Anda di halaman 1dari 34

KELOMPOK 5

Presented by :
Imam Choiri (1720343765)
Irene Rambu Y. D. D (1720343766)
Irmawati (1720343767)

D I S E NT R I
DEFINISI
Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (=gangguan) dan enteron (=usus), yang berarti
suatu peradangan usus besar yang dapat menimbulkan gejala meluas seperti :

BAB dengan tinja berdarah

BAB dengan tinja bercampur lendir (mucus)

Kram perut

Nyeri saat buang air besar (tenesmus)


ETIOLOGI
1. Bakteri (Disentri basiler)
Shigella, Shigella adalah basil non motil, gram negatif, famili enterobacteriaceae.
Ada 4 spesies Shigella, yaitu S.dysentriae, S.flexneri,S.bondii dan S.sonnei
Penyebab disentri yang tersering
2. Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica

- E.histolytica merupakan protozoa usus, sering hidup sebagai mikroorganisme


komensal (apatogen) di usus besar manusia

Dapat berubah menjadi patogen dengan cara membentuk koloni di dinding usus dan
menembus dinding usus sehingga menimbulkan ulserasi
PATOFISIOLOGI
Transmisi : fecal-oral, melalui : makanan / air yang terkontaminasi, person-to-person contact
1. Disentri basiler (Shigella)
MO bertahan terhadap pH yang rendah, dapat melewati barrier asam lambung
kolonisasi di ileum terminalis/kolon, terutama kolon invasi ke sel epitel mukosa
kolon replikasi menghasilkan eksotoksin : ShET1, ShET2, dan toksin Shiga, yang
mempunyai sifat enterotoksik, sitotoksik,dan neurotoksi cAMP hipersekresi usus
(diare cair, diare sekresi) infiltrasi sel radang mukosa usus hiperemik, lebam dan
tebal, nekrosis superfisial ulkus-ulkus kecil mengenai pembuluh darah tinja
bercampur darah
Lanjutan
2. Disentri amoeba

Bentuk histolitika (trofozoit) menjadi patogen invasi ke sel epitel


mukosa usus memproduksi enzim fosfoglukomutase dan lisozim
kerusakan dan nekrosis jaringan dinding usus ulkus amoeba ulkus
melebar, menonjol malabsorpsi kerusakan permukaan absorpsi
massa intraluminal tekanan osmotik intraluminal diare osmotik
EPIDEMIOLOGI
Prevalensi amebiasis sangat bervariasi,
diperkirakan 10 persen populasi
terinfeksi. Prevalensi tertinggi di
daerah tropis (50-80%). Manusia
merupakan host dan reservoir utama.
Di dunia sekurangnya 200 juta kasus
dan 650.000 kematian terjadi akibat
disentri basiler pada anak anak di
bawah umur 5 tahun.
FAKTOR RESIKO
Sebagian besar disentri terjadi
pada usia balita disebabkan oleh :
Tidak diberi ASI
Gizi buruk
Sedangkan pada usia dewasa
dapat disebabkan oleh :
Sanitasi lingkungan yang buruk
Perilaku hidup
MANIFESTASI KLINIS
1. Disentri basiler
Onset : berlangsung cepat, sering mendadak, dapat juga perlahan-lahan
Defeksi sedikit-sedikit dan dapat terus menerus. Sifat : mulanya sedikit-sedikit
sampai isi usus terkuras habis, selanjutnya pada keadaan ringan masih dapat
mengeluarkan cairan, sedangkan bila keadaan berat tinja berlendir dengan warna
kemerah-merahan (red currant jelly) atau lendir yang bening dan berdarah,
bersifat basa
Sakit perut kolik
Lanjutan
Muntah
Sakit kepala
Mikroskopik : sel-sel pus, leukosit/eritrosit, sel makrofag
Suhu bervariasi dari rendah-tinggi
Nadi cepat
Sakit perut terutama di sebelah kiri, terasa melilit diikuti pengeluaran tinja sehingga
mengakibatkan perut menjadi cekung
Di daerah anus luka dan nyeri
2. Disentri amoeba
Disentri amoeba ringan
Onset penyakit perlahan-lahan
Perut kembung, kadang nyeri perut ringan
Diare ringan, 4-5 kali sehari, dengan tinja berbau busuk. Kadang tinja bercampur darah
dan lendir
Nyeri tekan di daerah sigmoid, jarang nyeri di daerah epigastrium, tergantung pada
lokasi ulkusnya
Keadaan umum baik, tanpa atau sedikit demam ringan (subfebris)
Kadang dijumpai hepatomegali yang tidak atau sedikit nyeri tekan
Disentri amoeba sedang
Keluhan gejala klinis lebih berat dibanding disentri ringan,tetapi pasien
masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari
Tinja disertai lendir dan darah
Perut kram
Demam
Lemas
Hepatomegali ringan
Disentri amoeba berat
Keluhan dan gejala klinis lebih berat lagi
Diare disertai darah yang banyak, lebih dari 15 kali sehari
Demam tinggi (40C-40,5C)
Mual
Anemia
DIAGNOSIS
Disentri basiler
Keluhan nyeri abdomen bawah, dan diare
Pemeriksaan mikroskopik tinja menunjukkan adanya eritrosit dan leukosit PMN
Untuk memastikan diagnosis dilakukan kultur dari bahan tinja segar atau hapus rektal
Endoskopi : mukosa hemoragik yang terlepas dan ulserasi. Kadang tertutup eksudat.
Sebagian besar lesi terdapat di bagian distal kolon dan secara progresif berkurang di
segmen proksimal kolon
Px. Enzim immunoassay : mendeteksi toksik di tinja
Disentri amoeba
Pemeriksaan tinja : tidak banyak mengandung leukosit tetapi banyak mengandung bakteri
Diagnosis pasti baru dapat ditegakkan bila ditemukan amoeba (trofozoit)
Tinja berbau busuk, bercampur darah dan lendir
Pemeriksaan sigmoidoskopi dan kolonoskopi
Didapatkan ulkus yang khas dengan tepi menonjol, tertutup eksudat kekuningan, mukosa
usus antara ulkus-ulkus tampak normal
Foto rontgen kolon
Pada kasus amoebiasis kronis, tampak ulkus disertai spasme otot
SASARAN TERAPI

Dehidrasi dan kehilangan cairan elektrolit


Gejala yang menyertai disentri
Faktor penyebab disentri
TATALAKSANA
Non-Farmakologi
- Memperbaiki nutrisi yang hilang selama diare
- Mengembangankan keseimbangan elektrolit tubuh
- Menjaga kebersihan
- Mengurangi makan makanan yang pedas, berlemak, dan
minuman bersoda
- Hidup hygiene
Farmakologi
- Rehidrasi
- Pemberian antibiotik
PENYELESAIAN KASUS
(SOAP)
KASUS
Ny MM 40 th, 50 kg, Mual, muntah 2x sehari sejak kemaren. Perut
mulas sekali setiap akan BAB. BAB 5x sehari, sedikit mencret, lendir (+),
darah (+). Panas sejak 4 hari yang lalu, sumer sumer. Mata cekung,
mulut lidah kering, Nyang alergi penisislin, dan menggunakan
kontrasepsi oral (Mycroginon).
RIWAYAT PENYAKIT
TERDAHULU :

Hepatitis dan Diabetes Mellitus Leukosit : 21,6 x 106 /mm3


pH : 7
TD : 110/70 mmHg Turgor kulit : Menurun
HR : 60 x permenit Extrimitas : Hangat
Pemeriksaan sampel feses : Shigella
T : 37,5 C
sp. (+)
Na serum : 130 mEq/L Diagnosis : Disentry, dehidrasi
K serum : 3,0 mEq/L
Kultur kuman Shigella sp

Pengobatan :
- Cotrimoxazole 2x 1 tab
- Asam nalidiksilat 4x 500 mg
- Ranitidin tablet 2x1 tab
- Parasetamol 3x1 tab
- Antasida 2x1 tab
DATA BASE PASIEN
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny MM (40 tahun) No Rek Medik : 1A Riwayat penyakit terdahulu :
Hipatitis
Tempt/tgl lahir : - Dokter yg merawat : dr.X
diabetes mellitus
Alamat :-
Riwayat sosial : -
Ras :-
Kegiatan : -
Pekerjaan :-
Pola makan/diet :
Sosial :-
Vegetarian ya/tidak
Riwayat masuk RS : -
Merokok ya/tidak

Meminum alkohol ya/tidak

Riwayat alergi : Alergi penisilin


KELUHAN ATAU TANDA UMUM
Tanggal Subyektif Obyektif

05/08/2016 Mual muntah, perut mulas, sedikit mencret, BAB 5 kali, panas Lendir (+), Darah (+)
sejak 4 hari yang lalu, sumer-sumer (meriang), mata cekung, Tanda Vital:
mulut dan lidah kering - TD 110/70 mmHg ()
- HR 60 kali/menit (N)
- Suhu 37,5 0C (sedikit )
- Na serum 130 mEq/L ()
- K serum 3,0 mEq/L ()
- Leukosit 21,6 x 106 mm3 ()
- pH = 7
Turgor kulit : menurun
Extrimitas : hangat
Pemeriksaan sampel feses : Shigella Sp. (+)
OBAT YANG DIGUNAKAN SAAT INI
No. Nama obat Indikasi Dosis Rute pemberian Interaksi ESO Outcome

1 Mycroginon Kontrasepsi 1 x 1 Tab oral Barbiturat, Sakit Tidak mengalami


Hidantoin, kepala,gangguan kehamilan
Rifampisin, dan lambung, mual,
Ampisilin pendarahan antara
waktu menstruasi
2 Cotrimoxazole Antibakteri 2x1 tab oral Warfarin, fenitoin, Mual, stomatitis, Menghambat
obat-obat anemia himolitik perkembangan
hipoglikemik oral bakteri

3 Asam Nalidiksilat 4x500 mg ISK 4x1 tab Oral Konvulsi, dan bayi Gangguan saluran Membunuh
yang berusia kurang cerna, kulit dan SSP petumbuhan
dari 3 bulan serta sakit kepala bakteri

4 Ranitidin tab 2x1 tab Tukak lambung 2x1 tab Oral Makanan Mengantuk, sakit Tukak lambungnya
kepala sembuh

5 Parasetamol 3x1 tab Antipiretik 3x1 tab Oral Gangguan ginjal Hepatotoksik, Demamnya
dan hati Trombositopenia, menurun
dan ruam kulit
6 Antasida 2x1 tab Tukak lambung 2x1 tab Oral Antibiotik, Gangguan ginjal Tukak lambungnya
Digoksin, dan Anti dan saluran cerna sembuh
biotik oral
ASSESMENT
TUJUAN & SASARAN TERAPI
Tujuan Terapi
Menghilangkan penyebab disentri
Mengatasi gangguan karena disentri
Menyembuhkan gejala
Mencegah gangguan keseimbangan air, asam basa, elektrolit
Sasaran Terapi
Mengatasi dehidrasi dengan pemberian cairan elektrolit
Menghilangkan faktor penyebab disentri
Pemberian antibiotik pada diare infeksi
akut
KESIMPULAN TERAPI

Dari kasus Ny MM yang mengalami disentry


basiller dapat disimbulkan penggunaan obat yang
tepat adalah:
1. Contrimoxazole 2 x 1 tab
2. Antasida 2 x 1 tab
3. Sistenol 3 x 1 tab (PRN)
4. Infus Ringer Laktat IV 20 mL/KgBB
KIE
Memberikan informasi kepada keluarga pasien mengenai obat-obat yang
digunakan, efek samping obat serta cara pemakaian obat

Memberikan informasi agar keluarga pasien menjaga sanitasi dan


kebersihan lingkungan sekitar

Mengedukasikan kepada keluarga pasien untuk patuh terhadap


pengobatan yang diberikan
MONEV
Monitoring rehidrasi setelah 1-2 jam setelah pemberian cairan rehidrasi, untuk perhitungan
kebutuhan cairan tubuh

Monitoring pada terapi antibiotik, terutama konsistensi tinja


Monitoring frekuensi BAB selama sehari
Monitoring terapi berhasil: pemberian metronidazole 35-50 mg/kgBB/hr selama 10 hari
Monitoring terapi gagal: penghentian metronidazole dan mengganti dengan iodoquinol
(diidohydroxiquin)

Perlu dilakukan tes pemeriksaan lebih lanjut sampel tinja setelah diterapi dengan
metronidazole
KESIMPULAN
Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang ditandai dengan sakit perut dan buang air besar encer yang

bercampur lendir dan darah. Etiologi dari disentri amoeba yang disebabkan oleh Entamoeba hystolitica. Manifestasi klinis

disentri amoeba berupa tinja biasanya besar, asam, berdarah, tinja berbau busuk, dan tenesmus jarang. Diagnosis dari disentri

dapat ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lanjutan.

Pada kasus yang diperoleh diketahui bahwa An. Cakra (3 th) terdiagnosis disentri. Jenis disentri yang diderita yaitu

disentri amoeba, penyebab infeksi Entamoeba hystolitica. Terapi farmakologi yang diberikan meliputi rehidrasi secara oral

dengan oralit 100200 ml/kgBB setelah BAB dan Metronidazole 35-50 mg/kgBB/hari selama 10 hari. Serta terapi non

farmakologinya yaitu memberikan makanan halus untuk asupan nutrisi, konsumsi minuman prebiotik , dan banyak istirahat.