Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PORTOFOLIO

DIARE CAIR AKUT DENGAN DEHIDRASI BERAT

Disusun Oleh
dr. Wiwit Rahayu

Pembimbing
dr. Anggi Cristian
dr. Syska Martala Dewi
dr. Esther Meylina Sipahutar

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LEBONG


KABUPATEN LEBONG
BENGKULU
2017
LEMBAR PENGESAHAN

DIARE CAIR AKUT DENGAN DEHIDRASI

LAPORAN KASUS

Diajukan dalam Rangka memenuhi tugas dalam program Internsip


Pada periode Februari 2017 – Februari 2018

Disusun oleh:
dr. Wiwit Rahayu

Dipresentasikan pada 23 September 2017

Pembimbing I Pembimbing II Pembimbing III

dr. Anggi Christian dr. Syska Martala Dewi dr. Esther Meylina Sipahutar
STATUS PASIEN

I. Identitas Pasien
• MR No. :-
• Nama : An. G
• Umur : 3 Bulan
• Jenis kelamin : Perempuan
• Agama : Islam
• Alamat : Bungin

II. Identitas Orang Tua


Ayah Ibu
Nama Tn. A Ny. F
Umur 28 thn 24 thn
Pekerjaan Wiraswasta Ibu rumah tangga
Agama Islam Islam
Perkawinan 1 1
Hubungan dengan orang tua : anak kandung

III. Anamnesa

Keluhan Utama :
Mencret

Keluhan tambahan :
Muntah dan demam
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dibawa oleh orang tuanya ke UGD RSUD Bekasi dengan
keluhan mencret sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Mencret kurang
lebih 10 kali/hari. Mencret cair menyemprot, tidak ada ampas dan berwarna
kuning. Mencretnya ada sedikit bercampur dengan lendir tetapi darah
disangkal. Bau tinjanya seperti biasa tidak berbau asam maupun berbau
busuk.
± 10 jam sebelum masuk rumah sakit pasien muntah sebanyak ± 1x berisi
makanan yang dimakan sebanyak ± setengah gelas aqua. Muntahannya tidak
menyemprot. Selain itu juga pasien ada demam yang timbul tiba-tiba dan
terus menerus. Demamnya tidak terlalu tinggi, tidak menggigil dan tidak
sampai membuat pasien kejang. Buang air kecil masih ada waktu terakhir
pasien mencret.
Pada awalnya anak rewel dan terus menangis disertai tambah sering menetek
(seperti kehausan) namun lama kelamaan anak mulai malas untuk menetek
dan tampak mengantuk. Orang tua pasien belum mengobati keluhan –
keluhannya ini tetapi langsung membawa ke RS.

Riwayat Penyakit Dahulu


Sebelumnya pasien belum pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.
Tapi pasien pernah dirawat di RS karena kuning pada saat pasien berumur 2
hari

Riwayat Penyakit Keluarga


Keluarga pasien tidak ada yang sakit seperti ini. Selain itu keluarga pasien
tidak ada yang memiliki riwayat penyakit alergi, asma, TB paru, hipertensi
dan DM.
Riwayat Kehamilan :
Ibu pasien memeriksakan kehamilannya kebidan. Sakit selama hamil (-),
demam (-), kuning (-), keputihan (-), perut tegang (-), BAK sakit dan anyang-
anyangan (-), kencing manis (-), dan darah tinggi (-).

Riwayat Kelahiran :
Cara lahir : spontan
Tempat lahir : rumah bersalin
Ditolong oleh : bidan
Masa gestasi : cukup bulan
Berat lahir : 3100 gram
Panjang lahir : 49 cm
Lahir normal, langsung nangis, sianosis (-), kejang (-)

Kelainan bawaan :
(-)

Riwayat imunisasi :
Ibu pasien mengaku rutin membawa anaknya untuk imunisasi sesuai jadwal.
Vaksin Umur
0 bulan 1 bulan 2 bulan 4 bulan 6 bulan 9 bulan 18 bulan
BCG √
DPT √
Polio √ √
Campak
Hepatitis B √ √

Riwayat tumbuh kembang:


• Gangguan perkembangan mental : Tidak ada
• Psikomotor :
* Usia 3 bulan sudah bisa mengangkat kepala

Riwayat Pemberian ASI :


 ASI sejak lahir sampai sekarang
Frekuensi 6-8 kali perhari

IV. Pemeriksaan Fisik


 Keadaan umum : Tampak lemah, malas menetek
 Kesadaran : Letargis
 Frekwensi Nadi : 148 x/menit (reguler,kuat angkat)
 Frekwensi Pernafasan : 40 x/menit (reguler)

 Suhu tubuh : 41,1 °C

 Data Antropoemetri
√ Berat Badan : 5 kg
√ Panjang Badan : 55 cm
Kesan : status gizi normal
 Kepala
• Kepala : bulat, normocephli, Ubun-ubun cekung (+)
• Rambut : Hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut
• Mata : cekung (+), konjungtiva tidak pucat, sklera tidak
ikterik
, pupil isokor, simetris,
refleks cahaya +/+, air mata (-)
• Telinga : Normotia,liang telinga lapang/lapang, serumen -/-,
sekret -/-
• Hidung : Lapang, sekret -/-, deviasi septum (-),
pernafasan cuping hidung (-)
• Bibir : Mukosa bibir kering, sianosis (-)
• Gigi geligi : tidak ada kelainan
• Lidah : tidak hiperemis
• Tonsil : T1 – T1, tenang : tenang, tidak hiperemis
• Faring : tidak hiperemis
• Leher : Kelenjar Getah bening tidak teraba membesar

Toraks
• Inspeksi : Pergerakan dinding dada kiri dan kanan simetris
Retraksi (-)
• Palpasi : Vokal fremitus kiri dan kanan sama
• Perkusi : Perkusi perbandingan kiri dan kanan sama sonor
• Auskultasi : Bising napas dasar vesikuler
Ronki -/-, Wheezing -/-
Bunyi Jantung I dan II normal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
• Inspeksi : Perut tampak datar
• Auskultasi : Bising usus meningkat
• Palpasi : supel, nyeri tekan (-), undulasi (-), turgor kembali
lambat
• Perkusi : Timpani, nyeri ketok (-), pekak alih (-)

Kulit : ikterik (-), petechie (-)


Ekstremitas : akral dingin

V. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan.

VI. Resume
Pasien datang dibawa oleh orang tuanya dengan keluhan mencret sejak 1 hari
sebelum masuk rumah sakit. Mencret kurang lebih 10 kali/hari. Mencret cair
menyemprot, ampas (-) dan berwarna kuning. Mencretnya ada sedikit bercampur
dengan lendir tetapi darah disangkal. Bau tinjanya seperti biasa tidak berbau asam
maupun berbau busuk. ± 10 jam sebelum masuk rumah sakit pasien muntah
sebanyak ± 1x berisi makanan yang dimakan sebanyak ± setengah gelas aqua.
Muntahannya tidak menyemprot. Selain itu juga pasien ada demam yang timbul
tiba-tiba dan terus menerus. Demamnya tidak terlalu tinggi, tidak menggigil dan
tidak sampai membuat pasien kejang.. Orang tua pasien belum mengobati keluhan
– keluhannya ini.

VII. Diagnosa Kerja


Diare akut dengan dehidrasi Berat

VIII. Diagnosa Banding


• Diare akut dehidrasi Berat ec bakteri
• Diare akut dehidrasi Berat ec virus
• Diare akut dehidrasi Berat ec parasit

IX. Penatalaksanaan
- Rawat inap
• Rehidrasi via NGT 20 cc/kg/jam (selama 6 jam)100 cc oralit
• Infus RL@30cc/kgBB dalam 1 jam (150 x 60) /60= 150 tetes/menit
• Dilanjutkan Infus RL 70cc/kgbb dalam 5 jam (350 x 60)/300 = 70
tetes/menit
• Dilanjutkan Infus RL (500 cc/ 24 jam= 20 tetes/menit
• Parasetamol inf 50 mg jika suhu >40 °C
• Paracetamol drop 4x60 mg (0,6 cc)
• Zinc 1 x 10 mg
• L-Bio 2x1
• Oralit 50 cc tiap mencret
• ASI lanjutkan
Edukasi kepada orang tua
Observasi TTV dan tanda-tanda dehidrasi berat

X. Pemeriksaan Anjuran
 Pemeriksaan darah dan elektrolit
 Kultur tinja

XI. Follow Up
Tanggal Perjalanan penyakit Terapi

14/09/17 S : Demam (+), minum mau, BAB • IVFD RL 500 cc/24


20.00 wib (+) 3x cair (sudah ada ampas) jam 20 tpm
R. Anak O :KU: TSS, CM • (micro)
TTV: RR: 30x/mnt N: 138x/mnt • Parasetamol inf 50
S: 39,6oC BB: 5 kg mgjika suhu > 40 °
Mata: palpelbra cekung (-) C
Mulut: mukosa bibir kering (-) • Paracetamol drop 4x
Lain-lain dbn 60 mg (0,6 cc)
A : Diare Akut tanpa dehidrasi • Zinc syrup 1 x 10 mg
• L-Bio 2x1
• Oralit 50 cc tiap kali
mencret
ASI lanjutkan
15/09/17 S : Demam (+), BAB cair (-), anak R/ infus hematom aff infus
07.00 wib rewel Terapi lain lanjut
R. Anak O :KU: TSS, CM, rewel
TTV: RR: 28x/mnt N: 130x/mnt
S: 37,9C BB: 5 kg
Mata: palpelbra cekung (-)
Mulut: mukosa bibir kering (-)
Lain-lain dbn
A : Diare Akut tanpa dehidrasi

16/09/17 S : Demam (-), minum mau, BAB Zink 1x10 mg (selama 10


cair(-) hari)
O :KU: TSS, CM Oralit 50 cc jika mencret
TTV: RR: 24x/mnt N: 130x/mnt Paracetamol drop 4x60 mg
S: 36,5oC BB: 5 kg (0,6 cc) jika demam
Mata: palpelbra cekung (-)
Mulut: mukosa bibir kering (-)
Lain-lain dbn
A : Diare Akut tanpa dehidrasi

XII. Prognosis

 Ad Vitam :ad bonam


 Ad Fungsionam :ad bonam
Ad Sanationam : ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair
atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari
biasanya, lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam. Menurut WHO (1980),
diare adalah buang air besar encer lebih dari 3x sehari baik disertai lendir dan
darah maupun tidak.1

Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali
per hari, disertai dengan perubahan konsitensi tinja menjadi cair dengan atau
tanpa lender dan darah yang berlangsung kurang dari satu minggu.1

B. Epidemologi
Di Indonesia dilaporkan bahwa setiap anak mengalami diare sebanyak
1-2 episode per tahun (Depkes, 2003).Berdasarkan survei demografi
kesehatan Indonesia tahun 2002-2003, prevalensi diare pada anak –
anak dengan usia kurang dari 5 tahun di Indonesia adalah : laki-laki 10,8%
dan perempuan 11,2%. Berdasarkan umur, prevalensi tertinggi terjadi pada
usia 6-11 bulan (19,4%), 12-23 bulan (14,8) dan 24-35 bulan (12,0) (Biro
pusat statistik,2003).

C. Cara Penularan dan Faktor Resiko


Cara penularan diare umumnya melalui cara fekal – oral yaitu melalui
makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak
langsung tangan dengan penderita atau barabg – barang yang telah tercemar
tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat. ( melalui 4 F = finger, flies,
fluid, field ).
Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antra
lain : tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4 – 6 bulan pertama
kehidupan bayi, tidak memadainya penyediaan air bersih, pencemaran air oleh
tinja, kurangnya sarana keberihan ( MCK ), kebersihan lingkungan dan
pribadi yang buruk, penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis
dan cara penyapihan yang tidak baik. Selain hal- hal tersebut, beberapa factor
pada penderita dapat meningkatkan kecenderungan untuk terjangkit diare
antara lain : gizi buruk, imunodefisiensi, berkurangnya keasaman lambu ng,
menurunnya motilitas usus, menderita campak dalam 4 minggu terakhir dan
factor genetic.
1. Faktor umur
Sebagian besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan.
Insideen tetinggi terjadi pada kelompok umur 6 – 11 bulan pada saat
diberikan makanan pendamping ASI. Pola ini menggambarakan kombinasi
efek penurunan kadar antibodi ibu, kurangnya kekebalan aktif bayi,
pengenalan makanan yang mungkin terkontaminasi bakteri tinja dan kontak
langsung dengan tinja manusia atau binatang pada saat bayi mulai
merangkak. Kebanyakan enteropatogen merangsang paling tidak sebagian
kekebalan melawan infeksi atau penyakit yang berulang, yang membantu
menjelaskan menurunnya insiden penyakit pada anak yang lebih besar dan
pada orang dewasa.
2. Infeksi asimtomatik
Sebagian besar infeksi usus bersifat asimtomatik dan proporsi asimtomatik
ini meningkat setelah umur 2 tahun dikarenakan pembentukan imunisasi
aktif. Pada infeksi asimtomatik yang mungkin berlangsung pada beberapa
hari atau minggu, tinja penderita mengandung virus, bakteri atau kista
protozoa yang infeksius. Orang dengan infeksi asimtomatik berparan
penting dalam peyebaran banyak enteropaogen terutama bila mereka tidak
menyadari adanya infeksi, tidak menjaga kebersihan, dan berpindah –
pindah dari satu tempat ke tempat lain.
3. Faktor musim
Variasi pola musiman diare dapat terjadi menurut letak geografis. Di
daerah sub tropik diare karena bakteri lebih sering terjadi pada musim
panas, sedangkan diare karena virus terutama rotavirus puncaknya terjadi
pada musim dingin. Di daerah tropik ( termasuk Indonesia ), diare yang
disebabkan oleh rotavirus dapat terjadi sepanjang tahun dengan peningkatn
sepanjang musim kemarau, sedangkan diare karena bakteri cenderung
meningkat pada musim hujan.
4. Epidemi dan pandemic
Vibrio cholera 0.1 dan Shigella dysentriae 1 dapat menyababkan epidemic
dan pandemic yang mengakibatkan tingginya angka kesakitan dan
kematian pada semua golongan usia. Sejak tahun 1961, kolera yang
disebabkan vibrio cholera 0.1 biotipe Eltor telah menyebar ke Negara –
Negara di Afrika, Amerika latin, Asia, Timur Tengah, dan di beberapa
daerah di amerika Utara dan Eropa. Dalam kurun waktu yang sama
Shigella dysentriae tipe 1 menjadi penyebab wabah yang besar di Amerika
Tengah dan terakhir di Afrika tengah dan Asia Selatan. Pada akhir tahun
1992, dikenal strain baru Vibrio cholera 0139 yang menyababkan
pandemic di Asia dan lebih dari 1 negara mengalami wabah.
D. Etiologi
Penyebab infeksi utama timbulnya diare umumnya adalah golongan
virus, bakteri dan parasit. Dua tipe dasar dari diare akut karena infeksi adalah
non inflammatory dan inflammatory.
Disamping itu penyebab diare nonifeksi yang dapat menimbulkan daire pada anak
antara lain:
Kesulitan makanan Neoplasma
 Neuroblastoma
 Phaeochromocytoma
 Sindroma Zollinger Ellison
Defek anatomis Lain-lain:
 Malrotasi  Infeksi non gastrointestinal
 Penyakit Hirchsprung  Alergi susu sapi
 Short Bowel Syndrome  Penyakit Crohn
 Atrofi mikrovilli  Defisiensi imun
 Stricture  Colitis ulserosa
 Ganguan motilitas usus
 Pellagra
Malabsorbsi Keracunan makanan
 Defesiensi disakaridase  logam berat
 Malabsorbsi glukosa dan  Mushrooms
galaktosa
 Cystic fibrosis
 Cholestosis
 Penyakit celiac
Endokrinopati
 Thyrotoksikosis
 Penyakit Addison
 Sindroma Androgenital
Tabel 4. Penyebab diare nonifeksi pada anak

E. Patofisiologi

Ada 2 prinsip meaknisme terjadinya diare cair, yaitu sekeretorik dan


osmotik. Meskipun dapat melalui kedua mekanisme tersebut, diare sekretorik
lebih sering ditemukan pada infeksi saluran cerna. begitu pula kedua
mekanisme tersebut dapat terjadi bersamaan pada satu anak.1,8
1. Diare osmotik

Mukosa usus halus adalah epitel berpori, yang dapat dilalui oleh air
dan elektrolit dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara
lumen usus dengan cairan ekstrasel. Adanya bahan yang tidak diserap,
menyebabkan bahan intraluminal pada usus halus bagian proksimal
tersebut bersifat hipertoni dan menyebabkan hiperosmolaritas. Akibat
perbedaan tekanan osmose antara lumen usus dan darah maka pada segmen
usus jejunum yang bersifat permeable, air akan mengalir kea rah jejunum,
sehingga akan banyak terkumpul air dalam lumen usus. Na akan mengikuti
masuk ke dalam lumen, dengan demikian akan terkumpul cairan
intraluminal yang besar dengan kadar Na normal. Sebagian kecil cairan ini
akan dibawa kembali, akan tetapi lainya akan tetap tinggal di lumen oleh
karena ada bahan yang tidak dapat diserap seperti Mg, glukosa, sucrose,
lactose, maltose di segmen ileum dan melebihi kemampuan absorbs kolon,
sehinga terjadi diare. Bahan-bahan seperti karbohidrat dan jus buah, atau
bahan yang mengandung sorbitol dalam jumlah berlabihan akan
memberikan dampak yang sama.1
2. Diare Sekretorik
Diare sektorik disebabkan oleh sekresi air dan elektrolit ke dalam usus
halus yang terjadi akibat gangguan absorbs natrium oleh vilus saluran
cerna, sedangkan sekresi klorida tetap berlangsung atau meningkat.
Keadaan ini menyebabkan air dan elektrolit keluar dari tubuh sebagai tinja
cair. Diare sekretorik ditemukan diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri
akbat rangsangan pada mukosa usus halus oleh toksin E.coli atau V.
cholera.01.7

Osmolaritas tinja diare sekretorik isoosmolar terhadap plasma. beda


osmotik dapat dihitung dengan mengukur kadar elektrolit tinja. Karena
Natrium ( Na+) dan kalium (K+) merupakan kation utama dalam tinja,
osmolalitas diperkirakan dengan mengalikan jumlah kadar Na + dan K+
dalam tinja dengan angka 2. Jika diasumsikan osmolalitas tinja konstan 290
mOsm/L pada tinja diare, maka perbedaan osmotic 290-2 (Na++K+). Pada
diare osmotik, tinja mempunyai kadar Na+ rendah (<50 mEq/L)dan beda
osmotiknya bertambah besar (>160 mOsm/L). Pada diare sekretorik tinja
diare mempunyai kadar Na tinggi (>90 mEq/L), dan perbedaan osmotiknua
kuran dari 20 mOsm/L.6
Osmotik Sekretorik
Volume tinja <200 ml/hari >200 ml/hari
Puasa Diare berhenti Diare berlanjut
Na+ tinja <70 mEq/L >70 mEq/L
Reduksi (+) (-)
pH tinja <5 >6
Dikenal bahan-bahan yang menstimulasi sekresi lumen yaitu
enterotoksin bakteri dan bahan kimia yang dapat menstimulasi seperti
laksansia, garam empedu bentuk dihidroxy, serta asam lemak rantai
panjang. Toksin penyebab diare ini terutama bekerja dengan cara
meningkatkan konsentrasi intrasel cAMP, cGMP, atau Ca++ yang
selanjutnya akan mengaktifasi protein kinasi. Pengaktifan protein
kinase akan menyebabkan fosforilase membrane protein sehingga
megakibatkan perubahan saluran ion, akan menyebabkan Cl- di kripta
keluar. Disisi lain terjadi peningkatan pompa natrium , dan natrium
masuk ke dalam lumen usus bersama Cl-.1
3. Diare dapat juga dikaitkan dengan gangguan motilitas.
Meskipun motilitas jarang menjadi penyebab utama malabsorbsi,
teatpi perubahan motilitas mempunyai pengaruh terhadap absorbs. Baik
peningkatan ataupun penurunan motilitas keduanya dapat menyebabkan
diare. Penurunan motilitas dapat mengakibatkan bakteri tumbuh lampau
yang menyebabkan diare. Perlambatan transit obat-obatan atau nutrisi akan
meningkatkan absorbsi, Kegagalan motilitas usus yang berat menyebabkan
statis intestinal bearkibat inflamasi, dekonjugasi garam empedu dan
malabsorbsi. Diare akibat hiperperistaltik pada anak jarang terjadi. Watery
diare dapat disebabkan karena hipermotilitas pada kasus kolon irritable
pada bayi. Gangguan motilitas mungkin merupakan penyebab diare pada
Thyrotoksikosis, malabsorbsi asam empedu, dan berbagai peyakit lain.1
4. Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebakan diare pada beberapa
keadaan.
Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction, tekanan
hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik menyebabkan air,
elektrolit, mucus, protein dan seringkali sel darah merah dan sel darah
putih menumpuk dalam lumen. Biasanya diare akibat inflamasi ini
berhubungan dengan tipe diare laina seprti diare osmotik dan
sekretorik.1,9
F. Manifestasi klinis

Infeksi usus menimbulkan tanda dan gejala gastrointestinal serta gejala


lainya bila terjadi komplikasi ekstraintestinal termasuk manifestasi neurologic.
Gejala gastrointestinal bias berupa diare, kram perut, dan munth. Sedangkan
manifestasi sistemik bervariasi tergantung pada penyebabnya.1
Rotavirus Shigella Salmonella ETEC EIEC Kolera
Gejala klinis :
Masa Tunas 17-72 jam 24-48 jam 6-72 jam 6-72 jam 6-72 jam 48-72 jam
Panas + ++ ++ - ++ -
Mual, muntah Sering Jarang Sering + - Sering
Nyeri perut Tenesmus Tenesmus, kramp Tenesmus,kolik - Tenesmus, kramp Kramp
Nyeri kepala - + + - - -
lamanya sakit 5-7 hari >7hari 3-7 hari 2-3 hari variasi 3 hari

Sifat tinja:
Volume Sedang Sedikit Sedikit Banyak Sedikit Banyak
Frekuensi 5-10x/hari >10x/hari Sering Sering Sering Terus menerus
Konsistensi Cair Lembek Lembek Cair Lembek Cair
Darah - + Kadang - + -
Bau Langu - Busuk - - Amis khas
Warna Kuning Merah-hijau Kehijauan Tak berwarna Merah-hijau Seperti air
Leukosit hijau + + - - cucuian beras
Lain-lain - Kejang+ Sepsis + Meteorismus Infeksi sistemik+ -
anorexia -

Tabel 5. Gejala klinis diare akut oleh berbagai penyebab


G. Diagnosis

1. Anamnesis

Pada anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut : lama diare,


frekuensi, volume, konsistensi tinja, warna, bau, ada/tidak lendir dan darah.
Bila disertai muntah volume dan frekuensinya. Kencing: biasa, berkurang,
jarang atau tidak kencing dalam 6-8jam terakhir. Makanan dan minuman
yang diberikan selama diare. Adakahh panas atau penyakit lain yang
menyertai seperti: batuk, pilek, otitis media, campak. Tindakan yang telah
dilakukan ibu selama anak diare: member oralit, memabwa berobat ke
puskesmas atau ke rumah sakit dan obat-obatan yang diberikan serta
riwayat imunisasinya.1

2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa : berat badan, suhu tubuh,
frekuensi denyut jantung dan pernapasan serta tekanan darah. Selanjutnya
perlu dicari tanda-tanda tambahan lainya:ubun-ubun besar cekung atau
tidak, mata: cowong atau tidak, ada atau tidak adanya air mata, bibir,
mukosa mulut dan lidah kering atau basah.1
Pernpasan yang cepat dan dalam indikasi adanya asiodosis metabolic.
Bising usus yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemia.
Pemeriksaan ekstremitas perlu karena perfusi dan capillary refill dapat
menentukan derjat dehidrasi yang terjadi. Penilaian beratnya atau derajat
dehidrasi dapat ditentukan dengan cara: objektif yaitu dengan
membandingkan berat badan sebelum dan sesudah diare. Subjektif dengan
menggunakan criteria WHO dan MMWR.1

Symptom Minimal atau tanpa Dehidrasi ringan sedang, Dehidrasi berat, kehilangan
dehidrasi, kehilangan kehilangan BB 3%-9% BB>9%
BB<3%
Kesadaran Baik Normal, lelah, gelisah, Apatis, letargi, idak sadar
irritable
Denyut jantung Normal Normal meningkat Takikardi, bradikardi, (kasus
berat)
Kualitas nadi Normal Normal melemah Lemah, kecil tidak teraba
Pernapasan Normal Normal-cepat Dalam
Mata Normal Sedikit cowong Sangat cowong
Air mata Ada Berkurang Tidak ada
Mulut dan lidah Basah Kering Sangat kering
Cubitan kulit Segera kembali Kembali<2 detik Kembali>2detik
Cappilary refill Normal Memanjang Memanjang, minimal
Ekstremitas Hangat Dingin Dingin,mottled, sianotik
Kencing Normal Berkurang Minimal

Tabel.6 Penentuan derajat dehidrasi menurut MMWR 2003


Skor Dehidrasi WHO
1 2 3
Keadaan
Baik Lesu / haus Gelisah, lemas, ngantuk
umum
Mata Tidak cekung Agak cekung Sangat cekung
Mulut Biasa Kering Sangat kering
Pernapasan <30x / menit 30-40x / menit >40x / menit
Turgor Baik Kurang Jelek
120-140x /
Nadi < 120x / menit >140x / menit
menit
Penilaian :
<6 : Tidak dehidrasi
7-12 : Dehidrasi ringan sampai sedang
>13 : Dehidrasi berat
Menurut tonisistas darah, dehidrasi dapat dibagi menjadi:3
 dehidrasu isotonic, bila kadar Na+ dalam plasma antara 131-150 mEq/L

 dehidrasi hipotonik, bila kadar Na+<131 mEq/L

 dehidrasi hipertonik, bila kadar Na+>150 mEq/L

Gejala Hipotonik Isotonik Hipertonik


Rasa haus - + +
Berat badan Menurun sekali Menurun Menurun
Turgor kulit Menurun sekali Menurun Tidak jelas
Kulit/ selaput lender Basah Kering Kering sekali
Gejala SSP Apatis Koma Irritable, apatis, hiperfleksi
Sirkulasi Jelek sekali Jelek Relatif masih baik
Nadi Sangat lemah Cepat dan lemah Cepat, dan keras
Tekanan darah Sangat rendah Rendah Rendah
Banyaknya kasus 20-30% 70% 10-20%

Tabel 8. Gejala dehidrasi menurut tonisitas


3. Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut pada umumnya


tidak diperkukan, hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan
misalnya penyebab dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain
selain diare akut atau pada penderita dengan dehidrasi berat. Contoh:
pemeriksaan darah lengkap, kultur urine dan tinja pada sepsis atau infeksi
saluran kemih. Pemeriksaan laboratorium yang kadang-kadang diperlukan
pada diare akut:1

 darah : darah lengkap, serum elketrolit, analisa gas darah, glukosa darah,
kultur dan tes kepekaan terhadap antibiotika

 urine: urine lengkap, kultur dan test kepekaan terhadap antibiotika

 tinja:

a. Pemeriksaan makroskopik

Pemeriksaan makroskopik tinja perlu dilakukan pada semua


penderita dengan diare meskipun pemeriksaan labotarium tidak
dilakukan. Tinja yang watery dan tanpa mucus atau darah biasanya
disebabkan oleh enteroksin virus, prontozoa, atau disebabkan oleh
infeksi diluar saluran gastrointestinal. Tinja yanga mengandung darah
atau mucus bias disebabkan infeksi bakteri yang menghasilkan
sitotoksin bakteri enteronvasif yang menyebabkan peradangan
mukosa atau parasit usus seperti : E. hystolitica, B.coli , T.trichiura.
Apabila terdapat darah biasanya bercampur dalam tinja kecuali pada
infeksi dengan E.hystolitica darah sering terdapat pada permukaan
tinja dan pada infeksi dengan Salmonella, Giardia, Cryptosporidium
dan Strongyloides.

Pemeriksaan makroskopik mencakup warna tinja, konsistesi tinja,


bau tinja, adanya lendir, adanya darah, adanya busa. Warna tinja
tidak terlalu banyak berkolerasi dengan penyebab diare. Warna hijau
tua berhubungan dengan adnya warna empedu akibat garam empedu
yang dikonjugasi oleh bakteri anaerob pada keadaan bacterial
overgrowth. Warna merah akibat adanya darah dalam tinja atau obat
yang dapat menyebabkan warna merah dalam tinja seperti
rifampisin. Konsistensi tinja dapat cair, lembek, padat. Tinja yag
berbusa menunjukan adanya gas dalam tinja kaibat fermentasi
bakteri. Tinja yang berminyak, lengket, dan berkilat menunjukan
adanya lemak dalam tinja. Lendir dalam tinja menggambarkan
kelainan di kolon , khususnya akibat infeksi bakteri. Tinja yang
sangatberbau menggambarkan adanya fermentasi oleh bakteri
anaerob dikolon. Pemeriksaan pH tinja menggunakan kertas lakmus
dapat dilakukan untuk menentukan adanya asam dalam tinja. Asam
dalam tinja tersebut adalah asam lemak rantai pendek yang dihasilkan
karena fermentasi laktosa yang tidak diserap di usus halus sehingga
masuk ke usus besar yang banyak mengandung bakteri komensial.
Bila pH tinja<6 dapat dainggap sebagai malabsorbsi laktosa.8

Pada diare akut sering terjadi defisiensi enzim lactose sekunder


akibat rusaknya mikrofili mukosa usus halus yang banyak
mengandung enzim lactase. Enzim laktsae merupakan enzim yang
bekerja memecahkan laktosa menjadi glukosa dan galaktosa, yangs
elanjutnya diserap di mukosa usus halus, Salah satu cara menentukan
malabsorbsi laktosa adalah pemeriksaan clinitest dikombinasi
dengan pemeriksaan pH tinja. Pemeriksaan clinitest dilakukan
dengan prinsip melihat perubahan reaksi warna yang terjadi antara
tinja yang diperiksa dengan tablet clinitest. Prinsipnya adalah
terdapatnya reduktor dalam tinja yang mengubah cupri sulfat menjadi
cupri oksida. Pemeriksaan dilakukan dengan cara mengambil bagian
cair dari tinja segar (sebaiknya tidak lebih dari 1 jam). Sepuluh tetes
air dan 5 tetes bagian cair dari tinja diteteskan kedalam gelas tabung,
kemudian ditambah 1 tablet clinitest. Setelah 60 detik maka
perubahan warna yang terjadi dicocokan dengan warna standart. Biru
berarti negative, kuning tua berarti positif kuat (++++=2%), antara
kuning dan biru terdapat variasi warna hijau kekuningan (+=1/2%),
(++=3/4%), (+++=1%). Sedangkan terdapatnya lemak dalam tinja
lebih dari 5 gram sehari disebut sebagai steatore.8

b. Pemeriksaan mikroskopik

Infeksi bakteri invasive ditandai dengan ditemukannya sejumlah


besar leukosit dalam tinja yang menunjukan adanya proses inflamasi.
Pemeriksaan leukosit tinja dengan cara mengambil bagian tinja yang
berlendir seujung lidi dan diberi ½ tetes eosin atau Nacl lalu dilihat
dengan mikroskop cahaya:5

Adanya lemak dapat diperiksa dengan cara perwanaan tinja dengan


sudan III yang mengandung alcohol untuk mengeluarkan lemak agar
dapat diwarnai secara mikroskopis dengan pembesarn 40 kali dicari
butiran lemak dengan warna kuning atau jingga. Penilaian
berdasarkan 3 kriteria:8

Pemeriksaan parasit paling baik dilakukan pada tinja segar. Dengan


memakai batang lidi atau tusuk gigi, ambilah sedikit tinja dan
emulsikan delam tetesan NaCl fisiologis, demikian juga dilakukan
dengan larutan Yodium. Pengambilan tinja cukup sedikit saja agar
kaca penutup tidak mengapung tetapi menutupi sediaan sehingga
tidak terdapat gelembung udara. Periksalah dahulu sediaan tak
berwarna (NaCL fisiologis), karena telur cacing dan bentuk trofozoid
dan protozoa akan lebih mudah dilihat. Bentuk kista lebih mudah
dilihat dengan perwanaan yodium. Pemeriksaan dimulai dengan
pembesaran objekstif 10x, lalu 40x untuk menentukan spesiesnya.

H. Tata laksana

Terdapat lima pilar penting dalam tatalaksana diare yaitu rehidrasi,


dukungan nutrisi, pemberian zinc, antibiotik dan edukasi pada orang tua.
Tujuan pengobatan:8
 Mencegah dehidrasi

 Mengatasi dehidrasi yang telah ada

 Antibiotik selektif

 Mencegah kekurangan nutrisi dengan memberikan makanan selama dan


setelah diare

 Mengurangi lama dan beratnya diare, serta berulangnya episode diare,


dengan memberikan suplemen zinc

 Edukasi

Tujuan pengobatan diatas dapat dicapai dengan cara mengikuti rencana


terapi yang sesuai, seperti yang tertera dibawah ini:10

1. Pengobatan Diare tanpa dehidrasi


TRO ( Terapi Rehidrasi Oral )
Penderita diare tanpa dehidrasi harus segera diberi cairan rumah
tangga untuk mencegah dehidrasi seperti larutan gula garam, kuah sayr-
sayuran dan sebagainya. Pengobatan dapat dilakukan di rumah oleh
keluarga penderita. Jumlah cairan yang diberikan adalah 10 ml/kgBB
atau untuk anak usia <1 tahun 50-100 ml, 1-5 tahun dalah 100-200 ml,
5-12 tahun adalah 200-300 ml dan dewasa adalah 300-400 ml setiap
BAB.
Untuk anak dibawah umur 2 tahun cairan harus diberikan dengan
sendok setiap 1-2 menit. Anak yang lebih besar dapat minum langsung
dengan gelas dengan tegukan yang sering. Bila terjadi muntah hentikan
dulu selama 10 menit kemudian mulai lagi perlahan – lahan misalnya 1
sendok setia 2-3 menit. Pemberian cairan dilanjutka sampai diare
berhenti. Selain cairan rumah tangga ASI dan makanan yang biasa tetap
harus diberikan. Makanan diberikan sedikit-sedikit tapi sering ( lebih
kurang 6 kali sehari ) serta rendah serat.
2. Pengobatan Diare dehidrasi Ringan-sedang
TRO ( Terapi Rehidrasi Oral )
Penderita diare degan dehidrasi ringan-sedang harus dirawat di
sarana kesehatan dan segera diberikan terapi rehidrasi oral dengan oralit.
Jumlah oralit yang diberikan 3 jam pertama 75 cc/kgBB.
Apabila oleh karena satu hal pemberian oralit tidak dapat
diberikan per oral, oralit dapat diberikan nelalui nsogasterik deng an
volume yang sama dengan kecepatan 20ml/kgBB/jam. Setelah 3 jam
keadaan penderita dievaluasi, apakah membaik, tetap atau memburuk.
Bila keadaan membaikdan dehidrasi teratasi pengobatan dapat
dilanjutkan di rumah dengan memberikan oralit dan makanan dengan
cara seperti pada pengobatan diare tanpa dehidrasi.
3. Pengobatan diare dehidrasi berat
TRP ( Terap Rehidrasi Parenteral )
Pasien yang masih dapat minum meskipun sedikit harus diberi
oralit sampai cairan infus terpasang. Selain itu semua anak harus diberi
oralit selama pemberian cairan intravena ( 5 ml/kgBB/jam), apbila anak
dapat minum dengan baik biasanya dalam 3-4 jam ( untuk bayi ) atau 1-
2 jam (untuk anak yang lebih besar ). Untuk rehidrasi parenteral
digunakan cairan Ringer Laktat dengan dosis 100ml/kgBB. Cara
pemberiannya untuk <1tahun 1 jam pertama 30cc/kgBB, dilanjutkan 5
jam berikutnya 70 cc/kgBB. Di atas 1 tahun ½ jam pertama 30cc/kgBB
dilanjutkan 2 ½ jam berikutnya 70 cc/kgBB.
Lakukan evaluasi tiap jam. Bila hidrasi tidak membaik, tetesan
IV dapat dipercepat. Setelah 6 jam pada bayi atau 3 jam pada anak lebih
besar, lakukan evaluasi, pilih pengobatan selanjutnya yaitu : pengobatan
diare dengan dehidrasi ringan-sedang atau pengobatan diare tanpa
dehidrasi
4. Seng ( Zinc )
Seng merupakan mikronutrien komponen berbagai enzim dalam
tubuh yang penting antara lain untuk sinreis DNA. Sejak tahun 2004,
WHO dan UNICEF telah merekomendasikan penggunaan seng pada
anak dengan diare dengan dosis 20 mg per hari selama 10-14 hari, dan
pada bayi<6 bulan dengan dosis 10 mg per hari selama 10-14 hari
5. Pemberian makanan selama dan setelah diare
Pemberian makanan harus diteruskan selama diare dan
ditingkatkan setelah sembuh. Tujuannya adalah memberikan makanan
kaya nutrien sebanyak anak mampu menerima. Meneruskan pemberian
makanan aan mempercepat kembalinya fungsi usus yang normal
termasuk kemampuan menerima dan mengabsorbsi berbagai nutrien,
sehingga memburuknya status gizi dapat dicegah atau paling tidak
dikurangi. Bayi yang minum ASI harus diteruskan sesering mungkin
dan selama anak mau. Bayi yang tidak mium ASI harus diberi susu yang
biasa diminum paling tidak setiap 3 jam.
Bila anak umur 4 bulan atau lebih dan sudah mendapatkan
makanan lunak atau padat, makanan ini harus diteruskan. Diberikan
dalam porsi kecil atau sering ( 6 kali ataulebih ).
6. Terapi Medikamentosa
a. Antibiotika
Antibiotika pada umumnya tidak diperlukan pada semua diare
akut oleh karen sebagian besra diare infeksi adalah rotavirus yang
sifatnya self limited dan tidak dapat dibunuh dengan antibiotika.
Antibiotika pilihan pada diare antara lain erythromycin 12,5
mg/kgBB 4x sehari selama 3 hari, ciprofloxacin 15 mg/kgBB 2x
sehari selama 3hari. Metronidazole 10 mg/kgBB 3x sehari selama 5
hari.
b. Obat Antidiare
Obat-obat ini meskipun sering digunakan tidak mempunyai
keuntungan praktis dan tidak diindikasikan untuk mengobati diare
akut pad anak, beberapa dianteranya:
 Adsorben, Contoh : kaolin, attapulgite. Obat-oat ini
dipromosikan untuk mengikat dan menginaktivasi toksin
bakteri atau bahan lain yang menyebabkan diare serta dikatakan
mempunyai kemampuan melindungi mukosa usus.
 Antimotilitas, Contoh : loperamide hydrochloride. Obat ini
dapat mengurangi frekuensi diare pada orang dewasa akan
tetapi tidak mengurangi volume tinja pada anak.
7. Probiotik dan Prebiotik
a. Probiotik
Probiotik merupakan mikroorganisme hidup dalam makanan yang
difermentasi yang menunjang kesehatan melalui terciptanya
keseimbangan mikroflora intestinal yang lebih baik. Mekanisme efek
probiotik melalui perubahan lingkungan mikro lumen usus ( pH , O2
), produksi bahan anti mikroba terhadap beberapa patogen
usus,kompetisi nutrien, mencegah adhesi kuman patogen pada
enterosit, modifikasi toksin/ reeptor toksin efek trofik terhadap
mukosa usus melalui penyediaan nutrien dan imunomodulator.
Contohnya : Lacto B.
b. Prebiotik
Prebiotik bukan merupakan mikroorganisme, tetapi bahan makanan
umumnya komplks karbohidrat yang bila dikonsumsi dapat
merangsang pertumbuhan flora intestinal yng menguntungkan
kesehatan. Oligosakarida di ASI merupakan prototipe prebiotik
karena dapat merangsang lactobacilli dan Bifidobacteria di colon
bayi yang minum ASI

Penyebab Antibiotik pilihan Alternatif


Kolera Tetracycline 12,5 mg/kgBB Erythromycin 12,5 mg/kgBB
4x sehari selama 3 hari 4x sehari selama 3 hari
Shigella Disentri Ciprofloxacin 15 mg/kgBB Pivmecillinam 20 mg/kg BB
2x sehari selama 3 hari 4x sehari selama 3 hari
Ceftriaxone 50-100 mg/kgBB
1x sehari IM selama 2-5 hari
Amoebiasis Metronidazole 10 mg/kgBB
3xs ehari selama 5 hari (10 hari pada
kasus berat)
Giadiasis Metronidazole 5mg/kgBB
3x sehari selama 5 hari

I. Komplikasi1,3
1. Gangguan elektrolit

 Hipernatremia, Penderita diare dengan natrium plasma>150 mmol/L


memerlukan pemantauan berkala yang ketat. Tujuanya adalah
menurunkan kadar natrium secara perlahan-lahan. Penurunan kadar
natrium plasma yang cepat sangat berbahaya oleh karena dapat
menimbulkan edema otak. Rehidrasi oral atau nasogastrik
menggunakan oralit adalah cara terbaik dan paling aman. Koreksi
dengan rehidrasi intravena dapat dilakukan menggunakan cairan
0,45% saline-5% dextrose selama 8 jam. Hitung kebutuhan cairan
menggunakan berat badan tanpa koreksi. Periksa kadar natrium
plasma setelah 8jam. Bila normal lanjutkan dengan rumatan, bila
sebaliknya lanjutkan 8 jam lagi dan periksa kembali natrium plasma
setelah 8 jam. Untuk rumatan gunakan 0,18% saline-5% dekstrose,
perhitungkan untuk 24 jam. Tambahkan 10 mmol KCl pada setiap
500 ml cairan infuse setelah pasien dapat kencing. Selanjutnya
pemberian diet normal dapat mulai diberikan. lanjutkan pemberian
oralit 10ml/kgBB/setiap BAB, sampai diare berhenti.1

 Hiponatremia, Anak dengan diare yang hanya minum air putih atau
cairan yang hanya mengandung sedikit garam, dapat terjadai
hiponatremia ( Na<130 mmol/L). Hiponatremia sering terjadi pada
anak dengan Shigellosis dan pada anak malnutrisi berat dengan
odema. Oralit aman dan efekstif untuk terapi dari hamper semua anak
dengan hiponatremi. Bila tidak berhasil, koreksi Na dilakukan
bersamaan dengan koreksi cairan rehidrasi yaitu : memakai ringer
laktat atau normal saline. Kadar Na koreksi (mEq/L)=125- kadar Na
serum yang diperiksa dikalikan 0,6 dan dikalikan berat badan.
Separuh diberikan dalam 8 jam, sisanya diberikan dalam 16 jam.
Peningkatan serum Na tidak boleh melebihi 2 mEq/L/jam.1

 Hiperkalemia, disebut hiperkalemia jika K>5 mEq/L, koreksi


dilakukan dengan pemberian kalsium glukonas 10% 0,5-1 ml/kgBB
i.v pelan-pelan dalam 5-10 menit dengan monitor detak jantung.1

 Hipokalemia, dikatakan hipokalemia bila K<3,5 mEq/L, koreksi


dilakukan menuurut kadar K: jika kalium 2,5-3,5 mEq/L diberikan
peroral 75 mcg/kgBB/hr dibagi 3 dosis. Bila <2,5 mEq/L maka
diberikan secara intravena drip (tidak boleh bolus) diberikan dalam 4
jam. Dosisnya: (3,5-kadar K terukurx BBx0,4 +2 mEq/kgBB/24 jam)
diberikan dalam 4 jam lemudian 20 jam berikutnya adalah (3,5-kadar
K terukurx BBx 0,4+1/6x2 mEqxBB). Hipokalemia dapat
menyebakan kelemahan otot, paralitik usus, gangguan fungsi ginjal
dan aritmia jantung. Hipokalemia dapat dicegah dan kekurangan
kalium dapat dikoreksi dengan menggunakan makanan yang kaya
kalium selama diare dan sesudah diare berhenti1

2. Demam

Demam sering terjadi pada infeksi shigella disentriae dan rotavirus. Pada
umunya demam akan timbul jika penyebab diare mengadakan invasi ke
dalam sel epitel usus. Demam juga dapat terjadi karena dehidrasi. Demam
yang timbul akibat dehidrasi pada umunya tidak tinggi dan akan menurun
setelah mendapat hidrasi yang cukup. Demam yang tinggi mungkin
diikuti kejang demam. Pengobatan: kompres dan/ antipiretika. Antibiotika
jika ada infeksi.3

3. Edema/overhidrasi

Terjadi bila penderita mendapat cairan terlalu banyak. Tanda dan gejala
yang tampak biasnya edema kelopak mata, kejang-kejang dapat terjadi
bila ada edema otak. Edema paru-paru dapat terjadi pada penderita
dehidrasi berat yang diberi larutan garan faali. Pengobatan dengan
pemberian cairan intravena dan atau oral dihentikan, kortikosteroid jika
kejang.3

4. Asidosis metabolic

Asidosis metabolik ditandai dengan bertambahnya asam atau hilangnay


basa cairan ekstraseluler. Sebagai kompensasi terjadi alkalosis
respiratorik, yang ditandai dengan pernafasan yang dalam dan cepat
(kuszmaull). pemberian oralit yang cukup mengadung bikarbonas atau
sitras dapat memperbaiki asidosis.

5. Ileus paralitik

Komplikasi yang penting dan sering fatal, terutama terjadi pada anak
kecil sebagai akibat penggunaan obat antimotilitas. Tanda dan gejala
berupa perut kembung, muntah, peristaltic usu berkurang atau tidak ada.
Pengobatan dengan cairan per oral dihentikan, beri cairan parenteral yang
mengandung banyak K.3

6. Kejang3

Hipoglikemia: terjadi kalau anak dipuasakan terlalu lama. Bila


penderita dalam keadaan koma, glukosa 20% harus diberika iv, dengan
dosis 2,5 mg/kgBB, diberikan dalam waktu 5 menit. Jika koma
tersebut disebabkan oleh hipoglikemia dengan pemberian glukosa
intravena, kesadaran akan cepat pulih kembali.

 kejang demam
 Hipernatremia dan hiponatremia
 penyakit pada susunan saraf pusat, yang tidak ada hubungannya
dengan diare, seperti meningitis, ensefalitis atau epilepsy.
7. Malbasorbsi dan intoleransi laktosa
Pada penderita malabsorbsi atau intoleransi laktosa, pemberian susu
formula selama diare dapat menyebabkan:3
 Volume tinja bertambah
 berat badan tidak bertambah atau gejala/tanda dehidrasi memburuk
 dalam tinja terdapat reduksi dalam jumlah cukup banyak
8. Malabsorbsi glukosa
Jarang terjadi. Dapat terjadi penderita diare yang disebabkan oleh
infeksi, atau penderita dengan gizi buruk. Tindakan: pemberian oralit
dihentikan, berikan cairan intravena3
9. Muntah
Muntah dapat disebabkan oleh dehidrasi, iritasi usus atau gastritis yang
menyebabkan gangguan fungsi usus atau mual yang berhubungan
dengan infeksi sistemik. Muntah dapat juga disebabkan karena
pemberian cairan oral terlalu cepat. Tindakan: berikan oralit sedikit-
sedikit tetapi sering (1 sendok makan tiap 2-3 menit), antiemetic
sebaiknya tidak diberikan karena sering menyebabkan penurunan
kesadaran.3
J. Pencegahan
1. Mencegah penyebaran kuman pathogen penyebab diare
Kuman-kuman patoggen penyebab diare umumnya disebarkan secara
fekal oral. Pemutusan penyebaran kuman penyebab diare perlu difokuskan
pada cara penyebaran ini. Upaya pencegahan diare yang terbukti efektif
meliputi:
a. Pemberian ASI yang benar
b. Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping
ASI
c. Menggunakan air bersih yang cukup
d. Membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis
buang air besar dan sebelum makan
e. Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota
keluarga
f. Membuang tinja bayi yang benar
2. Memperbaiki daya tahan tubuh pejamu
Cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh
anak dan dapat juga mengurangi resiko diare antara lain:

a. Memberi ASI paling tidak sampai usia 2 tahun

b. Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan member


makan dalam jumlah yang cukup untuk memperbaiki status , gizi
anak.

c. Imunisasi campak. Pada balita 1-7% kejadian diare behrunbungan


dengan campak, dan diare yang etrjadi umunya lebih berat dan lebih
lama (susah diobati, cenderung menjadi kronis) karena adanya
kelainan pada epitel usus. Diperkirakan imunisasi campak yang
mencakup 45-90% bayi berumur 9-11 bulan dapat mencegah 40-60%
kasus campak, 0,6-3,8% kejadian diare dan 6-25% kematian karena
diare pada balita.1,3

d. Vaksin rotavirus, diberikan untuk meniru respon tubuh seperti infeksi


alamiah, tetapi infeksi pertama oleh vaksin tidak menimbulkan,
manifestasi diare. Di dunialah beredar 2 vaksin rotavirus oral yang
diberikan sebelum usia 6 bulan dalam 2-3 kali pemberiian dengan
interval 4-6 minggu. 1,8,16,17,18

K. Prognosis
Bila kita menatalaksanakan diare sesuai dengan 4 pilar diare, sebagian besar
(90%) kasus diare pada anak akan sembuh dalam waktu kurang dari 7 hari,
sebagian kecil (5%) akan melanjut dan sembuh dalam kurang dari 7 hari, sebagian
kecil (5%( akan menjadi diare persisten.8
DAFTAR PUSTAKA

1. Subagyo B dan Santoso NB. Diare akut dalam Buku Ajar Gastroenterologi-
Hepatologi Jilid 1, Edisi 1. Jakarta: Badan penerbit UKK Gastroenterologi-
Hepatologi IDAI. 2010:87-110
2. WHO. Diarrhoeal Disease (Updated February 2009). In
http:www.Who.int/vaccine_research/disease/diarrhoeal/en/index html.
[diunduh tanggal 10 Juli 2007]
3. Suraatmaja Sudaryat. Diare dalam Kapita Selekta Gastroenterologi Anak.
Jakarta: Sagung Seto. 2007:1-24
4. Soenarto et al. Burden of Severe Rotavirus Diarrhea In Indonesia. The
Journal of Infectious disease 200: S188-94, 2009.
5. Suraatmaja Sudaryat. Masalah Rehidrasi Oral dalam Kapita Selekta
Gastroenterologi Anak. Jakarta: Sagung Seto. 2007:44-53
6. Pickering LK. Gastroenteritis in Nelson textbook of pediatrics 19th edition.
United Stated of Amrica, Lippincot wiliams
7. Gaurino et al. European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology
and Nutrition/European Society for Paediatric Infectious disease Evidenced
Based Guidelines for Management of Acute Gastroenteritis in Children in
Europe. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition 46: S81-
184.2008.
8. Firmansyah A dkk. Modul pelatihan Tata laksana diare pada anak. Jakarta:
Badan Koordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia.2005.
9. Berkes et al. Intestinal Epithelial responses to enteric pathogens: effect on the
tight junction barrier, ion transport and inflammation. Dalam
http:www.glut.bmj.com.[diunuduh tanggal 10 Juli 2011].
10. WHO. Diare dalam Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit
Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten Kota.
Jakarta: WHO Indonesia.2009.
11. UNICEF. Oral Rehydration Salt (ORS) A New Reduced Osmolality
Formulation. Http:www// rehydrate/ors/oral rehydration salt.htm.2002.
[diunduh tanggal 16 Juli 2011].
12. Suandi IKG. Manajemen nutrisi pada gastroenteritis dalam Kapita Selekta
Gastroenterologi Anak. Jakarta: Sagung Seto. 2007:84-100.
13. Aggarwal et al. Role of Zinc Administration in Prevention of Childhood
Diarrhea and respiratory illness. A merk analisis. Pediatric 2007 ;119:1120.
14. Isolaun E. Probiotics : A role in the treatment of intestinal infection and
inflammation. Gut.2002,50 (Supple III):III:54-1159
15. Arimbawa dkk. Peranan probiotik pada keseimbangan flora normal usus
dalam Kapita Selekta Gastroenterologi Anak. Jakarta: Sagung Seto. 2007:100-
111
16. Comitte Infection Disease. Prevention of Rotavirus Diseases: Upadated
Guidelines for use of Rotavirus Vaccine. Pediatrics 123,1412,2009.
17. Boom et al. Effectiveness of Pentavalent Rotavirus Vaccine in a large Urban
population in The United States. Pediatrics:125e,e199,2010.
18. Purniti dkk. Imunisasi penyakit Enteral dalam Kapita Selekta
Gastroenterologi Anak. Jakarta: Sagung Seto. 2007:122-31