Anda di halaman 1dari 28

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI REFERAT

RUMAH SAKIT UMUM ANUTAPURA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
MEI 2018

KONTRASEPSI IMPLAN

Disusun Oleh :

Andi Heri Isman

(11 16 777 14 072)

Supervisior/Pembimbing

dr. Ni Made Astiani Giri, Sp.OG

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ALKHAIRAAT

PALU

2018
HALAMAN PENGESAHAN

Nama : Andi Heri Isman


No. Stambuk : 11 16 777 14 072
Program Studi : Pendidikan Dokter
Fakultas : Kedokteran
Universitas : Alkhairaat
Judul Referat : Kontrasepsi Implan
Bagian : Ilmu Obstetri dan Ginekologi

Bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi


RSU ANUTAPURA Palu
Program Studi Pendidikan Dokter
Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat

Palu, Mei 2018


Pembimbing

dr. Ni Made Astiani Giri, Sp.OG

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
II. SEJARAH KONTRASEPSI IMPLAN ...................................................... 2
III. DEFINISI .................................................................................................... 4
IV. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI ..................................................... 5
V. EFEKTIFITAS ........................................................................................... 6
VI. CARA KERJA ............................................................................................ 7
VII. PENGGUNAAN ........................................................................................ 9
VIII. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN ....................................................... 20
IX. EFEK SAMPING DAN KOMPLIKASI .................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 23

iv
BAB I

PENDAHULUAN

Setiap hari, diperkirakan 800 orang wanita meninggal karena sebab yang
sebetulnya dapat dicegah dari kehamilan dan persalinan. Di antara angka tersebut,
99% di antaranya adalah berasal dari negara berkembang. Di Indonesia sendiri,
angka kematian ibu saat melahirkan masih tinggi, yakni sekitar 228 per 100.000
kelahiran hidup. Antara tahun 1990 dan 2013, angka kematian ibu menurun hanya
sekitar 2,6% per tahun. Jumlah itu masih jauh dari target pemerintah dalam
pencapaian target Millenium Development Goal (MDG), yakni menurunkan angka
kematian ibu sebesar 5,5% per tahun.(1,2)
Penyebab utama meninggalnya ibu saat melahirkan adalah perdarahan saat
persalinan. Resiko perdarahan ini akan meningkat jika ibu hamil tersebut hamil
terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, atau jarak melahirkan terlalu dekat. Terkait
dengan hal tersebut, dibutuhkan metode kontrasepsi untuk mengatur jarak
kehamilan. (1,2,3)
Kontrasepsi adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya
kehamilan, baik itu sifatnya sementara maupun permanen. Kontrasepsi telah
digunakan di seluruh dunia untuk berbagai macam tujuan, diantaranya untuk
menunda kehamilan, membatasi jumlah anak, menghindari resiko medis
kehamilan (khususnya untuk penderita penyakit jantung, diabetes mellitus, atau
tuberkulosis), dan mengontrol populasi masyarakat di seluruh dunia. Penggunaan
kontrasepsi lebih meningkat di negara maju berbanding negara berkembang. (4,5)
Tidak ada kontrasepsi yang sempurna jika ditinjau dari efek samping dan
efektifitasnya. Semua kontrasepsi memiliki kelebihan dan kekurangan yang harus
dipertimbangkan menurut keadaan pasien. Oleh karena itu, individu harus berhati-
hati untuk menghindari terjadinya efek samping yang tidak diinginkan.
Kontrasepsi yang ideal memenuhi syarat sebagai berikut: (4,5)
1. Dapat dipercaya
2. Tidak menimbulkan efek samping yang mengganggu kesehatan.
3. Daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan.
4. Tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus.

1
5. Tidak memerlukan motivasi yang terus-menerus.
6. Mudah pelaksanaannya.
7. Murah harganya dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
8. Dapat diterima penggunaannya oleh pasangan yang bersangkutan.
Terdapat beberapa metode kontrasepsi, baik yang menggunakan alat/obat-
obatan maupun tidak. Contoh kontrasepsi tanpa alat antara lain koitus interuptus,
postkoital douche, rhythm method. Sedangkan kontrasepsi dengan alat/obat-
obatan ada yang mekanis seperti kondom dan pesarium, ada yang dengan
spermisida, dan ada pula yang hormonal. Kontrasepsi hormonal di antaranya ada
yang berupa kombinasi esterogen-progesteron dan ada pula yang hanya berisi
progestin saja. (4,5)
Referat ini lebih lanjut akan membahas tentang implan yang merupakan salah
satu alat kontrasepsi hormonal yang berisi hanya progestin saja.

Perkembangan implan dimulai pada tahun 1966 dengan riset yang dirintis oleh
Segal dan Croxatto. Mereka menunjukkan bahwa hormon steroid dapat dilepaskan
secara terus-menerus lebih dari setahun dari dalam kapsul silikon (silastik) yang
ditanam di bawah kulit. Hasil awal ini membentuk dasar konseptual
perkembangan alat kontrasepsi implan jangka panjang. Tujuannya adalah untuk
untuk mengembangkan alat kontrasepsi yang dapat membantu wanita membuat
pilihan tunggal pada alat kontrasepsi yang efektif selama beberapa tahun. (6)
Pada tahun 1975, percobaan klinis pertama diadakan pada enam negara (Brazil,
Chili, Denmark, Republik Dominika, Finlandia, dan Jamaika). Pada tahun
pertama didapatkan hasil dengan angka kehamilan sangat rendah (0,6 kehamilan
dari 100 wanita), akseptabilitas yang baik, dan angka penggunaan lanjut 75-80%
sehingga studi klinis ini kemudian dilanjutkan. Ketika kapsul dianalisa mengenai
sisa steroid yang terdapat di dalamnya, hanya terdapat 10% dari muatan LNG
yang dilepaskan selama tahun pertama. Hal ini mengindikasikan bahwa waktu
penggunaan sistem enam batang bisa sampai beberapa tahun. (6)
Pada tahun 1980-an juga ditandai dengan pengembangan dan percobaan
terhadap implan LNG dua batang. Batang (rod) berbeda dengan kapsul. Tidak
seperti kapsul, yang mana diisi dengan kristal LNG dan terbungkus dalam tabung

2
silastik, setiap batang (rod) ini terdiri atas bagian inti yang terdiri atas elastomer
silikon dan LNG dalam jumlah berat yang sama, dibungkus dengan tabung silikon
berdinding tipis. Setiap batangnya memiliki panjang 1 cm lebih panjang dari versi
sebelumnya, dan mengandung hampir 2 kali lipat jumlah LNG yaitu 75 mg
dibandingkan dengan 36 mg pada versi sebelumnya. Selama fase ini, banyak
percobaan klinis multinasional dilakukan yang melibatkan beberapa klinik di
Amerika. Pada tahun 1983, riset dasar tentang kapsul Norplant sudah selesai
secara esensial, tetapi investigasi tentang sistem implan 2 batang masih terus
dilanjutkan. Sayangnya, ketika percobaan-percobaan ini dilakukan, elastomer
yang digunakan dalam pembuatan batang implan tersebut tidak lagi tersedia
secara komersial. Hal ini memakan waktu beberapa tahun untuk mengidentifikasi
jenis elastomer lain yang penggunaannya pada LNG dapat memberikan kadar
pelepasan yang sesuai dengan batang implan yang original. Ketika batang implan
baru ini tersedia pada pertengahan tahun 1990, kemudian disebut Jadelle (Jadena),
percobaan klinis baru pun dimulai. (6,7)
Implanon merupakan implan batang tunggal berisi etonogestrel (ENG), sebuah
bentuk aktif dari desogestrel, yang dibungkus dalam membran etilen vinil asetat.
Tidak seperti LNG yang utamanya terikat pada sex hormone-binding globulin
(SHBG), ENG lebih terikat pada albumin yang mana tidak dipengaruhi oleh
tingkat estradiol endogen maupun eksogen dalam darah. (8)

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI
Implan adalah kontrasepsi jangka panjang bersifat reversibel berisi hanya
progestin saja (progestin-only) yang melepaskan sejumlah kecil progestin secara
terus-menerus ke dalam aliran darah. (9)
Kontrasepsi implan yang beredar di Indonesia antara lain Norplant, Jadena, dan
Implanon.
1. Norplant terdiri dari enam batang silastik yang berisi levonorgestrel
masing-masing 36 mg. Masa kerjanya 5 tahun.

2. Jadena terdiri dari dua batang yang masing-masing mengandung 75 mg


levonorgestrel. Masa kerjanya 5 tahun.

3. Implanon adalah implan tunggal berisi etonogestrel 68 mg dibungkus


dalam sebuah membran etilen vinil asetat. Masa kerjanya 3 tahun. (7,10)

4
II. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI
a. Indikasi.
Kontrasepsi implan merupakan pilihan yang baik untuk wanita pada usia
reproduksi yang aktif secara seksual dan menginginkan kontrasepsi jangka
panjang yang kontinu. Implan dipertimbangkan pada wanita yang: (5,11)
1. Ingin menunda kehamilan selanjutnya dalam 2 sampai 3 tahun.
2. Menginginkan metode kontrasepsi jangka panjang dengan efikasi yang
tinggi.
3. Mengalami efek samping terkait esterogen serius atau minor dengan
kontrasepsi esterogen-progestin.
4. Mengalami kesulitan mengingat untuk mengkonsumsi pil setiap hari,
memiliki kontraindikasi atau kesulitan dengan penggunaan AKDR, atau
menginginkan metode kontrasepsi yang tidak terkait dengan koitus.
5. Tidak ingin hamil lagi, tetapi belum siap untuk melakukan sterilisasi
permanen.
6. Memiliki riwayat anemia dengan perdarahan menstrual yang berat.
7. Cenderung untuk menyusui selama setahun atau dua tahun.
8. Memiliki penyakit kronis, yang kesehatannya dapat terancam dengan
kehamilan.

b. Kontraindikasi
Penggunaan implan merupakan kontraindikasi absolut pada wanita dengan:(6,11)
1. Kehamilan atau disangka hamil
2. Penyakit tromboflebitis atau tromboemboli
3. Perdarahan genital yang belum terdiagnosis.
Penggunaan kontrasepsi hormonal dapat menyebabkan perubahan pola
perdarahan. Apabila terdapat perdarahan genital yang belum terdiagnosis
harus diterapi terlebih dahulu sebelum pemasangan implan.
4. Penyakit hati akut.
5. Tumor hati yang jinak atau ganas.
Kontrasepsi hormonal dimetabolisme di hati sehingga gangguan fungsi hati
pada wanita dengan penyakit hati akut maupun gangguan hati berupa tumor

5
jinak atau ganas akan menyebabkan hormon yang digunakan tidak dapat
dimetabolisme dengan baik.
6. Kanker payudara yang dicurigai atau telah diketahui.
Kanker payudara terkait dengan hormon reproduksi wanita sehingga
penderita kanker payudara, baik yang dicurigai maupun yang telah
diketahui, sebaiknya tidak menggunakan kontrasepsi hormonal.

Penggunaan implan merupakan kontraindikasi relatif pada wanita dengan:(6,11)


1. Perokok berat (lebih 15 batang per hari) pada wanita berusia lebih 35 tahun
2. Riwayat kehamilan ektopik
3. Diabetes mellitus
4. Hiperkolesterolemia
5. Hipertensi
6. Riwayat penyakit jantung. Contohnya : infark miokard, penyakit arteri
koroner, tromboembolik, dan pasien dengan katup jantung artifisial
7. Penyakit kandung kemih
8. Penyakit kronis ( immunocompromised)

Implan tidak dikontraindikasikan pada situasi berikut, tetapi metode lain


mungkin lebih disarankan: (11)
1. Acne berat.
2. Sakit kepala berat.
3. Depresi berat.
4. Penggunaan secara bersama-sama obat-obat yang menginduksi enzim hati
mikrosomal, di antaranya Carbamazepine, Felbamate, Nevirapine,
Phenobarbital, Phenytoin, Rifampicin, Griseofulvin, Troglitazone. Obat-
obat ini tidak direkomendasikan karena dapat meningkatkan risiko
kehamilan akibat turunnya kadar progestin dalam darah.

6
III. EFEKTIFITAS
Kontrasepsi implan memberikan kontrol kehamilan yang sangat efektif. Studi
tentang Norplant pada 11 negara, dengan 12.133 akseptor wanita sebagai subjek,
angka kehamilan adalah 0,2 kehamilan dari 100 wanita per tahun penggunaan.
Salah satu kehamilan yang terjadi selama evaluasi ini adalah pada saat insersi
implan. Jika insersi selama fase luteal ini dikecualikan dari analisis ini maka
angka kehamilannya menjadi 0,01 kehamilan dari 100 wanita per tahun. Pada
remaja, implan Norplant memberikan poteksi yang lebih baik dalam menghadapi
kehamilan yang tidak diharapkan, dibandingkan dengan kontrasepsi oral, dan
faktor yang penting adalah angka keberlanjutan dengan Norplant. Efikasi
kontrasepsi dapat terjaga sampai 7 tahun penggunaan. (11)
Tidak ada pembatasan berat badan untuk akseptor Norplant, tetapi wanita yang
gemuk (lebih dari 70 kg) dapat mengalami angka kehamilan yang sedikit lebih
tinggi dibandingkan dengan wanita yang lebih kurus. Namun, pada beberapa
tahun terakhir angka kehamilan pada wanita gemuk yang menggunakan Norplant
lebih rendah daripada mereka yang menggunakan kontrasepsi oral. Perbedaan
angka kehamilan berdasarkan berat badan mungkin disebabkan oleh efek
dilusional akibat ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan kadar serum
levonorgestrel yang rendah dan berkelanjutan tersebut. Wanita yang gemuk
sebaiknya tidak mengandalkan Norplant pada batasan 5 tahun tersebut. Pada
wanita yang lebih langsing, durasi efikasi Norplant dapat lebih panjang dari 5
tahun. Pada beberpa percobaan lanjutan, tidak didapatkan kehamilan sampai pada
tahun ketujuh penggunaan. (11)
Efikasi kontrasepsi Implanon melebihi Norplant dan sterilisasi. Jarang sekali
terjadi kehamilan, menghasilkan Pearl Index sekitar 0,01 kehamilan dari 100
wanita per tahun penggunaan. Pada lebih dari 70.000 siklus, tidak ada kehamilan
yang dilaporkan akibat inhibisi total ovulasi sampai ovulasi diobservasi pada 6
bulan terakhir pada periode 3 tahun. Tidak ada data tersedia terkait pengaruh berat
badan pada efikasi Implanon. (11)

7
IV. CARA KERJA
Dengan penggunaan implan LNG, kehamilan dicegah melalui mekanisme
kombinasi sebagai berikut. Mekanisme primernya adalah: (6)
1. Memproduksi mukus serviks yang tebal yang mencegah penetrasi sperma.
2. Menghambat ovulasi, pada kurang lebih 50% siklus menstruasi.
Mekanisme sekunder, yang dapat mendukung kerja dari mekanisme primer
tersebut antara lain: (6)
1. Mengurangi produksi progesteron alami oleh ovarium selama fase luteal
bahkan pada siklus-siklus ketika ovulasi terjadi.
2. Menekan pertumbuhan endometrium (hypoplasia).
Kadar pelepasan kontrasepsi implan ditentukan oleh area permukaan total dan
densitas implan yang mengandung progestin. Progestin berdifusi dari dalam
implan menuju ke jaringan sekitarnya melalui sistem sirkulasi dan didistribusikan
secara sistemik, mencegah kadar inisiasi yang tinggi pada sirkulasi seperti pada
steroid oral atau injeksi. Dalam 24 jam setelah insersi Norplant, konsentrasi
levonorgestrel dalam plasma menjadi sekitar 0,4 sampai 0,5 ng/mL. Cukup tinggi
untuk mencegah konsepsi. Namun, sebuah studi tentang perubahan mukus serviks
mengindikasikan bahwa sebuah metode backup harus digunakan 3 hari setelah
insersi. (11)
Kapsul Norplant melepaskan sekitar 86 mcg levonorgestrel per 24 jam selama
12 bulan pertama. Kadar ini berkurang secara bertahap menjadi 50 mcg per hari
pada 9 bulan berikutnya, dan menjadi 30 mcg per hari pada sisa waktu
berikutnya. Hormon sejumlah 86 mcg yang dilepaskan oleh implan selama
beberapa bulan pertama akan tersebut sama dengan penggunaan kontrasepsi
progestin-only minipil levonorgestrel oral harian, dan 25 sampai 50 % dosis
tersebut didapatkan melalui kontrasepsi oral kombinasi dosis rendah. (11)
Berat badan mempengaruhi kadar levonorgestrel yang bersirkulasi. Semakin
tinggi berat badan seseorang, semakin rendah kadar levonorgestrelnya.
Pengurangan terbesar terjadi pada wanita dengan berat badan lebih dari 70 kg,
tetapi bahkan pada wanita gemuk, tingkat pelepasannya cukup tinggi untuk
mencegah kehamilan, paling tidak sama reliabilitasnya dengan kontrasepsi oral.
Konsentrasi plasma rata-rata di bawah 0,2 ng/mL dihubungkan dengan

8
peningkatan angka kehamilan. Setelah 6 bulan penggunaan kadarnya adalah
sekitar 0,35 ng/mL, pada 2,5 tahun kadarnya menjadi 0,25 sampai 0,35 ng/mL.
Sampai pada penggunaan tahun ke-8, kadar reratanya tetap di atas 0,25 ng/mL. (11)
Kadar levonorgestrel dapat pula dipengaruhi oleh kadar sirkulasi sex hormone-
binding globulin (SHBG). Levonorgestrel memiliki afinitas yang tinggi terhadap
SHBG. Pada minggu setelah insersi Norplant, kadar SHBG berkurang secara
cepat kemudian kembali menjadi kira-kira setengah dari kadar 1 tahun sebelum
insersi. Kadar SHBG ini tidak seragam dan dapat diperhitungkan pada beberapa
variasi individu dalam hal konsentrasi levonorgerstrel plasma. (11)
Mekanisme konsepsi yang dicegah oleh Norplant hanya dapat dijelaskan
sebagian. Terdapat 3 mode aksi yang mungkin, yang sama dengan yang
diatribusikan pada efek kontrasepsi pada mini pil progestin-only. (8,11)
1. Kadar konstan levonorgestrel memiliki efek berkepanjangan terhadap
mukosa serviks. Mukus menjadi tebal dan jumlahnya berkurang,
membentuk pelindung dari penetrasi sperma.
2. Levonorgestrel menekan hipotalamus dan pituitari, serta lonjakan hormon
LH yang dibutuhkan untuk ovulasi. Sebagaimana yang ditentukan oleh
kadar progesteron pada banyak akseptor selama beberapa tahun, kira-kira
sepertiga dari keseluruhan siklus adalah ovulatori. Selama 2 tahun pertama
penggunaan, hanya sekitar 10 % wanita ovulatori, tetapi dalam penggunaan
lebih dari 5 tahun terdapat lebih dari 50 persen. Pada siklus-siklus yang
ovulatori tersebut, terdapat insidensi insufisiensi luteal yang tinggi.
3. Levonorgestrel menekan maturasi siklik akibat estradiol pada endometrium
dan selanjutnya menyebabkan atrofi. Perubahan tersebut dapat mencegah
implantasi pada saat terjadi fertilisasi. Namun, tidak ada bukti yang
menunjukkan bahwa fertilisasi dapat dideteksi pada akseptor Norplant.
Implanon mencegah ovulasi selama periode 3 tahun, dengan perhitungan
semua efek kontrasepsi. Namun, perkembangan folikuler dapat terjadi,
menghindarkan masalah klinis signifikan hipoesterogenemia, dan pada 6 bulan
terakhir pada periode 3 tahun, terkadang terdapat ovulasi. Sementara dengan
Norplant efek progestasional diproduksi pada mukus servikal dan endometrium.
Angka kegagalan yang besar tidak didapatkan pada individu yang gemuk. (11)

9
V. PENGGUNAAN
Insersi dan pencabutan implan memerlukan prosedur bedah minor di bawah
pengaruh anestetik lokal. Implan idealnya diinsersikan pada hari pertama sampai
kelima pada siklus menstruasi normal. Ada pula yang mengatakan diinsersikan
pada hari ke 5 sampai ke 7 setelah menstruasi dimulai untuk mencegah terjadinya
ovulasi. Apabila amenore, hal yang harus dipastikan adalah bahwa calon akseptor
tidak sedang hamil. (10,12)
Pemasangan:
 Persiapan alat non-steril: (6)
1. Meja periksa
2. Penyanggah tangan
3. Sabun untuk mencuci tangan
4. Pulpen atau marker
5. Template
6. Implan dalam kemasan
7. Cairan antiseptik
8. Anestetik lokal
 Alat steril: (6)
1. Doek steril
2. Tiga buah mangkuk steril (untuk cairan antiseptik, kapas alkohol, dan
batang implan)
3. Handschoen steril
4. Spuit 5 atau 10 cc dengan needle 22G
5. Trokar
6. Scalpel dengan blade
7. Forsep jaringan
8. Plester
9. Kain kasa
10. Epinefrin untuk keadaan emergensi (syok anafilaktik)
 Prosedur Pemasangan: (6)
1. Pastikan pasien membersihkan lengan yang akan dipasangi implan
dengan air dan sabun, dan pastikan tidak ada sisa sabun.

10
2. Posisikan pasien di meja dalam posisi nyaman dengan lengan tersanggah
lurus atau bengkok.
3. Pasang kain bersih dan kering di bawah lengan pasien.
4. Tentukan daerah optimal untuk insersi yaitu sekitar 8 cm di atas lipatan
siku. Gunakan template untuk membuat pola dan tandai daerah yang
akan di pasangi batang implan serta perkiraan ujung atas kedua implan
tersebut di kulit dengan spidol (marker).

5. Siapkan tempat peralatan dan buka kotak instrumen steril atau DTT tanpa
menyentuh instrumen tersebut.
6. Bukalah kemasan steril yang berisi 2 batang implan dan jatuhkan batang
implan tersebut ke dalam wadah mangkuk steril atau DTT.
7. Cuci tangan dengan sabun dan air, kemudian keringkan.
8. Kenakan sarung tangan steril atau DTT pada kedua tangan.
9. Susun alat sehingga mudah untuk diambil.
10. Berikan cairan antiseptik pada daerah yang akan diinsisi dengan
menggunakan kasa yang dijepit dengan forsep. Usapkan mulai dari
daerah yang akan diinsisi dan gerakkan meluas secara sirkuler hingga 8
hingga 13 cm. Setelah itu biarkan mengering sekitar 1 sampai 2 menit.
Ingat untuk tidak menyentuh daerah yang belum didekontaminasi.
11. Jika tersedia, pasangkan doek steril dengan lubang di tengahnya pada
daerah yang akan diinsersikan. Lubang tersebut harus cukup besar untuk
menampilkan seluruh daerah dimana batang implan akan diinsersikan.
12. Setelah memastikan bahwa pasien tidak alergi terhadap anestetik lokal,
isilah spoit dengan 2 cc anestetik lokal (tanpa epinefrin).
13. Masukkan jarum tepat di bawah kulit pada daerah insisi. Injeksikan
sejumlah kecil anestetik lokal pada daerah tersebut sampai

11
menggembung. Kemudian tanpa mencabut jarum, masukkan sekitar 5 cm
lagi ke arah pertengahan daerah antara yang akan dipasangi implan.

14. Arahkan skalpel sekitar 45ᴼ dan buatlah insisi kecil dangkal berukuran
sekitar 2 mm untuk sekedar menembus kulit. Jangan membuat insisi yang
lebar atau dalam. Jika trokar yang akan digunakan masih baru, tidak
perlu dilakukan insisi.
15. Masukkan trokar dengan ujung bevel menghadap ke atas. Terdapat tiga
tanda pada trokar, tanda yang berada di tengah tidak digunakan untuk
insersi implan. Tanda yang paling dekat dengan hub menandakan
seberapa jauh trokar harus dimasukkan ke bawah kulit sebelum implan
dimasukkan. Tanda yang paling dekat dengan ujung trokar menandakan
seberapa jauh trokar bisa ditarik ketika akan memasukkan implan pada
lokasi berikutnya.

16. Insersikan trokar dan plunger-nya ke bawah kulit melalui lubang insisi
yang telah dibuat sebelumnya dengan ujung bevel menghadap ke atas.
Masukkan trokar ke dalam, hentikan segera setelah ujungnya masuk ke
dalam kulit (2-3 mm dari ujung bevel). Jangan pernah memaksa trokar
masuk. Jika terdapat tahanan, arahkan pada sudut lain.
17. Untuk menjaga batang implan tetap pada bidang superfisial, tahan trokar
ke atas ketika mendorong trokar di bawah kulit. Dengan perlahan dorong
trokar dan plunger-nya menuju tanda yang telah dibuat pada kulit. Trokar

12
tersebut harus cukup dangkal sehingga terlihat menonjol dan bisa diraba
di bawah kulit.

18. Ketika trokar sudah sampai pada tanda yang paling dekat dengan hub,
lepaskan plunger dari trokar.
19. Masukkan batang implan pertama melalui trokar. Gunakan tangan atau
forsep untuk memasukkan implan, sementara tangan yang satu lagi tetap
memegang trokar.

20. Gunakan plunger untuk mendorong implan masuk dengan perlahan


sampai terasa tahanan.
21. Tahan plunger pada posisinya, kemudian tarik trokar sampai pada tanda
yang paling dekat dengan bevel tadi sampai pada bekas insisi (trokar
tidak keluar dari kulit).

22. Pastikan batang implan pertama telah bebas dari ujung trokar dengan
meraba ujung implan setelah trokar ditarik ke arah plunger.

13
23. Tanpa mencabut trokar dari kulit, arahkan trokar masuk ke arah satu lagi
untuk pemasangan batang implan berikutnya.

24. Palpasi ujung batang implan yang mengarah ke bahu untuk memastikan
implan terpasang dengan benar.
25. Untuk meminimalkan risiko ekspulsi spontan dari batang implan, palpasi
daerah insisi untuk memastikan ujung implan berjarak sekitar 5 mm dari
tempat insisi. Ujung-ujung batang implan yang berdekatan sebaiknya
berjarak sekitar 2-3 mm.
26. Dengan hati-hati tarik trokar dan tekan bekas insisi dengan kasa sekitar
satu menit untuk menghentikan perdarahan. Lepaskan doek, dan
bersihkan daerah sekitar lokasi insersi dengan kapas cairan DTT atau
alkohol.

Langkah pemasangan Implanon: (13)


1. Pemasangan Implanon harus dalam kondisi aseptik oleh petugas kesehatan
yang familiar dengan prosedurnya.
2. Insersi Implanon adalah dengan menggunakan aplikator khusus.
Penggunaan aplikator ini berbeda dengan pemasangan klasik. Penarikan
dari aplikator yang dibongkar dan komponen-komponen lainnya tertera
sepertti di bawah ini.

14
3. Prosedur yang digunakan untuk insersi Implanon adalah kebalikan dari
memberi injeksi. Ketika memasukkan Implanon, obturatornya harus tetap
terfiksasi ketika kanula ditarik dari kulit.
4. Persilakan pasien untuk berbaring telentang dengan tangan yang tidak
dominan terbentang dan siku dibengkokkan.
5. Untuk meminimalkan risiko kerusakan vaskular atau neural, Implanon
harus diinsersikan di sebelah medial lengan yang tidak dominan.
6. Implanon harus dimasukkan secara subdermal, tepat dibawah kulit. Jika
Implanon dimasukkan terlalu dalam, dapat menyebabkan terjadinya
kerusakan vaskular atau neural. Juga akan mempersulit dalam melokalisasi
dan melepasnya kemudian.
7. Tandai daerah insersi.
8. Bersihkan daerah tersebut dengan antiseptik.
9. Anestesi dengan anestetik semprot atau dengan 2 cc lidokain 1% yang
dimasukkan sepanjang kanal insersi.
10. Buka kemasan Implanon.
11. Sebelum membuka pelindung jarum, pastikan keberadaan batang implan
yang terlihat seperti benda putih di dalam ujung jarum. Jika implan tidak
terlihat, ketuk ujung atas pelindung jarum pada permukaan yang rata agar
implannya turun ke ujung jarum. Begitu pula sebaliknya jika implan keluar
terlalu jauh dari ujung jarum, ketukkan pelindung jarum agar implan
berada pada ujung jarum. Setelah itu, pelingung jarum dapat dilepaskan.
12. Implan dapat jatuh sewaktu-waktu dari aplikatornya, karenanya posisikan
aplikator dengan posisi menghadap ke atas sampai pada waktu akan
melakukan insersi.

15
13. Regangkan kulit di sekitar daerah insersi dengan jempol dan telunjuk.
14. Masukkan ujung jarum dengan sudut sekitar 20ᴼ.
15. Lepaskan regangan kulit.
16. Turunkan aplikator sampai pada posisi hampir horisontal.
17. Ketika aplikator tersebut tampak mengangkat kulit, dorong jarum sampai
pada panjang maksimalnya. Jangan gunakan tenaga yang berlebihan.
Jarum tersebut harus sejajar di bawah kulit untuk memastikan Implanon
diinsersi tepat dibawah kulit.
18. Biarkan aplikator berada sejejar dengan kulit. Jika implan ditempatkan
terlalu dalam, dapat menyebabkan parestesi dan migrasi implan sehingga
pencabutan implan akan menjadi lebih sulit.

19. Patahkan segel aplikator.


20. Putar obturator 90ᴼ

16
21. Fiksasi obturator dengan satu tangan arah sejajar dengan lengan,
sementara tangan yang lainnya dengan pelan menarik kanula (jarum) lepas
dari lengan. Jangan menekan obturator.
22. Pastikan implan sudah tidak ada di ujung jarum. Setelah retraksi kanula,
ujung bergelombang dari obturator akan terlihat.
23. Selalu pastikan keberadaan implan dengan palpasi dan biarkan pasien
meraba implan yang sudah diinsersi tersebut.

Setelah melahirkan, implan dapat diinsersikan sebelum 21 hari postpartum.


Jika diinsersikan lebih dari 21 hari postpartum, akseptor implan disarankan untuk
menggunakan kondom atau tidak berhubungan selama 7 hari. (10)
Pada kasus keguguran medis, implan dapat diinsersikan mulai dari saat operasi
sampai hari ke-5 pasca operasi. Jika diinsersikan lebih dari hari ke-5 pasca operasi
keguguran, akseptor implan disarankan untuk menggunakan kondom atau tidak
berhubungan selama 7 hari. (10)

Pencabutan implan: (14)


1. Lokalisasi implan dengan palpasi, jika mungkin tandai posisinya dengan
marker. Jika tidak bisa teraba, lakukan lokalisasi dengan USG atau X-Ray
jaringan lunak.

2. Injeksikan sejumlah kecil anestetik di bawah kulit tepat di bawah ujung


implan yang saling berdekatan. Jika diinjeksikan di atas implan, dapat
menyebabkan pencabutan menjadi lebih sulit.

17
3. Buatlah insisi kecil ukuran 4 mm dengan scalpel di dekat ujung implan.

4. Tekan implan dengan perlahan ke arah lubang insisi.

5. Ketika ujung implan tampak keluar dari lubang insisi, jepit dengan forsep
mosquito.

6. Gunakan scalpel untuk membuka jaringan lunak yang menyelubungi


implan secara hati-hati.

18
7. Jepit ujung implan dengan klem lain.

8. Lepaskan mosquito.

9. Tarik implan perlahan.

10. Setelah itu, lakukan pada implan lain yang akan dicabut.
11. Segera setelah pencabutan, implan baru dapat langsung diinsersikan
melalui lubang insisi yang sama dengan arah yang sama atau berlawanan.

19
VI. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN
a. Keuntungan
Implan adalah metode kontrasepsi yang aman, sangat efektif, dan berkelanjutan
yang membutuhkan hanya sedikit usaha dan tidak seperti kontrasepsi injeksi
jangka panjang, implan dapat mengembalikan kesuburan secara cepat. Oleh
karena merupakan metode progestin-only, implan dapat digunakan oleh wanita
yang memiliki kontraindikasi dengan kontrasepsi yang mengandung esterogen.
Pelepasan berkelanjutan progestin dosis rendah menghindarkan dosis inisiasi yang
tinggi oleh lonjakan hormonal yang tinggi akibat injeksi yang berhubungan
dengan kontrasepsi oral. Implan merupakan pilihan yang sangat baik untuk wanita
menyusui dan dapat diinsersikan segera setelah melahirkan. Tidak ada efek
terhadap kualitas atau kuantitas ASI, dan bayi dapat tumbuh normal. Keuntungan
lain metode implan adalah memungkinkan seorang wanita mengatur kehamilan
secara tepat kerena pengembalian fertilitas adalah tepat waktu setelah pencabutan,
berbeda dengan pengembalian fertilistas 6 sampai 18 bulan pada penggunaan
injeksi Depo-Povera. (11)
Pada wanita menyusui, gemuk, dengan diabetes gestasional utama, minipil
progestin-only secara oral berhubungan dengan peningkatan risiko 3 kali lipat
diabetes mellitus non-insulin dependen. Telah diketahui bahwa meskipun hal ini
dapat terjadi pada semua wanita yang menderita diabetes gestasional atau pada
semua metode kontrasepsi progestin-only, cara pemberian yang bijaksana tentang
metode lain harus disarankan untuk kelompok wanita tertentu. (11)
Satu dari keuntungan mayor metode pelepasan berkelanjutan adalah efikasi
yang tinggi, hampir sama dengan efektifitas teoritis. Pada pasangan yang mana
tidak mungkin melakukan aborsi elektif dalam hal kehamilan yang tidak
direncanakan, tingkat efikasi yang tinggi merupakan hal sangat penting. Tidak ada
pil yang lupa diminum, kondom yang bocor, diafragma yang hilang, atau salah
suntik. Untuk wanita pada risiko tinggi komplikasi medis sehingga mereka tidak
boleh hamil, implan yang pelepasan berkelanjutan ini hadir dengan keuntungan
keamanan yang signifikan. Akseptor impan harus diyakinkan bahwa penggunaan
implan tidak berhubungan dengan perubahan metabolisme karbohidrat maupun
lemak, koagulasi, fungsi hati atau ginjal, atau kadar immunoglobulin. Oleh karena

20
banyak wanita yang menginginkan implan dapat saja mengalami pengalaman
negatif dengan kontrasepsi lain, merupkan hal yang penting untuk menjelaskan
perbedaan antara metode ini dan metode sebelumnya. (11)

b. Kerugian
Terdapat beberapa kerugian yang berhubungan dengan penggunaan sistem
implan. Implan dapat menyebabkan disrupsi pada pola haid, khususnya pada
tahun pertama penggunaan, dan beberapa wanita tidak dapat menerima perubahan
pola haid tersebut. Esterogen endogen biasanya normal, dan tidak seperti
kontrasepsi oral esterogen-progestin, progestin tidak secara reguler menyebabkan
endometrial sloughing. Akibatnya, endometrium runtuh pada interval yang tidak
dapat diprediksi. (11)
Implan harus diinsersi dan dicabut pada dengan prosedur pembedahan oleh
petugas yang terlatih. Wanita itu sendiri tidak dapat memulai atau menghentikan
metode ini tanpa bantuan klinisi. Kejadian pencabutan yang rumit adalah sekitar
5% untuk Norplant dan lebih rendah lagi pada Implanon. Kejadian ini dapat
diminimalisasi dengan pelatihan yang baik dan insersi yang hati-hati. Implan
dapat terlihat di bawah kulit. Tanda ini mungkin tidak dapat diterima oleh
beberapa pasangan. (11)
Implan tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual
seperti herpes, HPV, HIV, gonore, atau klamidia. Meskipun penggunanya
biasanya jarang menggunakan kontrasepsi tambahan karena tingginya efikasi
metode ini, akseptor yang memiliki resiko untuk mendapatkan penyakit menular
seksual harus menggunakan kondom sebagai metode tambahan untuk proteksi
terhadap infeksi penyakit menular seksual. (11)
Oleh karena insersi dan pencabutan implan memerlukan prosedur bedah minor,
biaya inisiasi maupun penghentian lebih tinggi jika dibandingkan dengan metode
kontrasepsi oral atau metode barrier. Biaya implan ditambah biaya jasa untuk
insersi dapat terlihat tinggi bagi pasien kecuali jika pasien membandingkan
dengan total biaya metode kontrasepsi lainnya selama 5 tahun. Terlepas dari pada
itu, penggunaan jangka pendek implan lebih mahal jika dibandingkan dengan

21
metode reversibel jangka pendek lainnya, dan kebanyakan wanita mungkin tidak
mengharapkan penggunaan metode jangka panjang dalam durasi penuh. (11)
VII.EFEK SAMPING DAN KOMPLIKASI
Kebanyakan akseptor implan mengalami gangguan pola haid, termasuk haid
memanjang atau tidak teratur atau spotting atau amenore. Komplikasi lainnya
yang didapatkan adalah pertambahan berat badan, sakit kepala, jerawat, kista
ovarium, hiperpigmentasi pada lokasi pemasangan implan, dan perubahan
mood.(5,15)
1. Perdarahan
Perubahan pola perdarahan sering terjadi pada wanita yang menggunakan
kontrasepsi implan. Sebuah studi retrospektif menunjukkan bahwa 25%
wanita tidak melanjutkan penggunaan implan setelah satu tahun
pemakaian, dan 62% di antara alasan berhentinya adalah karena alasan
perubahan pola perdarahan. Namun, perubahan pola perdarahan ini
biasanya hanya terjadi pada tahun pertama pemakaian implan. (10)
2. Perubahan berat badan
Sebuah studi retrospektif menunjukkan bahwa beberapa wanita mengalami
peningkatan berat badan selama menggunakan implan. Peningkatan berat
badan kumulatif dalam 3 tahun penggunaan adalah 2,8% sampai 12,7%.
Perubahan berat badan yang fluktuatif selama usia reproduktif memang
umum terjadi, tetapi tidak ada bukti untuk mendukung hubungan antara
penggunaan implan dan perubahan berat badan. (10)
3. Perubahan mood
Studi non-komparatif telah menunjukkan perubahan mood pada sekitar
10% sampai 11% wanita selama penggunaan implan 3 tahun. Namun,
perubahan mood dalam arti postif maupun negatif tidak didefinisikan. (10)
4. Kehilangan libido
Dilaporkan pada kurang dari 6% akseptor implan progesteron. (10)
5. Jerawat
Dilaporkan bahwa jerawat terjadi atau memberat pada 13% wanita yang
menggunakan implan. (10)
6. Sakit kepala

22
Sebanyak 1% sampai 4% wanita akseptor implan mengeluhkan sakit kepala
selama 3 tahun follow up penggunaan implan. Namun, sakit kepala
merupakan keluhan yang sangat umum sehingga sangat sulit untuk
menentukan bagaimana hubungan antara sakit kepala ini dengan
penggunaan implan. (10)

Efek samping tersebut kebanyakan terjadi akibat pelepasan progestin oleh


implan. Namun, hal ini tidak terjadi sesering pada penggunaan pil. (5)
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain adalah tromboemboli vena,
penurunan densitas tulang, serta kanker payudara. Namun, komplikasi tersebut
sangat jarang terjadi dan belum cukup bukti untuk menjadikan implan sebagai
faktor risiko untuk penyakit-penyakit komplikasi tersebut. (10)

23
DAFTAR PUSTAKA

1. HTA Indonesia. KB pada Periode Menyusui – Hasil Kajian HTA tahun 2009.
Dirjen Bina Pelayanan Medik Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
2010.
2. BKKBN. Adult and Maternal Mortality. In: Indonesia Demographic and
Health Survey 2012. 2013: 212-5
3. World Health Organization. Maternal Mortalitity. 2012. [online] [cited:
March 2nd, 2014] Available from:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs348/en#
4. Pernoll ML. Contraception. In: Benson and Pernoll’s Handbook of Obstetrics
and Gynecology, 10th Ed. New York: Medical Publishing Division. 2001:
727-41.
5. Albar E. Kontrasepsi. In: Wiknjosastro H, editor. Ilmu Kandungan. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2007: 534-72.
6. Bayer Schering Farma. Jadelle Training Manual of Family Planning. 2008:
[online] [cited: January 28th, 2014] Available from:
http://www.k4health.org/toolkits/implans/jadelle-training-manual-family-
planning
7. Meirik O, Fraser IS, d’Arcangues C. Implantable contraceptives for women.
Human Reproduction Update. 2003; 9(1):49-59.
8. Darney PD. Everything you need to know about the contraceptive implants.
Obg Management. Sept 2006: 50-63.
9. Jacobstein R, Stanley H. Contraceptive implants: providing better choice to
meet growing family planning demand. Global Health: Science and Practice.
2013; 1(1). 11-17.
10. Clinical Effectiveness Unit. Progestogen-Only Implants. Faculty of Sexual &
Reproductive Healthcare. 2008.
11. Speroff L, Fritz MA, editors. Long-Acting Methods of Contraception. In:
Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility, 7th Ed. Lippincott
Williams and Wilkins. 2005: 950-61.

24
12. DelConte A. Contraception. In: Curtis MG, Overholt S, Hopkins MP, editors.
Glass’ Office Gynecology, 6th Ed. Lippincott Williams and Wilkins. 2006:
347-61.
13. Merck. IMPLANON™ (etonogestrel implant) -- Reference Guide. 2013.
[online] [cited: January 28th, 2014] Available from:
http://www.k4health.org/toolkits/implans/implanon-reference-guide
14. Bayer HealthCare Pharmaceutical. Jadelle: Contraceptive Implants Up to 5
Years (insertion and removal flipchart). 2013. [online] [cited: January 28th,
2014] Available from: http://www.k4health.org/toolkits/implans/jadelle-
contraceptive-implans-5-years-insertion-and-removal-flipchart
15. Memmel L, Gilliam M. Contraception. In: Gibbs RS, Karlan BY, Haney AF,
Nygaard IE, editors. Danforth’s Obstetrics and Gynecology, 10th Ed.
Lippincott Williams and Wilkins. 2008: 576-7.

25