Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM KLIMATOLOGI

HUTAN
Data Curah Hujan 10 Tahun Terakhir
Kabupaten Tebo

Oleh:
KELOMPOK 6

YOLA YOLANDA (D1D015066)


M.YUDHI PANGESTU (D1D015071)
RAFINDO PANGESTU (D1D015081)
FHILZA RHAMADHANI (D1D015090)
JOKO ASMORO HADI (D1D015103)
ELDA ROSANTI (D1D015104)
Kelas:B

Dosen Pengajar
Ir.ENDRIANI, M.P.

PROGRAM STUDI KEHUTANAN


FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Klimatologi adalah alat untuk mempelajari kondisi fisis udara pada suatu tempat
misalnya curah hujan, suhu udara, angin yang bertiup, lama penysuryaan, tekanan
udara, penguapan udara dan kelengasan / kelembaban udara. Dalam mampelajari
kondisi iklim ini umumnya berkaitan dengan pengumpulan data pengamatan dari
stasiun cuaca yang dikumpulkan mula-mula tiap-tiap jam, tiap-tiap hari, tiap-tiap
bulan hingga tiap-tiap tahun. Dengan mempelajari kondisi iklim dari berbagai unsur
cuaca tersebut, maka kondisi karakteristik fisi udara pada suatu tempat akan dapat
diketahui.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah katulistiwa
termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Perubahan pola
curah hujan, kenaikan muka air laut, dan suhu udara, serta peningkatan kejadian iklim
ekstrim berupa banjir dan kekeringan merupakan beberapa dampak serius perubahan
iklim yang dihadapi Indonesia. Perubahan iklim akan menyebabkan: (a) seluruh
wilayah Indonesia mengalami kenaikan suhu udara, dengan laju yang lebih rendah
dibanding wilayah subtropis; (b) wilayah selatan Indonesia mengalami penurunan
curah hujan, sedangkan wilayah utara akan mengalami peningkatan curah hujan.
Perubahan pola hujan tersebut menyebabkan berubahnya awal dan panjang musim
hujan.

1.2. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu :


1) Untuk mengetahui tingkat curah hujan di kab.Tebo selama 10 tahun terakhir.
2) Untuk mengetahui jumlah bulan basah dan bulan kering kab.Tebo timur
selama 10 tahun terakhir.
3) Untuk mengetahui pengklasifikasian iklim wilayah kab.Tebo terhadap
berbagai jenis iklim.

1.3. Manfaat

Adapun manfaat yang akan diperoleh dari laporan praktikum ini


adalah agar dapat mengetahui tingkat CH selam 10 tahun terakhir, Untuk
mengetahui jumlah bulan basah dan bulan kering dan mengetahui
pengklasifikasian iklim di wilayah kab.Tebo terhadap berbagai jenis iklim
serta sebagai salah satu tugas laporan praktikum Klimatologi Hutan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
A. Curah Hujan
Curah hujan merupakan jumlah air yang jatuh di permukaan tanah datar
selama periode tertentu yang diukur dengan satuan tinggi (mm) di atas permukaan
horizontal bila tidak terjadi evaporasi, runoff dan infiltrasi. ). Jadi, jumlah curah
hujan yang diukur, sebenarnya adalah tebalnya atau tingginya permukaan air hujan
yang menutupi suatu daerah luasan di permukaan bumi/tanah. Satuan curah hujan
yang umumnya dipakai oleh BMKG adalah milimeter (mm). Curah hujan 1 (satu)
milimeter, artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar
tertampung air setinggi 1 (satu) milimeter atau tertampung air sebanyak 1 (satu)
liter atau 1000 ml.

B. Iklim
Iklim ialah suatu keadaan rata-rata dari cuaca di suatu daerah dalam
periode tertentu. Cuaca ialah suatu keadaan atmosfer selama periode waktu yang
singkat. Cuaca bisa berubah dari jam ke jam, hari ke hari, bulan ke bulan atau
bahkan tahun ke tahun. Suatu pola cuaca daerah, yang dilacak selama lebih dari 30
tahun, dianggap iklim.

2.2 Klasifikasi Iklim


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan penggunaan
klasifikasi iklim adalah :

Tujuan klasifikasi iklim dibuat untuk : pertanian, kelautan, pernerbangan dll


Luas cakupan wilayah klasifikasi iklim : makro, meso, dan mikro.
Latar belakang pembuatan klasifikasi iklim
Ada tiga klasifikasi iklim yang biasa digunakan di Indonesia, antara lain :

Koppen digunakan untuk iklim pada tumbuhan/vegetasi


Schmidth-Ferguson digunakan untuk iklim kehutanan dan perkebunan.
Oldeman digunakan untuk iklim lahan pertanian pangan.

a. Klasifikasi Schmidt - Fergusson


Schmidt dan Fergusson menggunakan dasar adanya bulan basah dan bulan kering
seperti yang dikemukakan oleh Mohr. Perbedaan terdapat pada cara mencari bulan
basah dan bulan kering. Hal ini juga merupakan alasan pembagian iklim tersendiri
untuk Indonesia. Menurut Mohr bulan basah dan bulan kering berdasarkan Tabel 1.1.

Tabel 1.1. Klasifikasi bulan menurut Mohr


Jenis bulan Curah hujan/bulan
Bulan basah >100
Bulan lembab 60-100
Bulan kering < 60

Schmidt dan Fergusson mendapatkan bulan basah dan bulan kering bukan
mencari harga rerata curah hujan untuk masing-masing bulan tetapi dengan cara tiap
tahun adanya bulan basah dan bulan kering dihitung kemudian dijumlahkan untuk
beberapa tahun kemudian direrata. Hal ini mengingat, jika digunakan harga rerata
masing-masing bulan adanya bulan basah dan bulan kering yang tiap tahun bergeser
kemungkinan sekali tidak nampak pada harga rerata bulan basah.

Q=

Jumlah rerata bulan kering dan bulan basah didapat dari data hujan seluruh
Indonesia antara tahun 1921 1940 dengan menghilangkan tempat-tempat yang
mempunyai data sepuluh tahun.

Berdasarkan besarnya nilai Q, Schmidt dan Fergusson menentukan tipe hujan


di Indonesia, yang disajikan pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2. Klasifikasi iklim menurut Schmidt-Fergusson

b. Klasifikasi Koppen
Dasar klasifikasi Koppen adalah rerata curah hujan dan temperatur bulanan
maupun tahunan. Tanaman asli dilihat sebagai kenampakan yang terbaik dari keadaan
iklim sesungguhnya, sehingga batas iklim ditentukan dengan batas hidup tanaman.
Koppen mengenalkan bahwa daya guna hujan terhadap perkembangan dan
pertumbuhan tanaman tidak tergantung pada hanya jumlah hujan tapi juga tergantung
pada intensitas evaporasi yang menyebabkan hilangnya air yang cukup besar, baik
dari tanah maupun dari tanaman.. Hubungan intensitas evaporasi dan daya guna hujan
ditunjukkan dengan hubungan antara hujan dan temperatur. Misalnya: jumlah hujan
yang sama yang terjadi di daerah iklim panas atau terpusat pada musim panas yang
berarti evaporasi besar, adalah kurang bagi tanaman daripada yang jatuh di daerah
beriklim sejuk. Walaupun demikian metode untuk mengukur daya guna hujan ini
tidak begitu memuaskan.
Koppen menggunakan simbol-simbol tertentu untuk mencirikan tipe iklim.
Tiap tipe iklim terdiri dari kombinasi dan masing-masing huruf mempunyai arti
sendiri-sendiri. Koppen membagi bumi dalam 5 kelompok iklim, yaitu :

> Iklim Hujan Tropika (Tropical Rainy Climates)


Iklim ini diberi simbol A. Daerah yang mempunyai temperatur bulan terdingin lebih
besar daripada 18C (64F) termasuk iklim ini yang dibagi menjadi beberapa tipe
iklim, yaitu:
1) Tropika Basah (Af)
Daerah yang termasuk tipe iklm ini harus memenuhi syarat di atas dan daerah bulan
terkering hujan rerata lebih besar dari 60 mm.
2) Tropika Basah (Am)
Jumlah hujan pada bulan-bulan basah dapat mengimbangi kekurangan hujan pada
bulan kering. Tipe ini memiliki bulan-bulan basah dan bulan-bulan kering. Bulan-
bulan kering dapat diimbangi oleh bulan basah, sehingga pada daerah-daerah yang
demikian basah terdapat hutan yang cukup lebat.
3) Tropika Basah Kering (Aw)
Jumlah bulan basah tidak dapat mengimbangi kekurangan hujan pada bulan kering
sehingga vegetasi yang ada adalah padang rumput dengan pepohonan yang jarang.

> Iklim Kering (dry climate)


35% of Earth's land surface , evaporation exceeds precipitation
1) Iklim steppe (Bs) : desert / precipitation < 1/2 evaporation
2) Iklim padang pasir (Bw) : precipitation > 1/2 evaporation

> Iklim sedang (humid mesothermal climate)


27% of Earth's total surface area , 55 % of world's population , Warmest month > 50
degrees F, Coldest month > 32 degrees F but < 64.4 degrees F
1) Iklim sedang dengan musim panas yang kering (Cs dry summer subtropical
climate) : Dry summer / "Mediterranean"
2) Iklim sedang dengan musim dingin yang kering (Cw) : winter dry period
3) Iklim sedang yang lembab (Cf) : no dry season / all months > 1.2 in. precip.
D. Iklim dingin (humid microthermal climate)
21% of Earth's land surface (7% total surface) , warmest month > 50 deg F , coldest
month < 32 deg F , great variability in temperature , snow climates , only in
mountains in the southern hemisphere
1) Iklim dingin dengan musim dingin yang kering (Dw) : dry winter
2) Iklim dingin tanpa pernah kering (Df) : no dry period

E. Iklim kutub (polar)


warmest month below 50 degrees F
1) Iklim tundra (Et) : tundra and ice cap
2) Iklim es- salju abadi (Ef) : cold, ice climates

c. Klasifikasi Oldeman
Sistem klasifikasi iklim menurut Oldeman digunakan terutama pada lahan padi sawah
lahan kering. Atas dasar pertimbangan bahwa curah hujan lebih besar atau sama
dengan 200 mm per bulan dianggap cukup untuk usaha padi sawah, sedang untuk
tanaman palawija curah hujan minimal 100 mm per bulan dianggap cukup. Umur
padi sawah diperkirakan cukup selama 5 bulan. Oldeman membagi beberapa zone
agroklimat seperti yang disajikan pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Klasifikasi iklim menurut Oldeman

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilakukan pada :
Hari/tanggal : 19 April s/d 10 Mei 2016
Tempat : Kantor badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG ) Sungai Duren.

3.2 Alat dan bahan


Alat tulis
Handphone
Komputer / leptop
kalkulator
Bahan praktikum ini di input atau bersumber dari data BMKG dan
badan STATISTIK berupa data iklim selama sepuluh tahun di wilayah
kab.Tebo.

3.3. Prosedur Kerja


1. Siapkan alat .
2. Lakukan pencarian data Curah Hujan dari BMKG atau badan STATISTIK
untuk wilayah kab.Tebo.
3. Lakukan pengolahan data CH tersebut.
4. Klasifikasikan data CH tersebut ke klasifikasi iklim menurut Mohr,Smith and
Ferguson,dan Oldeman.
5. Buatlah laporan hasil pengamatan tersebut.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

Berikut ini data curah hujan selama tahun 2001-2010 di wilayah kab. Tebo di
input dari badan statistik kota jambi.

Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des
2001 244 318 166 304 76 64 65 290 27 319 329 345
2002 319 52 244 142 155 59 139 123 17 81 169 386
2003 304 173 256 151 96 65 98 118 177 206 254 520
2004 195 316 364 291 299 7 142 147 166 141 460 321
2005 112 264 430 186 285 207 242 210 205 149 113 321
2006 156 293 178 413 234 245 242 81 36 52 150 178
2007 197 141 310 258 353 137 42 150 151 341 329 282
2008 247 83 223 377 76 51 112 38 150 245 214 207
2009 163 255 457 183 91 5 84 237 74 153 220 280
2010 353 429 204 226 74 177 432 67 292 125 371 236
Rataan 229 232,4 283,2 253,1 173,9 101,7 159,8 137,1 135,5 181,2 260,9 307,6
Data curah hujan selama tahun 2001-2010 di wilayah kab. Tebo akan diklasifikasikan
kedalam tipe iklim menurut para ahli yaitu diantaranya :
1. Klasifikasi iklim menurut Mohr
2. Klasifikasi iklim menurut Smith dan Ferguson
3. Klasifikasi iklim menurut Oldeman
4.2 PEMBAHASAN

a. Klasifikasi menurut Mohr untuk wilayah kab. Tebo


Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des BB BK BL
2001 244 318 166 304 76 64 65 290 27 319 329 345 8 1 3
2002 319 52 244 142 155 59 139 123 17 81 169 386 8 3 1
2003 304 173 256 151 96 65 98 118 177 206 254 520 9 - 3
2004 195 316 364 291 299 7 142 147 166 141 460 321 11 1 -
2005 112 264 430 186 285 207 242 210 205 149 113 321 12 - -
2006 156 293 178 413 234 245 242 81 36 52 150 178 9 2 1
2007 197 141 310 258 353 137 42 150 151 341 329 282 11 1 -
2008 247 83 223 377 76 51 112 38 150 245 214 207 8 2 2
2009 163 255 457 183 91 5 84 237 74 153 220 280 8 1 3
2010 353 429 204 226 74 177 432 67 292 125 371 236 10 - 2
Rataa 229 232,4 283,2 253,1 173,9 101,7 159,8 137,1 135,5 181,2 260,9 307,6 9,4 1,1 1,5
n
Klasifikasi ini didasarkan pada tingkat kebasahan tanah yang diduga dengan jumlah
curah hujan bulanan.

Adapun tingkat kebasahan menurut mohr:


1. Bulan basah (BB) , Jika CH > 100 mm
2. Bulan lembab (BL), Jika CH antara 60-100 mm
3. Bulan kering (BK) ,Jika CH < 60 mm

Untuk wilayah kab. Tebo rata-rata bulan basah adalah 9,4. Sedangkan untuk
rata-rata bulan kering adalah 1,1. Sehingga wilayah kab. Tebo dapat di kategorikan ke
dalam golongan iklim yang kedua seperti pada tabel dibawah.

Golongan iklim Bulan kering Bulan basah


I. Daerah basah 0 12
II. Agak basah 1-2 6-11
III. Agak kering 2-4 4-9
IV. Daerah kering 4-6 4-7
V. Sangat kering 6-8 2-6

b. Klasifikasi menurut Smith and Ferguson untuk wilayah kab. Tebo


Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des BB BK BL
2001 244 318 166 304 76 64 65 290 27 319 329 345 8 1 3
2002 319 52 244 142 155 59 139 123 17 81 169 386 8 3 1
2003 304 173 256 151 96 65 98 118 177 206 254 520 9 - 3
2004 195 316 364 291 299 7 142 147 166 141 460 321 11 1 -
2005 112 264 430 186 285 207 242 210 205 149 113 321 12 - -
2006 156 293 178 413 234 245 242 81 36 52 150 178 9 2 1
2007 197 141 310 258 353 137 42 150 151 341 329 282 11 1 -
2008 247 83 223 377 76 51 112 38 150 245 214 207 8 2 2
2009 163 255 457 183 91 5 84 237 74 153 220 280 8 1 3
2010 353 429 204 226 74 177 432 67 292 125 371 236 10 - 2
Rataa 229 232,4 283,2 253,1 173,9 101,7 159,8 137,1 135,5 181,2 260,9 307,6 9,4 1,1 1,5
n

Klasifikasi menurut smith and ferguson didasarkan pada banyaknya


bulan basah dan bulan kering yang penentuannya sama dengan
sistem mohr.Untuk menentukan batas-batas tipe iklim smith dan
ferguson menggunakan nilai Q ratio yaitu perbandingan antara
jumlah bulan kering dan bulan basah.

Jadi untuk wilayah kab. Tebo nilai Q adalah 0,11702. Sehingga


wilayah kab. Tebo masuk kedalam tipe iklim A menurut smith dan
ferguson seperti tabel di bawah.

Tipe iklim Nilai Q Keterangan


A 0<Q<0,143 Sangat basah
B 0,143<Q<0,333 Basah
C 0,333<Q<0,600 Agak basah
D 0,600<Q<1,000 Sedang
E 1,000<Q<1,670 Agak kering
F 1,670<Q<3,000 Kering
G 3,000<Q<7,000 Sangat kering
H 7,000< Q Luar bisa kering

c. Klasifikasi menurut Oldeman untuk wilayah kab. Tebo


Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop Des BB BK BL
2001 244 318 166 304 76 64 65 290 27 319 329 345 7 4 1
2002 319 52 244 142 155 59 139 123 17 81 169 386 3 4 5
2003 304 173 256 151 96 65 98 118 177 206 254 520 5 3 4
2004 195 316 364 291 299 7 142 147 166 141 460 321 6 1 5
2005 112 264 430 186 285 207 242 210 205 149 113 321 8 - 4
2006 156 293 178 413 234 245 242 81 36 52 150 178 5 3 4
2007 197 141 310 258 353 137 42 150 151 341 329 282 6 1 5
2008 247 83 223 377 76 51 112 38 150 245 214 207 6 4 2
2009 163 255 457 183 91 5 84 237 74 153 220 280 5 4 3
2010 353 429 204 226 74 177 432 67 292 125 371 236 8 2 2
Rataa 229 232,4 283,2 253,1 173,9 101,7 159,8 137,1 135,5 181,2 260,9 307,6 5,9 2,6 3,5
n

Klasifikasi menurut oldeman didasarkan pada perhitungan curah


hujan bulanan untuk padi dan palawija.
1. Padi 145 mm air/bulan
2. Palawija 50 mm air/ bulan
3. Hujan efektif padi sawah = 100 % x CH rata-rata bulanan
4. Hujan efektif palawija = 75% x CH rata-rata bulanan
Berdasarkan hal tersebut :
1. BB, jika CH bulanan rata-rata >200 mm
2. BK, jika CH bulanan rata-rata < 100 mm
3. BL,jika CH bulanan rata-rata antara 100-200 mm

Berdasarkan rata-rata curah hujan 10 tahun terakhir untuk wilayah


kab. Tebo, bulan basah adalah 5,9. Sedangkan untuk bulan kering
adalah 2,6.sehingga wilayah kab. Tebo masuk kedalam tipe iklim C2
seperti pada tabel dibawah.

Tipe Iklim Keterangan


Tipe Utama
A > 9 bulan basah berturut-turut
B 7-9 bulan basah berturut-turut
C 5-6 bulan basah berturut-turut
D
3-4 bulan basah berturut-turut
E
< 3 bulan basah berturut-turut
Sub Divisi
1 < 2 bulan kering berturut-turut
2 2-4 bulan kering berturut-turut
3 5-6 bulan kering berturut-turut
4 > 6 bulan kering berturut-turut

Dimana tipe iklim C2 dalam klasifikasi menurut oldemen memiliki kurun


waktu penanaman tanaman padi dapat sekali dalam setahun dan tanaman palawija
sebanyak dua kali dalam setahun. Tetapi penanaman palawija yang kedua
harus hati-hati jangan jatuh pada bulan kering.
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan :

1) Curah hujan merupakan jumlah air yang jatuh di permukaan


tanah datar selama periode tertentu yang diukur dengan
satuan tinggi (mm) di atas permukaan horizontal bila tidak
terjadi evaporasi, runoff dan infiltrasi
2) Iklim ialah suatu keadaan rata-rata dari cuaca di suatu daerah dalam periode
tertentu. Cuaca ialah suatu keadaan atmosfer selama periode waktu yang
singkat.
3) Ada tiga klasifikasi iklim yang biasa digunakan di Indonesia, antara lain :
Koppen digunakan untuk iklim pada tumbuhan/vegetasi
Schmidth-Ferguson digunakan untuk iklim kehutanan dan perkebunan.
Oldeman digunakan untuk iklim lahan pertanian pangan.

4) Klasifikasi Mohr didasarkan pada tingkat kebasahan tanah yang diduga


dengan jumlah curah hujan bulanan.
Adapun tingkat kebasahan menurut mohr:
Bulan basah (BB) , Jika CH > 100 mm
Bulan lembab (BL), Jika CH antara 60-100 mm
Bulan kering (BK) ,Jika CH < 60 mm

5) Klasifikasi menurut oldeman didasarkan pada perhitungan


curah hujan bulanan untuk padi dan palawija.
BB, jika CH bulanan rata-rata >200 mm
BK, jika CH bulanan rata-rata < 100 mm
BL,jika CH bulanan rata-rata antara 100-200 mm

6) Tipe iklim C2 dalam klasifikasi menurut oldemen memiliki kurun waktu


penanaman tanaman padi dapat sekali dalam setahun dan tanaman palawija
sebanyak dua kali dalam setahun. Tetapi penanaman palawija yang
kedua harus hati-hati jangan jatuh pada bulan kering.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.seputarilmu.com/2016/02/pengertian-iklim-menurut-
para-ahli.html
https://www.academia.edu/8435150/Curah_Hujan
https://ghozaliq.com/2015/07/16/klasifikasi-berbagai-tipe-iklim/
http://artikeldanmakalah-agusra.blogspot.co.id/2011/06/curah-
hujan.html
http://www.klimatologibanjarbaru.com/klimatologi/publikasi/keteran
gan-oldeman/