Anda di halaman 1dari 3

Pengertian Sistem Filsafat

Filsafat ilmu berasal dari zaman Yunani Kuno, di mana filsafat ilmu lahir karena
munculnya sebuah pengetahuan dari Barat. Akan tetapi, pada perkembangannya
ternyata ilmu pengetahuan di abad ke-17 mengalami perpecahan, di mana ilmu dan
filsafat berdiri sendiri. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa sebelum abad
ke-17 ilmu identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van
Peursen (1985) yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari
filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.
Koento Wibisono menyatakan bahwa filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya
suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah
tumbuh mekar-bercabang secara subur (Kirom, 2011).

Pancasila sebagai Sistem Filsafat

Pancasila sejak semula dijadikan weltanschauung atau pandangan hidup bangsa


Indonesia, sekaligus prinsip-prinsip dasar negara. Dengan demikian, isi pemikiran
Pancasila sangat berhubungan dengan nilai-nilai yang mendasari urusan
kemasyarakatan. Ketika Pancasila dinyatakan sebagai pandangan hidup, berarti
Pancasila itu sendiri memiliki ilmu pengetahuan yang sesungguhnya sangat
bermanfaat bagi bangsa Indonesia sebagai petunjuk (guidance) di dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Pancasila yang dipelajari secara ilmiah adalah satu objek
pembahasan di mana secara umum Pancasila merupakan hasil budaya bangsa
Indonesia (Kaelan, 1993:13). Filsafat ilmu juga tidak dapat dilepaskan dengan
Pancasila sebagai sebuah ilmu (science). Anton Bakker dalam analisisnya
menyatakan secara tegas bahwa Pancasila dapat berperan selaku framework di
mana sekian ilmu serentak bekerja secara interdispliner. Di sini kapasitas Pancasila
dapat dieksplorasi ke dalam ranah filsafat ilmu (Philosophy of Science) berkaitan
dengan aras ontologis, epistemologis dan aksiologis (Kirom, 2011).

Pancasila merupakan sebuah pandangan dunia atau world view yang juga dapat
ditanamkan nilai-nilai filsafat. Pancasila adalah filsafat bangsa yang sesungguhnya
berhimpit dengan jiwa bangsa. Di sini yang muncul adalah kapasitas pengetahuan
bangsa, misalnya yang berkaitan dengan hakikat kenyataan dan kebenaran. Hakikat
kenyataan dan kebenaran serta nilai-nilai filsafat tersebut sebenarnya adalah bagian
dari aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi yang harus dieksplorasi oleh filsafat
ilmu dalam upaya mengembangkan Pancasila. Sebagai pandangan dunia atau
filsafat, Pancasila merupakan acuan intelektual kognitif bagi cara berpikir bangsa,
yang dalam usaha keilmuan dapat terbangun ke dalam sistem filsafat yang kredibel.
Bahan materialnya adalah berbagai butir dan ajaran kebijaksanaan dalam budaya
etnik maupun agama. Penguasaan ilmu pengetahuan di Indonesia harus
berpedoman pada keilmuan Pancasila. Pancasila berfungsi sebagai sudut pandang.
Hal ini adalah konsekuensi logis dari pendirian teleologis dalam ilmu. Ilmu
pengetahuan tidak bebas nilai: ilmu pengetahuan “masuk” ke dalam matriks
Pancasila yang berbasis Ketuhanan Yang Maha Esa dan berpuncak pada Keadilan
Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Kirom, 2011).

Pancasila Sebagai Ideologi

Ideologi memainkan peranan yang penting dalam proses dan memelihara integrasi
nasiona, terutama di Negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia.
Istilah ideologi berasal dari kata ‘idea’ berarti gagasan, konsep, pengertian dasar,
cita-cita, dan ‘logos’ berarti ilmu. Kata idea sendiri berasal dari bahasa Yunani
‘eidos’ yang artinya bentuk. Selanjutnya ada kata ‘idein’ yang artinya melihat.
Dengan demikian secara harfiah ideologi berarti ilmu pengertian-pengertian dasar,
cita-cita yang bersifat tetap yang harus dicapai, sehingga cita-ita yang bersifat tetap
itu yang harus dicapai, sehingga cita-cita yang bersifat tetap itu sekaligus
merupakan dasar, pandangan atau faham (Asmaroini, 2017).

Kaelan (2005) menyatakan bahwa ideologi sebagai pandangan masyarakat


memiliki karakteristik: (a) ideologi sering muncul dan berkembang alam situasi
kritis; (b) ideologi memiliki jangkauan yang luas, beragam, dan terprogram; (c)
ideologi mencakup beberapa strata pemikiran dan panutan; (d) ideologi memiliki
pola pemikiran yang sistematis; (e) ideologi cenderung eksklusif, absolute dan
universal; (f) ideologi memiliki sifat empiris dan normatif; (g) ideologi dapat
dioperasionalkan dan didokumentasikan konseptualisasinya; (h) ideologi bisanya
terjadi dalam gerakangerakan politik. Sebagai suatu ideologi bangsa dan Negara
Indonesia maka Pancasila pada hakikatnya bukan hanya merupakan suatu hasil
perenungan atau pemikiran seseorang atau kelompok orang sebagaimana idelogi-
ideologi lain di dunia, namun Pancasila diangkat dari nilai-nilai adat-istiadat, nilai-
nilai kebudayaan serta nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup
masyarakat Indonesia sebelum membentuk Negara, dengan lain perkatan unsur-
unsur yang merupakan materi (bahan) Pancasila tidak lain diangkat dari pandangan
hidup masyarakat Indonesia sendiri, sehingga bangsa ini merupakan kausa
materialis (asal bahan) Pancasila (Kaelan dan Achmad Zubaidi, 2007). Ideologi
berkaitan dengan tertib sosial, dan tertib politik yang ada, berupaya untuk secara
sadar sisteatis mengubah, mempertahankan tertib masyarakat. Suatu pemikiran
mendalam, menyeluruh, menjadi ideologi apabila pemikiran, gagasangagasan
tersebut secara praktis difungsikan ke dalam lembagalembaga politik suatu
masyarakat, suatu bangsa, suatu Negara (Suparlan, 2012).

Pancasila sebagai ideologi nasional mengatasi faham perseorangan, golongan, suku


bangsa, dan agama. Sehingga semboyan ‘Bhineka Tungga Ika’ diterapkan bagi
segala masyarakat Indonesia dalam kesatuan yang utuh Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Pancasila sebagai ideologi nasional berupaya meletakkan kepentingan
bangsa dan Negara Indonesia ditempatkan dalam kedudukan utama di atas
kepentingan yang lainnya. Kedudukan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan
Negara Indonesia, tercantum di dalam pembukaan UUD 1945 sebagai dasar Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang haus dilaksanakan secara
berkesinambungan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian,
Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah sebagai keseluruhan pandangan, cita-cita,
keyakinan, dan nilai-nilai bangsa Indonesia yang harus diimplementasikandalam
kehidupan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Asmaroini,2017).