AACR2
AACR2
AACR2 (Anglo-American Cataloguing Rules) 2nd Edition merupakan perangkat dasar untuk
melakukan pendeskripsian bibliografi pada suatu bahan pustaka karena di dalamnya tercantum
aturan untuk pengatalogan tersebu
AACR2 (Anglo American Cataloguing Rules) Second Edition, 2002 Revision.
1.
A.
1.
1.
Definisi AACR2
Dalam melakukan pendeskripsian sebuah bahan pustaka baik buku maupun non buku perlu
menggunakan sebuah pedoman sebagaimana yang telah disampaikan oleh Prof. Dr. Sulistyo
Basuki, MA. Menurutnya Untuk mengatur praktik deskripsi bibliografis, digunakan pedoman.
Pedoman yang (hampir) berlaku internasional adalah Anglo American Cataloguing Rules
2 (AACR2) kini menjadi AACR2 (revisi 2002 dan 2005). [1]
Sedangkan AACR2 dalam website resminya menjelaskan bahwa,
the Anglo-American Cataloguing Rules (AACR) are designed for use in the construction of
catalogues and other lists in general libraries of all sizes. The rules cover the description of, and the
provision of access points for, all library materials commonly collected at the present time.[2]
Jelas bahwa AACR2 merupakan sebuah pedoman yang di rancang khusus untuk pengatalogan
deskriptif dan tajuk subjek yang di lakukan dalam kegiatan di setiap perpustakaan. Untuk AACR2
sendiri merupakan edisi revisi tahun 2002 dan 2005 dari tahun sebelumnya yakni tahun 1998,
1988,1978, dan AACR1 tahun 1967.
1.
2.
Ciri-ciri AACR2
Nurul Hayati, M.Hum. (2013) menjelaskan dalam diktatnya pada perkuliahan Deskripsi Bibliografi
Non Buku, bahwa AACR2 mempunyai 3 ciri yakni umum, terintegrasi, dan fleksibel.[3] Umum disini
dimaksudkan bahwa AACR2 dapat digunakan untuk semua jenis perpustakaan baik perpustakaan
nasional, sekolah, perguruan tinggi, bahkan pribadi sekalipun.
Sedangkan ciri kedua yaitu terintegrasi dimaksudkan bahwa AACR2 merupakan pedoman/peraturan
dasar bagi semua jenis bahan pustaka, baik buku maupun non buku. Ciri yang ketiga yakni fleksibel
dimana AACR2 mempunyai aturan yang bersifat alternatif dan pilihan. Hal tersebut juga di jelaskan
didalam AACR2 (2002) pada General Introduction some rules are designated as alternatives rules
or as optional additions, and some other rules or parts of rules are introduced by optionally.[4]
1.
3.
Dijelaskan pada pengenalan AACR2 (2002) secara umum bahwa AACR2 dibagi menjadi 2 bagian
yaitu :
: Umum
Bab 2-10
Bab 11-13
1.
2.
1.
2.
3.
3.
4.
4.
5.
5.
Music (Musik)
6.
6.
7.
7.
8.
8.
9.
9.
10.
10. Three-Dimensional Arttefacts and Realia (Bahan Tiga Dimensi Artefak dan Realia)
11.
12.
13.
21
22
23
24
25
26
References (Rujukan-rujukan)
1.
B.
ISBD (G): General International Standard Biblographic Descripion referred to hereafter as the
ISBD(G) lists all the elements which are required to describe and identify all types of material
which are likely to appear in library collections, assigns an order to the elements of description, and
specifies a system of punctuation for the description.[6]
Dari penjelasan tersebut maka disimpulkan bahwa hubungan antara ISBD (G) dengan AACR2
adalah didasarkan pada element atau unsur-unsur yang digunakan dalam pendeskripsian bibliografi
bahan pustaka yang terdapat dalam AACR2 diasuh dari ISBD (G).
1.
2.
3.
3.
4.
4.
5.
5.
6.
6.
Daerah seri
7.
7.
Daerah catatan
8.
8.
1.
C.
Sumber informasi di dalam AACR2 di jelaskan dalam Bagian 1 Bab 1. Sumber informasi utama
adalah tempat dimana dapat ditemukannya keterangan mengenai bahan tersebut. Sebagai contoh,
SIU pada bahan rekaman suara berbentuk disk terdapat di disk itu sendiri dan label sedangkan
untuk bahan rekaman suara berbentuk gulungan pita SIU terdapat di gulungan pita dan label.
Sumber informasi utama terdiri dari sumber tunggal dan sumber judul kolektif, apabila informasi
tidak diambil dari SIU, maka sertakan kurung siku dalam informasi tersebut.
1.
D.
Oleh karena kerangka umum 8 daerah deskripsi di atas, maka AACR2 memiliki unsur mnemonik
yakni mudah diingat. Sedangkan adapun rumusan untuk menemukan lokasi suatu aturan dalam
AACR2 adalah sebagai berikut:
No. Bab + No. Daerah + Kode Unsur + No. Perincian
Contoh:
8.7
9.7
1.
E.
TINGKATAN DESKRIPSI
Terdapat tiga tingkatan dalam deskripsi dan masing-masing deskripsi mempunya kemutlakan dalam
pencantuman unsur-unsurnya serta mempunyai kerumitannya masing-masing. Adapun penjelasan
untuk masing-masing tingkatan adalah sebagai berikut:
Tingkat pertama
I. Columbia Pictures
Tingkat Kedua
Judul Sebenarnya [ Pernyataan Jenis Bahan Umum ] = Jusul Pararel: Sub Judul / Pernyataan
Tanggung Jawab Yang Pertama ; Fungsi Penangung Jawab Yang Lain.Edisi / Pernyataan
Tanggung Jawab Yang Berhubungan Dengan Edisi. Data Khusus.Data Khusus. Penerbit Dan
Distribusi Yang Pertama. Deskripsi Fisik. (Daerah Judul Seri). ISBN.
Tingkat deskripsi ini lebih lengkap dan hampir digunakan oleh sebagian besar perpustakaan besar.
Contoh :
After Earth [Gambar Hidup] / Columbia Pictures ; Overbrook Entertainment . California: Columbia
Pictures, 2013
1 disk (2 jam 31 menit): bersuara, berwarna
Film fantasi keluarga. Subtitle Inggris, Bahasa Indonesia, Prancis. Pemeran utama Jaden Smith dan
Will Smith. Diperuntukkan bagi remaja dan keluarga.
I.
Columbia Pictures
II.
Jaden Smith
III.
Will Smith
Tingkat Ketiga
Untuk tingkatan ketiga ini memiliki unsur yang lebih kompleks ketimbang tingkat pertama dan kedua
serta lebih sulit dalam penerapannya, sehingga perpustakaan lebih bnyak yang menggunakan
deskripsi tingkat satu atau dua.
1.
F.
PENGGUNAAN BAHASA
Penggunaan bahasa dalam deskripsi bibliografi harus sama dengan bahasa dokumen.[7] Artinya
bahwa apa yang tertulis dari SIU pada dokumen tidak dapat di ubah ke dalam bahasa pengatalog.
Namun untuk perihal interpolasi atau sisipan (informasi yang tidak terdapat dalam dokumen) seperti
pernyataan sisipan dan singkatan wajib, GMD, bentuk lain dari tempat terbit, dan fungsi lain dari
penerbit, distributor, dan lain sebagainya dapat menggunakan bahasa pengatalog atau yang dikenal
dengan working language.namun sisipan tersebut harus dituliskan di dalam kurung siku [ ].
1.
General Material Designation (GMD) adalah pernyataan jenis bahan secara umum. Di dalam AACR2
sendiri GMD dibagi menjadi 2 daftar yakni, daftar pertama digunakan di Inggris dan daftar kedua
digunakan di Amerika Serikat. Indonesia sendiri menggunakan GMD yang digunakan oleh Amerika
Serikat karena lebih bervariatif.[8] Di bawah ini adalah daftar GMD yang diberikan oleh AACR2
pada 1.1C1.
LIST 1 (INGGRIS)
Braille
Cartographic Resorces
Electronic Resources
Graphic
Manuscript
Microform
Motion Picture
Multimedia
Music
Object
Sound Recording
Text
VideorecordingActivity Card
Art Original
Art Reproduction
Braille
Cartographic Material
Chart
Diorama
Electronic Resource
Filmstrip
Flash Card
Game
Kit
Manuscript
Microform
Microscope Slide
Model
Motion Picture
Music
GMD sangat berguna terutama pada perpustakaan multimedia. Pustakawan ataupun pemustaka
akan dapat mencari koleksi yang dibutuhkan dengan menelusur GMD-nya meskipun terdapat judul
yang sama dalam rak.
1.
Istilah dalam bahasa Inggris adalah: Material (or type of publication) specific details area,
merupakan daerah untuk mencatat data yang khas bagi satu kelompok bahan atau jenis publikasi
tertentu.[9]
Pada bahan pustaka tidak semua memiliki data khususnya, adapun bahan-bahan yang memiliki data
khusus adalah:
1)
2)
Music (Bab 5)
3)
4)
5)
1.
Setiap daerah di pisahkan dengan titik, spasi, dua strip, spasi ( . ) kecuali untuk daerah yang
dimulai pada paragraf baru, seperti yang tertuang didalam AACR2,
Precede each area, other than the first area, or each occurrance of a note or standard number, etc.,
area, by full stop, space, dash, space ( . ) unless the area begins a new paragraph.[10]
Adapun pungtuasi secara keseluruhan adalah sebagai berikut :
NO
DAERAH
TANDA
BACA
ELEMEN
Judul sebenarnya
[]
GMD
Judul pararel
;
.
2
Edisi
Data Khusus
Tempat terbit
Kota kedua
[]
, (koma)
Tahun terbit
Tempat pembuatan
Nama pembuat
, (koma)
Ukuran
Lampiran
Judul seri
, (koma)
;
Nomor seri
. (titik)
7
Catatan
Nomor Standar
Judul ringkas
.
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat saya simpulkan bahwa AACR2 mempunyai peran penting dalam
kegiatan pengatalogan (deskripsi bibliografi). AACR2 memiliki aturan yang kompleks namun dalam
penerapannya ada beberapa kelonggaran sesuai dengan ciri-ciri dari AACR2 itu sendiri yakni
fleksibel. Perpustakaan juga dapat memilih jenis tingkatan deskripsi yang ingin diterapkan dalam
perpustakaannya, juga berlaku bagi penggunaan bahasa dalam pengatalogan yang mendapat
kelonggaran untuk tidak menggunakan bahasa inggris mutlak namun dapat menggunakan working
language.
Mengenai pungtuasi sudah jelas diatur disetiap bahasan bahan pada bab-bab di AACR2 sehingga
memudahkan bagi pustakawan untuk mengaplikasikannya. Secara keseluruhan AACR2 masih dapat
digunakan hingga saat ini mengingat adanya perpindahan dari era AACR2 ke era RDA (Resource
Description and Access).
DAFTAR PUSTAKA
AACR2. About AACR2. Artikel diakses pada 16 Desember 2013 dariwww.aacr2.org
Anon Mirmani dan Irman Siswadi. Modul: Pengolahan Bahan Non Buku . diunduh pada 16
Desember 2013
Hayati, Nurul. Diktat Deskripsi Bibliografi Non Buku: AACR2. Jakarta: Uin Jakarta, 2013
International Federation of Library Associations and Intitutions(IFLA). ISBD (G): General
International Standard Bibliographic Description revision ed. artikel diakses pada 16 Desember 2013
dari http://archive.ifla.org
Prepared under the direction of the Joint Steering Committee for Revision of AACR, a committee of
the American Library Association[et al]. Anglo-American cataloguing rules 2nd ed. 2002 revision.
Sulistyo-Basuki. Pengorganisasian Materi Perpustakaan Katalogisasi Klasifikasi Tajuk Subjek Dan
Penjajaran. Artikel diakses pada 16 Desember 2013 dariwww.sulistyobasuki.wordpress.com
[1] Sulistyo Basuki, Pengorganisasian Materi Perpustakaan Katalogisasi Klasifikasi Tajuk Subjek dan
Penjajaran, artikel diakses pada 16 Desember 2013 dari http://sulistyobasuki.wordpress.com
[2] AACR2, About AACR2, artikel di akses pada 16 Desember 2013 darihttp://aacr2.org
[3] Nurul Hayati, Diktat Deskripsi Bibliografi Non Buku : AACR2 (Jakarta: UIN Jakarta, 2013) h.1
[4] Prepared under the direction of the Joint Steering Committee for Revision of AACR, a committee
of the American Library Association[et al]. Anglo-American cataloguing rules 2nd ed, (2002
revision) h.2
[5] Ibid., h.1
[6] International Federation of Library Associations and Intitutions(IFLA), ISBD (G): General
International Standard Bibliographic Description revision ed, artikel diakses pada 16 Desember 2013
dari http://archive.ifla.org
[7] Anon Mirmani dan Irman Siswadi, Modul: Pengolahan Bahan Non Buku . diunduh pada 16
Desember 2013. h.7
[8] Ibid., h.8
[9] Ibid., h. 10
[10] Prepared under the direction of the Joint Steering Committee for Revision of AACR, a committee
of the American Library Association[et al]. Anglo-American cataloguing rules 2nd ed, (2002
revision) h. 1.0C1
PENDAHULUAN
1.
LATAR BELAKANG
AACR2 (Anglo-American Cataloguing Rules) 2nd Edition merupakan perangkat dasar untuk
melakukan pendeskripsian bibliografi pada suatu bahan pustaka karena di dalamnya tercantum
aturan untuk pengatalogan tersebut.
1.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat ditentukan rumusan masalah dalam makalah
ini seperti:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.
TUJUAN PENULISAN
2.
3.
Untuk pemenuhan tugas makalah dari mata kuliah Deskripsi Bibliografi Non Buku
PEMBAHASAN
AACR2 (Anglo American Cataloguing Rules) Second Edition, 2002 Revision.
1.
A.
1.
1.
Definisi AACR2
Dalam melakukan pendeskripsian sebuah bahan pustaka baik buku maupun non buku perlu
menggunakan sebuah pedoman sebagaimana yang telah disampaikan oleh Prof. Dr. Sulistyo
Basuki, MA. Menurutnya Untuk mengatur praktik deskripsi bibliografis, digunakan pedoman.
Pedoman yang (hampir) berlaku internasional adalah Anglo American Cataloguing Rules
2 (AACR2) kini menjadi AACR2 (revisi 2002 dan 2005). [1]
Sedangkan AACR2 dalam website resminya menjelaskan bahwa,
the Anglo-American Cataloguing Rules (AACR) are designed for use in the construction of
catalogues and other lists in general libraries of all sizes. The rules cover the description of, and the
provision of access points for, all library materials commonly collected at the present time.[2]
Jelas bahwa AACR2 merupakan sebuah pedoman yang di rancang khusus untuk pengatalogan
deskriptif dan tajuk subjek yang di lakukan dalam kegiatan di setiap perpustakaan. Untuk AACR2
sendiri merupakan edisi revisi tahun 2002 dan 2005 dari tahun sebelumnya yakni tahun 1998,
1988,1978, dan AACR1 tahun 1967.
1.
2.
Ciri-ciri AACR2
Nurul Hayati, M.Hum. (2013) menjelaskan dalam diktatnya pada perkuliahan Deskripsi Bibliografi
Non Buku, bahwa AACR2 mempunyai 3 ciri yakni umum, terintegrasi, dan fleksibel.[3] Umum disini
dimaksudkan bahwa AACR2 dapat digunakan untuk semua jenis perpustakaan baik perpustakaan
nasional, sekolah, perguruan tinggi, bahkan pribadi sekalipun.
Sedangkan ciri kedua yaitu terintegrasi dimaksudkan bahwa AACR2 merupakan pedoman/peraturan
dasar bagi semua jenis bahan pustaka, baik buku maupun non buku. Ciri yang ketiga yakni fleksibel
dimana AACR2 mempunyai aturan yang bersifat alternatif dan pilihan. Hal tersebut juga di jelaskan
didalam AACR2 (2002) pada General Introduction some rules are designated as alternatives rules
or as optional additions, and some other rules or parts of rules are introduced by optionally.[4]
1.
3.
Dijelaskan pada pengenalan AACR2 (2002) secara umum bahwa AACR2 dibagi menjadi 2 bagian
yaitu :
: Umum
Bab 2-10
Bab 11-13
1.
2.
1.
2.
3.
3.
4.
4.
5.
5.
Music (Musik)
6.
6.
7.
7.
8.
8.
9.
9.
10.
10. Three-Dimensional Arttefacts and Realia (Bahan Tiga Dimensi Artefak dan Realia)
11.
12.
13.
21
22
23
24
25
26
References (Rujukan-rujukan)
1.
B.
ISBD (G): General International Standard Biblographic Descripion referred to hereafter as the
ISBD(G) lists all the elements which are required to describe and identify all types of material
which are likely to appear in library collections, assigns an order to the elements of description, and
specifies a system of punctuation for the description.[6]
Dari penjelasan tersebut maka disimpulkan bahwa hubungan antara ISBD (G) dengan AACR2
adalah didasarkan pada element atau unsur-unsur yang digunakan dalam pendeskripsian bibliografi
bahan pustaka yang terdapat dalam AACR2 diasuh dari ISBD (G).
1.
2.
3.
3.
4.
4.
5.
5.
6.
6.
Daerah seri
7.
7.
Daerah catatan
8.
8.
1.
C.
Sumber informasi di dalam AACR2 di jelaskan dalam Bagian 1 Bab 1. Sumber informasi utama
adalah tempat dimana dapat ditemukannya keterangan mengenai bahan tersebut. Sebagai contoh,
SIU pada bahan rekaman suara berbentuk disk terdapat di disk itu sendiri dan label sedangkan
untuk bahan rekaman suara berbentuk gulungan pita SIU terdapat di gulungan pita dan label.
Sumber informasi utama terdiri dari sumber tunggal dan sumber judul kolektif, apabila informasi
tidak diambil dari SIU, maka sertakan kurung siku dalam informasi tersebut.
1.
D.
Oleh karena kerangka umum 8 daerah deskripsi di atas, maka AACR2 memiliki unsur mnemonik
yakni mudah diingat. Sedangkan adapun rumusan untuk menemukan lokasi suatu aturan dalam
AACR2 adalah sebagai berikut:
No. Bab + No. Daerah + Kode Unsur + No. Perincian
Contoh:
8.7
9.7
1.
E.
TINGKATAN DESKRIPSI
Terdapat tiga tingkatan dalam deskripsi dan masing-masing deskripsi mempunya kemutlakan dalam
pencantuman unsur-unsurnya serta mempunyai kerumitannya masing-masing. Adapun penjelasan
untuk masing-masing tingkatan adalah sebagai berikut:
Tingkat pertama
Tingkat Kedua
Tanggung Jawab Yang Berhubungan Dengan Edisi. Data Khusus.Data Khusus. Penerbit Dan
Distribusi Yang Pertama. Deskripsi Fisik. (Daerah Judul Seri). ISBN.
Tingkat deskripsi ini lebih lengkap dan hampir digunakan oleh sebagian besar perpustakaan besar.
Contoh :
After Earth [Gambar Hidup] / Columbia Pictures ; Overbrook Entertainment . California: Columbia
Pictures, 2013
1 disk (2 jam 31 menit): bersuara, berwarna
Film fantasi keluarga. Subtitle Inggris, Bahasa Indonesia, Prancis. Pemeran utama Jaden Smith dan Will
Smith. Diperuntukkan bagi remaja dan keluarga.
I.
Columbia Pictures
II.
Jaden Smith
III.
Will Smith
Tingkat Ketiga
Untuk tingkatan ketiga ini memiliki unsur yang lebih kompleks ketimbang tingkat pertama dan kedua
serta lebih sulit dalam penerapannya, sehingga perpustakaan lebih bnyak yang menggunakan
deskripsi tingkat satu atau dua.
1.
F.
PENGGUNAAN BAHASA
Penggunaan bahasa dalam deskripsi bibliografi harus sama dengan bahasa dokumen.[7] Artinya
bahwa apa yang tertulis dari SIU pada dokumen tidak dapat di ubah ke dalam bahasa pengatalog.
Namun untuk perihal interpolasi atau sisipan (informasi yang tidak terdapat dalam dokumen) seperti
pernyataan sisipan dan singkatan wajib, GMD, bentuk lain dari tempat terbit, dan fungsi lain dari
penerbit, distributor, dan lain sebagainya dapat menggunakan bahasa pengatalog atau yang dikenal
dengan working language.namun sisipan tersebut harus dituliskan di dalam kurung siku [ ].
1.
General Material Designation (GMD) adalah pernyataan jenis bahan secara umum. Di dalam AACR2
sendiri GMD dibagi menjadi 2 daftar yakni, daftar pertama digunakan di Inggris dan daftar kedua
digunakan di Amerika Serikat. Indonesia sendiri menggunakan GMD yang digunakan oleh Amerika
Serikat karena lebih bervariatif.[8] Di bawah ini adalah daftar GMD yang diberikan oleh AACR2
pada 1.1C1.
LIST 1 (INGGRIS)
BrailleCartographic Resorces
Electronic Resources
Graphic
Braille
Manuscript
Cartographic Material
Microform
Chart
Motion Picture
Diorama
Multimedia
Electronic Resource
Music
Filmstrip
Object
Flash Card
Sound Recording
Game
Text
Kit
Videorecording
Manuscript
Microform
Microscope Slide
Model
Motion Picture
Music
GMD sangat berguna terutama pada perpustakaan multimedia. Pustakawan ataupun pemustaka
akan dapat mencari koleksi yang dibutuhkan dengan menelusur GMD-nya meskipun terdapat judul
yang sama dalam rak.
1.
Istilah dalam bahasa Inggris adalah: Material (or type of publication) specific details area,
merupakan daerah untuk mencatat data yang khas bagi satu kelompok bahan atau jenis publikasi
tertentu.[9]
Pada bahan pustaka tidak semua memiliki data khususnya, adapun bahan-bahan yang memiliki data
khusus adalah:
1)
2)
Music (Bab 5)
3)
4)
5)
1.
Setiap daerah di pisahkan dengan titik, spasi, dua strip, spasi ( . ) kecuali untuk daerah yang
dimulai pada paragraf baru, seperti yang tertuang didalam AACR2,
Precede each area, other than the first area, or each occurrance of a note or standard number, etc.,
area, by full stop, space, dash, space ( . ) unless the area begins a new paragraph.[10]
DAERAH
TANDA
BACA
ELEMEN
Judul sebenarnya
[]
GMD
Judul pararel
.
2
Edisi
Data Khusus
Pernyataan edisi
Tempat terbit
Kota kedua
[]
, (koma)
Tahun terbit
Tempat pembuatan
Nama pembuat
, (koma)
Ukuran
Lampiran
Judul seri
, (koma)
;
. (titik)
7
Catatan
Nomor Standar
Judul ringkas
.
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat saya simpulkan bahwa AACR2 mempunyai peran penting dalam
kegiatan pengatalogan (deskripsi bibliografi). AACR2 memiliki aturan yang kompleks namun dalam
penerapannya ada beberapa kelonggaran sesuai dengan ciri-ciri dari AACR2 itu sendiri yakni
fleksibel. Perpustakaan juga dapat memilih jenis tingkatan deskripsi yang ingin diterapkan dalam
perpustakaannya, juga berlaku bagi penggunaan bahasa dalam pengatalogan yang mendapat
kelonggaran untuk tidak menggunakan bahasa inggris mutlak namun dapat menggunakan working
language.
Mengenai pungtuasi sudah jelas diatur disetiap bahasan bahan pada bab-bab di AACR2 sehingga
memudahkan bagi pustakawan untuk mengaplikasikannya. Secara keseluruhan AACR2 masih dapat
digunakan hingga saat ini mengingat adanya perpindahan dari era AACR2 ke era RDA (Resource
Description and Access).