Anda di halaman 1dari 3

KEMISKINAN DI PAPUA

Di sebuah wilayah yang sangat subur dengan kekayaan alam dan tambang yang luar
biasa melimpah, rakyat Papua hidup dibawah garis kemiskinan,dalam kebodohan dan
sangat primitif

Meski di tanah leluhurnya terdapat tambang emas terbesar di dunia, orang Papua
khususnya yang tinggal di Mimika, Paniai, dan Puncak Jaya pada tahun 2004 hanya
mendapat rangking ke 212 dari 300-an lebih kabupaten se Indonesia untuk Indeks
Pembangunan Manusia.

Anggaran belanja (APBD) Papua adalah salah satu yang terbesar di seluruh
Indonesia. Tahun berjalan ini saja tak kurang dari 17 trilliun rupiah telah dikucurkan
oleh pemerintah pusat dan akan disusul dengan 24,4 trilliun rupiah pada tahun belanja
yang baru 2008. Jumlah ini belum termasuk dana-dana bantuan dari luar negeri yang
masuk melalui PBB dan LSM asing. Lalu apakah dana ini tidak cukup bagi orang
Papua yang hanya berjumlah 2 juta jiwa saja ?

Keajaiban Dunia

Sebenarnya sebuah keanehan yang sangat tidak masuk akal, mustahil bisa diterima
dengan rasio. Betapa tidak ? Di sebuah wilayah yang sangat subur dengan kekayaan
alam dan tambang yang luar biasa melimpah, tapi rakyat Papua hidup dibawah garis
kemiskinan, kebodohan dan sangat primitif.

Jika Indonesia disebut sebagai pemilik salah satu dari 7 keajaiban dunia dengan
adanya Borobudur di Indonesia, maka bukan Borobudur, tapi kondisi rakyat Papua-
lah salah satu keajaiban dunia yang sesungguhnya.

Kemiskinan

Secara teori, berdasarkan faktor penyebabnya kemiskinan bisa dikategorikan dalam


dua hal, yakni kemiskinan Struktural dan kemiskinan Alamiah. Kemiskinan Struktural
atau bisa disebut Man made poverty, adalah kondisi kemiskinan yang lebih
disebabkan oleh struktur sosial yang ada yang mencakup tatanan organisasi dan
aturan permainan yang diterapkan. Sedangkan Kemiskinan Alamiah banyak
disebabkan oleh rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan sumberdaya alam.

Man made poverty

Untuk Papua, kemiskinan struktural adalah salah satu faktornya. Pejabat yang korup,
terjadinya kolusi, nepotisme serta diskriminasi. Status otonomi khusus dan otonomi
daerah yang diterapkan di Papua sama sekali tidak membawa dampak signifikan,
kecuali hanya memperkaya beberapa pribadi yang mabuk oleh gelimang lembaran
rupiah yang mereka terima (Charisma, ed.des-jan08).

Dan ironisnya seperti yang dinyatakan Annie Numberi-istri Freddy Numberi


Menteri Kelautan dan Perikanan (dikutip dari Charisma), mayoritas yang duduk
dalam posisi eksekutif dan legeslatif di Papua adalah justru para pendeta. Padahal
untuk Papua nilai APBD yang dikucurkan adalah terbesar ke dua di Indonesia. Lalu
kemana semua uang tersebut ?

Usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat sudah patut. Lalu bagaimana jajaran
pemerintah tingkat daerah ? Seperti kata Gubernur Papua Barnabas Suebu di Den
Haag, Sabtu (27/10), diakui adanya kesalahan leadership, adanya mismanagement dan
penyalah gunaan dana yang sangat besar di tingkat pemerintah daerah sehingga ia
menyebutkan sangat mendesak diwujudkannya good governance yang melayani
rakyat dengan sebaik-baiknya.

Kemiskinan Alamiah

Penyebab dominan dari kemiskinan yang lain adalah kondisi dan kualitas sumberdaya
manusia yang rendah. Bisa dikatakan rakyat Papua sangat primitif, tidak tersentuh
peradaban dan tidak mengenal teknologi. Walaupun alam Papua bagai surga dunia,
tetapi dengan sumberdaya manusia yang sangat rendah mustahil mengangkat
kesejahteraan mereka. Dan yang terjadi saat ini adalah penindasan hak rakyat Papua,
perampokan kekayaan dan pembodohan.

Konflik di Papua lebih disebabkan adanya kecemburuan sosial. Jika saja penduduk
asli Papua mampu bersaing dengan pendatang dan rakyat Papua mampu menjadi tuan
di tanah mereka sendiri maka kecemburuan otomatis tidak akan terjadi. Jika dikatakan
hambatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan dan pendidikan rakyat Papua
disebabkan letak geografis dan sarana transportasi, apakah dana sebesar 17 triliun
yang pada tahun 2008 ini menjadi 24 triliun, kurang ?

Yahukimo, pembentukan opini

Sebuah media menyebutkan bencana kelaparan terjadi di Kabupaten Yahukimo Irian


Jaya. Diumumkan korban tewas 55 orang, 112 orang sakit berat dan 15 ribu penduduk
kelaparan. Bahkan sebuah Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi Papua untuk Hak
Asasi Manusia menyebutkan jumlah korban meninggal 154 orang sejak 11 November
2005.

Jika dilihat, kondisi wilayah Yahukimo memang tidak bersahabat, bahkan dikatakan
dihuni oleh masyarakat nomad abad 21 (the stone age periode society in 21st
century). Secara geografis berada di titik tengah pegunungan Papua, sehingga
terisolasi. Penduduk setempat masih menggunakan koteka sebagai pakaian
tradisional, sistem perekonomian masih primitif, sangat bergantung pada alam, sama
sekali belum mengenal intensifikasi, ekstensifikasi atau bahkan diversifikasi
komoditas pangan.

Angka kematian di Papua sebesar 55 orang diakhir tahun 2005 dikatakan sebagai
akibat dari kelaparan yang melanda wilayah Yahukimo. Dampak dari ketidakpedulian
pemerintah Indonesia yang hanya mengeruk keutungan saja dari Papua. Tapi ketika
berita tersebut diteliti lebih lanjut ternyata kondisi di lapangan tidak memberikan
kenyataan yang sama.

Menkokesra membantah. Menkes memberikan data yang lain dari penyebab kematian
55 orang tersebut. Beberapa sumber yang asli orang sana pun mengatakan fakta
kematian memang ada tapi penyebab berbeda-beda, permasalahan yang kompleks
sehingga bencana tersebut tidak bisa ditumpangkan demikian saja sebagai kesalahan
pemerintah pusat.

Disisi lain, Papua menjadi perhatian dunia, kondisi kelaparan di Yahukimo sengaja di
blow-up sebagai komoditas politik untuk mengusung disintegrasi bagi pihak-pihak
yang menginginkan melepaskan diri dari NKRI. Pemerintah Indonesia dianggap
hanya mengeruk kekayaan Papua, gagal menangani kesejahteraan mereka yang di
Papua. Bahkan lebih jauh lagi, pemerintah Indonesia dianggap sebagai menjajah
rakyat Papua.

(silmy kaffaah berbagai sumber)