Anda di halaman 1dari 2

A.

Offer Curve/Reciprocal Demand (OC/RD)

Teori Offer Curve ini diperkenalkan oleh dua ekonom inggris yaitu Marshall dan
Edgeworth yang menggambarkan sebagai kurva yang menunjukkan kesediaan suatu
Negara untuk menawarkan/menukarkan suatu barang dengan barang lainnya pada
berbagai kemungkinan harga.

Kelebihan dari offer curve yaitu masing-masing Negara akan memperoleh manfaat
dari perdagangan internasional yaitu mencapai tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
Permintaan dan penawaran pada faktor produksi akan menentukan harga factor
produksi tersebut dan dengan pengaruh teknologi akan menentukan harga suatu
produk. Pada akhirnya semua itu akan bermuara kepada penentuan comparative
advantage dan pola perdagangan (trade pattern) suatu negara. Kualitas sumber daya
manusia dan teknologi adalah dua faktor yang senantiasa diperlukan untuk dapat
bersaing di pasar internasional. Teori perdagangan yang baik untuk diterapkan adalah
teori modern yaitu teori Offer Curve.

Garis OW1, OW2 dan seterusnya menggambarkan harga relative dari barang X dan
Y, atau sering disebut dengan terms of trade. Makin tegak garis ini berarti harga barang
X (dinyatakan dengan barang Y) semakin tinggi. Titik O, D, E dan F merupakan titik
singgung antara garis harga dengan trade indifference curves. Garis OB yang
menghubungkan titik-titik tersebut disebut offer curve, menunjukkan kesediaan Negara
B untuk menukar barang X dan Y pada berbagai kemungkinan harga. Misalnya pada
harga OW4 negara B bersedia menukarkan X sebanyak OX4 dengan Y sebanyak OX4.

Kesejahteraan Negara B makin bertambah apabila letaknya makin jauh dari O pada
offer curve tersebut. Pada harga X yang rendah (garis OW makin datar) Negara B hanya
memperoleh barang Y dalam jumlah kecil, sehingga volume perdagangan megecil.
Konsekuensinya keuntungan dari perdagangan juga makin kecil. Bahkan kalau
harganya di bawah OW1 negara B tidak mendapatkan keuntungan. Offer curvernya
tidak ada pada harga di bawah OW. Bentuk offer curve yang lengkung balik (backward
bending) disebabkan oleh karena adanya hukum diminishing marginal rate of
transformation (tercemin pada lereng PPC) dan diminishing marginal rate of
substitution (tercermin pada lereng indifference curve). Secara logika hal ini dapat
dijelaskan sebagai berikut: sampai sejumlah tertentu ekspor arang X, barang tersebut
menjadi sangat sedikit (jarang) di dalam negeri dan impor barang Y menjadi semakin
besar, sehingga impor Y selanjutnya hanya akan diterima dengan penurunan ekspor
barang X.

Offer curve seperti halnya kurva permintaan menunjukkan berapa jumlah sesuatu
barang yang ingin ditukarkan dengan barang lain pada harga tertentu. Harga
keseimbangan ditentukan oleh perpotongan antara permintaan dan penawaran. Dalam
hal ini penawarannya adalah offer curve dari Negara lain (Negara A).