Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit diare merupakan masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia.
Menurut WHO dan UNICEF, terjadi sekitar 2 milyar kasus penyakit diare di seluruh
dunia setiap tahun, dan sekitar 1,9 juta anak balita meninggal karena penyakit
diare setiap tahun, sebagian besar terjadi di negara berkembang. Dari semua
kematian anak balita karena penyakit diare, 78% terjadi di wilayah Afrika dan Asia
Tenggara. Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan period prevalence diare
adalah 3,5%, lebih kecil dari hasil Riskesdas 2007 (9%). Pada Riskesdas 2013,
sampel diambil dalam rentang waktu yang lebih singkat. Insiden diare untuk
seluruh kelompok umur di Indonesia adalah 3,5%. P e r n y a t a a n b e r s a m a
W H O - U N I C E F t a h u n 2 0 0 4 merekomendasikan pemberian oralit, tablet zinc,
pemberian ASI dan makanan serta antibiotika selektif merupakan bagian utama
dari manajemen penyakit diare.
Hasil Kajian Masalah Kesehatan berdasarkan siklus kehidupan 2011 yang
dilakukan oleh Litbangkes tahun 2011 menunjukkan penyebab utama kematian
bayi usia 29 hari nil bulan adalah Pnemonia (23,3%) dan Diare (17,4%). Dan
penyebab utama kematian anak usia 1-4 tahun adalah Pnemonia (20,5%) dan
Diare (13,3%).
Hasil kajian morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare dan ISP menunjukkan
bahwa angka kesakitan diare semua umur tahun 2012 adalah 214/1.000 penduduk
semua umur dan angka kesakitan diare pada balita adalah 900/1.000 balita.
Kematian diare pada balita 75,3 per 100.000 balita dan semua umur 23,2 per
100.000 penduduk semua umur.
B. Tujuan
1. Umum
Tersusunnya pedoman pengendalian penyakit diare dan terselenggaranya
kegiatan pengendalian penyakit diare dalam rangka menurunkan angka
kesakitan dan angka kematian akibat penyakit diare bersama lintas program
dan lintas sektor terkait.
2. Khusus
a. Tersedianya panduan bagi penentu kebijakan dalam pelaksanaan dan
pengembangan program pengendalian penyakit diare.
b. Tersedianya panduan dalam pelaksanaan surveilans epidemiologi penyakit
diare dan upaya pengendaliannya.
c. Tersedianya panduan tatalaksana penyakit diare sesuai standar.
d. Tersedianya panduan dalam meningkatkan pengetahuan petugas dalam
pengendalian penyakit diare.
e. Tersedianya panduan untuk sistem pencatatan. pelaporan, monitoring dan

evaluasi program pengendalian penyakit diare.


f. Tersedianya panduan dalam pengadaan logistik untuk pengendalian
penyakit diare.
g. Terbentuknya jejaring kerja dalam pengendalian penyakit diare.
C. Kebijakan
Kebijakan program pengendalian penyakit diare adalah sebagai
berikut :
1. Pengendalian penyakit diare berdasarkan pada partisipasi dan pemberdayaan
masyarakat serta disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing
daerah (local area spesific).
2. Pengendalian penyakit diare dilaksanakan melalui pengembangan kemitraan
dan jejaring kerja secara multi disiplin, lintas program dan lintas sektor.
3. Pengendalian penyakit diare dilaksanakan secara secara terpadu baik dalam
upaya preventif, kuratif dan promotif.
4. Pengendalian penyakit diare dikelola secara profesional, berkualitas, merata
dan terjangkau oleh masyarakat melalui penguatan seluruh sumber daya.
5. Penguatan sistem surveilans penyakit diare sebagai bahan informasi bagi
pengambilan kebijakan dan pelaksana program.
6. Pelaksanaan kegiatan pengendalian penyakit diare hams dilakukan secara
efektif dan efisien melalui pengawasan yang terus ditingkatkan intensitas dan
kualitasnya dengan pemantapan sistem dan prosedur, bimbingan dan
evaluasi.
D. Strategi
1. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk berperilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) sehingga terhindar dari penyakit diare.
2. Mendorong dan memfasilitasi pengembangan potensi dan peran serta
masyarakat untuk penyebar luasan informasi kepada masyarakat tentang
pengendalian penyakit diare.
3. Mengernbangkan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) yang efektif dan efisien
terutama bagi masyarakat yang berisiko.
4. Meningkatkan

pengetahuan

petugas

dan

menerapkan

pelaksanaan

tatalaksana penyakit diare secara standar disemua fasilitas kesehatan.


5. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang
berkualitas melalui peningkatan sumber daya manusia dan penguatan institusi,
serta standarisasi pelayanan.
6. Meningkatkan surveilans epidemiologi penyakit diare di seluruh fasilitas
pelayanan kesehatan.
7. Mengernbangkan jejaring kemitraan secara multi disiplin lintas program dan
lintas sektor di semua jenjang baik pemerintah maupun swasta.

E. Kegiatan
1 Advokasi dan sosialisasi kepada pemangku kepentingan.
2 Sosialisasi dan edukasi tentang pengendalian penyakit diare kepada petugas
kesehatan terkait.
3 Promosi kesehatan kepada masyarakat melalui media komunikasi baik cetak
maupun elektronik.
4 Penyusunan dan pengembangan pedoman pengendalian penyakit diare dan
tatalaksana penderita penyakit diare sesuai standar.
5 Penanganan penderita penyakit diare sesuai tatalaksana standar.
6 Surveilans epidemiologi dan bantuan teknis dalam penanggulangan KLB
penyakit diare.
7 Upaya pencegahan yang melibatkan lintas program, lintas sektor dan
masyarakat.
8 Pengelolaan logistik sebagai sarana penunjang program.
9 P e m a n t a u a n d a n e v a l u a s i s e c a r a b e r k a l a d a n berkesinambungan.

BAB II
KEGIATAN PENGENDALIAN PENYAKIT DIARE
A. Surveilans Epidemiologi
1. Tujuan
Diketahuinya situasi epidemiologi dan besaran masalah penyakit diare di
masyarakat, sehingga

dapat dibuat perencanaan dalam pencegahan,

penanggulangan, dan pengendaliannya di semua jenjang pelayanan.


2. Pengertian
a. Epidemiologi
Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari tiga kata dasar,
yaitu epi yang berarti pada atau tentang, demos yang berarti penduduk,
dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi Epidemiologi adalah ilmu
yang mempelajari tentang penduduk. Sedangkan dalam pengertian
modern saat ini Epidemiologi adalah illmu yang mempelajari tentang
frekuensi dan distribusi (penyebaran) serta determinan masalah kesehatan
pada sekelompok orang/masyarakat serta determinannya (faktor-faktor
yang mempengaruhinya).
b. Surveilans Epidemiologi
Surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan
terus-menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan
kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan
penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan
tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses
pengumpulan data, pengolalian dan penyebaran informasi epidemiologi
kepada penyelenggara program kesehatan.
c. Wabah
Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam
masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi
daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat
menimbulkan malapetaka.3
d. Kejadian Luar Biasa (KLB)
Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu timbulnya atau meningkatnya kejadian
kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada
suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. dan merupakan keadaan yang
dapat menjurus pada terjadinya wabah.
Kriteria KLB sesuai dengan ketentuan peraturan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 1501/Menkes/ Per/X/2010 tentang Jenis Penyakit
Menular

Tertentu

Penanggulangan.

Yang

Dapat

Menimbulkan

Wabah

Dan

Upaya

3. Prosedur Surveilans
a. Cara Pengumpulan Data Penyakit Diare
Ada tiga cara pengumpulan data penyakit diare, yaitu melalui laporan rutin,
laporan KLB, dan pengumpulan data melalui studi kasus.
1) Laporan Rutin
Untuk dapat membuat laporan rutin perlu pencatatan setiap hari (register)
penderita penyakit diare yang datang ke fasilitas pelavanan kesehatan.
posvandu atau kader. Data register harian dapat mendeteksi adanyanya
peningkatan jumlah kasus dan tanda-tanda akan terjadinya KLB sehingga
dapat segera dilakukan tindakan penanggulangan secepatnya. Laporan
rutin ini dikompilasi oleh petugas pencatatan dan pelaporan penyakit diare
di puskesmas kemudian dilaporkan ke kabupaten/kota melalui laporan
bulanan (LB) dan STP setiap bulan.
2) Laporan KLB/Wabah
Setiap terjadi KLB/wabah harus dilaporkan dalam periode 24 jam dengan
Format Laporan W1 dan dilanjutkan dengan laporan khusus yang meliputi :

Kronologi terjadinya KLB.

Cara penyebaran serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Keadaan umum penderita.

Hasil penyelidikan epidemiologi yang telah dilakukan.

Hasil penanggulangan KLB dan rencana tindak lanjut.

3) P e n g u m p u l a n d a t a m e l a l u i s t u d i k a s u s
Pengumpulan data ini dapat dilakukan satu tahun sekali, misalnva pada
pertengahan atau akhir tahun. Tujuannya untuk mengetahui data dasar
(base line data) sebelum atau setelah program dilaksanakan dan hasil
penilaian tersebut dapat digunakan untuk p e r e n c a n a a n d i t a h u n
yang akan datang.
b. Pengolahan, Analisis. dan Interpretasi
Data yang telah dikumpulkan, diolah, dan ditampilkan dalam bentuk tabel atau
grafik, kemudian dianalisis dan diinterpretasi. Analisis ini sebaiknva dilakukan
berjenjang

dari

puskesmas

hingga

pusat

sehingga

apabila

terdapat

permasalahan segera dapat diketahui dan diambil tindakan pemecahannya.


c. Penyebarluasan Hasil Interpretasi
Hasil analisis dan interpretasi data yang telah dikumpulkan. diumpanbalikkan
kepada pihak yang berkepentingan. yaitu kepada pimpinan di daerah
(kecamatan hingga dinas kesehatan provinsi) untuk mendapatkan tanggapan
dan dukungan.
4. Sistem Kewaspadaan Dini (SKD)
a. Pengertian
SKD merupakan kewaspadaan terhadap penyakit berpotensi KLB beserta

faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan menerapkan teknologi surveilans


epidemiologi

dan

dimanfaatkan

untuk

meningkatkan

sikap

tanggap

kesiapsiagaan, upaya-upaya, dan tindakan penanggulangan kejadian luar


biasa yang cepat dan tepat.
b. Tujuan
1) Menumbuhkan sikap tanggap terhadap adanya perubahan dalam
masyarakat yang berkaitan dengan kesakitan dan kematian.
2) Mengarahkan sikap tanggap tersebut terhadap tindakan penanggulangan
secara cepat dan tepat untuk mengurangi jumlah penderita dan mencegah
kematian.
3) Memperoleh informasi secara cepat. tepat, dan akurat.
c. Tahap Pelaksanaan
Pengamatan SKD KLB mencakup :
1) Jumlah penderita dan faktor risiko Pengamaan lebih intensif bila :
Meningkatnya jumlah penderita penyakit diare berdasarkan tempat, waktu
dan orang.
Kesehatan Lingkungan
(1) Cakupan penduduk yang akses terhadap jamban sehat < 80%.
(2) Jumlah desa/kelurahan yang melaksanakan Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM).
(3) Cakupan penduduk yang akses terhadap air minum yang layak < 80%.
(4) Cakupan rumah tangga yang mengelola makanan dengan aman <
80%.
(5) Cakupan tempat pengelolaan makanan (TPM) yang memenuhi syarat
kesehatan < 80%.
(6) Cakupan pengelolaan sampah rumah dan limbah cair rumah tangga
yang memenuhi syarat kesehatan < 80%.
2) Perilaku Masyarakat Berpedoman pada 5 pilar STBM, yaitu:

Stop buang air besar sembarangan (SBS).

Cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan air mengalir di enam waktu
penting (sebeluin makan, sebelum mengolah dan merighidangkan
makanan, sebelum menyusui, sebelum member makan bayi/balita,
sesudah buang air besar/kecil, sesudah memegang hewan/unggas).

Pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga (PAMM-RT). Tahapan


pengelolaan air minum dengan melakukan pengolahan air baku
(pengendapan dan penyaringan), pengolahan air untuk diminum (filtrasi,
klorinasi, kuagulasi/flokulasi, dan desinfeksi), dan memperhatikan wadah
penyimpanan air minum yang aman (tertutup, berleher sempit, dan
diletakkan di tempat yang bersih dan sulit dijangkau binatang). Tahapan
pengelolaan makanan rnmah tangga dengan menerapkan prinsip hygiene
sanitasi makanan, yaitu pemilihan bahan makanan, penyimpanan bahan

makanan,

pengolahan

makanan,

penyimpanan

makanan

matang,

pengangkutan makanan, dan penyajian makanan.

Pengamanan sampah rumah tangga, dengan menerapkan prinsip reduce


(mengurangi sampah), reuse (memanfaatkan kembali), dan recycle
(mendaur ulang kembali).

Pengamanan limbah cair rumah tangga, dengan menerapkan prinsip air


limbah kamar mandi dan dapur tidak boleh tercampur dengan air dari
jamban, tidak boleh menjadi tempat perindukan vector, tidak boleh
menimbulkan bau, dan terhubung dengan saluran limbah umum/got atau
sumur resapan.

3) KLB diare sebelumnya :

Frekuensi KLB berdasarkan wilayah

Waktu (bulan) terjadinya KLB

Lama KLB berlangsung

Kelompok umur dan pekerjaan

Tindakan penanggulangan KLB

Faktor risiko (sumber dan cara penularan)

Perubahan kondisi, antara lain iklim (climate change), pengungsian,


bencana alam, perpindahan penduduk, dan pesta/kenduri.

d. Sumber Informasi
1) Pencatatan dan pelaporan rutin
2) Masyarakat
3) Mass media
4) Instansi/lembaga terkait, misalnya BMG dan LSM
5) Hasil survey/studi kasus
e. Tindak lanjut SKD KLB

Pengamatan terhadap kasus dan faktor risiko.

Penyegaran dan pelatihan kader/masyarakat.

Menyiapkan logistik (oralit, zinc, obat yang sesuai dengan program


pengendalian penyakit diare).

Perbaikan kualitas sarana air bersih dan sanitasi melalui desinfeksi,


perbaikan

konstruksi,

dan

pembuatan

sarana

baru

sebagai

percontohan.

Perbaikan kualitas air dan lingkungan melalui inspeksi sanitasi (IS) dan
pengambilan sarnpel.

Penyuluhan kesehatan secara intensif pada kelompok masyarakat.

Informasi kepada kepala wilayah (camat).

Menyiapkan carry and blair untuk pengambilan sarnpel rectal swab


(usap dubur) dan segera dikirim ke laboratorium.

5. Pengorganisasian
1 Puskesmas
1) Pelaksanaan SKD KLB dikoordinir oleh Kepala Puskesmas:

Petugas Pengendalian Penyakit, terutama pengelola program


penyakit diare.

Petugas surveilans.

Petugas kesehatan lingkungan.

Petugas pencatatan dan pelaporan (RR).

2) Fungsi dan peranan:

Melakukan analisis terhadap penderita penyakit diare dari


kunjungan puskesmas per minggu.

Melakukan analisis terhadap kesehatan lingkungan pada


lokasi/desa yang cakupannya rendah.

Melakukan pemicuan STBM.

Melakukan surveilans factor risiko kesehatan lingkungan


melalui klinik sanitasi.

Melakukan pengamatan intensif di desa yang pada periode


sebelumnya (minggu, bulan periode yang sama tahun lalu)
terjadi peningkatan kasus.

Membuat laporan mingguan mengenai keadaan penderita


penyakit

diare

di

wilayahnya

dan

melaporkan

kepada

kabupaten/kota.
1
6. Manajemen KLB diare
a. Pra KLB
1) Mempersiapkan tenaga dan logistik yang cukup di Puskesmas,
kabupaten/kota, dan provinsi dengan menibentuk Tim Gerak Cepat
(TGC).
2) Meningkatkan upaya promosi kesehatan.
3) Mempersiapkan

pemeriksaan

laboratorium

etiologi/penyebab KLB Diare.


4) Meningkatkan kegiatan lintas program dan sektor.
b. Kegiatan saat KLB :
1) Penyelidikan KLB
Tujuan

Memutus rantai penularan.

untuk

mengetahui

Menegakkan diagnosa penderita yang dilaporkan.

Mengidentifikasi etiologi penyakit diare.

Memastikan terjadinya KLB Diare.

Mengetahui distribusi penderita menurut waktu, tempat, dan orang.

Mengidentifikasi sumber dan car a penularan penyakit diare.

Mengidentifikasi populasi rentan.


Tahapan penyelidikan KLB
1. Mengumpulkan data dengan menggunakan Formulir 2.2, mengolah,
dan menganalisis informasi termasuk faktor risiko yang ditemukan.
2. Membuat kesimpulan berdasarkan:
a. Faktor tempat yang digambarkan dalam suatu peta (spotmap) atau
tabel tentang :
Kemungkinan faktor risiko yang menjadi sumber penularan.
Keadaan lingkungan biologis (agen, penderita), fisik dan sosial
ekonomi.
Cuaca.
Ekologi.
Adat kebiasaan.
Sumber air minum dan sebagainya.
b. Faktor waktu yang digambarkan dalam kurva epidemik yang
menyatakan hubungan waktu (onset time) dengan jumlah kasus
sehingga dapat diketahui masa inkubasi dengan penyebab KLB
diare. Setelah dibuat grafiknya dapat diinterpretasikan:
Kemungkinan penyebab KLB.
Kecenderungan perkembangan KLB.
Lamanya KLB.
c. Faktor orang yang terdiri dari: umur, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, jenis pekerjaan, suku bangsa, adat istiadat, agama/
kepercayaan dan sosial ekonomi.
2) Penanggulangan KLB
a) Mengaktifkan Tim Gerak Cepat (TGC)
TGC terdiri dari unsur lintas program dan lintas sektor.
b) Pembentukan Pusat Rehidrasi (Posko KLB Penyakit Diare)
Pusat rehidrasi

dibentuk dengan

maksud unuk menampung

penderita diare yang memerlukan perawatan dan pengobatan. Pusat


Rehidrasi dipimpin oleh seorang dokter dan dibantu oleh tenaga
kesehatan yang dapat melakukan tata laksana diare sesuai standar.
Tempat yang dapat dijadikan sebagai pusat rehidrasi adalah tempat
yang terdekat dari lokasi KLB penyakit diare dan terpisah dari
pemukiman.
Tugas-tugas di Pusat Rehidrasi (Posko KLB Penyakit Diare):

Memberikan pengobatan penderita penyakit diare sesuai dengan


tatalaksana standar serta mencatat perkembangan penderita.
Melakukan pencatatan penderita: nama, umur. jenis kelamin,
alamat lengkap. masa inkubasi, gejala, diagnosa/klasifikasi dan
lain-lain.
Mengatur logistik obatnobatan dan lain-lain.
Pengambilan sampel usap dubur penderita sebelum diterapi.
Penyuluhan kesehatan kepada penderita dan keluarganya.
Menjaga agar pusat rehidrasi tidak menjadi sumber penularan
(dengan mengawasi pengunjung, isolasi dan desinfeksi).
Memberikan pengobatan secara standar.

Membuat laporan harian/mingguan penderita penyakit diare baik


rawat jalan maupun rawat inap.
Penemuan penderita penyakit diare secara aktif untuk meneegah
kematian di masyarakat, dengan kegiatan :
(1) Penyuluhan intensif agar penderita segera mencari pertolongan.
(2) Mengaktifkan posyandu sebagai Pos Oralit.
(3) Melibatkan Kepala Desa/RW/RT atau tokoh masyarakat dan kader
untuk membagikan oralit kepada warganya yang diare.
Analisis tatalaksana penderita untuk memperoleh gambaran :
(1) Ratio pengunaan obat (oralit, Zinc, RL, antibiotika sesuai indikasi
tertentu).
(2) Proporsi derajat dehidrasi.
(3) Proporsi penderita yang dirawat di pusat rehidrasi.
(4) Dan lain-lain.
c. Pasca KLB
Setelah KLB dinyatakan berakhir, beberapa kegiatan yang perlu dilakukan :
1) Pengamatan intensif masih dilakukan selama 2 kali masa inkubasi
terpanjang, untuk melihat kemungkinan timbulnya kasus baru.
2) Perbaikan sarana lingkungan yang diduga sumber penularan.
3) Promosi kesehatan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
7. Peranan diagnostik laboratorium
a. Tujuan
Untuk mengetahui penyebab diare
b. Bahan
1) Rectal swab (usap dubur), sebaiknya diambil sebelum diberi
antibiotika.
2) Sumber air minum yang dicurigai.
3) Makanan, minuman, dan bahan lain (bahan muntahan).
c. Alat

1) Untuk Rectal Swab

Kapas lidi steril (lidi yang bagian ujungnya dibalut dengan kapas
yang sudah disterilkan/suci hama).

Medium transport Carry Blair.

Sarung tangan, alat pelindung diri.

Jas laboratorium, tas sampling.

Label identitas penderita.

Spidol, pulpen (alat tulis).

Coolbox (termos es) dan ice pack.

2) Untuk pemeriksaan air

Botol steril mulut lebar dengan kapasitas 500 cc.

Natrium Thiosulfat/Hyposulfit untuk menetralkan air.

Label identitas untuk botol.

Spidol, pulpen (alat tulis).

Coolbox (termos es) dan Ice pack.

3) Untuk pemeriksaan makanan.

Sarung tangan.

Sendok/garpu.

Alat potong (pisau/gunting).

Kantung plastik steril/botol steril.

Label identitas sample.

Spidol, pulpen (alat tulis).

Coolbox (termos es) dan ice pack.

4) Untuk pemeriksaan bahan lain (muntahan)

Sarung tangan.

Sendok/garpu.

Alat potong (pisau/gunting).

Kantung plastik steril/botol steril.

Label identitas sample.

Spidol, pulpen (alat tulis).

Coolbox (termos es) dan ice pack.

d. Pengambilan, Penyimpanan, Pengemasan, dan Pengiriman Specimen.


1) Pengambilan Specimen
(a) Rectal Swab (usap dubur)

Siapkan peralatan yang dibutuhkan terlebih dahulu.

Penderita tidur dengan posisi miring, satu kaki yang dibawah


dalam posisi lurus dan satu kaki yang diatas dalam posisi
ditekuk 90.

Petugas yang sudah memakai jas laboratorium dan sarung


tangan.

Kapas lidi steril terlebih dahulu dicelupkan kedalam agar yang


ada dalam tabung Cary & Blair agar supaya tidak sulit
memasukkan dalam liang dubur/anus.

Kapas lidi dimasukkan perlahan-lahan kedalam dubur, setelah


masuk dubur, lidi ditekan sedikit lagi sampai memasuki rectum
(1,5 cm). Kalau kapas lidi masih terlihat dari luar berarti
kapas belum sempurna memasuki liang dubur/anus apalagi
untuk memasuki rectum.

Lidi diputar kekanan (searah putaran jarum jam sampai satu


putaran penuh 360).

Kapas lidi dicabut kembali sambil diputar kekanan. Setelah lidi


sampai diluar segera masukkan dalam tabung Cary & Blair,
lidi ditekan sampai ke dasar botol sehingga seluruh bagian lidi
yang terbalut kapas terendam dalam agar. Jika ada bagian lidi
yang terlalu panjang sampai melewati mulut tabung, potong
persis dipinggir mulut tabung dan tabung segera ditutup.

Pasangi label pada setiap botol specimen.

No.urut / No.kode : ........................

Tgl pengambilan specimen : ............

Nama

Umur / Jenis kelamin : ......................

Alamat

: ........................

: ........................

(b) Air
1. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan terlebih dahulu.
2. Cara mengambil sampel air (dari suraber air yang dicurigai)

Sungai dangkal: gunakan botol bersih bermulut lebar. Arah


pengambilan sampel melawan arus sungai dan 10 cm di
bawah permukaan air.

Sungai dalam: air diambil pada bagian tengah sungai,


minimal 1,5 m dari kedua tepinya dengan menggunakan
pemberat pada botol sampel air diambil 30 cm dibawah
permukaan. Untuk sungai yang lebar air diambil dari 3
tempat (bagian tengah dan kedua tepinya).

Air danau: air diambil di bagian tengah. minimal 1,5 m dari


tepi dan 50 cm dari permukaan.

Air hujan: air diambil dari bak penampungan air hujan.

Air sumur: gunakan botol dengan pemberat dan air diambil


dari bagian dalam s u m u r.

Air pipa:

bersihkan

pipa

dengan

desinfektan/dibakar kemudian buka kran dan biarkan air


mengalir selama 5-10 menit kemudian tampung dengan
botol bermulut lebar. jarak m u l u t kran dan m u l u t b o t o l +
2,5 cm.
3. Botol segera ditutup dan diberi label :
Asal air......................................:
Alamat pengambilan : ..............
Tanggal......................................:
Hari : ........................................
Jam: ........................................
Perlu diperhatikan :
Bila dilakukan pemeriksaan air disuatu lokasi, maka semua
s u m b e r a i r h a r u s d i p e r i k s a . misalnya sumur, t a n k i air,
air pipa s a l u r a n .
Apabila air telah dichlorinasi, maka air harus d i n e t r a l k a n d u l u
d e n g a n p e n a m b a h a n Hyposulphit atau Natrium Thiosulfat
segera setelah pengambilan sampel.
Botol tidak boleh diisi penuh, bila pada saat pengambilan botol
terisi penuh maka keluarkan sebagian air.
(c) Makanan
Siapkan alat-alat yang dibutuhkan terlebih dahulu.
Petugas yang telah menggunakan sarung tangan secara aseptis
memasukkan sampel ke dalam botol dengan sendok. garpu yang
dilakukan secara acak.
Apabila bentuk sampel terlalu besar maka perlu dipotong
menjadi kecil agar mudah dianalisa di laboratorium.
Apabila sampel berkuah sebaiknva kuahnya juga diambil.
Botol segera ditutup. secara aseptis dan diberi label.
Nama makanan : ..............................
Nama penderita : ..............................
Tanggal pengambilan : ......................
Jam pengambilan : ............................
Asal sampel

: ..............................

(d) Muntahan

Siapkan alat alat yang dibutuhkan terlebih dahulu.

Petugas yang telah memakai sarung tangan secara aseptis


memasukkan sampel kedalam botol dengan sendok dan garpu
secara acak.

Apabila bentuk sampel terlalu besar maka perlu d i p o t o n g


m e n j a d i k e c i l n k e c i l d e n g a n p i s a u / g u n t i n g agar

m u d a h d i a n a l i s a d i laboratorium.
.
B. Promosi Kesehatan
1. Pengertian
Promosi

Kesehatan

adalah

upaya

untuk

meningkatkan

kemampuan

masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat,


agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan
yang bersumberdaya masyarakat'; sesuai sosial budaya setempat dan
didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan 5 . Strategi
Promosi Kesehatan adalah cara atau langkah yang diperlukan untuk
mencapai, memperlancar atau mempercepat pencapaian tujuan promosi
kesehatan.
2. Tujuan
Terwujudnya masyarakat yang.mengerti, menghayati dan melaksanakan hidup
sehat melalui komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) sehingga kesakitan dan
kematian karena penyakit diare dapat dicegah.
3. Strategi
Strategi promosi kesehatan9 terdiri dari :
1. Pengembangan kebijakan promosi kesehatan daerah.
2. Peningkatan sumber daya promosi kesehatan.
3. Pengembangan organisasi promosi kesehatan.
4. Intergrasi dan sikronisasi promosi kesehatan.
5. Pendayagunaan data dan pengembangan sistem informasi promosi
kesehatan.
6. Peningkatan kerjasama dan kemitraan.
7. Pengembangan metode. teknik dan media.
8. F a s i l i t a s i p e n i n g k a t a n p r o m o s i k e s e h a t a n .
C. Pencegahan
1. Tujuan
Tercapainya penurunan angka kesakitan dan kematian penyakit diare melalui
pengendalian faktor risiko.
2. Kegiatan
Pencegahan penyakit diare dilakukan melalui :
a. Perilaku hidup bersih dan sehat

Pemberian ASI

Makanan Pendamping ASI

Menggunakan Air Bersih Yang Cukup

Mencuci Tangan

Menggunakan Jamban

Membuang Tinja Bayi Yang Benar

Pemberian Imunisasi Carnpak

b. Penyehatan Lingkungan
Untuk mencapai kondisi sanitasi total sebagaimana yang dimaksud,
masyarakat menyelenggarakan STBM dengan berpedoman pada 5 pilar
STBM yaitu:

Stop Buang air besar Sembarangan

Cuci Tangan Pakai Sabun

Pengelolaan Air Minumdan Makanan Rumah Tangga

Pengamanan Sampah Rumah Tangga

Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga

c. Penyediaan Air Bersih


Mengingat bahwa ada beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui air
antara lain adalah diare, hepatitis A dan E, penyakit kulit, penyakit mata dll,
maka penyediaan air bersih baik secara kuantitas dan kualitas mutlak
diperlukan dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari termasuk untuk
menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Untuk mencegah terjadinya
penyakit tersebut, penyediaan air bersih yang cukup di setiap rumah tangga
harus tersedia. Di samping itu perilaku hidup bersih harus tetap
dilaksanakan.
d. Pengelolaan Sampah
e. Sarana Pembuangan Air Limbah
Air limbah baik limbah pabrik atau limbah rumah tangga harus dikelola
sedemikian rupa agar tidak menjadi sumber penularan penyakit.
D. Pengelolaan Logistik
1. Tujuan
Tersusunnya kebutuhan dan terlaksananya sistim pengadaan, penyimpanan,
distribusi dan persediaan logistik pengendalian penyakit diare.
2. Pengelolaan
Logistik yang dibutuhkan dalam pengendalian penyakit diare a d a l a h u n t u k
kebutuhan rutin dan saat KLB.
a. Kebutuhan Rutin
(1) Oralit
Perhitungan

kebutuhan

logistik

penyakit

diare

ditentukan

berdasarkan perkiraan jumlah penderita penyakit diare yang datang ke


fasilitas pelayanan kesehatan dan kader.
Kebutuhan Oralit = (Target Penemuan Penderita Penyakit Diare x 6
bks) + Cadangan*) - Stok
(2) Obat Zinc
Target Penemuan Penderita Penyakit Diare Balita x lj 10 Tablet +
Cadangan*) - Stok

b. Kebutuhan Obat Paket KLB


1) Oralit
Kebutuhan Oralit = Ppenderita x 10 bungkus
2) Zinc
Kebutuhan Zinc = 50% x Ppenderita x 10 tablet
3) Ringer Laktat (RL)
30% x Ppenderita = Rpenderita
4) Selang Infus
Jumlah penderita yang membutuhkan infus set adalah semua penderita yang
mendapat RL x 1 set.

E. Layanan Rehidrasi Oral Aktif


Layanan rehidrasi oral aktif adalah sarana pemberian oralit dan observasi atau
pengamatan selama 4 jam untuk penderita diare dehidrasi ringan-sedang serta
penyuluhan atau peragaan tentang cara pemberian oralit.
Layanan rehidrasi oral aktif ini sebagai upaya terobosan untuk meningkatkan
pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat/ibu rumah tangga, kader, dan
petugas kesehatan dalam tata laksana penderita penyakit diare.
Melalui layanan rehidrasi oral aktif diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan
masyarakat dan petugas terhadap tata laksana penderita penyakit diare,
khususnya dengan pemberian oralit dan zinc.
1. Fungsi
a. Mempromosikan upaya rehidrasi oral.
b. Memberi pelayanan bagi penderita diare.
c. Memberikan pelatihan kepada ibu/pengasuh dan kader (Posyandu).
2. Tempat
Penempatan layanan rehidrasi oral aktif di Puskesmas harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
a. Ruangan yang dilengkapi dengan meja, teko (tempat air), oralit 200 ml,
gelas, sendok. lap bersih, sarana cuei tangan dengan air mengalir dan
sabun (wastafel), poster untuk penyuluhan dan tatalaksana penderita
diare.
b. Dekat tempat tunggu (ruang tunggu), ruang periksa, serambi muka yang
tidak berdesakan.
c. Dekat dengan toilet atau kamar mandi.
d. Nyaman dan baik ventilasinya.
Layanan rehidrasi oral aktif adalah bagian dari suatu ruangan di poliklinik dengan
(ruang tunggu pasien) dengan 1-2 meja. Seorang petugas Puskesmas dapat
mempromosi-kan rehidrasi oral pada ibu pengasuh yang sedang menunggu giliran
untuk suatu pemeriksaan. Bagi penderita diare yang mengalami dehidrasi ringansedang diobservasi di layanan rehidrasi oral aktif selama 4 jam. Ibu atau

keluarganya akan diajarkan bagaimana cara menyiapkan oralit dan berapa banyak
oralit yang harus diminum oleh penderita.
Pengaturan model di layanan rehidrasi oral aktif
a) Sebuah meja untuk mencampur larutan oralit dan menyiapkan larutan.
b) Kursi atau bangku dengan sandaran, sehingga ibu dapat duduk dengan
nyaman saat memangku anaknya.
c) Sebuah meja kecil dimana ibu dapat menempatkan gelas yang berisi larutan
oralit.
d) Oralit paling sedikit 1 kotak (100 bungkus).
e) Botol susu/gelas ukur.
f) Gelas.
g) Sendok.
h) Lembar balik yang menerangkan pada ibu bagaimana mengobati atau
merawat anak diare.
i) beaflet untuk dibawa pulang ke rumah. Media penyuluhan tentang pengobatan
dan pencegahan diare perlu disampaikan pada ibu selama berada di sarana
rehidrasi oral. Selain itu, sarana rehidrasi oral sangat bermanfaat bagi ibu
untuk belajar tentang upaya rehidrasi oral serta hal-hal penting lainnya, seperti
pemberian ASI, pemberian makanan tambahan, penggunaan air bersih,
mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, penggunaan jamban, serta
poster tentang imunisasi.
Kegiatan Layanan Rehidrasi Oral Aktif
1. Penyuluhan upaya rehidrasi oral
a) Memberikan peragaan tentang bagairaana meneampur larutan oralit dan
bagaimana cara memberikannya.
b) Menjelaskan cara mengatasi kesulitan dalam memberikan larutan oralit
bila ada muntah.
c) Memberikan dorongan pada ibu untuk memulai memberikan makanan
pada anak atau ASI pada bayi (Puskesmas perlu memberikan makanan
pada anak yang tinggal sementara di fasilitas pelayanan).
d) Mengajari ibu mengenai bagaimana meneruskan pengobatan selama
anaknya di rumah dan menentukan indikasi kapan anaknya dibawa
kembali ke Puskesmas.
e) Petugas Kesehatan perlu memberikan penyuluhan pada pengunjung
Puskesmas dengan menjelaskan tata laksana penderita diare di rumah
serta cara pencegah diare.
2. Pelayanan Penderita
Setelah penderita diperiksa, tentukan diagnosis dan derajat rehidrasi di ruang
pengobatan, tentukan jumlah cairan yang harus diberikan dalam 4 jam
berikutnya dan bawalah ibu ke Layanan Rehidrasi Oral Aktif untuk menunggu
selama diobservasi serta:
a) Jelaskan manfaat oralit dan ajari ibu membuat larutan oralit.

b) Perhatikan ibu waktu memberikan oralit.


c) Perhatikan penderita secara periodik dan catat keadaannya (pada catatan
klinik penderita diare rawat jalan) setiap 1-2 jam sampai penderita teratasi
rehidrasinya (4 jam).
d) Catat/hitung jumlah oralit yang diberikan.
e) Berikan Zinc dengan dosis sesuai usia anak.
f) Berikan pengobatan terhadap gejala lainnva seperti penurun panas dan
antibiotika untuk mengobati disentri dan kolera.

BAB III
TATALAKSANA PENYAKIT DIARE
A. Pembagian Diare
1. Diare Pada Anak
a. Diare Akut
Buang air besar yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (pada
umumnya 3 kali atau lebih) perhari dengan konsistensi cair dan
berlangsung kurang dari 7 hari.
1) Etiologi
Secara klinis penyebab diare akut dibagi dalam 4 kelompok yaitu
infeksi,

malabsorbsi,

keracunan

makanan

dan

diare

terkait

penggunaan antibiotika.
Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus, fungi, parasit (protozoa,
cacing). Dari berbagai penyebab tersebut, yang sering ditemukan
adalah diare yang disebabkan oleh infeksi virus.
2) Patofisiologi
a) Diare Sekretorik
Disebabkan oleh sekresi air dan elektrolit ke dalam usus halus
yang terjadi akibat gangguan absorpsi natrium oleh vilus saluran
cerna,

sedangkan

sekresi

klorida

tetap

berlangsung

atau

meningkat. Keadaan ini menyebabkan air dan elektrolit keluar dari


tubuh sebagai tinja cair.
Diare sekretorik ditemukan pada diare yang disebabkan oleh
infeksi bakteri akibat rangsangan pada mukosa usus oleh toksin,
misalnya toksin E.coli atau V.cholera 01.
b) Diare Osmotik
Mukosa usus halus adalah epitel berpori yang dapat dilalui oleh air
dan elektrolit dengan cepat untuk mempertahankan tekanan
osmotik antara lumen usus dan cairan intrasel. Oleh karena itu, bila
di lumen usus terdapat bahan yang secara osmotik aktif dan sulit
diserap akan menyebabkan diare.
b. Diare Bermasalah
Diare bermasalah terdiri dari disentri, diare berkepanjangan (prolonged
diarrhea), diare persisten/ kronik dan diare dengan gizi buruk (malnutrisi) serta
diare dengan penyakit penyerta.
2. Diare Pada Pelancong (Travellers Diarrhea)
Diare pada pelancong adalah penyakit diare yang sering ditemukan pada orang
yang melaksanakan perjalanan ke tempat yang baru. Angka serangan (attack rate)
40-60% pengunjung dari negara maju ke negara berkembang akan menderita
diare.
Pembagian wilayah menurut risiko terkena diare pada pelancong dapat dibagi

dalam :
Low Risk (< 10%) -> Eropa Timur,Australia dan New Zealand, United States,
Canada, Singapura dan Jepang.
Moderate Risk (10-20%) -> Pulau Caribbean, Afrika Selatan, negara-negara
yang berbatasan laut Mediteranean termasuk Israel.
High Risk (> 30%) -> Asia (kecuali Singapura), Afrika (kecuali Afrika selatan),
Amerika Selatan. Amerika Tengah dan Mexico.
B. Prinsip Tataiaksana Penderita Diare
Prinsip tataiaksana penderita diare pada anak adalah Lintas Diare (Lima Langkah
Tuntaskan Diare), yang terdiri atas :
1) Oralit Osmolaritas Rendah
Mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah dengan
memberikan Oralit. Bila tidak tersedia, berikan lebih banyak cairan rumah
tangga yang mempunyai osmolaritas rendah yang dianjurkan seperti air tajin,
kuah sayur, kuah sup, sari buah, air teh dan air matang.
Macam cairan yang digunakan bergantung pada:
a) Kebiasaan setempat dalam mengobati diare
b) Tersedianya cairan/sari makanan yang cocok
c) Jangkauan pelayanan kesehatan
Bila terjadi dehidrasi (terutama pada anak), penderita harus segera dibawa ke
petugas kesehatan atau sarana kesehatan untuk mendapatkan terapi rehidrasi
yang cepat dan tepat.
2) Zinc
Di negara berkembang, umumnya anak sudah mengalami defisiensi Zinc. Bila
anak diare akan kehilangan Zinc bersama tinja, menyebabkan defisiensi
menjadi lebih berat.
Zinc diberikan pada setiap diare dengan dosis:
<6 bulan diberikan 10 mg (H tablet) Zinc per hari.

6
3

>6 bulan diberikan 1 tablet zinc 20 mg.


Pemberian Zinc diteruskan sampai 10 hari, walaupun diare sudah membaik.
Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kejadian diare selanjutnva selama 3
bulan ke depan.
3) Pemberian ASI/Makanan
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada
penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah
berkurangnya berat badan. Anak yang masih minum ASI harus lebih sering diberi
ASI. Anak yang minum susu formula diberikan lebih sering dari biasanya.
Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapat makanan padat
harus diberikan makanan yang mudah dicerna sedikit demi sedikit tetapi sering.
Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 rninggu
untuk membantu pemulihan berat badan anak.

4) P e m b e r i a n An t i b i o t i k a H a n y a At a s I n d i k a s i
Antibiotik tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare yang
memerlukannya (8,4%). Antibiotik hanya bermanfaat pada anak dengan diare
berdarah (sebagian besar karena shigellosis), suspek kolera, dan infeksi-infeksi
di luar saluran pencernaan yang berat, seperti pneumonia.
Obat-obatan ianti-diarei tidak boleh diberikan pada anak yang menderita diare
karena terbukti tidak bermanfaat. Obat anti muntah tidak dianjurkan kecuali
muntah berat. Obat- obatan ini tidak mencegah dehidrasi ataupun meningkatkan
status gizi anak. Obat antiprotozoa digunakan bila terbukti diare disebabkan oleh
parasit (amuba, giardia).
5) Pemberian Nasihat
Ibu atau keluarga yang berhubungan erat dengan balita harus diberi nasihat
tentang :
a) Cara memberikan cairan (Oralit) dan obat Zinc di rumah.
b) Kapan harus membawa kembali balita ke petugas
kesehatan:
Diare lebih sering
Muntah berulang
Sangat haus
Makan atau minum sedikit
C. Penentuan Diagnosis Diare
1. Anak
a. Riwayat Penyakit
Berapa hari anak diare?
Berapa kali diare dalam sehari?
Adakah darah dalam tinja?
Apakah ada muntah? Berapa kali ?
Apakah ada demam?
Makanan apa yang diberikan sebelum diare? Jenis makanan dan
minuman apa yang diberikan selama sakit?
Obat apa yang sudah diberikan?
Imunisasi apa saja yang sudah didapat?
Apakah ada keluhan lain?
b. Menilai derajat dehidrasi

D. Pengobatan
1. Diare Akut Pada Anak
Menentukan Rencana Pengobatan
Berdasarkan hasil penilaian derajat dehidrasi gunakan Bagan Rencana
Pengobatan yang sesuai :
a. Rencana Terapi A untuk penderita diare Tanpa Dehidrasi di rumah.
b. Rencana Terapi B untuk penderita diare dengan Dehidrasi Rirlgan/Sedang
(tidak berat) di Sarana Kesehatan untuk diberikan pengobatan dan
pemantauan selama 3 jam.
c. Rencana Terapi C untuk penderita diare dengan Dehidrasi Berat di Sarana
Kesehatan

untuk

pemberian

cairan

rehidrasi

Intra

Vena

Tatalaksana Penderita Diare Dewasa


1. Terapi Cairan
2,6 gram/L
2,9 gram/L
dewasa 1.5 gram/L
13.5 gram/L

a. Derajat Dehidrasi
Pada
perlu

ditentukan

tingkat dehidrasi:
(1) Tanpa dehidrasi, 75
ciri utama adalah 65
timbulnya
haus.

mmol/L
mmol/L
75 mmol/L
rasa 20 mmol/L
10 mmol/L

(2) Ringan
(3) Sedang
9
3

(4) Berat
b. Jenis cairan

Semua diare dimulai dengan pemberian ORALIT ( E v i d e n c e L A ) atau


dimulai dengan cairan rumah tangga (air matang, air tajin.air kelapa. kuah
savur) ( E v i d e n c e I V ) .
Komposisi ORALIT terdiri dari:
Natrium klorida
Natrium bikarbonat
Kalium klorida
Glukosa
Cairan tersebut diatas tersedia dalam kemasan sachet (ORALIT 200 ml).
Pada penderita yang memerlukan pemberian cairan secara intra vena
diberikan cairan Ringer lactat atau Ringer asetat.
c. Jumlah Cairan
Jumlah cairan yang diberikan harus sesuai dengan jumlah cairan yang
dikeluarkan dengan menggunakan Skor Daldiyono (lihat tabel 4)atau
perkiraan klinis :
Tanpa dehidrasi: ORALIT
Dehidrasi Ringan: ORALIT
Dehidrasi Sedang: ORALIT dan

Cairan

Infus

Dehidrdasi Berat: Cairan Infus dan ORALIT


d. Cara Pemberian
Kehilangan cairan sesuai perhitungan diberikan dalam 2 jam pertama,
selanjutnya diberikan cairan dosis pemeliharaan (1500 cc - 2000 cc per 24
jam) ditambah kehilangan cairan baru.
Catatan :
Dalam keadaan dimana cairan infus tidak bisa diberikan, dianjurkan
pemberian cairan dengan sonde lambung secukupnya sampai infus bisa
terpasang. Untuk pasien rawat jalan d i b e r i k a n 1 0 b u n g k u s o r a l i t .

e. Monitoring dan Rujukan


Selama terapi dengan pemberian infuse pasien harus dimonitor baik
secara klinis maupun laboratorium. Monitoring meliputi:
1. Diuresis
2. Tanda vital
3. Intake dan output cairan
4. Pasien dengan dehidrasi berat atau syok perlu dimonitor, ureum
kreatinin dan elektrolit
5. Pasien yang ditangani di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer, yang
menunjukkan tanda over hidrasi, harus diberikan diuretika intravena
kemudian dirujuk untuk penanganan lebih lanjut.
f. Tatalaksana diare kronik
1. Pasien dengan diare kronik pada orang dewasa dilakukan pemeriksaan
feses.Bila terdapat Amoebiasis, langsung diberikan Metronidazol 3x500
mg selama 7nl0 hari.
2. Apabila terdapat Amoebiasis berulang, maka rujuk untuk evaluasi lebih
lanjut dengan pemeriksaan endoskopi.
3. Bila Amoeba tidak ditemukan, maka dirujuk ke rumah sakit.
g. Faktor risiko
Sebagian besar penderita HIV mempunyai presentasi klinis berupa diare
kronis. Oleh sebab itu pada-pasien dengan diare kronis perlu dilakukan
skrining untuk HIV.
Riwayat kanker pada keluarga juga perlu ditanyakan. Ranker kolorektal
menimbulkan keluhan diare kronis yang kadang-kadairg disertai dengan
amoebiasis berulang.
2. Diare Pada Pelancong (Travellers Diarrhea)
a. Tatalaksana Diare Pada Pelancong
1. Mencegah dan mengatasi dehidrasi dengan ORALIT.
2. Pemberian antibiotik dengan Siprofloksasin 2 x 500 mg selama 1 sampai 2
hari. Alternatif lain bila terdapat kontra indikasi, pilihan antibiotik adalah
Kotrimoksasol, Amoksisilin, Azitromisin.
3. Terapi simtomatik, dapat diberikan loperamid (diberikan pada diare berat)
dengan jangka waktu pendek.Harap diperhatikan efek samping loperamid
terjadi ileus paralitik yang akan memperburuk keadaan. Penggunaan
loperamid dihentikan apabila setelah 48 jam gejala menetap.
4. Pengaturan makanan dengan makanan lunak rendah serat.
b. Komunikasi dan edukasi
Meyakinkan penderita:

1. Bahwa ORALIT merupakan hal paling penting dalam pencegahan dan


pengobatan dehidrasi.
2. Menerapkan cuci tangan pakai sabun.
3. Bahwa diare tidak perlu dihentikan dengan segera.
4. Bila diare makin berat dalam 48 jam maka segera ke unit gawat darurat di
rumah sakit.
3. Rujukan
a) Anak
Rujukan dilakukan pada :
1. Dehidrasi tidak berat, tetapi muntah profuse.
2. Diare akut dengan dehidrasi berat.
3. Disentri dengan faktor risiko menjadi berat merupakan indikasi rawat inap
antara lain dengan gangguan gizi berat, umur kurang dari dari satu tahun,
menderita campak pada enam bulan terakhir, disentri disertai dehidrasi
berat dan disentri dengan komplikasi.
4. Diare persisten pada bayi muda yang berumur kurang dari 2 bulan,
mengalami dehidrasi, menderita infeksi berat, penderita diperkirakan tidak
akan dapat mengkonsumsi makanan sesuai dengan jenls, bentuk dan
jumlah yang direkomendasikan.
5. Diare bermasalah lainnya seperti diare dengan gizi b u r u k ,

diare

d e n g a n p e n ya k i t p e n y e r t a .
b) Dewasa
Selama pemberian infus, pasien harus dipantau secara klinis dan laboratoris,
meliputi:
1. Bila diare memburuk dalam 48 jam, segera ke unit gawat darurat/rumah
sakit.
2. Pasien dengan dehidrasi berat atau syok perlu d i p a n t a u

ureum,

kreatinin dan elektrolit.


3. Pasien yang ditangani di fasilitas pelayanan primer dan menunjukkan tanda
over hidrasi, harus diberikan d i u r e t i k i n t r a v e n a k e m u d i a n d i r u j u k
u n t u k penanganan lebih lanjut.
4. Pasien yang ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan primer dan
menunjukkan gagal ginjal akut karena syok atau komplikasi gangguan
elektrolit, harus d i r u j u k u n t u k p e n a n g a n a n l e b i h l a n j u t .

9
7

BAB IV
PENUTUP
1) Buku Pedoman Pengendalian Penyakit Diare ini diharapkan dapat menjadi
acuan untuk lebih memantapkan potensi dalam tatalaksana penyakit diare
secara berjenjang baik internal, lintas program dan lintas sektor.
2) Buku pedoman ini merupakan dokumen hidup (living document) yang akan terus
berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Dokumen ini juga
terbuka terhadap saran-saran untuk perbaikan dan penyempurnaan.
3) Akhirnya semoga buku pedoman ini bermanfaat secara maksimal, dengan tidak
mengurangi kesempatan untuk berkonsultasi.