Anda di halaman 1dari 5

Kiasma Optik Dalam Pembentukan

Lapang Pandang
IN FISIOLOGI - ON 18:36 - NO COMMENTS

Artikel Penunjang : Pengertian,Bagian – Bagian Mata dan Fungsinya


Peran kiasma optik dalam pembentukan lapangan pandang penglihatan

Lapangan pandang merupakan lapangan penglihatan yang terihat tanpa


menggerakkan kepala. Secara teori, lapangan pandang seharusnya berbentuk
bundar, tetapi sebenarnya terpotong oleh hidung pada bagian tengah dan atap
orbita pada bagian atas. Lapangan pandang dipetakan untuk mendiagnosis
penyakit neurologik.

Pada saat cahaya masuk, separuh lapangan pandang kanan akan masuk ke
kedua mata (retina mata kanan sebelah medial dan retina mata kiri sebelah
lateral). Begitu juga dengan separuh lapangan pandang kiri akan masuk ke
retina mata kiri sebelah medial dan retina mata kanan sebelah lateral.
Kemudian setelah diterima di retina, informasi akan disalurkan ke saraf optikus
dan akan mengalami persilangan pada kaisma optikum yang terletak di bawah
hipotalamus. Di dalam kiasma optikum, serat-serat saraf bagian medial retina
akan menyebrang ke sisi kontralateral, sedangkan bagian lateral tetap pada
sisinya. Selanjutnya informasi dibawa ke traktus optikus dan terakhir ke otak.

Lesi yang terjadi pada kiasma optikum seperti tumor hipofisis akan
menyebabkan kerusakan pada serat-serat kedua hemiretina nasal (serat saraf
bagian medial) sehingga menyebabkan hemianopia heteronim (buta-separuh
pada sisi-sisi berlawanan dari kedua lapangan pandang).
Refleks pupil

Pupil merupakan lubang berbentuk bundar pada bagian tengah iris sebagai
tempat masuknya cahaya ke anterior mata. Pupil normal mempunyai diameter
berkisar antara 2 sampai 6 mm dengan rata-rata diameternya adalah 3,5 mm.
Tidak semua individu yang sehat memiliki diameter pupil yang sama. Ukuran
pupil dapat dikontrol dan disesuaikan oleh kontraksi otot-otot iris untuk
menerima banyaknya cahaya masuk ke mata. Pupil yang sempit disebut miosis
dan pupil yang lebar disebut midriasis. Dalam keadaan nyeri, takut dan cemas
akan terjadi midriasis. Sedangkan dalam keadaan tidur, tekanan intrakranial
tinggi, dan koma dapat terjadi miosis. Miosis juga dapat terjadi sebagai tanda
paralisis saraf simpatetik bagian torakal atas dan midriasis akibat paralisis saraf
okulomotorius atau hasil iritasi saraf simpatetik bagian torakal atas.
Iris mengandung dua anyaman otot polos yaitu satu sirkular (seratnya berjalan
seperti cincin di dalam iris) dan satu radial (seratnya seperti jari-jari sepeda
yaitu mengarah keluar dari tepi pupil). Pupil menjadi lebih kecil saat otot
sirkular (konstriktor) berkontraksi karena serat ototnya memendek. Kontriksi ini
terjadi pada keadaan yang sinarnya terang sehingga dapat mengurangi jumlah
sinar yang masuk ke dalam mata. Apabila otot radial berkontraksi, ukuran pupil
menjadi besar. Otot radial bersifat dilator. Dilatasi pupil terjadi saat sinar
cahaya sedikit sehingga jumlah cahaya yang masuk ke mata akan lebih banyak.
Otot-otot ini dipersarafi oleh saraf otonom. Otot sirkular untuk konstriksi pupil
oleh saraf parasimpatis, sedangkan otot radial untuk dilatasi pupil oleh saraf
simpatis.

Untuk melihat adanya tidaknya refleks pupil, kita lakukan pemeriksaan fisik.
Respon pupil diperiksa terhadap cahaya dan akomodasi. Respon pupil terhadap
cahaya dapat dilakukan dengan menggunakan senter. Pemberian rangsang
cahaya tersbut akan membuat kontriksi cepat dari pupil tersebut dan respon
stimultan dari pupil yang satunya lagi (masing-masing disebut refleks cahaya
langsung dan konsensual). Pada pemeriksaan akomodasi, pupil akan
berkontriksi jika melihat sesuatu yang dekat (fokus benda dipindahkan dari
jarak jauh ke dekat).

Lesi pada jaras refleks pupil dapat dikelompokkan menjadi defek aferen dan
defek deferen. Defek pupil aferen relatif dapat diperlihatkan dengan
menggunakan tes swinging torch/cahaya berayun yaitu dengan menyinari
secara berulang mata yang terkena kemudian mata yang sehat. Ketika cahaya
mengenai mata yang sehat, maka kedua pupil akan berkontriksi. Namun pada
saat cahaya mengenai mata yang terkena, maka kedua pupil berdilatasi. Ini
disebabkan oleh lemahnya refleks pupil langsung pada pupil yang terkena
sehingga akan diimbangi oleh penghentian stimulus dari mata normal yang akan
membuat dilatasi konsensual. Defek pupil eferen, pada saat cahaya mengenai
mata yang terkena, tidak terdapat respon apa-apa, baik cahaya langsung
maupun yang konsensual.

Ada dua sindrom pupil yang sangat terkenal, yaitu:

Pupil Argyll Robertson. Pupil kecil dan tidak beraturan dengan respon
akomodasi baik tetpi refleks cahaya menurun dan sama sekali tidak ada.
Biasanya kondisi ini bersifat bilateral.

Pupil miotonik. Dilatasi pupil terganggu, refleks cahaya terganggu, kontriksi


sangat lambat saat melihat dekat. Kondisi ini bersifat benigna dan dapat
menjadi bilateral, atau mungkin berhubungan dengan tiadanya refleks dari
tendon (sindrom Holmes-Adie).

Referensi:
 Ganong,William F.2003.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC
 Ginsberg,Lionel.2008.Neurologi.Jakarta : Erlangga
 Muttaqin,Arif.2008.Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan
Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika
 Sherwood,Lauralee.2012. Fisiologi Manusia.Jakarta : EGC