnya dilakukan skin
graft dalam 15 hari setelah trauma. Tindakan ini terbukti dapat mengurangi risiko
sepsis.9

23
BAB III
LAPORAN KASUS
3.1.

Anamnesis

Identitas Pribadi
Nama

: K

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Usia

: 28 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Jl.Bunga Lau Kec. Medan Tuntungan

Tanggal Masuk

: 23 November 2014, 10.15 WIB

3.2.

Riwayat Perjalanan Penyakit

Keluhan Utama
Telaah

: Luka Bakar
: Hal ini dialami oleh pasien 10 menit SMRS. Kejadian
terjadi di ruang terbuka. Pasien tidak langsung kontak dengan
api, tetapi terkena hawa panas api dari bocoran tabung gas
disebelah dapur selama lebih kurang 10 menit.

RPT

:-

RPO

: tidak jelas

3.3.

Pemeriksaan Fisik

Primary Survey
Airway

: Clear

Breathing

: Spontan, Respiratory Rate : 20 x/i

Circulation

: Akral Hangat, TD: 110/70 mmHg

Disability

: GCS 15

Exposure

: Stabil Lokalisasi

Secondary Survey
Kepala / Leher: Jelaga (-), Luka bakar Grade II-A 1% di leher
Thorax

: Simetris, Vesikuler, ST: -

Abdomen

: Dalam batas normal

24
Ekstremitas

: Superior (L) : luka bakar grade II b 4.5%


Superior (R) : luka bakar grade II b 4.5 %
Inferior (L) : luka bakar grade II b 6 %
Inferior (R) : luka bakar grade II b 4 %
Depan

Belakang

1%

4.5%

4.5%

4%

6%

Status Presens
Sensorium

: Compos mentis

RR

: 20 x/i

TD

: 110/70 mmHg

HR

: 84 x/I

Temp

: 36.7C

3.4.

Pemeriksaan Tambahan

Hasil Laboratorium, 23 November 2014 WIB


Hematologi
Hemoglobin (HGB)
Eritrosit (RC)
Leukosit (WBC)
Hematokrit
Trombosit (PLT)
Faal Hemostasis
PT
INR
APTT
TT
KGD ad random
Albumin
RFT
Ureum
Kreatinin

g%
10 / mm3
103/ mm3
%
3
10 / mm3

16.2
4.75
15.76
43.50
219

13.2-17.3
4.2-4.87
4.5- 11.0
43-49
150-450

Detik
Detik
Detik
Detik
mg/dL
g/dL

15.2
1.09
27.4
56.5
134.7
4.4

14.0
34.0
18.0
<200
3.5-5.0

mg/dL
mg/dL

31.9
0.87

<50
0,70-1,20

25
Elektrolit
Natrium
Kalium
Klorida

mEq/L
mEq/L
mEq/L

137
4.4
102

3.5.

Diagnosa sementara : Flame Burn Grade IIa-IIb 20%

3.6.

Penatalaksanaan

: - IVFD RL = 4 x 60 Kg x 20% luka bakar = 4800cc


Cairan rumatan = 1500ml + (60Kg-20Kg) x 20mL = 2300cc
4800cc + 2300cc = 7100cc
o 3550cc untuk 8 jam pertama = 443,75cc/jam=150gtt/i
o 3550cc untuk 16 jam berikutnya
= 220cc/jam = 70 gtt/i
- Inj. Ceftriaxone 1 gr / 12 jam
- Inj. Ketorolac 30 mg / 8 jam
- Inj. Ranitidine 50 mg / 12 jam

3.7.

Rencana

135-155
3,6-5,5
96-105

: Debridement

Follow up pasien
24-26 November 2014
S : (+) Nyeri Luka Bakar
O : CM, HD stabil, luka terbungkus dengan verban (+), Rembesan (-)
A : Flame Burn Grade IIa-b 20%
P : - Diet TKTP 5000 kkal
- IVFD RL 20 gtt/i
- Inj. Ceftriaxone 1 g/12 jam
- Inj. Ketorolac 30 mg/8jam
R : Ganti Verban (26 November 2014)

26

DAFTAR PUSTAKA
1. Walls

M.

Thermal

Burns.

Rosens

Emergency

Medicine

7th

Edition.2010.Mosby:758-66.
2. Andrew R, Singer. Burns-General Management. Oxford Handbook of
Critical Care 2nd Edition.2005.Oxford Univeersity Press Inc:512-3.
3. Children of Fire. Burn. Diunduh dari http://www.firechildren.org. Diakses
14 September 2014.
4. Update on the Critical Care Management of Severe Burns. Diunduh dari
http://jcm.sagepuh.com. Diakses 14 September 2014.
5. Plantz S, William Gossman. Burns. Mergency

Medicine

5th

Edition.2008.Mc Graw Hill:170-1.


6. Recent Advances in the Management of Burns. Diunduh dari
http://www.fraser.com. Diakses 14 September 2014.

27
7. Pittaway AJ. Managing Paediatric Burns Anaesthesia Tutorial of the Week
78. 2007. Diunduh dari http://www.totw.anaesthesiologists.org. Diakses 14
September 2014.
8. 8. Harbin K, Teressa E. Norris. Anesthetic Management of Patients With
Major

Burn

Injury.

2012.

Diunduh

dari

http://www.aana.com/aanajournalonline. Diakses 14 September 2014.


9. Arifin H. Pengelolahan Infeksi Pada Pasien Luka Bakar di Unit Perawatan
Infeksi. Jurnal Kedokteran Terapi Intensif. Vol.2 No.3 April 2012.
10. Clinical Practice Guidelines: Burn Patien Management. ACI Statewide
Burn Injury Service 2011.
11. Dzulfikar. Penanganan Luka Bakar di Ruang Perawatan Intensif Anak.
Jurnal Kedokteran Terapi Intensif.Vol 2.No.3 April 2012