NAMA : DESI CHRIST NATASHA
NIM : 170204017
KELAS : PSIK D 3.1
SOP PENGKAJIAN MATA
Pengertian Suatu pemeriksaan yang di lakukan untuk mengetahui adanya gangguan
kesehatan mata.
Tujuan 1. Mengidentifikasi jenis gangguan kesehatan mata untuk mencegah serta
menentukan terapi/pengobatan, penanganan lebih lanjut dan sebagai
dasar untuk melakukan rujukan ke pelayanan kesehatan rujukan / Rumah
Sakit sesuai Standar.
2. Sebagai pedoman bagi petugas untuk melaksanakan pemeriksaan Mata
sesuai standar
Standar Dokter :1 orang
Tenaga Perawat : 1 orang
Saranadan 1.Sarana Non Medis :
Prasarana a. Ruang Pemeriksaan
Ukuran minimal 4 m x 4 m²
Ventilasi dan pencahayaan yang cukup
Ruangan bersih dan rapi
Wastafel dengan air yang mengalir, dilengkapi dengan sabun cair
serta handuk tangan yang bersih / disposible tissue
b. Mebelair
Meja kursi satu set untuk pemeriksa dan pasien serta pengantar
Tempat tidur
c. Lain lain
Tempat sampah medis dan non medis masing masing 1 buah
Buku registerpasien
Status / lembar rekam medis
Informed consent
Kertas resep
Blanko permintaan laboratorium
Alat tulis menulis
Formulir rujukan
Surat kabar atau majalah
Penggaris kecil
Komputer
Surat kabar
Penggaris kecil
2.Sarana Medis :
Stetoskop dan tensimeter
Pinhole (cakram berlubang)
Snellen chart
Penutup 1 mata (okluder)
Trial Frame
Trial lensa
Isihara test
Loupe
Senter
Optalmoskop
Kartu kipas
Tonometer
Kapas steril
APD
Prosedur 1. Anamnesa
Tetap 2. Pemeriksaan
3. Diagnosa
4. Penatalaksanaan
5. Konseling
6. Pencatatan dan pelaporan
Cara 1. ANAMNESA
Melaksanakan Menyapa pasien dengan ramah, sambil menatap mata pasien dengan
Tiap Kegiatan lembut dan mengucapkan salam
Bila kunjungan yang pertama perlu menanyakan identitas pasien :Nama ,
umur, alamat rumah, pekerjaan.
Bila kunjungan ulang, maka jawaban pasien dicocokkan dengan kartu
status pasien
Bertanya dengan ramah dan hati-hati tentang
Riwayat Penyakit :
Tentukan masalah yang mendorong klien untuk mencari bantuan
kesehatan.
Tanyakan pada klien adakah kelopak mata yang turun menutup terus
menerus, Nyeri mata, foto phobia (kerentaan terhadap cahaya) rasa
seperti terbakar pada mata, gatal, air mata, kotoran mata yang
berlebihan, diplopia (pandangan ganda), pandangan kabur , perasaan
adanya ‘’ film ‘’ diatas lapang penglihatan, mengambang (titik hitam
kecil yang tampak menghilang pada lapang penglihatan), cahaya
kilatan, lingkaran hitam (halo) di seputar cahaya.
Tentukan apakah klien mempunyai riwayat penyakit mata, trauma
pada mata, diabetes, hipertensi, atau masalah visual
Tentukan apakah ada riwayat keluarga dengan gangguan mata,
meliputi gloukoma atau retinitis pigmentosa
Kaji riwayat pekerjaan klien mengenai aktivitas kerja yang
memerlukan kerja tertutup, kerja yang melibatkan computer, atau
aktivitas seperti pengelas, terpajan langsung dengan bahan kimia
yang membuat resiko cedera mata.
Tanyakan pada klien apakah memakai kaca mata, atau lensa kontak
atau tidak
Tentukan tanggal terakhir klien memeriksakan mata.
Kaji obat obatan yang sudah di pakai termasuk tetes mata.
2. PEMERIKSAAN
Pemeriksaan dengan cara :
KETAJAMAN PENGLIHATAN
Tahap I
i. Lakukan pemeriksaan sekilas dengan meminta klien membaca surat
kabar/majalah.Pastikan pencahayaan cukup. Klien berkacamata
seharusnya memakai kecamatanya selama tahap pemreksaan ini.
Perhatikan cara klien memegang lembaran yang dibaca dari matanya.
ii. Pastikan klien tidak buta huruf. Mintalah klien agar membaca dengan
keras untuk memastikan bahwa klien tidak buta huruf. Bila klien
menghadapi kesulitan lanjutkan pengujian ke tahap II
Tahap II
i. Untuk pemeriksaan yang akurat gunakan lembar pemeriksaan Snellen.
Pastikan bahwa lembaran pemeriksa benar benar diterangi. Buat klien
berdiri 20 kaki (6,1 m) jauhnya dari lembar Snellen atau duduk di kursi
pengujian yang telah terpasang khusus bersebrangan dengan layar
periksa
ii. Minta klien untuk membaca huruf huruf pada layar dimulai dari garis
yang mana saja, pertama dengan kedua mata terbuka dan kemudian
dengan satu mata terpisah (mata lainnya ditutupi)
iii. Selalu menguji pertanma kali tanpa kacamata. Kemudian bila memakai
kacamata jarak jauh, ulangi pengujian. Tentukan baris terkecil dimana
klien dapat membaca seluruh huruf dengan benar baca ketajaman untuk
garis tersebut.
iv. Bila klien tidak bisa membaca, gunakan kartu ‘’E’’ dan tentukan arah
tangan huruf ‘’E ‘’ . Pada anak kecil, gunakan lembaran dengan
gambaran obyek yang dikenal. Catat nilai ketajaman penglihatan untuk
masing masing mata dan kedua mata dalam dua nilai :
Pembilang adalah jarak dari lembar pemeriksaan ke klien dalam
ukuran kaki.
Penyebut adalah nomor standar untuk garis tersebut pada lembar
pemeriksa ( contoh : 20/80 ). Nomor standar ini adalah jarak
dimana mata normal dapat membaca baris tersebut.
Tahap III
i. Uji masing-masing mata dengan klien membaca kartu indek dengan
menutupi satu mata bergiliran
ii. Jangan menggunakan tangan untuk menutupi mata
iii. Minta klien dengan gangguan penglihatan parah untuk menghitung jari
jari yang diacungkan kurang lebih satu kaki ( 30 cm ) dari wajah klien.
iv. Bila klien gagal dalam kedua tes tersebut, sinari mata klien dengan
senter kecil dan kemudian padamkan cahayanya . Tanyakan apakah
klien melihat cahaya.
Hasil Normal :
Nilai normal ketajaman penglihatan adalah 20/20
Catat, apabila ketajaman penglihatan diukur dengan kacamata
perbaikan atau lensa kontak ( cc ) atau tanpa perbaikan ( sc ).
Penyimpangan dari Normal :
Nilai ketajaman penglihatan 20/200 dianggap buta total
PEMERIKSAAN LAPANG PENGLIHATAN
Pemeriksaan lapang penglihatan dengan cara :
i. Buat klien duduk atau berdiri 2 kaki 60 cm jauhnya, berhadapan dengan
petugas sejajar ketinggian mata.
ii. Minta klien untuk menutupi atau melapisi dengan perlahan satu mata
menggunakan kartu indeks dan menatap mata petugas berlawanan
arah –contoh mata kiri klien, mata kanan petugas-
iii. Tutup atau lapisi mata petugas yang berlawanan dengan mata klien
sehingga lapang penglihatan petugas tidak bertumpang tindih dengan
lapangan penglihatan klien.
iv. Gerakkan jari dengan jarak sebanding panjang lengan diluar lapang
penglihatan.
v. Minta klien untuk mengatakannya bila melihat jari petugas.
vi. Perlahan tarik jari petugas mendekat. Jari selalu dijaga tetap di tengah
anatara petugas dan klien.
vii. Ulangi prosedur pada sisi yang lain, atas dan bawah. Selalu harus
membandingkan titik dimana petugas melihat jari tersebut memasuki
lapang penglihatan petugas dan titik di mana klien melihatnya.
viii. Ulangi prosedur dengan ke empat arah pada mata lainnya.
ix. Bila klien melihat jari sedikit lebih lama dari petugas, klien mengalami
penyempitan lapang penglihatan.
PEMERIKSAAN VISUS
Pemeriksaan visus dengan cara :
I. Kartu diletakkan pada jarak 5 atau 6 meter dari pasien dengan posisi
lebih tinggi atau sejajar dengan mata pasien.
Bila jarak 5 meter, maka visus normal akan bernilai 5/5 artinya mata
normal dapat melihat pada jarak 5 meter, pasien juga dapat melihat
pada jarak 5 meter. Bila berjarak 6 m, berarti visus normalnya 6/6.
Satuan selain meter ada kaki = 20/20, ada juga log (logaritma).
II. Pastikan cahaya harus cukup
III. Bila ingin memeriksa visus mata kanan, maka mata kiri harus ditutup
dan pasien diminta membaca kartu.
IV. Cara menilai visus dari hasil membaca kartu :
a) Bila pasien dapat membaca kartu pada baris dengan visus 5/5 atau 6/6,
maka tidak usah membaca pada baris berikutnya => visus normal
b) Bila pasien tidak dapat membaca kartu pada baris tertentu di atas visus
normal, cek pada 1 baris tersebut
i. Bila cuma tidak bisa membaca 1 huruf, berarti visusnya
terletak pada baris tersebut dengan false 1.
ii. Bila tidak dapat membaca 2, berarti visusnya terletak pada
baris tersebut dengan false 2.
iii. Bila tidak dapat membaca lebih dari setengah jumlah huruf
yang ada, berarti visusnya berada di baris tepat di atas
baris yang tidak dapat dibaca.
iv. Bila tidak dapat membaca satu baris, berarti visusnya
terdapat pada baris di atasnya.
c) Bila terdapat penurunan visus, maka cek dengan menggunakan pinhole
(alat untuk memfokuskan titik pada penglihatan pasien)
d) Bila visus tetap berkurang => berarti bukan kelainan refraksi.
e) Bila visus menjadi lebih baik dari sebelumnya => berarti merupakan
kelainan refraksi
PEMERIKSAAN TONOMETER
Pemeriksaan tonometer dengan cara :
Menggunakan Tonometer dari Schiotz.
i. Klien diminta tidur terlentang di tempat tidur.
ii. Mata penderita terlebih dulu ditetesi dengan larutan anestesi lokal- pantokain
0,5%, masing-masing 1 tetes. Ditunggu sampai klien tidak merasa perih.
iii. Kelopak mata klien dibuka dengan telunjuk dan ibu jari –jangan tertekan bola
mata pasien-
iv. Pasien diminta meletakkan ibu jari tangannya di depan matanya atau pasien
melihat ke langit-langit ruang pemeriksaan.
v. Tonometer diletakkan dengan perlahan-lahan dan hati-hati diatas cornea
penderita.
vi. Setelah telapak tonometri menunjukkan angka yang tetap,dibaca nilai tekanan
pada skala busur schiotz yang berantara 0-15
vii. Misalnya menunjukkan angka 5 dengan beban 5.5, maka tekanan bola
matanya ialah 5/5.5. lalu carilah tabel konversi yang selalu ada pada setiap
tonometer. Misssalnya untuk 5/5.5 akan terdapat angka konversi 15.0 mmHg.
viii. Apabila dengan beban 5.5 jarum skala tidak bergerak atau bergerak Cuma
sedikit, misalnya hanya pada angka 1-2, maka gantilah beban tonometer
dengan beban 7.5. apabila dengan beban ini angka skala menunjukkan angka
4, maka tekanan bola mata ialah 4/7.5. lalu bacalah tabel konversi untuk
mendapatkan angka untuk itu.
ix. Tekanan bola mata yang disebut normal ialah yang berkisar antara 15-
22mmHg. Jika tekanan bola mata di bawah 10 mmHg, maka berarti rendah dan
bila diatas 25 mmHg berati tinggi.
3. DIAGNOSA
Dari hasil pemeriksaan didapatkan diagnosa :
Katarak sesuai SOP
Kelainan Refraksi sesuai SOP
Glaukoma sesuai SOP
Konjungtivitis sesuai SOP
Xerofthalmia sesuai SOP
Buta Warna sesuai SOP
4. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Katarak sesuai SOP
Penatalaksanaan Kelainan Refraksi sesuai SOP
Penatalaksanaan Glaukoma sesuai SOP
Penatalaksanaan Konjungtivitis sesuai SOP
Penatalaksanaan Xerofthalmia sesuai SOP
Penatalaksanaan Buta Warna sesuai SOP
5. KONSELING
Konseling Katarak sesuai SOP
Konseling Kelainan Refraksi sesuai SOP
Konseling Glaukoma sesuai SOP
Konseling Konjungtivitis sesuai SOP
Konseling Xerofthalmia sesuai SOP
Konseling Buta Warna sesuai SOP
6. PENCATATAN DAN PELAPORAN
Pencatatan dan pelaporan Katarak sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Kelainan Refraksi sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Glaukoma sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Konjungtivitis sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Xerofthalmia sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Buta Warna sesuai SOP
SOP PENGKAJIAN MATA KATARAK
Pemeriksaan gangguan penglihatan yang disebabkan perubahan lensa mata
Pengertian yang seharusnya jernih dan tembus cahaya menjadi keruh, akibatnya obyek
yang dilihat menjadi kabur dan menyebabkan penderita tidak bisa melihat
dengan jelas ( Katarak).
Tujuan Sebagai pedoman bagi petugas untuk melaksanakan pemeriksaan katarak
sesuai standar
Metode -
Standar Dokter :1 orang
Tenaga Perawat : 1 orang
Standar Sarana 1.Sarana Non Medis :
dan Prasarana d. Ruang Pemeriksaan
Ukuran minimal 4 m x 4 m²
Ventilasi dan pencahayaan yang cukup
Ruangan bersih dan rapi
Wastafel dengan air yang mengalir, dilengkapi dengan sabun cair
serta handuk tangan yang bersih / disposible tissue
e. Mebelair
Meja kursi satu set untuk pemeriksa dan pasien serta pengantar
f. Lain lain
Tempat sampah medis dan non medis masing masing 1 buah
Buku registerpasien
Status / lembar rekam medis
Informed Consent
Kertas resep
Blanko permintaan laboratorium
Alat tulis menulis
Formulir rujukan
2.Sarana Medis :
Stetoskop dan tensimeter
Pinhole (cakram berlubang)
Snellen chart
Penutup 1 mata (okluder)
Senter
APD
Prosedur 1) Anamnesa
Tetap 2) Pemeriksaan
3) Diagnosa
4) Penatalaksanaan
5) Konseling
6) Pencatatan dan pelaporan
Cara 1) ANAMNESA
Melaksanakan 1. Menyapa pasien dengan ramah, sambil menatap mata pasien dengan
Tiap Kegiatan lembut dan mengucapkan salam
2. Bila kunjungan yang pertama perlu menanyakan identitas
pasien :Nama , umur, alamat rumah, pekerjaan.
3. Bila kunjungan ulang, maka jawaban pasien dicocokkan dengan kartu
status pasien
4. Bertanya dengan ramah dan hati-hati tentang
Riwayat penyakit :
Apa gejala yang paling dirasakan sehingga bapak/ibu,Sdr/Sdri
datang kesini? ” (menanyakan riwayat penyakit utama).
Kapan pertama kali timbul keluhan ?
Apakah keluhan ini timbul pertama kali atau sudah berulang ?
Apakah ada riwayat trauma pada mata, atau terkena debu,
binatang, cairan, dll ?
Apakah ada keluhan/penyakit lain yang diderita (ex:DM,HT,dll)
dan riwayat penyakit sebelumnya ?
Adakah riwayat alergi (debu,asap
kendaraan,udara,makanan/minuman, alergi obat,dll)
Apakah sudah pernah berobat atau sudah minum obat- obatan
tertentu ?( riwayat pengobatan sebelumnya )
Apakah timbul gangguan penurunan penglihatan ?
Spesifik Katarak :
Apakah ada penurunan penglihatan/ pandangan buram,
kabur, seperti tertutup kabut / berasap bahkan pada siang
hari ?
Apakah peka terhadap sinar atau cahaya ?
Apakah terjadi diplobia/melihat dobel pada satu mata ?
Apakah ada nyeri pada mata ?(biasanya pada katarak
tidak disertai nyeri kecuali terdapat komplikasi lain)
Kapan mulai terjadi kekeruhan lensa, sejak usia ?(untuk
mengetahui jenis Katarak)
Apakah ada riwayat trauma atau riwayat penyakit lain ?
(Untuk mengetahui jenis Katarak)
2) PEMERIKSAAN
a) Pemeriksaan Fisik
Pada saat pertama kali bertemu dengan pasien , kita melihat dan menilai
keadaan umum pasien, apakah pasien kelihatan sakit, lemah, pucat, atau
tampak sehat, dan bagaimana pasien datang apakah bisa berjalan sendiri
atau dibantu keluarga untuk menilai fungsi penglihatan.
Melihat keadaan mata pasien, apakah mata tampak merah, adanya
secret/kotoran, sembab, ada benjolan apa tidak, lensa mata keruh apa
tidak, apakah pada sklera tampak bersih,warna konjungtiva,dan apakah
tampak tanda-tanda abnormal di bandingkan mata sehat.
Perhatikan :
Lensa Perhatikan kejenihannya. Normal jernih, kalau keruh suspek
katarak.
Cairan mata ( Normal, bertambah, berkurang) Untuk menentukan stadium
katarak
Iris (Normal atau terdorong, tremulans ) Untuk menentukan stadium katarak
Bilik mata depan ( Normal, dangkal ) Untuk menentukan stadium katarak
Sudut bilik mata ( Normal, sempit, terbuka ) Untuk menentukan stadium
katarak
b) Pemeriksaan fungsi Penglihatan
Lakukan pemeriksaan visus sesuai SOP pemeriksaan mata
c) Pemeriksaan Stadium Katarak
Lakukan Pemeriksaan selanjutnya apabila ada indikasi katarak, yaitu :
Dari anamnesa diketahuiadanya penurunan fungsi penglihatan( mata
buram ,redup, berkabut termasuk saat siang hari, diplobia, peka
terhadap sinar, dll)
Dari pemeriksaan Inspeksi ditemukan kekeruhan lensa
Dari pemeriksaan Visus diperoleh adanya penurunan ketajaman
penglihatan bukan karena kelainan refraksi
Lakukan Shadow Test untuk mengetahui Stadium Katarak,dengan cara
sebagai berikut :
Untuk melihat lensa lebih jelas bisa memakai obat tetes yang berisi
midriatill yang fungsinya untuk midriasis pupil, jadi lensanya bisa lebih
mudah dilihat
Pasien diminta melihat lurus ke depan
Lalu pemeriksa menyenteri mata pasien pada sudut 45 0 dari
samping, dari bayangan iris.
Nanti ada bayangan yang dibiaskan dari humor aquosus.
Katarak matur : lensa lebih cembung karena menyerap cairan
lebih banyak,bayangan iris pada lensa terlihat kecil dan letaknya
dekat terhadap pupil, shadow test (-) ; katarak imatur: lensa
masih kecil,terdapat bayangan iris pada lensa terlihat besar dan
letaknya jauh terhadap pupil, shadow test (+)
3) PENEGAKAN DIAGNOSA
Dari Anamnesa dan Pemeriksaan dapat ditegakan Diagnosa Katarak sesuai
dengan jenis dan stadium Katarak
A. Menurut Jenisnya :
Katarak Kongenital apabila kekeruhan lensa mata timbul pada saat
pembentukan lensa, Sudah terdapat pada saat bayi baru lahir
Katarak Senile apabila keluhan lensa yang terdapat pada usia diatas 50
tahun
Katarak Juvenile apabila mulai terbentuknya saat usia kurang dari 9
tahun dan lebih dari 3 bulan biasanya merupakan lanjutan katarak
kongenital
Katarak komplikata apabila Katarak terjadi akibat komplikasi dari
penyakit lain seperti penyakit sistemik, dan trauma
B. Menurut Stadiumnya :
Stadium insipien Dimana mulai timbul katarak akibat proses
degenerasi lensa
Stadium imatur Lensa yang degeneratif mulai menyerap cairan
mata ke dalam lensa sehingga lensa menjadi cembung
Stadium matur merupakan proses degenerasi lanjut lensa , terjadi
kekeruhan seluruh lensa
Stadium hipermatur terjadi proses degenerasi lanjut lensa dan
korteks lensa dapat mencair sehingga nucleus lensa tenggelam
dalam korteks lensa ( katarak Morgagni)
PERBEDAAN KARAKTERISTIK KATARAK UNTUK MENEGAKAN
DIAGNOSA SESUAI HASIL PEMERIKSAAN
INSIPIEN IMATUR MATUR HIPERMATUR
KEKERUHAN RINGAN SEBAGIAN SELURUH MASIF
CAIRAN NORMAL BERTAMBAH NORMAL BERKURANG
LENSA MATA
IRIS NORMAL TERDORONG NORMAL TREMULANS
BILIK MATA NORMAL DANGKAL NORMAL DALAM
DEPAN
SUDUT BILIK NORMAL SEMPIT NORMAL TERBUKA
MATA
SHADOW (-) (+) (-) +/-
TEST
VISUS (+) < << <<<
PENYULIT (-) GLAUKOMA (-) UVEITIS+
GLAUKOMA
4) PENATALAKSANAAN
Setelah ditegakan diagnosa Katarak maka lakukan rujukan ke pelayanan
kesehatan rujukan / Rumah Sakit sesuai SOP untuk penanganan lebih lanjut.
5) KONSELING
Sarankan pada penderita rutin kontrol ke Rumah Sakit atau dokter
spesialis matauntuk melakukan pengecekan retina serta ketajaman
visual secara berkala.
Sarankan kepada penderita untuk selalu menggunakan sunglass saat
beraktivitas diluar ruangan, hindari paparan sinar matahari langsung,
dan cahaya yang terlalu terang.
Sarankan kepada penderita untuk tidak merokok serta jangan
mengkonsumsi minuman beralkohol.
Anjurkan penderita makan makanan bergizi yang mengandung vitamin
A, C, E, dan protein seperti buah dan sayur berwarna terang, beras
merah, kacang-kacangan, sereal, minyak canola serta ikan.
Hindari makanan yang terlalu banyak mengandung lemak dan garam.
6) PENCATATAN DAN PELAPORAN
Setiap orangyang datang berobat ke Puskesmas dimasukan ke
register harian dan simphustronik
Setiap orang yang datang ke Puskesmas dengan keluhan
gangguan kesehatan indra dimasukandalam register harian
program kesehatan indra
Laporan dari Pengelola program kesehatan Indra Puskesmas ke
Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan dilakukan setiap Tribulan
( Tiga bulan ) dan diambil dari register harian program kesehatan
Indra.