Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
Gambaran masyarakat Indonesia di masa depan merupakan tujuan utama
pembangunan kesehatan yang tercantum dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN)
yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai bagian
dari peningkatan kesejahteraan secara umum.
Sistem kesehatan nasional merupakan suatu tatanan yang mencerminkan
upaya bangsa Indonesia untuk meningkatkan kemampuannya mencapai derajat
kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti yang
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945. Dalam rangka mewujudkan derajat
kesehatan

masyarakat

yang

optimal,

berbagai

upaya

kesehatan

telah

diselenggarakan. Upaya kesehatan yang semula dititikberatkan pada upaya


penyembuhan penderita secara berangsur-angsur berkembangan ke arah
keterpaduan upaya kesehatan yang menyeluruh. Oleh karena itu, pembangunan
kesehatan yang menyangkut upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan
penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan
(rehabilitatif)

harus

dilaksanakan

secara

menyeluruh,

terpadu

dan

berkesinambungan dan dilaksanakan bersama antara pemerintah dan masyarakat.


UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 mengamanatkan bahwa pelayanan
kesehatan yang bermutu dan merata harus makin ditingkatkan. Upaya memperluas
jangkauan pelayanan kesehatan kepada masyarakat telah diwujudkan dengan
dibangunnya Pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas yang tersebar diseluruh
pelosok tanah air. Dimana Puskesmas merupakan unit fungsional terdepan yang
mandiri dalam pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.
Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu
hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan
UUD 1945 pasal 28 H ayat (1) dan Undang-undang nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai investasi untuk
peningkatan kualitas sumber daya manusia dan sekaligus investasi untuk
mendukung pembangunan ekonomi dan pendidikan, serta berperan penting dalam
upaya penanggulangan kemiskinan. Oleh karenanya, pembangunan kesehatan

bukanlah tanggung jawab pemerintah saja namun merupakan tanggung jawab


bersama pemerintah dan masyarakat termasuk swasta.
Undang-undang Nomor 32 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
telah menetapkan bidang kesehatan merupakan salah satu urusan wajib yang harus
dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota. Dinas Kesehatan Provinsi Aceh memiliki visi
yaitu Aceh Sehat artinya seluruh masyarakat di Provinsi Aceh mempunyai
kesempatan dan kemandirian untuk hidup dalam lingkungan dan dengan prilaku
hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang
setinggi tingginya dan misi umum pembangunan kesehatan aceh adalah adanya
komitmen sektor kesehatan untuk menjamin pemerataan, keadilan, dan mutu
pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat di Provinsi Aceh melalui mobilisasi
sumber daya yang dimiliki, khususnya bagi masyarakat miskin dan kelompok
masyarakat yang membutuhkan penanganan kesehatan secara khusus.
Dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal,
berbagai upaya kesehatan telah diselenggarakan. Salah satu bentuk upaya
kesehatan tersebut adalah pelayanan kesehatan melalui puskesmas. Puskesmas
merupakan

pusat

pengembangan,

pembinaan,

dan

pelayanan

kesehatan

masyarakat yang juga merupakan pos terdepan dalam pembangunan kesehatan


masyarakat berfungsi melaksanakan tugas teknis dan administratif.
Puskesmas adalah suatu organisasi kesehatan fungsional yang merupakan
pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta
masyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu di
wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok dan usaha kesehatan integrasi
yang kegiatannya merupakan kegiatan lintas sektoral. Puskesmas mempunyai
wewenang dan tanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan masyarakat
diwilayah kerjanya.Adapun secara garis besar masalah yang dihadapi oleh suatu
puskesmas terdapat 2 jenis yaitu masalah internal dan eksternal. Masalah internal
dapat berupa kurangnya tenaga kesehatan, biaya operasional untuk pelayanan
masih cukup tinggi sedangkan dana yang dapat disediakan pemerintah masih
kurang, kepuasan pengguna jasa puskesmas belum optimal, kurangnya
komunikasi dan koordinasi antar bagian, bidang dan unit. Sedangkan masalah
eksternal berupa faktor sosial ekonomi dan pendidikan masyarakat sekitar
2

puskesmas serta citra dan tingkat pelayanan yang mungkin kurang begitu baik
sehingga mempengaruhi angka kunjungan secara signifikan. Pada saat ini
puskesmas telah didirikan di hampir seluruh pelosok tanah air. Untuk menjangkau
seluruh wilayah kerjanya, puskesmas diperkuat dengan puskesmas pembantu serta
puskesmas keliling.
1.2 Pengertian Puskesmas.
Puskesmas merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat
yang amat penting. Dalam sistem pelayanan kesehatan, peranan dan kedudukan
puskesmas adalah sebagai ujung tombak sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.
Ini disebabkan karena peranan dan kedudukan puskesmas di Indonesia sebagai
sarana pelayanan kesehatan terdepan, sehingga puskesmas selain bertanggung
jawab

dalam

menyelenggarakan

pelayanan

kesehatan

masyarakat

juga

bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kedokteran.


Upaya kesehatan yang diselenggarakan di puskesmas terdiri dari upaya
kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Yang termasuk kedalam
upaya kesehatan wajib adalah promosi kesehatan, kesehatan lingkungan,
kesehatan ibu dan anak dan keluarga berencana, perbaikan gizi masyarakat,
pencegahan dan pemberantasan penyakit menular serta pengobatan.
Sedangkan upaya kesehatan pengembangan adalah upaya kesehatan
yangditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di
masyarakat setempat serta disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. Upaya
kesehatan pengembangan antara lain upaya kesehatan sekolah, upaya kesehatan
olah raga, upaya kesehatan kerja, upaya kesehatan gigi dan mulut, upaya
kesehatan jiwa, upaya kesehatan mata, kesehatan usia lanjut, pembinaan
kesehatan tradisional, perawatan kesehatan masyarakat, dan sebagainya.
1.3 Fungsi Puskesmas
Puskesmas mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Sebagai pusat pengembangan kesehatan di wilayah kerjanya
2. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka
meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat.
3

3. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada


masyarakat di wilayah kerjanya.
1.4 Visi.
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah
tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat. Kecamatan
Sehat adalah gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang ingin melalui
pembangunan kesehatan, yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan
dengan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan
kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya.
1.5 Misi.
1. Menyelenggarakan upaya kesehatan esensial yang bermutu, merata dan
terjangkau sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
2. Meningkatkan status kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya dengan
membina peran serta masyarakat.
3. Perkembangan

kesehatan

masyarakat

dengan

mengembangkan

upaya

kesehatan inovatif dan pemanfaatan teknologi tepat guna.


4. Memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasikan pada kepuasan pasien
5. Membina dan meningkatkan rasa tanggung jawab, kejujuran, kesetiaan dan
solidaritas bersama.
1.6 Tujuan pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan masyarakat (public health service) adalah bagian dari
pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesehatan
dan mencegah penyakit dengan sasaran utamanya adalah masyarakat.
Tujuan pelayanan kesehatan oleh puskesmas adalah meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat diwilayah kerjanya dan mendukung tercapainya tujuan
pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja
puskesmas.
4

Tujuan profil Puskesmas Lampulo sebagai berikut:


a. Tujuan Umum
Masyarakat mengetahui gambaran Puskesmas Lampulo secara keseluruhan baik
struktur organisasi, berbagai program yang dilaksanakan serta berbagai bentuk
pelayanan kesehatan yang dilakukan.
b. Tujuan Khusus
1. Mengetahui hasil pencapaian setiap program kesehatan yang dilaksanakan
di wilayah kerja Puskesmas Lampulo selama tahun 2014.
2. Mengetahui apakah setiap program kesehatan yang telah dilaksanakan
dapat mencapai target serta indikator yang ditetapkan.
3. Mengetahui gambaran situasi kesehatan serta berbagai masalah-masalah
kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Lampulo.
1.7 Tujuan Penulisan.
Tujuan penulisan laporan ini adalah:
1.

Merupakan pertanggungjawaban dan melengkapi tugas Kepaniteraan


Klinik Senior pada bagian family medicine.

2.

Melatih diri untuk mendapat pengalaman bila menjadi dokter yang


bertugas sebagai calon pemimpin di tingkat kecamatan yaitu puskesmas.

3.

Mengetahui secara aktual dan jelas kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di


puskesmas.

BAB II
GAMBARAN UMUM WILAYAH KERJA PUSKESMAS
2.1. Geografi dan Demografi.
UPTD Puskesmas Lampulo berada di Kecamatan Kuta Alam, Secara
geografis Kecamatan Kuta Alam berada 0,8 meter diatas permukaan laut dengan
ibukota Kecamatan adalah Kelurahan Bandar Baru. Luas wilayah Kecamatan
Kuta Alam 1020,45 hektar terdiri dari 5 (lima) gampong, dengan batas-batas
wilayah :
-

Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kuta Raja.

Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Syiah Kuala.

Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka.

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Baiturrahman.

UPTD Puskesmas Lampulo merupakan puskesmas induk yang berada di


Kecamatan Kuta Alam selain dari Puskesmas Kuta Alam. Puskesmas Lampulo
dibangun pada tahun 2006 yang terletak di Komplek Perikanan Gampong
Lampulo yang berjarak lebih kurang 5 km dari pusat Kota Banda Aceh . Wilayah
kerja Puskesmas Lampulo terdiri dari 5 (lima) desa , dengan luas wilayah sebesar
685.45 Ha.

GRAFIK 1 LUAS WILAYAH KECAMATAN KUTA ALAM TAHUN 2014 (Sumber: Kecamatan
Kuta AlamTahun 2014)

Jumlah penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Lampulo sumber data BPS


tahun 2014 adalah 20.831 jiwa yang terdiri dari laki-laki 10.958 jiwa dan
perempuan 9.873 jiwa. (Data BPS Juni 2014) dengan rata-rata sekitar 4 jiwa per
rumah tangga.
6

Grafik 2 Jumlah Penduduk di Wilayah Puskesmas Lampulo Kecamatan Kuta Alam Tahun 2014
(Sumber: BPS 2014).

2.2. Organisasi dan Jenis Ketenagaan.


Struktur organisasi Puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban tugas
masing-masing Puskesmas.
1. Kepala Puskesmas.
2. Unit Tata Usaha yang bertanggung jawab membantu kepala puskesmas dalam
pengelolaan :
a) Data dan informasi
b) Perlengkapan.
c) Umum dan kepegawaian.
3. Unit Pelaksana Teknis Fungsional Puskesmas :
a) Upaya kesehatan masyarakat termasuk pembinaan terhadap UKBM.
b) Upaya kesehatan perorangan.
4. Jaringan Pelayanan Puskesmas:
a) Unit Puskesmas Pembantu.
b) Unit Puskesmas Keliling.
c) Unit bidan di Desa/ Komunitas.

NO
1
2
3

JENIS PEGAWAI
PNS
PTT
PEGAWAI KONTRAK

JUMLAH
23
5
3
7

JUMLAH

31
Tabel 2.1 Jenis Kepegawaian.

2.3. Sarana Kesehatan.


Puskesmas Lampulo memiliki luas area 823,33 km2 , yang terdiri dari:
Gedung Puskesmas satu unit.
Rumah Medis 1 (Satu) unit.
Agar jangkauan pelayanan Puskesmas lebih luas dan merata hingga
keseluruh wilayah kerjanya. Puskesmas Lampulo memiliki fasilitas penunjang
berupa :
1. Puskesmas Pembantu 2 (Dua) unit yang berada di Gampong Lambaro
Skep dan Kota Baru
2. Poskesdes 1 (satu) yaitu poskesdes Diwai Nakam
3. Kendaraan sebanyak 10 ( sepuluh) Unit.
-

2 ( satu ) unit kendaraan roda empat (Ambulance )

9 ( Sembilan ) unit kendaraan roda dua

BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
3.1 MORTALITAS.

Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari


kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu.

Disamping itu,

kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian


keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya.
1. Kematian Bayi (AKB) dan Bayi Lahir Mati.
Jumlah Bayi lahir mati tahun 2014 sebanyak 1 orang dari 462 kelahiran
hidup yang berasal dari desa Kota Baru disebabkan oleh plasenta previa.
Sedangkan kematian bayi di Wilayah kerja Puskesmas Lampulo Tahun 2014
berjumlah 3 orang dari 462 kelahiran hidup dari desa Lamdingin disebabkan oleh
1 orang karena kelainan kongenital, 1 orang karena BBLR, jantung lemah dan 1
orang tidak diketahui sebabnya. Jumlah ini bertambah bila dibandingkan pada
tahun 2013 tidak ditemukan bayi lahir mati dan kematian bayi.

Grafik 3 Kematian Bayi Berdasarkan Desa Di Wilayah Puskesmas Lampulo Tahun 2014 (Sumber:
Puskesmas Lampulo Tahun 2014).

Ada banyak faktor yang mempengaruhi Kematian Bayi tidak mudah untuk
menemukan faktor yang paling dominan. Tersedianya berbagai fasilitas atau
faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dengan tenaga medis yang terampil,
serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma

kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor yang berpengaruh


terhadap tingkat AKB.
2. Angka Kematian Balita (AkBa).
Tahun 2014 ditemukan 4 kematian pada Balita pada wilayah kerja
Puskesmas Lampulo.
No.
1
2
3
4

Identitas
Fauziah, perempuan, usia 28 hari
Bayi Laki-laki, usia 5 hari
Usia kehamilan ibu 7 bulan
Diana, perempuan, usia 5 hari

alamat
Lamdingin
Lamdingin
Kuta Baro
Lamdingin

Penyebab Kematian
Gagal Nafas
Kelainan kongenital
IUFD
Kelainan
Jantung
Bawaan

Tabel 3.1 Kematian Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Lampulo Tahun 2014.

3. Kematian Ibu Maternal (AKI).


Tahun 2014, tidak ditemukan kematian Ibu pada wilayah kerja Puskesmas
Lampulo.
3.2 MORBIDITAS.
Untuk 20 penyakit terbesar yang dijumpai

di Puskesmas Lampulo tahun

2014 dapat dilihat pada tabel berikut ini :


No.

Nama Penyakit

Jumlah kasus

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

ISPA
Common Cold
Kelainan pada lambung
Hipertensi
Penyakit Kulit Alergi
Peny.pada sistem otot jaringan pengikat
Diare( termasuk tersangka kolera)
Diabetes Melitus
Penyakit Kulit Infeksi
Cepalgia
Kecelakaan Lalulintas
Faringitis
Tonsilitis

3838
2062
1304
1189
829
779
548
455
444
340
319
282
215
10

14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.

Penyakit Kulit karena Jamur


Asma
Skizoprenia dan Gangguan Psikotik Lain
Stomatitis
Infeksi Penyakit Usus Yang lain
Infeksi Saluran Kencing
Hemoroid

192
116
109
69
59
51
30

Tabel 3.2 20 Penyakit Terbesar di UPTD Puskesmas Lampulo Tahun 2014 (Sumber : Puskesmas
Lampulo 2014)

1. Acute Flaccid Paralysis.


Hasil pantauan petugas surveilans Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas
Lampulo Tahun 2014 tidak ditemukan kasus AFP non polio.
2. Tuberculosis.
Penderita Tuberkulosis dengan BTA positif yang ditemukan di wilayah
Puskesmas Lampulo tahun 2014 sebanyak 4 orang ,dengan penderita laki-laki 3
orang dan perempuan sebanyak 1 orang.

Grafik 4 Jumlah Pasien Penyakit Tuberculosis (BTA+) Berdasarkan Desa Di Wilayah Kerja
Puskesmas Lampulo Tahun 2014 (Sumber : Puskesmas Lampulo Tahun 2014)

3. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).


ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang dapat berlangsung sampai 14
hari, yang secara klinis ditandai dengan gejala akut akibat infeksi yang terjadi di
11

setiap bagian saluran pernafasan atau struktur yang berhubungan dengan saluran
pernafasan. Upaya pemberantasan penyakit infeksi saluran pernapasan akut lebih
difokuskan pada upaya penemuan dini dan tatalaksana kasus yang cepat dan tepat
terhadap penderita pnemonia balita yang ditemukan.
Tahun 2014 tidak ditemukan balita penderita pnemonia yang ditemukan di
wilayah Puskesmas Lampulo.
4. HIV/AIDS.
Perkembangan penyakit HIV/AIDS terus menunjukkan peningkatan,
meskipun berbagai upaya penanggulangan terus dilakukan. Semakin tingginya
mobilitas penduduk antar wilayah, menyebarnya sentra-sentra pembangunan
ekonomi di Indonesia, meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman dan
meningkatnya penyalahgunaan NAPZA melalui suntikan, secara simultan telah
memperbesar tingkat risiko penyebar HIV/AIDS. Di Wilayah kerja Puskesmas
Lampulo pada Tahun 2014 tidak ditemukan kasus AIDS.

5. Infeksi Menular Seksual (IMS).


Di Wilayah Puskesmas Lampulo pada Tahun 2014 tidak ditemukan kasus
penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS).
6. Diare.
Jumlah kasus diare tahun 2014 yang ditemukan di wilayah Puskesmas
Lampulo sebanyak 353 orang.

12

Grafik 5 Jumlah Penderita Diare Berdasarkan Desa Di wilayah Kerja Puskesmas Lampulo Tahun
2014.

7. Kusta.
Di wilayah Puskesmas Lampulo pada Tahun 2014 dijumpai 1 orang yang
berasal dari desa Lampulo.
8. Penyakit Menular yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I).
PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas/ditekan dengan
pelaksanaan program imunisasi, pada profil kesehatan ini akan dibahas penyakit
difteri, pertusis, tetanus non neonatorum, tetanus neonatorum, campak, polio dan
hepatitis B.
9. Difteri.
Difteri merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (contagious
disease) yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae
dengan bentuk basil Gram positif. Kuman ini menginfeksi saluran pernafasan,
terutama bagian tonsil, nasofaring (bagian antara hidung dan faring/tenggorokan)
dan laring. Difteri mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian
atas dengan gejala demam tinggi, pembengkakan pada amandel (tonsil) dan
terlihat selaput putih kotor yang makin lama makin membesar dan dapat menutup
jalan napas. Tahun 2014 tidak dijumpai kasus difteri yang terjadi pada masyarakat
Wilayah Puskesmas Lampulo.
10. Pertusis.
13

Pertusis atau disebut juga dengan batuk rejan adalah infeksi bakteri pada
saluran pernafasan yang sangat menular dan menyebabkan batuk yang biasanya
diakhiri dengan suara pernafasan dalam bernada tinggi (melengking).

Sama

halnya dengan penyakit difteri, penyakit pertusis tidak dijumpai terjadi di wilayah
Kerja Puskesmas Lampulo pada Tahun 2014.
11. Tetanus.
Upaya pencegahannya terutama untuk tetanus neonatorum melalui
pertolongan persalinan yang higienis ditunjang dengan imunisasi TT pada ibu
hamil.Pada Tahun 2014 tidak ditemukan kasus tetanus dan tetanus neonatorum di
wilayah Puskesmas Lampulo.
12. Campak.
Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan kejadian
luar biasa (KLB). Sepanjang Tahun 2014 ditemukan kasus campak di wilayah
puskesmas Lampulo sebanyak 15 orang. Kasus terbanyak dilaporkan terjadi di
desa Lampulo sebanyak 8 orang namun demikian tidak ada kematian yang terjadi
yang diakibatkan oleh penyakit campak.

Kasus campak menurut desa dapat

dilihat pada grafik berikut :

Grafik 6 Jumlah Kasus Campak Berdasarkan Desa di Wilayah Kerja Puskesmas Lampulo Tahun
2014.

13. Demam Berdarah Dengue.


14

Demam berdarah dengue (DBD) telah menyebar luas ke seluruh wilayah


Kota Banda Aceh.

Penyakit ini sering muncul sebagai KLB dengan angka

kesakitan dan angka kematian yang relatif tinggi. Jumlah kasus DBD di Wilayah
Puskesmas Lampulo selama kurun waktu 2014 adalah sebanyak 23 kasus. Kasus
terbanyak dijumpai di desa Lamdingin dan Bandar masing-masing sebanyak 7
kasus. Untuk kasus DBD tidak ditemukan kematian pada tahun 2014 .

Jumlah

kasus DBD menurut desa dapat dilihat pada grafik berikut:

Grafik 7 Jumlah Kasus Dbd Berdasarkan Desa Di Wilayah Puskesmas Lampulo Tahun 2014
(Sumber Puskesmas Lampulo Tahun 2014).

Upaya pencegahan dan pemberantasan DBD dititik beratkan pada


penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam pemberantasan
sarang nyamuk (gerakan 3 M), pemantauan Angka Bebas Jentik (ABJ) serta
pengenalan gejala DBD dan penanganannya di rumah tangga. Kegiatan lain dalam
upaya pemberantasan DBD adalah pengasapan (fogging).
14. Malaria.
Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dimana
perkembangan penyakit malaria ini dipantau melalui Annual Parasite Incidence
15

(API). Di Wilayah Puskesmas Lampulo Kuta tahun 2014 tidak ditemukan kasus
malaria.
15. Filariasis.
Program eliminasi filariasis dilaksanakan atas dasar kesepakatan global
WHO Tahun 2000 yaitu The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis
as a Public Health Problem The Year 2020. Tidak ada kasus filariasis yang
dilaporkan sepanjang Tahun 2014 di wilayah Puskesmas Lampulo.
STATUS GIZI.
Status gizi masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator, antara lain
bayi dengan Berat Badan Rendah (BBLR), status gizi balita dan Tinggi Badan
Anak Baru Masuk Sekolah (TB-ABS).
Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu
faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR
dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena premature atau BBLR karena
intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi
berat badannya kurang. Hasil pantauan selama kurun waktu 2014, dilaporkan ada
1 bayi yang lahir dengan kasus BBLR di wilayah Puskesmas Lampulo yang
berasal dari desa Kota Baru.

16

BAB IV
UPAYA KESEHATAN PUSKESMAS LAMPULO
4.1 Pelayanan Kesehatan.
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat
penting dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat.
Dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat diharapkan
sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi. Berbagai pelayanan
kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan adalah
sebagai berikut:

Grafik 8 Kunjungan Di Puskesmas Lampulo Berdasarkan Jaminan Kesehatan Tahun 2014.

Kunjungan di Puskesmas Lampulo tahun 2014 berjumlah 27.811 kunjungan


dengan kunjungan yang tertinggi adalah JKA sebesar 11.658 (69,77%).
Tabel 4.1 Jumlah kunjungan di Puskesmas Lampulo dari tanggal 19 Oktober
2015 31 Oktober 2015 adalah sebagai berikut:
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Hari/ Tanggal
Senin / 19 Oktober 2015
Selasa / 20 Oktober 2015
Rabu / 21 Oktober 2015
Kamis / 22 Oktober 2015
Jumat / 23 Oktober 2015
Sabtu / 24 Oktober 2015
Senin / 26 Oktober 2015
Selasa / 27 Oktober 2015
Rabu / 28 Oktober 2015
Kamis / 29 Oktober 2015
Jumat / 30 Oktober 2015
Sabtu / 31 Oktober 2015
Jumlah
1. Pelayanan Ibu Hamil K-1 dan K-4.

Jumlah Kunjungan
64 pasien
49 pasien
45 pasien
42 pasien
41 pasien
21 pasien
79 pasien
60 pasien
40 pasien
50 pasien
42 pasien
44 pasien
577 pasien
17

Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan


profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan
perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya. Hasil pelayanan antenatal
dapat dilihat dari cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 atau juga disebut akses
pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah
melakukan kunjungan pertama ke fasilitas

pelayanan kesehatan untuk

mendapatkan pelayanan antenatal. Cakupan K4 adalah gambaran besaran ibu


hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai standar serta paling
sedikit empat kali kunjungan (sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester
kedua, dan dua kali pada trimester ketiga). Angka ini dapat dimanfaatkan untuk
melihat kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil.
Adapun yang dijadikan sebagai salah satu indikator dalam standar
pelayanan kesehatan ibu dan anak
Puskesmas Lampulo

adalah cakupan K4.

Di Wilayah kerja

cakupan K4 rata-rata sudah mencapai 93%. Ini

menunjukkan di atas rata-rata SPM yang ditetapkan oleh Kota Banda Aceh untuk
cakupan K4 adalah 87%.

Grafik 9 Cakupan K1 dan K4 berdasarkan Desa di Wilayah Puskesmas Lampulo Tahun 2014
(Sumber Puskesmas Lampulo Tahun 2014).

2. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dan Kunjungan Nifas.


Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar
terjadi pada masa di sekitar persalinan, hal ini disebabkan pertolongan tidak
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan
(profesional).

Persentase cakupan persalinan dengan pertolongan tenaga


18

kesehatan di Wilayah Puskesmas Lampulo sebesar 101.09% dan cakupan


kunjungan ibu nifas sebesar 101.09%.
Hal ini menunjukkan pertolongan persalinan oleh Nakes di Wilayah
Puskesmas Lampulo diatas rata-rata target SPM Kota Banda Aceh sebesar 90%

Grafik 10 Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dan kunjungan Ibu Nifas
Berdasarkan Desa di Wilayah Kerja Puskesmas Lampulo Kota Banda Aceh Tahun 2014 (Sumber
Puskesmas Lampulo Tahun 2014)

3. TT Wanita Usia Subur (WUS).


Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil ditujukan supaya ibu dan bayinya
dapat terhindar dari penyakit tetanus.

Persentase pemberian imunisasi TT pada

Wanita Usis Subur (WUS) mulai dari TT1 sampai dengan TT5 Tahun 2014 dapat
dilihat pada grafik berikut:

GRAFIK 11 Cakupan WUS yang diimunisasi TT Di Wilayah Puskesmas Lampulo Tahun 2014
(Sumber Puskesmas Lampulo Tahun 2014).

4. Persentase Ibu Hamil Yang Mendapatkan Tablet Fe.


19

Pada Tahun 2014 jumlah ibu hamil 532 orang dan yang mendapatkan 90
tablet besi adalah 525 orang bumil(98,68%). Cakupan pemberian Fe1 dan Fe3 ibu
hamil di Puskesmas Lampulo Tahun 2014 dapat dilihat pada grafik berikut :

GRAFIK 12 Cakupan Pemberian Fe1 dan Fe3 Ibu Hamil Menurut Desa Di Wilayah Puskesmas
Lampulo Kecamatan Kuta Alam Tahun 2014.

5. Komplikasi Kebidanan dan Neonatus yang Ditangani.


Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh bidan di desa dan
Puskesmas, beberapa ibu hamil diantaranya tergolong dalam kasus risiko tinggi
(risti) atau mengalami komplikasi dalam kehamilan sehingga memerlukan
pelayanan kesehatan rujukan. Jumlah ibu hamil risti/komplikasi di wilayah kerja
Puskesmas Lampulo Tahun 2014 sebanyak 135 orang, dengan risti/komplikasi
yang ditangani 0 % karena semua pasien resti dirujuk ke RS.
6. Pemberian Vitamin A pada Bayi, Balita dan Ibu Nifas.
Balita yang mendapat Vitamin A dosis tinggi ada dua kelompok, kelompok
pertama adalah bayi yang berumur 6 11 bulan mendapat kapsul Vitamin A satu
kali dosis 100.000 SI. Kelompok kedua yaitu anak umur 12 59 bulan yang
mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi 200.000 SI. Cakupan pemberian kapsul
vitamin A pada bayi Tahun 2014 dapat dilihat pada grafik berikut :

20

Grafik 13 Cakupan Pemberian Yang Mendapat Vitamin A Menurut Desa Di Wilayah Puskesmas
Lampulo Tahun 2014 (Sumber Puskesmas Lampulo Tahun 2014).

Hasil pelaksanaan kegiatan pemberian vitamin A dosis tinggi pada Balita


Tahun 2014 dapat dilihat pada grafik berikut :

Grafik 14 Cakupan Pemberian Vitamin A Balita Di Puskesmas Lampulo Tahun 2014 (Sumber
Puskesmas Lampulo Tahun 2014).

Cakupan pemberian kapsul vitamin A dua kali pada anak balita pada Tahun
2014 adalah 782 balita dari 1.398 balita yang ada atau 55,94%.
Cakupan pemberian vitamin A ibu nifas di Wilayah kerja Puskesmas
LampuloTahun 2014 dapat dilihat Pada grafik berikut :

21

GRAFIK 15 Cakupan Pemberian Vitamin A Ibu Nifas Berdasarkan Desa Di Wilayah Puskesmas
Lampulo Kecamatan Kuta Alam Tahun 2014 (Sumber Puskesmas Lampulo Tahun 2014)

7. Pelayanan Keluarga Berencana.


a. Peserta KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi.
Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) menurut hasil pengumpulan data pada
Tahun 2014 sebesar 3.735 sedangkan yang menjadi peserta KB aktif sebanyak
1.264 orang (45,5%). Untuk jenis kontrasepsi yang digunakan dapat dilihat pada
grafik berikut :

Grafik 16 Persentase Akseptor KB Aktif Menurut Metode Kontrasepsi Di Wilayah Puskesmas


Lampulo Tahun 2014 (Sumber Puskesmas Lampulo Tahun 2014).

Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa metode kontrasepsi yang


paling diminati oleh peserta KB aktif adalah metode suntik dengan akseptornya
mencapai 58,6% yang kemudian disusul dengan pil sebesar 34,3%. Hal ini
22

mengambarkan bahwa metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) belum banyak


yang diminati oleh PUS yang sedang menggunakan kontrasepsi.
b. Peserta KB Baru menurut Metode Kontrasepsi.
Akseptor KB baru pada Tahun 2014 di Kota Banda Aceh berjumlah 1700
orang (45,5%) dari 3.735 PUS yang ada. Adapun menurut metode kontrasepsi
yang dipilih oleh peserta KB baru dapat dilihat pada grafik berikut

Grafik 17 Persentase Akseptor Kb Menurut Metode Kontrasepsi Di Wilayah Kecamatan Kuta


Alam Tahun 2014 (Sumber Puskesmas Lampulo Tahun 2014).

Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa metode kontrasepsi yang


paling diminati oleh peserta KB baru adalah metode suntik yang akseptornya
mencapai 65,5% yang kemudian disusul dengan metode pil sebesar 28,5%.
Namun demikian sudah ada peserta KB Baru yang berminat memakai kontrasepsi
MKJP yaitu IUD dan Implant masing-masing 1,8%
c. Peserta KB Baru dan KB Aktif.
Penilaian kinerja program KB dapat menggunakan indikator cakupan KB
baru yaitu PUS yang baru pertama kali menggunakan metode kontrasepsi
termasuk mereka yang pasca keguguran, sesudah melahirkan atau pasca istirahat
minimal 3 bulan. Indikator selanjutnya yang dinilai untuk mengetahui besarnya
kemungkinan PUS yang berpotensi hamil terlindungi dari kejadian kehamilan
adalah cakupan KB aktif. Hasil pemantauan KB baru dan KB aktif berdasarkan
desa dapat dilihat pada grafik berikut:
23

GRAFIK 18 Cakupan Peserta KB dan KB Aktif di Wilayah Kerja Puskesmas Lampulo Tahun
2014 (Sumber Puskesmas Lampulo Tahun 2014).

Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa cakupan KB aktif lebih besar dari
cakupan KB Baru, dimana dari 3735 PUS peserta KB aktif

adalah 2324

PUS(62,2 %) .
8. Kunjungan Neonatus (KN) dan Kunjungan Bayi.
Secara keseluruhan cakupan KN1 dan KN3 di Wilayah kerja Puskesmas
Lampulo pada Tahun 2014 adalah sebesar 462 (95,65%) dari seluruh neonatus
yang ada yaitu sejumlah 508 neonatus, artinya tidak semua neonatus dikunjungi
secara teratur oleh petugas kesehatan.
9. Pemberantasan Penyakit Menular.
a. Gampong UCI.
Pencapaian Universal Child Imunization (UCI) pada dasarnya merupakan
suatu gambaran terhadap cakupan sasaran bayi yang telah mendapatkan imunisasi
secara lengkap. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan wilayah tertentu,
berarti dalam wilayah tersebut dapat digambarkan besarnya tingkat kekebalan
masyarakat terhadap penularan PD3I.

24

Grafik 19 Persentase Desa Uci Di Wilayah Puskesmas Lampulo Tahun 2014 (Sumber Puskesmas
Lampulo Tahun 2014)

UCI rata-rata di wilayah UPTD Puskesmas Lampulo sebesar 101,6% dan


semua desa telah mencapai UCI diatas 100%.
b. Imunisasi Bayi.
Cakupan pelayanan imunisasi bayi di Wilayah Puskesmas Lampulo pada
Tahun 2014 dari jumlah bayi 498 orang dapat dilihat pada grafik berikut :

Grafik 20 Persentase Cakupan Imunisasi Pada Bayi Di Wilayah Uptd Puskesmas Lampulo Tahun
2014 (Sumber Puskesmas Lampulo Tahun 2014).

10. Perbaikan Gizi Masyarakat.


1. Penimbangan Balita.
Hasil kunjungan balita setiap bulannya didapatkan rata-rata kunjungan
kumulatif sebesar 79.8%, tetapi masih ada posyandu yang kunjungannya dibawah
60% yaitu posyandu Kota Baru hanya 59,5%.
25

Kunjungan balita (D/S) balita di Wilayah Puskesmas rata-rata 79.8%, hanya desa
Kota Baru yang kunjungannya dibawah 60% dari jumlah balita yang ada.
2. Balita dengan BGM.

11. Penjaringan dan Pelayanan Kesehatan Anak SD dan Setingkat.


Masalah kesehatan tidak hanya dialami oleh masyarakat tetapi juga terdapat
pada murid atau peserta didik di sekolah.

Umumnya peserta didik SD dan

setingkatnya lebih banyak terkait dengan masalah perilaku hidup bersih dan sehat,
sedangkan peserta didik pada sekolah lanjutan berkaitan dengan perilaku beresiko.
Untuk itu, diperlukan pelayanan kesehatan yang dilakukan di sekolah dan
26

diutamakan pada upaya peningkatan kesehatan dalam bentuk promotif dan


preventif.
Salah satu upaya preventif yang bisa dilakukan di sekolah adalah
penjaringan kesehatan pada peserta didik.

Penjaringan kesehatan merupakan

suatu prosedur pemeriksaan kesehatan yang dilakukan untuk memilah anak yang
sehat dan tidak sehat, serta dapat dimanfaatkan untuk pemetaan kesehatan peserta
didik.

Grafik 23 Persentase Penjaringan Murid SD Di Wilayah Kerja Puskesmas Lampulo Tahun 2014
(Sumber Puskesmas Lampulo Tahun).

Pada grafik 24 terlihat bahwa penjaringan kesehatan peserta didik SD yang


dilakukan di Wilayah Puskesmas Lampulo diatas 80%.
12. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut (Usila).
Pelayanan kesehatan usia lanjut ditujukan untuk meningkatkan derajat
kesehatan usia lanjut untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna
dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaanya.
Pelayanan kesehatan usia lanjut di sebuah puskesmas dikategorikan menjadi baik
apabila telah mampu melayani 30% usila yang ada di wilayah kerjanya.
Pelayanan kesehatan usia lanjut di Puskesmas berlangsung di dalam dan di
luar gedung puskesmas. Pelayanan kesehatan usila di dalam gedung meliputi
pelayanan kesehatan yang diberikan kepada para usia lanjut di puskesmas baik
berupa pengobatan, pemeriksaan laboratorium, penyuluhan dan konsultasi.
27

Pelayanan kesehatan usila di luar gedung adalah pemberian pelayanan kesehatan


di kelompok usia lanjut yang ada di wilayah KutaRaja.
Laporan pelayanan kesehatan usila lanjut di wilayah Puskesmas Lampulo
yang mendapatkan pelayanan dari jumlah usila yang ada berjumlah 2.610 orang
mendapat pelayanan 12.11%. Persentase pelayanan usila di Wilayah Puskesmas
Lampulo berdasarkan desa pada tahun 2014 dapat dilihat pada grafik berikut:

Grafik 24 Persentase Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Menurut Desa Di Wilayah Puskesma
Lampulo 2014 (Sumber Puskesmas Lampulo Tahun 2014)

13. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak SD dan Setingkat.
Usia SD terlebih pada kelas 1 memiliki masalah dengan pergantian gigi
yaitu pergantian gigi susu dengan gigi tetap sehingga memerlukan pelayanan
kesehatan. Hasil pelaksanaan pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada murid SD
dan setingkat selain dilakukan di puskesmas juga dilakukan pada saat penjaringan
kesehatan.

Hasil pemeriksaan pada kegiatan UKGS di Enam SD

wilayah

Puskesmas Lampulo menunjukkan bahwa dari 403 orang murid SD yang


diperiksa 309 orang (91,3%) , memerlukan perawatan.

28

Grafik 25 Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut Anak Sd Setingkat Dan Yang Memerlukan
Perawatan Di Wilayah Puskesmas Lampulo Tahun 2014 (Sumber Puskesmas Lampulo Tahun
2014).

14. Kegiatan Penyuluhan Kesehatan.


Pelayanan kesehatan terdiri dari empat upaya yaitu upaya promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitative.

Salah satu upaya promotif atau upaya

peningkatan kesehatan yang dilakukan Puskesmas Lampulo adalah penyuluhan


baik penyuluhan kelompok maupun penyuluhan massa. Kegiatan penyuluhan
yang dilakukan pada Tahun 2014 mencapai 153 kali dengan penyuluhan
kelompok sebanyak 148 kali dan upaya penyuluhan massa yang dilakukan
mencapai 5 kali.
4.2 Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan.
1. Kunjungan Gangguan Jiwa di Sarana Pelayanan Kesehatan.
Selama Tahun 2014
Puskesmas Lampulo.

terdapat 61 pasien gangguan jiwa di wilayah

Jumlah semua kunjungan gangguan jiwa di Puskesmas

lampulo berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada berikut

Grafik 26 Jumlah Kunjungan Jiwa Menurut Jenis Kelamin Di Puskesmas Lampulo Tahun 2014
(Sumber Puskesmas Lampulo Tahun 2014).

4.3 Perilaku Hidup Masyarakat.


Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh
terhadap derajat kesehatan masyarakat, digunakan indikator Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS). PHBS adalah upaya memberikan pengalaman belajar
29

atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan


masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan
melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku,melalui
pendekatan

pimpinan

(advocacy),

bina

suasana

(social

support),

dan

pemberdayaan masyarakat (empowerment). PHBS merupakan suatu upaya untuk


membantu masyarakat mengenali dan mengatasi masslahnya sendiri, dalam
tatanan masing-masing, agar dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam
rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatan.
4.4 Rumah Tangga Ber-PHBS.
Di Wilayah Puskesmas Lampulo terdapat Rumah Tangga Sehat ber-PHBS
rata-rata sebanyak 98 rumah tangga

(83,3%)

dari 120 rumah tangga yang

dipantau.

Grafik 27 Persentase Rumah Tangga Ber-Phbs Di Wilayah Puskesmas Lampulo Tahun 2014
(Sumber Puskesmas Lampulo Tahun 2014).

4.5 Keadaan Lingkungan.


Untuk memperkecil risiko terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan
akibat dari lingkungan yang kurang sehat, dilakukan berbagai upaya peningkatan
kualitas lingkungan, antara lain dengan pembinaan kesehatan lingkungan pada
institusi yang dilakukan secara berkala, upaya yang dilakukan mencakup
30

pemantauan dan pemberian rekomendasi terhadap aspek penyediaan fasilitas


sanitasi dasar.

1. Rumah Sehat
Rumah sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat
kesehatan, yaitu bangunan yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih,
tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang
baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah tidak terbuat dari
tanah.

Dari kompilasi data yang terkumpul, persentase rumah sehat sebesar

98,3% dari 3967 rumah yang diperiksa.


a. Rumah/Bangunan yang Diperiksa Jentik Aedes.
Hasil pantauan petugas sanitasi Puskesmas Lampulo bahwa terdapat 3.770
rumah yang diperiksa (100%) yang bebas jentik.
2. Keluarga Menurut Sarana Air Bersih yang Digunakan.
Sumber air minum yang digunakan rumah tangga dibedakan menurut air
kemasan, ledeng, SPT dan SGL, mata air, PAH dan lainnya. Dari 4.880 keluarga
yang ada, semuanya berhasil diperiksa atau 100% keluarga diperiksa akses air
minumnya, hasil pemeriksaan tersebut didapatkan 100%.
3. Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar
Kepemilikan sarana sanitasi dasar yang dimiliki oleh keluarga meliputi
jamban, tempat sampah, dan pengelolaan air limbah (PAL).

Di wilayah

Puskesmas lampulo dari 8296 jamban 100 % memenuhi syarat kesehatan. KK


yang memiliki tempat sampah 4880 KK semuanya memiliki tempat sampah dan
pengelolaan air limbah dan 100% memenuhi syarat kesehatan.
4. Tempat-tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TPM) Sehat
Tempat-tempat umum (TTU) dan Tempat Pengolahan Makanan (TUPM)
merupakan suatu sarana yang dikunjungi banyak orang dan berpotensi menjadi
tempat persebaran penyakit. TTU meliputi terminal, pasar, tempat ibadah, tempat
31

rekreasi, dan lain-lain, sedangkan TPM meliputi home industry, jasa boga, rumah
makan, depot air minum (DAM), kantin warung kopi dan makanan jajanan.
Di Wilayah puskesmas Lampulo Kota Banda Aceh terdapat 66 TPM (53,7
%) tidak memenuhi syarat hygiene sanitasi.
BAB V
SUMBER DAYA KESEHATAN
A. SARANA/PRASARANA.
Tabel 5.1 Fasilitas kesehatan dan pendidikan yang ada di wilayah Puskesmas
Lampulo adalah :
NO
.
1.

NAMA SARANA

JUMLAH KETERANGAN

Puskesmas Pembantu

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Poskesdes
Posyandu
Klinik Bersalin
Pratek Dokter Swasta
Pratek Bidan Swasta
SD/ MI

1
8
1
3
2
7

8.
9.
10.
11

SMP/ MTs
SMA
Pesantren
PAUD

1
2
1
7

1. Pustu Lambaro Skep


2. Pustu Kota Baru
1. Poskesdes Diwai Makam

SD 65,SD 41, SD 45, SD 35, SD


Kartika, SD 25, SD 24
SMP 2
SMA 12, SMK Telkom
Pesantren Inshafudin

B. TENAGA KESEHATAN.
Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan
di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk
melakukan upaya kesehatan.
Situasi ketenagaan di Puskesmas Lampulo setiap tahun selalu berubah
karena adanya pegawai yang masuk dan yang pindah. Keadan ketenagaan pada
bulan Desember 2014 dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

32

Grafik 28 Jumlah Pegawai Menurut Status Kepegawaian tahun 2014.

Grafik 29 Jenis Tenaga Kesehatan Pns Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Puskesmas Lampulo
Tahun 2014

C. PEMBIAYAAN KESEHATAN.
1. Persentase Anggaran Kesehatan.
Pembiayaan di Puskesmas Lampulo

berasal dari

JKN (Askes Sosial,

APBN dan APBD Provinsi) berjumlah Rp. 377.808.000 dengan realisasi Rp


353.219.685 (93.45%) dan dana BOK (bantuan Operasional Kesehatan) sebesar
57.552.000 dengan realisasi 100%.

33

Grafik 30 Realisasi Pembiayaan Kesehatan Di Puskesmas Lampulo Tahun 2014

1. Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).


Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) digunakan untuk kegiatan upaya
kesehatan yang bersifat promotif dan preventif di Puskesmas dan jaringannya
termasuk Posyandu dan Poskesdes dalam rangka membantu pencapaian target
SPM bidang Kesehatan guna mempercepat pencapaian target MDGs. Penetapan
alokasi dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Dinas Kesehatan Kota Banda
Aceh ditetapkan berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda
Aceh.
2. Jaminan Kesehatan Aceh (JKN).
Pelaksanaan program pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional

(JKN)

merupakan jaminan sosial bidang kesehatan untuk memberikan pelayanan


kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia dalam rangka mewujudkan derajat
kesehatan masyarakat Aceh secara optimal.

Manfaat yang diberikan kepada

peserta JKN adalah pelayanan kesehatan yang bersifat komprehensif sesuai


dengan kebutuhan medis dan standar pelayanan medis. Dana untuk program JKN
berasal APBN untuk Jamkesmas, dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh
(APBA) untuk JKRA dengan BPJS selaku badan penyelenggara administrasi
pengelolaan dana program JKN, dengan cara membayar kapitasi ke Puskesmas
dalam wilayah Kota Banda Aceh sesuai dengan jumlah peserta JKA yang telah
ditetapkan dalam Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh.
Pembayaran ke Puskesmas dilakukan melalui transfer bank dengan tembusan
disampaikan ke Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh.

34

BAB VI
KESIMPULAN
Masalah kesehatan yang dihadapi saat ini dan masa mendatang semakin
bertambah kompleks dan berubah dengan cepat, bahkan kadang tidak terduga,
maka upaya kesehatan merupakan tanggung jawab kita semua dan peran serta
masyarakat sangat dibutuhkan dalam meningkatkan status kesehatan.

Upaya

kesehatan meliputi upaya preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif untuk


meningkatkan derajat kesehatan yang optimal.
Beberapa hal yang dapat disimpulkan dalam penyajian profil ini antara lain:
I. Gambaran Umum Kecamatan Kuta Alam.
1. Jumlah penduduk di wilayah Puskesmas Lampulo Kecamatan Kuta Alam Kota
Banda Aceh Tahun 2014 sebanyak 20.831 jiwa dengan luas wilayah sebesar
685,45 Hektar, jumlah desa sebanyak 5 desa.
II. Situasi Derajat Kesehatan.
1. Tahun 2014 tidak dijumpai kematian Ibu. Jumlah Bayi Lahir mati sebanyak 1
orang dari 462 kelahiran hidup, kematian Bayi berjumlah 4 orang.
2. Angka kesakitan penduduk di wilayah Puskesmas Lampulo Tahun 2014 kasus
Tuberkulosis 4 orang, diare sebanyak 353 orang, campak sebanyak 15 orang
orang, ISPA sebanyak 2469 kasus, penyakit kusta dijumpai 1 penderita, kasus
Demam Berdarah Dengue (DBD) sebanyak 23, malaria tidak ada kasus dan
tidak ada kematian.
III. Situasi Upaya Kesehatan.
35

A. Pelayanan Kesehatan.
1. Cakupan K1 di wilayah Puskesmas Lampulo Tahun 2014 sebesar 98,7%
dan cakupan K4 sebanyak 93,%.
2. Cakupan pertolongan persalinan oleh NAKES Tahun 2014 sebesar 91,1%
dengan kunjungan nifas 96,1%.
3. Ibu hamil resiko tinggi Tahun 2014 sebanyak 135 orang dan semua dapat
ditangani.
4. Cakupan pemberian Vitamin A Ibu Nifas sebesar 96,06%
5. Cakupan KB baru di wilayah Puskesmas Lampulo Kecamatan Kuta
AlamTahun 2014 dari 3.735 jumlah PUS yang ada peserta KB sebesar
45,5% dan peserta KB aktif sebesar 62,2%
6. Jumlah Kunjungan Neonatal (KN) di wilayah Puskesmas Lampulo
Kecamatan Kuta Alam Tahun 2014 sebesar 100%
7. Jumlah gampong yang telah mencapai UCI adalah 3 dari 5 desa yang ada
(68,88%)
B. Akses dan Mutu pelayanan Kesehatan.
1.

Jumlah kunjungan rawat jalan masyarakat 27.811 kunjungan , Askes


sebanyak

4.561

kunjungan,

JKRA sebanyak

11.448

kunjungan,

Jamkesmas sebanyak 3.774 kunjungan , pasien umum sebanyak 73


kunjungan
2.

Kunjungan jiwa Tahun 2014 sebanyak 108 kunjungan

C. Rumah tangga ber PHBS di Kecamatan Kuta Alam Tahun 2014 dari 120 yang
dipantau 83,3% yang ber PHBS
D. Keadaan Lingkungan.
1. Persentase rumah tangga bebas jentik sebesar 78,6%.
IV. Situasi Sumber Daya Kesehatan.
A. Sarana Kesehatan.
1. Posyandu di Wilayah Puskesmas Lampulo Kecamatan Kuta Alam Tahun
2014 berjumlah 8 posyandu yang berada di tingkat strata madya
B. Tenaga kesehatan di Puskesmas Lampulo Tahun 2014 berjumlah 31 orang
yang rincian PNS 23 orang, Bidan PTT 5 orang, kontrak 3 orang.
36

1. Pembiayaan kesehatan bersumber dari APBK yang di kelola oleh dinas,


anggaran yang di serahkan ke Puskesmas adalah BOK sebesar 57.522.000
dan JKN sebesar 377.808.000.

BAB VII
PENUTUP
4.1 Kesimpulan.
Puskesmas merupakan tempat pelayanan kesehatan pertama dalam
masyarakat, karena puskesmas berada di tengah-tengah masyarakat. Puskesmas
diharapkan dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat dalam memberikan
semua pelayanan dasar kesehatan. Keberhasilan suatu puskesmas dalam
menjalankan program-programnya sangat ditentukan oleh manajerial puskesmas
sebagai top manager.
Seluruh kegiatan pokok di Puskesmas Lampulo berjalan dengan baik secara
rutin, terorganisir dan lancar. Pengelolaan administrasi dan kepegawaian dapat
berjalan dengan baik bila dilakukan peningkatan disiplin, pengertian dan
kesadaran akan fungsinya sebagai seorang pelayan kesehatan masyarakat.
Kegiatan program kerja tahunan Puskesmas Lampulo secara operasional
dilaksanakan oleh staf puskesmas yang terorganisir dalam struktur organisasi
Puskesmas Lampulo Kota Banda Aceh.
Terlepas dari keberhasilan dalam pelaksanaan program, masih dijumpai
kendala-kendala yang memerlukan perbaikan untuk lebih meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat di masa yang akan datang.
4.2 Saran.
1. Perlu adanya peningkatan sarana dan prasarananya dalam menunjang
keberhasilan pelaksanaan kegiatan program pokok puskesmas.
2. Pelaksanaan penyuluhan di desa desa dengan melibatkan lembaga/ sektor
terkait.
37

3. Perlu adanya penyuluhan kepada masyarakat terkait sistem rujukan dari


Puskesmas ke Rumah Sakit Umum.
4. Kerjasama yang baik antara petugas di Puskesmas perlu ditingkatkan demi
kelancaran pelayanan kesehatan yang dilaksanakan kepada masyarat.
5. Perlu adanya penyuluhan terutama tentang kesehatan lingkungan kepada
masyarakat yang berjualan makanan jajanan.
Banda Aceh, 26 November 2015
Disetujui oleh,
Dokter Pembimbing I

Dokter Pembimbing II

Dokter Pembimbing III

dr. Roosmy Muhammad SF


NIP. 19641106 201122 2 001

dr. Cut Santia


NIP. 19711014 200312 2 003

dr. Nabil Berry

Mengetahui,
Kepala UPTD Puskesmas Lampulo Banda Aceh

Hayatun Rahmi, S. KM
NIP. 19670730 198803 2 002

38