Anda di halaman 1dari 15

SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT

MAKALAH
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
FILSAFAT MANUSIA

DOSEN PENGAMPU:
Dr. Ahmad S.Ag., S.Psi., M.Si.

Oleh:

RISKAWATI
NIM : 1671041019
KELAS : D

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2016/2017


SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT

A. PERKEMBANGAN FILSAFAT BARAT


1. MASA YUNANI KUNO

Orang-orang yunani memiliki sistem kepercayaan, bahwa segala


sesuatunya harus diterima sebagai suatu kebenaran yang bersumber pada mitos
atau dongeng-dongeng. Artinya, suatu kebenaran lewat akal pikir (logos) tidak
berlaku, yang berlaku hanya suatu kebenaran yang bersumber pada mitos
(dongeng-dongeng).
Pengertian filsafat pada saat itu masih berwujud ilmu pengetahuan yang
sifatnya masih sempit. Dari hal ini kemudian munculah beberapa ahli pikir yang
menentang adanya mitos.
a. Pra socrates
Pada masa awal ini sering di sebut dengan filsafat alam. Penyebutan
tersebut didasarkan pada munculnya banyak pemikir/filosof yang memfokuskan
pemikirannya pada apa yang diamati di sekitarnya, yakni alam semesta. Pada
zaman masa ini para filosof mulai berfikir ulang dan tidak mempercayai
sepenuhnya pengetahuan yang didasarkan pada mitos-mitos, legenda, kepercayaan
yang sedang menjadi meanstream di masyarakat waktu itu. Mereka mempercayai
bahwa pengetahuan bisa didapatkan melalui proses pemikiran dan mengamati.

Salah satu pemikir pertama pada masa ini adalah Thales (624 – 545 SM)
berfikiran bahwa zat utama yang menjadi dasar semua kehidupan adalah air.
Anaximander (610 – 546 SM) adalah murid dari Thales, tetapi walaupun begitu
Thales berbeda pendapat dengan gurunya. Thales berfikiran bahwa permulaan
yang pertama tidak bisa ditemukan (apeiron) karena tidak memiliki sifat-sifat zat
yang ada sekarang. Ia mengatakan bahwa segala hal berasal dari satu subtansi
azali yang abadi, tanpa terbatas yang melingkupi seluruh alam.
b. Zaman keemasan
Jika pada masa Pra Socrates para pemikir masih berkutat pada wilayah
kemenjadian, maka pada masa keemasan sudah masuk pada pemikiran dan
keutamaan moral. Pada masa keemasan kajian sudah mengarah kepada manusia
sebagai objek pemikiran. Pada masa ini juga sudah mulai berkembang dialektis-
kritis untuk menunjukkan kebenaran.
Socrates (470 – 399 SM) merupakan generasi pertama dari tiga filsafat
besar dari Yunani. Socrates adalah seorang yang meyakini bahwa menegakkan
moral merupakan tugas filosof, yang berdasarkan ide-ide rasional dan keahlian
dalam pengetahuan. Menurut Socrates ada kebenaran objektif yang tidak
tergantung pada saya atau kita. Setiap orang bisa berpendapat benar dan salah
tergantung pada pengujian rasionya.
Berikutnya adalah Plato (427 – 347 SM) adalah murid Socrates.
Menurutnya dunia yang tampak ini sebuah bayangan atau refleksi dari dunia yang
ideal. Bahkan kebenaran dan definisi lahir bukan dari hasil dialog melainkan
hasil bayangan dari dunia ide. Menurutnya dunia ide adalah realitas yang
sebenarnya. Untuk menjelaskan tentang pemikiran filosofisnya Plato membagi
realitas menjadi dua yakni pertama dunia ide. Kedua dunia baying-bayang dan
dunia yang tampak ini adalah di dalamnya.

Aristoteles (384 – 322 SM) adalah filosof yang sangat berpengaruh sama
sebagaimana Plato, namun Aristoteles sangat empiris dan mulai memperlihatkan
kecenderungan berfikir yang saintific. Menururnya tidak ada sesuatu pun di dalam
kesadaran yang belum pernah dialami oleh indra. Seluruh pemikiran dan gagasan
yang masuk ke dalam kesadaran kita melaui apa yang pernah kita lihat dan dengar
sebelumnya.

2. ABAD PERTENGAHAN
Filsafat Barat, Pada Abad Pertengahan juga dapat dikataka sebagai “The
Dark Age (Abad yang Gelap)”. Karena pada saat itu manusia tidak lagi memiliki
kebebasan untuk mengembangkan potensi yang yang terdapat dalam dirinya,
karena pada saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia.
Para ahli pikir saat itu juga tidak memiliki kebebasan berpikir. Apabila terdapat
pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja, orang yang
mengemukakannya akan dihukum berat.
Pada abad pertengahan ini dibagi menjadi tiga masa, yaitu masa Patristik,
Skolastik dan Peralihan.

a. Masa Patristik
Patristik yang artinya para pemimpin gereja. Pada masa ini terdapat dua
golongan dari para ahli pikir, yaitu ahli pikir yang menolak dan ahli pikir yang
menerima filsafat yunani. Bagi mereka yang menolak beralasan karena telah
memiliki sumber kebenaran dari firman Tuhan, sedangkan dari mereka yang
menerima beralasan karena tidak ada salahnya mengambil keduannya asal tidak
bertentangan dengan agama.
b. Masa Skolastik
Skolastik berasal dari kata sifat yang artinya “school” atau sekolah. Jadi, skolastik
berarti aliran yang berkaitan dengan sekolah.
Filsafat skolastik merupakan suatu sistem yang termasuk jajaran pengatahuan
alam kodrat, yang akan dimasukkan kedalam bentuk sintesis yang lebih tinggi
antara kepercayaan dan akal.
c. Masa Peralihan
Masa yang berada dipenghujung abad pertengahan, yang mana pada masa ini
terjadi peralihan yang diisi dengan gerakan kerohanian yang bersifat
pembaharuan. Pada masa ini ditandai dengan munculnya Renaissance,
Humanisme dan reformasi.

3. ABAD MODERN

Filsafat barat modern memiliki corak yang berbeda dengan periode filsafat
abad pertengahan. Pada zaman modern otoritas kekuasaan itu terletak kemampuan
akal manusia itu sendiri. Manusia pada zaman modern tidak mau diikat oleh
kekuasaan serta raja dengan kekuasaan politiknya yang bersifat absolut.Para
filosof modern pertama-tama menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari
kitab suci atau dogma-dogma gereja, juga tidak berasal dari kekuasaan feudal.
Semua filsuf apad zaman ini menyelidiki segi-segi subjek manusiawi ; “Aku”
sebagai pusat pemikiran, pusat pengamatan, pusat kebebasan, pusat tindakan,
pusat kehendak, dan pusat perasaan.
a. Rasionalisme
Aliran filsafat rasionalisme ini berpendapat, bahwa sumber pengetahuan yang
memadai dan dapat dipercaya adalah akal (Rasio). Hanya pengetahuan yang diperoleh
melalui akallah yang memenuhi syarat yang dituntut oleh sifat umum dan harus mutlak,
yaitu syarat yang dituntut oleh semua pengetahuan ilmiah. Metode yang diterapkan oleh
para filsuf rasionalisme ialah metode deduktif.
Tokoh-tokoh aliran filsafat rasionalisme ini ialah Descartes, Spinoza, dan
Leibniz, dari ketiga tokoh ini yang dibicarakan dalam rangka aliran ini adalah
Descartes.Tokoh penting aliran filsafat rasionalisme adalah Rene Descartes (1598-
1650) yang juga adalah pendiri filsafat modern.
Metode Descartes dimaksudkan bukan saja sebagai metode penelitian
ilmiah, ataupun penelitian filsafat, melainkan sebagai metode penelitian rasional
mana saja, sebab akal budi manusia selalu sama.
Descartes memulai metodenya dengan meragu-ragukan segala macam
pernyataan kecuali pada satu pernyataan saja, yaitu bahwa ia sedang melakukan
keragu-raguan sendiri menegaskan bahwa ia dapat saja meragukan segala hal,
namun satu hal yang tidak mungkin diragukan adalah kegiatan meragu-ragukan
itu sendiri. Maka ia sampai pada kebenaran yang tak terbantahkan, yakni : saya
berfikir, jadi saya ada (Cogito ergo sum).
b. Empirisme
Aliran empirisisme pertama kali berkembang di Inggris pada abad ke-15 dengan
Prancis Bacon sebagai pelopornya. Menurut Bacon, manusia melalui pengalaman dapat
menhgetahui benda-benda dan hukum-hukum relasi antara benda-benda.
Paham empirisime ini kemudian dikembangkan oleh David Hume (1611-
1776), ia sangat menentang kaum rasionalisme yang berlandaskan pada prinsip a
priori, yang bertitik tolak dari ide-ide bawaan. Ia mengajarkan bahwa manusia
tidak membawa pengetahuan bawaan kedalam hidupnya. Melalui pengamatan ini
manusia memperoleh dua hal yaitu : kesan-kesan (impression) dan pengertian-
pengertian (ideas).Pada hakikatnya pemikiran Hume bersifat analitis, kritis, dan
skeptis. Sebab bagi Hume dunia hanya terdiri dari kesan-kesan yang terpisah-
pisah, yang tidak dapat disusun secara objektif sistematis, karena tidak ada
hubungan sebab akibat antara kesan-kesan.
c. Kritisisme
Seseorang filsuf Jerman yang bernama Immanuel Kant (1724-1804)telah
melakukan usaha untuk menjembatani pandangan-pandangan yang saling
bertentangan,yaitu antara rasionalisme dan empirisisme.
Filsafat Imanuel kant, yang di sebut dengan aliran filsafat
kritisisme.kritisisme adalah sebuah teori pengetahuan yang berusaha untuk
mempersatukan kedua macam unsur dalam filsafat rasionalisme dan empirisisme
dalam suatu hubungan yang seimbang,yang satu tidak terpisahkan dari yang
lain.Menurut Kant pengetahuan merupakan hasil terakhir yang di peroleh dengan
adanya kerja sama di antaranya dua komponen,yaitu di satu pihak berupa bahan-
bahan yang bersifat pengalaman inderawi, dan di lain pihak cara mengolah kesan-
kesan yang bersangkutan sedemikian rupa sehingga terdapat suatu hubungan
antara sebab dan akibatnya.sesungguhya relasi-relasi antara sebab dan akibat
tidaklah terdapat di dalam dunia melainkan merupakan bentuk-bentuk penafsiran
manusia yang gunanya ialah agar gejala-gejala yang begitu beraneka ragam yang
kita hadapi.
d. Idealisme
Permulaan pemikiran idealism dalam sejarah filsafat barat biasanya selalu
dihubungkan dengan Plato (427-347 SM). Aliran filsafat idealism dalam abad ke-
19 merupakan kelanjutan dari pemikiran filsafat rasionalisme pada abad ke-17.
Bagi Hegel pikiran adalah essensi dari alam dan alam adalah keseluruhan
jiwa yang di obyektifkan. Alam adalah proses pemikiran yang memudar, adalah
juga akal yang mutlak (absolute reason) yangb mengeksprsikan dirinya dalam
bentuk luar. Oleh karena itu menurut Hegel hukum-hukum pikiran yang
merupakan hukum-hukm realitas. Sejarah adalah cara zat yang mutlak ( absolute)
itu menjelma dalam waktu dan pengalaman manusia. Tahap-tahap keberadaan
spiritual dalam suatu tata tertib yang mencakup segala-galanya, pada itulah kita
membicarakan tentang yang mutlak, jiwa yang mutlak atau Tuhan.
e. Positivisme
Pendiri tokoh terpenting dari aliran filsafat positivisme adalah Auguste
Comte (1798-1857) ialah hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara
positif-ilmiah, dan menjauhkan diri dari semua pertanyaan yang mengatasi bidang
ilmu-ilmu positif. Semboyan Comte yang terkenal adalah savoir pour prevoir.
Filsafat positivisme Comte disebut juga paham empirisisme-kritis, bagi
Comte pengamatan tidak mungkin dilakukan tanpa melakukan penafsiran atas
dasar sebuah teori dan pengamatan juga tidak mengkin dilakukan secara “
Terisolasi”, dalam arti harus dikaitkan dengan suatu teori. Metode positif Auguste
Comte juga menekankan pandanganya juga hubungan antara fakta yang satu
dengan fakta yang lain.
f. Marximisme
Pendiri aliran filsafat ini adalah Kall Marx (1818-1883), filsafat Marx
adalah perpanduan antara metode dialektika Hegel dan filsafat materialism
Feuerbach. Filsafat abstrak harus ditinggalkan, karena teori interperstasi,
spekulasi dan sebagainya tidak mengahasilkan perubahan dalam masyarakat.
Marx mengajarkan bahwa sejarah dijalankan oleh suatu logika tersendiri.
Pemikiran Marx menghubungkan dengan sangat erat ekonomi dengan filsafat.
Bagi Marx masalah filsafat bukan hanya maslah pengetahuan dan masalah
kehendak murni yang utama, melainkan masalah tindakan. Para filosof menurut
Marx selama ini hanya sekedar menafsirkan dunia berbagai cara, namun menurut
yang terpenting adalah mengubahnya. Menurut Marx kaum, proletar harus
merebut peranan kaum Borjuis dan Kapitalis itu melalui revolusi. Berkembangnya
aliran-aliran epistemologi, filsafat modern juga mengantarkan lahirnya revolusi
industri di abad ke-18 dan Negara-negara kebangsaan. Serta ideologi-ideologi
dunia seperti Liberalisme/Kapitalisme dan Sosialisme/Komunisme.
4. ABAD KONTEMPORER

Pada abad ini terdapat dua aliran pemikiran filsafat yang dapat dikatakan
masih baru, walaupun tergolong baru aliran pemikiran filsafat ini memiliki
pengaruh yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat pada abadnya. Filsafat
kontemporer ini disebut juga sebagai filsafat abad ke-20. ciri-ciri filsafat pada
abad ini yaitu desentralisasi manusia. Desentralisasi adalah perhatian khusus
terhadap bahasa sebagai subjek kenyataan kita sehingga pemikiran filsafat
sekarang ini disebut logosentris. Kedua aliran yang dimaksud adalah aliran
Filsafat Analitis dan aliran Filsafat Strukturalis.
a. Filsafat analitis
Filsafat ini dipelopori oleh Ludwig Josef Johan Wittgenstein (1989 –
1951). Sumbangannya yang terbesar dalam filsafat adalah pemikiran tentang
pentingnya bahasa. Ia mencita-citakan suatu bahasa yang ideal, yang lengkap dan
dapat memberikan kemungkinan bagi penyelesaian masalah-masalah kefilsafatan.
b. Filsafat strukturalisme
J. Lacan merupakan pelopor dari filsafat ini. Menurut pemikirannya
bahasa terdiri dari sebuah cermin yang ditentukan oleh posisi-posisinya satu
terhadap yang lain.

B. PERKEMBANGAN FILSAFAT TIMUR


1. FILSAFAT INDIA
Filsafat India mengusung keyakinan akan kesatuan fundamental antara
manusia (individu) dengan alam (kosmos). Dengan demikian, tidaklah mustahil
jika filsafat India bisa menjadi solusi bagi krisis spiritual dan alam saat ini.
Menurut filsafat India, harmoni yang terjalin akan mengantarkan seseorang
menjadi waskita (arif bijaksana) terhadap hidup. Tidak terasing dari kehidupan
dunia (alam semesta) dan mampu beramah-tamah dengan semua benda di
sekelilingnya. Bagaikan bersahabat dengan gemericiknya air, kesuburan tanah
yang menumbuhkan segalanya, dan sinar matahari yang menghangatkan semesta
raya.
a. Zaman Weda (2000 - 600 SM)
Filsafat India dimulai sejak bangsa Arya masuk ke India dari utara sekitar tahun
1500 SM. Literatur suci mereka disebut Weda, yang terdiri dari Samhita,
Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad. Samhita memuat Rigweda (kumpulan
pujian-pujian), Samaweda (himne-himne liturgis), Yajurweda (rumus-rumus
korban), dan Artharwaweda (rumus-rumus magis). Brahmana, Aranyaka, dan
Upanisad memuat komentar-komentar pada semua literatur. Upanisad merupakan
yang terpenting dari filsafat India yang sepanjang sejarah merupakan sumber yang
sangat kaya untuk inspirasi dan pembaharuan. Tema yang menonjol untuk
Upanisad adalah ajaran tentang hubungan Atman dan Brahman. Atman adalah
segi subjektif dari kenyataan, “diri” manusia. Sedangkan Brahman adalah segi
objektif, makrokosmos, alam semesta. Upanisad mengajarkan bahwa Atman dan
Brahman memang sama dan bahwa manusia mencapai keselamatan (moksa,
mukti) kalau ia menyadari identitas Atman dan Brahman.
b. Zaman Skeptisisme (600 SM – 300 M)
Sekitar tahun 600 SM mulai suatu reaksi baik terhadap ritualisme imam-imam
maupun terhadap spekulasi hubungan dengan korban para rahib. Para imam
mengajarkan ketaatan pada kitab suci, tetapi para rahib mengajarkan suatu
metafisika di mana ketaatan ini mengganggu kebaktian kepada dewa-dewa.
Reaksi ini datang dalam berbagai bentuk. Tetapi yang terpenting diantaranya
adalah Buddhisme ajaran dari Gautama Buddha, yang memberi pedoman praktis
untuk mencapai keselamatan dan mengajarkan secara nyata bagaimana manusia
dapat mengurangi pemderitaannya dan bagaimana ia mencapai terang budi yang
membawa keselamatan. Reaksi lain adalah kebaktian yang lebih eksklusif kepada
Siwa dan Wisnu dan juga Jainisme dari Mahawira Jina. Keduanya merupakan
bentuk agama yang menarik daripada ritualisme dan spekulasi dari imam dan para
rahib. Sebagai kontra-reformasi muncullah Hinduisme resmi enam sekolah
ortodoks (disebut ortodoks karena Buddhisme dan Jainisme yang tidak
berdasarkan Weda dianggap bid’ah). Sekolah itu adalah Saddharsana (Nyaya,
Waisesika, Samkhya, Yoga, Purwa-Mimamsa, dan Ynana). Adalah yang
terpenting dari sekolah itu adalah Samkhya (artinya jumlah) dan Yoga (dari kata
“juj”, menghubungkan). Yoga mengajarkan suatu jalan (marga) untuk mencapai
kesatuan dengan ilahi. Samkhya mengajarkan sebagai tema terpenting hubungan
alam-jiwa dan kesadaran-materi.
c. Zaman Puranis (300 – 1200)
Setelah tahun 300, Buddhisme mulai lenyap dari India. Pemikiran India dalam
abad pertengahan dikuasai oleh spekulasi teologis, terutama mengenai inkarnasi
dewa-dewa. Contoh cerita tentang inkarnasi dewa-dewa terdapat dalam dua epos
besar, Mahabharata dan Ramayana.
d. Zaman Muslim (1200 – 1757)
Dua nama yang menonjol dalam periode muslim yaitu Kabir (pengarang syair)
yang mencoba mengembangkan suatu agama universal dan Guru Nanak (pendiri
aliran Sikh) yang mencoba menyerasikan Islam dan Hinduisme.
e. Zaman modern
Zaman modern adalah zaman pengaruh Inggris di India mulai tahun 1757.
Periode ini memperlihatkan kembali nilai-nilai klasik India, bersama dengan
pembaharuan sosial. Nama penting dalam periode ini adalah Raja Ram Mohan
Roy (1772-1833) yang mengajarkan monoteisme berdasarkan Upanisad dan suatu
moral berdasarkan Khotbah di Bukit dari Injil, Vivekananda (1863-1902) yang
mengajarkan semua agama benar tetapi agama Hindu paling cocok di India, Gandi
(1869-1948), dan Rabindranath Tagore (1861-1941) sang pengarang syair dan
penmikir religius yang membuka pintu untuk ide-ide luar. Sejumlah pemikir India
zaman sekarang melihat banyak kemungkinan untuk dialog antara filsafat
Timur dan filsafat Barat.

2. FILSAFAT CINA

Dalam memahami asal mula Filsafat Cina, ada 3 hal yang perlu diketahui.
Pertama, filsafat adalah sebuah usaha sadar untuk memformulasikan pandangan-
pandangan dan nilai-nilai sebagai ekspresi dari keyakinan fundamental
sekelompok orang. Karenanya filsafat tidak dapat dilepaskan dari latar belakang
budaya dan tradisi kelompok tersebut. Dalam hal ini adalah bahasa, seni, literatur,
dan agama. Yang kedua, filsafat sebagai sebuah aktivitas yang berkelanjutan
haruslah dipandang sebagai sesuatu yang muncul dari aktivitas praktis kehidupan
yang berfokus pada pemecahan masalah tentang pengetahuan yang benar,
pemahaman asali, dan penghargaan yang wajar atas berbagai masalah kehidupan,
entah secara individu ataupun sosial. Yang ketiga adalah lebih berupa konstruksi-
konstruksi teoretis sebagai hasil pemikiran filosofis ataupun kegiatan kultural dari
suatu kelompok orang/masyarakat.
a. Konfusius
Ulasan yang lebih detail tentang kehidupaan Confusius adalah biografi
yang terangkum dalam bab empat puluh tujuh Shih Chi atau Historical Records
(sejarah dinasti Cina pertama, lengkap ca. 86 SM). Dari riwayat hidupnya ini, bisa
didiperoleh ide bahwa ajaran-ajaran Konfusius lahir atas keprihatinannya akan
situasi sosial dan politik pada saat itu. Bagi Konfusius kekacauan itu timbul
karena Li kehilangan jiwanya. Untuk menghidupkan kembali Li berarti
menghidupkan kembali ritual dan musik denngan pendasaran pada Ren. Seperti
kita ketahui, Konfusiuslah yang mengambil kitab klasik dinasti Zhou keluar dari
tempat penyimpanannya dan membeberkannya di depan umum. Konfusius
pulalah yang mengubah aneka tata cara dan upacara serta kebiasaan feudal
menjadi suatu sistem etika. Konfusius berjuang tanpa kenal lelah sepanjang
hidupnya untuk membangun dan memelihara suatu masyarakat yang tertib dan
teratur dengan terus menerus menekankan pentingnya hubungan antara manusia
atas dasar doktrin ren.
Ren, adalah gagasan sentral dari Konfusianisme yang juga merupakan
kelanjutan yang lebih jernih dari gagasan yang hidup sebelum jaman Konfusius.
Ren bisa dipahami sebagai: kebaikan hati ataupun kasih antar manusia. Kebaikan
ini adalah hakikat terdalam manusia yang membuat unsur lain (dalam hidupnya)
menjadi mungkin. Menurut Konfusius ‘ren’ adalah sesuatu di dalam diri yang
membuat seseorang sungguh-sungguh manusia. Sedangkan Li mengandung arti
‘tatacara dan upacara keagamaan’, tetapi Konfusianisme memberi arti lebih luas
dari pada sekedar ritus dan ritual, yaitu, segala sesuatu yang terkait pada tindakan
tepat manusia, dan Xiao merujuk pada tindakan antar manusia yang
menumbuhkan ‘ren’ yang juga berarti “hormat bakti yang muda terhadap yang
lebih tua”.
b. Taoisme
Taoisme diajarkan oleh Lao Tse (“guru tua”) yang hidup sekitar 550 S.M.
Lao Tse melawan Konfusius. Menurut Lao Tse, bukan “jalan manusia” melainkan
“jalan alam”-lah yang merupakan Tao. Tao menurut Lao Tse adalah prinsip
kenyataan objektif, substansi abadi yang bersifat tunggal, mutlak dan tak-
ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih metafisika, sedangkan ajaran Konfusius
lebih-lebih etika. Puncak metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak
tahu apa-apa tentang Tao.
c. Mencius dan Xunzi
Konfusianisme bermula dari ajaran Konfusius, tetapi kemudian dibangun dan
dikembangkan oleh Mencius dan Xunzi. Seperti Konfusius, Mencius
mendasarkan ajarannya pada Ren, tapi ia menyatakan bahwa untuk membina Ren
harus dikembangkan yi atau kebaikan. “Yang disimpan dalam hati adalah ren,
yang dipakai dalam tindakan adalah yi.” Jadi, ren adalah prinsip tepat untuk
mengawasi gerak internal, sedangkan yi adalah cara tepat untuk membimbing
tindak eksternal. Lebih lanjut lagi, Ia menekankan Sistem Keluarga yang
diungkap Confusius; yaitu sistim masyarakat Tionghoa, ada 5 jenis hubungan
yaitu Raja-Menteri, Ayah-Anak, Suami-Istri, Kakak-Adik, teman-teman.
d. Mohisme
Adapun perbedaan pendapat anatara konfusianis dan mohis adalah sebagai
berikut: Para Konfusianis mementingkan relasi yang tepat (Lǐ), tanpa memikirkan
keberuntungan. Dari segi moral atau pendirian, para Konfusianis mengutamakan
kebenaran dan kemurnian, tanpa menghitung keberhasilannya. Penganut Mo Tzŭ
lebih pragmatis. Mereka mengutamakan secara khusus keberuntungan (Lì) dan
pencapaian (Kung).
Dengan demikian, tolok ukur kebenaran sebuah prinsip menurut Mo Tzŭ adalah
seberapa besar keberuntungan yang diberikan kepada negara dan rakyat jelata.
Segala sesuatu harus berguna, dan semua prinsip harus bisa diaplikasikan supaya
menyumbang sesuatu nilai secara mandiri. Maka sesuatu prinsip yang tidak bisa
diejawantahkan nilainya, ataupun tidak bisa diajarkan secara efektif kepada
manusia lain untuk mengejawantahkan nilainya, hanya rasio belaka. Tetapi
pendirian Mo Tzŭ ini bertabrakan dengan idealisme Konfusianis, yang
mengutamakan pembentukan moralitas yang mendukung tindakan seseorang,
supaya bertindak mengikut apa yang benar, dan bukan mengikut apa yang lebih
memanfaatkan.
e. Daoisme
Lao Zi dan pengikutnya menduga bahwa ada yang salah dalam hakekat
masyarakat dan peradabannya. Mereka menganjurkan rakyat Cina untuk
membuang semua pranata dan konvensi yang ada. Mereka percaya bahwa
manusia yang dulu mempunyai suatu surga kemudian hilang karena
kekeliruannya sendiri, yaitu karna ia mengembangkan peradaban. Menurut Lao Zi
dan pengikut pengikutnya, cara terbaik untuk hidup adalah menarik diri dari
peradaban dan kembali kepada alam, dari keadaan beradab ke keadaan alami.
Inilah jalur pemikiran naturalistic yang dikenal sebagai Daoisme yang
menjunjung tinggi Dao dan alam.
Chuang Tzu memandang Dao sebagai totalitas dari spontanitas segala sesuatu di
alam semesta ini. Semua hal harus dibiarkan berkembang sendiri, secara alami
dan spontan, Akan tetapi Yang Tzu berpendapat bahwa Dao adalah suatu
kekuatan fisis yang buta. Dao menghasilkan dunia tidak atas dasar perencanaan
atau kehendak, tetapi atas dasar keniscayaan atau kebetulan. Pendapat ini
merupakan pendapat yang mewakili kaum materialistic Daoisme. Apapun
perbedaannya, ajaran ajaran mereka menekankan bahwa manusia harus cocok dan
serasi dengan kodratnya dan puas dengan apa adanya.

3. FILSAFAT ISLAM
Filsafat Islam digolongkan ke dalam filsafat timur karena lebih dominan
sifatnya yang menunjukkan idealisme seperti umumnya filsafat-filsafat yang
muncul di dunia timur, seperti Cina dan India. Filsafat timur ini yang memiliki
aliran idealisme utamanya bercirikan bersifat spiritual, esensinya adalah dengan
berfikir. tokoh filosofi Islam yakni Al-Kindi dan Al-Ghazali sebagai contoh
gambaran konkrit dari filsafat Islam.
a. Al-Kindi
Nama Al-Kindi ini merupakan cikal bakal terbentuknya Banu Kindah, yaitu suku
keturunan kindah yang sejak dulu menempati daerah selatan Jazirah Arab yang
tergolong memiliki apresiasi kebudayaan yang cukup tinggi dan cukup dikagumi
orang.
Dalam sejarah hidupnya, Al-Kindi mengahasilkan beberapa karya. Kebanyakan
dari karyanya ini berbentuk makalah, tetapi jumlahnya amat banyak sekitar 200
lebih. Salah satunya dalam bidang filsafat. Menurut George N. Atiyeh, karangan
makalah Al-Kindi itu sebanyak 270. Karangannya ini pernah diterbitkan oleh
Prof. Abu Ridah (1950) dengan judul Rasail Al-Kindi Al-Falasifah (makalah-
makalah filsafat Al-Kindi.
b. Al-Ghazali
Al-Ghazali ini memiliki nama lengkap yang cukup unik yaitu Muhammad
bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Abu Hamid Al-Ghazali. Lahir dikota
thus, suatu kota di Khurasan. Setelah ayahnya meninggal, Al-Ghazali kemudian
diasuh oleh seorang ahli tasawuf. Pada masa kecilnya ia mempelajari ilmu fiqh
pada Syekh bin Muhammad Ar Rasikani. Beliau hijrah ke Nishabur dan belajar
kepada Al haromain. Dari sinilah mulai terlihat ketajaman otaknya yang luar biasa
dan menguasai beberapa ilmu seperti mantiq (logika), falsafah dan fiqh madzhab
Syafi’i. Karena kecerdasannya itulah imam Al Haromain mengatakan bahwa Al-
Ghazali itu adalah “Lautan Tak Bertepi . . . “
Karya-karya Al-Ghazali meliputi berbagai macam ilmu pengetahuan
seperti ilmu kalam (theologi islam), fiqh (hukum islam), akhlak tasawuf dan
masih banyak lagi. Diantara karyanya terdapat beberapa kitab yang terkenal
seperti Ihya Ulumuddin (menghidupkan ilmu-ilmu agama) yang dikarangnya
beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Syam, Yerusalem, Hijaj
dan Yus, yang berisi paduan indah antara fiqh, tasawuf dan filsafat, bukan saja
terkenal dikalangan muslim tapi juga dikalangan dunia barat dan luar islam.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Asmoro. 2007. Pengantar Ilmu dan Sejarah Filsafat. Jakarta: PT.
Rineka Cipta. Hal.63.
Adib, Muhammad. 2011. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suterdjo A. Wiramihardja Pengantar Filsafat, Bandung: Refika Aditama, 2007.
Suhartono, Suparlan.2008. pengantar ilmu filsafat. Makassar: badan penerbit
universitas negeri makassar.