Anda di halaman 1dari 9

NASKAH JURNAL

PEMANTAUAN TERAPI OBAT PADA PASIEN PENYAKIT VERTIGO DAN


DISPLIDEMIA
DI RUMAH SAKIT OMNI PULOMAS JAKARTA TIMUR
PERIODE MEI - JUNI TAHUN 2017

Disusun oleh
Dias Rifka Arifta Suhud, S.Farm
1643700114

PROGRAM STUDI APOTEKER FAKULTAS FARMASI


UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA
2017

Mengetahui
Pembimbing

Rangki Astiani, M. Farm., Apt


PERNYATAAN
PUBLIKASI NASKAH JURNAL

Dengan ini saya selaku pembimbing skripsi mahasiswa Program Studi Ilmu Farmasi.

Nama : Dias Rifka Arifta Suhud

NPM : 1643700114

Program Studi : Apoteker

Fakultas : Farmasi

Setuju / Tidak setuju naskah jurnal (calon naskah jurnal berkala program sarjana) yang
disusun oleh mahasiswa yang bersangkutan dipublikasi dengan tanpa mencantumkan
nama pembimbing dengan nama pembimbing sebagai co aoutor.

Demikian, harap maklum


Jakarta, 25 September 2017

Pembimbing

Rangki Astiani, M. Farm., Apt


Utama
PEMANTAUAN TERAPI OBAT PADA PASIEN PENYAKIT VERTIGO DAN
DISPLIDEMIA DI RUMAH SAKIT OMNI PULOMAS JAKARTA TIMUR

MONITORING OF MEDICINE THERAPY ON PATIENTS OF VERTIGO AND


DISPLIDEMIA DISEASES IN HOSPITAL OMNI PULOMAS JAKARTA EAST

DIAS RIFKA ARIFTA SUHUD

1643700114

Emai: rifkaarifta@yahoo.com

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945


JAKARTA

PHARMACY PROFESSIONAL STUDY PROGRAM UNIVERSITY OF 17


AGUSTUS 1945

Abstrak

Terdapat sekitar 80-100 penyakit yang bisa menimbulkan keluhan vertigo. Penyebab
utama terjadinya vertigo adalah gangguan keseimbangan. Di tubuh kita, keseimbangan
diatur di beberapa tempat. Sistem ini ada yang terletak di perifer (tepi) dan ada yang
terletak sentral (pusat). Vertigo merupakan subtipe dari “dizziness” (pusing) yang
secara definitif merupakan ilusi gerakan, dan yang paling sering adalah perasaan atau
sensasi tubuh yang berputar terhadap lingkungan atau sebaliknya, lingkungan sekitar
kita rasakan berputar, Sebagian besar (hampir 50%) diketahui sebagai “paroxysmal
vertigo” yang disertai dengan gejala-gejala migren (pucat, mual, fonofobia, dan
fotofobia). Tujuan pengobatan vertigo, selain kausal (jika ditemukan penyebabnya),
ialah untuk memperbaiki ketidakseimbangan vestibular melalui modulasi transmisi
saraf, umumnya digunakan obat yang bersifat antikolinergik. Obat-obatan yang
digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler). Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui dan menilai ketepatan pengobatan yang diterima pasien dan
untuk mengetahui apakah terjadi DRP (Drug Related Problem). Metode penelitian ini
adalah Metode pengambilan sampel terhadap 1 pasien secara prespektif (maju).
Kata kunci : Vertigo

Abstract

There are about 80-100 diseases that can cause vertigo complaints. The main cause of
vertigo is a balance disorder. In our body, the balance is arranged in several places. This
system is located on peripheral (edge) and there is located central (center). Vertigo is a
subtype of dizziness that is definitively an illusion of movement, and most often is the
feeling or sensation of the body that revolves around the environment or vice versa, our
surroundings feel spinning, most (almost 50%) are known as "paroxysmal vertigo
"accompanied by migraine symptoms (pallor, nausea, phonophobia, and photophobia).
The purpose of vertigo treatment, other than causal (if found cause), is to correct
vestibular imbalance through nerve transmission modulation, commonly used
anticholinergic drugs. Drugs used in vertigo symptomatic therapy (vestibular sedative).

The purpose of this study is to identify and assess the accuracy of the patient receiving
treatment and to determine whether there DRP (Drug Related Problem). This research
method is a method of sampling to the patient progressively.

Keywords: Vertigo
Pendahuluan
Vertigo ialah adanya sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh seperti pusing
tanpa sensasi peputaran yang sebenarnya, atau badan yang berputar, termasuk mual,
muntah, dan diaforesis Keluhan yang paling sering dijumpai dalam praktek. Vertigo
harus dibedakan dari jenis lain pusing, seperti ketidakseimbangan (Dysequilibrium) dan
ringan (Presinkop). Sebagian besar kasus vertigo dapat didiagnosis secara klinis dan
dikelola di pengaturan perawatan primer (American Family Physician,2005)
Riwayat kesehatan merupakan data awal yang paling penting untuk menilai
keluhan pusing ataupun vertigo. Adanya kondisi dan gejala-gejala neurologis perlu
diperhatikan, misalnya apakah ada gangguan (hilangnya) pendengaran, perasaan penuh,
perasaan tertekan, ataupun berdenging di dalam telinga. Jika terdapat keluhan tinitus,
apakah hal tersebut terjadi terus-menerus, intermiten, atau pulsatif. Apakah ada gejala-
gejala gangguan batang otak atau kortikal (misalnya, nyeri kepala, gangguan visual,
kejang, hilang kesadaran). Pada serangan vertigo yang berlangsung beberapa hari
sampai beberapa minggu, neuronitis vestibular merupakan kelainan yang paling sering
dan ditandai dengan gejala berupa vertigo, nausea, muntah, timbul mendadak. Gejala ini
dapat berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu. (Kalbemed, 2012).
Etiologi vertigo adalah abnormalitas dari organorgan vestibuler, visual, ataupun
sistem propioseptif. Labirin (organ untuk ekuilibrium) terdiri atas 3 kanalis
semisirkularis, yang berhubungan dengan rangsangan akselerasi angular, serta utrikulus
dan sakulus, yang berkaitan dengan rangsangan gravitasi dan akselerasi vertikal.
Rangsangan berjalan melalui nervus vestibularis menuju nukleus vestibularis di batang
otak, lalu menuju fasikulus medialis (bagian kranial muskulus okulomotorius),
kemudian meninggalkan traktus vestibulospinalis (rangsangan eksitasi terhadap otot-
otot ekstensor kepala, ekstremitas, dan punggung untuk mempertahankan posisi tegak
tubuh). Selanjutnya, serebelum menerima impuls aferen dan berfungsi sebagai pusat
untuk integrasi antara respons okulovestibuler dan postur tubuh. Vertigo sendiri
mungkin merupakan gangguan yang disebabkan oleh penyakit vestibuler perifer
ataupun disfungsi sentral oleh karenanya secara umum vertigo dibedakan menjadi vertio
perifer dan vertigo sentral.
Saluran vestibular adalah salah satu organ bagian dalam telinga yang senantiasa
mengirimkan informasi tentang posisi tubuh ke otak untuk menjaga keseimbangan.
Vertigo perifer terjadi jika terdapat gangguan disaluran yang disebut kanalis
semisirkularis, yaitu telinga bagian tengah yang bertugas mengontrol keseimbangan
(kalbemed, 2012).

Deskripsi Kasus

Pasien dengan nama Tn. AH umur 33 tahun masuk rumah sakit pada 22 Mei 2017
dengan keluhan Pasien mengeluh pusing terasa berputar, mual, muntah, kurang lebih 3
minggu. Pasien juga memiliki riwayat penyakit Displidemia. Oleh dokter pasien
didiagnosa menderita penyakit Vertigo dan Dislipidemia. Pemeriksaan vital pada
tanggal 22 Mei TD: 110/90 mmHg, nadi : 80x/menit, suhu : 37 oC, pernapasan
20x/menit. Tanggal 23 Mei TD : 110/90 mmHg, nadi : 80x/menit, suhu 37 oC,
pernapasan 18x/menit. Tanggal 24 Mei TD: 110/80 mmHg, nadi : 95x/menit, suhu :
36,2 oC, pernapasan 18x/menit. Tanggal 25 Mei TD: 110/90 mmHg, nadi : 80x/menit,
suhu : 37 oC, pernapasan 18x/menit. Tanggal 26 Mei TD: 120/80 mmHg, nadi :
80x/menit, suhu : 36,6 oC, pernapasan 21x/menit. Tanggal 27 Mei TD: 110/90 mmHg,
nadi : 80x/menit, suhu : 36,6 oC, pernapasan 20x/menit.

Hasil Laboratorium
Tanggal 23 Mei 2017 Leukosit: 10 mi, Eritrosit: 4,65 juta/ µL, Hb: 13,8 g/dL,
Hematokrit: 41%, Trombosit: 294.000/ µL, GDS: 89, GDPP: 127, Basofil: 0, Eosinofil:
2, Neutrofil batang: 0%, Neutrofil segmen: 48%, Kolesterol total: 240, Trigliserida:
267, Limfosit: 39, dan Monosit: 6

Diskusi dan Pembahasan


Pemantauan terapi obat merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan untuk
memastikan terapi obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien. Kegiatan tersebut
mencakup: pengkajian pilihan obat, dosis, cara pemberian obat, respons terapi, reaksi
obat yang tidak dikehendaki (ROTD),)dan rekomendasi perubahan atau alternatif terapi.
Pemantauan terapi obat (PTO) dilakukan di Rumah Sakit OMNI PULOMAS
terhadap Pasien dengan nama Tn. AH berusia 33 tahun, pasien masuk rumah sakit pada
tanggal 22/5/2017 dengan keluhan pusig terasa berputar, mual dan muntah yang sudah
terjadi sekitar 3 minggu sebelum masuk rumah sakit, pasien masuk rumas skit dalam
keaadaan sadar.
Diagnosa awal pada kasus ini yakni menderita gejala penyakit vertigo atau
dizzing (pusing) yang dapat menyebabkan mual, muntah dan lemas yang disebabkan
adanya gangguan ketidakseimbangan di bagian cerebral. Pemeriksaan umum dilakukan
saat pasien masuk rumah sakit pada tanggal 22/5/2017, TD 110/90 MmHg, Suhu 370C
normal, Nadi 80 normal, nafas 20x/menit normal. Agar menunjang hasil diagnosa
dilakukan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan HB: 13.8, Leukosit: 10000,
Trombosit: 295, Eritrosit: 4.65, berada dalam keadaan normal dan diperoleh juga hasil
laboratorium yang tidak normal yaitu kolesterol total 240 mg/dL dan trigliserida 267
mg/dL mengalami peningkatan yang signifikan dipengaruhi oleh penyakit displidemia
yang diderita pasien sebelum masuk rumah sakit.
Pada kasus ini pasien diberikan pengobatan pada tanggal 22/5/2017 dengan
pemberian merislon 3 x 1 sebagai obat vertigo dan pusing namun penggunaannya harus
pada dosis yang sesuai karena dapat menyebabkan efek samping mual dan muntah
disarankan untuk diminum bersama dengan makan, ketentuan dosis yang diberikan
adalah 1 tablet (12mg) 3x/hari. Sedangkan gratizin diberikan 2 x 1 sehari dengan dosis
10 mg. Pemberiaan gratizin ini sebagai pengobatan yang digunakan untuk mencegah
serangan mingren serta gangguan organ keseimbangan di telinga, dan gangguan
pembuluh darah di seluruh tubuh yang bisa menyebabkan munculnya gejala vertigo,
pusing dan gangguan bagian saraf (Mims,2016).
Terapi pemberian zaldiar hanya digunakan pada tanggal 25/05/2017 dikarenakan
Tn. AH mengeluhkan rasa sakit skala sedang. Hal ini sesuai dengan tujuan pengobatan
terapi zaldiar yakni sebagai pengobatan nyerieri akut dan kronik sedang hingga berat,
pemeriksaan diagnostik atau terapeutik yang menyakitkan. Dosis yang digunakan sesuai
literatur yaitu dewasa >16 tahun 3-4 tab/hari (MIMS,2016).
Pada saat pemeriksaan terapi obat pada kasus ini ditemukan DRP (Drug Related
Problem). DRP adalah permasalahan yang sering muncul dalam pengobatan pasien
sehingga terapi yang didapatkan tidak optimal. Pada kasus ini, ada DRP yakni
penggunaan dosis obat terlalu kecil. Penggunaan obat hipofil 300mg 2x/hari sebagai
terapi displidemia. Penggunaan rentang dosis hipofil yakni 900-1200mg dalam dosis
terbagi sehingga untuk pengobatan kasus ini sehari hanya 600mg/hari (tidak mencapai
dosis minimum) sehingga diperlukan penambahan dosis dengan cara menaikkan terapi
menjadi 2x 2 capsul/hari untuk dapat memaksimalkan pengobatan.
Setelah melihat dan mengkaji data Tn AH maka terapi yang diberikan sebagian
sudah sesuai dengan indikasi dan keluhan serta berdasarkan data klinik laboratorium,
namun pemberian terapi beberapa obat harus dimonitoring dan diatur range
pemberiannya karena terjadi interaksi yang merupakan DRP (drug related problem)
yaitu:
 C3.1 Dosis Obat Terlalu Rendah
Berdasarkan BNF, 2015:
Pemberian Hipofil pada resep 300mg 2x1/hari sedangkan dosis Hipofil
(Gemfibrozil 900-1500mg/hari dibagi dalam 2 dosis terbagi) sehingga pemberian
dosisnya terlalu rendah. Sehingga dosis perlu dinaikkan menjadi 2 capsul 2x/hari

Asuhan Kefarmasian
1. Pemantauan Terapi Obat Pasien
a. Melakukan visite ke pasien untuk mngetahui kondisi pasien sehubungan
dengan penentuan/pemastian terapi obat pasien
b. Pemberian konseling tentang obat yang akan dibawa pulang kepada pasien
konseling pengobatan pasien
2. Konseling Pengobatan Pasien
a. Memberikan informasi pada pasien bahwa sebaiknya ada beberapa obat yang
diminum bersamaan dengan makan.
b. Sebaiknya pada saat minum obat yang diresepkan oleh dokter, pasien tidak
boleh minum obat lain, kecuali sesuai dengan persetujuan dokter.
c. Menjaga pola makan dan waktu makan dengan benar
d. Sebaiknya pasien tidak minum jus buah bersamaan dengan minum obat.
e. Sebaiknya pada saat mengkonsumsi obat yang diresepkan oleh dokter,
pasien tidak mengkonsumsi obat lain.
f. Tidak merokok dan minum alkohol

Kesimpulan
Pada kasus ini pasien didiagnosa mengalami vertigo, sebelumnya pasien diketahui
memiliki riwayat penyakit displidemia, dari hasil diagnosa sesuai dengan keluhan yang
pasien alami yaitu mengalami pusing/ nyeri kepala hebat, mual dan muntah. Dan selama
pemantauan terapi ditemukan adanya DRP pada kasus ini yaitu pengobatan hipofil yang
tidak mencapai dosis terapi sehinngga efeknya tidak optimal.

Daftar Pustaka

BNF Ed 70th,2015.British National Formulary.BMJ Group and RPS Publising.UK


Drug list. https://www.drugs.com/interactions-check.php?drug_list

Dr. Handrawan Nadesul 2011. Menyayangi otak, Menjaga Kebugaran, Penyakit,


Memilih Makanan. Penerbit buku kompas, mei 2011.

Ji soom kid an David. Benign Paroxysmal Positional Vertigo. N Engl J Med 2014;
370:1138-114

Grill E, Muller M, Brandt M. Vertigo and dizziness: challenges for epidemiological


research. OA Epidemiology. 2013;

Kalbemed, 2012. Vertigo. Kupiya Timbul Wahyudi. CDK-198/ vol. 39 no. 10, th. 2012.
http://www.kalbemed.com/Portals/6/06_198Vertigo.pdf

Medscape.com.drugsinteractionhecker.http://www.madscape.com/pharmacist.
drugs_interaction.html

MIMSINDONESIA2016.http://www.mims.com/indonesia/drug/info.

Purnama, Feby. 2012. Vertigo: Anamnesis, Pemeriksaan, Terapi. Online :


http://febypurnama-tentorium.blogspot.co.id/2012/10/vertigo-anamnesis-
pemeriksaan-fisik.html.

PCNE classification scheme for dug related problems. V5.01. 2006

RANDY SWARTZ, M.D. Treatment of Vertigo. American Academy of Family


Physicians. March 15, 2005 . Volume 71, Number 6

Wreksoatmojo BR. Vertigo-Aspek Neurologi. [online] 2009 [cited 2009 May30th].


Available from : URL:http://www.google.com/vertigo/cermin dunia kedokteran
.html