Anda di halaman 1dari 19

Hipoglikemi sebagai Efek Samping dari Pengobatan Diabetes Melitus

Pendahuluan
Penyakit Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang mengalami
peningkatan terus menerus dari tahun ke tahun. WHO memprediksi kenaikan jumlah penderita
Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi
sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik, diperkirakan jumlah
penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun adalah sebesar 133 juta jiwa, dengan
prevalensi DM pada daerah urban sebesar 14,7% dan daerah rural sebesar 7,2 %. Pada tahun
2030 diperkirakan ada 12 juta penyandang diabetes di daerah urban dan 8,1 juta di daerah rural.
Efek kronik dari penyakit DM juga menjadi perhatian yang serius selain dari segi epidemologi.
Penyakit Diabetes Mellitus merupakan the great imitator. Hal ini disebabkan penyakit DM
mampu menyebabkan kerusakan organ secara menyeluruh secara anatomis maupun fungsional.
Komplikasi kronik dari penyakit DM menyebabkan kelainan pada makrovaskular,
mikrovaskular, gastrointestinal, genito urinari, dermatologi, infeksi, katarak, glaukoma dan
sistem muskulo skeletal.1
Pada era globalisasi saat ini umumnya masih banyak gaya hidup masyarakat yang masih
belum memahami tentang pentingnya kesehatan. Mereka pada umumnya mengkonsumsi segala
jenis makanan, seperti : makanan tinggi lemak dan kolesterol tanpa diimbangi dengan olahraga
atau aktifitas fisik untuk membakar lemak dan gaya hidup yang salah, seperti : kebiasaan
merokok dan minum - minuman keras ataupun mengkonsumsi narkoba yang kesemuanya itu
dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi kesehatan. Diantara masalah kesehatan tersebut
akan mengakibatkan timbulnya penyakit Reumatik, Diabetes Mellitus, Jantung, Ginjal dan
sebagainya. Dari berbagai penyakit diatas diantaranya adalah Diabetes Mellitus. Diabetes
Mellitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa
dalam darah atau hiperglikemia. Diabetes Mellitus mempunyai dua tipe yang pertama Diabetes
Mellitus tipe I (IDDM) yaitu diabetes mellitus yang tergantung insulin dan yang kedua Diabetes
mellitus tipe II (NIDDM) yaitu diabetes mellitus yang tidak tergantung insulin. Diabetes mellitus
tipe I biasanya terjadi pada usia kurang dari 30 tahun dengan persentase 5% - 10% dari seluruh
penderita diabetes mellitus. Sedangkan pada kasus diabetes mellitus tipe II sering ditemukan
pada usia lebih dari 30 tahun dengan persentase 90% - 95% seluruh penderita diabetes mellitus,
obesitas 80% dan non obesitas 20%.1
Menurut riset, penderita diabetes mellitus di Indonesia mencapai 12 juta jiwa atau 5%
dari seluruh penduduk. Sekitar 30% dari penderita mengalami kebutaan akibat komplikasi
retinopati dan 10% harus menjalani amputasi. Untuk resiko kematiannya 4 5 kali lebih tinggi
dari pada non diabetes dengan sebab akibat 50% jantung koroner dan 30% akibat gagal ginjal.
Penyakit diabetes mellitus memerlukan penatalaksanaan medis dan keperawatan untuk
mencegah komplikasi akut seperti ketoasidosis dan sindrom koma hiperglikemik hiperosmolar
non ketotik yang dapat menyebabkan kematian dan juga dapat menimbulkan komplikasi jangka
1

panjang, seperti penyakit makrovaskuler, penyakit mikrovaskuler dan penyakit oftamologi


lainnya. Penyakit diabetes mellitus perlu mendapat perhatian dan penanganan yang baik oleh
perawat. Secara kuratif dan rehabilitatif seperti pengontrolan kadar gula darah, melakukan
perawatan luka dan mengatur diet makanan yang harus dimakan sehingga tidak terjadi
peningkatan kadar gula darah. Selain itu perawat juga berperan secara preventif yaitu dengan
cara memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit diabetes mellitus untuk meningkatkan
pemahaman klien dan mencegah terjadinya komplikasi. 1-3
Anamnesis
Jenis anamnesis yang dapat dilakukan adalah autoanamnesis dan alloanamnesis.
Autoanamnesis dapat dilakukan jika pasien masih berada dalam keadaan sadar. Sedangkan bila
pasien tidak sadar, maka dapat dilakukan alloanamnesis yang menyertakan kerabat terdekatnya
yang mengikuti perjalanan penyakitnya. Antara yang perlu ditanyakan dalam anamnesis adalah
seperti berikut:
1.
Identitas pasien:

Menanyakan kepada pasien/keluarga: Nama lengkap pasien, umur pasien, tanggal lahir,
jenis kelamin, agama, alamat, pendidikan dan pekerjaan, suku bangsa.
2.
Keluhan utama dan sampingan:

Sejak kapan terjadi keluhan.

Poliuria, polifagia, polidipsi, lemas, kesemutan, gatal (pruritus) pada bagian lipat kulit
atau bagian kemaluan, luka yang sukar sembuh, mata semakin kabur, impotensi, penurunan berat
badan mendadak, lemah tubuh badan dan nyeri otot.
3.
Riwayat penyakit dahulu:

Penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, penyakit hati, dan penyakit metabolik.


4.
Riwayat obat-obatan dan pengobatan:

Ada pernah berobat penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, penyakit hati, dan penyakit
metabolik.

Ada pernah mengambil obat seperti obat pengencer darah, obat diuretik atau obat
penghambat beta.

Penggunaan preparat insulin atau obat hipoglikemik oral serta dosis terakhir, waktu
pemakaian terakhir atau perubahan dosis.

Penggunaan preparat insulin atau hipoglikemik oral : dosis terakhir, waktu pemakaian
terakhir, perubahan dosis
5.
Riwayat penyakit dalam keluarga:

Ahli keluarga terkena penyakit yang sama.

Ahli keluarga yang menderita penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, penyakit hati, dan
penyakit metabolik.
6.
Kebiasaan seharian dan sosio-ekonomi:

Waktu makan terakhir, diet dan pengambilan nutrisi seharian, tabiat merokok serta
minum alkohol, dan olah raga rutin.

Pemeriksaan fisik
Tanda-tanda vital adalah kesadaran, nadi, pernapasan, suhu dan tekanan darah. Periksa
keadaan umum dan tanda-tanda vital pada pasien. Semuanya harus diukur dalam setiap
pemeriksaan yang lengkap. Tingkat kesadaran, tekanan darah, suhu tubuh, frekuensi denyut nadi
dan frekuensi napas menentukan tingkat keparahan penyakit. Pasien yang memperlihatkan
adanya perubahan nyata pada tanda-tanda vital biasanya menderita gangguan akut yang
memerlukan evaluasi dan pengobatan segera. Sesuai dengan kasus Penemuan fisik yang spesifik
pada umumnya terkait dengan sistem saraf pusat dan otonom dengan menilai tanda-tanda vital
untuk hipotermia, takipnea, takikardia, hipertensi, dan bradikardia (tidak terkompensasi atau
pada neonatus). Gangguan kardiovaskular mungkin termasuk takikardia (bradikardia pada
neonatus), hipertensi atau hipotensi, dan disritmia. Kondisi neurologis termasuk koma,
kebingungan, kelelahan, kehilangan koordinasi anggota tubuh, emosi terganggu, agresif atau
gelisah, tremor, kejang, dan diplopia.
Gangguan pernafasan mungkin termasuk dyspnea, takipnea, dan edema paru akut.
Gangguan saluran cerna dapat mencakup mual dan muntah, dispepsia, dan kram perut. Kulit
pasien mungkin yang mengeluarkan keringat dan hangat atau menunjukkan tanda-tanda
dehidrasi dengan penurunan turgor. Gejala hipoglikemia lebih sedikit pada orang tua dan mereka
cenderung sering terjadi pada batas bawah dari batas glukosa plasma darah pada orang yang
lebih muda.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Glukosa Darah
- Angka Normal
Nilai normal glukosa darah puasa bervariasi antara 60 hingga 110 mg/dL (3,3-6,1 mmol/L).
Kadar plasma atau serum adalah 10-15% lebih tinggi karena komponen-komponen struktural sel
darah dihilangkan, sehingga akan lebih banyak glukosa per unit volume. Jadi, nilai normal
glukosa plasma atau serum puasa adalah 70-120 mg/dL (3,9-6,7 mmol/L). Nilai normal glukosa
plasma atau darah yang sudah diterima memerlukan koreksi usia sebesar 1 mg/dL (0,056
mmol/L) per tahun usia di atas 60 tahun. Jadi kadar glukosa plasma puasa pada orang tua nondiabetes berkisar antara 80 hingga 150 mg/dL (4,4-8,3 mmol/L).1-6

Sampel Darah Vena

Sampel Darah Kapiler


- Kadar Glukosa Plasma Puasa
Kadar glukosa plasma puasa diatas 140 mg/dL (7,8 mmol/L0 pada lebih dari satu
pemeriksaan memastikan diagnostik DM. Sampel untuk pemeriksaan kadar glukosa paling baik
diamnbil pada pagi hari sesudah puasa semalaman.1-6
-

Uji Toleransi Glukosa Oral

Tes ini digunakan untuk mendiagnostik DM awal secara pasti, namun tes ini tidak
dibutuhkan untuk penapisan dan sebaiknya tidak dilakukan pada pasien dengan manifestasi
klinik DM dan hiperglikemia.1-6
- Interpretasi
Pada keadaan sehat, kadar glukosa puasa individu yang dirawat jalan dengan toleransi
glukosa normal adalah 70 hingga 110 mg/dL. Setelah pemberian glukosa, kadar glukosa akan
meningkat pada awalnya namun akan kembali ke keadaan semula dalam waktu 2 jam atau
dengan kata lain glukosa plasma puasa kurang dari 115 mg/dL dan setelah 2 jam kadarnya akan
turun dibwah 140 mg/dL dan nilai nilai dari sampel lainnya tidak ada yang melampaui 200
mg/dL (National Diabetes Data Group Criteria).1
Tabel 1. Nilai Rujukan Kadar Glukosa Darah

Pemeriksaan kadar insulin


Untuk mengukur kadar insulin saat melakukan uji toleransi glukosa, maka serum atau
plasma perlu dipisahkan dalam waktu 30 menit sesudah pengambilam spesimen sebelum diassay.
Kadar insulin imunoreaktif normal berkisar antara 5 - 20U/mL dalam keadaan puasa, dan
mencapai 50 130 U/mL sesudah satu jam, dan biasanya turun kembali dibawah 30U/mL
sesudah 2 jam. Kadar insulin selama TTGO jarang memiliki manfaat klinis karena alasan-alasan
berikut ini : bila kadar glukosa puasa melampaui 120 mg.dL, hiperinsulinemia dapat timbul
secara terlamabat sebagai akibat resistensi insulin pada penderita DM II; akan tetapi juga dapat
terjadi pada bentuk ringan ataupun fase-fase awal dari DM I dimana pelepasan insulin dini yang
lambat dapat menyebabkan hiperglikemia tertunda yang dapat merangsang pelepasan insulin
berlebihan setelah 2 jam.2,3
-

Homeostasis Model of Assessment - Insulin Resistance (HOMA-IR):

Merupakan parameter untuk mengukur kualitas / mutu insulin. Jika Homa IR dibawah nilai
normal, berarti kualitas insulin bagus, maka otomatis HbA1C turun sehingga Gula darah 2
jamPP pasti TURUN. Artinya Homa IR dikatakan baik jika hasilnya < Nilai normal (2,77)

International Formula: fasting glucose (mmol/L) x fasting insulin (mU/L) / 22.5

US Formula
: fasting glucose (mg/dL) x fasting insulin (U/mL) / 405
Tabel 2. Diagnosis DM Tipe 2 (ADA, 2011)
State
Glukosa Darah Puasa
(GDP)
Normal
< 100mg/dL
Pre100-125mg/dL
diabetes
Diabetes

126mg/dL

TTGO

HbA1C

< 140mg/dL
140-199mg/dL

< 5.7 %
5.7 6.4%

200mg/dL

>6.5%

Klasifikasi diabetes
- Diabetes mellitus tipe I
Diabetes tipe 1 dulu dikenal sebagai tipe juvenile-onset dan tipe dependent insulin; namun
kedua tipe ini dapat muncul pada sembarang usia. Insidens diabetes tipe 1 sebanyak 30.000 kasus
baru setiap tahunnya dan dapat dibagi dalam dua subtipe: (a) autoimun, akibat disfungsi
autoimun dengan kerusakan sel-sel beta; dan (b) idiopatik, tanpa bukti adanya autoimun dan
tidak diketahui sumbernya.4 Penderita diabetes mellitus tipe I (diabetes yang tergantung kepada
insulin) menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali tidak menghasilkan insulin. Sebagian
besar diabetes mellitus tipe I terjadi sebelum usia 30 tahun. Para ilmuwan percaya bahwa faktor
lingkungan (mungkin berupa infeksi virus atau faktor gizi pada masa kanak-kanak atau dewasa
awal) menyebabkan sistem kekebalan menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas. Untuk
terjadinya hal ini diperlukan kecenderungan genetik. Pada diabetes tipe I, 90% sel penghasil
insulin (sel beta) mengalami kerusakan permanen. Terjadi kekurangan insulin yang berat dan
penderita harus mendapatkan suntikan insulin secara teratur. Biasanya orang yang mengalami
DM tipe ini di haruskan menggunakan insulin ( Injeksi pastinya) sebagai pengobatannya,
penggunaan insulin ini, agar jumlah gula yang menumpuk tadi, jadi berkurang akibat
penambahan insulin ini. Tanpa adanya insulin; hati, otot, dan jaringan lemak gagal mengambil
zat zat gizi yang telah diabsorpsi dan bahkan terus melanjutkan pengeluaran glukosa, asam
amino, dan asam lemak ke dalam aliran darah dari depot cadangan masing masing. Kemudian
perubahan metabolisme lamak pun mengakibatkan akumulasi benda benda keton. Pasien
dengan gejala klinis saat datang pasien umumnya kurus dan memiliki gejala-gejala poliuri,
polidipsia, penurunan berat badan, cepat lelah dan terdapat infeksi (abses, infeksi jamur,
misalnya kandidiasis).1-6
- Diabetes melits tipe II
Diabetes mellitus tipe 2 merupakan jenis yang lebih sering terjadi, tetapi jauh lebih sedikit
yang telah dipahami karena bersifat multifaktorial. Defek metabolik karena gangguan sekresi
5

insulin atau karena resistensi insulin di jaringan perifer. Diabetes tipe 2 adalah dimana hormon
insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-Insulin
Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Hal ini dikarenakan berbagai kemungkinan seperti
defek dalam produksi insulin, resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas (respon)
sel dan jaringan tubuh terhadap insulin yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di
dalam darah.

Genetika : toleransi karbohidrat dikontrol oleh berjuta pengaruh genetik. Oleh karena itu
DM II merupakan kelainan poligenik dengan faktor metabolik berganda yang berinteraksi
dengan pengaruh eksogen untuk menghasilkan fenotip tersebut koordinasi genetik pada DM tipe
2 pada kembar identik mendekati 90%.

Resistensi insulin
Mekanisme mayor resistensi insulin pada otot skeletal meliputi gangguan aktivasi sintase
glikogen, disfungsi regulator metabolis, reseptor doen-regulation, dan abnormalitas transporter
glukosa. Meningkatkan penurunan ambilan glukosa selular yang dimediasi oleh insulin. Hepar
juga menjadi resisten terhadap insulin, yang biasanya berespon terhadap hiperglikemia dengan
menurunkan produksi glukosa. Pada DM II, produksi glukosa hepar terus berlangsung meskipun
terjadi hiperglikemia, mengakibatkan peningkatan keluaran glukosa hepar basal secara tidak
tepat. Obesitas, terutama obesitas abdomen, berhubungan langsung dengan peningkatan derajat
resistensi insulin.

Disfungsi sel beta


Disfungsi sel beta mengakibatkan ketidakmampuan sel pulau (sel islet) penkreas
menghasilkan insulin yang memadai untuk menyediakan insulin yang cukup setalah sekresi
insulin dipengaruhi. Diteorikan bahwa hiperglikemia dapat membuat sel beta semakin tidak
responsif terhadap glukosa karena toksisitas glukosa. Sekresi insulin normalnya terjadi dalam
dua fase. Fase pertama terjadi dalam beberapa menit setelah suplai glukosa dan kemudian
melepaskan cadangan insulin yang disimpan dalam sel beta; fase dua merupakan pelepasan
insulin yang baru disintesis dalam beberapa jam setelah makan. Pada DM II, fase pertama
pelepasan insulin sangat terganggu. Fungsi sel beta (termasuk fase awal sekresi insulin) dan
resistensi insulin membaik dengan penurunan berat badan dan peningkatan aktivitas fisik.1-6
A.

B.

Diabetes Mellitus Tipe Lain


Defek genetik fungsi sel :

kromosom 12, HNF-1 (dahulu disebut MODY 3),

kromosom 7, glukokinase (dahulu disebut MODY 2)

kromosom 20, HNF-4 (dahulu disebut MODY 1)

DNA mitokondria
Defek genetik kerja insulin
6

C.

Penyakit eksokrin pankreas:

Pankreatitis

Trauma/Pankreatektomi

Neoplasma

Cistic Fibrosis

Hemokromatosis

Pankreatopati fibro kalkulus


Endokrinopati:

Akromegali

Sindroma Cushing

Feokromositoma

Hipertiroidism
Diabetes karena obat/zat kimia: Glukokortikoid, hormon tiroid, asam
pentamidin, vacor, tiazid, dilantin, interferon
Diabetes karena infeksi
Diabetes Imunologi (jarang)
Sidroma genetik: Sindroma Down, Klinefelter, Turner, Huntington, Chorea

D.

E.
F.
G.
H.

nikotinat,

- Diabetes Mellitus Gestasional


Diabetes mellitus yang muncul pada masa kehamilan, umumnya bersifat sementara, tetapi
merupakan faktor risiko untuk DM Tipe 2.1-6

Pra-diabetes:
IFG (Impaired Fasting Glucose) = GPT (Glukosa Puasa Terganggu)
IGT (Impaired Glucose Tolerance) = TGT (Toleransi Glukosa Terganggu)

Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan kadar glukosa darah yang sangat rendah. Hipoglikemia et causa
Obat Hipoglikemik Oral merupakan hipoglikemia paling sering terjadi disebabkan oleh insulin
atau obat (sulfonilurea) yang diberikan kepada penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula
darahnya. Jika dosis obat ini lebih tinggi dari makanan yang dimakan maka obat ini boleh
bereaksi menurunkan kadar gula darah terlalu banyak.1
Penderita diabetes berat menahun sangat peka terhadap hipoglikemia berat. Hal ini terjadi
karena sel-sel pulau pankreasnya tidak membentuk glukagon secara normal dan kelanjar
adrenalnya tidak menghasilkan epinefrin secara normal. Padahal kedua hal tersebut merupakan
mekanisme utama tubuh untuk mengatasi kadar gula darah yang rendah.1
Hipoglikemia biasanya dibagi menjadi hipoglikemia pasa-makan (reaktif), hipoglikemia
puasa, dan hipoglikemia pada pasien rawat inap. Hipoglikemia pasca-makan dapat disebabkan
oleh hiperinsulinisme pencernaan, intoleransi fruktosa herediter, galaktosemia, sensitivitas
leusin, dan idiopatik. Pada hipoglikemia puasa penyebab utamanya adalah kurangnya produksi
7

glukosa atau karena penggunaan glukosa yang berlebihan, sedangkan pada hipoglikemia pasien
rawat inap paling lazim disebabkan oleh penggunaan obat.
Hipoglikemia pasca-makan dapat disebabkan oleh hiperinsulinisme pencernaan. Pasien
yang menjalani gastrektomi, gastrojejunostomi, piloroplasti atau vagotomi dapat mengalami
hipoglikemia pasca-makan. Hal ini disebabkan karena pengosongan lambung yang cepat dengan
penyerapan singkat glukosa turun lebih cepat dibanding insulin. Ketidakseimbangan insulinglukosa yang terjadi menyebabkan hipoglikemia. Intoleransi fruktosa herediter yang dipicu
pemasukan fruktosa dan galaktosa juga dapat menyebabkan hipoglikemia pada anak-anak.
Hipoglikemia pasca-makan karena sebab idiopatik dapat dibagi menjadi hipoglikemia sejati dan
pseudohipoglikemia. Pada hipoglikemia sejati, gejala adrenergik muncul sesudah makan dan
disertai dengan glukosa plasma rendah pada saat gejala muncul spontan dalam kehidupan seharihari. Gejala tersebut berkurang dengan pemasukan karbohidrat yang meningkatkan glukosa
plasma. Pseudohipoglikemia adalah keadaan yang mengarah ke hipoglikemia terjadi 2-5 jam
setelah makan, tetapi tidak memiliki konsentrasi glukosa plasma rendah ketika muncul gejala
secara spontan dalam kehidupan sehari-hari.
Hipoglikemia puasa dapat disebabkan oleh kurangnya produksi atau penggunaan glukosa,
defek enzim, defisiensi substrat, penyakit hati kongenital, ataupun obat-obatan. Defisiensi
hormon penyebab hipoglikemia puasa karena kurangnya glukosa dapat terjadi pada
hipohipofisisme, insufisiensi adrenal, defisiensi katekolamin, dan defisiensi glukagon. Adapun
defek enzim yang menyebabkan hipoglikemia puasa karena kurangnya glukosa adalah defek
enzim Glukose-6-fosfatase, fosforilase hati, piruvat karboksilase, fosfoenolpiruvat
karboksikinase, fruktose-1,6-difosfatase, dan glikogen sintetase. Defisiensi substrat penyebab
hipoglikemia puasa adalah kurangnya produksi glukosa yang terjadi pada kasus hipoglikemia
ketotik pada bayi, malnutrisi berat, penyusutan otot, dan kehamilan lanjut. Penyakit hati
kongenital yang menyebabkan hipoglikemia puasa karena kurangnya produksi glukosa dapat
berupa kongesti hati, hepatitis berat, sirosis, uremia, dan hipotermia.
Penggunaan obat seperti alkohol, propranolol, dan salisilat juga dapat menyebabkan
hipoglikemia puasa akibat produksi glukosa yang berkurang. Pada hipoglikemia puasa akibat
penggunaan glukosa berlebihan dapat disebabkan oleh hiperinsulinisme atau pada kadar insulin
memadai tetapi terdapat kelainan lain di luar pankreas. Hiperinsulinisme disebabkan karena
adanya insulinoma, insulin eksogen, sulfonilurea, penyakit imun dengan insulin atau antibodi
reseptor insulin, dan mengkonsumsi obat-obatan seperti kuinin pada malaria falciparum,
disopiramid, dan pentamidin serta dapat disebabkan oleh syok endotoksik. Pada kasus kadar
insulin memadai tetapi terjadi hipoglikemia adalah akibat pemakaian glukosa berlebih, dapat
disebabkan oleh tumor ekstrapankreas, defisiensi karnitin sistemik, defisiensi enzim oksidasi
lemak, defisiensi 3-hidroksi-3-metilglutaril-CoA liase, dan kakeksia dengan penipisan lemak.5
Pasien rawat inap yang mengalami hipoglikemia paling lazim disebabkan oleh pengunaan
obat-obatan yang diberikan. Tiga obat yang paling sering menyebabkan hipoglikemia pada
pasien rawat inap adalah insulin, sulfonylurea, dan alkohol. Diperkirakan 60% kasus ketiga obat
ini terlibat dalam diagnosis hipoglikemia.1
8

Peranan insulin
Metabolisme karbohidrat dan diabetes mellitus adalah dua mata rantai yang tidak dapat
dipisahkan. Keterkaitan antara metabolisme karbohidrat dan diabetes mellitus dijelaskan oleh
keberadaan hormon insulin. Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis
dan klinis termasuk heterogen dengan menifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat. Jika
telah berkembang penuh secara klinis, maka diabetes mellitus ditandai dengan hiperglikemia
puasa dan post prandial, aterosklerotik dan penyakit vascular microangiophaty dan neurophaty.
Manifestasi klinis hiperglikemia biasanya telah bertahun-tahun mendahului timbulnya kelainan
klinis dari penyakit vascularnya. Pasien dengan kelainan toleransi glukosa ringan ( gangguan
glukosa puasa dan gangguan toleransi glukosa ) dapat tetap berisiko mengalami komplikasi
diabetes mellitus. Diabetes mellitus merupakan penyakit endokrin yang paling lazim. Frekuensi
sesungguhnya diperoleh karena perbedaan standar diagnosis tetapi mungkin antara 1-2% jika
hiperglikemia puasa merupakan kriteria diagnosis. Penyakit ini ditandai oleh komplikasi
metabolik dan komplikasi jangka panjang yang melibatkan mata, ginjal, saraf dan pembuluh
darah.1
Penderita diabetes mellitus mengalami kerusakan dalam produksi maupun sistem kerja
insulin, sedangkan ia sangat dibutuhkan dalam melakukan regulasi metabolisme karbohidrat.
Akibatnya, penderita diabetes mellitus akan mengalami gangguan pada metabolisme karbohidrat.
Tubuh manusia membutuhkan energi agar dapat berfungsi dengan baik. Energi tersebut diperoleh
dari hasil pengolahan makanan melalui proses pencernaan di usus. Di dalam saluran pencernaan
itu, makanan dipecah menjadi bahan dasar dari makanan tersebut. Karbohidrat menjadi glukosa,
protein menjadi menjadi asam amino, dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat makanan
tersebut akan diserap oleh usus kemudian masuk ke dalam pembuluh darah dan akan diedarkan
ke seluruh tubuh untuk dipergunakan sebagai bahan bakar. Dalam proses metabolisme, insulin
memegang peranan sangat penting yaitu memasukkan glukosa ke dalam sel, untuk selanjutnya
digunakan sebagai bahan bakar. Pengeluaran insulin tergantung pada kadar glukosa dalam darah.
Kadar glukosa darah sebesar > 70 mg/dl akan menstimulasi sintesa insulin. Insulin yang diterima
oleh reseptor pada sel target, akan mengaktivasi tyrosin kinase dimana akan terjadi aktivasi
sintesa protein, glikogen, lipogenesis dan meningkatkan transport glukosa ke dalam otot skelet
dan jaringan adipose dengan bantuan transporter glukosa (GLUT 4).
Insulin berupa polipeptida yang dihasilkan oleh sel-sel pankreas. Insulin terdiri atas dua
rantai polipeptida. Struktu insulin manusia dan beberapa spesies mamalia kini telah diketahui.
Insulin manusia terdiri atas 21 residu asam amino pada rantai A dan 30 residu pada rantai B.
Kedua rantai ini dihubungkan oleh adanya dua buah rantai disulfida. Insulin disekresi sebagai
respon atsa meningkatnya konsentrasi glukosa dalam plasma darah. Konsentrasi ambang untuk
sekresi tersebut adalah kadar glukosa pada saat puasa yaitu antara 80-100 mg/dL. Respon
maksimal diperoleh pada kadar glukosa yang berkisar dar 300-500 mg/dL. Insulin yang
disekresikan dialirkan melalui aliran darah ke seluruh tubuh. Umur insulin dalam aliran darah
sangat cepat. Waktu paruhnya kurang dari 3-5 menit. Sel-sel tubuh menangkap insulin pada suatu
reseptor glikoprotein spesifik yang terdapat pada membran sel. Reseptor tersebut berupa
heterodimer yang terdiri atas subunit dan subunit dengan konfigurasi 22. Subunit berada
9

pada permukaan luar membran sel dan berfungsi mengikat insulin. Subunit berupa protein
transmembran yang melaksanakan fungsi tranduksi sinyal. Bagian sitoplasma subunit
mempunyai aktivitas tirosin kinase dan tapak autofosforilasi.1
Terikatnya insulin subunit menyebabkan subunit mengalami autofosforilasi pada residu
tirosin. Reseptor yang terfosforilasi akan mengalami perubahan bentuk, membentuk agregat,
internalisasi dan mnghasilkan lebih dari satu sinyal. Dalam kondisi dengan kadar insuli tinggi,
misalnya pada obesitas ataupun akromegali, jumlah reseptor insulin berkurang dan terjadi
resistansi terhadap insulin. Resistansi ini diakibatkan terjadinya regulasi ke bawah. Reseptor
insulin mengalami endositosis ke dalam vesikel berbalut klatrin.Insulin mengatur metabolisme
glukosa dengan memfosforilasi substrat reseptor insulin (IRS) melalui aktivitas tirosin kinase
subunit pada reseptor insulin. IRS terfosforilasi memicu serangkaian rekasi kaskade yang efek
nettonya adalah mengurangi kadar glukosa dalam darah. Pengaturan metabolisme glukosa oleh
insulin melalui berbagai mekanisme kompleks yang efek adalah peningkatan kadar glukosa
dalam darah. Oleh karena itu, penderita diabetes mellitus yang jumlah insulinnya tidak
mencukupi atau bekerja tidak efektif akan mengalami hiperglikemia.1
Penderita diabetes tipe I juga mengalami hipertrigliseridemia, yaitu kadar trigliserida dan
VLDL dalam darah yang tinggi. Hipertrigliseridemia terjadi karena VLDL yang disintesis dan
dilepaskan tidak mampu diimbangi oleh kerja enzim lipoproteinlipase yang merombaknya.
Jumlah enzim ini diransang oleh rasio insulin dan glukagon yang tinggi. Efek pada produksi
enzim ini juga mengakibatkan hipersilomikronemia, karena enzim ini juga dibutuhkan dalam
katabolisme silomikron pada jaringan adiposa. Berbeda dengan penderita diabetes tipe I, pada
penderita diabetes tipe II, ketoasidosis tidak terjadi karena penguraian lemak (lipolisis) tetap
terkontrol. Namun, pada terjadi hipertrigliseridemia yang menghasilkan peningkatan VLDL
tanpa disertai hipersilomikronemia. Hal ini terjadi karena peningkatan kecepatan sintesis de novo
dari asam lemak tidak diimbangi oleh kecepatan penyimpanannya pada jaringan lemak. Asam
lemak yang dihasilkan tidak semuanya mampu dikatabolisme, kelebihannya diesterifikasi
menjadi trigliserida dan VLDL. Hal ini diperparah oleh aktivitas fisik penderita diabetes mellitus
tipe II yang pada umumnya sangat kurang. Akibatnya kadar lemak dalam darah akan meningkat.
Pada penderita yang akut, akan terjadi penebalan pada pembuluh darah terutama pada bagian
mata, sehingga dapat menyebabkan rabun atau bahkan kebutaan. Kelainan tekanan darah akibat
kadar glukosa yang tinggi menyebabkan kerja jantung, ginjal dan organ dalam lain untuk
mempertahankan kestabilan tubuh menjadi lebih berat. Akibatnya pada penderita diabetes akan
mudah dikenai berbagai komplikasi diantaranya penurunan sistem imune tubuh, kerusakan
sistem kardivaskular,kealinan trombosis, inflamasi, dan kerusakan sel-sel endothelia serta
kerusakan otak, yang biasanya ditandai dengan penglihatan yang kabur.1
Gejala klinis
Manifestasi klinis diabetes melitus diaktikan dengan konsekuensi metabolik defisiensi
insulin. Pasien-pasien dengan defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa
plasma puasa yang normal, atau toleransi glukosa setelah makan karbohidrat. Jika
hiperglikemianya berat dan melebihi ambang ginjal untuk zat ini maka timbul glikosuria.
10

Glikosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang meningkatkan pengeluaran urine
(poliuria) dan timbul rasa haus (polidipsia). Karena glukosa hilang bersama urine, maka pasien
mengalami keseimbangan kalori negatif dan berat badan berkurang. Rasa lapar yang semakin
besar (polifagia) mungkin akan timbul sebagai akibat kehilangan kalori. Pasien mengeluh lelah
dan mengantuk. Pasien dengan diabetes tipe 1 sering memperlihatkan awitan gejala yang
eksplosif dengan polidipsia, poliuri, turunnya berat badan, polifagia, lemah, somnolen yang
terjadi selama beberapa hari atau beberapa minggu. Pasien dapat menjadi sakit berat dan timbul
ketoasidosism serta dapat meninggal kalau tidak mendapatkan pengobatan segera. Terapi insulin
biasanya diperlukan untuk mengontrol metabolisme dan umumnya penderita peka terhadap
insulin. Sebaliknya, pasien dengan diabetes tipe 2 mungkin sama sekali tidak memperlihatkan
gejala apapun, dan diagnosis hanya dibuat berdasarkan pemeriksaan darah di laboratorium dan
melakukan tes toleransi glukosa. Pada hiperglikemia yang lebih berat, pasien tersebut mungkin
menderita polidipsia, poliuria, lemah dan somnolen. Biasanya mereka tidak mengalami
ketoasidosis karena pasien ini tidak defisiensi insulin secara absolut namun hanya secara relatif.
Sejumlah insulin tetap disekresi dan masih cukup uintuk menghambat ketoasidosis. Kalau
hiperglikemia berat dan pasien tidak berespons terhadap terapi diet, atau terhadap obat-obat
hipoglikemik oral, mungkin diperlukan terapi insulin untuk menormalkan kadar glukosanya.
Pasien ini biasanya memperlihatkan kehilangan sensitivitas perifer terhadap insulin. Kadar
insulin pada pasien sendiri mungkin berkurang, normal atau malahan tinggi, tetapi tetap tidak
memadai untuk mempertahankan kadar glukosa darah normal. Penderita juga resisten terhadap
insulin eksogen.1-6
Komplikasi
Komplikasi diabetes yang dapat terjadi dibedakan menjadi dua yaitu komplikasi akut dan
komplikasi kronik. Komplikasi akut berupa koma hipoglikemi, ketoasidosis diabetik, koma
hiperosmolar nonketotik. Komplikasi kronik dapat berupa makroangiopati, mikroangiopati,
neuropati diabetik, infeksi, kaki diabetik, dan disfungsi ereksi.

11

Gambar 1. Bagan komplikasi diabetes mellitus


Komplikasi Akut
Koma Hipoglikemia
Hipoglikemia pada pasien diabetes melitus tipe 2 merupakan faktor penghambat utama
dalam mencapai sasaran kendali glukosa darah normal atau mendekati normal. Hipoglikemi
secara harfiah berarti kadar glukosa darah dibawah harga normal. Faktor utama mengapa
hipoglikemi perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan diabetes melitus adalah karena adanya
ketergantungan jaringan saraf terhadap asupan glukosa yang terus menerus. Gangguan asupan
glukosa yang berlangsung beberapa menit menyebabkan gangguan fungsi sistem saraf pusat
(SSP) dengan gejala gangguan kognisi, bingung, dan koma. Seperti jaringan lain, jaringan saraf
dapat memanfaatkan sumber energi alternatif, yaitu keton dan laktat. Pada hipoglikemi yang
disebabkan, insulin konsentrasi keton di plasma tertekan dan mungkin tidak mencapai kadar
yang cukup di SSP, sehingga tidak dapat dipakai sebagai sumber energi alternatif.1-3
Ketoasidosis Diabetik
Ketoasidosis diabetik adalah suatu keadaan dimana terdapat defisiensi insulin absolute
atau relatif dan peningkatan hormon kontraregulator sehingga keadaan tersebut menyebabkan
produksi glukosa hati meningkat tetapi utilasi glukosa oleh sel tubuh menurun, dengan hasil
akhir hiperglikemia. Kombinasi keadaan ini mengaktivasi hormon lipase sensitif pada jaringan
lemak sehingga lipolisis meningkat terjadi peningkatan produksi benda keton dan asam lemak
bebas secara berlebihan. Akumulasi produksi benda keton oleh sel hati dapat menyebabkan
metabolik asidosis. Keton merupakan senyawa kimia beracun yang dapat menyebabkan darah
menjadi asam (ketoasidosis).1
Koma Hiperosmolar Hiperglikemik Non Ketotik
12

Koma hiperosmolar hiperglikemik nonketotik (HNNK) merupakan salah satu komplikasi


akut atau emergensi pada penyakit diabetes melitus. Sindroma hiperosmolar hiperglikemik
nonketotik ditandai dengan hiperglikemia, hiperosmolar tanpa disertai adanya ketosis. Faktor
pencetus dapat dibagi menjadi enam kategori yaitu; infeksi, pengobatan, noncompliance,
diabetes melitus tidak terdiagnosis, penyalahgunaan obat, dan penyakit penyerta. Infeksi dan
compliance yang buruk merupakan penyebab tersering dari komplikasi ini.1-3
Kompliksasi Kronik
Makroangiopati
Pada penderita diabetes melitus, kadar gula dalam darah yang terus menerus tinggi dapat
merusak pembuluh darah. Zat kompleks yang terdiri dari gula di dalam dinding pembuluh darah
menyebabkan pembuluh darah menebal dan mengalami kebocoran. Akibat penebalan ini maka
aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf. Kadar gula darah yang
tidak terkontrol juga cenderung menyebabkan kadar zat berlemak dalam darah meningkat,
sehingga mempercepat terjadinya aterosklerosis. Penyebab aterosklerosis pada penderita diabetes
melitus tipe 2 bersifat multifaktorial yang melibatkan interaksi kompleks dari berbagai keadaan
seperti hiperglikemi, hiperlipidemi, stres oksidatif, penuaan dini, hiperinsulinemi dan atau
hiperproinsulinemi serta perubahan-perubahan dalam proses koagulasi dan fibrinolisis. Hipotesis
terbaru mengatakan bahwa awal terjadinya lesi aterosklerosis yaitu berupa adanya perubahanperubahan fungsi sel endotel. Disfungsi endotel dapat terjadi baik pada penderita diabetes
melitus tipe 2 dan juga penderita diabetes melitus tipe 1 terutama bila telah terjadi manifestasi
klinis mikroalbuminuria. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa disfungi endotel juga dapat
terjadi pada individu dengan resistensi insulin (pasien obese) atau yang mempunyai resiko tinggi
untuk menderita diabetes melitus tipe 2 (toleransi glukosa terganggu) dan penderita diabetes
gestasi. Plak ateroskleorotik yang terbentuk dapat menyumbat arteri berukuran besar atau sedang
di pembuluh darah teri, jantung, dan otak. Penyumbatan pembuluh darah tepi sering terjadi pada
penyandang diabetes melitus. Biasanya terjadi dengan gejala tipikal intermittent claudicatio,
meskipun sering tanpa gejala. Terkadang ulkus iskemik kaki merupakan kelainan yang muncul
pertama. Sedangkan penyumbatan pembuluh darah di jantung menyebabkan penyakit jantung
koroner, dan penyumbatan di otak menyebabkan stroke.1-3
Mikroangiopati
- Retinopati Diabetik
Pasien diabetes melitus memiliki resiko 25 kali lebih mudah mengalami kebutaan
dibanding pasien nondiabetes. Resiko mengalami retinopati pada pasien diabetes melitus
meningkat sejalan dengan lamanya diabetes melitus. Penyebab dari retinopati diabetik sampai
saat ini belum diketahui secara pasti, namun hiperglikemia yang berlangsung lama dianggap
sebagai faktor resiko utama. Ada tiga proses biokimiawi yang terjadi pada hiperglikemia yang
diduga berkaitan erat dengan terjadinya retinopati pada pasien diabetes yaitu jalur poliol, glikasi
nonenzimatik dan pembentukkan protein kinase C.1
13

Nefropati Diabetik
Nefropatik diabetik adalah sindroma klinis pada pasien diabetes melitus yang ditandai
dengan albuminuria menetap (>300mg/24jam atau >200ig/menit) pada minimal 2 kali
pemeriksaan dalam kurun waktu 3 sampai 6 bulan. Mikroalbuminuria pada umumnya
didefinisikan sebagai ekskresi albumin lebih dari 30 mg per hari. Lebih spesifik lagi suatu
keadaan dikatakan mikroalbuminuria apabila laju ekskresi albumin urin dalam 24 jam 30 - 300
mg dan laju ekskresi albumin urin sewaktunya 20 - 200 g/menit serta perbandingan albumin
urin kreatininnya 30 - 300g/menit. Mikroalbumin dianggap sebagai predikator penting untuk
timbulnya nefropati diabetik. Kelainannya yang terjadi pada ginjal penyandang diabetes melitus
dimulai dengan adanya mikroalbuminuria kemudian berkembang menjadi proteinuria secara
klinis berlanjut dengan penurunan fungsi laju filtrasi glomerular dan berakhir dengan keadaan
gagal ginjal.1
-

Neuropati Diabetik
Definisi neuropati diabetik menurut konfrensi neuropati perifer pada bulan Februari 1988
di San Antonio adalah istilah deskriptif yang menunjukkan adanya gangguan, baik klinis maupun
subklinis, yang terjadi pada diabetes melitus tanpa penyebab neuropati perifer yang lain.
Gangguan nuropati ini termasuk manifestasik somatik dan atau autonom dari sistem saraf perifer.
Proses kejadian neuropati dtabetik berawal dari hiperglikemia berkepanjangan yang berakibat
terjadinya peningkatan aktivitas jalur poliol, sintesis advance glycosilation end products (AGEs),
pembentukkan radikal bebas dan aktivasi protein kinase C (PKC). Akivasi berbagai jalur ini
berujung pada kurangnya vasodilatasi sehingga alran darah ke saraf menurun dan bersama
rendahnya mioinositol dalam sel terjadilah neuropati diabetik.1
Infeksi
Adanya infeksi pada penderita diabetes sangat berpengaruh terhadap pengendalian
glukosa darah. Infeksi dapat memperburuk kendali glukosa darah, dan kadar glukosa darah yang
tinggi meningkatkan kemudahan atau memperburuk infeksi. Infeksi yang banyak terjadi antara
lain adalah infeksi saluran kemih (ISK), infeksi saluran nafas, infeksi kulit, infeksi rongga mulut,
dan infeksi telinga.2,3
Kaki diabetik
Kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi kronik diabetes melitus yang paling
ditakuti. Kaki diabetik sering berakhir dengan kecacatan dan kematian. Patofisiologi dari kaki
diabetik diawali adanya hiperglikemi pada pasien diabetes melitus yang menyebabkan kelainan
neuropati dan kelainan pada pada pembuluh darah. Kelainan neuropati menyebabkan berbagai
perubahan pada kulit dan otot yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya perubahan
distribusi tekanan pada telapak kaki dan selanjutnya mempermudah terjadinya ulkus. Infeksi
yang luas mudah terjadi karena adanya kerentanan terhadap infeksi.1
Disfungsi Ereksi
14

Prevalensi disfungsi ereksi pada diabetes melitus tipe 2 cukup tinggi. Disfungsi ereksi
pada penyandang diabetes tipe 2 merupakan akibat adanya neuropati autonom, angiopati, dan
problema psikis. Komplikasi ini menjadi sumber kecemasan penyandang diabetes, tetapi jarang
disampaikan kepada dokter, oleh karena itu perlu ditanyakan pada saat konsultasi.

Terapi non farmakologi


Terapi gizi medis merupakan salah satu terapi non farmakologi yang sangat sangat
direkomendasikan bagi penyandang diabetes (diabetesi). Terapi gizi medis ini pada prinsipnya
adalah melakukan pengaturan pola makan yang didasarkan pada status gizi diabetesi dan
melakukan modifikasi diet sesuai kebutuhan gizi individual. Beberapa manfaat yang telah
terbukti dari terapi gizi medis ini antara lain: menurunkan berat badan, menurunkan tekanan
darah sistolik dan diastolic, menurunkan kadar gula darah, memperbaiki profil lipid,
meningkatkan sensitivitas reseptor insulin, memperbaiki system koagulasi darah. Adapun tujuan
dari terapi gizi medis adalah untuk mencapai dan mempertahankan kadar gula darah mendekati
normal, yaitu kadar gula darah puasa berkisar 90-130 mg/dl, gula darah 2 jam setelah makan <
180 mg/dl, kadar A1c < 7%, tekanan darah < 130/80 mmHg, profil lipid kolesterol HDL > 40
mg/dl, kolesterol LDL < 100 mg/dl, trigliserida < 150 mg/dl, berat badan senormal mungkin.
Pada tingkat individu target pencapaian terapi gizi medis ini lebih difokuskan pada perubahan
pola makan yang didasarkan pada gaya hidup dan pola kebiasaan makan, status nutrisi dan factor
khusus lain yang perlu diberikan prioritas. Pencapaian target perlu dibicarakan bersama dengan
diabetesi, sehingga perubahan pola makan yang dianjurkan dapat dengan mudah dilaksanakan,
realistic dan sederhana. Beberapa factor yang harus diperhatikan sebelum melakukan perubahan
pola makan diabetesi antara lain tinggi badan, berat badan, status gizi, status kesehatan, aktivitas
fisik, dan factor usia. Selain itu juga terdapat factor fisiologi seperti masa kehamilan, masa
pertumbuhan, gangguan pencernaan pada usia tua, dan lain-lain. Pada keadaan infeksi berat
dimana terjadi proses katabolisme yang tinggi perlu dipertimbangkan pemberian nutrisi khusus.
Masalah yang lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah masalah status ekonomi, lingkungan,
kebiasaan atau tradisi di dalam lingkungan yang bersangkutan serta kemampuan petugas
kesehatan yang ada. Petugas kesehatan harus dapat menentukan jumlah, komposisi dari makanan
yang akan dimakan oleh diabetesi. Diabetesi harus dapat melakukan perubahan pola makan ini
secara konsisten baik dalam jadwal, jumlah, dan jenis makanan sehari-hari. Komposisi bahan
makanan terdiri dari makronutrien yang meliputi karbohidrat, protein, lemak, serta mikronutrien
yang meliputi vitamin dan mineral. Harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi
kebutuhan diabetesi secara tepat. Karbohidrat sebagai sumber energy diberikan pada diabetesi
tidak lebih dari 55-65 % dari total kebutuhan energy sehari, dan tidak boleh lebih dari 70 % jika
dikombinasikan dengan pemberian asam lemak tidak jenuh rantai tunggal. Pada setiap gram
karbohidrat terdapat kandungan energy sebesar 4 kilokalori. Untuk protein jumlah kebutuhan
yang direkomendasikan sekitar 10-15 % dari total kalori perhari. Pada penderita dengan kelainan
ginjal, dimana diperlukan pembatasan asupan protein 40 gram perhari maka perlu ditambahkan
pemberian suplementasi asam amino esensial, protein mengandung 4 kilokalori/gram. Lemak
15

memiliki kandungan energy sebesar 9 kilokalori per gramnya. Bahan makanan ini sangat penting
untuk membawa vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin A, D, E, dan K. Pembatasan
asupan lemak jenuh dan kolesterol sangat disarankan bagi diabetesi karena terbukti dapat
memperbaiki profil lipid tidak normal yang sering dijumpai pada diabetes. Asam lemak tidak
jenuh rantai tunggal merupakan salah satu asam lemak yang dapat memperbaiki kadar glukosa
darah dan profil lipid. Sedangkan asam lemak tidak jenuh rantai panjang dapat melindungi
jantung, menurunkan kadar trigliserida, memperbaiki agregasi trombosit.1
Perhitungan jumlah kalori ditentukan oleh status gizi, umur, ada tidaknya stress akut, dan
kegiatan jasmani. Penentuan status gizi dapat dipakai indeks masa tubuh (IMT). Untuk IMT
dihitung berdasarkan pembagian berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan tinggi badan
(dalam meter) kuadrat. Klasifikasi status gizi berdasarkan IMT adalah:
- Berat badan kurang : <18,5
- BB normal
: 18,5 22,9
- BB lebih
: >= 23
- BB dengan resiko
: 23 24,9
- Obesitas I
: 25 29,9
- Obesitas II
: >= 30
Macam-macam obat anti hiperglikemik oral

Obat hipoglikemik oral (OHO)


Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 4 golongan:
- Pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue): sulfonilurea dan glinid
- Penambah sensitivitas terhadap insulin: metformin, tiazolidindion
- Penghambat glukoneogenesis (metformin)
- Penghambat absorpsi glukosa: penghambat glukosidase alfa.
Pemicu Sekresi Insulin
Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta
pankreas, dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang,
namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. Untuk menghindari
hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadaaan seperti orang tua, gangguan faal ginjal dan
hati, kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular, tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja
panjang.7
Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea, dengan penekanan
pada meningkatkan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu:
Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini diabsorpsi
dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati.
Penambah sensitivitas terhadap insulin
16

Tiazolidindion
Tiazolidindion (rosiglitazon dan pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator
Activated Receptor Gamma (PPAR-), suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Golongan ini
mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut
glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer.Tiazolidindion dikontraindikasikan
pada pasien dengan gagal jantung klas I-IV karena dapat memperberat edema/retensi cairan dan
juga pada gangguan faal hati. Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan
pemantauan faal hati secara berkala.7
Penghambat glukoneogenesis
Metformin
Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis), di
samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer. Terutama dipakai pada penyandang diabetes
gemuk. Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum
kreatinin > 1,5 mg/dL) dan hati, serta pasien-pasien dengan kecenderungan hipoksemia
(misalnya penyakit serebro- vaskular, sepsis, renjatan, gagal jantung). Metformin dapat
memberikan efek samping mual. Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat
atau sesudah makan.
Penghambat Glukosidase Alfa (Acarbose)
Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus, sehingga mempunyai
efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. Acarbose tidak menimbulkan efek
samping hipoglikemia. Efek samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens.

Insulin
Kadar glukosa darah merupakan kunci pengatur sekresi insulin oleh sel-sel beta pankreas,
walaupun asam amino, keton, peptida gastrointestinal dan neurotransmitter juga mempengaruhi
sekresi insulin. Kadar glukosa darah yang > 3,9 mmol/L (70 mg/dl) merangsang sekresi
insulin.1,2 Sekresi insulin fisiologis terdiri dari sekresi basal dan sekresi prandial. Terapi insulin
diupayakan mampu meniru pola sekresi insulin yang fisiologis. Defisiensi insulin mungkin
berupa defisiensi insulin basal, insulin prandial atau keduanya. Defisiensi insulin basal
menyebabkan timbulnya hiperglikemia pada keadaan puasa, sedangkan defisiensi insulin
prandial akan menimbulkan hiperglikemia setelah makan. Terapi insulin untuk substitusi
ditujukan untuk melakukan koreksi terhadap defisiensi yang terjadi.
Terapi insulin dapat diberikan secara tunggal (satu macam) berupa: insulin kerja cepat
(rapid insulin), kerja pendek (short acting), kerja menengah (intermediate acting), kerja panjang
(long acting) atau insulin campuran tetap (premixed insulin). Pemberian dapat pula secara
kombinasi antara jenis insulin kerja cepat atau insulin kerja pendek untuk koreksi defisiensi
insulin prandial, dengan kerja menengah atau kerja panjang untuk koreksi defisiensi insulin
basal. Juga dapat dilakukan kombinasi dengan OHO. Terapi insulin tunggal atau kombinasi
disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan respons individu terhadap insulin, yang dinilai dari
17

hasil pemeriksaan kadar glukosa darah harian. Penyesuaian dosis insulin dapat dilakukan dengan
menambah 2-4 unit setiap 3-4 hari bila sasaran terapi belum tercapai. Insulin bekerja dengan
menekan produksi glukosa hati dan stimulasi pemanfaatan glukosa.6,7
Insulin diperlukan pada keadaan:
Penurunan berat badan yang cepat
Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
Ketoasidosis diabetic
Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
Hiperglikemia dengan asidosis laktat
Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal
Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA, stroke)
Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali dengan
perencanaan makan
Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO

Terapi kombinasi
Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk kemudian
dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah. Bersamaan dengan
pengaturan diet dan kegiatan jasmani, bila diperlukan dapat dilakukan pemberian OHO tunggal
atau kombinasi OHO sejak dini. Terapi dengan OHO kombinasi, harus dipilih dua macam obat
dari kelompok yang mempunyai mekanisme kerja berbeda. Bila sasaran kadar glukosa darah
belum tercapai, dapat pula diberikan kombinasi tiga OHO dari kelompok yang berbeda atau
kombinasi OHO dengan insulin.
Pada pasien yang disertai dengan alasan klinik di mana insulin tidak memungkinkan
untuk dipakai dipilih terapi dengan kombinasi tiga OHO. Untuk kombinasi OHO dan insulin,
yang banyak dipergunakan adalah kombinasi OHO dan insulin basal (insulin kerja menengah
atau insulin kerja panjang) yang diberikan pada malam hari menjelang tidur. Dengan pendekatan
terapi tersebut pada umumnya dapat diperoleh kendali glukosa darah yang baik dengan dosis
insulin yang cukup kecil. Dosis awal insulin kerja menengah adalah 6-10 unit yang diberikan
sekitar jam 22.00, kemudian dilakukan evaluasi dosis tersebut dengan menilai kadar glukosa
darah puasa keesokan harinya. Bila dengan cara seperti di atas kadar glukosa darah sepanjang
hari masih tidak terkendali, maka obat hipoglikemik oral dihentikan dan diberikan insulin saja.6,7
Tabel 3. Mekanisme Kerja, Efek Samping Utama dan Pengaruh Terhadap A1C.

18

Kesimpulan
Penyakit Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang mengalami
peningkatan terus menerus dari tahun ke tahun. Efek kronik dari penyakit DM juga menjadi
perhatian yang serius selain dari segi epidemologi. Penyakit Diabetes Mellitus merupakan the
great imitator. Hal ini disebabkan penyakit DM mampu menyebabkan kerusakan organ secara
menyeluruh secara anatomis maupun fungsional . Diabetes Mellitus adalah sekelompok kelainan
heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.
Patogenesis diabetes mellitus memlibatkan factor factor genetic, biomolekuler, imunologi, dan
lingkungan. Penyakit diabetes mellitus memerlukan penatalaksanaan medis dan keperawatan
untuk mencegah komplikasi akut seperti ketoasidosis dan sindrom koma hiperglikemik
hiperosmolar non ketotik yang dapat menyebabkan kematian dan juga dapat menimbulkan
komplikasi jangka panjang, seperti penyakit makrovaskuler, penyakit mikrovaskuler dan
penyakit oftamologi lainnya. Penyakit diabetes mellitus perlu mendapat perhatian dan
penanganan yang baik oleh perawat. Secara kuratif dan rehabilitatif seperti pengontrolan kadar
gula darah, melakukan perawatan luka dan mengatur diet makanan yang harus dimakan sehingga
tidak terjadi peningkatan kadar gula darah. Selain itu perawat juga berperan secara preventif
yaitu dengan cara memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit diabetes mellitus untuk
meningkatkan pemahaman klien dan mencegah terjadinya komplikasi. Komplikasi DM akut dan
kronik frekuensinya masih sangat tinggi di Indonesia, karena kesadaran/ kepatuhan penderita
masih rendah, tenaga medis yang belum memadai dalam pencegahan primer, sekunder, dan
tersier, dan fasilitas RS belum memadai dan merata.

19