Anda di halaman 1dari 20

TEKNOLOGI PENANGANAN LIMBAH

A. PENCEMARAN RISIKO LINGKUNGAN, AKIBAT LIMBAH AGRO-INDUSTRI


1. Risiko apa yang kita hadapi setiap hari?
a. Risiko kimiawi : senyawa-senyawa kimia berbahaya yang terdapat di air, tanah, udara dan makanan.
b. Risiko fisik : mis. kebakaran, gempa bumi, letusan gunung berapi, kebisingan, radiasi ionisasi.
c. Risiko biologis : mis. patogen (bakteri, virus, parasit), sengatan lebah, gigitan ular beracun.
d. Risiko gaya hidup & sosial-budaya : mis. merokok, pola makan yang tidak sehat, keamanan tempat
kerja, kriminalitas, kemiskinan.
2. PENCEMAR
Suatu penambahan yang mengubah kondisi lingkungan (udara, air, tanah) atau makanan sehingga
berdampak negatif terhadap makhluk hidup.
Pencemar dapat berupa zat padat, cair, gas atau bentuk emisi energi yang tidak diinginkan (mis. panas).
Sebagian besar pencemar adalah zat padat, cair atau gas yang merupakan hasil sampingan atau
LIMBAH yang terbentuk ketika suatu sumber daya alam diekstraksi, diproses menjadi produk,
kemudian digunakan
3. LIMBAH BERBAHAYA & BERACUN :
Sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat
dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat
mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup,
kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain (U.U. R.I. No. 23/1997 Pasal 1 Ayat 18).
Limbah berbahaya & beracun mengandung zat-zat beracun, karsinogenik*, mutagenik* atau teratogenik*
pada tingkatan yang melampaui batasan yang ditetapkan, atau bersifat reaktif (mis. mudah meledak, mudah
tersambar api) atau korosif.
Pencemar kimiawi: mis logam berat beracun, senyawa organik sintetis.
Pencemar fisik: mis. radiasi, partikulat, gelombang elektromagnetik, panas, kebisingan, cahaya.
Pencemar biologis: mis. bahan menular (infectious agents)
Karsinogen: agensia (mis. senyawa kimia, radiasi, virus) yang menyebabkan atau merangsang
pertumbuhan tumor berbahaya (kanker) karena perbanyakan sel yang tidak terkendali;
Mutagen: agensia yang mengakibatkan mutasi atau perubahan dalam struktur molekul DNA;
Teratogen: agensia yang mengakibatkan kelainan atau cacat tubuh pada embrio makhluk hidup saat
pertumbuhan dan perkembangan dalam kandungan.
4. LIMBAH BAHAN BERBAHAYA BERACUN (B3)
Eksplosif
Korosif
Pengoksidasi
Mudah mengiritasi
Mudah terbakar
Karsinogenik
Beracun
Teratogenik
Berbahaya
Mutagenik

5.
6.
7.

8. Risiko KIMIAWI akibat pembuangan limbah


9. Kasus Minamata, Jepang: antara tahun 1932-1968, suatu industri petrokimia & plastik membuang 27
ton senyawa yang mengandung merkuri/raksa ke dalam perairan di Teluk Minamata. Penduduk sekitar yang
banyak memakan ikan di daerah tsb. menunjukkan gejala peracunan metilmerkuri. Pada tahun 1950an,
banyak penduduk yang mengalami kerusakan sistem saraf pusat (kerusakan otak, hilang kesadaran, kejangkejang).
10. Risiko FISIK akibat radiasi nuklir
11. Kasus kebocoran nuklir di Chernobyl, Rusia (1986): radiasi tinggi mencapai radius 30 km dan terdeteksi
sampai 5 tahun; kematian total + 16.000 jiwa. Efek radiasi terhadap manusia, a.l. adalah kerusakan pada
otak, mata, saluran pencernaan, sistem reproduksi, sumsum tulang dan sistem saraf, sistem peredaran darah,
serta bayi dalam kandungan (keterbelakangan mental).
12. Risiko BIOLOGIS akibat penyebaran penyakit
AIDS : virus yang menyerang sistem pertahanan tubuh; > 35 juta penderita di dunia; 2 juta meninggal
setiap tahun.
Tuberkulosis (TBC): penyebaran oleh bakteri; > 3 juta orang meninggal setiap tahun.
Malaria : karena protozoa & penyebaran oleh nyamuk: 300-500 juta penderita di dunia.
13.
14. PEMANFAATAN LIMBAH
Penggunaan kembali (Reuse)
15.
Menggunakan kembali untuk keperluan yang sama, tanpa pengolahan atau perubahan bentuk.
Daur ulang (Recycle)
16.
Mengolah limbah secara fisik atau kimiawi untuk menghasilkan produk yang sama atau produk
yang lain.
Perolehan kembali (Recovery)
17.
Memproses limbah untuk memperoleh kembali salah satu atau lebih materi/komponen yang
terkandung di dalamnya.
18.

B. IDENTIFIKASI JENIS LIMBAH


19.
20. PENGERTIAN LIMBAH
21. Sisa/buangan dari suatu usaha dan/atau kegiatan manusia
22. BAKU MUTU LINGKUNGAN
23. Ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau
unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur
lingkungan hidup.
24. PENGELOMPOKAN LIMBAH
Berdasarkan jenis senyawa
Organik
Non Organik (logam, gelas, kaleng dll)
Berdasarkan wujud
Cair
Domestik
Industri
Rembesan dan luapan
Air Hujan
25.
Aliran air hujan di permukaan tanah dapat melewati dan membawa partikel-partikel
buangan padat atau cair
Padat
Organik mudah busuk (garbage)
Organik tidak mudah busuk atau anorganik (rubbish)
Abu (ashes)
Sapuan (street cleaning)
Sampah industri (industrial waste)
Gas

26.
Berdasarkan sumber
Domestik (rumah tangga, pasar, restoran, kantor)
Industri
Pertanian (pestisida)
Pertambangan

27.
28.
C. LIMBAH INDUSTRI PANGAN
29.
30. LIMBAH
31. Adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi (rumah tangga, industri dan
pertambanganan)
32. Bentuk limbah :
33. 1. Gas (udara)
34. 2. Padat
35. 3. Cair
36. CIRI KHAS LIMBAH INDUSTRI PANGAN
Mengandung sejumlah besar karbohidrat, protein, lemak, garam-garam mineral dan sisa-sisa bahan
bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan dan pembersihan
37.
Contoh :
industri pengolahan susu , daging dan ikan
38.
industri pengolahan tahu , tempe dan sari buah
Menimbulkan bau dan polusi
Tidak berbahaya bagi kesehatan manusia
Kandungan bahan organiknya tinggi, sebagai sumber bahan makanan mikroba dalam air dan
mengurangi kandungan oksigen terlarut dalam air
Oksigen terlarut air normal = 8 ppm
Oksigen terlarut untuk kehidupan ikan = 5 ppm
Oksigen terlarut < 5 ppm , menyebabkan ikan dan biota air mati
39. BIOLOGICAL OXYGEN DEMAND = BOD
40. Kandungan bahan organik dalam cairan limbah
41. BOD = Jumlah oksigen terlarut yg dikonsumsi atau digunakan oleh kegiatan kimia atau mikrobiologis
Air yg diinkubasikan (keadaan gelap) selama 5 hari suhu 20 oC
Oksigen dibutuhkan untuk oksidasi bahan organik
BOD menunjukkan indikasi kasar banyak bahan organik
42. EUTROFIKASI
43. Peristiwa kelebihan nitrogen dan fosfat dalam air limbah industri pangan yang menyebabkan ekosistem
tidak seimbang dan ditandai dengan kekeruhan, sedimentasi, kenaikan suhu rata-rata melibatkan banyak
faktor :
Kekeruhan, sedimen, produktivitas, suhu rata-rata
Ganggang/algae penyebab eutrofikasi karena penambahan bahan organik dalam sistem
44. Keterangan Proses Eutrofikasi
Tingginya bahan organik dalam suatu cairan akan menyebabkan ledakan pertumbuhan populasi
ganggang
Pertumbuhan ganggang (siang dan malam) akan terjadi perbedaan besar kadar oksigen air.
Malam hari terjadi respirasi ganggang berlanjut dan terjadi pemecahan oksigen
Ganggang yang mati dibagian dasar danau dan dioksidasi bakteri, menghasilkan lumpur dan pemecahan
oksigen
Jika oksigen terlarut habis, karena kadar organik yg tinggi, maka akan timbul bau dan warnanya gelap

Jika protein larut air mengandung sulfur atau sulfat tinggi , maka akan menghasilkan hidrogen sufida
(bau busuk dan warna hitam)
Biota dan ikan diperairan akan mati
45. DEFINISI LIMBAH B3 ( MENURUT BAPEDAL , 1995) :
46. Setiap bahan (limbah) sisa suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun (b3) karena sifat toxicity, flammability, reactivity dan corosivity) serta konsentrasi atau jumlahnya
yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan, atau membahayakan
kesehatan manusia
47.

D. SIFAT -SIFAT LIMBAH INDUSTRI PANGAN


48.
49. SIFAT LIMBAH INDUSTRI PANGAN
Bervariasi kualitas dan kuantitasnya
Berbeban rendah, volume cairannya tinggi
Dari peternakan berbeban tinggi volumenya rendah
Mengandung bahan organik (karbohidrat, protein, lemak, mineral)
Sisa bahan kimia yg digunakan dalam pengolahan
50. CIRI-CIRI DAN MUTU AIR LIMBAH
Air murni (tidak berwarna, berasa, berbau. Terdiri hidrogen dan oksigen)
Sebagai pelarut , sehingga ada zat terlarut
Pencemar :
1. Ionik dan terlarut
2. Non ionik dan tidak terlarut
3. Gas-gas
51. SIFAT FISIK AIR LIMBAH
Penentuan derajat kotoran air limbah dipengaruhi oleh sifat fisik yang mudah terlihat
Penentuan sifat fisik penting :
52. Mengetahui kandungan zat padat sebagai efek estetika dan kejernihan , bau, warna dan suhu
53. PADATAN, DIBEDAKAN 6 BERDASARKAN SIFATNYA
1. Total padatan (total solid)
Sisa bahan yg tertinggal setelah airnya diuapkan pada suhu 105 o c selama 1 jam
Hasil penguraian komponen organik dan anorganik
Terdiri bahan padat tidak terlarut + senyawa yg larut dalam air
2. Padatan tersuspensi (suspended solid)
Sisa bahan yg tertinggal setelah airnya disaring dengan penyaring asbes atau gelas wool , kemudian
diuapkan pada suhu 105 oC selama 1 jam
Bahan tersuspensi akan tertinggal dalam penyaring asbes/glas
Bahan terlarut dan koloid akan lolos saringan
Padatan tersuspensi yang dapat terendapkan
Dilakukan untuk penjernihan air
Cara pengendapan menggunakan :
54. 1. Reaksi bahan kimia (koagulan)
55. 2. Adsorbsi
56. 3. Mendiamkan (settling) air dalam tabung/bejana
Alat yg digunakan untuk mengukur padatan terendapkan adalah tabung kerucut imhoff
Bahan padat terendapkan: bahan padat yg diambil dengan cara pengendapan
1. Padatan terendap (settleable solid)
Padatan tersuspensi yang dapat terendapkan dengan cara mendiamkan (settling) air dalam
tabung/bejana
Dilakukan untuk penjernihan air
Menggunakan reaksi bahan kimia (koagulan)
2. Padatan terlarut (dissolved solid)
Padatan yg terlarut di air dengan ukuran patrikel kecil sehingga lolos pada saringan asbes/gelas
Penentuan dengan menguapkan air dan menimbang residunya
Termasuk bahan organik dan anorganik (ca, mg, cl, hg)
3. Padatan yg menyebabkan kekeruhan
Disebabkan bahan bahan tersuspensi dan bahan koloid
Bahan tersuspensi : lumpur, tanah liat, mikrooganisme, bahan organik
Mengurangi kejernihan air
Pengukuran kekeruhan dengan turbiditimeter
4. Minyak/lemak (grease)
Dalam bentuk ikatan dengan ion ca atau mg, disebut sabun

57.

Minyak mengapung/menutupi permukaan lapisan air


Menghambat aerasi dari udara, air kekurangan oksigen, biota mati

58. Jenis padatan


1. organik
2. anorganik
59. WARNA AIR LIMBAH
Kuning, coklat, kehijauan
Air mengandung lumpur : kuning kecoklatan
Air mengandung fe/ tanin : coklat kemerahan
Warna air limbah :
True color : bahan yg terlarut dalam air
Apparent color: bahan yang terlarut dan tersuspensi
60. BAU
61. Adanya dekomposisi bahan-bahan dalam limbah (pertumbuhan alga, plankton, tumbuhan dan hewan
yang mati) bau sulfit : reduksi sulfat dengan bahan organik ( bakteri anaerobik) : h 2s, cadaverin, indol,
skatol, mercaptan bau ikan (fishy odor/ amis) : uroglena sp bau aromatik : asterionella sp
62. RASA
Disebabkan adanya bahan asing dalam air
Adanya zat kimia , senyawa fenol dan turunannya
Chlorinasi air , terbentuknya senyawa cloramin (r-nh-cl atau r-ncl2) hasil reaksi chlorin dengan
amoniak
Rasa fenol : dekomposisi senyawa tanin
63. ALKALINITAS
Kapasitas air untuk menetralkan asam-asam tanpa menurunkan ph larutan
Keasaman : jumlah kalsium karbonat yg dibutuhkan untuk menetralkan air
Fungsinya sebagai buffer (mempertahankan air dari keasaman)
Disebabkan adanya :
64. - ion bikarbonat (hco3-)
65. - ion hidroksida (oh)
66. - ion fosfat (po4 3-)
67. - ion silikat ( sio4 4- )
68. KESADAHAN
Kesadahan air tanah > 300 mg/l sebagai caco3
Air permukaan ; air lunak
Air operasi ketel : 50 mg/l sebagai caco3
Adanya ion ca dan mg terlarut dalam air
Air sadah bermasalah pada industri :
1. Timbulknya korosi pada alat
2. Kenaikan konsumsi sabun
3. Terbentuknya endapan/kerak
69. Golongan kesadahan air:
1. Kesadahan Sementara (Temporer)
70.
adanya kandungan garam carbonat (CO3-) dan H CO3-) bicarbonat dari Ca dan Mg
71.
CaCO3
+ CO2 + H2O
Ca (HCO3)
72.
(tidak Larut)
(larut)
73.
dapat dihilangkan dengan pemanasan (CaCO3) mengendap
74. 2. Kesadahan Tetap (Permanen)
75. SURFAKTAN
Zat yg dapat menurunkan tegangan permukaan (surface active chemical)
Zat yg membentuk busa dan mengganggu kehidupan lingkungan
Air limbah hasil sanitasi (pencucian)
Sabun, deterjen
Dapat dpecah (dihilangkan) oleh mikroorgasnisme
76. ThOD (Theoritis Oxygen Demand)
Kebutuhan Oksigen teoritis/yg larut dalam air dari hasil fotosintesa atau absorbs dari atmosfer


77.

Bila rumus kimia limbah diketahui, maka jumlah kebutuhan oksigen bisa dihitung untuk proses
fisiologis

Ex : glycine (CH2(NH2)COOH)
78. organic carbon dan nitrogen dikonversi menjadi carbon dioksida (CO2) dan amonia (NH3).
79. Amonia dioksidasi menjadi nitrit.
80. Nitrit dioksidasi menjadi nitrat.
ThOD adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk langkah tadi
81. BOD (Biological Oxygen Demand)
Kebutuhan Oksigen untuk proses penguraian senyawa organik secara biokimia pada kondisi aerobik
Menunjukkan kandungan senyawa organik (makanan bagi ragi bakteri) dan diperlukan untuk
menentukan tingkat pencemaran oleh senyawa organic yang dapat diuraikan oleh bakteri.
Mikroba mengoksidasi karbon dan nitrogen secara autotrof dan heterotrof
Prinsip Pengenceran sampel, inkibasi selama 5 hari pada suhu 200 C dan pengukuran Oksigen terlarut
sebelum dan sesudah inkubasi. (Oksigen terlarut dianalisa dengan metode winkler).
Dihindarkan dari sinar matahari untuk menghindari fotosintesis.
Nilai ini hanya merupakan indeks bahan organik yang dapat diurai secara biologis
Limbah cair domestik mengandung BOD 200 ppm
Limbah industri pangan BOD 1000 ppm
Kelemahan Uji BOD :
82. - Panjangnya fase lag tidak dapat diduga
83. - Fase stasioner yang tetap untuk mengetahui pengambilan oksigen dari bahan organik
84. Chemical Oxygen Demand (COD)
Kebutuhan oksigen secara kimia
Mengukur kebutuhan oksigen (proses oksidasi) yang digunakan untuk mengurai bahan organik secara
kimiawi menggunakan dicromat pada larutan asam
Waktu yg digunakan 2,5 jam
85. Total Organic Carbon (TOC)
Mengukur jumlah karbon total dalam air (bahan organik)
Diukur dengan mengkonversi karbon organik air limbah secara oksidasi katalitik suhu 900oC menjadi
CO2
Sebagai pengukuran pencemaran limbah cair secara cepat 15 menit
TOC berkolerasi dengan nilai BOD
86. Radioaktif
Air yg terpolusi radioaktif sangat berbahaya dan mengganggu kesehatan
Sinar UV, Infar merah, alfa, gamma
Benturan sinar gamma dengan air menyebabkan molekul air pecah dan menghasilkan ion radikal bebas
(o H) dan (o OH) sifatnya reaktif
Radikal bebas bisa bereaksi dengan O2 , bahan Organik, Bahan anorganik, ion yg terlarut dalam air
membentuk H2O2 (oksidator kuat) dan bahan beracun lainnya
o H dan o OH sebagai oksidator kuat
87. SIFAT BIOLOGIS AIR LIMBAH
Mengandung mikroba dari udara, tanah, tanaman, hewan mati, manusia dan bahan organik lainnya
Bakteri Coliform ( Salmonella Typhi, Escherichia coli) penyebab sakit perut
Bakteri Pseudomonas , Achromobacter, Micrococcus, Bacillus, Flavobacterium, Serratia, Clostridium
Bakteri pembentuk warna :
- Serratia marcecens (pigmen merah) /= Flavobacterium aurantiacum (pigmen oranye)
- Chromobacterium violaceum (pigmen violet)=/Pseudomonas Flourescens (pigmen hijau bercahaya)
88. Air tercemar mengandung :
Bakteri Aerobacter aerogenes, tumbuh pada tanaman dan hewan mati
Escherichia coli berasal dari kotoran manusia
Streptococcus
Jenis mikroba lebih diperhatikan daripada total mikroba
Setiap jenis mikroba mempunyai pengaruh
Penting dalam pengolahan limbah (proses pembusukan)
Ganggang (algae) memberikan rasa dan bau

Pertumbuan Ganggang dicegah dengan chlorin dan CuSO4


Protozoa (Entamoeba hystolitica) penyebab diare
Bakteri Crenothrix, menyumbat pipa-pipa pembuangan limbah
E. DASAR-DASAR PEMANTAUAN LIMBAH

89.
90. PENETAPAN ANALISA LIMBAH
Survey lokasi pencemar dan tercemar
91.
Wajib dilakukan untuk mengetahui kondisi lingkungan dan dampaknya terhadap lingkungan (yg
berdekatan dengan pemukiman)
92. Caranya :
1. Langsung (FISIK)
93.
- Melalui Indera (Bau Busuk, Rasa Tidak Enak, Kekeruhan, Pertumbuhan Algae, Kematian Ikan
1. Tidak Langsung
94. Keluhan penduduk sekitar, metode wawancara
Pemetaan (sketsa lokasi)
Penentuan titik sampling
Pengambilan sampel
Analisa laboratorium
95. PENGAMBILAN SAMPEL
REPRESENTATIF (TERWAKILI)
96. Misal : Mempelajari dampak air limbah terhadap kualitas sungai,
Harus diambil 2 lokasi (di Hulu dan hilir/Muara)
Lokasi Hilir/Muara lebih banyak diambil sampelnya
Sampel segera dibawa di laboratorium untuk dianalisa
97. PERSIAPAN PENGAMBILAN SAMPEL DAN PENGAWETANNYA
Botol yg digunakan mengambil sampel harus bersih
Pengambilan sampel pada kedalaman tertentu menggunakan botol tertutup dan akan terbuka dengan
sendirinya setelah direndam
98. GANGGUAN SELAMA PENYIMPANAN DAN PENGAWETAN SAMPEL :
Gas O2 dan CO2 yg dapat diserap atau dilepas dari sampel
Zat tersuspensi dan koloid dapat membentuk flok dan mengendap sehingga berbeda dengan konsisi
aslinya (harus disuspensikan)
Populasi bakteri berubah
Terjadi oksidasi zat terlarut (Mn 2+ menjadi MnO)
Beberapa zat terlarut berubah (Ca 2+ dan CO3 menjadi CaCO3)
99. CARA PENGAWETAN SAMPEL
Penyimpanan suhu 4 o C
Pengaturan pH (Penambahan bahan kimia H2 SO4 atau HNO3)
Penempatan dalam wadah kaca berwarna gelap (coklat, hitam)
100. PEMILIHAN TITIK PENGAMBILAN SAMPEL
Saluran kedalam < 5 m , aliran turbulen, sampel diambil atau 2/3 tinggi saluran berjarak minimal 10
cm dari tepi
Jika aliran sungai terpisah dan pada musim kering maka diambil pada lokasi yang alirannya paling besar
Anak sungai atau saluran pada muara laut, diambil cukup jauh dari muara
Debet badan harus terukur, untuk sumber pencemaran setempat (industri, RS, domestik), juga untuk
sumber pencemaran tersebar (drainase)
101. FREKUENSI SAMPLING
102.
Perubahan Waktu, Dipertimbangkan :
Sifat badan air
Sumber pencemaran
Adanya pengendapan atau erosi
Jenis aliran air (laminer atau turbulensi)
Kapsitas air limbah (waktu Puncak)
103.
Pemilihan frekuensi pengambilan sampel :

Sampel sesaat (grab) , volum sampel yg


diambil langsung dari badan air
Sampel sesaat tersusun (integrated)
104.

105.
106. FREKUENSI PENGAMBILAN SAMPEL
1. PERUBAHAN BEBAN PENCEMARAN (PUNCAK)
2. TUJUAN ANALISA

Mengetahui kualitas air permukaan sehingga dapat ditentukan peruntukannya sebagai,


misalnya air minum, air untuk rekreasi, air untuk industry, air untuk perikanan, air pertanian, dan
sebagainya

Membuktikan dan mengendalikan pencemaran

Menetapkan kebijakan pengelolaan air permukaan


3. PERALATAN
107. Alat pengambil contoh harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a) Terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi sifat contoh;
b) Mudah dicuci dari bekas contoh sebelumnya;
c) Contoh mudah dipindahkan ke dalam botol penampung tanpa ada sisa bahan tersuspensi di
dalamnya;
d) Mudah dan aman di bawa;
e) Kapasitas alat tergantung dari tujuan pengujian.
108. JENIS ALAT PENGAMBIL CONTOH
1. Alat pengambil contoh sederhana
Alat pengambil contoh sederhana dapat berupa ember plastik yang dilengkapi dengan tali atau
gayung plastik yang bertangkai panjang.
Botol biasa yang diberi pemberat yang digunakan pada kedalaman tertentu
2. Alat pengambil contoh air otomatis
Alat ini dilengkapi alat pengatur waktu dan volume yang diambil, digunakan untuk contoh gabungan
waktu dan air limbah, agar diperoleh kualitas air rata-rata selama periode tertentu
109. Alat pengukur parameter lapangan
pH meter;
konduktimeter;
termometer;
meteran;
water level meter atau tali yang telah dilengkapi pemberat dan terukur panjangnya; dan
Global Positioning System (GPS).
Alat pendingin Alat ini dapat menyimpan contoh pada 4C 2C, digunakan untuk menyimpan
contoh untuk pengujian sifat fisika dan kimia.
Alat penyaring, Alat ini dilengkapi dengan pompa isap atau pompa tekan serta saringan berpori 0,45
m.

Alat ekstraksi (corong pemisah), Corong pemisah terbuat dari bahan gelas atau teflon yang tembus
pandang dan mudah memisahkan fase pelarut dari contoh.
110. Persyaratan wadah contoh
Terbuat dari bahan gelas atau plastik poli etilen (PE) atau poli propilen (PP) atau teflon (Poli Tetra
Fluoro Etilen, PTFE);
Dapat ditutup dengan kuat dan rapat;
Bersih dan bebas kontaminan;
Tidak mudah pecah;
Tidak berinteraksi dengan contoh.
Pengambilan sampel
Analisa laboratorium
111.

F. METODE PENGOLAHAN LIMBAH


112.
1. Fisik: Penyaringan, penapisan/screening, presipitasi,flotasi, sentrifuge dan sedimentasi
2. Kimia:
Reaksi asam dan basa dan menetralkan bahan organik
Metode Fisikokimia
Menggunakan adsorbsi, penukar ion, osmosis
3. Mikrobiologis: Kombinasi Fisik, kimia dan mikrobiologis
113.
114.
FISIK
Pengolahan tahap awal

Bahan tersuspensi yg terapung disisihkan dengan penyaringan (screening)

Bahan tersuspensi mengendap dipisahkan dengan pengendapan (coagulation)

Disain proses pengendapan :


- Waktu pengendapan partikel
- Waktu detensi hidrolisis

115.
116.
PENGOLAHAN LIMBAH SECARA FISIKA DAN KIMIA
1. PENYARINGAN KASAR(SCREENING)
- Penyaringan kasar untuk memisahkan dari kotoran besar (daun, ranting dan benda-benda kasar), partikel
yang terapung
- Saringan kasar (terali besi) dipasang vertikal, dengan lobang ukuran 2,5 7,5 cm
- Dibelakangnya diberi saringan halus (saringan kasa kawat 2 mesh)
- Hasil saringan dimanfaatkan untuk kompos atau dilakukan pembakaran untuk meminimalkan jumlahnya
2. SEDIMENTASI BIASA (PLAIN SEDIMENTATION)KSI
- Cara pengendapan kotoran air dalam waktu dan tempat tertentu, tanpa penambahan bahan kimia
- Waduk , bak
- Partikel yang mengendap dipisahkan dengan pengerukan
- Kotoran yang mempunyai BJ > BJ air

Proses ini menghilangkan 50 % bahan tersuspensi dan 75 % bakteri (jika terbuka dan langsung dengan
sinarmatahari)
3. KOAGULASI (koagulan=cepat) DAN SEDIMENTASI
- Partikel kolloid tidak bisa dipisahkan dengan sedimentasi biasa
- Pemisahan dengan bahan kimia (koagulan), terjadinya flokulasi sehingga partikelnya besar (layer)
- Pemberian koagulan jika tingkat kekeruhan 30-50 ppm, waktu detensi = 2-6 jam
- Bahan koagulasi :
117. - Alum/tawas/alumunium sulfat (Al2(SO4) 3.18 H2O)
118. - Garam Fe, seperti (FeCl2; FeSO4.7H2O), Fe(SO4)3)
- Bahan tersebut aktif pada kondisi basa (pH 8-10)
- Jika asam ditambahkan CaO
4. Flokulasi
119.
Bentukan dengan penambahan polimer, agregat menjadi lebih besar, (lambat)
5. PENYARINGAN HALUS (FILTRATION)
- Kotoran halus ditahan dengan filter
- Proses filtrasi dengan mengalirkan air dalam lapisan bahan berpori (pasir diameter 0,25-0,35 mm,
antrasit)
- Ada 2 tipe filter :
120.
1. Filter Gravitasi
121.
- Filter pasir cepatPenyaringan besar-kecil
122.
- Fiter pasir lambatpenyaringan kecil-besar
123.
2. Filter bertekanan
6. DESINFEKSI
Menyisihkan bahan terapung minyak/lemak
Menyisihkan bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening)
dengan memberikan aliran udara keatas (air flotation)
7. FILTRASI
- Mendahului proses adsorbsi / reverse osmosis
- Untuk menyisihkan partikel tersuspensi sebelum memasuki proses adsorbsi
- Agar tidak menyumbat membran (proses osmosa)
8. ADSORBSI
- Untuk menyisihkan senyawa aromatik (fenol) dan bahan organik terlarut
- Dilakukan jika ingin menggunakan air buangan
9. AERASI
- Menghembuskan gas O2 melalui nozel bertekanan 1.05-1,4 kg/cm dalam air
- Tujuan mengusir gas C
- Memperbaiki rasa, bau
- Menghilangkan kelebihan besi menjadi feri
- Makin lama waktu aerasi nilai DO
meningkat
- Makin bertambahnya waktu aerasi,
BOD menurun
10. DESALINASI
- PROSES PENURUNAN KADAR
GARAM DALAM AIR
- CARA DESALINASI :
124. 1. DESTILASI
125. 2. ELEKTRODIALISIS
126. 3. OSMOSIS REVERS
127.
128.
Anoda (+) Na+/ Menangkap ion 129.
Katoda (-) Cl+/menangkap ion +
130.
Oksidasi = kehilangan elektron
131.
Reduksi= Ketambahan elektron
132.
133.

134.
135.
136.
137.
138.
KIMIA
139.
Untuk menghilangkan partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor,
zat organik yang beracun

Dilakukan memberikan bahan kimia

Prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan


- Flokulasi
- Reaksi oksidasi
1. KOAGULASI DAN FLOKULASI
Bahan tersuspensi larut (koloid) ditambahkan bahan kimia yang mempunyai muatan berlawanan agar
terjadi netralisasi dengan muatan kolloid, sehingga mudah mengendap
Penyisihan logam berat dan fosfor dilakukan dengan menambahkan larutan alkali (larutan caoh)
sehingga terbentuk endapan hidroksida logam dan hidrosiapatit
Endapan logam lebih stabil pada ph > 10,5
Endapan hidrosiapatit stabil pada ph >9,5
Senyawa Crom Heksavalen Harus Dirubah Menjadi Crom Trivalen Dengan Penambahan Reduktor
(FESO4, SO2, NA2S2O5)
Selanjutnya dirubah menjadi Cr(OH) 3
Penyisihan bahan organik beracun, senyawa fenol dan sianida konsentrasi rendah dengan mengoksidasi
Cl2, Kalsium permangkat, aersai, ozon , H2O2
Pengolahan secara kimia efisien, tapi biaya mahal
2. DESINFEKSI
Hasil perlakuan fisik masih mengandung bakteri
Perlu pembebasan air dari bakteri menggunakan bahan kimia atau fisik
Desinfeksi : membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara
fisik
Proses desinfeksi atau sterilisasi, merupakan tindakan terakhir dari pengolahan air
Syarat bahan kimia yang digunakan :
1. Tidak boleh membahayakan manusia
2. Dapat diterima oleh masyarakat
3. Mempunyai efek desinfeksi yg lama
3. PELUNAKAN
Air sadah = air yang mengandung garam sulfat
Prinsip pelunakan air secara kimia kedalam air sadah, bahan penyadah yg larut dalam air menjadi tidak
larut dan mengendap
Metode Pelunakan air :
140.
1. Proses kapur
141.
2. Proses kapur soda
142.
3. Proses zeolit [Na2(Al2SiO3O10).2H2O ]
143.
4. Proses kapur - zeolit
144.
5. Proses pemanasan
145.
Ca(HCO3)2 (aq) > CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)
146.
BIOLOGI
Air limbah biodegradable dapat diolah secara biologi, yaitu: oleh ganggang, mo dan virus

Pengolah sekunder menggunakan reaktor

Biaya murah dan efisien

Trickling filterbakteritabungdisemprotkan (media yang dilekati oleh mikrobia) yang berfungi


untuk menguraikan bahan organic yang ada dilimbah dan menghasilkan bahan yang diteima oleh
lingkungan.

Cakram biologis Dilekati oleh biofilm oleh bakteri yang menempel sehingga bahan organic dalam
limbah menyentuh cakram, terkena bakteri dan terurai.
Lumpur aktif Lumpur yang didalamnya terdapat mo sehingga tidak mencemari lingkungan.
REAKTOR BIOLOGI , dibedakan 2 jenis :
a. REAKTOR PERTUMBUHAN TERSUSPENSI
147.
(SUSPENDED GROWTH REACTOR)
b. REAKTOR PERTUMBUHAN LEKAT
148.
(ATTACHED GROWTH REACTOR)
149.
6 TAHAP PENGOLAHAN LIMBAH CAIR
1. Penanganan pendahuluan (pre treatment)
- Penyaringan kasar untuk memisahkan dari kotoran besar (daun, ranting dan benda-benda kasar),
partikel yang terapung
- Saringan kasar (terali besi) dipasang vertikal, dengan lobang ukuran 2,5 7,5 cm
- Dibelakangnya diberi saringan halus (saringan kasa kawat 2 mesh)
- Partikel yang mengendap dipisahkan dengan pengerukan
- Hasil saringan dimanfaatkan untuk kompos atau dilakukan pembakaran untuk meminimalkan
jumlahnya
2. Penanganan primer (primary treatment)
- Benda-benda yang belum terpisah, diendapkan dengan penambahan bahan kimia tertentu
- Bisa ditambahkan proses penghembusan udara sehingga partikel dapat mengapung dan mudah untuk
diambil
3. Penanganan sekunder (secondary treatment).
- Menurunkan BO (bahan organik) atau TTS (total padatan terlarut) dengan perlakuan kimia/biologis
- . Selanjutnya bila diperlukan dapat diteruskan dengan pengolahan tersier Limbah yang mengandung
bahan organik dikurangi dengan bantuan mikroba
- Mikroba berasal dari limbah atau ditambahkan dari luar
- Mikroba bersifat aerobik atau anaerobik.
4. Disinfeksi (disinfection).
150. Pada proses disinfeksi, mikroba direduksi konsentrasinya dan mikroba patogen dihilangkan.
Caranya dapat dengan cara fisik menggunakan pemanasan atau dengan cara kimia dengan penambahan
bahan disinfeksi. Disinfektan yang digunakan dapat berupa klorin, iodium, dan ammonium kuartener.
Klorin merupakan bahan disinfektan yang banyak digunakan dan selain sebagai disinfektan, klorin juga
berguna menghilangkan bau limbah.
5. Penanganan tertier (tertiary treatment).
151. Pada penanganan tertier, biasanya digunakan berbagai jenis saringan seperti saringan pasir,
saringan multi media, saringan mikro, saringan vakum dan berbagai jenis saringan lainnya tergantung
dari kebutuhan.
152. Dilakukan bila efluen akan dimanfaatkan kembali. Merupakan kombinasi perlakuan fisik, kimia,
dan biologis. Menurunkan N, P, atau komponen beracun lainnya.
6. Penanganan lanjutan (extended treatment).
153. Proses ini bertujuan untuk menangani hasil pengolahan limbah yang meliputi proses pemekatan,
penstabilan, pengeringan dan pembuangan. Misalnya proses pemanfaatan lumpur yang dihasilkan dari
penanganan limbah untuk suatu keperluan yang bermanfaat. Lumpur dapat digunakan untuk pupuk atau
untuk penimbun lubang.
154.
155.
156.
G. PENGOLAHAN LIMBAH SISTEM KOLAM (LAGUN)
157.
158.
Kolam fakultatif / oksidasi / stabilisasi
Kolam yg mempunyai kondisi aerobik pada lapisan atas dan proses anaerobik pada lapisan dasar (padatan
yang mengendap) dan dalamnya masih bias ditembus oleh oksigen
Konsentrasi limbah 50 lb/BOD/are (0,4646 ha/hari) dan efluen mempunyai konsentrasi BOD dalam kisaran
20-40 mg/l
Kolam dangkal < 2 m ,struktur tanggul dengan permukaan luas untuk mempertahankan kondisi aerob
Daerahnya datar dan biayanya murah

Efluennya stabil
Kendalanya :
c. Membutuhkan lahan yg luas
d. Sistem cenderung anaerobik bila bahan organik berlebihan
e. Terjadi perubahan suhu
f. Timbul bau (dicegah dengan penambahan oksidator)
g. membutuhkan waktu lama (minggu bulan)
Untuk pengolahan limbah pengalengan dan bir
159.
REAKSI BIOKIMIA
Bakteri dan Ganggang sebagai mikroorganisme kunci

Bakteri heterotrof bertanggung jawab untuk memecah bahan organik

Sebagian mengendap terjadi proses anaerobik

Urutan reaksi biokimia :


160.
1. Bahan organik masuk kolam, dimetabolisme oleh bakteri
161.
2. Produk CO2. ion NH4, NO3, PO4 digunakan pertumbuhan ganggang + energi sinar matahari
162.
3. Hasil O2 digunakan oleh bakteri
163.
KOLAM AEROBIK

Mampu mengubah bahan organik limbah yg tidak stabil menjadi sel ganggang

Proses penanganan tidak sempurna,bila sel ganggang tidak dihilangkan dari efluen

Mampu menghilangkan bod 95 %


164.
LAGUN ANAEROBIK
Unit yg diberi muatan limbah , sehingga aerasi terdapat dalam permukaan dan aktivitas fotosistesis tidak
dapat mempertahankan kondisi aerobik
Tujuan :
165.
Desktruksi dan stabilisasi bahan organik
Digunakan sebagai sedimen primeruntuk mengurangi beban pada unit selanjutnya
Fraksi padatan terdekomposisi secara anaerobik
Tidak membutuhkan lahan yg luas
Kedalaman tidak dibatasi oleh penetrasi cahaya
Kegagalan : laju muatan yg beragam
Pemasangan dan pemeliharaan yg cocok untuk metabolisme biologis yg optimum memegang peranan
penting untuk menentukan keberhasilan
Pengendalian ph, alkalinitas, suhu, pengadukan
Kondisi tidak seimbang sering terjadi pada awal kerja lagun anaerobik bila ada perubahan lingkungan yg
mendadak
Bahan yg ditambahkan : kapur, naco3, nh4co3,
Konversi limbah menjadi gas (gas metana 70 %) dan gas co2 dan n2
Suhu faktor terpenting , suhu panas
Jika suhu dingin akan terjadi endapan
Instalasi dibangun dibawah tanah dan terbuka
Baik untuk daerah beriklim panas
Digunakan untuk limbah peternakan , pengalengan daging, pemotongan
Lagun anaerobik, diikuti dengan lagun aerobik akan mampu menghilangkan 80-99 % bod
166.
LAGUN AERASI
Berbeda dengan kolam oksidasi, dilengkapi oleh alat untuk mempertahankan kondisi aerobik
Keuntungan
a. Adanya suplay oksigen kontinue
b. Dapat menangan banyak air limbah
c. Untuk memperbaiki mutu efluen dari kolam oksidasi yg bebannya berlebihan
d. Lebih ekonomis
e. Tidak memerlukan penananan pendahuluan
167.
INSTALASI LAGUN AERASI
1.
Laju reaksi biologis
2. Suhu

3.
4.
5.
6.

Kebutuhan oksigen
Sintesis dan oksidasi
Kebutuhan pengadukan
Keseimbangan ph dan nutrisi
Sifat mikroba menyerupai unit lumpur aktif kolam oksidasi
Ganggang tidak diperlukan
Unit penanganan limbah cair yg encer , teraduk dengan baik, bekerja tanpa daur ulang padatan
Waktu detensi 1 10 hari
Laju muatan dinyatakan dengan kebutuhan oksigen per unit volume per hari (lb BOD/1000ft/hari)
Penghilangan BOD 50-70% jika padatan terlarut tidak dipisahkan