Anda di halaman 1dari 13

DASAR-DASAR GEOMORFOLOGI 2.

Satuan Morfologi
October 5, 2012 by MualMaul Leave a comment

2. Satuan Morfologi

Bentuk-bentuk pada permukaan yang dihasilkan oleh peristiwa-peristiwa geomorfik berdasarkan


kesamaan dalam bentuk dan pola aliran sungai dapat dikelompokkan ke dalam satuan yang sama.
Tujuan dari pengelompokkan ini adalah untuk dapat memisahkan daerah konstruksional dengan
daerah detruksional. Kemudian masing-masing satuan dapat dibagi lagi menjadi subsatuan
berdasarkan struktur dan tahapan (untuk konstruksional) serta berdasarkan deposisional (untuk
destruksional).

2.1 Sungai

Pada hakekatnya aliran sungai terbentuk oleh adanya sumber air (hujan, mencairnya es, dan mata
air) dan adanya relief dari permukaan bumi. Sungai-sungai juga mengalami tahapan geomorfik
yaitu perioda muda, dewasa, dan tua.

Sungai muda dicirikan dengan kemampuan untuk mengikis alurnya, dimana hal ini dapat terjadi
jika gradien sungai cukup terjal. Sungai muda biasanya sempit, dengan tebing terjal yang terdiri
dari batuan dasar. Gradien sungai yang tidak teratur (seragam) disebabkan oleh variasi struktur
batuan (keras-lunak). Sungai pada stadium dewasa akan mengalami pengurangan gradien sungai
sehingga kecepatan aliran dan daya erosi (pengikisan) berkurang, sehingga mulai terjadi
pengendapan. Sungai demikian disebut dengan graded. Jika sungai utama mengalami graded
berarti telah tercapai kedewasaan awal, dan jika cabang-cabang sungai tersebut juga telah
mengalami graded maka telah mencapai kedewasaan lanjut, dan jika alur-alur sungai juga telah
mengalami graded, maka sungai tersebut telah mencapai perioda tua.

Pada umumnya aliran sungai dikendalikan oleh struktur batuan dasar, kekerasan batuan, dan
struktur geologi, serta beberapa hal lainnya membentuk pola-pola aliran sungai (Gambar 4),
antara lain :

Pola dendritik, dengan pola aliran menjari dan menyebar seperti dahan-dahan pohon,
mengalir ke semua arah, dan menyatu di induk sungai. Umum terdapat pada daerah
dengan struktur batuan yang homogen atau pada lapisan endapan sedimen yang
horizontal.
Pola aliran rektangular, dibentuk oleh cabang-cabang sungai yang berbelok, berliku-liku,
dan menyambung dengan membentuk sudut-sudut tegak lurus, yang umumnya
dikendalikan oleh pola kekar dan sesar yang berpola berpotongan secara tegak lurus.
Umum terdapat pada daerah batuan kristalin, serta perlapisan batuan keras yang
horizontal.
Pola aliran trelis, berbentuk pola trali pagar. Sungai-sungai yang lebih besar cenderung
mengikuti singkapan dari batuan lunak. Pola ini umum pada daerah yang terlipat dan
miring kuat.
Pola aliran radial, dengan pola sentrifugal dari suatu puncak, misalnya aliran sungai pada
pegunungan kubah atau gunung api muda.
Pola aliran anular, merupakan aliran dimana sungai-sungai besarnya mengalir melingkar
mengikuti struktur dan batuan yang lunak, dan umum terbentuk pada daerah kubah
struktural yang telah terkikis dewasa. Pola aliran anular dengan demikian merupakan
variasi dari pola aliran trelis.
Gambar 4. Sketsa pola-pola aliran sungai.

Pada sungai yang telah mencapai stadium dewasa terdapat dataran banjir yang terbentuk dari
pengendapan material klastis yang diendapkan pada daerah di dekat sungai membentuk point
bar. Pada sisi kiri kanan sungai sering terbentuk akumulasi yang tebal sedimen sepanjang sungai
dan membentuk tanggul alam (natural levees). Jika arus aliran sungai makin melemah, material
klastis yang terbawa oleh aliran sungai akan terendapkan pada tekuk lereng, sisi dalam meander,
pertemuan antara dua aliran sungai, dan perubahan gradien. Jika endapan aluvial sungai yang
telah terbentuk kemudian terkikis kembali oleh aliran sungai akan terbentuk undak-undak sungai,
dan merupakan peremajaan sungai pada masa dewasa atau tua (Gambar 5).

Jika aliran sungai dari mulut lembah di daerah pegunungan dan kemudian memasuki wilayah
dataran, maka material klastis yang dibawanya akan terendapkan dan kemudian menyebar
meluas dengan sudut kemiringan makin melandai. Fraksi kasar akan terakumulasi di dekat mulut
lembah dan fraksi halus akan terdapat pada dataran, dan dikenal dengan kipas aluvial. Kipas
aluvial dapat terjadi pada kaki-kaki gunung api, kaki tebing dari gawir, dll.

Selanjutnya material klastis yang terbawa oleh aliran sungai hingga laut, dan membentuk delta.
Bentuk-bentuk delta dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain bentuk sungai, gradien sungai,
besarnya beban, kuat arus laut, arah arus laut, dsb.

(a)
(b)

Gambar 5. (a) Sketsa bentuk tanggul alam (natural levees) dan point bar. (b) Kenampakan foto
udara undak-undak sungai dan mender sungai yang terbentuk.

2.2. Dataran dan Plateau

Dataran dan plateau adalah wilayah-wilayah dengan struktur yang relatif horizontal. Dataran
mempunyai relief rendah dengan lembah-lembah dangkal, sedangkan plateau mempunyai relief
yang tinggi dengan lembah-lembah yang dalam. Secara umum beberapa jenis dataran, antara lain
:

Dataran pantai (coostal plains) yang terbentuk oleh timbulnya dasar laut
Interior plains, yang mirip dengan dataran pantai tetapi yang terletak sudah jauh dari laut
Dataran danau (lake plains), terbentuk oleh timbulnya dasar danau karena pengeringan
danau
Dataran lava (lava plains) dan plateau lava (lava plateau), terbentuk oleh aliran lava
encer
Dataran endapan glasial (till plains), terdiri dari endapan glacial yang menutupi topografi
tidak rata
Dataran aluvial (alluvial plains), yang terbentuk dari endapan aluvial dari kipas aluvial di
kaki pegunungan hingga jauh ke dataran banjir dan dataran pantai.

Plateau pada stadium muda merupakan daerah dengan lapisan horizontal dan kebanyakan telah
terkikis dalam oleh aliran sungai. Daerah plateau dapat lebih tinggi terhadap sekitarnya dan
dibatasi oleh gawir atau dapat pula lebih rendah dari pegunungan disekitarnya. Plateau dewasa
mempunyai kenampakan umum mirip dengan pegunungan biasa namun kecenderungan lapisan
batuannya horizontal. Plateau tua umumnya merupakan daerah dataran yang luas yang telah
mengalami pengikisan dengan perlapisan yang horizontal. Bukit-bukit sisa erosi, yang juga
berstruktur horizontal disebut mesa (dengan ketinggian 150-200 m). Dimensi yang lebih kecil
dinamakan butte, dan jika lebih sempit dan tinggi seperti pilar-pilar disebut dengan pinnacles
atau needles.

2.3 Pegunungan kubah (dome mountains)

Kubah diartikan sebagai struktur dari suatu daerah yang luas dengan sifat lipatan regional dengan
sudut kemiringan yang kecil. Ada beberapa sebab terjadinya kubah, antara lain oleh intrusi
garam atau diapir, intrusi lakolit, dan intrusi batuan beku seperti batolit.

Dalam tahapan muda pegunungan kubah akan dikikis oleh sungai-sungai namun belum dalam,
bentuk kubah masih utuh, pengikisan dimulai di puncak dengan membentuk cekungan erosi.
Kadang-kadang inti kubah yang keras tampak di dasar cekungan erosi kubah. Pada tahapan
dewasa, pengikisan di puncak makin meluas dan mendalam. Undak-undak gawir terbentuk
sesuai dengan banyaknya lapisan-lapisan yang resistan, serta punggungan-punggungan dengan
lapisan miring (hogbacks) terbentuk (Gambar 6). Pada tahapan tua, mempunyai bentuk akhir dari
pengikisan kubah akan membentuk peneplane. Pola aliran annular hampir-hampir hilang. Kubah
besar dan tinggi dihasilkan oleh intrusi-intrusi batolit; yang lebih kecil dihasilkan oleh intrusi
lakolit, dan berbentuk kubah landai yang dihasilkan oleh sill. Kubah-kubah kecil dapat
dihasilkan oleh intrusi garam atau diapir lempung.
Gambar 6. Sketsa bentuk (morfologi) hogbacks.

Punggungan-punggungan lapisan miring (hogbacks) dapat terbentuk oleh beberapa kejadian


antara lain kubah, antiklin, sesar, intrusi, dan sebagainya. Faltion merupakan hogbacks yang
terletak terdekat dengan inti kubah yang keras seperti batuan kristalin dengan ujung atas
umumnya runcing (Gambar 7).
Gambar 7. Sketsa suatu bentuk pegunungan kubah yang telah mengalami erosi lanjut.

Inti kubah yang terdiri dari batuan kristalin sering memberi arti sebagai sumber mineral logam;
pertambangan sering dijumpai kubah-kubah garam tentunya memberi makna sebagai sumber
garam. Jika tidak berpotensi akan mineral, inti kubah yang bertekstur kasar sering merupakan
daerah hutan dan sekaligus merupakan daerah tadah hujan. Juga lereng-lereng terjal dari
hogbacks sebaiknya merupakan daerah hutan untuk mencegah longsoran dan untuk tujuan
konservasi air.

2.4 Pegunungan Lipatan (Folded Mountains)

Istilah pegunungan lipatan digunakan untuk suatu jenis pegunungan dengan struktur lipatan yang
relatif sederhana. Pada tahapan muda morfologinya masih menggambarkan adanya lingkungan
antiklin dan sinklin. Bila erosi melanjut maka pengikisan sungai lateral dapat menajam ke hulu
dan juga sepanjang puncak antiklin. Pada tahapan dewasa pengikisan di puncak antiklin dapat
melanjut, melebar ke arah dalam sepanjang puncak antiklin dan akhirnya terbentuk lembah
antiklin dengan kenampakan morfologi terhadap struktur geologi menjadi terbalik (interved
relief), bukit-bukit antiklin (anticlinal ridges), dan lembah-lembah sinklin (sinclinal ridges),
serta bukit-bukit yang terbentuk oleh lapisan-lapisan yang miring searah disebut bukit-bukit
homoklin (homoclinal ridges). Pada tahapan tua, daerah pegunungan lipatan oleh pengikisan
menjadi peneplane dan sungai mengalir di dataran tersebut seolah tanda mengindahkan adanya
lapisan lunak ataupun keras (Gambar 8).

Daerah pegunungan lipatan umumnya berbukit-bukit terjal, dengan lembah-lembah yang


panjang, adanya perulangan antara lembah lebar dan lembah sempit akibat perbedaan kekerasan
batuan, adanya gawir terjal dan pegunungan landai pada hogbacks atau homoclinal ridges.

Daerah pegunungan lipatan yang terdiri dari batuan-batuan sedimen sering pula mengandung
nilai-nilai ekonomis seperti batugamping, batulempung, batupasir kuarsa, gipsum, dan
sebagainya.
Gambar 8. Sketsa bentuk morfologi pegunungan lipatan (atas), dan hasil proses erosi pada
pegunungan lipatan (bawah).

2.5 Pegunungan Patahan (Block Mountains)

Pegunungan ini merupakan hasil deformasi oleh sesar. Pada tahapan muda pegunungan patahan
memperlihatkan gawir-gawir terjal yang memisahkan antara satu blok pegunungan dengan blok
yang lain atau antara blok pegunungan dengan blok lembah. Umumnya bidang gawir tajam
relatif rata, belum tersayat oleh lembah-lembah. Bentuk blok dapat persegi, berundak, atau
membaji tergantung kepada pola sesar.
Gambar 9. Sketsa proses geomorfik pada pegunungan patahan.

Pada tahapan dewasa menyebabkan adanya pengikisan pada bagian muka atau punggungan blok
dengan beberapa kenampakan bagian muka dari blok masih lebih terjal dari pada bagian
punggungan, masih terlihat adanya kelurusan garis dasar sesar, adanya triangular facets yang
merupakan sisa-sisa bidang sesar setelah terkikis, adanya dataran aluvial berupa kipas aluvial
yang terletak berjajar dalam garis lurus sepanjang kaki bidang muka dan blok, serta munculnya
mata air. Pada tahapan tua, daerah pegunungan patahan menjadi mendatar dan kehilangan bentuk
simetrinya, dengan daerah aluvial yang meluas (Lihat Gambar 9).

2.6 Gunung Api

Pertumbuhan gunung api merupakan salah satu dari bentuk konstruksional, dimana
pembentukannya dapat terjadi melalui letusan, longsoran, injeksi kubah lava, dan sebagainya
diselingi dengan erosi. Pada umumnya proses erosi berjalan lebih lambat dari proses
pembentukan gunung api (Gambar 10). Disamping itu gunung api dapat pula mengalami proses
konstruksi lain seperti sesar dan lipatan.

Gambar 10. Sketsa pertumbuhan gunung api.

Gunung api yang telah mencapai tahapan dewasa oleh letusan baru dapat segera menjadi muda
kembali. Perubahan-perubahan bentuk oleh kegiatannya dapat terjadi seperti pembentukan kubah
lava, aliran lava, aliran lahar, pembentukan kerucut porositer, pembentukan kaldera.

Bentuk-bentuk gunung api dipengaruhi oleh letusan dan aliran lava. Pada letusan gunung api
akan menghasilkan tufa dan breksi vulkanik membentuk cinder cones. Compasite cones
terbentuk jika kegiatan erupsi letusan dan aliran lava terjadi secara bergantian. Kerucut gunung
api sederhana mempunyai kawah (crater), pada letusan-letusan yang berulang pada titik yang
berbeda dalam suatu kawah dapat menghasilkan kawah ganda (nested craters), dan pada letusan
dahsyat dapat menghasilkan kaldera (kawah yang sangat besar, berdinding terjal, dan umumnya
mempunyai dasar kawah yang rata). Gunung api baru dapat tumbuh di dasar kaldera, dan disebut
gunung api sekunder.

Gunung api di dalam tahapan tua sudah tidak memperlihatkan bentuk kerucut lagi. Hanya sisa
diatrema saja yang kadang-kadang terlihat mencuat diantara dataran, dan disebut volcanic necks
(Gambar 11).

Gambar 11. Gambar suatu bentuk sisa gunung api (volcanic neck)