Anda di halaman 1dari 8

ANGGARAN DASAR

MUKADIMAH

Bahwa sesungguhnya masyarakat adil dan makmur melalui norma keluarga kecil
bahagia dan sejahtera adalah bagian dari tujuan negara, sebagai cita-cita luhur
bangsa indonesia. Oleh karena itu masalah kependudukan, harus dikendalikan
oleh seluruh komponen bangsa, yang memiliki kepedulian dan atau
keberpihakan pada perjuangan untuk mewujudkan cita-cita dimaksud.

Bahwa Perjuangan meraih cita-cita perwujudan Keluarga Kecil, bahagia


sejehtera melalui pelaksanaan Program Keluarga Berencana Nasional, dalam
perkembangannya mengalami fluktuasi yang sangat berarti, sebagai akibat dari
perubahan lingkungan strategis global yang berimplikasi terhadap tuntutan
perubahan arah kebijakan program, dimana pelaksanaan yang semula
menggunakan pendekatan demografis, harus menjadi lebih difokuskan kepada
pemenuhan hak-hak asasi manusia dan hak-hak reproduksi keluarga.

Pada sisi yang lain, perubahan lingkungan strategis nasional yang ditandai
dengan pergeseran sistem pemerintahan sentralistik menuju ke desentralistik
sesuai UU No. 22 tahun 1999, sebagaimana dirubah dengan UU No. 32 tahun
2003 yang lebih dikenal dengan otonomi daerah, secara langsung maupun tidak
langsung berdampak terhadap kesinambungan Program Keluarga Berencana
saat ini, terutama dimasa mendatang.

Dampak secara nyata dari pelaksanaan otonomi daerah tersebut dalam


pelaksanaan Program KB Nasional, salah satunya adalah terapresiasinya tenaga
pelaksanan program di lini lapangan, khusunya Petugas Lapangan Keluarga
Berencana Nasional (PKB dan PLKB), maupun pengelola dan atau pengendali
program di tingkat Kecamatan yang mengalami pengurangan jumlah yang
sangat signifikan dibanding kebutuhan, yang disebabkan adanya mutasi dan
atau pengalihan fungsi.

Menyadari sepenuhnya kondisi seperti yang di uraikan di atas, maka untuk


mempertahankan eksistensi keberadaan dan untuk memperkuat kedudukan
peran dan fungsi Penyuluh KB, atas berkat Rachmat Allah, Tuhan Yang Maha
Esa, disertai rasa tanggung jawab yang tinggi, dengan ini petugas pengelola,
penyuluh KB dan kelompok masyarakat maupun individu yang memiliki
keinginan yang sama, menyatakan sikap untuk membentuk suatu wadah
organisasi profesi dengan Anggaran Dasar sebagai berikut :

1
BAB I
NAMA DAN KEDUDUKAN

Pasal 1

1. Organisasi ini bernama “Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana


Indonesia” disingkat IPeKB Indonesia.

2. IPeKB Indonesia berkedudukan di Ibu Kota Negara dengan


perwakilan di Ibu Kota Provinsi dan Ibu Kota Kabupaten/Kota.

BAB II
AZAS

Pasal 2

IPeKB Indonesia berazaskan Pancasila.

BAB III
STATUS DAN SIFAT

Pasal 3

IPeKB Indonesia memiliki status:

1. Tidak ada hubungan hierarki dengan organisasi/lembaga lain


maupun perorangan ditingkat manapun.
2. Organisasi profesi.
3. Tidak berafiliasi pada partai politik, suku, agama dan golongan
tertentu.

Pasal 4

IPeKB Indonesia memiliki sifat:

1. Demokratis, independent, sosial kemasyaratan dan tidak


komersial
2. Memiliki keleluasaan untuk mengembangkan diri.
3. Berdasarkan kesamaan tujuan.

2
BAB IV
TUJUAN

Pasal 5

IPeKB Indonesia bertujuan :

1. Menyatukan Penyuluh KB, Pengelola KB, individu dan kelompok


masyarakat yang mempunyai cita-cita yang sama, baik berstatus
PNS maupun bukan.
2. Memperjuangkan aspirasi dan meningkatkan kesejahteraan
anggota.
3. Meningkatkan kompetensi profesi.
4. Memperjuangkan hak-hak anggota.
5. Meningkatkan kepedulian dan peran serta dalam mewujudkan
keluarga kecil bahagia sejahtera.

BAB V
KEANGGOTAAN

Pasal 6

1. Anggota IPeKB Indonesia adalah warga Negara Republik


Indonesia yang berstatus Petugas Lapangan Keluarga
Berencana (PLKB)/Penyuluh KB (PKB) dan Pengelola KB
Tingkat Kecamatan serta masyarakat yang peduli terhadap
program KB.

2. Status keanggotaan IPeKB :


a. Anggota Biasa.
b. Anggota Luar Biasa
c. Anggota Kehormatan.

3. Ketentuan anggota diatur dalam Anggaran Rumah Tangga


(ART).

3
BAB VI
STRUKTUR ORGANISASI DAN KEPENGURUSAN

Pasal 7

Struktur organisasi IPeKB Indonesia terdiri dari:

1. Di Pusat disebut IpeKB Indonesia Pusat.


2. Di Provinsi disebut IPeKB Indonesia Daerah.
3. Di Kabupaten/kota disebut IPeKB Indonesia Cabang.

Pasal 8

Kepengurusan IPeKB Indonesia terdiri dari :

1. Pengurus pusat, pengurus daerah dan pengurus cabang.


2. Pengurus pusat, daerah dan cabang terdiri dari pengurus inti dan
pengurus lainnya.
3. Pengurus inti terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Bendahara.
4. Pengurus lainnya terdiri dari bidang dan seksi.
5. Selain pengurus pusat, daerah dan cabang juga dilengkapi
dengan dewan pembina.
6. Pengurus inti dipilih oleh musyawarah umum IPeKB Indonesia
untuk jangka waktu 4 (empat) tahun.
7. Pengurus lainnya diangkat oleh formatur terpilih.

BAB VII
TUGAS DAN KEWAJIBAN PENGURUS

Pasal 9

1. Pengurus Pusat memimpin organisasi dan bertanggungjawab


atas pelaksanaan keputusan Musyawarah Nasional.
2. Pengurus Pusat berkewajiban memberikan laporan atas
pelaksanaan ayat 1 kepada musyawarah nasional berikutnya.
3. Pengurus Daerah memimpin organisasi dan bertanggungjawab
atas pelaksanaan keputusan Musyawarah Daerah.

4
4. Pengurus Daerah berkewajiban memberikan laporan atas
pelaksanaan ayat 3 kepada musyawarah Daerah berikutnya.
5. Pengurus Cabang memimpin organisasi dan bertanggungjawab
atas pelaksanaan keputusan Musyawarah Cabang.
6. Pengurus Cabang berkewajiban memberikan laporan atas
pelaksanaan ayat 5 kepada musyawarah Cabang berikutnya.
7. Pengurus Pusat, Daerah dan Cabang dalam melaksanakan
tugas-tugasnya difasilitasi oleh Dewan Pembina disetiap wilayah.

BAB VIII
MUSYAWARAH DAN RAPAT

Pasal 10

1. Musyawarah Umum IPeKB Indonesia merupakan otoritas


tertinggi untuk menetapkan pengurus, kebijakan umum dan
menilai serta mensyahkan pertanggungjawaban pengurus.
2. Musyawarah Umum IPeKB Indonesia dilaksanakan 4 (empat)
tahun sekali.

Pasal 11

1. Musyawarah Umum IPeKB Indonesia di Pusat disebut


Musyawarah Nasional (MUNAS) dihadiri oleh Pengurus Pusat,
utusan Pengurus Daerah dan utusan Pengurus Cabang serta
Anggota dan undangan lainnya.
2. Musyawarah Umum IPeKB Indonesia di Provinsi disebut
Musyawarah Daerah (MUSDA) dihadiri oleh Pengurus Daerah
dan utusan Pengurus Cabang serta anggota dan undangan
lainnya.
3. Musyawarah Umum IPeKB Indonesia di Kabupaten/Kota disebut
Musyawarah Cabang (MUSCAB) dihadiri oleh Pengurus
Cabang, Anggota dan undangan lainnya.

Pasal 12

Musyawarah kerja dilaksanakan minimal satu kali dalam dua tahun.

5
Pasal 13

Macam-macam rapat antara lain:

1. Rapat Kerja Pengurus.


2. Rapat Koordinasi.
3. Rapat Pimpinan.
4. Rapat Konsultasi.

BAB IX
KEUANGAN DAN KEKAYAAN

Pasal 14

Keuangan IPeKB Indonesia bersumber dari :

1. Iuran anggota.
2. Sumbangan, bantuan, hibah dan sumber-sumber lain yang tidak
mengikat.
3. Hasil Usaha yang dilakukan oleh unit khusus IPeKB.

Pasal 15

Kekayaan IPeKB Indonesia adalah seluruh barang/inventaris baik


bergerak maupun tidak bergerak yang menjadi aset organisasi.

BAB X
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN PEMBUBARAN
ORGANISASI

Pasal 16

1. Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat dilakukan melalui


Musyawarah Nasional (MUNAS).

6
2. Musyawarah Nasional pada ayat (1) minimal harus dihadiri oleh
2/3 dari Pengurus Pusat, dan 2/3 utusan pengurus Daerah.
3. Keputusan Perubahan Anggaran Dasar harus disetujui minimal
oleh 1/2 +1 peserta yang hadir.

Pasal 17

Organisasi IPeKB Indonesia dapat dibubarkan secara internal oleh :

1. Musyawarah Umum di pusat yang selanjutnya disebut


musyawarah nasional (MUNAS) yang dilakukan khusus untuk
itu, apabila diusulkan oleh 2/3 pengurus Pusat, 2/3 pengurus
daerah dan 2/3 pengurus cabang.
2. Keputusan pembubaran ini sah apabila dihadiri oleh 2/3 utusan
tersebut pada ayat 1 dan diputuskan oleh 1/2+1 dari yang hadir.
3. Keputusan pembubaran diberitahukan kepada pihak-pihak yang
terkait paling lambat 7 (tujuh) hari kemudian.
4. Segera setelah pembubaran IpeKB Indonesia maka mantan
pengurus pada periode terakhir harus menyelesaikan urusan
hutang-piutang dan kewajiban lainnya.
5. Kekayaan yang masih ada diselesaikan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

BAB XI
ATRIBUT

Pasal 18

IPeKB Indonesia mempunyai atribut khusus yang diatur dalam


anggaran rumah tangga (ART).

7
BAB XII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 19

1. Ketentuan yang belum tercantum dalam Anggaran Dasar ini


selanjutnya akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
2. Anggaran Dasar ini berlaku sejak ditetapkan dan disahkan oleh
musyawarah nasional (MUNAS).

Anda mungkin juga menyukai