Anda di halaman 1dari 5

POLA ASUH ORANG TUA TERBAIK program perbaikan makanan bayi dan anak

UNTUK POLA MAKAN DAN (PMBA), tetapi belum maksimal. Konsumsi


KONSUMSI MAKANAN PADA BALITA makanan berpengaruh terhadap status gizi
Heri Bahtiar, Maelina Ariyanti, Aswati seseorang. Status gizi baik atau status gizi
Jl. TGH Ali Batu Lingkar Selatan Kodya optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup
zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, Status
Mataram, E mail: gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami
heribahtiar_76@yahoo.com kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial.
(Almatsier, 2009)
Abstrak Orang tua yang terlalu sibuk dengan
aktivitas mereka masing-masing membuat
Sebanyak 103 anak di Kabupaten Lombok mereka menjadi kurang perhatian terhadap pola
Barat menderita gizi buruk sepanjang 2013 makan anak-anak mereka sehari-hari. Banyak
sebanyak 646 anak. Kabupaten Lombok diantara mereka kurang memperhatikan pola
Barat menempati posisi kedua dari 10 makanan dan waktu makan anak-anak mereka
Kabupaten/Kota di NTB yang terbanyak (Savitri, 2008).
penderita gizi buruk. Hal ini disebabkan Berdasarkan uraian di atas, peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian tentang
oleh penyakit dan pola asuh orang tua yang macam pola asuh orang tua yang terbaik untuk
belum bagus. pola makan dan konsumsi makanan balita di
Metode penelitian; observasional analitik Desa Banyu Urip Kecamatan Gerung Kabupaten
dengan Crossectional disigne. Populasi Lombok Barat.
seluruh rumah tangga yang mempunyai
balita yang ada di Desa Banyu Urip, tekhnik Bahan dan Metode
Simple random sampling, jumlah sampel 81
Penelitian ini merupakan penelitian
balita. Analisa data Spearman Rank.
observasional analitik dengan menggunakan
Hasil Penelitian; Pola asuh orang tua terbanyak
dalam kategori otoriter 47(58%) ,Pola makan
rancangan Cross Sectional. Populasi dalam
balita dalam kategori cukup baik penelitian ini adalah semua rumah tangga
58(71,6%),Konsumsi makanan pada balita yang memiliki balita yang berumur (2-5)
dalam kategori difisit 27(33,3%),Tidak ada tahun di Desa banyu Urip Kabupaten
hubungan pola asuh orang tua dengan pola Lombok Barat yang berjumlah 102 rumah
makan (p=0,095) dan konsumsi makanan balita tangga pada bulan April tahun 2014. Sampel
(p=0,17). dalam penelitian ini adalah sebagian rumah
Kesimpulan; Pola asuh terbaik untuk pola tangga yang memiliki balita yang berumur
makan dan konsumsi makanan bagi balita gizi (2-5) tahun pada bulan April tahun 2014 di
kurang dan Gizi buruk adalah pola asuh otoriter. Desa Banyu Urip Kabupaten Lombok Barat.
Variable independent (bebas) dalam
Kata Kunci: Pola asuh, Pola makan, penelitian ini adalah pola asuh orang tua
Konsumsi makanan, balita Variable dependen dalam penelitian ini
adalah pola makan dan konsumsi energi
Pendahuluan
pada balita. Instrument menggunakan
Status gizi menjadi indikator ketiga
dalam menentukan derajat kesehatan anak di
Kuesioner untuk pola asuh dan pola makan
Indonesia (Hidayat, 2011). Masalah gizi pada dan Lembar terbuka untuk pengukuran
hakekatya adalah masalah kesehatan konsumsi makanan. Penelitian ini akan
masyarakat, namun penanggulanganya tidak dilakukan di Desa Banyu Urip. Penelitian ini
dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan dilakukan pada bulan Juni sampai dengan
pelayanaan kesehatan saja (Supariasa, 2012). Juli 2014. Analisis data menggunakan
Dinas Kesehatan Provinsi NTB merilis Spearman rank.
sebanyak 103 anak di Kabupaten Lombok Barat
menderita gizi buruk sepanjang 2013 (dari Hasil Penelitian
keseluruhan penderita gizi buruk di NTB hingga
Desember 2013 sebanyak 646 anak). Kabupaten Balita yang menjadi responden di Dusun
Lombok Barat menempati posisi kedua dari 10 Pesanggrahan Desa Banyu Urip Kecamatan
Kabupaten/Kota di NTB yang terbanyak Gerung Kabupaten Lombok Barat ini
penderita gizi buruk. Hal ini disebabkan oleh dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin,
penyakit dan pola asuh orang tua yang belum umur, pendidikan bapak, pendidikan ibu,
bagus (Lombok Post, 11 April 2014, Hal 18). pekerjaan bapak dan pekerjaan ibu. Sebagian
Sepanjang tahun 2011 -2013, kejadian Gizi besar balita yang masih berada pada rentang
kurang dan Gizi buruk paling banyak terapat di toddler sebanyak yaitu sebanyak 35 balita
Desa Banyu Urip dengan 27 anak gizi kurang (43,2%) dan yang berada pada rentang usia pra
dan 7 anak gizi buruk di Desa Banyu Urip sekolah sebanyak 46 balita (56,8%). Sebagian
Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat besar pendidikan ibu yaitu SMP sebanyak 28
NTB (Dinkes Lobar 2013). orang (34,6%) dan sebagian kecil SD dan tidak
Salah satu terobosan yang dilakukan sekolah, yaitu masing-masing sebanyak 4 orang
adalah meningkatkan nutrisi anak melalui (4,9%) sebagian besar pekerjaan ibu yaitu IRT
sebanyak 59 orang (72,8%) dan sebagian kecil 4. Hubungan Pola asuh dengan pola makan
yang berprofesi sebagai tani, yaitu sebanyak 2 Sebagian besar balita konsumsi
orang (2,5%). makanan dalam kategori difisit yaitu
sebanyak 27 orang (33,3%), sedangkan
1. Pola asuh orang Tua sebagian kecil memiliki tingkat
konsumsi sedang sebanyak 17 orang
Sebagian besar orang tua mempunyai pola asuh (21%).Tidak ada hubungan pola asuh
otoriter sebanyak 47 responden (58%) dan dengan pla makan balita. Lebih jelasnya
paling sedikit mempunyai pola asuh Permisif dapat dilihat pada tabel 4.
sebanyak 3 responden (3,7%), lebih jelasnya Tabel 4. Hubungan Pola asuh dengan
dapat dilihat pada tabel 1 pola makan balita di Desa banyu Urip
Tabel 1 Distribusi frekuensi pola asuh orang tua
balita di Desa Banyu Urip Kecamatan Gerung Pola makan
Pola Asuh
Kabupaten Lombok Barat Kurang Cukup Baik n
Otoriter 7 33 7 47
Demokratis 3 23 5 31
No Pola asuh Frekuensi % Permisif 0 2 1 3
1 Otoriter 47 58 10 58 13 81
2 Demokratis 31 38,3 Spearman-
P=0,095
3 Permisif 3 3,7 rank
Jumlah 81 100
5. Hubungan pola asuh dengan Konsumsi
makanan
2. Pola makan Orang tua yang mempunyai pola asuh
otoriter sebagian besar memiliki balita
Sebagian besar mempunyai pola asuh cukup
yang tingkat konsumsi makanan dalam
baik sebanyak 58 responden (71,6%) dan paling
kategori difisit, atau balita yang difisit
sedikit mempunyai pola makan kurang sebanyak
konsumsi makanan lebih banyak
10 responden (12,3%). Lebih jelasnya pada
terdapat pada orang tua yang
dilihat pada tabel 2.
mempunyai pola asuh otoriter. Tidak
Tabel 2 Distribusi frekuensi pola makan balita
terdapat hubungan yang berpola positif
di Desa Banyu Urip Kecamatan Gerung
antara pola asuh dengan konsumsi
Kabupaten Lombok Barat
makanan. Lebih jelasnya dapat dilihat
pada tabel 5.
No Pola makan Frekuensi % Tabel 5. Hubungan pola asuh dengan
konsumsi makanan
1 Kurang 10 12,3
Konsumsi Makanan
2 Cukup 58 71,6 Pola
No Difi Kura Sed Bai
Asuh n
sit ng ang k
3 Baik 13 16
1 Otoriter 19 10 8 10 47
Jumlah 81 100 Demok
2 8 7 8 8 31
ratis
Permisi
3 0 1 1 1 3
f
3. Konsumsi makanan Total 27 18 17 19 81
Sebagian besar mempunyai pola asuh cukup
Uji
baik sebanyak 58 responden (71,6%) dan
paling sedikit mempunyai pola makan
Spearman p value = 0,170
kurang sebanyak 10 responden (12,3%). Rank
Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3 Distribusi frekuensi konsumsi
Pembahasan
makanan balita di Desa Banyu Urip
1. Pola asuh orang tua
Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok
Sebagian besar orang tua mempunyai
Barat
pola asuh otoriter sebanyak 47
responden (58%) dan paling sedikit
Konsumsi
No N % mempunyai pola asuh Permisif
makanan sebanyak 3 responden (3,7%). Pola asuh
1 Defisit 27 33,3 merupakan sikap orang tua dalam
2 Kurang 18 22,2 berinteraksi dengan anak-anaknya.
3 Sedang 17 21 Sikap tersebut meliputi cara orang tua
memberikan aturan-aturan, memberikan
perhatian. Pola asuh sebagai suatu
perlakuan orang tua dalam rangka
memenuhi kebutuhan, memberi
perlindungan dan mendidik anak dalam yaitu memberikan makanan yang
kesehariannya. Sedangkan pengertian diinginkan anak agar tenang tanpa
pola asuh orang tua terhadap anak mempedulikan kandungan gizi dari
merupakan bentuk interaksi antara anak makanan tersebut (Anwar, 2007). Masa
dan orang tua selama mengadakan balita adalah masa pertumbuhan dan
pengasuhan yang berarti orang tua perkembangan yang pesat, untuk itu
mendidik, membimbing dan melindungi kebutuhan akan zat gizi yang tinggi
anak (Gunarsa, 2002). harus terpenuhi. Masa balita juga
Faktor lain yang berperan dalam merupakan masa yang rentan
pengasuhan orang tua adalah pekerjaan mengalami masalah gizi manfaat zat gizi
orang tua. Data yang didapatkan bagi balita: 1.) untuk proses
menunjukkan bahwa orang tua balita pertumbuhan dan perkembangan yang
memiliki pekerjaan yang beragam dan optimal 2.) memelihara kesehatan dan
jenis pekerjaan yang paling banyak pada memulihkan kesehatan bila sakit 3.)
orang tua balita adalah IRT. Hal ini melaksanaakan berbagai aktivitas 4.)
diperkuat oleh pernyataan Supartini mendidik kebiasaan yang baik dengan
(2004), mengatakan bahwa pekerjaan menyukai makanan yang mengandung
orang tua merupakan sumber gizi yang di perlukan oleh tubuh
penghasilan bagi keluarga yang dapat (Lailiyana, 2010).
memenuhi kebutuhan fisik, psikologis 3. Konsumsi makanan
dan spiritual. Jika orang tua memiliki Sebagian besar balita konsumsi
pekerjaan yang mapan maka makanan dalam kategori difisit yaitu
kesejahteraan keluarga juga meningkat sebanyak 27 orang (33,3%), sedangkan
dan peran pengasuhan pun dapat sebagian kecil memiliki tingkat
terlaksana dengan baik. Keluarga konsumsi sedang sebanyak 17 orang
(Orang Tua) adalah lingkungan pertama (21%). Karbohidrat merupakan salah
dan utama dalam kehidupan seorang satu makanan penghasil energi, seperti
anak. Dimana hal ini akan menjadi dasar padi-padian atau serealia seperti beras,
perkembangan anak berikutnya. jagung, dan gandum; umbi-umbian
Karenanya dibutuhkan pola asuh yang seperti ubi, singkong dan talas; serta
tepat agar anak tumbuh dan berkembang hasil olahannya seperti tepung-
optimal. Citra diri senantiasa terkait tepungan, mie, bihun, makaroni, roti,
dengan proses tumbuh kembang anak dan havermuot. Berdasarkan angka
berdasarkan pola asuh dalam kecukupan gizi (AKG), konsumsi energi
membesarkannya (Daryati R,2009). pada anak usia 1-3 tahun sebanyak 1000
Anak balita umumnya menyukai kkal, sedangkan untuk anak usi 4-5
makanan yang padat energi. Orang tua tahun sebanyak 1550 kkal. Protein
sering kecewa karena anak lebih suka merupakan salah satu zat gizi makro
makanan yang disukai daripada yang berfungsi sebagai zat pembangun
makanan yang lebih bergizi. Jika ibu dan energi. Angka kecukupan gizi untuk
sudah merasa bosan dengan kesulitan konsumsi protein anak usia 1-3 tahun
makan anak, maka orang tua akan sebanyak 25 gram dan 4-5 tahun
bersikap acuh tak acuh dalam mengurus sebanyak 39 gram. Konsumsi makanan
makanan yang harus diberikan untuk yang beranekaragam, akan menghindari
anak dalam memenuhi kebutuhan gizi terjadinya kekurangan zat gizi, karena
anak. Berbeda dengan orang tua yang susunan zat gizi pada makanan saling
bersikap otoriter atau demokratis, orang melengkapi antara satu jenis dengan
tua akan selalu memaksakan anak untuk jenis lainnya, sehingga diperoleh
selalu mengkonsumsi makanan yang masukan zat gizi seimbang (Depkes RI,
penting untuk pertumbuhan dan 2003). Anak usia 1-5 tahun dapat pula
perkembangan anak. Karena usia dikatakan mulai disapih atau selepas
sekolah merupakan masa dimana anak menyusu sampai pra sekolah. Sesuai
mengalami pertumbuhan dan dengan pertumbuhan badan dan
perkembangan yang sangat pesat. perkembangan kecerdasannya, faal
2. Pola Makan balita tubuhnya juga mengalami
Sebagian besar mempunyai pola asuh perkembangan sehingga jenis makanan
cukup baik sebanyak 58 responden dan cara pemberiannya pun harus
(71,6%) dan paling sedikit mempunyai disesuaikan dengan keadaannya.
pola makan kurang sebanyak 10 (Proverawati,dkk. 2009)
responden (12,3%). Anak-anak 4. Hubungan pola asuh dengan pola makan
mempunyai pola makan yang unik dari Orang tua yang mempunyai pola asuh
segi jenis, waktu dan selera. Keunikan otoriter lebih banyak mempunyai balita
ini terkadang membuat pengasuh dengan pola makan cukup baik atau
kelabakan. Para pengasuh sering Balita yang pola makannya cukup baik
menyerah menghadapi anak yang sulit lebih banyak mempunyai orang tua
makan tanpa berusaha mencari tahu dengan pola asuh otoriter. Hasil uji
penyebab anak tersebut sulit makan. statistik antara pola asuh dengan pola
Jalan pintas pun kadang menjadi pilihan makan diperoleh nilai tingkat signifikan
(p) =0,095. Dengan demikian p>0,05 gizi anak, meskipun anak tersebut
yang berarti H0 diterima, sehingga dapat berasal dari keluarga miskin. Hal ini
disimpulkan bahwa tidak terdapat sesuai dengan yang pendapat Moehji,
hubungan yang berpola positif antara bahwa gangguan gizi tidak hanya
pola asuh orang tua dengan pola makan ditemukan pada keluarga berpenghasilan
balita.Pola pemberian makan anak perlu kurang akan tetapi juga pada keluarga
dilakukan secara tepat karena kondisi yang berpenghasilan relatif baik
anak berbeda dengan orang dewasa. (cukup). Saat menginjak usia 1 tahun,
Anak anak merupakan sosok manusia balita cenderung susah makan dan
yang sedang mengalami perubahan dan mengkonsumsi makanan dalam porsi
perkembangan yang paling pesat dalam kecil. Menurut almatsier, dkk (2011),
kehidupanya, yaitu perkembangan balita cenderung memiliki frekuensi
kematangan system pencernanan, makan lebih dari tiga kali sehari, hal ini
kematangan organ-organ tubuh, otak, dikarenakan ukuran perut balita yang
dan jiwa. Hal yang perlu diperhatikan kecil, sehingga memberi makan lima
tidak hanya menyangkut pemenuhan hingga enam kali sehari lebih baik dari
jumlah gizi yang tepat, tetapi juga pada tiga kali sehari, namun frekuensi
bentuk fisik ( tekstur) makanan dan cara makan ini kelihatannya tidak
pemberianya (Widodo, 2010). Apabila berhubungan dengan asupan zat gizi.
konsumsi makanan sehari-hari kurang Anak biasanya menolak makanan
beranekaragam, akan timbul dengan porsi besar, lebih baik makanan
ketidakseimbangan antara asupan dan diberikan dalam porsi kecil yang
kebutuhan zat gizi yang diperlukan kemudian ditambah jika anak
untuk hidup sehat dan produktif. menginginkan. Menurut Almatsier, dkk.
Dengan mengkonsumsi makanan sehari- (2011), Orang tua sering khawatir
hari yang beraneka ragam, kekurangan tentang penolakan anak terhadap
zat gizi pada jenis makanan yang satu makanan bergizi, atau untuk
akan dilengkapi oleh keungulan zat gizi menentukan batasan tentang asupan
pada jenis makanan lain sehingga makanan, atau tentang tingkah laku anak
diperoleh asupan gizi yang seimbang. terhadap makanan. Bila anak tumbuh
Jadi untuk mencapai asupan zat gizi dengan baik, asupan zat gizi tercukupi,
yang seimbang, tidak mungkin akan maka kekhawatiran orang tua akan
terpenuhi oleh satu jenis bahan berkurang, namun sebaliknya, jika
makanan, melaingkan harus terdiri dari asupan makanan memang tidak
aneka ragam bahan makanan (Banudi, memenuhi kebutuhan zat gizi, orang tua
2013). perlu mencari cara untuk meningkatkan
5. Hubungan pola asuh dengan konsumsi nafsu makan anak. Hindarkan
makanan pemberian makanan bila anak tidak
Orang tua yang mempunyai pola asuh terlalu lapar dan berikan perhatian saat
otoriter sebagian besar memiliki balita anak makan, berikan pujian saat anak
yang tingkat konsumsi makanan dalam menghabiskan porsi makanannya.
kategori difisit, tapi sebagian besar juga Nafsu makan anak tidak menentu dan
balita terdapat konsumsi makanan tidak bisa diduga. Anak dapat makan
kategori baik dan cukup banyak terdapat dengan lahap pada suatu waktu, tetapi
pada orang tua yang mempunyai pola menolaknya pada waktu makan
asuh otoriter. Hasil uji statistik antara berikutnya. Makan malam umumnya
pola asuh dengan konsumsi makanan paling banyak ditolak anak yang paling
diperoleh nilai signifikan (p) =0,170. dikhawatirkan orang tua. Hal ini dapat
Dengan demikian p>0,05 yang berarti terjadi karena anak yang sudah makan
H0 diterima (ditolak), sehingga dapat dua kali dan beberapa snack telah
disimpulkan bahwa tidak terdapat memperoleh kebutuhan energi dan zat
hubungan yang berpola positif antara gizinya sebelum waktu makan malam.
pola asuh dengan konsumsi makanan. Pemberian makan dan snack harus
Menurut Moehji (2013), hal yang sering diatur waktunya untuk menjaga nafsu
menyebabkan terjadinya gangguan gizi makan. Meningkatnya konsumsi
pada balita adalah tidak sesuainya makanan manis dan tinggi-lemak yang
jumlah zat gizi yang mereka peroleh disertai menurunnya kativitas fisik,
dari makanan dengan kebutuhan tubuh dapat menyebabkan gangguan gizi pada
mereka. Selain itu kesukaan yang anak seperti obesitas. (Almatsier, dkk.
berlebihan serta prasangka buruk 2011).
terhadap jenis makanan tertentu
menyebabkan asupan zat gizi pada balita Kesimpulan dan Saran
berkurang sehingga konsumsi energi Pola asuh orang tua dalam kategori
dan perotein pada balita tidak tercukupi otoriter, Pola makan balita dalam
meskipun makanan yang dikonsumsi kategori cukup baik, Konsumsi makanan
balita bervariasi. Menurut Klemesu et al. pada balita dalam kategori difisit, Tidak
(2000), Praktek pengasuhan merupakan ada hubungan pola asuh orang tua
determinan yang cukup kuat bagi status dengan pola makan, Tidak ada
hubungan pola asuh orang tua dengan works.asp?id=ow3. Tanggal
konsumsi makanan balita, Pola asuh 17 April 2014 jam 16.00
orang tua terbaik untuk pola makan dan wita.
konsumsi balita gizi kurang adalah Pola
asuh otoriter. Gizi kurang dan gizi buruk
pada balita dapat diatasi apabila Pola
asuh orang tua dalam mengatur pola
makan dan konsumsi makanan (energi
protein) balita harus menggunakan pola
asuh otoriter.

Kepustakaan
Almatsier, Sunita. (2009). Prinsip
Dasar Ilmu Gizi. Gramedia
Pustaka Utama: Jakarta
Almatsier, Sunita, S. Soetardjo, dan
M. Soekarti. (2011). Gizi
Seimbang dalam Daur
Kehidupan. PT Gramedia
Pustaka Utama: Jakarta
Arisman, MB. (2010) Gizi Dalam
Daur Kehidupan. Jakarta:
EGC.
Banudi,La. 2013. Gizi kesehatan
reproduksi. Jakrta: EGC.
Dinas Kesehatan Lombok barat
(2013). Profil Kesehatan
kabupaten Lombok barat.
Dinkes Lobar
Dinas Kesehatan Provinsi Nusa
Tenggara Barat. (2013).
Profil Kesehatan Provinsi
Nusa Tenggara Barat Tahun
2012. Mataram
Lombok Post (2014). Prenderita gizi
buruk sampai 103 orang.
Terbitan hari jumat tanggal
11 April 2014 Halaman 18
Ningsih, Soetdjoningsih, 2001.
Tumbuh Kembang Anak,
Bandung; Penerbit Buku
Kedokteran egc.
Suparisa, dkk. (2012) Penilaian
Status Gizi. Jakarta: EGC
Sulistyoningsih, H. (2012). Gizi
Untuk Kesehatan Ibu dan
Anak. Graha Ilmu:
Yogyakarta
Sayogo,Savitri.2008. Kebutuhan
Nutrisi dan Tumbuh
Kembang Anak, Jakarta :
Rineka Cipta
Theresia, (2009). Bimbingan Bagi
Orang Tua Dalam
Penerapan Pola Asuh Untuk
Meningkatkan Kematangan
Sosial Anak.
http://childrenclinic.wordpres
s.com diakses pada tanggal
18 April 2014. jam 02.09
WHO, (2011). Kesehatan Keluarga
dan Masyarakat.
http://www.who.or.id/ind/our