Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa ,


gangguan jiwa adalah suatu kelompok gejala atau perilaku yang bermakna
dan dapat ditemukan secara klinis dan yang disertai dengan penderitaan
(distress) pada kebanyakan kasus dan yang berkaitan dengan terganggunya
fungsi seseorang.1 Pada dasarnya gangguan jiwa bukanlah sesuatu yang
berdiri sendiri, karena kita mengetahui manifestasi gangguan jiwa berupa
perilaku, pikiran, dan perasaan, erat sekali kaitannya dengan kondisi
tubuh/jasmani.Gangguan jiwa yaitu suatu sindrom atau pola perilaku yang
secara klinis bermakna yang berhubungan dengan distres atau penderitaan
dan menimbulkan gangguan pada satu atau lebih fungsi kehidupan manusia. 1
Gangguan jiwa masih menjadi masalah serius kesehatan mental di
Indonesia yang perlu mendapat perhatian lebih dari pemangku kebijakan
kesehatan nasional. Meskipun masih belum menjadi program prioritas utama
kebijakan kesehatan nasional, namun dari angka yang didapatkan dari
beberapa riset nasional menunjukkan bahwa penderita gangguan jiwa di
Indonesia masih banyak dan cenderung mengalami peningkatan.7
Berdasarkan data dari World Health Organisasi (WHO) ada sekitar
450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan jiwa. WHO menyatakan
setidaknya ada satu dari empat orang didunia mengalami masalah mental, dan
masalah gangguan kesehatan jiwa yang ada di seluruh dunia sudah menjadi
masalah yang sangat serius.2 Prevalensi gangguan jiwa berat pada penduduk
Indonesia 1,7 per mil. Gangguan jiwa berat terbanyak di DI Yogyakarta,
Aceh, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Tengah. Proporsi RT yang pernah
memasung ART gangguan jiwa berat 14,3 persen dan terbanyak pada
penduduk yang tinggal di perdesaan (18,2%), serta pada kelompok penduduk
dengan kuintil indeks kepemilikan terbawah (19,5%). Prevalensi gangguan
2

mental emosional pada penduduk Indonesia 6,0 persen. Provinsi dengan


prevalensi ganguan mental emosional tertinggi adalah Sulawesi Tengah,
Sulawesi Selatan, Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Timur. 3
Data dari 33 Rumah Sakit Jiwa ( RSJ ) yang ada di seluruh Indonesia
menyebutkan hingga kini jumlah penderita gangguan jiwa berat mencapai 2,5
juta orang. Penderita gangguan jiwa berat dengan usia di atas 15 tahun di
Indonensia mencapai 0,46%. Hal ini berarti terdapat lebih dari 1 juta jiwa
diIndonesia yang menderita gangguan jiwa berat. Berdasarkan data tersebut
diketahui bahwa 11,6% penduduk Indonesia mengalami masalah gangguan
mental emosional .Prevalensi gangguan jiwa berat atau dalam istilah medis
disebut psikosis/skizofrenia di daerah pedesaan ternyata lebih tinggi
dibanding daerah perkotaan. Di daerah pedesaan, proporsi rumah tangga
dengan minimal salah satu anggota rumah tangga mengalami gangguan jiwa
berat dan pernah dipasung mencapai 18,2 persen. Sementara di daerah
perkotaan, proporsinya hanya mencapai 10,7 persen. Nampaknya, hal ini
memberikan konfirmasi bahwa tekanan hidup yang dialami penduduk
pedesaan lebih berat dibanding penduduk perkotaan. Dan mudah diduga,
salah satu bentuk tekanan hidup itu, meski tidak selalu adalah kesulitan
ekonomi.3
Penyebab gangguan jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber
dari berhubungan dengan orang lain yang tidak memuaskan seperti
diperlakukan tidak adil, diperlakukan semena-mena, cinta tidak terbatas,
kehilangan seseorang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain.
Selain itu ada juga gangguan jiwa yang disebabkan faktor organik, kelainan
saraf dan gangguan pada otak.6
3

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian gangguan jiwa


Gangguan jiwa atau mental illness adalah kesulitan yang harus dihadapi
oleh seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena
persepsinya tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-
sendiri.6
Gangguan jiwa adalah gangguan dalam cara berpikir (cognitive), kemauan
(volition),emosi (affective), tindakan (psychomotor).5 Gangguan jiwa adalah
suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada
fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan
dalam melaksanakan peran sosial. 7
Mental illness adalah respon maladaptive terhadap stressor dari
lingkungan dalam/luar ditunjukkan dengan pikiran, perasaan, dan tingkah
laku yang tidak sesuai dengan norma lokal dan kultural dan mengganggu
fungsi sosial, kerja, dan fisik individu.6
Konsep gangguan jiwa dari PPDGJ III yang merujuk ke DSM-III adalah
sindrom atau pola perilaku, atau psikologi seseorang, yang secara klinik
cukup bermakna, dan yang secara khas berkaitan dengan suatu gejala
penderitaan (distress) atau hendaya (impairment/disability) di dalam satu atau
lebih fungsi yang penting dari manusia.1
Gangguan mental adalah gejala atau pola dari tingkah laku psikologi yang
tampak secara klinis yang terjadi pada seseorang dari berhubungan dengan
keadaan distress (gejala yang menyakitkan) atau ketidakmampuan (gangguan
pada satu area atau lebih dari fungsi-fungsi penting) yang meningkatkan
risiko terhadap kematian, nyeri, ketidak mampuan atau kehilangan kebebasan
yang penting dan tidak jarang respon tersebut dapat diterima pada kondisi
tertentu.6
Penderita gangguan jiwa dan gangguan mental emosional adalah umum
terjadi, namun 1/3 dari mereka yang membutuhkan penanganan memandang
4

sebagai ketakutan terhadap stigma dan diskriminasi yang akan didapat. Orang
menolak gejala-gejala kesakitan dan menghindari mencari pertolongan awal,
yang lebih mudah ditangani pada tahap awal gejala gangguan jiwa.6

2.2 Faktor-faktor penyebab timbulnya gangguan jiwa


Penyebab gangguan jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber dari
berhubungan dengan orang lain yang tidak memuaskan seperti diperlakukan
tidak adil, diperlakukan semena-mena, cinta tidak terbatas, kehilangan
seseorang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain. Selain itu ada
juga gangguan jiwa yang disebabkan faktor organik, kelainan saraf dan
gangguan pada otak.6 Para ahli psikologi berbeda pendapat tentang sebab-
sebab terjadinya gangguan jiwa. Menurut pendapat Sigmund Freud
Gangguan jiwa terjadi karena tidak dapat dimainkan tuntutan id (dorongan
instinctive yang sifatnya seksual) dengan tuntutan super ego (tuntutan normal
social). Orang ingin berbuat sesuatu yang dapat memberikan kepuasan diri,
tetapi perbuatan tersebut akan mendapat celaan masyarakat.4 Konflik yang
tidak terselesaikan antara keinginan diri dan tuntutan masyarakat ini akhirnya
akan mengantarkan orang ke gangguan jiwa. Manusia bereaksi secara
keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga, secara somato-psiko-
sosial. Gangguan jiwa dan mental artinya bahwa yang menonjol ialah gejala-
gejala yang patologik dari unsur psikis. Hal ini tidak berarti bahwa unsur
yang lain tidak terganggu. Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku
manusia ialah keturunan, usia dan jenis kelamin, keadaan fisik, keadaan
psikologik, keluarga, adat-istiadat, kebudayaan dan kepercayaan,
pekerjaan,pernikahan dan kehamilan, kehilangan dan kematian orang yang
dicintai, agresi,rasa,permusuhan, hubungan antar manusia dan sebagainya . 4
Orang ingin berbuat sesuatu yang dapat memberikan kepuasan diri, tetapi
perbuatan tersebut akan mendapat celaan masyarakat. Konflik yang tidak
terselesaikan antara keinginan diri dan tuntutan masyarakat ini akhirnya akan
mengantarkan orang pada gangguan jiwa. Terjadinya gangguan jiwa
dikarenakan orang tidak memuaskan macam-macam kebutuhan jiwa mereka.
5

Beberapa contoh dari kebutuhan tersebut diantaranya adalah pertama


kebutuhan untuk afiliasi, yaitu kebutuhan akan kasih sayang dan diterima
oleh orang lain dalam kelompok. Kedua, kebutuhan untuk otonomi, yaitu
ingin bebas dari pengaruh orang lain. Ketiga, kebutuhan untuk berprestasi,
yang muncul dalam keinginan untuk sukses mengerjakan sesuatu dan lain-
lain.10
Pendapat Alfred Adler yang mengungkapkan bahwa terjadinya gangguan
jiwa disebabkan oleh tekanan dari perasaan rendah diri (infioryty complex)
yang berlebih-lebihan. Sebab-sebab timbulnya rendah diri adalah kegagalan
di dalam mencapai superioritas di dalam hidup. Kegagalan yang terus-
menerus ini akan menyebabkan kecemasan dan ketegangan emosi.6
Dari berbagai pendapat mengenai penyebab terjadinya gangguan jiwa
seperti yang dikemukakan diatas disimpulkan bahwa gangguan jiwa
disebabkan oleh karena ketidak mampuan manusia untuk mengatasi konflik
dalam diri, tidak terpenuhinya kebutuhan hidup, perasaan kurang
diperhatikan (kurang dicintai) dan perasaan rendah diri.4 Menurut Sigmund
Freud adanya gangguan tugas perkembangan pada masa anak terutama dalam
hal berhubungan dengan orang lain sering menyebabkan frustasi, konflik, dan
perasaan takut, respon orang tua yang mal adaptif pada anak akan
meningkatkan stress, sedangkan frustasi dan rasa tidak percaya yang
berlangsung terus menerus dapat menyebabkan regresi dan withdral. 8

2.2.1 Faktor Penyebab Gangguan Jiwa dilihat dari segi Individual: 9


1. Pengalaman traumatis sebelumnya
Sebuah survey yang dilakukan oleh Whitfield, Dubeb, Felitti, and
Anda (2005) di San Diego, Amerika Serikat selama 4 tahun terhadap
50,000 pasien psychosis menemukan sebanyak 64% dari responden
pernah mengalami trauma waktu mereka kecil (sexual abuse, physical
abuse, emotional abuse, and substance abuse). Penelitian lain yang
dilakukan oleh Hardy et al di UK terhadap 75 pasien psychosis
menemukan bahwa ada hubungan antara kejadian halusinasi dengan
6

pengalaman trauma. 30,6% mereka yang mengalami halusinasi pernah


mengalami trauma waktu masa kecil mereka.

2. Faktor Genetik
Hingga saat ini belum ditemukan adanya gen tertentu yang
menyebabkan terjadinya gangguan jiwa. Akan tetapi telah ditemukan
adanya variasi dari multiple gen yang telah berkontribusi pada
terganggunya fungsi otak. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh
National Institute of Health di Amerika serikat telah menemukan
adanya variasi genetik pada 33000 pasien dgn diagnosa skizofrenia,
Autis, ADHD, bipolar disorder dan mayor deppressive disorder.
Disamping itu juga telah ditemukan bahwa dari orang tua dan anak
dapat menurunkan sebesar 10%. Dari keponakan atau cucu sebesar 2
4 % dan saudara kembar identik sebesar 48 %.

3. Gangguan struktur dan fungsi otak .


Hipoaktifitas lobus frontal telah menyebabkan afek menjadi
tumpul, isolasi sosial dan apati. Sedangkan gangguan pada lobus
temporal telah ditemukan terkait dengan munculnya waham, halusinasi
dan ketidak mampuan mengenal objek atau wajah. Gangguan
prefrontal pada pasien skizofrenia berhubungan dengan terjadinya
gejala negatif seperti apati, afek tumpul serta miskin nya ide dan
pembicaraan. Sedangkan pada bipolar disorder, gangguan profrontal
telah menyebabkan munculnya episode depresi, perasaan tidak
bertenaga dan sedih serta menurunnya kemampuan kognitif dan
konsentrasi. Dsifungsi sistim limbik berkaitan erat dengan terjadinya
waham , halusinasi, serta gangguan emosi dan perilaku. Penelitian
terbaru menemukan penyebab AH adanya perubahan struktur dalam
sirkuit syaraf yaitu adanya kerusakan dalam auditory spatial
perception.
7

4. Neurotransmitter
Neurotransmiter adalah senyawa organik endogenus membawa sinyal
di antara neuron. Neurotransmitter terdiri dari:
a. Dopamin berfungsi membantu otak mengatasi depresi,
meningkatkan ingatan dan meningkatkan kewaspadaan mental.
b. Serotonin pengaturan tidur, persepsi nyeri, mengatur status mood
dan temperatur tubuh serta berperan dalam perilaku aggresi atau
marah dan libido
c. Norepinefrin berfungsi Utama adalah mengatur fungsi kesiagaan,
pusat perhatian dan orientasi; mengatur fight-flightdan proses
pembelajaran dan memory
d. Asetilkolin mempengaruhi kesiagaan, kewaspadaan, dan
pemusatan perhatian
e. Glutamat pengaturan kemampuan memori dan memelihara fungsi
automatic.

2.2.2 Faktor Penyebab Gangguan Jiwa dari Segi Psikoedukasi 9


Faktor ini juga tidak kalah pentingnya dalam kontribusinya terhadap
terjadinya gangguan jiwa. Sebuah penelitian di Jawa menemukan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara tipe pola asuh keluarga dengan
kejadian Skizofrenia. Sekitar 69 % dari responden (penderita skizofrenia)
diasuh dengan pola otoriter, dan sekitar 16,7 % diasuh dengan pola
permissive. Penelitian lain yang dilakukan tentang determinan faktor
timbulnya skizofrenia menemukan bahwa pola asuh keluarga patogenik
mempunyai risiko 4,5 kali untuk mengalami gangguan jiwa skizofrenia
dibandingkan dengan pola asuh keluarga tidak patogenik. Adapun yang
mereka maksud dengan pola suh patogenik tersebut antara lain :
a. Melindungi anak secara berlebihan karena memanjakannya
b. Melindungi anak secara berlebihan karena sikap berkuasa dan
harus tunduk saja
8

c. Sikap penolakan terhadap kehadiran si anak (rejected child)


d. Menentukan norma-norma etika dan moral yang terlalu tinggi
e. Penanaman disiplin yang terlalu keras
f. Penetapan aturan yang tidak teratur atau yang bertentangan
g. Adanya perselisihan dan pertengkaran antara kedua orang tua
h. Perceraian
i. Persaingan dengan sibling yang tidak sehat
j. Nilai-nilai yang buruk (yang tidak bermoral)
k. Perfeksionisme dan ambisi (cita-cita yang terlalu tinggi bagi si anak)
l. Ayah dan atau ibu mengalami gangguan jiwa (psikotik atau non-
psikotik)
Berkaitan dengan penelantaran anak, sebuah penelitian yang telah dilakukan
oleh Schafer et al pada 30 pasien wanita dengan skizofrenia, menemukan adanya
korelasi yang bermakna antara anak-anak yang ditelantarkan baik secara fisik
maupun mental dengan gangguan jiwa. Pada analisis multivariabel, Schafer
menemukan bahwa mereka yang mempunyai status ekonomi rendah berisiko 7,4
kali untuk menderita ganguan jiwa skizofrenia dibanding dengan mereka yang
mempunyai status ekonomi tinggi . Artinya mereka dari kelompok ekonomi
rendah kemungkinan mempunyai risiko 7,4 kali lebih besar mengalami kejadian
skizofrenia dibandingkan mereka yang dari kelompok ekonomi tinggi.

2.2.3 Faktor Penyebab Gangguan Jiwa Segi koping9


Ketika individu mengalami masalah, secara umum ada dua strategi
koping yang biasanya digunakan oleh individu tersebut, yaitu:
a. Problem-solving focused coping, dimana individu secara aktif mencari
penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi
yang menimbulkan stress.
b. Emotion-focused coping, dimana individu melibatkan usaha-usaha
untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan
dampak yang akan timbul akibat suatu kondisi atau situasi yang penuh
tekanan.
9

Individu yang menggunakan problemsolving focused coping cenderung


berorientasi pada pemecahan masalah yang dialaminya sehingga bisa terhindar
dari stres yang berkepanjangan sebaliknya individu yang senantiasa
menggunakan emotion-focused coping cenderung berfokus pada ego mereka
sehingga masalah yang dihadapi tidak pernah ada pemecahannya yang
membuat mereka mengalami stres yang berkepanjangan bahkan akhirnya bisa
jatuh kekeadaan gangguan jiwa berat. Stressor psikososial faktor stressor
psikososial juga turut berkontribusi terhadap terjadinya gangguan jiwa.
Seberapa berat stressor yang dialami seseorang sangat mempengaruhi respon
dan koping mereka. Seseorang mengalami stressor yang berat seperti
kehilangan suami tentunya berbeda dengan seseorang yang hanya mengalami
strssor ringan seperti terkena macet dijalan. Banyaknya stressor dan seringnya
mengalami sebuah stressor juga mempengaruhi respon dan koping. Seseorang
yang mengalami banyak masalah tentu berbeda dengan seseorang yang tidak
punya banyak masalah.

2.2.4 Faktor Pemahaman dan keyakinan agama9


Pemahaman dan keyakinan agama ternyata juga berkontribusi terhadap
kejadian gangguan jiwa. Beberapa penelitian telah membuktikan adanya
hubungan ini. Pada pasien yangmengalami halusinasi pendengaran,
halusinasinya tidak muncul kalau kondisi keimanan mereka kuat.

2.2.5 Faktor Jasmani / Biologik


Disamping hal tersebut di atas banyak faktor yang mendukung
timbulnya gangguan jiwa yang merupakan perpaduan dari beberapa aspek
yang saling mendukung yang meliputi Biologis, psikologis, sosial,
lingkungan.: 8,9,4
a. Keturunan Peran yang pasti sebagai penyebab belum jelas, mungkin
terbatas dalam mengakibatkan kepekaan untuk mengalami. gangguan
jiwa tapi hal tersebut sangat ditunjang dengan faktor lingkungan
kejiwaan yang tidak sehat.
10

b. Jasmaniah Beberapa penyelidik berpendapat bentuk tubuh seorang


berhubungan dengan gangguan jiwa tertentu, Misalnya yang bertubuh
gemuk / endoform cenderung menderita psikosa manik depresif, sedang
yang kurus/ ektoform cenderung menjadi skizofrenia.
c. Temperamen Orang yang terlalu peka/ sensitif biasanya mempunyai
masalah kejiwaan dan ketegangan yang memiliki kecenderungan
mengalami gangguan jiwa.
d. Penyakit dan cedera tubuh. Penyakit-penyakit tertentu misalnya
penyakit jantung, kanker dan sebagainya, mungkin menyebabkan
merasa murung dan sedih. Demikian pula cedera/cacat tubuh tertentu
dapat menyebabkan rasa rendah diri.

2.2.6 Faktor Psikologi4


Bermacam pengalaman frustasi, kegagalan dan keberhasilan yang
dialami akan mewarnai sikap, kebiasaan dan sifatnya. Pemberian kasih
sayang orang tua yangdingin, acu tak acuh, kaku dan keras akan
menimbulkan rasa cemas dan tekanan serta memiliki kepribadian yang
bersifat menolak dan menentang terhadap lingkungan.Hidup seorang
manusia dapat dibagi atas 7 masa dan pada keadaan tertentu dapat
mendukung terjadinya gangguan jiwa.
a. Masa bayi
Yang dimaksud masa bayi adalah menjelang usia 2 3 tahun, dasar
perkembangan yang dibentuk pada masa tersebut adalah sosialisasi dan
pada masa ini. Cinta dan kasih sayang ibu akan memberikan rasa
hangat/ aman bagi bayi dan dikemudian hari menyebabkan kepribadian
yang hangat, terbuka dan bersahabat. Sebaliknya, sikap ibu yang dingin
acuh tak acuh bahkan menolak dikemudian hari akan berkembang
kepribadian yang bersifat menolak dan menentang terhadap lingkungan.
Sebaiknya dilakukan dengan tenang, hangat yang akan memberi rasa
aman dan terlindungi, sebaliknya, pemberian yang kaku, keras dan
tergesa-gesa akan menimbulkan rasa cemas dan tekanan.
11

b. Masa anak pra sekolah (antara 2 sampai 7 tahun)


Pada usia ini sosialisasi mulai dijalankan dan telah tumbuh disiplin dan
otoritas. Penolakan orang tua pada masa ini, yang mendalam atau
ringan, akan menimbulkan rasa tidak aman dan ia akan
mengembangkan cara penyesuaian yang salah, dia mungkin menurut,
menarik diri atau malah menentang dan memberontak. Anak yang tidak
mendapat kasih sayang tidak dapat menghayati disiplin tak ada panutan,
pertengkaran dan keributan membingungkan dan menimbulkan rasa
cemas serta rasa tidak aman. hal-hal ini merupakan dasar yang kuat
untuk timbulnya tuntutan tingkah laku dan gangguan kepribadian pada
anak dikemudian hari.
c. Masa Anak sekolah
Masa ini ditandai oleh pertumbuhan jasmaniah dan intelektual yang
pesat. Pada masa ini, anak mulai memperluas lingkungan pergaulannya.
Keluar dari batas-batas keluarga. Kekurangan atau cacat jasmaniah
dapat menimbulkan gangguan penyesuaian diri. Dalam hal ini sikap
lingkungan sangat berpengaruh, anak mungkin menjadi rendah diri atau
sebaliknya melakukan kompensasi yang positif atau kompensasi
negatif. Sekolah adalah tempat yang baik untuk seorang anak
mengembangkan kemampuan bergaul dan memperluas sosialisasi,
menguji kemampuan, dituntut prestasi, mengekang atau memaksakan
kehendaknya meskipun tak disukai oleh si anak.
d. Masa Remaja
Secara jasmaniah, pada masa ini terjadi perubahan-perubahan yang
penting yaitu timbulnya tanda-tanda sekunder 13 (ciri-ciri diri
kewanitaan atau kelaki-lakian) Sedang secara kejiwaan, pada masa ini
terjadi pergolakan- pergolakan yang hebat. pada masa ini, seorang
remaja mulai dewasa mencoba kemampuannya, di suatu pihak ia
merasa sudah dewasa (hak-hak seperti orang dewasa), sedang di lain
12

pihak belum sanggup dan belum ingin menerima tanggung jawab atas
semua perbuatannya. Egosentris bersifat menentang terhadap otoritas,
senang berkelompok, idealis adalah sifat-sifat yang sering terlihat.
Suatu lingkungan yang baik dan penuh pengertian akan sangat
membantu proses kematangan kepribadian di usia remaja.
Hubungan sosial,sikap terhadap saudara kandung dan teman
bermain,jumlah teman dan kedekatannya, pemimpin atau pengikut,
popularitas social, partisipasi dalam aktivitas kelompok atau geng,
figure idola, pola agresi, sikap pasif, ansietas, perilaku, antisosial.
e. Masa Dewasa muda
Seorang yang melalui masa-masa sebelumnya dengan aman dan
bahagia akan cukup memiliki kesanggupan dan kepercayaan diri dan
umumnya ia akan berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan pada masa ini.
Sebaliknya yang mengalami banyak gangguan pada masa sebelumnya,
bila mengalami masalah pada masa ini mungkin akan mengalami
gangguan jiwa.
f. Masa dewasa tua
Sebagai patokan masa ini dicapai kalau status pekerjaan dan sosial
seseorang sudah mantap. Sebagian orang berpendapat perubahan ini
sebagai masalah ringan seperti rendah diri. pesimis. Keluhan
psikomatik sampai berat seperti murung, kesedihan yang mendalam
disertai kegelisahan hebat dan mungkin usaha bunuh diri.
g. Masa Tua
Ada dua hal yang penting yang perlu diperhatikan pada masa ini
Berkurangnya daya tanggap, daya ingat, berkurangnya daya belajar,
kemampuan jasmaniah dan kemampuan sosial ekonomi menimbulkan
rasa cemas dan rasa tidak aman serta sering mengakibatkan kesalah
pahaman orang tua terhadap orang di lingkungannya. Perasaan terasing
karena kehilangan teman sebayak keterbatasan gerak dapat
menimbulkan kesulitan emosional yang cukup hebat.
13

2.2.7 Faktor Sosio Kultural Kebudayaan 4


Secara teknis adalah ide atau tingkah laku yang dapat dilihat maupun
yang tidak terlihat. Faktor budaya bukan merupakan penyebab langsung
menimbulkan gangguan jiwa, biasanya terbatas menentukan warna
gejala-gejala. Disamping mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
kepribadian seseorang misalnya melalui aturan-aturan kebiasaan yang
berlaku dalam kebudayaan tersebut. Beberapa faktor-faktor kebudayaan
tersebut : 7,4
1) Cara-cara membesarkan anak
Cara-cara membesarkan anak yang kaku dan otoriter , hubungan orang
tua anak menjadi kaku dan tidak hangat. Anakanak setelah dewasa
mungkin bersifat sangat agresif atau pendiam dan tidak suka bergaul
atau justru menjadi penurut yang berlebihan.
2) Sistem Nilai
Perbedaan sistem nilai moral dan etika antara kebudayaan yang satu
dengan yang lain, antara masa lalu dengan sekarang sering
menimbulkan masalah-masalah kejiwaan. Begitu pula perbedaan moral
yang diajarkan di rumah / sekolah dengan yang dipraktekkan di
masyarakat sehari-hari.
3) Kepincangan antar keinginan dengan kenyataan yang ada iklan-iklan di
radio, televisi. Surat kabar, film dan lain-lain menimbulkan bayangan-
bayangan yang menyilaukan tentang kehidupan modern yang mungkin
jauh dari kenyataan hidup seharihari. Akibat rasa kecewa yang timbul,
seseorang mencoba mengatasinya dengan khayalan atau melakukan
sesuatu yang merugikan masyarakat.
4) Ketegangan akibat faktor ekonomi dan kemajuan teknologi
Dalam masyarakat modern kebutuhan dan persaingan makin meningkat
dan makin ketat untuk meningkatkan ekonomi hasil-hasil teknologi
modern. Memacu orang untuk bekerja lebih keras agar dapat
memilikinya. Jumlah orang yang ingin bekerja lebih besar dari
kebutuhan sehingga pengangguran meningkat, demikian pula urbanisasi
14

meningkat, mengakibatkan upah menjadi rendah. Faktor-faktor gaji


yang rendah, perumahan yang buruk, waktu istirahat dan berkumpul
dengan keluarga sangat terbatas dan sebagainya merupakan sebagian
mengakibatkan perkembangan kepribadian yang abnormal.
5) Perpindahan kesatuan keluarga Khusus untuk anak yang sedang
berkembang kepribadiannya, perubahan-perubahan lingkungan
(kebudayaan dan pergaulan), sangat cukup mengganggu.
6) Masalah golongan minoritas
Tekanan-tekanan perasaan yang dialami golongan ini dari lingkungan
dapat mengakibatkan rasa pemberontakan yang selanjutnya akan tampil
dalam bentuk sikap acuh atau melakukan tindakan-tindakan yang
merugikan orang banyak.
15

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Gangguan jiwa adalah gangguan dalam cara berpikir (cognitive), kemauan


(volition),emosi (affective), tindakan (psychomotor).5 Gangguan jiwa adalah suatu
perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi
jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam
melaksanakan peran social.

Menurut Sigmund Freud adanya gangguan tugas perkembangan pada masa


anak terutama dalam hal berhubungan dengan orang lain sering menyebabkan
frustasi, konflik, dan perasaan takut, respon orang tua yang mal adaptif pada anak
akan meningkatkan stress, sedangkan frustasi dan rasa tidak percaya yang
berlangsung terus menerus dapat menyebabkan regresi dan withdral.

Penyebab gangguan jiwa itu bermacam-macam ada yang bersumber dari


berhubungan dengan orang lain yang tidak memuaskan seperti diperlakukan tidak
adil, diperlakukan semena-mena, cinta tidak terbatas, kehilangan seseorang yang
dicintai, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain. Selain itu ada juga gangguan jiwa
yang disebabkan faktor organik, kelainan saraf dan gangguan pada otak.
16

DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim, R.2001. Diagnosis Gangguan Jiwa.Rujukan Ringkas PPDGJ-III.


Jakarta: PT Nuh Jaya.Hal 7-8.

2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Riset Kesehatan Dasar


Tahun 2013. Jakarta.

3. Kaplan H I, Sadock B J, Grebb J A.2010.Sinopsis Psikiatri Jilid 1.


Terjemahan Widjaja Kusuma.Jakarta.Binarupa. hal 3-4 .

4. Santrock, John. 1999.Life Span Development.Jakarta.Erlangga

5. WHO.2011.Mental and Health. A State of Well Being.


(http://www.who.int/features/factfiles/mental_health/en/ diakses pada
tanggal 15 Oktober 2016 ) .

6. Bayu,D.2013. Gangguan Persepsi Sensori


(http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/104/jtptunimus-gdl-dimasbayue-
5157-1-bab1.pdf diakses tanggal 15 Oktober 2016 ).

7. Lestari,W.Wardani, YF.2014.Stigma dan Penanganan Penderit Gangguan


Jiwa Berat yang Dipasung.(Stigma and Management on People with
Severe Mental Disorders with Pasung (Physical Restraint).Jurnal
Publikasi.Jakarta.

8. Yosep,I.2008.Proses Terjadinya Gangguan Jiwa.Bandung.


(http://.unpad.ac.id/irmamayandra/files/2011/05/Proses-Terjadinya-gg.-
jiwa.pdf diakses tanggal 15 Oktober 2016 ).

9. Suryani,SKP.2013. Mengenal Gejala dan Penyebab Gangguan


Jiwa.Jurnal.Fakultas Psikologi UNJANI.
(https://www.jurnal.researchgate.net/publication/273866139_Mengenal_g
ejala_dan_penyebab_gangguan_jiwa
17