Anda di halaman 1dari 29

VI.

PERESEPAN
A.Penggunaan Obat Yang Rasional
1. Pengertian
Kriteria penggunaan obat yang rasional dalam
konteks biomedis mencakup :
a. Tepat indikasi;
b. Tepat obat ( benar, manjur, aman, cocok bagi
pasien, harga sesuai);
c. Tepat dosis;
d. Tepat pasien;
e. Dispensing benar;
f. Kepatuhan pasien terhadap pengobatan
Untuk memenuhi kriteria tersebut, dokter penulis
resep harus mengikuti proses baku penulisan,
dimulai dengan diagnosis untuk menetapkan
masalah yang memerlukan intervensi, kemudian
sasaran terapi harus ditetapkan.
Penggunaan obat yang rasional, mensyaratkan
bahwa pasien menerima obat-obatan yang sesuai
pada kebutuhan klinik mereka, dalam dosis yang
memenuhi kebutuhan individu mereka sendiri, untuk
suatu periode waktu yang memadai, dan pada harga
terendah untuk mereka dan masyarakatnya.
2. Contoh Penggunaan Obat yang Tidak
Rasional
Penggunaan obat yg tidak rasional dapat terjadi di
tempat pelayanan kefarmasian (rumah sakit, apotik)
maupun di masyarakat. Hal ini mencakup penulisan
obat yg tidak perlu, obat yang salah, tidak efektif,
atau obat yg tidak aman, obat yg efektif dan tersedia
namun kurang digunakan, dan obat yg digunakan
secara tidak benar.
a. Obat yang tidak diperlukan
- Penggunaan antibiotika pada anak-anak yg
menderita infeksi saluran napas atas ringan.
- Penggunaan antimikroba atau antidiare sebagai
pengganti oralit untuk anak-anak dengan diare akut.
b. Obat yang salah
- Penggunaan antibiotika untuk gejala penyakit
DB;
- Penggunaan penisilin spektrum sempit untuk
anak-anak dengan faringitis streptokokus.
- Penggunaan tetrasiklin sebagai profilaksis untuk
demam rematik.
c. Obat yang tidak efektif dan Obat dengan
kemanjuran yang meragukan
- Penggunaan yang berlebihan dan tidak perlu
sediaan multivitamin atau tonikum.
d. Obat yang tidak aman
Kemungkinan reaksi merugikan melebihi efek
terapinya.
- Penggunaan steroid anabolik untuk pertumbuhan
dan merangsang nafsu makan anak-anak atau atlet.
e. Obat efektif yang tersedia kurang digunakan
- Penulisan oralit hanya bagi sebagian kecil anak-
anak dengan diare akut dalam suatu daerah.
f. Penggunaan obat yang tidak benar
- Sediaan injeksi umumnya digunakan berlebihan.
- Penggunaan antibiotika untuk pasien, hanya untuk
satu atau dua hari suplai, yang seharusnya penuh
selama terapi.
3. Dampak Merugikan dari Penggunaan Obat
yang Tidak Rasional
Penggunaan obat yang tidak tepat dapat
mengakibatkan efek merugikan pada biaya perawatan
kesehatan, demikian juga mutu terapi obat dan
perawatan medik serta meningkatnya
kemungkinan reaksi merugikan dan kepercayaan
pasien yang tidak tepat pada obat.
a. Dampak pada mutu terapi obat dan perawatan
medik.
Praktik penulisan resep yang tidak tepat, baik
secara langsung maupun tidak, akan
membahayakan mutu perawatan pasien dan secara
negatif mempengaruhi hasil pengobatan.
- Penggunaan oralit yang kurang untuk diare akut
dapat menghalangi sasaran pengobatan (dehidrasi,
kematian).
Kemungkinan reaksi obat merugikan meningkat
apabila obat ditulis tanpa guna.
- Penyalahgunaan produk injeksi menyebabkan syok
anafilaktik yang tinggi.
- Penggunaan antibiotika dan obat kemoterapi yang
berlebih atau kurang dosis, menimbulkan resistensi
bakteri atau parasit malaria.
b. Dampak pada biaya
Pengunaan obat yg berlebihan, menyebabkan
pembelanjaan sediaan obat yang berlebihan dan
penghamburan sumber finansial, baik oleh pasien
maupun sistem pelayanan kesehatan.
Pemborosan anggaran di beberapa RS dalam
pembiayaan obat - obat non esensial , seperti
multivitamin atau obat batuk, yang seharusnya dapat
untuk pembiayaan obat-obat yang lebih esensial dan
vital, seperti antibiotika atau vaksin. Penggunaan obat
yang kurang atau tidak tepat juga dapat menghasilkan
biaya berlebihan karena kemungkinan perpanjangan
penyakit dan hospitalisasi pada akhirnya.
c. Dampak psikologis
Penulisan obat berlebihan mengomunikasikan pada
pasien bahwa mereka membutuhkan obat utk setiap
dan semua kondisi, bahkan untuk kondisi yg
sepelepun, akibatnya pasien mengandalkan diri pada
obat dan kepercayaan ini meningkatkan permintaan
obat.
4. Berbagai Faktor, Mendasari Penggunaan Obat
yang Tidak Rasional
a. Sistem pelayanan kesehatan
Berbagai faktor yang mempengaruhi sistem
pelayanan kesehatan di RS antara lain suplai yg
tidak dapat diandalkan, kekurangan obat, obat ED,
ketersediaan obat-obat yg tidak tepat; formularium
yg tidak akomodatif dan tidak pernah direvisi
sehingga tidak digunakan oleh staf medik; IFRS yg
tidak melaksanakan fungsi
yg seharusnya; beroperasinya apotik swasta di dalam
RS pemerintah yg tidak di bawah kendali IFRS, dan
PFT yang tidak berfungsi. Semua faktor tersebut
menyebabkan pengendalian dan pengelolaan obat di
RS tidak terlaksana, mengakibatkan penggunaan obat
yg irasional.
b. Dokter penulis resep
Kurangnya edukasi berkelanjutan tentang obat di
RS karena kurang berfungsinya PFT, sehingga sistem
formularium tidak dikenal. Juga dokter kurang
menerima informasi obat yg obyektif karena
kurangnya apoteker untuk menangani SIO di RS.
c. Apoteker
Peranan Apoteker dalam proses penggunaan obat
yang rasional antara lain : membantu dokter dalam
menyeleksi obat terbaik; menginterpretasi resep;
menyediakan dan menyampaikan informasi obat kpd
nakes lain; memberi KIE dan konseling obat kpd
pasien.
d. Pasien dan Masyarakat
Terutama disebabkan oleh kepatuhan pasien
terhadap pengobatan, hal ini dipengaruhi oleh banyak
faktor : kepercayaan kultural, sikap komunikasi dokter
penulis resep dan apoteker, waktu yg terbatas utk
konsultasi, dll.
B. Seleksi Obat Esensial
1. Obat Esensial
Obat esensial adalah obat terpilih yang paling
dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan, mencakup
upaya diagnosis, profilaksis, terapi dan rehabilitasi,
yang diupayakan tersedia pada unit pelayanan
kesehatan sesuai dengan fungsi dan tingkatnya.
2. Kriteria pemilihan/seleksi obat esensial
Prioritas harus diberikan pada obat-bat yang telah
terbukti manjur dan aman, supaya memenuhi
kebutuhan banyak orang. Duplikasi obat dan bentuk
sediaan yang tidak perlu harus dihindari.
Hanya obat-obat dengan data ilmiah yang cukup,
tersedia dari uji coba klinik terkendali dan studi
epidemiologi serta bukti unjuk kerja pada
penggunaan umum dalam berbagai rumah sakit telah
diperoleh, harus diseleksi. Produk obat yang baru
dipasarkan dapat termasuk hanya jika produk
tersebut mempunyai keuntungan nyata atas produk
yang sekarang digunakan.
Pemilihan obat esensial didasrkan atas kriteria
berikut :
a. Memiliki rasio manfaat-resiko (benefit-risk ratio)
yang paling menguntungkan penderita.
b. Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan
bioavailabilitas;
c. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan;
d. Praktis dalam penggunaan dan penyerahan
yang disesuaikan dengan tenaga, sarana dan fasilitas
kesehatan;
e. Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan
penerimaan oleh penderita;
f. Memiliki rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio)
yang tertinggi berdasarkan biaya langsung dan tidak
langsung;
g. Bila terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki
efek terapi yang serupa, pilihan dijatuhkan pada :
- Obat yang paling banyak diketahui berdasarkan
data ilmiah;
- Obat dengan sifat farmakokinetik yang diketahui
paling menguntungkan;
- Obat yang stabilitasnya lebih baik;
- Mudah diperoleh;
- Obat yang telah dikenal.
h. Obat jadi kombinasi tetap, harus memenuhi
kriteria berikut :
- Obat hanya bermanfaat bagi penderita dlm bentuk
kombinasi tetap;
- Kombinasi tetap harus menunjukkan khasiat dan
keamanan yg lebih tinggi dari pada masing-masing
komponen;
- Perbandingan dosis komponen kombinasi tetap
merupakan perbandingan tepat utk sebagian besar
penderita yg memerlukan kombinasi tsb;
- Kombinasi tetap harus meingkatkan rasio manfaat-
biaya (benefit-cost ratio);
- Utk antibiotik kombinasi tetap hrs dpt
mencegah/mengurangi terjadinya resisitensi dan efek
merugikan lainnya.
3. Penerapan konsep obat esensial
Penerapan konsep obat esensial dilakukan
melalui DOEN, Pedoman Pengobatan, Formularium
Rumah Sakit, Formularium Spesialistik dan
Informatorium Obat Nasional Indonesia yang
merupakan komponen saling terkait untuk mencapai
peningkatan ketersediaan dan suplai obat serta
kerasionalan penggunaan obat.
a. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN)
DOEN merupakan daftar obat terpilih yg paling
dibutuhkan dan yg diupayakan tersedia di unit yankes
sesuai dg fungsi dan tingkatnya.
Bentuk sediaan, kekuatan dan besar kemasan
yang tercantum dalam DOEN adalah mengikat.
b. Pedoman Pengobatan
Pedoman Pengobatan disusun secara sistematik
untuk membantu dokter dalam menegakkan
diagnosis dan pengobatan yang optimal untuk suatu
penyakit tertentu. Pedoman Pengobatan memuat
informasi penyakit, terutama penyakit yang umum
terjadi dan keluhan-keluhannya serta informasi
tentang obatnya meliputi kekuatan, dosis dan lama
pengobatan.
c. Formularium Rumah Sakit (FRS)
FRS merupakan daftar obat yang disepakati
beserta informasinya yang harus diterapkan di Rumah
Sakit. FRS disusun oleh Panitia Farmasi dan Terapi
(PFT)/Komite Farmasi dan Terapi (KFT) Rumah Sakit
berdasarkan DOEN dan disempurnakan dengan
mempertimbangkan obat lain yang terbukti secara
ilmiah dibutuhkan untuk pelayanan di RS tersebut.
d. Formularium Spesialistik
Formularium Spesialistik merupakan suatu buku
yang berisi informasi lengkap obat-obat yang paling
dibutuhkan oleh dokter spesialis bidang
tertentu, untuk pengelolaan pasien dg indikasi penyakit
tertentu. Formularium Spesialistikdisusun untuk
meningkatkan ketaatan para dokter spesialis RS
terhadap FRS yang selama ini masih sangat rendah.
e. Informatorium Obat Nasional Indonesia (IONI)
IONI berisi informasi obat yang beredar dan disajikan
secara ringkas dan sangat relevan dengan kebutuhan
dokter, apoteker dan tenaga kesehatan lainnya.
Informasi obat yang disajikan meliputi indikasi, efek
samping, dosis, cara penggunaan dan informasi lain
yang penting bagi penderita.
f. Jaga mutu
Jaga mutu obat menyeluruh yang meliputi tahap
pengembangan produk, CPOB, monitoring mutu obat
pada rantai distribusi dan penggunaannya,
merupakan elemen penting dalam penerapan konsep
obat esensial. Maka diperlukan pengelolaan obat
yang efektif untuk menjamin ketersediaan obat
dengan jenis dan jumlah yang tepat dan memenuhi
standar mutu. Untuk meningkatkan penggunaan obat
yang rasional, penggunaan obat esensial pada unit
pelayanan kesehatan harus disesuaikan dengan
pedoman pengobatan yang telah ditetapkan.
C. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
1. Definisi
Program evaluasi penggunaan obat di
lingkungan pelayanan kesehatan adalah suatu proses
jaminan mutu yang terstruktur, dilaksanakan terus
menerus, dan diotorisasi, ditujukan untuk memastikan
bahwa obat-obatan digunakan dengan tepat, aman
dan efektif.
2. Pemilihan obat yang akan dievaluasi
Obat-obat yang dievaluasi harus dipilih
berdasarkan satu atau lebih alasan berikut :
a. Obat diketahui atau dicurigai menyebabkan
Reaksi merugikan atau berinteraksi dengan obat lain,
makanan dan prosedur diagnostik yang menimbulkan
suatu risiko kesehatan yang signifikan.
b. Obat digunakan pada pengobatan pasien yang
mungkin berisiko tinggi untuk ROM, (misalnya pasien
lanjut usia, pasien rusak ginjal atau hati).
c. Obat adalah salah satu yang paling sering ditulis
atau mahal.
d. Obat kemungkinan besar toksis atau menyebabkan
ketidaknyamanan pada dosis terapi normal.
e. Obat paling efektif apabila digunakan pada suatu
cara khusus.
f. Obat sedang dalam evaluasi formularium untuk
penambahan atau penghapusan atau untuk
dipertahankan.
g. Obat yang paling mungkin berbahaya pada pasien
jika salah penggunaan atau penyalahgunaan
(misalnya, antikoagulan).
h. Obat telah dipilih, melalui kebijakan (RS atau
sarana pelayanan kesehatan yang lain) untuk
dievaluasi.
3. Tanggung jawab Apoteker dalam program
EPO
Tanggung jawab apoteker dalam suatu program
EPO mencakup hal berikut :
a. Bekerja sama dengan staf medis dan dengan yang
lain, mengadakan koordinasi harian program EPO.
b. Menyediakan data kuantitatif penggunaan obat untuk
menetapkan obat yang akan dievaluasi (data
konsumtif terakhir).
c. Menyiapkan konsep kriteria penggunaan
obat/standar dengan bekerja sama dengan staf
Medik dan lain-lain untuk disetujui oleh Tim EPO, PFT,
dan ketua Komite Medik.
d. Mengumpulkan data penggunaan obatyang akan
dievaluasi dan mengkaji order obat, profil pengobatan
pasien, terhadap kriteria penggunaan obat yang telah
ditetapkan.
e. Menginterpretasikan dan melaporkan temuan
evaluasi kepada Tim EPO, dan memformulasi
rekomendasi tindakan perbaikan yang akan diusulkan
Tim EPO ke pimpinan RS.
f. Berpartisipasi dalam program tindakan perbaikan,
misalnya dalam edukasi untuk memperbaiki temuan
evaluasi.
g. Memantau keefektifan tindakan perbaikan dan
membuat laporan tertulis tentang hasil pemantauan
tersebut.
Sifat kualitatif EPO harus ditonjolkan dan difokuskan
pada kerasionalan penggunaan obat. (Obat yang tepat
dengan dosis yang dikonsumsi tepat, kepada pasien
yang tepat, pada waktu yang tepat, dan melalui rute
yang tepat).
EPO adalah suatu program jaminan mutu untuk
terapi obat. EPO mempunyai kemungkinan, tidak saja
mencapai terapi obat yang optimal, tetapi juga
memaksimalkan peranan profesional sebagai apoteker
klinik.
Kesimpulannya, program EPO ini digunakan untuk
a. Mengidentifikasi masalah;
b. Menetapkan prioritas;
c. Mengkaji penyebab dan lingkup;
d. Bertindak untuk solusi masalah;
e. Memantau efektivitas tindakan perbaikan.
Sepanjang jalan mulai dari identifikasi sampai pada
solusi masalah, ada rangkaian kesatuan pilihan yang
tersedia bagi apoteker klinik dalam perencanaan
untuk dan pemeliharaan penggunaan obat yang
optimal.