Anda di halaman 1dari 5

KERANGKA ACUAN KERJA

PROGRAM PENINGKATAN MUTU KLINIS DAN KESELAMATAN PASIEN


PUSKESMAS PAGUYAMAN
A. PENDAHULUAN
Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, seluruh unit pelayanan yang
ada dan seluruh karyawan berkomoitmen untuk memberikan pelayanan yang
bermutu dan peduli terhadap keselamatan pasien, pengunjung, masyarakat, dan
karyawan yang bekerja di Puskesmas.
Program mutu dan keselamatan pasien merupakan program yang wajib
direncanakan, dilaksanakan, dimonitor, dievaluasi dan ditindaklanjuti di seluruh
jajaran yang ada di Puskesmas Paguyaman, Kepala Puskesmas, Penanggung jawab
pelayanan klinis, dan seluruh karyawan.
Oleh karena itu perlu disusun program peningkatan mutu dan keselamatan
pasien, yang menjadi acuan dalam penyusunan program-program mutu dan
keselamatan pasien di unit kerja untuk dilaksanakan pada tahun 2016
B. LATAR BELAKANG
Di Indonesia, penyakit TB merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat. Tahun 1990, WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus
baru TB di Indonesia dengan kematian karena TB sekitar 140.000, secara kasar
diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita TB baru
BTA positf.
Pada tahun 1995 hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan
bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit
kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia,dan
nomor 1 dari golongan penyakit infeksi.
Penyakit TB menyerang sebagian besar kelompok usia kerja produktif, kelompok
ekonomi lemah,dan berpendidikan rendah. Sejak tahun 1995, program
Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru telah dilaksanakan dengan strategi
DOTS (Directly Observed Treatment, Shortcourse chemotherapy) yang
direkomendasikan oleh WHO. Penanggulangan TB dengan strategi DOTS dapat
memberikan angka kesembuhan yang tinggi, namun sampai saat ini program
penanggulangan TB dengan strategi DOTS belum dapat menjangkau seluruh
puskesmas, demikian juga RS swasta maupun pemerintah, dan unit pelayanan
kesehatan lainnya.
Tahun 1995 1998, cakupan penderita TB dengan strategi DOTS baru
mencapai sekitar 10% dan error rate pemeriksaan laboratorium belum dihitung
dengan baik meskipun cure rate lebih besar dari 85%.
Penatalaksanaan penderita dan sistem pencatatan pelaporan belum seragam di
semua unit pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. Pengobatan yang
tidak tertatur dan kombinasi yang tidak lengkap di masa lalu diduga telah
menimbulkan kekebalan ganda kuman TB terhadap obat Anti-Tuberkulosis (OAT)
atau Multi Drug Resistance (MDR).
C. TUJUAN

1. Tujuan umum
- Menurunkan angka kesakitan dan angka kematian penyakit TB dengan cara
memutuskan rantai penularan, sehingga penyakit TB tidak lagi merupakan
masalah kesehatan masyarakat.
2. Tujuan Khusus
- Tercapainya angka kesembuhan minimal 85% dari semua penderita baru BTA
Positif
- Tercapainya cakupan penemuan penderita secara bertahap sehinggan
diharapakan dapat mencapai 70% dari perkiraan semua penderita baru BTA
positif.
D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN
1. Penemuan dan diagnosis penderita
2. Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe TB
3. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung
4. Pengobatan penderita dan pengawasan pengobatan
5. Cross check sediaan dahak
6. Penyuluhan Tuberkulosis
7. Pencatatan dan Pelaporan
8. Monitoring dan Evaluasi
E. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN
1. Penemuan dan Diagnosis Penderita
Penemuan penderita TB dilakukan secara pasif,artinya penjaringan tersangka
penderita dilaksanakan pada mereka yang datang berkunjung ke UPK. Pada
penderita dewasa dengan gejala umum batuk terus menerus dan berdahak
selama 2 minggu atau lebih dengan gejala lain yang sering dijumpai : dahak
campur darah, batuk darah, sesak nafas dan nyeri dada, badan
lemah,berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, nafsu makan turun, BB turun,
atau demam meriang lebih dari sebulan dapat dicurugai sebagai tersangka TB.
Diagnosis TB pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA
pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Semua tersangka penderita harus
diperiksa spesimen dahak dalam waktu 2 hari berturut-turut, yaitu sewaktu-pagisewaktu (SPS). Hasil pemeriksaan dinyatakan positif bila sedikitnya 2 dari 3
spesimen SPS BTA hasilnya positif. Alur pemeriksaan TB pada pasien dewasa
selengkapnya tertuang dalam SPO Tuberkulosis.
2. Penentuan dan Klasifikasi penyakit dan Tipe TB
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita TB memerlukan suatu definisi
kasus yang memberikan batasab baku setiap klasifikasi dan tipe penderita.
Adaempat hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan definisi kasus,yaitu :
a. Organ tubuh yang sakit : paru atau ekstra paru
b. Hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung : BTA positif atau
negatif
c. Riwayat pengobatan sebelumnya : baru atau sudah pernah diobati
d. Tingkat keparahan penyakit : ringan atau berat

3. Pemeriksaan Dahak Mikroskopis Langsung


Pemeriksaan dahak dilaksanakan selama 2 hari berturut-turut yaitu SPS :
sewaktu pagi sewaktu
4. Pengobatan Penderita dan Pengawasan Pengobatan
Pengobatan penderita TB tergantung dari kategori/jenis TB yang diderita oleh
pasien, dan tujuan pengobatan TBC adalah : menyembuhkan penderita,
mencegah kematian, mencegah kekambuhan, dan menurunkan resiko penularan.
Pnderita TB bisa mendapatkan paket obat TB yg disebut FDC (Fixed Dose
Combination) secara gratis di Puskesmas, RS, BP4/RS Paru, Klinik PPTI, dokter
umum atau dokter spesialis. Strategi pengobatan pasien TB dilakukan dengan
DOTS (Directly Treatment, Shortcourse Chemotherapy) adalah strategi
pengobatan TB dengan menggunakan paduan obat jangka pendek dan diawasi
langsung oleh seorang pengawas yang dikenal sebagai PMO (Pengawas Minum
Obat) untuk menjamin kepatuhan penderita menelan obat secara teratur. PMO
adalah pengawas menelan minum obat yang akan selalu mengingatkan penderita
TBC agar tidak lupa minum obat secara teratur sampai selesai pengobatan.
Penderita TBC bebas memilih PMO-nya misalnya : petugas kesehatan, kader
kesehatan, tokoh masyarakat, kader PKK,keluarga,teman, dll. Obat TBC harus
diminum secara teratur sampai penderita dinyatakan sembuh dengan lama
pengobatan berkisar antara 6 sampai 8 bulan.
5. Cross Check Sediaan Dahak
Kualitas laboratorium diawasi melalui pemeriksaan Uji Silang (cross check), untuk
menjaga kualitas pemeriksaan laboratorium,dibentuklah KPP (Kelompok
Puskesmas Pelaksana) terdiri dari 1 Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM) dan
beberapa PS (Puskesmas Satelit) dimana Puskesmas Paguyaman merupakan
Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM).
6. Penyuluhan Tuberkulosis
Penyuluhan yang merupakan bagian dari promosi kesehatan yang perlu
dilakukan karena masalah TB banyak berkaitan dengan masalah pengetahuan
dan perilaku masyarakat. Tujuan penyuluhan adalah untuk meningkatkan
kesadaran,kemauan dan peran serta masyarakat dalam penanggulangan TB
sehingga penyuluhan dapat dilaksanakan secara langsung kepada perorangan
maupun kelompok,maupun secara tidak langsung dengan menggunakan media
dalam bentuk media cetak maupun media massa. Dalam program
penanggulangan TB, penyuluhan langsung perorangan sangat penting artinya
untuk menentukan keberhasilan pengobatan penderita. Penyuluhan ini ditujukan
kepada suspek, penderita dan keluarganya supaya penderita menjalani
pengobatan secara teratur sampai sembuh. Bagi anggota keluarga yang sehat
dapat menjaga, melindungi dan meningkatkan kesehatannya, sehingga terhindar
dari penularan TB. Penyuluhan dengan menggunakan bahan cetak dan media
massa dilakukan untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas, untuk mengubah
persepsi masyarakat tentang TB dari suatu penyakit yang tidak dapat
disembuhkan dan memalukan, menjadi suatu penyakit yang berbahaya, tapi
dapat disembuhkan.
Penyuluhan langsung dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, para kader dan PMO,
sedangkan penyuluhan kelompok dan penyuluhan dengan media massa selain

dilakukan oleh tenaga kesehatan juga oleh para mitra dari berbagai sektor
termasuk media massa.
7. Pencatatan dan pelaporan
Dalam melaksanakan pencatatan di Puskesmas menggunakan formulir sbb:
a. Daftar tersangka suspek yang diperiksa dahak SPS (TB 06)
b. Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak (TB 05)
c. Kartu pengobatan TB (TB 01)
d. Formulir rujukan/pindah penderita (TB 09)
e. Formulir hasil akhir pengobatan penderita TB pindahan (TB 10)
f. Register laboratorium (TB 04)
Pelaporan ke Dinas Kesehatan Kabupaten dilaksanakan tiap bulan secara rutin.
8. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai
keberhasilan pelaksanaan program. Kegiatan monitoring dilaksanakan secara
berkala dan terus menerus untuk segera dapat mendeteksi bila ada masalah
dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan. Kegiatan monitoring
dilaksanakan tiap bulan.
Evaluasi dilakukan tiap 3 bulan sekali untuk mengetahui sejauh mana tujuan dan
target yang telah ditetapkan sebelumnya.
F. SASARAN
Sasaran program TB ini adalah :
1. Semua pasien batuk yang memenuhi kriteria untuk diperlakukan sebagai suspek.
2. Semua pasien yang kontak erat dengan penderita TB
3. Masyarakat umum
G. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN
No
1
2
3
4

Kegiatan
Penemuan
dan
diagnosis
penderita
Penentuan klasifikasi dan tipe TB
Pemeriksaan dahak mikroskopis

Pengobatan
penderita
pengawasan
Cross check sediaan dahak

6
7
8

Penyuluhan Tuberkulosis
Pencatatan dan pelaporan
Monitoring dan evaluasi

Waktu
Setiap hari kerja

Penanggungjawab
Tenaga klinis

Setiap hari kerja


Setiap hari kerja

Tenaga klinis
Tenaga
laboratorium
Tenaga klinis, PMO

dan Setiap hari kerja


Setiap 3 bulan

Setiap hari kerja

Tenaga
laboratorium
Tenaga klinis
Tenaga klinis, Lab

H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN


Evaluasi pelaksanaan kegiatan dilakukan tiap bulan sekali dalam lokakarya mini
Puskesmas sedangkan Pelaporan ke Dinas Kesehatan Kabupaten dilaksanakan tiap
bulan sekali.
I. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN
a. Pencatatan pasien baru TB BTA positif dan pengambilan obat di format TB 05
yang dilaporkan tiap bulan ke Dinas Kesehatan Kabupaten.
Evaluasi kegiatan tingkat Puskesmas dilaksanakan tiap bulan di Puskesmas dalam
lokakarya mini Puskesmas, sedangkan evaluasi dan validasi data di tingkat kabupaten
dilaksanakan tiap 3 bulan sekali.