Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

BAB II
PEMBAHASAN

HTI merupakan hutan tanaman yang dikelola dan diusahakan berdasarkan prinsip
pemanfaatan yang optimal, dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan sumber
daya alam. Pengusahaan HTI harus mempunyai beberapa sumber daya diantaranya,
sumber daya alam, tenaga kerja, modal, sarana dan prasarana serta kemampuan
manajerial yang profesional. Pengusahaan HTI merupakan suatu usaha yang berjangka
panjang sehingga perlu dikelola dengan sebaik-baiknya serta menerapkan prinsip
ekonomi agar mampu memberikan keuntungan secara terus-menerus dengan
memperhatikan prinsip kelestarian.
Usaha pembangunan HTI membutuhkan:
1. Sumber daya alam, lahan untuk pengembangan HTI
2. Sumber daya manusia, melalui proses recruitment, develop dan training untuk
memiliki tenaga ahli dalam pengelolaan HTI yang berorientasi keuntungan dalam
produksi kayu dan pengembangan investasi HTI lainnya.
3. Nursery, tempat atau areal untuk kegiatan proses benih menjadi bibit yang siap
ditanam dilapangan
Proses produksi bibit eucalyptus:
Media preparation > shoot > cutting off shoot > planting > rooting > selection >
spacing > nursery growing > grading > nursery hardening off > packing > quality
control > bibit siap dikirim ke lapangan.
4. Infrastruktur sarana dan prasarana, pembuatan sarana transportasi jalan untuk
areal darat dan kanal transport untuk areal rawa. Jalan untuk HTI dibagi menjadi 3
kelas, yaitu:
a. Jalan akses utama atau jalan utama, merupakan jalan yang menghubungkan
jalan cabang ke mill atau logpond/dermaga.
b. Jalan cabang (branch road), jalan yang menghubungkan antara jalan sarad
dengan jalan utama.
c. Jalan sarad (spur road), jalan yang bersifat sementara yang menghubungkan
TPn dengan jalan cabang.

A. PENANAMAN
Penanaman adalah segala kegiatan yang menguasahakan tanaman tertentu
pada tanah atau media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai.
Sebelum dilakukan kegiatan penanaman, maka sebelumnya dilakukan
kegiatan:
1. Kebersihan lahan, dilakukan secara mekanis atau secara manual
melalui tebang jalur.
2. Kanal tersier, dibuat dengan tujuan untuk mengatur level air area
tanaman yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman eucalyptus.
Ukuran biasanya 2x1x2 m.
3. Tertiary drain (dry land), tujuannya untuk memaksimalkan
pemanfaatan areal tanam dibagian lembah, ukuran bisa 1x1x1 m untuk
menghindari genangan spot air dalam cekungan.
4. Preplanting spraying, yaitu kegiatan penyemprotan areal dengan
herbisida sebelum penanaman dengan tujuan mengendalikan gulma
guna menekan persaingan dengan bibit yang akan ditanam.
5. Planting, adalah proses penanaman dengan kegiatan lining berguna
untuk menjaga keteraturan jarak tanaman dan holing adalah
pembuatan lubang untuk tanaman.
6. Basal fertilizing, kegiatan penambahan unsur hara guna meningkatkan
kesuburan tanah.
7. Blanking atau penyulaman, kegiatan penanaman kembali pada spot
area yang belum tertanam atau mati, tujuannya guna mendapatkan
persentase tanaman hidup yang tinggi adar potensi tegakan pada saat
panen juga tinggi.

B. PERAWATAN
1. Pembersihan gulma, adalah kegiatan perawatan tanaman induk dari tanaman
liar seperti gulma. Pembersihan gulma dapat dilakukan secara chemical
(semprot) atau manual (cabut,piringan).
2. Pemupukan lanjutan, adalah proses pemupukan lanjutan yang dilakukan
terhadap tanaman, pemupukan dilakukan setelah pembersihan gulma.

C. PEMANENAN
Menurut Conway (1978) pemanenan kayu merupakan serangkaian kegiatan yang
bertujuan untuk memindahkan kayu dari hutan ke tempat penggunaan atau
pengolahan kayu.
Tahap I : Perencanaan Pemanenan
Kegiatan pada tahap ini antara lain, perpetaan, survai, rencana pemanenan dan
pemetaan.
Tahap II : Pembukaan Wilayah Hutan (PWH)
Serangkaian kegiatan yang merencanakan dan membuat sarana dan prasarana
yang diperlukan dalam rangka mengeluarkan kayu. Prasarana tersebut meliputi
rencana sumbu jalan, basecamp, jembatan, gorong-gorong dan lain-lain.
Tahap III : Pemanenan
Kegiatan tahap ini antara lain, persiapan tebangan, penebangan, pemangkasan,
pengukuran, pembagian batang
Tahap IV : Penyaradan
Kegiatan pada tahap penyaradan ialah pemasangan chocker dan penyaradan.
Tahap V : Pengumpulan kayu
Dikenal dengan istilah cold deck dan hot deck. Cold deck berarti kayu yang
sampai ditempat pengumpulan langsung ditangani secara keseluruhan pada saat
itu juga, sedangkan hot deck adalah kayu yang sampai ditempat pengumpulan
tidak ditangani atau diproses secara menyeluruh pada saat itu juga.

ANGGARAN BIAYA PERALATAN


KETERANGAN BIAYA
Pengadaan bibit Rp. 878.938.000,-
Penanaman Rp. 451.495.000,-
Pemeliharaan Rp. 553.820.000,-
Pemanenan kayu Rp. 41.238.665.000,-

ANGGARAN BIAYA PEMUPUKAN


KETERANGAN BIAYA
Pengadaan bibit Rp. 576.805.928.000,-
Penanaman Rp. 118.904.000,-
Pemeliharaan Rp. 63.150.000,-
Pemanenan kayu Rp. 128.575.000,-

ANGGARAN TENAGA KERJA


KETERANGAN BIAYA
Pengadaan bibit Rp. 4.248.816.000,-
Penanaman Rp. 95.650.000,-
Pemeliharaan Rp. 223.800.000,-
Pemanenan kayu Rp. 127.303.000,-

TOTAL ANGGARAN BIAYA


KETERANGAN BIAYA
Pengadaan bibit Rp. 581.933.682.000,-
Penanaman Rp. 666.049.000,-
Pemeliharaan Rp. 840.770.000,-
Pemanenan kayu Rp. 41.494.543.000,-
TOTAL SELURUHNYA Rp. 624.935.044.000,-