Anda di halaman 1dari 12

PERBEDAAN RISIKO INFEKSI NOSOKOMIAL SALURAN KEMIH

BERDASARKAN KATETERISASI URIN, UMUR, DAN


DIABETES MELITUS
The Difference of Nosocomial Urinary Tract Infection Risk Based on Chateterization Urine, Age, and
Diabetes Mellitus

Edel Weisela Permata Sari1, Prijono Satyabakti2


1FKM UA,edelweisela@gmail.com
2Departemen Epidemiologi FKM UA, prijono_satyabakti@yahoo.co.id

Alamat Korespondensi: Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga


Surabaya, Jawa Timur, Indonesia

ABSTRAK
Infeksi nosokomial saluran kemih merupakan salah satu jenis infeksi nosokomial tersering pada pasien terpasang kateter
tetap. Faktor penyebab infeksi nosokomial saluran kemih antara lain hospes, agen, dan kateterisasi urin. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis perbedaan risiko infeksi nosokomial saluran kemih berdasarkan kateterisasi urin, umur, dan
diabetes melitus (DM). Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol dengan besar sampel 20 pada masing-masing
kelompok kasus dan kontrol. Sampel kasus adalah pasien yang terdiagnosa infeksi saluran kemih sedangkan sampel kontrol
adalah pasien yang tidak terdiagnosa infeksi saluran kemih di RSU Haji Surabaya tahun 2013 hingga 2014.Variabel bebas
adalah lama pemasangan kateter, frekuensi kateterisasi urin, umur, dan DM, sedangkan variabel tergantung adalah infeksi
nosokomial saluran kemih. Pengolahan data menggunakan analisis risk difference (RD) pada Epi Info. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perbedaan risiko infeksi nosokomial saluran kemih berdasarkan lama pemasangan kateter urin sebesar
RD = 0,52 artinya apabila dilakukan upaya penggantian kateter setiap 7 hari, maka dapat mencegah 0,52 dari 0,71 atau
73,53% kejadian infeksi saluran kemih, frekuensi kateterisasi urin sebesar RD = 0,44 artinya apabila dilakukan upaya
pengurangan kateterisasi urin hingga 1 kali, maka dapat mencegah 0,44 dari 0,79 atau 55,94% kejadian infeksi saluran
kemih, umur sebesar 0,40 artinya apabila dilakukan indikasi pemasangan dan prosedur pemasangan yang tepat pada pasien
dengan umur > 55 tahun, maka dapat mencegah 0,40 dari 0,68 atau 59,26% kejadian infeksi saluran kemih dan DM sebesar
RD = 0,42 artinya apabila dilakukan upaya pencegahan terhadap penyakit DM, maka dapat mencegah 0,42 dari 0,75 atau
55,56% kejadian infeksi saluran kemih.

Kata kunci: kateterisasi urin, umur, diabetes melitus, infeksi nosokomial saluran kemih

ABSTRACT
Nosocomial urinary tract infection is common occurs in patients with indwelling urinary chateter. Factors that caused
nosocomial urinary tract infection are host, agent, and chateterization urine. The aim of this research was to analyze risk
difference nosocomial urinary tract infection based on chateterization urine, age, and diabetes mellitus (DM). This study
used case control with sample size 20 for each group. Case sample was patients who diagnosed urinary tract infection,
while control sampel was patients who not diagnosed urinary tract infection in Haji Hospital Surabaya on 2013 until 2014.
The independent variables were duration of chateterization, frequency of chateterization, age, and DM, while dependent
variable was nosocomial urinary tract infection. Those variables was analyze with risk difference (RD) in Epi Info. The
result showed that risk difference nosocomial urinary tract infection based on duration of chateterization is RD = 0,52
it means if changing chateter was done every seven days used, it can prevent 0,52 from 0,71 or 73,53% urinary tract
infection cases, frequency of chateterization is RD = 0,43956 it means if decrease frequency of chateterization until one
time used, it can prevent 0,44 from 0,79 or 55,94% urinary tract infection cases, age is RD = 0,40 it means if insertion of
urine catheter as indicated and right procedure in patient with >55 old it can prevent 0,40 from 0,68 or 59,26% urinary
tract infection cases, and DM is RD = 0,42 it means if preventing toward DM, it can prevent 0,42 from 0,75 or 55,56%
urinary tract infection cases.

Keyword: chateterization urine, age, diabetes mellitus, nosocomial urinary tract infection

205
Edel Weisela Permata Sari dan Prijono Satyabakti, Perbedaan Risiko Infeksi Nosokomial… 206

PENDAHULUAN (2,3%). Angka insiden infeksi nosokomial di Jawa


Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat Timur tahun 2011 hingga 2013 berdasarkan jenis
oleh seorang pasien selama dirawat di rumah infeksinya pada 13 rumah sakit pemerintah, 2 rumah
sakit dan menunjukkan gejala infeksi setelah sakit TNI/Polri dan BUMN, dan 14 rumah sakit
72 jam perawatan serta tanda infeksi tidak muncul swasta yaitu infeksi daerah operasi (IDO) sebanyak
saat pasien masuk ke rumah sakit. Batasan atau 67 kasus dan infeksi saluran kemih sebanyak
kriteria infeksi nosokomial adalah tanda infeksi 24 kasus.
tidak muncul saat penderita mulai dirawat di Infeksi saluran kemih adalah infeksi yang
rumah sakit, pada waktu penderita mulai dirawat disebabkan oleh mikroorganisme patogen naik dari
tidak dalam masa inkubasi dari infeksi tersebut, uretra ke kandung kemih dan berkembangbiak serta
tanda infeksi baru muncul minimal 3 × 24 jam meningkat jumlahnya sehingga menyebabkan infeksi
sejak pasien mulai dirawat dan infeksi tersebut pada ureter dan ginjal. Keberadaan bakteriuria
bukan merupakan residual dari infeksi sebelumnya merupakan indikasi infeksi saluran kemih yaitu
(Hasbullah, 1993). Infeksi nosokomial menyebabkan terjadi pertumbuhan bakteri murni sebanyak
1,4 juta kematian setiap hari di seluruh dunia (WHO, > 100.000 colony forming units (cfu/ml) pada biakan
2002). Infeksi nokomial dapat disebabkan oleh urin. Jenis bakteri patogen penyebab bakteriuria
faktor agen (mikroorganisme), hospes (pejamu), adalah Escherichia coli, Klebsiella, Proteus,
dan lingkungan. Infeksi nosokomial dapat diperolah Pseudomonas, Enterobacter, Serratia, Streptococcus,
dari petugas kesehatan, orang sakit, dan pengunjung dan Staphylococcus. Infeksi nosokomial saluran
yang berstatus karier. kemih umumnya disebabkan ketidakmampuan
Angka kejadian infeksi nosokomial yang kandung kemih untuk mengosongkan urine dan
dilaporkan WHO (2002), pada empat region yaitu penurunan mekanisme alamiah kandung kemih untuk
Eropa, Mediterania Timur, Asia Tenggara, dan mempertahankan sterilitas terhadap mikroorganisme
Pasifik Barat berturut-turut adalah 7,7%, 11,8%, (Smeltzer dan Bare, 2008).
10%, dan 9% dengan rata-rata kejadian 8,7%. Infeksi nosokomial dapat ditularkan melalui
Berdasarkan surveilans yang dilakukan Depkes RI cross infection, self infection, dan environmental
(2004), proporsi kejadian infeksi nosokomial di infection. Infeksi nosokomial dapat ditularkan
rumah sakit pemerintah lebih tinggi dibandingkan melalui faktor lingkungan yaitu disebabkan oleh
dengan rumah sakit swasta. Penelitian yang mikroorganisme yang berasal dari peralatan di
dilakukan Marwoto (2007), menunjukkan bahwa rumah sakit. Infeksi nosokomial saluran kemih
kejadian infeksi nosokomial di lima rumah sakit 80% kejadiannya dihubungkan dengan pemasangan
pendidikan yaitu di RSUP Dr. Sardjito sebesar kateter atau yang meliputi: lama pemasangan kateter,
7,94%, RSUD Dr. Soetomo sebesar 14,6%, RS prosedur pemasangan kateter, ukuran dan tipe
Bekasi sebesar 5,06%, RS Hasan Sadikin Bandung kateter, serta asupan cairan (Putri et al, 2012).
sebesar 4,60%, RSCM Jakarta sebesar 4,60%. Angka Kateterisasi urine adalah proses atau tindakan
insiden infeksi nosokomial di Jawa Timur pada pengeluaran urine dengan memasukkan kateter
tahun 2011 hingga 2013 mengalami tren naik yaitu urine dari uretra ke menuju kandung kemih.
sebanyak 306 pada tahun 2011, 400 pada tahun Kateterisasi urine dilakukan apabila pasien tidak
2012, dan 526 pada tahun 2013. mampu mengeluarkan urine secara normal (retensi
Infeksi nosokomial saluran kemih merupakan atau obstruksi urine). Pemasangan kateter urine
infeksi nosokomial tersering yang mencapai 30–40% menjadi port of entry bagi mikroorganisme untuk
kejadian (WHO, 2002). Hasil penelitian di beberapa masuk ke dalam kandung kemih pada kateter
negara Amerika dan Eropa melaporkan bahwa yang terkontaminasi. Terdapat dua metode yang
kejadian infeksi nosokomial saluran kemih (urinary digunakan dalam kateterisasi urine yaitu kateter
tract infection) menempati urutan pertama yaitu indwelling (kateter menetap) dan kateter intermitten
sebesar 42%, infeksi daerah operasi sebesar 24%, (kateter yang digunakan sewaktu- waktu). Kateter
dan ventilator associated pneumonia (VAP) sebesar tetap akan berpotensi bagi mikroorganime untuk
11%. Berdasarkan laporan National Healthcare berkolonisasi di sepanjang kateter. Jalur perjalanan
Safety Network (NHSN) tahun 2008 menyebutkan mikroorganisme ke kandung kemih melalui 3 hal
bahwa angka kematian akibat infeksi saluran kemih yaitu: uretra ke dalam kandung kemih pada saat
mencapai angka tertinggi yaitu lebih dari 13.000 pemasangan kateter, jalur dalam lapisan tipis cairan
207 Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 3, No. 2 Mei 2015: 205–216

uretra yang berada di luar kateter, dan migrasi ke kandung kemih yang tidak normal dan statis urine
dalam kandung kemih di sepanjang lumen internal (Smeltzer dan Bare, 2008).
kateter yang terkontaminasi (Smeltzer dan Bare, Menurut WHO (2002), infeksi nosokomial
2008). menyebabkan dampak baik bagi pasien maupun
Menurut Pellowe dan Pratt (2004), kolonisasi rumah sakit. Dampak infeksi nosokomial saluran
bakteri akan mencapai kandung kemih setelah kemih dapat menyebabkan resistensi terhadap
7 hari pemasangan kateter urine indwelling pada antibiotik sehingga memperlambat penyembuhan
pasien yang dirawat di rumah sakit. Penelitian yang pasien dan meningkatkan biaya perawatan di rumah
dilakukan oleh Leaver (2007), menyebutkan bahwa sakit sebesar 10–15% (Conterno et al, 2011). Pasien
bakteriuria ditemukan sebanyak 44% pada pasien yang menggunakan kateter urine mempunyai risiko
setelah 72 jam pertama pemasangan kateter urine 3 kali lebih besar untuk menjalani perawatan dan
indwelling. Penelitian lain oleh Soewondo (2007), pemakaian antibiotik yang lebih lama (Semaradana,
menyebutkan bahwa pada pasien terpasang kateter 2014). Dampak infeksi nosokomial bagi rumah
urine indwelling ditemukan bakteriuria 3–10% per sakit yaitu mampu meningkatkan biaya operasional
hari, sehingga pemasangan kateter urine indwelling dan menurunkan mutu pelayanan rumah sakit.
harus dilakukan pada pasien yang tepat indikasi Angka kejadian infeksi nosokomial dijadikan
dengan teknik aseptik yang benar dan peralatan salah satu tolak ukur mutu pelayanan rumah sakit.
yang steril. Hal tersebut merupakan langkah awal Berdasarkan Kepmenkes No. 129 Tahun 2008
kewaspadaan standar (universal precaution) sebagai Tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah
tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi Sakit menyebutkan bahwa standar kejadian infeksi
nosokomial saluran kemih. nosokomial sebesar < 1,5%.
Faktor host yang mempengaruhi kejadian Rumah Sakit Umum Haji Surabaya merupakan
infeksi nosokomial saluran kemih di antaranya: salah satu rumah sakit yang telah membentuk Komite
jenis kelamin, umur pasien, status DM, gangguan PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi). Salah
metabolisme dan keadaan immunosupresi, pasien satu program dari Komite PPI adalah surveilans
yang sedang hamil, serta pasien yang mengalami infeksi nosokomial yang meliputi: ILI (Infeksi
gangguan neurologi (Smeltzer dan Bare, 2008). Luka Infus), IADP (Infeksi Aliran Darah Primer),
Insiden infeksi nosokomial saluran kemih lebih ISK (Infeksi Saluran Kemih), IDO (Infeksi Daerah
sering terjadi pada perempuan dibandingkan dengan Operasi), VAP (Ventilator Associated Pneumonia),
laki-laki. Perempuan lebih berisiko terkena infeksi HAP (Hospital Associated Pneumonia), dan CSEP
saluran kemih karena uretra perempuan lebih pendek (Clinical Sepsis). Berdasarkan laporan surveilans
sehingga mikroorganisme lebih mudah memperoleh Komite PPI angka kejadian infeksi nosokomial di
akses ke kandung kemih serta secara anatomi dekat Rumah Sakit Haji Surabaya mengalami kenaikan
dengan vagina, kelenjar periuretral, dan rektum pada tahun 2012 hingga 2014 yaitu: 0,05% pada
(Smeltzer dan Bare, 2008). tahun 2012, 0,15% pada tahun 2013, dan 0,37%
Umur pasien di atas 55 tahun berisiko pada tahun 2014. Berdasarkan jenisnya infeksi
mengalami infeksi saluran kemih, karena terjadi nosokomial ILI, IADP, ISK, HAP, dan CSEP
penurunan daya imun. Hal tersebut ditandai dengan mengalami kenaikan dari tahun 2012 hingga tahun
menurunnya fungsi atrofi sel timus. Involusi sel 2014, sedangkan infeksi nosokomial VAP dan IDO
timus menyebabkan jumlah dan kualitas respons sel mengalami penurunan dari tahun 2012 hingga tahun
T semakin berkurang (Bratawidjaja dan Rengganis, 2014.
2009). Pasien dengan status DM terjadi peningkatan Peningkatan angka kejadian infeksi nosokomial
kadar glukosa dalam urine sehingga meningkatkan saluran kemih di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya
kerentanan terhadap infeksi serta terjadi pengosongan dari tahun 2012 hingga 2014 berturut turut yaitu:
kandung kemih yang tidak normal pada pasien stoke 0,05%, 0,15%, dan 0,37% atau mengalami
atau neuropati otonom dengan status DM (Smeltzer peningkatan sebesar 0,1% pada tahun 2013 dan
dan Bare, 2008). Penyakit tertentu seperti DM dan 0,22% pada tahun 2014, sehingga perlu dilakukan
penyakit ginjal kronik (PGK) dapat menyebabkan penelitian untuk mengidentifikasi faktor risiko untuk
gangguan metabolisme dan immunosupresi sehingga menurunkan angka kejadian infeksi nosokomial
menyebabkan gangguan mekanisme normal saluran kemih. Penelitian ini bertujuan untuk
pertahanan sterilitas kandung kemih. Kehamilan menganalisis perbedaan risiko infeksi nosokomial
dan gangguan neurologi menyebabkan pengosongan saluran kemih berdasarkan kateterisasi urine
Edel Weisela Permata Sari dan Prijono Satyabakti, Perbedaan Risiko Infeksi Nosokomial… 208

yang meliputi lama pemasangan kateter urine dan untuk menjelaskan karakteristik pada variabel yang
frekuensi kateterisasi urine, umur pasien serta diteliti dan penyajian datanya menggunakan nilai
penyakit DM yang diderita pasien. mean, median, standar deviasi dan nilai maksimum
serta nilai minimum. Analisis bivariat menggunakan
Epi Info untuk menganalisis besar risiko (OR) dan
METODE
perbedaan risiko (RD) dari masing-masing variabel
Jenis penelitian adalah observasional analitik independen yaitu lama pemasangan kateter urine,
dengan studi desain kasus kontrol (case control). frekuensi kateterisasi urine, umur pasien, dan
Penelitian dilakukan di unit Pencegahan dan status DM dengan kejadian infeksi nosokomial
Pengendalian Infeksi (PPI) Rumah Sakit Umum saluran kemih. Variabel lama pemasangan kateter
Haji Surabaya pada bulan Maret sampai Mei dikategorikan menjadi < 7 hari dan > 7 hari,
2015. Populasi kasus adalah seluruh pasien yang frekuensi kateterisasi urine dikategorikan menjadi
terpasang kateter urine dan didiagnosa menderita 1 kali dan >1 kali, umur dikategorikan menjadi
infeksi nosokomial saluran kemih pada tahun 2013 < 55 tahun > 55 tahun dan status DM dikategorikan
hingga 2014, sedangkan populasi kontrol adalah menjadi DM dan tidak DM. Analisis multivariat
seluruh pasien yang terpasang kateter urine dan menggunakan SPSS untuk menganalisis faktor yang
tidak didiagnosa menderita infeksi nosokomial mempunyai risiko paling besar terhadap kejadian
saluran kemih pada tahun 2013 hingga 2014. infeksi nosokomial saluran kemih.
Penentuan besar sampel kasus dan sampel kontrol Penelitian ini sudah dilakukan uji kelaikan etik
menggunakan rumus pada case control study tidak penelitian kesehatan (ethical clearance) oleh Komite
berpasangan dengan perbandingan 1:1 (Sastroasmoro Etik di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya.
dan Sofyan Ismael, 2010).
ʹ
ሺαඥʹ൅βටͳͳ൅ʹʹሻ HASIL
n1 = n2= ʹ
ሺͳെʹሻ Analisis Deskriptif
Penentuan besar sampel berdasarkan hasil Hasil analisis deskriptif pada variabel
penelitian sebelumnya yaitu diperoleh nilai proporsi kateterisasi urine yang meliputi lama pemasangan
paparan pada populasi kasus (P1) sebesar 0,7 dan kateter urine dan frekuensi kateterisasi urine, serta
proporsi paparan pada populasi kontrol (P2) sebesar umur pasien seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1
0,2 (Al Hazmi, 2015). Perhitungan jumlah sampel berikut:
berdasarkan data penelitian Al-Hazmi (2015), dengan
derajat kepercayaan 95% dan kekuatan uji 90% Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan
adalah 20 pasien pada masing-masing kelompok Kateterisasi Urine dan Umur Pasien pada
kasus dan kelompok kontrol. Teknik pengambilan Kelompok Kasus dan Kelompok Kontrol
sampel baik pada sampel kasus maupun sampel di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya
kontrol menggunakan probability sampling dengan Tahun 2013–2014
metode simple random sampling. Kelompok
Pengumpulan data berupa data sekunder yang Mean ± SD Median Min-Max
Responden
diperoleh dari rekam medik pasien di Rumah Lama Pemasangan Kateteris Urine
Sakit Umum Haji Surabaya. Instrumen penelitian Kasus (n = 20) 14,0 ± 8,3 11 5–35
berupa lembar pengumpulan data yang terdiri dari Kontrol (n = 20) 5,75 ± 4,9 4 1–19
variabel yang diteliti. Variabel yang diteliti terdiri Kasus (n = 20) 1,65 ± 0,7 2 1–4
dari variabel dependen yaitu infeksi nosokomial Kontrol (n = 20) 1,30 ± 0,8 1 1–4
saluran kemih dan variabel independen yaitu lama Kasus (n = 20) 62,8 ± 13 62 32–87
pemasangan kateter urine, frekuensi kateterisasi Kontrol (n = 20) 51,0 ± 17 48 16–90
urine, umur, dan status DM.
Data hasil penelitian diolah dalam bentuk tabel Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata
dan dijelaskan secara narasi, sedangkan analisis data lama pemasangan kateter urine pada kelompok kasus
terdiri dari analisis univariat (deskriptif), analisis lebih lama dibandingkan dengan kelompok kontrol
bivariat, dan analisis multivariat menggunakan SPSS dengan median kelompok kasus 11 hari dan kelompok
dan Epi Info. Analisis univariat menggunakan SPSS kontrol 4 hari. Lama hari pemasangan kateter baik
209 Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 3, No. 2 Mei 2015: 205–216

terlama maupun tersingkat pada kelompok kasus lebih lama pemasangan kateter > 7 hari mempunyai risiko
besar dibandingkan dengan kelompok kontrol. 10,52 kali untuk mengalami infeksi nosokomial
Pada variabel frekuensi kateterisasi urine saluran kemih dibandingkan dengan pasien
menunjukkan bahwa rata-rata frekuensi kateterisasi dengan lama pemasangan kateter < 7 hari. Nilai
urine pada kelompok kasus lebih banyak OR pada variabel ini bernilai bermakna terhadap
dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan kejadian infeksi nosokomial saluran kemih karena
nilai median kelompok kasus sebanyak 2 kali 95% CI tidak melewati angka 1,00. Perhitungan
dan kelompok kontrol sebanyak 1 kali. Frekuensi beda risiko (risk difference atau RD) dengan nilai
kateterisasi urine paling banyak dan paling sedikit insiden terpapar sebesar 0,71 dan nilai insiden tidak
baik kelompok kasus maupun kelompok kontrol terpapar sebesar 0,19 menghasilkan nilai sebesar
mempunyai nilai yang sama. 0,52 (52/100), artinya sebanyak 52 dari 100 pasien
Pada variabel umur menunjukkan bahwa rata- yang terpasang kateter dapat terhindar dari infeksi
rata umur pasien pada kelompok kasus lebih tua nosokomial saluran kemih apabila dilakukan
dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan pemasangan kateter < 7 hari atau apabila dilakukan
median kelompok kasus adalah 62 tahun dan upaya penggantian kateter setiap 7 hari, maka dapat
kelompok kontrol 48 tahun. Umur pasien baik mencegah 0,52 dari 0,71 atau 73,53% kejadian
termuda maupun tertua terdapat pada kelompok infeksi saluran kemih
kontrol. Va r i a b e l f r e k u e n s i k a t e t e r i s a s i
urine dikategorikan menjadi 2 yaitu 1 kali dan > 1
Analisis Bivariat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian
Pada variabel lama pemasangan kateter urine besar pasien yang terdiagnosa infeksi nosokomial
dikategorikan menjadi dua yaitu < 7 hari dan > 7 saluran kemih dilakukan pemasangan kateter urine
hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian lebih dari satu kali yaitu sebanyak 11 pasien (55%),
besar pasien yang terdiagnosa infeksi nosokomial sedangkan pada pasien yang dilakukan pemasangan
saluran kemih dilakukan pemasangan kateter > 7 kateter sebanyak 1 kali sebagian besar tidak
hari yaitu sebanyak 17 pasien (85%), sedangkan terdiagnosa infeksi nosokomial saluran kemih yaitu
pasien yang dilakukan pemasangan kateter < 7 hari sebanyak 17 pasien (85%), seperti yang ditunjukkan
sebagian besar tidak terdiagnosa infeksi nosokomial pada Tabel 3 berikut:
saluran kemih yaitu sebanyak 13 pasien (65%),
seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2 berikut: Tabel 3. Perbedaan Risiko Infeksi Nosokomial
Saluran kemih Berdasarkan Frekuensi
Tabel 2. Perbedaan Risiko Infeksi Nosokomial Kateterisasi Urine di Rumah Sakit Umum
Saluran kemih Berdasarkan Lama Haji Surabaya Tahun 2013–2014
Pemasangan Kateter Urine di Rumah Sakit Infeksi nosokomial saluran
Umum Haji Surabaya Tahun 2013–2014 Frekuensi kateterisasi kemih
urin Ya Tidak
Infeksi nosokomial saluran
n % N %
Lama pemasangan kemih
1 kali 9 45 17 85
kateter urin Ya Tidak
> 1 kali 11 55 3 15
n % n %
< 7 hari 3 15 13 65 Total 20 100 20 100
> 7 hari 17 85 7 35 p value 0,020
Total 20 100 20 100 OR (Odds Ratio) 6,93
p value 0,004 95% CI 1,27 < OR < 42,45
OR (Odds Ratio) 10,52 RD (Risk Difference) 0,44
95% CI 1,88 < OR < 67,43
RD (Risk Difference) 0,52 Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa
perhitungan besar risiko diperoleh nilai Odds Ratio
Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa (OR) sebesar 6,93 dengan nilai 95% Confidence
perhitungan besar risiko diperoleh nilai Odds Ratio Interval 1,27 < OR < 42,45 artinya pasien dengan
(OR) sebesar 10,52 dengan nilai 95% Confidence frekuensi pemasangan kateter urine > 1 kali
Interval 1,88 < OR < 67,43 artinya pasien dengan mempunyai risiko 6,93 kali mengalami infeksi
Edel Weisela Permata Sari dan Prijono Satyabakti, Perbedaan Risiko Infeksi Nosokomial… 210

nosokomial saluran kemih dibandingkan dengan ini bernilai bermakna terhadap kejadian infeksi
pasien dengan frekuensi pemasangan kateter urine nosokomial saluran kemih karena 95% CI tidak
sebanyak 1 kali. Nilai OR pada variabel ini bernilai melewati angka 1,00. Perhitungan beda risiko (risk
bermakna terhadap kejadian infeksi nosokomial difference atau RD) dengan nilai insiden terpapar
saluran kemih karena 95% CI tidak melewati sebesar 0,68 dan nilai insiden tidak terpapar sebesar
angka 1,00. Perhitungan beda risiko (risk difference 0,28 menghasilkan nilai sebesar 0,40 (40/100),
atau RD) dengan nilai insiden terpapar sebesar artinya sebanyak 40 dari 100 pasien yang terpasang
0,79 dan nilai insiden tidak terpapar sebesar 0,35 kateter urine dapat terhindar dari infeksi nosokomial
menghasilkan nilai sebesar 0,44 (44/100), artinya saluran kemih apabila umur pasien < 55 tahun atau
sebanyak 44 dari 100 pasien yang terpasang kateter apabila dilakukan indikasi pemasangan dan prosedur
dapat terhindar dari infeksi nosokomial saluran pemasangan yang tepat pada pasien dengan umur
kemih apabila frekuensi pemasangan kateter urine > 55 tahun, maka dapat mencegah 0,40 dari 0,68
sebanyak 1 kali atau apabila dilakukan upaya atau 59,26% kejadian infeksi saluran kemih.
pengurangan kateterisasi urine hingga 1 kali, maka Status DM dikategorikan menjadi menderita
dapat mencegah 0,44 dari 0,79 atau 55,94% kejadian DM dan tidak menderita DM. Hasil penelitian
infeksi saluran kemih. menunjukkan bahwa sebagian besar pasien yang
Salah satu faktor risiko pada host (pejamu) terdiagnosa infeksi nosokomial saluran kemih
terkait kejadian infeksi nosokomial saluran kemih menderita DM yaitu 12 pasien (60%), sedangkan
adalah umur dan status DM yang diderita pasien. pada pasien tanpa status DM sebagian besar tidak
Umur pasien dikategorikan menjadi dua yaitu terdiagnosa infeksi nosokomial saluran kemih yaitu
< 55 tahun dan > 55 tahun. Hasil penelitian sebanyak 16 pasien (80%), seperti yang ditunjukkan
menunjukkan bahwa sebagian besar pasien yang pada Tabel 5 berikut:
terdiagnosa infeksi nosokomial saluran kemih
berumur > 55 tahun yaitu 15 pasien (75%), Tabel 5. Perbedaan Risiko Infeksi Nosokomial
sedangkan pada pasien dengan umur < 55 tahun Saluran Kemih Berdasarkan Status DM di
sebagian besar tidak terdiagnosa infeksi nosokomial Rumah Sakit Umum Haji Surabaya Tahun
saluran kemih yaitu sebanyak 13 pasien (65%), 2013–2014
seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4berikut:
Infeksi nosokomial saluran
kemih
Tabel 4. Perbedaan Risiko Infeksi Nosokomial Status DM
Ya Tidak
Saluran Kemih Berdasarkan Umur Pasien n % n %
di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya DM 12 60 4 20
Tahun 2013–2014 Tidak DM 8 40 16 80
Infeksi nosokomial saluran Total 20 100 20 100
kemih p value 0,024
Umur pasien OR (Odds Ratio) 6,00
Ya Tidak
n % n % 95% CI 1,22 < OR < 32,26
< 55 tahun 5 25 13 65 RD (Risk Difference) 0,42
> 55 tahun 15 75 7 35
Total 20 100 20 100 Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa
p value 0,026 perhitungan besar risiko diperoleh nilai OR
OR (Odds Ratio) 5,57 sebesar 6,00 dengan nilai 95% Confidence Interval
95% CI 1,19 < OR < 28,23 1,22 < OR < 32,26 artinya pasien dengan status
RD (Risk Difference) 0,40 DM mempunyai risiko 6 kali untuk mengalami
infeksi nosokomial saluran kemih dibandingkan
Berdasarkan Tabel 4 menunjukkan bahwa dengan pasien yang tidak menderita DM. Nilai
perhitungan besar risiko diperoleh nilai OR sebesar OR pada variabel ini bernilai bermakna terhadap
5,57 dengan nilai 95% Confidence Interval 1,19< kejadian infeksi nosokomial saluran kemih karena
OR <28,23 artinya pasien dengan umur > 55 tahun 95% CI tidak melewati angka 1,00. Perhitungan
mempunyai risiko 5,57 kali mengalami infeksi beda risiko (risk difference atau RD) dengan nilai
nosokomial saluran kemih dibandingkan pasien insiden terpapar sebesar 0,75 dan nilai insiden
dengan umur < 55 tahun. Nilai OR pada variabel tidak terpapar sebesar 0,33 menghasilkan nilai
211 Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 3, No. 2 Mei 2015: 205–216

sebesar 0,42 (42/100), artinya sebanyak 42 dari 100 5,67 setelah dilakukan penyesuaian diperoleh nilai
pasien yang terpasang kateter dapat terhindar dari adjusted odd ratio sebesar 8,81 artinya pasien
infeksi nosokomial saluran kemih apabila pasien dengan lama pemasangan kateter urine > 7 hari
tidak menderita DM atau apabila dilakukan upaya mempunyai risiko 8,81 kali untuk mengalami infeksi
pencegahan terhadap penyakit DM, maka dapat nosokomial saluran kemih dibandingkan dengan
mencegah 0,42 dari 0,75 atau 55,56% kejadian pasien dengan lama pemasangan kateter urine
infeksi saluran kemih. < 7 hari.

Analisis Multivariat
PEMBAHASAN
Hasil analisis bivariat diketahui bahwa
variabel lama pemasangan kateter urine, frekuensi Perbedaan Risiko Kejadian Infeksi Nosokomial
kateterisasi urine, umur pasien, dan status DM Saluran Kemih Berdasarkan Lama Pemasangan
mempunyai p value < 0,25 sehingga pada tahap Kateter Urine
selanjutnya keempat variabel tersebut dilakukan Kateter urine merupakan salah satu faktor risiko
analisis multivariat untuk menganalisis variabel utama kejadian infeksi nosokomial saluran kemih
independen yang mempunyai besar risiko paling (Smeltzer dan Bare, 2008). Kateter urine indwelling
tinggi terhadap kejadian infeksi nosokomial saluran memungkinkan bakteri yang invasi melakukan
kemih. Hasil analisis multivariat dengan uji regresi kolonisasi di sepanjang kateter urine yang menetap
logistik berganda dari keempat faktor risiko terhadap pada saluran kemih. Lama waktu pemasangan
kejadian infeksi nosokomial saluran kemih. kateter sebaiknya tidak terlalu lama, karena semakin
Hasil analisis multivariat pada variabel lama pasien terpasang kateter maka risiko kejadian
kateterisasi urine yang meliputi lama pemasangan infeksi nosokomial saluran kemih akan semakin
kateter urine dan frekuensi kateterisasi urine, umur tinggi. Adanya bakteri di saluran kemih ditunjukkan
pasien serta status DM seperti yang ditunjukkan dengan adanya bakteri dalam urine (bakteriuria).
pada Tabel 6 berikut: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai
OR sebesar 10,52 yang artinya pasien dengan lama
Tabel 6. Hasil Uji Regresi Logistik Faktor Risiko pemasangan kateter urine > 7 hari mempunyai risiko
terhadap Kejadian Infeksi Nosokomial 10,52 kali untuk mengalami infeksi nosokomial
Saluran Kemih di Rumah Sakit Umum saluran kemih dibandingkan dengan pasien dengan
Haji Surabaya Tahun 2013–2014 lama pemasangan kateter urine < 7 hari. Analis
perbedaan risiko (risk difference) sebesar 0,52
Faktor Unadjusted Adjusted
risiko
Koefisien
P OR p OR
artinya sebanyak 52 dari 100 pasien yang terpasang
Lama kateter urine dapat terhindar dari infeksi nosokomial
pemasangan 1,736 0,083 5,67 0,008 8,81 saluran kemih apabila dilakukan pemasangan kateter
kateter urine < 7 hari atau apabila dilakukan upaya penggantian
Frekuensi kateter setiap 7 hari, maka dapat mencegah 0,52 dari
kateterisasi 1,069 0,249 2,91 0,247 2,91 0,71 atau 73,53% kejadian infeksi saluran kemih.
urin Berdasarkan hasil analisis multivariat menggunakan
Umur pasien 1,407 0,123 4,08 0,058 4,39 uji regresi logistik berganda lama pemasangan
Status DM - 0,006 0,995 0,99 0,995 0,99 kateter urine merupakan faktor risiko dominan
Konstanta - 2,006 0,084 0,013 dengan nilai OR sebesar 8,81 artinya pasien dengan
lama pemasangan kateter urine > 7 hari mempunyai
Berdasarkan Tabel 6 menunjukkan bahwa risiko 8,81 kali untuk mengalami infeksi nosokomial
variabel frekuensi kateterisasi urine, umur pasien, saluran kemih dibandingkan dengan pasien dengan
dan status DM yang diderita pasien mempunyai lama pemasangan kateter urine < 7 hari.
p value > 0,05 sehingga pada tahap selanjutnya Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
variabel tersebut dikeluarkan dari model. yang dilakukan oleh Pellowe dan Pratt (2004),
Hasil regresi logistik berganda menunjukkan menyebutkan bahwa kolonisasi bakteri mencapai
bahwa faktor risiko lama pemasangan kateter kandung kemih setelah 7 hari pemasangan kateter
urine mempunyai risiko paling besar terhadap urine indwelling. Risiko infeksi nosokomial saluran
kejadian infeksi nosokomial saluran kemih kemih pada pemasangan kateter urine indwelling
(p = 0,008). Nilai unadjusted odd ratio sebesar sebesar 5–10% per hari dan akan terjadi infeksi
Edel Weisela Permata Sari dan Prijono Satyabakti, Perbedaan Risiko Infeksi Nosokomial… 212

saluran kemih setelah pemasangan selama 10 hari dibandingkan dengan pemasangan kateter urine
(Smeltzer dan Bare, 2005). Berdasarkan penelitian < 6 hari.
yang dilakukan Bongard (2002), menyebutkan
bahwa sebanyak 50% pasien yang menggunakan Perbedaan Risiko Kejadian Infeksi Nosokomial
kateter urine indwelling selama 7–10 hari mengalami Saluran Kemih Berdasarkan Frekuensi
infeksi nosokomial saluran kemih dan meningkat Kateterisasi Urin
lebih dari 90% apabila penggunaannya lebih dari Kateterisasi urine adalah tindakan pengeluaran
30 hari. urine dengan memasukkan kateter urine dari
Menurut Soewondo (2007), pada pasien yang uretra ke menuju kandung kemih. Setiap
terpasang kateter urine indwelling ditemukan infeksi pemasangan kateter urine menjadi jalur masuk bagi
saluran kemih sebesar 3-10% per hari, sedangkan mikroorganisme untuk mencapai kandung kemih.
menurut Sudoyo et al (2006), kejadian infeksi Kateter tetap (kateter indwelling) akan berpotensi
saluran kemih asimtomatik sebesar 26% pada pasien bagi mikroorganisme untuk berkolonisasi di
terpasang kateter urine indwelling terjadi pada hari sepanjang kateter. Setiap pemasangan kateter urine
ke-2 sampai hari ke-10. Penelitian yang dilakukan menyebabkan uretra mengeluarkan sekret yang dapat
oleh Fitriani (2007), menyebutkan bahwa sebanyak menyumbat duktus periuretralis dan mengiritasi
60,42% pasien di RSUD Pandan Arang yang kandung kemih. Kondisi mukosa yang iritasi akan
menggunakan kateter urine mengalami bakteriuria menjadi jalur artifisial bagi mikroorganisme masuk
pada hari ke-7. dari uretra ke dalam kandung kemih (Smeltzer dan
Penelitian yang dilakukan oleh Conterno et Bare, 2008).
al(2011), menyebutkan bahwa pasien dengan rata- Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai
rata pemasangan kateter urine selama 6,8 hari OR sebesar 6,93 artinya pasien dengan frekuensi
mempunyai risiko sebesar 1,86 kali untuk mengalami pemasangan kateter urine > 1 kali mempunyai
infeksi nosokomial saluran kemih dibandingkan risiko 6,93 kali mengalami infeksi nosokomial
dengan pasien dengan rata-rata pemasangan kateter saluran kemih dibandingkan dengan pasien dengan
< 6,8 hari. Hasil penelitian yang dilakukan oleh frekuensi pemasangan kateter urine sebanyak
Putri et al (2011), menyebutkan bahwa ada pengaruh 1 kali. Perhitungan beda risiko (risk difference)
antara lama pemasangan kateter urine indwelling menghasilkan nilai sebesar 0,44 (44/100), artinya
terhadap kejadian infeksi nosokomial saluran kemih sebanyak 44 dari 100 pasien yang terpasang kateter
dengan OR sebesar 81,00 artinya pasien dengan dapat terhindar dari infeksi nosokomial saluran
lama pemasangan kateter urine indwelling > 3 hari kemih apabila frekuensi pemasangan kateter urine
mempunyai risiko 81 kali untuk mengalami infeksi sebanyak 1 kali atau apabila dilakukan upaya
nosokomial saluran kemih dibandingkan dengan pengurangan kateterisasi urine hingga 1 kali, maka
pasien dengan pemasangan kateter urine indwelling dapat mencegah 0,44 dari 0,79 atau 55,94% kejadian
< 3 hari. infeksi saluran kemih.
Penelitian lain yang dilakukan Lee et al Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang
(2013), menyebutkan bahwa terdapat hubungan dikemukakan oleh Smeltzer dan Bare (2008), yaitu
antara lama pemasangan kateter urin indwelling setiap pemasangan kateter urine mempunyai risiko
dengan kejadian infeksi nosokomial saluran kemih yang sama untuk mikroorganisme naik ke uretra
dengan OR sebesar 1,05 (1,03< OR< 1,86) artinya ke kandung kemih dan berkembangbiak sehingga
pasien dengan rata-rata lama pemasangan kateter menyebabkan infeksi pada ureter dan ginjal.
urin selama 28 hari mempunyai risiko 1,05 kali Mikroorganisme masuk ke dalam kandung kemih
untuk mengalami infeksi nosokomial saluran kemih melalui fecal pada meatus urinaria saat tindakan
dibandingkan dengan pasien dengan rata-rata lama insersi dan selama menetapnya kateter urine. Insersi
pemasangan kateter urin selama 16 hari. Nilai OR kateter urine yang terkontaminasi berisiko terjadi
pada penelitian Lee et al (2013), bernilai bermakna kolonisasi bakteri di permukaan kateter urine. Jalur
terhadap kejadian infeksi nosokomial saluran perjalanan mikroorganisme ke kandung kemih
kemih karena 95% CI tidak melewati angka 1,00. melalui 3 cara, yaitu dari uretra ke dalam kandung
Penelitian Semaradana (2014), menyebutkan bahwa kemih pada saat pemasangan kateter, melalui jalur
pemasangan kateter urin dalam jangka waktu lama dalam lapisan tipis cairan uretra yang berada di
(> 6 hari) mempunyai risiko 5,1 hingga 6,8 kali luar kateter, dan melalui migrasi ke dalam kandung
untuk mengalami infeksi nosokomial saluran kemih
213 Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 3, No. 2 Mei 2015: 205–216

kemih di sepanjang lumen internal kateter urine Perbedaan Risiko Kejadian Infeksi Nosokomial
yang terkontaminasi. Saluran Kemih Berdasarkan Umur Pasien
Pemasangan kateter urine dapat menurunkan Umur pasien di atas 55 tahun berisiko
daya tahan alami saluran kemih inferior dalam mengalami infeksi saluran kemih, karena terjadi
mempertahankan sterilitas terhadap mikroorganisme penurunan daya imun atau meningkatnya kerentanan
patogen. Saluran kemih di atas uretra seharusnya terhadap infeksi (Kasmad et al, 2007).
steril. Mekanisme pertahanan mekanik mampu Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai
menjaga sterilitas dan pencegahan terhadap infeksi OR sebesar 5,57 artinya pasien dengan umur
saluran kemih sehingga kandung kemih mampu > 55 tahun mempunyai risiko 5,57 kali untuk
membersihkan dirinya dari sejumlah mikroorganisme mengalami infeksi nosokomial saluran kemih
dalam dua hari sejak mikroorganisme masuk ke dibandingkan pasien dengan umur < 55 tahun.
dalam kandung kemih. Mekanisme pertahanan Perhitungan beda risiko (risk difference)
sterilitas kandung kemih yaitu melalui barier menghasilkan nilai sebesar 0,40 (40/100), artinya
fisik uretra, aliran urine, kepatenan sambungan sebanyak 40 dari 100 pasien yang terpasang kateter
uretrovesikal, enzim antibakterial, efek anti lengket dapat terhindar dari infeksi nosokomial saluran
yang dihasilkan oleh sel-sel mukosa kandung kemih kemih apabila umur pasien < 55 tahun atau apabila
Aliran urine akan membersihkan mikroorganime dilakukan indikasi pemasangan dan prosedur
yang terdapat pada saluran kemih. Kepatenan pemasangan yang tepat pada pasien dengan umur
sambungan uretrovesikal mencegah refluks urine > 55 tahun, maka dapat mencegah 0,40 dari 0,68
dari uretra ke kandung kemih sehingga mencegah atau 59,26% kejadian infeksi saluran kemih.
mikroorganisme masuk ke kandung kemih (Smeltzer Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang
dan Bare, 2008). dikemukakan oleh Smeltzer dan Bare (2008), yaitu
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang pada usia lanjut akan terjadi peningkatan kerentanan
dilakukan oleh Aziz et al (2009), menyebutkan terhadap penyakit. Pada usia di atas 50 tahun terjadi
bahwa pasien yang dilakukan pemasangan kateter penurunan kemampuan dalam mempertahankan
sebanyak < 3 kali berisiko 0,722 untuk mengalami sterilitas baik pada kandung kemih maupun uretra.
infeksi nosokomial saluran kemih dibandingkan Hal tersebut disebabkan oleh menurunnya fungsi
dengan pasien yang terpasang kateter urine yang atrofi timus. Involusi sel timus menyebabkan jumlah
terpasang > 3 kali. Hasil regresi logistik berganda sel dan kualitas respons sel T semakin berkurang.
menunjukkan bahwa frekuensi kateterisasi urine Jumlah sel T memori meningkat namun semakin
mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian sulit untuk berkembang, terutama sitotoksik
infeksi saluran kemih (p = 0,019). Nilai unadjusted sel T (CD8+) dan sel Th1 (CD4) karena terjadi
odd ratio sebesar 1,253 setelah dilakukan apoptosis. Sitotoksik sel T (CD8+) berperan dalam
penyesuaian diperoleh nilai adjusted odd ratio respons imun terhadap antigen pada sel yang
sebesar 1,723 artinya pasien dengan kateterisasi diinfeksi dengan cara membunuh sel yang terinfeksi
urine > 3 kali mempunyai 1,723 kali untuk untuk mencegah penyebaran infeksi, sedangkan
mengalami infeksi nosokomial saluran kemih sel Th1 (CD4) berperan membantu sel B untuk
dibandingkan dengan responden dengan frekuensi memproduksi antibodi (Bratawidjaja dan Rengganis,
kateterisasi urine sebanyak < 3 kali. 2009). Selain itu pada usia lanjut sering terjadi
Perhitungan beda risiko (risk difference atau inkontinensia urine yaitu kondisi medis yang
RD) dalam penelitian Aziz et al (2009), dengan nilai ditandai dengan hilanganya kendali pada kandung
insiden terpapar sebesar 0,077 dan nilai insiden tidak kemih sehingga produksi urine tidak terkontrol.
terpapar sebesar 0,092 menghasilkan nilai sebesar Inkontinensia urine dapat menyebabkan infeksi
-0,015 artinya kejadian infeksi nosokomial saluran saluran kemih berulang.
kemih sebagai akibat frekuensi kateterisasi urine Pada laki-laki aktivitas antibakterial yang
> 3 kali mempunyai risiko lebih kecil dibandingkan terkandung dalam sekresi prostat untuk melindungi
dengan frekuensi kateterisasi urine < 3 kali. Aziz et uretra dan kandung kemih dari kolonisasi bakteri
al menjelaskan bahwa tindakan pemasangan kateter mengalami penurunan seiring dengan penuaan,
menggunakan sarung tangan yang telah disterilkan sedangkan pada perempuan usia lanjut epitelium
dengan sterilisasi kering sehingga mencegah uretra mengalami atrofi akibat proses penuaan yang
masuknya mikroorganisme dari uretra ke truktus berakibat pada menurunnya kekuatan pancaran
urinarius.
Edel Weisela Permata Sari dan Prijono Satyabakti, Perbedaan Risiko Infeksi Nosokomial… 214

urine sehingga efektivitas pengeluaran bakteri meningkat. Menurut Smeltzer dan Bare (2008),
melalui kandung kemih mengalami penurunan menyebutkan bahwa pasien dengan status DM
(Smeltzer dan Bare, 2008). sangat berisiko untuk mengalami infeksi saluran
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian kemih. Abnormalitas struktur dan kandung kemih
yang dilakukan oleh Kasmad et al (2007), yang neurogenik akibat neuropati otonom atau stroke pada
menjelaskan bahwa ada umur di atas 55 tahun pasien DM menyebabkan pengosongan kandung
merupakan umur yang rentan terhadap infeksi kemih tidak normal.
nosokomial saluran kemih. Penelitian lain yang DM juga dapat menyebabkan kelainan
dilakukan Al-Hazmi (2015), menyebutkan bahwa pada sistem pertahanan tubuh yang berpotensi
sebanyak 15 dari 65 pasien (23%) dengan umur meningkat risiko terhadap infeksi. Kelainan sistem
32–54 tahun mengalami infeksi nosokomial saluran pertahanan tubuh di antaranya kegagalan migrasi
kemih, sebanyak 40 dari 97 pasien (41%) pasien sel, intracellular killing, fagositosis dan kemotaksis
dengan umur 55–62 tahun mengalami infeksi pada leukosit polymorphonuclear, serta melemahkan
nosokomial saluran kemih dan 88 dari 45 51,8% mekanisme pertahanan alamiah lokal sehingga
dengan umur di atas 62 tahun mengalami infeksi pasien DM lebih rentan terhadap infeksi. Konsentrasi
nosokomial saluran kemih. Besar risiko pasien glukosa yang tinggi di dalam urine merupakan media
dengan usia tua sebesar 1,4 kali untuk mengalami yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme
infeksi nosokomial saluran kemih dibandingkan patogen (Smeltzer dan Bare, 2008).
dengan pasien dengan usia muda. Umur yang Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
sangat muda (prematur dan neonatus) dan sangat tua yang dilakukan oleh Boyko et al (2005),
merupakan kelompok yang rentan terhadap infeksi menyebutkan bahwa sebanyak 34% wanita dengan
karena terjadi immunity system dysfunction. DM tipe 2 mendapatkan infeksi saluran kemih
setelah dilakukan pemasangan kateter selama
Perbedaan Risiko Kejadian Infeksi Nosokomial 18 hari, sedangkan wanita yang tidak menderita
Saluran Kemih Berdasarkan Status DM DM mengalami infeksi saluran kemih sebanyak
Status DM merupakan salah satu faktor risiko 19%. Penelitian yang dilakukan oleh Arya dan
kejadian infeksi nosokomial saluran kemih. Pasien Sastrodiharjo (2005), menjelaskan bahwa pasien
dengan status DM terjadi peningkatan kadar glukosa dengan status DM mempunyai risiko 3,3 kali
dalam urine sehingga meningkatkan kerentanan untuk mengalami infeksi saluran kemih setelah
terhadap infeksi (Smeltzer dan Bare, 2008). pemasangan stent ureter dibandingkan dengan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai pasien yang tidak menderita DM. Setiap kenaikan
OR sebesar 6,00 artinya pasien dengan status 1 mg/dl kadar gula puasa akan meningkatkan
DM mempunyai risiko 6 kali mengalami infeksi risiko terjadinya infeksi saluran kemih sebesar
nosokomial saluran kemih dibandingkan dengan 6%. Hasil penelitian Geerlings dan Hoepelmen
pasien yang tidak menderita DM. Perhitungan (1999), menjelaskan bahwa baik infeksi saluran
beda risiko (risk difference) menghasilkan nilai kemih asimtomatik maupun simtomatik lebih sering
sebesar 0,42 (42/100), artinya sebanyak 42 dari terjadi pada pasien DM dengan nilai OR 1,5 - 3,0
100 pasien yang terpasang kateter dapat terhindar artinya pasien dengan status DM mempunyai risiko
dari infeksi nosokomial saluran kemih apabila 1,5 hingga 3 kali untuk mengalami infeksi saluran
pasien tidak menderita DM atau apabila dilakukan kemih dibandingkan dengan pasien yang tidak
upaya pencegahan terhadap penyakit DM, maka menderita DM. Infeksi saluran kemih simtomatik
dapat mencegah 0,42 dari 0,75 atau 55,56% kejadian dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal.
infeksi saluran kemih. Penelitian yang dilakukan oleh Ariwijaya dan
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang Ketut (2007), menyebutkan bahwa kejadian infeksi
dikemukakan oleh Geerlings dan Hoepelmen nosokomial saluran kemih berhubungan dengan
(1999), yaitu pada pasien DM akan mengalami penyakit yang sedang diderita pasien yaitu pasien
gangguan granulosit (kemampuan fagosit dengan penyakit DM tipe 2 akan mendapat infeksi
terhadap mikroorganisme terganggu) dan keadaan tambahan berupa infeksi saluran kemih sebanyak
glukosuria yang menyebabkan meningkatkan 36%. DM merupakan predisposisi kejadian infeksi
jumlah mikroorganisme patogen pada sel epitelium berat pada infeksi saluran kemih bagian atas. Lebih
kandung kemih sehingga risiko untuk mengalami dari 80% kejadian infeksi saluran kemih atas terjadi
infeksi nosokomial saluran kemih semakin pada pasien DM. Hasil penelitian yang dilakukan
215 Jurnal Berkala Epidemiologi, Vol. 3, No. 2 Mei 2015: 205–216

oleh Lee et al (2013), menjelaskan bahwa sebanyak Risiko kejadian infeksi nosokomial pada
53,3% pasien yang menderita DM mengalami infeksi pasien dengan frekuensi kateterisasi urine > 1 kali
nosokomial saluran kemih. Lee et al menjelaskan sebesar 6,93 kali dibandingkan dengan pasien
bahwa terdapat pengaruh antara status DM terhadap dengan frekuensi kateterisasi urine sebanyak
kejadian infeksi nosokomial saluran kemih dengan 1 kali. Sebanyak 44 dari 100 pasien yang terpasang
nilai OR sebesar 4,55 (2,00 < OR < 10,31) artinya kateter urine dapat terhindar dari infeksi nosokomial
pasien dengan status DM mempunyai risiko saluran kemih apabila frekuensi pemasangan kateter
4,55 kali untuk menderita infeksi nosokomial saluran sebanyak 1 kali.
kemih dibandingkan dengan pasien yang tidak Risiko kejadian infeksi nosokomial pada
menderita DM. Nilai OR pada penelitian Lee et al pasien dengan umur > 55 tahun sebesar 5,57
(2013), bernilai bermakna terhadap kejadian infeksi kali dibandingkan dengan pasien dengan umur
nosokomial saluran kemih karena 95% CI tidak < 55 tahun. Sebanyak 40 dari 100 pasien yang
melewati angka 1,00. Perhitungan beda risiko (risk terpasang kateter dapat terhindar dari infeksi
difference atau RD) dengan nilai insiden terpapar nosokomial saluran kemih apabila umur pasien
sebesar 0,53 dan nilai insiden tidak terpapar sebesar < 55 tahun
0,24 menghasilkan nilai sebesar 0,29 (29/100), Risiko kejadian infeksi nosokomial pada pasien
artinya sebanyak 29 dari 100 pasien yang terpasang dengan status DM sebesar 6,00 kali dibandingkan
kateter dapat terhindar dari infeksi nosokomial dengan pasien yang tidak menderita DM. Sebanyak
saluran kemih apabila pasien tidak menderita DM 42 dari 100 pasien yang terpasang kateter dapat
atau apabila dilakukan upaya pencegahan terhadap terhindar dari infeksi nosokomial saluran kemih
penyakit DM, maka dapat mencegah 0,29 dari 0,53 apabila pasien tidak menderita DM.
atau 54,74% kejadian infeksi saluran kemih.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Semaradana Saran
(2014) menjelaskan bahwa pasien dengan status Tindakan keperawatan di Rumah Sakit
DM mempunyai risiko 2,2 hingga 2,3 kali untuk Umum Haji Surabaya terkait pemasangan kateter
mengalami infeksi nosokomial saluran kemih urine sebaiknya dilakukan penggantian kateter
dibandingkan dengan pasien yang tidak menderita urine setiap 7 hari pemasangan. Penggantian
DM. Hasil penelitian Al-Hazmi (2015), menjelaskan kateter urine harus selalu menerapkan tindakan
bahwa sebanyak 77,5% pasien yang menderita DM aseptik dengan peralatan steril untuk mencegah
mengalami infeksi nosokomial saluran kemih. transmisi mikroorganisme dari uretra ke kandung
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan regresi kemih penyebab infeksi nosokomial saluran kemih.
logistik berganda didapatkan hasil bahwa status DM Pemasangan kateter urine harus sesuai dengan
merupakan salah satu faktor risiko yang mempunyai indikasi pemasangan untuk mengurangi frekuensi
hubungan kuat dengan kejadian infeksi nosokomial kateterisasi urine pada pasien.
saluran kemih. Risiko pasien yang menderita DM Sebaiknya dilakukan observasi secara berkala
sebesar 1,1 kali dibandingkan dengan pasien yang mengenai kondisi kateter urine pasien dengan umur
tidak menderita DM > 55 tahun dan mempunyai penyakit DM yaitu
dengan selalu pengisian formulir bundle prevention
SIMPULAN DAN SARAN CAUTI (catheter associated urinary tract infection)
sebagai strategi berbasis bukti pencegahan dan
Simpulan pengendalian infeksi nosokomial saluran kemih
Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa secara tepat dan sesuai dengan kondisi pasien karena
risiko kejadian infeksi nosokomial saluran kemih usia lanjut dan penyakit DM dapat meningkatkan
pada pasien dengan pemasangan kateter urine > 7 risiko kejadian infeksi nosokomial saluran kemih.
hari sebesar 10,52 kali dibandingkan dengan pasien
dengan pemasangan kateter urine < 7 hari. Sebanyak
REFERENSI
52 dari 100 pasien yang terpasang kateter dapat
terhindar dari infeksi nosokomial saluran kemih Al-Hazmi, Hamdan. 2015. Role of Duration of
apabila dilakukan pemasangan kateter < 7 hari atau Catheterization and Length of Hospital Stay on
apabila dilakukan upaya penggantian kateter setiap The Rate Of Catheter-Related Hospital-Acquired
7 hari Urinary Tract Infections. Res Rep Urology, vol.
61, no. 7, hal. 41–47
Edel Weisela Permata Sari dan Prijono Satyabakti, Perbedaan Risiko Infeksi Nosokomial… 216

Arya, Dharma dan Sastrodiharjo B. 2005. Faktor Korean Journal of Urology, vol. 54, no. 1, hal.
Risiko yang Mempengaruhi Terjadinya Infeksi 59–65.
Saluran Kencing Pasca Pemasangan Stent Ureter. Ariwijaya, Made dan Ketut Suwira. 2007. Prevalensi,
Tesis. Denpasar: Universitas Udayana. Karakteristik dan Faktor-faktor yang Terkait
Aziz, A, A. Fauzi, dan R. Sanif. 2009. Faktor dengan Infeksi Saluran Kemih pada Penderita
Risiko Infeksi Saluran Kemih pada Pertolongan Diabetes Mellitus yang Rawat Inap. Jurnal
Persalinan Spontan di RS Moh. Hoesin Palembang. Penyakit Dalam, vol. 8, no. 2, hal.121–122.
Maj Obstetri Ginekol Indonesia, vol. 33, no.1, hal. Marwoto, A, Hari Kusnato, danDwi Handono.
18–19. 2007. Analisis Kinerja Perawat dalam
Baratawidjaja, KG dan Rengganis, I. 2009. Imunologi PengendalianInfeksi Nosokomial di Ruang
dasar. Jakarta: FKUI. IRNA 1 RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta. Tesis.
Bongard, B. 2002. Urologi Kedokteran. Jakarta: PT Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Gramedia. Prat, R. dan Pellowe, C. 2010. Good Practice in
Boyko, EJ, Fihn SD, Scholes D, AbrahamL, Monsey Management of Patients with Urethral Catheters.
B. 2005. Risk of Urinary Tract Infection and Nursing Older People, vol. 22, no. 8, hal.
Asymtomatic Bacteriuria Among Diabetic and 25–29.
Nondiabetic Postmenopausal Women. Am J Putri, RA, Yunie Armiyati, dan Mamat Supriyono.
Epidemiol, vol. 161, no. 6, hal. 557–564. 2012. Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap
Conterno, LD, Lobo JA, dan Masson. 2011. The Kejadian Infeksi Saluran Kemih pada pasien
Ecessive Use of Urinary Chateters in Patients Rawat Inap Usia 20 tahun ke Atas dengan Kateter
Hospitalized in University Hospital Wards. Menetap di RSUD Tugurejo Semarang. Jurnal
Journal Article - Research Revista da Escola Keperawatan dan Kebidanan, vol. 1, no. 1, hal.
de Enfermagem da USP, vol. 45, no. 5, hal. 1–2.
1089–1096. Sari, Edelweisela P. 2015. Hubungan Barrier Nursing
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2004, dan Kateterisasi Urine dengan Kejadian Infeksi
Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Nosokomial Urinary Tract Infection pada Pasien
Infeksi di ICU. Jakarta: Direktorat Jenderal Terpasang Indwelling Kateter Tahun 2013–2014
Pelayanan Medik Spesialistik. (Studi di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya).
Geerlings dan Hoepelmen. 1999. Immune Dysfuction Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga.
in Patients with Diabetes mellitus (DM). Korean Sastroasmoro, Sudigdo dan Sofyan Ismael. 2010.
Journal of Urolog’, vol. 3–4, hal. 259–265. Dasar-dasar Metode Penelitian Klinis. Edisi 3.
Hasbullah, T. 1993. Pengendalian Infeksi di Rumah Jakarta: CV Sagung Seto.
Sakit Persahabatan. Jakarta: Majalah Cermin Semaradana, Wayan GP. 2014. Infeksi Saluran Kemih
Dunia Kedokteran. Akibat Pemasangan Kateter – Diagnosis dan
Kasmad, Untung Sujianto, dan Wahyu Hidayati. Penatalaksanaan. Fakultas Kedokteran Udayana
2007. Hubungan antara Kualitas Perawatan CDK-221, vol. 41, no. 10, hal. 11–12.
Kateter dengan Kejadian Infeksi Nosokomial Smeltzer, SC dan Bare, BG. 2008. Textbook of
Saluran Kemih. Fakultas Kedokteran Universitas Medical-Surgical Nursing, 8th ed, Philadelphia:
Diponegoro, vol. 1, no. 1, hal. 5–6. Lippincott Williams & Wilkins.
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129 Tahun Soewondo, ES. 2007. Seri Penyakit Tropik Infeksi;
2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Perkembangan Terkini dalam Pengelolaan
Rumah Sakit. Beberapa Penyakit Tropik Infeksi. Surabaya:
Leaver, RB. 2007. The Evidence for Urethral Meatal Airlangga University Press.
Cleansing. Nursing Standar, vol. 21, no. 41, hal. Sudoyo, Setiyohadi dan Alwi. 2006. Buku Ajar Ilmu
39–42. Penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: FKUI.
Lee, JH, Kim SW, Ha US, Sohn DW, dan Cho YH. World Health Organization. 2002. Prevention of
2013. Factors That Affect Nosocomial Catheter- Hospital-Acquired Infections, A practical guide,
Associated Urinary Tract Infection in Intensive 2 nd Edition, Department of Communicable
Care Units: 2-Year Experience at a Single Center. Disease Surveillance and Response.