Anda di halaman 1dari 25

NOTE :

1. LENGKAPI NAMA DAN NIM KELOMPOK


2. PERIKSA DAN REVISI ULANG BAB 1. RM, TUJUAN DAN
MANFAAT
3. TAMBAHKAN YANG METODE PEMBUATAN
NANOENKAPSULASI (MASIH KURANG LENGKAP).
4. BAB IV PENUTUP BELUM ADA
5. TAMBAHKAN DAFTAR PUSTAKA KALAU ADA TAMBAHAN
LITERATUR.
6. TAMBAHKAN YANG MASIH PERLU DILENGKAPI OK.

TERIMA KASIH.
tugas kelompok
NANO TEKNOLOGI

NANOENKAPSULASI

OLEH :
KELOMPOK 1

EVA PUSPITA SARI P.B.


ISRAWATI
LILI HANDAYANI
GEBY CHINTYA MUCHALIS
NUR RAHMAH R. PRAJAB
RYAN LIAMBO PRASETYA
SRI HASTUTI
ULAN MULYANI SAPUTRI
MARWAH PUSPITASARI
WARDA AYU NINGSIH

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini

Kendari, 14 Oktober 2017

Penyusun
DAFTAR ISI
Kata pengantar ............................................................................................i
Daftar isi ......................................................................................................ii
Bab I PENDAULUAN
A. Latar belakang .........................................................................................1
B. Rumusan masalah ....................................................................................2
C. Tujuan.................. ................................................................................... 2
D. Manfaat................. ...................................................................................2
Bab II TEORI UMUM................................................................................... 3-5
Bab III PEMBAHASAN
A. pengertian Nanoekapsuasi .......................................................................6
B. keuntungan partikel Nano dlm pelepasan obat........................................7
C. metode pembuatan Nanoenkapsulasi........................................................8-10
D. review jurnal............................................................................................. 11-19
Bab IV PENUTUP
A. Kesimpulan ...............................................................................................20
B. Saran ..........................................................................................................20
Daftar pustaka .................................................................................................21
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Nanoteknologi menjadi salah satu bidangilmu Fisika, Kimia, Biologi, dan
Rekayasayang penting dan menarik beberapa tahunterakhir ini.Nanoteknologi
merupakan ilmu yangmempelajari partikel dalam rentang ukuran 1 -1000 nm.
Penggunaan nanopartikel sebagai pembawa obat dansistem pengantar obat telah
berkembang beberapa tahun terakhir. Ukuran nano partikel yang kecil menyebabkan
ekstrak mudah larut dan memiliki efisiensi penyerapan yang tinggi di usus. Beberapa
tahun terakhir, peneliti mulai mengembangkan aplikasi nanopartikel dalam bidang
kesehatan, terutama aplikasinya sebagai pembawa obat. Salah satu cara yang
digunakan adalah menggunakan proses nanoenkapsulasi, yaitu mengemas obat dalam
sebuah polimer dan dibuat dalam ukuran nano.
Bahan aktif yang memiliki sifat tidak stabil perlu dilindungi terhadap
degradasi fisik dan kimia akibat pengaruh lingkungan. Dalam pemanfaatannya,
efektivitas senyawa aktif bergantung pada kemampuannya untuk mempertahankan
bioaktivitas, stabilitas dan ketersediaannya selama proses pengolahan dan
penyimpanan. Melalui teknologi enkapsulasi, senyawa aktif yang kurang stabil dapat
dipertahankan stabilitasnya dalam penyimpanan.
Beberapa tahun terakhir, telah dikembangkan teknologi enkapsulasi pada
partikel berukuran nano. Nanoenkapsulasi sebagai perlindungan senyawa aktif
memiliki keuntungan, yaitu ukurannya yang kecil, luas permukaan besar dan dapat
dimasukkan ke dalam penyalut tanpa reaksi kimia. Aplikasi nanoenkapsulasi untuk
meningkatkan stabilitas senyawa aktif dari bahan alam menunjukkan kemajuan yang
terus meningkat karena keunggulannya dalam meningkatkan bioavailabilitas,
pengendalian pelepasan serta memperbaiki sifat senyawa aktif tersebut.
2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah :
1) Apa itu nanoenkapsulasi?
2) Bagaimana keuntungan partikel nano dalam pelepasan obat?
3) Bagaimana metode pembuatan nanoenkapsulasi?

3. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui :
1) Apa itu nanoenakapsulasi.
2) Keuntungan partikel nano dalam pelepasan obat.
3) Metode pembuatan nanoenkapsulasi.

4. Manfaat
Adapun manfaat dari percobaan ini adalahdapat megetahui:
1) Apa itu nanoenkapsulasi.
2) Keuntungan partikel nano dalam pelepasan obat.
3) Metode pembuatan nanoenkapsulasi.
BAB II
TEORI UMUM

Senyawa aktif pada beberapa obat dan tanaman herbal biasanya memiliki
kelarutan yang rendah. Hal ini dapat diatasi dengan pendekatan menggunakan
partikel dengan ukuran nano sehingga dapat meningkatkan kelarutan dan penyerapan
di dalam tubuh. Saat ini, teknologi nano mulai banyak digunakan karena dalam
bentuk partikel nano, luas permukaan akan meningkat, dan aktivitasnya pun akan
meningkat. Tujuan utama dalam merancang partikel nano sebagai suatu system
pengiriman senyawa aktif adalah untuk (1)mengontrol ukuran partikel, sifat
permukaan dan pelepasan agen farmakologi aktif dalam rangka mencapai tindakan
situs-spesifik senyawa pada tingkat optimal (2)meningkatkan stabilitas
senyawa/protein; dan (3)memiliki sifat pelepasan terkontrol (Dewandari dkk., 2013).
Enkapsulasi adalah suatu proses penyalutan bahan-bahan inti yang berbentuk
cair atau padat dengan menggunakan suatu bahan penyalut khusus yang membuat
partikel-partikel inti mempunyai sifat fisika dan kimia seperti yang dikehendaki.
Bahan penyalut yang berfungsi sebagai dinding pembungkus bahan inti tersebut
dirancang untuk melindungi bahan-bahan terbungkus dari faktor-faktor yang dapat
menurunkan kualitas bahan tersebut.Bahan inti yang dilindungi dalam proses
enkapsulasi disebut sebagai core dan struktur yang dibentuk oleh bahan pelindung
yang menyelimuti inti disebut sebagai dinding, membran, atau kapsul. Melalui teknik
enkapsulasi, inti yang berada di dalam kapsul akan terhindar dari pengaruh
lingkungan sehingga akan terjaga dalam keadaan baik dan inti tersebut akan
dilepaskan hanya ketika persyaratan kondisi terpenuhi.
Teknik enkapsulasi ini mengalami perkembangan yang sangat pesat seiring
dengan perkembangan teknologi.Teknik enkapsulasi saat ini dapat dibedakan atas
ukuran partikel yang dihasilkan. Makrokapsul ditujukan untuk partikel yang
memilikipartikel berukuran >5.000 m, mikroenkapsulasi apabila memiliki ukuran
partikel 1- 5.000 m, dan nanoenkapsulasi apabila menghasilkan partikel berukuran
<1m.
Nanoenkapsulasi merupakan proses mengemas obat dalam sebuah polimer dan
dibuat dalam ukuran nano. Partikel dengan ukuran nano memungkinkan terjadinya distribusi
yang lebih baik pada produk serta dapat memperluas permukankontk partikel dengan bahan.
Selain itu, nanoenkpsulasi memungkinkan bahan aktif untuk lepas secara berkala melalui
lapisan enkapsulan, sehingga hal ini dapat meningkatkan efisiensi penggunaan bahan aktif
(Yulia, 2014).
Kelebihan dari nanoenkapsulasi antara lain dapat meningkatkan stabilitas obat,
mengkontrol pelepasan obat dan dapat meningkatkan bioavailibilitas obat dalam tubuh
karena ukurannya nano sehingga lebih mudah melalui membran permeabel pada sel (Fahmi
dkk.,2016) . Pengendalian pelepasan obat dilakukan agar penggunaan obat lebih
efisien, untuk memperkecil efek samping, serta untuk mengurangi frekuensi
penggunaan obat. Selain kompatibel dengan atribut produk pangan seperti rasa, tekstur, dan
umur simpan, fungsi lain dari nanoenkapsulasi adalah melindungi dari bahan kimia atau
degradasi biologis, seperti oksidasi. Dalam system pengantaran obat, berperan sebagai
pembawa pembawa (carrier) dengan cara melarutkan, menjebak, mengenkapsulasi, atau
menempelkan obat di dalam matriksnya.
Senyawa aktif yang dienkapsulasi umumnya yang mudah bereaksi
dengansenyawa lain, cenderung tidak stabil, ataumemiliki waktu paruh eliminasi
yang singkat. Persebaran senyawa aktif, baik yang berwujud padat maupun cair,
dalam suatu kapsul dapat bermacam-macam. Senyawa aktifdapat terletak tepat di
tengah-tengah kapsuldan bertindak sebagai intinya, atau tersebar diseluruh kapsul
atau tidak terpusat pada satutitik saja.Senyawa aktif dapat terletak tepat di tengah-
tengah kapsul dan bertindak sebagai intinya (Gambar 1a), atau tersebar di seluruh
kapsul atau tidak terpusat pada satu titik saja (Gambar 1b).
Polimer yang bisa digunakan pada proses enkapsulasi suatu senyawa aktif
adalah yangbersifat biokompatibel dan biodegradabel. Hal ini disebabkan produk
yang dihasilkan akan dimasukkan ke dalam tubuh baik secara oral maupun intravena
dan topikal. Selain itu, polimer sebagaipenyalut tidakboleh bereaksi secara
kimiadengan senyawa aktif yang dibawa. Polimer yang dapatdigunakan untuk
prosesenkapsulasi antara lain alginat, kitosan, maltodekstrin dan etilselulosa.
Pembuatan nanoenkapsulasi telah dilakukan dengan berbagai metode, yaitu
metode spray drying, freeze drying dan spray freeze drying dan koeversi. Metode
spray drying adalah metode paling umum digunakan dalam proses enkapsulasi pada
industri makanan (Yulia, 2014). Proses yang terdapat dalam spray drying ada tiga
tahap: pertama, persiapan dari bahan-bahan yang akan disebarkan dan bahan emulsi
yang akan diproses; kedua, menghomogenisasikan bahan-bahan tersebut, dan yang
ketiga, menyemprotkan cairan-cairan tersebut dengan udara panas menuju
chamber(Pramesti,2014).
Pengeringan beku (freeze drying) adalah salah satu metode enkapsulasi
dengan menggunakan suhu rendah yang dapat melindungi mutu hasil sediaan
khususnya yang sensitif pada panas.
Koaservasi kompleks merupakan suatu metode pembuatan nanopartikel
dengan memanfaatkan sifat makromolekul yang mengandung senyawa kation dan
anion untuk berinteraksi secara elektrostatik membentuk kapsul. Nanokapsul yang
terbentuk pada koaservasi kompleks merupakan hasil proses pemisahan fase yang
terjadi secara spontan dengan membentuk kompleks yang dapat larut, antara dua atau
lebih polimer. Koaservasi kompleks sangat berkembang pada bidang farmasi
khususnya pada enkapsulasi obat dimana salah satu keunggulan dari kapsul yang
dihasilkan pada metode koaservasi kompleks adalah waktu rilis core yang dapat
dikontrol. Keunggulan dari metode koaservasi kompleks dibandingkan dengan spray
drying adalah koaservasi kompleks tidak membutuhkan suhu tinggi pada aplikasinya
sebab cenderung dilakukan pada suhu rendah.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Pengertian Nanoenkapsulasi
Istilah nanoteknologi pertama kali dipopulerkan peneliti Jepang Norio
Taniguchi pada tahun 1974. Nanoteknologi merupakan teknologi yang mampu
mengerjakan dengan ketepatan lebih kecil dari satu mikrometer (seperjuta meter)
yakni dalam skala nanometer (sepermiliar meter), dengan aplikasi yang sangat luas
melingkupi hampir di seluruh kehidupan manusia. Secara umum, penerapan
nanoteknologi di industri pangan dapat ditemui pada berbagai sektor, diantaranya
pada pengolahan, produk, pemantauan kualitas, dan kemasan pangan.
Nanoenkapsulasi didefinisikan sebagai teknologi yang membungkus substansi
inti dalam skala nanometer atau 10-9 meter (Wang, et al 2009). Sedangkan menurut
Reis et al. (2006), nanoenkapsulasi merupakan suatu formasi yang terdiri atas zat
aktif yang diselubungi atau dikelilingi oleh bahan penyalut dengan diameter dari 1
hingga 1000 nm.
Pada nanoenkapsulasi dikenal istilah nanopartikel dan nanokapsul.
Nanopartikel terdiri atas zat aktif yang terbungkus dalam enkapsulan dan berwujud
cair. Berbeda dengan nanopartikel, nanokapsul terdiri atas zat aktif yang terbungkus
dalam enkapsulan yang disebut inti atau core, berwujud padat dengan sifat
permukaan hidrofilik atau hidrofobik. Nanokapsul merupakan hasil dari nanopartikel
yang telah dikeringkan dengan metode tertentu seperti spray drying, freeze drying,
vacuum drying, dan lain sebagainya.
Nanoenkapsulasi pada dasarnya merupakan zat pembawa, food enhancer dan
nutraceutical yang ditambahkan didalam bahan pangan (Chen dan Shahid 2006). Beberapa
perkembangan nanoenkapsulasi penting di bidang pangan adalah pemanfaatannya sebagai
bahan pembawa obat agar dapat dengan mudah diserap oleh tubuh, enkapsulasi asap cair
tempurung kelapa untuk memperpanjang umur simpan produk pangan (Ali et al 2014),
nanoenkapsulan antioksidan alami berbahan baku buah kecombrang (Naufalin 2011),
nanoenkapsulasi gabungan nutraceutical dan gum arab/maltodekstrin untuk menghalangi
pertumbuhan bakteri, penguat rasa bahan pangan dan memperbaiki kualitas produk (Kuzma
et al. 2008).

B. Keuntungan Partikel Nano Dalam Pelepasan Obat


Tujuan utama dalam mendisain nanopartikel sebagai sistem penghantaran
obat adalah untuk mengontrol ukuran partikel, sifat permukaan (Jahanshahi et al.
2005) dan pelepasan zat aktif untuk memperoleh aksi spesifik obat secara
farmakologis pada dosis regimennya (Soppimath et al., 2001). Keuntungan dalam
menggunakan nanopartikel sebagai sistem penghantaran obat meliputi (Mohanraj dan
Chen, 2006):
1. Ukuran partikel dan karakteristik permukaan nanopartikel dapat
dimanipulasi dengan mudah untuk memperoleh targeting obat baik aktif
maupun pasif setelah pemberian parenteral.
2. Nanopartikel mengontrol dan melepaskan obat secara perlahan-lahan
selama distribusi dan memodifikasi distribusi obat pada organ loka
aksi,dan memperlambat klirens obat sehingga terapi obat dan
meminimalkan efek samping.
3. Pelepasan terkendali dan karakteristik degradasi partikel dapat dimodulasi
dengan pemilihan matrix konstituen. Loading obat relatif tinggi dan obat
dapat dijerapkan ke dalam sistem tanpa reaksi kimia; hal ini merupakan
faktor penting untuk menjaga aktivitas obat.
4. Targeting pada lokasi spesifik dapat diperoleh dengan melekatkan ligand
pada permukaan partikel atau dengan menggunakan magnetic guidance.
5. Sistem dapat digunakan pada berbagai rute pemberian termasuk oral,
nasal, parenteral, intra okular.
C. Metode Pembuatan Nanoenkapsulasi

1. Spray Drying

Mikroenkapsulasi menggunakan spray dyring paling banyak


digunakan dalam industri pangan karena biayanya relatif lebih rendah. Proses
ini fleksibel, dapat digunakan untuk variasi bahan dalam mikroenkapsulasi
karena peralatannya mudah diterapkan dalam pengolahan bermacam bahan
dan menghasilkan partikel-partikel yang berkualitas baik dengan distribusi
ukuran partikel yang konsisten.

Bahan makanan yang dikemas dengan cara ini meliputi lemak,


minyak, dan penyedap rasa. Pelapisnya dapat berupa karbohidrat, seperti
dekstrin, gula, pati, dan gum, atau protein, seperti gelatin dan protein kedelai.
Proses mikroenkapsulasi meliputi pembentukan emulsi atau suspensi antara
bahan aktif dan pelapis, dan pengkabutan emulsi ke sirkulasi udara kering
panas dalam ruang pengering menggunakan atomizer ataupun nozzle. Kadar
air dalam droplet emulsi diuapkan akibat kontak dengan udara panas. Padatan
yang tersisa dari bahan pelapis menjebak bahan inti.

Spray drying berguna untuk bahan makanan yang sensitif terhadap


panas karena proses pengeringan berlangsung sangat cepat. Bagaimanapun
juga masih terdapat kehilangan bahan aktif yang memiliki titik didih rendah.
Sifat fisik dari mikrokapsul tergantung pada suhu C), derajat dan keseragaman
dalamudara panas (sekitar 150 200 pengkabutan emulsi, kadar kepadatan
dari emulsi (30 70%), dan suhu emulsi. Keuntungan spray drying
mencakup keanekaragaman dan ketersediaan mesin, kualitas mikrokapsul
yang tetap baik, berbagai ukuran partikel yang dapat diproduksi, dan
kemampuan dispersibilitas yang baik dalam media berair. Beberapa kerugian
yang diperoleh di antaranya kehilangan bahan aktif dengan titik didih rendah,
adanya proses oksidasi dalam senyawa penyedap rasa, dan keterbatasan pada
pilihan bahan dinding, dimana bahan dinding harus dapat larut pada air
dengan jumlah yang layak.

2. Freeze Drying

Salah satu metode mikroenkapsulasi dengan menggunakan suhu


rendah yang mempunyai keunggulan dalam mempertahankan mutu hasil
pengeringan, khususnya untuk produk-produk yang sensitif terhadap panas.
Keuntungan pengeringan beku (freeze drying) diantaranya, dapat
mempertahankan stabilitas produk (menghindari perubahan aroma, warna,
dan unsur organoleptik lain).

3. Coacervation
Proses pembentukan partikel menggunkan metode gelasi
ionik/koeversi . Metode ini dipilih dikarenakan prosesnya yang sederhana,
tidak menggunakan pelarut organik, dan dapat dikontrol dengan mudah dan
dilakukan pada suhu yang tidak tinggi serta dapat mempertahankan zat
aktif/memperlama pelepasan zat aktif. Metode ini pembuatan nanopartikel
dengan memanfaatkan sifat makromolekul yang mengandung senyawa kation
dan anion untuk berinteraksi secara elektrostatik membentuk kapsul.
Nanokapsul yang terbentuk pada koeversi kompleks merupakan hasil
proses pemisahan fase yang terjadi secara spontan dengan membentuk
kompleks yang dapat larut, antara dua atau lebih polimer. Pembentukan
partikel terjadi akibat adanya interaksi ionik antara gugus amino pada kitosan
yang bermuatan positif dengan polianion yang bermuatan negatif membentuk
struktur network inter- dan/atau intramolekul tiga dimensi.. Kompleks
koaservasi atau gelasi ionik dapat diinduksi dalam sistem yang mempunyai
dua dispersi koloid hidrofilik dan mempunyai muatan yang berlawanan.
Netralisai muatan positif oleh muatan negatif menyebabkan pemisahan
kompleks. Mekanisme terbentuknya formulasi nanopartikel kitosan ini
berdasarkan pada interaksi elektrostatik antar gugus amina kitosan dengan
gugus bermuatan negatif dari suatu polianion.

Review Jurnal
Gambier (Uncaria gambir Roxb.) Merupakan salah satu komoditas ekspor
Indonesia yang sebagian besar dihasilkan di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan,
Riau dan Sumatera Utara. Di antara berbagai senyawa kimia dalam gambir, catechin
(kelompok poliphenol) adalah yang terbesar dalam jumlah dan memiliki manfaat
yang paling penting bagi kesehatan.

Gambar. Daun Gambir


Sejumlah aktivitas biologis dari catechin telah dilaporkan. Catechin diketahui
memiliki sifat antioksidan yang lebih baik daripada -tokoferol,
hydroxyanisolebutylatedor hydroxytoluenebutylated. Namun, catechin memiliki
setidaknya satu keterbatasan, yaitu ketidakstabilan yang mengarah ke penurunan sifat
bioavailabilitas nya.
Senyawa nanoenkapsulasi telah dikembangkan untuk desain sistem
penghantaran obat. Penerapan teknologi nanoenkapsulasi dapat meningkatkan
stabilitas catechin, sehingga meningkatkan kelarutan dan bioavailabilitas.
Enkapsulasi dari nanopartikel catechin karbohidrat, liposom atau bahan preformulasi
lainnya, menghasilkan sebuah larutan yang meningkatkan efektivitas terapi
antioksidan ini. Menurut National Nanotechnology Initiave, nanoteknologi dikenal
sebagai ilmu yang mempelajari karakterisasi dan manipulasi bahan biologis dan
mikrobiologis dengan ukuran kurang dari 100 nanometer, termasuk fenomena unik
dan sifat fungsional baru yang akan muncul.
Nanopartikel sistem coloidal menggunakan bahan biopolimer tak beracun
diharapkan dapat melindungi sifat fungsional dari senyawa bioaktif tertentu seperti
catechin. Campuran dari kitosan dan natrium tripolifosfat (Na-TPP) sebagai
pembawa untuk catechin yang harus melindungi, menstabilkan, atau mengontrol
pelepasan inti. Chitosan sebagai polimer hidrofilik dapat dengan mudah mengikat
dengan kontra poli anion seperti Na-TPP untuk mengontrol pelepasan obat. Dalam
hal ini, komposisi kitosan dan Na-TPP adalah parameter kunci dalam mengendalikan
sifat dan struktur dari sistem. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh
formulasi terbaik dalam memproduksi larutan catechin nanoencapsulated dengan
ukuran partikel tetesan <300 nm.Makalah ini membahas salah satu jurnal yang
berjudul Formulation of Nanoencapsulated Catechin with Chitosan as
Encapsulation Material
a. Bahan dan Metode
Catechin yang digunakan dalam penelitian ini diekstrak dari daun gambir oleh
Laboratorium Medis dan Farmasi TeknologiScience and Technology Research
Center, Serpong, Indonesia. Chitosan (DD 85), natrium tripolifosfat (Na-TPP),
glasial asam asetat dari Sigma Aldrich.
Larutan kitosan dibuat dengan konsentrasi 0,2 dan 0,4%. Hal itu diperoleh
dengan menambahkan kitosan ke dalam larutan asam asetat glasial dengan rasio
konsentrasi 1:1, kemudian diaduk selama 24 jam dan disaring dengan Whatman
no. 1 kertas filter. Larutan Na-TPP diperoleh dengan menambahkan Na-TPP ke air
suling dengan konsentrasi 0,1-0,2%, diaduk selama 2 jam. Larutan ini Na-TPP
akan digunakan sebagai pelarut untuk catechin. Larutan Catechin dibuat dengan
konsentrasi 0,3, 0,4, 0,5, dan 0,6%.
Proses nanoencapsulasi dilakukan dengan mencampurkan larutan Na-TPP
yang mengandung catechin untuk larutan kitosan dengan diaduk menggunakan
magnetik stirrer. Larutan katekin ditumpahkan menggunakan jarum suntik.
Pengadukan dilakukan pada suhu kamar (28oC) dan dilanjutkan selama 15 menit
setelah semua larutan catechin ditambahkan ke larutan kitosan dengan tujuan
meningkatkan reaksi.
Pengamatan dilakukan terhadap formulasi konsentrasi larutan chitosan (0,2
dan 0,4%), natrium tripolifosfat (Na-TPP) (0,1 dan 0,2%), ekstrak katekin (0,3,
0,4, 0,5 dan 0,6%) dan rasio larutan chitosan dengan larutan catechin dalam Na-
TPP (5: 1 dan 7: 1).

Gambar 1. Skema nanoencapsulasi dari ekstrak catechin


Desain eksperimen yang digunakan benar-benar acak desain faktorial dengan
dua pengulangan. Semua formula dianalisis untuk ukuran partikel dengan
menggunakan Ukuran partikel Analyzer / PSA. Sebuah produk dengan ukuran
partikel terkecil kemudian terpilih sebagai formula nanoenkapsulasi yang terbaik.
Terpilih produk nanoenkapsulasi catechin yang ditandai untuk fisikokimia dan
sifat fungsional, termasuk struktur partikel menggunakan Scanning Electron
Microscope/SEM, struktur internal dari nanopartikel menggunakan Mikroskop
Elektron Transmisi/TEM, stabilitas emulsi menggunakan centrifuge, kandungan
katekin menggunakan pirolisis kromatografi gas, dan antioksidan kapasitas
menggunakan DPPH.

b. Hasil dan Pembahasan


Hasil analisis ukuran partikel menunjukkan bahwa ukuran partikel sangat
dipengaruhi oleh konsentrasi konsentrasi larutan kitosan. Produk dengan
konsentrasi larutan kitosan 0,2% memiliki ukuran partikel yang lebih kecil
dibandingkan produk dengan konsentrasi larutan kitosan 0,4% (Gambn n 2).
Selain itu, hasil analisis juga menunjukkan kecendrungan peningkatan ukuran
partikel dengan meningkatnya konsentrasi larutan catechin, baik dengan
konsentrasi larutan kitosan 0,2% dan 0,4%. Gambar TEM dari nanopartikel
kitosan dan catechin dimuat nanopartikel kitosan menunjukkan bahwa pemuatan
catechin dalam nanopartikel kitosan meningkatkan ukuran partikel.
Semakin tinggi konsentrasi Na-TPP (0,2%) dengan konsentrasi kitosan 0,2%
menghasilkan ukuran partikel yang lebih kecil dari catechin nanoencapsulated
dibandingkan dengan konsentrasi Na-TPP 0,1%. Namun, pada produk dengan
konsentrasi kitosan 0,4%, konsentrasi Na-TPP lebih tinggi menpgakibatkan
ukuran partikel yang lebih besar, yang bersamaan dengan temuan dari Dhudani et
al. (2010). Peningkatan konsentrasi padatan terlarut dan konsentrasi kitosan dan
Na-TPP dihasilkan aglomerasi dan ukuran partikel yang lebih besar.
Produk nanoenkapsulasi catechin dengan konsentrasi larutan kitosan 0,2%,
konsentrasi catechin dari 0,4%, konsentrasi Na-TPP 0,1% dan rasio kitosan dan
Na-TPP dari 7: 1 terpilih sebagai formula terbaik karena ukuran partikel terkecil,
137,6 nm. SEM menunjukkan bahwa catechin yang comnpletely dilapisi dalam
matriks Na-TPP dan kitosan, dengan distribusi ukuran dan bentuk yang sama
dalam larutan, yaitu tampak bulat tegas. Munculnya permukaan partikel halus,
non-berpori dan tidak ada aglomerasi (Gambar 3).
TEM gambar menunjukkan bahwa senyawa katekin terperangkap dalam
matriks bahan pelapis. Senyawa katekin terperangkap dalam matriks ditunjukkan
oleh warna gelap. Bagian terang dari gambar menunjukkan daerah kitosan, dan
tampaknya ada ikatan antara kitosan dan Na-TPP, yang berisi senyawa katekin
(Gambar. 4).

Gambar 2. ukuran partikel dari nanoencapsulations catechin.


a1 = konsentrasi catechin 0,3%; a2 = konsentrasi catechin 0,4%; a3 = konsentrasi catechin
0,5%; a4= konsentrasi catechin 0,6%;
b1 = konsentrasi Na-TPP 0,1%; b2 = konsentrasi Na-TPP 0,2%;
c1 = chitosan: rasio Na-TPP 5: 1; c2 = chitosan: Na-TPP rasio 7: 1.
bar Merah = konsentrasi kitosan 0,4%, biru bar = konsentrasi kitosan 0,2%.
Gambar 3. Penggambaran nanoenkapsulasi catechin menggunakan Scanning Electron
Microscopy (SEM). (a) 1.000 kali dan (b) 5.000 kali pembesaran.

Gambar 4. Penggambaran nanoenkapsulasi catechin menggunakan Transmission Electron


Microscopy (TEM). (a) 20.000 kali dan (b) 40.000 kali (kanan) pembesaran.

Analisis stabilitas emulsi dilakukan untuk larutan catechin dan


nanoenkapsulasi catechin. Pemisahan menggunakan kecepatan sentrifugasi 10.000
rpm selama 25 menit menunjukkan stabilitas yang baik dengan tidak adanya
pemisahan fasa (Gbr.5). Chitosan merupakan biopolimer kationik terdiri dari 2-
amino-2-deoksi-D glukopiranosa dihubungkan oleh -1,4 obligasi. Polimer terdiri dari
polimer kationik dan polimer anionik. Chitosan merupakan polimer bermuatan positif
yang dapat silang dengan polimer anionik yang bermuatan negatif seperti alginat,
karagenan, dan Na-TPP. Chitosan dapat dengan mudah mengikat dengan anion poli
seperti TPP. Penggunaan beberapa lapisan Alginat-Chitosan dapat mengurangi
porositas dan stabilitas capsules emulsi yang dihasilkan. Hal ini juga terjadi dalam
penggunaan beberapa sistem pelapisan Chitosan-NaTPP dalam percobaan yang dapat
meningkatkan stabilitas emulsi dalam larutan dari nanoenkapsulasi catechin.

Gambar 5. Penampilan dari larutan kitosan (kiri) dan nanoenkapsulasi catechin (kanan)
setelah analisis stabilitas emulsi.
Komponen utama dari gambir adalah katekin (catechin asam) dan
catechutannatacid. Gambir juga berisi quersetin sedikit (pewarna kuning).
Catechinis senyawa fenolik yang menghambat dan menjebak radikal bebas.
Senyawa fenolik / fenol yang dikenal sebagai fitokimia utama yang bertanggung
jawab untuk aktivitas antioksidan bahan tanaman. Beberapa faktor yang
mempengaruhi aktivitas antioksidan yang antioksidan konsentrasi, pH, suhu,
pengolahan dan penyimpanan. Aktivitas antioksidan meningkat dengan
peningkatan konsentrasi catechin dalam larutan. Proses epimerization atau
perubahan struktur katekin dari cis ke trans juga menunjukkan ketidakstabilan
ofcatechin. Epimerization terjadi pada suhu tinggi. Oleh karena itu, pengolahan
dengan suhu tinggi menurunkan aktivitas antioksidan.
Hasil analisis DPPH menunjukkan bahwa proses nanoemulsifikasi
menurunkan aktivitas antioksidan catechin. Aktivitas antioksidan dari ekstrak
catechin murni (konsentrasi 100%) adalah 315,733.53 ppm sedangkan pada
katekin nanoencapsulasi dengan konsentrasi larutan catechin dari 0,4%
(pengobatan terbaik) adalah 223,75 + 4 ppm. Kandungan katekin juga ditunjukkan
menurun dari larutan ekstrak catechin dehidrasi tonanoenkapsulasi catechin.
Ekstrak katekin memiliki kadar katekin yang lebih tinggi (42%), sedangkan
kandungan katekin dari nanoenkapsulasi katekin adalah 16,8%.
Nanoemulsifikasi yang tidak sempurna mungkin penyebabnya penurunan
aktivitas antioksidan dan kandungan katekin. Ekstrak catechin yang tidak
terbungkus dalam nanoemulsi dapat membentuk sedimen, sehingga menurunkan
katekin dalam larutan.
Stabilitas katekin dipengaruhi oleh pH, stabil pada pH <4 dan tidak stabil pada
pH> 6 11. Sebuah pemanas berkepanjangan dan pemanasan dalam larutan basa
dapat menyebabkan perubahan dari katekin menjadi asam katekutomik, dan
karena itu menurunkan aktivitas antioksidan. Ketidakstabilan antioksidan juga
dipengaruhi oleh konsentrasi oksigen. Jumlah oksigen yang lebih tinggi dan lebih
rendah konsentrasi antioksidan akan meningkatkan oksidasi katekin. Proses
nanoencapsulasi katekin memperluas luas permukaan sehingga memungkinkan
lebih banyak katekin yang kontak dengan oksigen dan meningkatkan oksidasi dan
menurunkan aktivitas antioksidan katekin. Ketidakstabilan molekul antioksidan
akan mengurangi nilai fungsional makanan. Pemberian antioksidan dalam
makromolekul adalah cara yang baik untuk mengurangi oksidasi karena
terbatasnya akses oksigen ke molekul.

c. Kesimpulan
Nanoenkapsulasi katekin dengan ukuran partikel terbaik diperoleh dari
formula dengan konsentrasi larutan kitosan 0,2%, larutan katekin 0,4%, larutan
0,1% Na-TPP dan rasio kitosan dan Na-TPP 7: 1, dengan ukuran partikel 137,6
nm. Katekin nanoenkapsulasi memiliki topografi permukaan partikel yang bagus,
struktur internal partikel dan stabilitas emulsi. Berdasarkan analisis kandungan
katekin, ditemukan bahwa nanoenkapsulasi katekin mengandung katekin 16,8%
dan aktivitas antioksidan 223,75 + 4 ppm.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Nanoenkapsulasi merupakan proses mengemas obat dalam sebuah polimer


dan dibuat dalam ukuran nano. Partikel dengan ukuran nano memungkinkan
terjadinya distribusi yang lebih baik pada produk serta dapat memperluas permukan
kontak partikel dengn bahan.
Kelebihan dari nanoenkapsulasi antara lain dapat meningkatkan stabilitas
obat, mengkontrol pelepasan obat dan dapat meningkatkan bioavailibilitas obat dalam
tubuh karena ukurannya nano sehingga lebih mudah melalui membran permeabel
pada sel.

Adapaun metode-metode digunakan dalam nanoenkapsulasi yaitu spray


drying, freeze drying dan koeversi.

B. Saran

Peneliti yang hendak membuat nanoenkapsulasi harus lebih pandai memilih


polimer karena dalam pembuatan nanoenkapsulasi penggunaan polimer yang tepat
akan sangat berpengaruh dengan hasil yang akan didpatkan.
DAFTAR PUSTAKA

Dewandari, K. T., Christina, W., dan Gustri Yeni., 2013, Tknologi Nanoenkapsulasi
untuk Meningkatkan Aktivitas Farmakologi Bahan Aktif Herbal, Buletin
Teknologi Pascapanen Pertanian, 9(2).
Fahmi, M. Z., Hery S., Shofi, Y. N., Yogi, P. H., 2016, Studi Pelepasan Terkontrol
Terhadap NanoenkapsulasiDimetoksi Amino Calkon Sebagai Desain
Kandidat SenyawaAnti Kanker Yang Efektif, Journal Kimia Rise, 1(2).
Kailaku, S. I., Ira, M. and Andi, N. M., 2014, Formulation of Nanoencapsulated
Catechin with Chitosan as Encapsulation Material, Procedia Chemistry,
Vol.9.
Pramesti, E. D., 2014, Aktivitas Antibakteri Minyak Biji Pala (Myristica
Fragrans H) Terenkapsulasi pada Pure Jambu BijiMerah (Psidium Guajava
L), Skripsi, Departemen Ilmu Dan Teknologi PanganFakultas Teknologi
PertanianInstitut Pertanian Bogor.
Praptiningsih, Y., dan Palupi, N. W., 2015, Aplikasi Tapioka pada Enkapsulasi
Antiokasidan dari Ampas Seduhan Kopi dengan Teknik Coacervation,
Laporan Akhir Penelitian Hibah Bersaing, Universitas Jember.
Yeni, G., 2015, Rekayasa Proses Nanoenkapsulasi KonsentratKatekin Dari Gambir
(Uncaria Gambir Roxb.)Sebagai Antioksidan, Tesis, Sekolah Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor
Yulia, R., 2014, Nanoenkapsulasi Asap Cair dengan Kotosan dan Maltodekstrin Serta
Aplikasinya pada Pengawetan Ikan, Seminar Jurnal, Jurusan Perikanan,
Fakultas Pertanian UGM.
Metode Nanoenkapsulasi

Proses pembentukan partikel menggunkan metode gelasi ionik/koeversi . Metode ini


dipilih dikarenakan prosesnya yang sederhana, tidak menggunakan pelarut organik, dan dapat
dikontrol dengan mudah dan dilakukan pada suhu yang tidak tinggi serta dapat
mempertahankan zat aktif/memperlama pelepasan zat aktif.

Metode ini pembuatan nanopartikel dengan memanfaatkan sifat makromolekul yang


mengandung senyawa kation dan anion untuk berinteraksi secara elektrostatik membentuk
kapsul.

Pembentukan partikel terjadi akibat adanya interaksi ionik antara gugus amino pada
kitosan yang bermuatan positif dengan polianion yang bermuatan negatif membentuk struktur
network inter- dan/atau intramolekul tiga dimensi.. Kompleks koaservasi atau gelasi ionik
dapat diinduksi dalam sistem yang mempunyai dua dispersi koloid hidrofilik dan
mempunyai muatan yang berlawanan. Netralisai muatan positif oleh muatan negatif
menyebabkan pemisahan kompleks. Mekanisme terbentuknya formulasi nanopartikel
kitosan ini berdasarkan pada interaksi elektrostatik antar gugus amina kitosan dengan
gugus bermuatan negatif dari suatu polianion.