Anda di halaman 1dari 4

Pada pemeriksaa pertama usia kehamilan 34 minggu 3 hari dengan hasil

pemeriksaan tinggi fundus uteri pada Leopold I adalah 3 jari dibawah px. Pada

pemeriksaan kedua usia kehamilan 35 minggu 3 hari dengan hasil pemeriksaan

tinggi fundus uteri pada Leopold I adalah setinggi px. Pada pemeriksaan ketiga

usia kehamilan 36 minggu 3 hari dengan hasil pemeriksaan tinggi fundus uteri

pada Leopold I adalah setinggi px. Teori Hani (2009), perkiraan TFU terhadap

umur kehamilan, yaitu : 3 jari dibawah symphisis =12 minggu, pertengahan pusat

& symphisis = 16 minggu, 3 jari dibawah pusat = 20 minggu, setinggi pusat = 24

minggu, 3 jari dibawah pusat = 28 minggu, pertengahan pusat dan px = 32

minggu, setinggi px = 36 minggu, pertengahan pusat dan px = 40 minggu. Hal ini

terjadi kesenjangan antara teori dan praktek. Menurut penulis, pemeriksaa TFU

pada Leopold I sudah sesuai umur kehamilan. Kesenjangan bisa saja terjadi

karena pada saat pemeriksaan Ny. I tidak dalam posisi yang benar atau posisi

tangan pemeriksa pada saat memeriksa kurang tepat.

Pada pemeriksaan pertama Leopold I, teraba bulat, lunak, dan tidak melenting.

Untuk pemeriksaan kedua dan ketiga juga dilakukan sama dengan pemeriksaan

pertama. Teori Romauli (2011) Leopold I normal pada fundus teraba bagian lunak

dan tidak melenting (bokong), tinggi fundus uteri sesuai dengan usia kehamilan,

bertujuan untuk mengetahui tinggi fundus uteri dan bagian yang berada difundus.

Hal ini tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek. Hasil pemeriksaan yang

dilakukan diperkirakan teraba bokong. Hasil pemeriksaan kedua dan ketiga juga

sama dengan hasil pemeriksaan pertama.


Pada pemeriksaan kedua Leopold II, teraba keras memanjang seperti papan di

sebelah kiri, dan seperti tonjolan-tonjolan kecil di sebelah kanan. Untuk

pemeriksaan kedua dan ketiga juga dilakukan sama dengan pemeriksaan pertama.

Teori Romauli (2011) Leopold II normal teraba bagian panjang, keras seperti

papan (punggung) pada satu sisi uterus dan pada sisi lain terba bagian kecil,

bertujuan untuk melihat batas kiri/kanan pada uterus ibu. Hal ini tidak ada

kesenjangan antara teori dan praktik. Hasil pemeriksaan yang dilakukan

diperkirakan teraba punggung di sebelah kiri dan ekstremitas di sebelah kanan.

Hasil pemeriksaan kedua dan ketiga juga sama dengan hasil pemeriksaan pertama.

Pada pemeriksaan pertama Leopold III teraba bulat, keras, melenting dan sebagian

kepala sudah masuk PAP. Untuk pemeriksaan kedua dan ketiga juga dilakukan

sama dengan pemeriksaan pertama. Teori Romauli (2011) normal pada bagian

bawah janin teraba bagian yang bulat, keras dan melenting (kepala), bertujuan

mengetahui presentasi/bagian terbawah janin yang ada sympisis ibu. Hal ini tidak

ada kesenjangan antara teori dan praktek. Hasil pemeriksaan yang dilakukan

diperkirakan teraba kepala. Hasil pemeriksaan kedua dan ketiga juga sama dengan

hasil pemeriksaan pertama.

Pada pemeriksaan pertama Leopold IV dengan meraba bagian bawah janin yang

dibagian terbawah rahim dengan 2 tangan, dimana kedua ujung tangan tidak

saling bertemu. Untuk pemeriksaan kedua dan ketiga juga dilakukan sama dengan

pemeriksaan pertama. Teori Romauli (2011) Leopold IV bertujuan mengetahui

seberapa jauh masuknya bagian terendah janin kedalam PAP. Hal ini tidak ada

kesenjangan antara teori dan praktek. Hasil dari pemeriksaan tersebut adala
Bivergen (sebagian kepala janin sudah masuk PAP). Hasil pemeriksaan kedua dan

ketiga juga sama dengan hasil pemeriksaan pertama.

Pada pemeriksaan pertama leopold I, 3 jari dibawah px, teraba bulat,

lunak, dan tidak melenting, Leopold II teraba keras memanjang seperti

papan di sebelah kiri, dan seperti tonjolan-tonjolan kecil di sebelah kanan,

Leopold III teraba bulat, keras, melenting dan sebagian kepala sudah

masuk PAP, dan Leopold IV Bivergen (sebagian kepala sudah masuk

PAP). Pada pemeriksaan kedua dilakukan leopold kembali, Leopold I, 3

jari dibawah px, teraba bulat, lunak, dan tidak melenting, Leopold II

teraba keras memanjang seperti papan di sebelah kiri, dan seperti

tonjolan-tonjolan kecil di sebelah kanan, Leopold III teraba bulat, keras,

melenting dan sebagian kepala sudah masuk PAP, dan Leopold IV

Bivergen (sebagian kepala sudah masuk PAP). Pada pemeriksaan ketiga,

dilakukan pemeriksaan Leopold kembali, Leopold I, 3 jari dibawah px,

teraba bulat, lunak, dan tidak melenting, Leopold II teraba keras

memanjang seperti papan di sebelah kiri, dan seperti tonjolan-tonjolan

kecil di sebelah kanan, Leopold III teraba bulat, keras, melenting dan

sebagian kepala sudah masuk PAP, dan Leopold IV Bivergen (sebagian

kepala sudah masuk PAP). Teori Romauli (2011) Leopold I normal pada
fundus teraba bagian lunak dan tidak melenting (bokong), tinggi fundus

uteri sesuai dengan usia kehamilan, bertujuan untuk mengetahui tinggi

fundus uteri dan bagian yang berada difundus. Leopold II normal teraba

bagian panjang, keras seperti papan (punggung) pada satu sisi uterus dan

pada sisi lain terba bagian kecil, bertujuan untuk melihat batas kiri/kanan

pada uterus ibu. Leopold III normal pada bagian bawah janin teraba

bagian yang bulat, keras dan melenting (kepala), bertujuan mengetahui

presentasi/bagian terbawah janin yang ada sympisis ibu. Leopold IV

bertujuan mengetahui seberapa jauh masuknya bagian terendah janin

kedalam PAP. Pemeriksaan yang dilakukan kepada Ny. I telah dilakukan

sesuai dengan standar dan hasil nya sesuai dengan batas normal pada

teori, kesimpulannya tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek.

Dimana diperkirakan pada Leopold I teraba bokong, Leopold II teraba

punggung disebelah kiri, dan ekstremitas disebelah kanan, Leopold III

teraba kepala, dan Leopuld IV Bivergen.