Anda di halaman 1dari 19

Pengadilan Negeri Muara Bulian

Perkara Nomor: 75/PID. B/2015/PN. MBN DAN NOMOR :76/PID. B/2015/ PN. MBN

Kasus:
Pembunuhan Atas Indra Pelani

KEMATIAN INDRA PELANI: SEMPURNANYA


PEMBUNUHAN BERENCANA

Amicus Curiae (Komentar Tertulis) diajukan oleh :


ELSAM- WALHI KontraS KPA Tuk Indonesia

Jambi, 9 September 2015


1

Dipersiapkan dan Disusun oleh:

Andi Muttaqien, SH.


Divisi Advokasi Hukum
Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM)

Kurniawan Sabar
Manager Kampanye Eksekutif Nasional
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)

Bustami Arifin
Devisi Advokasi dan Pemantauan
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS)

DD Shineba
Kepala Departemen Advokasi Kebijakan
Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA)

Edi Sutrisno
Direktur Advokasi
Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia

I.

PERNYATAAN KEPENTINGAN
1. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Institute for Policy Research and
Advocacy), disingkat ELSAM, adalah organisasi advokasi kebijakan yang berdiri
sejak Agustus 1993 di Jakarta. Awalnya berbentuk yayasan, kemudian dalam
perkembangannya berubah menjadi perkumpulan pada 8 Juli 2002. ELSAM
bertujuan untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang berpegang kepada nilai-nilai
hak asasi manusia, keadilan, dan demokrasi, baik dalam rumusan hukum maupun
dalam pelaksanaannya. Untuk mencapai tujuannya, ELSAM melakukan usaha-usaha
sebagai berikut: (1) melakukan pengkajian terhadap kebijakan-kebijakan dan/atau
hukum, penerapannya, serta dampaknya terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan
budaya; (2) mengembangkan gagasan dan konsepsi atau alternatif kebijakan atas
hukum yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat dan melindungi hak asasi
manusia; (3) melakukan advokasi dalam berbagai bentuk bagi penenuhan hak-hak,
kebebasan, dan kebutuhan masyarakat yang berkeadilan; dan (4) menyebarluaskan
informasi berkenaan dengan gagasan, konsep, dan kebijakan atau hukum yang
berwawasan hak asasi manusia, demokrasi, dan keadilan di tengah masyarakat luas;
2. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, disingkat WALHI, adalah organisasi
lingkungan hidup yang independen dan non-profit yang berdiri pada hari Kamis
tanggal 15 Oktober 1980. WALHI merupakan forum kelompok masyarakat sipil yang
terdiri dari organisasi non-pemerintah (ornop/NGO), Kelompok Pencinta Alama
(KPA), Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) telah ada di 28 Provinsi (terhitung
Desember 2011) dan berpusat di Jakarta. Visi WALHI adalah terwujudnya suatu
tatanan sosial ekonomi, dan politik yang adil dan demokratis yang dapat menjamin
hak-hak rakyat atas sumber-sumber kehidupan dan lingkungan hidup yang sehat.
WALHI melakukan perlawanan atas segala bentuk penindasaan kepada rakyat jelata
dan sumber-sumber kehidupannya dengan setia pada nilai-nilai perjuangan yang
diseneraikan: (1) Demokrasi: Seluruh rakyat harus terlibat dalam proses pengambilan
keputusan apapun yang berdampak bagi keberlanjutan kehidupan rakyat, (2) Keadilan
Antar Generasi: Semua generasi baik sekarang maupun mendatang berhak atas
lingkungan yang berkualitas dan sehat, (3) Keadilan Gender: Semua orang berhak
memperoleh kehidupan dan lingkungan hidup yang layak tanpa membedakan jenis
kelamin, agama, dan status sosial, (4) Penghortamatan Terhadap Mahluk Hidup:
Semua mahluk hidup baik manusia maupun non manusia memiliki hak dihormati dan
dihargai, (5) Persamaan Hak Masyarakat Adat: Masyarakat adat di seluruh pelosok
nusantara berhak menentukan nasibnya sendiri untuk berkembang sesuai
kebudayaannya, (6) Solidaritas Sosial: Semua orang memiliki hak sipil, politik,
ekonomi, sosial, dan budaya yang sama, (7) Anti Kekerasan: Negara dilarang
melakukan kekerasan fisik dan non fisik kepada seluruh rakyat, (8) Keterbukaan:
Seluruh rakyat berhak atas semua informasi yang berkenaan dengan kebijakan dan
program yang akan mempengaruhi kehidupannya, (9) Keswadayaan: Semua pihak
3

diharapkan mendukung keswadayaan politik dan ekonomi masyarakat, dan (10)


Profesionalitas: Semua pihak hendaknya bekerja secara profesional, sepenuh hati,
efektif, sistematik dan tetap mengembangkan semangat kolektivitas. Organisasi
WALHI memperluas gerakan lingkungan hidup melalui tindakan-tindakan konkrit
sebagai berikut: (1) WALHI akan mengorganisir diri sampai pada tingkat kota dan
kampung dengan cara melakukan banyak pertemuan warga dan pertemuan rakyat
secara rutin. Pertemuan-pertemuan ini bersifat praktis untuk menfasilitasi para
aktivis yang ingin mengorganisir dan meradikalisasi gerakan lingkungan di
wilayahnya, tempat kerja dan kampus-kampus serta sekolah-sekolah, (2) WALHI
akan menyelenggarakan pertemuan-pertemuan publik di kota dan kampung untuk
mendidik publik agar peduli pada masalah globalisasi dan lingkungan hidup yang
bersifat struktural. (3) WALHI akan menyelenggarakan sanggar kerja bagi berbagai
kalangan untuk memperkenalkan relasi antara dampak globalisasi dan gerakan
lingkungan hidup, (4) WALHI akan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah dan
pusat-pusat keramaian untuk mengajak orang bergabung dengan gerakan lingkungan
hidup dan bersedia mendukung sesuai kemampuannya, (5) WALHI akan memperkuat
forum-forum rakyat peduli lingkungan di daerah-daerah dan di kota-kota untuk
membangun kekuatan rakyat dan membentuk jaringan dengan gerakan lain agar
mereka gerakan lingkungan hidup semakin disegani, (6) WALHI akan menjadi poros
perlawanan gerakan anti-globalisasi dan gerakan melawan segala bentuk penindasan
pada rakyat dan lingkungan hidup dengan mendirikan kelompok perlawanan di manamana dan beraliansi dengan gerakan buruh, petani, nelayan, perempuan dan
mahasiswa, (7) WALHI akan melakukan aksi-aksi konfrontatif tanpa kekerasan
kepada semua pihak yang jelas-jelas terbukti merusak lingkungan hidup dan
melakukan kekerasan kepada rakyat tertindas, dan (8) WALHI akan menggalang
dana-dana publik dengan memobilisasi seluruh sumberdaya melalui kekuatan tenaga
sukarelawan dan kaum progresif lainnya.
3.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, disingkat


KONTRAS, adalah organisasi yang berdiri pada tanggal 20 Maret 1998. Visi
KONTRAS: Terwujudnya demokrasi yang berbasis pada keutuhan kedaulatan rakyat
melalui landasan dan prinsip rakyat yang bebas dari ketakutan, penindasan, kekerasan
dan berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia atas alasan apapun, termasuk
yang berbasis gender. Misi KONTRAS: (1) Memajukan kesadaran rakyat akan
pentingnya pernghargaan hak asasi manusia, khususnya kepekaan terhadap berbagai
bentuk kekerasan dan pelanggaran berat hak asasi manusia sebagai akibat dari
penyalahgunaan kekuasaan negara, (2) Memperjuangkan keadilan dan
pertanggungjawaban negara atas berbagai bentuk kekerasan dan pelanggaran berat
hak asasi manusia melalui berbagai upaya advokasi menuntut pertanggungjawaban
negara, (3) Mendorong secara konsisten perubahan sistem hukum dan politik, yang
4

berdimensi penguatan dan perlindungan rakyat dari bentuk-bentuk kekerasan dan


pelanggaran hak asasi manusia. Nilai-nilai dasar: Sebagai organisasi, KONTRAS
berusaha memegang prinsip-prinsip antara lain adalah non-partisan dan non-profit,
demokrasi, anti kekerasan dan diskriminasi, keadilan dan kesetaraan gender, dan
keadilan sosial
4.

Konsorsium Pembaruan Agraria, disingkat KPA, didirikan pada tanggal 24


September 1994 di Jakarta, dan disahkan pada tanggal 10 Desember 1995 di
Bandung. KPA merupakan organisasi yang berbentuk Konsirium, berasaskan
Kedaulatan Rakyat yang bersifat terbuka dan independen serta bertujuan untuk
memperjuangkan: (1) Terciptanya sistem agraria yang adil, dan menjamin pemerataan
pengalokasian sumber-sumber agraria bagi seluruh rakyat Indonesia, (2) Jaminan
penguasaan, pemilikan, dan pengelolaan sumber-sumber agraria bagi petani, nelayan,
buruh, dan masyarakat adat, dan (3) Serta jaminan kesejahteraan bagi rakyat miskin.
KPA berfungsi: (1) Sebagai penguat, pemberdaya, pendukung, dan pelaku perjuangan
Pembaruan Agraria berdasarkan inisiatif rakyat, dan (2) Sebagai organisasi yang
mendorong lahirnya berbagai kebijakan dan sistem agraria yang berpihak pada
rakyat, serta melawan berbagai kebijakan yang anti-reforma agraria. Kegiatan KPA
meliputi: (1) Memperjuangkan pemenuhan hak-hak rakyat terutama petani/buruh tani,
nelayan, masyarakat adat, dan rakyat miskin; (2) Advokasi yang berupa upaya
perubahan kesadaran rakyat (publik) melalui penyebaran informasi, pembentukan
opini publik, pembelaan kolektif di satu pihak, dan perubahan kebijakan dan strategi
pembangunan yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak rakyat di lain pihak; (3)
Menyelenggarakan pendidikan alternatif; (4) Pengembangan jaringan informasi,
kajian, dan publikasi yang bersifat internal maupun eksternal; (5) Pengembangan
kerjasama kegiatan, program, dan kelembagaan yang mengabdi pada pemenuhan
tujuan-tujuan gerakan Pembaruan Agraria; dan (6) Secara aktif terlibat dalam
perjuangan penggalangan solidaritas nasional dan front/aliansi perjuangan
internasional untuk Reforma Agraria Sejati

5.

Perkumpulan
Transformasi
untuk
Keadilan
Indonesia disingkat TuK
INDONESIA adalah organisasi yang berdiri pada hari Senin tanggal 10 Mei 2013 di
Jakarta. Organisasi berbentuk Perkumpulan berkedudukan di Jakarta dan wilayah
kerja di seluruh Indonesia termasuk regional dan internasional. Visi TuK
INDONESIA: Terwujudnya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak asasi
manusia dan keadilan sosial oleh negara dan aktor non negara dalam bidang
kebijakan, program dan kegiatan agribisnis dan pengelolaan sumber daya alam.
Misi TuK INDONESIA: Melakukan kerja advokasi dan mendukung gerakan
solidaritas hak asasi manusia dan keadilan sosial bagi kelompok rentan, masyarakat
yang ditinggal dan menggantungkan sumber penghidupannya dari hutan, dan
5

terpinggirkan secara struktural bersama mengakhiri pelanggaran hak asasi manusia


dan terwujudnya keadilan sosial. Kami bekerja mendorong solusi dan pilihan politik
bagi kelompok rentan, masyarakat lokal dan masyarakat adat untuk mengamankan
dan melindungi hak asasi manusia, akses keadilan dan penentuan nasib sendiri. TuK
INDONESIA didirikan dengan Tujuan: 1) Peradaban dengan martabat dan solidaritas
dalam hak asasi manusia dan keadilan sosial; 2) Advokasi kewajiban Negara untuk
menegakkan, menjalankan dan memenuhi hak konstitusi dan hak asasi manusia; 3)
Menantang komitmen investasi dan kegiatan usaha pelaku bisnis pemerintah dan
swasta atas pembangunan bertanggung jawab dan berkelanjutan; 4) Mendorong
norma, perlindungan, dan standar hak asasi manusia yang ramah dan adil secara
sosial, ekonomi, budaya, politik, dan ekologi; 5) Memperkuat sinergi inisiatif dan
jaringan untuk tindakan kolektif dalam hak asasi manusia dan keadilan sosial; 6)
Keberpihakan dan tindakan adilan yangnyata dan segera dipertimbangkan dan
dilaksanakan oleh negara, masyarakat dan sektor swasta dalam kebijakan dan
kegiatan usaha mereka.
6.

II.

ELSAM, WALHI, KontraS, KPA, TuK Indonesia, dan STT mengajukan


Komentar Tertulis ini kepada Pengadilan Negeri Muara Bulian untuk memberikan
pandangan dan dukungan kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Muara Bulian
yang memeriksa perkara pelaku pembunuhan terhadap Indra dengan NO PERKARA:
75/PID. B/2015/PN. MBN dan NO. PERKARA:76/PID. B/2015/ PN. MBN serta
memaparkan pandangan masyarakat sipil atas pembunuhan Indra yang notabene
berlatar belakang konflik agraria dan bagaimana konstitusi mengatur perlindungan
terhadap masyarakat Indonesia;

AMICUS CURIAE
1. Amicus Curiae, merupakan istilah Latin yang mungkin jarang terdengar di
pengadilan Indonesia1. Amicus curiae merupakan konsep hukum yang berasal dari
tradisi hukum Romawi, yang kemudian berkembang dan dipraktikkan dalam tradisi
common law, yang mengizinkan pengadilan untuk mengundang pihak ketiga untuk
menyediakan informasi atau fakta-fakta hukum berkaitan dengan isu-isu yang belum
familiar.
2.

Amicus curiae merupakan konsep hukum yang berasal dari tradisi hukum Romawi,
yang kemudian berkembang dan dipraktikkan dalam tradisi common law. Dalam
tradisi common law, mekanisme amicus curiae untuk pertama kalinya diperkenalkan
pada abad ke-14. Selanjutnya pada abad ke-17 dan 18, partisipasi dalam amicus
Hukumonline, Amicus Curiae Dipakai Membantu Permohonan PK, [12/8/08]

curiae secara luas tercatat dalam All England Report.


3.

Negara-negara penganut tradisi hukum common law, telah sering menggunakan


mekanisme amicus curiae dalam sistem hukumnya. Misalnya Belanda, Amerika, dan
Argentina. Sejarah Amerika Serikat menuliskan, sebelum terjadinya kasus Green v.
Biddle pada awal abad ke-19, cukup lama pengadilan menolak untuk
memperbolehkan partisipasi amicus curiae dalam proses hukum di Pengadilan. Baru
pada awal abad ke-20 amicus curiae mulai memainkan peranan penting dalam
peradilan, yaitu dalam kasus-kasus hak sipil, dan aborsi. Bahkan, menurut sebuah
studi yang dilakukan pada tahun 1998, amicus curiae, telah berpartisipasi dalam lebih
dari 90 persen kasus-kasus yang masuk ke Mahkamah Agung.

4.

Perkembangan terbaru lainnya dari praktik amicus curiae adalah diterapkannya


amicus curiae dalam penyelesaian sengketa internasional, yang digunakan baik oleh
lembaga-lembaga negara maupun organisasi internasional.

5.

Amicus curiae yang dalam bahasa Inggris disebut friend of the court", diartikan
someone who is not a party to the litigation, but who believes that the court's
decision may affect its interest2. Secara bebas, amicus curiae diterjemahkan sebagai
friends of the court atau 'Sahabat Pengadilan', dimana, pihak yang merasa
berkepentingan terhadap suatu perkara memberikan pendapat hukumnya kepada
pengadilan. Miriam Webster Dictionary memberikan definisi amicus curiae sebagai
one (as a professional person or organization) that is not a party to a particular
litigation but that is permitted by the court to advise it in respect to some matter of
law that directly affects the case in question.

6.

Dengan demikian, amicus curiae disampaikan oleh seseorang yang tertarik dalam
mempengaruhi hasil dari aksi, tetapi bukan merupakan pihak yang terlibat dalam
suatu sengketa; seorang penasihat kepada pengadilan pada beberapa masalah hukum
yang bukan merupakan pihak untuk kasus yang biasanya seseorang yang ingin
mempengaruhi hasil perkara yang melibatkan masyarakat luas.

7.

Dalam tradisi common law, mekanisme amicus curiae pertama kalinya diperkenalkan
pada abad ke-14. Selanjutnya pada abad ke-17 dan 18, partisipasi dalam amicus
curiae secara luas tercatat dalam All England Report. Dari laporan ini diketahui
beberapa gambaran berkaitan dengan amicus curiae:
a. fungsi utama amicus curiae adalah untuk mengklarifikasi isu-isu faktual,
menjelaskan isu-isu hukum dan mewakili kelompok-kelompok tertentu;

http://www.techlawjournal.com/glossary/legal/amicus.htm

b. amicus curiae, berkaitan dengan fakta-fakta dan isu-isu hukum, tidak harus dibuat
oleh seorang pengacara (lawyer);
c. amicus curiae, tidak berhubungan penggugat atau tergugat, namun memiliki
kepentingan dalam suatu kasus;
d. izin untuk berpartisipasi sebagai amicus curiae
13. Di Amerika Serikat, sebelum terjadinya kasus Green v. Biddle pada awal abad ke -19,
lama sekali pengadilan menolak untuk memperbolehkan partisipasi amicus curiae
dalam proses peradilan. Namun, sejak awal abad 20, amicus curiae memainkan
peranan penting dalam kasus-kasus yang menonjol (landmark) dalam sejarah hukum
Amerika Serikat, seperti misalnya kasus-kasus hak sipil dan aborsi. Bahkan, dalam
studi yang dilakukan tahun 1998, amicus curiae, telah berpartisipasi dalam lebih dari
90 persen kasus-kasus yang masuk ke Mahkamah Agung.
Sementara untuk Indonesia, amicus curiae belum banyak dikenal dan digunakan, baik
oleh akademisi maupun praktisi. Sampai saat ini, beberapa amicus curiae telah
diajukan di Pengadilan Indonesia:
a. Amicus Curiae yang diajukan kelompok penggiat kemerdekaan pers yang
mengajukan amicus curiae kepada Mahkamah Agung terkait dengan peninjauan
kembali kasus majalah Time versus Soeharto dan amicus curiae dalam kasus
Upi Asmaradana di Pengadilan Negeri Makasar, dimana amicus curiae
diajukan sebagai tambahan informasi buat majelis hakim yang memeriksa
perkara3.
b. Amicus Curiae peninjauan kembali kasus Majalah TIME versus Soeharto;
c. Amicus Curiae peninjauan kembali praperadilan atas Surat Ketetapan Penghentian
Penuntutan (SKPP) Bibit-Chandra;
d. Amicus Curiae yang diajukan ICJR, ELSAM, PBHI, dan IMLDN dalam kasus
Prita Muyasari yang dijerat Pasal 27 ayat (3) UU No. 11 tahun 2008 tentang
Inforasi danTransaksi Elektronik (UU ITE);
e. Amicus Curiae yang diajukan ELSAM, Sawit Watch, dan PILNET dalam kasus
Anwar Sadat (aktivis WALHI Sumsel) di PN Palembang;
14. Walaupun amicus curiae belum dikenal dalam sistem hukum Indonesia, namun
dengan berpegangan pada ketentuan Pasal 28 ayat (1) UU No. 4 Tahun 2004 tentang
Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi Hakim wajib menggali, mengikuti, dan
memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat,
3

Penggiat Kemerdekaan Pers Ajukan amicus curiae Koran Tempo, Jakarta: Selasa, 12 Agustus 2008,
dan Anggota Komisioner Komnas HAM jadi Saksi Upi : Yosep Prasetyo akan bersaksi sebagai Amicus
Curiae atau sahabat Pengadilan, VIVAnews, Selasa, 30 Juni 2009, 07:06 WIB

sebagai dasar hukum pengajuan amicus curiae, maka tidak berlebihan apabila
mekanisme ini dapat digunakan sebagai salah satu strategi yang dapat digunakan
untuk mengklarifikasi prinsip-prinsip hukum dan konstitusi, terutama kasus-kasus
yang melibatkan berbagai UU atau pasal yang kontroversial.

III. RESUME FAKTA PERISTIWA


1. Indra Pelani adalah aktivis Serikat Tani Tebo (STT), meninggal setelah mengalami
berbagai tindak kekerasan. Kondisi saat korban ditemukan ditubuhnya terdapat luka
bekas tusukan di leher, kemaluan lebam dan membekak, kepala belakang lembut
seperti bantal, satu ibu jari kaki terlihat tulangnya dan urat-urat nampak keluar.
Beberapa sayatan terlihat di wajah. Indra ditemukan dalam kondisi telanjang dan
mulut disumpal, kaki dan tangan diikat. Saat kedua tangan korban mau disedekapkan
diatas dada, tangan korban selalu jatuh sehingga harus diikat;
2.

Tewasnya Indra Pelani pada tanggal 27 Februari 2015, merupakan buntut dari konflik
panjang antara warga Dusun Pelayang Tebat Desa Lubuk Mandarsah. Kecamatan ilir,
Kapupaten Tebo, Propinsi Jambi;

3.

Kehadiran PT. Wirakarya Sakti (WKS) di Provinsi Jambi telah menimbulkan banyak
konflik sosial dalam pengeloalaan Sumber Daya Alam. Hal ini menyebabkan
terganggunya wilayah kelola masyarakat dalam menjalani dan meneruskan mata
rantai lahan. Konflik masyarakat Desa Lubuk Madrasah dengan PT Wirakarya Sakti
(WKS) berlangsung sejak 2006, ketika PT Wirakarya Sakti (WKS) membuka jalan
dengan menggusur lahan-lahan masyarakat di wilayah Desa Lubuk Madrasah. Saat
menggusur, perusahaan hanya meminta izin untuk membuka jalan, namun yg terjadi
lebih dari itu. Perusahaan juga menggusur dan mengklaim wilayah kelola masyarakat
lubuk madrasah. Untuk itu masyarakat bejuang untuk memperoleh kembali hak atas
lahan mereka yang dirampas oleh perusahaan;

4.

Pada 2007, masyarakat menghadang traktor perusahaan yang berakhir dengan


pembakaran traktor perusahaan. Peristiwa ini menyebabkan 9 orang masyarakat
dipidana selama 9 bulan penjara. Hingga tahun 2013, masyarakat belum mendapatkan
kepastian terkait dengan penyelesaian konflik lahan dengan perusahaan. Maka
sebagian masyarakat memutuskan untuk mengambil alih kembali lahan seluas 1.500
hektar yang yang telah dikuasai PT. Wirakarya Sakti (WKS) yang berlokasi di daerah
Bukit Rinting2 Dusun Pelayang Tebat, desa lubuk Mandarsah. Masyarakat menanami
dan membangun tempat tinggal dilahan tersebut secara bertahap.

5.

Hasil investigasi Pembunuhan Indra Pelani yang disusun WALHI KontraS KPA
TuK Indonesia, dan ELSAM (25 Mar 2 April 2015) menyatakan bahwakondisi
jenazah Indra saat di rumah sakit, diduga korban mengalami berbagai tindak
kekerasan sebagai berikut; pemukulan dengan benda tumpul di kepala, rusuk kanan
dan kemaluan. Pukulan dan atau benturan benda tumpul di lutut dan bawah lutut.
Sayatan menggunakan senjata tajam di wajah, tusukan dengan senjata tajam di leher.
Diduga terdapat kerusakan persendian antara gelang bahu dengan tulang lengan atas;
10

6.

Dari rekaman cctv dapat diketahui bahwa terdapat lima orang pelaku yang melakukan
tindak kekerasan terhadap korban. Kelimanya merupakan anggota satuan
pengamanan URC PT Wirakarya Sakti. Kelimanya adalah bagian dari 7 orang yang
menyerahkan diri Ke Polda Jambi pada 2 Maret 2015. Ketujuh orang tersebut
mendatangi Polda jambi dengan didampingi pengacara dari perusahaan;

7.

Sementara itu, berdasarkan Visum et Repertum No. 445/012/VER-RSUD/2015,


Februari 2015 yang ditandatangani Dr. Imelda Ginting, sebagai Dokter yang bekerja
di RSUD STS Tebo, menerangkan Indra, 24 tahun, warga Desa Lubuk Mandarsyah,
Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, disimpulkan:
-

8.

Telah diperiksa seorang mayat laki-laki berumur24 tahun.


Sebelum meninggal korban dianiaya dengan benda tumpul dan benda tajam.
Ditemukan lebam mayat.

Kini 5 orang pelaku yang merupakan anggota satuan pengamanan URC PT.
WIrakarya Sakti sedang menjalani proses pemeriksaan di Pengadilan Negeri Muar
Bulian dengan dakwaan: Primair Pasal 340 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana;
Subsidair Pasal 338 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana; dan Lebih Subsidair Pasal
170 ayat (1) dan ayat (2) ke-3 KUHPidana. Setelah melalui proses persidangan, Jaksa
Penuntut Umum menuntut para Terdakwa telah terbukti bersalah secara sah dan
meyakinkan melakukan tindak pidana pembunuhan berencana, sebagaimana diatur
dan diancam pidana dalam Pasal 340 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana
sebagaimana dakwaan Primair. Jaksa Penuntut Umum meminta Majelis Hakim untuk
menjatuhkan pidana terhadap para pelaku dengan pidana penjara masing-masing
selama 18 (delapan belas) tahun penjara.
Pasal 340 KUHPidana selengkapnya berbunyi sebagai berikut: Barang siapa
dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain,
diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana
penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.

11

IV. HAK UNTUK HIDUP ADALAH HAK ASASI MANUSIA


1. Hak untuk hidup merupakan hak yang melekat pada tiap manusia. Hak ini merupakan
hak yang dilindungi Negara, dan tidak dapat dirampas secara sewenang-wenang.
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) 1948, dalam Pasal 3 telah
menyatakan bahwa: Setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan dan keamanan
pribadi;
2.

Dalam konstitusi UUD 1945, hak untuk hidup telah dijamin sebagai hak asasi
manusia yang tidak bisa dikurangi dalam keadaan apapun. Selengkapnya Pasal 28A
berbunyi Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan
kehidupannya. Selanjutnya, ditegaskan dalam Pasal 28I ayat (1) yang berbunyi:
Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani,
hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi
dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut
adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun;

3.

Jaminan atas hak untuk hidup kemudian diikuti dengan lahirnya Resolusi Majelis
Umum 2200 A pada tahun 1966 dari PBB dengan mengesahkan Kovenan
Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (Kovenan Hak Sipol), dan melalui
UU No. 12 tahun 2005 Indonesia meratifikasinya;
Dalam Pasal 6 ayat (1) Kovenan Hak Sipol ditegaskan bahwa Setiap manusia berhak
atas hak untuk hidup yang melekat pada dirinya. Hak ini wajib dilindungi oleh
hukum. Tidak seorang pun dapat dirampas hak hidupnya secara sewenang-wenang.
Pada Pasal 7 juga dijelaskan bahwa Tidak seorang pun yang dapat dikenakan
penyiksaan atau perlakuan atau hukuman lain yang keji, tidak manusiawi atau
merendahkan martabat. Pada khususnya, tidak seorang pun dapat dijadikan obyek
eksperimen medis atau ilmiah tanpa persetujuan yang diberikan secara bebas.

4.

Selain ratifikasi dari Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik, dalam koridor
hukum nasional sendiri, melalui UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
(UU HAM) juga telah memberikan jaminan dan pengakuan bahwasanya hak untuk
hidup merupakan hak asasi manusia. Pasal 4 UU HAM telah menegaskan
bahwasanya hak untuk hidup adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi
dalam keadaan apapun dan oleh siapapun.

5.

Oleh karenanya, pengakuan dan kedudukan hak untuk hidup selain sebagai hak warga
negara sekaligus juga sebagai hak asasi manusia. Artinya, hak tersebut tidak boleh
dicabut oleh siapapun dan kapan pun;
12

6.

Bahwa selanjutnya dalam UU HAM, Pasal 1 angka 6 mendefinisikan Pelanggaran


hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk
aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara
melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi
manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini, dan
tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum
yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.

7.

Oleh karenanya, pembunuhan yang dilakukan oleh para pelaku atau kini terdakwa di
Pengadilan Negeri Muara Bulian merupakan suatu perbuatan yang melanggar Hak
Asasi Manusia. Dan oleh karenanya sudah sepatutnya mendapatkan perhatian penuh
dari aparat hukum yang memeriksa dan menuntutnya di persidangan demi mencari
kebenaran materil dan menghukum pelakunya;

13

V.

CATATAN ATAS PERSIDANGAN DAN INVESTIGASI MASYARAKAT SIPIL


1. Proses sidang terhadap 6 (enam) tersangka pelaku pembunuhan Indra Pelani akan
memasuki sidang putusan . Sidang selanjutnya akan dilanjutkan dengan agenda
pembacaan putusan yang akan dilaksanakan pada Selasa, 29 September 2015 di
Pengadilan Negeri Muara Bulian, Jambi. Sidang ini terkait pembunuhan Indra Pelani
(Petani dan anggota Serikat Tani Tebo, Jambi) yang terjadi pada tanggal 27 Februari
2015;
2. Indra Pelani menjadi korban pengeroyokan, pemukulan, dan pembunuhan sadis oleh
Tim Unit Reaksi Cepat (URC) PT. Wirakarya Sakti (WKS)-APP Group yang
menggunakan jasa pengamanan dari PT. Manggala Cipta Persada (MCP). Hal ini
tidak terlepas dari konflik agraria yang terjadi antara masyarakat Desa Lubuk
Mandarsah Kec. Tengah Ilir Kab. Tebo dengan PT. WKS (Wirakarya Sakti) sejak
tahun 2006. PT. WKS meminta izin untuk membangun jalan bagi keperluan
perusahaan di wilayah Desa Lubuk Mandarsah. Namun, perusahaan ternyata
menggusur lahan-lahan pertanian masyarakat;
3. Sampai diproses sidang ketujuh, pemeriksaan saksi, alat bukti, dan keterangan
tersangka telah dilakukan. Saksi yang diperiksa belum ada dari pihak manajemen PT.
WKS. Proses sidang juga belum menggali lebih dalam terkait fakta peristiwa sebelum
terjadinya pembunuhan. Padahal, seharusnya bisa terungkap fakta keterlibatan pihak
perusahaan PT. WKS dengan menggunakan jasa pengamanan URC dari PT.
Manggala Cipta Persada (MCP). Pembunuhan Indra Pelani juga mesti dilihat sebagai
rentetan dari konflik dan buruknya pengelolaan perkebunan PT. WKS yang menjadi
penyuplai bahan baku industri kertas PT. Asia Pulp and Paper (APP);
4. Keenam pelaku yang berhasil diproses hukum kini dibagi menjadi 3 berkas perkara,
yakni:
Perkara Nomor: 75/Pid. B/2015/PN. MBN
Terdakwa: 1. Asmadi bin Ependy
2. Diepsa Popi Sangka bin Darji
3. Ayatullah Comaini als Ayat bin Untung

Perkara Nomor: 76/Pid. B/2015/PN. MBN


Terdakwa: 1. M. Ridho
2. Ziadian

14

Perkara Nomor: 86/Pid. B/2015/PN. MBN


Terdakwa: Panji Kris Haryanto
5. Hasil investigasi Pembunuhan Indra Pelani yang disusun WALHI KontraS KPA
TuK Indonesia, dan ELSAM (25 Mar 2 April 2015) menyatakan bahwa kondisi
jenazah Indra saat di rumah sakit, diduga korban mengalami berbagai tindak
kekerasan sebagai berikut; pemukulan dengan benda tumpul di kepala, rusuk kanan
dan kemaluan. Pukulan dan atau benturan benda tumpul di lutut dan bawah lutut.
Sayatan menggunakan senjata tajam di wajah, tusukan dengan senjata tajam di leher.
Diduga terdapat kerusakan persendian antara gelang bahu dengan tulang lengan atas;
6. Bahwa dalam kematian sdr Indra Pelani pada tanggal 27 Februari 2015, Komnas
HAM sebagaimana suratnya bernomor 2.247/K/PMT/VI/2015, tertanggal 5 Juni
2015, perihal: Tindak Lanjut Penyidikan Pembunuhan Terhadap Sdr. Inda Pelani di
Wilayah Kerja PT. Wirakarya Sakti, menerangkan bahwa dalam kematian Sdr. Indra
Pelani, terdapat bukti permulaan yang cukup untuk menduga sekurang-kurangnya
terjadi 3 pelanggaran hak asasi manusia, yakni hak untuk hidup; hak untuk tidak
mendapat perlakuan yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat; dan
hak untuk tidak ditangkap dan dibuang secara sewenang-wenang;
7. Sementara itu, berdasarkan Visum et Repertum No. 445/012/VER-RSUD/2015,
Februari 2015 yang ditandatangani Dr. Imelda Ginting, sebagai Dokter yang bekerja
di RSUD STS Tebo, menerangkan Indra, 24 tahun, warga Desa Lubuk Mandarsyah,
Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, disimpulkan:
- Telah diperiksa seorang mayat laki-laki berumur24 tahun.
- Sebelum meninggal korban dianiaya dengan benda tumpul dan benda tajam.
- Ditemukan lebam mayat.
(lihat surat tuntutan Jaksa Penuntut Umum dalam perkara Terdakwa Asmadi dkk)
8. Kini 5 orang pelaku yang merupakan anggota satuan pengamanan URC PT.
WIrakarya Sakti sedang menjalani proses pemeriksaan di Pengadilan Negeri Muara
Bulian dengan dakwaan: Primair Pasal 340 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana;
Subsidair Pasal 338 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana; dan Lebih Subsidair Pasal
170 ayat (1) dan ayat (2) ke-3 KUHPidana.
9. Setelah melalui proses persidangan, Jaksa Penuntut Umum menuntut para Terdakwa
telah terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana
pembunuhan berencana, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340
jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana sebagaimana dakwaan Primair. Jaksa Penuntut
Umum meminta Majelis Hakim untuk menjatuhkan pidana terhadap para pelaku
dengan pidana penjara masing-masing selama 18 (delapan belas) tahun penjara untuk
15

para Terdakwa dalam perkara nomor: 75/Pid. B/2015/PN. MBN dan masing-masing
15 (lima belas) tahun dalam perkara nomor: 76/Pid. B/PN. MBN
Pasal 340 KUHPidana selengkapnya berbunyi sebagai berikut: Barang siapa dengan
sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam
karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara
seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.
10. Pembunuhan berencana (Moord) merupakan pembunuhan dengan rencana terlebih
dahulu atau disingkat pembunuhan berencana adalah pembunuhan yang paling berat
ancaman pidananya dari seluruh bentuk kejahatan terhadap nyawa manusia. Rumusan
dari bunyi Pasal di atas, terdiri dari unsur-unsur:
1. Unsur Objektif:
1) Perbuatan menghilangkan nyawa
2) Objeknya yaitu nyawa orang lain
2. Unsur Subjektif:
1) Dengan sengaja
2) Dan dengan rencana terlebih dahulu (voorbedachte rade)
11. Bahwa pembunuhan berencana terdiri dari pembunuhan dalam arti Pasal 338 KUHP
ditambah dengan adanya unsur rencana terlebih dahulu. Pasal 340 KUHP dirumuskan
dengan cara mengulang kembali seluruh unsur dalam Pasal 338, kemudian ditambah
dengan suatu unsur lagi yakni dengan rencana terlebih dahulu. Oleh karena dalam
Pasal 340 KUHPidana mengulang lagi seluruh unsur-unsur Pasal 338 KUHPidana,
maka pembunuhan berencana dapat dianggap sebagai pembunuhan yang berdiri
sendiri.
Unsur dengan rencana terlebih dahulu, terdapat 3 unsur:
1. Memutuskan kehendak dalam suasana tenang
2. Ada tersedia waktu yang cukup sejak timbulnya kehendak sampai dengan
pelaksanaan kehendak.
3. Pelaksanaan kehendak (perbuatan) dalam suasana tenang.
12. Bahwa selain terbukti dari fakta persidangan yang ada dalam surat tuntutan Jaksa
Penuntut Umum, yang menyebutkan bahan unsur direncanakan terlebih dahulu
terbukti dari fakta:
Pada saat di samping pos security korban Indra wajahnya ditutupi oleh para
terdakwa menggunakan baju kaos dan tangannya diikat ke belakang. Dan pada saat
akan dibawa menaiki mobil korban Indra wajahnya masih tertutup dengan baju kaos
dan tangan terikat
16

Unsur adanya perencanaan dan bahkan dilindungi oleh actor-aktor lain di lokasi awal
pemukulan Indra juga sebenarnya terlihat dalam hasil invenstigasi yang dilakukan
masyarakat sipil:
Pukul 17.00,WIB, setiba di pos kembar, diketahui bahwa korban Indra tidak berada
ditempat. Masyarakat menanyakan kepada security (Bpk. Zulkifli) yang ada dipos
kembar/803 dengan pertanyaan Apakah benar Indra (korban) dikeroyok dan
dimana keberadaannya sekarang?,
Security tersebut menjawab tidak tau, silahkan saja bertanya kepada Anggota
security URC yang saat itu ada disamping Pos Security. Lalu masyarakat
menanyakan keberadaan Indra kepada anggota URC WKS. Pertanyaan masyarakat
dimana posisi korban Indra ?, tim security URC menjawab tidak tau, disini juga
tidak terjadi apa-apa. Masyarakat bertanya kembali kepada security organik
(Zulkifli) yang berada dipos dan Zulkifli menjawab bahwa korban Indra sudah
dibawa ke districk 8. Indra pelani dibawa ke distrik 8 dengan menggunakan mobil
Patroli URC WKS (merek Ford Ranger) yang dikemudikan oleh sopir Panji
Hariyanto.
Karena kesal dengan kebohongan URC WKS soal keberadaan Indra Pelani,
masyarakat lalu menyuruh pergi security URC WKS dari pos. Di lokasi pos
masyarakat menemukan senjata tajam seperti parang dan pisau. Masyarakat juga
mengamakan CCTV yang dipasang di Pos tersebut. Karena tidak membuahkan hasil
menemukan Indra Pelani, masyarakat akhirnya kembali ke lahan masaing-masing di
Bukit rinting, Dusun Pelayang Tebat, Desa Mandarsah.
13. Bahwa dengan memperhatikan keterkaitan rencana membunuh yang dilakukan para
terdakwa dengan menutup mata korban Indra Pelani, mengikat kaki dan tangannya,
serta adanya permufakatan untuk menutupi ke mana Indra Pelani dibawa oleh Tim
URC, merupakan bukti bahwa pembunuhan terhadap Indra Pelani memang
direncanakan dengan sempurna. Perencanaan ini sebenarnya tidak hanya dilakukan
oleh para pelaku atau Terdakwa namun juga aktor atau perugas lain yang berusaha
menutupi dengan adanya usaha menutupi ke mana Indra Pelani dibawa, yakni
anggota URC yang ada di pos security saat warga menanyakan di mana Indra Pelani
dibawa;
14. Hal-hal tersebut merupakan bukti bahwasanya pembunuhan terhadap Indra Pelani
memang dilakukan dengan berencana. Oleh karena tewasnya Indra Pelani adalah
tindakan yang melanggar Hak Asasi Manusia, dan dilakukan dengan berencana, maka
sudah sepatutnya para pelaku dihukum dengan ancaman hukuman maksimal.
17

VI.

REKOMENDASI
1. Bahwa hak untuk hidup dan bebas dari tindakan kejam merupakan hak asasi manusia
yang berkait dengan martabat individu. Karena hak tersebut adalah hak yang melekat
pada diri masing-masing manusia. Hak untuk hidup juga merupakan hak asasi
manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Pelanggaran terhadap hak
ini merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia;
2. Negara Indonesia telah menjamin hak untuk hidup dan bebas dari perlakuan kejam
dalam Konstitusi, yaitu Pasal 28A UUD 1945 dan juga dalam beberapa peraturan
perundang-undangan lainnya, diantaranya UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak
Asasi Manusia, Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik yang telah diratifikasi
oleh Indonesia dengan UU Nomor 12 Tahun 2005. Sudah tentu, hak untuk hidup
merupakan hak dasar dalam system hukum nasional, karena sudah dilindungi oleh
Konstitusi dan sejumlah peraturan hukum lainnya. Maka pelanggaran terhadap hakhak tersebut bukan saja melanggar hukum, tetapi juga melanggar hak-hak
konstitusional warga negara;
3. Bahwa pembunuhan terhadap Indra Pelani yang dilakukan para anggota URC yang
bekerja di PT. Wira Karya Saksi merupakan pelanggaran terhadap Hak Asasi
Manusia. Tindak pidana ini merupakan bentuk pembunuhan berencana yang tidak
hanya dilakukan oleh para pelaku langsung, namun juga terdapat keterlibatan actor
lain yang berusaha menutupi tindak pidana tersebut pada saat kejadian sebelum
tewasnya Indra;
4. Majelis Hakim pemeriksa perkara ini harus bisa melihat secara utuh keterkaitan
pembunuhan Indra Pelani dengan adanya konflik antara PT. WKS dengan masyarakat
Desa Lubuk Mandarsyah. Pandangan utuh ini akan mengantar Majelis Hakim pada
keyakinannya bahwasanya para pelaku pantas mendapat hukuman maksimal dari
ancaman hukuman, yakni pidana penjara selama 20 (dua puluh) tahun;

18

Informasi Lanjutan
Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi:
Andi Muttaqien, SH.
Divisi Advokasi Hukum
Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM)
Jl. Siaga II No 31, Pejaten Barat - Jakarta 12510,
Telp: (021) 7972662 atau (021) 79192564, Fax: (021) 79192519
Email : andi@elsam.or.id

19