Anda di halaman 1dari 129

Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta


Lingkupan Hak Cipta:
Pasal 2
Hak cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang Hak Cipta
untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaan dilahirkan tanpa
mengurangi pembatas menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana:
Pasal 72
1. Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan
perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 29 ayat
(1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling
singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000, 00 (satu
juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau
denda paling banyak Rp 5.000.000.000, 00 (lima miliar rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,


atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran
hak cipta atau hak terkait sebagai dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp 500.000.000, 00 (lima ratus juta rupiah).
Penerbit CV Kekata Group, Surakarta 2017
BRAIN GYM (STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I)
Copyright © Sulis Diana, Ferilia Adiesty, dan Elyana Mafticha

Penulis: Sulis Diana, Ferilia Adiesty, dan Elyana Mafticha


Editor: Riza Perdana
Penata Letak: Arief Setyawan
Penata Sampul: Raditya Pramono
Sebagian materi sampul bersumber dari internet

CV KEKATA GROUP
bebuku Publisher
bebukupublisher@gmail.com
www.bebuku.com
Facebook: Bebuku
Perum Triyagan Regency Blok A No 1, Mojolaban

Cetakan Pertama, Maret 2017


Surakarta, Bebuku Publisher, 2017
x+119 hal; 14,8x21 cm
ISBN: 978-602-6413-82-6

Katalog Dalam Terbitan


Hak cipta dilindungi Undang-Undang
All Right Reserved
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau
seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
PRAKATA

Banyak penelitian menunjukkan betapa masa usia dini, yaitu


masa lima tahun ke bawah, merupakan golden ages (masa
keemasan) bagi perkembangan kecerdasan anak. Salah satu hasil
penelitian menyebutkan bahwa pada usia 4 tahun, kapasitas
kecerdasan anak telah mencapai 50%. Seperti diungkapkan Dr.
Gutama, bahwa kapasitas kecerdasan akan mencapai 80% di usia 8
tahun. Ini menunjukkan betapa pentingnya memberikan
perangsangan pada anak usia dini, sebelum masuk sekolah.
Periode emas pada anak merupakan masa yang penting bagi
perkembangan otak. Masa ini adalah masa yang tepat untuk
merangsang optimalisasi otak pada anak. Maka senam otak atau
Brain Gym adalah salah satu pilihan yang tepat untuk diterapkan
bagi perkembangan otak anak. Senam otak atau Brain Gym
merupakan suatu rangkaian gerakan sederhana yang didesain
untuk merangsang optimalisasi otak. Dan buku ini, akan memberi
pengertian kepada Anda tentang pengertian Brain Gym, manfaat-
manfaatnya, panduan-panduan, hingga bagaimana Brain Gym dapat
menstimulasi perkembangan prestasi anak.
Metode belajar dalam senam otak yang ada dalam buku ini
dikembangkan oleh Paul E. Dennison, Dr. Phill bersama istrinya Gail
E. Dennison, yang merupakan pelopor pendidik di Amerika Serikat
dalam penerapan penelitian otak. Brain Gym (Senam Otak) dengan

v
metode latihan Edu-K atau pelatihan dan kinesis (gerakan) yang
akan menggunakan seluruh otak melalui pembaruan pola gerakan
tertentu untuk membuka bagian-bagian otak yang sebelumnya
tertutup atau terhambat.
Buku ini sangat tepat bagi Anda yang memiliki anak-anak di
usia periode emas, atau yang berencana memiliki anak, hingga bagi
guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini. Buku ini dilengkapi dengan
panduan-panduan untuk melakukan brain gym atau senam otak.
Selain ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, panduan-
panduan di dalamnya juga dilengkapi dengan gambar-gambar yang
jelas yang membuat Anda semakin mudah untuk
mempraktikkannya.
Maka buku ini, sekali lagi, merupakan buku yang layak untuk
Anda koleksi. Lahaplah segala panduan yang ada dalam buku ini,
dan temukanlah perubahan ajaib pada diri buah hati atau anak-anak
didik Anda. Bacalah buku ini hingga tuntas, dan selamat menyalakan
masa depannya! Selamat membaca!

Kekata Publisher

vi
DAFTAR ISI

PRAKATA.......................................................................... v
DAFTAR ISI .................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ....................................................... ix

BRAIN GYM .................................................................... 1


1.PENGERTIAN ........................................................... 1
2.PERKEMBANGAN BRAIN GYM (SENAM OTAK) 2
3.PRINSIP SENAM OTAK........................................... 2
4.MANFAAT ................................................................. 5
5.GERAKAN ................................................................. 8

DEFINISI PERKEMBANGAN ..................................... 30


1.PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ............... 33
2.PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ............... 40
3.PRINSIP PERKEMBANGAN ................................ 51
4.BRAIN GYM DAN PERKEMBANGAN MOTORIK
KASAR DAN HALUS ............................................. 67

PRESTASI ........................................................................ 70
1.PENGERTIAN PRESTASI ...................................... 70
2.FAKTOR YANG MEMENGARUHI PRESTASI
ANAK ....................................................................... 76
3.CARA MENSTIMULASI PERKEMBANGAN
PRESTASI SECARA MAKSIMAL ........................ 85

vii
Stimulasi Mental Anak Prasekolah: Suatu Upaya
Meningkatkan Kualitas Anak Indonesia ................... 93
Beberapa ciri umum yang ada pada anak Prasekolah
antara lain: ................................................................. 93
4.BRAIN GYM MENSTIMULASI PERKEMBANGAN
PRESTASI ANAK.................................................. 107

Referensi .................................................................... 113

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Gerakan Hook-Ups ........................................... 9


Gambar 2. Gerakan Silang ............................................... 10
Gambar 3. Angka 8 Tidur ................................................ 10
Gambar 4. Coretan Ganda ................................................ 12
Gambar 5. Abjad 8 ........................................................... 14
Gambar 6. Gajah .............................................................. 14
Gambar 7. Putaran Leher ................................................. 15
Gambar 8. Olengan Pinggul ............................................. 15
Gambar 9. Embusan Napas .............................................. 16
Gambar 10. Gerakan Silang Berbaring ............................ 17
Gambar 11. Mengisi Energi ............................................. 18
Gambar 12. Membayangkan “X”..................................... 18
Gambar 13. Burung Hantu ............................................... 19
Gambar 14. Lambaian Tangan ......................................... 20
Gambar 15. Lambaian Kaki ............................................. 21
Gambar 16. Pompa Betis ................................................. 22
Gambar 17. Luncuran Gravitasi ....................................... 23
Gambar 18. Pasang Kuda-Kuda ....................................... 23
Gambar 19. Minum Air .................................................... 24
Gambar 20. Saklar Otak ................................................... 25
Gambar 21. Tombol Bumi ............................................... 25
Gambar 22. Tombol Keseimbangan ................................ 26
Gambar 23. Tombol Angkasa .......................................... 26
Gambar 24. Menguap Berenergi ...................................... 27
Gambar 25. Pasang Telinga ............................................. 27

ix
Gambar 26. Gerakan Cross Crawl ................................... 28
Gambar 27. Gerakan Possitive Points.............................. 29

x
BRAIN GYM

1. PENGERTIAN
Senam otak atau Brain Gym merupakan suatu rangkaian
gerakan sederhana yang didesain merangsang optimalisasi
otak. Hal tersebut menyangkut keseimbangan otak bagian
kanan-kiri, relaksasi otak belakang dan otak depan sebagai
dimensi pemfokusan, merangsang otak bagian tengah atau
limbis dalam pengaturan emosional dan merangsang dimensi
pemusatan pada otak besar (Cahyo, 2011).
Brain Gym (Senam Otak) adalah serangkaian latihan
gerakan sederhana untuk memudahkan kegiatan belajar dan
penyesuaian dengan tuntutan sehari-hari (Muhammad, 2011).
Brain Gym adalah latihan yang dirancang untuk membantu
fungsi otak yang lebih baik selama proses pembelajaran.
Latihan-latihan ini didasarkan pada gagasan bahwa latihan fisik
sederhana membantu aliran darah ke otak dan dapat membantu
meningkatkan proses belajar dengan memastikan otak tetap
waspada. Siswa dapat menggunakan latihan sederhana pada
mereka sendiri, dan guru dapat menggunakannya dalam kelas
untuk membantu menjaga tingkat energi sampai sepanjang hari
(Ryan, 2013).

BRAIN GYM | 1
2. PERKEMBANGAN BRAIN GYM (SENAM OTAK)
Metode belajar dalam senam otak ini dikembangkan oleh Paul
E. Dennison, Dr. Phill bersama istrinya Gail E. Dennison, yang
merupakan pelopor pendidik di Amerika Serikat dalam
penerapan penelitian otak. Brain Gym (Senam Otak) dengan
metode latihan Edu-K atau pelatihan dan kinesis (gerakan)
akan menggunakan seluruh otak melalui pembaruan pola
gerakan tertentu untuk membuka bagian-bagian otak yang
sebelumnya tertutup atau terhambat.
Pada awalnya, senam otak sudah dikenal sejak tahun 80-
an. Namun, saat itu, masih terbatas untuk orang dewasa saja.
Selanjutnya, memasuki tahun 2000-an, senam otak
dikembangkan untuk membantu meningkatkan kecerdasan
anak-anak sekolah atau bisa juga untuk bayi. Mulanya senam
otak dimanfaatkan untuk anak yang mengalami gangguan
hiperaktif, kerusakan otak, sulit konsentrasi, dan depresi. Akan
tetapi, dalam perkembangannya, setiap anak bisa
memanfaatkannya untuk beragam kegunaan. Saat ini di Benua
Amerika dan Eropa, senam otak sedang
digemari karena mampu melepaskan stres, menjernihkan
pikiran, meningkatkan daya ingat, dan lain sebagainya
(Muhammad, 2011).

3. PRINSIP SENAM OTAK


Gerakan-gerakan senam ringan yang dilakukan dalam senam
otak, seperti melalui olah tangan dan kaki yang dapat
memberikan rangsangan atau stimulasi ke otak. Stimulasi
itulah yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif, misalnya

2 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


kewaspadaan, konsentrasi, dan kecepatan dalam proses belajar,
serta memori, pemecahan masalah, ataupun kreativitas.
Otak adalah bagian tubuh yang berfungsi sebagai pusat
pengendali organ-organ tubuh. Otak selalu berhubungan
dengan inteligensia atau kecerdasan seseorang. Otak juga
merupakan pusat sistem pengendali pikiran dan sistem tubuh
yang menjalanakn beberapa fungsi secara bersamaan. Otak
memiliki fungsi penerima dan mengolah informasi,
memberikan perintah, menjalankan tugas rutin, menyimpan
informasi. Otak ialah pusat segala pikiran dan bila seseorang
sehat maka segala aktivitas dapat berjalan dengan baik. Melalui
senam otak bagian-bagian otak yang sebelumnya tertutup akan
terbuka dan menandakan bahwa kegiatan belajar berlangsung
dengan menggunakan seluruh otak. Senam otak dapat
dilakukan oleh segala usia, mulai dari bayi hingga orang lanjut
usia. Seorang anak harus dibantu oleh orang tuanya untuk
melakukan senam otak, baru setelah usia 3 tahun ia bisa
melakukannya sendiri.
Tanpa disadari bayi bisa melakukan gerakan senam otak,
seperti merangkak. Sebelum merangkak menggunakan kaki
dan lutut, ia mencoba bergerak maju dengan bantuan perutnya
baru mulai menggunakan lututnya. Awalnya gerakan lutut dan
tangan tidak terkoordinasi, tetapi kemudian bergerak sesuai
dengan koordinasi tangan kanan dan kiri. Dengan merangkak,
otak bayi akan terstimulasi. Selain itu, dengan bertepuk tangan,
menyanyi, dan menari juga menjadi bagian dari senam otak.
Saat anak bertepuk tangan maka energi akan mengalir pada
masing-masing ujung jarinya dan berjalan hingga ke otak. Inti
senam otak adalah bergerak, karena bergerak merupakan kunci

BRAIN GYM | 3
untuk belajar dan penting bagi perkembangan otak bayi.
Gerakan dalam senam otak yang menggunakan seluruh tubuh
dan perasaan tersebut membuat bayi memprogram alat
motoriknya, perceptual, saraf, dan sel otaknya sehingga sel-sel
otak sudah mulai terbentuk sejak bayi berada dalam
kandungan. Lalu, sel-sel otak berkembang setelah lahir dan
saat bayi bergerak mengikuti pola yang secara aktual dapat
membantu menghubungkan antar sel saraf.
Anak-anak usia sekolah juga mendapat manfaat positif
dari senam otak. Kegiatan tersebut menjadi suatu pendekatan
holistik yang digunakan dalam kertas untuk membantu mereka
menambah motivasi, terutama setelah makan siang atau
sebelum mengerjakan tugas khusus. Hasilnya, mereka akan
kembali berenergi dan termotivasi untuk mengikuti pelajaran
berikutnya.
Senam otak harus dilakukan dengan rutin untuk
mendapatkan semua manfaat di atas. Dengan latihan rutin,
semua gangguan otak yang dialami anak ketika belajar akan
teratasi. Oleh karena itu, setiap mau belajar disarankan harus
melakukan senam otak karena senam otak tersebut mempunyai
tiga dimensi yang bisa membuatnya menjadi anak yang cerdas.
Ketiga dimensi dalam senam otak meliputi dimensi lateralis
(untuk belahan otak kanan dan kiri) bertujuan mengoptimalkan
kemampuan belajar. Gerakannya menyangkut mendengar,
melihat, menulis, bergerak, dan sikap positif. Gerakan-gerakan
tersebut mampu menyerap kemampuan komunikasi yang lebih
cepat. Semntara itu, dimensi pemfokusan digunakan pada
bagian belakang otak/batang otak atau brainstem dan bagian
depan otak (frontal lobes) bermanfaat. Hal ini bisa membantu

4 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


kesiapan dan konsentrasi untuk menerima sesuatu yang baru
dan mengekspresikan apa saja yang sudah diketahui. Gerakan
berupa latihan meregangkan otot, menyangkut konsentrasi,
pengertian, dan pemahaman. Pada dimensi pemusatan, (untuk
system limbic/midbrain) dan otak besar (cerebral korteks)
mampu membantu meningkatkan energi yang menyangkut
berjalan, mengorganisasi, dan tes atau ujian. Hal ini bermanfaat
untuk membantu seluruh potensi dan keterampilan yang
dimiliki, serta mengontrol emosi, seperti menggerakkan kepala
ke atas-ke bawah, mengangkat beban ringan atau benda
lainnya, kemudian digerakkan ke atas-ke bawah (Muhammad,
2011).

4. MANFAAT
Manfaat kegiatan senam otak antara lain:
a. Meningkatkan keseimbangan otak kanan-kiri (dimensi
lateralis-komunikasi).
b. Meningkatkan fungsi pemfokusan dan pemahaman.
c. Mengaktifkan fungsi pemusatan dan pengaturan.
d. Meningkatkan ketajaman pendengaran dan penglihatan.
e. Mempertajam otak dan meningkatkan daya ingat.
f. Membantu pengurangan kesalahan membaca, memori dan
kemampuan komprehensif serta peningkatan rangsangan
visual pada penderita gangguan bahasa (Cahyo, 2011).
Periode emas pada anak merupakan masa yang penting
bagi perkembangan otak. Agar otak berkembang dan mampu
mengolah informasi secara optimal, orang tua harus memahami
cara belajarnya supaya bisa menyerap dan mengolah informasi

BRAIN GYM | 5
sehingga dapat memberikan stimulasi yang harus diterapkan
ialah senam otak dalam upaya mengoptimalkan perkembangan
otaknya.
Senam otak atau Brain Gym merupakan serangkaian
latihan yang berbasis gerakan tubuh sederhana. Gerakan-
gerakan yang ada di dalamnya memang sengaja dibuat
demikian untuk merangsang otak. Dalam dimensi lateralis,
yang mendapat rangsangan adalah otak kiri dan kanan,
sedangkan dalam dimensi pemfokusan, gerakan senam otak
pun berupaya meringankan atau merileksasi otak belakang dan
bagian otak depan. Sementara itu, pada dimensi pemusatan,
gerakan senam otak juga merangsang sistem yang terkait
dengan perasaan/emosional, yakni otak tengah (system limbic)
dan otak besar.
Senam otak bisa dilakukan oleh seseorang melalui gerakan
sederhana sambil melakukan kegiatan sehari-hari. Senam otak
dilakukan tanpa waktu khusus sehingga senam otak pun bisa
dilakukan sengan sambil menonton televisi. Meskipun
sederhana, sebagaimana dikemukakan Paul E. Dennison Ph.D
bahwa senam otak mampu memudahkan kegiatan belajar dan
melakukan penyesuaian terhadap ketegangan, tantangan, dan
tuntutan hidup sehari-hari. Gerakan-gerakan senam otak yang
ringan dilakukan melalui olah tangan dan kaki, yang dapat
memberikan rangsangan atau stimulus ke otak. Stimulus itulah
yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif, seperti
kewaspadaan, konsentrasi, kecepatan dalam proses belajar, dan
memori, pemecahan masalah, serta kreativitas.
Di samping itu senam otak bisa membantu meningkatkan
kecerdasan, meningkatkan kepercayaan diri, dan menangani

6 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


anak yang mengalami masalah dalam proses belajar-mengajar.
Senam otak juga sering digunakan untuk terapi beberapa
gangguan pada anak-anak, seperti hiperaktif, gangguan
pemusatan perhatian, dan emosional, serta sindrom pada bayi,
ataupun gangguan kemampuan belajar. Lebih dari itu, senam
otak bisa berpengaruh positif dalam menambah konsentrasi,
meningkatkan fokus dan daya ingat, serta mengendalikan
emosinya.
Dari berbagai praktik dan penerapan senam otak yang
sejauh ini telah banyak dilakukan oleh berbagai kalangan di
Barat, diketahui bahwa senam otak menghadirkan gerakan
terintegrasi yang sederhana dan menyenangkan. Senam otak
juga dapat memaksimalkan mental karena mampu
memaksimalkan kerja dua belahan otak. Walaupun aktivitas
fisik, senam otak mempunyai fungsi atau manfaat yang sama
sekali berbeda sengan senam biasa atau olahraga fisik lain yang
selama ini kita kenal. Bila olahraga biasa digunakan untuk
menjaga kondisi jantung, paru-paru, dan meningkatkan
kekuatan otot, sedangkan senam otak bertujuan meningkatkan
kinerja otak. Senam otak selain berfungsi membantu segala hal
yang berhubungan dengan kecerdasan, juga bisa membantu
mengatasi keterlambatan bayi dalam berjalan atau berlari, dan
membantu anak yang tidak bisa lepas dari orang tuanya, serta
meningkatkan motivasi dan semangat dirinya. Bayi yang
mendapat rangsangan secara tepat dan berkesinambungan tentu
akan memengaruhi perkembangan otaknya. Dengan begitu,
diharapkan perkembangan fisik, mental, dan intelektualnya
akan melampaui kemampuan dasar atau potensi genetiknya.

BRAIN GYM | 7
Dalam hal ini, penelitian membuktikan bahwa pengalaman
dan rangsangan yang diterima pada tahun pertama kehidupan
akan berpengaruh pada perkembangan dan fungsi otak anak di
kemudian hari. Kartini Sapardjiman, ketua senam otak
Indonesia, mengatakan bahwa kecerdasan bayi juga bisa
dioptimalkan dengan senam otak. Sebagaimana telah dikatakan
bahwa senam otak adalah latihan yang terangkai atas gerakan-
gerakan tubuh yang dinamis dan menyilang. Senam otak
mendorong keseimbangan aktivitas kedua belahan otak secara
bersamaan sehingga diharapkan potensi kedua belahan otak
akan seimbang dan kecerdasan anak pun maksimal
(Muhammad, 2011).

5. GERAKAN
Gerakan-gerakan senam otak sangat sederhana. Senam otak
juga tidak membutuhkan waktu yang lama. Sebelum
melakukan senam otak, beberapa hal yang perlu dilakukan
antara lain:
a. Mengkonsumsi air minum (air putih) secukupnya.
b. Melakukan pernapasan perut yang dilakukan sebanyak 2-8
kali. Pernapasan perut dapat dilakukan dengan dua cara:
1) Dilakukan dengan duduk, dengan cara meletakkan
tangan di perut sambil menarik napas, hingga tangan
yang diletakkan di perut terasa terdorong ke depan.
2) Dilakukan dengan terlentang, dengan cara meletakkan
buku di atas perut sambil bernapas, hingga terlihat buku
terdorong ke atas (Cahyo, 2011).

8 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


c. Gerakan Hook-Ups
Mengaitkan kedua tangan kanan dan kiri dilakukan dalam
posisi duduk. Mengaitkan jemari tangan dan kiri dengan
posisi menyilangkan pergelangan tangan. Kaitan kedua
tangan diletakkan di bawah dagu. Selama melakukan
gerakan ini, mata dipejamkan dan bernapas dalam.

Gambar 1. Gerakan Hook-Ups

Gerakan Hook-Ups mampu menenangkan saraf pusat,


mengaktifkan belahan otak kanan dan kiri. Gerakan ini
dapat dilakukan setiap sebelum memulai mengerjakan tugas
atau pekerjaan, ketika kesulitan mengambil keputusan, saat
merasa sedih atau marah, terlalu banyak kebisingan di kelas
saat anak sekolah, sebelum mengerjakan ujian dan saat ingin
fokus atau berkonsentrasi (Wagner, 2009). Gerakan Hook-
Ups dilakukan sebanyak 4-8 kali (Cahyo, 2011).

Gerakan senam otak mencakup 26 gerakan. Semua


gerakan senam otak ini dapat melibatkan tiga dimensi otak,
yakni lateralis, pemfokusan dan pemusatan diakhiri dengan
penguatan.

BRAIN GYM | 9
a. Lateralis
1) Gerakan Silang
a) Menggerakkan organ tubuh kiri dan kanan secara
bersamaan.
b) Mengintegrasikan otak kiri/kanan seimbang,
meningkatkan energi, mempermudah belajar, dan
menyeimbangkan emosi.

Gambar 2. Gerakan Silang

2) Angka 8 Tidur
a) Tangan lurus ke depan, naik ke kiri atas, buat angka
8 tidur.
b) Lakukan tiap tangan beberapa kali, terakhir gunakan
2 tangan, ikuti dengan mata.
c) Mengaktifkan dua belahan otak kerja sama dengan
baik, meningkatkan penglihatan, membantu
penderita disleksia.

Gambar 3. Angka 8 Tidur

10 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Abjad 8 mengadaptasi bentuk 8 Tidur sebagai
tempat meletakkan huruf kecil dari a ke t. Huruf
ini mengintegrasikan gerakan yang menyangkut
pembentukan huruf-huruf, memampukan penulisannya
untuk menyeberangi garis tengah visual tanpa mengalami
kebingungan. Setiap huruf secara jelas ditempatkan pada
salah satu sisi, kiri atau kanan dari garis tengah. Banyak
huruf mulai atau berakhir dengan menulis garis ke
bawah. Bagi kebanyakan murid, ketika penulisan huruf
kecil membaik maka tulisan tangan pun umumnya juga
lebih mudah.
Petunjuk mengajar:
a) Murid melakukan Abjad 8 Tidur sebelum memulai
dengan abjad 8 ini,
b) Kegiatan ini dilakukan dengan ukuran besar dulu,
digambarkan pada papan atau udara dengan tangan
menyatu, untuk mengaktifkan otot-otot utama pada
lengan, bahu, dan dada.
c) Perhatikan bahwa huruf pada bidang pengelihatan kiri
kebanyakan dimulai pada titik tengah mengikuti
lingkaran ke kiri atas, putar, dan turun di garis tengah.
d) Perhatikan bahwa huruf pada bidang pengelihatan
kanan dimulai pada garis tengah dengan garis ke
bawah, naik ke lingkaran kanan atas, dan putar.
e) Bantu murid untuk menemukan struktur antarhuruf
(contoh: lihat r di m dan di n).

BRAIN GYM | 11
(1) (3)

(2) (4)
(Gambar 2.4 Alphabet 8s)
3) Coretan Ganda
a) Gambarlah sesuatu dengan menggunakan kedua
tangan bersamaan. Mulai dengan gerakan besar dan
sederhana, makin lama makin bervariasi dan bentuk
makin kecil.
b) Meningkatkan koordinasi mata dan tangan,
menunjang kemampuan berhitung.

Gambar 4. Coretan Ganda

12 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Coretan ganda adalah kegiatan menggambar di
kedua sisi tubuh yang dilakukan pada bidang tengah
untuk menunjang kemampuan agar mudah mengetahui
arah dan orientasi yang berhubungan dengan tubuh.
Petunjuk mengajar:
a) Mulai dengan membiarkan murid untuk bebas
membuat “coretan” dengan kedua tangan bersama
(seperti melukis dengan jari).
b) Latihan dimulai dengan menggerakkan lengan secara
leluasa, tengkuk dan mata rileks.
c) Pentingkan prosesnya, bukan hasilnya. Hindari
membuat penilaian positif dan negatif.
d) Kepala dan mata ikut bergerak dengan santai.
e) Berikan contoh gambar coretan ganda yang pernah
dilakukan orang lain.
f) Berikan dorongan untuk menciptakan percobaan baru
lainnya.
g) Coretan ganda dalam bentuk nyata, seperti lingkaran,
segitiga, bintang, hati, pohon, atau wajah paling
menyenangkan bila dilakukan secara spontan (Paul E.
Dennison, 2008).

(Gambar 2.5 Double Doodles)

BRAIN GYM | 13
4) Abjad 8
Mengaktifkan kedua belahan otak, menunjang koordinasi
tangan dan mata, meningkatkan keterampilan motorik
halus.

Gambar 5. Abjad 8

5) Gajah
a) Pasang kuda-kuda dan lutut ditekuk sedikit,
goyangkan pinggul. Letakkan telinga di atas bahu
dengan tangan direntangkan ke depan.
b) Bayangkan tangan menjadi belalai gajah, ikuti 8 tidur
yang terletak agak jauh.
c) Meningkatkan pendengaran, daya ingat, dan
kemampuan bicara.
d) Mengintegrasikan penglihatan, pendengaran, dan
gerakan seluruh tubuh.

Gambar 6. Gajah

14 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


6) Putaran Leher
a) Bahu dinaikkan. Tundukkan kepala ke depan dan
putar dari satu sisi ke sisi lainnya.
b) Bernapaslah dengan baik dan teratur, embuskan napas
dan bayangkan ketegangan otot ikut terembus keluar
badan.
c) Meredakan ketegangan otot tengkuk dan leher,
menenangkan sistem saraf pusat, memudahkan bicara
dan belajar bahasa.

Gambar 7. Putaran Leher

7) Olengan Pinggul
a) Tangan diletakkan di lantai di belakang badan. Kedua
kaki diangkat sedikit sambil pinggul diputar beberapa
kali ke kiri dan ke kanan, terakhir mengikuti bentuk 8
tidur.
b) Menunjang koordinasi seluruh tubuh. Meningkatkan
kemampuan memerhatikan dan memahami.

Gambar 8. Olengan Pinggul

BRAIN GYM | 15
8) Embusan Napas
a) Letakkan tangan pada perut bagian bawah.
b) Tarik napas melalui hidung, embuskan napas melalui
mulut, bibir diruncingkan
c) Napaslah dengan benar, yaitu panjang dan mendalam.
d) Tarik napas tahan napas embuskan napas.
e) Memperbaiki pasokan oksigen ke seluruh badan,
terutama otak-meningkatkan energi.
f) Memperbaiki kemampuan membaca dan berbicara.

Gambar 9. Embusan Napas

9) Gerakan Silang Berbaring


a) Lakukan di lantai dengan alas pelindung.
b) Posisi telentang, lutut, kepala diangkat, secara
bergantian satu tangan menyentuh lutut sebelah.
c) Anak yang lebih besar, menyilangkan tangan di
belakang kepala dan coba menyentuh dengan siku,
lutut kaki sebelah. Kaki bergerak seperti main bola.
d) Mudah menerima pelajaran, menunjang kegiatan
membaca, mendengar, menulis, dan berhitung.

16 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Gambar 10. Gerakan Silang Berbaring

10) Mengisi Energi


a) Duduk di kursi secara santai. Letakkan lengan bawah
dan tangan di meja, sejajar pundak dengan jari tangan
sedikit ke dalam.
b) Kemudian telungkup hingga dahi menyentuh meja.
c) Tarik napas sambil rasakan udara naik di garis tengah
ke atas seperti air mancur yang menegakkan
punggung bagian atas, tengkuk, dan kepala.
Pertahankan sebentar posisi ini di mana dada terbuka
lebar dan pundak rileks.
d) Selanjutnya embuskan napas, sambil dagu diturunkan
seperti posisi semula.
e) Menjaga otot punggung dan tulang belakang tetap
lemas, fleksibel, dan rileks.
f) Memperbaiki sikap tubuh, konsentrasi, dan perhatian.

BRAIN GYM | 17
Gambar 11. Mengisi Energi

11) Membayangkan “X”


Memperkuat koordinasi seluruh tubuh, mudah berpikir,
konsentrasi, dan komunikasi.

Gambar 12. Membayangkan “X”

b. Pemfokusan
Terkait dimensi muka-belakang dengan melibatkan batang
otak yang berhubungan dengan kemampuan konsentrasi,
mengerti dan memahami. Gerakan meregangkan otot di
tengkuk dan sepanjang kaki dapat melancarkan energi dari
bagian belakang otak mengalir ke bagian depan di mana
terdapat kemampuan mengungkapkan diri. Bila bagian ini
tidak seimbang, maka otot tengkuk dan bahu tegang, kurang

18 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


semangat belajar, cepat bingung, sulit memahami, dan
kurang mampu mengungkapkan diri.
1) Burung Hantu
a) Pijat otot bahu kiri dengan tangan kanan.
b) Gerakkan kepala perlahan menyeberangi garis tengah,
ke kiri, ke kanan, dengan tinggi posisi dagu tetap.
c) Keluarkan napas pada setiap putaran kepala, ke kiri,
ke kanan dan kembali ke tengah.
d) Ulangi untuk bahu kanan.
e) Mengurangi ketegangan otot leher, menunjang
konsentrasi dan daya ingat serta kemampuan bicara
dan menghitung.

Gambar 13. Burung Hantu


2) Lambaian Tangan
a) Luruskan satu tangan ke atas di samping telinga.
b) Letakkan tangan kedua di bawah siku, lewat belakang
kepala.
c) Gerakkan tangan pertama ke arah luar, dalam,
belakang dan depan sambil tangan kedua menahan
dengan halus.
d) Embuskan napas pada saat otot diaktifkan/tegang.

BRAIN GYM | 19
e) Melepaskan ketegangan di otot pundak, mengontrol
gerakan motorik kasar dan halus, meningkatkan
koordinasi mata dan tangan.

Gambar 14. Lambaian Tangan

Mengaktifkan tangan merupakan gerakan isometrik


untuk menolong diri sendiri yang memperpanjang otot-
otot dada atas dan bahu. Kontrol otot untuk gerakan-
gerakan motorik kasar dan motorik halus berasal dari
area ini. Jika otot-otot ini memendek karena ketegangan
maka gerakan-gerakan yang berhubungan dengan
menulis dan menguasai alat akan terlambat.

Petunjuk Mengajar:
a) Murid diminta memerhatikan apakah tangannya
tergantung lemas pada kedua sisi tubuhnya.
b) Murid mengaktifkan bahu tangan, dan kepalanya tetap
rileks. Kemudian dia membandingkan tangan, tingkat
rileks, dan keluwesan kedua tangan, sebelum
mengaktifkan tangan yang lain.
c) Gerakan dilakukan pada empat posisi: menjauhi
kepala, kedepan, ke belakang, dan ke arah telinga.

20 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


d) Murid bisa merasakan gerakan lengan sampai ke
rongga dada.
e) Pada saat melakukan gerakan mengaktifkan tangan
murid mengembuskan napas dalam hitungan delapan
atau lebih.
f) Murid bisa merasakan meningkatnya relaksasi,
koordinasi, dan vitalitas saat ketegangan tangan
dilepaskan.
g) Sesudah menyelesaikan gerakan, murid memutar atau
menggerakkan bahu sambil merasakan relaksasinya.
3) Lambaian Kaki
a) Duduk berpangku kaki. Kedua tangan masing-masing
memegang ujung urat/tendon bag. Atas dan bawah
betis (di bawah lutut dan di atas tumit).
b) Panjangkan otot/carilah titik-titik tegang sambil
melambaikan kaki.
c) Embuskan napas pada saat kaki bergerak ke atas atau
betis terasa tegang/ nyeri.
d) Mengintegrasikan otak bagian muka dan belakang,
melancarkan komunikasi.

Gambar 15. Lambaian Kaki

BRAIN GYM | 21
4) Pompa Betis
a) Berdiri dengan menyandarkan kedua tangan di kursi.
Rentangkan satu kaki ke belakang dengan tumit
terangkat dan kaki satunya dengan lutut di
bengkokkan ke depan.
b) Kemudian sambil mengembuskan napas lakukan
gerakan ke bawah dengan berat badan dipindahkan ke
kaki belakang sampai tumit menekan lantai dan terasa
tarikan pada betis. Tahan beberapa saat pada posisi
ini.
c) Selanjutnya tarik napas dan tumit diangkat seperti
semula.
d) Integrasi otak bagian muka dan belakang, lebih
mampu mengungkapkan diri.

Gambar 16. Pompa Betis


5) Luncuran Gravitasi
a) Duduk di kursi dan kaki dilonjorkan ke depan secara
bersilang.
b) Bungkukkan badan ke depan dan biarkan ke bawah.
c) Rentangkan tangan ke depan, tundukkan kepala dan
badan ke bawah mencium lutut sambil
mengembuskan napas. Kemudian tarik napas pada
saat menegakkan tubuh dengan posisi tangan sejajar
dengan lantai. Ulangi ganti kaki.

22 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


d) Meningkatkan keseimbangan dan koordinasi.

Gambar 17. Luncuran Gravitasi

6) Pasang Kuda-Kuda
a) Bukalah kaki, arahkan kaki kanan ke kanan dan kaki
kiri tetap lurus ke depan.
b) Ambil napas dengan kepala lurus ke depan, tekuk
lutut kanan dibarengi embusan napas sambil
memalingkan kepala ke arah kanan. Ulangi untuk kaki
kiri.
c) Menunjang ingatan jangka pendek, tubuh terasa rileks,
meningkatkan perhatian, dan konsentrasi.

Gambar 18. Pasang Kuda-Kuda

BRAIN GYM | 23
c. Pemusatan
Terkait dimensi atas-bawah dengan melibatkan otak tengah
yang berhubungan dengan kemampuan mengatur dan
mengorganisasikan sesuatu. Gerakan tertentu dapat
meningkatkan energi untuk menghubungkan bagian bawah
otak (informasi emosional) dengan otak besar (berpikir
abstrak). Bila bagian ini tidak seimbang maka orang akan
mengalami kesulitan untuk konsentrasi, kurang percaya diri,
penakut, mengabaikan perasaan dan sulit melakukan
gerakan melompat.
1) Minum Air
Bermanfaat untuk memperlancar pengaliran energi di
otak dan seluruh badan.

Gambar 19. Minum Air


2) Saklar Otak
a) Pijatlah dua titik/lekukan di bawah tulang selangka,
tangan lainnya letakkan di daerah pusar.
b) Variasikan dengan mata melirik ke kiri-kanan, atas-
bawah, jauh-dekat.
c) Rangsangan titik ini meningkatkan peredaran darah ke
otak

24 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Gambar 20. Saklar Otak

3) Tombol Bumi
a) Letakkan dua jari tangan di tengah dagu dan tangan
lainnya di daerah pusar menunjuk ke bawah.
b) Ikuti gerakan mata dari bawah ke atas dalam satu
garis.
c) Meningkatkan otak untuk konsentrasi dan koordinasi.

Gambar 21. Tombol Bumi


4) Tombol Keseimbangan
a) Sentuh di belakang telinga kanan dengan beberapa jari
tangan kanan, tangan kiri letakkan di pusar dan
(sebaliknya).
b) Menjaga keseimbangan, meningkatkan
konsentrasi/kepekaan terhadap tubuh, lebih siap
menerima pelajaran.

BRAIN GYM | 25
Gambar 22. Tombol Keseimbangan

5) Tombol Angkasa
a) Dua jari tangan di bawah hidung dan tangan lainnya di
ujung tulang ekor.
b) Tarik napas dan buang napas dengan baik.
c) Mengurangi ketegangan dan rasa takut, menenangkan
sistem saraf pusat.

Gambar 23. Tombol Angkasa

6) Menguap Berenergi
a) Pijat otot di sekitar persendian rahang sambil
membuka mulut.
b) Menguaplah dengan bersuara untuk melemaskan otot.
c) Merilekskan seluruh otot, meningkatkan penglihatan,
kemampuan membaca dan bicara.

26 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Gambar 24. Menguap Berenergi

7) Pasang Telinga
a) Daun telinga dipijit dan ditarik keluar dengan jari
telunjuk dan jempol ke atas, ke samping, ke bawah.
b) Mengaktifkan otak untuk mendengar, mengingat, dan
bicara.
c) Menjaga kebugaran fisik dan mental.

Gambar 25. Pasang Telinga


(Astuti & Prihastuti, n.d.).
d. Penguatan
1) Gerakan Cross Crawl
Gerakan Cross Crawl membantu meningkatkan integrasi
antara otak kanan dan kiri. Gerakan ini juga mampu
meningkatkan pengintegrasian antara lengan dan kaki
kanan dan kiri. Gerakan ini dilakukan dengan cara berdiri
tegak, kemudian melakukan gerakan menyilang antara

BRAIN GYM | 27
lengan dan kaki. Lengan kanan digerakkan ke arah kiri
dan kaki kiri ditekuk ke atas sehingga lutut kiri terangkat
mendekati lengan kanan dan sebaliknya pada lengan kiri
dan kaki kanan. Saat mengangkat kaki, disarankan untuk
mengangkat setinggi sesuai kemampuan maksimal.
Gerakan Cross Crawl sangat tepat dilakukan saat
kita membutuhkan pasokan energi lebih, saat ingin
meningkatkan koordinasi, saat diperlukan untuk
memperbaiki kesadaran spasial atau orientasi ruang dan
tempat (spatial awareness), sebelum berolahraga dan
sebelum melakukan aktivitas yang membutuhkan
ketajaman visual, pendengaran, dan integrasi kinestetik.
Pada anak-anak, gerakan ini juga sangat baik dilakukan
untuk merangsang peningkatan kemampuan koordiansi
kanan-kiri, sebelum melakukan kegiatan baca-tulis, dan
saat sebelum aktivitas olahraga (Wagner, 2009).

Gambar 26. Gerakan Cross Crawl

28 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


2) Gerakan Positive Points
a) Duduk, berbaring atau berdiri. Silangkan kaki kiri di
atas kaki kanan di mata kaki.
b) Julurkan tangan bersilangan ke depan dengan posisi
jempol ke bawah, telapak tangan berhadapan dan jari
saling menggenggam.
c) Tarik tangan ke depan dada. Tutup mata, bernapas
dalam dan teratur sambil rileks.
(Astuti & Prihastuti, n.d.).
d) Pada anak-anak yang takut melakukan dengan
memejamkan mata, mereka dapat pula melakukan
gerakan ini dengan tetap membuka mata (Wagner,
2009).
e) Saat menarik napas melalui hidung, tempelkan lidah
di langit-langit mulut, pada waktu membuang napas
melalui mulut, lidah dilepaskan.
f) Setelah itu kembalikan kaki pada posisi biasa dan
ujung-ujung jari kedua tangan saling bersentuhan
secara halus sambil bernapas dalam.

Gambar 27. Gerakan Possitive Points


(Astuti & Prihastuti, n.d.).

BRAIN GYM | 29
DEFINISI PERKEMBANGAN

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam


struktur atau fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola
yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses
permatangan (Adriana, 2011).
Whaley dan Wong mengemukakan perkembangan
menitikberatkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap
dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi
dan kompleks melalui proses maturasi dan pembelajaran.
Perkembangan berhubungan dengan perubahan secara
kualitas, di antaranya terjadi peningkatan kapasitas individu
untuk berfungsi yang dicapai melalui proses pertumbuhan,
pematangan, dan pembelajaran. Proses pematangan
berhubungan dengan peningkatan kematangan dan adaptasi.
Proses tersebut terjadi secara terus-menerus dan saling
berhubungan serta ada keterkaitan antara satu komponen dan
komponen lain. Jadi, jika tubuh anak semakin besar dan tinggi,
kepribadiannya secara simultan juga semakin matang
(Supartini, 2004).

30 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Marlow (1988) dalam (Supartini, 2004). Mendefinisikan
perkembangan sebagai peningkatan keterampilan dan kapasitas
anak untuk berfungsi secara bertahap dan terus-menerus. Jadi
perkembangan adalah suatu proses untuk menghasilkan
peningkatan kemampuan untuk berfungsi pada tingkat tertentu
(Supartini, 2004).
Keterampilan motorik halus ini melibatkan gerakan tangan
yang diatur secara halus seperti menggenggam mainan,
mengancingkan baju, menulis, atau melakukan apa pun yang
memerlukan keterampilan tangan (Soetjiningsih, 2012).
Perkembangan motorik halus melibatkan gerakan tangan yang
diatur secara halus, menggenggam mainan, mengancingkan
baju, atau melakukan apa pun yang memerlukan keterampilan
tangan menunjukkan keterampilan motorik halus (Santrock,
2007).
Ada dua istilah dalam perkembangan motorik, yaitu yang
disebut dengan gerak (movement) & motorik (motor). Motorik
(motor) merujuk pada faktor biologis dan mekanis yang
memengaruhi gerak (movement)… (Gellahue, 1997).
Sedangkan gerak (movement) merujuk pada perubahan aktual
yang terjadi pada bagian tubuh yang dapat diamati. Maka
secara sederhana dapat disimpulkan bahwa motorik merupakan
kemampuan yang bersifat lahiriah yang dimiliki seseorang
untuk mengubah beragam posisi tubuh.
Perkembangan motorik merupakan cara tubuh untuk
meningkatkan kemampuan sehingga performanya menjadi
lebih kompleks. Perubahan ini terjadi terus menerus sepanjang
siklus kehidupan. Perkembangan motorik mencakup dua
klasifikasi, yaitu kemampuan motorik kasar dan kemampuan

BRAIN GYM | 31
motorik halus. Meggitt (2002) mengungkapkan istilah
perkembangan motorik merujuk pada makna perkembangan
fisik, di mana perkembangan fisik memiliki arti bahwa anak
telah mencapai sejumlah kemampuan dalam mengontrol diri
mereka sendiri. Sementara Dodge (2002) berpendapat bahwa
pencapaian kemampuan motorik kasar dan motorik halus pada
anak usia prasekolah merupakan tujuan dari pengembangan fisik
anak.
Perkembangan motorik anak akan melalui tiga proses,
yaitu: pertama, perkembangan dari otot kasar menuju otot
kecil, kemudian pertumbuhan dari kepala ke jari kaki
(cephalocaudal) serta perkembangan dari sumbu tubuh menuju
ke luar (proximoditssal). Kemampuan motorik kasar adalah
kemampuan untuk menggunakan otot-otot besar pada tubuh,
sementara kemampuan motorik halus mencakup kemampuan
manipulasi kasar (gross manipulative skill) dan kemampuan
manipulasi halus (fine manipulative skill) yang melibatkan
penggunaan tangan dan jari secara tepat (Carolyn Meggit,
1999).
Frankenberg dalam Adriana (2011), melalui DDST
(Denver Development Screening Test) mengemukakan 4
parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai
perkembangan anak balita:
1) Personal Social (Kepribadian atau Tingkah Laku Sosial)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri,
bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
2) Fine Motor Adoptive (Gerakan Motorik Halus)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk
mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan

32 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan otot-otot
kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.
3) Language (Bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara,
mengikuti perintah dan berbicara spontan.
4) Gross Motor (Perkembangan Motorik Kasar)
Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap
tubuh.

1. PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR


Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan
tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf,
otot, otak, dan spinal cord. Perkembangan motorik meliputi
motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh
yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau
seluruh anggota tubuh. Contohnya kemampuan duduk,
menendang, berlari, naik-turun tangga, dan sebagainya.
Motorik kasar adalah bagian dari aktivitas motorik yang
melibatkan keterampilan otot-otot besar. Gerakan-gerakan
seperti tengkurap, duduk, merangkak, dan mengangkat leher
adalah bagian dari aktivitas motorik kasar. Gerakan inilah yang
pertama terjadi pada tahun pertama usia anak.
Ada tiga jenis gerakan pada motorik kasar yang dapat
dilakukan oleh anak. Ketiga kegiatan ini dilakukan secara
bertahap sesuai dengan tingkat usianya. Berikut akan
dijelaskan ketiga jenis kegiatan ini:

BRAIN GYM | 33
1. Kemampuan Lokomotor
Perlu dikembangkan dengan tujuan membantu anak
mengembangkan kemampuan menggunakan otot-otot besar
untuk berpindah (menggunakan semua anggota tubuh)
secara horizontal dan proyeksi tubuh. Gerakan lokomotor
dapat ditunjukkan melalui kegiatan seperti melompat,
meloncat, berlari cepat, berjingkrak, dan meluncur.
2. Kemampuan Non-lokomotor
Kemampuan menggerakkan bagian atau anggota-anggota
tubuh seperti kepala, bahu, tangan, pinggang, kaki tanpa
melakukan perpindahan. Kegiatan ini dapat berupa gerakan
mendorong, menarik, mengayun, meliuk, memutar,
peregangan, mengangkat, membungkuk, angkat satu kaki, dst.
3. Kemampuan Manipulatif
Kemampuan ini merupakan kemampuan anak menggunakan
benda, alat atau media dalam bergerak. Alat atau media ini
dapat diperlakukan dengan cara dilempar, diayun, diangkat,
ditarik, digulirkan, dihentakkan, atau dengan cara lainnya
sehingga dapat mendukung kemampuan gerak yang
diharapkan dapat dicapai atau dikuasai.

a. Tahap Perkembangan Motorik Kasar


Tahapan perkembangan motorik paada anak usia dini:
1. Imitation (Peniruan)
Keterampilan seseorang menirukan sesuatu yang dilihat,
didengar, dan dialaminya. Tahap imitasi terjadi ketika
anak mengamati suatu gerakan, di mana anak mulai

34 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


memberi respons serupa dengan apa yang diamatinya.
Contoh: menirukan gerakan tari, berjalan atau melompat.
2. Manipulation (Menggunakan Konsep)
Keterampilan untuk menggunakan konsep dan
melakukan kegiatan. Tahap manipulasi menekankan pada
perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan,
penampilan gerakan-gerakan pilihan dan menetapkan
suatu penampilan melalui latihan. Contoh: memasukkan
bola ke keranjang, melakukan smash, atau melakukan
gerakan senam yang didemonstrasikan.
3. Presition (Ketelitian)
Berhubungan dengan kegiatan secara teliti dan benar.
Aktivitas di tahap ini membutuhkan kecermatan, proporsi
dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan.
Contoh: berjalan di atas papan titian.
4. Articulation (Perangkaian)
Keterampilan motorik untuk mengaitkan bermacam-
macam gerakan yang berkesinambungan. Aktivitas
dalam tahap ini menekankan pada koordinasi suatu
rangkaian gerakan dengan membuat urutan tepat dan
mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal
antara gerakan-gerakan yang berbeda. Contoh: mendrible
dan lay up, menggiring dan mengoper bola.
5. Naturalisation (Kewajaran)
Gerakan yang dilakukan dengan dihayati dan wajar.
Menurut tingkah laku yang ditampilkan, gerakan ini
paling sedikit mengeluarkan energi baik fisik maupun
psikis. Gerakan biasanya dilakukan secara rutin sehingga

BRAIN GYM | 35
telah menunjukan keluwesan. Contoh: bermain bola,
berenang, bersepeda.

Lembaga pendidikan mempunyai fungsi untuk


meletakkan dasar pengembangan aspek-aspek afektif dan
psikomotor, di samping aspek kognitif sebagai unsur yang
menuju kepada pembinaan anak menjadi pribadi-pribadi
yang utuh, sehat dan segar baik jasmani, rohani, maupun
sosialnya. Untuk itu dilakukan upaya yang salah satunya
adalah dengan dimasukkannya program pendidikan
keterampilan ke dalam kurikulum dan pengembangan
pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan di sekolah-
sekolah.
Anak-anak prasekolah membuat kemajuan yang besar
dalam keterampilan motorik kasar (gross motor skill),
seperti berlari, melompat, yang melibatkan penggunaan otot
besar. Perkembangan daerah sensoris dan motor pada
korteks memungkinkan koordinasi yang lebih baik antara
apa yang diinginkan oleh anak dan apa yang dapat
dilakukannya. Tulang dan otot mereka semakin kuat, dan
kapasitas paru mereka semakin besar memungkinkan
mereka untuk berlari, melompat, dan memanjat lebih cepat,
lebih jauh, dan lebih baik (Papalia, Old, dan Feldman, 2008:
315).
Pada usia 4 tahun anak-anak masih suka jenis gerakan
sederhana seperti berjingkrak-jingkrak, melompat, dan
berlari ke sana-kemari, hanya demi kegiatan itu sendiri tapi
mereka sudah berani mengambil risiko. Walaupun mereka
sudah dapat memanjat tangga dengan satu kaki pada setiap

36 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


tiang anak tangga untuk beberapa lama, mereka baru saja
mulai dapat turun dengan cara yang sama.
Pada usia 5 tahun, anak-anak bahkan lebih berani
mengambil risiko dibandingkan ketika mereka berusia 4
tahun. Mereka lebih percaya diri melakukan ketangkasan
yang mengerikan seperti memanjat suatu objek, berlari
kencang dan suka berlomba dengan teman sebayanya
bahkan orangtuanya (Santrock, 1995: 225). Terlihat bahwa
pengembangan motorik kasar untuk anak usia prasekolah
(2-6 tahun) lebih kepada melatih gerak dan koordinasi
mereka di mana standar kompetensi dan kompetensi
dasarnya dimuat dalam kemampuan motorik pada
kurikulum. Kegiatan pun banyak dilakukan melalui aktivitas
bermain, sama halnya dengan pengembangan kemampuan
motorik yang dilakukan di tingkat SD kelas awal.
Perbedaannya adalah pada tingkat SD, unsur knowledge
sudah mulai dikenalkan kepada anak. Sehingga di tengah
dan akhir kegiatan pembelajaran ada serangkaian evaluasi
yang tidak hanya mengukur kemampuan praktikal motorik
anak melainkan juga ada pengukuran kemampuan
pengetahuan mereka terkait dengan beberapa hal dalam
pelajaran pendidikan jasmani itu sendiri.
Motorik kasar adalah bagian dari aktivitas motorik yang
mencakup keterampilan otot-otot besar, gerakan ini lebih
menuntut kekuatan fisik dan keseimbangan, gerakan
motorik kasar melibatkan aktivitas otot tangan, kaki, dan
seluruh anak, gerakan ini mengandalkan kematangan dalam
koordinasi, berbagai gerakan motorik kasar yang dicapai

BRAIN GYM | 37
anak sangat berguna bagi kehidupannya kelak, seperti,
merangkak, berjalan, berlari, melompat atau berenang.

b. Tujuan dan Fungsi Pengembangan Motorik Kasar


1. Untuk kesimbangan tubuh anak.
2. Melenturkan otot-otot anak.
3. Mengembangkan kecerdasan anak karena dapat
merangsang otak melalui gerakan aliran atau peredaran
darah yang lancar yang dapat mengalirkan oksigen ke
otak sehingga saraf-saraf otak dapat berkembang.
4. Untuk kelincahan gerakan anak.
5. Sebagai alat untuk menunjang perkembangan.
6. Meningkatkan kemampuan mengelola, mengontol
gerakan tubuh dan koordinasi serta meningkatkan
keterampilan tubuh.

c. Perkembangan Motorik Kasar Anak TK


Perkembangan motorik merupakan proses memperoleh
keterampilan dan pola gerakan yang dapat dilakukan anak,
misalnya dalam kemampuan motorik kasar anak belajar
menggerakkan seluruh tubuh, kemudian metode yang
digunakan adalah metode kegiatan yang dapat memacu
semua kegiatan motorik kasar yang perlu dikembangkan
anak seperti anak dapat belajar menangkap bola,
menendang, meloncat, dan lain sebagainya.
Pada usia 3-4 tahun perkembangan motorik kasar anak,
seperti, menangkap bola besar dengan tangan lurus di depan
badan, berdiri dengan 1 kaki selama 5 detik, melompat
sejauh 1 meter menggunakan bahu dan siku pada saat
38 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I
melempar bola hingga 3 meter, melompat dengan satu kaki,
dan lain-lain.
Sedangkan perkembangan motorik kasar anak usia 5-6
tahun seperti berlari dan langsung menendang bola,
melompat-lompat dengan kaki bergantian, melambungkan
bola tenis dengan satu tangan dan menangkapnya dengan
satu tangan, berjalan pada garis yang sudah ditentukan,
berjinjit dengan tangan dan pinggul, mengayuhkan satu kaki
ke depan atau ke belakang tanpa kehilangan keseimbangan

d. Prinsip Perkembangan Motorik Kasar Anak TK


1. Anak usia TK sudah memiliki kemampuan melihat
dengan fokus yang benar, sehingga guru dapat
memberikan aktivitas melempar bola, ia telah memiliki
kemampuan melihat bola dilempar ke arahnya dan
ditangkap oleh tangan, guru dapat menciptakan aneka
aktivitas dengan menggunakan karakteristik ini.
2. Anak usia TK telah dapat melakukan serangkaian
gerakan secara berkelanjutan misalnya gerakan
menangkap, melempar, menendang.
3. Guru perlu memberikan relaksasi pada anak setelah
mereka beraktivitas atau melakukan suatu gerakan.
4. Gerakan oposisi, gerakan ini perlu diperkenalkan pada
anak, gerakan oposisi adalah gerakan seperti berjalan
atau berlari dimana posisi tangan kanan diayunkan ke
depan dikoordinasikan dengan langkah kaki kanan ke
depan. Koordinasi ini dapat dilatihkan kepada anak
dalam kegiatan baris berbaris.

BRAIN GYM | 39
5. Pemindahan beban, gerakan pemindahan pada anak dapat
dilakukan dengan mengajarkan kepada mereka gerakan
memanjat pohon. Pemindahan beban dengan satu kaki
dapat mengajarkan keseimbangan dan merasakan
pemindahan beban pada tubuh mereka.
6. Tenaga sebagai guru TK memberikan aktivitas kepada
anak TK sebagai contoh menendang bola atau menahan
beban.

e. Karakteristik Perkembangan Motorik Kasar Anak TK


1. Gerak motorik kasar melibatkan seluruh bagian-bagian
tubuh anak terutama otot-otot besar, misalnya berlari,
melompat, melempar, menangkap, dan lain-lain.
2. Pertumbuhan relatif stabil, anggota badan terus tumbuh
dengan cepat dalam proporsi yang seimbang,
keseimbangan perkembangan jadi lebih baik.
3. Gerakan motorik kasar membutuhkan tenaga yang
banyak karena seluruh anggota tubuh ikut bergerak.

2. PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS


Motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot
halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi
oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya,
kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret,
menyusun balok, menggunting, menulis, dan sebagainya.
Kedua kemampuan tersebut sangat penting agar anak bisa
berkembang dengan optimal.
Motor halus merupakan aktivitas keterampilan yang
melibatkan gerakan otot-otot kecil. Menggambar, meronce

40 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


manik-manik, menulis dan makan adalah contoh beberapa
gerakan motorik halus. Kemampuan motor halus ini
berkembang setelah kemampuan motorik kasar si kecil
berkembang optimal. Perkembangan motorik halus anak taman
kanak-kanak ditekankan pada koordinasi gerakan motorik
halus, dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau
memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. Pada
usia 4 tahun koordinasi gerakan motorik halus anak sangat
berkembang bahkan hampir sempurna. Walaupun demikian
anak usia ini masih mengalami kesulitan dalam menyusun
balok-balok menjadi suatu bangunan. Hal ini disebabkan oleh
keinginan anak untuk meletakkan balok secara sempurna
sehingga kadang-kadang meruntuhkan bangunan itu sendiri.
Anak pada usia 4 tahun, motorik halusnya sudah berkembang
hampir sempurna. Walau demikian, terkadang, mereka masih
bisa melakukan kesalahan jika menggunakan motorik
halusnya, dan masih mengalami kesulitan melakukan sesuatu,
dalam kapasitasnya sedang menggunakan motorik halus. Pada
usia 5 atau 6 tahun koordinasi gerakan motorik halus
berkembang pesat. Pada masa ini anak telah mampu
mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti
mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan
tubuh secara bersamaan, antara lain dapat dilihat pada waktu
anak menulis atau menggambar.
Pada usia 5-6 tahun, banyak anak yang sudah sempurna
motorik halusnya, karena bisa dilihat dalam kegiatan
menggambar ataupun menulis. Dimana anak telah mampu
mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti
mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan dan
tubuh secara bersamaan. Motorik halus merupakan koordinasi
BRAIN GYM | 41
antara jari-jemari, telapak tangan dan kaki serta mata.
Umumnya orang tua lebih memerhatikan perkembangan
motorik kasar ketimbang motorik halus. Padahal, sama
pentingnya. Bahkan lebih bermakna karena mengarah pada
inteligensi anak. Dari sini nantinya akan terlihat kemampuan
anak menulis. Anak selagi di play group atau TK belum bisa
memegang pensil dengan benar, ternyata di usia sekolah
kemampuan menulisnya kurang baik.

42 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


PRINSIP-PRINSIP PERKEMBANGAN
FISIOLOGIS ANAK USIA TAMAN
KANAK-KANAK

Prinsip utama perkembangan fisiologis anak usia dini


adalah koordinasi gerakan motorik, baik motorik kasar maupun
halus. Pada awal perkembangannya, gerakan motorik anak
tidak terkoordinasi dengan baik. Seiring dengan kematangan
dan pengalaman anak kemampuan motorik tersebut
berkembang dari tidak terkoordinasi dengan baik menjadi
terkoordinasi secara baik. Prinsip utama perkembangan
motorik adalah kematangan, urutan, motivasi, pengalaman, dan
latihan atau praktik. Kematangan saraf pada waktu anak
dilahirkan hanya memiliki otak seberat 2,5% dari berat otak
orang dewasa. Saraf-saraf yang ada di pusat susunan saraf
belum berkembang dan berfungsi sesuai perkembangannya.
Sejalan dengan perkembangan fisik dan usia anak, saraf-saraf
yang berfungsi mengontrol gerakan motorik mengalami proses
neurogical maturation. Pada anak usia 5 tahun saraf-saraf yang
berfungsi mengontrol gerakan motorik sudah mencapai
kematangannya dan menstimulasi berbagai kegiata motorik
yang dilakukan anak secara luas. Otot besar yang mengontrol
gerakan motorik kasar seperti berjalan, berlari, melompat, dan
BRAIN GYM | 43
berlutut, berkembang lebih cepat apabila dibandingkan dengan
otot halus yang mengontrol kegiatan motorik halus, di
antaranya menggunakan jari-jari tangan untuk menyusun
puzzle, memegang gunting atau memegang pensil. Pada waktu
bersamaan persepsi visual motorik anak ikut berkembang
dengan pesat, seperti mengisi gelas dengan air, menggambar,
mewarnai dengan tidak keluar garis.
Di usia 5 tahun anak telah memiliki kemampuan motorik
yang bersifat kompleks yaitu kemampuan untuk
mengkombinasikan gerakan motorik dengan seimbang, seperti
berlari sambil melompat dan mengendarai sepeda. Ketika anak
mampu melakukan suatu gerakan motorik, maka akan
termotivasi untuk bergerak kepada motorik yang lebih luas
lagi. Aktivitas fisiologis meningkat dengan tajam. Anak
seakan-akan tidak mau berhenti melakukan aktivitas fisik, baik
yang melibatkan motorik kasar maupun motorik halus. Pada
saat mencapai kematangan untuk terlibat secara aktif dalam
aktivitas fisik yang ditandai dengan kesiapan dan motivasi
yang tinggi dan seiring dengan hal tersebut, orang tua dan guru
perlu memberikan berbagai kesempatan dan pengalaman yang
dapat meningkatkan keterampilan motorik anak secara optimal.
Peluang-peluang ini tidak saja berbentuk membiarkan anak
melakukan kegiatan fisik akan tetapi perlu didukung dengan
berbagai fasilitas yang berguna bagi pengembangan
keterampilan motorik kasar dan motorik halus.
Kemampuan fisik/motorik anak apabila bermasalah perlu
dilakukan terapi. Apabila masalahnya berhubungan dengan
motorik kasar, anak akan menjalani fisioterapi. Sedangkan jika
masalahnya pada motorik halus, ia akan menjalani terapi

44 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


okupasi. Untuk keterlambatan bahasa, tentu anak akan
menjalani terapi wicara, dan sebagainya.
Anak usia 4 tahun
1) Membangun menara setinggi 11 kotak.
2) Menggambar sesuatu yang berarti bagi anak tersebut dan
dapat dikenali oleh orang lain.
3) Mempergunakan gerakan-gerakan jemari selama permainan
jari.
4) Menjiplak gambar kotak.
5) Menulis beberapa huruf.
Anak usia 5 tahun
1) Menulis nama depan; membangun menara setinggi 12
kotak; mewarnai dengan garis-garis.
2) Memegang pensil dengan benar antara ibu jari dan dua jari.
3) Menggambar orang beserta rambut hidung.
4) Menjiplak persegi panjang dan segitiga.
5) Memotong bentuk-bentuk sederhana (News, 2013).

a. Penilaian Perkembangan Motorik Halus


1) Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
Formulir KPSP adalah alat/instrumen yang digunakan
untuk mengetahui perkembangan anak normal, atau
penyimpangan.
a) Jadwal Pelaksanaan Skrining
Secara rutin dilakukan pada anak umur 3, 6, 9, 12, 15,
18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66, dan 72 bulan.
Jika anak belum mencapai umur skrining tersebut,
minta ibu datang kembali pada umur skrining terdekat

BRAIN GYM | 45
untuk pemeriksaan rutin. Misalnya, bayi umur tujuh
bulan, maka ibu diminta datang kembali pada umur
sembilan bulan. Apabila orang tua datang dengan
keluhan anaknya mempunyai masalah tumbuh
kembang, sedangkan umur anak bukan umur skrining,
maka pemeriksaan menggunkan KPSP untuk umur
yang terdekat pada umur yang lebih mudah, skrining
menggunakan KPSP dilaksanakan oleh tenaga
kesehatan, guru TK, dan petugas PAUD yang telah
terlatih.
b) Alat/Instrumen yang Digunakan
Alat/instrumen yang digunakan pada skrining KPSP
adalah sebagai berikut:
1. Formulir KPSP menurut umur. Formulir ini berisi
9-10 pertanyaan tentang kemampuan
perkembangan yang telah dicapai anak. Sasaran
KPSP adalah anak umur 0-72 bulan.
2. Alat bantu pemeriksaan berupa pensil, kertas, bola
sebesar bola tenis, kerincingan, kubus berukuran
sisi 2,5 cm sebanyak enam buah, kismis, kacang
tanah, dan potongan biskuit kecil ukuran 0,5-1 cm.
c) Cara Penggunaan KPSP
1. Pada waktu pemeriksaan anak harus dibawa
Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal,
bulan, dan tahun anak lahir. Bila umur anak (dalam
hitungan bulan) lebihnya 16 hari, maka dibulatkan
menjadi 1 bulan. Misalnya, umur anak 6 bulan 16
hari, maka dibulatkan menjadi 7 bulan. Jika umur

46 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


anak 6 bulan 15 hari maka umur anak tetap
dihitung 6 bulan.
2. Setelah menentukan umur anak, pilihlah KPSP
yang sesuai dengan umur anak.
3. KPSP terdiri atas dua macam pertanyaan sebagai
berikut:
a. Pertanyaan dijawab oleh ibu/pengasuh anak.
Contoh: “Dapatkah bayi makan kue sendiri?”
b. Perintah kepada ibu/pengasuh anak atau petugas
untuk melaksanakan tugas yang tertulis pada
KPSP. Misalnya, “Pada posisi anak terlentang,
tariklah bayi pada pergelangan tangannya secara
perlahan-lahan ke arah posisi duduk!”
4. Jelaskan kepada orang tua agar tidak takut atau
ragu-ragu untuk menjawab. Oleh karena itu
pastikan orang tua/pengasuh anak mengerti dengan
apa yang ditanyakan kepadanya.
5. Ajukan pertanyaan secara beruruta dan satu per
satu. Setiap pertanyaan hanya membutuhkan satu
jawaban, yaitu ya atau tidak. Catat jawaban
tersebut pada formulir.
6. Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah orang
tua/pengasuh anak menjawab pertanyaan
sebelumnya.
7. Terakhir, teliti kembali apakah semua pertanyaan
dalam KPSP telah terjawab.

BRAIN GYM | 47
d) Interpretasi Hasil KPSP
1. Hitung berapa jumlah jawaban ya.
a) Jawaban “ya” bila orang tua/pengasuh anak
menjawab anak bisa, pernah, sering atau
kadang-kadang melakukannya.
b) Jawban “tidak” bila orang tua/pengasuh anak
menjawab belum pernah, tidak melakukan, atau
orang tua/pengasuh anak tidak tahu.
2. Jumlah jawaban “ya” = 9 atau 10, berarti
perkembangan anak sesuai dengan tahap
perkembangannya (S).
3. Jumlah jawaban “ya” = 7 atau 8, berarti
perkembangan anak meragukan (M).
4. Jumlah jawaban “ya” = 6 atau kurang,
kemungkinan ada penyimpangan (P).
5. Untuk jawaban “tidak”, perlu dirinci jumlah
jawaban “tidak” menurut jenis keterlambatan
(gerak kasar, gerak halus, bicara, dan bahasa).
2) Denver Development Screening Test (DDST)
Denver development screening test (DDST) adalah
sebuah metode pengkajian yang digunakan untuk menilai
perkembangan anak umur 0-6 tahun. Nama Denver
diambil dari University of Colorado Medical Center di
Denver. Di mana uji skrining ini dibuat.
DDST mengalami beberapa kali revisi dalam
perkembangannya. Revisi terakhir adalah Denver II yang
merupakan hasil revisi dan standarisasi dari DDST dan
DDST-R (Revised Denver Development Screening Test).

48 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Perbedaan Denver II dengan skrining terdahulu terletak
pada item-item tes, bentuk, interpretasi, dan rujukan.
a) Manfaat Denver Developmet Screening Test (DDST)
Manfaat DDST bergantung pada umur anak. Pada
bayi, tes ini dapat mendeteksi berbagai masalah
neurologis seperti serebral palsi. Pada anak, tes ini
dapat membantu meringankan masalah akademik dan
sosial.
1. Menilai tingkat perkembangan anak sesuai dengan
umurnya.
2. Menilai tingkat perkembangan anak yang tampak
sehat.
3. Menilai tingkat perkembangan anak yang tidak
menunjukkan gejala, kemungkinan adanya kelainan
perkembangan.
4. Memastikan anak yang diduga mengalami kelainan
perkembangan.
b) Isi DDST
Denver II terdiri dari 125 item tugas perkembangan
yang sesuai dengan umur anak 0-6 tahun dan terbagi
dalam 4 sektor, yaitu sebagai berikut:
1. Kepribadian/Tingkah Laku Sosial (Personal
Social)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan
mandiri, bersosilalisasi, dan berinteraksi dengan
lingkungannya.
2. Gerakan Motor Halus (Fine Motor Adaptive)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak
untuk mengamati sesuatu serta melakukan gerakan

BRAIN GYM | 49
yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja
dan dilakukan oleh otot-otot kecil.
3. Bahasa (Language)
Bahasa adalah kemampuan untuk memberikan
respons terhadap suara, mengikuti perintah dan
berbicara spontan.
4. Perkembangan Motorik Kasar (Gross Motor)
Aspek yang berhubungan dengan perkembangan
pergerakan dan sikap tubuh (Adriana, 2011).
c) Penilaian Item Test DDST

Hasil interpretasi untuk keseluruhan tes dikategorikan


menjadi 3 yaitu, “Tak dapat diuji”, ”Suspek” dan
“Normal”.
1. Tidak dapat diuji. Interpretasi TIDAK DAPAT
DIUJI diberikan jika terdapat satu atau lebih skor
“Terlambat” (1T) dan atau dua atau lebih
“Peringatan” (2P). Ingat, dalam hal ini, T dan P
harus disebabkan oleh penolakan (M), bukan oleh
kegagalan (G). Jika hasil ini didapat, lakukan uji
ulang dalam 1-2 minggu mendatang.
2. Suspek. Interpretasi SUSPEK diberikan jika
terdapat satu atau lebih skor “Terlambat” (1T) dan
atau dua atau lebih “Peringatan” (2P). Ingat, dalam
hal ini T dan P harus disebabkan oleh kegagalan
(G), bukan penolakan (M). Jika hasil ini didapat,
lakukan uji ulang dalam 1-2 mimggu mendatang
untuk menghilangkan faktor-faktor sesaat, seperti
rasa takut, sakit atau kelelahan.

50 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


3. Normal. Interpretasi NORMAL diberikan jika
tidak ada skor “Terlambat” (0T) dan atau maksimal
1 “Peringatan” (1P). Jika ini didapat, lakukan
pemeriksaan ulang pada kunjungan berikutnya
(Adriana, 2011).

3. PRINSIP PERKEMBANGAN
1) Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah
berhenti
Manusia secara terus menerus berkembang atau berubah
yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang
hidupnya perkembangan berlangsung secara terus menerus
sejak masa konsepsi sampai mencapai kematangan atau
masa tua.
2) Semua aspek perkembangan saling memengaruhi
Setiap aspek perkembangan individu baik fisik, emosi,
inteligensi, maupun sosial atau sama lainnya saling
memengaruhi terhadap hubungan atau kolerasi yang positif
di antara aspek tersebut.
3) Perkembangan itu mengikuti pola arah atau arah tertentu
Perkembangan terjadi secara teratur mengikuti pola atau
arah tertentu. Setiap tahap perkembangan merupakan hasil
perkembanag dari tahap sebelumnya yang merupakan
prasarat bagi perkembangan selanjutnya.
4) Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan
Perkembangan fisik dan mental mencapai kematangan
terjadi pada waktu dan tempo yang berbeda (ada yang cepat
ada yang lambat).

BRAIN GYM | 51
5) Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas
Prinsip ini dapat dijelaskan dengan contoh sebagai berikut:
a. Sampai usia 2 tahun anak memusatkan untuk mengenal
lingkungannya, menguasai gerak-gerik fisik dan belajar
berbicara.
b. Pada usia 3-6 tahun perkembangan dipusatkan untuk
menjadi manusia sosial (belajar bergaul dengan orang
lain).
6) Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan atau
fase perkembangan
Prinsip ini berarti bahwa dalam menjalani hidupnya yang
normal dan berusia panjang individu akan mengalami fase-
fase perkembangan: bayi, kanak-kanak, amak, remaja,
dewasa, dan masa tua (Mylsidayu, 2011).
a. Fase-Fase Perkembangan
Fase perkembangan dapat diartikan sebagai penahapan atau
pembabakan rentan perjalanan kehidupan individu yang
diwarnai ciri-ciri khusus atau pola tingkah laku tertentu, di
bawah ini ada beberapa pendapat para ahli;
Wong (2000) mengemukakan perkembangan anak
secara umum terdiri atas tahapan prenatal, periode bayi,
masa kanak-kanak awal, masa kanak-kanak pertengahan,
dan masa kanak-kanak akhir. Berikut ini akan diuraikan
setiap periode perkembangan anak:
1) Periode Prenatal
Periode ini terdiri atas fase germinal, embrio, dan fetal.
Fase germinal, yaitu mulai dari konsepsi sampai kurang
lebih usia kehamilan 2 minggu. Fase embrio, mulai dari
usia kehamilan 2 minggu sampai 8 minggu dan periode

52 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


fetal mulai dari 8 minggu sampai 40 minggu atau
kelahiran. Pada periode ini terjadi pertumbuhan yang
sangat cepat dan sangat penting karena terjadi
pembentukan organ dan sistem organ otak. Selain itu,
adanya hubungan antara kondsi ibu dan fetus yang
member dampak pada pertumbuhannya.
2) Periode Bayi
Periode ini terbagi atas neonates dan bayi. Neonates
adalah sejak lahir (0 hari) sampai 28 hari. Dari 28 hari
sampai usia 12 bulan termasuk periode bayi. Pada
periode ini, pertumbuhan dan perkembangan yang cepat
terutama pada aspek kognitif, motorik, dan sosial dan
pembentukan rasa percaya pada diri anak melalui
perhatian dan pemenuhan kebutuhan dasar dari orang tua.
Kemampuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan dasar
dan memberikan stimulus sensoris-motor mutlak
diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak
karena anak masih bergantung secara total pada
lingkungan, terutama keluarga sebagai lingkungan
pertama.
3) Periode Kanak-Kanak Awal
Periode ini terdiri atas usia anak 1 sampai 3 tahun yang
disebut dengan toddler dan prasekolah, yaitu antara 3
sampai 6 tahun. Toddler menunjukkan perkembangan
motorik yang lebih dan anak menunjukkan kemampuan
kreativitas lebih banyak bergerak, mengembangkan rasa
ingin tahu, dan eksplorasi terhadap benda yang ada di
sekelilingnya. Dengan demikian, bahaya atau risiko
terjadi kecelakaan harus diwaspadai pada periode

BRAIN GYM | 53
toddler. Orang tua perlu mendapatkan bimbingan
antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya bahaya atau
ancaman kecelakaan tersebut. Kemampuan interaksi
soaila lebih luas terutama pada anak prasekolah dan
mempersiapkan diri untuk memasuki dunia sekolah,
dan perkembangan konsep diri telah dimulai pada
periode ini. Pada usia prasekolah, perkembangan fisik
lebih lambat dan relatif menetap. Sistem tubuh harusnya
sudah matang dan sudah terlatih dengan toilet trainning.
Keterampilan motorik, seperti berjalan, berlari,
melompat, menjadi semakin luwes, tetapi otot dan tulang
belum begitu sempurna.
4) Periode Kanak-Kanak Pertengahan
Periode ini dimulai pada usia 6 tahun samapai 11 tahun
atau 12 tahun, dengan pertumbuhan anak laki-laki sedikit
lebih meningkat dari pada perempuan, dan
perkembangan motorik lebih sempurna. Untuk hal ini,
anak membutuhkan aktivitas yang regular kurang lebih 4
sampai 5 jam per-hari. Periode ini dikenal sebagai fase
usia sekolah, yaitu anak mempunyai lingkungan lain
selain keluarga, terutama sekolah.
5) Periode Kanak-Kanak Akhir
Periode ini merupakan fase transisi, yaitu anak mulai
memasuki usia remaja, pada usia 11 atau 12 tahun
sampai 18 tahun. Anak perempuan mulai memasuki fase
pubertas pada usia 11 tahun, sedangkan anak laki-laki 12
tahun. Perkembangan yang mencolok pada periode ini
adalah kematangan identitas seksual dengan
berkembangnya organ reproduksi dan pencapaian

54 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


identitas sebagai seorang remaja yang akan
meninggalkan masa kanak-kanak dan memasuki
perkembangan sebagai orang dewasa, terutama pada fase
remaja akhir.

Perkembangan Psikoseksual (Freud):


1) Fase Oral (0 sampai 11 bulan)
Selama masa bayi, sumber kesenangan anak terbesar
berpusat pada aktivitas oral seperti mengisap, menggigit,
mengunyah, dan mengucap.
2) Fase Anal (1 sampai 3 tahun)
Selama fase kedua, yaitu menginjak tahun pertama
sampai tahun ketiga, kehidupan anak berpusat pada
kesenangan anak, yaitu selama perkembangan otot
sfringter. Anak senang menahan feces, bahkan bermain-
main dengan feces sesuai dengan keinginannya.
3) Fase Falik (3 sampai 6 tahun)
Fase ini, genital menjadi area yang menarik dan area
tubuh yang sensitif. Anak mulai mempelajari adanya
perbedaan jenis kelamin perempuan dan laik-laki dengan
mengetahui adanya perbedaan alat kelamin.
4) Fase Laten (6 sampai 12 tahun)
Selama periode laten, anak menggunakan energi fisik dan
psikologis yang merupakan media untuk mengeksplorasi
pengetahuan dan pengalamannya melalui aktivitas fisik
maupun sosialnya.
5) Fase Genital (12 sampai 18 tahun)
Tahapan akhir masa perkembangan menurut Freud
adalah tahapan genital ketika anak mulai masuk fase

BRAIN GYM | 55
pubertas, yaitu dengan adanya proses kematangan organ
reproduksi dan reproduksi hormon seks.

Perkembangan Kognitif (Piaget):


1) Tahap Sensoris-Motorik (0 sampai 2 tahun)
Mengisap (sucking) adalah ciri utama pada perilaku bayi
dan perkembangan sekalipun tidak sedang menyusu.
Pada tahap ini, anak mengembangkan aktivitasnya
dengan menunjukkan perilaku sederhana yang dilakukan
berulang-ulang untuk meniru perilaku tertentu dari
lingkungannya. Jadi, perkembangan intelektual dipelajari
melalui sensasi dan pergerakan.
2) Praoperasional (2 sampai 7 tahun)
Karakteristik utama perkembangan intelektual pada
tahapan pra-operasional didasari oleh sifat egosentris.
Ketidakmampuan untuk menempatkan diri sendiri di
tempat orang lain. Pemikiran didominasi oleh apa yang
mereka lihat dan rasakan dengan pengalaman lainnya.
Pada anak usia 2 sampai 3 tahun, anak berada di antara
sensoris dan motor dan praoperasional, yaitu anak mulai
mengembangkan sebab akibat, trial and error, dan
menginterpretasi benda atau kejadian.
3) Concrete Operational (7 sampai 11 tahun)
Pada usia ini pemikiran meningkat atau bertambah logis
dan koheren. Anak mampu mengklasifikasi benda dan
perintah dan menyelesaikan masalah secara konkret dan
sistematis berdasarkan apa yang mereka terima dari
lingkungannya.
4) Formal Operation (11 sampai 15 tahun)

56 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Tahapan ini ditunjukkan dengan karakteristik
kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan
kemampuan fleksibel terhadap lingkungannya. Pola
berpikir logis membuat mereka mampu berpikir tentang
apa yang orang lain juga memikirkannya dan berpikir
untuk memecahkan masalah (Supartini, 2004).

b. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perkembangan


Pola perkembangan secara normal antara anak yang satu
dengan yang lainnya pada akhirnya tidak terlalu sama
karena dipengaruhi oleh interaksi banyak faktor. Adapun
faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan adalah
sebagai berikut:
1) Mekanis
Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan
kongenital
2) Toksin/zat kimia
Beberapa obat-obatan seperti aminopterin atau
thalidomid dapat menyebabkan kelainan kongenital
seperti palatoskizis
3) Endokrin
Diabetes militus dapat menyebabkan makrosomia,
cardiomegali, dan hyperplasia adrenal.
4) Sosio ekonomi
Kemiskinan seklalu berkaitan dengan kekurangan
makanan serta kesehatan lingkungan yang jelek dan
ketidaktahuan, hal tersebut, menghambat pertumbuhan
anak.

BRAIN GYM | 57
5) Lingkungan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu anak sangat
memengaruhi pertumbuhan, termasuk stimulasi yang
diberikan oleh orang tua.
6) Nutrisi
Telah disebutkan bahwa untuk pertumbuhan dan
perkembangan, anak membutuhkan zat gizi yang
esensial mencakup protein, lemak, karbohidrat, mineral,
vitamin, dan air yang harus dikonsumsi secara
seimbang dengan jumlah yang sesuai kebutuhan pada
tahap usianya. Khusus selama periode pertumbuhan dan
perkembangan yang cepat seperti masa prenatal. Usia
bayi, atau remaja akan membutuhkan lebih banyak
kalori dan protein. Anak dapat mengalami hambatan
pertumbuhan dan perkembangan hanya kurang
adekuatnya asupan gizi tersebut.
Penyebab status nutrisi kurang pada anak:
a) Asupan nutrisi yang tidak adekuat baik secara
kuantitatif maupun kualitatif.
b) Hiperaktivitas fisik atau istirahat yang kurang
adekuat.
c) Adanya penyakit yang menyebabkan peningkatan
kebutuhan nutrisi.
d) Stres emosi yang dapat menurunkan nafsu makan
atau yang tidak adekuat.
7) Iklim dan Cuaca
Iklim tertentu dapat memengaruhi status kesehatan
anak, seperti pada musim penghujan yang dapat

58 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


menimbulkan bahaya banjir pada daerah tertentu, akan
menyebabkan sulitnya transportasi sehingga sulit
mendapatkan bahan makanan, bahkan timbul berbagai
penyakit menular, seperti diare dan penyakit kulit, yang
dapat mengancam semua orang termasuk bayi dan
anak-anak. Terlebih lagi pada bayi dan anak-anak yang
sangat rentan terhadap penyakit menular, apabila daya
tahan tubuh sedang menurun yang juga akibat tidak
adekuatnya status nutrisi, mereka akan dengan mudah
terjangkit penyakit menular tersebut. Pada beberapa
tempat yang edemis untuk terjadi wabah demam
berdarah, terjadinya perubahan cuaca akan berakibat
atas meningkatnya angka kejadian penyakit seperti
diare akan meningkat. Oleh karena itu, masyarakat
harus mempunyai kemampuan untuk mengantisipasi
kejadian tersebut dan melakukan tindakan pencegahan.
Status kesehatan anak tentunya akan berdampak pada
proses pertumbuhan dan perkembangan.
8) Olahraga/Latihan Fisik
Olahraga atau latihan fisik berdampak pada
pertumbuhan fisik maupun perkembangan psikososial
anak. Secara fisik, manfaat olahraga atau latihan yang
teratur dapat meningkatkan sirkulasi darah sehingga
akan meningkatkan suplai oksigen ke seluruh tubuh.
Selain itu, olahraga akan meningkatkan aktivitas fisik
dan menstimulasi perkembangan otot dan pertumbuhan
sel. Pada saat olahraga, anak juga akan berinteraksi
dengan teman sepermainan dan mengenal aturan yang
berlaku serta belajar menaatinya untuk tujuan bersama,
misalnya sepak bola yang dilakukan oleh kelompok
BRAIN GYM | 59
anak sekolah. Aktivitas fisik dari sepak bola akan
membantu pertumbuhan sel, selain itu kepada anak juga
ditanamkan aturan permainan yang harus diikuti
bersama dan interaksi sosial yang dijalankan membantu
mereka memiliki kemampuan untuk berkomunikasi
dengan sesama teman.
9) Posisi Anak dalam Keluarga
Posisi anak sebagai anak tunggal, anak sulung, anak
tengah, atau anak bungsu akan memengaruhi
bagaimana pola anak tersebut diasuh dan dididik dalam
keluarga. Anak tunggal tidak mempunyai teman bicara
dan beraktivitas kecuali kedua orang tuanya. Oleh
karena itu, kemampuan intelektual anak tunggal akan
dapat lebih cepat berkembang dan mengembangkan
harga diri yang positif karena secara terus-menerus
berinteraksi dengan orang dewasa, yaitu orang tuanya
dan mendapatkan stimulasi secara psikososial.
Anak pertama biasanya mendapat perhatian penuh
karena belum ada saudara yang lain. Segala kebutuhan
dipenuhi, tetapi di lain pihak biasanya orang tua dengan
anak pertama belum memiliki banyak pengalaman
dalam mengasuh anak dan cenderung terlalu
melindungi sehingga seringkali anak tumbuh menjadi
anak yang perfeksionis dan cenderung pencemas.
Anak tengah berada di antara anak tertua dan anak
bungsu. Orang tua biasanya sudah lebih percaya diri
dalam merawat anak, bahkan cenderung agak kurang
peduli. Anak punya kesempatan belajar berkomunikasi
dan lebih mampu beradaptasi di antara anak terbesar

60 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


dan anak terkecil. Hal tersebut sering kali membuat
anak lebih mandiri, tetapi biasanya kurang maksimal
dalam pencapaian prestasi dibanding anak pertama.
Sesuai dengan posisinya, anak terkecil adalah yang
termuda usianya dalam keluarga dan biasanya
mendapat perhatian penuh dari semua anggota keluarga
sehingga membuat anak mempunyai kepribadian yang
hangat, ramah, dan penuh perhatian pada orang lain.
Walaupun demikian, semua uraian di atas hanyalah satu
tinjauan dari lingkungan anak
10) Kecerdasan
Kecerdasan dimiliki anak sejak ia dilahirkan. Anak
yang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan yang rendah
tidak akan mencapai prestasi yang cemerlang walaupun
stimulus ysng diberikan lingkungan demikian tinggi.
Sementara anak yang dilahirkan dengan tingkat
kecerdasan tinggi dapat didorong oleh stimulus
lingkungan untuk berprestasi secara cemerlang.
11) Pengaruh Hormonal
Ada tiga hormon utama yang memengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu
somatrotopik, hormon tyroid, dan hormon
gonadotropin. Hormon somatotropik (growth hormone)
terutama digunakan selama masa kanak-kanak yang
memengaruhi pertumbuhan tinggi badan karena
menstimulasi terjadinya poliferasi sel kartilago dan
sistem skeletal. Apabila kelebihan, hal ini akan
menyebabkan gigantisme, yaitu anak tumbuh sangat
tinggi dan besar, dan apabila kekurangan, menyebabkan

BRAIN GYM | 61
dwarfism atau kerdil. Hormon tiroid menstimulasi
metabolisme tubuh, sedangkan hormon gonadotropik
menstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari testis
untuk memproduksi testosterone, dan ovarium untuk
memproduksi estrogen. Selanjutnya, testosterone akan
menstimulasi perkembangan karakterisitik seks
sekunder anak laki-laki, yaitu menghasilkan
spermatozoa, sedangkan estrogen akan menstimulasi
perkembangan karakteristik seks sekunder anak
perempuan, yaitu menghasilkan ovum.
12) Pengaruh Emosi
Orang tua terutama ibu adalah orang terdekat tempat
anak belajar untuk bertumbuh dan berkembang. Anak
belajar dari orang tua untuk dapat memenuhi kebutuhan
dasarnya sendiri. Dengan demikian. Apabila orang tua
memberi contoh perilaku emosional, seperti melempar
sandal atau sepatu bekas dipakai, membentak saat anak
rewel, marah saat jengkel, anak akan belajar untuk
menirukan perilaku orang tua tersebut. Anak belajar
mengekpresikan perasaan dan emosinya dengan meniru
perilaku orang tuanya. Apabila pola seperti ini
dibiarkan, anak akan mengembangkan perilaku
emosional seperti di atas karena maturasi atau
pematangan kepribadian diperoleh anak melalui proses
belajar dari lingkungan keluarganya. Oleh karena itu,
orang tua harus berhati-hati dalam bersikap karena
apabila orang tua senang membentak, anak akan belajar
untuk berbicara kasar pada orang lain. Apabila orang
tua suka memukul saat marah dan jengkel, anak akan

62 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


belajar bersikap kasar pada orang lain. Orang tua adalah
model peran bagi anak (Supartini, 2004).
Menurut Subagyo (2010) dalam Sidiarto (2013)
tingkat pendidikan ibu juga memengaruhi
perkembangan, tingkat pendidikan ibu yang kurang
memadai memungkinkan pemahaman tentang stimulasi
kurang efektif, sebaliknya tingkat pendidikan yang
relatif tinggi, kemungkinan banyak memperoleh
pengalaman tentang perawatan anak yang diperoleh
dari referensi dan hasil pendidikan.
Perkembangan motorik anak akan lebih
teroptimalkan jika lingkungan tempat tumbuh kembang
anak mendukung mereka untuk bergerak bebas.
Kegiatan di luar ruangan bisa menjadi pilihan yang
terbaik karena dapat menstimulasi perkembangan otot
(CRI, 1997). Jika kegiatan anak di dalam ruangan,
pemaksimalan ruangan bisa dijadikan strategi untuk
menyediakan ruang gerak yang bebas bagi anak untuk
berlari, berlompat dan menggerakan seluruh tubuhnya
dengan cara-cara yang tidak terbatas.
Selain itu, penyediaan peralatan bermain di luar
ruangan bisa mendorong anak untuk memanjat,
koordinasi dan pengembangan kekuatan tubuh bagian
atas dan juga bagian bawah. Stimulasi-stimulasi
tersebut akan membantu pengoptimalan motorik kasar.
Sedangkan kekuatan fisik, koordinasi, keseimbangan
dan stamina secara perlahan-lahan dikembangkan
dengan latihan sehari-hari. Lingkungan luar ruangan

BRAIN GYM | 63
tempat yang baik bagi anak untuk membangun semua
keterampilan ini.
Kemampuan motorik halus bisa dikembangkan
dengan cara anak-anak menggali pasir dan tanah,
menuangkan air, mengambil dan mengumpulkan batu-
batu, dedaunan atau benda-benda kecil lainnya dan
bermain permainan di luar ruangan seperti kelereng.
Pengembangan motorik halus ini merupakan modal
dasar anak untuk menulis.
Keterampilan fisik yang dibutuhkan anak untuk
kegiatan serta aktivitas olahraga bisa dipelajari dan
dilatih di masa-masa awal perkembangan. Sangat
penting untuk mempelajari keterampilan ini dengan
suasana yang menyenangkan, tidak berkompetisi agar
anak-anak mempelajari olahraga dengan senang dan
merasa nyaman untuk ikut berpartisipasi. Hindari
permainan dimana seseorang atau sekelompok orang
menang dan kelompok lain kalah. Anak-anak yang
secara terus menerus kalah dalam sebuah permainan
memiliki kecenderungan merasa kurang percaya akan
kemampuannya dan akan berhenti berpartisipasi.
Tujuan pendidikan fisik untuk anak-anak yang masih
kecil adalah untuk mengembangkan keterampilan dan
ketertarikan fisik jangka panjang (CRI, 1997).
Perkembangan motorik berbeda tingkatannya pada
setiap individu. Anak usia empat tahun bisa dengan
mudah menggunakan gunting sementara yang lainnya
mungkin akan bisa setelah berusia lima atau enam
tahun. Anak tertentu mungkin akan bisa melopmat dan

64 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


menangkap bola dengan mudah sementara yang lainnya
mungkin hanya bisa menangkap bola yang besar atau
berguling-guling. Dalam hal ini orang tua dan orang
dewasa di sekitar anak harus mengamati tingkat
perkembangan anak-anak dan merencanakan berbagai
kegiatan yang bisa menstimulasinya.
Menurut dr. Karel A. L. Staa, M.D olahraga
memberi manfaat bagi perkembangan motorik anak.
Selain untuk perkembangan fisiknya, olahraga juga
amat baik untuk perkembangan otak serta psikologis
anak. Mengikutkan anak pada kelompok olahraga akan
meningkatkan kesehatan fisik, psikologis serta
psikososialnya. Anak menjadi senang mendapat
stimulasi kreativitas yang baik untuk
perkembangannya.
Selain berbagai kegiatan stimulasi, hal lain yang
memengaruhi perkembangan motorik anak adalah gizi
anak. Banyak penelitian yang menerangkan tentang
pengaruh gizi terhadap kecerdasan serta perkembangan
motorik kasar. Levitsky dan Strupp pada penelitiannya
terhadap tikus mengungkapkan bahwa kurang gizi
menyebabkan functional isolationism ‘isolasi diri’ yaitu
mempertahankan untuk tidak mengeluarkan energi yang
banyaki (conserve energy) dengan mengurangi kegiatan
interaksi sosial, aktivitas, perilaku eksploratori,
perhatian, dan motivasi. Aplikasi teori ini kepada
manusia adalah bahwa pada keadaan kurang energi dan
potein (KEP), anak menjadi tidak aktif, apatis, pasif,
dan tidak mampu berkonsentrasi. Akibatnya, anak

BRAIN GYM | 65
dalam melakukan kegiatan eksplorasi lingkungan fisik
di sekitarnya hanya mampu sebentar saja dibandingkan
dengan anak yang gizinya baik, yang mampu
melakukannya dalam waktu yang lebih lama. Model
functional isolationism yang dilukiskan ini sama
dengan teori sebelumnya bahwa aspek-aspek esensial
dan universal untuk perkembangan kognitif ditekan
oleh mekanisme penurunan aktivitas pada keadaan
kurang gizi.
Dibutuhkan ketersediaan energi yang cukup banyak
untuk melakukan suatu aktivitas motorik. Tengkurap,
merangkak, berdiri, berjalan, dan berlari melibatkan
suatu mekanisme yang mengeluarkan energi yang
tinggi, sehingga yang menderita KEP (Kurang Energi
Protein) biasanya selalu terlambat dalam perkembangan
motor milestone. Sebagai contoh, pada anak usia muda,
komposisi serat otot yang terlibat dalam pergerakan
kontraksi kurang berkembang pada anak yang kurang
gizi. Keadaan ini juga berpengaruh terhadap
pertumbuhan tulang sehingga terjadi pertumbuhan
badan yang terlambat.
Tengkurap, merangkak, dan berjalan menurunkan
ketergantungan atau kontak yang terus-menerus dengan
pengasuhnya. Keadaan ini berpengaruh nyata terhadap
mekanisme self-regulatory, sehingga anak menjadi
lebih bersosialisasi dan ramah dengan lingkungannya.
Sebaliknya, bila terjadi keterlambatan dalam
locomotion dan perkembangan motorik akan merusak
akses terhadap sumber-sumber eksternal yang

66 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


berpengaruh kurang baik terhadap regulasi emosional,
sehingga akan mengakibatkan terhambatnya
perkembangan kecerdasan anak.

4. BRAIN GYM DAN PERKEMBANGAN MOTORIK


KASAR DAN HALUS
Latihan gerakan motorik kasar merupakan dasar untuk
pengendalian motorik halus (Paul E. Dennison, 2008).
Perkembangan motorik kasar dan halus sangat dipengaruhi
oleh organ otak. Otaklah yang mengatur setiap gerakan yang
dilakukan oleh anak, semakin matangnya perkembangan sistem
saraf otak yang mengatur otot memungkinkan berkembangnya
kompetensi atau kemampuan motorik anak. (Sudiarto, 2012).
Perkembangan motorik anak menurut departemen
pendidikan nasional (2010) yaitu pada usia 4 tahun
kemampuan motorik anak mulai mengalami kemajuan dan
gerakannya sudah lebih cepat. Walaupun demikian pada usia
ini anak masih mengalami kesulitan dalam menggunakan
koordinasi gerakan motorik (Santika, 2013). Gerakan-gerakan
yang ada di dalamnya dibuat untuk merangsang otak. Senam
otak (Brain Gym) adalah serangkaian latihan gerak sederhana
untuk memudahkan kegiatan belajar dan penyesuaian dengan
aktivitas sehari-hari. Senam otak terkait dengan ilmu gerak
tubuh, yaitu gerakan tubuh yang disatukan dan dipadukan,
sehingga dapat membantu mengoptimalkan fungsi dari otak.
Senam otak akan memfasilitasi agar bagian otak kanan dan
otak kiri dapat bekerja secara seimbang. Dimensi lateralis,
yang mendapat rangsangan adalah otak kiri dan kanan,
sedangkan dalam dimensi pemfokusan, gerakan senam otak

BRAIN GYM | 67
pun berupaya meringankan atau merileksasi otak belakang dan
bagian otak depan. Dimensi pemusatan, gerakan senam otak
juga merangsang sistem yang terkait dengan
perasaan/emosional, yakni otak tengah (sistem limbik) dan
otak besar. Gerakan senam otak pada cerebrum dapat
menstimulasi fungsi cerebrum. Aplikasi gerakan senam otak
pada cerebellum terdiri dari gerakan keseimbangan, koordinasi
gerak otot, keterampilan motorik halus (Saichudin dkk, 2009).
Hasil penelitian (Diana, s, Mafticha, E, Adiesty, F, 2016)
Brain Gym dilakukan disekolah 15 menit sebelum pelajaran
dimulai yang dibimbing oleh guru TK. Dilakukan secara
rutin dan disiplin oleh murid dan guru setiap pagi. Pada saat
workshop orang tua juga diajari oleh instruktur sehingga di
rumah anak juga dibimbing oleh orang tua. Di sekolah Brain
Gym dilakukan di ruang yang nyaman dan tenang sehingga
anak bisa fokus. Setiap pembimbing mendampingi 20 anak
Untuk melakukan gerakan Brain Gym.
Penelitian (Diana, dkk, 2016) sama dengan penjelasan
(Paul Dennison, 2012) bahwa senam otak dapat meningkatkan
koordinasi motorik halus. Dengan pemberian stimulasi Brain
Gym kepada anak, akan melatih koordinasi mata dan tangan
sehingga semakin sering anak berlatih semakin mudah pula
anak melakukannnya, bisa karena biasa melakukan stimulasi
tersebut. Dengan latihan yang rutin anak akan lebih memahami
masalah yang diberikan sehingga lama-kelamaan dapat
memecahkan masalah dan melatih kebiasaan motorik halusnya,
apabila anak dilatih atau diberi stimulasi yang membosankan
akan membuat anak cepat jenuh sehingga sering tidak
menghiraukan pendidik (Aprilia, 2009).

68 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Para murid melakukan kreativitas, bermain, dan inovasi.
Coretan ganda membantu pengembangan keterampilan
kerjasama kedua mata, koordinasi mata-tangan, dominasi
tangan, pemusatan pengelihatan ke suatu titik yang dekat, dan
kegunaan bidang pengelihatan tengah. Selain memelihara otak
secara fungsional, senam otak juga sangat menyenangkan
seperti halnya bermain, murid akan bersemangat dalam
mengikuti setiap gerakannya karena memang membutuhkan
konsentrasi (Afrilia, 2013). Selain menyenangkan gerakan
senam otak juga sederhana sehingga dapat dilakukan kapan
saja, proses senam otak juga tidak membutuhkan bahan dan
peralatan yang sulit. Selain itu senam otak juga menyelaraskan
kemampuan beraktivitas dan berpikir pada saat yang
bersamaan, serta menjaga kelenturan maupun keseimbangan
tubuh, salah satunya tangan dan jari-jemari. Dengan pemberian
senam otak secara teratur akan memberikan stimulasi terhadap
otak sehingga meningkatkan koordinasi mata dan tangan yang
dapat meningkatkan perkembangan motorik halus anak (Eliasa,
2007).
Perkembangan kecerdasan pada usia prasekolah/PAUD
mengalami peningkatan dari 50% menjadi 80%. Salah satu
cara mengoptimalkan penggunaan semua dimensi otak adalah
senam otak (Depdiknas, 2004). Gerakan-gerakan yang ada di
dalamnya dibuat untuk merangsang otak. Senam otak (Brain
Gym) adalah serangkaian latihan gerak sederhana untuk
memudahkan kegiatan belajar dan penyesuaian dengan
aktivitas sehari-hari. Senam otak terkait dengan ilmu gerak
tubuh, yaitu gerakan tubuh yang disatukan dan dipadukan,
sehingga dapat membantu mengoptimalkan fungsi dari otak.

BRAIN GYM | 69
PRESTASI

1. PENGERTIAN PRESTASI
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam
melakukan kegiatan. Gagne (1985:40) menyatakan bahwa
prestasi belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu:
kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal,
sikap, dan keterampilan. Menurut Bloom dalam Suharsimi
Arikunto (1990:110) bahwa hasil belajar dibedakan menjadi
tiga aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Prestasi merupakan kecakapan atau hasil konkret yang
dapat dicapai pada saat atau periode tertentu. Berdasarkan
pendapat tersebut, prestasi dalam penelitian ini adalah hasil
yang telah dicapai siswa dalam proses pembelajaran.

70 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Beberapa pendapat para ahli tentang definisi tentang
belajar. Cronbach, Harold Spears, dan Geoch dalam Sardiman
A.M (2005:20) sebagai berikut:
a. Cronbach memberikan definisi: “Learning is shown by a
change in behavior as a result of experience”. “Belajar
adalah memperlihatkan perubahan dalam perilaku sebagai
hasil dari pengalaman”.
b. Harold Spears memberikan batasan: “Learning is to
observe, to read, to initiate, to try something themselves, to
listen, to follow direction”. Belajar adalah mengamati,
membaca, berinisiasi, mencoba sesuatu sendiri,
mendengarkan, mengikuti petunjuk/arahan.
c. Geoch, mengatakan: “Learning is a change in performance
as a result of practice”. Belajar adalah perubahan dalam
penampilan sebagai hasil praktik.
Dari ketiga definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau
penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan
membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain
sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik kalau si subjek
belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat
verbalistik. Belajar sebagai kegiatan individu sebenarnya
merupakan rangsangan-rangsangan individu yang dikirim
kepadanya oleh lingkungan. Dengan demikian terjadinya
kegiatan belajar yang dilakukan oleh seorang idnividu dapat
dijelaskan dengan rumus antara individu dan lingkungan.
Fontana seperti yang dikutip oleh Udin S. Winataputra
(1995:2) dikemukakan bahwa learning (belajar) mengandung
pengertian proses perubahan yang relatif tetap dalam perilaku

BRAIN GYM | 71
individu sebagai hasil dari pengalaman. Pengertian belajar juga
dikemukakan oleh Slameto (2003:2) yakni belajar adalah suatu
proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.
Selaras dengan pendapat-pendapat di atas, Thursan Hakim
(2000:1) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses
perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan
tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan
kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan,
pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan,
daya pikir, dan lain-lain. Hal ini berarti bahwa peningkatan
kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang diperlihatkan
dalam bentuk bertambahnya kualitas dan kuantitas kemampuan
seseorang dalam berbagai bidang. Dalam proses belajar,
apabila seseorang tidak mendapatkan suatu peningkatan
kualitas dan kuantitas kemampuan, maka orang tersebut
sebenarnya belum mengalami proses belajar atau dengan kata
lain ia mengalami kegagalan di dalam proses belajar.
Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk
meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan
tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan
prestasi belajar yang baik perlu diperhatikan kondisi internal
dan eksternal. Kondisi internal dalah kondisi atau situasi yang
ada dalam diri siswa, seperti kesehatan, keterampilan,
kemapuan, dan sebagainya. Kondisi eksternal adalah kondisi
yang ada di luar diri pribadi manusia, misalnya ruang belajar
yang bersih, sarana dan prasaran belajar yang memadai.

72 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa prestasi belajar
merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh
seseorang. Maka prestasi belajar merupakan hasil maksimum
yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha
belajar. Sedangkan menurut Arif Gunarso (1993:77)
mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah usaha maksimal
yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha
belajar.
Prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari
pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor
kognitif, afektif, dan psikomotor setelah mengikuti proses
pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes
atau instrumen yang relevan. Jadi prestasi belajar adalah hasil
pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam
bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil
yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu.
Prestasi belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap
peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif, dan
psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur
dengan menggunakan instrumen tes yang relevan.
Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering
dikenal dengan tes prestasi belajar. Menurut Saifudin Anwar
(2005:8-9) mengemukakan tentang tes prestasi belajar bila
dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan sesorang
dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi
yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara
terrencana untuk mengungkap performasi maksimal subjek
dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah

BRAIN GYM | 73
diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal tes prestasi
belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes
sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan
tinggi. Pengertian prestasi belajar adalah sesuatu yang dapat
dicapai atau tidak dapat dicapai. Siswa harus mengalami proses
pembelajaran untuk mencapai suatu prestasi belajar. Siswa
akan mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan
keterampilan dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai seseorang dalam
penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan
dalam pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan tes angka nilai
yang diberikan oleh guru (Asmara, 2009:11).
Menurut Hetika (2008:23), prestasi belajar adalah
pencapaian atau kecakapan yang dinampakkan dalam keahlian
atau kumpulan pengetahuan. Harjati (2008:43), menyatakan
bahwa prestasi merupakan hasil usaha yang dilakukan dam
menghasilkan perubahan yang dinyatakan dalam bentuk simbol
untuk menunjukkan kemampuan pencapaian dalam hasil kerja
dalam waktu tertentu. Pengetahuan, pengalaman, dan
keterampilan yang diperoleh akan membentuk kepribadian
siswa, memperluas kepribadian siswa, memperluas wawasan
kehidupan serta meningkatkan kemampuan siswa. Bertolak
dari hal tersebut maka siswa yang aktif melaksanakan kegiatan
dalam pembelajaran akan memperoleh banyak pengalaman.
Dengan demikian siswa yang aktif dalam pembelajaran akan
banyak pengalaman dan prestasi belajarnya meningkat.
Sebaliknya siswa yang tidak aktif akan minim/sedikit
pengalaman sehingga dapat dikatakan prestasi belajarnya tidak
meningkat atau tidak berhasil.

74 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Poerwadarminta (1987:322) menyatakan bahwa prestasi
adalah hasil yang telah dicapai. Pernyataan ini diperjelas oleh
Arijo (1994:22) yang menyatakan bahwa prestasi adalah hasil
usaha yang dicapai seseorang melalui perbuatan belajar yang
memperoleh hasil dalam bentuk tingkah laku nyata dan baru.
Hasan (1994:84) belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis
yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan
yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan,
keterampilan, dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif
konstan dan berbekas. Hal ini bermakna bahwa belajar
merupakan perubahan tingkah laku akibat adanya interaksi
antara individu pada lingkungannya sehingga memperoleh
pengalaman.
Jadi jelaslah bahwa prestasi belajar dapat dikatakan
sebagai ukuran kemampuan yang didapat, dicapai atau
ditampilkan seseorang sebagai bukti dari usaha yang
dilakukannya dalam belajar. Oleh karena itu dapat dikatakan
juga bahwa yang disebut dengan prestasi adalah kemampuan
yang diperoleh dengan nilai yang tinggi. Sedangkan nilai yang
sedang bahkan rendah belumlah disebut sebagai prestasi,
walaupun sebenarnya tingkatan sedang atau rendah/kurang
adalah gambaran dari kemampuan atau prestasi yang dicapai
seseorang. Karena kemampuan seseorang jalas tidak ada yang
sama tentunya prestasinya pun juga tidak sama.
Kemampuan-kamampuan peserta didik dalam proses
belajar mengajar oleh Benyamin Bloom yang dikutip oleh
Nana Sudjana, 2009 mengklasifikasikan secara garis besar
menjadi tiga ranah sebagai berikut:

BRAIN GYM | 75
a. Ranah Kognitif
Ranah Kognitif berkenaan dengan sikap hasil belajar
intelektual yang terdiri dari enam aspek, yang meliputi
pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan
evaluasi.
b. Ranah Afektif
Ranah Afektif berkenaan dengan sikap dan nilai yang
terdiri dari lima aspek, yaitu kepekaan dalam menerima
rangsangan, jawaban atas reaksi, penilaian, organisasi, dan
internalisasi.
c. Ranah Psikomotorik
Ranah Psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar
keterampilan dan kemampuan bertindak individu.
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil
belajar. Di antara ketiga ranah tersebut, ranah kognitiflah yang
paling banyak dinilai oleh para pendidik di sekolah karena
berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menguasi isi
bahan pengajaran.

2. FAKTOR YANG MEMENGARUHI PRESTASI ANAK


Kenyataan menunjukkan bahwa prestasi belajar seseorang
tidaklah sama, tetapi sangat variatif/berbeda. Perbedaan ini
dapat disebabkan oleh berbagai faktor, yang secara garis besar
dapat dibedakan menjadi dua; (1) Faktor dari dalam diri
seseorang (intrinsik) dan (2) Faktor dari luar seseorang
(ekstrinsik).

76 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


a. Beberapa faktor dari dalam (intrinsik)
1. Inteligensi
Winkel (1986:153) memberi batasan tentang pengertian
inteligensi dengan mengatakan, inteligensi adalah
kemampuan untuk bertindak dengan mendapatkan suatu
tujuan untuk berpikir secara rasional, dan untuk
berhubungan dengan lingkungan di sekitarnya secara
memuaskan. Dari pengertian ini dapat dikatkan bahwa
faktor inteligensi menjadi penting dalam proses belajar
seseorang guna mencapai prestasi belajarnya.
2. Motivasi
Winkel (1986) menyatakan motivasi adalah motor
penggerak yang mengaktifkan siswa untuk melibatkan diri.
Hal ini sejalan dengan Sardiman (2003) yeng
menyatakan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan
daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan
kegiatan belajar, yang menjamin keberlangsungan dari
kegiatan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar,
sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu
dapat tercapai. Jadi jelaslah bahwa motivasi mempunyai
peranan penting dalam mencapai prestasi belajar,
sehingga perlu upaya untuk menghidupkan motivasi dari
seseorang.
3. Sikap
Sarwono (1988:20) mendefinisikan sikap adalah
kecenderungan atau kesediaan seseorang untuk
bertingkah laku tertentu kalau ia menghadapi suatu
rangsangan tertentu. Seseorang memiliki sikap tertentu
terhadap berbagai hal secara baik positif maupun negatif.

BRAIN GYM | 77
Sikap positif menjadi pilihan untuk
dikembangkan/ditanamkan kepada seseorang sehingga
dapat bersikap positif terhadap rangsangan yang diterima
yang pada gilirannya akan mengoptimalkan prestasi
belajar yang optimal.
4. Minat
Minat sangat besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar
siswa. Pendapat ini didukung oleh pernyataan beberapa
pakar yang mengatakan bahwa minat adalah
kecenderungan yang tepat untuk memperhatikan dan
memegang beberapa kegiatan yang diamati siswa
diperhatikan terus menerus disertai dengan rasa senang
dan diperoleh suatu kepuasan (Cony Semiawan,
1990:123). Juga menurut Winkel (1986:151) bahwa
minat adalah kecenderungan yang menetapkan untuk rasa
tertarik pada bidang-bidang tertentu dan merasa senang
berkecimpung dalam bidang-bidang itu. Seseorang yang
didorong oleh minat dan merasa senang dalam belajar
dapat memperoleh prestasi belajar yang optimal. Oleh
karena itu yang dapat diupayakan agar siswa dapat
berprestasi dengan baik perlu dibangkitkan minat
belajarnya.
5. Bakat
Bakat menurut Tabrina Rusyan (1989:42), adalah
kapasitas seseorang atau potensi hipotesis untuk dapat
melakukan suatu tugas dimana sebelumnya sedikit
mengalami latihan atau sama sekali tidak memperoleh
latihan lebih dahulu. Jadi bakat merupakan potensi dan
kecakapan pada suatu lapangan pekerjaan. Apabila

78 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


kapasitas mendapat latihan yang memadai maka potensi
akan berkembang menjadi kecakapan yang nyata.
6. Konsentrasi
Konsentrasi adalah pemusatan pemikiran dengan segala
kekuatan perhatian yang ada pada suatu situasi.
Pemusatan pikiran ini dapat dikembangkan melalui
latihan.
b. Beberapa faktor dari luar (ekstrinsik)
1. Faktor Keluarga
Faktor keluarga turut memengaruhi perkembangan
prestasi belajar siswa. Pendidikan yang pertama dan
utama yang diperoleh ada dalam keluarga. Jadi keluarga
merupakan salah satu sumber bagi anak untuk belajar.
Kalau pelajaran yang diperoleh anak dari rumah tidak
baik, kemungkinan di luar lingkungan keluarga anak
menjadi nakal dan begitu juga sebaliknya.
Pendidikan informal dan formal memerlukan
kerjasama antara orang tua dengan sekolah anaknya,
yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalaman-
nya dan menghargai usaha-usahanya. Orang tua juga
harus menunjukkan kerjasamanya dalam cara anak
belajar di rumah. Pendidikan berlangsung seumur hidup
berlangsung dan dilaksanakan dalam lingkungan rumah
tangga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu pendidikan
adalah tanggung jawab bersama antara keluarga,
masyarakat, dan pemerintah.

BRAIN GYM | 79
2. Faktor Sekolah
Faktor ini menyangkut proses pembelajaran yang
diterima seseorang dengan bantuan guru. Metode
pembelajaran yang diberikan sekolah sangat menentukan
bagaimana anak dapat belajar mandiri dengan baik. Guru
yang baik adalah guru yang menguasai kelas memiliki
kemampuan dan menggunakan metode pembelajaran
yang tepat, yaitu kemampuan membelajarkan dan
kemampuan memilih alat bantu pemelajaran yang sesuai
serta kemampuan menciptakan situasi dan kondisi
belajar.
Dengan metode pembelajaran yang baik dan tepat
akan dapat menarik minat siswa, perhatian siswa akan
tertuju pada bahan pelajaran, sehingga diharapkan siswa
akan dapat mencapai prestasi belajar.
3. Faktor Masyarakat
Masyarakat merupakan lingkungan pendidikan ketiga
sesudah keluarga dan sekolah, yang memengaruhi anak
dalam mencapai prestasi belajar yang baik. Anak
haruslah dapat berinteraksi dengan masyarakat
sekitarnya, karena dari pengalaman yang dialami siswa di
masyarakat banyak diperoleh ilmu yang berguna bagi
anak didik.
Hal ini didukung pendapat Glesser (1987:5) yang
mengatakan, manusia normal adalah seorang manusia
yang berfungsi secara efektif, yang sampai pada taraf
tertentu merasa bahagia dan menunjukkan prestasi di
bidang yang dianggapnya perlu, ia harus pula dapat
bertingkah laku dengan mempertimbangkan norma dan

80 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


batasan yang ada di lingkungan setempat ia tinggal dan
hidup.

Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar


diri seseorang, faktor ini meliputi:
1) Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan pusat pendidikan yang utama dan
pertama. Faktor ini antara lain:
a) Perhatian orang tua
Dalam lingkungan keluarga setiap individu atau siswa
memerlukan perhatian orang tua dalam mencapai
prestasi belajarnya. Karena perhatian orang tua ini
akan menentukan seseorang siswa dapat mencapai
prestasi belajar yang tinggi. Perhatian orang tua
diwujudkan dalam hal kasih sayang, memberi nasihat-
nasihat dan sebagainya.
b) Keadaan ekonomi orang tua
Keadaan ekonomi keluarga juga memengaruhi
prestasi belajar siswa, kadang kala siswa merasa
kurang percaya diri dengan keadaan ekonomi
keluarganya. Akan tetapi ada juga siswa yang keadaan
ekonominya baik, tetapi prestasi belajarnya rendah
atau sebaliknya siswa yang keadaan ekonominya
rendah malah mendapat prestasi belajar yang tinggi.
c) Hubungan antara anggota keluarga
Dalam keluarga harus terjadi hubungan yang harmonis
antarpersonel yang ada. Dengan adanya hubungan
yang harmonis antara anggota keluarga akan
mendapat kedamaian, ketenangan, dan ketenteraman.

BRAIN GYM | 81
Hal ini dapat menciptakan kondisi belajar yang baik,
sehingga prestasi belajar siswa dapat tercapai dengan
baik pula.
2) Lingkungan sekolah
Yang dimaksud sekolah, antara lain:
a) Guru
b) Faktor alat
c) Kondisi gedung
3) Faktor massa media dan lingkungan sosial (masyarakat)
a) Faktor mass media meliputi; bioskop, TV, surat kabar,
majalah, buku-buku komik yang ada di sekeliling kita.
Hal-hal itu yang akan menghambat belajar apabila
terlalu banyak waktu yang dipergunakan, hingga lupa
tugas belajar.
b) Lingkungan sosial
 Teman bergaul berpengaruh sangat besar bagi
anak-anak. Maka kewajiban orang tua adalah
mengawasi dan memberi pengertian untuk
mengurangi pergaulan yang dapat memberikan
dampak negatif bagi anak tersebut.
 Lingkungan tetangga dapat memberi motivasi bagi
anak untuk belajar apabila terdiri dari pelajar,
mahasiswa, dokter. Begitu juga sebaliknya, apabila
lingkungan tetangga adalah orang yang tidak
sekolah, menganggur, akan sangat berpengaruh
bagi anak.
 Aktivitas dalam masyarakat juga dapat
berpengaruh dalam belajar anak. Peran orang tua di

82 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


sini adalah memberikan pengarahan kepada anak
agar kegiatan di luar belajar dapat diikuti tanpa
melupakan tugas belajarnya.

Kesehatan mental yang menjadi salah satu faktor yang


memengaruhi prestasi belajar erat kaitannya dengan
religiusitas. Daradjat (Jalaluddin, 2002) menyatakan ada
hubungan antara kesehatan mental dan agama. Hubungan
antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan
hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan
jiwa terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap
suatu kekuasaan Yang Mahatinggi. Sikap pasrah yang
serupa itu diduga akan memberi sikap optimis pada diri
seseorang sehingga muncul perasaan positif seperti rasa
bahagia, rasa senang, puas, sukses, merasa dicintai atau rasa
aman (Jalaluddin, 2002).
Religiusitas dan kebermaknaan hidup secara tidak
langsung terkait karena hal itu bisa membuat manusia
mengetahui sejauh mana mereka bisa menghargai hidup dan
memanfaatkan hidupnya dengan berperilaku dan berbuat
sesuai dengan ajaran agamanya. Secara tidak langsung
agama dapat menjadikan seseorang sadar akan makna hidup
dan bagaimana mereka untuk berbuat lebih baik untuk masa
depan hidupnya dalam meraih prestasi. Seorang religius
adalah individu yang mengerti akan hidup dan kehidupan
secara lebih dalam arti lahiriah semata, yang bergerak dari
dimensi vertikal kehidupan dan mentransenden hidup ini
(Rini Lestari dan Purwati, 2002).

BRAIN GYM | 83
Menurut Rola (2006), terdapat empat faktor yang
memengaruhi prestasi belajar, yaitu:
a. Pengaruh keluarga dan kebudayaan
Besarnya kebebasan yang diberikan orang tua kepada
anaknya, jenis pekerjaan orang tua dan jumlah serta
urutan anak dalam keluarga memiliki pengaruh yang
sangat besar dalam perkembangan prestasi. Produk-
produk kebudayaan pada suatu daerah seperti cerita
rakyat, sering mengandung tema prestasi yang bisa
meningkatkan semangat.
b. Peranan konsep diri
Konsep diri merupakan bagaimana individu berpikir
tentang dirinya sendiri. Apabila individu percaya bahwa
dirinya mampu untuk melakukan sesuatu, maka individu
akan termotivasi untuk melakukan hal tersebut sehingga
berpengaruh dalam tingkah lakunya.
c. Pengaruh dari peran jenis kelamin
Prestasi akademik yang tinggi biasanya diidentikkan
dengan maskulinitas, sehingga banyak wanita yang
belajar tidak maksimal khususnya jika wanita tersebut
berada di antara pria. Pada wanita terdapat
kecenderungan takut akan kesuksesan yang artinya pada
wanita terdapat kekhawatiran bahwa dirinya akan ditolak
oleh masyarakat apabila dirinya memperoleh kesuksesan,
namun sampai saat ini konsep tersebut masih
diperdebatkan.

84 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


d. Pengakuan dari prestasi
Individu akan berusaha bekerja keras jika dirinya merasa
dipedulikan oleh orang lain. Dimana prestasi sangat
dipengaruhi oleh peran orang tua, keluarga dan dukungan
lingkungan tempat di mana individu berada. Individu
yang diberi dorongan untuk berprestasi akan lebih
realistis dalam mencapai tujuannya.
Prestasi belajar seseorang atau hasil akhir yang
dicapai seseorang melalui kegiatan belajar dipengaruhi
oleh berbagai hal, yaitu pengaruh dari dalam diri
seseorang (internal) dan pengaruh dari luar diri seseorang
(eksternal). Adapun yang menjadi faktor internal dalam
penelitian ini adalah religiusitas dan konsep diri,
sedangkan faktor eksternal yang dapat memengaruhi
prestasi belajar siswa adalah dukungan sosial.

3. CARA MENSTIMULASI PERKEMBANGAN PRESTASI


SECARA MAKSIMAL
Dilihat dari aspek perkembangan kognitif–bahasa,
kemampuan mental anak usia dini berada pada tahap pra-
operasional menuju operasional konkret. Anak memiliki
kemampuan mental untuk berpikir tentang sesuatu dan
menyelesaikan permasalahan dengan pemikiran, karena telah
dapat memanipulasi objek-objek simbolik. Anak mampu
membedakan secara jelas antara fantasi dan realitas serta
mampu menggunakan pemikiran untuk memberikan penilaian
atau membuat keputusan. Aktivitas mental terfokus pada hal
yang nyata, objek-objek yang dapat diukur oleh peristiwa-

BRAIN GYM | 85
peristiwa. Anak membutuhkan kesempatan untuk
mengeksplorasi, berpikir tentang sesuatu, menggunakan simbol
kata nomor untuk melambungkan objek dan hubungan antara
objek, serta berkomunikasi dengan teman sebaya dan orang
dewasa.
Kualitas kemampuan kognisi yang dimilki anak ialah: (a)
desentrasi (decentration), yakni memahami masalah yang
berhubungan dengan waktu; (b) sensitivitas transformasi
(sensitivity of transformation), yaitu memerhatikan dan
mengingat secara signifikan objek serta menyimpan ingatan
dalam waktu yang lama; dan (c) reversibilitas (reversibility)
atau langkah awal memecahkan masalah dengan cara
membayangkan kembali kondisi nyata permasalahan.
Keterampilan kognitif yang dimiliki pada tahap
perkembangan ini adalah: klasifikasi, konservasi, merangkai/
mengurut/membandingkan, memahami perbedaan waktu,
memahami hubungan tempat dan ruang, mengorganisasi dan
mengingat informasi, negasi, identifikasi, kompensasi, serta
membuat hipotesis sederhana. Anak memiliki kemampuan
untuk mengkonstruksi pengetahuan dari pengalaman.
Perkembangan bahasa ditandai dengan pemben-daharaan
kata yang bertambah. Anak memahami arti atau makna kata,
menggunakan dan membuat kata berstruktur, menggunakan
dua bahasa dengan pemahaman masing-masing, memahami
pandangan orang lain, melakukan komunikasi/percakapan
dengan teman sebaya dan orang dewasa serta menggunakan
kekuatan komunikasi.

86 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Unsur penunjang pengembangan kecerdasan setiap anak
lahir dengan potensi tertentu dan kebutuhan perkembangan
yang perlu dipenuhi. Selain kebutuhan akan gizi dan kesehatan,
anak memerlukan lingkungan yang memberinya berbagai
kesempatan dan kemungkinan untuk mengembangkan potensi-
potensi yang dimilikinya. Perkembangan sesudah tahun
pertama ditandai oleh beberapa proses-proses yang
fundamental. Tanda esensial, dalam perkembangan usia 1-4
tahun, yaitu:
1. Pada permulaan periode ini, anak bisa duduk, berdiri, dan
berjalan dengan bantuan. Selanjutnya anak dapat meloncat,
memanjat, merangkak di bawah meja dan kursi, dapat
melakukan gerakan-gerakan yang kasar dan halus dengan
tangan.
2. Pada usia 4 tahun, tangan dan mata mulai bekerja sama
dalam koordinasi yang baik. Pada usia ini, tangan
merupakan alat untuk mengadakan eksplorasi keliling.
3. Pada usia 4 tahun, anak sudah dapat mengambil bagian
secara aktif dalam percakapan di rumah, dan berkomunikasi
dengan teman-teman sebaya.
4. Pada akhir periode ini, anak sudah mengerti nama-nama
benda dan dapat menanyakan nama benda yang belum
diketahuinya.
5. Anak sudah mengerti ruang dan waktu. Ia mulai mengerti
perbedaan siang dan malam.
6. Mulai ada pengertian akan norma-norma melalui kata-kata
“baik”, “buruk”, “tidak boleh”, “jangan”, dsb.
7. Anak sudah dapat membuat rencana, memikirkan apa yang
akan dilakukannya.

BRAIN GYM | 87
8. Adanya keinginan bergaul bersama orang dewasa, dan
mampu untuk bermain bersama dengan teman sebaya dan
memperhatikan aturan-aturan yang ada. (Prof. Dr. F.J.
Monks dan Prof. Dr. A.M.P. Knoers dalam Prof. Dr. Siti
Rahayu Haditono).

Syamsu Yusuf (2004:156) menjelasknan bahwa anak yang


dibesarkan dalam keluarga akan sangat dipengaruhi oleh pola
asuh yang diterapkan pada keluarga tersebut. Bila anak diasuh
dengan menggunakan pola yang mengarahkan pada pribadi
yang sehat mental maka anak akan cenderung memiliki mental
yang sehat.
Pola Sikap atau Perlakuan Orang Tua terhadap Anak
Prasekolah
Pola perilaku Perilaku Profil tingkah laku
orang tua orang tua anak
Overprotection Kontak yang Perasaan tidak aman,
berlebihan dengan agresif dan dengki,
anak; perawatan mudah gugup,
/pemberian bantuan melarikan diri dari
kepada anak dengan kenyataan, sangat
terus-menerus, tergantung, ingin
meskipun anak sudah menjadi pusat
mampu merawat perhatian, bersikap
dirinya sendiri; menyerah, lemah dalam
mengawasi kegiatan ”ego strength”, aspirasi
anak secara dan toleransi terhadap
berlebihan; frustasi, kurang mampu
memecahkan masalah mengendalikan emosi,
anak menolak tanggung
jawab, kurang percaya
diri, sudah terpengaruh,

88 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Pola perilaku Perilaku Profil tingkah laku
orang tua orang tua anak
peka terhadap kritik,
bersikap ”yes men”,
egois/selfish, suka
bertengkar,
troublemaker (pembuat
onar), sulit dalam
bergaul, mengalami
”homesick”
Premissiveness Memberikan Pandai mencari jalan
kebebasan untuk keluar, dapat bekerja
berpikir (berusaha), sama, percaya diri,
menerima gagasan penuntut dan tidak
atau pendapat, sabaran.
membuat anak
merasa diterima dan
merasa kuat; toleran
dan memahami
kelemahan anak;
cenderung lebih suka
memberi yang
diminta anak daripada
menerima
Rejection Bersikap masa bodoh; Agresif; subnissive
bersikap kaku; kurang (kurang dapat
mempedulikan mengerjakan tugas,
kesejahterakan anak; pemalu, suka
menampilkan sikap mengasingkan diri,
permusuhan atau mudah tersinggung dan
dominasi terhadap penakut; sulit bergaul;
anak. pendiam; sadis.
Ascceptance Memberikan Mau bekerjasama,

BRAIN GYM | 89
Pola perilaku Perilaku Profil tingkah laku
orang tua orang tua anak
perhatian dan cinta bersahabat, royal,
kasih kepada anak; emosinya stabil, ceria
menempatkan anak dan bersikap optimis,
dalam posisi yang mau menerima
penting di dalam tanggung jawab, jujur,
rumah; dapat dipercaya,
mengembangkan memiliki perencanaan
hubungan yang yang jelas untuk
hangat dengan anak; mencapai masa depan,
bersikap respek bersikap realistik.
terhadap anak;
mendorong anak
untuk menyatakan
perasaan/pendapatnya
; berkomunikasi
dengan anak secara
terbuka dan mau
mendengarkan
masalahnya.
Domination Mendominasi anak Bersikap sopan dan
sangat hati-hati;
pemalu, penurut,
inverior dan mudah
bingung, tidak bisa
bekerjasama.
Subnission Senantiasa Tidak patuh; tidak
memberikan sesuatu bertanggung jawab;
yang diminta anak; agresif dan teledor;
membiarkan anak bersikap otoriter;
berperilaku semaunya terlalu percaya diri.
di rumah.

90 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Pola perilaku Perilaku Profil tingkah laku
orang tua orang tua anak
Punitiveness/ Mudah memberikan Implusif; tidak dapat
overdiscipline hukuman; mengambil keputusan;
menanamkan nakal; sikap
kedisiplinan secara bermusuhan atau
keras agresif.

Orangtua dan masyarakat mendambakan anak pra sekolah


yang cerdas, sehat, bermoral, berbudi pekerti luhur, ceria,
mandiri, dan kreatif. Untuk tercapainya harapan itu maka perlu
diupayakan beberapa faktor sebagai berikut:
1. Unsur Penunjang Pengembangan Kecerdasan
 Panca indra: Panca indra perlu dirangsang agar anak
memiliki ketajaman dan kemampuan mendeferensiasikan
berbagai rangsang.
 Otot-otot: Anak perlu diberi kebebasan bergerak guna
mengembangkan kemampuan gerakan kasar dan
mengendalikan koordinasi geraknya.
 Rasa ingin tahu: Rasa ingin tahu merupakan kebutuhan
dasar yang perlu dipenuhi bahkan oleh anak prasekolah
sekalipun. Mereka menyatakannya melalui gerak isyarat
maupun pertanyaan. Oleh karena itu orangtua dan
pengasuh harus tanggap sehingga dapat memberikan
rangsangan yang tepat.
 Bahasa: Ada empat tugas perkembangan bicara yang
perlu diperhatikan pengembangannya yaitu mengerti
pembicaraan oranglain, menyusun dan menambah
pembendaharaan kata, menggabungkan kata menjadi
kalimat, serta pengucapan yang baik dan benar.
BRAIN GYM | 91
 Inteligensi: Bila sejak dini seorang anak dilatih belajar
mengorganisasi berbagai informasi dan rangsangan yang
diterimanya, maka diharapkan anak akan menjadi
tanggap dan cerdas.
2. Pengembangan Kreativitas pada Anak Prasekolah
Dengan berkembangnya kemampuan bicara, koordinasi
sensomotorik dan daya pikir anak, maka seorang anak dapat
mengekspresikan semua gagasan yang ada dalam pikiran
dan perasaannya baik dalam bentuk verbal, grafis maupun
perbuatan.
Torrance mengajukan beberapa saran untuk
menciptakan suasana kondusif untuk terjadinya ekspresi
kreatif. Antara lain dengan menghormati pertanyaan yang
tidak biasa, menghormati ide imajinatif dan kreatif,
menunjukkan kepada anak bahwa ide anak memiliki makna,
serta menghindari tumbuhnya perasaan takut dinilai pada
diri anak.
3. Upaya Meningkatkan Kecerdasan Kreativitas
Prasekolah
 Mengusahakan agara anak tetap sehat.
 Memberi rangsangan pada seluruh indra.
 Memberi peluang agar anak senang bercakap-cakap,
membaca, menyanyi, menari.
 Memberi cukup perhatian, kasih sayang dan rasa aman
dalam takaran yang tepat.
 Terlibat dalam kegiatan anak secara wajar. Usahakan
agar anak menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.
 Memberi kemudahan dalam berbagai sarana untuk
mengembangkan kecerdasan dan krativitas.

92 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


 Memberi waktu dan suasana yang memungkinkan anak
menyibukkan diri, berimajinasi dan bereksperimen secara
aman.
 Memberi kesempatan bagi anak untuk menyalurkan
hasrat ingin tahu dan keinginan menjelajahi dunia luar
selain keluarganya serta memberi kesempatan untuk
mencoba mengerjakan tugas yang sulit dan mengandung
risiko dalam batasan usianya.

Stimulasi Mental Anak Prasekolah: Suatu Upaya


Meningkatkan Kualitas Anak Indonesia
Masa sebelum usia lima tahun merupakan masa dimana
semua aspek-aspek perkembangan sedang berkembang dengan
pesat di dalam psikologi perkembangan. Masa ini merupakan
masa terbentuknya “pola kepribadian dasar”. Di samping
kebutuhan akan gizi dan kesehatan, seorang anak
membutuhkan lingkungan berkualitas tempat ia dapat
mengembangkan potensi-potensi dirinya. Kualitas lingkungan
awal yang sangat penting bagi seorang anak adalah adanya
rangsangan dalam bicara dan kegiatan bermain. Kedua unsur
ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan mental
intelektual, emosi, kemandirian, dan perilaku sosial anak balita.

Beberapa ciri umum yang ada pada anak Prasekolah


antara lain:
 Penuh dengan rasa ingin tahu
 Senang membentuk dan memainkan benda-benda
 Ingin dan senang meniru perilaku orang dewasa
 Ingin berkomunikasi dan berbagi pengalaman dengan orang
lain

BRAIN GYM | 93
 Ingin menyatakan dirinya secara kreatif
 Memiliki kebutuhan untuk berpartisipasi dalam kegiatan
fisik
Dengan memahami ciri-ciri umum tersebut, semua
anggota keluarga dapat turut aktif dalam menumbuh-
kembangkan empat unsur yang dianggap merupakan dasar dari
kesanggupan seseorang untuk belajar sesuatu. Keempat unsur
tersebut adalah:
 Perkembangan bahasa dan bicara
 Rasa ingin tahu
 Perkembangan sosial
 Dasar-dasar kecerdasan

Ada berbagai usaha yang dapat dilakukan oleh orang tua


atau anggota keluarga yang lain, misalnya melakukan
hubungan atau interaksi timbal balik dengan anak secara
terarah dan efektif. Selain itu, orang tua dapat melakukan
kegiatan bermain bersama anak, dengan menggunakan benda-
benda sekitar atau alat permainan edukatif, serta bernyanyi dan
bercerita.
Karena sebagian besar waktu dari anak balita digunakan
untuk bermain, maka melalui bermain dan permainanlah
berbagai kemampuan dan keterampilan anak balita dapat
dikembangkan. Sejauh mana anak balita dapat menarik
manfaat dari berbagai stimulasi dari lingkungan sangat
tergantung pada bagaimana keluarga merancang kegiatan atau
pemberian stimulasi kepada anak.

94 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


1. Bermain merupakan Cara Anak Prasekolah Belajar
Anak belajar melalui kelima indranya. Unsur gerak
merupakan hal yang sangat menonjol pada tahap
perkembangan anak balita. Diperlukan interaksi atau
hubungan verbal, sosial, dan emosional yang stabil untuk
mendukung proses belajar pada anak balita.
Keluarga dapat merupakan lingkungan pertama dari
anak yang dapat berfungsi sebagai lingkungan yang
merangsang anak sejak usia dini. Berikut ini adalah butir-
butir dari metode Ruth Bowdoin yang diterapkan oleh orang
tua:
1. Ajarlah anak melalui penglihatan, pendengaran,
penciuman, pengecapan, dan perabaan.
2. Timbulkan motivasi/keinginan belajar dan mencoba.
3. Anak perlu bergerak dan berbuat/bekerja untuk dapat
belajar.
4. Dengan mengulang-ulang, anak belajar banyak.
5. Jadilah orang tua sebagai sumber peniruan anak.
6. Tumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baik.
7. Tumbuhkan rasa ingin tahu.
8. Perlu ada reward dan punishment.
9. Doronglah anak untuk menerka arti/hal baru
berdasarkan atas apa yang pernah dipelajari.
10. Pupuklah rasa aman dan perasaan dicintai .
11. Ajaklah anak mempelajari sesuatu menurut dua arah
yaitu keseluruhan menuju bagian dan sebaliknya dari
bagian menuju keseluruhan.
12. Orang tua harus lebih pengertian dan penuh dengan
kesabaran.

BRAIN GYM | 95
13. Kembangkan seluruh aspek dari anak (fisik, mental,
emosi, sosial) secara utuh.

Para ahli konstruktivisme mengasumsikan, bahwa pada


dasarnya anak memiliki kemampuan untuk membangun dan
mengkreasi pengetahuan. Keterlibatan, kreativitas dan
inisiatif anak dalam proses belajar merupakan hal esensial
yang harus diperhatikan dan dikembangkan oleh guru dalam
proses pembelajaran agar siswa memperoleh kebermaknaan
belajar. Bermain memfasilitasi keterlibatan anak untuk
berbuat sesuatu terhadap lingkungan atau membangun suatu
pengetahuan baru. Melalui bermain, proses belajar menjadi
natural, hangat, dan menyenangkan karena sesuai dengan
karakteristik kegiatan anak usia dini.

2. Sekilas tentang Program Stimulasi Mental Anak


Prasekolah
Program Bina Keluarga dan Balita (BKB) merupakan salah
satu program stimulasi mental untuk usia balita yang
diprakarsai oleh Kantor Menteri Negara Urusan Peranan
Wanita. Program ini telah dimulai sejak tahun 1982.
Program disusun berdasarkan kegiatan yang merangsang
tujuh aspek perkembangan, yang meliputi:
 Gerakan kasar
 Gerakan halus
 Komunikasi pasif
 Berbicara
 Kecerdasan
 Menolong diri sendiri
 Tingkah laku sosial

96 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Stimulasi anak sejak dini diperlukan agar seorang anak
dapat mengembangkan seluruh kemampuan dirinya.
Stimulasi ini dapat dilakukan melalui kegiatan sehari-sehari,
bercakap-cakap, mendongeng, bernyanyi, menari dan
bermain.

BRAIN GYM | 97
BERMAIN DAN STIMULASI
PERKEMBANGAN ANAK PRASEKOLAH

Tumbuhkembang seorang anak dipengaruhi berbagai kondisi


dari dalam diri anak maupun kondisi lingkungan. Berbagai
rangsang akan berpengaruh pada segi fisik, kognisi, emosional,
dan sosialnya. Salah satu kegiatan yang penting bagi
perkembangan anak adalah kegiatan bermain. Melalui bermain
beberapa tujuan perkembangan dapat tercapai.
1. Stimulasi Perkembangan Anak
Melalui rangsangan yang diterima secara terus menerus
akan menstimulasi anak untuk memproses rangsangan.
Rangsangan pada anak akan berpengaruh positif jika
lingkungan sekitarnya memberikan responsivitas verbal dan
emosional yang positif, menghindari restriksi dan hukuman,
organisasi dari lingkungan, keanekaragaman alat untuk
bermain, keterlibatan ibu dan ayah, dan banyaknya ragam
stimulasi.
2. Fungsi Bermain Bagi Perkembangan Anak
Hal esensial dari bermain menurut Vigotsky adalah
menciptakan situasi imagier yang membantu individu
membangun dan mengkonstruksi skema mental secara
berkesinambungan menjadi jaringan yang luas dan banyak.
98 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I
Mengkonstruksi skema mental tentang suatu konsep
merupakan belajar bermakna dan akan terakumulasi menjadi
pengalaman belajar yang bermakna.
Sependapat dengan Vigotsky, Wisberg, dan Fuad Hasan
menyatakan bahwa proses pembelajaran pengembangan
perilaku kognitif dan akademis harus dipromosikan dalam
adegan pengarahan tidak langsung atau bermain agar anak
tidak hanya mengikuti tetapi memahami makna. Bagi anak,
dunia bermain merupakan pengalaman yang berdampak
sebagai proses belajar. Kegiatan bermain memberikan
pengalaman pada anak untuk membangun dunia melalui
berbagai fungsi mental dan emosional.
Tahapan bermain anak usia dini menurut Piaget
(Heideman dan Hewit:1992) berada pada tahapan bermain
simbolik dengan tahapan bermain game. Tahapan bermain
simbolik ialah anak menggunakan skema mental suatu objek
untuk objek lain dalam bentuk bermain konstruksi dan
bermain dramatik. Tahapan bermain sebagai game
(permainan) ialah bermain dengan menggunakan berbagai
aturan formal yang dikembangkan oleh diri sendiri maupun
dari luar diri atau orang lain. Bentuk bermain adalah
konstruksi tingkat tinggi dan sosiodramatik.
3. Program Interaksi dalam Program Bina Keluarga anak
Pelaksanaan pembelajaran dilakukan melalui pendekatan
Developmentally Appropriate Practice (DAP), yaitu cara
merancang bahan pengajaran sejalan atau sepadan dengan
karakteristik perkembangan. Cara ini dipandang sebagai
upaya menetapkan perkembangan. Cara ini dipandang
sebagai upaya menetapkan perkembangan secara tepat.

BRAIN GYM | 99
Pertimbangan guru dalam memilih dan menetapkan bentuk
dan jenis permainan yang digunakan dalam proses
pembelajaran adalah kondisi alamiah anak, struktur isi
kurikulum, waktu, tempat, dan bagian lingkungan belajar,
prosedur dan sistem belajar, serta bimbingan orang dewasa
pada pengalaman belajar. Pengajaran dibangun atas dasar
kurikulum yang terintegrasi, yang memberikan fasilitas bagi
anak untuk merencanakan dan menyeleksi kegiatan serta
menstimulus bermain secara spontan.
4. Memilih Alat Bermain untuk Anak
Jenis permainan yang disarankan oleh Vigotsky bagi anak
usia dini meliputi : (a) membangun balok dan puzzle yang
bertujuan membangun pengaturan diri, perencanaan dan
koordinasi peran; (b) membuat peta untuk mempromosikan
berpikir simbolik, kemampuan berbahasa dan mediator
eksternal; (c) bercerita bertujuan mengembangkan
kemampuan berbahasa, kreativitas, berpikir logis, pengaturan
diri, pertimbangan memori yang mendalam, pertimbangan
perilaku serta pola umum dan makna cerita; (d) menulis
jurnal untuk membantu anak menuliskan pokok pikiran; (e)
membaca sebagai keterampilan kognitif yang pokok; (f)
permainan aktivitas otot besar yang berperan membantu
mengontrol gerakan, belajar perilaku kognitif serta
pengaturan emosi diri; dan (g) serta permainan aktivitas otot
kecil sebagai cara mengontrol gerakan kecil dengan
menggunakan koordinasi tangan dan mata.
Kualitas perkembangan melalui aktivitas bermain
dalam proses pembelajaran mencakup:

100 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


1. Menilai kemampuan diri dan orang lain, mempelajari
pengetahuan serta keterampilan baru, mengembangkan
ekspresi perasaan, mengembangakan kemampuan serta
konsep diri, mengembangkan konsep berpikir,
kemampuan memecahkan masalah dan menanggulangi
stres.
2. Menurut lebih cerdas, kerja otak lebih efisien dan
gembira, memperoleh pengalaman akademik, sikap dan
persepsi yang positif tentang belajar. Belajar
keterampilan kognitif termasuk keterampilan logika,
strategi kognitif dan keterampilan intelektual. Belajar
keterampilan sosial termasuk relasi kerja orang dewasa.
Mengembangkan kemampuan membaca, menulis dan
berbahasa termasuk pengembangan pembendaharaan
kata. Belajar dan bersikap positif terhadap matematika
dan IPA serta minat terhadap komputer.
3. Mengatur diri, mengembangkan kemampuan verbal,
menambah pembendaharaan kata dan kemampuan
berbahasa.
4. Meningkatkan kualitas perhatian strategi memecahkan
masalah dan konsentrasi. Mengembangkan empati,
partisipasi dalam kelompok dan memimpin aktivitas
belajar.
5. Memimpin aktivitas belajar dan membangun dasar
teoretis termasuk konsep pengetahuan menimbulkan
fungsi mental yang tinggi termasuk merencanakan,
memonitor, dan mengevaluasi pikiran serta
mempertinggi daya ingat.
6. Membangun suatu pengetahuan baru, mengembangkan
keterampilan sosial, kecakapan untuk mengatasi kesulitan

BRAIN GYM | 101


rasa memiliki kemampuan dan keterampilan motorik.
Mengembangkan otot-otot besar, keterampilan
intelektual, keterampilan sosial dan mengendalikan
ekspresi perasaan.

Upaya menilai anak dilakukan dengan Dynamic


Assessement, yaitu penilaian yang dirancang untuk mendorong
anak memperlihatkan apa yang diketahui atau tingkatan
pemahaman paling tinggi yang dimiliki anak. Hasil penilaian
dimaknai sebagai indikator kebermaknaan belajar yang dapat
diperoleh anak. Prestasi yang ditampilkan bersifat
individualistik. Perubahan perilaku yang terjadi tergantung
pada seberapa besar pengaruh proses bermain menyentuh diri
anak. Bredekamp menyarankan teknik penilaian dapat
digunakan untuk mengembangkan program yang dapat
memfasilitasi pengalaman belajar dan pengalaman hidup yang
lebih baik.

Rekomendasi
Rekomendasi yang tepat dalam optimalisasi anak prasekolah
bagi guru, orang tua dan atau pemerhati tugas-tugas
pekembangan anak di antaranya sebagai berikut:
1. Menciptakan Rasa Aman
Rasa ini umumnya muncul pada saat anak berada di luar
rumah. Saat itu ia merasa harus terpisah dari keluarganya,
terutama ayah dan ibu. Agar anak merasa aman, orang tua
perlu memberi penjelasan sederhana yang mudah
dimengerti, contohnya, "Om ini baik, kok. Dia juga pintar
nyanyi dan bikin mainan lucu-lucu. Jadi, kamu enggak

102 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


perlu takut." Selain aman, tumbuhkan pula rasa nyaman.
"Kenapa takut? Kan, Mama ada di sini, di samping Adik,"
misalnya. Jangan lupa, tersenyumlah kepadanya agar
tumbuh perasaan nyaman. Rasa aman dan nyaman
merupakan modal penting dalam melakukan berbagai
aktivitas.
2. Binalah Rasa Percaya Diri
Rasa percaya diri erat kaitannya dengan kemampuan
menjadi mandiri. Jika diteruskan, kemandirian adalah
lepasnya ketergantungan anak dari orang tua. Pupuklah rasa
percaya diri anak dengan memberinya kebebasan dan
kepercayaan melakukan segala sesuatu, asalkan tidak
berbahaya. Contohnya, biarkan anak memutuskan sendiri
hari ini akan memakai baju yang mana. Beri kesempatan
padanya untuk mengenakan baju dan sepatunya sendiri,
bahkan menyisir rambut. Melalui kesempatan dan
kebebasan yang kita berikan, rasa percaya dirinya akan
terpupuk. Dari hari ke hari ia jadi semakin yakin dapat
melakukan tugas-tugas tadi. Bila kebiasaan ini terpupuk
dengan baik, nantinya anak dapat memutuskan apakah dia
memang bisa dan harus melakukan sesuatu atau tidak.
3. Hargai Anak
Jangan pelit memberi penghargaan yang pas. Jangan pula
menghubung-hubungkannya dengan pemberian materi.
Pujian, belaian, ucapan kata-kata sayang dan hal-hal sejenis
sudah cukup menumbuhkan rasa percaya diri anak.
Penghargaan atas hasil yang dicapai anak juga merupakan
fondasi bagi bangunan percaya dirinya. "Setiap individu,
termasuk anak pasti ingin mendapat penghargaan atas apa

BRAIN GYM | 103


pun yang sudah dilakukannya. Termasuk bila masih
terdapat kesalahan di sana-sini." Pada anak yang merasa
dihargai akan terbentuk konsep diri yang positif.
4. Keleluasaan Bermain
Biarkan anak bebas bermain bersama teman-temannya.
Jangan lelah mendorongnya agar tertarik bermain bersama
teman-teman. "Lihat, tuh. Kayaknya asyik banget, ya, main
bola dengan teman-teman. Ayo, ikut main sana."
Memperbanyak hubungan anak dengan dunia luar, baik
dengan teman-teman sebaya maupun dengan yang beda usia
akan menguatkan rasa percaya dirinya. Buang jauh sikap
overprotektif yang hanya akan merusak rasa percaya
dirinya. Larangan ini-itu hanya akan mematikan kreativitas
anak yang selanjutnya memperkuat rasa ketergantungan
pada orang tua. Agar anak bisa diarahkan melakukan segala
sesuatu sendiri, mulailah dari hal-hal kecil yang kemudian
meningkat ke hal-hal besar. Bila dari awal rasa percaya diri
anak relatif rendah, sementara ia juga kurang atau bahkan
tidak mendapat stimulasi sama sekali, bukan mustahil akan
makin sulit meminta anak tampil bersama orang lain. Tak
heran, dalam melakukan aktivitas apa pun ia hanya mau
bersama-sama dengan orang tua saja.
5. Perkenalkan Lingkungan di Luar Rumah
Buka wawasannya dan beri ia alternatif kegiatan yang
melibatkan banyak orang. Misalnya mengajaknya ke rumah
tetangga atau kerabat yang memungkinkannya bermain
bersama kawan sebaya. Anak yang sudah memiliki rasa
percaya diri umumnya akan lebih mudah diajak berkenalan
dengan lingkungan luar rumah. Dengan rasa percaya diri,

104 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


anak lebih mampu diharapkan menekan rasa takut dan
mindernya saat berada di lingkungan yang lebih luas.
Kesempatan untuk mengenal lingkungan yang lebih luas
inilah yang sepatutnya diberikan orang tua.
6. Hindari Intervensi
Ketika anak mengalami masalah, orang tua sebaiknya
jangan langsung menolong, apalagi mengambil alih semua
permasalahan anak. Pola asuh semacam ini hanya akan
membuatnya kurang memiliki citra diri positif dan semangat
juang. Mungkin, intervensi orang tua dilakukan atas dasar
rasa sayang. Tujuannya, membebaskan anak dari masalah.
Namun kenyataannya, sikap seperti ini sama sekali tidak
menguntungkan anak. Sebaliknya, kalau orang tua memang
sayang, latihlah ia menolong diri sendiri. Mulailah dari hal-
hal sederhana, seperti menyuap makanan sendiri. Yang tidak
kalah penting, janganlah mudah menyerah. Upaya yang
merupakan salah satu dari tahapan belajar ini memang butuh
waktu yang panjang di samping kesabaran.
7. Arahkan yang Menjadi Tujuan
Jika anak keliru atau tidak mampu menyelesaikan
pekerjaannya, barulah orang tua boleh ikut campur. Itu pun
sebatas memberi arahan dan bukan merampas kesempatan.
Hanya saja, arahan yang diberikan haruslah disampaikan
secara bijak. "Lo, kok, pegang sendoknya terbalik. Nasinya
jadi tumpah, deh. Harusnya kamu pegang seperti ini
(sambil mencontohkan) lalu masukkan ke mulut."
Penjelasan bijak yang bersifat mengarahkan akan sangat
membantu dalam memperbaiki kesalahan tanpa membuat
ketergantungannya jadi semakin kuat. Hindari pula sikap

BRAIN GYM | 105


maupun kata-kata yang bersifat memojokkan, apalagi yang
bernada menghujat. Kata-kata seperti itu hanya akan
membuatnya merasa rendah diri dan takut mencoba atau
melakukan sesuatu sendiri. Inisiatifnya surut ke batas
minimum. Jika mendapat tugas apa pun, ia akan selalu
kembali ke orang tuanya tanpa berusaha hanya karena ia
takut salah, dicemooh, dan dipojokkan. Celakanya lagi, anak
akan merasa orang tuanya selalu benar, sementara dirinya
selalu salah, yang akhirnya timbul ketergantungan.
8. Tidak Terlalu Menuntut
Orang tua, sebaiknya jangan terlalu menuntut anak untuk
bisa melakukan apa saja sesuai standar tertentu. Misalnya,
menuntut anak mengancing baju sendiri dengan sempurna.
Bila tuntutan-tuntutan semacam ini dipaksakan kepadanya,
sementara kemampuannya belum tumbuh dengan baik, hal
itu hanya akan memunculkan konsep diri yang negatif.
Padahal, agar bisa berkembang secara optimal, dibutuhkan
suasana kondusif yang bisa memunculkan semua potensi
anak.

Penilaian dalam Pembelajaran:


1. Penilaian dalam pembelajaran Kreatif Imajinatif dalam
menyusun cerita adalah suatu usaha untuk mengembangkan
imajinasi siswa secara optimal, berkesinambungan, dan
menyeluruh baik untuk mengukur kemampuan menyimak,
berbicara-bercerita, maupun menulis.
2. Penilaian dilaksanakan dengan tetap mengikuti aturan
penilaian mata-mata pelajaran lain di Sekolah Dasar.
Mengingat bahwa peserta didik kelas awal SD belum

106 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


semuanya lancar membaca dan menulis, maka cara
penilaian tidak ditekankan pada penilaian secara tertulis.
3. Kemampuan membaca, menulis, dan bercerita merupakan
kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik. Oleh
karena itu, penguasaan terhadap kemampuan tersebut harus
mampu mengukur kompetensi kebahasaan secara
menyeluruh.
4. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator
masing-masing Kompetensi Dasar dari masing-masing
pokok bahasan/tema.
5. Penilaian dilakukan secara terus menerus dan selama proses
belajar mengajar berlangsung, misalnya sewaktu peserta
didik bercerita pada kegiatan awal, pada kegiatan inti, dan
menyanyi pada kegiatan akhir.

4. BRAIN GYM MENSTIMULASI PERKEMBANGAN


PRESTASI ANAK
a. Cara Kerja Brain Gym
Pada metode ini dilakukan dengan mudah oleh siapa saja
dengan efek yang langsung terlihat. Sebagaimana cara
kerja Brain Gym yang dikemukakan oleh Paul dan
istrinya, Gail E. Dennison membagi otak ke dalam tiga
fungsi:
1. Dimensi lateral: Koordinasi antara hemisfir kiri dan
hemisfir kanan dari otak untuk bisa berkomunikasi
dengan efektif.
2. Dimensi pemusatan: Koordinasi antara bagian atas
dan bawah dari otak untuk pengaturan proses berpikir
dan tindakan.

BRAIN GYM | 107


3. Dimensi fokus: Koordinasi antara batang otak dan
prefrontal cortex untuk tujuan pemahaman dan
perspektif. Brain Gym membuat ketiga dimensi ini
dapat menyatu dan terintegrasi secara menyeluruh.
Hal ini akan mengakibatkan peningkatan prestasi yang
sangat signifikan.
b. Peningkatan Daya Imajinasi
Kebanyakan siswa menganggap keterampilan memori
mengasyikkan. Mereka suka menggunakan imajinasi
untuk menghasilkan asosiasi yang aneh-aneh dan mereka
suka menomerkan memori mereka yang luar biasa.
Adapun peningkatan keterampilan ini bisa dilakukan di
kelas dari waktu ke waktu dan bisa menyarankan siswa
agar menggunakannya di rumah saat belajar menghadapi
ujian. Ajarkan asosiasi lebih dahulu seakan-akan
menceritakan sebuah kisah, kemudian mintalah siswa
untuk menebak apa yang baru mereka pelajari. Dengan
demikian belajar dapat menjadi keasyikan dan membuat
siswa-siswa selalu berminat. (Bobbi De Porter, 2000:
190).
Gerakan Brain Gym dirasa kurang menarik bila
hanya dilakukan secara terpisah. Untuk lebih kreatif
maka guru bisa membuat satu cerita atau tema yang
melibatkan gerakan yang ada dalam Brain Gym.
Efektivitas Brain Gym dalam meningkatkan
konsentrasi Belajar Anak. Brain Gym dapat membantu
anak belajar mengkoordinasikan gerakan mata, tangan,
dan tubuh karena gerakan Brain Gym adalah suatu usaha
alternatif alami yang sehat untuk menghadapi ketegangan

108 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


dan tantangan pada diri sendiri dan orang lain (Dennison
& Dennison, 2006). Latihan meregangkan atau
meringankan otot (gabungan dari ketiga dimensi)
menyangkut konsentrasi pengertian, dan pemahaman
akan mengaktifkan dimensi muka belakang yang
bermanfaat, membantu kesiapan dan konsentrasi untuk
menerima hal baru, serta mengekspresikan apa yang
sudah diketahui. Gerakan dalam dimensi ini membantu
berkonsentrasi pada apa yang sedang dikerjakan dan juga
menolong mengingat apa yang telah dipelajari (Sari D.
P., 2006).
Brain Gym dilakukan dengan cara menstimulasi
gelombang otak melalui gerakan-gerakan ringan dengan
permainan melalui olah tangan dan kaki seperti gerakan
hooks-up (kait rileks), gerakan silang, saklar otak, titik
positif, lazy 8, menguap berenergi, pengisi energi,
luncuran gravitasi, tombol angkasa, dan pasang telinga
dapat memberikan rangsangan atau stimulus pada otak.
Hal tersebut dapat meningkatkan kemampuan belajar dan
pemusatan perhatian atau konsentrasi dan pemusatan
perhatian atau konsentrasi anak karena seluruh bagian
otak digunakan dalam proses belajar dan berkonsetrasi.
Berdasarkan teori-teori yang telah dipaparkan
diasumsikan Brain Gym efektif dalam meningkatkan
konsentrasi belajar pada anak. Dalam mengoptimalkan
pembelajaran kreatif imajinatif melalui lima komponen
pendidikan:

BRAIN GYM | 109


1. Anak
Saat anak datang kesekolah dengan membawa potensi
kreatif imajinatif yang dimiliki. Dalam pembelajaran
kreatif imajinatif ini ditujukan agar dapat
mengoptimalkan potensi anak yang sudah terlihat dan
memunculkan potensi yang masih terpendam sehingga
ia menjadi pribadi yang cerdas dan kreatif imajinatif.
Pada pembelajaran ini anak diberi kebebasan untuk
bereksplorasi dan menjelajah apa yang ada di
depannya.
2. Materi
Materi pembelajaran kreatif imajinatif memuat
seluruh kemampuan yaitu fisik, kognisi, bahasa, sosio
emosional, dan seni.
3. Metode
Dalam pembelajaran kreatif imajinatif dapat
menggunakan metode:
Bercerita, tanya jawab, bernyanyi, dramatisasi,
demonstrasi, pemberian tugas, dan eksplorasi. Metode
ini dapat dipakai dan diintegrasikan dalam satu waktu
kegiatan dengan menyesuaikan pada situasi dan
kondisi yang ada pada penyajian materi lebih bersifat
mengembangkan kreativitas yang menjurus pada
imajinasi secara natural yang dalam penyampaian
materi bertujuan untuk merangsang anak berimajinasi
secara alami sesuai kemampuan dan potensi di setiap
anak.

110 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


4. Guru
Pada pelaksanaan pembelajaran ini dibutuhkan guru
yang kreatif dan mampu merangsang belahan otak
anak secara seimbang. Selama di sekolah guru
mempunyai peran penting terhadap emosional dan
sosial anak terhadap perkembangan kepribadiannya
guru dalam pembelajaran kreatif imajinatif berperan
sebagai fasilitator dan motivator dalam belajar di
kelas.
5. Media
Merupakan salah satu faktor yang menentukan
keberhasilan proses pembelajaran yaitu apabila media
yang digunakan mampu merangsang berkembangnya
potensi yang ada pada anak. Media juga tidak harus
dibuat oleh guru.
Penggunaan metode Brain Gym dalam bentuk cerita lebih
baik dengan mengombinasikan dengan gerakan tubuh yang
mampu melemaskan otot leher, bahu, tangan, dan badan. Iringi
dengan musik yang mendukung, misalnya musik klasik. Brain
Gym memerlukan piranti pendukung misalnya, ruang yang
cukup luas, suasana yang tenang dan santai, dan juga guru
yang memiliki keterampilan yang memadai. Oleh sebab itu
pelaksanaannya jangan sampai dipaksakan. Brain Gym untuk
mengatasi problem belajar anak, tahun 2012 oleh Sri Suneki,
Ririn Ambarini dkk menghasilkan jika guru melatih gerakan
Brain Gym secara terjadwal bermanfaat untuk pemaksimalan
aspek kognitif dan motorik anak di HIMPAUDI Tembelang
Semarang. Secara prinsip penelitian yang dilaksanakan

BRAIN GYM | 111


sebelumnya mendasari ide dalam merancang penelitian yang
akan dilaksanakan. Penelitian yang akan dilaksanakan akan
menghasilkan formula yang dapat meningkatkan
perkembangan motorik halus, kasar, dan prestasi anak PAUD.

112 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Referensi

Ahman. 1998. Bimbingan Perkembangan: Model Bimbingan


dan Konseling di Sekolah Dasar. Bandung: Disertasi PPS
IKIP Bandung.
Haditono. Siti Rahayu. Prof. Dr. 1982. Psikologi
Perkembangan, Pengantar dalam Berbagai Bagiannya.
Jogjakarta: Gadjah Mada Press.
Turner, J.S dan Helms, D. B 1995. Lifespan Development.
Orlando: Harcourt Brace.
Yusuf LN, Syamsu. 2005. Psikologi Perkembangan anak dan
remaja. Bandung: Rosda Karya.
Ohen, David. 2007. Olahraga Otak. Jakarta: Jabal.
Dennison, Paul E dan Gail E. Dennison. 2002. Brain Gym.
Jakarta: Gramedia.
Depdikbud. 1998. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kurikulum 2004.
Standard Kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia di
Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta:
Depdiknas.
Gunawan, Adi W. 2003. Genius Learning Strategy. Petunjuk
praktis untuk menerapkan Accelerated Learning. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Haryadi dan Zamzami. 1996. Peningkatan Keterampilan
Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: Depdikbud.

BRAIN GYM | 113


Prayitno, Elida. 1991. Psikologi Perkembangan. Jakarta:
Depdikbud.
Syamsi, Katam, dkk. 2004. Aku Mampu Berbahasa Indonesia
untuk Sekolah Dasar Kelas II. Jakarta: SIC.
Astuti, S.I. & Prihastuti, n.d. Senam Otak Bersama Keluarga.
Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Available at:
staff.uny.ac.id [accessed 02 November 2016].
Cahyo, A.N., 2011. Latihan Otak & Daya Ingat dengan
Menggunakan Ragam Media Audio Visual. Pertama ed.
Jogjakarta: Diva Press.
Wagner, M., 2009. Brain Boosters for Your Kids. [Online]
Available at: http:www.BrainGym.org [Accessed 2
November 2016].
Andriana D, 2011. Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain
Anak. Jakarta: Salemba Medika.
Afrilia 2013. Tingkatkan Kualitas Kecerdasan Anak dengan
Brain Gym. http://mag.icreativelabs.com/ibu
danbalita/pojokcerdas/tingkatkan-kualitas-kecerdasan-
anak-dengan-brain-gym/540, diakses pada bulan April
2014 Jam 16.24 WIB.
Aprilia, 2009. Brain Gym 101: Untuk Kehidupan yang
Seimbang. Sulawesi Utara: Yayasan Kinestilogy
Indonesia.
Azril. 2012. Hambatan Belajar Anak. http://azril-
revi.co.cc/hambatan-belajar-anak.
Campbell, Donald T, and Juan C. Stanley. 1997. Experimental
and Quasi Experimentall design for Research Chicago,
Rand Menally College.
Dennisan Paul E. 2009. Panduan Lengkap Brain Gym. Jakarta:
Grasindo.

114 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Pedoman
Pembelajaran Bidang Pengembangan Seni di Taman
Kanak-kanak. Jakarta: Depdikbud.
Eliasa, Imania Eva. 2007. Mari Bermain Otak dengan Senam
Otak. http://webcache., diakses pada bulan April 2014 Jam
16.28 WIB.
Hurlock. 2012. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan
Sepanjang Rentang Kehidupan. Erlangga: PT. Gelora
Aksara Pratama.
Hartono. 2013. Babyorchestra. Jakarta: Wordpress.
Hidayati. 2010. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan
Belajar. Bandung: Tarsilo.
Handrawan, N. 2008. Tumbuh Kembang Anak Toddler.
Jakarta: Puspa Swara.
Hidayat, A Aziz Alimul. 2010. Metode Penelitian Kebidanan dan
Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika.
Maslihudin. 2008. Perkembangan Motorik Halus dan Kasar.
Jakarta.
Muhammad A. 2013. Tutorial Senam Otak untuk Umum.
Yogyakarta: Flashbook.
Notoatmodjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Nursalam. 2013. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian
Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Riyadi. 2012. Ilmu Pengantar Keperawatan Anak. Jakarta:
Salemba Medika.
Ryan. 2013. Pengertian Brain Gym atau Senam Otak dan
Gerakan-Gerakannya.
http://webcache.googleusercontent.com.

BRAIN GYM | 115


Santrock. 2007. Perkembangan Anak, Jakarta: Erlangga.
Sumantri. 2005. Senam Otak. Yogyakarta: Diva Press.
Sudiarto. 2012. Perkembangan Anak usia Dini. Jakarta:
Prenata Media Group.
Sudiarto. 2013. Pengaruh Senam Otak terhadap Peningkatan
Motorik Halus Anak Usia 4-5 Tahun di RA Baitul Mukmin.
Malang.
Soetjiningsih. 2008. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.
Santika. 2013. Publikasi Pengaruh Senam Otak (Brain Gym)
terhadap Peningkatan Motorik Halus.
http://repository.upi.edu/679/4/SPAUD080227
3_CHAPTER1.pdf, diakses pada bulan April 2014 Jam
16.37 WIB.
Setiadi. 2013. Konsep & Penulisan Riset Keperawatan 2.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Wardani, Rizki S. 2013. Efektivitas Brain Gym terhadap
Peningkatan Kemampuan Berbahasa Anak Prasekolah.
Surakarta: UNS.
Zahdi. 2014. Pengertian Prestasi Belajar. http://rgpnd.
blogspot.com/search/ label/Pendidikan.
Yunita Saiful. 2012. Pengaruh Terapi Bermain Origami
terhadap Perkembangan Motorik Halus, Kognitif Anak
Pra Sekolah.

116 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


GLOSARIUM

Gigantisme yaitu anak tumbuh sangat tinggi dan besar, dan apabila
kekurangan, menyebabkan dwarfism atau kerdil.

Desentrasi yakni memahami masalah yang berhubungan dengan


waktu.

Reversibilitas adalah langkah awal memecahkan masalah dengan


cara membayangkan kembali kondisi nyata permasalahan.

Dynamic Assessement yaitu penilaian yang dirancang untuk


mendorong anak memperlihatkan apa yang diketahui atau
tingkatan pemahaman paling tinggi yang dimiliki anak.

Dimensi Lateral adalah koordinasi antara hemisfir kiri dan


hemisfir kanan dari otak untuk bisa berkomunikasi dengan efektif.

Dimensi Pemusatan adalah koordinasi antara bagian atas dan


bawah dari otak untuk pengaturan proses berpikir dan tindakan.

Dimensi Fokus adalah Koordinasi antara batang otak dan


prefrontal cortex untuk tujuan pemahaman dan perspektif.

Paul E. Dennison adalah tokoh pengembang metode belajar brain


gym.

BRAIN GYM | 117


Brainstem adalah bagian belakang otak/batang otak.

Okupasi adalah terapi untuk mengobati masalah pada motorik


halus.

Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) adalah


alat/instrumen yang digunakan untuk mengetahui perkembangan
anak normal, atau penyimpangan.

Denver Development Screening Test (DDST) adalah sebuah


metode pengkajian yang digunakan untuk menilai perkembangan
anak umur 0-6 tahun.

118 | STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PAUD I


Indeks

Brain Gym: v, vi, 1, 2, 6, 67, 68, 69, 107, 108, 109, 111.
Motorik Kasar: v, 20, 31, 32, 33, 34, 36, 37, 38, 39, 40, 43, 44, 50,
63, 65, 67.
Motorik Halus: v, 14, 20, 31, 32, 40, 41, 42, 44, 45, 64, 67, 68, 69,
112.
Prestasi: v, vi, 61, 70, 72, 73, 74, 75, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83,
84, 85, 102, 107, 108, 112.
Lateralis: 4, 5, 6, 9, 10, 67.
Maturasi: 30, 62.
Skrining: 45, 46, 48, 49.
Kognitif: 2, 6, 35, 53, 55, 66, 70, 73, 76, 85, 86, 99, 100, 101, 111.
Afektif: 36, 70, 73, 76.
Psikomotorik: 70, 76.
Inteligensi 77, 92.

BRAIN GYM | 119