Anda di halaman 1dari 12

SMF/BAGIAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Tugas Mata (17-09-2016)

Disusun Oleh :
Norman Delvano

Weky, S.Ked

(1108012032)
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2016

1. Jelaskan tentang Orbital Pseudotumor!


Orbital pseudotumor adalah reaksi inflamasi kronis yang mengenai
jaringan orbita mata dimanaetiologinya tidak diketahui. Gejalanya mencakup
penonjolan bola mata dan kongesti palpebra dengan edema. Pada tahun 1905,
Birch-Hirschfield pertama kali mengemukakan mengenai idiopathic orbital
inflammatory syndrome, yang dikenal juga sebagai orbital pseudotumor
sebuah proses inflamasi orbital yang nonspesifik, nonneoplastik. Kondisi ini
juga dikenal dengan beberapa nama lain, seperti : idiophatic orbital
inflammation, idiopathic orbital inflammatory syndrome (IOIS) dan inflamasi
orbital nonspesifik. Istilah orbital pseudotumor yang paling umum digunakan
di dalam literatur. Orbital pseudotumor memiliki berbagai gejala klinis,
tergantung pada struktur orbital yang telibat, tingkat inflamasi dan fibrosis.
Proptosis adalah presentasi yang paling sering, diikuti oleh pembengkakan
kelopak mata dan pembatasan pada motilitas. Proptosis adalah penonjolan
bola mata. Hal ini disebabkan karena kakunya struktur tulang orbita
menyebabkan setiap penambahan isi orbita yang terjadi di samping atau di
belakang bola mata yang akan mendorong organ tersebut ke depan. Orbital
pseudotumor merupakan penyakit orbital ketiga terbanyak setelah Graves
disease dan penyakit limpoproliferatif. Angka kejadiannya berkisar antara 4,7
6,3% dari seluruh penyakit orbital. Berdasarkan survei yang dilakukan
Mayo Clinic pada 1.376 pasien dengan lesi orbital primer, sekunder dan
metastasis selama periode 40 tahun, sekitar 4% (58 / 1.376) yang dinyatakan
menderita orbital pseudotumor. Kasus ini merupakan peringkat ketiga

penyebab lesi orbital pada orang dewasa (10%, 58/574), setelah hemangioma
dan non-Hodgkin lymphoma.
Berdasarkan penelitian kasus orbital pseudotumor di Cina, rentang usia
pasien berkisar 4 tahun 80 tahun. Puncak kejadian kasus ini adalah pada
dekade keempat dan kelima. Salah satu gejala objektif (sign) dari orbital
pseudotumor adalah adanya peningkatan tekanan intraokular. Infiltrasi sel
inflamasi, yaitu limfosit, sel plasma, makrofag, dan sel mast dari jaringan
intersisial, lemak orbital, dan kelenjar lakrimal dapat menyebabkan volume
orbital meningkat dan secara tidak langsung meningkatkan tekanan
intraorbital. Nilai tekanan intraokular ini seharusnya selalu dilakukan karena
hal ini berkaitan langsung terhadap keadaan suatu pseudotumor. Hilangnya
penglihatan pada kasus ini dikarenakan adanya penekanan saraf optik oleh
pembengkakan jaringan di sekitar mata. Pembengkakan jaringan orbital
(rongga mata) dapat menyebabkan mata menonjol keluar dan membatasi
kemampuan mata untuk menutup kelopak mata, dengan demikian akan
mengekspos permukaan depan mata sehingga dapat mengakibatkan iritasi dan
kerusakan kornea. Hampir seluruh gambaran histopatologi kasus ini tidak
menunjukan suatu keganasan dan menunjukan adanya reaksi radang non
spesifik.
Banyak kasus biopsi mungkin tidak memiliki patonomonik dan harus
dikorelasikan dengan gejala klinis pasien yaitu nyeri dan penurunan tajam
penglihatan. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai macam penyebab seperti
tumor. Tumor yang membesar akan menyebabkan anomali pada pembuluh

darah bahkan akan terjadi kompresi pada nervus optikus yang mengakibatkan
defek lapangan pandang sampai tidak ada persepsi cahaya.. Gejala klinis yang
sering ditemui pada kasus adalah proptosis (penonjolan bola mata), nyeri,
penglihatan ganda, dan penurunan ketajaman penglihatan. Inflamasi yang
mengakibatkan pembengkakan jaringan orbital (rongga mata) dapat
menyebabkan mata menonjol keluar (proptosis). Pasien dapat juga menderita
penglihatan

ganda

dan

penglihatan

kabur

yang

diakibatkan

oleh

pembengkakan tersebut. Kasus orbital pseudotumor biasanya unilateral.


Presentasi unilateral biasanya sangat khas pada kasus ini tapi presentasi
bilateral juga ada dan biasanya presentasi bilateral disertai dengan
vaskulitis.CT Scan banyak digunakan karena dapat menunjukan gambaran
karakteristik dan lokalisasi pada kasus pseudotumor ini. Pemberian steroid
merupakan terapi andalan yang digunakan dalam kasus ini sedangkan biopsi
orbital umumnya tidak diindikasikan kecuali lesi gagal merespon terhadap
terapi yang telah diberikan.
2. Jelaskan tentang Konjungtivitis Alergi!
A.

Definisi
Konjungtivitis alergi merupakan bentuk radang konjungtiva akibat
reaksi alergi terhadap noninfeksi, dapat berupa reaksi cepat seperti alergi
biasa dan reaksi lambat sesudah beberapa hari kontak seperti reaksi
terhadap obat. Merupakan reaksi antibodi humoral terhadap alergen.
Biasanya dengan riwayat atopi. Reaksi hipersensitivitas yang paling sering

B.

terlibat pada alergi di konjungtiva adalah reaksi hipersensitivitas tipe 1.


Epidemiologi
6

Konjungtivitis alergi kejadiannya mencapai 5-22% dari seluruh


populasi dan lebih sering terjadi pada negara berkembang. Konjungtivitis
alergi terjadi pada semua kelompok umur, tapi paling sering mengenai
anak-anak. Alergi ini biasanya terjadi secara berulang, faktor risiko tinggi
pada mereka yang memiliki riwayat keluarga alergi pada alergen tertentu/
C.
a.

penyakit atopik.
Klasifikasi Konjungtivitis Alergi
Dikenal beberapa macam bentuk konjungtivitis alergi:
Hay Fever Konjungtivitis
Sebuah peradangan konjungtiva ringan, nonspesifik umumnya terkait
dengan rhinitis alergi. Biasanya ada riwayat alergi terhadap serbuk sari,
rumput, dll. Pasien mengeluh gatal-gatal, dan kemerahan pada mata dan
sering menyatakan bahwa mata tampaknya akan "tenggelam ke dalam
jaringan di sekitarnya." Ada injeksi ringan dari palpebra dan konjungtiva

b.

bulbar dan selama serangan akut sering ada chemosis berat.


Konjungtivitis vernal
Penyakit ini, juga dikenal sebagai "konjungtivitis musiman" atau
"konjungtivitis cuaca hangat," adalah penyakit alergi bilateral jarang yang
biasanya dimulai pada tahun-tahun sebelum pubertas dan berlangsung
selama 5-10 tahun. Hal ini terjadi lebih sering pada anak laki-laki dari
pada anak perempuan. Pasien biasanya menunjukkan manifestasi
sensitivitas terhadap serbuk sari rumput. Penyakit ini kurang umum di
daerah beriklim hangat dan hampir tidak ada di daerah beriklim dingin.
Hal ini hampir selalu lebih parah selama musim semi, musim panas, dan
musim gugur daripada di musim dingin. Hal ini paling sering terlihat di
Afrika dan Timur Tengah. Pasien biasanya mengeluh gatal ekstrim. Sering

ada riwayat keluarga alergi (hay fever, eksim, dll), dan kadang-kadang ada
riwayat alergi pada masa muda. Konjungtiva memiliki penampilan susu,
dan ada banyak papila di konjungtiva tarsal bawah. Konjungtiva atas
c.

sering memiliki papila raksasa yang gambaran cobblestone appearance.


Konjungtivitis flikten
Peradangan konjungtiva bulbi yang terjadi akibat alergi (reaksi
hipersensitivitas tipe IV) terhadap bakteri atau antigen tertentu ditandai
dengan adanya bintik putih yang dikelilingi daerah hiperemis pada
konjungtiva. Konjungtivitis flikten juga dapat menjalar sampai ke kornea.
Pada umumnya, reaksi ini terjadi terhadap tuberkuloprotein, stafilokokus,
limfogranulma

venerum,

leismaniasis,

infeksi

jamur,

Chlamidia

trachomatis, infeksi parasit, dan infeksi di tempat lain dalam tubuh. Pada
pasien akan terlihat kumpulan pembuluh darah yang mengelilingi suatu
tonjolan bulat dengan warna kuning kelabu seperti suatu mikroabses yang
biasanya terletak di dekat limbus. Biasanya abses ini menjalar ke arah
d.

sentral atau kornea.


Konjungtivitis atopik
Biasanya ada riwayat alergi (hay fever, asma, atau eksim) pada pasien atau
keluarga pasien. Seperti dermatitis yang dikaitkan, konjungtivitis atopik
sering sekali remisi dan eksaserbasi. Ini merupakan reaksi alergi selaput
lender mata atau konjungtiva terhadap polen, debu. Memberikan tanda
mata berair, bengkak dan belek berisi eosinofil.

D.

Patofisiologi
Konjungtivitis terjadi akibat kerusakan jaringan akibat masuknya benda
asing ke dalam konjungtiva akan memicu suatu kompleks kejadian yang

disebut respon radang atau inflamasi. Pada konjungtivitis alergi dapat terjadi
reaksi hipersensitivitas tipe I.(1) Keadaan ini merupakan hipersentivitas
seketika dengan reaksi yang dimulai dalam tempo beberapa menit sesudah
terjadi kontak dengan antigen. Kalau mediator kimia terus dilepaskan, reaksi
lambat dapat berlanjut sampai 24 jam. Reaksi ini diantari oleh antigen IgE
dan bukan oleh antibodi IgG atau IgM. Hipersensitifitas tipe I memerlukan
kontak sebelumnya dengan antigen yang spesifik sehingga terjadi produksi
antibodi IgE oleh sel-sel plasma. Proses ini berlangsung dalam kelenjar
limfe tempat sel-sel T helper membantu menggalakkan reaksi ini. Antibodi
IgE akan terikat dengan reseptor membran pada sel-sel mast yang di jumpai
dalam jaringan ikat basofil. Pada saat terjadi kontak ulang, antigen akan
terikat dengan antibodi IgE didekat dan pengikatan ini mengaktifkan reaksi
seluler yang memicu proses degranulasi serta pelepasan mediator kimia
(histamin, leukotrien dan ECF-A (eosinophil chemotaric factor of
anaphylaxis). Histamin akan berikatan dengan reseptor H1 pada ujung saraf
dan menyebabkan gejala pada mata berupa gatal selain itu histamin juga
E.

akan menyebabkan terjadinya vasodilatasi lokal.


Gejala Klinis
Gejala utama penyakit ini adalah radang (merah, sakit, bengkak, dan
panas), gatal dan menahun. Bisa juga dijumpai mata berair. Tanda
karakteristik lainnya adalah terdapat papil besar pada konjungtiva, datang

F.

bermusim dan dapat menganggu penglihatan.


Diagnosis
Diperlukan anamnesis yang rinci mengenai riwayat alergi baik pada pasien
maupun keluarga pasien serta observasi pada gejala klinis untuk

menegakkan diagnosis konjungtivitis alergi. Gejala yang paling penting


untuk mendiagnosis penyakit ini adalah rasa gatal yang sangat hebat pada
mata, yang dapat disertai mata berair dan kemerahan. Untuk pemeriksaan
penunjang dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk melihat kadar
IgE dan pemeriksaan mikroskopis dari scraping konjungtiva. Selain itu,
G.

dapat dilakukan uji kulit terhadap alergen tertentu.


Penatalaksanaan
Pengobatan untuk konjungtivitis alergi adalah menghindari faktor
pencetus alergi. Pengobatan lain

meliputi terapi lokal. Pemberian

vasokonstriktor topikal dapat mengurangi gejala kemerahan dan edem


pada konjungtiva. Pada beberapa penelitian didapatkan kombinasi antara
vasokonstriktor dan anti histamine topikal (vasocon A) memiliki efek lebih
efektif dibandingkan diberikan secara terpisah. Pemberian stabilisator sel
mast yaitu sodium kromolyn 4% atau natrium kromoglikat 2% dapat
dipertimbangkan.

Pemberian obat anti inflamasi non steroid yang

direkomendasikan Food Drug Administration adalah ketorolak. Bila


pemberian vasokonstriktor, anti histamine topikal dan anti inflamasi non
steroid

tidak

adekuat

maka

perlu

dipertimbangkan

pemberian

kortikosteroid topikal. Kortikosteroid topikal seperti dexamethasone atau


betametasone dalam sediaan obat tetes atau salep mata perlu diberikan.
Kerja dari kortikosteroid adalah menginhibisi aktivasi sel T sebagai
mediator inflamasi yang utama dalam proses ini, sehingga respon
proliferatif dan produksi sitokin berkurang. Terapi sistemik seperti
pemberian anti histamin sistemik bermanfaat untuk menambah efektivitas

10

pengobatan topikal. Kortikosteroid sistemik diberikan bila ada indikasi


khusus yaitu inflamasi berat pada kornea dan konjungtiva, bertujuan untuk
H.

mencegah kerusakan jaringan.


Komplikasi
Komplikasi pada penyakit ini yang paling sering adalah ulkus kornea dan

I.

infeksi sekunder.
Prognosis
Prognosis konjungtivitis alergi pada umumnya baik karena penyakit ini

3.

sering sembuh sendiri.


Jelaskan tentang Fotokoagulasi!
Fotokoagulasi laser bertujuan mengablasi area iskemia pada daerah retina
perifer sehingga mengurangi jumlah angiogenic growth factors. Hasil
dari Diabetic Retinopathy Study menunjukkan fotokoagulasi mengurangi
risiko kehilangan penglihatan secara bermakna pada pasien proliferatif
Retinopathy Diabetic. Efek samping yang dapat timbul berupa gangguan
penglihatan malam dan warna, tapi jarang terjadi. Fotokoagulasi dilakukan
pada daerah retina iskemia dengan laser dan xenon. Fotokoagulasi dapat
digunakan bersama dengan vitrektomi untuk menatalaksana proliferatif
RD. Efek samping berupa peningkatan risiko katarak, ablasio retina, dan
endoftalmitis Pasien dengan NPDR tanpa edema makula bukan indikasi
terapi fotokoagulasi laser. Hal terpenting pada pasien pasien ini adalah
disiplin dalam memonitor kadar gula darah secara teratur tiap 4 6 bulan
sekali. Terdapat beberapa tekhnik fotokoagulasi laser, yaitu :
1. Panretinal photocoagulation (PRP)/Scatter
Pada retinopati diabetik, fotokoagulasi yang digunakan adalah PRP
(Panretinal photocoagulation), yang dilakukan dalam pola menyebar
11

(scatter) pada retina, yang berguna untuk regresi neovaskularisasi,


tetapi intensitas dan besarnya bakaran pada PRP bervariasi tergantung
dari setiap kasus dan protokol yang ditetapkan.
2 Focal dan Grid Laser Photocoagulatio
Penatalaksanaan edema

makula pada retinopati diabetik dapat

menggunakan dua metoda yang berbeda dengan PRP, yaitu :


1) Focal laser photocoagulatio diarahkan langsung pada pembuluh darah
yang abnormal dengan tujuan mengurangi kebocoran cairan yang
kronis.
2) Grid laser Photocoagulation digunakan pada kebocoran difus, dan
dilakukan dengan pola grid pada area yang edema.
Indikasi tindakan fotokoagulasi laser. yaitu :
1. NPDR yang disertai dengan CSME. Pada dasarnya semua pasien

dengan CSME memerlukan terapi fotokoagulasi untuk melindungi


makula dan penglihatan sentral8
2. PPDR (preproliferative retinopathy)
merupakan indikasi terapi laser, karena resiko perkembangan
penyakit kearah PDR tinggi ( 10 50 % dalam 1 tahun kecuali
diterapi dengan laser). Keadaan ini mengindikasikan iskemi retina
yang progresif, ditandai dengan perdarahan di seluruh kuadran retina,
atau didapatkan kaliber vena yang abnormal ( beading ) di dua
kuadran atau setidaknya terdapat IRMA ( intraretinal microvascular
abnormalities ) di satu kuadran, dan cotton wool spot.
12

3. Early/moderate PDR ( proliferative diabetic retinopathy )


Penderita early/moderate PDR merupakan indikasi terapi laser, karena
sudah didapatkan pertumbuhan neovaskularisasi yang tidak normal
sehingga fotokoagulasi laser dapat meregresi neovaskularisasi ini.
Keadaan ini ditandai dengan perdarahan luas, eksudat lunak, cotton
wool spot, dan perdarahan intraretina angy multiple disertai
neovascularization elsewhere
4. PDR dengan CSME
Keadaan ini merupakan indikasi fotokoagulasi laser untuk meregresi
neovaskularisasi yang tidak normal dan untuk melindungi makula juga
penglihatan sentral. Keadaan ini ditandai dengan perdarahan
subretinal yang luas disertai eksudat. Focal/grid dan PRP ( panretinal
photocoagulation) merupakan pilihan terapi pada keadaan ini
5. PDR lanjut yang disertai neovaskularisasi
Keadaan ini merupakan stadium lanjut retinopati diabetik, biasanya
ditandai dengan neovaskularisasi pada diskus ( NVD ) pada area yang
lebih besar dari ukuran diskus, atau perdarahan vitreus dan
perdarahan preretina yang disertai NVD, atau perdarahan vitreus dan
preretina yang disertai neovaskularisasi lebih besar dari diameter
diskus tetapi jauh dari diskus optikus ( NVE ). Pada keadaan ini, laser
merupakan pilihan terapi untuk meregresi neovaskularisasi yang tidak
normal dengan syarat, operator dapat melihat fundus retina secara
adekuat, karena jika terjadi perdarahan vitreus yang hebat, akan sulit

13

bagi operator untuk melakukan laser, sehingga pada keadaan ini perlu
dipertimbangkan untuk dilakukan vitrektomi

14