Anda di halaman 1dari 49

MATERI INTI 4

PENCATATAN DAN PELAPORAN DATA


PENYAKIT MENULAR, PENYAKIT TIDAK MENULAR,
DAN KESEHATAN JIWA

I.

DESKRIPSI SINGKAT
Pencatatan dan Pelaporan Data Penyakit Menular, Penyakit Tidak Menular,
dan Kesehatan Jiwa merupakan suatu sistem pencatatan dan pelaporan
penyakit menular, peyakit tidak menular, dan kesehatan jiwa secara manual
dan/atau elektronik. Data penyakit menular meliputi TB, HIV/AIDS,
hepatitis, diare, tiphoid, ISPA, kusta, frambusia, pneumonia, DBD,
chikungunya, filariasis, malaria, rabies, kecacingan, imunisasi, penyakit
potensi KLB. Data penyakit tidak menular meliputi faktor risiko PTM, deteksi
dini PTM, penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit kanker, penyakit
kronis dan degeneratif, Diabetes Mellitus dan penyakit metabolik lain,
gangguan akibat kecelakaan dan tindak kekerasan, serta gangguan indera
dan fungsional. Sedangkan data kesehatan jiwa meliputi kesehatan jiwa
anak dan remaja, kesehatan jiwa dewasa dan lanjut usia, dan
penyalahgunaan NAPZA. Pencatatan dan pelaporan dilaksanakan mulai dari
pencatatan individu klien/pasien, register, dan pelaporan menggunakan
format yang sudah standar.

II.

TUJUAN PEMBELAJARAN

a. Tujuan Pembelajaran Umum:


Peserta latih mampu melaksanakan Pencatatan dan Pelaporan Data
Penyakit Menular, Penyakit Tidak Menular, dan kesehatan jiwa
b. Tujuan Pembelajaran khusus:
Peserta latih mampu melaksanakan:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Pencatatan data Penyakit Menular,


Pencatatan data Penyakit Tidak Menular,
Pencatatan data Kesehatan Jiwa
Pelaporan bulanan kesakitan umum
Pelaporan bulanan penyakit menular
Pelaporan bulanan penyakit tidak menular
Pelaporan bulanan kesehatan jiwa
Pelaporan tahunan penyakit

III.

POKOK BAHASAN DAN ATAU SUB POKOK BAHASAN:


1. Pencatatan
a. Penyakit menular
b. Penyakit tidak menular
c. Kesehatan jiwa
2. Pelaporan
a. Pelaporan bulanan kesakitan umum
b. Pelaporan bulanan penyakit menular
c. Pelaporan bulanan penyakit tidak menular
d. Pelaporan bulanan kesehatan jiwa
e. Pelaporan tahunan penyakit

IV.

BAHAN BELAJAR

1. Buku SP2TP 1-4


2. Permenkes Sistem Informasi Puskesmas

V.

LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN

a. LANGKAH-LANGKAH:
Presentasi (45)
1. Fasilitator mengajak peserta berdiskusi mengenai gambaran umum
Pencatatan dan Pelaporan Data Penyakit Menular, Penyakit Tidak
Menular, dan Kesehatan Jiwa
2. Fasilitator mengajak peserta berdiskusi mengenai a) Pencatatan dan
Pelaporan Data Penyakit Menular, b) Pencatatan dan Pelaporan Data
Penyakit Tidak Menular, c) Kesehatan jiwa
Pengantar Diskusi Kelompok I (15)
Fasilitator memandu peserta untuk melakukan simulasi Pencatatan dan
Pelaporan Data Penyakit Menular, Penyakit Tidak Menular, dan Kesehatan
Jiwa
Diskusi kelompok dan pemaparan hasil diskusi (120)
1. Fasilitator mengajak peserta untuk diskusi kelompok
2.Fasilitator memfasilitasi masing-masing kelompok memaparkan hasil
diskusinya
b. METODE:
1. Presentasi (45) dan Diskusi kelompok (135)

c MEDIA :
1. Laptop
2. LCD proyektor
3. Kertas flipchart
4. Spidol
d. DURASI: 180 menit

VI.

URAIAN MATERI

A. Pokok Bahasan 1: Pencatatan


1. Pencatatan Penyakit Menular
a. Tuberculosis (TB)
Data untuk program pengendalian TB diperoleh dari sistem
pencatatan-pelaporan TB. Pencatatan menggunakan formulir standar
secara manual didukung dengan sistem informasi secara elektronik,
sedangkan pelaporan TB menggunakan sistem informasi elektronik.
Penerapan sistem informasi TB secara elektronik disemua fasilitas
pelayanan kesehatan dilaksanakan secara bertahap dengan
memperhatikan ketersediaan sumber daya di wilayah tersebut.
Sistem Pencatatan dan Pelaporan TB terdiri dari dua sistem, yaitu
sistem pencatatan dan pelaporan untuk TB sensitif obat dan TB
resistant obat. Sistem pencatatan dan pelaporan TB
Sistem pencatatan-pelaporan TB secara elektronik menggunakan
Sistem Informasi TB Terpadu (SITT) dan E-TB Manajer yang berbasis
web dan terintegrasi dengan sistem informasi kesehatan secara
Nasional
1) Sumber Data dan Variabel
a) Kartu Pengobatan Pasien TB (TB.01) berisi tentang tentang:
o Informasi umum pasien: Identitas pasien :Nama,Telp/HP,
Nomor Induk Kependudukan (NIK), tanggal lahir, umur,
alamat lengkap pasien dankelamin, Nama, Telp/HP dan
alamat PMO, Nama fasyankes tempat pasien berobat,
kab/kota, provinsi dan tahun, Nomor Register TB.03 Faskes,
Nomor Register Kab/ Kota
o Informasi klinis pasien berisi tentang : berat badan pasien,
Parut BCG: Tidak ada/ Ada, Jika wanita usia subur :
Hamil/Tidak Hamil, Jika anak :jumlah skoring TB Anak.Tipe
Diagnosis dan Klasifikasi Pasien TB, Hasil pemeriksaan
contoh uji, terdiri dari : tanggal pemeriksaan, nomor register
laboratorium dan hasil pemeriksaan baik BTA (+), biakan
dan tes cepat, Pemeriksaan lain-lain (uji tuberculin, foto
toraks, Biopsi jarum halu dan hasil Biakan hasil contoh uji

selain dahak, Pemeriksaan kontak, Kegiatan TB DM,


Paduan, bentuk dan jumlah OAT yang diberikan pada setiap
kunjungan, baik untuk tahap awal dan tahap lanjutan,
Nomor Batch dan sumber obat.
o
o
o

Informasi tentang : Dirujuk oleh, Pindahan dari, Kegiatan TB


DM, Rujukan/ pindah pasien TB
Informasi tentang pelayanan HIV
Hasil Akhir Pengobatan.

b) Kartu Identitas Pasien TB (TB.02) dicatat tentang :


o Informasi umum pasien.
o Klasifikasi berdasarkan anatomis dan klasifikasi berdasrkan
riwayat pengobatan sebelumnya.
o Tanggal mulai berobat (tanggal, bulan dan tahun)
o Paduan OAT yang diberikan
o Tanggal perjanjian untuk pengambilan obat, konsultasi
dokter dan periksa ulang dahak).
c) Formulir Register TB. 03 Fasilitas Kesehatan merupakan
rekap dari Kartu Pengobatan Pasien TB (TB.01)
d) Daftar Terduga TB (TB.06) berisi tentang:
o Informasi umum pasien: Identitas pasien :Nama,Telp/HP,
Nomor Induk Kependudukan (NIK), tanggal lahir, umur,
alamat lengkap pasien dankelamin,
o Informasi klinis pasien berisi tentang : lokasi anatomi
penyakit, Jika anak :jumlah skoring TB Anak. Tanggal
pemeriksaan contoh uji, terdiri dari : tanggal pemeriksaan,
nomor register laboratorium dan hasil pemeriksaan baik
BTA (+), biakan dan tes cepat, Pemeriksaan lain-lain (uji
tuberculin, foto toraks, Biopsi jarum halu dan hasil Biakan
hasil contoh uji selain dahak, Pemeriksaan kontak,
Kegiatan TB DM, Paduan,
o Informasi tentang : Dirujuk oleh, tindakan lanjut
pengobatan
o Informasi tentang pelayanan HIV
e) Kartu rujukan pemeriksaan laboratorium (TB 04) berisi
tentang:
o Informasi : nama laboratorium, jenis pasien TB
sensitive/TB RO, jumlah sediaan positif (diagnosis, follow
up, total, scanty) , jumlah sediaan negative
f) Kartu hasil pemeriksaan Laboratorium (TB 05) berisi
tentang:
o Informasi : nama laboratorium, jenis terduga/pasien TB
sensitive/TB RO, TB-HIV, alasan pemeriksaan,contoh uji,
jumlah dan jenis pemeriksaan, hasil pemeriksaan
g) Kartu Pengobatan Pasien TB (TB.01) berisi tentang
tentang:

o
o
o

Informasi umum pasien: Identitas pasien :Nama,Telp/HP,


Nomor Induk Kependudukan (NIK), tanggal lahir, umur,
alamat lengkap pasien dankelamin, Nama, Telp/HP dan
alamat PMO, Nama fasyankes tempat pasien berobat,
kab/kota, provinsi dan tahun, Nomor Register TB.03
Faskes, Nomor Register Kab/ Kota
Informasi klinis pasien berisi tentang : berat badan pasien,
Parut BCG: Tidak ada/ Ada, Jika wanita usia subur :
Hamil/Tidak Hamil, Jika anak :jumlah skoring TB
Anak.Tipe Diagnosis dan Klasifikasi Pasien TB, Hasil
pemeriksaan contoh uji, terdiri dari : tanggal pemeriksaan,
nomor register laboratorium dan hasil pemeriksaan baik
BTA (+), biakan dan tes cepat, Pemeriksaan lain-lain (uji
tuberculin, foto toraks, Biopsi jarum halu dan hasil Biakan
hasil contoh uji selain dahak, Pemeriksaan kontak,
Kegiatan TB DM, Paduan, bentuk dan jumlah OAT yang
diberikan pada setiap kunjungan, baik untuk tahap awal
dan tahap lanjutan, Nomor Batch dan sumber obat.
Informasi tentang : Dirujuk oleh, Pindahan dari, Kegiatan
TB DM, Rujukan/ pindah pasien TB
Informasi tentang pelayanan HIV
Hasil Akhir Pengobatan.

h. Kartu Identitas Pasien TB (TB.02) dicatat tentang :


o
o
o
o
o
o

Informasi umum pasien.


Klasifikasi
berdasarkan
anatomis
dan
klasifikasi
berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya.
Tanggal mulai berobat (tanggal, bulan dan tahun)
Paduan OAT yang diberikan
Tanggal perjanjian untuk pengambilan obat, konsultasi
dokter dan periksa ulang dahak).
Formulir Register TB. 03 Fasilitas Kesehatan
merupakan rekap dari Kartu Pengobatan Pasien TB
(TB.01)

b. Malaria
Sumber Data dan Variabel
1) Kartu Penderita Malaria (terdapat pada formulir 46)
Kartu Penderita Malaria digunakan untuk mendata lebih teliti
pada setiap penderita malaria konfirmasi, teruatama di
daerah yang telah mencapai status eliminasi malaria atau
status pemeliharaan. Kartu penderita malaria digunakan
hanya untuk pasien malaria yang telah terkonfirmasi secara
laboratorium (Mikroskop/RDT/PCR) dan hasil pemeriksaan
positif malaria. Kartu ini merupakan kartu yang mendata
pasien secara individu, digunakan selama menjalani
pengobatan dan pemantauan pengobatan. Variabel yang ada
dalam kartu penderita malaria dapat dilihat di table 2.4.1.1
jenis Data dan Definisi operasional Kartu Penderita Malaria.

2) Register Malaria (terdapat pada formulir 47)


Register Penderita Malaria digunakan untuk menghimpun
data kasus malaria yang telah direkam dalam Kartu Penderita
Malaria. Register malaria terdapat pada aplikasi e-sismal
yaitu pada sheet Regmal, register malaria dibedakan menjadi
dua yaitu Regmal individu untuk daerah pre-eliminasi,
eliminasi dan pemeliharaan dan Regmal agregat untuk daerah
pemberantasan. Register malaria terdiri atas data kasus,
logistik dan data program pengendalian malaria. Variabel
pada register malaria dapat dilihat di tabel 2.4.1.2 Jenis Data
dan Definisi operasional Kartu Register Penderita Malaria
3) Register Kelambu Berinsektisida (terdapat pada formulir 49)
Register Kelambu Berinsektisida digunakan untuk pendataan
pada pelaporan pembagian kelambu. Pembagian kelambu
pada program malaria yaitu pembagian kelambu massal
(cakupan total coverage) dan pembagian kelambu rutin (ibu
hamil dan balita). Pembagian kelambu massal dilaksanakan
di daerah endemis tinggi malaria API>5 dan pembagian
kelambu rutin dilaksanakan di daerah endemis sedang API 15.

a. Mekanisme Pencatatan
1) Pencatatan data Kasus malaria
Pasien dicatat dalam register pasien puskesmas, pasien yang
dicurigai malaria (suspek malaria) mendapatkan pemeriksaan
sediaan darah malaria (Mikroskop/RDT). Data suspek dan
hasil pemeriksaan malaria dicatat pada register laboratorium
malaria.Pasien malaria yang positif dicatat dalam register
malaria yang ada dalam Regmal e-Sismal. Pasien malaria yang
positif dicatat secara individu dikolom bawah regmal,
sedangkan pasien yang negatif pemeriksaan malarianya
hanya dicatat jumlahnya saja di kolom sediaan darah
negative diperiksa dengan. Sedangkan data suspek malaria
diisi dengan jumlah kesuluruhan (data agregat) dan
dimasukkan pada kolom suspek.

2)

Pencatatan data Program Malaria (Pembagian Kelambu)


a) Pencatatan Kelambu Massal
Pencatatan kegiatan pembagian kelambu dimulai dari
tingkat desa dimana kader mendata semua orang yang
mendapat kelambu yang berupa data individu beserta tanda

tangannya. Berikut alur pencatatan pembagian kelambu


massal

Formulir 1
Pencatatan Hasil Pembagian Kelambu Massal Tingkat Desa
Formulir 2
Laporan Hasil Pembagian Kelambu Massal Tingkat
Formulir 3
Laporan Hasil Pembagian Kelambu Massal Tingkat
Formulir 4
Laporan Hasil Pembagian Kelambu Massal Tingkat
Gambar. Alur pencatatan kegiatan pembagian kelambu
b) Pencatatan Kelambu Integrasi
Pencatatan kelambu integrasi dicatat dalam formulir
pendistribusian kelambu berinsektisida terpadu, tingkat desa
dan Puskesmas:

c) Pencatatan distribusi kelambu dalam e-sismal


Kelambu yang telah dicatat didalam Formulir dicatat kembali
dalam bentuk agregat di e-sismal pada register e-sismal.

c. Demam Berdarah Dengue


Pengendalian Demam Berdarah Dengue meliputi deteksi dini dan tata laksana
kasus DBD, pemeriksaan jentik berkala di desa, di sekolah, di fasilitas
pelayanan kesehatan (RS, Puskesmas, dan Klinik) dan tempat-tempat umum
lainnya, dan melaksanakan upaya pengendalian nyamuk menular demam
berdarah melalui kegiatan 3M (menutup tempat-tempat berkembang biaknya
nyamuk, menguras tempat penampungan air seminggu sekali dan mengubur
barang bekas sesuai dengan peraturan yang ada) serta melakukan upaya
pengendalian nyamuk lainnya (larvasidasi, fogging, repelant, obat pengusir
nyamuk).
Hasil kegiatan pemeriksaan jentik berkala pada satu rumah atau gedung
tertentu dicatat dalam Kartu Pemeriksaan Jentik Berkala di tempat tertentu (di
desa, sekolah, fasilitas pelayanan kesehatan dan tempat-tempat umum
lainnya). Data pemeriksaan jentik berkala pada kartu dicatat kembali ke dalam

Register

Pemeriksaan

Jentik

Berkala

sesuai

dengan

kelompok

wilayah

pemeriksaan. Instrumen yang digunakan pada pencegahan dan pengendalian


demam berdarah dengue antara lain:
a. Kartu Pemeriksaan Jentik Berkala Rumah dan Bangunan/Institusi

(terdapat pada formulir 50)


b. Register Pemeriksaan Jentik Berkala Rumah dan Bangunan/Institusi
(PJB-0) (terdapat pada formulir 51)
c. Register Pemeriksaan Jentik Berkala Rumah dan Bangunan Menurut
Kelurahan/Desa (PJB-1) (terdapat pada formulir 52)
d. Register Pemeriksaan Jentik Berkala Institusi (PJB-2) (terdapat pada

formulir 53)
e. Register Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD Puskesmas (PSN-DBD) (PDBD) (terdapat pada formulir 54)

Alur pencatatan kegiatan pemeriksaan jentik berkala terhadap kawasan


pemukiman (rumah dan bangunan) pada pengendalian Demam Berdarah
Dengue adalah sebagai berikut :

Kartu PJB
Rumah dan
Bangunan
/Institusi
PJB terhadap
kawasan
pemukiman (rumah
dan bangunan/
institusi di
Kelurahan/Desa
berisiko penularan
DBD)

Register PJB
Rumah dan
Bangunan/In
stitusi
Per
Desa/Kel

Ditinggal di
Rumah/
Institusi

Register
PJB Menurut
Kelurahan/De
sa

Daftar/Jumla
h Desa/Kel
berisiko
penularan
DBD

Gambar 2.4.2. Skema Pencatatan Kegiatan PJB Kawasan Pemukiman (Rumah


dan Bangunan Pada Pengendalian DBD

Alur pencatatan kegiatan pemeriksaan jentik berkala terhadap Institusi


(bangunan) pada pengendalian Demam Berdarah Dengue adalah sebagai
berikut :
Kartu PJB
Rumah dan
Bangunan
/Institusi

PJB Institusi
Prioritas
(Fasyankes,
Sekolah, dsb)

Ditinggal
di Rumah/
Institusi

Register PJB
Rumah dan
Bangunan/Institusi
Per Institusi

Register
PJB
Menurut
Institusi

Daftar/Jumlah
Institusi
berisiko
penularan DBD

Gambar 2.4.3. Skema Pencatatan Kegiatan PJB Institusi Pada Pengendalian DBD

Alur pencatatan kegiatan PSN-DBD desa/kelurahan adalah sebagai berikut :

Daftar Jumlah
Desa/Kelurahan
berisiko penularan
DBD

Hasil kegiatan
direkam dalam
Register
PSN-DBD

Dilaksanakan
kegiatan
PSN-DBD

Gambar 2.4.4. Skema Pencatatan Kegiatan PSN-DBD Pada Pengendalian DBD

Alur pencatatan kasus DBD adalah sebagai berikut :


Laporan
Bulanan
Kasus
Suspek
DBD

Kartu/Register
Rawat jalan/
Rawat inap

Register
DBD
Puskesmas

Register
DBD per
Desa/bulan
PWS
DBD

Informasi
kasus dari
RS Kasus
Suspek

Penyelidikan
kasus DBD

Laporan
Penyelidikan
(Daftar Kasus DBD)

Gambar 2.4.5. Skema Pencatatan Kasus DBD Pada Pengendalian DBD

10

a. Kartu PJB Rumah dan Bangunan


1) Penggunaan
Kartu Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) Rumah dan Bangunan
digunakan untuk mencatat kegiatan dan hasil kegiatan pemeriksaan
jentik dari rumah atau bangunan pada kawasan pemukiman tertentu
(desa/kelurahan) atau pada Institusi tertentu yang menjadi prioritas.

2) Sumber data Kartu PJB Rumah dan Bangunan bersumber dari


pelaksanaan kegiatan pemeriksaan jentik rumah dan bangunan pada
kawasan tertentu atau institusi tertentu, yang dilakukan oleh petugas
puskesmas.

3) Jenis Data, dan Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional pada Kartu PJB Rumah dan
Bangunan tercantum dalam

tabel 2.4.2.1 Jenis Data dan Definisi

Operasional Kartu PJB Rumah dan Bangunan.


Contoh instrumen
Bangunan

dan cara pengisian Kartu PJB Rumah dan

tercantum pada Formulir 50 Kartu PJB Rumah dan

Bangunan.
b. Register

Pemeriksaan

Jentik

Berkala

(PJB)

Rumah

dan

Bangunan/Institusi
1) Penggunaan
Register PJB Rumah

dan Bangunan/Institusi digunakan untuk

menghimpun data hasil kegiatan PJB rumah dan bangunan yang


berada dalam satu wilayah pemukiman desa/kelurahan atau data hasil
kegiatan PJB Institusi/TTU (fasilitas pelayanan kesehatan, sekolah dan
tempat-tempat

umum

lainnya

yang

berpotensi

menjadi

sumber

penularan DBD)
2) Sumber Data
Data pada Register PJB Rumah dan Bangunan/Institusi bersumber
dari pencatatan kegiatan dan hasil kegiatan PJB kawasan pemukiman

11

(rumah dan bangunan).desa/kelurahan atau pencatatan kegiatan dan


hasil kegiatan PJB Institusi

3) Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional pada Register PJB rumah dan
bangunan/Institusi tercantum dalam

tabel 2.4.2.2 Jenis Data dan

Definisi Operasional Register PJB Rumah dan Bangunan/Institusi


Contoh instrumen Register PJB Rumah dan Bangunan/Institusi dan
cara pengisiannya

tercantum pada formulir 51 Register PJB Rumah

dan Bangunan/Institusi.

c. Register PJB Rumah dan Bangunan Menurut Desa/Kelurahan (PJB-1)


1) Penggunaan
Register Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) Rumah dan Bangunan
Menurut Desa/Kelurahan (PJB-1) digunakan untuk menghimpun hasil
pemeriksaan jentik di rumah dan bangunan pada kawasan pemukiman
(desa/kelurahan).
2) Sumber Data
Data

pada

Register

PJB

Rumah

dan

Bangunan

Menurut

Desa/kelurahan bersumber dari hasil pemeriksaan kegiatan PJB yang


telah tercatat pada Register PJB Rumah dan Bangunan/Institusi

3) Jenis Data, Definisi Operasional dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional pada Register PJB rumah dan
bangunan menurut desa/kelurahan (PJB-1) tercantum dalam

tabel

2.4.2.3. Jenis Data dan Definisi Operasional Register PJB Rumah dan
Bangunan Menurut Desa/Kelurahan.
Contoh instrumen Register PJB Rumah dan Bangunan Menurut
Desa/Kelurahan (PJB-1) dan cara pengisiannya
formulir

52

Register

PJB

Desa/Kelurahan.

12

Rumah

dan

tercantum pada

Bangunan

Menurut

d. Register

Pemeriksaan

Jentik

Berkala

Bangunan

Menurut

Institusi/TTU
a. Penggunaan
Register

Pemeriksaan

Institusi/TTU

(PJB-2)

Jentik

Berkala

digunakan

(PJB)
untuk

Bangunan

Menurut

menghimpun

hasil

pemeriksaan jentik bangunan pada Institusi atau Tempat-tempat


Umum (fasilitas pelayanan kesehatan, sekolah, atau tempat-temapt
umum lainnya).
b. Sumber Data
Data pada Register PJB Bangunan Menurut Institusi/TTU bersumber
dari hasil pemeriksaan kegiatan PJB.di Institusi/TTU tersebut yang
telah tercatat pada Register PJB Rumah dan Bangunan/Institusi

c. Jenis Data, Definisi Operasional dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional pada Register PJB bangunan
menurut institusi/TTU tercantum dalam tabel 2.4.2.4. Jenis Data dan
Definisi Operasional Register PJB Bangunan Menurut Institusi/TTU.
Contoh instrumen Register PJB Bangunan Menurut Desa/Kelurahan
(PJB-1) dan cara pengisiannya

tercantum pada formulir 53 Register

PJB Bangunan Menurut Institusi/TTU.

e. Register Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue


Puskesmas (PSN-DBD) (P-DBD)
1) Penggunaan
Register PSN-DBD (P-DBD) digunakan untuk mencatat hasil kegiatan
pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue sesuai
metode menurut kelurahan atau desa.
2) Sumber Data
Data Register PSN-DBD (P-DBD) bersumber dari hasil kegiatan PSN
DBD dan atau yang telah tercatat dalam Register PJB Rumah dan
Bangunan Menurut Desa/Kelurahan

13

3) Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional pada Register PSN-DBD (P-DBD)
tercantum dalam

tabel 2.4.2.5. Jenis Data dan Definisi operasional

Register PSN-DBD (P-DBD).


Contoh instrumen Register PSN-DBD (P-DBD) dan Cara Pengisiannya
tercantum pada formulir 54 Register PSN-DBD (P-DBD).

f.

Register Kejadian DBD


1) Penggunaan
Register Kejadian DBD digunakan untuk mencatat kejadian DBD yang
datang berobat dan penemuan DBD dalam penyelidikan lapangan.
2) Sumber Data
Sumber data Register PSN-DBD (P-DBD) adalah Register Rawat Jalan
dan Register Rawat Inap Pelayanan Umum di Puskesmas, Puskesmas
Pembantu dan bidan desa serta data kasus DBD hasil penyelidikan
lapangan, termasuk kasus DBD laporan rumah sakit.

3) Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional pada Register Kejadian DBD
tercantum dalam

tabel 2.4.2.6. Jenis Data dan Definisi operasional

Register Kejadian DBD.


Contoh instrumen Register Kejadian DBD dan Cara Pengisiannya
tercantum pada formulir 55 Register Kejadian DBD.

d. Kecacingan
Kegiatan kecacingan di Puskesmas adalah melakukan pemeriksaan tinja anak
umur 1-12 tahun (pemeriksaan anak Balita dalam kegiatan Posyandu,
pemeriksaan anak usia sekolah di sekolah) dan melaksanakan pengobatan
obat cacing (albendazole).

14

Hasil pemeriksaan tinja dan pengobatan anak Balita dicatat dalam Register
Kohort Anak Balita dan Anak Prasekolah, atau secara khusus dicatat dalam
Register Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Anak (Balita dan PraSekolah).
Kemudian setiap akhir bulan, semua data pemeriksaan dan pengobatan
cacing anak Balita dan anak prasekolah tesebut dihimpun dalam Register
Jumlah Anak Balita Diperiksa dan Diberikan Pengobatan Cacing Menurut
Desa. Sedangkan hasil pemeriksaan cacing dan pengobatan anak sekolah
dicatat dalam Register Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Anak Sekolah
masing-masing

sekolah.

Kemudian

setiap

akhir

bulan

semua

data

pemeriksaan dan pengobatan cacing anak sekolah ini dihimpun dalam


Register Jumlah Murid Diperiksa dan Diberikan Pengobatan Cacing Menurut
Sekolah. Instrumen yang digunakan pada penncegahan dan pengendalian
kecacingan antara lain:
a. Daftar Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Balita dan Anak Prasekolah di
Posyandu
b. Register Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Balita dan Anak Prasekolah
di Posyandu Menurut Desa/Kelurahan
c. Daftar Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Anak Sekolah di SD/MI
d. Register Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Anak Sekolah di SD/MI
Menurut Sekolah dan Desa
e. Register

Pemeriksaan

dan

Pengobatan

Cacing

pada

Balita,

Anak

Prasekolah, Anak Sekolah SD/MI Menurut Desa

Alur pencatatan kecacingan disekolah dimulai dari anak sekolah di sekolahan


(kelas tertentu) diperiksa tinjanya kemudian hasil pemeriksaan dan tindakan
pengobatan direkam dalam Daftar Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Anak
Sekolah di Sekolah Tertentu, setelah itu semua data tersebut direkapitulasi
kedalam Register Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Anak Sekolah Menurut
Sekolah.
Sedangkan alur pencatatan kecacingan menurut desa diawali dengan anak
pada posyandu tertentu diambil tinjanya kemudian hasil pemeriksaan dan
tindakan pengobatan direkam dalam Daftar Pemeriksaan dan Pengobatan

15

Cacing di Posyandu, setelah itu semua data tersebut direkapitulasi kedalam


Register Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Menurut Desa.
Kedua Register tersebut dijadikan satu Register

Gabungan (Register

Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Pada Balita di Posyandu dan Pada Anak
di Sekolah Menurut Desa.

Pengambila
n tinja anak
sekolah
kelas

Diperiks
a

Daftar
Pemeriksaan
dan Pengobatan
Cacing Pada
Anak di Sekolah

Register
Pemeriksaan dan
Pengobatan
Cacing Pada
Anak Menurut

Register Pemeriksaan dan


Pengobatan Cacing Pada
Anak Balita dan Anak
Prasekolah serta Pada Anak
Sekolah Menurut Desa

Pengambila
n tinja anak
di Posyandu
tertentu

Diperiks
a

Daftar
Pemeriksaan
dan Pengobatan
Cacing Pada
Anak di

Register
Pemeriksaan dan
Pengobatan
Cacing Pada
Anak

Gambar 4.3.1 Skema Pencatatan Pemeriksaan dan Pengobatan


Kecacingan Pada Anak di Posyandu dan Sekolah Menurut Desa

16

a.

Daftar Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Pada Balita dan Anak


Prasekolah di Posyandu/ Anak di Sekolah SD/MI

1) Penggunaan
Register ini digunakan untuk mencatat anak balita, anak prasekolah di
posyandu yang diperiksa cacing tinjanya dan pemberian obat cacing.
Daftar ini juga digunakan untuk mencatat murid di sekolah (SD/MI)
dengan mengganti variabel posyandu dengan nama sekolah dan kelas,
dan terdapat variabel jumlah murid sekolah dalam kelas tersebut.

2) Sumber Data
Data pada Daftar Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Balita dan Anak
Prasekolah di Posyandu dapat diperoleh secara langsung saat kegiatan
atau tercatat dalam Kartu Balita. Apabila data pemeriksaan dan
pengobatan cacing telah tercatat dalam Register Kohort Anak Balita dan
Anak Prasekolah, maka Daftar ini tidak diperlukan.
Data pada Daftar Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Anak Sekolah di
SD/MI dapat diperoleh secara langsung saat kegiatan masing-masing
kelas

3) Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional pada pada Daftar Pemeriksaan dan
Pengobatan Cacing Balita dan Anak Prasekolah di Posyandu atau Daftar
Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Anak Sekolah di SD/MI tercantum
dalam

tabel 2.4.3.1 Jenis Data dan Definisi operasional pada Daftar

Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Balita dan Anak Prasekolah di


Posyandu/ Anak sekolah SD/MI .
Contoh instrumen pada Daftar (Register) Pemeriksaan dan Pengobatan
Cacing Balita dan Anak Prasekolah di Posyandu/ Anak sekolah SD/MI
dan

Cara

Pengisiannya

tercantum

pada

formulir

56

Register

Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Balita dan Anak Prasekolah di


Posyandu/ Anak sekolah SD/MI.

17

b. Register

Pemeriksaan

dan

Pengobatan

Cacing

Balita

dan

Anak

Prasekolah di Posyandu/ Anak Sekolah di SD/MI Menurut Desa


1) Penggunaan
Register Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Pada Balita, Anak
Prasekolah/Anak Sekolah di SD/MI Menurut Desa ini digunakan untuk
menghimpun jumlah anak di posyandu dan sekolah yang diperiksa
cacing dan yang mendapat obat albendazole menurut desa (masingmaisng desa terdiri atas daftar posyandu dan sekolah).

2) Sumber Data
Data pada Register Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Pada Balita,
Anak Prasekolah, dan Anak Sekolah SD/MI Menurut Desa bersumber
dari Daftar Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Anak Balita dan Anak
Prasekolah di Posyandu Menurut Desa (Formulir Kecacingan), dan
Daftar Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Anak Sekolah Menurut
Sekolah dan Desa

3) Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional pada Register Pemeriksaan dan
Pengobatan Cacing Pada Balita, Anak Prasekolah,dan

Anak Sekolah

SD/MI Menurut Desa tercantum dalam tabel 2.4.3.2. Jenis Data dan
Definisi operasional pada Register Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing
Pada Balita, Anak Prasekolah, Anak Sekolah SD/MI Menurut Desa.
Contoh instrumen pada Register Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing
Pada Balita, Anak Prasekolah, dan Anak Sekolah SD/MI Menurut Desa
dan

Cara

Pengisiannya

tercantum

pada

formulir

57

Register

Pemeriksaan dan Pengobatan Cacing Pada Balita, Anak Prasekolah,


Anak Sekolah SD/MI Menurut Desa.

18

e. Rabies
Kegiatan pengendalian Rabies di Puskesmas terdiri atas penemuan kasus
gigitan

hewan

penular

Rabies

(GHPR)

dan

pemberian

VAR/SAR,

termasuk tatalaksana penderita Rabies/Lyssa.


Setiap tindakan terhadap kasus gigitan hewan penular Rabies atau
Rabies/Lyssa dicatat dalam Kartu Rawat Jalan. Kemudian data kasus
gigitan hewan penular Rabies ini dicatat dalam Register Gigitan Hewan
Penular Rabies.
Instrumen yang digunakan dalam pencegahan dan pengendalian GHPR
dan rabies/Lyssa:
-

Register Penderita Gigitan Hewan Penular Rabies dan Rabies/Lyssa

Register Kematian Puskesmas

Berikut adalah alur kegiatan pelayanan pencegahan dan pengendalian


Rabies/Lyssa

19

Register Kematian
Puskesmas

Meninggal

Gambar 2.4.4.1. Skema kegiatan tatalaksana penderita GHPR dan


Rabies/Lyssa

20

a. Register Penderita Gigitan Hewan Penular Rabies dan Rabies/Lyssa


1) Penggunaan
Register Penderita Gigitan Hewan Penular Rabies dan Rabies/Lyssa
digunakan untuk menghimpun tatalaksana penderita GHPR.
2) Sumber Data
Sumber data pada Register Penderita Gigitan Hewan Penular Rabies
dan Rabies/Lyssa berasal dari kegiatan tatalaksana penderita GHPR
yang tercatat dalam Kartu penderita GHPR dan Rabies/Lyssa dan
data kematian karena rabies tercatat dalam Register Kematian
Puskesmas.
3) Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian
Jenis data dan definisi operasional pada Register Penderita Gigitan
Hewan Penular Rabies dan Rabies/Lyssatercantum dalam

tabel

2.4.4.2.
Contoh instrumen Register Penderita Gigitan Hewan Penular Rabies
dan Rabies/Lyssadan Cara Pengisiannya

tercantum pada formulir

58 Register Pasien Gigitan Hewan Penular Rabies dan Rabies/Lyssa.

f. Kusta
Kegiatan pengendalian kusta meliputi kegiatan penemuan penderita
kusta yang berkunjung di pelayanan umum, pemeriksaan kontak,
pemeriksaan kelompok rentan (murid sekolah), survei kusta di desa dan
laporan

masyarakat.

Setiap

penderita

kusta

baru

yang

berobat/konsultasi mendapat Kartu Kunjungan (Bagian Pendaftaran)


dan kemudian dicatat dalam Kartu Penderita (Poli Umum) dan dalam
Register Rawat Jalan Puskesmas/Puskesmas Pembantu seperti halnya
kunjungan penderita lainnya.
Seseorang yang telah ditetapkan menderita kusta, maka penderita akan
mendapat pelayanan Tatalaksana Penderita Kusta sesuai dengan tipe
kustanya. Setiap pemeriksaan dan pemberian pengobatan standar
penderita kusta dicatat dalam Kartu Penderita Kusta, dan dihimpun
dalam Register Kohort Penderita Kusta.

21

Kunjungan pertama penderita kusta di Puskesmas ditetapkan sebagai


kasus baru, kunjungan penderita kusta berikutnya karena sakit
kustanya disebut kasus lama, baik berobat pada Poli Umum, maupun
berobat pada poli khusus kusta.
Instrumen

yang

digunakan

dalam

pelayanan

pencegahan

dan

pengendalian kusta adalah:


o

Kartu Penderita Rawat Jalan

Register Rawat Jalan

Kartu Penderita Kusta

Register Kohort Penderita Kusta

Laporan Hasil Pemeriksaan Kusta di Sekolah

Register Pemeriksaan Kusta di Sekolah

Laporan Hasil Pemeriksaan Kusta di Desa/Kelurahan (Laporan Survei


Kusta di Desa)

Register Pemeriksaan Kusta di Desa/Kelurahan (Survei Kusta Desa)

Register Penderita Kusta Tipe MB

Register Penderita Kusta Tipe PB

Pencatatan Pencegahan Kusta

Berikut ini adalah alur kegiatan pelayanan pencegahan dan pengendalian


penyakit Kusta

22

Gambar 2.4.7.1. Skema pelayanan pemeriksaan kusta

Gambar 2.4.7.2. Skema pelayanan pemeriksaan Kusta di Sekolah

Gambar 2.4.7.3. Skema pelayanan pemeriksaan Kusta di Desa/kelurahan

Kartu Rawat Jalan dan Register Rawat Jalan dibahas pada bahasan
Pelayanan Umum.

23

a. Kartu Penderita Kusta


1) Penggunaan
Kartu Penderita Kusta digunakan untuk mencatat identitas, dan
pemeriksaan medis serta data pemberian obat anti kusta.
2) Sumber Data
Sumber data Kartu Penderita Kusta adalah hasil pemeriksaan
penderita
3) Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian
Jenis data dan definisi operasional pada Kartu Penderita Kusta
tercantum dalam tabel 2.4.7.1
Contoh instrumen Kartu Penderita Kusta

dan cara pengisiannya

tercantum pada formulir 67 Kartu Penderita Kusta.


b. Register Kohort Penderita Kusta Tipe PB/tipe MB
1) Penggunaan
Register Kohort Penderita Kusta merupakan tabel daftar penderita
kusta dan catatan hasil pemeriksaan dan pengobatan sampai paket
pengobatan standar dinyatakan selesai. Register Kohort digunakan
oleh petugas untuk monitor tatalaksana penderita kusta standar.
2) Sumber Data
Sumber data Register Kohort Penderita Kusta adalah data pada Kartu
Penderita Kusta
3) Jenis Data dan Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian
Jenis data dan definisi operasional pada Register Kohort Penderita
Kusta tercantum dalam

tabel 2.4.7.2. Register Kohort Penderita

Kusta Tipe PB/MB


Contoh instrumen Register Kohort Penderita Kusta dan Cara
Pengisiannya tercantum pada formulir 68 Register Kohort Penderita
Kusta Tipe PB dan formulir 69 Register Kohort Penderita Kusta Tipe
MB

24

c.

Formulir Pemeriksaan Kusta Pada Anak Sekolah


1) Penggunaan
Formulir Pemeriksaan Kusta Pada Anak Sekolah digunakan untuk
merekam hasil kegiatan pemeriksaan kusta semua murid

setiap

sekolah di wilayahnya. Setiap sekolah yang melaksanakan kegiatan


pemeriksaan

kusta,

maka

membuat

pencatatan

dengan

menggunakan satu Formulir Pemeriksaan Kusta Pada Anak Sekolah.


2) Sumber Data
Sumber data Formulir Pemeriksaan Kusta Pada Anak sekolah adalah
hasil pemeriksaan kusta disetiap sekolah
3) Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian
Jenis data dan definisi operasional pada Formulir Pemeriksaan Kusta
Pada Anak Sekolah tercantum dalam tabel 2.4.7.3
Contoh instrumen Formulir Pemeriksaan Kusta Pada Anak Sekolah
dan cara pengisiannya

tercantum pada formulir 70 Formulir

Pemeriksaan Kusta Pada Anak Sekolah.

25

d. Register Pemeriksaan Kusta Menurut Sekolah


1) Penggunaan
Register Pemeriksaan Kusta Menurut Sekolah digunakan untuk
menghimpun hasil

hasil pemeriksaan kusta di sekolah pada

bulan tertentu yang didata dengan menggunakan Formulir


Pemeriksaan Kusta Pada Anak Sekolah
2) Sumber Data
Sumber data Register Pemeriksaan Kusta Menurut Sekolah
adalah berdasarkan hasil pemeriksaan di sekolah-sekolah di
wilayah Puskesmas
3) Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian
Jenis data dan definisi operasional pada Register Pemeriksaan
Kusta Menurut Sekolah tercantum dalam tabel 2.4.7.4a Register
Pemeriksaan

Kusta

Menurut

Sekolah,

dan

tabel

2.4.7.4b

Register Penderita Kusta Pada Anak Sekolah


Contoh instrumen Register Pemeriksaan Kusta Menurut Sekolah
dan cara pengisiannya

tercantum pada formulir 71 Register

Pemeriksaan Kusta Menurut Sekolah, dan formulir 72 Register


Penderita Kusta Pada Anak Sekolah

26

e.

Formulir Pemeriksaan Kusta di Desa/Kelurahan


1)

Penggunaan
Formulir Pemeriksaan Kusta di Desa/Kelurahan digunakan untuk
perekaman hasil pemeriksaan kusta pada penduduk desa/kelurahan
(Survei Kusta).

2)

Sumber Data
Sumber data laporan diperoleh dari hasil pemeriksaan kusta terhadap
pendududk desa/kelurahan

3)

Jenis Data, Definisi Operasional , Instrumen dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional pada Laporan Hasil Pemeriksaan
Kusta di Desa/Kelurahan tercantum pada tabel 2.4.7.5
Contoh

instrumen

Laporan

Hasil

Pemeriksaan

Kusta

di

Desa/Kelurahan dan Cara Pengisiannya tercantum pada formulir 73


formulir Hasil Pemeriksaan Kusta di Desa/Kelurahan.

a. Register Pemeriksaan Kusta Menurut Desa/Kelurahan


1) Penggunaan
Register

Pemeriksaan

Kusta

digunakan untuk menghimpun

Menurut

Desa/Kelurahan

data yang telah direkam pada

Formulir Pemeriksaan Kusta di Desa/Kelurahan.


2) Sumber Data
Sumber

data

Desa/Kelurahan

Register
adalah

Pemeriksaan
Formulir

Kusta

Pemeriksaan

Menurut
Kusta

di

Desa/Kelurahan
3) Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian
Jenis data dan definisi operasional pada Register Pemeriksaan
Kusta Menurut Desa/Kelurahan tercantum pada tabel 2.4.7.6a
Register Pemeriksaan Kusta Menurut Desa/Kelurahan, dan tabel

27

2.4.7.6b Register Penderita Kusta Berdasarkan Pemeriksaan


Kusta di Desa/Kelurahan
Contoh

instrumen

Register

Pemeriksaan

Desa/Kelurahan

dan cara pengisiannya

formulir

Register

74

Pemeriksaan

Kusta

Menurut

tercantum pada
Kusta

Menurut

Desa/Kelurahan, dan formulir 75 Register Penderita Kusta


Berdasarkan Pemeriksaan Kusta di Desa/Kelurahan

28

g. Frambusia
Kegiatan

frambusia

adalah

penemuan

penderita

dan

pengobatan

pencegahan massal serta penetapan status daerah bebas frambusia.


Penemuan

penderita

frambusia

melalui

penemuan

pasif

dan

aktif.

Penemuan pasif di Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan Umum (poli umum) di


semua fasilitas kesehatan (Puskesmas, jaringan dan jejaringnya). Sedang
penemuan aktif melalui pemeriksaan frambusia di sekolah, survei desa dan
penemuan saat dilakukan penyeldikan frambusia di masyarakat.
Setiap

kasus

frambusia

konformasi

atau

probable

wajib

dilakukan

penyelidikan dan pengobatan terhadap kasus frambusia maupun terhadap


kontak penderita.
Penemuan aktif ini biasanya bersamaan dengan penemuan aktif kusta di
desa (survei). Pemeriksaan dan penentuan diagnosis frambusia dengan test
cepat (RDT)
Instrumen yang digunakan dalam upaya pengendalian frambusia adalah:
a. Register Rawat Jalan di Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan Umum
b. Register Pemeriksaan Frambusia di Sekolah
c. Register Pemeriksaan FrambusiaMenurut Sekolah
d. Formulir Penyelidikan dan Pengobatan Kasus dan Kontak
Mekanisme penggunaan instrumen tersebut dapat dilihat pada
sebagai berikut :

29

gambar

Kasus
Frambu
sia

Dihimpun
Pada
Register
Rawat Jalan
Puskesmas

Dicatat Pada
Kartu Rawat
Jalan

Penyelidika
n dan
Pengobatan
Kasus dan
Kontak

Gambar 2.4.8.1. Skema Pencatatan Frambusia Pada Kegiatan Pelayanan


Kesehatan di Puskesmas, jaringan dan jejaring

Pemeriksaa
n
Frambusia

Dihimpun
pada
Register
Pemeriksaan
Frambusia
Menurut
Sekolah

Dicatat
pada
Formulir
Pemeriksaa
n Frambusia

Penyelidika
n dan
Pengobatan
Kasus dan
Kontak

Gambar 2.4.8.2. Skema Pencatatan Kegiatan Pemeriksaan Frambusia di


Sekolah

Kasus
Frambu
sia

Formulir
Penyelidika
n dan
pengobatan
Kasus dan
Kontak
Frambusia

Penyelidika
n dan
Pengobatan
Kasus dan
Kontak

Daftar
Kasus dan
Kontak
Frambusia

Gambar 2.4.8.3. Skema Pencatatan Kegiatan Penyelidikan dan Pengobatan


Kasus Frambusia dan Kontak

30

a. Formulir Pemeriksaan Frambusia di Sekolah


1)

Penggunaan
Formulir ini digunakan untuk melakukan pencatatan hasil kegiatan
pemeriksaan frambusia pada siswa di Sekolah

2)

Sumber Data
Sumber data untuk Formulir Pemeriksaan Frambusia di Sekolah
adalah hasil kegiatan pemeriksaan frambusia diantara murid sekolah,
terutama anak SD/MI kelas 3, 4, dan 5.

3)

Jenis Data, Definisi Operasional dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional padaFormulir

Pemeriksaan

Frambusia di Sekolah tercantum dalam Tabel 2.4.8.1. Formulir


Pemeriksaan Frambusia di Sekolah
Contoh instrumen Formulir Pemeriksaan Frambusia di Sekolah dan
cara pengisiannya tercantum pada formulir 76 Formulir Pemeriksaan
Frambusia di Sekolah

b. Formulir Penyelidikan dan Pengobatan Kasus Frambusia dan Kontak


1) Penggunaan
Setiap ditemukan penderita frambusia, baik penemuan pasif di
pelayanan Puskesmas, puskesmas pembantu, bidan desa, laporan
dari fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, serta laporan masyarakat,
maka segera dilakukan penyelidikan dan pengobatan terhadap kasus
dan kontak. Penyelidikan dapat menemukan kasus tambahan selain
kasus indeks.
Pelaksanaan penyelidiklan dan pengobatan kasus frambusia dan
kontak ini menggunakan Formulir Penyelidikan Dan Pengobatan
Terhadap Kasus Frambusia dan Kontak.

31

2)

Sumber Data
Sumber data untuk Formulir Penyelidikan dan Pengobatan Kasus
Frambusia dan Kontak adalah hasil penyelidikan dan pengobatan
kasus frambusia dan kontaknya di masyarakat

3)

Jenis Data, Definisi Operasional dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional padaFormulir

Pemeriksaan

Frambusia di Sekolah tercantum dalam Tabel 2.4.8.2. Formulir


Penyelidikan dan Pengobatan Kasus dan Kontak
Contoh

instrumen

tercantum

pada

formulir

Penyelidikan dan Pengobatan Kasus dan Kontak

32

77

Formulir

c. Register Pemeriksaan Frambusia Menurut Sekolah


1) Penggunaan
Pada kabupaten/kota endemis frambusia, maka pemeriksaan frambusia
di sekolah dasar kelas 3,4 dan 5 wajib dilakukan, setidak-tidaknya
sekali setahun. Register ini digunakan untuk menghimpun semua hasil
pemeriksaan frambusia di sekolah.
2) Sumber Data
Sumber data untuk Register Pemeriksaan Frambusia Menurut Sekolah
adalah Formulir Pemeriksaan Frambusia di Sekolah (screening) .
3) Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian
Jenis

data

dan

definisi

operasional

pada

Register

Pemeriksaan

Frambusia Menurut Sekolah tercantum dalam Tabel 2.4.8.3. Register


Pemeriksaan Frambusia Menurut Sekolah
Contoh instrumen Register Pemeriksaan Frambusia Menurut Sekolah
dan

Cara

Pengisiannya

tercantum

Pemeriksaan Frambusia Menurut Sekolah

33

pada

formulir

78

Register

h. Hepatitis
Kegiatan pencegahan dan pengendalian penyakit hepatitis di Puskesmas
adalah deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil dan deteksi dini hepatitis
B dan C pada kelompok populasi berisiko lainnya. Ibu hamil yang
datang berkunjung untuk melaukan ANC (Antenatal care) ke Poli KIA
ditawarkan untuk melakukan deteksi dini hepatitis B. Sedangkan
kelompok

populasi

berisiko

lainnya

seperti

tenaga

kesehatan,

mahasiswa kesehatan, Wanita Pekerja Seks (WPS), Lelaki Suka Lelaki


(LSL), Warga Binaan Penjara (WBP). Jika mereka setuju langsung di beri
informed consent dan dilakukan wawancara serta dicatat di register
deteksi dini hepatitis B bagi Ibu hamil dan di register deteksi dini
hepatiitis pada kelompok populasi berisiko lainnya.

a.

Sumber Data dan Variabel

1) Register Hasil Deteksi Dini Hepatitis B pada Ibu Hamil


Register hasil deteksi ini hepatitis B pada ibu hamil merupakan
form pencatan yang memuat data dan riwayat ibu hamil serta bayi
yang akan dilahirkannya yang mengikuti deteksi dini hepatitis B.
Disini dicatat semua informasi, baik data umum, hasil wawancara
dengan kuesioner yang meyangkut riwayat dan faktor risiko, hasil
pemeriksaan deteksi dini hepatitis, hasil pemeriksaan konfirmasi
dan pemerriksaan lanjutan kalau seandainya ibu hamil tersebut
hasil pemerriksaannya HbsAg reaktif, riwayat imunisasi hepatitis B
ibu, pemberian pengobatan dan konseling, pemberian HBIG,
pemberian imunisasi hepatitis B0 dan imunilasi hepatitis B
lanjutan bagi bayinya.

b) Register Deteksi Dini Hepatitis B dan C Pada Kelompok Populasi


Beriko Lainnya
Register hasil deteksi ini hepatitis B dan C pada populasi berisiko
lainnya merupakan form pencatan yang memuat data dan riwayat
orang yang termasuk dalam kelompok populasi berisiko lainnya
seperti

tenaga

kesehatn,

mahasiswa

kesehatan,

WPS,

LSL,

Penasun, WBP, dll. Dalam register ini dicatat semua informasi baik

34

data umum responden, hasil wawancara dari kuesioner yang


memuat

riwayat

dan

faktor

risiko

hepatitis,

riwayat

hasil

pemeriksaan dari hasil deteksi dini hepatitis, hasil pemeriksaan


konfirmasi dan pemerriksaan lanjutan jika hasil deteksi dini di
Puskesmas HbsAg dan Anti HCV nya reaktif, layanan lanjutan
rujukan, riwayat pengobatan dan konseling dari responden.

Pengelolaan Data Set Pelaporan Puskesmas


Laporan Bulanan
Hasil kegiatan deteksi dini hepatitis yang telah dicatat pada form register
hasil deteksi dini hepatitis B pada Ibu hamil

dan hasil pencatatan

register hasil deteksi dini hepatitis B dan C pada kelompok populasi


berisiko lainnya dilaporkan melalui form laporan bulanan SP2TP revisi
pada Form LB1 dan Form LB3 kesakitan penyakit menular.
a.

Sumber Data
1) Register Hasil Deteksi Dini Hepatitis B pada Ibu Hamil
2) Register Hasil Deteksi Dini Hepatitis B an C pada Kelompok
Populasi berisikolainnya

b.

Variabel Laporan
Laporan bulanan kegiatan hepatitis di laporkan melalui form LB 1
dan Form LB3 Kesakitan penyakit menular yang ada di SP2TP Revisi

1)

Laporan bulanan Hepatitis yang ada di LB1 adalah sebagai


berikut :

a.

Jumlah kasus Hepatitis Klinis

b.

Jumlah kasus hepatitis A

c.

Jumlah Kasus hepatitis B

d.

Jumlah kasus hepatitis C

e.

Jumlah kasus hepatitis D

f.

Jumlah Kasus hepatitis E

2) Laporan bulanan Hepatitis yang ada di LB3 adalah sebagai


berikut :
a. Jumlah Kasus hepatitis yang dirujuk

35

i. Diare
Kegiatan pencegahan dan pengendalian Diare di Puskesmas adalah
menemukan kasus dan pengobatan serta tatalaksana kasus diare serta
melakukan penyuluhan dan konseling terhadap penderita diare dan
ibu/keluarga bayi/balita penderita diare . Kegiatan ini dapat dilakukan
mulai dari poli umum dan dirujuk ke Layanan Rehidrasi Oral Aktif
(LROA)

utnuk

mendapatkan

konseling

dan

penyuluhan

tentang

pencegahan dan tatalaksana diare.

Layanan Rehidrasi Oral adalah salah satu layanan di fasyankes, yang


menyediakan :
 layanan konseling rehidrasi diare
 tatalaksana diare
 upaya yang harus dilakukan dan harus diketahui apabila terjadi
diare
 pencegahan diare
 informasi lain terkait diare
kepada orang tua/pengasuh bayi/balita yang datang ke fasyankes
dan pembina masyarakat/kader dalam upaya pencegahan dan
tatalaksana diare di masyarakat
Aktif yaitu AKTIF memberikan layanan kepada orang tua/pengasuh
balita yang berkunjung ke fasyankes.

a.

Sumber Data dan Variabel


1) Register Kunjungan Puskesmas di Poli Umum
Pasien yang datang berobat ke Puskesmas dengan diare
apabila diberi pengobatan dan tatalaksana di poli umum bisa
dilakukan pencatatan di register kunjungan pasiesn di poli
umum puskesmas dan kemudian dirujuk ke LROA untuk
mendapatkan konseling dan penyuluhan tentang tatalaksana
diare dan pencegahan diare

2 )Register Kunjungan Harian Layanan Rehidrasi Oral aktif


(LROA)

36

Dalam Register LROAdicatat data pasien diare yang datang ke


layanan rehidrasi oral aktif. Register LROA. Register LROA
terdiri atas variabel : kode

dan nama Puskesmas, nama

penderita, umur, tanggal mulai sakit, derajat dehidrasi,


pemberian oralit dan zink, konseling dan rencana terapi yang
diberikan.

b) Form Pelaporan Diare


Dari hasil form pencatatan yang ada di register kunjungan pasien
dan register kunjungan harian LROA, dilakukan pelaporan pada
form pelaporan bulanan SP2TP Revisi yaitu :

1). Form Pelaporan Diare Pada Form LB1 Kesakita Penyakit


Menular adalah :
a. Jumlah kasus kolera positif
b. Jumlah kasus diare termasuk tersangka kolera
c. Jumlah kasus Diare tanpa dehdrasi
b. Jumlah kasus Diare dehidrasi ringan sedang
c. Jumlah kasus Diare dehidrasi berat
d. Jumlah Kasus disentri

2 )Form Pelaporan Diare pada Form LB3 Kesakitan Penyakit


Menular adalah :
a. Jumlah kasus diare bayi dapat oralit
b. Jumlah kasus diare bayi dapat zink
c. Jumlah kasus diare bayi dapat oralit dan zink
d. Jumlah kasus diare bayi dapat infus
e. Jumlah penderita diare anak Balita yang dapat oralit
f. Jumlah penderita diare anak Balita yang dapat Zink
g. Jumlah penderita diare anak Balita yang dapat oralit dan
zink
h. Jumlah penderita diare anak Balita yang dapat Infus
i.

Jumlah penderita diare >5 tahun yang dapat oralit

j.

Jumlah penderita diare >5 tahun yang dapat oralit

37

j. Demam Tifoid
Kegiatan pencegahan dan pengendalaian penyakit demam tifoid di
puskesmas adalah penemuan dan pengobatan serta tatalaksana kasus
demam tifoid, jika puskesmas sudah punya laboratorium maka akan
dilakukan pemeriksaan widal dan atau dirujuk untuk pemeriksaan
cultur dengan PCR ke RS atau ke labaoratorium rujukan.
1. Sumber data dan form pencatatan
Pengunjung puskesmas yang datang berobat ke poli umum dengan
gejala demam tifoid, seperti demam tinggi dicatat pada form register
kunjungan puskesmas
2. Form Pelaporan
Laporan Bulanan LB1 adalah sebagai berikut :
a) Jumlah Kasus Demam Tifoid klinis
b) Jumlah Kasus Demam Tifoid Suspek
c) Jumlah Kasus Demam Tifoid Probable
d) Jumlah Kasusu Demam Tifoid Konfirmasi

I. Layanan Rehidrasi Oral Aktif


Materi ini terdiri dari teori dan praktek pencatatan dan pelaporan layanan
rehidrasi oral aktif yang meliputi pembelajaran teori dan praktek :
pencatatan dan pelaporan LROA di puskesmas, penc.atatan dan pelaporan
di kab/kota, pencatatan dan pelaporan propinsi
Metode yang digunakan dalam pembelajaran adalah curah pendapat,
ceramah, tanya jawab dan latihan
Pencatatan dan Pelaporan Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA)
Pencatatan adalah kegiatan atau proses pendokumentasian suatu
aktivitas dalam bentuk tulisan. Pencatatan dilakukan diatas kertas,disket,
pita nama dan pita film. Bentuk catatan dapat berupa tulisan, grafik, gambar
dan suara (syahlan : 253).
laporan adalah bentuk penyajian fakta tentang suatu keadaan atau
suatu kegiatan, pada dasarnya fakta yang disajikan itu berkenaan dengan
tanggung jawab yang ditugaskan kepada si pelapor. Fakta yang disajikan
merupakan bahan atau keterangan

untuk informasi yang dibutuhkan,

berdasarkan keadaan objektif yang dialami sendiri oleh si pelapor (dilihat,

38

didengar, atau dirasakan sendiri) ketika si pelapor telah melakukan suatu


kegiatan atau pekerjaan.
Pencatatan dan pelaporan adalah salah satu indikator keberhasilan
suatu kegiatan, tanpa ada pencatatan dan pelaporan kegiatan atau program
apapun yang dilaksanakan tidak akan terlihat wujudnya.
Manfaat Pencatatan dan Pelaporan adalah :
1. Memudahkan

dalam

mengelola

informasi

kegiatan

di

tingkat

pusat,provinsi,dan kab/kota.
2. Memudahkan dalam memperoleh data untuk perencanaan dalam rangka
pengembangan tenaga kesehatan.
3. Memudahkan dalam melakukan pembinaan tenaga kesehatan
4. Memudahkan dalam melakukan evaluasi hasil.

Pencatatan dan pelaporan sebagaimana tecantum dalam Buku Pedoman


Manajemen

Pengendalian

Hepatitis,

Diare,

dan

Infeksi

Saluran

Pencernaan, meliputi:
1. Puskesmas:
Petugas puskesmas merekap hasil kegiatan LROA, kemudian mengirim
laporan tersebut ke dinas kesehatan kabupaten/kota setempat setiap
bulan :
a. Form 13A Register Harian Kunjungan Layanan Rehidrasi Oral Aktif
(LROA).
b. Form 13B Laporan Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA).
c. Form 13F Rekapitulasi Kasus Diare Di Puskesmas.
2. Kabupaten/kota
Dinas kesehatan kabupaten/kota merekap hasil laporan puskesmas
dan mengirimkan laporan LROA dan diare ke dinas kesehatan provinsi
setiap triwulan menggunakan Form 13C Rekapitulasi Laporan Layanan
Rehidrasi Oral Aktif (LROA) Per Puskesmas dan 13G Rekapitulasi
Kasus Diare di Kabupaten.
3. Propinsi
Dinas kesehatan provinsi merekap laporan LROA dari dinas kesehatan
kabupaten/kota

menggunakan

39

Form

13D

Rekapitulasi

Laporan

Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA) dan 13 H Rekapitulasi Kasus


Diare setiap triwulan.Mengirimkan umpan balik laporan ke dinas
kesehatan kabupaten/kota setiap triwulan.
4. Nasional
Subdit Diare dan ISP, Direktorat P2ML merekap laporan LROA dari
dinas

kesehatan

provinsi

menggunakan

Form

13F

Rekapitulasi

Laporan Layanan Rehidrasi Oral Aktif (LROA) dan 13 I Rekapitulasi


Kasus Diare setiap triwulan. Mengirimkan umpan balik laporan ke
dinas kesehatan propinsi setiap triwulan.

k. HIV/AIDS
Pengendalian HIV-AIDS di Puskesmas adalah melaksanakan tatalaksana
kasus HIV-AIDS, pemeriksaan penduduk berisiko tinggi, dan pemeriksaan
ibu hamil.
Penderita HIV-AIDS dilakukan tatalaksana standar dengan
pemeriksaan danpencatatan seperti halnya pasien lainnya.

sistem

Pemeriksaan penduduk berisiko tinggi dilakukan pada kelompok tertentu,


misalnya kelompok WPS (Wanita Pekerja Seks), dan pada ibu hamil dengan
mengambil spesimen dan melakukan pemeriksaan di laboratorium
Puskesmas (yang sudah mampu) atau rujuk ke fasilitas laboratorium yang
memadai.
Pencatatan hasil pemeriksaan HIV pada penduduk baik kelompok berisiko
tinggi dan ibu hamil maupun pada masyarakat umum dilakukan melalui
sistem informasi yang telah disiapkan oleh Kementerian Kesehatan (Subdit
HIV AIDS dan PIMS).Pada Puskesmas yang telah mampu memanfaatkan
teknologi informasi dan komputer, maka pencatatan HIV-AIDS dan IMS
menggunakan formulir-formulir standar secara manual didukung dengan
sisteminformasi secara elektronik, dan pelaporan HIV-AIDS dan IMS
menggunakan sistem informasi elektronik. Sistem pencatatan-pelaporan
HIV-AIDS dan IMS secara elektronik menggunakan Sistem Informasi HIV
AIDS dan IMS (SIHA) yang berbasis web dan terintegrasi dengan sistem
informasi kesehatan secara Nasional. Pencatatan dan pelaporan HIV-AIDS
dan IMS diatur berdasarkan fungsi dari masing-masing tingkatan.
Instrumen yang digunakan adalah :
(1) Formulir Konseling dan Tes HIV
(2) Laporan Bulanan Konseling dan Tes HIV

40

l. Infeksi Menular Seksual (IMS)


Pengendalian IMS di Puskesmas adalah melaksanakan tatalaksana kasus
IMS, pemeriksaan penduduk berisiko tinggi, dan pemeriksaan ibu hamil.
Penderita IMS dilakukan tatalaksana standar dengan sistem pemeriksaan
dan pencatatan seperti halnya pasien lainnya.
Pemeriksaan penduduk berisiko tinggi dilakukan pada kelompok tertentu,
misalnya kelompok WPS (Wanita Pekerja Seks), dan pada ibu hamil dengan
mengambil spesimen dan melakukan pemeriksaan di laboratorium
Puskesmas (yang sudah mampu) atau rujuk ke fasilitas laboratorium yang
memadai.
Pencatatan hasil pemeriksaan IMS pada penduduk baik kelompok berisiko
tinggi dan ibu hamil maupun pada masyarakat umum dilakukan melalui
sistem informasi yang telah disiapkan oleh Kementerian Kesehatan (Subdit
HIV AIDS dan PIMS).Pada Puskesmas yang telah mampu memanfaatkan
teknologi informasi dan komputer, maka pencatatan HIV-AIDS dan IMS
menggunakan formulir-formulir standar secara manual didukung dengan
sisteminformasi secara elektronik, dan pelaporan HIV-AIDS dan IMS
menggunakan sistem informasi elektronik. Sistem pencatatan-pelaporan
HIV-AIDS dan IMS secara elektronik menggunakan Sistem Informasi HIV
AIDS dan IMS (SIHA) yang berbasis web dan terintegrasi dengan sistem
informasi kesehatan secara Nasional. Pencatatan dan pelaporan HIV-AIDS
dan IMS diatur berdasarkan fungsi dari masing-masing tingkatan.
Instrumen yang digunakan adalah :
(1) Formulir IMS
(2) Laporan IMS
2. Pencatatan Penyakit Tidak Menular
Kegiatan pencegahan dan pengendalianpenyakittidakmenularadalah
a.

pengendalian faktor risiko,

b.

penemuan dan tatalaksana, serta rehabilitasi penyandang penyakit


tidak menular.

Bentuk

kegiatannya

adalah

kegiatan

Pos

Pembinaan

Terpadu

PTM

(Posbindu PTM), Pelayanan Pemeriksaan Umum (Poli Umum), dan promosi


kesehatan.
Data hasil pemeriksaan peserta Posbindu PTM dicatat dalam Buku
Monitoring Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular dan direkap dalam Buku
Pencatatan Faktor Risiko PTM (Buku Register Posbindu PTM).

41

Data hasil tatalaksana penyandang PTM di Pelayanan Pemeriksaan Umum


(Poli Umum) dicatat dalam Kartu Rawat Jalan Puskesmas dan Register
Rawat Jalan Puskemas sebagaimana penderita lainnya.
Instrumen yang digunakan dalam kegiatan pencegahan dan pengendalian
PTM adalah:
e.

Buku Monitoring Faktor Risiko PTM,

f.

Buku Pencatatan Faktor Risiko PTM (Buku Register Posbindu PTM

g.

Register Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim

h.

Register Rawat Jalan Puskesmas,

i.

Register Rawat Inap Puskesmas,

j.

Kartu Pemeriksaan Pengemudi, dan

k.

Register Pemeriksaan Pengemudi

Alur pencatatan kegiatan pencegahan dan pengendalian PTM adalah sebagai


berikut

Pelayanan
Peserta
Posbindu
PTM

Buku
Monitoring
FR PTM

Register
FR PTM

Bagan 27. Skema Kegiatan Posbindu PTM

Pelayanan
deteksi dini

Catatan
medisdeteksi
dini

kanker

Bagan 28. Skema Kegiatan Deteksi Dini Kanker

Pelayanan
Penyandang
PTM

Kartu Rawat
Jalan
Puskesmaska
nker Kartu

Register Rawat
Jalan
PuskesmasRegis
ter Deteksidini

Bagan 29. Skema Kegiatan Pelayanan Penyandang PTM

Pemeriksaan
kesehatan
Pengemudi di
terminal

Register
Pemeriksaan FR
Kes. Pengemudi

42

Bagan 30. Skema Kegiatan Pemeriksaan Faktor Risiko Kesehatan Pengemudi di


Terminal

1)

Buku Monitoring Faktor Risiko PTM

a)

Penggunaan
Buku Monitoring Faktor Risiko PTM (Buku Monitoring FR-PTM)
digunakan

mencatat

pemeriksaan

dan

hasil

pemeriksaan

kesehatan peserta Posbindu. Buku ini dipegang peserta Posbindu


PTM.

b)

Sumber Data
Sumber data Buku Monitoring FR-PTM adalah hasil pemeriksaan
kesehatan peserta PTM selama kegiatan pelayanan di Posbindu
PTM

c)

Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional pada

Buku Monitoring FR-

PTM tercantum dalam Tabel 74 Buku Monitoring Faktor Risiko


PTM
Contoh instrumen Buku Monitoring Faktor Risiko PTM dan cara
pengisiannya

tercantum pada Formulir 82 Buku Monitoring

Faktor Risiko PTM

2)

Register Faktor Risiko PTM


a)

Penggunaan
Register Faktor Risiko PTM (Buku Monitoring FR-PTM) digunakan
untuk menghimpun data hasil pemeriksaan kesehatan peserta
Posbindu PTM yang telah tercatat pada Buku Monitoring FR-PTM

b)

Sumber Data
Sumber data Register FR-PTM adalah Buku Monitoring FR-PTM

c)

Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional pada Register FR-PTM
tercantum dalam Tabel 75. Register Monitoring FR-PTM
Contoh instrumen Register FR-PTM dan cara pengisiannya
tercantum pada Formulir 83.Register FR-PTM

43

3)

Register Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim


a)

Penggunaan
Register Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim
digunakan untuk menghimpun data hasil deteksi dini kanker
payudara

dan

kanker leher

rahim

di

Puskesmas

dan

di

masyarakat
b)

Sumber Data
Sumber data Register Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker
Leher Rahim adalah formulir catatan medis Deteksi Dini Kanker
Payudara dan Kanker Leher Rahim

c)

Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional pada Register Deteksi Dini
Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim tercantum dalam
Tabel 76. Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim
Contoh instrumen Register Deteksi Dini Kanker Payudara dan
Kanker Leher Rahim dan cara pengisiannya

tercantum pada

Formulir 133. Register Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker


Leher Rahim
4) Register PemeriksaanFaktorRisikoKesehatanPengemudi Di Terminal
a)

Penggunaan
Register Pemeriksaan Faktor Risiko Kesehatan Pengemudi di terminal
digunakan untuk mencatat hasil pemeriksaan kesehatan pengemudi di
terminal

b)

Sumber Data
Sumber data register ini adalah hasil pemeriksaan faktor risiko
kesehatan pengemudi di terminal

c)

Jenis Data, Definisi Operasional, Instrumen dan Cara Pengisian


Jenis data dan definisi operasional pada Register Pemeriksaan Faktor
Risiko Kesehatan Pengemudi Di Terminal tercantum dalam Tabel 77
Register Pemeriksaan Faktor Risiko Kesehatan Pengemudi Di Terminal
Contoh instrumen Register Pemeriksaan Faktor Risiko Kesehatan
Pengemudi Di Terminal dan cara pengisiannya

tercantum pada

Formulir 84 Register Pemeriksaan Faktor Risiko Kesehatan Pengemudi


Di Terminal

44

3. Pencatatan Data Kesehatan Jiwa


Merupakan bagian dari Upaya Kesehatan Masyarakat Pengembangan di
Puskesmas.

Ruang

lingkup

pemantauan,

evaluasi

program

serta

pelaporan

meliputi
kegiatan

advokasi,

dan

pencegahan

dan

pengendalian masalah kesehatan jiwa anak dan remaja, kesehatan jiwa


dewasa dan lanjut usia, dan penyalahgunaan NAPZA.

(1) Kegiatan kesehatan jiwa di Puskesmas meliputi penemauan dan


tatalaksana

penderita

kesehatan

jiwa

yang

dilaksanakan

di

Pelayanan Pemeriksaan Umum (UKP). Oleh karena itu, pencatatan


data kegiatan kesehatan jiwa merupakan pencatatan yang ada di
Pelayanan Pemeriksaan Umum.
(2) Kegiatan kesehatan jiwa masyarakat meliputi :
(a) Penyuluhan kesehatan jiwa masyarakat dan napza
(b) Penyuluhan kesehatan jiwa bagi ibu hamil dan menyusui
(c) Penyuluhan kesehatan jiwa dan napza bagi kelompok berisiko
(lansia, anak dan remaja)
(d) Konseling narkoba
(e) Program wajib lapor pecandu narkotika
Kegiatan penyuluhan merupakan bentuk pemberdayaan kelompok
masyarakat, dan disiapkan dengan menyusun rencana yang jelas
(topik bahasan, metode, jenis dan jumlah sasaran, narasumber, lama
waktu pelaksanaan). Setelah pelaksaaan penyuluhan, wajib dibuat
laporan

(laporan

Pemberdayaan

Kelompok)

dan

dicatat

dalam

Register Pemberdayaan Kelompok.


Konseling kesehatan jiwa dan napza dapat dilaksanakan di gedung
Puskesmas
Pelaksanaan

maupun

di

konseling

rumah
di

keluarga

dalam

gedung

klien

atau

Puskesmas

pasien.
dapat

dilaksanakan di ruang khusus konseling atau di ruang Poli Umum


atau tempat lain yang sesuai untuk kegiatan konseling.
Instrumen pencatatan yang digunakan dalam pelayanan kesehatan
jiwa adalah:
-

Register Promosi Kesehatan Individu

Register Promosi Kesehatan Kelompok

45

Instrumen

Register

pengisiannya

Promosi

tercantum

Kesehatan

pada

formulir

Individu
2

Register

dan

cara

Promosi

Kesehatan Individu. Sedangkan jenis data dan definisi operasional


Register Promosi Kesehatan Individu tercantum dalamTabel 2.1.1.
Register Promosi Kesehatan Individu.
Instrumen

Register

pengisiannya

Promosi

tercantum

Kesehatan

pada

formulir

Kelompok
4

Register

dan

cara

Promosi

Kesehatan Kelompok. Sedangkan jenis data dan definisi operasional


pada Register Pemberdayaan Kelompok tercantum dalam Tabel 2.1.3.
Register Promosi Kesehatan Kelompok.
Register promosi kesehatan individu dan kelompok ini menggunakan
instrument pada kegiatan promosi kesehatan.
B. Pokok Bahasan 2: Pelaporan
1. Pelaporan Bulanan Kesakitan Umum
Hasil kegiatan yang telah dicatat petugas Puskesmas sebagaimana dibahas
pada bagian pencatatan kegiatan puskesmas kemudian

dihimpun dan

dikelompokkan secara teratur setiap minggu dan setiap bulan sesuai


kebutuhannya. Hasil kegiatan tersebut dilaporkan setiap awal minggu dan atau
setiap awal bulan berikutnya ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Khusus
Puskesmas

Sentinel juga melaporkan secara langsung

kepada Menteri

Kesehatan melalui surat pos, faksimili, surat elektronik (email) atau pelaporan
online.
Laporan Bulanan Kesakitan Umum merupakan laporan jumlah kejadian
kesakitan (kasus) yang mendapat pelayanan di Puskesmas dan jaringannya
(Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, dan bidan desa), baik rawat jalan
maupun rawat inap, serta pos-pos pelayanan kesehatan yang diselenggarakan
pada saat terjadi kejadian luar biasa penyakit dan keracunan, dalam periode
waktu satu bulan kalender.
a. Sumber Data
(1) Register Rawat Jalan Puskesmas
(2) Register Rawat Inap Puskesmas
(3) Register Rawat Jalan Puskesmas Pembantu
(4) Register Rawat Jalan Puskesmas Keliling

46

b. Jenis data, Definisi Operasional dan Instrumen


Jenis data dan definisi operasional pada Laporan Bulanan UKP 2. Kesakitan
Umum, tercantum dalam Tabel L.1.2.1.
Contoh instrumen Laporan Bulanan UKP 2. Kesakitan Umum tercantum
pada formulir 144 Laporan Bulanan UKP 2. Kesakitan Umum.

2. Pelaporan Bulanan Penyakit Menular


Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular yang wajib
dilaporkan adalah upaya pengendalian malaria, DBD, kecacingan,
rabies, diare, hepatitis, TB, kusta, frambusia, HIV/AIDS, penyakit
kelamin,

ISPA-pneumonia,

PD3I

dan

kegiatan

surveilans

serta

penanggulangan kejadian luar biasa penyakit dan keracunan

a. Malaria
Menggunakan formulir Laporan Rekapitulasi Penderita Malaria Tingkat
Puskesmas
1) Jumlah suspek malaria diperiksa mikroskopis/RDT
Jumlah suspek yang diperiksa dapat diketahui dengan menjumlahkan
jumlah malaria positif dan negatif yang diperiksa, atau dengan melihat
kolom konfirmasi lab pada sheet report di aplikasi e-sismal.
2) Jumlah malaria positif
Jumlah malaria positif dicatat secara individu pada regmal, dan total
jumlahnya diketahui di sheet report pada kolom total.
3) Malaria positif indigenous
Jumlah malaria positif indigenous diketahui di sheet report pada kolom
klasifikasi asal penularan, kolom indigenous.
4) Malaria positif import
Jumlah malaria positif indigenous diketahui di sheet report pada kolom
klasifikasi asal penularan, kolom import.
5) Jumlah malaria positif diobati standar
Jumlah malaria positif yang diobati diketahui di sheet report pada kolom
penderita diobati dengan, kebijakan tatalaksana malaria menyebutkan
bahwa obat yang digunakan program adalah ACT (Arthemisinin
Combination Therapy) ditambah primaquin kecuali untuk Ibu hamil

47

trisemester pertama dan anak < 1 tahun. (Lihat buku pedoman


tatalaksana malaria)
6) Jumlah kelambu berinsektisida yang dibagikan
Jumlah kelambu yang dibagikan dapat dilihat di sheet report pada kolom
kelambu berinsektisida yang dibagikan.
Laporan bulanan penyakit menular menggunakan format LB1

3. Pelaporan Bulanan Penyakit Tidak Menular


Upaya pengendalian penyakit tidak menular yang wajib dilaporkan adalah
upaya tatalaksana penyandang PTM, deteksi dini kanker leher rahim dan
payudara, dan pemeriksaan faktor risiko, terutama di posbindu PTM
Hasil kegiatan upaya pengendalian penyakit tidak menular dicatat dalam
berbagai instrument pencatatan data di Puskesmas, Puskesmas Keliling,
Puskesmas Pembantu dan bidan desa serta posbindu PTM sebagaimana
dibahas sebelumnya.
a. Sumber Data
1) Buku Monitoring Faktor Risiko PTM
2) Register Monitoring Faktor Risiko PTM
3) Kartu Pemeriksaan Faktor Risiko Pengemudi di Terminal
4) Register Pemeriksaan Faktor Risiko Pengemudi di Terminal
5) Register Rawat Jalan Puskesmas
6) Register Rawat Inap Puskesmas
b. Jenis Data, Definisi operasional
Jenis data dan definisi operasional pada Laporan Bulanan UKME 6.
Pengendalian Penyakit Tidak Menular, tercantum dalam tabel L.2.6.1.
Contoh instrumen Laporan Bulanan UKME 6. Pengendalian Penyakit
TIdak Menular tercantum pada formulir 140 Laporan Bulanan UKME 6.
Pengendalian Penyakit TIdak Menular.

48

4. Pelaporan Bulanan Kesehatan Jiwa


Kegiatan kesehatan jiwa di Puskesmas dilaporkan setiap bulan dengan
menggunakan formulir 143 Laporan Bulanan UKP 1. Pelayanan
Puskesmas. Jenis data dan definisi operasional LaporanBulanan UKP 1.,
tercantum dalamTabel L.1.1.1.
Kegiatan konseling kesehatan jiwa dan napza dapat dilaksanakan di
gedung Puskesmas maupun di rumah keluarga klien atau pasien,
dilaporkan menggunakan formulir 135 Laporan Bulanan Promosi
Kesehatan. Jenis data dan definisi operasional pada Laporan Bulanan
UKME 1. Promosi Kesehatan, tercantum dalam Tabel L.2.1.1. Promosi
Kesehatan.

5. Pelaporan Tahunan
Data laporan tahunan sesuai dengan format laporan tahunan (LT)
Puskesmas dengan mengisi data fasilitas dan kegiatan pencehahan dan
pengendalian penyakit

VII.

REFERENSI
1. Buku Pedoman Manajemen Pengendalian Hepatitis, Diare dan Infeksi
Saluran Pencernaan, 2014
2. Buku Petunjuk Teknis Layanan Rehidrasi Oral Aktif, 2015.
3. Buku Petunjuk Teknis Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Pengendalian
Hepatitis, Diare & Saluran Pencernaan, 2015.
4. Pedoman Pengendalian HIV/AIDS
5. Pedoman Surveilans Penyakit Tidak Menular
6. Petunjuk Teknis Surveilans Faktor Risiko PTM berbasis web
7. PedomanPengendalian Malaria
8. Pedoman Pengendalian TB
9. Pedoman Kesehatan jiwa