0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
328 tayangan11 halaman

Kerajaan Aceh

Teks tersebut membahas tentang: 1. Letak strategis Kerajaan Aceh yang berkembang pesat pada masa Sultan Iskandar Muda 2. Sejarah penguasa Kerajaan Aceh dari Sultan Ali Mughayat Syah hingga Sultan Muhammad Daud Syah 3. Hubungan erat antara Kerajaan Aceh dengan Kesultanan Turki Utsmaniyah mulai abad ke-16 hingga ke-19 untuk membendung pengaruh Portugis

Diunggah oleh

tyoranudi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
328 tayangan11 halaman

Kerajaan Aceh

Teks tersebut membahas tentang: 1. Letak strategis Kerajaan Aceh yang berkembang pesat pada masa Sultan Iskandar Muda 2. Sejarah penguasa Kerajaan Aceh dari Sultan Ali Mughayat Syah hingga Sultan Muhammad Daud Syah 3. Hubungan erat antara Kerajaan Aceh dengan Kesultanan Turki Utsmaniyah mulai abad ke-16 hingga ke-19 untuk membendung pengaruh Portugis

Diunggah oleh

tyoranudi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

a.

Letak Kerajaan

Kerajaan Aceh berkembang sebagai kerajaan Islam dan mengalami kejayaan pada masa
pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Perkembangan pesat yang dicapai Kerajaan Aceh tidak lepas
dari letak kerajaannya yang strategis, yaitu di Pulau Sumatera bagian utara dan dekat jalur pelayaran
perdagangan internasional pada masa itu. Ramainya aktivitas pelayaran perdagangan melalui bandar
– bandar perdagangan Kerajaan Aceh, mempengaruhi perkembangan kehidupan Kerajaan Aceh
dalam segala bidang seperti politik, ekonomi, sosial, budaya.

b. Kehidupan Politik

Berdasarkan Bustanus salatin ( 1637 M ) karangan Naruddin Ar-Raniri yang berisi silsilah sultan
– sultan Aceh, dan berita – berita Eropa, Kerjaan Aceh telah berhasil membebaskan diri dari Kerajaan
Pedir. Raja – raja yang pernah memerintah di Kerajaan Aceh :

1. Sultan Ali Mughayat Syah

Adalah raja kerajaan Aceh yang pertama. Ia memerintah tahun 1514 – 1528 M. Di bawah
kekuasaannya, Kerjaan Aceh melakukn perluasan ke beberapa daerah yang berada di daerah Daya
dan Pasai. Bahkan melakukan serangan terhadap kedudukan bangsa Portugis di Malaka dan juga
menyerang Kerajaan Aru.

2. Sultan Salahuddin

Setelah Sultan Ali Mughayat Wafat, pemeintahan beralih kepada putranya yg bergelar Sultan
Salahuddin. Ia memerintah tahun 1528 – 1537 M, selama menduduki tahta kerajaan ia tidak
memperdulikan pemerintahaan kerajaannya. Keadaan kerajaan mulai goyah dan mengalami
kemerosostan yg tajam. Oelh karena itu, Sultan Salahuddin digantiakan saudaranya yg bernama
Alauddin Riayat Syah al-Kahar.

3. Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar

Ia memerintah Aceh dari tahun 1537 – 1568 M. Ia melakukan berbagai bentuk perubahan dan
perbaikan dalam segala bentuk pemeintahan Kerajaan Aceh.

Pada masa pemeintahannya, Kerajaan Aceh melakukan perluasaan wilayah kekuasaannya seperti
melakukan serangan terhadap Kerajaan Malaka ( tetapi gagal ). Daerah Kerajaan Aru berhasil
diduduki. Pada masa pemerintahaannya, kerajaan Aceh mengalami masa suram. Pemberontakan
dan perebutan kekuasaan sering terjadi.
4. Sultan Iskandar Muda

Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh tahun 1607 – 16 36 M. Di bawah


pemerintahannya, Kerjaan Aceh mengalami kejayaan. Kerajaan Aceh tumbuh menjadi kerjaan besar
adn berkuasa atas perdagangan Islam, bahakn menjadi bandar transito yg dapat menghubungkan
dgn pedagang Islam di dunia barat.

Untuk mencapai kebesaran Kerajaan Ace, Sultan Iskandar Muda meneruskan perjuangan Aceh dgn
menyerang Portugis dan Kerajaan Johor di Semenanjung Malaya. Tujuannya adalah menguasai jalur
perdagangan di Selat Malaka dan menguasai daerah – daerah penghasil lada. Sultan Iskandar Muda
juga menolak permintaan Inggris dan Belanda untuk membeli lada di pesisir Sumatera bagian barat.
Selain itu, kerajaan Aceh melakukan pendudukan terhadap daerah – daerah seperti Aru, pahang,
Kedah, Perlak, dan Indragiri, sehingga di bawah pemerintahannya Kerajaan aceh memiliki wilayah
yang sangat luas.

Pada masa kekeuasaannya, terdapat 2 orang ahli tasawwuf yg terkenal di Ace, yaitu Syech
Syamsuddin bin Abdullah as-Samatrani dan Syech Ibrahim as-Syamsi. Setelah Sultam iskandar Muda
wafat tahta Kerajaan Aceh digantikan oleh menantunya, Sultan Iskandar Thani

5. Sultan Iskandar Thani.

Ia memerinatah Aceh tahun 1636 – 1641 M. Dalam menjalankan pemerintahan, ia melanjutkan


tradisi kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Pada masa pemerintahannya, muncul seorang ulama besar
yg bernama Nuruddin ar-Raniri. Ia menulis buku sejarah Aceh berjudul Bustanu’ssalatin. Sebagai
ulama besar, Nuruddin ar-Raniri sangat di hormati oleh Sultan Iskandar Thani dan keluarganya serta
oleh rakyat Aceh. Setelah Sultan Iskandar Thani wafat, tahta kerjaan di pegang oleh permaisurinya (
putri Sultan Iskandar Thani ) dgn gelar Putri Sri Alam Permaisuri ( 1641-1675 M ).

6. Sultan Sri Alam (1575-1576).

7. Sultan Zain al-Abidin (1576-1577).

8. Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589)

9. Sultan Buyong (1589-1596)

10. Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604).

11. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607)

12. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636).

13. Iskandar Thani (1636-1641).

14. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675).

15. Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)


16. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)

17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699)

18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702)

19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)

20. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)

21. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)

22. Sultan Syams al-Alam (1726-1727)

23. Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735)

24. Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760)

25. Sultan Mahmud Syah (1760-1781)

26. Sultan Badr al-Din (1781-1785)

27. Sultan Sulaiman Syah (1785-…)

28. Alauddin Muhammad Daud Syah.

29. Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) dan (1818-1824)

30. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)

31. Sultan Muhammad Syah (1824-1838)

32. Sultan Sulaiman Syah (1838-1857)

33. Sultan Mansur Syah (1857-1870)

34. Sultan Mahmud Syah (1870-1874)

35. Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)

c. Kehidupan Ekonomi

Dalam kejayaannya, perekonomian Kerajaan Aceh bekembang pesat. Dearahnya yg subur


banyak menghasilkan lada. Kekuasaan Aceh atas daerah – daerah pantai timur dan barat Sumatera
menambah jumlah ekspor ladanya. Penguasaan Aceh atas beberapa daerah di Semenanjung Malaka
menyebabkan bertambahnya badan ekspor penting timah dan lada.

Aceh dapat berkuasa atas Selat Malaka yg merupakan jalan dagang internasional. Selain
bangsa Belanda dan Inggris, bangsa asing lainnya seperti Arab, Persia, Turki, India, Siam, Cina,
Jepang, juga berdagang dgn Aceh. Barang – barang yg di ekspor Aceh seperti beras, lada ( dari
Minagkabau ), rempah – rempah ( dari Maluku ). Bahan impornya seperti kain dari Koromendal
( india ), porselin dan sutera ( dari Jepang dan Cina ), minyak wangi ( dari Eropa dan Timur Tengah ).
Kapal – kapal Aceh aktif dalam perdagangan dan pelayaran sampai Laut Merah.

d. Kehidupan Sosial

Meningkatnya kekmakuran telah mneyebabkan berkembangnya sisitem feodalisme & ajaran


agama Islam di Aceh. Kaum bangsawan yg memegang kekuasaan dalam pemerintahan sipil disebut
golongan Teuku, sedabg kaum ulama yg memegang peranan penting dlm agama disebut golongan
Teungku. Namun antara kedua golongan masyarakat itu sering terjadi persaingan yg kemudian
melemahkan aceh. Sejak berkuasanya kerajaan Perlak ( abad ke-12 M s/d ke-13 M ) telah terjadi
permusuhan antara aliran Syiah dgn Sunnah Wal Jamma’ah. Tetapi pd masa kekuasaan Sultan
Iskandar Muda aliran Syiah memperoleh perlindungan & berkembang sampai di daera – daerah
kekuasaan Aceh.

Aliran ini di ajarkan oleh Hamzah Fasnsuri yg di teruskan oleh muridnya yg bernama Syamsudin
Pasai. Sesudah Sultan Iskandar Mud wafat, aliran Sunnah wal Jama’ah mengembangkan islam
beraliran Sunnah wal Jama’ah, ia juga menulis buku sejarah Aceh yg berjudul Bustanussalatin (
taman raja – raja dan berisi adat – istiadat Aceh besrta ajarn agama Islam )

e. Kehidupan Budaya

Kejayaan yg dialami oleh kerajaan Aceh tsb tidak banyak diketahui dlm bidang kebudayaan.
Walupun ada perkembangan dlm bidang kebudaaan, tetapi tdk sepesat perkembangan dalam
ativitas perekonomian. Peninggalan kebuadayaan yg terlihat nyata adala Masjid Baiturrahman.

Penyebab Kemunduran Kerajaan Aceh

* Setelah Sultan Iskandar Muda wafat tahun 1030, tdk ada raja – raja besar yg mampu
mengendalikan daerah Aceh yg demikian luas. Di bawah Sultan Iskandar Thani ( 1637 – 1641 ),
sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda, kemunduran itu mulai terasa & terlebih lagi setelah
meninggalnya Sultan Iskandar Thani.

* Timbulnya pertikaian yg terus menerus di Aceh aantara golongan bangsawan ( teuku ) dgn
golongan utama ( teungku ) yg mengakibatkan melemahnya Kerajaan Aceh. Antara golongan ulama
sendiri prtikaian terjadi karena prbedaan aliran dlmm agama ( aliran Syi’ah dan Sunnah wal Jama’ah
)

* Daerah kekuasaannya banyak yg melepaskan diri seperti Johor, Pahang, Perlak, Minangkabau,
dan Siak. Negara – negara itu menjadikan daerahnya sbg negara merdeka kembali, kadang – kadang
di bantu bangsa asing yg menginginkan keuntungan perdagangan yg lebuh besar.
Kerajaan Aceh yg berkuasa selama kurang lebih 4 abad, akhinya runtuh karena dikuasai oleh Belanda
awal abad ke-20.

B. Hubungan Kerajaan Aceh dengan Luar

1. Hubungan Aceh dengan Turki

Turki Ottoman dan Aceh, dua kesultanan yang secara geografis terpisah sangat jauh.
Dua kesultanan ini pernah memiliki kedekatan hubungan bilateral yang cukup lama terjalin,
antara abad ke 16 hingga abad ke 19. Sebenarnya Aceh bukanlah kerajaan pertama di Asia
Tenggara yang pernah memiliki hubungan dengan Turki Ottoman, Kesultanan Samudera
Pasai juga tercatat pernah memiliki hubungan perdagangan dengan Turki, dimana hubungan
perdagangan tersebut terjalin karena pada awalnya banyak pedagang Turki yang ikut
dengan rombongan pedagang india ke beberapa kerajaan di Nusantara, dan juga atas
rekomendasi seorang muslim terkenal dari Afrika utara, yaitu Ibnu Battuta yang pernah
berkunjung ke samudera pasai.
Sedangkan untuk hubungan antara Aceh dan Ottoman dimulai ketika Aceh yang
menganggap kedatangan portugis di malaka sebagai ancaman sehingga mengirimkan duta
ke Ottoman untuk meminta dukungan. Pengiriman duta oleh Sultan Alauddin Al-Qahhar ke
Ottoman dikarenakan sang Sultan menganggap Ottoman salah satu kerajaan terbesar saat
itu yang memiliki kesamaan Agama dengan Aceh, sehingga mungkin saja bisa membantu
aceh mencegah ekspedisi Portugis di Selat Malaka dengan memainkan isu Agama. Surat
beliau ditujukan kepada Khalifah Suleyman Al-Kanuni. Tetapi kemudian sampai pada masa
Sultan Selim II. Pengiriman bantuan dari Ottoman ke Aceh sempat tertunda karena armada
yang dipersiapkan untuk membantu Aceh harus dikirim terlebih dahulu ke Yaman, untuk
meredakan pemberontakan yang terjadi disana. Baru pada tahun 1566, bantuan dari
Ottoman tiba di Aceh dibawah pimpinan Kurdoglu Hizir Reis. Dikatakan Aceh membayar
bantuan tersebut dengan Emas, Permata, dan Beras.
Sebuah manuskrip di Istanmbul Turki menguak sepotong sejarah tentang hubungan
antara Khilafah Turki Utsmani dengan Kerajaan Aceh yang memang dikenal memiliki
hubungan yang erat. Manuskrip itu berupa sebuah surat bertulis tangan yang dikirimkan
oleh Sultan Aceh, Alauddin Manshur kepada Khalifah Utsmani tahun 1869 yang berisi
permintaan agar seluruh warga Aceh diakui sebagai warga Utsmani.
Seperti diketahui, pada tahun 1565 dimulailah apa yang disebut sebagai ekspedisi
Khilafah Utsmaniyah ke Aceh. Saat itu, Khilafah Utsmaniyah berusaha mendukung
Kesultanan Aceh yang bertempur melawan Portugis di Malaka. Ekspedisi dilancarkan setelah
dikirimnya duta oleh Sultan Alauddin al-Qahhar (1539–1571) kepada Sultan Suleiman Al-
Qanuni pada tahun 1564, atau bahkan sekitar tahun 1562 yang meminta dukungan Turki
kepada Aceh kala melawan Portugis.
Setelah wafatnya Suleiman al-Qanuni pada tahun 1566, putranya Sultan Selim II
memerintahkan pengiriman armada ke Aceh. Sejumlah prajurit, pembuat senjata, dan
insinyur diangkut oleh armada tersebut, bersama dengan pasokan senjata dan amunisi yang
melimpah. Armada pertama terdiri atas 15 dapur yang dilengkapi dengan artileri, namun
dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman. Akhirnya, hanya 2 kapal yang tiba
antara tahun 1566–1567, namun sejumlah armada dan kapal lain menyusul. Ekspedisi itu
dipimpin oleh Kurdoglu Hizir Reis. Orang Aceh membayar kapal tersebut dengan mutiara,
berlian, dan rubi. Pada tahun 1568, Aceh menyerang Malaka yang tengah diduduki Portugis,
meskipun Turki tak nampak ikut serta secara langsung.
Usmaniyah mengajari Aceh bagaimana membuat meriam, yang pada akhirnya banyak
diproduksi. Dari awal abad ke-17, Aceh dapat berbangga akan meriam perunggu ukuran
sedang, dan sekitar 800 senjata lain seperti senapan putar bergagang dan arquebus.
Ottoman juga mengajari Aceh bagaimana cara membuat meriam dan mesiu, dan pada
abad ke 17, Aceh bisa berbangga hati karena bisa membuat meriam perunggu ukuran
sedang. Bahkan pada saat itu atas bantuan Ottoman, Aceh juga berhasil membuat senapan
putar bergagang dan arquebus. Hubungan Ottoman dengan Aceh mengakibatkan
berkembangnya pertukaran antara Ottoman dengan Aceh dalam bidang militer,
perdagangan, dan agama. Bahkan pada saat itu kapal – kapal Aceh sempat diizinkan
mengibarkan bendera Ottoman. Dan hubungan erat antara Ottoman dengan Aceh ini sangat
menghambat misi portugis untuk memonopoli perdagangan rempah – rempah, bahkan
Portugis sempat ingin menyerang Aceh, namun gagal karena minimnya sumber daya
manusia di Laut Hindia.
Waktu terus berjalan, dan aceh kembali mendapatkan ancaman yang kali ini datang
dari Belanda. Pada tahun 1872 – 1873 Belanda ingin memperluas jajahannya, dan berniat
untuk menyerang Aceh. Sultan Aceh pada saat itu langsung mengirimkan surat ke Sultan
Ottoman untuk kembali meminta bantuan. Namun pada saat ini Sultan Ottoman sudah
mulai kehilangan kekuasaannya, para menteri di Porte lah yang memiliki kekuasaan lebih
pada saat itu.
Dan para menteri Ottoman pada saat itu lebih cenderung untuk tidak mengirimkan
bantuan ke Aceh, walau sang Sultan secara pribadi berkeinginan untuk membantu. Hal ini
juga dipengaruhi oleh tekanan Inggris dan Perancis yang meminta Ottoman agar tidak ikut
campur. Memang masa ini merupakan masa – masa diujung kehancuran Ottoman, lebih
tepatnya kurang dari 40 tahun sebelum masa kehancuran Ottoman.
Hal ini diperjelas dengan sebuah buku tulisan peneliti sosiologi Muslim dari Istanbul,
Turki, yang bernama Dr Mehmet Ozay. Ia menulis sejarah hubungan dua kerajaan ini pada
bukunya yang baru diluncurkan pada 26 Desember dengan judul Kesultanan Aceh dan Turki-
Antara Fakta dan Legenda.
Dua wilayah yang terpisahkan oleh ribuan kilometer jaraknya ini menjalin suatu
hubungan atas dasar kesamaan ideologis dan agama. Persekutuan Aceh-Turki Utsmani
secara tak resmi sudah ada sejak tahun 1530-an di saat Sultan Alauddin al-Qahhar
berkeinginan mengembangkan hubungan tersebut, untuk mencoba mengusir Portugis dari
Malaka, dan memperluas kekuasaannya di Sumatera. Menurut Fernão Mendes Pinto, Sultan
Aceh merekrut 300 prajurit Utsmaniyah, beberapa orang Abesinia dan Gujarat, serta 200
saudagar Malabar untuk menaklukkan Tano Batak pada tahun 1539.
Setelah tahun 1562, Aceh nampaknya sudah menerima bala bantuan Turki yang
memungkinkannya menaklukkan Kerajaan Aru dan Johor pada tahun 1564. Dalam buku
Kesultanan Aceh dan Turki-Antara Fakta dan Legenda tersebut dijelaskan, bahwa sultan
ketiga Kerajaan Aceh Darussalam, yaitu Sultan Alaiddin Riyat Syah al-Qahhar, melakukan
tindakan monumental kala itu.
Sang sultan mengirimkan utusan, di antaranya, bernama Omar dan Hussain, untuk
menemui pejabat Kesultanan Ottoman pada 7 Januari 1565 dengan membawa sejumlah
besar komoditas berharga ke Konstantinopel. Peristiwa tersebut dikenal dengan lada
sicupak. Saat utusan Aceh tiba di Konstantinopel pada 1565, Sultan Turki Usmani pada saat
itu, Sulaiman, sedang memimpin pasukan dalam peperangan melawan Hungaria di medan
perang Szigetwar di Eropa Timur.
Menanti masa berlangsungnya peperangan tersebut serta mangkatnya Sultan
Sulaiman menyebabkan utusan Aceh itu menghabiskan waktu lebih lama di
Konstantinopel. Dengan usaha sendiri, mereka menyewa tempat dan menafkahi diri mereka
sendiri dengan menjual komoditas yang mereka bawa bersama dengan hadiah yang akan
dipersembahkan kepada sultan. Setelah Selim II, putra Sultan Sulaiman, selesai dilantik,
barulah utusan Aceh memperoleh kesempatan untuk melakukan kunjungan resmi ke Istana,
yakni dua tahun setelah kedatangan mereka di Turki. Untuk menafkahi diri mereka selama
berada di Turki, mereka terpaksa menjual semua komoditas lada yang mereka miliki,
termasuk bagian yang sebenarnya telah mereka niatkan untuk dihadiahkan kepada Sultan.
Yang tersisa di tangan mereka hanyalah secupak (segenggam) dan itulah yang dapat
mereka tawarkan kepada sultan yang baru saja naik takhta. Dalam pertemuan resmi
tersebut, sultan Turki Usmani memutuskan untuk mengupayakan bantuan militer ke Aceh
yang di antaranya termasuk sebuah meriam yang secara simbolis dinamakan lada
sicupak. Peristiwa lada sicupak ini meningkatkan hubungan politik-militer antara kekuatan
Timur Tengah dan mitranya di Asia Tenggara. Upaya sultan Aceh tersebut sangat
berpengaruh hingga mengalihkan perhatian Konstantinopel dari Samudera Hindia wilayah
barat ke Sumatra, Asia Tenggara.
Sultan Turki Ottoman tidak meminta Aceh supaya mengirim upeti tahunan yang
biasanya diminta dari masing-masing negara pengikut sebagaimana lazimnya tradisi pada
masa itu.Bantuan ini bukanlah semacam belas kasihan yang diberikan oleh pusat kekuasaan
di Istanbul, tetapi suatu pertimbangan politik secara khusus sebagai hibah politik kepada
Kesultanan Aceh untuk menyempurnakan kedaulatannya.
Setelah menerima kedatangan rombongan dari Aceh walau hanya menyerahkan
sedikit lada saja, mereka mendapatkan kepercayaan dari Sultan Turki Usmani saat itu, yakni
Selim II.Dia setuju untuk mengirimkan bantuan berupa tentara dengan rombongan
beberapa kapal ke Aceh. Dalam penyerahan secara simbolisnya, peneliti sosiologi Muslim
dari Turki, Dr Mehmet Ozay, menulis bahwa Sultan Turki menyerahkan sebuah meriam
sebagai simbolis pengiriman bantuan, meriam tersebut dikenal sebagai meriam Lada
Sicupak. Rombongan yang dikirimkan oleh Sultan Turki tersebut tidak sepenuhnya bekerja
untuk melakukan peperangan langsung melawan Portugis, seperti yang dibutuhkan Aceh.
Namun, mereka juga membuat lembaga pendidikan militer dan melatih rakyat serta
pasukan Aceh agar bisa menguasai taktik dan strategi peperangan yang andal. Mereka juga
mengajarkan rakyat Aceh untuk membuat meriam dan membuat kapal yang bisa
menampung meriam di dalamnya.
Karya lama Aceh berjudul Hikayat Meukuta Alam yang disampaikan sebagai cerita
lisan tentang hubungan Aceh dan Turki menegaskan, Meriam Lada Sicupak tersebut
dilindungi di Aceh sampai pecah Perang Belanda pada 1873. Ada beberapa artikel yang
menceritakan meriam ini yang diterbitkan pada pertengahan abad ke-20 di
Istanbul. Sayangnya, bukti simbolis hubungan antara Aceh dan Turki itu nasibnya sungguh
menyedihkan. Selama fase kedua invasi Belanda di Banda Aceh, meriam ini dan beberapa
meriam lainnya diambil oleh tentara Belanda dan kemudian dikirim bersama dengan
artefak-artefak lainnya ke negara asal mereka di Eropa.
Meriam-meriam ini sebenarnya bukan hanya aset dan warisan budaya yang tak
ternilai harganya, tetapi juga merupakan bukti konkret hubungan antara Aceh dan Turki.
Barangkali, ini pula mengapa bendera Aceh hingga saat ini menggunakan lambang bulan
bintang sebagai bentuk eratnya hubungan kedua wilayah seideologis ini.
2. Kerajaan Aceh dan Semenanjung Melayu (1537-1604 M)

Dalam proses memperluas wilayah dan memerangi Portugis yang berpangkalan di


Malaka sejak 1511 M, mau tidak mau, Kerajaan Aceh telah menjalin hubungan dengan
kerajaan-kerajaan di Semenanjung Melayu. Dialah Sultan Alauddin Riayat Syah (1537-1568),
yang kemudian digelar Al-Qahar (gagah perkasa) karena ketangkasan dan kegigihannya
dalam menentang penjajahan Portugis. Beliau dilantik menjadi Sultan setelah
menggulingkan saudaranya Sultan Salahuddin bin Sultan Ali Mughayat Syah, karena
mengabaikan tugas-tugas pemerintahan dan terlalu lemah dalam menghadapi Portugis.
Setelah berhasil mengalahkan Portugis, Sultan berniat menguasai Malaka, namun tidak
berhasil. Setelah beliau wafat, daerah-daerah yang sudah dipersatukan mulai goyah, karena
hasutan-hasutan Portugis. Portugis tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk
mengadu domba penguasa-penguasa setempat. Kita mengenalnya dengan politik ‘devide et
impera’.
Sejak awal, ketika mereka meninggalkan Liberia dan Tanjung Pengharapan (Cope Of
Good Hope) di selatan Afrika, semangat Perang Salib telah berkobar di jiwa mereka.
Keberhasilan mereka dalam membebaskan tanah air dari eluruh penduduk bumi Timur. Dan
untuk memenuhi semua tujuanpenguasa Islam, menimbulkan rasa bangga sekaligus ingin
menaklukkan serta mengkristenkan s itu, mereka menghalalkan berbagai cara, baik itu
merampok, menipu maupun mengadu domba antar penguasa setempat demi merampas
semua kekayaan di kawasan timur. Sehubungan dengan hal itu pula, Portugis menghasut
Aru agar memberontak terhadap pemerintah Aceh. Tetapi, Sultan Al-Qahar bertindak tegas.
Dengan alasan ingin mengislamkan Sumatera Timur dan daerah Batak, Sultan menyerang
Aru pada tahun 1579 M. Dalam penyerangan itu, pasukan sultan berhasil menaklukkan Aru.
Namun, Ratu Aru sempat melarikan diri dan memohon perlindungan kepada Sultan Johor,
setelah gagal memperoleh bantuan dari Portugis di Malaka. Sejak saat itulah, persaingan
antara Kerajaan Aceh dan Johor memanas.
Perlu disebutkan disini bahwa Johor merupakan lanjutan dari Kesultanan Malaka, yang
pernah berjaya disekitar abad ke-15 hingga awal abad ke-16 M. Pada masa itu, menguasai
Aru merupakan hal yang sangat penting bagi kedua kerajaan ini. Bagi Aceh, Aru merupakan
kawasan yang penting untuk memperluas wilayahnya ke Siak, tanah Batak dan seterusnya
untuk menyerang Malaka, karena letaknya berhadapan langsung dengan Bandar
perdagangan itu. Lagi pula, Aru harus ditaklukkan, karena ia telah berkali-kali
dijadikan pangkalan oleh Johor, Portugis maupun Batak untuk menyerang Aceh. Sedangkan
bagi Johor, Aru merupakan ujung tombak dalam usahanya menguasai Sumatera Timur yang
kaya akan lada dan memperluas kekuasaannya sebagaimana yang pernah dicapai oleh
Malaka.
Pada tahun 1540 M, berkat hasutan Ratu Aru, Johor dengan sekutunya Bintan, Siak,
Indragiri, Perak dan Pahang memulai serangan ke Kerajaan Aceh. Mereka bersekutu karena
merasa tidak sanggup jika harus menghadapi armada Aceh yang terkenal dengan
kehebatannya. Dalam satu pertempuran yang sengit di laut, Aceh berhasil dikalahkan oleh
pihak sekutu itu. Walaupun saat itu Aceh berhasil dikalahkan, namun 7 tahun kemudian,
Aceh berhasil membangun kembali armada yang kuat untuk kembali menyerang Malaka.
Sultan Al-Qahar hampir berhasil. anehnya, Perak dan Pahang yang sama-sama membenci
Portugis karena telah merampas Malaka, tanah tumpah darah nenek moyang mereka, justru
membantu Portugis untuk mengalahkan angkatan perang Aceh. Namun mereka terlambat,
karena satu hari sebelumnya Portugis telah berhasil mengusir armada Aceh dari perairan
Malaka. Peristiwa ini sangat penting, karena menggambarkan betapa takutnya kerajaan-
kerajaan ini kepada Aceh. Mereka rela membantu bangsa asing yang kejam dan berbeda
keyakinan demi mengalahkan Aceh yang masih seagama dan sebangsa. Hal ini juga
membuktikan bahwa penguasa-penguasa islam di Nusantara ketika itu lebih mementingkan
persoalan politik dan ekonomi masing-masing daripada kepentingan agama.
Bagi sultan Al-Qahar, kekalahannya di Malaka tidak akan menyurutkan tekadnya untuk
terus merebut bandar itu dari Portugis. Sebelum beliau wafat, beliau telah menyiapkan
pasukan yang besar dan terstruktur. Ia membentuk suatu liga bangsa-bangsa islam untuk
mengusir Portugis dari Nusantara. Demi menambah kekuatan liga itu, beliau mempererat
hubungan diplomasi dengan negara-negara islam, seperti Turki Utsmaniyah, Mughal di
India, negeri-negeri Arab dan beberapa kerajaan islam di Jawa. Menurut Bustanus Shalatin,
Sultan Turki Utsmaniyah yang bernama Sultan Rum, mengirimkan beberapa orang pakar
untuk merakit senjata dan meriam ke Aceh.
Tindakan pertama yang dilakukan Sultan Al-Qahar adalah menyerang Johor, sekutu
Portugis, agar tidak dapat membantu Malaka ketika bandar itu diserang nanti. Ia
memulainya dengan mengusir semua pembesar Johor dari Aru. Kemudian ia menyerang
Johor Lama, ibukota Johor saat itu. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1564. Sultan Alauddin II
beserta keluarga dan beberapa pembesar Johor dibawa ke Aceh sebagai tawanan. Namun,
Sultan Alauddin II akhirnya dibunuh karena tidak mau tunduk kepada pemerintah Aceh dan
membantu memerangi Portugis.
Untuk mengambil hati lawannya agar mau tunduk kepada Kerajaan Aceh dan
bekerjasama melawan Portugis, Sultan menikahkan putrinya dengan Raden Bahar, yaitu
putera Alm. Sultan Alauddin II. Setelah itu, Raden Bahar dikembalikannya ke Johor untuk
menjadi raja disana. Perkawinan yang didasarkan atas kepentingan politik seperti ini
bukanlah hal baru. Ini biasa dilakukan masyarakat zaman dahulu, untuk menyelesaikan
suatu permasalahan yang terjadi.
Tetapi, perdamaian antara Aceh dan Johor tidak bertahan lama karena Raden Bahar
yang dinobatkan sebagai Sultan Muzaffar Syah menganggap Aceh sebagai musuh yang
merusak negerinya. Raden Bahar menanti saat yang tepat untuk membalas dendam. Oleh
karena itu, ketika Sultan Al-Qahar menyerang Malaka pada tahun 1568 M, Raden Bahar
berangkat ke Malaka untuk membantu Portugis mematahkan serangan armada Aceh. Tapi,
beliau terlambat, angkatan laut Aceh telah meninggalkan Malaka sehari sebelumnya.
Keterlibatan Johor dalam konflik antara Aceh dan Malaka, menyebabkan Sultan Al-Qahar
marah besar. Karena itu, Sultan mengirimkan armada Aceh untuk menyerang Portugis di
Malaka pada tahun 1570 M.
Bagaimana Kerajaan Aceh dan kerajaan-kerajaan Melayu Malaysia saling serang demi
memperluas pengaruhnya kala itu. Tidak ada yang secara jelas melukiskan hubungan dalam
bidang ekonomi maupun sosial.
3. Hubungan Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Pahang

Hubungan antar Aceh dengan Pahang terjalin tepatnya era Iskandar Muda saat
menaklukkan Portugis yang sudah mencokol di wilayah Pahang. Pada tahun 1617 M Sultan
Iskandar Muda menakhlukkan Portugis dan membuka hubungan dengan Kesultanan
Pahang, hingga pada akhirnya membawa beberapa penduduk kampung (migrasi) Pahang ke
Aceh, salah satunya Sultan Husain atau dikenal dengan Sultan Iskandar Tsani. Secara
historis, negeri Pahang memiliki sejarah panjang dan romantis dengan beberapa kesultanan
negeri di luar Malaysia, termasuk Aceh.
Negeri Pahang sekarang dikenal dengan Pahang Darul Makmur merupakan salah satu
negara bagian Malaysia. Periode Islamisasi, ada dua versi pendapat yang sama kuat,
pertama Islam dari Kesultanan Pasai, dan kedua berasal dari Kesultanan Fathani. Walaupun
jalur Islam Fathani juga berasal dari Pasai. Namun, masyarakat disini lebih condong ke
Fathani dengan melihat beberapa kelompok masyarakat, tradisi dan budaya yang hidup saat
ini menyatu dengan wilayah Thailand Selatan.
Sepertinya bagi Aceh lebih dari proses Islamisasi, sebab misi utama adalah mengusir
Portugis dari wilayah-wilayah Melayu Nusantara. Jika ditinjau lebih jauh, Sultan Iskandar
Tsani pun menaruh dendam besar terhadap Portugis, sebab dalam catatan Nuruddin Ar-
Raniry menyebutkan bahwa Sultan Husain memenggal kepala orang Portugis saat ia menjadi
Sultan di Aceh (1637-1640). Iskandar Tsani sendiri sudah berada di Aceh sejak berumur 7
tahun, pada saat Aceh menguasai Pahang. Dalam Bustanus Salatin tertulis dalam bab 2 pasal
13. "Dan kemudian dari itu menaklukkan negeri Pahang pada hijrah Seribu Dua Puluh Enam
[1026/ 1617 M] tahun, adapun menaklukkan negeri Pahang itu adalah didalamnya hikmah
Allah yang terlalu ajib". (Ms. Bustanus Salatin)
Dalam subbab dan kitab yang sama "Syahdan, bahwa Seri Sultan Raja Iskandar Muda
Johan Berdaulat mentaklukkan negeri Pahang itu adalah dalamnya hikmah Allah yang
terlalu ajib dan pada kudrat-Nya yang amat gharib pada berlakukan iradat-Nya atas
seorang hamba yang dipilihnya..." (Ms. Bustanus Salatin)
"Demikian lagi Allah Ta’ala menaklukkan negeri Pahang itu karena hendak mengarunia
kerajaan Aceh akan paduka Seri Sultan Iskandar Tsani Mughayat Syah Johan Berdaulat
dhillullah fil ‘alam." (Ms. Bustanus Salatin)
Kemudian, Iskandar Tsani dinikahkan dengan puteri Sultan Iskandar Muda, Sultanah
Safiyatuddin Syah Tajul Alam, sebelum ia menjadi Sultan. Saat Iskandar Tsani menjadi Sultan
Aceh (1647 M), ia mengunjungi wilayah Pasai, ada beberapa daerah disinggahinya selama
dalam perjalanan. Sejauh peninggalan historis tersebut diketahui bahwa beberapa nama
tempat sudah melekat sejak zaman kesultanan.
Di Pasai, menunjukkan periode tersebut masih banyak pembuat (pemahat) batu nisan
yang indah dan beragam. Oleh karena itu Sultan Iskandar Tsani mengirim beberapa nisan
Aceh untuk keluarga di Pahang. Hantaran tersebut ternyata terekam dalam kitab Bustan as-
Salatin dengan beberapa kapal perang Aceh dan pengawalan dan adat upacara yang meriah.
"Setelah itu, maka bertitah Syah Alam pun orang yang kaya-kaya laksamana
menghantarkan raja nisan ke Pahang kepada kubur paduka ayahanda, .... lalu segala orang
kaya hulubalang berlayar bersambut raja nisan ke Pahang, hatta maka sultan Iskandar
Tsani Mughayat Syah pun wafatlah dan kuburnya dekat gunongan". (Ms. Bustanus Salatin)
Di Pahang, nisan-nisan kiriman Aceh di tempatkan di kawasan Mengkasar. Upacara
penyambutannya dilakukan acara kenduri dan upacara adat-istiadat setempat berlangsung
hingga 40 hari dan 40 malam. Jelas, di sini nuansa Aceh lebih kental, sebab batu-batu nisan
yang sudah patah dan rusak adalah kiriman dari Sultan Iskandar Tsani untuk keluarganya. Di
pamplet marmer coklat tertulis beberapa nama keluarga Sultan Pahang yang dimakam di
sana, yaitu: Sultan Abdul Ghafur Muhiyuddin Shah (1591-1614), Marhum Muda Pahang
(Raja Muda Abdullah) anak sultan Abdul Ghafur merupakan sepupu dari Sultan Iskandar
Tsani bernama Puteri Bungsu Chendera Dewi, dan cucu Sultan Mansur Shah II dari Melaka.
Ada sekitar empat makam dengan batu nisan besar corak Pasai, dan satu nisan
berbentuk kecil. Setiap batu nisan sulit dikenali karena tulisan di badan nisan telah hancur
dan hilang. Sejauh ini, hanya W. Lineham dalam bukunya “History of Pahang” yang mengkaji
dan menyebutkan satu makam terletak paling timur merupakan adalah makam
cucu Sultan Melaka. Selebihnya belum ada peneliti yang mengkaji makam tersebut.

Anda mungkin juga menyukai