Anda di halaman 1dari 47

Seri Memorial Ansari

Khilafah, Hijaz dan


Negara Saudi-Wahabi

Imran N. Hosein

Masjid Darul Quran, Long Island, New York

Hak cipta dilindungi oleh penulis


Pertama kali diterbitkan tahun 1996 oleh
Masjid Darul Quran,
1514 East Third Avenue,
Bayshore, NY 11760
Amerika Serikat

Email : inhosein@hotmail.com
Web : http://imranhosein.org

Didedikasikan untuk saudaraku


Abid Siddiqui
Di Muslim Center of New York

Daftar Isi

Pengantar
Pendahuluan
Bab 1

Diplomasi Inggris dan Serangan terhadap Khilafah

Bab 2

Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah dan Bangkitnya Negara

Saudi-Wahabi
Perang Dunia Pertama dan Pembubaran Khilafah Utsmaniyah
Nasionalis Turki dan Khilafah
Tanggapan Universitas Al Azhar tentang Kehancuran Khilafah
Utsmaniyah
Bab 3

Konferensi Khilafah, Kairo. Mei 1926.

Bab 4

Alternatif Saudi-Wahabi yang Licik terhadap Khilafah

Kongres Muslim Sedunia, Mekkah. Juni-Juli 1926


Bab 5

Dunia Islam Konservatif, Upaya Kebangkitan Dunia Islam :

Kongres Islam Umum. Yerusalem. Desember 1931.


Kesimpulan
Catatan

Pengantar

Buku ini merupakan terbitan ketiga dalam Seri Memorial Ansari,


diterbitkan untuk menghormati guru saya Sheikh Maulana Dr. Muhammad
Fazlur Rahman Ansari (1914-1974). Dua terbitan sebelumnya yang berjudul:
The Religion of Abraham and the State of Israel A View from the Quran,
dan The Importance of the Prohibition of Riba in Islam.
Banyak penelitian yang dilakukan untuk buku ini pada tahun 19751979 di Perpustakaan PBB di Palais des Nations, Geneva, ketika saya kuliah
di Institut Pasca-sarjana Studi Internasional jurusan Hubungan Internasional,
Geneva, Swiss.
Pada saat penulisan ini, kami mengalami yang situasi semakin
memburuk di Dunia Muslim dalam konflik berdarah dengan penderitaan yang
tak permah terbayangkan terhadap Muslim di Bosnia, Kashmir, Algeria,
Palestine, Chechnya dll. Dulunya ada 50.000 Muslimah diperkosa di Bosnia,
dan saat itu cerita horor tentang seorang anak yang dipaksa menggigit testis
Ayahnya di Bosnia, dan Muslim yang tidak bersalah Sheikh Omar Abdul
Rahman, yang dihukum penjara seumur hidup di Amerika Serikat (karena dia
menimbulkan ancaman bagi rezim sekuler pro-barat yang memerintah
Mesir), dan dipermalukan secara seksual oleh para penjaga penjara setiap
kali dia memiliki pengunjung.
Sekarang saya yakin waktunya telah tiba untuk menulis buku ini agar
bisa dibaca oleh masyarakat Muslim yang kini mungkin cukup terguncang
melihat

ketidakberdayaan

kita.

Sebagai

akibatnya,

mereka

mungkin,

membawa buku ini dengan serius dan menolak mengharapkan aksi protes
dari

para cendekiawan dan pemerintah yang mereka dukung, di seluruh

dunia Muslim!

Saya berdoa kepada Allah semoga menerima dan merahmati upaya


yang sederhana ini dalam mengungkap Kebenaran. Semoga dapat membuka
mata Muslim dunia terhadap fakta bahwa rezim Saudi-Wahabi yang kini
sedang menguasai Haramain dan Hijaz memainkan peran aktif dalam
kehancuran Khilafah Islam dan sejak saat itu merupakan sebuah halangan
bagi kebangkitan umat. Aamiin !

I.N.H
Masjid Dar al-Quran
November 1996. Jumadi al-Thani 1417

Khilafah, Hijaz dan Negara Wahabi-Saudi

Pendahuluan
Salah satu karakter utama agama Islam adalah keteguhan, yang mana
ketika seseorang megakui Allah SWT sebagai yang paling berdaulat (alMalik) maka mereka harus memastikan Negara beserta lembaganya tunduk
pada kewenangan tertinggi dan hukum tertinggi milik Allah. Jika negara
diakui sebagai berdaulat dibandingkan Allah, berarti itu adalah inti dari
sekularisme, Islam menyebutnya sebagai perbuatan Syirik (penghujatan)
dan itu adalah dosa terbesar.
Secara universal di seluruh dunia saat ini, Negara sekuler modern
diakui sebagai yang berdaulat. Kewenangannya diakui sebagai yang
tertinggi, serta juga hukumnya. Dan, umat manusia di seluruh dunia saat ini
dipenuhi

oleh

Syirik

(penghujatan)

politik

yang

universal.

Pada

kenyataannya, saat ini salah satu tanda utama bahwa kita sekarang hidup di
zamannya Dajjal, Mesiah palsu atau Anti-Kristen, yang menipu manusia agar
menyembah selain Allah SWT. Dialah Dajjal, dalang di balik tatanan dunia
saat ini yang mana Hadits menyebutkan bahwa 999 dari 1000 orang di akhir
zaman akan masuk ke dalam api neraka. Tapi bahkan Muslim pun tampaknya
tidak menyadari hal ini.
Sejak Muslim mengakui Allah sebagai yang paling berdaulat, Muslim
tidak

pernah

Pemerintah,

mengakui

dll,

Konstitusi,

sebagai

yang

Parlemen,

paling

Mahkamah

berdaulat.

Tertinggi,

Kedaulatan

Allah

menunjukkan keagungan agama Islam, dan khususnya, hukum agama atau


Syariah. Lembaga Khilafah melambangkan keagungan Islam atas Negara dan
kehidupan masyarakat. Khalifah, seorang yang dikenal sebagai Amir atau
Imam,

kepala

Jamaah

atau

komunitas

Muslim.

Mereka

(penduduk)

bersumpah setia kepadanya melalui lembaga baiat. Jamaah yang berada di

wilayah yang ditetapkan Darul Islam. Hal tersebut ditetapkan karena Amir
memiliki kebebasan dan kewenangan untuk menegakkan hukum suci Allah di
wilayah tersebut.
Peradaban Kristen-Eropa dulunya juga mengakui kedaulatan tuhan.
Bagaimanapun, dalam peradaban tersebut, Gereja diakui sebagai wakil
Tuhan di bumi, dan dengan demikian Negara tunduk kepada Gereja.
Tapi Eropa mengalami konflik antara agama dan Negara yang
mengakibatkan kekalahan pada pihak Gereja. Konsekuensinya adalah Eropa
mengalami transformasi revolusi di setiap dasar-dasar peradaban hingga
menjadi Negara dan politik yang sekuler. Bab terakhir dari konflik tersebut,
yang menghilangkan agama di Eropa, dan membawa peradaban yang pada
dasarnya tak bertuhan, seperti di Amerika, Perancis dan Revolusi Bolshevik.
Ranah agama berubah menjadi ibadah individu dan kelompok semata, dan
Paus serta Kristen-Eropa dikeluarkan dari perannya dalam aktivitas Negara.
Tuhan tidak lagi diakui sebagai yang paling berdaulat (al-Akbar). Sebaliknya,
manusialah yang berdaulat, dan mereka memberikan kedaulatan itu ke
dalam model sekuler baru sebuah negara. Sekarang, negaralah yang
berdaulat. Bagi Eropa itu adalah sekularisme. Dalam agama Islam, ini adalah
syirik, syirik adalah sebuah perbuatan dosa yang terbesar dari semua dosa !
Aneh

kalau

orang

Kristen

non-Eropa

tidak

berjuang

melawan

kehancuran model suci dari Negara yang diciptakan oleh para Nabi Daud as
dan Sulaiman as.
Peradaban Eropa yang tak bertuhan telah melancarkan perang salib
untuk merubah seluruh dunia dan membentuk kembali model Eropa baru
menjadi Negara sekuler dan masyarakat yang tak bertuhan. Seluruh dunia
dijajah atau kebebasan hakikinya direnggut. Dan begitu juga dunia nonEropa, dan pada akhirnya dengan cepat merubahnya menjadi sekuler dan
masyarakat yang tak bertuhan. Termasuk dunia Islam. Bahkan dunia Islam
menjadi target khusus peradaban Eropa tak bertuhan.

Proses melemahnya fungsi dunia Islam ini hingga menjadi masyarakat


tak

bertuhan berawal dari sekularisasi kehidupan masyarakat biasa.

Kesultanan Utsmaniyah (Kekaisaran Ottoman) menjadi targetnya. Sesuatu


yang harus dilenyapkan. Tapi tidak bisa dihancurkan selama Khilafaah
menjadi sebuah lembaga persatuan yang kuat bagi umat Islam. Maka
Khilafah harus dihancurkan.
Kehancuran Kesultanan Utsmaniyah, yang terkena dampak dalam
Perang Dunia Pertama, mengakibatkan lahirnya Negara sekuler Turki.
Pemerintahan yang didasari dari nasionalis sekuler Turki yang kebaratbaratan yang bekerja sama dengan pergerakan Yahudi bawah tanah.
Pertama mereka merubah Khilafah menjadi

sebuah departemen yang

menyerupai Paus, dan kemudian melenyapkannya. Tapi proses sekularisasi


dalam dunia Islam terjadi ketika Hijaz, yang berada di bawah kendali Abdul
Aziz ibn Saud, juga mengikuti langkah Mustafa Kemal Atatrk yang
membangkang terhadap keagungan Islam atas Negara. Begitu pula Arabia,
yang merupakan jantung Islam, juga memeluk model Negara skuler. Lahirnya
Negara Arab Saudi bertepatan dengan kehancuran Darul Islam yang telah
didirikan oleh Nabi Muhammad saw.
Seraya Hijaz menjadi Darul Islam, setiap Muslim memiliki hak untuk
memasukinya, - yang mana tidak harus memiliki visa. Seharusnya tidak ada
sebenarnya

kedaulatan

Saudi

seperti

itu.

Seharusnya

tidak

ada

kewarganegaraan Saudi. Hak untuk memasuki setiap bagian Darul Islam


adalah salah satu dari beberapa hak yang dimiliki setiap Muslim, seperti hak
untuk hidup di wilayah Darul Islam, - mereka tidak perlu memiliki izin
menetap, juga hak untuk mencari mata pencaharian di setiap bagian dari
Darul Islam, umat Islam tidak membutuhkan izin kerja dan yang lainnya.
Kelahiran

Negara

Arab

Saudi

mengakibatkan

penghapusan dari semua hak-hak umat Islam.

pengingkaran

dan

Kehancuran Khilafah dan lahirnya Negara Arab Saudi merupakan


peristiwa yang merubah wajah dunia Islam menjadi sedemikian rupa hingga
kembali ke tahap pra-Hijriah peradaban Islam. Tidak ada lagi di dunia ini
yang berwujud Darul Islam.
Seharusnya, kita percaya, kebenaran untuk menyatakan bahwa
perbedaan mendasar Darul Islam antara Islam pra-Hijriah dan pasca-Hijriah
yang didirikan oleh Nabi Muhammad saw di Madinah. Tapi dunia Islam,
seperti bagian dari dunia non-Eropa, yang saat ini telah berada dalam sistem
sekuler dan materialis organisasi politik yang dibentuk dari unit negaranegara sekuler modern. Sebagai akibatnya, Darul Islam tidak ada lagi saat
ini, bahkan di Mekkah dan Madinah. Oleh karena itu kita dibenarkan dalam
menyimpulkan bahwa

dunia

Islam sebenarnya

telah

kembali, dalam

keberadaan yang kolektif sebagai umat, kembali ke peradaban jahiliyah.


Tampaknya, peradaban Islam sekarang telah memasuki era tanpaKhilafah dalam sejarahnya. Dan seperti di Mekkah 1400 tahun yang lau,
demikian juga saat ini, - masyarakat Muslim di seluruh dunia diselimuti
Jahiliyah yang meliputi segala hal yang mendominasi dunia. Jahiliyah
tersebut, tentu saja, adalah peredaban Barat modern sekuler dan materialis.
Mungkin, dengan rujukan khusus untuk zaman ini, yang mana Nabi
Muhammad saw bersabda : Barangsiapa yang mati dan dilehernya (selama
hidupnya) tidak ada baiat (sumpah setia rakyat untuk posisi kepemimpin
atas umat yang dilegitimasi) maka dia mati dalam keadaan jahiliyah (yaitu,
kematian pada Jahiliah pra-Hijriah) H.R Muslim.
Hadits ini dianggap shahih dan sangat penting ini dulunya digunakan
Universitas Al-Azhar untuk membenarkan seruan Konferensi Khilafah Islam
internasional di Kairo yang akan merespons dengan cara yang sesuai
terhadap keputusan Majelis Nasional Grand Turki, Maret 1924, yang
menghapus Khilafah.

Konferensi tersebut, diadakan pada tahun 1926, menganut resolusi


yang menyatukan sabda Nabi Muhammad saw dan menegaskan perlunya
lembaga Khilafah, dan karenanya, Tatanan Publik Islam, untuk dunia Islam.
Tantangan yang dihadapi umat saat ini adalah sederhana dan jelas.
Mencoba untuk menyusun kembali gerakan yang sesungguhnya dari umat,
dengan demikian, harus mengunjungi Madinah dari Mekkah sekali lagi.
Dalam melakukannya umat akan disadarkan ulang dalam pembentukan
Darul Islam (Tatanan Publik Islam). Jika umat ini pernah berhasil dalam
memulihkan keagungan Islam atas Negara di dunia Islam, juga sangat
penting kalau umat Islam menyadari sejarah runtuhnya Khilafah dan
penggantinya, di jantung Islam, yang dilakukan oleh Negara Saudi-Wahabi.
Studi ini bahkan lebih strategis karena musuh yang menghancurkan
Khilafah sekarang mengarahkan pandangannya pada ibadah Haji. Haji telah
dilaksanakan tanpa henti sejak diamalkan oleh Nabi Ibrahim as ribuan tahun
yang lalu. Haji terus dilakukan bahkan ketika tanah Arab penuh dengan
berhala. Musuh-musuh Islam sekarang memiliki salah satu tujuan jangka
panjang, yaitu penghentian ibadah Haji.
Abu Said al-Khudri meriwayatkan Hadits Nabi Muhammad saw bahwa
Rasulullah saw bersabda :
Abu Sa'id al-Khudri r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, "Sungguh
Baitullah akan dipakai untuk berhaji dan umrah bahkan setelah keluarnya
Ya'juj dan Ma'juj. Riwayat Shuba menambahkan "Tidak akan terjadi hari
kiamat sehingga ibadah haji ditinggalkan.")
Shahih Bukhari 1593
Studi kami tentang perihal tersebut telah menuntun kami untuk
menyimpulkan bahwa tujuan penghentian ibadah Haji sekarang berada
dalam cengkraman musuh-musuh Islam. Semua yang diperlukan untuk
mencapai tujuan tersebut adalah dengan menghancurkan Masjid al-Aqsa.

Negara Yahudi Israel bisa melakukannya kapan saja. Ini hanya persoalan
kapan waktu yang tepat. Saat ini, rezim Saudi dengan liciknya ditarik ke
posisi

non-reversibel

yang

berhadap-hadapan

dengan

Negara

Yahudi.

Penghancuran Masjid al-Aqsa akan menghasilkan perlawanan yang lebih


besar terhadap Saudi. Mereka tidak akan mampu mengendalikan kemarahan
umat Islam pada saat ibadah Haji. Namun jika mereka diketahui tidak
mampu mengendalikan ibadah Haji maka oposisi internal dalam Arab Saudi
akan efektif menggunakan ibadah Haji dalam mengacaukan rezim. Inilah
skenario

yang

kemungkinan

besar

akan

mengarahkan

Saudi

untuk

menghentikan ibadah Haji dalam mempertahankan kekuasaan mereka.


Jika setelah kehilangan Khilafah, dunia Islam kehilangan ibadah Haji,
maka ini merupakan satu langkah besar menuju Jahiliah Mekkah sebelumHijriah. Kondisi keamanan kita akan menjadi genting seperti Mekkah
sebelum-Hijriah. Hanya Iman yang terkuat yang akan bertahan selama
cobaan yang mengerikan itu! Apa yang bisa kita lakukan ? Langkah pertama
yang harus diambil adalah mempelajari dan mengevaluasi secara kritis
terhadap sejarah ketika Khilafah lenyap. Inilah apa yang ingin kami
sampaikan dalam buku ini.

Bab 1
Diplomasi Inggris dan Serangan Terhadap Khilafah

Allah SWT mengirim agama Islam yang telah sempurna melalui Nabi
Muhammad saw agar bisa mendirikan keagungan agama Islam. Terlebih
dahulu harus memperoleh pengakuan dari umat, atas keagungan Islam baik
itu dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan umat Islam.
Departemen Khilafah berfungsi sebagai simbol utama Islam sebagai
kekuatan yang dominan di kehidupan masyarakat. Tanpa Khilafah, dunia
Islam

tidak

akan

memiliki

kekuatan.

Bagaimanapun,

ada

hubungan

permanen antara Khilafah dan kekuasaan atas Haramain, yaitu daerah suci
di Mekkah dan Madinah. Barangsiapa yang berhasil memutuskan hubungan
itu, mereka akan bisa melumpuhkan lembaga Khilafah, dan pada akhirnya
membuat dunia Islam tak berdaya!
Selama 1400 tahun sejarah Umat Nabi Muhammad saw, tidak satupun
yang sukses ditunjuk sebagai Khilafah, beserta proses pengangkatan yang
diabsahkan oleh Baiat (Sumpah Setia), tanpa orang tersebut benar-benar
menguasai atau mengendalikan Hijaz dan Haramain khususnya. Kedudukan
Khilafah dan otoritas atas

Haramain, tidak dapat dipisahkan dalam

kesadaran politik-agama Umat Islam.


Hubungan yang tak dapat dipisahkan tersebut juga memiliki landasan
dalam Syariat seperti ibadah Haji yang merupakan kegiatan keagamaan bagi
seluruh Umat Islam, dan ibadah Haji menyangkut perjalanan fisik menuju
Hijaz. Oleh sebab itu tidak seorangpun diakui menjadi pemimpin tertinggi
umat Islam tanpa memiliki otoritas dan tanggung jawab terhadap organisasi
dan pengelolaan ibadah Haji. Dan tentu saja menyangkut kebebasan dan
keamanan para peziarah (orang yang berhaji), dan oleh sebab itu, orang itu
harus menguasai Hijaz. Maka dari itulah, ketika ibukota Khilafah dipindahkan

dari Hijaz ke Kufa (Irak), Damaskus, Baghdad, Kairo dan bahkan Istanbul,
Khalifah selalu menaruh perhatian untuk mempertahankan otoritas dan
kuasa atas Hijaz. Pada dasarnya hal ini dilakukan terus-menerus hingga
berakhirnya kejayaan Kekaisaran Utsmaniyah dalam Perang Dunia Pertama.
Kini

musuh-musuh

Islam

berhasil

mempelajari

dan

memahami

hubungan antara Khilafah, kekuatan dunia Islam sebagai kekuatan dunia,


dan kekuasaan atas Haramain, serta kemudian merencanakan strategi jahat
mereka membuat Islam tak berdaya, dan membatasinya hingga hanya
menjadi kepercayaan yang bersifat pribadi tanpa adanya kewenangan atas
kehidupan masyarakat. Dengan kata lain mereka merencanakan strateginya
untuk mensekularisasikan Islam dan membuat kehidupan umat Islam
menjadi kehidupan orang Eropa yang tak bertuhan.
Jika peradaban Barat akhirnya berhasil melawan dan mengendalikan
Islam, dan dalam menggabungkan seluruh dunia Islam ke dalam tatanan
internasional sekuler baru yang diciptakan oleh Barat, maka strateginya
adalah Hijaz harus berada dalam pengaruh Barat agar Khilafah bisa
dilemahkan dan pada akhirnya hilang. Jadi selama Khilafah ada, hal itu akan
selalu membuat perih di mata Barat, sebuah perwujudan kekuasaan Islam
atas kehidupan bermasyarakat, simbol yang kuat dari Tatanan Dunia Islam
teosentris dan Pax Islamica, dan titik persatuan di mana dunia Islam selalu
bisa dimobilisasi menjadi kekuatan tempur yang kuat. Ada hubungan yang
tak terpisahkan antara kekuatan dan Khilafah dalam Islam !
Inggris menyadari pentingnya Hijaz dan Haramain atas legitimasi dan
bahkan kelangsungan hidup Khilafah Utsmaniyah, mengkonsentrasikan
diplomasi mereka dalam Perang Dunia 1 dalam merebut Hijaz dari kontrol
Khalifah Utsmaniyah. Hal ini berhasil dicapai ketika Syarif Hussein, Syarif
(gubernur/walikota)

yang

ditunjuk

Utsmaniyah

untuk

Mekkah

yang

merupakan kakek Raja Hussein dari Yordania sekarang, berhasil dipengaruhi


oleh

Inggris

agar

memberontak

terhadap

Khalifah

Utsmaniyah

dan

mendirikan

kekuasaan

sendiri

atas

Hijaz

dibawah

persekutuan

dan

perlindungan Inggris.
Tahun 1916, ketika Perang Dunia 1 sedang berlangsung, Khalifah
Utsmaniyah kehilangan kekuasaan atas Mekkah dan Jeddah, yaitu, Hijaz
bagian bawah. Kekuasaannya atas Madinah dipertahankan selama perang
dan berakhir pada tahun 1919 ketika tentara Utsmaniyah yang ada di
Madinah dipengaruhi agar memberontak terhadap pemimpin (Panglima)
heroik mereka, Fakhri Pasha. <1>
Setelah Khalifah kehilangan kekuasaan atas Hijaz, Khilafah yang
berpusat di Istanbul benar-benar menjadi lumpuh hingga akhirnya runtuh
sepenuhnya. Dan ini benar-benar keberhasilan yang luar biasa bagi
diplomasi Inggrgis. Melemahnya Khilafah menggoyahkan seluruh Kekaisaran
Islam Utsmaniyah. Pada akhirnya benar-benar runtuh. Tahun 1919 pasukan
Inggris, dibawah pimpinan Jendral Allenby, menduduki Yerusalem. Hal
tersebut betapa penting setelah Allenby memasuki Kota Suci, menyatakan
bahwa Perang salib akhirnya berakhir juga. Jika ada keraguan apapun
tentang bahaya ekstrim terhadap Islam yang dilakukan diplomasi Inggris di
Semenanjung Arab, seharusnya pernyataan Allenby ini bisa membuat
keraguan itu berakhir.
Apa yang dimaksud Allenby adalah bahwa Islam sekarang ibarat
harimau tanpa gigi. Takdirnya menjadi tak berdaya secara permanen, oleh
karena itu, dunia Islam saat itu tidak mampu merespons hilangnya
Yerusalem seperti Salahuddin Ayyubi (Saladin) yang langsung meresponsnya
ketika Yerusalem diduduki Tentara Salib.
Beberapa orang Arab telah bertempur bersama Allenby untuk merebut
Yerusalem dari kekuasaan Khalifah Utsmaniyah. Orang-orang Arab tersebut
sekarang menunggu untuk memusnahkan bangkai yang tersisa akibat
kemenangan Inggris atas Istanbul. Mereka mengidamkan kekuasaan lokal
atas Hijaz, tapi masih perlu waktu dan melihat apakah Khalifah Utsmaniyah

akan mampu mendapatkan kembali kekuatannya demi merebut kembali


kekuasaannya atas Hijaz. Ketika pada tanggal 3 Maret 1924, Khilafah
Utsmaniyah dibubarkan, menjadi jelas bahwa Khilafah bukan lagi ancaman.
Dan justru pada hari itu klien Inggris mulai bertempur melawan bangkai yang
tersisa

dengan

pengkhianatan

mereka

terhadap

pemerintahan

Islam

Utsmaniyah.
Pada tanggal 7 Maret 1924, Syarif Hussein terlebih dahulu mengklaim
dirinya sebagai Khilafah. Mandat yang paling penting adalah karena ia
menguasai Hijaz melalui de facto. Ia juga bangga karena menjadi Hashemit,
yaitu, tergolong klan yang sama dengan Bani Hasyim, dari suku Quraisy
yang

juga

klan

dipertimbangkan

Nabi
Ulama

saw

sendiri.

hingga

Bahkan

Pemimpin

dengan

Qadhi

dari

begitu
Yordan

berat
segera

menerima klaim dan mengakui Hussein sebagai Khalifah.


Mandatnya

yang

lain,

yang

diragukan

oleh

rakyat

Muslim,

dipertimbangkan secara berat dalam kekuatan-politik semenanjung, bahwa


Syarif adalah sekutu Inggris, negara super power saat itu, dan telah
menerima suap, diplomatik dan militer yang cukup besar dari Inggris atas
keberhasilannya dalam menentang kekuasaan Utsmaniyah di Hijaz. Dengan
mengklaim dirinya sebagai Khilafah, Syarif Hussein melakukan blunder besar
pertama karena dia tidak minta izin dari Inggris untuk bertindak seperti itu.
Inilah inti status Negara-klien kalau kebebasan sebenarnya dibatasi secara
efektif. Syarif Hussein telah melanggar aturan dasar etik bagi Negara-klien.
Apa reaksi Inggris ?
Sekarang diplomasi Inggris di Jazirah Arab (semenanjung Arab) yang
multi-dimensi dan belum terintegrasi. Pertama-tama, tujuannya adalah
merebut

Haramain

dari

kekuasaan

Khalifah.

Ini

maksudnya

untuk

melemahkan legitimasi, dan dengan demikian memberi pengaruh dan


menguasai sisa-sisa dunia Islam, dan memperlancar dalam mengalahkan
Utsmaniyah dalam Perang Dunia. Kedua, Inggris ingin rezim boneka yang

menguasai Hijaz agar lebih mudah memanipulasi politik semenanjung.


Terakhir, politik semenanjung dan kekalahan Utsmaniyah, secara strategis
berkaitan dengan upaya Zionisme dalam membangun konsensus jahat
bersama Inggris demi menciptakan Rumah Nasional Yahudi di Palestina. Dan
diplomasi yang terintegrasi ini akhirnya menjadi jelas dengan munculnya
Perjanjian Sykes-Picot (1916) dan Deklarasi Balfour (1917).
Sang super-power saat itu dan yang disebut sebagai kaum terpilih
sukses berada dalam jalur-tujuan yang benar-benar penting bagi mereka dan
bagi seluruh umat manusia.
Tujuan

diplomasi

yang

terintegrasi

tersebut

adalah

untuk

membubarkan seluruh Tatanan Dunia Islam hingga membuat Islam tak


berdaya mecegah Zionisme mencapai tujuannya. Setelah lembaga Islam
secara integral berkaitan dengan Tatanan Dunia Islam, Ahl al-Dhimmah dan
al-Jizyah, <2> yang dihapuskan dalam Kesultanan Utsmaniyah pada tahun
1855 akibat dari tekanan Eropa. Tapi selama lembaga Khilafah masih ada,
akan ada selalu kemungkinan bagi Tatanan Dunia Islam untuk bertahan,
hingga akhirnya, ditegakkan kembali. Oleh karena itu, serangan terhadap
lembaga Khilafah, kebutuhan yang penting bagi Yahudi-Eropa jika ingin
mencapai tujuan utamanya.
Juga cukup jelas bagi Inggris dan Zionis kalau Rumah Nasional Yahudi,
Negara Yahudi Israel, tidak bisa didirikan dalam wilayah Muslim (Palestina),
dan tidak pernah bisa berharap bertahan selama dunia Islam memiliki
Khalifah yang mampu memobilisasi sumber daya yang tangguh dan penuh
semangat (jihad) dalam beragama dan mengarahkannya ke tujuan militer.
Jadi, menguasai Hijaz merupakan suatu hal yang sangat penting dalam
politik semenanjung, tempat dimana Inggris harus mengarahkan perhatian
diplomasinya.
Tapi klaim Hashemit terhadap Khilafah, yang dilakukan Syarif Hussein,
tidak sesuai dengan tujuan diplomatik Inggris karena klaim itu bisa saja akan

berhasil. Syarif Hussein kemudian bisa memobilisasi dunia Islam sedemikian


rupa untuk membangun kembali Tatanan Dunia Islam dan Pax Islamica di
pusat jantung Islam, dan menimbulkan ancaman bagi pengaruh dan kuasa
Inggris atas sebagian besar Darul Islam. Dunia Islam yang direvitalisasi juga
membuat kuasa Yahudi atas Palestina dan Yerusalem cukup mustahil
didirikan.
Jadi Inggris memberi restunya pada kliennya yang lain di semenanjung,
Abdulaziz ibn Saud, untuk merebut Hijaz dari Hussein. Inilah kesempurnaan
seni tipu daya dan kemunafikan. Klien yang satu digunakan untuk
menyingkirkan klien lainnya.
Inggris telah memelihara persahabatan dengan Ibn Saud selama
perang, dan seperti biasa, menggunakan uang sebagai diplomasi (yaitu
penyuapan). Ibn Saud menerima 5000 poundsterling/bulan dari Departemen
Keuangan

Inggris

sebagai

imbalan

atas

sikap

netralnya

tentang

pemberontakan Hussein menentang Khalifah, pemerintahan Hashemit atas


Hijaz, dan upaya diplomatik dan militer Inggris di semenanjung yang
ditujukan untuk menentang Negara Islam Ottoman. Dengan kejamnya dia
(Ibn Saud) merasionalisasi pelanggaran nyata dari perintah Allah SWT dan
Rasul-Nya dengan mengatakan bahwa uang yang diterimanya tersebut
merupakan Jizyah (Pajak). <3> (A;-Quran 5:51)
Tapi diplomasi Inggris terkait Ibn Saud diarahkan ke bagian akhir
strategis besar yang tidak hanya sekedar netralitas dalam perang dan
mengusir Syarif Hussein. Ibn Saud memiliki potensi yang jauh lebih besar
bagi Inggris untuk mengeksploitasinya, sebagai dampak dari klaim Syarif
Hussein atas Khilafah.
Kekuatan Saudi di Najd, yang muncul kembali setelah penaklukan
Riyadh tahun 1902, adalah hasil dari persekutuan lama antara kepala suku
dan pemimpin agama dari sekte agama wahabi fanatik. Aliansi tersebut
menjamin bahwa kepala suku badui memegang kekuasaan politik atas

wilayah yang dikuasai oleh aliansi, urusan agama akan tunduk pada otoritas
keturunan pemimpin keagamaan. Akibatnya hal tersebut tak dapat dihindari
bahwa Saudi Najd akan berada di bawah tekanan Wahabi untuk berusaha
menguasai jantung-negeri Islam (Hijaz) dengan persepsi keimanan Wahabi.
Inggris sangat senang memberikan lampu hijau kepada Ibn Saud untuk
menggerakkan pasukannya menyerang Hussein selama 4 hari setelah
Hashemit (Bani Hasyim) mengklaim dirinya sebagai Khilafah. Ibn Saud tidak
sabar untuk melawan Hussein, hal yang aneh, baik itu kekuasaan Yahudi di
Yerusalem dan Wahabi di Hijaz, menghadapi ancaman serupa. Yaitu,
kekuasaan tersebut tidak akan bertahan jika dunia Islam masih memiliki
seorang Khalifah.
Dengan mendukung Ibn Saud, Inggris kini bisa memastikan bahwa
Khilafah tidak akan pernah bisa ditegakkan kembali selama Saudi-Wahabi
menguasai Hijaz. Inggris lebih jauh memperhitungkannya kalau tanpa
Khilafah, Tatanan Dunia Islam tidak akan bisa bertahan dan dunia Islam
begitu lemah hingga tidak akan pernah bisa memobilisasi pasukannya dan
mencegah pendirian Negara Yahudi Israel. Inggris juga tahu bahwa Wahabi
sendiri tidak pernah bisa mengklaim Khilafah karena pemimpinnya yang
Wahabi tidak akan bisa diterima mayoritas Muslim di seluruh dunia. Dengan
menarik dukungan dari Hussein dan mendukung Ibn Saud, sebenarnya
Inggris terus menyerang tanpa henti terhadap Khilafah dan Tatanan Dunia
Islam yang teosentris.
Dalam beberapa bulan Ibn Saud mampu menaklukkan Mekkah, dan
Hussein melarikan diri ke Jeddah. Inggris akhirnya turun tangan untuk
memindahkannya secara fisik dari semenanjung dengan menawarkannya
pengasingan yang nyaman di Siprus. Dan dengan segera, Madinah dan
Jeddah juga berada di bawah kekuasaan Wahabi-Saudi.
Namun, lebih dari 1 abad sebelumnya, aliansi Saudi-Wahabi telah
berhasil mempertahankan Taif dan Mekkah dan disana terjadi permandian-

darah yang benar-benar mencengangkan. Wahabi, dalam semangat fanatik


mereka, menganggap penduduk Muslim di Hijaz Mushrikun (yaitu, orangorang

yang

melakukan

dosa

Syirik),

dan

sebagai

akibatnya,

memperbolehkan untuk membunuh mereka. Khalifah di Istanbul mendapat


bantuan dari Mamluk Khedive Mesir, Muhammad Ali, untuk mengirim
pasukan ke Hijaz di bawah kepemimpinan anaknya Ismail. Prajurit SaudiWahabi diusir begitu saja dari Hijaz ke padang gurun. Namun, 1 abad
kemudian, tidak ada lagi Khalifah dan semua masyarakat Muslim yang
dulunya berkuasa, sekarang berada di bawah kekuasaan kolonial Barat.
Selain

itu,

Ibn

Sad

menikmati

persahabatan

dengan

Inggris

yang

melindunginya, the super-power of day. Oleh karena itu, tidak ada lagi
kemungkinan

apapun

untuk

mencabut

kekuasaan

Saudi-Wahabi

dari

Haramain dan Hijaz.


Meskipun

Ibn

Saud

menguasai

Hijaz

dengan

aman,

ia

masih

dihadapkan dengan masalah yang benar-benar berat ketika dimulainya


kekuasaannya atas Hijaz tahun 1924. Yakni, ia harus menyusun strategi
jangka panjang yang bisa mencegah terjadinya becana serupa sebelumnya
terhadap kekuasaan Saudi-Wahabi di Hijaz. Hal ini akan tampak ketika ia
berpikir tentang kebijakan berkonsiliasi dengan Muslim non-Wahabi dan
menggunakan kekuasaannya di Hijaz untuk membuat kesatuan umat Islam.
Tak lama setelah mendapatkan kekuasaan atas Mekkah dan menerima
pengakuan sebagai Sultan Hijaz dari penduduknya, ia mengeluarkan
proklamasi ke seluruh dunia Islam bahwa Hijaz, beserta Haramain, milik
seluruh dunia Islam dan ia, Ibn Saud, menguasai Hijaz sebagai kepercayaan
saja, dan atas nama seluruh dunia Islam. <4> Dia kemudian mengundang
seluruh dunia Islam mengirim perwakilan ke Mekkah, sehingga, atas dasar
Syura (konsultasi) dan Ijma (konsensus), pemerintahan yang efisien dan
representatif dapat dibentuk di Hijaz.
Pengumuman

yang

penting

ini

sepenuhnya

konsisten

dengan

ketentuan Tatanan Dunia Islam. Hijaz tetap Darul Islam yang didirikan Rasul

saw. Belum ada tanda apapun Negara Arab akan mengklaim Kedaulatan
Teritorial di Hijaz. Hak-hak Muslim di wilayah Darul Islam secara terbuka
diakui dan dihormati.
Namun sayangnya, perhatian demi kesatuan dunia Islam dan deklarasi
yang kuat terkait status Hijaz tidak mewakili desain Saudi-Wahabi yang
sebenarnya.

Itu

hanyalah

politik

pencitraan

dan

dirancang

untuk

melindungi Saudi-Wahabi menyusul inisiatif yang dilakukan Al-Azhar di Kairo,


yang diadakan setelah pembubaran Khilafah Utsmaniyah. Memang inisiatif
Al-Azhar ini memiliki implikasi yang berbahaya bagi Ibn Saud dan kekuasaan
Saudi-Wahabi di Hijaz. Ini juga merupakan rintangan bagi kemenangan
Zionis dan Inggris. Al-Azhar mengusulkan untuk mengadakan Kongres
Khilafah Islam Internasional (Mutamar al-Khilafah) di Kairo, antara lain,
berusaha menunjuk Khalifah baru bagi dunia Islam.
Jika Wahabi benar-benar berjuang untuk Islam, mereka pastinya
menyambut upaya Al-Azhar tersebut untuk mencapai keselarasan dengan
syarat berdasarkan Syariat, yakni pembentukan Khilafah yang asli. Wahabi
telah lama berpendapat bahwa setelah era-Khulafaur Rasyidin, Khialafah
tersebut tidak sah, karena Khilafah tersebut tidak didasari dengan cara yang
sesuai dengan ketentuan Syariat. Sekarang Khilafah yang cacat itu telah
dibubarkan dan kampus terbesar Islam tersebut mengadakan kongres Islam
internasional untuk membahas masalah tentang Khilafah dan penunjukan
Khalifah baru, Wahabi seharusnya tidak saja menyambut inisiatif ini tapi juga
harus

memperpanjang

setiap

kemungkinan

kerjasama

dan

harus

berpatisipasi dengan serius di Kongres tersebut dalam rangka memastikan


bahwa Khilafah asli terpulihkan.
Tetapi Wahabi tidak memiliki pengabdian yang tulus seperti itu pada
Islam. Perilaku mereka pada dasarnya salah satu dari kemunafikan, penjilat,
oportunisme dan picik. Wahabi tahu bahwa dunia Islam tidak akan pernah
menerima Khalifah dari golongan Wahabi dan sebagai akibatnya, mereka

merasa bijaksana untuk menolak ketentuan penting Tatanan Dunia Islam.


Mereka mengerahkan semua energi mereka untuk menyabotase Kongres
Khilafah Kairo. Strategi mereka adalah mengadakan kongres tandingan di
Mekkah pada saat ibadah haji tahun 1926. Itu berarti, Kongress Mekkah akan
berlangsung satu bulan setelah Kongres Kairo, sehingga sulit bagi delegasi
menghadiri kedua konferensi. Sejak Konferensi Mekkah bertepatan dengan
ibadah Haji, dan karena memperoleh dukungan aktif dari Inggris, dan juga
menguntungkan atas Konferensi Kairo.
Kedua, mereka secara khusus tidak membahas masalah Khilafah
dalam agenda Kongres Mekkah. Berupaya untuk menyabotase Konferensi
Kairo dan mengubur Khilafah, menjadi bukti lebih dari cukup untuk
mengungkap identitas sebenarnya dari Wahabi yang mengaku sebagai
juaranya Syariat dan Islam.
Tanggapan dunia Islam tentang kongres tandingan ini, yaitu, Kongres
Khilafah Kairo bulan Mei/Juni 1926 dan Kongres Dunia Muslim Mekkah bulan
Juli 1926, yang merupakan topik yang patut diteliti dengan serius. Untuk
memastikan seberapa banyak diplomasi Inggris yang terlibat, sebagai
contoh, masyarakat Muslim yang penting di India telah mendukung Khilafah
Utsmaniyah sedemikian rupa hingga mereka mendirikan Gerakan Khilafah
yang hebat, yang akan menjauh dari Kongres Khilafah Kairo dan, sebaliknya,
malah menghadiri Kongres tandingan di Mekkah dan mempertanyakan
mengapa masalah Khilafah diabaikan dari agenda ? Ada sedikit penelitian
yang dilakukan mengenai hal ini.
Bagaimanapun, yang jelas, Kongres Mekkah meraih kemenangan taktis
atas Kongres Kairo, - kemenangan yang memiliki dampak yang besar bagi
kelangsungan hidup lembaga Khilafah itu sendiri dan Tatanan Dunia Islam
ortodoks (yakni, Darul Islam). Mereka yang menyelenggarakan Kongres Kairo
ingin memastikan penyesuaian sistem Islam ortodoks organisasi politik. Tapi
mereka secara intelektual tidak mampu mengartikulasikan konsepsi Tatanan

Dunia Islam (Darul Islam) dan Konsepsi Islam akan Tatanan Internasional
yang bisa meyakinkan dunia Islam yang skeptis (ragu-ragu).
Di sisi lain, mereka yang mengorganisir Kongres Mekkah, tidak
bersedia untuk tetap setia kepada Tatanan Dunia Islam beserta Khilafah,
Darul Islam dan lainnya, dikarenakan kepentingan pribadi. Sebaliknya
mereka memilih menerima sistem tandingan organisasi politik yang telah
muncul di peradaban barat modern dan dimana juga telah menembus takhta
khilafah Utsmaniyah (Ottoman), - yaitu sistem Negara-bangsa sekuler. Dan
mereka

melakukannya karena itu satu-satunya di dalam sistem Negara-

bangsa agar Wahabi-Saudi bisa berupaya memenangkan pengakuan serta


legitimasi bagi kekuasaan mereka atas Hijaz dan dengan demikian menjamin
kelangsungan hidup Negara Saudi. Mereka menyamarkan desain mereka
yang sebenarnya dan membuat percobaan yang rumit untuk menipu dunia
Islam. Dan kesuksesan mereka dalam permainann tipu daya ini tampak jelas
dalam karakter Kongres Mekkah.
Kemenangan taktis Kongres Mekkah atas rivalnya yaitu Kongres Kairo
memainkan sebuah peran yang signifikan dalam membuka jalan bagi dunia
Islam, termasuk daerah jantung Islam, yang akhirnya mengikuti contoh dari
model Negara sekuler Turki Mustafa Kemal. Catatan sejarah dunia Islam
sejak 1924, di satu pihak, kejahatan yang terus disuntikkan ke dalam tubuh
Umat melalui sistem asing organisasi politik ini, dan di sisi lain, usaha yang
naif,

membingungkan

dan

semu

dari

cendekiawan

Islam

modern

merekonstruksi Tatanan Dunia Islam yang baru di atas fondasi sekuler sistem
Negara-bangsa.
Apa yang muncul dari upaya tersebut merupakan tujuan dari
Islamisasi dan pembentukan Negara Islam dalam sisten Negara-bangsa.
Tapi keduanya adalah tujuan yang sia sia, dan tidak mungkin dapat dicapai
tanpa terlebih dahulu membongkar beberapa alat penting dari Negarabangsa, - yang merupakan kelangsungan hidupnya sebagai lembaga sekuler.

Baik itu Dr Muhammad Iqbal dan Maulana Abdul Ala Maududi


memberanikan

diri

sampai

Ijtihad

(pemikiran

independen)

untuk

merekonstruksi Tatanan Dunia Islam setelah-Khilafah Islam. Upaya mereka


menghasilkan konsep Negara Islam. Namun sayangnya, upaya untuk
mendirikan Negara Islam mengakibatkan sistem organisasi Islam ortodoks
Umat Islam atau Tatanan Dunia Islam (Pax Islamica dan Darul Islam) berubah
total menjadi tidak jelas. Sebagai akibatnya pemikiran politik dalam dunia
Islam sungguh salah arah, dan kekacauan yang luar biasa sampai hari ini.

Bab 2
Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah dan Bangkitnya
Negara Wahabi Saudi

Perang Dunia Pertama dan Pembubaran Khilafah Utsmaniyah


Sejauh ini, kekhawatiran Dunia Muslim terhadap Perang Dunia Pertama
melebihi daripada sekedar perang antar bangsa Eropa. Lebih tepatnya,
perang yang membawa pergolakan dan perubahan dalam Dunia Muslim
yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 1300 tahun yang lalu.
Pertama,

kekuatan

muslim

terbesar

dan

Khilafah

kontemporer,

Kekaisaran Khilafah Utsmaniyah, memasuki perang di sisi Kekuatan Tengah.


Sementara, keputusan tersebut masih terselimuti beberapa kontroversi
karena,

hingga

saat-saat

terakhir,

kepemimpinan

Utsmaniyah

belum

memutuskan apakah akan masuk ke dalam perang atau tidak, dan jika
demikian, di satu sisi yang mendukungnya, pasti ada alasan tentang
kemungkinan permainan Zionis-Inggris dalam urusan tersebut.
Para pimpinan Yahudi-Zionis telah gagal mencapai kesepakatan
dengan Khalifah terhadap kekuasaan Yahudi atas Yerusalem. Bahkan mereka
mencoba untuk membeli tanah suci. Inggris telah mendukung upaya YahudiZionis ini.
Diantara tujuan besar politik dan militer Inggris dalam perang adalah
menaklukkan kekuatan Islam sebagai salah satu kekuatan terbesar di dunia,
penaklukkan Yerusalem, dan penciptaan tanah air Yahudi di Palestina yang
akan terus menerus mengacaukankan dan mengawasi Muslim Timur Tengah
demi kepentingan Barat.

Kepemimpinan Utsmaniyah diduga berusaha memobilisasi seluruh


dunia

Muslim

untuk

perang.

Sehubungan

dengan

ini,

Sheikh

Islam

mengeluarkan fatwa dan proklamasi menyatakan jihad pada tanggal 23


November

1914

memerintahkan
Bagaimanapun,

yang
semua

dikeluarkan
Muslim

diplomasi

Negara

untuk

Inggris

Islam

berperang
berhasil

Utsmaniyah,
melawan

meningkatkan

dan

Sekutu.
dan

mengeksploitasi nasianalisme Arab di Semenanjung Arab, cara yang efektif


menyerang dan merusak kekuatan tangguh persaudaraan Islam yang
universal. Akibatnya orang-orang Arab memberontak melawan pemerintahan
Utsmaniyah atas dasar mencapai kemerdekaan nasional karena tawaran
bantuan dari Inggris.
Dalam waktu kurang dari dua tahun setelah dimulainya peperangan,
Syarif Hussein, Raja Arab gadungan, sekutu kuat Inggris, dan kakek buyut
Raja Yordania Husain, telah berhasil memberontak melawan otoritas
Utsmaniyah dan mengklaim sebagai Raja Hijaz, pusat-jatung Islam. Dan
sebagai akibatnya kehilangan kota Mekkah, dan juga Madinah, yang akhirnya
seruan Islam Khalifah Utsmaniyah mengalami kehancuran yang tidak bisa
diperbaiki lagi.
Inggris

menindaklanjuti

keberhasilan

mereka

di

Hijaz

dengan

menetapkan anak-anak Hussein sebagai Raja di Irak dan juga Yordania.


Tahun 1919, Jend. Allenby, bersama pasukan Arab yang loyal berperang
kepadanya, berbaris dengan bangga menuju Yerusalem dan menyatakan
bahwa perang salib sudah berakhir. Palestina tetap menjadi wilayah Mandat
Inggris (diamanatkan oleh Liga Bangsa-Bangsa) sampai Inggris mundur pada
tahun 1948 dan Yahudi Zionis mendirikan Negara Israel.
Kekaisaran Islam Utsmaniyah dikalahkan dalam perang. Pihak sekutu
menggabungkan kekuatan militer mereka dengan senjata psikologis yang
telah mempengaruhi Islam jauh-jauh hari. Inggris dan Perancis berhasil
menaklukkan dukungan militer Islam di India (dengan cara yang busuk),

Maghrib dan wilayah lainnya, baik itu Muslim Arab maupun non-Arab
melawan

saudara

mereka

Muslim

Turki.

Akibatnya

Kekaisaran

Islam

Utsmaniyah tidak hanya dikalahkan tetapi juga fondasi Islam universal turut
hancur.
Dari abu kekalahan Utsmaniyah pada perang dunia pertama, pasukan
nasionalis Turki, yang dipimpin Mustafa Kemal, bertempur perang setelah
perang dengan keberanian, kecemerlangan dan tekad bahwa kekuatan
Eropa telah menurun, dan tertahan dari intervensi opini publik domestik
mereka sendiri, tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah Turki dalam
kekalahan melawan Yunani dan dalam memenangkan kemerdekaan Turki.
Perjanjian Lausanne, yang ditanda tangani pada tahun 1924, mendapat
pengakuan internasional atas kemenangan Turki dalam pertempuran.
Nasionalis Turki dan Khilafah
Kekuatan nasionalis Turki secara konstan telah berada dalam konflik
dengan Khalifah-Sultan selama 50 tahun lebih, yang berjuang untuk
membatasi

kekuasaannya

melalui

tatanan

konstitusional

yang

akan

menggantikan apa yang mereka anggap sebagai kediktatoran otokratis.


Kekuatan nasionalis Turki pada dasarnya sekuler dalam pandangan politik
mereka dan sangat terkesan dengan apa yang mereka anggap superioritas
tentang peradaban Barat atas Khilafah Utsmaniyah dan Kekaisaran Islam.
Dibalik hilangnya kota Mekkah dan Madinah, dan setelah ikhwanMuslim berperang melawan mereka dalam perang itu, sekarang mereka
merasa

bebas

dari

ikatan

dunia

Islam.

Dan

dengan cepat

mereka

mentransformasi tatanan politik mereka dari model lama Darul Islam, atau
Tatanan Dunia Islam, menjadi model barat negara sekuler modern, Republik
Turki.
Transformasi tersebut, menciptakan ketentuan yang mana harus ada
beberapa pemisahan antara gereja/masjid dan negara inilah setiap

landasan dalam model barat. <5> Majelis Nasional Turki yang baru, dan
dengan model yang juga baru, menunjuk Abdul Mageed sebagai Khalifah
tahun 1922 yang setara dengan kepala Masjid. Dengan kata lain, makna
Khilafah berangsur-angsur hilang dan kehilangan kendali terhadap urusan
duniawi yang berada dalam kendali Negara.
Dan itu masih belum cukup untuk memecah lingkungan Islam Turki
yang hanya dengan model baru tersebut. Tidak, masih belum, kemungkinan
mereka akan melakukannya terhadap Islam dengan apa telah dilakukan
Eropa terhadap Kristen setelah menghancurkan Kekaisaran Romawi Suci.
Khalifah tidaklah bisa disetarakan dengan Paus. <6> Tidak akan ada
akomodasi sekulerisme politik dalam sistem Islam sebab Islam tidak
mengakui pemisahan antara Masjid dan Negara. Memang tidak ada hal ini
dalam Islam.
Dengan cepat model baru dari negara-negara sekuler menjadi jelas
terlihat meskipun lembaga Khilafah masih ada. Juga muncul tanda-tanda
(seperti Gerakan Khilafah di India), musuh-musuh Republik Kemalis yang
mungkin berusaha menggunakan Khalifah untuk mengacaukan Republik dan
akhirnya melenyapkan Mustaafa Kemal. Kekuatan nasionalis Turki dengan
cepat

dan

jelas

memahami

bahwa

Negara

di

Lingkungan

Islam

memberanikan diri mengambil kendali atas Negara-negara yang memiliki


Islam dan mengembalikan Darul Islam.
Oleh karena itu tidak mengherankan lagi, ketika 3 Maret 1924 Majelis
Nasional Turki menerapkan hukum untuk membubarkan Khilafah. Pasal 1 UU
yang menyatakan :
Khalifah

dihentikan.

Departemen

Khilafah

dububarkan,

sebab

pada

dasarnya Khilafah terdiri dalam arti dan makna dari kata-kata Pemerintah
(Hukumah) dan Republik (Jumhuriyah). <7>

Kutipan pendek aturan ini menandakan sebuah momen krusial dalam


sejarah Umat Islam. Selama 1300 tahun hampir secara universal, lembaga
Khilafah diakui oleh Muslim (yaitu, Muslim sunni) sebagai pokok agama
mereka, bahkan ketika kedudukan Khilafah dipenuhi dalam banyak alur yang
bertentangan dengan prinsip Islam, dan akhirnya dunia Islam berada dalam
abad

ke-14

tanpa

Khilafah.

Memang,

begitu

jelas

dan

permanen

perubahannya, mungkin, wajar saja kalau kita menyimpulkan bahwa dunia


Islam sekarang telah melewati periode paska-Khilafah.
Tanggapan Universitas Al Azhar tentang Pembubaran Khilafah
Utsmaniyah
Arti penting pembubaran Khilafah ditemukan dalam Artikel Satu
Hukum Pembubaran, yakni, Khilafah telah digantikan oleh negara-negara
sekuler. Sebuah lembaga yang dianggap penting dalam bagian agama Islam
telah digantikan, dalam pengaruh politik Barat dan peradabannya, dengan
sistem politik yang berasal dari dunia barat, dan terminologi (Hukumah dan
Jumhuriyah) yang digunakan dalam model ortodoks tua yang sekarang
digunakan dalam arti baru agar sesuai dengan model baru. Sebagai pemikir
yang

hebat

seperti

Dr.

Muhammad

Iqbal,

tampaknya

tidak

mampu

memahami hakikat perubahan yang terjadi. <8>


Karena Khilafah merupakan bagian dari agama Islam, dan sangat jelas
bahwa bidah yang masif telah dilakukan dan ini memerlukan respon agama
yang tepat. 22 hari setelah kutipan pendek hukum tersebut dibacakan di
Majelis Nasional Utama Turki, Rektor Universitas Al-Azhar di Kairo bertemu
dengan ulama-ulama Universitas dan Mesir dan berikut deklarasi mengenai
Khilafah tersebut :
Khilafah,

yang

mana

sama

artinya

dengan

Imamah,

merupakan

kepemimpinan umum (riayah) dalam perihal al-Din dan al-Duniya. Fungsi


mendasarnya

adalah

pemerintahan Umat.

untuk

mengawasi

kepentingan

millah

dan

Deklarasi tersebut meletakkan kepemimpinan umum ini dalam


departemen resmi Imam yang didefinisikan sebagai :
. Deputi menetapkan hukum agama demi pertahanan keimanan, demi
menerapkan perintahnya dan demi administrasi urusan duniawi yang diatur
dalam syariah
Imam menjadi Imam dalam pemberi kesetiaan (baiat) terhadap bagiannya
dengan kekuasaan untuk melepas dan mengikat (ahlul halli wal-aqdi) <9>
atau dipilih oleh pendahulunya untuk menggantikannya.
Imamah juga bisa diperoleh dengan penaklukan dalam arti bahwa jika pihak
lain menguasai Khalifah dan merebut tempatnya, Khalifah kalah. Kadangkadang akuisisi oleh penaklukkan yang diperkuat oleh pembayaran kesetiaan
atau dengan pilihan Khalifah sebelumnya seperti yang terjadi pada masa
mayoritas Khalifah sebelumnya. <10>
Kembali ke situasi konkrit yang dihadapi mereka, deklarasi tersebut
menganggap sebagai bidah yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam
Islam,

pengangkatan

pertama

Abdul

Majid

menjadi

Khalifah

yang

kekuasaannya dicabut, - ini yang diasumsikan oleh Grand Majelis Nasional


Turki, dan kedua pembubaran Khilafah.
Karena Bidah ini secara total tidak cocok dengan prinsip keimanan,
ulama menyimpulkan bahwa Kongres Islam harus diselenggarakan, dimana
perwakilan

setiap

mempertimbangkan

masyarakat
di

atas

bahu

Muslim
siapa

harus
Khilafah

diundang,
Islam

untuk

seharusnya

ditempatkan.
Hal ini kemudian menjadi tanggapan serius pertama dari dunia Islam
terhadap pembubaran Khilafah Ottoman. Tapi penting untuk dicatat bahwa
usulan tersebut menggambarkan permulaan yang berarti dari tingkah laku
politik tradisional dalam model Islam ortodoks. Bahkan salah satunya
mungkin menggambarkan peristiwa tersebut sebagai bidah. Ulama Al Azhar

mengusulkan

untuk

menggunakan

Kongress

Islam,

meskipun

dengan

perwakilan masyarakat Muslim yang berpartisipasi, untuk menunjuk sebuah


Khalifah baru. Belum pernah terjadi setelah setengah abad atau satu abad
setelah sejarah Islam, Khalifah yang dipilih oleh rakyat. Dan tidak pernah
terjadi dalam seluruh sejarah Islam seorang pemimpin yang dipilih bahkan
melalui Majelis atau Kongres yang mewakili seluruh masyarakat Muslim.
<11>
Usulan tersebut mengalami kesulitan sedemikian rupa hingga Panitia
memerintahkan Kongress untuk merencanakan tentang masalah pemilihan
Khalifah baru yang kurang kontroversial dan perihal yang lebih praktis
tentang sebuah analisis keadaan dan tanggapan yang memungkinkan.
Bagaimanapun juga, sesuatu yang sangat penting tersebut, untuk pertama
kalinya sejak awal sejarah pemerintahan Muslim, ide tersebut secara terbuka
dikemukakan oleh para cendekiawan Muslim yang prestisius hingga urusan
yang paling penting tentang Umat bisa didiskusikan dan keputusan diambil
oleh dewan atau kongress yang mewakili seluruh umat Muslim.
Ini sangat sulit ditentukan apakah ini ada kaintannya dengan pengaruh
peradaban barat, seperti yang ingin diberitahukan Toynbee <12>. Meskipun
begitu, hal itu tetap benar adanya bahwa sejauh yang Kongres usulkan akan
memanfaatkan syura dan ijma, hal tersebut akan lebih dekat dengan Islam
ortodoks dari pada Khilafah secara keseluruhan kecuali beberapa dekade
pertama tentang keberadaannya yang tergambarkan.

Bab 3
Konferensi Khilafah, Kairo Mei 1926

Agenda
Kongres Khilafah, yang akhirnya diadakan di Kairo pada bulan Mei
1926, dengan agenda sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Definisi Khilafah dan tentang persyaratan yang dibutuhkan Khalifah


Apakah Khilfah suatu keharusan dalam Islam ?
Bagaimana caranya Khilafah ditegakkan ?
Apakah mungkin pada saat ini untuk membentuk sebuah Khilafah yang

memenuhi semua persyaratan dalam syariah ?


5. Andaikata jawaban atas poin keempat negatif, apa tindakan yang
harus dilakukan ?
6. Andaikata Kongres

memutuskan

perlu

untuk

menunjuk

sebuah

Khalifah, langkah apa yang harus dilakukan untuk keputusan ini ?


Delegasi
Delegasi yang menghadiri Kongress tersebut berasal dari Mesir, Libya,
Tunisia, Moroko, Afrika Selatan, Hindia Belanda (Indonesa), Yaman, Hijaz
(sekarang Arab Saudi), Palestina, Irak dan Polandia. Secara mencolok,
delegasi yang tidak hadir malah berasal deri negara dan masyarakat Islam
yang paling penting, yaitu Turki, Persia (sekarang Iran), Afganistan, Najd
(sekarang Arab Saudi) dan masyarakat Muslim Russia, China dan India.
Turki menolak undangan untuk menghadirinya dengan balasan yang
dingin bahwa negara tersebut tidak punya masalah terhadap isu Khilafah.
Persia, negara Syiah, tidak tertarik dengan Kongres Khilafah Sunni. Muslim
Russia, China dan India. Seluruh minoritas yang tinggal di negara yang tidak
bersahabat, mengambil sikap yang biasa saja. Mereka yang tinggal jauh dari
konferensi Kairo pada bulan Mei 1926 tersebut, menganggapnya sebagai

aktivitas akademis semata, pertemuan tanpa ada kekuatan yang nyata dan
tidak mungkin menawarkan bantuan perlindungan kepada mereka. Tapi
mereka tidak hadir karena ada kongress tandingan yang diatur oleh salah
seorang yang memiliki kekuatan yang sesungguhnya, Abdul Aziz ibn Saud.
Pada kenyataannya, dia takut akan munculnya kembali Khilafah sejak dia
menguasai kota suci Mekkah dan Madinah untuk kerajaan pribadinya.
Pada akhirnya, diantara delegasi yang hadir di Kairo, kepala Tarekat
Sanusi (Sufi), Al-Sayyed Idris al-Sanusi, ditunjuk sebagai Amir dari Barka dan
Tripoli. Ada rumor kemungkinan kuat dialah yang terpilih sebagai Khalifah
jika Kongress memutuskan untuk memilih salah satunya. <13>
Sesi Kongress
Kongres diselenggarakan dalam 4 sesi pada tanggal 13, 15, 18 dam 19
Mei 1926. Pada sesi pertama, Komite Pertama ditunjuk untuk mengkaji
proposal

sebelum

mengadakan

Kongress.

Komite

dengan

segera

mengusulkan agar proses Kongress diselenggarakan secara rahasia. Usulan


ini ditolak dalam sesi keempat dengan laporan yang dapat diperoleh,
sebagai dokumen publik, seluruh Nota Verbatim Kongres tersebut. <14>
Komite Kedua dan Ketiga ditunjuk dalam sidang sesi kedua, Komite
Kedua mengkaji Butir-butir 1, 2 dan 3 dalam Agenda Kongres dan Komite
Ketiga mengkaji Butir-butir 4, 5 dan 6. Laporan dari Komite Kedua dan Ketiga
serta

diskusi

dan

keputusan

berdasarkan

laporan-laporan

tersebut

membentuk inti dari kegiatan Kongress. Dan kita akan mnganalisa laporan
tersebut.
Komite Kedua
Dalam merumuskan institusi Khilafah, Komite Kedua mengandalkan
tulisan-tulisan otoritatif ulama seperti al-Mawardi, Ibn Khaldun dan yang
lainnya. Terutama, mereka menekankan keutamaan fakta bahwa Khalifah
harus menggabungkan kedudukan duniawi juga kepemimpinan agama.

Kedua, hanya ada satu Khalifah pada satu waktu, antara lain, peran lembaga
Khilafah dalam menyatukan Umat. <15>
Pertanyaan kedua yang diberikan di hadapan Komite tersebut (apakah
Khilafah menjadi sebuah keharusan dalam Islam ?), paling tidak, sesuatu
yang sangat tidak masuk akal. Sebuah lembaga yang selalu menjadi sangat
penting bagi pemerintahan Muslim Sunni dan telah ada sejak meninggalnya
Nabi Muhammad saw. Dalam seluruh sejarah Umat yang tidak hanya hidup
dengan

Khilfah,

tapi

juga

tidak

pernah

menganggap

secara

serius

kemungkinan sebuah alternatif pilihan lain. Memang, dalam kegiatannya


disarankan agar memungkinkan sebuah alternatif untuk Khilafah tersebut,
salah satunya adalah mengungkap sesuatu atas setiap tuduhan yang terlibat
dalam Bidah. Namun, akibat dari perbuatan satu orang, Mustafa Kemal dari
Turki, Kongres Khilafah yang diisi oleh seluruh cendekiawan dunia Muslim ini
jadi mempertimbangkan pertanyaan Apakah Khilafah menjadi sebuah
keharusaln dalam Islam ?
Mungkin, dengan demikian, itu menjadi sebuah perntanyaan yang
sangat penting yang harus dijawab Umat dalam setiap sejarahnya. Dan
ternyata, tak terhindarkan lagi, Komite menegaskan bahwa Khilafah menjadi
sebuah keharusan dalam Islam namun belum bisa direalisasikan dalam
waktu cepat <16>. Dengan kata lain, Allah SWT telah menempatkan sebuah
kewajiban atas Muslim yang belum bisa mereka penuhi saat itu. Tapi ini
bukan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan tersebut karena Allah
Yang Maha Tahu, tidak akan menempatkan sebuah kewajiban yang tidak bisa
dipenuhi oleh Hambanya.
Maka, terlepas apakah Khilafah itu menjadi sebuah keharusan ataupun
tidak, dan tidak bisa direalisasikan saat itu. Kegagalan dalam membentuk
ulang Khilafah akan menjadi sebuah dosa bersama bagi orang-orang
beriman yang akan dihukum.

Sehubungan

dengan

pertanyaan

ketiga

(Bagaimana

caranya

memperoleh dan membentuk Khilafah ? Komite menjawabnya sebagai


berikut :
1. dengan penunjukan oleh Khalifah sebelumnya.
2. Dengan penunjukkan oleh Muslim yang berpengaruh, yaitu, laki-laki
yang dipatuhi publik seperti Ulama, Amir, tokoh-tokoh, dan petugas
administrasi.
3. Dengan penaklukan oleh seorang Muslim meskipun jika dia tidak
memenuhi persyaratan lainnya. <17>
Penyajian Laporan Komite Kedua tersebut menimbulkan perdebatan
menarik dan sangat penting antara Abdul Aziz al-Effendi, seorang Profesor
Tunisia yang merupakan salah satu delegasi Irak, dan Syeikh Muhammaf alAhmadi al-Zawahiri, ketua delegasi Mesir, <18> tentang penerapan prinsipprinsip teoritis Islam dan perlunya Ijtihad :
Thalibi Effendi :
Tidak ada yang bisa membantah fakta bahwa masalah tentang Khilafah
adalah yang paling penting dan paling sulit untuk dipecahkan. Oleh karena
itu saya mengusulkan agar ditundanya Kongres ini sampai tahun depan
hingga kita mungkin mampu mengkaji masalah secara detail dan dalam
segala aspeknya. Tidak akan memadai untuk mengkaji masalah tersebut dari
sudut pandang poin teoritis murni. Beberapa laporan harus dibawa tentang
perlunya situasi dan lokasi, (dan) pengaruh yang dikerahkan kepada
lembaga-lembaga Islam oleh kebijakan kekuatan asing.
Syeikh al-Zawahiri :
Dalam mengkaji perntanyaan teologis yang disampaikan kepada kita, kita
tidak ingin menempuh ijtihad dan membentuk sebuah doktrin baru. Kita
membatasi diri sendiri untuk mengkaji

prinsip-prinsip yang diakui oleh

doktrik-doktrin yang dikenal Islam. Sedangkan penerapan prinsip-prinsip ini,


terserah anda menyatakan bahwa hal ini diluar kompetensi kita.

Tahlibi Effendi :
saya tidak menganjurkan satupun doktrin baru ataupun ijtihad. Apa yang
saya minta adalah pendapat anda. Jika anda menegaskan prinsip-prinsip
yang tidak berpengaruh dari penerapannya di zaman kita, apakah akan
terealisasikan ?
Sheikh al-Zawahiri :
hal

ini

berbahaya

bagi

Islam

untuk

mempertanyakan

tentang

penerapannya, pada satu zaman dari pada zaman yang lain, tentang
kecenderungan akan Syariah. Kami merasa bahwa penerapan prinsi-prinsip
umum agama tersebut selayaknya menjadi perihal tanpa pengecualian, dan
kami menganggap bahwa tidak ada kondisi untuk membentuk kondisi baru
dalam menghormati tuntutan zaman. <19>
Tentu saja, Syeikh al-Zamahiri sangat dibenarkan bersikeras bahwa
Syariah adalah lambang hukum agama Islam, dan tidak ada revisi apapun
walaupun berbeda zaman. Syariah harus dipertahankan terlepas apakah
umat Muslim kompeten atau tidak untuk menerapkan dalam zaman tertentu.
Bagi Syeikh Zawahiri, restorasi Khilfah merupakan sebuah kewajiban agama.
Dia sangat benar !
Dan Thalibi Effendi juga benar dalam mengajukan pertanyaan, dimana
dia tidak menerima jawaban, - yakni, jika restorasi Khilafah adalah sebuah
kewajiban agama umat Islam, konsekuensi apa yang didapat umat Islam jika
mereka gagal dalam memulihkan Khilafah ?
Kekurangan yang mendasar dalam pendekatan antara Zawahiri dan
Thalibi Effendi adalah kegagalan mereka atas memperhatikan pernyataan
jelas Al-Quran yang menyatakan bahwa Allah SWT mengirim ke setiap
masyarakat agama baik itu Syariat maupun Minhaj (atau dengan cara
terbuka) <20>. Sebagai akibatnya, sebagaimana tambahan dimana Zawahiri
benar menegaskan kita harus selalu setia pada hukum agama, ada juga

Minhaj yang fleksibel di mana kejeniusan manusia bisa mengekpresikannya


agar sesuai dengan perubahan situasi dan kondisi sementara tetap
mempertahankan hukum.
Masalah yang mendasar yang mengakibatkan kegagalan kongres
tersebut adalah gagalnya Komite Kedua dan Kongres dalam mengenali dan
mengatasinya, yang merupakan masalah pengkajian ulang interpretasi
ortodoks Tatanan Dunia Islam (Darul Islam) dan konsepsi Islam Tatanan
Internasional. Lembaga Khilafah tidak vakum. Perihal ini merupakan bagian
dari Darul Islam. Darul Islam tidak lagi ada di dunia pada tahun 1924.
Bahkan di Mekkah dan Madinah sekalipun. Dunia Islam kembali ke zaman
pra-Hijriah.
Solusi

untuk

masalah

tersebut

akan

menjadi

pembentukan

keberagaman Jamaah dalam setiap bagian dunia Islam, masing-masing


memiliki Amir/Imam, dan setiap imam menerima Baiat (sumpah setia) dari
anggota Jamaahnya dan secara hati-hati mengatur urusan jamaahnya,
semaksimal mungkin, dengan cara yang sesuai dengan Syariah. Kapanpun
munculnya akhir dari kejayaan Saudi-Wahabi atas Hijaz, dan bagi umat Islam
untuk mengembalikan kemerdekaan yang sesungguhnya di Hijaz, maka ada
kemunkinan Darul Islam dapat dipulihkan. Kemudian akan ada sebuah Amir
Darul Islam, dan setiap Amir yang lain yang memiliki Jamaahnya sendiri di
dunia akan memberikan Baiat kepada Amir Darul Islam !
Ini adalah perintah dari Nabi Muhammad saw bahwa jika ada dua
orang yang mengaku Amir atas setiap Jamaah umat Islam pada waktu yang
sama (yakni dalam Darul Islam), maka salah satunya harus dibunuh.
Ini sangat penting untuk dicatat bahwa Al-Quran menyatakan :
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan
ulil amri di antara kamu.
(Al-Quran, An Nisaa, 4:59)

Tidak memerintahkan mematuhi dia (yakni, satu orang) yang berkuasa. Tapi
pernyataan diatas hanya memerlukan ketaatan pada orang-orang yang
berkuasa. Al-Quran secara eksplisit mengakui kemungkinan pluralitas
(sementara) tentang kepemimpinan Umat selama tidak ada Darul Islam.
Pada awal sejarah Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, Umat
melimpahkan kekuasaan seluruh masyarakat kepada satu orang. Dulu, dan
masih, sangat penting untuk kesatuan pemerintahan Islam. Memang, itu
jauh lebih dibutuhkan, dan untuk alasan yang sama, untuk membatasi
pilihan pemimpin bagi suku Quraisy, suku Nabi saw.
Bagaimanapun juga, kepemimpinan yang satu berlangsung selama
hampir satu abad sebelum pluralitas terwujud. Maka, untuk sejarah Umat
Islam selanjutnya tidak pernah menganut kepemimpinan yang satu. Namun
demikian,

terus

berlanjut

sebagai

konstruksi

teologis

yang

harus

menginspirasi umat Islam.


Meskipun, Al-Quran mengakui kepemimpinan pluralitas, hal tersebut
seharusnya memungkinkan bagi Umat Islam untuk mengembalikan sistem
kepemimpinan yang satu atas Darul Islam melalui tahap demi tahap sambil
mengakui kepemimpinan pluralitas untuk sementara bagi Jamaah yang
beragam selama Darul Islam belum ada.
Komite Kedua gagal mengkaji kemunkinan ini, akibatnya, Kongres
tersebut berakhir dengan kegagalan. Laporan Komite Kedua mengandung
kecacatan yang lain, - sebuah kecacatan yang dimiliki teori politik Islam
klasik.

Berdasarkan

laporan,

departemen

Khalifah

bisa

diisi

melalui

pengangkatan Khalifah sebelumnya, atau bisa direbut dengan cara


penaklukan (kudeta).
Tak satupun dalam Al-Quran atau dalam Hadits, maupun dalam
sejarah Khulafaur Rasyidin ada dasar apa saja untuk keyakinan bahwa
kepemimpinan dalam Islam bisa diperoleh melalui penaklukan atau melalui

pengangkatan Khalifah sebelumnya. Namun harus diambil pelajaran dalam


sejarah

Islam

dan

bahkan

dalam

dunia

Muslim

kontemporer,

kita

menemukan kepemimpinan hampir selalu berbentuk dinasti kerajaan atau


melalui penaklukan (peran militer zaman modern ini membentuk bagian
penaklukan).
Generasi-generasi penerus ulama Islam keliru dalam memahami
hakikat pengangkatan Khalifah kedua, Umar bin Khattab ra oleh Abu Bakar
ra.

Memang,

memanfaatkan

salah

satu

kekeliruan

prasangka
ini

bahwa

berabad-abad

Ulama
paska

Sunni

banyak

teorisasi

untuk

menyediakan legitimasi doktrin selama berabad-abad dinasti monarki dalam


Islam. Faktanya, Abu Bakar ra mencalonkan Umar ra, bukan karena haknya
sebagai Khalifah melakukan itu, melainkan karena rakyat yang memiliki hak
tersebut lebih memilih menyerahkannya kepada Abu Bakar ra.
Sebenarnya ulama luar biasa kelirunya dengan menyatakan bahwa
Syariah mengizinkan Khalifah menunjuk penggantinya, dan berdampak,
dalam seluruh sejarah Khilafah, dan bahkan hingga hari ini, dinasti monarki
seperti bani Umayyah, Abbasiyah, Khilafah Utsmaniyah, Saudi monarki di
Arab Saudi, monarki Bani Hasyim di Yordania, monarki Syarifian di Morokko
dan beberapa monarki yang ada di Teluk.
Kemudian, masalah yang bahkan lebih membingungkan, ulama
menganugrahkan Abu Bakar ra, Umar ra, Utsman ra, dan Ali ra (semoga
Allah

SWT

merahmati

mereka)

dengan

sebutan

Khulafaur

Rasyidin

(Pemimpin yang mendapat petunjuk), karenanya menegaskan bahwa ada


sesuatu yang salah dengan Khilafah Muawiyah beserta para pendukungnya.
Dan tentu saja, yang paling mencolok tentang Khilafah dari empat Khalifah
pertama adalah tidak ada sedikit pun dinasti kerajaan ataupun pengambil
alihan departemen dilakukan melalui penaklukan. [Kami menyadari bahwa
ada beberaapa yang mempertanyakan kearifan ulama menutup tirai tentang
Khalifah yang mendapat petunjuk setelah sepeninggalan Ali ra. Beberapa

ulama bersikeras bahwa Muawiyah juga termasuk. Meski demikian, mereka


hanyalah minoritas dalam jajaran ulama Islam sunni].
Kesulitan yang dihadapi ulama pada saat Kongres Khilafah tahun 1926,
mendapat perhatian yang serius hingga saat ini. Pada tahun 1924, mereka
memprotes pembubaran Khilafah Utsmaniyah yang notabene adalah dinasti
monarki. Dan pada tahun 1926, bahkan pada tingkat analisis konseptual,
mereka sama sekali tidak mampu menggantikan sistem yang tidak Islami
yakni dinasti monarki dengan tatanan dunia yang sesuai dengan ketentuan
agama.
Dasar ayat Al-Quran mengenai dinamika kepemimpinan dalam model
Islam menyatakan bahwa umat Islam harus melakukan urusan mereka
berdasarkan musyawarah:
sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka;

Q.S Al-Quran Asy Syuura, 42:38)


Implikasi dasar dari ayat ini adalah bahwa dalam masyarakat Islam,
pengangkatan pemimpin dan penggantiannya (merupakan yang paling
penting dari semua urusan orang-orang beriman), harus dilakukan melalui
proses

musyawarah

di

antara

semua

orang-orang

beriman.

Dengan

mengakui hak Khalifah dalam menunjuk penggantinya atau departemen


Khalifah yang di peroleh melalui penaklukan, maka pendapat Ulama tersebut
<21> bertentangan dengan Al-Quran karena orang-orang beriman ditolak
hak (hak memilih) yang diberikan kepada mereka oleh Allah SWT sendiri.
Memang orang-orang beriman, hampir seluruh sejarah umat Islam,
menderita luka yang lebih besar. Mereka diperintahkan untuk mengesahkan
(sebagai kewajiban religius dengan Baiat) dengan risiko nyawa mereka,
penunjukan kepemimpinan yang mana merekka bukan bagian dalam
pemilihan tersebut. Oleh sebab itu, cukup jelas bahwa penolakan untuk

mengesahkan sebuah pemilihan dianggap sebagai pembangkangan dan


merupakan ancaman kudeta Khalifah yang hanya mencari legitimasi atas
kekuasaannya. <22>
Jawaban Komite Kedua atas pertanyaan Bagaimana caranya Khilfah
ditegakkan ? adalah kurang memuaskan terkait hal lain. Metode pertama
dan ketiga (pengangkatan dan penaklukan), sebagaimana telah kami
jelaskan, bertentangan dengan Al-Quran dan tak sesuai dengan Nabi
Muhammad saw dan Khulafau Rasyidin. Tapi bahkan dalam metode kedua
yang

disebutkan,

yakni

pilihan

rakyat,

Komite

Kedua

gagal

memperlihatkan mesin yang bisa digunakan pada tahun 1926 untuk


menerapkan metode kedua ini.
Pada akhirnya , kita mungkin kembali mencatat bahwa pertimbangan
Komite Kedua mengungkapkan bahwa ulama Al-Azhar, yang tampaknya
belum

membuat

studi

tentang

pemikiran

modern,

sebenarnya

tidak

menyadari sifat sesungguhnya tentang sistem Negara modern yang hendak


diberlakukan atas dunia Islam dan nyaris memikat hati dan memenjarakan
kesadaran politik Muslim.
Komite Ketiga
Komite

Ketiga

pertimbangannya

dan

jauh

lebih

gagah

blak-blakan

berani

dan

menyimpulkan

realistis
laporannya

dalam
yang

menyatakan :
Khilafah tak mampu direalisasikan pada saat ini dalam pandangan
situasi yang dihadapi umat Muslim.<23>
Alasannya adalah :
pada awalnya belum ada lembaga orang-orang yang berkuasa secara
hukum berhak membuat janji setia (baiat).<24>

Komite Ketiga mengakui bahwa mesin klasik (ahlul halli wal-aqdi), yang
seharusnya

digunakan

dalam

dioperasikan pada tahun 1926.

menentukan

pilihan

rakyat,

tak

bisa

Lebih jujur lagi jika diingat-ingat bahwa

sebenarnya mesin ini tidak pernah dioperasikan dalam sejarah Islam.


Bagaimanapun, cukup jujur mengakui bahwa :
Khilafah, yang sesuai dengan Hukum Islam dalam istilah yang
sebenarnya, hanya ada pada masa awal sejarah Islam. <25>
Komite mencatatkan bahwa Kongres telah berusaha mengumpulkan
perwakilan

dari

seluruh

masyarakat

Islam

di

Kairo

dan

untuk

mempertimbangkan kepercayaan kepada mereka sebuah tugas dalam


memilih Khalifah baru. Bagaimanapun juga, Komite menunjukkan bahwa
Kongres tidak semua mewakilkan seluruh dunia Islam karena banyak dari
sebagian masyarakat dunia Muslim yang berpengaruh tidak mengirim
perwakilannya. Ada makna tersirat dalam pernyataan ini, yang harus kita
catat, adalah implikasi jika Kongres diadiri oleh seluruh perwakilan rakyat
Muslim, kemungkinan akan ada seorang Khalifah yang ditunjuk. Meskipun
faktanya bahwa pemilihan seperti itu akan menjadi

yang pertama dalam

sejarah Islam.
Tapi barangkali yang paling menarik dari semua alasan yang diajukan
dari Komite Ketiga dalam menjelaskan ketidakmungkinan merealisasikan
Khilafah pada saat tersebut adalah fakta tentang :
seorang Khalifah, jika ditunjuk, tidak akan mampu memenuhi kewajiban
dasarnya dalam melaksanakan kekuasaan yang efektif atas Darul Islam.
Banyak bagian Darul Islam yang berada dalam kendali asing. Dan beberapa
orang yang bebas dan merdeka telah dirasuki oleh hasutan nasionalis yang
mencegah

setu

kelompok

mengakui

kepemimpinan

yang

lain,

tidak

mengizinkan pihak lain untuk ikut campur dalam urusan publiknya. <26>

Bahkan Komite tampaknya tidak menyadari fakta bahwa konsep politik


darul Islam itu sendiri berada dalam serangan pemikiran politik sekuler barat
dan berada dalam ambang terlupakan.
Apa yang lebih menarik adalah kenyataan bahwa bagian Dunia Muslim
yang seharusnya dinamakan Darul Islam berada dalam penjajahan asing.
Dengan berada di bawah kendali asing, mereka tidak lagi menjadi bagian
Darul Islam (karena definisi Darul Islam membutuhkan wilayah mengakui
kekuasaan tertinggi Allah SWT berlaku atas orang-orang beriman). Kedua,
tentu bukan hal baru lagi dalam Islam jika seorang Khalifah tidak bisa
mengendalikan Dunia Muslim lainnya secara efektif. Dan ini tidak mencegah
Khilafah dalam menjalankan fungsinya selama lebih dari 1300 tahun.
Pada kenyataannya, Komite Ketiga seharusnya mengemukakan bahwa
kota Mekkah dan Madinah berada dalam kendali Saudi-Wahabi, dan sebagai
akibatnya, Khalifah manapun yang ditunjuk nanti akan mengalami kesulitan
besar karena tidak memiliki kapasitas dalam menguasai Haramain. Pada satu
waktu ketika tidak adanya Khalifah dan lembaga Khilafah itu sendiri berada
dalam serangan, bahkan lebih daripada waktu normal, penting untuk
menunjuk siapa saja dalam mengontrol Haramain dan jua kegiatan ibadah
Haji. Dan faktanya, telah menjadi dasar upaya Syarif Hussein untuk
mengakuinya sebagai Khalifah.
Penguasa Saudi-Wahabi yang menguasai Haramain telah memberikan
demostrasi fakta yang cukup bahwa dia adalah kekuatan yang patut
diperhitungkan, dan di samping itu, dia sama sekali tak tertarik tentang
Khilafah. Disinilah letak kesulitan yang paling mendasar Kongres Khilafah.
Apa yang seharusnya dilakukan oleh Komite, dan tidak dilakukan,
adalah untuk menyimpulkan bahwa tidak ada Khalifah yang bisa diangkat
dan diakui oleh umat Islam selama Barat menguasai Haramain dan ibadah
Haji. Dan Barat akan terus melakukan kendali politik seperti itu selama
Wahabi menguasai Haramain. Akibatnya, detik-detik terakhir adalah untuk

menemukan cara dan sarana menangkal diplomasi Inggris di semenanjung


dan mengusir Saudi-Inggris yang menguasai Haramain dan mengembalikan
Haramain kepada Umat Islam.
Laporan Komite Ketiga mengimbau Kongres untuk tidak berkecil hati
dengan kegagalan dalam memecahkan masalah tentang Khilafah dan
mengangkat seorang Khalifah baru :
Cukup bagi Kongres untuk mengetahui bahwa Kongres telah memberikan
layanan besar kepada umat Islam dalam mendiagnosis penyakit serta
menunjukkan obatnya kepada mereka. <27>
Obat yang direkomendasikan adalah :
masyarakat Islam harus mengelola bersama-sama di beberapa negeri
Islam, Kongres berikutnya yang akan memberikan mereka kesempatan
perubahan periode pandangan hingga mereka sukses memecahkan masalah
Khilafah yang sesuai dengan kepentingan Islam.<28>
Resolusi Kongres
Kongres kecewa dengan pesimistis Laporan Komite Ketiga. Memang,
Syeikh Al-Zawahiri menjulukinya orasi pemakaman Islam. Para delegasi,
yang

lebih

dulu

membuka

Kongres

ke

publik

dan

pers,

sekarang

memutuskan bahwa satu bagian dari laporan tersebut harus dirahasiakan


dari pers. <29> Syeikh Zawahiri, yang mememimpin oposisi terhadap
laporan Komite Ketiga, mengajukan rancangan resolusi yang disahkan
Kongres. <30> Resolusi tersebut menegaskan bahwa Khilafah mampu
direalisasikan. Kongres lain seharusnya diadakan di mana semua rakyat
Muslim terwakili dan bahwa Kongres tersebut

akan mengambil langkah-

langkah yang diperlukan untuk mendirikan Khilafah yang memenuhi


persyaratan sesuai Syariah. Singkatnya, seperti sebuah Kongres pemilihan
Khalifah baru.

Dengan catatan optimis ini Kongres tersebut berakhir. Komite Ketiga,


terlalu dikuasai oleh Kongres, kekhawatiran mereka akhirnya terbukti benar
karena usulan Kongres tersebut, yang seharusnya memilih seorang Khalifah
baru, tidak pernah dilakukan. Pada kenyataannya, Dunia Islam memasuki
periode setelah Khilafah tidak ada. Dan penyebab yang mendasar adalah
kekuasaan Saudi-Wahabi di Hijaz dan Haramain, dan pendirian Negara
bangsa Saudi-Wahabi Arab Saudi yang juga sebagai sekutu Negara Barat
yang tak bertuhan.
Pada saat debu mengotori inisiatif Al-Azhar tersebut dalam merespon
pembubaran Khilafah Utsmaniyah, menjadi jelas bahwa strategi Zionis
Yahudi dan Inggris telah membuat prestasi yang luar biasa, yakni, era Islam
tanpa adanya Khilafah !

Bab 4
Alternatif Saudi-Wahabi yang Licik terhadap
Khilafah

Kongres Muslim Sedunia di Mekkah, Juni-Juli 1926


Konres Muslim Sedunia, yang diselenggarakan di Mekkah pada bulan
Juli

1926,

diadakan

karena

pengaruh

tentang

pembubaran

Khilafah

Utsmaniyah di semenanjung Arab (jazirah arab), dan terutama atas Istana


Saud yang baru dibentuk kekuasaannya di Arabia.
Abdul Aziz ibn Saud telah merebut kembali Najd setelah merebut
kembali Riyadh pada tahun 1902. Tapi dengan membangun politik raison
detre

(alasan

keberadaannya)

bagi

kekuasaan

Istana

Saud

yang

berlandaskan gerakan religius Wahabi, tak terelakkan lagi bahwa Wahabi


Najd harus merebut Hijaz, setiap kali kesempatan muncul, untuk memaksa
menyerahkan

jantung

negeri

Islam

kepada

(sudut

pandang

Wahabi

mengenai) keimanan sejati.


Kesempatan itu muncul ketika Syarif Hussein (gubernur Mekkah yang
dipilih Utsmaniyah), bertindak bersamaan dengan strategi Kekuatan Sekutu
pada Perang Dunia Pertama, merebut Hijaz dari Utsmaniyah Turki pada tahun
1016

dan

memberlakukan

peraturan

Bani

Hasyim

Hussein.

Dengan

demikian, ia melarang Wahabi melakukan ibadah Haji. Terlepas dari konflik


teologis dengan Wahabi yang membenarkannya, dia juga menyadari fakta
bahwa Wahabi Najd merupakan ancaman nyata bagi kekuasaannya di Hijaz.
Hussein dan Ibn Saud, keduanya bersekutu dengan Inggris selama
perang, dan sebagai akibatnya, Ibn Saud tidak bisa merebut Hijaz saat
perang berlangsung. Bahkan setelah kesimpulan kebijaksanaan perang pun

mendiktenya bahwa dia harus melihat langkah apa yang akan dilakukan
Khalifah di Istanbul dalam merebut kembali Hijaz.