Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persoalan kredit macet selalu saja menjadi berita dalam berbagai harian lokal maupun
nasional yang terbit di Indonesia. Keberadaan kredit macet dalam dunia perbankan
merupakan suatu penyakit kronis yang sangat mengganggu dan mengancam sistem
perbankan Indonesia yang harus diantisipasi oleh semua pihak terlebih lagi keberadaan
bank mempunyai peranan strategis dalam kegiatan perekonomian Indonesia.
Kredit yang diberikan oleh bank mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam
kehidupan perekonomian suatu negara, karena kredit yang diberikan secara selektif dan
terarah oleh bank kepada nasabah dapat menunjang terlaksananya pembangunan
sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Kredit yang diberikan oleh bank
sebagai sarana untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baik secara umum maupun
khusus untuk sektor tertentu.
Adapun tujuan utama pemberian suatu kredit antara lain:
1. Mencari Keuntungan
Yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari pemberian kredit tersebut. Hasil tersebut
terutama dari bentuk bunga yang diterima oleh bank sebagai balas jasa dan biaya
administrasi kredit yang dibebankan kepada nasabah.
2. Membantu Usaha Nasabah
Tujuan lainnya adalah untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik
dana investasi maupun dana untuk modal kerja, maka pihak debitur akan dapat
mengembangkan dan memperluas usahanya.
3. Membantu Pemerintah
Bagi pemerintah semakin banyak kredit yang disalurkan oleh pihak perbankan maka
semakin baik, semakin banyak kredit berarti adanya peningkatan pembangunan
diberbagai sektor.
Bank dalam memberikan kredit, wajib mempunyai kenyakinan atas kemampuan dan
kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan, serta
harus memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat karena kredit yang diberikan oleh
bank mengandung resiko. Dalam praktek perbankan untuk adanya pemberian kredit dari
bank, maka pihak bank harus mengadakan perjanjian didalam penyerahan uang terhadap

debitur seperti yang telah disepakati bersama. Karena biasanya dituangkan dalam suatu
perjanjian kredit yang dibuat sebelum dilakukan penyerahan uang, sehingga perjanjian
kredit ini merupakan perjanjian perdahuluan dari penyerahan uang.
Perjanjian ini bersifat konsensuil obligatoir, maksudnya dengan adanya kata
sepakat baru akan menimbulkan hak dan kewajiban yang tunduk pada Undang-Undang
No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan, artinya perjanjian kredit ini terjadi pada saat
ditandatanganinya perjanjian oleh kedua belah pihak antara kreditur dan yang telah
ditentukan yang artinya didalam perjanjian kredit harus memuat klausul
klausul yang telah disepakati antara pihak bank sebagai kreditur dengan debitur atau
pihak lain yang mewajibkan pihak perjanjian untuk melunasi utangnya setelah jangka
waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Jika terjadi pemberian kredit berarti bank memberikan uang kepada debitur yang
berjanji akan mengembalikan uang tersebut diwaktu tertentu di masa yang akan datang.
Berdasarkan waktu tersebut, maka terlihat adanya tenggang waktu antara pemberian
dengan penerima kembali prestasi. Karena adanya tenggang waktu tersebut, maka dapat
dimungkinkan kejadian-kejadian lain yang tidak terduga semula. Sehingga dalam kredit
terkandung pengertian tentang Degree of Risk yaitu suatu tingkat resiko tentu, oleh
karena pelepasan kredit mengandung suatu risiko, baik risiko bagi pemberi kredit maupun
bagi penerima kredit. Bagi penerima kredit, risiko yang mungkin timbul adalah jika ia tidak
dapat mengembalikan pinjaman tersebut, ia akan kehilangan modal. Bagi pihak pemberi
kredit, salah satu resiko yang dapat terjadi adalah jika pihak penerima kredit tidak dapat
melunasi kewajibannya pada waktu yang telah diperjanjikan atau dengan kata lain jika
terjadi apa yang disebut dengan kredit macet
Pemberian jaminan dalam suatu kredit pada sebuah bank adalah merupakan satu
keharusan sebagaimana diatur dalam Pasal 24 ayat (1) Undang-undang Nomor 14 Tahun
1967 tentang Pokok-pokok Perbankan, sebagai berikut : Bank Umum tidak memberikan
kredit tanpa jaminan kepada siapapun.
Secara umum jaminan kredit diartikan sebagai penyerahan kekayaan atau pernyataan
kesanggupan seseorang untuk menanggung pembayaran kembali suatu utang. Kegunaan
jaminan adalah untuk :
1. Memberikan hak dan kekuasaan kepada bank untuk mendapatkan pelunasan dari
hasil penjualan barang-barang jaminan tersebut, apabila nasabah melakukan cidera

janji, yaitu tidak membayar kembali utangnya pada waktu yang telah ditetapkan dalam
perjanjian.
2. Menjamin agar nasabah berperan serta di dalam transaksi untuk membiayai
usahanya, sehingga kemungkinan untuk meninggalkan usaha atau proyeknya dengan
merugikan diri sendiri atau perusahaannya, dapat dicegah atau sekurang-kurangnya
kemungkinan untuk dapat berbuat demikian diperkecil terjadinya.
3. Memberi dorongan kepada debitur (tertagih) untuk memenuhi perjanjian kredit.
Khususnya megenai pembayaran kembali sesuai dengan syarat-syarat yang telah
disetujui agar ia tidak kehilangan kekayaann yang telah dijaminkan kepada bank.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini berisikan antara lain:
1. Apa penyebab terjadinya Kredit Macet pada debitur Cabang Pembantu Pegatan?
2. Bagaimana penyelesaian Kredit Macet pada debitur Cabang Pembantu Pegatan?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Agar dapat menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya;
2. Sebagai bahan penilaian oleh dosen;
3. Memenuhi kewajiban, dan untuk perluasan wawasan serta pengetahuan.
D. Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat dari penyusunan makalah ini, yaitu :
1. Untuk mengetahui penyebab terjadinya Kredit Macet;
2. Untuk mengetahui cara penyelesaian Kredit Macet.
E. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan makalah ini, yaitu:

1. Studi Kepustakaan
Yaitu pengumpulan data dengan jalan membaca, mengkaji, dan mempelajari bukubuku, peraturan perundang-undangan yang berlaku dan berkaitan dengan penelitiaan.

2. Bahan bahan yang didapat dari internet.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kredit
Istilah kredit berasal dari bahasa latin credere yang berarti kepercayaan. Dapat
dikatakan dalam hubungan ini bahwa kreditur atau pihak yang memberikan kredit (bank)
dalam hubungan perkreditan dengan debitur (nasabah penerima kredit) mempunyai
kepercayaan bahwa debitur dalam waktu dan dengan syarat-syarat yang telah disetujui
bersama dapat mengembalikan kredit yang bersangkutan.
Menurut Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang Perbankan, merumuskan
pengertian kredit adalah Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan
dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank
dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi hutangnya setelah jangka
waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Dari uraian diatas, kredit mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
1. Kepercayaan yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa prestasi yang diberikan
baik dalam bentuk uang, barang atau jasa, akan benar-benar diterimanya kembali
dalam jangka waktu tertentu dimasa yang akan datang.
2. Waktu suatu masa yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan kontra
prestasi yang akan diterima pada masa yang akan datang. Dalam arti nilai agio dari
uang yaitu uang yang ada sekarang lebih tinggi nilainya dari uang yang akan diterima
pada masa yang akan datang.
3. Degree of risk yaitu suatu tingkat resiko yang akan dihadapi sebagai akibat dari
adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan
kontraprestasi yang akan diterima dikemudian hari. Semakin lama kredit diberikan
semakin tinggi tingkat resikonya, karena sejauh kemampuan manusia untuk
menerobos hari depan itu, maka hasil selalu terdapat unsur ketidaktentuan yang tidak
dapat diperhitungkan, yang menyebabkan timbul jaminan dalam pemberian kredit.
4. Prestasi atau objek kredit itu tidak saja diberikan dalam bentuk uang, tetapi dapat juga
dalam bentuk barang atau jasa namun sekarang ini didasarkan kepada uang, maka

transaksi-transaksi kredit yang menyangkut uang yang sering dijumpai dalam praktek
perkreditan
Dari pengertian kredit diatas tampak bahwa dasar utama dalam pemberian kredit
adalah kepercayaan yang dilandasi kesepakatan untuk memberikan pinjaman sejumlah
uang dengan pemberian bunga.
Peluncuran kredit oleh suatu bank mestilah dilakukan dengan berpegangan pada
beberapa prinsip, yaitu sebagai berikut :
1. Prinsip kepercayaan.
Sesuai dengan asal kata kredit yang berarti kepercayaan, maka setiap pemberian kredit
sebenarnya mestilah selalu dibarengi oleh kepercayaan. Yakni kepercayaann dari kreditur
akan bermanfaatnya kredit bagi debitur sekaigus kepercayaan oleh kreditur bahwa debitur
dapat membayar kembali kreditnya. Tentunya untuk bisa memenuhi unsur kepercayaan ini
oleh kreditur mestilah dilihat apakah calon debitur memenuhi berbagai kriteria yang
biasanya diberlakukan terhadap pemberian suatu kredit. Karena itu timbul prinnsip lain
yang disebut prinsip kehati-hatian.
2. Prinsip kehati-hatian.
Prinsip kehati-hatian (prudent) ini adalah salah satu konkretisasi dari prinsip kepercayaan
dalam suatu pemberian kredit. Disamping pula sebagai perwujudan dari prinsip prudent
banking dari seluruh kegiatan perbankan. Untuk mewujudkan prinsip kehati-hatian dalam
pemberian kredit ini, maka berbagai usaha pengawasan dilakukan, baik oleh bank itu
sendiri (internal) maupun oleh pihak luar (external), in casu oleh pihak Bank Sentral.
Seperti yang diatur dalam pasal 29 ayat (2) UU No.13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral.
Disamping itu juga dengan tujuan penegakan prinnsip kehati-hatian ini, regulasi tentang
perbankan diperketat. Sehingga akhirnya dunia perbankan merupakan salah satu bidang
yang sangat heavily regulated. Demikian juga dengan keharusan adanya jaminan hutang
dalam setiap pemberian kredit sebenarnya juga mempunyai tujuan agar kredit diluncurkan
secara hati-hati, sehingga ada jaminan bahwa kredit yang bersangkutan aka dibayar
kembali oleh pihak debitur.
3. Prinsip 5 C.
Prinsip 5 C adalah singkatan dari unsur-unsur Character, Capacity, Capital, Conditions of
Economy, dan Collateral. Untuk ini akan kita tinjau satu persatu dari unsur tersebut yang
seyogianya selalu ada dalam setiap pemberian kredit.

a. Character (Kepribadian)
Salah satu unsur yang mesti diperhatikan oleh bank sebelum memberikan kreditnya
adalah penilaian atas karakter kepribadian/watak dari calon debiturnya. Karena watak
yang jelek akan menimbulkan perilaku-perilaku yang jelek pula.
b. Capacity (kemampuan)
Seorang calon debitur harus pula diketahui kemampuan bisnisnya, sehingga dapat
diprediksi kemampuannya untuk melunasi hutangnya.
c. Capital (Modal)
Permodalan dari suatu debitur juga merupakan hal yang penting harus diketahui oleh
calon krediturnya. Karena permodalan dan kemampuan keuangan dari suatu debitur akan
mempunyai korelasi langsung dengan tingkat kemampuan bayar kredit. Jadi masalah
likuiditas dan solvabilitas dari suatu badan usaha menjadi penting artinya.
d. Condition of Economy (Kondisi Ekonomi)
Kondisi perekonomian secara mikro maupun makro merupakan faktor penting pula untuk
dianalisis sebelum suatu kredit diberikan, terutama yang berhubungan langsung dengan
bisnisnya pihak debitur.
e. Collateral (Agunan)
Tidak diragukan lagi bahwa betapa pentingnya fungsi agunan dalam setiap pemberian
kredit.
4. Prinsip 5P.
Dalam suatu pemberian kredit oleh bank, selain prinsip 5C juga terdapat apa yang
dinamakan prinsip 5 P, yang merupakan singkatan dari Party, Purpose, Payment,
Profitability, dan Protection. Untuk ini akan ditinjau satu persatu dari prinsip tersebut.
a. Party (Para Pihak)
Para pihak merupakan titik sentral yang memperhatikan dalam setiap pemberian kredit.
Untuk itu pihak pemberi kredit harus memperoleh suatu kepecayaan terhadap para
pihak, dalam hal ini debitur. Bagaimana karakternya, kemampuannya, dan sebagainya.

b. Purpose (Tujuan)
Tujuan dari pemberian kredit juga sangat penting diketahui oleh pihak kreditur. Harus
dilihat apakah kredit akan digunakan untuk hal-hal yang positif yang benar-benar dapat

menaikkan income perusahaan. Dan harus pula diawasi agar kredit tersebut benar-benar
diperuntukkan untuk tujuan seperti diperjanjikan dalam suatu perjanjian kredit.
c. Payment (Pembayaran)
Harus pula diperhatikan apakah sumber pembayaran kredit dari calon debitur cukup
tersedia dan cukup aman, sehingga dengan demikian diharapkan bahwa kredit yang akan
diluncurkan tersebut dapat dibayar kembali oleh debitur yang bersangkutan. Jadi harus
dilihat dan dianalisis apakah setelah pemberian kredit nanti debitur punya sumber
pendapatan, dan apakah pendapatan tersebut mencukupi untuk membayar kembali
kreditnya.
d. Profitability (Perolehan Laba)
Unsur perolehan laba oleh debitur tidak kurang pula pentingnya dalam suatu pemberian
kredit. Untuk itu kreditur harus dapat berantisipasi, apakah laba yang akan diperoleh oleh
perusahaan lebih besar dari bunga pinjaman dan apakah pendapatan perusahaan dapat
menutupi pembayaran kembali kredit, cash flow, dan sebagainya.
e. Protection (Perlindungan)
Diperlukan suatu perlindungan terhadap kredit oleh perusahaan debitur. Untuk itu
perlindungan dari kelompok perusahaan atau jaminan dari holding atau jaminan pribadi
pemilik perusahaan penting diperhatikan. Terutama untuk berjaga-jaga sekiranya terjadi
hal-hal di luar yang diskenariokan atau di luar prediksi semula.
5. Prinsip 3 R.
Setelah kita lihat adanya prinsip 5 C dan prinsip 5 P, sekarang kita tinjau pula prinsip lain
yang disebut prinsip 3 R, yang merupakan singkatan dari Returns, Repayment, dan Risk
Bearing Ability. Untuk ini juga akan ditinjau satu persatu.
a. Returns (Hasil yang Diperoleh)
Yakni yang merupakan hasil yang akan diperoleh oleh debitur, dalam hal ini ketika kredit
telah dimanfaatkan nanti mestilah dapat diantisipasi oleh calon kreditur. Artinya perolehan
tersebut mencukupi untuk membayar kembali kredit beserta bunga, ongkos-ongkos,
disamping membayar keperluan perusahaan yang lain seperti untuk cash flow, kredit lain
jika ada, dan sebagainya.
b. Repayment (Pembayaran Kembali)

Kemampuan membayar dari pihak debitur tentu saja harus dipertimbangkan. Dan apakan
kemampuan bayar tersebut macth dengan schedule pembayaran kembali dari kredit yang
akan diberikan itu. Ini juga merupakan hal yang tidak boleh diabaikan.
c. Risk Bearing Ability (Kemampuan Menganggung Risiko)
Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah sejauhmana terdapatnya kemampuann
debitur unntuk menanggung risiko. Misalnya dalam hal-hal di luar antisipasi kedua belah
pihak. Terutama jika dapat menyebabkan timbulnya kredit macet. Untuk itu harus
diperhitungkan apakah misalnya jaminan dan/atau asuransi barang atau kredit sudah
cukup aman untuk menutupi risiko tersebut.
Disamping prinsip-prinsip tersebut di atas, maka beberapa prinsip lain dalam hal
pemberian kredit yang berhubungan dengan debitur yang harus diperhatikan oleh
suatu bank adalah sebagai berikut :
1) Prinsip matching.
Yaitu harus selalu match antara pinjaman dengan aset perseroan. Jangan sekali-kali
memberikan suatu pinjaman yang berjangka waktu pendek untuk kepentingan
pembiayaan/ investasi yang berjangka waktu panjang, karena hal tersebut akan
mengakibatkan terjadinya mismatch.
2) Prinsip kesamaan valuta.
Maksudnya penggunaan dana yang didapatkan dari suatu kredit sedapatdapatnya
haruslah digunakan untuk membiayai atau investasi dalam mata uang yang sama,
sehingga risiko gejolak nilai valuta dapat dihindari meskipun untuk itu tersedia apa yang
disebut dengan currency hedging.
3) Prinsip perbandingan antara pinjaman dengan modal
Maksudnya mestilah ada hubungan yang prudent antara jumlah pinjaman dengan
besarnya modal. Jika pinjamannya yang terlewat besar disebut perusahaan yang high
gearing. Sebaliknya jika pinjamannya lebih kecil dibandingkan modal disebut low gearing.
Post permodalan earnings yang akan didapat oleh perusahaan tidak fixed, yaitu dalam
bentuk deviden, sementara cost terhadap suatu pinjaman yaitu dalam bentuk bunga relatif
tetap. Karena itu kelangsungan suatu perusahaan akan terancam jika antara jumlah
pinjaman dengan besarnya modal tidak reasonable.

4) Prinsip perbandingan antara pinjaman dengan assets.

Alternatif

lain

untuk

menekan

risiko

dari

suatu

pinjaman

adalah

dengan

memperbandingkan antara besarnya pinjaman dengan assets, yang juga dikenal dengan
gearing ratio.
Dasar hukum dalam pemberian suatu kredit menurut Munir Fuady adalah sebagai berikut:
1) Perjanjian diantara para pihak.
Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat
secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi yang membuatnya. Demikian pula dalam
bidang perkreditan, khususnya kredit bank yang juga diawali oleh suatu perjanjian yang
sering disebut dengan perjanjian kredit, dan umumnya dilakukan dalam bentuk tertulis.
Karena itu sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, maka
seluruh pasal-pasal yang ada dalam suatu perjanjian kredit secara hukum mengikat kedua
belah pihak yakni pihak kreditur dan pihak debitur. Asal tidak ada pasal-pasal dalam
perjanjian kredit tersebut yang bertentangan dengan hukum yang berlaku, maka
keterikatan yang sama juga berlaku bagi perjanjian-perjanjian pendukung lain seperti
perjanjian jaminan hutang, teknik pelaksanaan pembayaran atau pembayaran kembali,
atau lain-lainnya yang biasanya merupakan exhibit atau lampiran dari perjanjian kredit
yang bersangkutan.
2) Undang-undang.
Di Indonesia, undang-undang yang khusus mengatur tentang perbankan adalah
Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 menggantikan Undang-undang Nomor 7 Tahun
1992 tentang Perbankan. Kegiatan pemberian kredit yang merupakan kegiatan yang
sangat pokok dan sangat konvensional dari suatu bank ditegaskan juga oleh undangundang tersebut. Selain undang-undang perbankan, undang-undang yang berkaitan
dengan perbankan yaitu Undang-undang Nomor 13 tahun 1968 tentang Bank Sentral
yang mengatur mengenai kedudukan dan wewenang dari Bank Indonesia sebagai
lembaga pengawas di bidang perbankan, dan termasuk juga pengawasan di bidang
perkreditan.
3) Peraturan pelaksanaan.
Selain peraturan perundang-undangan maka yang menjadi sebagai dasar hukum
adalah peraturan pelaksanaan yang levelnya berada di bawah peraturan perundangundangan di atas. Peraturan-peraturan tersebut cukup banyak dikarenakan oleh salah
satu karakter yuridis dari bisnis perbankan, sehingga bisnis perbankan merupakan bidang
yang sarat regulasi. Hal ini disebabkan karena:

a. Bank adalah termasuk lembaga yang mengelola uang rakyat, karena itu kepentingan
rakyat banyak ikut dipertaruhkan oleh suatu bank.
b. Kegiatan bank merupakan kegiatan yang sangat detil dan complicated, karena itu
perlu arahan-arahan dan petunjuk-petunjuk yang lengkap dan detil pula.
c. Bank sangat memainkan dalam perkembangan moneter dan perekonomian secara
makro, karena itu ada pula suatu kebutuhan masyarakat agar bank-bank tetap aman
dan tidak terjadi gejolak, sehingga perkembangan ekonomi nasional tetap mantap.
Peraturan-peraturan dalam bidang perbankan yang levelnya berada dibawah peraturan
perundang-undangan adalah sebagai berikut:
a)
(1)
(2)
(3)
b)
c)

Peraturan Pemerintah
PP No.70 Tahun 1992 tentang Bank Umum
PP No.71 Tahun 1992 tentang Bank Perkreditan Rakyat.
PP No.72 Tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil.
Peraturan Menteri Keuangan
Peraturan Bank Indonesia

Peraturan lainnya, seperti Keppres atau SK Pejabat tertentu


4) Yurisprudensi.
Disamping peraturan perundang-undangan yang dipakai sebagai dasar hukum untuk
kegiatan perkreditan, maka yurisprudensi dapat juga menjadi dasar hukumnya. Hanya
saja yurisprudensi di Indonesia banyak kelemahannya sehingga agak sulit dipakai sebagai
pegangan. Hal ini disebabkan karena :
a) Banyak yurisprudensi yang tidak disertai dengan pertimbangan hakim yang
memuaskan.
b) Sulitnya akses masyarakat untuk mendapatkan keputusan pengadilan.
c) Sering pula terhadap masalah yang sama, keputusan yang satu bertentangan dengan
yang lain, sungguhpun keputusan tersebut berasal dari pengadilan yang sama.
Misalnya sama-sama keputusan Mahkamah Agung.

5) Kebiasaan perbankan.
Dalam ilmu hukum diajarkan bahwa kebiasaan dapat juga menjadi suatu sumber
hukum. Demikian pula dalam bidang perkreditan, kebiasaan dan praktek perbankan dapat
juga menjadi suatu dasar hukumnya.
6) Peraturan terkait lainnya.

Terkadang dalam pelaksanaan pemberian suatu kredit berlaku juga peraturan


perundang-undangan lain yang terkait. Misalnya karena pada hakikatnya kredit
merupakan suatu perjanjian, maka berlaku pula ketentuan dalam KUH Perdata yang
mengatur mengenai suatu perikatan. Atau jika kredit tersebut memakai hipotik sebagai
jaminannya, maka berlaku juga ketentuan mengenai hipotik dalam KUH Perdata, dan lain
sebagainya.
Berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 31/147/KEP/DIR
tanggal 12 November 1998 memberikan penggolongan mengenai kualitas kredit yang
diberikan oleh bank, terdiri dari:
1. Kredit lancar
Kredit digolongkan lancar apabila memenuhi kriteria di bawah ini:
a. Tidak terdapat tunggakan angsuran pokok, tunggakan bunga, atau cerukan karena
penarikan; atau
b. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga tetapi tidak lebih dari 1 (satu)
bulan dan kredit belum jatuh tempo.
2. Kredit dalam perhatian khusus
Kredit digolongkan dalam perhatian khusus jika terdapat tunggakan pembayaran pokok
dan/atau bunga sampai dengan 90 hari (3 bulan).
3. Kredit kurang lancar
Kredit digolongkan kurang lancar apabila memenuhi kriteria di bawah ini:
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga melampaui 90 hari sampai
dengan 180 hari (6 bulan); dan/atau
b. Kredit telah jatuh tempo tidak lebih dari 1 (satu) bulan.
4. Kredit diragukan
Kredit digolongkan diragukan apabila kredit yang bersangkutan tidak memenuhi kriteria
lancar dan kurang lancar, yaitu memenuhi kriteria:
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok yang telah melampaui 180 hari sampai dengan
270 hari (9 bulan); atau
b. Kredit masih dapat diselamatkan dan agunannya bernilai sekurang-kurangnya 75%
dari hutang peminjam, termasuk bunganya: atau
c. Kredit tidak dapat diselamatkan tetapi agunannya masih bernilai sekurang-kurangnya
100% dari hutang peminjam.
5. Kredit macet
Kredit digolongkan macet apabila:

a. terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 270 hari (9
bulan lebih); atau
b. memenuhi kriteria diragukan seperti tersebut di atas, tetapi dalam jangka waktu 21
bulan sejak digolongkan diragukan belum ada pelunasan atau usaha penyelamatan
kredit; atau
c. kredit tersebut penyelesaiannya telah diserahkan kepada Pengadilan Negeri atau
Kantor Pelayanan Pengurusan Piutang dan Lelang Negara atau diajukan penggantian
ganti rugi kepada perusahaan asuransi kredit.
Kredit dengan kolektibilitas lancar (pass) adalah masuk dalam kriteria Perporming
Loan, sedangkan kredit dengan kolektibilitas dalam perhatian khusus (special mention),
kurang lancar (substandard), diragukan (doubtful), dan kredit macet masuk dalam kriteia
kedit bermasalah (non-performing loan). Walaupun suatu kredit memenuhi kriteria lancar,
dalam perhatian khusus, kurang lancar, dan diragukan, namun apabila menurut penilaian
keadaan usaha peminjam diperkirakan tidak mampu untuk mengembalikan sebagian atau
seluruh kewajibannya, maka kredit tersebut harus digolongkan pada kualitas yang lebih
rendah atas dasar penilaian yang berpedoman pada indikator tambahan yang ditentukan
oleh Bank Indonesia.
Kredit macet atau problem loan adalah kredit yang mengalami kesulitan pelunasan
akibat adanya faktor-faktor atau unsur kesengajaan atau karena kondisi di luar
kemampuan debitur.
Lebih lanjut pengertian kredit macet dinyatakan oleh Gatot Supramono, bahwa kredit
macet adalah suatu keadaan di mana seorang nasabah tidak mampu membayar lunas
kredit bank tepat pada waktunya, hal ini dapat berupa:
1. Nasabah sama sekali tidak dapat membayar angsuran kredit beserta bunganya;
2. Nasabah membayar sebagian angsuran kredit beserta bunganya;
3. Nasabah membayar lunas kredit beserta bunganya setelah jangka waktu yang
diperjanjikan berakhir.
B. Penyebab Kredit Macet
Kredit mecet dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun
eksternal. Faktor internal penyebab timbulnya kredit macet yaitu penyimpangan dalam
pelaksanaan prosedur perkreditan, itikad kurang baik dari pemilik, pengurus, atau pegawai
bank, lemahnya sistem administrasi dan pengawasan kredit serta lemahya sistem
informasi kredit macet, sedangkan faktor eksternal penyebab timbulnya kredit macet

adalah kegagalan usaha debitur, musibah terhadap debitur atau terhadap kegiatan usaha
debitur, serta menurunnya kegiatan ekonomi dan tingginya suku bunga kredit.
Sejak ditandatanganinya perjanjian kredit antara bank dengan nasabah debitur, sejak
saat itulah timbul hak dan kewajiban para pihak. Kewajiban nasabah debitur adalah
membayar pokok pinjaman beserta bunganya. Namun dalam kenyataannya banyak
nasabah yang tidak dapat melaksanakan prestasinya dengan baik, sehingga kredit yang
diterimanya menjadi macet. Sebagian besar kredit macet timbul karena hal-hal yang
terjadi pada pihak debitur, antara lain :
1. Kondisi Ekonomi Nasabah
Pada umumnya, yang meminjam uang pada lembaga perbankan adalah nasabah
menengah

kebawah.

Mereka

umumnya

adalah

petani,

pengusaha

kecil

dan

menengah. Dengan demikian, di dalam mengembangkan usahanya selalu tergantung


pada harga pasar yang berlaku.
2. Kemauan Debitur untuk membayar utangnya sangat rendah
Rendahnya kemauan debitur untuk membayar utangnya ini disebabkan karena jaminan
yang digunakan oleh mereka adalah tanah milik orang lain.
Penggunaan tanah milik orang lain adalah disebabkan pemilik tanah membutuhkan uang
juga.
3. Nilai jaminan lebih kecil dari nilai hutang pokok dan bunga
Pihak perbankan menilai jaminan yang dimiliki oleh nasabah debitur dianggap cukup untuk
melunasi utang pokok dan bunga. Namun pada saat dilakukan pelelangan nilai jaminan
tersebut tidak cukup untuk membayar utang pokok dan bunga debitur.
4. Usaha nasabah bangkrut
5. Kredit yang diterima nasabah disalahgunakan
Yang seharusnya untuk usahanya, namun disalahgunakan untuk keperluan lain.
6. Managemen usaha nasabah sangat lemah
Perlu adanya pengelola usaha yang mempunyai pengetahuan dan skill yang baik guna
berkembangnya usaha tersebut.
7. Pembinaan kreditor terhadap nasabah sangat kurang
Perlu adanya pembinaan dari kreditor terhadap nasabah debiturnya, pembinaan tersebut
berguna untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan , keterampilan dan lain
sebagainya.
8. Nasabah Beritikad Tidak Baik

Ada sebagian nasabah yang sengaja dengan segala daya upaya mendapatkan kredit
tetapi

setelah

kredit

diterima

untuk

kepentingan

yang

tidak

dapat

dipertanggungajawabkan. Nasabah sejak awal tidak berniat mengembalikan kredit


walaupun dengan resiko apapun, biasanya sebelum kredit jatuh tempo nasabah sudah
melarikan diri untuk menghindari tanggungjawab.
Kasmir juga mengemukakan bahwa timbulnya kredit-kredit bermasalah (macet) selain
berasal dari nasabah dapat juga berasal dari bank, karena bank tidak terlepas dari
kelemahan yang dimilikinya. Bank dapat merupakan salah satu penyebab terjadinya kredit
macet. Hal tersebut karena dalam melakukan analisis, pihak bank melakukan analisis
kurang teliti sehingga apa yang seharusnya terjadi tidak diprediksi sebelumnya. Dapat
pula terjadi akibat kolusi dari pihak analis kredit dengan pihak debitur sehingga dalam
analisisnya dilakukan secara subjektif.
Dari uraian-uraian tersebut di atas maka dapat diketahui bahwa kredit macet adalah
suatu keadaan dimana seorang nasabah tidak mampu membayar lunas kredit bank tepat
pada waktu yang telah diperjanjikan.
C. Penyelesaian Kredit Macet
Adanya kredit bermasalah apabila macet yang menjadi beban bagi bank menjadi
salah satu indikator penentu kinerja bank, oleh karena itu adanya kredit bermasalah
apabila macet memerlukan penyelesaian yang cepat, tepat dan akurat dan memerlukan
tindakan penyelematan dan peyelesaian dengan segera.
Tindakan bank dalam usaha menyelamatkan dan menyelesaikan kredit macet akan
sangat bergantung pada kondisi kredit yang bermasalah apabila macet itu sendiri. Untuk
menyelamatkan dan menyelesaikan kredit macet ada dua strategi yang ditempuh:
1) Penyelesaian kredit bermasalah melalui jalur non litigasi
Penyelesaian melalui jalur ini dilakukan melalui perundingan kembali antara Kreditor dan
debitor dengan memperingan syarat-syarat dalam perjanjian kredit. Jadi dalam tahap
penyelamatan kredit ini belum memanfaatkan lembaga hukum karena debitor masih
kooperatif dan dari prospek usahanya masih feasible. Penanganan kredit perbankan yang
bermasalah menurut ketentuan Surat Edaran Bank Indonesia No. 23/12/ BPP tanggal 28
Februari 1991 dalam usaha mengatasi kredit macet , pihak bank dapat melakukan
beberapa tindakan penyelamatan sebagai berikut:
a. Rescheduling/ penjadwalan kembali

Rescheduling merupakan upaya pertama dari pihak bank untuk menyelamatkan kredit
yang diberikan kepada debitor. Cara ini dilakukan jika ternyata pihak debitor (berdasarkan
hasil penelitian dan perhitungan yang dilakukan account officer bank) tidak mampu untuk
memenuhi kewajiban dalam hal pembayaran kembali angsuran pokok maupun bunga
kredit.
Rescheduling adalah penjadwalan kembali sebagian atau seluruh kewajiban debitor.
Hal tersebut disesuaikan dengan proyeksi arus kas yang bersumber dari kemampuan
usaha debitor yang sedang mengalami kesulitan. Penjadwalan tersebut bisa berbentuk :
a. Memperpanjang jangka waktu kredit
b. Memperpanjang jangka waktu angsuran, misalnya semula angsuran ditetapkan setiap
3 bulan kemudian menjadi 6 bulan
c. Menurunkan jumlah untuk setiap angsuran yang mengakibatkan perpanjangan jangka
kredit
b. Reconditioning
Persyaratan kembali (reconditioning), yaitu perubahan sebagian atau seluruh syaratsyarat kredit yang tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran, jangka waktu dan
atau persyaratan lainnya sepanjang tidak menyangkut perubahan maksimun saldo kredit.
Upaya penyelamatan kredit secara reconditioning bertujuan untuk :
- Menyempurnakan legal documentation.
- Menyesuaikan kemampuan membayar debitor dengan kondisi yang terjangkau oleh
debitor (angsuran pokok, denda, bunga, penalti dan biaya-biaya lainnya).
- Memperkuat posisi bank.
c. Recstructing
Lukman Dendawijaya mendefinisikan reksrtukturisasi yaitu usaha penyelamatan kredit
yang terpaksa harus dilakukan bank dengan cara mengubah komposisi pembiayaan yang
mendasari pemberian kredit.
Secara umum tujuan dilakukannya rekstrukturisasi kredit adalah meningkatkan
kemampuan debitor dalam membayar pokok dan bunga jaminan. Dalam melakukan
rekstrukturisasi kredit hal yang harus diperhatikan adalah prospek usaha dan itikad baik
debitor.

Restructing atau rekstrukturisasi menurut Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia


Nomor 31/150/KEP/DIR tanggal 12 November 1998 tentang Rekstrukturisasi kredit dalam
Pasal 1 huruf c adalah upaya yang dilakukan bank dalam kegiatan usaha perkreditan agar
debitor dapat memenuhi kewajibannya. Rektrukturisasi kredit dapat dilakukan dengan
cara-cara sebagai berikut :
a. Penurunan suku bunga kredit
Penurunan suku bunga kredit tidak dapat dikatakan sebagai rekstrukturisasi kredit apabila
penurunan dimaksud bertujuann menyesuaikan dengan bunga pasar yang pada saat
bersamaan juga mengalami penurunan. Kaitannya dengan Batas Maksimum Pemberian
Kredit (selanjutnya disingkat menjadi BMPK), perpanjangan jangka waktu yang
sebelumnya telah melampaui BMPK diberlakukan sebagai pelampauan BMPK yang wajib
diselesaikan dalam jangka waktu 9 bulan sedangkan penyertaan modal sementara dalam
rangka rektrukturisasi kredit dikecualikan dari perhitungan BMPK
b. Pengurangan tunggakan bunga kredit
kreditor dapat memberikan keringanan berupa mengurangi jumlah bunga yang tertunggak
atau menghapus seluruh tunggakan bunga kredit. Debitor dibebaskan dari kewajiban
membayar tunggakan bunga kredit sebagian atau seluruhnya. Langkah ini diambil agar
debitor mempunyai kembali kemampuan melanjutkan kegiatan usahanya sehingga dapat
digunakan membayar utang pokoknya.
c. pengurangan tunggakan pokok kredit
Kreditor dapat memberikan keringanan berupa mengurangi utang pokok yang tertunggak.
Langkah ini merupakan reksstrukturisasi yang paling maksimal yang dapat diberikan oleh
bank karena langkah ini biasanya diikuti dengan penghapusan bunga dan denda
seluruhnya.
Pengurangan tunggakan pokok ini merupakan pengorbanan yang tidak kembali dan
merupakan kerugian bagi bank.
d. Perpanjangan waktu kredit
Perpanjangan waktu kredit merupakan bentuk rekstrukturisasi kredit yang bertujuan
memperingan debitor untuk mengembalikan hutangnya.
Diharapkan dengan perpanjangan waktu ini dapat memberikan kesempatan kepada
debitor untuk melanjutkan usahanya sehingga pendapatan yang harusnya digunakan
untuk membayar hutang digunakan untuk memperkuat usahanya.
e. Penambahan fasilitas kredit

Dalam hal ini rektrukturisasi kredit dilakukan dengan cara penambahan fasilitas kredit
yang harus digunakan sesuai prosedur yang ketat dan terdapat agunan yang cukup.
Dengan adanya penambahan fasilitas kredit dimana debitor diberikan kredit lagi sehingga
utang menjadi besar nantinya diharapkan debitor dapat mempunyai kemampuan untuk
menjalankan kembali usahanya dan pendapatan dari usahanya dapat digunakan untuk
membayar utang lama dan utang baru.
f.

Pengambilalihan asset debitor sesuai dengan ketentuan yang berlaku

Pengambilalihan asset debitor sesuai dengan ketentuan yang mengacu kepada UndangUndang perbankan khususnya Pasal 12A yang mengatur kemungkinan Bank Umum dapat
membeli sebagian atau seluruh anggunan baik melalui penjualan umum atau pelelangan
ataupun diluar pelelangan berdasarkan penyerahan secara sukarela Namun kemudahan
ini oleh undang-undang diadakan pembatasan yaitu:
1. Agunan yang dapat dibeli oleh bank adalah agunan dari kredit macet
2. Agunan yang telah dibeli wajib dicairkan selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1
tahun
3. Dalam jangka waktu 1 tahun bank dapat menangguhkan kewajibankewajiban yang
berkaitan dengan pengalihan hak atas agunan yang bersangkutan sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku
g. Konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara pada perusahaan debitor
Pengurangan tunggakan bunga dan usaha lainnya tidak dapat dilakukan langkah ini
diambil setelah melalui analisi yang mendalam serta mempertimbangkan akan terjadinya
perubahan status bank terhadap debitor. Konversi kredit menjadi penyertaan modal
sementara

pada

perusahaan

debitor

hanya

dilakukan

apabila

dipenuhi

persyaratanpersyaratan tertentu, yaitu :


1. Jangka waktu penyertaan maksimum 5 tahun atau kurang dari 5

tahun apabila

perusahaan telah memperoleh laba selama 2 tahun berturut-turut.


2. Setelah 5 tahun harus dihapus bukukan. Dalam hal ini bank tidak perlu ijin Bank
Indonesia namun harus sesuai dengan anggaran dasar dan kebijakan masing-masing
bank. Selain itu juga harus memperhatikan BMPK. Konversi kredit harus dilakukan
oleh satuan kerja yang tersisa dengan satuan kerja pemberian kredit dan dipimpin oleh
pejabat yang memiliki kewenangan untuk melakukan negoisasi dengan debitor dalam
rangka konversi kredit.
2) Penyelesaian Kredit Bermasalah apabila macet secara Litigasi
a. Mengajukan gugatan ke pengadilan
a) Mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri dengan ketentuan Hukum Acara Perdata

Kreditor atau bank dapat memberikan somasi atau peringatan kepada debitor agar ia
memenuhi kewajiban, namun somasi secara yuridis tidak mempunyai akibat hukum yang
memaksa pada debitor. Apabila somasi itu tidak ditanggapi oleh debitor, maka kreditor
atau bank dapat melakukan gugatan ke Pengadilan Negeri. Kemudian apabila terbukti
hakim akan mengeluarkan keputusan Pengadilan yang tetap atau pasti. Namun bila
tergugat atau debitor tidak melaksanakan putusan pengadilan Kreditor atau penggugat
dapat mengajukan permohonan eksekusi dan melakukan sita eksekusi untuk selanjutnya
melelang harta tergugat sehingga hasil lelangan dapat digunakan untuk melunasi hutang
tergugat.
b) Eksekusi jaminan kredit
Mekanisme eksekusi jaminan kredit bila jaminan diikat secara formal atau melalui
bantuan notaris untuk membuatkan aktanya (grosse akta/ akta hipotek/ akta hak
tanggungan) maka kreditor cukup mengajukan permohonan eksekusi kepada pengadilan
yang berkompeten. Bila ternyata debitor tetap tidak melaukannya maka kreditor akan
memohon sita eksekusi. Kemudian dengan sita eksekusi tersebut juru sita pengadilan
melakukan sita jaminan yang biasanya disertai permohonan kreditor untuk pelelangan
jaminan. Lalu, pengadilan berdsarkan permohonan lelang dari kreditor akan menghubungi
kantor lelang untuk melaksanakan lelang atas jaminan tersebut. Setelah pelelangan
dilakukan, kreditor bisa mengambil pinjaman dengan perhitungan yang sudah diketahui
pengadilan dari harga jaminan yang terjual.

c) Parate Eksekusi Hak tanggungan


Pemegang hak tanggungan dapat memilih cara menjual lelang objek hak tanggungan
berdasarkan kekuasaan sendiri (Pasal 6 jo. Pasal 11 ayat (2e) Undang-Undang Nomor 4
Tahun 1996), maka pemegang hak tanggungan sama sekali tidak perlu berhubungan
dengan pengadilan. Kreditor pemegang Hak Tanggungan cukup meminta bantuan Kantor
Lelang Negara untuk menjual obyek hak tanggungan tersebut.
b. penyelesaian kredit perbankan melalui BPBN

Kredit bermasalah yang ada pada bank yang sedang dalam penyehatan berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 diselesaikan oleh suatu lembaga yang
disebut Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).
Piutang yang diurusi oleh BPPN dari Bank dalam Penyehatan meliputi :
1. Piutang yang sudah dialihkan kepada BPPN;
2. Piutang yang timbul sehubungan dengan Penanggungan hutang;
3. Penyerahan kekayaan oleh pihak lain kepada Bank Dalam Penyehatan atau BPPN
Tatacara BPPN dalam menjalankan tugasnya adalah :
1. Penerbitan Surat Paksa Penerbitan Surat Paksa diatur dalam pasal 56 ayat (1)
Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 1999, yang memiliki kekuatan eksekutorial dan
berkedudukan sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap. Penerbitan Surat Paksa ini dilakukan sepanjang debitor telah melalaikan
kewajiban membayar atau kewajiban lainnya berdasarkan dokumen kredit, dokumen
pemberian hak jaminan, pernyataan yang telah dibuat sebelumnya dan atau dokumen
lainnya dan kepada debitor atau penanggung hutang telah terlebih dahulu diberi surat
peringatan melalui surat tercatat untuk membayar atau dokumen lain yang nilainya
sama seperti itu.
2. Penyitaan
Dalam jangka waktu 1 (satu) hari setelah diterimanya Surat Paksa, BPPN berwenang
melakukan sita eksekusi atas seluruh kekayaan debitor termasuk yang berada di tangan
pihak ketiga kecuali barang-barang yang masih dibutuhkan untuk kelangsungan hidupnya.
Surat penyitaan harus memenuhi syarat Pasal 58 dan dilakukan oleh juru sita dibantu 2
(dua) orang saksi dan dituangkan dalam berita acara penyitaan. Berita acara penyitaan
diserhkan pada kantor pertanahan.
3. Pelelangan
Penjualan kekayaan miliik debitor yang telah disita dilakukan melalui pelelangan,
pembagian hasil pelelangan diserahkan untuk melunasi pemenuhan pembayaran piutang
negara terdahulu. Upaya hukum lainnya tidak dapat mencegah BPPN untuk mengambil
pelunasan piutang negara termasuk upaya hukum uuntuk mencegah atau menunda
pelaksanaan tindakan hukum lain. Wewenang BPPN juga adalah menerbitkan surat
pencabutan sita apabila debitor telah melunasi hutangnya, selanjutnya kantor pendaftaran
mencabut blookir dan mengangkat sita eksekusinya.
3) Penyelesaian kredit macet melalui PUPN dan BUPLN (Sekarang KPKNL).

Jika kredit bermasalah sudah dapat digolongkan sebagai kredit macet, makA untuk
bank-bank milik negara di Indonesia dapat menyerahkan penyelesaian kredit macet
kepada Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) dan Badan Urusan Piutang dan Lelang
Negara (BUPLN). Sekarang Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).
4) Penyelesaian kredit bermasalah melalui jasa pengacara.
Jalan ini dapat pula ditempuh oleh sebuah bank, hanya penyelesaian melalui jasa
pengacara akan membutuhkan biaya yang relatif lebih besar karena harus membayar
feenya, oleh karena itu sebelum memutuskan untuk menggunakan jasa pengacara, pihak
bank harus membandingkan dulu jumlah kredit tertunggak dengan besarnya biaya yang
harus dikeluarkan kemudian bagi pengacara.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Istilah kredit berasal dari bahasa latin credere yang berarti kepercayaan. Dapat
dikatakan dalam hubungan ini bahwa kreditur atau pihak yang memberikan kredit (bank)
dalam hubungan perkreditan dengan debitur (nasabah penerima kredit) mempunyai
kepercayaan bahwa debitur dalam waktu dan dengan syarat-syarat yang telah disetujui
bersama dapat mengembalikan kredit yang bersangkutan
Menurut Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang Perbankan, merumuskan
pengertian kredit adalah Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan
dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank
dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi hutangnya setelah jangka
waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Kredit mecet dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun
eksternal. Faktor internal penyebab timbulnya kredit macet yaitu penyimpangan dalam
pelaksanaan prosedur perkreditan, itikad kurang baik dari pemilik, pengurus, atau pegawai
bank, lemahnya sistem administrasi dan pengawasan kredit serta lemahya sistem
informasi kredit macet, sedangkan faktor eksternal penyebab timbulnya kredit macet
adalah kegagalan usaha debitur, musibah terhadap debitur atau terhadap kegiatan usaha
debitur, serta menurunnya kegiatan ekonomi dan tingginya suku bunga kredit.
Tindakan bank dalam usaha menyelamatkan dan menyelesaikan kredit macet
akan sangat bergantung pada kondisi kredit yang bermasalah apabila macet itu sendiri.
Untuk menyelamatkan dan menyelesaikan kredit macet ada dua strategi yang ditempuh:
1). Penyelesaian kredit bermasalah melalui jalur non litigasi
2). Penyelesaian Kredit Bermasalah apabila macet secara Litigasi