Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH KIMIA LINGKUNGAN

OLAHAN LIMBAH TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT (TKKS)


SEBAGAI BAHAN BAKU OBAT KUMUR MASA MENDATANG

Disusun oleh :
Ita Ariati
19133969A
Teori 5

FAKULTAS S1-FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2014/2015
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah padat yang dihasilkan
pabrik/industri pengolahan minyak kelapa sawit. Produksi minyak kelapa sawit kasar
mencapai 6 juta ton per tahun. Secara bersamaan dihasilkan pula limbah TKKS dengan
potensi sekitar 2,5 juta ton per tahun (Anonim, 1999). Di pabrik minyak kelapa sawit, TKKS
hanya dibakar dan sekarang telah dilarang karena adanya kekhawatiran pencemaran
lingkungan, atau dibuang sehingga menimbulkan keluhan/masalah karena dapat menurunkan
kemampuan tanah menyerap air. Di samping itu, TKKS yang membusuk di tempat akan
menarik kedatangan jenis kumbang tertentu yang berpotensi merusak pohon kelapa sawit
hasil peremajaan di lahan sekitar tempat pembuangan (Anonim, 1998). Salah satu usaha
dalam mengatasi hal tersebut adalah memanfaatkan TKKS menjadi produk berguna dan
bernilai tambah, antara lain diolah menjadi Xylitol. Xylitol adalah salah satu bahan tambahan
makanan yang penambahannya bertujuan sebagai pemanis pengganti gula. Selain sebagai
pemanis, bahan tambahan makanan ini mempunyai berbagai manfaat bagi kesehatan,
misalnya kesehatan mulut.

Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) membuktikan bahwa dari 10 kelompok


penyakit yang dikeluhkan masyarakat, penyakit gigi dan mulut menempati urutan pertama
(60 %). Ini menggambarkan bahwa kesadaran masyarakat Indonesia dalam menjaga
kesehatan gigi dan mulut masih tergolong rendah. Salah satu penyebab kerusakan gigi adalah
makanan atau minuman yang mengandung sukrosa yang berpotensi menyebabkan gigi
berlubang.

Obat kumur kini menjadi salah satu alternatif yang banyak digunakan untuk menjaga
kesehatan mulut. Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai bahan aktif obat kumur
adalah Xylitol. Xylitol berperan aktif dalam memperbaiki kavitas kecil yang disebabkan oleh
karies karena menghambat akumulasi plak pada gigi. Xylitol juga mendukung proses
remineralisasi dan memperkuat email gigi karena menyebabkan aliran saliva bertambah
sehingga menormalkan pH rongga mulut dan menetralisir semua asam yang telah terbentuk.

Obat kumur yang mengandung xylitol dipilih karena merupakan hal yang relatif
masih baru di Indonesia, bahkan saat penelitian ini selesai dilakukan belum terdapat obat
kumur mengandung xylitol yang telah beredar di Indonesia yang berasal dari limbah TKKS.
Bakteri Streptococcus mutans serotip E dipilih sebagai objek penelitian karena bakteri
tersebut dilaporkan banyak ditemukan pada plak gigi manusia dan juga merupakan agen
penyebab karies gigi (Samaranayake, 2002). Di beberapa negara pasta gigi mengandung
xylitol ini telah direkomendasikan penggunaannya karena terbukti efektif menurunkan karies
(Peldyak, 2006). Namun belum terdapat penelitian lebih lanjut tentang seberapa besar
pengaruhnya terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans serotip E.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah cara memanfaatkan limbah tandan kosong kelapa sawit yang
melimpah sebagai bahan baku obat kumur?
2. Apakah xylitol yang dihasilkan dari olahan tandan kosong kelapa sawit dapat
mengurangi penyakit karies dan plak gigi yang banyak diderita oleh masyarakat serta
dapat memperkuat email gigi?
3. Berapa konsentrasi Xylitol yang perlu digunakan untuk menghambat karies dan plak
gigi?

1.3. Tujuan
1. Mengetahui cara yang tepat untuk memanfaatkan limbah tandan kosong kelapa sawit
sebagai bahan baku obat kumur.
2. Xylitol yang dihasilkan dari olahan tandan kosong kelapa sawit dapat diaplikasikan
sebagai obat kumur untuk mengurangi penyakit karies dan plak gigi serta dapat
memperkuat email gigi.
3. Mengetahui konsentrasi penggunaan xylitol yang dapat menghambat karies dan plak
gigi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Tandan Kosong Kelapa Sawit

Tandan kosong kelapa sawit merupakan limbah utama berligniselulosa yang belum
termanfaatkan secara optimal dari industri pengolahan kelapa sawit. Basis satu ton tandan
buah segar akan dihasilkan minyak sawit kasar sebanyak 0,21 ton (21%) , minyak inti sawit
sebanyak 0,05 ton (0,5%) dan sisanya merupakan limbah dalam bentuk tandan kosong, serat
dan cangkang biji yang masing masing sebanyak 0,23 ton (23%), 0,135 ton (13,5%) dan
0,055 ton (5,5%) (Darnoko, 1992).

Tandan kosong kelapa sawit yang merupakan 23 persen dari tandan buah segar,
mengandung bahan lignoselulosa sebesar 55-60 persen berat kering. Dengan produksi puncak
kelapa sawit per hektar sebesar 20-24 ton tandan buah segar per tahun berarti akan
menghasilkan 2,5-3,3 ton bahan lignoselulosa. TKKS termasuk biomassa lignoselulosa, yang
kandungan utamanya adalah selulosa 38,76%, hemiselulosa 26,69% dan lignin 22,23%.
Kandungan selulosa yang cukup tinggi pada TKKS dapat digunakan sebagai bahan baku
pembuatan pulp untuk kertas. (Darnoko, 1995).

2.2. Pembuatan Xilytol dari TKKS

Ada beberapa cara untuk membuat xylitol dari TKKS, diantaranya yaitu:

Menggunakan Mikroba Candida tropicalis

Salah satu mikrob yang berperan dalam biokonversi xilosa menjadi Xylitol adalah
khamir, terutama dari genus Candida. Menurut Gong et al. (1981), dari 10 jenis khamir
ditemukan bahwa Candida tropicalis adalah penghasil xylitol terbaik yang berasal dari
xilosa. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Barbosa et al. (1988) (diacu
dalam Santos et al. 2008), dari 44 golongan khamir yang berperan dalam biokonversi
xilosa menjadi xylitol, diantaranya Candida guilliermondii dan Candida tropicalis
sebagai penghasil xylitol terbaik. Xylitol reduktase mengkatalisis reduksi xilosa 15
menjadi xylitol dan xylitol dehidrogenase mengoksidasi xylitol menjadi Dxilulosa.
Kemudian D-xilulosa dikonversi menjadi D-xilulosa 5-fosfat oleh xilulosa kinase dan
memasuki jalur pentosa fosfat. XDH menggunakan NAD sebagai koenzim sedangkan XR
koenzimnya adalah NAD(P)H (Ko et al. 2006). Jalur pentosa fosfat terdiri atas tahap
oksidatif dan nonoksidatif. Tahap oksidatif mengubah heksosa fosfat menjadi pentosa
fosfat yang memerlukan NADPH dalam biosintesisnya. Tahap nonoksidatif mengubah
pentosa fosfat menjadi heksosa fosfat (fruktosa-6-fosfat) dan trigliserida (Granstrom
2002). Kedua senyawa ini akan masuk ke dalam Lintasan Embden Meyerhoff Parnas
(glikolisis). Siklus ini akan menghasilkan produk berupa piruvat, yang selanjutnya
dikonversi menjadi etanol atau masuk ke dalam siklus asam karboksilat. Penelitian Choi
et al. (2000), produksi xylitol melalui proses fermentasi daur ulang sel (cell recycle)
dengan Candida tropicalis dapat meningkatkan produktivitas xylitol. Hasil yang
diperoleh yaitu rendeman sebesar 0.82 g/g dan produktivitas xylitol 4.94 g/L jam.

Horitsu dkk. (1992) mencapai produksi xylitol yang maksimal dengan menggunakan
konsentrasi awal xilosa sebesar 172 g/L dan konsentrasi ekstrak khamir 21 g/L. Oh dan
Kim (1998) melakukan percobaan dengan menambahkan xilosa dan glukosa pada rasio
yang berbeda dan melihat pengaruhnya pada produksi xylitol oleh C. tropicalis. Hasil
yang diperoleh dari 300 g/L xilosa dengan rasio glukosa/xilosa 15% adalah 91%
sedangkan produksi volumetrik diperoleh sebesar 3.98 g/L dengan rasio glukosa/xilosa
20%. Penelitian yang dilakukan oleh Yahashi dkk. (1996) menggunakan fed batch pada
produksi xylitol oleh Candida tropicalis memperoleh rendemen sebesar 0.82 g/g dan
produktivitas volumetrik sebesar 3.26 g/L jam dengan penambahan glukosa sebagai
kosubstrat.

Berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh Windarti (2010) Kondisi optimum untuk
produksi xylitol dicapai dengan bobot basah sel sebesar 2.5 gram, waktu inkubasi 96
jam, dan rasio antara xilosa dan arabinosa sebesar 6:3%. Pada kondisi optimum tersebut
diperoleh produksi xylitol sebesar 5.90 g/L. Penambahan glukosa kedalam media xilosa
diketahui dapat menurunkan produksi Xylitol sebesar 20% dibandingkan media kontrol.

Menggunakan mikroba Debaromyces hansenii

Produksi Xylitol oleh D. hansenii telah diminati selama beberapa dekade terakhir
karena ragi ini mampu menghasilkan xylitol dibandingkan etanol dengan rasio lebih dari
empat (>4) (Breuer and Harms, 2006). Menurut Vongsuvanlert dan Tani (1998), xylitol
dapat diproduksi melalui dua jalur metabolism oleh sel khamir. Xilosa akan diproduksi
menjadi xylitol oleh NADH atau NADPH dependent xylose reductase, atau melalui
isomerasi Dxilosa menjadi D xilulosa oleh Dxilosa isomerase baru kemudian D-xilulosa
akan direduksi menjadi xylitol oleh NADH dependent xylitol dehydrogenase.

D. hansenii mensintesis produk bergantung pada substrat yang digunakan. D.


hansenii dapat memproduksi arabinitol dan xylitol sebaik memproduksi etanol dari gula
pentosa. Pada fermentasi menggunakan kemostat dalam keadaan oksigen berlebih, D.
hansenii tidak memproduksi xylitol maupun etanol (Breuer and Harms, 2006). Dalam
keadaan Oksigen terbatas, maka yield biomassa akan berkurang, sedangkan yield xylitol
akan bertambah seiring juga dengan terbentuknya gliserol (Breuer and Harms, 2006).

2.3. Potensi Xylitol dari limbah TKKS sebagai obat kumur

Penelitian yang dilakukan oleh Mangundjaja (2001) telah menyebutkan bahwa pasta
gigi yang mengandung xylitol mampu menekan pertumbuhan bakteri penyebab karies yaitu
Streptococcus mutans di dalam mulut serta menurut penelitian Purdiktasari (2013)
menyebutkan bahwa larutan xylitol sebagai obat kumur dengan kosnentrasi 25% paling
efektif dalam menurunkan jumlah S. mutans pada perawatan ortodonsi dengan sistem
perlekatan langsung (Penelitian Eksperimental Laboratoris). Hasil yang menunjukkan bahwa
xylitol dapat sebagai antibakteri terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans serotif E juga
didapat dari penelitian oleh Resti dkk (2008). Xylitol juga terbukti dapat menghambat
pertumbuhan S. Aureus (Aslim, 2014). Manfaat lainnya tentang xylitol juga diperkuat dengan
beberapa penelitian telah dilakukan. Penelitian terkini menunjukkan bahwa xylitol memiliki
efek dalam mereduksi plak karena menyebabkan mikroorganisme patogen yang ada
(termasuk jamur) menderita kelaparan karena jamur kehilangan sumber makanannya yaitu
gula. Hal ini memberi kesempatan pada mulut untuk melakukan remineralisasi pada gigi
berlubang tanpa gangguan.

Peningkatan konsentrasi xylitol berpengaruh dalam menurunkan jumlah koloni C.


albicans secara in vitro dan konsentrasi xylitol 10 % serta durasi 3 hari adalah konsentrasi
dan durasi paling berpengaruh dalam menurunkan jumlah koloni C. albicans (Sastra ,2009).
Penambahan xylitol pada larutan remineralisasi dapat mempengaruhi remineralisasi email
yang telah mengalami demineralisasi ditinjau dari kekerasan gigi, email yang telah
terdemineralisasi menjadi lebih keras setalah diberi aplikasi larutan remineralisasi yang
ditambah xylitol sehingga xylitol dapat dipergunakan sebagai alat bantu penguat gigi dalam
kehidupan sehari-hari (Afnida, 2008).

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan

1. Cara yang tepat untuk memproduksi Xylitol dari TKKS yaitu dengan bantuan
mikroba seperti Candida tropicalis dan Debaromyces hansenii.
2. Xylitol terbukti dapat mengurangi karies , plak gigi, memperkuat email gigi dan
mengurangi koloni Candida albicans
3. Konsentrasi Xylitol 10 % dalam durasi 3 hari sudah dapat menurunkan koloni C.
albicans secara in vitro serta konsentrasi Xylitol 25% efektif dalam menurunkan
jumlah S. mutans.

DAFTAR PUSTAKA
Afnida, Fitri. 2008. Pengaruh Xylitol terhadap proses remineralisasi email gigi: uji
kekerasan email gigi [Skripsi]. Universitas Indonesia.

Anonim. 1998. Summing-up on the 1998s International Oil-Palm Conference on


September 23 25, 1998. Nusa Dua, Bali, Indonesia

Anonim. 1999. Project proposal: Pulp and paper from empty oil-palm bunches. PT
Triskisatrya Daya Pratanma. Jakarta, Indonesia.

Aslim, Fuad . 2014. Daya Hambat Xylitol terhadap pertumbuhan Mikroorganisme Rongga
Mulut (Streptococcus mutans, Staphylococcus aureus, dan Candida albicans studi in
vitro. Universitas Hasanudin

Choi JH, Moon K, Ryu YW, Seo JH. 2000. Production of Xylitol in cell recycle
fermentations of Candida tropicalis. Biotechnol. Lett. 22: 1625-1628.

Darnoko. 1992. Potensi Pemanfaatan Limbah Lignoselulosa Kelapa Sawit Melalui


Biokonversi. Medan: Berita Penelitian Perkebunan.