Anda di halaman 1dari 34

Tugas 5

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN FISIKA

PENDEKATAN, MODEL DAN METODE


PEMBELAJARAN

Oleh
RISKA WAHYUNI
15175036

DOSEN :
Prof. Dr. Festiyed, M.S

PROGRAM PASCA SARJANA PENDIDIKAN FISIKA


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan hidayahNya, saya dapat menyusun tugas ini dengan judul pendekatan,model dan metode
pembelajaran
Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak mendapat masalah, namun hal
tersebut dapat diatasi dengan bimbingan dan dan dukungan dari berbagai pihak. Maka penulis
mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Pengembangan model
pembelajaran Fisika, pengarang buku serta pembuat blog (internet) yang sangat membantu
sebagai pencarian bahan dalam pembuatan tugas ini, dan teman-teman yang secara langsung
atau tidak langsung terlibat dalam pembuatan makalah ini.
Tugas ini telah diusahakan untuk dapat diselesaikan dengan sebaik mungkin, namun
saya sebagai penyusun menyadari bahwa tidak ada karya yang sempurna. Untuk itu semua
kritik dan saran dari pembaca sangat saya harapkan, sebagai bahan penyempurnaan dimasa
yang akan dating. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua serta mendapat Ridho
disisi Allah dan dapat menjadi salah satu referensi dalam ilmu pengetahuan.

Padang, Oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................................. i
A.

PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN..............................................................1


1)

Pengertian pendekatan pembelajaran.......................................................................1

2)

Fungsi pendekatan pembelajaran............................................................................1

3)

Jenis-jenis pendekatan dalam pembelajaran..............................................................1

a.

Pendekatan saintifik........................................................................................... 1

b.

Pendekatan proses.............................................................................................. 3

c.

Pendekatan konstektual....................................................................................... 4

d.

Pendekatan konstruktivisme.................................................................................5

e.

Pendekatan Sains, Teknologi, dan Masyarakat...........................................................7


MODEL PEMBELAJARAN................................................................................... 7

B.
1.

Pengertian model pembelajaran............................................................................. 7

2.

Karakteristik model pembelajaran..........................................................................8

3.

Jenis-jenis model dalam pembelajaran.....................................................................9

a.

Model lesson study............................................................................................ 9

b.

Model Cooperative Script.................................................................................. 10

c.

Model Student Teams-Achievement Divisions (STAD)..............................................10

d.

Model Explicit Instruction (Pembelajaran Langsung)................................................10

e.

Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)..........................................11

f.

Model Problem Based Learning...........................................................................11

g.

Model Project Based Learning............................................................................12

h.

Model Discovery learning.................................................................................. 12

i.

Model Inquiry................................................................................................. 13

C.

METODE PEMBELAJARAN...............................................................................13
1.

Pengertian metode pembelajaran..........................................................................13

2.

Fungsi metode pembelajaran............................................................................... 14

3.

Macam-macam metode dalam pembelajaran...........................................................15

a.

Metode ceramah.............................................................................................. 15

b.

Metode demonstrasi......................................................................................... 15

c.

Metode kelompok............................................................................................ 16

d.

Metode diskusi................................................................................................ 17

e.

Metode simulasi.............................................................................................. 18

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 22

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukannya interaksi antara guru dan
peserta didik yang memiliki tujuan. Agar tujuan ini dapat tercapai sesuai dengan target dari
guru itu sendiri, maka sangatlah perlu terjadi interaksi positif yang terjadi antara guru dan
peserta didik. Dalam interaksi ini, sangat perlu bagi guru untuk membuat interaksi antara
kedua belah pihak berjalan dengan menyenangkan dan tidak membosankan. Hal ini selain
agar mencapai target dari guru itu sendiri, siswa juga menjadi menyenangkan dalam
kegiatan belajar mengajar, serta lebih merasa bersahabat dengan guru yang mengajar.
Sehingga dalam kegiatan pembelajaran diperlukan model-model pembelajaran.
Seorang guru harus pandai menggunakan model pembelajaran secara arif dan
bijaksana. Di dalam penerapan model pembelajaran seorang guru juga harus pandai
menggunakan pendekatan dan metodemana yang tepat disesuaikan dengan mata pelajaran,
jumlah siswa dan kondisi siswa itu sendiri. Karena setiap pendidik tidak selalu memiliki
suatu pandangan dan metode yang sama dalam hal mendidik anak didik. Hal ini akan
mempengaruhi model pembelajaran yang digunakanpendidik dalam pembelajaran.
Untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan, maka perlu adanya
suatu pendekatan, metode, dan model pembelajaran yang tepat digunakan oleh guru. Oleh
sebab itu penulis tertarik menulis sebuah makalah dengan judul teori pendekatan, metodemetode pembelajaran, dan model-model pembelajaran.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka rumusan masalah pada makalah ini
adalah:
1. Apakah yang dimaksud dengan pendekatan pembelajaran dan jenis-jenisnya?
2. Apakah yang dimaksud dengan model pembelajaran dan jenis-jenisnya?
3. Apakah yang dimaksud dengan metode pembelajaran dan jenis-jenisnya?
C. Tujuan penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan tentang pendekatan pembelajaran dan jenis-jenisnya
2. Menjelaskan tentang model pembelajaran dan jenis-jenisnya
3. Menjelaskan tentang metode pembelajaran dan jenis-jenisnya

D. Manfaat penulisan
Manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat dijadikan pengalaman dan bekal ilmu pengetahuan bagi pembaca khususnya
untuk tenaga pendidik kedepannya.
2. Membantu mahasiswa memahami tentang pendekatan, model dan metode
pembelajaran
3. Memenuhi persyaratan untuk mengikuti mata kuliah pengembangan model
pembeajaran fisika program studi pendidikan Fisika Fakultas pascasarjana Universitas
Negeri Padang

4. BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendekatan Dalam Pembelajaran
1. Pengertian pendekatan pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu
proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi,
menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu
(Akhmad sudrajat.2008)
Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:
a. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student
centered approach).
b. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher
centered approach).
2. Fungsi pendekatan pembelajaran
Fungsi pendekatan bagi suatu pembelajaran adalah :
a. Sebagai pedoman umum dalam menyusun langkah-langkah metode pembelajaran
yang akan digunakan.
b. Memberikan garis-garis rujukan untuk perancangan pembelajaran.
c. Menilai hasil-hasil pembelajaran yang telah dicapai.
d. Mendiagnosis masalah-masalah belajar yang timbul.
e. Menilai hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilaksanakan
3. Jenis-jenis pendekatan dalam pembelajaran
a. Pendekatan saintifik
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang
dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum
atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau
menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan
dan

mengomunikasikan

konsep,

hukum

ditemukan. Pendekatan saintifik dimaksudkan

untuk

atau

prinsip

memberikan

yang

pemahaman

kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan


pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak
bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh karena itu kondisi pembelajaran yang
diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari
berbagai sumber melalui observasi, dan bukan hanya diberi tahu.

Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan


proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan
menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut, bantuan guru diperlukan.
Akan tetapi bantuan guru tersebut harus semakin berkurang dengan semakin bertambah
dewasanya siswa atau semakin tingginya kelas siswa.

Prinsip-prinsip kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik kurikulum 2013,


yakni :
1)
2)
3)
4)
5)
6)

peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu


peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar
proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah
pembelajaran berbasis kompetensi
pembelajaran terpadu
pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki kebenaran

multi dimensi
7) pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif
8) peningkatan keseimbangan, kesinambungan,

dan

keterkaitan

antara hard-

skills dan soft-skills


9) pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik
sebagai pembelajar sepanjang hayat
10) pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (Ing
Ngarso Sung Tulodo), membangun kemauan (Ing Madyo Mangun Karso),
danmengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (Tut Wuri
Handayani)
11) pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat
12) pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi
dan efektivitas pembelajaran
13) pengakuan atas perbedaan individualdan latar belakang budaya peserta didik
14) suasana belajar menyenangkan dan menantang
Ada lima kegiatan utama di dalam proses pembelajaran menggunakan pendekatan
saintifik, yaitu:

1) Mengamati
Mengamati dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan mencari informasi,
melihat, mendengar, membaca, dan atau menyimak.
2) Menanya
Menanya untuk membangun pengetahuan peserta didik secara faktual,
konseptual, dan prosedural, hingga berpikir metakognitif, dapat dilakukan melalui
kegiatan diskusi, kerja kelompok, dan diskusi kelas.
3) Mencoba
Mengeksplor/mengumpulkan informasi, atau mencoba untuk meningkatkan
keingintahuan peserta didik dalam mengembangkan kreatifitas, dapat dilakukan
melalui membaca, mengamati aktivitas, kejadian atau objek tertentu, memperoleh
informasi, mengolah data, dan menyajikan hasilnya dalam bentuk tulisan, lisan, atau
gambar.
4. Mengasosiasi
Mengasosiasi
mengelompokan,

dapat

dilakukan

membuat

melalui
kategori,

kegiatan

menganalisis

menyimpulkan,

data,
dan

memprediksi/mengestimasi.
5. Mengkomunikasikan
Mengomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi
dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, atau grafik, dapat dilakukan
melalui presentasi, membuat laporan, dan/ atau unjuk kerja
b. Pendekatan proses
Pendekatan proses merupakan pendekatan pengajaran yang memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu
konsep sebagai suatu keterampilan proses.
Pendekatan proses adalah pendekatan yang berorientasi pada proses bukan hasil.
Pada pendekatan ini peserta didik diharapkan benar-benar menguasai proses.
Pendekatan ini penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan
berpikir dan melatih psikomotor peserta didik. Dalam pendekatan proses peserta didik
juga harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan dan bahkan melakukan percobaan.
Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara kerja,
ketelitian, keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebagainya.
c. Pendekatan konstektual
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah
sebuah proses pembelajaran yang bersifat menyeluruh atau holistik. Pada pembelajaran
kontekstual, siswa dimotivasi sehingga mereka dapat memahami makna bahan
pelajaran sesuai konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan

kultural). Dengan pendekatan kontekstual, siswa akan mempunyai pengetahuan dan


keterampilan yang dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan atau konteks
ke permasalahan ke konteks lainnya.
Pada pendekatan kontekstual, guru mencoba menghadirkan situasi dunia nyata ke
dalam kelas. Siswa diajak untuk menemukan dan membentuk hubungan-hubungan
antar pengetahuan, kemudian juga bagaimana penerapannya dalam kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Ada lima strategi pembelajaran kontekstual
(contextual teaching and learning), yaitu relating (menghubungkan) , experiencing
(mengalami), applying (menerapkan), cooperating (bekerja sama), dan transferring
(mentransfer). Melalui kelima strategi ini nantinya diharapkan siswa akan mencapai
standar kompetensi yang diharapkan secara maksimal.
Pendekatan dan pembelajaran kontekstual terkait erat dengan pembelajaran aktif
(active learning). Dalam pembelajaran kontekstual, dalam hubungannya dengan
pembelajaran aktif, maka siswa harus dapat diajak untuk membangun sendiri
pengetahuannya (konstruktivisme atau constructivism), aktif bertanya (questioning),
aktif untuk menemukan pengetahuannya atau konsep-konsep yang sedang dipelajari
(inquiri), bekerja bersama dan belajarbersama dalam suatu masyarakat belajar (learning
community), melakukan pemodelan (modeling), dan menerapkan penilaian otentik
(authentic assessment).
Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar
yang penting, yaitu :
1) Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme.
Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu
yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah
diketahui siswa dengan informasi baru.
2) Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti
menghubungkan

informasi

baru

dengan

pengalaman

maupun

pengetahui

sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi
peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3) Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan
pemecahan masalah. Guru dapat memotivasi siswa dengan memberikam latihan
yang realistik dan relevan.
4) Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan
yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat
mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan.Pengalaman kerjasama

tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia
nyata.
5) Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan
fokus pada pemahaman bukan hafalan
d. Pendekatan konstruktivisme
Pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang
lebih menekankan pada tingkat kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang
dapat diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan.
Pada dasarnya pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam peningkatan dan
pengembangan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa berupa keterampilan dasar yang
dapat diperlukan dalam pengembangan diri siswa baik dalam lingkungan sekolah
maupun dalam lingkungan masyarakat.
Dalam pendekatan konstruktivisme ini peran guru hanya sebagai pembimbing
dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran. Olek karena itu, guru lebih mengutamakan
keaktifan siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide
baru yang sesuai dengan materi yang disajikan untuk meningkatkan kemampuan siswa
secara pribadi.
Jadi pendekatan

konstruktivisme

merupakan

pembelajaran

yang

lebih

mengutamakan pengalaman langsung dan keterlibatan siswa dalam kegiatan


pembelajaran. Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi
seseorang pembelajar dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas
individu dan sosial. Tidak ada satupun teori belajar tentang konstruktivisme, namun
terdapat beberapa pendekatan konstruktivis, misalnya pendekatan yang khusus dalam
pendidikan matematik dan sains. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky
menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan
(konstruktivisme sosial), sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu
lah yang utama (konstruktivisme individu).
Para psikolog konstruktivis yang tertarik dengan pengetahuan individu,
kepercayaan, konsep diri atau identitas adalah mereka yang biasa disebut konstruktivis
individual. Riset mereka berusaha mengungkap sisi dalam psikologi manusia dan
bagaimana seseorang membentuk struktur emosional atau kognitif dan strateginya.
Berbeda dengan Piaget, Vygotsky percaya bahwa pengetahuan dibentuk secara
sosial, yaitu terhadap apa yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat secara
bersama-sama. Sehingga perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-

beda dalam konteks budaya yang berbeda. Interaksi sosial, alat-alat budaya, dan
aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar individual.
Ciri-ciri pendekatan konstruktivisme :
1. Dengan adanya pendekatan konstruktivisme, pengembangan pengetahuan bagi
peserta didik dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui kegiatan penelitian atau
pengamatan langsung sehingga siswa dapat menyalurkan ide-ide baru sesuai dengan
pengalaman dengan menemukan fakta yang sesuai dengan kajian teori.
2. Antara pengetahuan-pengetahuan yang ada harus ada keterkaitan dengan
pengalaman yang ada dalam diri siswa.
Setiap siswa mempunyai peranan penting dalam menentukan apa yang mereka
pelajari. Peran guru hanya sebagai pembimbing dengan menyediakan materi atau
konsep apa yang akan dipelajari serta memberikan peluang kepada siswa untuk
menganalisis sesuai dengan materi yang dipelajari.

e. Pendekatan Sains, Teknologi, dan Masyarakat


Pendekatan Science, Technology and Society (STS) atau pendekatan Sains,
Teknologi dan Masyarakat (STM) merupakan gabungan antara pendekatan konsep,
keterampilan proses, Inkuiri dan diskoveri serta pendekatan lingkungan.
Istilah Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam bahasa Inggris disebut Sains
Technology Society (STS), Science Technology Society and Environtment (STSE) atau
Sains Teknologi Lingkungan dan Masyarakat. Meskipun istilahnya banyak namun
sebenarnya intinya sama yaitu Environtment, yang dalam berbagai kegiatan perlu
ditonjolkan. Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan pendekatan terpadu antara
sains, teknologi, dan isu yang ada di masyarakat. Adapun tujuan dari pendekatan STM
ini adalah menghasilkan peserta didik yang cukup memiliki bekal pengetahuan,
sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam
masyarakat serta mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang telah
diambilnya.
Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah pendekatan konstruktivisme,
yaitu peserta didik menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya
berdasarkan apa yang telah mereka ketahui.
B. Model Pembelajaran
1. Pengertian model pembelajaran

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang


sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar peserta didik untuk mencapai
tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran
dan guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar (Syaiful
Sagala, 2005).
Secara luas, Joyce dan Weil (2000) mengemukakan bahwa model pembelajaran
merupakan deskripsi dari lingkungan belajar yang menggambarkan perencanaan
kurikulum, kursus-kursus, rancangan unit pembelajaran, perlengkapan belajar, bukubuku pelajaran, program multi media, dan bantuan belajar melalui program komputer.
Hakikat mengajar menurut Joyce dan Weil adalah membantu belajar (peserta didik)
memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai-nilai, cara berpikir, dan belajar
bagaimana cara belajar. Merujuk pada dua pendapat di atas, penulis memaknai model
pembelajaran dalam PBM ini sebagai suatu rencana mengajar yang memperlihatkan
pola pembelajaran tertentu, dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru-peserta
didik di dalam mewujudkan kondisi belajar atau sistem lingkungan yang menyebabkan
terjadinya belajar pada peserta didik. Di dalam pola pembelajaran yang dimaksud
terdapat karakteristik berupa rentetan atau tahapan perbuatan/kegiatan guru-peserta
didik atau dikenal dengan istilah sintaks dalam peristiwa pembelajaran. Secara implisit
di balik tahapan pembelajaran tersebut terdapat karakteristik lainnya dari sebuah model
dan rasional yang membedakan antara model pembelajaran yang satu dengan model
pembelajaran yang lainnya

2. Karakteristik model pembelajaran


Bruce dan Weil (1980 dan 1992) mengidentifikasi karakteristik model pembelajaran ke
dalam aspek-aspek berikut.
a. Sintaks
Suatu model pembelajaran memiliki sintaks atau urutan atau tahap-tahap kegiatan
belajar yang diistilahkan dengan fase yang menggambarkan bagaimana model tersebut
dalam praktiknya, misalnya bagaimana memulai pelajaran.
b. Sistem sosial
Sistem sosial menggambarkan bentuk kerja sama guru-peserta didik dalam
pembelajaran atau peran-peran guru dan peserta didik dan hubungannya satu sama lain
dan jenis-jenis aturan yang harus diterapkan. Peran kepemimpinan guru bervariasi
dalam satu model ke model pembelajaran lainnya. Dalam beberapa model

pembelajaran, guru bertindak sebagai pusat kegiatan dan sumber belajar (hal ini berlaku
pada model yang terstruktur tinggi), namun dalam model pembelajaran yang terstruktur
sedang peran guru dan peserta didik seimbang. Setiap model memberikan peran yang
berbeda pada guru dan peserta didik.
c. Prinsip reaksi
Prinsip reaksi menunjukkan kepada guru bagaimana cara menghargai atau
menilai peserta didik dan bagaimana menanggapi apa yang dilakukan oleh peserta
didik. Sebagai contoh, dalam suatu situasi belajar, guru memberi penghargaan atas
kegiatan yang dilakukan peserta didik atau mengambil sikap netral.
d. Sistem pendukung.
Sistem pendukung menggambarkan kondisi-kondisi yang diperlukan untuk
mendukung keterlaksanaan model pembelajaran, termasuk sarana dan prasarana,
misalnya alat dan bahan, kesiapan guru, serta kesiapan peserta didik.
e. Dampak pembelajaran langsung dan iringan.
Dampak pembelajaran langsung merupakan hasil belajar yang dicapai dengan
cara mengarahkan para peserta didik pada tujuan yang diharapkan sedangkan dampak
iringan adalah hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh suatu proses pembelajaran
sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami langsung oleh pebelajar.

3. Jenis-jenis model dalam pembelajaran


a. Model lesson study
Lesson Study adalah suatu metode yang dikembangkan di Jepang yang dalam
bahasa Jepangnya disebut Jugyokenkyuu. Istilah lesson study sendiri diciptakan oleh
Makoto Yoshida.
Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas
guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar
menjadi lebih efektif. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1) Sejumlah guru bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama ini meliputi:
Perencanaan
Praktek mengajar.
Observasi
Refleksi/ kritikan terhadap pembelajaran.
2) Salah satu guru dalam kelompok tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu
membuat rencana pembelajaran yang matang dilengkapi dengan dasar-dasar teori
yang menunjang.
3) Guru yang telah membuat rencana pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di
kelas sesungguhnya. Berarti tahap praktek mengajar terlaksana.

4) Guru-guru lain dalam kelompok tersebut mengamati proses pembelajaran sambil


mencocokkan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Berarti tahap observasi
terlalui.
5) Semua guru dalam kelompok termasuk guru yang telah mengajar kemudian
bersama-sama mendiskusikan pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang telah
berlangsung. Tahap ini merupakan tahap refleksi. Dalam tahap ini juga didiskusikan
langkah-langkah perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.
6) Hasil pada (5) selanjutnya diimplementasikan pada kelas/pembelajaran berikutnya
dan seterusnya kembali ke (2)
b. Model Cooperative Script
Skrip kooperatif adalah model belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan
secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari. Langkahlangkah pelaksanaan metode ini adalah :
1) Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2) Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
3) Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan
siapa yang berperan sebagai pendengar.
4) Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan
ide-ide pokok dalam ringkasannya.
5) Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan
sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
6) Kesimpulan guru.
7) Penutup.
c. Model Student Teams-Achievement Divisions (STAD)
Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan
anggota lain sampai mengerti. Langkah-langkah dari model ini adalah :
1) Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran
menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dan lain lain).
2) Guru menyajikan pelajaran.
3) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok.
Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota
dalam kelompok itu mengerti.
4) Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak
boleh saling membantu.
5) Memberi evaluasi.
6) Penutup.
d. Model Explicit Instruction (Pembelajaran Langsung)

Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa


tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan
dengan pola selangkah demi selangkah. Langkah-langkah dari model ini adalah :
1) Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.
2) Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan.
3) Membimbing pelatihan.
4) Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik.
5) Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan
e. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Pada metode ini siswa dibentuk kelompok untuk memberikan tanggapan terhadap
wacana/ kliping. Langkah-langkah dari model ini adalah :
1) Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen.
2) Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran.
3) Siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi
tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas.
4) Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
5) Guru membuat kesimpulan bersama.
6) Penutup
f. Model Problem Based Learning
Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang
melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah
sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah
tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah.
Problem Based Learning memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Belajar dimulai dengan satu masalah
2) Memastikan bahwa masalah tersebut berhubungan dengan dunia nyata siswa
3) Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan seputar disiplin ilmu
4) Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan
menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri
5) Menggunakan kelompok kecil
Menuntut siswa untuk mendemonstrasi-kan yang telah mereka pelajari dalam
bentuk produk atau kinerja. Berdasarkan uraian di atas, tampak jelas bahwa
pembelajaran dengan model PBL dimulai oleh adanya masalah yang dalam hal ini
dapat dimunculkan oleh siswa ataupun guru, kemudian siswa memperdalam
pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang mereka perlu
ketahui untuk memcahkan masalah tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang
dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong berperan aktif dalam
belajar

g. Model Project Based Learning


Project Based Learning adalah model pembelajaran yang menggunakan
proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian,
interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.
Pada Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki beberapa karakteristik berikut ini, yaitu :
1) Peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja;
2) Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik;
3) Peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau
tantangan yang diajukan;
4) Peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola
informasi untuk memecahkan permasalahan;
5) Proses evaluasi dijalankan secara kontinyu;
6) Peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan;
7) Produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif; dan
8) Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.
Peran pendidik atau guru dalam Pembelajaran Berbasis Proyek sebaiknya sebagai
fasilitator, pelatih, penasehat dan perantara untuk mendapatkan hasil yang optimal
sesuai dengan daya imajinasi, kreasi dan inovasi dari siswa.
h. Model Discovery learning
Discovery Learning mengacu kepada teori belajar yang didefinisikan sebagai
proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam
bentuk finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri.
Pada Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau
prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaan inkuiri dan problem solving
dengan Discovery Learning ialah bahwa pada discovery learning masalah yang
diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru.
Dalam mengaplikasikan model pembelajaran Discovery Learning guru berperan
sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar
secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan
kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan
belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented.
Dalam Discovery Learning, hendaknya guru harus memberikan kesempatan
muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientis, historin, atau ahli
matematika. Bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi siswa dituntut untuk
melakukan

berbagai

kegiatan

menghimpun

informasi,

membandingkan,

mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta


membuat kesimpulan-kesimpulan
i. Model Inquiry
Model pembelajaran inkuiri adalah sebuah strategi yang langsung terpusat pada
peserta didik yang mana nantinya kelompok-kelompok siswa tersebut akan dibawa
dalam persoalan maupun mencari jawaban atas pertanyaan sesuai dengan struktur dan
prosedur yang jelas. Sehingga model pembelajaran ini bisa melatih para siswa untuk
belajar mulai dari menyelidiki dan menemukan masalah hingga menarik kesimpulan.
Adapun model ini menjadikan siswa akan lebih banyak belajar mandiri untuk
memecahkan permasalahan yang telah diberikan oleh pengajar.
Menurut piaget bahwa model pembelajaran inquiry adalah model pembelajaran
yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara
luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaanpertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang
satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan
yang ditemukan siswa lain
C. METODE PEMBELAJARAN
1. Pengertian metode pembelajaran
Metode berasal dari bahasa latin, metodos yang artinya jalan atau cara. Akan
tetapi menurut Robert Ulich, istilah metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta ton
odon, yang artinya berlangsung menurut cara yang benar (to proceed according to the
right way). Adapun defenisi metode pembelajaran antara lain :
a. Menurut Biggs (1991)
Metode pembelajaran adalah caracara untuk menyajikan bahanbahan
pembelajaran kepada siswa untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
b. Menurut Adrian (2004)
Metode pembelajaran adalah ilmu yang mempelajari caracara untuk melakukan
aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta
didik untuk saling beriteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses
pembelajaran berjalan dengan baik dalam artian tujuan pembelajaran tercapai.
Berdasarkan beberapa pengertian dari para ahli diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa metode pembelajaran adalah cara, model, atau serangkaian bentuk kegiatan
belajar yang diterapkan pendidik kepada anak didiknya guna meningkatkan motivasi
belajar si terdidik guna tercapainya tujuan pembelajaran

2. Fungsi metode pembelajaran


Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2006) fungsi metode pembelajaran
meliputi:
a. Alat Motivasi Ekstrinsik
Sebagai salah satu komponen pembelajaran metode menempati peranan yang
tidak kalah pentingnya dari komponen lain. Tidak ada satu pun kegiatan pembelajaran
yang tidak menggunakan metode pembelajaran. Ini berarti, fungsi metode pembelajaran
sebagai alat motivasi ekstrinsik, dengan menempatkan guru sebagai motivatornya.
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya
perangsang dari luar. Metode pembelajaran berfungsi sebagai alat perangsang dari luar
yang dapat membangkitkan belajar peserta didik.
b. Strategi Pembelajaran
Daya serap peserta didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam.
Ada yang cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat. Faktor inteligensi
mempengaruhi daya serap peserta didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan guru.
Perbedaan daya serap peserta didik memerlukan strategi pembelajaran yang tepat, dan
metode merupakan salah satu solusinya. Bagi sekelompok peserta didik boleh jadi
mudah menyerap bahan pelajaran bila guru menggunakan metode tanya jawab, tapi
bagi sekelompok peserta didik yang lain. Di sinilah letak fungsi metode pembelajaran.
c. Alat untuk Mencapai Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang akan dicapai dalam kegiatan pembelajaran dan
menjadi pedoman yang memberi arah kemana kegiatan pembelajaran akan dibawa.
Tujuan dari kegiatan pembelajaran tidak akan pernah tercapai selama komponenkomponen lainnya tidak diperlukan. Salah satu komponen tersebut adalah metode.
Fungsi metode pembelajaran adalah salah satu alat untuk mencapai tujuan. Dengan
memanfaatkan metode secara akurat guru akan mampu mencapai tujuan pembelajaran.
Ketika tujuan dirumuskan agar anak didik memiliki keterampilan tertentu, maka
metode yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan.
3. Macam-macam metode dalam pembelajaran
a. Metode ceramah
Metode ceramah adalah metode penyampaian bahan pelajaran secara lisan.
Metode ini banyak dipilih guru karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan
alat bantu khusus serta tidak perlu merancang kegiatan siswa. Dalam pembelajaran
yang menggunakan metode ceramah terdapat unsur paksaan. Dalam hal ini siswa hanya
diharuskan melihat dan mendengar serta mencatat tanpa komentar informasi penting
dari guru yang selalu dianggap benar itu. Padahal dalam diri siswa terdapat mekanisme

psikologis yang memungkinkannya untuk menolak disamping menerima informasi dari


guru. Inilah yang disebut kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan diri.
Metode ceramah cocok digunakan untuk :
Penyampaian sejumlah fakta yang sumbernya tidak ada pada siswa.
Penyampaian sejumlah fakta pada siswa yang besar sehingga tidak mungkin bentuk

lain (sekitar 75 orang).


Penyampaian kesimpulan tertentu yang sebelumnya telah dipelajari.
Metode ceramah akan berhasil baik jika :
Guru merupakan pembicara yang bersemangat
Guru menggunakan alat bantu seperti gambar, tulisan, peta, dan papan tulis atau
OHP untuk menerangkan secara ringkas inti ceramahnya

b. Metode demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu
proses kejadian. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alatalat bantu pembelajaran seperti benda-benda miniatur, gambar, perangkat alat-alat
laboratorium dan lain-lain. Akan tetapi, alat demonstrasi yang paling pokok adalah
papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi proses. Dengan
menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat menggambarkan objek, membuat
skema, membuat hitungan fisika, dan lain-lain peragaan konsep serta fakta yang
memungkinkan.
Langkah-langkah metode demonstrasi :
1) Merumuskan tujuan yang jelas dari sudut kecakapan atau kegiatan yang diharapkan
dapat dicapai dan dilaksanakan oleh siswa sendiri sesudah demonstrasi berakhir
2) Menyelidiki keefektifan penggunaan metode ini untuk mencapai tujuan
3) Menetapkan garis-garis besar setiap langkah suatu demonstrasi untuk dicobakan
guna menambah hal-hal yang masih kurang atau terlupakan
4) Memperhitungkan jumlah waktu yang diperlukan dengan perimbangan memberikan
kesempatan pada siswa mengajukan pertanyaan dan membuat pertanyaan
5) Menetapkan rencana guru sesudah eksperimen berakhir untuk menilai hasil
pembelajaran
c. Metode kelompok
Metode kelompok merupakan salah satu metode pembelajaran yang memiliki
kadar CBSA yang tinggi. Metode kelompok menuntut persiapan yang jauh berbeda bila
dibandingkan dengan format pembelajaran ekspositorik. Bagi mereka yang sudah
terbiasa dengan strategi ekspositorik, memerlukan waktu untuk berlatih menggunakan
metode kelompok.

Berpijak pada pengertian metode kelompok di atas, maka metode kelompok dapat
diartikan sebagai format pembelajaran yang menitikberatkan kepada interaksi antara
anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelompok guna
menyelesaikan tugas-tugas belajar secara bersama-sama.
Pengertian metode kelompok yang demikian membawa konsekuensi kepada
setiap guru yang akan menggunakannya. Konsekuensi tersebut adalah guru harus
benar-benar yakin bahwa topik yang dibicarakan layak untuk digunakan dalam metode
kelompok. Tugas yang diberikan kepada kelompok hendaknya dirumuskan secara jelas.
Dalam pemakaian metoda kelompok, tugas yang diberikan dapat sama untuk setiap
kelompok (tugas paralel) atau berbeda-beda tetapi saling mengisi untuk setiap
kelompok (tugas komplementer).
Metode kelompok digunakan dalam proses belajar-mengajar dengan tujuan :
1) Memupuk kemauan dan kemampuan kerjasama diantara para siswa
2) Meningkatkan keterlibatan sosio-emosional dan intelektual para siswa dalam proses
belajar-mengajar yang diselenggarakan
3) Meningkatkan perhatian terhadap proses dan hasil dari proses belajar-mengajar
secara berimbang.
Dalam penerapan metode kelompok, guru dituntut untuk memiliki keterampilan
melakukan pengelompokkan terhadap para siswanya. Ada berbagai jenis cara
pengelompokkan yang dapat dilaksanakan oleh guru, cara-cara tersebut adalah :
1) Pengelompokkan didasarkan atas ketersediaan fasilitas
Suatu pengelompokan yang dilakukan karena fasilitas belajar yang tersedia tidak
sebanding dengan jumlah yang membutuhkan. Untuk kepentingan praktis, kelompok
dibagi berdasarkan jumlah fasilitas yang tersedia.
2) Pengelompokan atas dasar perbedaan individual dalam minat belajar
Pengelompokan ini dilaksanakan apabila untuk kepentingan perkembangan setiap
siswa, dianggap perlu untuk lebih banyak memberikan kesempatan mengembangkan
minat masing-masing.
3) Pengelompokan didasarkan atas perbedaan individual dalam kemampuan belajar.
Sedangkan guru pada tahapan ini melakukan pengamatan, memberikan saran bila
diperlukan, dan melaksanakan penilaian kelompok yang sedang bekerja.
d. Metode diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan penyajian
materi melalui pemecahan masalah, atau analisis sistem produk teknologi yang
pemecahannya sangat terbuka. Suatu diskusi dinilai menunjang keaktifan siswa bila
diskusi itu melibatkan semua anggota diskusi dan menghasilkan suatu pemecahan
masalah. Jika metode ini dikelola dengan baik, antusiasme siswa untuk terlibat dalam

forum ini sangat tinggi. Tata caranya adalah harus ada pimpinan diskusi, topik yang
menjadi bahan diskusi harus jelas dan menarik, peserta diskusi dapat menerima dan
memberi, dan suasana diskusi tanpa tekanan.
Metode diskusi merupakan salah satu metode pembelajaran yang dilakukan oleh
guru dalam kegiatan pembelajaran dengan memberikan siswa suatu permasalahan
untuk diselesaikan bersama-sama. Sehingga akan terjadi interaksi antara dua atau lebih
siswa untuk saling bertukar pendapat, informasi, maupun pengalaman masing-masing
dalam memecahkan permasalahan yang diberikan oleh guru. Dengan demikian
diharapkan tidak akan ada siswa yang pasif.
Tujuan penggunaan metode diskusi dalam kegiatan pembelajaran seperti yang
diungkapkan Killen (1998) adalah : Tujuan utama metode ini adalah untuk
memecahakan suatau permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami
pengatahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan (Wina Sanjaya, 2006)\
Metode diskusi sangat tepat digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa
dalam bekerjasama untuk memecahkan masalah serta melatih siswa untuk
mengeluarkan pendapat secara lisan. Dalam pembelajaran fisika metode diskusi sangat
tepat digunakan pada materi-materi yang menantang untuk sama-sama dipecahkan.
Adapun dalam pelaksanaan metode diskusi, guru harus benar-benar mampu
mengorganisasikan siswa sehingga diskusi dapat berjalan seperti yang diharapkan.
Menurut Bridges (1979) dalam pelaksanaan metode diskusi, guru harus mengatur
kondisi yang memungkinkan agar :
Setiap siswa dapat berbicara mengeluarkan gagasan dan pendapatnya.
Setiap siswa harus saling mendengar pendapat orang lain.
Setiap harus dapat mengumpulkan atau mencatat ide-ide yang dianggap penting.
Melalui diskusi setiap siswa harus dapat mengembangkan pengatahuannya serta
memahami isu-isu yang dibicarakan dalam diskusi.
e. Metode simulasi
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat
seakan-akan. Sebagai metode pembelajaran, simulasi dapat diartikan cara penyajian
pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang
konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu. Simulasi dapat digunakan sebagai metode
pembelajaran dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara
langsung pada objek yang sebenarnya. Gladi resik merupakan salah satu contoh
simulasi, yakni memperagakan proses terjadinya suatu upacara tertentu sebagai latihan
untuk upacara sebenarnya supaya tidak gagal dalam waktunya nanti. Demikian juga

untuk mengembangkan pemahaman dan penghayatan terhadap suatu peristiwa,


penggunaan simulasi akan sangat bermanfaat.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Matriks perbedaan pendekatan pembelajaran


NO
1

Pendekatan
Pendekatan saintifik

Pengertian
proses pembelajaran yang

Karakteristik
Berpusat pada siswa

dirancang sedemikian rupa


agar peserta didik secara
2

Pendekatan proses

aktif mengonstruk konsep


pendekatan pengajaran yang

Berorientasi pada proses

memberikan kesempatan

bukan hasil

kepada siswa untuk


menghayati proses
penemuan atau penyusunan
suatu konsep sebagai suatu
3

Pendekatan kontekstual

Pendekatan konstruktivisme

keterampilan proses.
sebuah proses pembelajaran

pelajaran sesuai konteks

yang bersifat menyeluruh

kehidupan mereka

atau holistik.
pendekatan dalam

sehari-hari
mengutamakan

pembelajaran yang lebih

pengalaman langsung

menekankan pada tingkat

dan keterlibatan siswa

kreatifitas siswa dalam

dalam kegiatan

menyalurkan ide-ide baru

pembelajaran

yang dapat diperlukan bagi


pengembangan diri siswa
yang didasarkan pada
5

Pendekatan Sains,

pengetahuan
gabungan antara pendekatan

peserta didik menyusun

Teknologi, dan Masyarakat

konsep, keterampilan

sendiri konsep-konsep

proses, Inkuiri dan diskoveri

di dalam struktur

serta pendekatan lingkungan

kognitifnya

B. Matriks perbedaan model-model pembelajaran


No
1

Model
Pengertian
Model lesson suatu proses dalam

Sintak model
1. Sejumlah guru bekerjasama

study

dalam suatu kelompok


2. Salah satu guru dalam

mengembangkan
profesionalitas guru-guru di

kelompok tersebut melakukan

Jepang dengan jalan

tahap
3. Guru yang telah membuat

menyelidiki/ menguji
praktik mengajar mereka

rencana pembelajaran pada (2)

agar menjadi lebih efektif

kemudian mengajar di kelas


sesungguhnya.
4. Guru-guru lain mengamati
proses pembelajaran sambil
mencocokkan rencana
pembelajaran yang telah dibuat.
Berarti tahap observasi terlalui.
5. Semua guru dalam kelompok
termasuk guru yang telah
mengajar kemudian bersamasama mendiskusikan
pengamatan mereka terhadap
pembelajaran yang telah

Model

berlangsung.
6. diimplementasikan pada kelas
model belajar dimana siswa 1) Guru membagi siswa untuk

Cooperative

bekerja

Script

secara lisan mengikhtisarkan 2) Guru membagikan

berpasangan

dan

berpasangan.

bagian-bagian dari materi

wacana/materi tiap siswa untuk

yang dipelajari

dibaca dan membuat ringkasan.


3) Guru dan siswa menetapkan
siapa yang pertama berperan
sebagai pembicara dan siapa
yang berperan sebagai
pendengar.
4) Pembicara membacakan

ringkasannya selengkap
mungkin, dengan memasukkan
ide-ide pokok dalam
ringkasannya.
5) Bertukar peran, semula sebagai
pembicara ditukar menjadi
pendengar dan sebaliknya, serta
lakukan seperti di atas.
6) Kesimpulan guru.
7) Penutup.
3

Model Student Siswa dikelompokkan secara 1) Membentuk kelompok yang


Teams-

heterogen kemudian siswa

anggotanya 4 orang secara

Achievement

yang pandai menjelaskan

heterogen (campuran menurut

Divisions

anggota lain sampai

prestasi, jenis kelamin, suku,

(STAD)

mengerti

dan lain lain).


2) Guru menyajikan pelajaran.
3) Guru memberi tugas kepada
kelompok untuk dikerjakan oleh
anggota kelompok. Anggota
yang tahu menjelaskan kepada
anggota lainnya sampai semua
anggota dalam kelompok itu
mengerti.
4) Guru memberi kuis/pertanyaan
kepada seluruh siswa. Pada saat
menjawab kuis tidak boleh
saling membantu.
5) Memberi evaluasi.

Model Explicit

mengembangkan belajar

Instruction

siswa tentang pengetahuan

(Pembelajaran

prosedural dan pengetahuan

Langsung)

deklaratif yang dapat

6) Penutup.
1) Menyampaikan tujuan dan
mempersiapkan siswa.
2) Mendemonstrasikan
pengetahuan dan ketrampilan.

diajarkan dengan pola

3) Membimbing pelatihan.

selangkah demi selangkah

4) Mengecek pemahaman dan


memberikan umpan balik.
5) Memberikan kesempatan untuk

Cooperative

siswa dibentuk kelompok

Integrated

untuk memberikan

Reading

latihan lanjutan
1. Membentuk kelompok yang
anggotanya 4 orang yang secara

and tanggapan terhadap wacana/

Composition

kliping

heterogen.
2. Guru memberikan

(CIRC)

wacana/kliping sesuai dengan


topik pembelajaran.
3. Siswa bekerjasama saling
membacakan dan menemukan
ide pokok dan memberi
tanggapan terhadap
wacana/kliping dan ditulis pada
lembar kertas.
4. Mempresentasikan/membacaka
n hasil kelompok.
5. Guru membuat kesimpulan
bersama.

Problem based suatu model pembelajaran


learning

yang melibatkan siswa


untuk memecahkan masalah
melalui tahap-tahap metode
ilmiah

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Merumuskan Masalah
Menganalisis Masalah
Merumuskan Hipotesis
Mengumpulkan
Data
Pengujian Hipotesis
Merumuskan Rekomendasi
Pemecahan masalah

Project Based model pembelajaran yang 1.Penentuan pertanyaan mendasar.


Learning

menggunakan
proyek/kegiatan
media

2.Mendesain perencanaan proyek


3.Menyusun jadwal
sebagai 4.Memonitor peserta didik dan
kemajuan proyek
5.Menguji hasil
6.Mengevaluasi pengalaman

Problem Based
Project Based
Learning
Learning
Pengertian
Prosedur mengajar
Rangkaian
Suatu model
Model
yang
kegiatan
pengajaran dengan
pembelajaran
mementingkan
pembelajaran
pendekatan
yang melibatkan
pengajaran
yang menekankan pembelajaran siswa
suatu proyek
perseorangan,
pada proses
pada masalah
dalam proses
manipulasi obyek
berpikir secara
autentik. Masalah
pembelajaran
dan lain-lain,
kritis dan analisis autentik dapat
sebelum
untuk mencari
diartikan sebagai
sampai kepada
dan menemukan
suatu masalah yang
generalisasi.
sendiri jawaban
sering ditemukan
dari suatu
siswa dalam
masalah yang
kehidupan seharidipertanyakan.
hari.
Kelebihan 1.Mampu membantu 1.Pembelajaran
1.Mengembangkan
1. Meningkatkan
siswa untuk
yang
pemikiran kritis
motivasi belajar
mengembangkan,
menekankan
dan keterampilan
peserta didik
memperbanyak
kepada
kreatif
untuk belajar,
kesiapan, serta
pengembangana 2.Meningkatkan
mendorong
penguasaan
spek kognitif,
kemampuan
kemampuan
keterampilan
afektif, dan
memecahkan
mereka untuk
dalam proses
psikomotor
masalah
melakukan
kognitif
secara
3.Meningkatkan
pekerjaan
2.mendalam
seimbang.
motivasi siswa
penting, dan
tertinggal dalam 2.Dapat
dalam belajar
mereka perlu
jiwa siswa
memberikan
4.Membantu siswa
untuk dihargai.
tersebut,
ruang kepada
belajar untuk
2. Meningkatkan
3.Siswa memperoleh
siswa untuk
mentransfer
kemampuan
pengetahuan
belajar sesuai
pengetahuan
pemecahan
yang bersifat
dengan gaya
dengan situasi baru
masalah.
sangat
belajar peserta 5.Dapat mendorong 3. Membuat peserta
pribadi/individual
didik.
siswa/mahasiswa
didik menjadi
sehingga dapat 3.Sesuai dengan
mempunyai
lebih aktif dan
kokoh/mendalam
perkembangn
inisiatif untuk
berhasil
tertinggal dalam
psikologi
belajar secara
memecahkan
jiwa siswa
modern
mandiri
problemtersebut
6.Mendorong
problem yang
kreativitas siswa
kompleks.
4.Dapat
dalam
4. Meningkatkan
membangkitkan
pengungkapan
kolaborasi.
kegairahan
penyelidikan
5. Mendorong
belajar para
masalah yang telah
peserta didik
siswa.
ia lakukan
untuk
5.Teknik ini mampu
7.Dengan PBM akan
mengembangka
memberikan
terjadi
n dan
kesempatan
pembelajaran
mempraktikkan
kepada siswa
bermakna.
keterampilan
untuk
8.Dalam situasi PBM,
komunikasi.
berkembang dan
siswa
6. Meningkatkan
maju sesuai
mengintegrasikan
keterampilan
dengan
pengetahuan dan
peserta
kemampuannya
ketrampilan secara
didikdalam
masing-masing.
simultan dan
mengelola
mengaplikasikanny
Pembeda

Discovery

Inquiry

Pembeda

Discovery

Inquiry

6.Mampu
mengarahkan
cara siswa
belajar, sehingga
lebih memiliki
motivasi yang
kuat untuk
belajar lebih giat.

Kekuranga 1.Siswa harus ada


1.Sulit mengotrol
n
kesiapan dan
kegiatan dan
kematangan
keberhasilan
mental untuk cara
siswa.
belajar ini.
2.Sulit
2.Siswa harus berani
merencanakan
dan berkeinginan
pembelajaran
untuk mengetahui
oleh
keadaan
karenaterbentur
sekitarnya
dengan
dengan baik.
kebiasaan siswa
3.Bila kelas terlalu
dalambelajar.
besar penggunaan 3.Memerlukan
teknik ini akan
waktu yang
kurang berhasil.
panjang untuk
4.Bagi guru dan
mengimplement
siswa yang sudah
asikannya
biasa dengan
perencanaan dan
pengajaran
tradisional
mungkin akan

Problem Based
Project Based
Learning
Learning
a dalam konteks
sumber.
yang relevan.
7. Memberikan
9.PBM dapat
pengalaman
meningkatkan
kepada peserta
kemampuan
didik
berpikir kritis,
pembelajaran
menumbuhkan
dan praktik
inisiatif
dalam
siswa/mahasiswa
mengorganisasi
dalam bekerja,
proyek, dan
motivasi internal
membuat
untuk belajar, dan
alokasi waktu
dapat
dan sumbermengembangkan
sumber lain
hubungan
seperti
interpersonal
perlengkapan
dalam bekerja
untuk
kelompok.
menyelesaikan
tugas.
8. Menyediakan
pengalaman
belajar yang
melibatkan
peserta didik
secara
kompleks dan
dirancang untuk
berkembang
sesuai dunia
nyata.
1. Kurang
1.Memerlukan
terbiasanya
banyak waktu
peserta didik dan
untuk
pengajar dengan
menyelesaikan
model ini.
masalah.
2. Peserta didik dan 2.Membutuhkan
pengajar masih
biaya yang
terbawa
cukup banyak
kebiasaan metode 3.Banyak instruktur
konvensional,
yang merasa
pemberian materi
nyaman dengan
terjadi secara satu
kelas
arah.
tradisional, di
4. Kurangnya waktu
mana instruktur
pembelajaran.
memegang
5. Proses PBM
peran utama di
terkadang
kelas.
membutuhkan
4.Banyaknya
waktu yang lebih
peralatan yang
banyak.
harus
6. Peserta didik
disediakan.
terkadang
5.Peserta didik

Pembeda

Discovery
sangat kecewa
bila diganti
dengan teknik
penemuan.
5.Dengan teknik ini
ada yang
berpendapat
bahwa proses
mental ini terlalu
mementingkan
proses pengertian
saja ,
6.Kurang
memperhatikan
perkembangan
atau
pembentukan
sikap dan
keterampilan bagi
siswa.
7. .

Sintak

1.Orientasi
2.Identifikasi
Masalah
3.Observasi
4.Pengumpulan Data
5.Pengolahan Data
Dan Analisis
6.Verifikasi
7. Generalisasi

Problem Based
Learning
memerlukan
waktu untuk
menghadapi
persoalan yang
diberikan.
4. Siswa tidak dapat
benar-benar tahu
apa yang
mungkin penting
bagi mereka
untuk belajar,
terutama di
daerah yang
mereka tidak
memiliki
pengalaman
sebelumnya.
7. Seorang guru
mengadopsi
pendekatan PBL
mungkin tidak
dapat untuk
menutup sebagai
bahan sebanyak
kursus kuliah
berbasis
konvensional.
8. PBL bisa sangat
menantang untuk
melaksanakan,
karena
membutuhkan
banyak
perencanaan dan
kerja keras bagi
guru.
Orientasi
8. Merumuskan
Merumukan
Masalah
Masalah
9. Menganalisis
Menyimpulka
Masalah
n Hipotesis
10. Merumuskan
Mengumpulka
Hipotesis
n Data
11. Mengumpulkan
Menguji
12. Data
Hipotesis
13. Pengujian
Kesimpulan
Hipotesis
14. Merumuskan
Rekomendasi
Pemecahan
masalah
Inquiry

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Project Based
Learning
yang memiliki
kelemahan
dalam
percobaan dan
pengumpulan
informasi akan
mengalami
kesulitan.
6.Ada
kemungkinanpe
serta didikyang
kurang aktif
dalam kerja
kelompok.
7.Ketika topik yang
diberikan
kepada masingmasing
kelompok
berbeda,
dikhawatirkan
peserta didik
tidak bisa
memahami
topik secara
keseluruhan

7.Penentuan
pertanyaan
mendasar.
8.Mendesain
perencanaan
proyek
9.Menyusun jadwal
10. Memonitor
peserta didik
dan kemajuan
proyek
11. Menguji hasil
12. Mengevaluasi
pengalaman

C. Matriks perbedaan metode-metode pembeajaran


Sebagai metode pembelajaran, tentu dalam pelaksanaannya metode-metode
tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dan kelemahan tersebut dapat
dilihat pada matriks berikut:
No
.
1.

Metode
Pembelajaran
Metode
Ceramah

2.

Metode
Diskusi

3.

Metode
Kelompok

Kelebihan

Kelemahan

Guru mudah menguasai

kelas
Mudah mengorganisasikan

tempat duduk/kelas.
Dapat diikuti oleh jumlah
siswa yang besar
Mudah mempersiapkan

dan melaksanakannya
Guru mudah menerangkan
pelajaran dengan baik

Siswa memperoleh
kesempatan untuk
berpikir.
Siswa mendapat pelatihan
mengeluarkan pendapat,
sikap dan aspirasinya
secara bebas.

Memperbaiki perbedaan
individual siswa dalam
bidang kemampuan
belajar atau minat
Memberikan kesempatan
pada siswa utnuk

Mudah terjadi
verbalisme (pengertian
kata-kata)
Yang visual menjadi
rugi, yang auditif
(mendengar) yang besar
menerimanya
Bila selalu digunakan
dan terlalu lama,
membosankan
Guru menyimpulkan
bahwa siswa mengerti
dan tertarik pada
ceramahnya, ini sukar
sekali.
Diskusi terlalu
menyerap waktu
Pada umumnya siswa
tidak terlatih untuk
melakukan diskusi dan
menggunakan waktu
diskusi dengan baik,
maka kecenderungannya
mereka tidak sanggup
berdiskusi
Kadang-kadang guru
tidak sanggup
memahami cara-cara
melaksanakan diskusi,
maka kecenderungannya
diskusi tanya jawab
Metode kelompok
memerlukan persiapanpersiapan yang agak
rumit apabila
dibandingkan dengan
metode yang lain,

No
.

Metode
Pembelajaran

Kelebihan

berperan serta secara


aktif
Memberikan pengalaman
mengorganisasi atau
mengelola pengetahuan
yang telah dimiliki untuk
pemecahan suatu

masalah kelompok

4.

Metode
Demonstrasi

Perhatian siswa dapat

dipusatkan kepada halhal yang dianggap


penting oleh guru
sehingga hal yang
penting itu dapat diamati.
Dapat membimbing murid

ke arah berpikir yang


sama dalam satu saluran
pikiran yang sama
Ekonomis dalam jam
pelajaran di sekolah dan

ekonomis dalam waktu


yang panjang dapat
diperlihatkan melalui
demonstrasi dengan
waktu yang pendek
Dapat mengurangi
kesalaham-kesalahan bila
dibandingkan dengan
hanya membaca atau
mendengarkan, karena
murid mendapatkan
gambaran yang jelas ari
hasil pengamatannya
Karena gerakan dan proses
dipertunjukkan maka
tidak memerlukan
keterangan-keterangan
yang banyak
Beberapa persoalan yang

Kelemahan

misalnya metode
ceramah.
Apabila terjadi
persaingan yang negatif,
hasil pekerjaan akan
lebih memburuk.
Bagi anak-anak yang
malas ada kesempatan
untuk tetap pasif dalam
kelompok itu dan
kemungkinan besar akan
mempengaruhi
kelompok itu, sehingga
usaha kelompok itu
akan gagal.
Metode ini memerlukan
keterampilan guru
secara khusus, karena
tanpa ditunjang dengan
hal itu, pelaksanaan
demonstrasi akan tidak
efektif
Fasilitas seperti
peralatan, tempat, dan
biaya yang memadai
tidak selalu tersedia
dengan baik
Demonstrasi
memerlukan kesiapan
dan perencanaan yang
matang di samping
memerlukan waktu yang
cukup panjang, yang
mungkin terpaksa
mengambil waktu atau
jam pelajaran lain

No
.

5.

Metode
Pembelajaran

Metode
Simulasi

Kelebihan

menimbulkan pertanyaan
atau keraguan dapat
diperjelas waktu proses
demonstrasi.
Simulasi dapat dijadikan

sebagai bekal bagi siswa


dalam menghadapi
situasi yang sebenarnya
kelak, baik dalam
kehidupan keluarga,

masyarakat, maupun
menghadapi dunia kerja.
Simulasi dapat
mengembangkan
kreativitas siswa, karena
melalui simulasi siswa
diberi kesempatan untuk
memainkan peranan
sesuai dengan topic yang
disimulasikan.
Simulasi dapat memupuk
keberanian dan percaya
diri siswa.
Memperkaya pengetahuan,
sikap, dan keterampilan
yang diperlukan dalam
menghadapi berbagai
situasi sosial yang
problematis.
Simulasi dapat
meningkatkan gairah
siswa dalam proses
permbelajaran.

Kelemahan

Pengalaman yang
diperoleh melalui
simulasi tidak selalu
tepat dan sesuai dengan
kenyataan di lapangan.
Pengelolaan yang
kurang baik, sering
simulasi dijadikan
sebagai alat hiburan,
sehingga tujuan
pembelajaran menjadi
terabaikan.
Faktor psikologis seperti
rasa malu dan takut
sering memengaruhi
siswa dalam melakukan
simulasi.

DAFTAR PUSTAKA
Academia. 2013.Definisi Pembelajaran Scientific Di Kurikulum 2013.
http://www.academia.edu/7941522/Definisi_Pembelajaran_Saintific_Kurikulum_2013
diakses September 2015
Akhmad sudrajat. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik dan
Model Pembelajaran. https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatanstrategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/ diakses September 2015
Dadang Jsn. 2014. Pengertian/Definisi Pendekatan Saintifik, Prinsip Pembelajaran Dan
Langkah-Langkah Pembelajaran Dengan Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013.
http://www.salamedukasi.com/2014/06/pengertiandefinisi-pendekatan-saintifik.html
diakses September 2015
Muhammad Faiq. 2015. Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Sekolah untuk Guru
dan Mahasiswa Calon Guru.
http://penelitiantindakankelas.blogspot.co.id/2015/01/pendekatan-kontekstual.html
diakses September 2015
Nasution. S. 2005. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi
Aksara.
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar . Jakarta: PT
Rineka Cipta
Syaiful Sagala. 2005. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Wina Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Media Prenada.