Anda di halaman 1dari 9

No.

Dokumen

SOP
PEMERIKSAAN KESEHATAN MATA
PUSKESMAS
No. Revisi :

..

Tanggal ditetapkan :

Disusun oleh :

Halaman

Ditetapkan
KEPALA DINAS KESEHATAN
KAB. MAGETAN

.2013

Pengertian
Tujuan

Standar
Tenaga
Saranadan
Prasarana

Tim Dinas Kesehatan dan


Pengelola Prog.
Kesehatan Indera
dr. HARRY SUSANTO,MM
se-Kab.Magetan
NIP.
Suatu pemeriksaan yang di lakukan untuk mengetahui adanya gangguan kesehatan
mata.
1. Mengidentifikasi jenis gangguan kesehatan mata untuk mencegah serta
menentukan terapi/pengobatan, penanganan lebih lanjut dan sebagai dasar untuk
melakukan rujukan ke pelayanan kesehatan rujukan / Rumah Sakit sesuai Standar.
2. Sebagai pedoman bagi petugas untuk melaksanakan pemeriksaan Mata sesuai
standar
Dokter : 1 orang
Perawat : 1 orang
1.Sarana Non Medis :
a. Ruang Pemeriksaan
Ukuran minimal 4 m x 4 m
Ventilasi dan pencahayaan yang cukup
Ruangan bersih dan rapi
Wastafel dengan air yang mengalir, dilengkapi dengan sabun cair serta
handuk tangan yang bersih / disposible tissue
b. Mebelair
Meja kursi satu set untuk pemeriksa dan pasien serta pengantar
Tempat tidur
c. Lain lain
Tempat sampah medis dan non medis masing masing 1 buah
Buku register pasien
Status / lembar rekam medis
Informed consent
Kertas resep
Blanko permintaan laboratorium
Alat tulis menulis
Formulir rujukan
Surat kabar atau majalah
Penggaris kecil
Komputer
Surat kabar
Penggaris kecil
2.Sarana Medis :
Stetoskop dan tensimeter
Pinhole (cakram berlubang)
Snellen chart
Penutup 1 mata (okluder)
Trial Frame

Prosedur
Tetap

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Trial lensa
Isihara test
Loupe
Senter
Optalmoskop
Kartu kipas
Tonometer
Kapas steril
APD
Anamnesa
Pemeriksaan
Diagnosa
Penatalaksanaan
Konseling
Pencatatan dan pelaporan

Cara
1. ANAMNESA
Melaksanaka Menyapa pasien dengan ramah, sambil menatap mata pasien dengan lembut dan
n Tiap
mengucapkan salam
Kegiatan
Bila kunjungan yang pertama perlu menanyakan identitas pasien :Nama , umur,
alamat rumah, pekerjaan.
Bila kunjungan ulang, maka jawaban pasien dicocokkan dengan kartu status pasien
Bertanya dengan ramah dan hati-hati tentang
Riwayat Penyakit :
Tentukan masalah yang mendorong klien untuk mencari bantuan kesehatan.
Tanyakan pada klien adakah kelopak mata yang turun menutup terus
menerus, Nyeri mata, foto phobia (kerentaan terhadap cahaya) rasa seperti
terbakar pada mata, gatal, air mata, kotoran mata yang berlebihan, diplopia
(pandangan ganda), pandangan kabur , perasaan adanya film diatas
lapang penglihatan, mengambang (titik hitam kecil yang tampak menghilang
pada lapang penglihatan), cahaya kilatan, lingkaran hitam (halo) di seputar
cahaya.
Tentukan apakah klien mempunyai riwayat penyakit mata, trauma pada mata,
diabetes, hipertensi, atau masalah visual
Tentukan apakah ada riwayat keluarga dengan gangguan mata, meliputi
gloukoma atau retinitis pigmentosa
Kaji riwayat pekerjaan klien mengenai aktivitas kerja yang memerlukan kerja
tertutup, kerja yang melibatkan computer, atau aktivitas seperti pengelas,
terpajan langsung dengan bahan kimia yang membuat resiko cedera mata.
Tanyakan pada klien apakah memakai kaca mata, atau lensa kontak atau
tidak
Tentukan tanggal terakhir klien memeriksakan mata.
Kaji obat obatan yang sudah di pakai termasuk tetes mata.
2. PEMERIKSAAN
Pemeriksaan dengan cara :
KETAJAMAN PENGLIHATAN
Tahap I
i. Lakukan pemeriksaan sekilas dengan meminta klien membaca surat
kabar/majalah.Pastikan pencahayaan cukup. Klien berkacamata seharusnya
memakai kecamatanya selama tahap pemreksaan ini. Perhatikan cara klien
memegang lembaran yang dibaca dari matanya.
ii. Pastikan klien tidak buta huruf. Mintalah klien agar membaca dengan keras
untuk memastikan bahwa klien tidak buta huruf. Bila klien menghadapi kesulitan
lanjutkan pengujian ke tahap II
Tahap II
i. Untuk pemeriksaan yang akurat gunakan lembar pemeriksaan Snellen. Pastikan
bahwa lembaran pemeriksa benar benar diterangi. Buat klien berdiri 20 kaki (6,1
m) jauhnya dari lembar Snellen atau duduk di kursi pengujian yang telah

terpasang khusus bersebrangan dengan layar periksa


ii. Minta klien untuk membaca huruf huruf pada layar dimulai dari garis yang mana
saja, pertama dengan kedua mata terbuka dan kemudian dengan satu mata
terpisah (mata lainnya ditutupi)
iii. Selalu menguji pertanma kali tanpa kacamata. Kemudian bila memakai
kacamata jarak jauh, ulangi pengujian. Tentukan baris terkecil dimana klien
dapat membaca seluruh huruf dengan benar baca ketajaman untuk garis
tersebut.
iv. Bila klien tidak bisa membaca, gunakan kartu E dan tentukan arah tangan
huruf E . Pada anak kecil, gunakan lembaran dengan gambaran obyek yang
dikenal. Catat nilai ketajaman penglihatan untuk masing masing mata dan kedua
mata dalam dua nilai :
Pembilang adalah jarak dari lembar pemeriksaan ke klien dalam ukuran
kaki.
Penyebut adalah nomor standar untuk garis tersebut pada lembar
pemeriksa ( contoh : 20/80 ). Nomor standar ini adalah jarak dimana mata
normal dapat membaca baris tersebut.
Tahap III
i. Uji masing-masing mata dengan klien membaca kartu indek dengan menutupi
satu mata bergiliran
ii. Jangan menggunakan tangan untuk menutupi mata
iii. Minta klien dengan gangguan penglihatan parah untuk menghitung jari jari yang
diacungkan kurang lebih satu kaki ( 30 cm ) dari wajah klien.
iv. Bila klien gagal dalam kedua tes tersebut, sinari mata klien dengan senter kecil
dan kemudian padamkan cahayanya . Tanyakan apakah klien melihat cahaya.
Hasil Normal :
Nilai normal ketajaman penglihatan adalah 20/20
Catat, apabila ketajaman penglihatan diukur dengan kacamata perbaikan atau
lensa kontak ( cc ) atau tanpa perbaikan ( sc ).
Penyimpangan dari Normal :
Nilai ketajaman penglihatan 20/200 dianggap buta total
PEMERIKSAAN LAPANG PENGLIHATAN
Pemeriksaan lapang penglihatan dengan cara :
i.

Buat klien duduk atau berdiri 2 kaki 60 cm jauhnya, berhadapan dengan petugas
sejajar ketinggian mata.
ii. Minta klien untuk menutupi atau melapisi dengan perlahan satu mata
menggunakan kartu indeks dan menatap mata petugas berlawanan arah
contoh mata kiri klien, mata kanan petugasiii. Tutup atau lapisi mata petugas yang berlawanan dengan mata klien sehingga
lapang penglihatan petugas tidak bertumpang tindih dengan lapangan
penglihatan klien.
iv. Gerakkan jari dengan jarak sebanding panjang lengan diluar lapang penglihatan.
v. Minta klien untuk mengatakannya bila melihat jari petugas.
vi.
Perlahan tarik jari petugas mendekat. Jari selalu dijaga tetap di tengah anatara
petugas dan klien.
vii. Ulangi prosedur pada sisi yang lain, atas dan bawah. Selalu harus
membandingkan titik dimana petugas melihat jari tersebut memasuki lapang
penglihatan petugas dan titik di mana klien melihatnya.
viii.
Ulangi prosedur dengan ke empat arah pada mata lainnya.
ix.
Bila klien melihat jari sedikit lebih lama dari petugas, klien mengalami
penyempitan lapang penglihatan.
PEMERIKSAAN VISUS
Pemeriksaan visus dengan cara :
I.

Kartu diletakkan pada jarak 5 atau 6 meter dari pasien dengan posisi lebih tinggi
atau sejajar dengan mata pasien.
Bila jarak 5 meter, maka visus normal akan bernilai 5/5 artinya mata normal

dapat melihat pada jarak 5 meter, pasien juga dapat melihat pada jarak 5 meter.
Bila berjarak 6 m, berarti visus normalnya 6/6. Satuan selain meter ada kaki =
20/20, ada juga log (logaritma).
II.
Pastikan cahaya harus cukup
III.
Bila ingin memeriksa visus mata kanan, maka mata kiri harus ditutup dan pasien
diminta membaca kartu.
IV. Cara menilai visus dari hasil membaca kartu :
a) Bila pasien dapat membaca kartu pada baris dengan visus 5/5 atau 6/6, maka
tidak usah membaca pada baris berikutnya => visus normal
b) Bila pasien tidak dapat membaca kartu pada baris tertentu di atas visus normal,
cek pada 1 baris tersebut
i. Bila cuma tidak bisa membaca 1 huruf, berarti visusnya terletak
pada baris tersebut dengan false 1.
ii. Bila tidak dapat membaca 2, berarti visusnya terletak pada baris
tersebut dengan false 2.
iii. Bila tidak dapat membaca lebih dari setengah jumlah huruf yang
ada, berarti visusnya berada di baris tepat di atas baris yang tidak
dapat dibaca.
iv. Bila tidak dapat membaca satu baris, berarti visusnya terdapat
pada baris di atasnya.
c) Bila terdapat penurunan visus, maka cek dengan menggunakan pinhole (alat
untuk memfokuskan titik pada penglihatan pasien)
d) Bila visus tetap berkurang => berarti bukan kelainan refraksi.
e) Bila visus menjadi lebih baik dari sebelumnya => berarti merupakan kelainan
refraksi
PEMERIKSAAN TONOMETER
Pemeriksaan tonometer dengan cara :

i.
ii.
iii.
iv.
v.
vi.
vii.
viii.

ix.

Menggunakan Tonometer dari Schiotz.


Klien diminta tidur terlentang di tempat tidur.
Mata penderita terlebih dulu ditetesi dengan larutan anestesi lokal- pantokain 0,5%,
masing-masing 1 tetes. Ditunggu sampai klien tidak merasa perih.
Kelopak mata klien dibuka dengan telunjuk dan ibu jari jangan tertekan bola mata
pasienPasien diminta meletakkan ibu jari tangannya di depan matanya atau pasien melihat ke
langit-langit ruang pemeriksaan.
Tonometer diletakkan dengan perlahan-lahan dan hati-hati diatas cornea penderita.
Setelah telapak tonometri menunjukkan angka yang tetap,dibaca nilai tekanan pada
skala busur schiotz yang berantara 0-15
Misalnya menunjukkan angka 5 dengan beban 5.5, maka tekanan bola matanya ialah
5/5.5. lalu carilah tabel konversi yang selalu ada pada setiap tonometer. Misssalnya
untuk 5/5.5 akan terdapat angka konversi 15.0 mmHg.
Apabila dengan beban 5.5 jarum skala tidak bergerak atau bergerak Cuma sedikit,
misalnya hanya pada angka 1-2, maka gantilah beban tonometer dengan beban 7.5.
apabila dengan beban ini angka skala menunjukkan angka 4, maka tekanan bola mata
ialah 4/7.5. lalu bacalah tabel konversi untuk mendapatkan angka untuk itu.
Tekanan bola mata yang disebut normal ialah yang berkisar antara 15-22mmHg. Jika
tekanan bola mata di bawah 10 mmHg, maka berarti rendah dan bila diatas 25 mmHg
berati tinggi.

3. DIAGNOSA
Dari hasil pemeriksaan didapatkan diagnosa :
Katarak sesuai SOP

Kelainan Refraksi sesuai SOP


Glaukoma sesuai SOP
Konjungtivitis sesuai SOP
Xerofthalmia sesuai SOP
Buta Warna sesuai SOP

4. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Katarak sesuai SOP
Penatalaksanaan Kelainan Refraksi sesuai SOP
Penatalaksanaan Glaukoma sesuai SOP
Penatalaksanaan Konjungtivitis sesuai SOP
Penatalaksanaan Xerofthalmia sesuai SOP
Penatalaksanaan Buta Warna sesuai SOP
5. KONSELING
Konseling Katarak sesuai SOP
Konseling Kelainan Refraksi sesuai SOP
Konseling Glaukoma sesuai SOP
Konseling Konjungtivitis sesuai SOP
Konseling Xerofthalmia sesuai SOP
Konseling Buta Warna sesuai SOP
6. PENCATATAN DAN PELAPORAN
Pencatatan dan pelaporan Katarak sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Kelainan Refraksi sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Glaukoma sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Konjungtivitis sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Xerofthalmia sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Buta Warna sesuai SOP

SOP
PEMERIKSAAN KATARAK

No. Dokumen

No. Revisi :

..

Tanggal ditetapkan :

Disusun oleh :

Halaman

Ditetapkan
KEPALA DINAS KESEHATAN
KAB. MAGETAN

.2013

Pengertian

Tujuan

Tim Dinas Kesehatan dan


Pengelola Prog.
Kesehatan Indera
dr. HARRY SUSANTO,MM
se-Kab.Magetan
NIP.
Pemeriksaan gangguan penglihatan yang disebabkan perubahan lensa mata yang
seharusnya jernih dan tembus cahaya menjadi keruh, akibatnya obyek yang dilihat
menjadi kabur dan menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas ( Katarak).
Sebagai pedoman bagi petugas untuk melaksanakan pemeriksaan katarak sesuai
standar

Metode
Standar
Tenaga

Standar
Sarana dan
Prasarana

1.Sarana Non Medis :


d. Ruang Pemeriksaan
Ukuran minimal 4 m x 4 m
Ventilasi dan pencahayaan yang cukup
Ruangan bersih dan rapi
Wastafel dengan air yang mengalir, dilengkapi dengan sabun cair serta
handuk tangan yang bersih / disposible tissue
e. Mebelair
Meja kursi satu set untuk pemeriksa dan pasien serta pengantar
f. Lain lain
Tempat sampah medis dan non medis masing masing 1 buah
Buku register pasien
Status / lembar rekam medis
Informed Consent
Kertas resep
Blanko permintaan laboratorium
Alat tulis menulis
Formulir rujukan

Dokter :1 orang
Perawat : 1 orang

2.Sarana Medis :
Stetoskop dan tensimeter
Pinhole (cakram berlubang)
Snellen chart
Penutup 1 mata (okluder)
Senter
APD
Prosedur
Tetap

1)
2)
3)
4)
5)
6)

Anamnesa
Pemeriksaan
Diagnosa
Penatalaksanaan
Konseling
Pencatatan dan pelaporan

Cara
Melaksanakan
Tiap Kegiatan

1) ANAMNESA
1. Menyapa pasien dengan ramah, sambil menatap mata pasien dengan lembut
dan mengucapkan salam
2. Bila kunjungan yang pertama perlu menanyakan identitas pasien :Nama , umur,
alamat rumah, pekerjaan.
3. Bila kunjungan ulang, maka jawaban pasien dicocokkan dengan kartu status
pasien
4. Bertanya dengan ramah dan hati-hati tentang
Riwayat penyakit :
Apa gejala yang paling dirasakan sehingga bapak/ibu,Sdr/Sdri datang
kesini? (menanyakan riwayat penyakit utama).
Kapan pertama kali timbul keluhan ?
Apakah keluhan ini timbul pertama kali atau sudah berulang ?
Apakah ada riwayat trauma pada mata, atau terkena debu, binatang,
cairan, dll ?
Apakah ada keluhan/penyakit lain yang diderita (ex:DM,HT,dll) dan
riwayat penyakit sebelumnya ?
Adakah riwayat alergi (debu,asap kendaraan,udara,makanan/minuman,
alergi obat,dll)
Apakah sudah pernah berobat atau sudah minum obat- obatan tertentu ?(
riwayat pengobatan sebelumnya )
Apakah timbul gangguan penurunan penglihatan ?
Spesifik Katarak :
Apakah ada penurunan penglihatan/ pandangan buram, kabur,
seperti tertutup kabut / berasap bahkan pada siang hari ?
Apakah peka terhadap sinar atau cahaya ?
Apakah terjadi diplobia/melihat dobel pada satu mata ?
Apakah ada nyeri pada mata ?(biasanya pada katarak tidak
disertai nyeri kecuali terdapat komplikasi lain)
Kapan mulai terjadi kekeruhan lensa, sejak usia ?(untuk
mengetahui jenis Katarak)
Apakah ada riwayat trauma atau riwayat penyakit lain ? (Untuk
mengetahui jenis Katarak)
2) PEMERIKSAAN
a) Pemeriksaan Fisik

Pada saat pertama kali bertemu dengan pasien , kita melihat dan menilai keadaan
umum pasien, apakah pasien kelihatan sakit, lemah, pucat, atau tampak sehat, dan
bagaimana pasien datang apakah bisa berjalan sendiri atau dibantu keluarga untuk
menilai fungsi penglihatan.
Melihat keadaan mata pasien, apakah mata tampak merah, adanya secret/kotoran,
sembab, ada benjolan apa tidak, lensa mata keruh apa tidak, apakah pada sklera
tampak bersih,warna konjungtiva,dan apakah tampak tanda-tanda abnormal di
bandingkan mata sehat.
Perhatikan :
Lensa Perhatikan kejenihannya. Normal jernih, kalau keruh suspek katarak.
Cairan mata ( Normal, bertambah, berkurang) Untuk menentukan stadium katarak
Iris (Normal atau terdorong, tremulans ) Untuk menentukan stadium katarak
Bilik mata depan ( Normal, dangkal ) Untuk menentukan stadium katarak
Sudut bilik mata ( Normal, sempit, terbuka ) Untuk menentukan stadium katarak
b) Pemeriksaan fungsi Penglihatan
Lakukan pemeriksaan visus sesuai SOP pemeriksaan mata
c) Pemeriksaan Stadium Katarak
Lakukan Pemeriksaan selanjutnya apabila ada indikasi katarak, yaitu :
Dari anamnesa diketahui adanya penurunan fungsi penglihatan ( mata buram
,redup, berkabut termasuk saat siang hari, diplobia, peka terhadap sinar, dll)

Dari pemeriksaan Inspeksi ditemukan kekeruhan lensa


Dari pemeriksaan Visus diperoleh adanya penurunan ketajaman penglihatan
bukan karena kelainan refraksi
Lakukan Shadow Test untuk mengetahui Stadium Katarak, dengan cara
sebagai berikut :
Untuk melihat lensa lebih jelas bisa memakai obat tetes yang berisi midriatill
yang fungsinya untuk midriasis pupil, jadi lensanya bisa lebih mudah dilihat

Pasien diminta melihat lurus ke depan


Lalu pemeriksa menyenteri mata pasien pada sudut 45 0 dari samping,
dari bayangan iris.
Nanti ada bayangan yang dibiaskan dari humor aquosus.
Katarak matur : lensa lebih cembung karena menyerap cairan lebih
banyak,bayangan iris pada lensa terlihat kecil dan letaknya dekat
terhadap pupil, shadow test (-) ; katarak imatur: lensa masih
kecil,terdapat bayangan iris pada lensa terlihat besar dan letaknya jauh
terhadap pupil, shadow test (+)

3) PENEGAKAN DIAGNOSA
Dari Anamnesa dan Pemeriksaan dapat ditegakan Diagnosa Katarak sesuai dengan
jenis dan stadium Katarak
A. Menurut Jenisnya :
Katarak Kongenital apabila
kekeruhan lensa mata timbul pada saat
pembentukan lensa, Sudah terdapat pada saat bayi baru lahir
Katarak Senile apabila keluhan lensa yang terdapat pada usia diatas 50 tahun
Katarak Juvenile apabila mulai terbentuknya saat usia kurang dari 9 tahun dan
lebih dari 3 bulan biasanya merupakan lanjutan katarak kongenital
Katarak komplikata apabila Katarak terjadi akibat komplikasi dari penyakit lain
seperti penyakit sistemik, dan trauma
B. Menurut Stadiumnya :
Stadium insipien Dimana mulai timbul katarak akibat proses degenerasi
lensa
Stadium imatur Lensa yang degeneratif mulai menyerap cairan mata ke
dalam lensa sehingga lensa menjadi cembung
Stadium matur merupakan proses degenerasi lanjut lensa , terjadi
kekeruhan seluruh lensa
Stadium hipermatur terjadi proses degenerasi lanjut lensa dan korteks
lensa dapat mencair sehingga nucleus lensa tenggelam dalam korteks lensa
( katarak Morgagni)
PERBEDAAN KARAKTERISTIK KATARAK UNTUK MENEGAKAN DIAGNOSA
SESUAI HASIL PEMERIKSAAN
INSIPIEN

IMATUR

MATUR

HIPERMATUR

KEKERUHAN

RINGAN

SEBAGIAN

SELURUH

MASIF

CAIRAN
LENSA MATA

NORMAL

BERTAMBAH

NORMAL

BERKURANG

IRIS

NORMAL

TERDORONG

NORMAL

TREMULANS

BILIK MATA
DEPAN

NORMAL

DANGKAL

NORMAL

DALAM

SUDUT BILIK
MATA

NORMAL

SEMPIT

NORMAL

TERBUKA

SHADOW
TEST

(-)

(+)

(-)

+/-

VISUS

(+)

<

<<

<<<

PENYULIT

(-)

GLAUKOMA

(-)

UVEITIS+
GLAUKOMA

4) PENATALAKSANAAN
Setelah ditegakan diagnosa Katarak maka lakukan rujukan ke pelayanan kesehatan
rujukan / Rumah Sakit sesuai SOP untuk penanganan lebih lanjut.
5) KONSELING
Sarankan pada penderita rutin kontrol ke Rumah Sakit atau dokter spesialis
mata untuk melakukan pengecekan retina serta ketajaman visual secara
berkala.
Sarankan kepada penderita untuk selalu menggunakan sunglass saat
beraktivitas diluar ruangan, hindari paparan sinar matahari langsung, dan
cahaya yang terlalu terang.
Sarankan kepada penderita untuk tidak merokok serta jangan mengkonsumsi
minuman beralkohol.
Anjurkan penderita makan makanan bergizi yang mengandung vitamin A, C, E,
dan protein seperti buah dan sayur berwarna terang, beras merah, kacangkacangan, sereal, minyak canola serta ikan.
Hindari makanan yang terlalu banyak mengandung lemak dan garam.
6) PENCATATAN DAN PELAPORAN
Setiap orang yang datang berobat ke Puskesmas dimasukan ke register
harian dan simphustronik
Setiap orang yang datang ke Puskesmas dengan keluhan gangguan
kesehatan indra dimasukan dalam register harian program kesehatan
indra
Laporan dari Pengelola program kesehatan Indra Puskesmas ke Dinas
Kesehatan Kabupaten Magetan dilakukan setiap Tribulan ( Tiga bulan )
dan diambil dari register harian program kesehatan Indra.