Anda di halaman 1dari 34

PENYUSUNAN PPAB

OBSTETRI GINEKOLOGI

1
LATAR BELAKANG

ANTIBIOTIK 30-80% ANTIBIOTIK

ANTIBIOTIK ANTIBIOTIK

ANTIBIOTIK
2
PROBLEM

3
LATAR BELAKANG

• RS tidak memiliki standar tetapi sudah


memberikan pelayanan
• Banyaknya variasi pelayanan  klinisi dominan
• Masyarakat memerlukan jaminan pelayanan
• Sulit melakukan evaluasi pelayanan
• Sulit analisis apabila terjadi penyimpangan
pelayanan

4
PPAB
• Kumpulan pernyataan sistimatis yg dirancang bagi klinisi utk mengambil
keputusan yg tepat bagi perawatan pasien pada situasi klinik yg spesifik:
AB utk kasus penyakit infeksi
(Field MJ, Institute of Medicine, National Academy Press, Wash. DC. 1990)

• Instrumen sistimatis utk membantu klinisi membuat keputusan tepat bagi


penanganan masalah kesehatan yg spesifik
(Agency for Quality in Medicine ( joint Institution of German Medical Association and
Association the Statutory Health Insurance Physician.1999)

• Spesifik penggunaan AB  Pedoman Penggunaan AB (PPAB)


• Digunakan setelah pasien lolos kriteria seleksi ada tidaknya indikasi
pemberian AB

5
KEBIJAKAN ANTIBIOTIK
(PERMENKES 8/2015 HAL 13-15)
Kebijakan Umum
a. Penanganan kasus infeksi multidisiplin.
b. AB terapi meliputi :
– Empiris  kasus infeksi/ diduga infeksi yg belum diketahui
bakteri causa & pola kepekaannya.
– Definitif  kasus infeksi yg sudah diketahui jenis bakteri
penyebab & pola kepekaannya.
c. AB profilaksis bedah  pre, durante & paling lama 24 jam
pascaoperasi pd operasi bersih & bersih terkontaminasi sesuai
ketentuan yang berlaku.
d. Operasi terkontaminasi & kotor tidak perlu AB profilaksis, tetapi
diberikan AB terapi empirik
6
KEBIJAKAN ANTIBIOTIK
(PERMENKES 8/2015 HAL 13-15)
• Pernyataan kebijakan umum dari RS terkait penggunaan AB
• Pernyataan kebijakan pengendalian resistensi antimikroba di RS
Misalnya :
 Penggunaan AB diatur, diawasi & dikendalikan oleh Direktur RS melalui
Tim/Komisi PPRA
 Setiap KSM memiliki Pedoman Seleksi Pemberian AB utk membantu
membedakan kasus-kasus yg membutuhkan & tdk membutuhkan AB 
sesuai Pilot Project
 Setiap KSM memiliki Pedoman Penggunaan AB (PPAB) untuk memandu
agar pasien yg membutuhkan AB diberikan AB dgn bijak
 Setiap pemberian AB empirik harus didahului pengambilan spesimen
kultur dgn specimen handling yg benar
 AB profilaksis bedah diberikan sesaat sebelum operasi, dpt diulang
sampai maksimal 24 jam pasca operasi
7
KEBIJAKAN ANTIBIOTIK (ANTIBIOTIC POLICY)

• Restriksi AB :
 Lini 1 : Jenis …… Boleh diresepkan dokter umum, PPDS, Sp1, Sp2
 Lini 2 : Jenis …… Boleh diresepkan Sp1, Sp2
 Lini 3 : Jenis …… Boleh diresepkan dgn persetujuan Sp2 Infeksi/ Tim PRA
• Laboratorium Mikrobiologi Klinik berkewajiban :
 Mengirimkan preliminary report dalam 24 jam
 Mengirimkan final report dalam 3-5 hari (kultur darah, LCS, cairan steril)
dan 2-3 hari (urin, feses, pus)
 Melakukan konsultasi klinik & memastikan turnaround time
• AB generasi mutakhir (meropenem, ceftazidim, cefepim, vankomisin,
linezolid) digunakan hanya utk isolat MDRO dgn preautorisasi Tim PRA
• Instalasi Farmasi RSUP menerapkan automatic stop order pada keadaan-
keadaan tertentu

8
KEBIJAKAN ANTIBIOTIK
(PERMENKES 8/2015 HAL 13-15)

2. Kebijakan Khusus
a. Pengobatan awal
1) Pasien yang secara klinis diduga/diidentifikasi mengalami infeksi bakteri
diberi AB empirik selama 48-72 jam
2) Pemberian AB lanjutan harus didukung data hasil pemeriksaan
laboratorium dan mikrobiologi
3) Sebelum pemberian AB dilakukan pengambilan spesimen untuk
pemeriksaan mikrobiologi
b. AB empirik ditetapkan berdasarkan pola mikroba dan kepekaan ABsetempat
c. Farmasi RS dapat melakukan automatic stop order pada keadaan tertentu
d. RS memiliki panduan utk membedakan pasien yg ada/ tidak ada indikasi AB

9
PROTOKOL?

• Kumpulan pernyataan (rigid statements) yg harus dijalankan


secara tepat (no fleksibility, no variation)
• Berisikan langkah-langkah yg berurutan utk menyelesaikan
kondisi spesifik

10
MENGAPA PPAB DIPERLUKAN

• Membantu klinisi utk mengambil keputusan yang tepat pada


pengelolaan penderita.
• Data membuktikan bahwa tanpa PPAB, kinerja klinisi sering kali gagal
dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan terbaik
• Keuntungan PPAB :
– Membantu klinisi memperbaiki mutu pelayanan pada pasien
– Mengurangi variasi penanganan penderita diantara sesama klinisi
– Sebagai alat ukur utk perbaikan secara berkala & berkelajutan

11
KELEMAHAN PADA PPAB

• PPAB tidak akan digunakan apabila:


– Terlalu ketat & otoriter
– Disusun tdk berdasarkan bukti yg akurat (EBM),
banyak opini pribadi
– Tidak sistimatis
– Metode penyusunan tdk jelas
– Tidak disosialisasikan

12
HAMBATAN POTENSIAL
PADA PENYUSUNAN PPAB

• Tim Penyusun
– Memiliki waktu yg terbatas, kesibukan
– Sumber data terbatas
– Motivasi & Kemampuan utk bekerjasama
• PPAB tdk disusun secara representatif  kepatuhan rendah
• PPAB tdk disusun berdasarkan bukti yg jelas  sub optimal /
tdk effektif
• PPAB yg bertentangan dgn PPAB institusi lain  menyulitkan
para pengguna
• Kemungkinan tdk tepat pd kondisi pasien tertentu

13
SUSUNAN PPAB
(KEMENKES 2015)

1. Judul, logo rumah sakit, edisi tahun


2. Kata pengantar tim penyusun
3. Sambutan pimpinan RS
4. Keputusan pimpinan RS tentang tim penyusun
5. Daftar tim penyusun
6. Daftar istilah dan singkatan
7. Daftar isi
8. Pendahuluan
a. Latar belakang
b. Definisi
c. Tujuan
d. Masa berlaku
e. Kelebihan dan keterbatasan pedoman
14
SUSUNAN PPAB
(KEMENKES 2015)

9. Indikasi penggunaan AB:


a. PPAB Profilaksis: tercantum pembagian kelas operasi
berdasarkan kriteria Mayhall
b. PPAB Terapi (empirik): dasar & cara pemilihan AB empirik,
tercantum diagram alur indikasi penggunaan AB
10. Daftar kasus & alur penanganan pasien

15
SUSUNAN PPAB
(KEMENKES 2015)

11. Klasifikasi & cara penggunaan AB, meliputi: jenis, dosis,


interval, rute, cara pemberian, saat (timing) & lama
pemberian, efek samping antibiotik
12. Catatan khusus (jk ada bagian/divisi yg belum menyetujui
pedoman)
“Seksi onkologi belum dapat menyetujui antibiotik profilaksis dosis
tunggal. Masih akan melakukan penelitian penggunaan antibiotik
profilaksis dosis tunggal. Selambat lambatnya dalam kurun waktu 1
tahun”
13. Penutup
14. Referensi
15. Lampiran

16
ALGORITME DEMAM ( DEP ANAK RSDK TH 2008 )
Kultur darah ( sebelum
Laboratorium rutin : pemberian Antibiotik )
Demam -Darah Rutin
-Urin Rutin Kultur urin jika
mengarah ke ISK
Didapatkan : salah satu Kultur tinja jika
1.SIRS ( +) mengarah bakterial mengarah ke infeksi GI
2.Umur < 3 bulan bakterial
3. Fokus infeksi bakteri (+)
4.Sakit berat / Toxic appearance Negatif ( - ) Antibiotik ( - )

1 Positif ( + Antibiotik Empiris


)

Evaluasi 3-5 hari


Lini 1 : Inj. Ampi-Sulbactam 25-75 mg/kgBB/6 jam
Lini 2 : Seftriakson 80 mg /kgBB/24 jam atau 1. ganti AB sesuai kultur
40mg/kgBB/12 jam (jika hasil keluar)
Lini 3 : Jika sudah pernah mendapatkan Antibiotik
2. segera stop AB jika tidak
tsb diatas dari RS lain  konsul Tim PPRA.
ada tanda infeksi bakteri.
Aktivitas Out put

Tim perumus PPAB Draft 1 PPAB

Rapat pleno SMF/ KSM Draft 2 PPAB Bagian/SMF

External Review  PPAB Bagian/SMF


Direktur

Implementasi

Internal Review
- Reliabilitas Hasil Evaluasi
- Kepatuhan
- Morbiditas Mortalitas
Up date/ Revisi 18
PEDOMAN PENGENDALIAN PEDOMAN PENGENDALIAN
RESISTENSI ANTIBIOTIK RESISTENSI ANTIBIOTIK

ANTIBIOTIK PROFILAKSIS ANTIBIOTIK TERAPI


Pada pembedahan PADA PENDERITA DEMAM
di bidang Obstetri Ginekologi

Edisi I Edisi I
2009 2009

Dep/SMF. Obstetri Ginekologi Dep/SMF Ilmu Peny. Dalam


RSU .Dr. Kariadi RSUD.Dr. Soetomo
SEMARANG SURABAYA

19
PEDOMAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK
SUB BAGIAN : INFEKSI & PENYAKIT TROPIS

20
PEDOMAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK
SUB BAGIAN : INFEKSI OSTETRI

n diagnosis Kuman Tujuan Rekomen dosis Frekwen lama cara keterangan


causal pemberia dasi
o n antibiotik
si per
hari

1 Febris S.aureus empiris Ampicil 50 Per 6 jam 3 hari IV Setelah


puerpuralis in mg/k kultur
sulbact g lakukan
am penyesuaia
n

21
KLASIFIKASI OPERASI

22
OPERASI BERSIH:

• Tdk perlu AB
• Perlu AB profilaksis
- Kerusakan jaringan yg luas
- Waktu operasi lama
- Faktor-faktor penderita
- Usia lanjut - DM
- Keganasan - CRF
- Kortikosteroid - Sitostatika

23
Operasi Bersih Kontaminasi:
- Perlu AB profilaksi

Operasi Kontaminasi:
- AB profilaksis

Operasi Kotor:
- AB Terapeutik

24
AB DALAM PEMBEDAHAN

• AB profilaksis:
- prabedah
- intra bedah
• AB terapeutik:
- pra bedah
- pasca bedah

25
ANTIMIKROBA UNTUK PROFILAKSIS

• Antimikroba efektif utk mencegah infeksi


• Profilaksis dgn menggunakan antimikroba harus
ditimbang manfaat dibandingkan resikonya
• Profilaksis antimikroba dibagi menjadi 2:
1. Pembedahan
2. Non pembedahan

26
PEMILIHAN AB:

- Tepat indikasi
- Tepat dosis
- Tepat saat pemberian
- Tepat cara pemberian
- Tepat penderita

27
AB PROFILAKSIS

Diperlukan pada pasien dgn 2


atau lebih faktor resiko

28
PRINSIP

• AB harus mampu membasmi kuman-kuman patogen


pd luka
• AB terbukti efektif berdasarkan hasil uji klinik
• Kadar dlm darah harus > dari MIC kuman patogen di
luka & konsetrasinya harus dipastikan >MIC saat mulai
pembedahan (sebaiknya diberikan 2 jam sebelum
pembedahan (Classen et al 1992)

29
PRINSIP

• Pemberian jangka pendek (idealnya 1 kali


pemberian)
• AB jenis baru sebaiknya tdk digunakan utk
profilaksis tetapi utk mengobati luka dgn kuman
patogen yg resisten dgn AB yg rutin digunakan
• Gunakan AB yang paling murah harganya jika
efikasinya sama

30
PROFILAKSIS NON PEMBEDAHAN

• Pemberian AB mencegah kolonisasi/infeksi yg asimptomatik


• Indikasi :
– Orang yg berpotensi terpapar kuman virulen
– Orang dgn risiko infeksi tinggi (pasien dgn
immunocompromised)`
• Contoh pencegahan endokarditis pd pembedahan rongga
mulut dgn amoksisilin/clindamysin

31
PROFILAKSIS PEMBEDAHAN
OBSTETRI

no diagnosis Kuman Tujuan Rekomenda dosis Frekwen lama cara keterangan


causal pemberian si antibiotik
si per
hari

1 Letak koloni profilaksis cefazolin 2 gr 1 kali pre 30 IV Diulqng bila


lintang, sasi operasi menit :
serotinus kulit pra Perdarahan
op masif,
operasi > 3
jam

32
33
TERIMA KASIH

34