Anda di halaman 1dari 18

BAB III

TAX PLANNING PPH PASAL 21/26

Kelas D5

Kelompok 2

Ni Kadek Mona Risa (1433121023)

Vilda Manuputty (1433121041)

Vebi Veronika Surah (1433121145)

Brian Paul Lumentut (1433121086)

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS WARMADEWA

2017
I. Pendahuluan

Pajak penghasilan sehubungan dengan pekerjaan jasa dan kegiatan yang dilakukan
wajib pajak orang pribadi subjek pajak dalam negeri, yang selanjutnya disebut
PPh Pasal 21, adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium,
tunjangan, dan pembayaran lain, dengan nama dan dalam bentuk apapun
sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh
orang pribadi subjek pajak dalam negeri, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21
Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Bila penerima penghasilan tersebut adalah WPOP sebagai Subjek Pajak


Dalam Negeri (SPDN), maka akan dikenai PPh Pasal 21, sedangkan bila penerima
penghasilan adalah orang pribadi dengan status sebagai Subjek Pajak uar Negeri
(SPLN) selain Bentuk Usaha Tetap (BUT), akan dikenai PPh Pasal 26.

Dasar hukum pengenaan PPh Pasal 21 yang mulai berlaku tahun 2009 adalah:

1. UU No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU No. 6 Tahun


1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).

2. UU No. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketempat atas UU No. 7 Tahun


1983 tentang Pajak Penghasilan (PPh).

3. PMK No. 250/PMK.03/2008 tentang Besarnya Biaya Jabatan atau Biaya


Pensiun yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto Pegawai Tetap
atau Pensiun.

4. PMK No. 252/PMK.03/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemotongan


Pajak atas Penghasilan Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan
Orang Pribadi.

5. PMK No. 254/PMK.03/2008 tentang Penetapan Bagian Penghasilan


Sehubungan Dengan Pekerjaan Dari Pegawai Harian dan Mingguan, serta
Pegawai Tidak Tetap Lainnya yang Tidak Dikenakan Pemotongan Pajak
Penghasilan.

1
6. PER-Dirjen Pajak Nomor: 31/PJ/2009 tentang Pedoman Teknis Tata Cara
Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21
Dan/Atau Pajak Penghasilan 26 Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa dan
Kegiatan Orang Pribadi, yang kemudian direvisi dengan PER-Dirjen Pajak
Nomor: 57/PJ/2009.

7. PER-Dirjen Pajak Nomor: 31/PJ/2012 tentang Pedoman Teknis Tata Cara


Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21
Dan/Atau Pajak Penghasilan 26 Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa dan
Kegiatan Orang Pribadi.

II. Pemotong PPh Pasal 21

Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 sesuai Per-Dirjen Pajak No. PER-
31/PJ/2012 meliputi:

1. Pemberi kerja yang terdiri dari:


a. Orang pribadi dan badan.
b. Cabang perwakilan atau unit dalam hal yang melakukan sebagian
atau seluruh administrasi yang terkait dengan pembayaran gaji,
upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain adalah cabang,
perwakilan, atau unit tersebut.
2. Bendahara atau pemegang kas pemerintah, termasuk bendahara atau
pemegang kas pada pemerintah pusat termasuk institusi TNI/POLRI,
pemerintah daerah, instansi atau lembaga pemerintah, lembaga-lembaga
negara lainnya, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri,
yang membayarkan gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran
lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan
atau jabatan, jasa, dan kegiatan.
3. Dana pensiun badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja, dan
badan-badan lain yang membayar uang pensiun secara berkala dan
tunjangan hari tua atau jaminan hari tua.

2
4. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta
badan yang membayar:

a. Honorarium, komisi, fee, atau pembayaran lain sebagai imbalan


sehubungan dengan jasa yang dilakukan oleh orang pribadi dengan
status subjek pajak dalam negeri, termasuk jasa tenaga ahli yang
melakukan pekerjaan bebas dan bertindak untuk dan atas namanya
sendiri, bukan untuk dan atas nama persekutuannya.
b. Honorarium, komisi, fee, atau pembayaran lain sebagai imbalan
sehubungan dengan jasa yang dilakukan oleh orang pribadi dengan
status subjek pajak luar negeri.
c. Honorarium, komisi, fee, atau imbalan lain kepada peserta
pendidikan dan pelatihan, serta pegawai magang.

5. Penyelenggara kegiatan, termasuk badan pemerintah, organisasi yang bersifat


nasional dan internasional, perkumpulan, orang pribadi serta lembaga lainnya
yang menyelenggarakan kegiatan, yang membayar honorarium, hadiah, atau
penghargaan dalam bentuk apapun kepada wajib pajak orang pribadi
berkenaan dengan suatu kegiatan.

III. Subjek Pemotongsn PPh Pasal 21/26

Subjek pajak yang dipotong PPh Pasal 21 atau Pasal 26, atau disebut Subjek
Pemotong adalah orang pribadi yang menerima atau memperoleh penghasilan
sehubungan dengan pekerjaan, jabatan, jasa atau kegiatan.

Penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26


sesuai PER-Dirjen Pajak No. PER-31/PJ/2012 adalah orang pribadi yang
merupakan:

1. Pegawai.
2. Penerima uang pesangon pensiun atau uang manfaat pensiun, tunjangan
hari tua, atau jaminan hari tua, termasuk ahli warisnya.

3
3. Bukan Pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan
dengan pemberian jasa, meliputi:
a. Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari
pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan
aktuaris.
b. Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film,
bintang sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model,
peragawan/peragawati, pemain drama, penari, pemahat, pelukis, dan
seniman lainnya.
c. Olahragawan.
d. Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator.
e. Pengarang, peneliti, dan penerjemah.
f. Pemberi jasa dalam segala bidang, termasuk teknik komputer dan
sistem aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi,
dan sosial serta pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan.
g. Agen iklan.
h. Pengawas atau pengelola proyek.
i. Pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang
menjadi perantara.
j. Petugas penjaja barang dagangan.
k. Petugas dinas luar asuransi.
l. Distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan
kegiatan sejenis lainnya.
4. Anggota dewan komisaris atau dewan pengawas yang tidak merangkap
sebagai pegawai tetap pada perusahaan yang sama.
5. Mantan pegawai.
6. Peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan
sehubungan dengan keikutsertaannya dalam suatu kegiatan, antara lain:
a. Peserta perlombaan dalam segala bidang antara lain perlombaan olah
raga, seni, ketangkasan, ilmu pengetahuan, teknologi dan
perlombaan lainnya.
b. Peserta rapat, konfrensi, sidang, pertemuan, atau kunjungan kerja.

4
c. Peserta atau anggota dalam suatu kepanitiaan sebagai penyelenggara
kegiatan tertentu.
d. Peserta pendidikan dan pelatihan.
e. Peserta kegiatan lainnya.

IV. Objek PPh Pasal 21


Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26, adalah sebagai
berikut:

1. Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 sesuai Per-
Dirjen Pajak No. PER-31/PJ./2012 adalah sebagai berikut:
a. Penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tetap, baik berupa
penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak teratur.
b. Penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun secara
teratur berupa uang pensiun dan penghasilan sejenisnya.
c. Penghasilan berupa uang pesangon, uang manfaat pensiun, tunjangan
hari tua, atau jaminan hari tua yang dibayarkan sekaligus, yang
pembayarannya melewati jangka waktu 2 (dua) tahun sejak pegawai
berhenti bekerja.
d. Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah
harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang
dibayarkan secara bulanan.
e. Imbalan kepada bukan pegawai, antara lain berupa honorarium,
komisi, fee, dan imbalan sejenisnya dengan nama dan dalam bentuk
apa pun sebagai imbalan sehubungan jasa yang dilakukan.
f. Imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku, uang
representasi, uang rapat, honorarium, hadiah atau penghargaan dengan
nama dan dalam bentuk apa pun, dan imbalan sejenis dengan nama apa
pun.
g. Penghasilan berupa honorarium atau imbalan yang bersifat tidak
teratur yang diterima atau diperoleh anggota dewan komisaris atau
dewan pengawas yang tidak merangkap sebagai pegawai tetap pada
perusahaan yang sama.
h. Penghasilan berupa jasa produksi, tantiem, gratifikasi, bonus atau
imbalan lain yang bersifat tidak teratur yang diterima atau diperoleh
mantan pegawai; atau

5
i. Penghasilan berupa penarikan dana pensiun oleh peserta program
pensiun yang masih berstatus sebagai pegawai, dari dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh menteri keuangan.
2. Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 termasuk
pula penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan lainnya dengan
nama dan dalam bentuk apa pun yang diberikan oleh:
a. Wajib Pajak yang dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final; atau
b. Wajib Pajak yang dikenakan pajak penghasilan berdasarkan norma
penghitungan khusus (deemed profit).
3. Dalam hal penghasilan diterima atau diperoleh dalam mata uang asing
penghitungan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 didasarkan pada nilai tukar
(kurs) yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan yang berlaku pada saat
pembayaran penghasilan tersebut atau pada saat dibebankan sebagai biaya.
4. Penghitungan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 atas penghasilan berupa
penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan lainnya disasarkan
pada harga pasar atas barang yang diberikan atau nilai wajar atas pemberian
natura dan/atau kenikmatan yang diberikan.

V. Non Objek PPh Pasal 21


Yang tidak termasuk dalam pengertian penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21
sesuai Per-Dirjen pajak No. PER-31/PJ./2012 adalah:
1. Pembayaran manfaat atau santunan asuransi dari perusahaan asuransi
kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna, dan asuransi beasiswa.
2. Penerimaan dalam bentuk natura atau kenikmatan (benefit in kind), kecuali
natura atau kenikmatan yang diberikan bukan Wajib Pajak, atau diberikan
oleh WP yang dikenakan PPh final atau dikenakan PPh berdasarkan
Norma Penghitungan Khusus (deemed profit).
3. Iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya
telah disahkan oleh menteri keuangan, dan iuran jaminan hari tua kepada
badan penyelenggara jemsostek yang dibayar oleh pemberi kerja.
4. Zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari badan atau
lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah; atau
sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang
diakui di Indonesia yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari
lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah.
5. Beasiswa, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf I UU PPh
2008.

6
Sesuai dengan PMK No. 246/PMK.03/2008, penghasilan berupa beasiswa
yang diterima atau diperoleh WNI dari WP pemberi beasiswa dalam
rangka mengikuti pendidikan di dalam negeri pada tingkat pendidikan
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi, dikecualikan dari
objek PPh, sepanjang penerima beasiswa tidak mempunyai hubungan
istimewa dengan pemilik, komisaris, direktur, atau pengurus dari wajib
pajak pemberi beasiswa.
6. Kenikmatan berupa pajak yang ditanggung pemberi kerja.
Pajak yang ditanggung oleh pemberi kerja adalah pajak terutang atas
penghasilan karyawan tetap yang menjadi beban atau dibayarkan oleh
pemberi kerja, sehingga termasuk kenikmatan. Pajak yang ditanggung oleh
pemberi kerja berbeda dengan pemberian tunjangan pajak.

VI. Kebijakan/Metode Pemotongan PPh Pasal 21.


Dilihat dari siapa yang menanggung beban, maka kebijakan atau metode
pemotongan PPh Pasal 21 yang dapat dipilih oleh Wajib Pajak, adalah:
1. PPh Pasal 21 ditanggung oleh karyawan (potong gaji).
Metode ini lazimnya disebut Metode Gross. Dalam hal ini jumlah PPh
Pasal 21 yang terutang akan ditanggung oleh karyawan itu sendiri,
sehingga benar-benar mengurangi penghasilan.
2. PPh Pasal 21 ditanggung perusahaan (ditanggung).
Metode ini lazimnya disebut Metode Net. Dalam hal ini, jumlah PPh
Pasal 21 yang terutang akan ditanggung oleh perusahaan yag
bersangkutan. Dengan demikian, gaji yang diterima oleh karyawan
tersebut tidak dikurangi dengan PPh Pasal 21.
3. PPh Pasal 21 diberikan dalam bentuk tunjangan (ditunjang).
Metode ini lazimya disebut Metode Gross Up. Jika PPH Pasal 21
diberikan dalam bentuk tunjangan, maka jumlah tunjangan tersebut akan
menambah penghasilan karyawan dan dikenai PPh Pasal 21. Dalam hal
ini penghitungan PPh dilakukan dengan cara gross up di mana besarnya
tunjangan pajak sama dengan jumlah PPh Pasal 21 terutang untuk
masing-masing karyawan.

VII. Tata Cara Perhitungan PPh Pasal 21


1. Dasar Pengenaan Pajak (DPP):
a. Penghasilan Kena Pajak Berlaku bagi:
1) Pegawai tetap

7
Peng. Kena Pajak = Pengh. Bruto Biaya Jabatan PTKP

2) Penerimaan Pensiun Berkala

Pengh. Kena Pajak = Pengh. Bruto Biaya Pensiun


PTKP

3) Pegawai Tidak Tetap

Pengh. Kena Pajak = Pengh. Bruto PTKP

4) Bukan Pegawai

Pengh. Kena Pajak = Pengh. Bruto PTKP yang dihitung bulanan

b. Jumlah penghasilan yang melebihi bagian penghasilan yang tidak


dikenai pemotongan PPh Pasal 21, sesuai Pasal 21 ayat (4) UU
PPh, yang berlaku bagi:
1) Pegawai tidak tetap yang menerima upah harian, mingguan, upah
satuan atau upah borongan sepanjang penghasilan kumulatif yang
diterima dalam satu bulan belum melebihi PTKP sebulan untuk dai WP
sendiri atau TKO (dalam hal ini sesuai UU PPh adalah Rp 1.320.000).

Pengh. Kena Pajak = Pengh. Bruto Batasan Pasal 21 ayat (4)

c. Jumlah Penghasilan Bruto yang berlaku bagi penerima


penghasilan lainnya.
2. Pengurangan yang Diperbolehkan
a. Biaya Jabatan
Pengurangan ini diperbolehkan tanpa memandang apakah yang
bersangkutan memiliki jabatan atau tidak. Hanya boleh dikurangkan
dari penghasilan bruto pegawai tetap karena dianggap sebagai biaya
untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan dari
pekerjaan/jabatannya.
Berdasarkan Per-Menkeu No. 252/PMK/2009, besarnya biaya
jabatan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk
penghitungan pemotongan Pajak Penghasilan bagi pegawai tetap
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (3) UU PPh Nomor 7
tahun 1983, sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan

8
UU No. 36 Tahun 2008, ditetapkan sebesar 5% dari penghasilan bruto,
dan setinggi-tingginya Rp 6.000.000 setahun atau Rp 500.000.
b. Biaya Pensiun
Berdasarkan Per-Menkeu No. 252/PMK/2009, besarnya biaya pensiun
yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk penghitungan
pemotongan Pajak Penghasilan bagi pensiunan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 21 ayat (3) UU PPh Nomor 7 tahun 1983,
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU No. 36
Tahun 2008, ditetapkan sebesar 5% dari penghasilan bruto, dan
setinggi-tingginya Rp 2.400.000 setahun atau Rp 200.000.
c. Iuran yang terkait dengan gaji
Yaitu iuran yang dibayar oleh pegawai kepada dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan atau badan
penyelenggara tunjangan hari tua atau jaminan hari tua yang
dipersamakan dengan dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan
oleh Menteri Keuangan.
d. Penghasilan Tidak kena Pajak (PTKP)
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dalam perhitungan PPh Pasal
21 merupakan batasan penghasilan yang tidak dikenai pajak bagi
orang pribadi yang berstatus sebagai pegawai, baik pegawai tetap,
termasuk pensiunan; pegawai tidak tetap, pemegang, dan calon
pegawai; termasuk juga pegawai harian lepas, dan distributor multi
level marketing atau direct selling, dengan ketentuan berbeda-beda.
Besaran PTKP Untuk Tahun Pajak 2013

Penerima PTKP Setahun Sebulan


a) Untuk pegawai yang Rp 24.300.000 Rp 2.025.000
bersangkutan
b) Tambahan untuk pegawai yang Rp 2.025.000 Rp 168.750
kawin
c) Tambahan untuk setiap anggota Rp 2.025.000 Rp 168.750
keluarga sedara dan semenda dalam
garis keturunan lurus, serta anak
angkat yang menjadi tanggungan
sepenuhnya, paling banyak 3 orang

9
Tarif Pajak
1. Tarif Pasal 17 UU No. 36 Tahun 2008 yang berlaku , mulai 1 januari 2009

Tarif
Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Non NPWP
Pajak
Sampai dengan Rp 50.000.000 5% 120% x 5% = 6%
Diatas Rp 50.000.000 s/d Rp 15% 120% x 15% = 18%
250.000.000
Diatas Rp 250.000.000 s/d Rp 25% 120% x 25% = 30%
500.000.000
Diatas Rp 500.000.000 30% 120% x 30% = 36%

2. Tarif Pajak Penghasilan Pasal 21 atas pengasilan berupa uang Pesangon


sesuai Per-Menkeu No. 16/PMK.03/2010 ditentukan sebagai berikut.

a) Sebesar 0% atas penghasilan bruto sampai dengan Rp. 50.000.000

b) Sebesar 5% atas penghasilan bruto diatas Rp. 50.000.000 sampai


dengan Rp. 100.000.000;

c) Sebesar 15% atas penghasilan bruto diatas Rp. 100.000.000 sampai


dengan Rp. 500.000.000;

d) Sebesar 25% atas penghasilan bruto diatas Rp. 500.000.000

3. Tarif Pajak Penghasilan Pasal 21 atas pengasilan berupa uang Manfaat


Pensiun, Tunjangan Hari Tua, atau Jaminan Hari Tua ditentukan sebagai
berikut:

a) Sebesar 0% atas penghasilan bruto sampai dengan Rp. 50.000.000

b) Sebesar 5% atas penghasilan bruto diatas Rp. 50.000.000

10
c) Honorium dan imbalan lain, dengan nama apapun yang diterima oleh
Pejabat Negara, PNS, anggota TNI/Polri, yang sumber dananya
berasal dari keuangan negara atau keuangan daerah,kecuali yang
dibayarkan kepada PNS golongan II d kebawah dan anggota
TNI/Polri berpangkat Pembantu Letnan Satu kebawah atau Ajun
Inspektur Tingkat Satu ke bawah.

Perhitungannya dilakukan dengan menerapkan tarif 15% x


penghasilan bruto.

VIII. Rekonsiliasi Objek PPh Pasal 21


Untuk meyakinkan bahwa atas seluruh objek pajak PPh pasal 21 telah dipotong
pajaknya, perlu dilakukan rekonsiliasi antara data laporan keuangan, baik yang
berasal dari akun neraca maupun akun biaya. Jika perhitungan PPh pasal 21
dilakukan oleh bagian SDM, maka rekonsiliasi juga harus dilakukan untuk data
SDM (seperti payroll) dengan data yang ada dibagian akuntansi/keuangan (seperti
data ledger/buku besar). Rekonsiliasi ini sangat berguna dalam rangka
pelaksanaan pengendalian dan pembuktian bahwa seluruh objek PPh Pasal 21
telah dipotong PPh-nya.

IX. Taxability dan Deductibility Objek PPh Pasal 21

Strategi Memaksimalkan Pengurangan (Maximizing Deductions)

Prinsip Taxability Deductibility merupakan prinsip dasar yang lazim diterapkan


dalam perencanaan pajak, yang pada umumnya dilakukan dengan mengubah atau
mengkonversikan penghasilan yang merupakan objek pajak, atau sebaliknya
mengubah biaya yang tidak boleh dikurangkan menjadi biaya yang baik
dikurangkan, dengan konsekuensi terjadinya perubahan pajak terutama akibat
pengurangan atau konversi tersebut.

Prinsip Taxability Deductibility adalah prinsip yang menjelaskan tentang


pos pos yang dapat / tidak dapat dikenakai pajak penghasilan (objek pajak dan
bukan objek pajak penghasilan) dan pos pos yang dapat / tidak dapat dibiayakan
(pengurangan hasil bruto). Jika kondisi perusahaan baik dan perusahaan
menghasilkan laba yang besar, maka salah satu alternative yang direkomendasikan

11
adalah mengkaji mana yang lebih menguntungkan antara memberikan
kesejahteraan kepada karyawan dalam bentuk tunjangan atau dalam bentuk
natura.

Prinsip Taxability-Deductibility Mengenal Imbalan (Natural/Uang)

Jenis imbalan Perlakuan Biaya bagi Perlakuan PPh Ps. 21


Perusahaan/Pemberi Bagi Penerima
Kerja

Imbalan dalam bentuk uang Deductible Taxable

Imbalan dalam bentuk Nin Deductible Non Taxable


natura

X. Terapan Tax Planning Terkait dengan PPh Pasal 21


1. Klausal Pajak Dalam Perjanjian/Kontrak Kerja
Sebelum kontrak kerja di tandatangani ada beberapa hal yang perlu di
pastikan, antara lain:
a. Pemuatan klausal pajak dalam perjanjian atau kontrak kerja, yang
mensyaratkan pajak terutang harus dihitung berdasarkan nilai
kontrak (di luar harga pokok barang).
b. Klausal pajak secara eksplisit menyatakan siapa harus menanggung
PPh Pasal 21/Pasal 26, sehingga pajak yang terutang dan
pemotongannyadidasarkan pada klausal tersebut.
2. Pajak Ditanggung Pemberi Kerja atau Tunjangan Pajak secara
Gross-up
Seringkali di dalam kontrak kerja ditemukan klausal yang menyatakan,
bahwa nilai kontrak sudah net, tidak termasuk pajak, atau pajak di
tanggung perusahaan/pemberi kerja. istilah tersebut sebaiknya digunakan
secara hati-hati, karena akan berdampak pada pemotongan pajak dan
pembebanan biaya di PPh Badan.

3. Pemberian Uang Saku Secara Lump-Sum Atau Reimbursement

12
a. Pembayaran secara lump-sum akan mengakibatkan PPh Pasal 21
dihitung dari seluruh nilai yang dibayarkan, meskipun di dalamnya
mungkin terdapat biaya, misalnya transportasi, dan akomodasi.
b. Sedangkan dalam prosedur reimbursement, pembayaran disertai
dengan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan penggunaan
dana dengan meminta bukti pengeluaran.
4. Pemberian Tunjangan Makan atau Menyiapkan Makan Bersama
Dari segi fiskal lebih menguntungkan jika disiapkan makan bersama untuk
seluruh karyawan, namun dalam praktiknya harus dengan jasa catering,
dan harus diingat bahwa kewajiban pemotongan PPh Pasal 23 dengan tarif
2% dari penghasilan bruto.
Kajian harus dilakukan terhadap kesuluruhan aspek perusahaan.
Menguntungkan atau merugikan, tentu harus dilihat dari keseimbangan
seluruh system.
5. Memberikan Tunjangan Kesehatan atau Fasilitas Pengobatan
Untuk biaya kesehatan, perusahaan memiliki pilihan, memberikan
tunjangan kesehatan, menyediakan fasilitas pengobatan bagi karyawan,
atau menggunakan metode reimburstment biaya pengobatan.
Beberapa transaksi lain dalam hubungannya dengan kompensasi
bagi karyawan akan dibahas juga dalam perencanaan pajak yang berkaitan
dengan PPh Badan.
6. Meminimalkan Tarif Pajak (PPh Pasal 21)
Penerapan Tax Planning dalam PPh Pasal 21, antara lain dengan cara:
a. Untuk Perusahaan yang PPh badannya bersifat tidak final,
diupayakan seminimal mungkin memberikan kesejahteraan
karyawan dalam bentuk natura karna pengeluaran tersebut tidak
dapat dibebankan kepada biaya dalam perusahaan.
b. Untuk Perusahaan yang PPh badannya bersifat final, memberikan
kesejahteraan bagi karyawan berupa kenikmatan dalam bentuk
natura adalah salah satu pilihan untuk menghindari lapisan tarif
maksimum PPh 21.
XI. Alur Perencanaan Pajak PPh Pasal 21

Utuk mengejar laba yang maksimal, perusahaan melakukan berbagai upaya. Salah
satunya adalah menghemat beban pajak melalui perencanaan pajak. Perencanaan
pajak dimulai dengan menganganalisis dan memastikan metode penghitungan

13
pajak penghasilan pasal 21 yang lebih efisien serta serta memperhatikan
mekanisme texability-deductibilty.

Gambar alur perencanaan PPh Pasal 21

Perencanaan PPh Pasal 21


Berdasarkan UU PPh

Metode Pemotongan
Mekanisme Taxability dab
PPh Pasal 21
Deductibility

Metode Net

Metode Gross Up
Metode Gross

Metode Gross Up

Upaya penghematan Pajak dalam


Mengefisiensi Beban Pajak Terhutang

Penghasilan Kena Pajak Yang Lebih


Rendah

PPh Badan Yang Lebih Efisien

SPT PPh Badan

Adanya manajemen dan perencanaan pajak dalam perusahaan akan


membantu wajib pajak dalam mengelola kewajibannya sehingga terhindar dari
sanksi-sanksi yang timbul akibat adanya pelanggaran, serta merupakan salah satu
alternatif bagi perusahaan untuk mencapai efisiensi pembebanan perusahaan.

14
XII. Strategi Perencanaan Pajak untuk Mengefisienkan Beban Pajak

Agar perencanaan pajak sesuai dengan yang diharapkan, perusahaan perlu


melakukan anlisis terhadap metode-metode dan kebijakan-kebijakan yang akan
digunakan, serta membuat strategi agar efisien beban pajak dapat tercapai.
Strategi-strategi yang dapat digunakan perusahaan, misalnya:
1. Memberi tunjangan dalam bentuk uang atau natura atau kenikmatan.
2. Perusahaan memberi tunjangan kesejahteraan kepada pegawai dalam
bentuk fasilitas pengobatan.
3. Menghindari pelanggaran terhadap peraturan perpajakan.

Dalam perhitungan PPh Pasal 21 terdapat tiga metode yang bisa


diaolikasikan, yakni metode Net, metode Gross dan metode Gross Up.

1. Net Method
Merupakan metode pemotongan pajak di mana perusahaan
menanggung PPh Pasal 21 karyawan.
2. Gross Method
Merupakan metode pemotongan pajak di mana karyawan menaggung
sendiri jumlah pajak penghasilannya.
3. Gross-Up Method
Merupakan metode pemotongan pajak, di mana perusahaan
memberikan tunjangan pajak PPh Pasal 21 yang di formalisasi
jumlahnya sama besar dengan jumlah pajak PPh Pasal 21 yang akan
dipotong dari karyawan.

Penggunaan metode Gross Up adalah untuk memuaskan dan meningkatkan


motivasi karyawan. Dengan menggunakan metode ini karyawan akan merasa puas
karena PPh Pasal 21 ditanggugkan seluruhnya oleh perusahaan, dengan demikian
karyawan merasa diperhatikan. Meningkatkan motivasi dan keputusan karyawan
akan meningkatkan produktivitas mereka.

Rumus Tunjangan Pajak dengan Metode Gross Up


Yang sesuai dengan UU PPh No. 17 Tahun 2000

Lapisan 1 s/d 5 dibawah ini disesuaikan dengan lapisan PKP yang sesuai
dengan Pasal 17 UU No. 17 Tahun 2000.

15
Lapisan 1 : PKP x 5%

0,95

Lapisan 2 : (PKP x 10%) 1.250.000

0,9

Lapisan 3 : (PKP x 15%) 3.750.000

0,85

Lapisan 4 : (PKP x 25%) 13.750.000

0,75,

Lapisan 5 : (PKP x 35%) 33.750.000

0,65

Sejak dikeluarkannya UU PPh No. 36 Tahun 2008, rumus gross up


mengalami penyesuaian tarif pajak, biaya jabatan dan PTKP nya juga berubah,
seperti berikut.

Rumus Tunjangan Pajak Dengan Metode Gross Up

Yang sesuai dengan UU PPh No. 36 Tahun 2008

PKP Rp 0 s/d Rp 50.000.000 , pajak = 1/0,95 (PKP x 5%)

PKP diatas Rp 50.000.000 s/d Rp 250.000.000, pajak = 1/0,85{(PKP x 15%) 5


juta}

PKP di atas Rp 250.000.000 s/d Rp 500.000.000, pajak = 1/0,75 {(PKP x 25%)


30 juta}

PKP di atas Rp 500.000.000, pajak 1/0,70 {(PKP x 35%) 55 juta }

16
Rumus tunjangan pajak dengan metode gross up tersebut dapat diberlakukan
untuk tahun 2010 dan tahun-tahun berikutnya selama tidak ada perubahan tarif
PPh dalam UU PPh.

17