Anda di halaman 1dari 3

sekilas tentang psikologi positif

Ditulis pada 11 May 2012 Oleh uthiaestiane-fpsi08 | Kategori : Umum

1. Apa yang dimaksud dengan psikologi positif?

Psikologi positif adalah cabang ilmu baru psikologi yang makin berkembang di mana menurut
pandangannya hidup itu harus memiliki suatu kebermaknaan (meaningfulness). Aliran ini lahir dari
ketidakpuasan terhadap kajian utama psikologi yang tenggelam dalam kenegatifan. Aliran ini
memandang bahwa tidak seharusnya konsep dalam psikologi hanya sekadar mengembalikan
berbagai keadaan negatif menjadi normal atau kembali pada titik nol. Namun dalam hidup manusia
juga harus dapat menikmati dan merasakan prestasi, kesuksesan dan kebahagiaan demi dapat
mencapai suatu kondisi yang positif.

2. Apa yang dimaksud dengan well-being?

Subjective well-being dapat didefinisikan sebagai evaluasi kognitif dan afektif terhadap kehidupan
seseorang (Diener, 2000). Adapun hasil evaluasi kognitif orang yang bahagia adalah adanya kepuasan
hidup yang tinggi, sedangkan evaluasi afektifnya adalah banyaknya afeksi positif dan sedikitnya afeksi
negatif yang dirasakan (Diener dkk, 1999). Pengertian ini sesuai yang dikatakan oleh Alston dan
Dudley (dalam Hurlock, 2004) menyatakan bahwa kebahagiaan merupakan kemampuan seseorang
untuk menikmati pengalaman-pengalamannya, yang disertai tingkat kegembiraan. Ada beberapa
esensi kebahagiaan, yaitu sikap menerima, kasih sayang, dan prestasi. Diener dan Lucas (2000)
menyebutkan adanya dua komponen utama yang membentuk kebahagiaan (subjective well-being),
yaitu komponen afeksi dan kepuasan hidup.

3. Siapa tokoh yang mengembangkan well-being?

Teori mengenai psychological well-being dikembangkan oleh Ryff pada tahun 1989.

4. Mengapa well-being dalam konteks psikologi positif pada saat ini sangat berperan penting
dalam perkembangan psikologi?

Konsep well-being dalam psikologi Positif mempelajari tentang kekuatan dan kebajikan yang bisa
membuat seseorang atau sekelompok orang menjadi berhasil (dalam hidup atau meraih tujuan
hidupnya), dan oleh karenanya ia menjadi bahagia. Salah satu pusat perhatian utama dari cabang
psikologi ini adalah pencarian, pengembangan kemampuan, bakat individu atau kelompok
masyarakat, dan kemudian membantunya untuk mencapai peningkatan kualitas hidup (dari normal
menjadi lebih baik, lebih berarti, lebih bahagia).
5. Bagaimana membentuk well-being dalam kehidupan seorang mahasiswa psikologi di Unair?

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jersild (dalam Mappiare, 1982) menunjukkan adanya
keragaman hal-hal yang menyebabkan seseorang berbahagia. Bagi remaja usia 15-18 tahun yang
mendapatkan frekuensi tertinggi yang mendatangkan kebahagiaan adalah:

Pergi rekreasi ramai-ramai, mengunjungi cagar alam

Mencapai peningkatan diri, berhasil di sekolah, ada kesempatan memperoleh pendidikan,


ada rasa penting dalam jabatan

Memperoleh hubungan baik dengan orang lain, bersahabat karif, mendapatkan teman yang
pasti

Dalam suasana sport, permainan-permainan, bersepeda

Merasa bermanfaat bagi orang lain

Dari beberapa hasil penelitian di atas, salah satu cara untuk membentuk well-being dalam kehidupan
seorang mahasiswa psikologi di Unair adalah dengan memfasilitasi mahasiswa dengan kegiatan-
kegiatan yang mencakup aspek-aspek di atas. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut dapat menjadi
contoh sarana dalam membentuk well-being dalam kehidupan seorang mahasiswa, khususnya
mahasiswa psikologi di Unair.

6. Siapa tokoh yang mengembangkan psikologi positif?

Positive Psychology dikembangkan oleh Prof. Martin Seligman, yang saat itu baru dipilih sebagai
presiden American Psychological Association, pada tahun 1998.

7. Sebutkan 3 kajian yang menjadi fokus dalam kajian psikologi positif!

Menurut Prof. Seligman, ada tiga cara untuk bahagia:


1. Have a pleasant life (life of enjoyment): Memiliki hidup yang menyenangkan, mendapatkan
kenikmatan sebanyak mungkin (cara yang biasa ditempuh oleh kaum hedonis). Namun apabila cara
ini yang kita tempuh, hati-hati terjebak dalam hedonic treadmill (semakin kita mencari kenikmatan,
semakin kita sulit dipuaskan) dan jebakan habituation (kebosanan karena terlalu banyak). Lebih baik
dalam takaran yang pas namun dapat membahagiakan kita.

2. Have a good life (life of engagement): Dalam bahasa aristoteles disebut eudaimonia. Terlibat
dalam pekerjaan, hubungan atau kegiatan yang membuat kita mengalami "flow". Merasa terserap
dalam kegiatan itu, seakan2 waktu berhenti bergerak, kita bahkan tidak merasakan apapun, karena
sangat "khusyu'".

3. Have a meaningful life (life of contribution): Memiliki semangat untuk melayani,


berkontribusi dan bermanfaat bagi orang lain atau mahluk lain. Menjadi bagian dari organisasi atau
kelompok, tradisi atau gerakan tertentu. Merasa hidup memiliki "makna" yang lebih tinggi dan lebih
abadi dibanding diri kita sendiri.