Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

TOPIK 11

“Buta warna”

Disusun oleh:

Nama : Septiana Damayanti

NIM : 14304241008

Prodi : Pendidikan Biologi

PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2016
A. Topik 11
Buta warna

B. Tujuan
Mengetahui cara melakukan pengujian test buta warna.

C. Alat dan Bahan


1. Buku Test Buta warna (Ishihara’s Tests)
2. Alat tulis

D. Cara Kerja

Masing-masing praktikan menyiapkan alat tulis dengan menuliskan identitas


dan memberi nomor sampai dengan 14

Masing-masing praktikan diuji untuk melihat kemampuannya membedakan


warna

Menulis apa yang terlihat pada buku test buta warna di samping nomor yang
telah ditulis

Menulis apa yang terlihat pada buku test buta warna di samping nomor yang
telah ditulis

Mencocokkan hasil yang diperoleh dengan angka/gambar yang sebenarnya

Menghitung persen kesalahan yang diperoleh setelah melakukan test


E. Hasil Pengamatan
 Tabel Instrumen Test Buta warna

No. Gambar Angka / Gambar yang terlihat


1 12
2 8
3 5
4 29
5 74
6 7
7 45
8 2
9 -
10 16
11 Pola
12 35
13 96
14 Pola

 Tabulasi data kelas

No Nama Jumlah Kesalahan Tingkat Kesalahan


1 Erni Tyas Fatnani 0 0%
2 Viki Ambarwati 0 0%
3 Dwi Nugrohowati 2 14,28%
4 Septiana Damayanti 0 0%
5 Sifaul Faidah 1 7,14%
6 Anisatun Arviyani 0 0%
7 Nurhasanah 0 0%
8 Fajar Gunadi 1 7,14%
9 Umi Latifah 0 0%
10 Mega Rini Puspita Sari 0 0%
11 Estu Ria Dwi Yulianingsih 1 7,14%
12 Oni Nur Rasjiatmi 1 7,14%
13 Asri Nur Rahmawati 1 7,14%
14 Elisabet Susana Wardani 0 0%
15 Andini Setya Putri 1 7,14%
16 Alvie Aulia Sintia Dewi 2 14,28%
17 Maghfira Jihan Mahani 1 7,14%
18 Oktafiani Nur Latifah 0 0%
19 R. Adityaningtyas N.R 0 0%
20 Mulyana 0 0%
21 Umi Aimmatul Mas’udah 2 14,28%
22 Ahmad Khamdani 0 0%
23 Apindania Foni Andari 0 0%
24 Gabriel Rian Geraldo 0 0%
25 Mustika Cahayani 0 0%
26 Furi Rahayu Marinta 0 0%
27 Nurul Rilawati 1 7,14%
28 Evi Margiyanti 1 7,14%
29 Fenti Richa Rukmana 0 0%
30 Lidya Gemi Nastiti 0 0%
31 Dewi Rahayu 0 0%

F. PEMBAHASAN
Praktikum genetika yang dilakukan pada hari Selasa, 5 April 2016 di
Laboratorium Riset ini bertujuan untuk mengetahui cara melakukan pengujian test buta
warna. Alat dan bahan yang digunakan adalah buku test buta warna (Ishihara’s Tests) dan
alat tulis. Dalam praktikum ini, praktikan pertama-tama menyiapkan alat tulis dengan
menuliskan identitas dan memberi nomor sampai dengan 14. Kemudian praktikan diuji
untuk melihat kemampuannya membedakan warna. Saat melihat buku test buta warna,
satu plat gambar hanya boleh dilihat dalam waktu sekitar 3 detik. Setelah melihat selama
sekitar 3 detik, praktikan menuliskan apa yang dilihat pada lembar jawab yang sudah ada,
baik itu yang berupa angka maupun gambar, begitu seterusnya sampai nomor 14. Setelah
selesai, mencocokkan hasil yang diperoleh dengan angka/gambar yang sebenarnya.
Kemudian menghitung persen kesalahan yang diperoleh berdasarkan test yang telah
dilakukan.
Menurut Wirdianingsih (2010, hh. 36-37), Buta warna adalah salah satu jenis
penyakit keturunan yang akan terekspresi kepada para pria, tetapi tidak pada wanita
karena wanita secara genitis sebagai pembawa sifat (carrier). Sebenarnya, istilah buta
warna adalah pengertian yang salah, karena seorang penderita buta warna tidak buta
terhadap seluruh warna melainkan hanya beberapa warna. Penyakit buta warna lebih tepat
bila disebut sebagai gejala gangguan pengelihatan warna tertentu saja (colour vision
difiency). Buta warna diakibatkan karena retina pada mata penderita buta warna berbeda
dengan mata orang normal. Untuk buta warna parsial sel kerucut bersifat sensitif dalam
menangkap warna dan sel batang sensitif terhadap cahaya, sedangkan buta warna total
tidak memiliki sel kerucut sehingga tidak dapat menangkap warna.
Retina pada orang normal mengandung dua jenis sel yang sensitif terhadap
cahaya, yaitu sel batang yang aktif pada cahaya gelap dan sel kerucut yang aktif pada
cahaya terang. Mata manusia memiliki tiga jenis sel kerucut yang masing-masing
mengandung pigmen yang berbeda-beda. Sel kerucut aktif ketika menyerap cahaya,
namun spektrum penyerapan cahayanya memiliki nilai yang berbeda-beda. Sel kerucut
yang pertama cukup sensitif terhadap gelombang pendek (short wavelengths), sel kerucut
yang kedua sensitif terhadap gelombang medium (medium wavelengths), yang ketiga
bersifat sensitif pada gelombang yang panjang (long wavelengths). Sensitifitas
penglihatan warna normal tergantung dari spektrum cahaya yang lebih banyak diserap
dari ketiga sistem (merah hijau biru), perbedaan warna yang terlihat tergantung dari tipe
sel kerucut yang distimulasi dan luasnya. Orang yang memiliki kelemahan penglihatan
warna, mengalami kelainan terhadapat satu sel kerucut atau sel kerucut memiliki tingkat
penyerapan gelombang cahaya yang berbeda dari orang mata normal (ed. Wirdianingsih
2010, h. 42).
Secara umum buta warna terbagi menjadi dua yaitu buta warna total dan buta
warna parsial. Buta warna total hanya dapat melihat warna hitam, putih dan abu-abu,
sedangkan buta warna parsial tidak bisa membedakan warna-warna tertentu seperti hijau,
kuning, merah dan biru. Gambar 2.1 merupakan warna gambar yang terlihat oleh mata
normal, penderita protanopia, deuteranopia, dan tritanopia (ed. Kusma 2013, h. 8).

Gambar 2.1 Penglihatan pada (a) normal, (b) protanopia, (c) deutanopia, dan (d) tritanopia
(Sumber : http://solusibuta warna.files.wordpress.com/2013/12/2.jpg)
Pengujian test buta warna menggunakan buku Ishihara’s Tests yaitu buku uji buta
warna yang dikembangkan oleh Dr. Shinobu Ishihara dan dipublikasikan sejak tahun
1917 di Jepang. Buku Ishihara Test terdiri dari plat atau lembaran yang di dalamnya
terdapat titik-titik dengan berbagai warna dan ukuran. Titik tersebut membentuk
lingkaran, warna titik tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak
akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal (Murti, 2011: 160).
Buku tes Ishihara yang digunakan pada praktikum ini adalah buku Ishihara’s Tests
dengan 14 plat, yaitu:

1. 2. 3.

4. 5. 6.

7. 9.
8.

10. 11.
12.
13. 14.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, praktikan (saya) mempunyai


tingkat kesalahan sebesar 0%. Angka ini diperoleh dengan cara menghitung jumlah salah
dibagi dengan jumlah seluruh soal kemudian dikali 100%. Praktikan (saya) dengan
tingkat kesalahan 0% ini dapat menjawab 14 soal dengan benar. Sehingga dapat
dikatakan bahwa praktikan (saya) memiliki mata yang normal, karena menurut Ratri
Widianingsih (2010: 37) seseorang dikatakan normal dan butawarna apabila kriterianya
sebagai berikut:
 Normal : Jika gambar 1 sampai 14 benar atau tidak ada kesalahan dalam membaca
titik-titik gambar.
 Butawarna parsial : Jika jumlah kesalahan dalam membaca lebih dari 4 dan kurang
dari 13.
 Butawarna total : Jika 1 gambar benar dan namun gambar 2 sampai 14 tidak ada yang
benar.
Kemudian ada juga praktikan yang memiliki tingkat kesalahan sebesar 7,14% dan
14,28%. Praktikan yang memiliki tingkat kesalahan 7,14% ini dapat menjawab 13 soal
dengan benar dan 1 soal dengan salah. Berdasarkan teori yang ada, praktikan ini masih
digolongkan ke dalam mata normal. Yang termasuk ke dalam tingkat kesalahan 7,14%
adalah Paul, Gunadi, Estu, Oni, Asri, Andin, Jihan, Rila, dan Evi. Kemudian praktikan
yang memiliki tingkat kesalahan 14,28%, dapat menjawab 12 soal dengan benar dan 2
soal dengan salah. Berdasarkan teori yang ada, praktikan ini juga masih digolongkan ke
dalam mata normal. Yang termasuk ke dalam tingkat kesalahan 14,28% adalah Dwi,
Alvie, dan Umi Aimmatul.
Dari ke-14 plat tersebut, kebanyakan praktikan salah menjawab saat melihat plat
n0.5; plat no. 9 dan plat no.10. Berdasarkan teori yang ada, untuk plat no.5, subjek
dengan mata normal akan membaca 74 dan mereka yang mengalami gangguan
penglihatan merah-hijau akan membaca 21. Kemudian untuk plat no.9, subjek dengan
mata normal tidak dapat membaca plat tersebut, tetapi mereka yang mengalami gangguan
penglihatan merah-hijau melihat angka 2 di dalamnya. Sedangkan untuk plat no.10,
subjek normal biasanya dapat membaca angka 16 , tetapi kebanyakan dari mereka yang
mengalami gangguan penglihatan merah-hijau tidak dapat membacanya. Akan tetapi,
praktikan-praktikan yang salah membaca plat ini, tidak mengidap penyakit buta warna
parsial maupun total, karena persentase kesalahan mereka dalam melihat ke-14 plat masih
dalam kadar normal. Dimungkinkan mereka mengalami kelelahan mata atau keraguan
dalam mendeskripsikan plat yang mereka lihat, sehingga salah dalam menjawab soal.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum buta warna yang sudah dilakukan dengan menggunakan
buku tes buta warna Ishihara (Ishihara's Tests), dapat disimpulkan bahwa semua
praktikan yang melakukan pengamatan, yaitu sebanyak 31 siswa memiliki mata normal,
dengan tingkat kesalahan 0%; 7,14%, dan 14,28%.

H. DISKUSI
1. Mungkinkah seorang wanita menderita buta warna? Apapun jawaban anda,
bagaimana keturunannya kalau wanita tersebut kawin dengan laki-laki yang buta
warna?
Jawab:
Mungkin, seorang wanita memiliki kemungkinan untuk menderita penyakit
buta warna. Dimungkinkan wanita tersebut memperoleh satu gen resesif dari ibu dan
satu gen resesif lagi dari ayah, sehingga wanita tersebut memiliki genotip homozigot
resesif dan terkena penyakit buta warna. Dan apabila wanita buta warna tersebut
menikah dengan laki-laki yang juga mengidap penyakit buta warna, maka
kemungkinan semua anaknya, baik laki-laki maupun perempuan akan mengidap
penyakit buta warna.

2. Mengapa buta warna banyak terdapat pada laki-laki?


Jawab:
Buta warna banyak terdapat pada laki-laki karena buta warna merupakan
penyakit genetik yang gen buta warnanya terkait dengan kromosom X (X-linked genes).
Jadi kemungkinan seorang pria yang memiliki genotif XY untuk terkena buta warna lebih
besar dibandingkan wanita yang bergenotif XX. Jika gen buta warna hanya terkait pada
salah satu kromosom X nya saja, wanita disebut carrier atau pembawa, yang bisa
menurunkan gen buta warna pada anak-anaknya.

3. Dapatkah suami-istri yang normal menghasilkan keturunan yang buta warna?


Jawab:
Ya dapat. Suami-istri yang normal masih memiliki kemungkinan
menghasilkan keturunan yang buta warna. Hal ini dapat terjadi apabila istri tersebut
bersifat carrier (pembawa sifat) penyakit buta warna dan ayah normal. Jika istri
tersebut carrier, maka kemungkinan besar yang dapat terkena penyakit buta warna
adalah anak laki-laki saja. Hal ini dikarenakan, ia memperoleh gen resesif pembawa
buta warna dari ibu yang carier tadi. Sedangkan anak perempuannya akan tetap
normal, tetapi ada juga yang bersifat normal tapi carier.

4. Apabila dua anak bersaudara kandung, laki-laki dan perempuan, semuanya buta
warna, bagaimanakah fenotip dan genotip kedua orang tuanya?
Jawab:
Apabila ada anak laki-laki dan perempuan bersaudara dan kedua-duanya
mengidap buta warna, maka kemungkinan fenotip kedua orang tuanya adalah
 baik ayah maupun ibu buta warna
 ibu carier dan ayah buta warna
a. Ayah buta warna dan ibu buta warna
P : ♂ XcY >< ♀ XCXc
(♂ buta warna) (♀ carier)
G : Xc , Y XC , Xc
F : XC Xc : ♀ normal (carier)
XcXc : ♀ buta warna
XC Y : ♂ normal
Xc Y : ♂ buta warna

b. Ayah buta warna dan ibu buta warna


P : ♂ XcY >< ♀ XcXc
(♂ buta warna) (♀buta warna)
G : Xc , Y Xc , Xc
F :2 Xc Xc : ♀ buta warna
2 Xc Y : ♂ buta warna

5. Ciri khas pewarisan gen terangkai pada kromosom X adalah Criss-cross inheritance.
Apa maksudnya?
Jawab:
Maksudnya adalah perkawinan yang menyilangkan sifat yang dibawa oleh
suatu individu jantan atau betina ke keturunan yang berjenis kelamin yang berbeda.
Misal suatu sifat yang dibawa oleh individu betina akan diturunkan kepada
keturunannya yang berjenis kelamin jantan, atau sebaliknya. Sifat keturunan buta
warna diwariskan secara silang, sifat yang dimiliki ibu diwariskan kepada keturunan
laki-laki dan sifat yang dimiliki ayah diwariskan kepada keturunan perempuan. Criss-
cross inheritance yang merupakan ciri khas bagi sifat-sifat keturunan yang ditentukan
oleh gen-gen terpaut dalam kromosom X disebut juga cara mewariskan bersilang.

I. DAFTAR PUSTAKA
Ishihara, Shinobu. 2009. Ishihara’s Test for Colour Blindness. Tokyo: Kanehara Trading
Inc.
Murti, Hari dkk. Juli 2011, “Aplikasi Pendiagnosa Kebutaan Warna dengan
Menggunakan Pemrograman Borland Delphi”. Jurnal Teknologi Informasi
DINAMIK. Volume. 16, No. 2,
http://www.unisbank.ac.id/ojs/index.php/fti1/article/view/363
Widianingsih, R., Kridalaksana, dkk. 2010. Aplikasi Tes Buta Warna dengan Metode
Ishihara Berbasis Komputer. Jurnal Informatika Mulawarman, Vol. 5, No. 3.
Universitas Mulawarman, Samarinda.
http://solusibuta warna.files.wordpress.com/2013/12/2.jpg) diakses pada 5 April 2016
pukul 14.16 WIB.

J. LAMPIRAN