Anda di halaman 1dari 5

SINOPSIS

Menjadi dalang adalah suatu kebanggaan


Ada tontonan yang menjadi tuntunan
didalamnya
Jangan hanya bangga menjadi petinggi
Negeri
Tapi banggalah dengan bisa menjunjung
tinggi budaya Negeri ini

DALANG
Menjadi dalang adalah suatu kebanggaan
Ada tontonan yang menjadi tuntunan didalamnya
Jangan hanya bangga menjadi petinggi Negeri
Tapi banggalah dengan bisa menjunjung tinggi budaya Negeri ini
Tampak ruang tamu seorang dalang yang sederhana dengan kursi dan tempat
bermain dengan wayangnya. Bapak memainkan wayang dengan senandung
tembang yang dilatunkan Galuh anak perempuan pak Samidi, nampak ibu
yang melipat pakaian di sudut lain ruang tamu.
Bapak

: Bagaimana Bu? Apakah Ibu sudah berbicara dengan Satrio tentang apa
yang kemarin sudah kita bicarakan?

Ibu

: Sudah, Pak.

Bapak

: Terus, apa jawaban Satrio?

Ibu

: Sepertinya Satrio tidak tertarik. Dia lebih suka pekerjaan yang lain yang
lebih modern, seperti teman-temannya itu, Pak.

Bapak

: Tidak bisa seperti itu, menjadi dalang bukan hanya sekedar profesi tapi
bagaimana kita menjaga budaya kita. Bagaimanapun juga saya tetap
berharap punya penerus.

Ibu

: Ya, itu yang Bapak inginkan. Tapi, kalau Satrio sendiri tidak mau, kita
juga tidak bisa memaksa.

Bapak

: Kalau semua generasi muda seperti itu, lalu siapa lagi yang mau nguri-uri
budaya kita? Semua akan berkiblat pada dunia modern.

Ibu

:Wis embuh lah Pak. Lebih baik Bapak sendiri yang bilang pada Satrio.

Dari balik pintu nampak Satrio yang baru saja pulang dengan wajah letih.
Masuk dan meneguk segelas air.
Ibu

: Sudah pulang to Cung.

Satrio

: Iya Bu. Tadi dijalan saya bertemu pak Yusuf, manajer bank itu lho Bu!
Mobilnya bagus, rumahnya juga segede istana. Suatu saat nanti saya juga
ingin seperti itu. Memakai jas, berdasi, bawa tas, naik mobil bagus. Pasti
perempuan-perempuan cantik langsung nempel saya.

Ibu

: Walah cung cung! Mbok yo jangan banyak ngayal!

Bapak

: Satrio!

Satrio

: Dalem, Pak.

Bapak

: Jaman sekarang sangat sedikit orang yang mengerti budaya kita yang adi
luhung. Bahkan, anak muda jaman sekarang sudah tidak tahu budayanya
sendiri, seperti wayang ini (sambing pegang wayang dan menunjukkan
kepada satrio). Wayang ini hanya akan menjadi sebatas pajangan saja jika
tidak dimainkan. Bapakmu ini belajar dalang sejak kecil dan sekarang
bapak ingin kamu mewarisinya.

Satrio

: Maaf pak, Satrio tidak mau menjadi dalang.

Bapak

: Menjadi Dalang tidak hanya sekedar profesi, tapi bagaimana kita belajar
tentang budaya dan menjaga budaya itu sendiri.

Satrio

: Wah, kuno pak! Ketinggalan jaman! Apa nanti kata teman-temanku kalau
mereka tahu saya menjadi dalang seperti Bapak

Bapak

: Lalu apa lagi yang kamu inginkan main tidak jelas, grudak gruduk sama
teman temanmu itu

Satrio

: Lebih baik saya sekolah tinggi menjadi pekerja kantoran atau menjadi
pengus

Bapak

: Itulah yang merusak budaya luhur kita. Anak- anak muda begitu bangga
dengan segala hal yang kebarat-baratan dan mejauhi budayanya sendiri.

Satrio

: Bapak selalu bilang budaya, budaya dan budaya. Pokoknya saya tidak
mau menjadi dalang seperti Bapak.

Bapak masuk ke dalam kamar dengan wajah kecewa.


Galuh

: Mas Satrio, Galuh tahu Mas tidak mau menjadi dalang seperti Bapak.
Tapi, mas juga jangan bicara keras seperti itu dengan bapak!

Satrio

: Bapak itu pikiranya sudah kuno, Dhik! Ketinggalan jaman!

Galuh

: Mas, bukan masalah kuno atau ketinggalan jaman. Bapak hanya ingin
mengajarkan kepada kita tentang arti menghargai budaya dan kesenian
kita. Buktinya, meski sekarang saya masih sekolah dan punya cita-cita
seperti halnya mas Satrio, tapi saya tetap senang dan mau menjadi sinden.
Dan, saya bangga dengan itu! Dengan menjadi seorang dalang, mas Satrio
masih bisa melakukan banyak hal lain.

Satrio

: Sudahlah. Coba kamu pikirkan apa kata teman temanku nanti? Satrio jadi
Dalang!

Galuh

: (sambil tertawa) Walah mas mas, apa kamu tidak bangga suatu saat nanti
kamu dikenal sebagai dalang yang terkenal? Ki Satrio!

Satrio

: Kamu itu pikiran sama kunonya dengan bapak, pokoknya saya tetap
tidak mau seperti Bapak, lebih baik saya pergi dari rumah ini

Galuh

: Mas, mas Satrio mau kemana mas, pak buk, Mas satrio pergi dari rumah
buk, mbok yo jangan pergi tho mas!

Bapak dan ibu menghampiri galuh memandang satrio pergi meninggalkan


rumah
Ibu

: Ada apa ndok

Galuh

: Mas Satrio pergi meninggalkan rumah bu

Ibu

: Cung anakku kenapa kamu pergi meninggalkan rumah init ho cong

Bapak

: Sudahlah bu, anak itu tidak usah ditangisi biarkan saja pergi dengan
teman temanya yang tidak jelas itu!

Setting panggung berubah menggambarkan sudut jalan dengan warung kopi


Agus

: Lek karto sudah tahu kabar atau belum?

Lek Karto

: kabar apa to gus?

Agus

: itu lho lek,si satrio putrane pak dalang samidi. sekarang itu minggat
dari rumahnya

Lek Karto

: walah memangnya kenapa to gus kok sampai minggat?

Agus

: kalau dengar kabar sih pak dalang samidi hanya menginginkan satrio
meneruskan beliau menjadi dalang lek,tapi satrio malah bicara keras
sama bapaknya

Lek Karto

: walah kasihan sekali ya gus pak samidi,punya anak kok tidak mau
meneruskan profesinya sebagai

dalang,padahal itukan bagus to

gus,tidak semua orang bisa jadi dalang


Agus

: iya ya kasihan pak dalang samidi,padahal beliau selalu dihormati


dan disegani dilingkungan ini. tapi anaknya malah mempermalukan
beliau dengan minggat dari rumah

Lek Karto

: Saya dengar kabar sekarang pak dalang samidi jarang keluar


rumah,mungkin malu dengan kelakuan anaknya,kemarin saja satrio
juga ikut tawuran di acara musik band atau apa itu lho gus

Agus

: wahh,kasihan sekali pak dalang samidi,beliau selalu menjadi contoj


tokoh teladan dimasyarakat,malah anaknya sendiri yang moralnya
rusak

Lek Karto

: kemarin pak dalang samidi juga sempat sakit

Agus

: walah lek,paling ya mikir anaknya itu

disudut lain tampak satrio mendengarkan pembicaraan orang itu


Satrio

: Pak maafkan satrio sudah membuat bapak kecewa

Bapak

: Akhirnya kamu pulang juga ke rumah ini

Satrio

: Sekarang saya tau apa yang sebenarnya bapak inginkan. bapak ingin
saya bisa menjaga kesenian wayang ini,untuk menyampaikan pesan
moral kepada setiap masyarakat yang melihatnya.Seperti halnya
bapak yang selalu menberi pesan dan nasehat pada setiap orang
dengan wayang-wayang ini,hingga setiap orang bangga dengan
bapak. bahkan seluruh masyarakat didesa ini sangat menghormati
bapak. Saya bangga menjadi putra bapak yang namanya selalu harum
disetiap pojok desa,sekarang saya ingin seperti bapak menjadi dalang
yang bisa memberikan pesan dan petuah seperti yang bapak lakukan

Bapak

: Bapak bangga sama kamu cung,dengan menjadi dalang kita bisa


memberikan pesan yang baik pada setiao orang yang melihatnya

Satrio

: Saya bangga jadi putra bapak,maafkan saya pak