Anda di halaman 1dari 8

TEORI EKONOMI KEPENDUDUKAN (EKI 409 BP)

TEORI PERTUMBUHAN PENDUDUK


Dosen: Dr. I Gusti Wayan Murjana Yasa, SE.,M.Si

OLEH:

NI WAYAN ANITA RAHAYU (1506105005)

ABSEN : 03

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

SEMESTER GANJIL

2017/2018
TEORI PERTUMBUHAN PENDUDUK

1. Penduduk dan pembangunan Ekonomi


Penduduk memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi. Melalui berbagai aspek
seperti besarnya jumlah penduduk, penyebaran geografis, kepadatan penduduk, komposisi
dalam usia, jenis kelamin, pendidikan dan kesehatan, serta tingkat pertumbuhannya, maka
jelaslah bahwa penduduk dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, baik dalam makna
buruk maupun baik.
Masalah kependudukan erat kaitannya dengan pembangunan ekonomi. Selain menyangkut
produk nasional riel dan produk per kapita riel, juga terjadi perubahan- perubahan institutional
dan perubahan- perubahan struktural ekonomi masyarakat. Hal ini tercermin dari perubahan
atau pergeseran peranan sumbangan sektor- sektor ekonomi dalam produk dan pendapatan
nasional.
Indonesia mempunyai masalah kependudukan yang sudah cukup padat karena tidak hanya
dapat dibatasi dengan Program Keluarga Berencana, tetapi menyangkut masalah tenaga kerja
dan lain- lainnya. Hal ini disebabkan oleh adanya pertumbuhan penduduk yang sangat pesat
serta kaitannya dengan masalah yang disebabkan oleh pertumbuhan penduduk itu sendiri. Akan
tetapi di lain pihak pertumbuhan penduduk itu sendiri merupakan dorongan untuk
pembangunan di segala bidang. Dari sudut inilah mudah dipahami apabila pertumbuhan
penduduk sering ditelaah sudut pengaruhnya yang buruk kepada pertumbuhan ekonomi. Lebih-
lebih bagi negara- negara yang ekonominya tengah berkembang dan memiliki struktur
ekonomi yang berat sebelah pada pertanian serta kekurangan modal.
Masalah kepadatan penduduk, kecepatan perkembangannya, penyebarannya yang tidak
merata, produktivitas rata- rata yang relatif rendah, pengangguran dan masalah underitilized
dari angkatan kerja tersebut, telah lama menjadi pusat perhatian dan merupakan bagian dari
sasaran perbaikan dalam strategi pembangunan Indonesia. Dengan demikian perlu disadari,
bahwa pemecahan untuk masalah- masalah tersebut meliputi aspek- aspek perluasan
pendidikan dan peningkatan keterampilan, pembinaan dan pengembangan kewiraswastaan
yang memungkinkan tumbuhnya self creating jobs ataupun self employment, di samping
peningkatan dan perluasan investasi yang lebih berorientasi kepada kegiatan- kegiatan yang
padat karya dan program- program konvensional lain seperti keluarga berencana dan
transmigrasi.
Tekanan penduduk pada sumber- sumber kekayaan yang terbatas di negara- negara yang
ekonominya tengah berkembang juga mengakibatkan bahwa lebih banyak dari kekayaan yang
tersedia harus dipakai untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pertambahan penduduk itu. Hal
ini berarti, bahwa kekayaan negara akan teralihkan dari tabungan, investasi modal, dan
investasi manusia, kearah konsumsi, sehingga capital- labour ratio akan semakin kecil dan
tingkat produktivitas semakin merosot.
Bekerja atau tidak, manusia tetap membutuhkan makanan (Pangan). Dalam hal ini terdapat
kenyataan, bahwa tingkat kenaikan produksi beras yang sudah cukup memadai masih
dikalahkan oleh tingkat kenaikan jumlah masyarakat yang amat berorientasi kepada beras.
Sedangkan hubungan dengan masalah pendidikan yaitu suatu bangsa akan berhasil dalam
pembangunannya secara self propelling dan tumbuh menjadi bangsa yang maju apabila telah
berhasil memenuhi minimum jumlah dan mutu dalam pendidikan penduduknya. Karena
pendidikan membentuk manusia- manusia membangun. Pendidikan dapat mengembangkan
semangat “inner will peningkatan kemampuan diri dan bangsa” yang terpencar dalam
pembangunan pendidikan mental intelektual, dan professional bagi seluruh penduduk dan
pemuda Indonesia.

2. Pendekatan Sejarah

A. Mazhab Historismus

Pola pendekatan yang berpangkal pada perspektif sejarah (fenomena ekonomi : perkembangan
menyeluruh dan dalam tahap dalam perjalan sejarah). Mazhab ini mendominasi pemikiran
ekonomi di Jerman selama abad XIX sampai awal XX

 Friedrich List th. 1840 (cara produksi)


merupakan pelopor Historismus : eksponen Nasionalisme Ekonomi
bahwa tahap perkembangan ekonomi yaitu dgn cara produksi :

1. tahap Primitip

2. tahap beternak

3. tahap pertanian

4. tahap pengolahan
5. manufacturing

6. pertanian, industri pengolahan dan perdagangan

List juga berpendapat bahwa daerah-daerah dengan iklim sedang paling cocok untuk
pengembangan industri, karena adanya kepadatan penduduk yang sedang yang merupakan pasar
yang cukup memadai. Sedangkan daerah tropis kurang cocok karena pada umumnua daerah
tersebut berpenduduk sangat padat dan pertanian masih kurang efisien.

 Bruno Hildebrand th 1848 (cara distribusi)

Terjadi evolusi dalam masyarakat, Bruno mengkritik List : bahwa perkembangan ekonomi bukan
didasarkan pada cara produksi/ cara konsumsi tetapi lebih kepada cara distribusi yang digunakan,
yaitu :

1. Perekonomian barter (natura)

2. Perekonomian uang

3. Perekonomian kredit

Teori Bruno memiliki kelemahan yaitu : tidak jelas proses perkembangan dari tahap tertentu ke
tahap berikutnya dan tidak memberi sumbangan yang berarti pada peralatan analisis di bidang
ilmu ekonomi

 Karl Bucher (produksi dan distribusi)

Pendapat Bucher merupakan sintesa dari List dan Hildebrand. Menurut Bucher , perkembangan
ekonomi melalui 3 tahap , yaitu :

1. Produksi untuk kebutuhan sendiri (subsistem)

2. Perekonomian kota di mana pertukaran sudah meluas

3. Perekonomian nasional di mana peran pedagang menjadi semakin penting


Dari ketiga teori , Bucher lebih menyempurnakan mazhab ini karena mensintesakan anata
pemikiran List dan Hildebrand.

 Walt Whitman Rostow (W. W. Rostow)

Menurut Rostow pembangunan ekonomi merupakan suaru proses yang dapat menyebabkan :

1. Perubahan Orientasi ekonomi, politik dan social yang pada mulanya berorientasi kepada
suatu daerah meenjadi berorientasi keluar

2. Perubahan pandangan masyarakat mengenai jumlah anak dalam keluarga yaitu kesadaran
untuk membina keluarga kecil

3. Perubahan dalam kegiatan investasi masyarakat dari melakukan investasi yang tidak
produktif menjadi investasi yang produktif

4. Perubahan sikap hidup dari adat istiadat yang kurang merangsang pembangunan ekonomi
, misal : kurang menghargai waktu kerja orang lain.

WW Rostow membedakan pembangunan ekonomi kedalam 5 tahap

1. tahap Masyarakat Tradisional

2. tahap prasyarat tinggal landas

3. tahap tinggal landas

4. tahap menuju kedewasaan

5. tahap konsumsi tinggi

3. Teori Malthus
Perkembangan penduduk yang sangat cepat dengan segala implikasinya pada abad
pertengahan telah menggelisahkan para ahli di Eropah pada masa itu, sehingga mereka mulai
membahasnya secara serius. Pelopor dalam pembahasan masalah penduduk secara lebih
mendalam dan dianggap sebagai perintis ilmu kependudukan atau demografi adalah Thomas
Robert Malthus (1766 – 1834) yang menulis sebuah karangan berjudul “An Essay on the
Principle of Population, as its Effects the Future Improvement of Society”. Menurut Malthus,
sebab utama timbulnya kemiskinan dan kemelaratan bukan semata-mata karena organisasi
masyarakat yang salah, akan tetapi oleh karena adanya ketidakselarasan yang selalu akan ada
antara jumlah penduduk dan kebutuhan hidup yang tersedia. Pendapat ini dibuat berdasarkan
dua gagasan utama yaitu :
a. Manusia selalu memerlukan sandang dan pangan untuk hidup
b. Nafsu seksual antara dua jenis kelamin akan selalu ada dan tidak akan berubah
sifatnya.
Kekuatan penduduk untuk bertambah adalah lebih besar daripada kesanggupan bumi
untuk menyediakan/menghasilkan kebutuhan hidup.
Malthus menggambarkan bahwa jumlah penduduk akan bertambah menurut deret ukur
(1, 2, 4, 8, 16, 32 dan seterusnya), sedangkan kebutuhan hidup (terutama bahan makanan) akan
mengikuti deret hitung (1, 2, 3, 4, 5, 6, dan seterusnya). Apabila perkembangan ini berjalan
terus, maka lama kelamaan akan terjadi suatu ketimpangan yang amat menyolok antara jumlah
penduduk dan jumlah kebutuhan hidup/pangan yang dapat dihasilkan sehingga keadaan ini
dapat menimbulkan bencana yang hebat.
Menurut pendapat Malthus ada faktor-faktor pencegah yang dapat mengurangi
kegoncangan dan kepincangan terhadap perbandingan antara penduduk dan manusia yaitu
dengan jalan :

a. Preventive checks
Yaitu faktor-faktor yang dapat menghambat jumlah kelahiran yang lazimnya dinamakan
moral restraint. Termasuk didalamnya antara lain :

1. Penundaan masa perkawinan

2. Mengendalikan hawa nafsu

3. Pantangan kawin

b. Positive checks
Yaitu faktor-faktor yang menyebabkan bertambahnya kematian, termasuk di dalamnya
antara lain :

1. Bencana Alam

2. Wabah penyakit
3. Kejahatan

4. Peperangan

Positive checks biasanya dapat menurunkan kelahiran pada negara-negara yang belum maju.

Teori yang dikemukakan Malthus terdapat beberapa kelemahan antara lain :


 Malthus tidak yakin akan hasil preventive cheks.

 Ia tak yakin bahwa ilmu pengetahan dapat mempertinggi produksi bahan makanan
dengan cepat.

 Ia tak menyukai adanya orang-orang miskin menjadi beban orang-orang kaya

 Ia tak membenarkan bahwa perkembangan kota-kota merugikan bagi kesehatan dan


moral dari orang-orang dan mengurangi kekuatan dari negara

Akan tetapi bagaimanapun juga teorinya menarik perhatian dunia, karena dialah yang mula-mula
membahas persoalan penduduk secara ilmiah. Disamping itu essaynya merupakan methode
untuk menyelesaikan atau perbaikan persoalan penduduk dan merupakan dasar bagi ilmu-ilmu
kependudukan sekarang ini.
Daftar Pustaka

Ritonga, Abdurrahman dkk. 2001. Kependudukan dan Lingkumgan Hidup. Jakarta : Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi UI.

Todaro, Michael P. 2003. Pembangunan Ekonomi Dunia Ketiga. Jakarta :Erlangga.

Tantowirico. 2013. Teori Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi. Diambil dari :


https://gerilyastatistik.wordpress.com/2013/01/24/teori-pertumbuhan-dan-pembangunan-
ekonomi/. ( 17 September 2017).

Permata, Dita Wahyu. 2017. Ekonomi Pembangunan Kependudukan Hubungan Penduduk dan
Pembangunan Ekonomi. Diambil dari : https://ditawahyupermata.wordpress.com/ekonomi-
pembangunan/kependudukan/hubungan-penduduk-dan-pembangunan-ekonomi/. (17 September
2017)