Anda di halaman 1dari 10

TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL PRA KLASIK DAN

KLASIK

Kelompok 2
Muhammad Syaifuddin Jihansyah (1607511065)
Pande Putu Febriarta (1607511072)
Jeffrida Rizky Hidayah (1607511079)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Udayana
2017

I. Teori Pra Klasik


1
A. Pengertian Teori Merkantilisme

Secara historis Merkantilisme adalah teori yang menyatakan bahwa kekuasaan


suatu negara didasarkan pada kekayaan (modal) dibandingkan dengan negara-negara lain.
Hal ini membutuhkan akumulasi komoditas yang berharga, dan neraca perdagangan yang
menguntungkan ekspor atas impor.

Pada abad 16 sampai ke-18, eksplorasi dan kolonialisme membawa barang-barang


berharga dan bahan baku ke Eropa. Hal ini juga membuka pasar baru untuk ekspor barang-
barang manufaktur. Pada koloni Amerika, Inggris memonopli perdagangan, sehingga
koloni memberi keuntungan mereka ke Inggris. Ekonomi Merkantilisme adalah teori yang
menyatakan bahwa kekuasaan pemerintahan didasarkan pada kekayaan dibandingkan
dengan negara lain secara riil (seperti emas) dan bahwa tujuan pemerintahan adalah untuk
mengumpulkan sebanyak mungkin kekayaan untuk menjadi kuat. Ini berarti bahwa sifat
ekonomi internasional secara inheren zero-sum: semua hasil yang baik untuk satu pihak
(misalnya ekspor; mengumpulkan emas) yang buruk bagi orang lain.

Gerakan Merkantilisme berkembang serta berpengaruh sangat kuat dalam


kehidupan politik dan ekonomi di negara-negara Barat, seperti negara Belanda, Inggris,
Jerman, dan Prancis. Setiap negara kolonialis saling berlomba untuk mendapatkan dan
mengumpulkan kekayaan berupa logam mulia untuk berbagai kepentingan, seperti
kepentingan industri, ekspor maupun impor. Bahkan, untuk mencapai tujuannya tidak
jarang terjadi persaingan di antara Negara-negara kolonialis tersebut. Dengan
ditemukannya jalur pelayaran dan perdagangan di Samudera Atlantik maka hubungan luar
negeri di antara negara-negara Barat semakin terbuka lebar. Melalui interaksi perdagangan
tersebut, setiap negara-negara Barat mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda.

Seperti telah disebutkan pada uraian di atas, jelaslah bahwa paham Merkantilisme
pada dasarnya telah memberikan kekuatan yang luar biasa bagi setiap negara kolonialis
untuk memfokuskan segala kegiatan perdagangan dalam rangka memperoleh kekayaan
yang banyak dan kekuasaan yang luas. Tujuan Merkantilisme adalah untuk melindungi
perkembangan industri perdagangan dan melindungi kekayaan negara yang ada di masing-
masing negara. Inggris misalnya, menjadikan praktik politik ekonomi Merkantilisme
dengan tujuan untuk:

Mendapatkan neraca perdagangan aktif, yakni untuk memperoleh keuntungan besar


dari perdagangan luar negeri;
2
Melibatkan pemerintah dalam segala lapangan usaha dan perdagangan;
Mendorong pemerintah untuk menguasai daerah lain yang akan dimanfaatkan
sebagai daerah monopoli perdagangannya.

Pada perkembangan selanjutnya, nilai uang disamakan dengan emas, masing-


masing negara berusaha untuk mendapatkan emas. Oleh karena itu, paham Merkantilisme
tidak hanya menjadikan logam sebagai sumber kemakmuran, tetapi lebih dari itu
memandang pula pentingnya usaha untuk menukarkan barang-barang lainnya dengan emas
batangan. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya arus masuk emas ke pasaran Eropa.
Selain itu, ditandai pula dengan semangat bangsa-bangsa Barat untuk melakukan
penjelajahan atau perdagangan dengan Dunia Timur yang kaya akan sumber daya alam
bagi pemenuhan pasar Eropa. Sejak saat itu, tidak sedikit penjelajahan dan pelayaran
bangsa-bangsa Eropa yang dibiayai oleh raja atau negara. Setiap negara, seperti Inggris,
Prancis, Belanda, dan Spanyol saling bersaing untuk mendapatkan barang berharga
tersebut. Negara-negara tersebut melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap setiap
daerah yang ditemuinya. Banyak daerah yang menjadi sasaran bangsa-bangsa Barat itu,
seperti daerah yang ada di benua Amerika yang di dalamnya terdapat Kerajaan Inca, Maya,
dan Astec. Di daerah-daerah itu, bangsa Inggris, Prancis, Belanda, dan Spanyol melakukan
eksploitasi untuk mendapatkan emas sebanyak-banyaknya dalam rangka mencapai tujuan
gerakan Merkantilisme.

B. Tujuan Teori Merkantilisme

Tujuannya untuk menumpuk kekayaan berupa logam mulia sebanyak-banyaknya,


melindungi perkembangan industri perdagangan dan melindungi kekayaan negara yang
ada di masing-masing negara. Merkantilisme mempunyai ciri-ciri:

1. Peningkatan ekspor dengan cara menggunakan industri dalam negeri,


2. Menerapkan bea masuk yang tinggi guna mencegah masuknya hasil industri dari
negara-negara lain,
3. Hanya bahan mentah / baku yang diimpor dari negara-negara yang dijajah,
4. Mencari negara-negara jajahan untuk mencari kekayaan.

Salah satu prinsip utama dari merkantilisme adalah bahwa permainan ekonomi
global zero-sum: jika salah satu negara memperoleh, yang lain kehilangan. Ini berarti
bahwa penting untuk meminimalkan ekspor modal, dan untuk memaksimalkan mengimpor
modal. Jadi negara akan menghilangkan pajak dan hambatan perdagangan dalam negara
mereka sendiri, dan meningkatkan hambatan besar untuk semua ekspor. Hal ini juga
3
menjadi penting untuk mencoba untuk mengambil setiap ons sumber daya mentah dalam
negeri, dan untuk mengubah sumber daya baku menjadi produk jadi yang dapat diekspor
dengan keuntungan besar dan kuat. Jika bahan baku yang tidak segera tersedia, itu dapat
diterima untuk impor mereka, kemudian menyelesaikannya di negara, dan ekspor mereka
akan mengalami keuntungan.

Kolonialisme juga memainkan peran impor dalam merkantilisme, saat sumber tetap
dari sumber daya mentah dan captive market (pasar di mana konsumen potensial
menghadapi batasan pemasok kompetitif; pilihan mereka hanya dapat membeli apa yang
ada).

Sumber bisa diambil dari koloni yang ditundukkan, dikirim ke ibu negara, dikelola
menjadi produk jadi, kemudian dijual kembali ke pasar koloni, yang sering memiliki
hukum di tempat untuk memberikan perlakuan perdagangan yang menguntungkan untuk
ibu negara atas semua bangsa lain yang ingin berdagangan. Mengekspor penanda modal,
seperti emas dan perak, terbatas terutama di bawah merkantilisme, seperti yang dilihat
sebagai ukuran kekayaan langsung dari suatu negara.

II. Teori Klasik


A. Teori Keuntungan Mutlak (Absolute Advantage) Oleh Adam Smith

Teori Keuntungan Mutlak/Absolut menurut Adam Smith bahwa setiap Negara akan
memperoleh manfaat perdagangan Internasional apabila melakukan spesialisasi pada
produk yang mempunyai efisiensi produksi lebih baik dari Negara lain, dan melakukan
perdagangan internasional dengan Negara lain yang mempunyai kemampuan spesialisasi
pada produk yang tidak dapat diproduksi di Negara tersebut secara efisien.

Ada beberapa asumsi dari teori keunggulan mutlak/absolut ini:

1. Faktor produksi yang digunakan hanya tenaga kerja

2. Kualitas barang yang diproduksi kedua Negara sama

3. Pertukaran dilakukan secara barter tanpa mengeluarkan uang

4. Biaya ditanspor ditiadakan

4
Teori keuntungan mutlak/absolut adalah situasi ekonomi di mana penjual mampu
menghasilkan jumlah yang lebih tinggi dari produk yang diberikan, saat menggunakan
jumlah yang sama sumber daya yang digunakan oleh pesaing untuk menghasilkan jumlah
yang lebih kecil. Hal ini dimungkinkan bagi individu, perusahaan, dan bahkan negara
memiliki keuntungan absolut di pasar. Kemampuan untuk menghasilkan lebih banyak
barang dan jasa dengan lebih efisien juga memungkinkan untuk mendapatkan keuntungan
lebih, dengan asumsi bahwa semua unit yang diproduksi dijual.

Biaya juga merupakan faktor yang terlibat dalam menentukan apakah keuntungan
absolut ada. Ketika itu adalah mungkin untuk memproduksi lebih banyak produk dengan
menggunakan sumber daya yang lebih sedikit, ini biasanya diterjemahkan ke dalam biaya
produksi yang lebih rendah per unit. Bahkan dengan asumsi bahwa produsen menjual
setiap unit dengan biaya sedikit di bawah kompetisi, hasil akhir masih harus keuntungan
yang lebih tinggi pada setiap unit yang dijual.

Teori Keuntungan Mutlak/Absolut lebih mendasarkan pada besaran/variabel riil


bukan moneter, sehingga sering dikenal dengan nama teori murni (pure theory)
perdagangan internasional. Murni dalam arti bahwa teori ini memusatkan perhatiannya
pada variabel riil seperti misalnya nilai suatu barang diukur dengan banyaknya tenaga
kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang. Makin banyak tenaga kerja yang
digunakan akan makin tinggi nilai barang tersebut (Labor Theory of value). Teori Absolute
Advantage Adam Smith yang sederhana menggunakan teori nilai tenaga kerja.

Teori nilai kerja ini bersifat sangat sederhana sebab menggunakan anggapan bahwa
tenaga kerja itu sifatnya homogen serta merupakan satu-satunya faktor produksi. Dalam
kenyataannya tenaga kerja itu tidak homogen, faktor produksi tidak hanya satu dan
mobilitas tenaga kerja tidak bebas. Namun teori itu mempunyai dua manfaat: pertama,
memungkinkan kita dengan secara sederhana menjelaskan tentang spesialisasi dan
keuntungan dari pertukaran. Kedua, meskipun pada teori-teori berikutnya (teori modern)
kita tidak menggunakan teori nilai tenaga kerja, namun prinsip teori ini tidak bisa
ditinggalkan (tetap berlaku).

Menurut beliau bahwa perkembangan ekonomi diperlukan adanya spesialisasi agar


produktivitas tenaga kerja bertambah karena dengan adanya spesialisasi akan
meningkatkan keterampilan tenaga kerja. Disamping itu, beliau juga menitik beratkan pada
luasnya pasar. Pasar yang sempit akan membatasi spesialisasi (Devition of Labour) oleh

5
karena itu pasar harus seluas mungkin supaya dapat menampung hasil produksi sehingga
perdagangan Internasional menarik perhatian. Karena hubungan perdagangan internasional
itu menambah luasnya pasar, jadi pasar terdiri pasar luar negeri dan pasar dalam negeri.

Prinsip Adam Smith mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingkat
Investasi G=f (I).

Dalam teori keuntungan mutlak, Adam Smith mengemukakan ide-ide sebagai berikut:

1. Adanya Division of Labour (Pembagian Kerja Internasional)

Dengan adanya pembagian kerja, suatu negara dapat memproduksi barang dengan
biaya yang lebih murah dibandingkan dengan negara lain, sehingga dalam mengadakan
perdagangan negara tersebut memperoleh keunggulan mutlak.

2. Spesialisasi Internasional dan Efisiensi Produksi.

Dengan spesialisasi, suatu negara akan mengkhususkan pada produksi barang yang
memiliki keuntungan. Suatu negara akan mengimpor barang-barang yang bila diproduksi
sendiri (dalam negeri) tidak efisien atau kurang menguntungkan, sehingga keunggulan
mutlak diperoleh bila suatu negara mengadakan spesialisasi dalam memproduksi barang.
Keuntungan mutlak diartikan sebagai keuntungan yang dinyatakan dengan banyaknya
jam/hari kerja yang dibutuhkan untuk membuat barang-barang produksi. Suatu negara
akan mengekspor barang tertentu karena dapat menghasilkan barang tersebut dengan biaya
yang secara mutlak lebih murah daripada negara lain. Dengan kata lain, negara tersebut
memiliki keuntungan mutlak dalam produksi barang.

Jadi, keuntungan mutlak terjadi bila suatu negara lebih unggul terhadap satu macam
produk yang dihasilkan, dengan biaya produksi yang lebih murah jika dibandingkan
dengan biaya produksi di negara lain.

Pandangan Adam Smith (1723-1790) atas konsep nilai dibedakan menjadi 2 yaitu
nilai pemakaian dan nilai penukaran. Hal ini menimbulkan paradok nilai, yaitu barang
yang mempunyai nilai pemakaian (nilai guna yang sangat tinggi, misalnya air dan udara,
tetapi mempunyai nilai penukaran yang sangat rendah. Malahan boleh dikatakan tidak
mempunyai nilai penukaran. Sedangkan di sisi lain barang yang nilai gunanya sedikit
tetapi dapat memiliki nilai penukaran yang tinggi, seperti berlian. Hal ini baru diselesaikan
oleh ajaran nilai subyektif.

6
Masngudi (2006) menjelaskan bahwa teori keunggulan absolut dari Adam Smith
mempunyai kelemahan-kelemahan sebagai berikut:

1. Teori keuntungan absolut tidak menjelaskan dengan mekanisme apa dunia


memperoleh keuntungan dan output dan bagaimana dibagikan di antara para
penduduk masing-masig negara.
2. Dalam model teori keuntungan absolut tidak menjelaskan bagaimana jikalau negara
yang satu sudah mengadakan spesialisasi sedangkan yang lain masih
memproduksikan kedua produk.
3. Bahwa labor productivity berbeda-beda.
4. Bahwa Adam Smith tak terpikirkan adanya negara negara yang sama sekali tidak
memiliki keuntungan absolut.

Contoh 1:

Indonesia dan India memproduksi dua jenis komoditi yaitu pakaian dan tas dengan asumsi
(anggapan) masing-masing negara menggunakan 100 tenaga kerja untuk memproduksi kedua
komoditi tersebut. 50 tenaga kerja untuk memproduksi pakaian dan 50 tenaga kerja untuk
memproduksi tas. Hasil total produksi kedua negara tersebut yaitu:

Produk Indonesia India


Pakaian 40 unit 20 unit
Tas 20 unit 30 unit

Berdasarkan informasi di atas, Indonesia memiliki keunggulan mutlak dalam


produksi pakaian dibandingkan dengan India, karena 50 tenaga kerja di Indonesia mampu
memproduksi 40 tenaga kerja dan India hanya bisa memproduksi 20 unit. Sedangkan India
memiliki keunggulan mutlak dalam memproduksi tas karena India bisa membuat 30 tas, Indonesia
hanya 20 tas. Jadi Indonesia memiliki keunggulan mutlak dalam produksi pakaian dan India
memiliki keunggulan mutlak dalam produksi tas. Apabila Indonesia dan India melakukan
spesialisasi produksi, hasilnya akan sebagai berikut:

Produk Indonesia India


Pakaian 80 unit 0 unit
Tas 0 unit 60 unit

7
Dengan melakukan spesialisasi hasil produksi semakin meningkat. Karena
Indonesia dan India memindahkan tenaga kerja dalam produksi komoditi yang menjadi
spesialisasi. Sebelum spesialisasi, jumlah produksi sebanyak 60 unit pakaian dan 50 unit
tas. Tetapi setelah spesialisasi, jumlah produksi meningkat menjadi 80 unit pakaian dan 60
unit tas. Jadi keunggulan mutlak terjadi apabila suatu negara dapat menghasilkan
komoditi-komoditi tertentu dengan lebih efisien, dengan biaya yang lebih murah
dibandingkan dengan negara lain.

B. Kemanfaatan Relatif (Comparative Advantage) Oleh J.S Mill

Teori ini menyatakan bahwa suatu Negara akan menghasilkan dan kemudian
mengekspor suatu barang yang memiliki comparative advantage terbesar dan mengimpor
barang yang dimiliki comparative disadvantage (suatu barang yang dapat dihasilkan
dengan lebih murah dan mengimpor barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan
ongkos yang besar). Teori ini menyatakan bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh
banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut. Contoh :

Produksi 10 orang dalam 1 minggu

Produksi Amerika Inggris


Gandum 6 bakul 2 bakul
Pakaian 10 yard 6 yard

Menurut teori ini perdagangan antara Amerika dengan Inggris tidak akan timbul
karena absolute advantage untuk produksi gandum dan pakaian ada pada Amerika semua.
Tetapi yang penting bukan absolute advantagenya tetapi comparative advantagenya.

Besarnya comparative advantage untuk Amerika, dalam produksi gandum 6 bakul


dibanding 2 bakul dari Inggris atau =3 : 1. Dalam produksi pakaian 10 yard dibanding 6
yard dari Inggris atau 5/3 : 1. Disini Amerika memiliki comparative advantage pada
produksi gandum yakni 3 : 1 lebih besar dari 5/3 : 1.

Untuk Inggris, dalam produksi gandum 2 bakul dibanding 6 bakul dari Amerika
atau 1/3 : 1. Dalam produksi pakaian 6 yard dari Amerika Serikat atau = 3/5: 1.
Comparative advantage ada pada produksi pakaian yakni 3/5 : 1 lebih besar dari 1/3 : 1.
Oleh karena itu perdagangan akan timbul antara Amerika dengan Inggris, dengan
8
spesialisasi gandum untuk Amerika dan menukarkan sebagian gandumnya dengan pakaian
dari Inggris. Dasar nilai pertukaran (term of trade) ditentukan dengan batas batas nilai
tukar masing masing barang didalam negeri.

Kelebihan untuk teori comparative advantage ini adalah dapat menerangkan berapa nilai
tukar dan berapa keuntungan karena pertukaran dimana kedua hal ini tidak dapat
diterangkan oleh teori absolute advantage.

C. Biaya Relatif (Comparative Cost) Oleh David Ricardo

Titik pangkal teori Ricardo tentang perdangan internasional adalah teori tentang
nilai (value). Menurut teori nilai (value) sesuatu barang tergantung dari banyaknya tenaga
kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut (labor cost value theory).
Perdagangan antar Negara akan timbul apabila masing-masing Negara memiliki
comperative cost yang terkecil. Sebagai contoh dikemukanan sebagai berikut:

Anggur ( 1 botol ) Pakai ( 1yard )


Portugis 3 hari 4 hari
Inggris 6 hari 3 hari

Dalam hal ini protugis akan berspesialisasi pada produk anggur, sedangkan Inggris
pada produksi pakaian. Pada nilai tukar 1 botol anggur = 1 yard pakaian maka portugis
akan mengorbankan 3 hari kerja untuk 1 yard pakaian yang kalau diproduksinya sendiri
memerlukan 4 hari kerja. Inggris juga akan beruntung dari pertukaran. Dengan spesialisasi
pada produksi pakaian dan ditukar dengan anggur maka untuk memperoleh 1 botol anggur
hanya dikorbankan 3 hari kerja yang kalau diproduksinya sendiri memerlukan waktu 6 hari
kerja.

Kritikan dari teori klasik:

1. Bahwa tenaga kerja nyatanya tidak homogen


2. Mobilitas tenaga kerja didalam negeri mungkin tidak sebabas seperti dalam
anggapan klasik, hal ini di sebabkan oleh tingkatan keluarga, ketidak tahuan
tentang pekerjaan yang baru di tempat dan ssebagainya

9
3. Dengan adanya non competing grup dari tenaga kerja menyebabkan tidak mungkin
nilai suatu barang dinyatakan dengan banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan.

Namun demikian teori klasik ini masih mengandung kebenaran bahwa


perdagangan bebas seperti yang dianjurkannya dapat menimbulkan spesialisasi yang akan
menaikkan efisiensi produksi.

Dalam kenyataannya, setiap Negara menghasilkan lebih dari satu macam barang.
Apabila jumlah barang serta Negara yang berdagang di perluas tidak hanya satu macam
barang serta hanya ada dua Negara, prinsip comperative advantage.

D. Kelemahan Teori Klasik

Teori klasik menjelaskan bahwa keuntungan dari perdagangan internasional itu


timbul karena adanya komperative advantage yang berbeda antara dua Negara. Teori nilai
tenaga kerja menjelaskan mengapa terdapat perbedaan dalam comperative advantage itu
karena adanya perbedaan di dalam fungsi produksi antara dua Negara atau lebih. Jika
fungsi produksinya sama, maka kebutuhan tenaga kerja juga akan sama nilai produksinya
sama sehingga tidak akan terjadi perdagangan internasional. Oleh karena itu syarat
timbulnya antar Negara adalah perbedaan fungsi produksi di antara dua Negara tersebut
namun teori klasik tidak dapat menjelaskan mengapa terdapat perbedaan fungsi produksi
antar dua Negara.

DAFTAR PUSTAKA

Nopirin. 1997. Ekonomi Internasional, BPFE, Yogyakarta

Boediono. 1981. Ekonomi Internasional, Seri Sinopsi Pengantar Ek. No.3 BPFE UGM

www.kuliahonline.unikom.ac.id

10