Anda di halaman 1dari 9

Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB

Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi Dalam Mendukung


Kegiatan Bekerja dan Konsumsi Fasilitas Pemilik Perumahan
Formal di Kecamatan Jatinangor
Alia Rasmaya(1), Ridwan Sutriadi
(1)
(2)

(2)

Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK),
ITB.
Kelompok Keahlian Sistem Infrastruktur Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
(SAPPK), ITB.

Abstrak
Pertumbuhan kota yang sangat pesat menyebabkan terjadinya urban sprawl yang memberikan efek
positif terbentuk pusat pertumbuhan baru di sekitar pusat-pusat kotanya. Pusat pertumbuhan baru
ini akan membentuk sebuah kota dengan skala kecil yang akan berfungsi sebagai sebagai pasar,
jasa, komersial, transport, distribusi dan pusat komunikasi, industri skala kecil, difusi innovasi dan
interaksi. Adanya perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang telah berimplikasi
pada perubahan pergerakan bekerja dan pergerakan konsumsi fasilitas masyarakat perkotaan.
Pergerakan dapat dilakukan secara efektif dengan bantuan TIK karena TIK berfungsi untuk
menjembatani jarak. TIK disini juga bersifat melayani hubungan antar individu dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk menemukenali , mengkaji peran teknologi
komunikasi dan informasi dalam mendukung kegiatan bekerja dan konsumsi fasilitas pemilik
perumahan formal di Kecamatan Jatinangor berdasarkan beberapa variabel yang ditetapkan. Studi
ini menggunakan metode kuantitatif dalam pengumpulan data di lapangan, selanjutnya
menggunakan pendekatan studi kasus dan metode deskriptif dalam menganalisis hasil dari proses
tabulasi silang (Crosstab) dan Uji Chi Square. Hasil analisis menemukan bahwa 1) Penggunaan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Kecamatan Jatinangor sudah dilakukan untuk
memudahkan kegaiatan bekerja dan konsumsi fasilitas namun belum dapat digunakan untuk
mengurangi pergerakan harian, 2) Telepon genggam merupakan jenis TIK yang berpengaruh dalam
memudahakan kegiatan bekerja dan konsumsi fasilitas.
Kata Kunci: kota kecil, pola pergerakan, teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Pengantar
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang menyebutkan bahwa kawasan
perkotaan adalah wilayah yang mempunyai
kegiatan utama bukan pertanian
dengan
susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman
perkotaan,
pemusatan
dan
distribusi
pelayanan jasa pemerintahan,
pelayanan sosial, dan
kegiatan ekonomi.
Menurut Neuman (2005) adanya pertumbuhan
kota yang sangat pesat menyebabkan terjadinya
urban sprawl yang memberikan efek positif dan
negatif. Salah satu efek positif dari urban sprawl

adalah terbentuknya pusat pertumbuhan baru di


sekitar pusat-pusat kotanya.
Pusat pertumbuhan baru ini akan membentuk
sebuah kota dengan skala kecil yang akan
berfungsi sebagai
sebagai pasar, service,
commercial, processing, transport, distribusi dan
pusat komunikasi, manufaktur skala kecil, difusi
innovasi
dan
interaksi
sosial
dalam
pembangunan desa dan integrasi ekonomi antar
desa dan kota. Dalam Mathur (1982) kota kecil
memiliki peran strategis bila dikembangkan.
Adapun peranan strategis kota kecil tersebut
adalah mencegah terjadinya urban primacy,
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 421

Peran Tekonologi Informasi dan Komunikasi Dalam Mendukung Kegiatan Bekerja dan Konsumsi Fasilitas Pemilik Perumahan Formal di
Kecamatan Jatinangor

memfasilitasi
perkembangan
metropolitan
melalui proses desentralisasi, menciptakan
linkage antara kawasan perdesaan dan
perkotaan, membentuk integrasi tata ruang
nasional melalui terciptanya distribusi penduduk
yang lebih proporsional, dan memberi kawasan
perdesaan akses yang lebih tinggi terhadap
fasilitas-fasilitas kota yang lebih baik. Selain
peranan di atas, terdapat tiga peranan kota kecil
dalam pengembangan daerah perdesaan. yaitu
sebagai pusat perdagangan, pusat penyerapan
tenaga kerja dan sebagai pusat pelayanan
(Rezvani dkk, 2009). Berdasarkan ketiga
peranan ini, diharapkan dapat terbentuk hirarki
perkotaan yang pada akhirnya menegaskan
peranan kota kecil sebagai jembatan antara
kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan
yang lebih besar.
Pengembangan
lahan
merupakan
proses
perubahan guna lahan dari suatu fungsi ke
fungsi lain dengan tujuan untuk mendapat
keuntungan dari nilai tambah yang terjadi dari
perubahan tersebut (Winarso dkk, 2006).
Adanya pengembangan lahan tidak lepas dari
pergerakan
manusia
dalam
melakukan
perjalanan karena alasan tertentu. Pola
pergerakan merupakan salah satu rute
perjalanan yang terbentuk akibat adanya
hubungan antara tata guna lahan dan
transportasi dalam suatu wilayah. Fungsi
melihat pola pergerakan dari suatu wilayah
dimaksudkan
untuk
melihat
karakteristik
pergerakan
yang
utama
serta
melihat
karakteristik pergerakan masyarakatnya dalam
memenuhi kebutuhan. Hal ini diperlukan karena
pada dasarnya manusia bergerak dimaksudkan
untuk memenuhi kebutuhan.
Pemenuhan kebutuhan yang mengakibatkan
pergerakan juga terkait dengan adanya
perkembangan
Teknologi
Informasi
dan
Komunikasi (TIK) yang telah berimplikasi pada
perubahan pergerakan bekerja dan pergerakan
konsumsi fasilitas masyarakat perkotaan.
Pergerakan dapat dilakukan secara efektif
dengan bantuan TIK karena TIK
berfungsi
untuk menjembatani jarak. TIK disini juga
bersifat melayani hubungan antar individu
422 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N3

dalam
memenuhi
kebutuhan
hidupnya.
Kemajuan TIK telah memberi banyak manfaat di
berbagai sektor kehidupan. Dengan dukungan
TIK, pelayanan jasa dan proses bisnis
perusahaan dapat menjadi lebih efektif dan
efisien (Chowdurry dkk, 2012).
Cerita
tentang
perkembangan
jatinangor
sebagai pusat pertumbuhan baru akibat dari
kegiatan yang ada di Kota Bandung. Bahwa
jatinangor itu bisa berkembang akibat dari
pengembangan lahan dan juga kegiatan
ekonomi sosial lainnya, baru masuk ke
penetapan fungsi jatinangor sebagai pusat
pendidikan.Sejak ditetapkan sebagai pusat
pendidikan dan berada dekat dengan kawasan
industri Rancaekek, Kecamatan Jatinangor
mengalami perkembangan yang cukup pesat
dilihat
dari
pertumbuhan
pusat-pusat
permukiman terutama permukiman formal
sebagai tempat tinggal para pekerja yang
berada
di
Jatinangor
dan
sekitarnya.
Berdasrakan data BPS pada tahun 2004 jumlah
penduduk Kecamatan Jatinangor sebesar 83.206
penduduk dan meningkat pesat pada tahun
2011 sebesar 105.424 dan 114.020 pada tahun
2012. Hal ini menunjukkan bahwa Kecamatan
Jatinangor tumbuh dan memiliki daya tarik
untuk ditinggali. Adanya perkembangan TIK di
Indonesia selama 10 tahun belakangan ini juga
memberikan implikasi kepada perubahan pola
pergerakan dan konsumsi fasilitas yang
mengarah pada penggunaan alat bantu TIK di
kalangan masyarakat yang tinggal di perumahan
formal. Berdasarkan pertimbangan pesatnya
perkembangan perumahan formal di Kecamatan
Jatinangor dan pesatnya perkembangan TIK
maka peran penggunaan TIK oleh pemilik
perumahan formal di Kecamatan Jatinangor
menarik untuk diketahui.
Metode
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Sesuai permasalahan yang diangkat yang
diangkat pada penelitian ini adalah studi kasus,
Studi kasus merupakan paradigm penelitian
yang digunakan dalam banyak situasi yang

Alia Rasmaya

dapat berkontribusi terhadap pengetahuan dan


fenomena yang berhubungan (Yin, 2009)
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
metode yang bersifat kuantitatif dengan
menggunakan metode deskriptif, dengan
memberikan
penjelasan
dan
pemaknaan
berdasarkan teori dan fakta sehingga deskripsi
menjadi sistematis, faktual, dan lebih akurat.
Analisis kualitatif merupakan suatu proses
pemeriksaan dan intepretasi data dalam rangka
untuk memperoleh makna, pemahaman, dan
membangun pengetahuan empiris (Corbin dan
Strauss, 2008) dari fenomena sosial yang terdiri
atas pelaku, kejadian, tempat, dan waktu yang
bersifat intepretatif dan naturalistik, serta
melibatkan banyak metode dalam menelaah
masalah penelitiannya (Marshall dan Rossman,
1999).
Dengan menggunakan metode yang bersifat
kuantitatif dengan metode deskriptif, maka
penelitian ini akan didapatkan data serta analisis
dari kolaborasi antara fakta yang ada dilapangan
yang berasal dari masyarakat sendiri. Metode
kualitatif yang dilakukan dalam penelitian ini
dilakukan dengan melakukan wawancara
terhadap penduduk perumahan formal kawasan
perkotaan Jatinangor menggunakan kuesiner
yang telah disesuaikan dengan variable
penelitian.
Kemudian
dilanjutkan dengan
metode kuantitatif yang digunakan dalam
melakukan analisis dengan menggunakan
tabulasi silang untuk mendapatkan hubungan
pengaruh anatar pola pergerakan dengan
pemilihan lokasi rumah dengan melakukan
penjelasan secara deskriptif yang dilakukan
pada saat menjelaskan dalam analisis mengenai
hasil survey dan kondisi eksisting sesuai dengan
hasil pengamatan yang dilakukan pada saat
survey lapangan.

semakin menuntut manusia untuk melakukan


berbagai aktifitas yang dibutuhkan dengan
mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya
tanpa terbatas oleh jarak. Teknologi Informasi
dan Komunikasi yang perkembangannya begitu
cepat secara tidak langsung mengharuskan
manusia untuk menggunakannya dalam segala
aktivitasnya. Beberapa penerapan dari Teknologi
Informasi dan Komunikasi antara lain dalam
perusahaan, dunia bisnis, sektor perbankan,
pendidikan, kesehatan, dan dalam kehidupan
sehari-hari digunakan sebagai alat yang
mempermudah untuk bekerja.
Perkembangan baru dalam bidang TIK
menawarkan
cara-cara
baru
melakukan
berbagai kegiatan sosial dan ekonomi. TIK
terutama mendorong pengaturan kerja yang
fleksibel (teleworking di rumah atau di pusat
teleworking, kerja mobile, wirausaha, dll).
Home-based dan teknologi informasi mobile
juga telah meningkatkan kemampuan untuk
menjadi wiraswasta dengan meningkatkan
efisiensi komunikasi dengan klien, pemasok dan
kolaborator. Akses ke tempat kerja tidak lagi
dapat diukur hanya dari segi waktu tempuh,
jarak,
atau
biaya.
Oleh
karena
itu
perkembangan
TIK
dalam
mendorong
teleworking mulai mempengaruhi kehidupan
masyarakat perkotaan saat ini dan menjadi
bagian yang tidak terpisahkan.

Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi


(TIK)
Information and Communication Technology
(ICT) didefinisikan sebagai kombinasi dari

Konsep Teknologi Informasi dan Komunikasi


dalam Teleworking

teknologi informasi dengan teknologi terkait


lainnya,
terutama
teknologi
komunikasi
(UNESCO, 2002). Menurut Oxford (1995)
mendefinisikan teknologi informasi adalah studi
atau
penggunaan
peralatan
elektronika,
terutama
komputer
untuk
menyimpan,
menganalisis, dan mendistribusikan informasi
dalam bentuk apapun termasuk kata-kata,
bilangan, dan gambar.

Beragam manfaat dari adanya perkembangan


Teknologi Informasi dan Komunikasi atau TIK,
salah satunya adalah peningkatan kualitas hidup
manusia. Peningkatan kualitas hidup manusia

Teknologi Informasi adalah seperangkat alat


yang membantu anda bekerja dengan informasi
dan
melaksanakan
tugas-tugas
yang
berhubungan dengan pemrosesan informasi

Tinjauan Literatur

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 423

Peran Tekonologi Informasi dan Komunikasi Dalam Mendukung Kegiatan Bekerja dan Konsumsi Fasilitas Pemilik Perumahan Formal di
Kecamatan Jatinangor

(Haag & Keen, 1996). Sedangkan menurut Alter


(1992) teknologi informasi mencakup perangkat
keras dan perangkat lunak untuk melaksanakan
satu atau sejumlah tugas pemrosesan data
seperti
menangkap,
mentransmisikan,
menyimpan, mengambil, memanipulasi, atau
menampilkan
data.
Martin
(1999)
mendefinisikan teknologi informasi tidak hanya
terbatas pada teknologi komputer (perangkat
keras dan perangkat lunak) yang digunakan
untuk memproses dan menyimpan informasi,
melainkan juga mencakup teknologi komunikasi
untuk mengirimkan informasi. Secara lebih
umum, Lucas (1999) menyatakan bahwa
teknologi informasi adalah segala bentuk
teknologi yang diterapkan untuk memproses
dan mengirimkan informasi dalam bentuk
elektronik.
Definisi ini berimplikasi bahwa TIK atau ICT
akan digunakan, diterapkan, dan diintegrasikan
dalam kegiatan yang berbasis pada pengertian
konseptual dan metode informatika. Indikator
ICT menurut United Nations-Partnership on
Measuring ICT for Development dalam Indikator
TIK KEMINFO (2011) sebagai indikator inti akses
dan infrastruktur ICT. Daftar Indikator ICT ini
terdari dari 5 kelompok indikator, yaitu : 1)
Infrastruktur dan akses TIK; 2) Akses dan
penggunaan TIK oleh rumah tangga dan
individu; 3) Akses dan penggunaan TIK pada
bisnis; 4) Sektor TIK dan perdagangan; 5) Akses
dan penggunaan TIK pada sektor pendidikan.

Konsep Teknologi Informasi dan Komunikasi


(TIK) dalam Telekomuter
Perkembangan
TIK
30
tahun
terakhir
berpengaruh terhadap perencanaan kota dan
ekonomi kota, dimana keduanya membahas
terkait dengan TIK dan hubunganya dengan
struktur kota. Menurut Zhu (2013), diprediksikan
untuk masa yang akan datang TIK akan
menghilangkan kebutuhan manusia untuk
bertatap muka baik dalam hal bekerja maupun
dalam hal bisnis. Perubahan pergerakan menjadi
lebih pendek tidak terjadi pada perkembangan
kota. Sejalan dengan hal tersebut Naes (2006)
menjelaskan bahwa pengaruh TIK tidak hanya
424 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N3

ada pada perkembangan kota tetapi juga pada


pergerakan
manusianya.
Pekerja
yang
menggunakan telekomuter tinggal lebih jauh
dibandingkan dengan pekerja yang tidak
menggunakan telekomuting, disamping itu
adanya penggunaan TIK juga mendorong
perjalanan satu arah.
Pengertian telekomuter adalah pekerja yang
menggunakan TIK untuk melakukan pekerjaan
dan melakukan perjalanan ke tempatkerja paling
sedikit satu kali dalam sebulan dan tidak
mengharuskan pekerja tersebut untuk datang
setiap hari ke kantor. Non telekomuter adalah
pekerja yang masih harus datang setiap hari
menuju kantornya.

Keterkaitan Teknologi Informasi dan Komunikasi


dengan Transportasi
Menurut Floeting (1999), pengaruh TIK
terhadap perkembangan perkotaan terutama
dalam sistem transportasi tergantung pada
sejauh mana pemakaian TIK di kota itu sendiri.
Hampir seluruh komponen sistem perkotaan
terdapat pengaruh dari kemajuan TIK, hanya
sebagian komponen perkotaan yang sedikit
pengaruhnya dari TIK. Pola pergerakan menjadi
instrumen yang penting dalam menentukan
aktivitas kegiatan dalam perkotaan tersebut.
Graham dan Marvin (1996) menyebutkan bahwa
hubungan
antara
telekomunikasi
untuk
mengganti
pergerakan
dengan
kawasan
perkotaan memiliki beberapa dampak. Ada tiga
tipe perubahan yang akan ditimbulkan oleh
teknologi informasi dan komunikasi terhadap
ruang yaitu:
Dampak mobilitas orang dan barang
Dampak terhadap lokasi rumah tangga dan
perusahaan
Dampak terhadap perusahaan terkait dengan
perbedaan difusi inovasi teknologi informasi
dan komunikasi pada penggunaan TIK
Perubahan teknologi informasi dan komunikasi
diharapkan
dapat
mempengaruhi
pola
pergerakan utama untuk aktivitas kegiatan
utama. Meskipun hal tersebut tidak dapat
mengurangi
interaksi
sosial
melalui

Alia Rasmaya

telekomunikasi.
Jumlah
pegerakan
yang
dilakukan akan mengalami peningkatan, tetapi
bukan pergerakan fisik melainkan dalam bentuk
perjalanan komunikasi yang menghubungkan
manusia dimanapun berada.
Mokhtarian (1990) dalam Gillespie (2000)
menyebutkan
bahwa
penggunaan
telekomunikasi ini akan menyebabkan beberapa
kemungkinan pergerakan yaitu:
Subsitusi, penggunaan telekomunikasi dapat
mengurangi pergerakan
Enchanment, penggunaan telekomunikasi
dapat menambah pergerakan
Operational
efficiency,
penggunaan
telekomunikasi meningkatkan pergerakan
dengan membuat sistem transportasi menjadi
lebih efisien
Indirect, long term impact, penggunaan
telekomunikasi dapat membentuk pemilihan
lokasi sehingga mempengaruhi pergerakan
Diskusi

Penggunaan telekomunikasi dapat mengurangi


pergerakan
(Subsitusi)
dan
penggunaan
telekomunikasi dapat menambah pergerakan
(Enchanment)

berkomunikasi dengan rekan bekerja terkait


dengan pekerjaan di tempat bekerja. untuk
pekerjaan seperti buruh pabrik, telepon
genggam memudahkan kegiatan bekerja untuk
melakukan tukar shift jam kerja ataupun
sekedar
memberitahu
untuk
perizinan.
Sedangkan untuk jenis pekerjaan pegawai
swasta atau wirausaha, telepon genggam
mempermudah kegiatan bekerja dalam hal
menguhubungi konsumen dan berkomunikasi
dengan rekan kerja.
Alasan penggunaan TIK untuk memudahkan
kegiatan bekerja seluruh responden menjawab
bahwa saat ini semua orang memiliki telepon
genggam dan kepemilikan telepon genggam
merupakan salah satu kebutuhan untuk kegiatan
bekerja saat ini dan mempermudah melakukan
komunikasi dengan orang lain tanpa perlu
melakukan tatap muka. Selain peluang untuk
mempermudah kegiatan bekerja terdapat
peluang untuk memudahkan dalam hal
konsumsi fasilitas. Adapun peluang penggunaan
TIK dalam memudahkan konsumsi fasilitas
dapat dilihat pada gambar 2 berikut ini

Penggunaan TIK pada pemilik perumahan


formal
terlihat
bahwa
sebagian
besar
masyarakat perumahan formal di Kecamatan
Jatinangor telah menggunakan TIK berupa
telepon genggam dan internet. Pada gambar 1
akan diperlihatkan peluang penggunaan TIK
untuk memudahkan kegiatan bekerja.

Gambar 2. Peluang Penggunaan


Memudahkan Konsumsi Fasilitas

Gambar 1. Peluang Penggunaan


Memudahkan Kegiatan Bekerja

TIK

Untuk

Dari gambar 1 dapat terlihat bahwa jenis TIK


yang memudahkan orang untuk melakukan
kegiatan bekerja adalah telepon genggam. Dari
hasil survey didapatkan bahwa memudahkan
kegiatan bekerja disini adalah dalam hal

TIK

Untuk

Penggunaan jenis TIK untuk memudahkan


kosumsi fasilitas yang banyak digunakan adalah
telepon genggam. Hal ini dikarenakan telepon
genggam saat ini lebih banyak dimiliki oleh
masyarakat dibandingkan dengan telepon
rumah. Mengingat perumahan formal di
Kecamatan Jatinangor ini memiliki lokasi dengan
kontur yang cukup ekstrem dan banyak yang
tidak terhubung dengan telepon rumah.
Kemudahan untuk melakukan konsumsi fasilitas
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 425

Peran Tekonologi Informasi dan Komunikasi Dalam Mendukung Kegiatan Bekerja dan Konsumsi Fasilitas Pemilik Perumahan Formal di
Kecamatan Jatinangor

adalah
dalam hal menghubungi tempat
konsumsi fasilitas seperti tempat jual gas,
tempat jual air minum, tempat praktek dokter
atau rumah sakit.
Operational
efficiency,
penggunaan
telekomunikasi
meningkatkan
pergerakan
dengan membuat sistem transportasi menjadi
lebih efisien
Penggunaan TIK selain memiliki tujuan untuk
mempermudah pekerjaan juga dapat digunakan
untuk mengurangi atau mengganti pergerakan
harian. Peluang TIK untuk mengurangi atau
mengganti pergerakan harian melalui bekerja di
rumah dijabarkan dalam gambar 3.

seperti dalam hal membeli pakaian, membeli


kebutuhan rumah tangga, yang mungkin pada
waktu 5-10 tahun silam orang masih harus
datang menuju tempat menjual barang
tersebut. Seiring dengan perkembangan jaman,
saat ini banyak pergeseran dalam melakukan
kegiatan mengkonsumsi fasilitas seperti halnya
yang terjadi di perumahan formal Kecamatan
Jatinangor ini. Berikut merupakan gambaran
dari peluang mengurangi pergerakan harian
melalui konsumsi fasilitas.

Gambar 4. Peluang TIK Untuk Mengurangi Atau


Mengganti Pergerakan Harian (Konsumsi Fasilitas)

Gambar 3. Peluang TIK Uutuk Mengurangi atau


Mengganti Pergerakan Harian (Bekerja Dirumah)

Seperti yang terlihat dalam gambar 3, TIK


belum mampu mengganti pergerakan harian
melalu bekerja dirumah. Sebagian besar
masyarakat masih menyebutkan bahwa TIK
tidak digunakan untuk bekerja di rumah. Ada
beberapa orang yang menjawab untuk bekerja
dirumah, namun hal tersebut hanya digunakan
untuk waktu-waktu tertentu apabila mereka
mendapat tugas dadakan pada malam hari
ataupun pada hari libur. Namun untuk hari
bekerja lainnya mereka masih pergi ke kantor
selama 5 (lima) hari kerja. Selain itu TIK
digunakan untuk bekerja di rumah dan
mengganti pergerakan harian hanya dilakukan
oleh para wiraswasta yang bergerak di bidang
sewa mobil dan pedagang on-line shop.
Peluang lain untuk mengganti pergerakan harian
dapat terlihat pada konsumsi fasilitas online.
Pada perkembangan teknologi saat ini banyak
masyarakat
yang
mengedepankan
sisi
kepraktisan dalam mengkonsumsi fasilitas
426 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N3

Konsumsi fasilitas menggunakan TIK banyak


menggunakan telepon genggam. Berdasarkan
survey konsumsi fasilitas ini adalah untuk
belanja seperti baju atau barang kebutuhan
rumah tangga, sepatu dll. Konsumsi fasilitas ini
digunakan
melalui
grup-grup
blackberry
massager yang beredar di kalangan masyarakat
formal ini. Alasan mereka melakukan konsumsi
fasilitas menggunakan telepon genggam adalah
lebih banyak pilihan jika dibandingkan membeli
di pusat perbelanjaan di Jatinangor dan
memudahkan mereka mendapatkan barang
yang diinginkan tanpa harus melakukan
perjalanan keluar rumah.

Indirect, long term impact, penggunaan


telekomunikasi dapat membentuk pemilihan
lokasi sehingga mempengaruhi pergerakan
Variabel yang digunakan untuk menggambarkan
Peluang TIK untuk melengkapi, menambah
informasi atau pengetahuan masyarakat adalah:
(1)
Rekomendasi
tempat
tinggal;
(2)
Rekomendasi tempat bekerja; (3) Rekomendasi
lokasi konsumsi fasilitas; (4) Rekomendasi lokasi

Alia Rasmaya

usaha baru; (5) Hubungan sosial lebih erat; dan


(6) Menunjang keamanan lingkungan.
Dari keenam variabel yang digunakan untuk
menilai peluang penggunaan TIK untuk
melengkapi, menambah informasi/pengetahuan
masyarakat, yang paling banyak digunakan
adalah untuk hubungan sosial lebih erat. Jenis
TIK yang digunakan adalah telepon genggam
dan digunakan dalam hal menghubungi sanak
famili dan keluarga yang memiliki tempat tinggal
di luar Kecamatan Jatinangor atau masih berada
di sekitar Jatinangor. Selain menggunakan
fasilitas telepon dan sms, untuk hubungan sosial
ini banyak yang menggunakan fasilitas facebook
namun tidak banyak. Tujuan penggunaan TIK
dalam hubungan sosial lebih erat ini selain untuk
silaturahmi juga digunakan untuk memenuhi
kebutuhan akan bersosialisasi dengan teman
lama meskipun berada di lokasi yang berjauhan.
Dari gambar 5 dapat dilihat bahwa penggunaan
TIK belum dapat membentuk pemilihan lokasi
sehingga mempengaruhi pergerakan. Substitusi
pergerakan dan enchanment, operational

efficiency,

indirect,

long

term

Gambar 5. Peluang TIK Untuk Membentuk Pemilihan


Lokasi

impact

didapatkan bahwa TIK hanya digunakan untuk


melengkapi kegiatan bekerja dan konsumsi
fasilitas, belum efektif digunakan untuk
mengurangi pergerakan. Dari gambar 6 terlihat
bahwa jenis TIK yang digunakan untuk
konsumsi fasilitas adalah telepon genggam dan

Gambar 6. Efektivitas Penggunaan Teknologi Komunikasi dan Informasi Untuk Kegiatan Bekerja dan Konsumsi
Fasilitas Pemilik Perumahan Formal Kecamatan Jatinangor
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 427

Peran Tekonologi Informasi dan Komunikasi Dalam Mendukung Kegiatan Bekerja dan Konsumsi Fasilitas Pemilik Perumahan Formal di
Kecamatan Jatinangor

yang paling efektif dari sisi Indirect, long term


impact yang digunakan untuk hubungan sosial
lebih erat. Selebihnya TIK hanya digunakan
untuk melengkapi kegiatan bekerja dan
konsumsi fasilitas.
Kesimpulan
Karakteristik yang dimiliki Kecamatan Jatinangor
yang berkembang sebagai pusat pelayanan
regional
sendiri
adalah
sebagai
pusat
perdagangan, penyerapan tenaga kerja dan
sebagai pusat pelayanan. Berdasarkan ketiga
pelayanan
ini,
Kecamatan
Jatinangor
diindikasikan sebagai kota kecil yang diharapkan
sebagai kota kecil yang diharapkan dapat
terbentuk hirarki perkotaan yang pada akhirnya
menegaskan peranan Kecamatan Jatinangor
sebagai jembatan antara kawasan perdesaan
dan kawasan perkotaan yang lebih besar.
Pemanfaatan TIK pada dasarnya digunakan
untuk mempermudah kehidupan dalam hal
aktivitas yang membutuhkan untuk melakukan
perjalanan. Tahapan penggunaan TIK adalah
hanya menggunakan TIK untuk memudahkan
aktifitas. Tahap yang lebih tinggi lagi adalah
penggunaan TIK untuk kegiatan komersial yang
membuka lapangan usaha berbasis TIK. TIK
juga dirasa dapat mendorong terjadinya
keseragaman gaya hidup dan penampilan yang
kemudian juga dapat memicu ide-ide kreatif.
Dari hsil survey home base yang telah dilakukan
kepada masyarakat pemilik perumahan formal
yang berada di kawasan perkotaan Jatinangor,
didapatkan hasil bahwa karakteristik pekerjaan
dan pendidikan mempengaruhi penggunaan TIK
di kalangan masyarakat dalam hal kegiatan
bekerja dan konsumsi fasilitas. TIK digunakan
untuk melengkapi kegiatan bekerja dan
mempermudah dalam hal konsumsi fasilitas.
Namun penggunaan TIK tersebut tidak
digunakan
untuk
mengurangi
panjang
perjalanan atau merubah pergerakan yang
terjadi di kalangan pemilik perumahan formal di
Kecamatan Jatinangor. Selain itu penggunaan
TIK tidak berpengaruh terhadap pemilihan lokasi
bekerja maupun mengkonsumsi fasilitas.
428 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N3

Untuk itu, peran TIK sesuai


dengan
pengembangan
perekonomian
adalah
meningkatkan penguatan konektivitas antar
wilayah dan penguatan kemampuan SDM dan
Iptek. Dalam sektor telekomunikasi, peran
konektivitas broadband memegang peranan
penting dalam pembangunan antar wilayah.
Konektivitas TIK dianggap sebagai meta
infrastruktur bagi daya saing bangsa dan
penunjang
untuk
ekonomi
berbasis
pengetahuan. Dengan diterbitkannya pusat
ekonomi strategis tentu akan mempengaruhi
kebijakan
yang
berkaitan
dengan
pengembangan
broadband
di
Indonesia
termasuk konektivitas dengan menggunakan
spektrum frekuensi sebagai opsi yang paling
sesuai, setidaknya dari perspektif ekonomi,
selama pembangunan infrastruktur berbasis
serat optik belum memiliki peran yang lebih
signifikan.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr.
Ridwan Sutriadi selaku pembimbing, atas
bimbingannya dalam menyusun penelitian ini.
Daftar Pustaka
Alter, Steven. (1992). Information systems: A
Management Perspective. Redwood City, CA:
Benjamin-Cummings Publishing Co., Inc.
Alexander, Bayarma, Dick Etterna, and Martin
Dijst. Fragmentation of work activity as a
multi-dimensional construct and its association
with ICT, employment and socio-demographic
characterictics.
Journal
of
Transport
Geography, Volume 18, Issue 1, pp. 55-64
BPS
Kecamatan
Jatinangor.
Kecamatan

Jatinangor Dalam Angka 2013.


Castells. Manuel. (2001). The Internet Galaxy:

Reflections on the Internet, Business, and


Society. New York: Oxford University Press.
Chowdury, Tufayel A., Darren M. Scott, and
Pavlos S. Kanaroglou. (2013). Urban Form and

Commuting Efficiency: A Comparative Analysis


Across Time and Space. London: Sage
Publication.
Dewberry, Sidney O. dan Dennis Couture.
(2004). Overview of the Land Development

Alia Rasmaya

Process. In Dewberry, Sidney O. (ed). Land

development
engineering,

handbook:
planning,
and surveying. London:

McGraw Hill.
Doong, Shing H. and Shu-Chun. (2012). The
Impact of ICT Development on the global
digital
divide.
Electronic
Commerce
Research and Applications. Volume 11,
Issue 5, SeptemberOctober 2012, Pages
518533.
Gold, Harry. (2002). Urban Life and Society.
New Jersey: Pearson Education, Inc.
Graham, Steve. (2004). The Cybercities
Reader. Routledge Urban Reader Series.
New York: Routledge.
Haag, Stephen, and Peter G.W. Keen. (1996).

Information
Technology:
Tomorrows
Advantage Today. New York: McGraw Hill
College.
Kwok, R. Yin-Wang. (1982). The Role of Small
City in Chinese Development. International

Journal of Urban and Regional Research.

Volume 6, Isssue 4, pp. 549-565,


December.
Kronenberg, K., and Martin Carree. (2010).
Job and Residential Mobility in the
Netherlands: the Influence of Human
Capital, Household Composition, and
Location. MPRA Paper posted 12 October

2010

Lucas, H.C., Jr. (1999). Information Technology

and the Productivity Paradox: Assessing the


Value of Investing in IT. New York: Oxford

University Press.
Martin, E. (1999).

Managing Information
Technology. What Managers Need to Know.

3rd edition. New Jersey: Pearson Education


International.
Marthur, Prakash. (1982). Small Cities and
National Development. Nagoya: UNCRD.
Naess, Peter. (2006). Urban Structure Matters

Residential Location, Car Dependence and


Travel Behavior. London: Routledge
Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 03
tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Kota Bandung.
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Sumedang.

Rezvani. (2009). The role and Function of Small


Towns in Rural Development Using Network
Analysis Method Case: Roniz Rural District
(Estahban City, Fars Province, Iran). Journal of
Geography and Regional Planning, Vol. 2 (9),
September.
Rondinelli, Dennis A. (1984). Developing
Countries: Potential Centers of Growth,
Transformation and Integration. In Kammeler,
H. Detlef and Peter J. Swan (eds). Equity with

Growth? Planning Perspectives for Small


Towns in Developing Countries (pp. 10-43).
Bangkok: Asian Institute of Technology.
Simmons, J.W. et al. (1978). System of Cities:
Reading on Structure, Growth and Policy.
London: Oxford University Press.
Stansel, Dean. (2011). Why Some Cities ar
Growing and Others Shrinking. Cato Journal,
Vol. 31, No.2 (Spring/Summer 2011).
Sutriadi, Ridwan. (2011). Mobile Technology and

the Challenge to Promote Communicative City


in
Indonesia.
Case
Study
Bandung
Metropolitan Area. Gainesville, Department of

Urban and Regional Planning, College of


Design, Construction and Planning, University
of Florida.
Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat No.
593/3590/1987 tentang Penetapan Kecamatan
Jatinangor sebagai Kawasan Perguruan Tinggi.
Talvitie, Juha. (2004). Incorporating the Impact
of ICT into Urban and Regional Planning.

European Journal of Spatial Development


http://www.nordregio.se/EJSD/-ISSN
16509544-Refereed Articles Sep. 2004- no.1
Undang-Undang Penataan Ruang No. 26 Tahun
2007.
Winarso, Haryo. et al. (2006). Studi
Pengembangan Lahan Informasi di Perkotaan.
Studi Kasus; Cirebon dan Palangkaraya.

Research Articles UPDRG 01-2006.


Yin, K. Robert. (2009). Case Study Research:
Design and Methods.
Yunus, Hadi Sabari. (2005). Manajemen Kota
Perspektif Spasial. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Zhu, Pengyu. (2013). Telecomuting, Household
Commute and Location Choice. Urban

Studies. September 2013 vol. 50 no. 12, pp.


2441-2459
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 429