Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia dan semua makhluk hidup membutuhkan air sebagai salah satu
sumber kehidupan. Dengan kata lain air merupakan material yang sangat dibutuhkan
bagi kehidupan dibumi. Semua organisme yang hidup tersusun dari sel-sel yang berisi
air sedikitnya 60% dan aktifitas metaboliknya mengambil tempat di larutan air. Untuk
kepentingan manusia dan kepentingan komersial lainnya ketersediaan air dari segi
kualitas dan kuantitas mutlak diperlukan.
Disisi lain, akibatnya pengelolaan yang salah air bisa menjadi bencana bagi
kehidupan. Air yang berkelebihan disuatu tempat akibat hujan yang besar dapat
menimbulkan kerugian yang besar. Sebaliknya kekurangan memungkinkan terjadi
bencana kekeringan. Di Amerika secara umum banjir menyebabkan kerusakan yang
lebih parah dibandingkan bencana alam lainnya (Grigg, 1966) walaupun terjadinya
banjir dapat bervariasi, hampir semua daerah menghadapi bahaya banjir setiap saat di
Indonesia kerugian dan kerusakan akibat banjir adalah sangat besar yakni sebesar dua
pertiga dari semua bencana alam yang terjadi (Departemen Sosial, 1987 & 1989
dalam Direktorat Sungai 1995).
Menurut Dyah (2000), kebutuhan air terbesar berdasarkan sektor kegiatan
dapat dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu: satu, kebutuhan domestik; dua,
irigasi pertanian; dan tiga, industri. Sejalan dengan pertambahan penduduk di
Indonesia, maka kebutuhan air akan meningkat pula baik didaerah perkotaan maupun
pedesaan. Kebutuhan air terbesar di Indonesia terjadi di pulau jawa dan Sumatra
karena kedua pulau ini mempunyai jumlah penduduk dan industri yang cukup besar.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa itu sumber daya air ?
2. Bagaimana konservasi penggunaan air ?
3. Apa saja teknik penjernihan air ?
1.3. Tujuan
1. Mengetahui sumber daya air
2. Mengetahui konservasi penggunaan air
3. Mengetahui teknik penjernihan air

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sumber Daya Air
Air sebagai bagian dari sumber daya alam adalah merupakan bagian dari
ekosistem. Karena itu pengelolaan sumber daya air memerlukan pendekatan yang
integratif, komprehensif dan holistik yakni hubungan timbal balik antara teknik, sosial
dan ekonomi serta harus berwawasan lingkungan agar terjaga kelestariannya.
Pertemuan international sejak Dublin dan Rio de I Janeiro tahun 1992 sampai World
Water Forum di Den Haag tahun 2000, menekankan hal yang sama.
Karena air menyangkut semua kehidupan maka air merupakan faktor yang
mempengaruhi jalannya pembangunan berbagai sektor. Karena itu pengelolaan
sumber daya air perlu didasarkan pada pendekatan peran serta dari semua
stakeholders. Segala keputusan publik harus memperhatikan kepentingan masyarakat
dengan cara konsultasi publik, sehingga kebijakan apapun yang diharapkan, akan
dapat diterima oleh masyarakat.
Pada umumnya pengelolaan sumberdaya air berangkat hanya dari satu sisi saja
yakni bagaimana mamanfaatkan dan mendapat keuntungan dari adanya air. Namun
untuk tidak dilupakan bahwa jika ada keuntungan pasti ada kerugian. Tiga aspek
dalam pengelolaan sumberdaya air yang tidak boleh dilupakan, yakni aspek
pemanfaatan, aspek pelestarian dan aspek perlindungan.
1. Aspek pemanfaatan. Kebanyakan inilah yang langsung terlintas dalam pikiran
manusia jika berhubungan dengan air. Baru setelah terjadi ketidak seimbangan
antara kebutuhan dengan yang tersedia, manusia mulai sadar atas aspek yang
lain.
2. Aspek pelestarian. Agar pemanfaatan tersebut bisa berkelanjutan maka air
perlu dijaga kelestariannya baik dari segi jumlah maupun mutunya. Menjaga
daerah tangkapan hujan dihulu maupun daerah pedataran merupakan salah
satu begian dari pengelolaan, sehingga perbedaan debit air musim kemaru dan
musim hujan tidak besar. Demikian pula menjaga air dari pencemaran limbah.
3. Aspek pengendallian. Perlu disadari bahwa selain memberi manfaat, air juga
memiliki daya rusak fisik maupun kimiawi. Badan air (sungai, saluran dsb,)
terbiasa menjadi tempat pembuangan barang tak terpakai, baik berupa cair
(limbah rumah tangga dan industri), maupun benda padat berupa sampah dan
terjadilah pencemaran dengan akibat gangguan terhadap hidup manusia.
Binatang dan tumbuh-tumbuhan. Karena itu dalam pengelolaan sumberdaya
air tidak boleh dilupakan adalah pengendalian terhadap daya rusak yang
berupa banjir maupun pencemaran.
Dalam pengelolaan sumberdaya air, ketiga aspek penting tersebut harus
menjadi satu kesatuan, tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Salah satu aspek
saja terlupakan, akan mengakibatkan tidak lestarinya pemanfaat air daan bahkan akan
membawa akibat buruk. Jika kita kurang benar dalam mengelola sumber daya air,
tidak hanya saat ini kita akan menerima akibat, tetapi juga generasi mendatang.
Potensi Air dan Sumber Air
Potensi air dan sumber air di Jawa Tengah yang dimanfaatkan dan yang tak
termanfaatkan menurut BAPPEDA (2002-2003) adalah sebagai berikut :
1. Potensi sumberdaya air : 65.733,75 juta m3 (100,00%)
2. Termanfaat :
a. Konservasi (waduk, embung, dll) : 2.308,38 juta m3 (3,51%)
b. Yang dimanfaatkan : 25.282,16 juta m3 (38,64%)
3. Tak termanfaatkan :
a. Degradasi ( pencemaran) : 514, 54 juta m3 (0,78%)
b. Belum dikonservasi (banjir dan terbuang ke laut) : 37.628,67 juta m3
(57,24%).
2.2 Konservasi Penggunaan Air
Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke atas
permukaan tanah seefisien mungkin dengan pengaturan waktu aliran yang tepat
sehingga tidak terjadi banjir pada musim hujan dan tersedia cukup air pada musim
kemarau. Konservasi air dapat dilakukan dengan meningkatkan pemanfaatan
komponen hidrologi berupa air permukaan dan air tanah serta meningkatkan efisiensi
pemakaian air irigasi. Teknologi konservasi air dirancang untuk meningkatkan
masuknya air kedalam tanah melalui proses infiltrasi dan pengisian kantong-kantong
air di daerah cekungan serta mengurangi kehilangan air melalui proses
evapotranspirasi dan menguap ke atmosfir. Keuntungan yang diperoleh melalui
strategi konservasi air yang diarahkan untuk peningkatan cadangan air padalapisan
tanah dan disekitar zona perakaran tanaman pada wilayah pertanian adalah :
terwujudnya pengendalian aliran permukaan, peningakatan infiltrasi dan pengurangan
evaporasi. Ada dua pendekatan yang dapat ditempuh untuk mengefisienkan
penggunaan air pada wilayah perkebunan yaitu: melalui pemilihan jenis tanaman
sesuai dengan kondisi iklim dan melalui teknik konservasi air dengan penggunaan
mulsa, gulud, dan teknik tanpa olah tanah.
Untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat
memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam
segala bidang kehidupan diperlukan pola pengelolaan sumber daya air yang
didasarkan pada prinsip keseimbangan antara upaya konservasi dan pendayagunaan
sumber daya air. Pola pengelolaan sumber daya air disusun berdasarkan wilayah
sungai dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah. Penerapan
teknologi konservasi air lebih efektif dan luwes dilakukan diwilayah hulu suatu DAS
karena wilayah tersebut merupakan daerah menerima, menampung dan mengalirkan
air lebih banyak dan lebih luas sehingga berpengaruh besar terhadap wilayah hilirnya.
Ada banyak pilihan tenoklogi konservasi air yang tersedia dan telah menjadi
pengetahuan umum para petani dapat menjadi pertimbangan menurut kondisi fisik
wilayahnya. Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman yang utuh dari seluruh
masyarakat untuk mendukung program-program nasional dalam beberapa bentuk
seperti: penyelamatan tanah dan air, pencegahan lahan kritis, pembangunan dam-dam
yang semuanya diarahkan untuk konservasi air dan tanah di wilayah hulu suatu DAS.
Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan,
memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air,
pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Pola pengelolaan
sumber daya air adalah kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan,
memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan
sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Di alam, air hanya dapat
dikendalikan melalui wadah daerah tangkapan (catchment area) atau Daerah Aliran
Sungai. Oleh karena daerah ini mampu menerima air yang masuk seberapapun, dan
dapat menyimpannya, dan mengalirkannya ke laut.
Aliran permukaan merupakan komponen penting dalam konservasi air,
sehingga tindakan-tindakan yang berhubungan dengan pengendalian dan pengelolaan
aliran permukaan dapat diformulasikan dalam strategi konservasi air. Sehubungan
dengan itu air hujan yang banyak jatuh wilayah hulu DAS diusahakan sebanyak
mungkin dapat meresap kedalam tanah melalui infiltrasi, ditahan sebanyak-banyaknya
didaerah cekungan atau lembah sehingga dapat digunakan sebagai sumber air untuk
pengairan pada musim kemarau.Memperbanyak tanaman pepohonan di wilayah
lindung akan membangun iklim mikro di sekitarnya dan meningkatkan bahan organik
sehingga akan meningkatkan simpanan air di permukaan tanah (surface storage) dan
mengurangi evaporasi karena kelembabannya tinggi. Selain itu konservasi air dapat
dilakukan melalui penutupan permukaan tanah dengan mulsa dari sisa-sisa tanaman
pada lahan pertanian atau mengembangkan tanaman penutup tanah (cover crop).
Apabila wilayah hulu suatu DAS telah berfungsi dengan baik mengatur
pergerakan aliran air ke wilayah hilir maka dipastikan kondisi tata air dalam DAS
tersebut sangat baik. Mengendalikan sistem pertanian masyarakat didaerah
huluDASyangpada umumnya dilakukan di wilayah kemiringanlereng yang tinggi
(fisiographi) dengan menerapkan teknologi konserasi tanah dan air yang sesuai. Telah
banyak hasil penelitian yang dapat diterapkan misalnya: hasil penelitian Utomo dan
Islami,(2006) ; menggunakan sistem budidaya lorong di desa Ngrimbi,
Jombang;tanaman jenis Gliricidaeselama 10 tahun telah mampu meningkatkan
kandungan hara tanah yang telah tererosi, dan pada saat bersamaan memperbaiki
struktur tanah dan meningkatkan kapasitas penyimpanan air tanah. Peningkatan
kandungan hara, kapasitas penyimpanan air, dan perbaikan struktur tanah diikuti
dengan peningkatan hasil tanaman pangan yang ditanam di antara pagar. Pada tahun
pertama hasilnya hanya 1 ton/ha jagung dan tahun ke 5 menjadi 2 ton/ha. Konservasi
tanah dengan metode vegetatif yang dikenal murah dan mudah dilakukan oleh petani;
Konservasi sumber daya air di daerah tangkapan dengan cara kombinasi konservasi
tanah dan air; dan peningkatan efisiensi pemanfaatan air dengan teknologi budidaya
tepat guna.Hutan masih diakui berbagai pihak sebagai penjaga kesuburan tanah dan
perbaiakan tata air.
2.3 Teknik Penjernihan Air
Air merupakan sumber bagi kehidupan. Sering kita mendengar bumi disebut
sebagai planet biru, karena air menutupi 3/4 permukaan bumi. Tetapi tidak jarang pula
kita mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau disaat
air umur mulai berubah warna atau berbau. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya.
Yang pasti kita harus selalu optimis. Sekalipun air sumur atau sumber air lainnya yang
kita miliki mulai menjadi keruh, kotor ataupun berbau, selama kuantitasnya masih
banyak kita masih dapat berupaya merubah/menjernihkan air keruh/kotor tersebut
menjadi air bersih yang layak pakai.
Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk
mendapatkan air bersih, dan cara yang paling mudah dan paling umum digunakan
adalah dengan membuat saringan air, dan bagi kita mungkin yang paling tepat adalah
membuat penjernih air atau saringan air sederhana. Perlu diperhatikan, bahwa air
bersih yang dihasilkan dari proses penyaringan air secara sederhana tersebut tidak
dapat menghilangkan sepenuhnya garam yang terlarut di dalam air. Gunakan destilasi
sederhana untuk menghasilkan air yang tidak mengandung garam. Berikut beberapa
alternatif cara sederhana untuk mendapatkan air bersih dengan cara penyaringan air :
1. Saringan Kain Katun
Pembuatan saringan air dengan menggunakan kain katun merupakan
teknik penyaringan yang paling sederhana / mudah. Air keruh disaring dengan
menggunakan kain katun yang bersih. Saringan ini dapat membersihkan air
dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Air hasil saringan
tergantung pada ketebalan dan kerapatan kain yang digunakan.

2. Saringan Kapas
Teknik saringan air ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dari
teknik sebelumnya. Seperti halnya penyaringan dengan kain katun,
penyaringan dengan kapas juga dapat membersihkan air dari kotoran dan
organisme kecil yang ada dalam air keruh. Hasil saringan juga tergantung pada
ketebalan dan kerapatan kapas yang digunakan.

3. Aerasi
Aerasi merupakan proses penjernihan dengan cara mengisikan oksigen
ke dalam air. Dengan diisikannya oksigen ke dalam air maka zat-zat seperti
karbon dioksida serta hidrogen sulfida dan metana yang mempengaruhi rasa
dan bau dari air dapat dikurangi atau dihilangkan. Selain itu partikel mineral
yang terlarut dalam air seperti besi dan mangan akan teroksidasi dan secara
cepat akan membentuk lapisan endapan yang nantinya dapat dihilangkan
melalui proses sedimentasi atau filtrasi.

4. Sarirang Pasir Lambat (SPL)


Saringan pasir lambat merupakan saringan air yang dibuat dengan
menggunakan lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah.
Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan pasir
terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan kerikil. Untuk keterangan
lebih lanjut dapat temukan pada artikel Saringan Pasir Lambat (SPL).
5. Saringan Pasir Cepat (SPC)
Saringan pasir cepat seperti halnya saringan pasir lambat, terdiri atas
lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Tetapi arah
penyaringan air terbalik bila dibandingkan dengan Saringan Pasir Lambat,
yakni dari bawah ke atas (up flow). Air bersih didapatkan dengan jalan
menyaring air baku melewati lapisan kerikil terlebih dahulu baru kemudian
melewati lapisan pasir. Untuk keterangan lebih lanjut dapat temukan pada
artikelSaringan Pasir Cepat (SPC).

6. Gravity-Fed Filtering System


Gravity-Fed Filtering System merupakan gabungan dari Saringan Pasir
Cepat(SPC) dan Saringan Pasir Lambat(SPL). Air bersih dihasilkan melalui
dua tahap. Pertama-tama air disaring menggunakan Saringan Pasir
Cepat(SPC). Air hasil penyaringan tersebut dan kemudian hasilnya disaring
kembali menggunakan Saringan Pasir Lambat. Dengan dua kali penyaringan
tersebut diharapkan kualitas air bersih yang dihasilkan tersebut dapat lebih
baik. Untuk mengantisipasi debit air hasil penyaringan yang keluar dari
Saringan Pasir Cepat, dapat digunakan beberapa / multi Saringan Pasir
Lambat.
7. Saringan Arang
Saringan arang dapat dikatakan sebagai saringan pasir arang dengan
tambahan satu buah lapisan arang. Lapisan arang ini sangat efektif dalam
menghilangkan bau dan rasa yang ada pada air baku. Arang yang digunakan
dapat berupa arang kayu atau arang batok kelapa. Untuk hasil yang lebih baik
dapat digunakan arang aktif. Untuk lebih jelasnya dapat lihat bentuk saringan
arang yang direkomendasikan UNICEF pada gambar di bawah ini.
8. Saringan Air Sederhana/Tradisional
Saringan air sederhana/tradisional merupakan modifikasi dari saringan
pasir arang dan saringan pasir lambat. Pada saringan tradisional ini selain
menggunakan pasir, kerikil, batu dan arang juga ditambah satu buah lapisan
injuk / ijuk yang berasal dari sabut kelapa. Untuk bahasan lebih jauh dapat
dilihat pada artikelsaringan air sederhana.

9. Saringan Keramik
Saringan keramik dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama
sehingga dapat dipersiapkan dan digunakan untuk keadaan darurat. Air bersih
didapatkan dengan jalan penyaringan melalui elemen filter keramik. Beberapa
filter kramik menggunakan campuran perak yang berfungsi sebagai disinfektan
dan membunuh bakteri. Ketika proses penyaringan, kotoran yang ada dalam air
baku akan tertahan dan lama kelamaan akan menumpuk dan menyumbat
permukaan filter. Sehingga untuk mencegah penyumbatan yang terlalu sering
maka air baku yang dimasukkan jangan terlalu keruh atau kotor. Untuk
perawatan saringn keramik ini dapat dilakukan dengan cara menyikat filter
keramik tersebut pada air yang mengalir.
10. Saringan Cadas / Jempeng / Lumpang Batu
Saringan cadas atau jempeng ini mirip dengan saringan keramik. Air
disaring dengan menggunakan pori-pori dari batu cadas. Saringan ini umum
digunakan oleh masyarakat desa Kerobokan, Bali. Saringan tersebut digunakan
untuk menyaring air yang berasal dari sumur gali ataupun dari saluran irigasi
sawah.
Seperti halnya saringan keramik, kecepatan air hasil saringan dari jempeng
relatif rendah bila dibandingkan dengan SPL terlebih lagi SPC.

11. Saringan Tanah Liat


Kendi atau belanga dari tanah liat yang dibakar terlebih dahulu
dibentuk khusus pada bagian bawahnya agar air bersih dapat keluar dari pori-
pori pada bagian dasarnya. Seperti saringan Keramik.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Air sebagai bagian dari sumber daya alam adalah merupakan bagian dari
ekosistem. Karena air menyangkut semua kehidupan maka air merupakan faktor yang
mempengaruhi jalannya pembangunan berbagai sektor. Pada umumnya pengelolaan
sumberdaya air berangkat hanya dari satu sisi saja yakni bagaimana mamanfaatkan
dan mendapat keuntungan dari adanya air. Namun untuk tidak dilupakan bahwa jika
ada keuntungan pasti ada kerugian.
Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke atas
permukaan tanah seefisien mungkin dengan pengaturan waktu aliran yang tepat
sehingga tidak terjadi banjir pada musim hujan dan tersedia cukup air pada musim
kemarau. Konservasi air dapat dilakukan dengan meningkatkan pemanfaatan
komponen hidrologi berupa air permukaan dan air tanah serta meningkatkan efisiensi
pemakaian air irigasi.
DAFTAR PUSTAKA

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=251790&val=6766&title=Pengelolaan
%20Sumber%20Daya%20Air

http://balithutmakassar.org/wp-content/uploads/2014/11/7_Konservasi-Air-berdasarkan-
SDA_Info-Teknis-Eboni-Vol-12-No-1-2015.pdf

http://aimyaya.com/id/lingkungan-hidup/kumpulan-teknik-penyaringan-air-sederhana/