Anda di halaman 1dari 24

Operasional Kebun

 HOME
 KAMI
o 1.Wilayah Operasi
o 2.Afiliasi
 DIVERSIFIKASI
o 1.Produksi
o 2.Eksploitasi
 SPESIFIKASI PRODUK
o 1.Spesifikasi Produk
o 2.Harga Miko dan Noten
 LAPORAN KEUANGAN
o 1.Keuangan rutin
o 2.Ademistrasi Usaha
 RISET
o 1.Riset Operasi
o 2.Rencana Kerja
 MANAJEMEN
o 1.Manajemen
o 2.Labor
 PABRIKASI
o 1.Pabrikasi
o 2.Daftar Harga
 KEMITRAAN

Senin, 19 Januari 2015


Akuntansi Kelapa Sawit

20.41 Kgi. Palma

D. ANALISA FINANSIAL
Dalam studi ini, diambil suatu asumsi saja misalkan diasumsikan bahwa untuk
membiayai pembangunan dan operasi perkebunan bersumber dari pembiayaan Modal
sendiri (Equity Capital) yaitu Perusahaan/Investor. Asumsi ini bertujuan untuk
menekan jumlah biaya selama tahun-tahun pertama operasi. Jumlah biaya yang
terlalu besar dibandingkan dengan modal sendiri akan mengakibatkan beban anggaran
yang terlalu berat, sehingga dapat membahayakan likuiditas maupun profitabilitas
perusahaan pengelola proyek (perkebunan).
Biaya operasional tahunan dihitung untuk mempermudah para pemrakarsa dan pihak
ketiga yang berkepentingan untuk mengkaji prospek finansial perkebunan kelapa
sawit ini di masa mendatang. Dalam menghitung biaya oparasional tahunan ini
digunakan asumsi - asumsi:
 Harga-harga bahan baku dan penolong pada dasarnya tidak akan berubah
secara berarti.
 Hal yang serupa berlaku untuk upah langsung, gaji, dan biaya overhead.
 Inflasi dalam negeri akan mempengaruhi harga jual produk dan biaya langsung
secara sepadan.

Dalam kajian ini juga meninjau faktor besarnya harga produk (terutama harga jual
TBS) dan besarnya biaya investasi, dan apabila biaya investasi proyek lebih besar dari
pada pendapatan yang di rencanakan maka proyek ini bukanlah merupakan suatu
competitive investment, sehingga rencana proyek tersebut sebaiknya tidak perlu
dilaksanakan, tetapi begitu pula sebaliknya, dan oleh sebab itu diperlukan kajian
finansial (business plan) atas rencana investasi proyek sehingga akan di temukan suatu
nilai value ada atau tidak (layak atau tidak layak) memberikan insentif yang cukup
menarik bagi investor untuk menanamkan modalnya pada proyek tersebut. Sehingga,
lebih baik mereka memilih alternatif investasi lain yang bisa memberi manfaat yang
lebih baik di masa mendatang.
1. Biaya Kebun (PLANTATION COST)
Pembiayaan proyek pembanguan kebun kelapa sawit inti yang seluas 10.000 Ha.
dengan asumsi secara keseluruhan lahan merupakan lahan mineral basah dan rawa
basah degan rata-rata jumlah pokok per Hektar (Satuan Pokok per Hektar) adalah 136
Pohon, dengan design areal yang telah di rancang hasil dari survey lapangan

Dari design ini maka akan didapatkan perkiraan (estimasi) luasan efektif tertanam dan
peruntukan lainnya yakni sebagai berikut : Luas yang terpakai untuk pembangunan
sarana dan prasarana (infrastruktur) dari luas 10.000 Ha adalah 804 Ha, dengan
rincian asumsi pemakaian areal :

 Jalan kebun 320 Ha (3,20%)


 Parit / drainase 270 Ha (2,70%)
 Pembibitan (Nursersy) 20 Ha (0,20%)
 Kantor 169 Ha (1,69%)
 Pabrik 25 Ha (0,20%)

Sehingga luasan efektif tertanam dari 10,000 ha adalah 9.196 Ha, setelah di kurangi
pemakaian lahan untuk satrana dan prasaran non areal tanam.
2. Jadwal Pembiayaan (financing time-table)
Rencana pembangunan kebun kelapa sawit seluas 10.000 Ha mulai dari tahun 0 sampai
tahun ke 5 adalah :
a. Suku Bunga Pinjaman
Dalam perhitungan analisa keuangan ini tidak digunakan tingkat suku bunga pinjaman
(pembangunan dan Pengembalian), pembiayaan proyek dilaksanakan tanpa pinjaman
dari bank atau menggunakan modal sendiri (equity).
b. Harga Produk dan Standard Produksi
Harga TBS sebagai dasar biaya untuk melihat rencana jadwal pengembalian
pembiayaan. Potensi produksi TBS kebun dapat ditingkatkan dengan aplikasi
pelaksanaan pemeliharaan tanaman yang standar dan terukur sehingga produksi dapat
meningkat
3. Analisa Kelayakan Investasi
Kelayakan proyek pembangunan kebun kelapa sawit dilihat berdasarkan tingkat
return proyek itu sendiri, kriteria kelayakan investasi yang disiapkan dalam laporan
ini adalah Net Present Value (NPV) serta Internal Rate of Return (IRR) dan B/C Ratio
(Benefit per Cost Ratio).
Analisa sensitifitas untuk proyek pembangunan kebun kelapa sawit mengunakan dua
(2) variable yang dianggap berpengaruh terhadap kelayakan proyek tersebut, ke 2
variabel tersebut adalah variable kenaikan biaya proyek (increase costs variable),
variable penurunan harga jual (decline selling prices variabel). Dari hasil analisa
sesitifitas menunjukkan bahwa variable perubahan harga jual agak sensitif terhadap
proyek, sedangkan kenaikan project cost kurang sensitif terhadap proyek ini.
Berdasarkan hasil analisa dari aspek umum, legalitas, aspek ekonomi, aspek
lingkungan, aspek pasar kelapa sawit, aspek teknik, sosial ekonomi, kesesuaian lahan,
produksi dan ketenagakerjaan, maka rencana pembaguanan kebun kelapa sawit baik
dalam sisi agronomis maupun Finansial dinyatakan L A Y A K (FEASIBLE ) atau TIDAK
untuk dilaksanakan.
, ,operasional,
STRUKTUR BIAYA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
TANAMAN MENGHASILKAN

A. Struktur Biaya Perkebunan


Struktur Biaya pada perkebunan Kelapa Sawit adalah demikian pentingnya, sebab
hanya struktur biaya yang dikelola dan dikontrol dengan tepat , usaha perkebunan akan
memperoleh hasil keuntungan yang lebih baik.

Sistim akuntansi yang digunakan di perkebunan kelapa sawit, umumnya menguraikan


Biaya Produksi kedalam beberapa Kategori Biaya, yang mana setiap kategori biaya
dibagi dalam beberapa Group Biaya. Adapun Group biaya itu sendiri terdiri atas
beberapa Komponen Biaya yang merupakan sejumlah Elemen Biaya sebagai dasar
perhitungan pengeluaran biaya real. Secara skematis uraian Biaya Produksi
perkebunan kelapa sawit tersebut dapat dilihat pada halaman berikut ini.

Terdapat tiga kelompok Kategori Biaya, yaitu Ex-Factory Cost, Cash Cost dan Book
Cost. Gross Profit Before Tax dihitung dari Net sales dikurangi Book Cost.
Penguraian Biaya Produksi menjadi Komponen Biaya ditujukan untuk meng identifikasi
berbagai biaya agar dapat dijadikan pedoman bagi perencanaan Budget dan Akuntansi
serta membuat terbentuknya sistim kontrol yang efektif pada management biaya.

1. Elemen Biaya Produksi


Semua komponen biaya produksi selalu meliputi tiga prinsip elemen biaya, yakni
Upah Tenaga Kerja biasa dilakukan melalui mekanisme PK (PK – Perintah Kerja),
Biaya Material dilakukan melalui mekanisme PO (PO – Purchase Order) dan Proporsi
atas pembebanan Biaya Angkutannya.
Setiap biaya per komponen akan bervariasi tergantung kepada besarnya biaya rata-
rata upah buruh, jumlah material yang digunakan sesuai harga yang berlaku saat itu
dan besarnya biaya angkutan. Ketiga elemen tersebut benar-benar menjadi dasar
terjadinya variasi dalam biaya produksi.

Komponen & Element Biaya


Katagori Biaya Kelompok Biaya Komponen Biaya Elemen Biaya
Ex-Factory Cost  Perawatan Kebun - Pembasmian Lalang - Upah termasuk
Tunjangan dan
- Pengendalian Gulma Lembur
- Pemupukan
- Pangkas Pelepah
- Rawat Infrastruktur - Harga Material
- Pengendalian Hama &
Penyakit
 Panen - Alat Panen
- Angkutan Tenaga
- Angkutan TBS kerja & Material
- Perawatan TPH
 Pabrik - Pengolahan TBS
- Pemeliharaan Alat & Mesin
- Pemeliharaan Bangunan
Pabrik
- Laboratorium
- Penanganan Limbah
- Pengolahan Air Baku Pabrik
 Umum Kebun - Tunjangan Kesehatan dan
(Biaya per ha sejak Tunjangan Sosial
tanam, TBM dan
TM)
- Asuransi
- Pensiun
- Supervisi
- Gaji Staff
- Pemeliharaan Fasilitas
Perumahan & Bangunan Kantor
- Komunikasi
- Pajak & Kontribusi
Cash Cost  Biaya Pemasaran - Biaya Angkutan CPO dari
(FOB) Pabrik ke Pelabuhan
- Biaya Pengapalan
- Asuransi
 Overhead Kantor - Gaji dan Tunjangan
Pusat
- Pensiun
- Administrasi Kantor
- Tunjangan Kesehatan & Sosial
- Pemeliharaan Bangunan
Kantor
- Asuransi
- Komunikasi
- Pajak & Kontribusi
- Konsultan
Book Cost  Depresiasi - Semua Asset berdasarkan
kelasnya

a Upah Tenaga Kerja


Biaya upah tenaga kerja di perkebunan terdiri atas upah Buruh Harian , Upah Buruh
Bulanan dan Upah Borong. Dasar perhitungan upah buruh diperoleh dari kebijakan
pemerintah tentang Upah Minimum Propinsi (UMP) dengan kenaikan tahunan rata-rata
9 – 12 persen, ditambah rasio Tunjangan Catu Beras, yang ditetapkan sebesar 15 kg
bagi pekerja per bulan, 9 kg per bulan untuk istri dan 7,5 kg per bulan untuk anak,
dengan pembatasan jumlah anak 3 orang.

Harga dasar beras ditetapkan oleh pemerintah dengan kenaikan rata rata 5 – 7 persen
setiap tahunnya. Selain daripada itu, pekerja juga memperoleh tambahan yang disebut
Fringe Benefit yang terdiri atas Premi, Lembur, jaminan kesehatan dan sosial, sehingga
gaji yang dibayarkan kepada buruh, besarnya dapat bervariasi sesuai skala upah ,
antara 110 hingga 400 persen dari upah pokoknya hariannya . Selain daripada itu,
pekerja juga akan memperoleh tunjangan satu bulan gaji tambahan setiap tahun
sebagai Tunjangan Hari Raya.

Contoh Cara Perhitungan Upah Tenaga Kerja

Upah Rp / HK Rp./Bln

1. UMK (yang berlaku) 32,000.0 960,000.0

2. Premi Dan Lembur 6,400.0 160,000.0

3. Tunjangan Kesehatan & Biaya Sosial 3,200.0 80,000.0

4. Tunjangan Catu Beras 11,160.0 279,000.0

TOTAL UPAH 52,760.0 1,319,000.0

Catatan :

Premi dan Lembur = 20 % dari UMK


Sub total = Rp. 6.400
Tunjangan Kesehatan & Biaya Sosial = 10 % dari UMK
Sub total = Rp. 3.200
Tunjangan Catu Beras
Pekerja = 15,0 kg
Istri = 9,0 kg
Anak (Maksimum 3 anak ) = 7,5 kg x 3 = 22,5 kg
Total beras = 46,5 kg
Asumsi Harga Beras = Rp 6.000 per kg
Tunjangan Catu Beras per bulan = Rp. 279.000
Per Hari Sub total = Rp. 11.160
(1 bulan = 25 hari kerja)

Dalam perhitungan Budget, semua tunjangan harus di tambahkan sebagai


bagian dari sub komponen upah

b Ratio Tenaga Kerja terhadap luas Lahan

Secara detil, ratio tenaga kerja terhadap luas lahan harus dihitung di setiap kategori
kegiatan pada Tanaman Menghasilkan (TM), yang terdiri dari Rawat, Panen, Biaya
Umum; dengan menjumlahkan upah pokok semua tenaga kerja pada setiap kategori
sehingga diperoleh angka Total Gaji Tenaga Kerja.

Untuk kemudian dihitung Upah Rata-Rata dengan membagi Total Gaji Tenaga Kerja
yang dibayar dengan jumlah Tenaga Kerjanya.

Seluruh pembayaran fringe benefit tenaga kerja untuk kemudian dirubah menjadi
jumlah Mandays atau Hari Kerja Orang (HK) dengan cara membagi Total Fringe
Benefit dengan Upah Rata Rata.

Sama halnya dengan Pembayaran pada setiap Kontraktor harus di rubah menjadi HK,
dengan cara ; total nilai pembayaran kepada semua Kontraktor dibagi dengan Upah
Rata-Rata

Tabel Ratio Tenaga Kerja per Ha Luas Lahan

KATAGORI HARIAN HARIAN LEPAS TOTAL


TETAP HK/Ha HK/Ha HK/Ha
RAWAT
A. Pokok
B. Premi/Lembur
C. Kontraktor
PANEN
A. Pokok
B. Premi/Lembur
C. Kontraktor
UMUM
A. Pokok
B. Premi/Lembur
C. Kontraktor
TOTAL
A. Pokok
B. Premi/Lembur
C. Kontraktor
GRAND TOTAL

Variasi ratio tenaga kerja per perkebunan per tahun pada setiap kategori pekerjaan
dipengaruhi oleh Volume Pekerjaan, tersedianya Material, Tingkat Produksi dan
tersedianya Alat Berat atau peralatan lainnya.

Sebagai contoh, pekerjaan Rawat dapat bervariasi karena besar-kecilnya jumlah


material pupuk yang di aplikasikan di lapangan, atau adanya tindakan pengendalian
khusus karena serangan hama.

Sementara jumlah tenaga panen selalu melekat pada kegiatan panen dan tenaga
pabrik selalu proposional pada level produksi yang dihasilkan.

Jumlah gaji yang dibayarkan setiap bulan kepada pekerja, relatif konstan, perbedaan
kecil bisa saja terjadi di pekerjaan rawat dan umum, namun kelompok ini masuk
sebagai kelompok Biaya Tetap (Fixed Costs). Sementara jumlah tenaga kerja panen
dan pabrik ber fluktuasi seirama dengan volume produksi dan dimasukkan sebagai
Variable atau Semi-Variable Costs.

1. Harga Material
Harga material selalu naik setiap tahun, dengan variasi yang berbeda-beda untuk setiap
jenis material bergantung kepada beberapa hal umum seperti :

 Material yang paling mempengaruhi biaya Rawat adalah Pupuk, yang secara
bertahap
terus naik sejalan dengan naiknya harga bahan bakar minyak. Kecuali apabila
pemerintah memberikan lagi subsidi.
 Barang-barang import seperti mesin-mesin dan peralatan serta suku-cadang,
bahkan
juga Chemical yang belum diproduksi di dalam negeri, kenaikannya sangat
dipengaruhi
oleh nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing.
 Material yang sudah di produksi di dalam negeri juga meningkat seiring dengan
kenaikan upah rata-rata

2. Biaya Transport
Biaya Transport dipengaruhi secara langsung oleh kenaikkan harga bahan bakar
minyak dan suku cadang serta jarak tempuh.

A. Kategori dan Karakteristik Biaya


Komponen Biaya dalam setiap Kategori di klasifikasikan menurut Karakteristiknya
menjadi FIXED, VARIABLE dan SEMI-VARIABLE COST.

KATEGORI 1 : EX FACTORY COST

 Fixed Cost. Yang masuk dalam klasifikasi Fixed Cost adalah :

A. Rawat Tanaman Menghasilkan (TM), Biaya aktualnya per hektar atas seluruh
komponen biaya yang muncul harus DI WASPADAI di perkebunan. Apabila tidak
dilakukan kontrol yang ketat terhadap hasil kerja Rawat ini, maka beban biaya akan
tetap sama. Artinya hasil kerja rawat nol, beban tetap ada. Fluktuasi Biaya rawat per
hektar per tahun terutama di akibatkan oleh biaya pemupukan yang dilaksanakan
berdasarkan hasil analisa daun.

B. Overhead, Biaya aktual overhead secara mayoritas adalah Fixed Cost, dengan
pengecualian bagi Staf Pabrik termasuk teknisi Pabrik dimana beban gaji dan fringe
benefit nya dibebankan secara langsung pada biaya pengolahan. Sementara itu gaji,
dan social expenses untuk staf kebun dibebankan pada Overhead bersama-sama
dengan komponen biaya lainnya seperti social expenses buruh harian, pensiun, pajak,
asuransi dll. Untuk selanjutnya biaya aktual Overhead per hektar dapat dihitung
berdasarkan luas kebun TM yang dikelola.

 Variable Cost, yang termasuk dalam klasifikasi Variable Cost adalah :

Panen dan Angkutan . Biaya Panen per Kg Tandan Buah Segar (TBS) adalah
tergantung kepada Output tiap pemanen, gaji dan premi pemanen, Sedangkan biaya
angkutan TBS tergantung kepada Output angkutan dan biaya operasi alat angkut (Truk
atau Traktor). Total biaya panen dan angkutan per Kg TBS sangat bervariasi
tergantung besarnya jumlah TBS yang di panen. Secara progresif biaya panen dan
angkutan TBS per Kg TBS akan naik apabila upah panen naik dan biaya operasi alat
transport juga naik.

 Semi-Variable Cost, yang termasuk dalam klasifikasi Semi-Variable Cost adalah :

Pengolahan dan Maintenance Pabrik. Kelompok biaya disini merupakan kombinasi


antara Fixed Cost dan Variable Cost.
Yang termasuk Fixed Cost adalah : Gaji Teknisi, Maintenance Pabrik, Mesin dan
Peralatan Pabrik, Limbah dan Administrasi.

Yang termasuk Variable Cost adalah : Semua biaya Pengolahan termasuk biaya
operasi Power Plant dan peralatannya ( Upah buruh , Bahan Bakar Minyak dll)

Biaya Pengolahan sangat bervariasi antara satu Pabrik dengan Pabrik lainnya
tergantung kondisi pabrik dan kapasitas pabrik. Throughput aktual, jumlah tenaga
kerja serta Volume Palm Product ( CPO & Kernel) yang dihasilkan merupakan faktor
penentu yang utama

KATEGORI II : CASH COST

Kategori Biaya yang termasuk dalam Cash Cost dapat di klasifikasikan sebagai Semi-
Variable Cost. Dimana Kegiatan Despatch atau pengeluaran Produk dari pabrik ke
Shipping Terminal dan Operasi Pengangkutan dari shipping Terminal ke tujuan
termasuk dalam Variable Cost. Sementara itu biaya penjualan yang ada di Head Office
adalah Fixed Cost

KATEGORI III : BOOK COST


Kategori Biaya disini adalah Fixed Cost, yang merupakan jumlah dari perhitungan
Depresiasi Asset dengan persentase yang tetap sesuai kelas Asset.

Perusahaan perkebunan umumnya mengikuti klasifikasi dan Depreciation Rates


sesuai ketentuan yang tercantum pada Pajak Penghasilan 1984, sebagai berikut :

a Bangunan
b Non- Bangunan

Kelas I : Memiliki umur kegunaan tidak lebih dari 4 Tahun


Kelas ll : Memiliki umur kegunaan lebih dari 4 tahun tapi kurang dari
8 tahun
Kelas lll : Memiliki umur kegunaan lebih dari 8 tahun.

Kelompok Bangunan di deoresiasi-kan menggunakan Straight Line Method, dengan


rata-rata 5 % per tahun. Sedangkan Non-Bangunan, di depresiasi-kan menggunakan
Double Declining Balance Method dengan rata-rata 50 % untuk kelas l ; 25 % untuk
kelas ll dan 10 % un tuk kelas lll.
Semua biaya yang berkaitan dengan pembangunan perkebunan di kapitalisasi dan di
klasifikasikan sebagai kelompok bangunan yang di depresiasi kan selama umur
produktif tanaman ( +/- 20 tahun)

Secara sistimatik , Kategori dan Karakteristik Biaya dapat di ringkas dalam tabel berikut
ini :

Kategori Fixed Cost Variable Cost Semi - Cost Variable

Ex Factory Cost Biaya Rawat Biaya Panen dan Biaya Olah


TM Transport TBS

Fixed : Gaji dan


Tunjangan
Sosial untuk
Teknisi
Biaya Over
Head
Pemeliharaan
&
Administrasi
Variable : Pengolahan

Cash Cost Biaya Head Angkutan Palm


Office Product

Book Cost Depresiasi

C. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Biaya

Unit Biaya Produksi ditentukan oleh besarnya Output Produksi dan Input Biaya
Produksi, sehingga terhadap kedua hal tersebut perlu selalu di analisa, faktor apa saja
yang memberikan pengaruh baik positif maupun negatif.

 Faktor Internal

- Detil Latar Belakang Perkebunan


- Organisasi Internal(Ratio Tenaga Kerja vs luas Lahan, struktur organisasi, efisiensi)
- Skill Karyawan
- Cara kerja dan teknologi yang diterapkan di lapangan
- Infra Struktur

 Faktor Eksternal

- Kebijakan Pajak, Kontrol Biaya Pembelian Material


- Inflasi
- Jarak kebun ke pelabuhan
- Permintaan Pasar

Faktor Negatif dan Faktor Positif yang mempengaruhi kepada Produksi dan Biaya
Produksi , secara sistimatis dapat dilihat pada tabel berikut.

Tingkat pengaruhnya dari semua faktor di atas terhadap produksi dan biaya produksi
dapat turun atau naik dengan adanya inter-aksi antara berbagai faktor melalui
intervensi kebijakan management untuk menjaga biaya pada level yang dapat
dipertanggung jawabkan.

Namun bagaimanapun, management tentu tidak akan mampu menghilangkan semua


faktor negatif yang ada terhadap produksi maupun biaya.

Faktor Negatif & Positif terhadap Produksi & Biaya

Faktor Pengaruh thd Produksi Pengaruh thd Biaya


Negatif Positif Negatif Positif

INTERNAL
Latar Belakang Daerah Rendah Daerah Datar Daerah Rendah Daerah Datar
Kebun dan sering hingga ber dan sering hingga ber
tergenang gelombang tergenang gelombang

Curah Hujan < Normal s/d Berbukit-bukit -


1500 mm tingginya curah
penyebab stress hujan > 1500mm

Drainase buruk Drainase baik sering Hujan Deras Iklim Normal

Organisasi Organisasi yang Organisasi yang


tidak solid solid

Kemampuan Kurang Terampil Terampil (Output


Personil (Output Rendah) Tinggi)

Tenik dan Bibit kurang baik Bibit unggul tanaman tua – Tanaman masih
Teknologi tanaman sudah tanaman masih sudah sangat pendek
tua muda tinggi
Sering Terkena Proteksi Sering Terkena Proteksi Tanaman
serangan Hama & Tanaman serangan Hama & terkelola baik
Penyakit terkelola baik Penyakit

Pabrik Tua Pabrik baru Pabrik Tua Pabrik baru


(Efisiensi Rendah) (Efisiensi tinggi) (Efisiensi Rendah) (Efisiensi tinggi)

Infrastruktur Tidak cukup ada Cukup ada


Jaringan jalan Jaringan jalan
& kondisi buruk & kondisi baik

EXTERNAL

Kebijakan Pajak dinaikan, Subsidi kembali


Pemerintah Upah naik, diberlakukan atau
banyaknya harga pupuk di
pungutan, tak ada kontrol
subsidi

Inflasi Harga Barang naik

Infrastruktur Jarak tempuh Jarak tempuh


kebun ke kebun ke
Pelabuhan jauh Pelabuhan dekat
(biaya angkutan (biaya angkutan
tinggi) rendah)

Kebutuhan Permintaan terus


Pasar Naik naik

Lampiran
Standar Kebutuhan HK per Ha
TBM.0 (PERAWATAN 6 BULAN)

NO ITEM ROTASI HK/ROTASI HK/HA/TH


1 CIRCLE WEEDING MANUAL 3 1,50 4,50
2 GAWANGAN
A. DAK 6 3,00 18,00
B. LALANG 6 0,50 3,00
3 PRUNING/INITIAL
4 PEMUPUKAN PER JENIS (2 jenis) 4 0,30 1,20
5 DETEKSI HAMA PENYAKIT 6 0,10 0,6
6 PEMBERANTASAN HP 2 0,50 1,00

TOTAL 28,3
Standar Kebutuhan HK per Ha
TBM.1 (PERAWATAN 12 BULAN)

NO ITEM ROTASI HK/ROTASI HK/HA/TH

1 CW :
- MANUAL 1 2,0 2,0
- CHEMIST 3 1,0 3,0
2 GAWANGAN
A. DAK 4 3 12
B. CHEMIST 2 0,4 0,8
B. LALANG 4 0,25 1,0
3 PRUNING/INITIAL
4 PEMUPUKAN PER JENIS 5 0,30 1,50
5 DETEKSI HAMA PENYAKIT 2 0,25 0,50
6 PEMBERANTASAN HP :
- Tikus 2 0,25 0,50
- Hama Daun 2 0,50 1,00
7 SENSUS HPT 2 0,10 0,2
8 SISIP :
- Sensus 1 0,3 0,3
- Sisip KS 1 0,7 0,7
TOTAL 23,5

Standar Kebutuhan HK per Ha


TBM.2 (PERAWATAN 12 BULAN)

NO ITEM ROTASI HK/ROTASI HK/HA/TH


1 CPT
- Manual 1 1,5 1,5
- Chemist 3 0,8 2,4
2 GAWANGAN :
A. DAK 2 2,0 4,00
B. CHEMIST 6 0,25 1,50
C. LALANG 2 0,40 0,80
3 PRUNING/INITIAL
4 PEMUPUKAN PER JENIS (8 jenis) 8 0,25 2,00
5 DET. HPT/SENSUS HPT 12 0,1 1,2
6 PEMBERANTASAN HP :
- Tikus 2 0,25 0,50
- Hama Daun 2 0,50 1,00
7 SISIP :
- Sensus 1 0,25 0,25
- Sisip Kelapa Sawit 1 0,40 0,40

TOTAL 15,55

Standar Kebutuhan HK per Ha


TBM.3 (PERAWATAN 12 BULAN)

NO ITEM ROTASI HK/ROTASI HK/HA/TH


1 CPT
- Manual 2 1,50 3,0
- Chemist 2 0,75 1,5
2 GAWANGAN
A. DAK 4 2,00 8,00
B. LALANG 4 0,25 1,00
3 PRUNING/INITIAL 1 3,00 3,00
4 PEMUPUKAN PER JENIS 9 0,25 2,50
5 DETEKSI HAMA PENYAKIT 12 0,10 1,20
6 PEMBERANTASAN HP 2 0,75 1,50
7 SENSUS HPT 2 0,10 0,20
9 KONSOLIDASI 1 0,25 0,25
10 PEMBUATAN PASAR PIKUL 1 2,00 2,00
TOTAL 24,15

Standar Kebutuhan HK per Ha


TM.1 & 2 (PERAWATAN 12 BULAN)

NO ITEM ROTASI HK/ROTASI HK/HA/TH


1 CPT :
- Manual 2 1,50 3,00
- Chemist 2 0,75 1,50
2 GAWANGAN
A. DAK 4 0,25 1,00
B. LALANG 4 0,25 1,00
3 PRUNING/INITIAL 12 0,25 3,00
4 PEMUPUKAN PER JENIS 8 0,60 4,80
5 DETEKSI HAMA PENYAKIT 12 0,1 1,20
6 PEMBERANTASAN HP 2 0,25 0,50
TOTAL 16,00

Standar Kebutuhan HK per Ha


TM.3 & 4 (PERAWATAN 12 BULAN)

NO ITEM ROTASI HK/ROTASI HK/HA/TH


1 CPT :
- Manual 1 1,50 1,50
- Chemist 2 0,75 1,50
2 GAWANGAN
A. DAK 3 1,00 3,00
B. LALANG
3 PRUNING/INITIAL 12 0,25 3,00
4 PEMUPUKAN PER JENIS 8 0,60 4,80
5 DETEKSI HAMA PENYAKIT 12 0,1 1,20
6 PEMBERANTASAN HP 2 0,25 0,50
TOTAL 15,50

Standar Kebutuhan HK per Ha


TM.5 & 6 dst (PERAWATAN 12 BULAN)

NO ITEM ROTASI HK/ROTASI HK/HA/TH


1 CPT 3 0,75 2,25
2 GAWANGAN
A. DAK 3 0,75 2,25
B. LALANG
3 PRUNING/INITIAL 12 0,25 3,00
4 PEMUPUKAN PER JENIS 2 0,65 1,30
5 DETEKSI HAMA PENYAKIT 12 0,01 0,12
6 PEMBERANTASAN HP 12 0,10 1,20
TOTAL

Obyek Pembiayaan : Pembiayaan kebun (perkebunan) kelapa sawit dan industri turunan
(derivatif) berbasis kelapa sawit dapat dibedakan dalam beberapa obyek pembiayaan atau
gabungan di antaranya bahkan dapat pula satu kesatuan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir
(on farm dan off farm). Pembiayaan meliputi pembangunan kebun (individual) atau perkebunan
(skala besar), pabrik pengolah tandan buah segar (tbs) kelapa sawit (biasa disebut PMKS =
pabrik minyak kelapa sawit), pabrik rafinasi/fraksinasi antara lain menghasilkan minyak goreng
dan sabun dan pabrik olokimia dasar. Unit bisnis pendukung seluruh kegiatan tersebut juga dapat
dibiayai semisal pemasok sarana produksi pertanian dan produksi industri hilir bahkan
kebutuhan modal kerja di setiap pelaku bisnis tersebut.
Subyek Pembiayaan
Stake holder yang tergolong dalam pelaku investasi dan atau pedagang produk pada dasarnya
dapat dibedakan menjadi perseroan terbatas (PT), koperasi atau KUD dan petani individual
(tanpa pabrik). Bagi PT maupun koperasi diperlukan kelengkapan administrasi seperti laporan
keuangan (audit atau unaudit). Beberapa kondisi bahkan diperlukan rencana kerja investasi
proyek (RKP) dan feasibility study (FS) untuk investasi baru atau laporan penilaian aset untuk
pembiayaan investasi refinancing.
Sebagaimana telah diulas dalam bab sebelumnya, seluruh pelaku bisnis tersebut perlu
melengkapi dengan sejumlah legalitas usaha dan legalitas aset yang menjadi alas hak dimana
usaha didirikan dan dijadikan agunan.
Skim Pembiayaan
Skim pembiayaan bila berdasarkan saat dimulainya pembiayaan oleh kreditur dapat dibedakan
pula dalam pembiayaan project financing (dibiayai sejak awal pembangunan kebun dan atau
pabrik), refinancing (setelah selesai dibangun; bahkan terkadang untuk perusahaan besar dapat
bersifat take over dari kreditur lain) dan gabungan antara project financing dengan refinancing
(refinancing bertahap). Investasi dengan pola project financing ataupun refinancing bertahap,
pada umumnya memerlukan pembiayaan bunga masa pembangunan (BMP/Interest During
Construction) dan masa tenggang / grace period yang bervariasi tergantungcashflow masing-
masing investor.
Biaya Proyek Pembangunan Kebun : Biaya pembangunan kebun kelapa sawit baik individual,
koperasi maupun perusahaan dapat mengacu atau menggunakan unit cost yang dikeluarkan oleh
Pemerintah cq Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan baik untuk program
kemitraan revitalisasi perkebunan maupun plasma pola PIR Transmigrasi. Pada dasarnya unsur
unit cost tersebut relatif sama sesuai masing-masing wilayah investasi namun dapat dimodifikasi
dengan keperluan atau penggunaan investasi. Sebagai contoh untuk beberapa investasi
pengolahan lahan tergantung situasi dan kondisi areal yang digunakan (hutan sekunder berbeda
dengan lahan garapan petani). Dalam lampiran x dan x secara detail disajikan nilai investasi per
hektar tanam kelapa sawit untuk tahun tanam 2005, 2006 dan 2007. Beberapa investasi petani
(masyarakat) non program dalam skala kecil seringnya tanpa investasi prasarana, kebutuhan
manajer kebun (dilakukan sendiri) sehingga biaya tersebut dapat diabaikan. Dengan demikian
nilai investasi akan semakin kecil. Rincian investasi kebun kelapa sawit akan diulas menjadi satu
dengan rincian investasi pabrik.
Biaya Proyek Pembangunan Pabrik : Besarnya investasi pabrik pengolah tandan buah segar
kelapa sawit (CPO dan Kernel atau CPO dan PKO) tergantung kapasitas pabrik yang akan
dibangun. Untuk kapasitas yang sama pada umumnya relatif sama namun sedikit berbeda
tergantung wilayah dimana pabrik tersebut akan dibangun dan merk dagang pasokan sejumlah
unit mesin impor. Sama halnya dengan pembangunan kebun, bila diperlukan karena cashflow
belum memungkinkan dapat diberikan pembiayaan bunga masa pembangunan (IDC). Sebaiknya
tidak memberikan pembiayaan kepada invetor yang hanya membangun pabrik tanpa kebun
sendiri meskipun pihak investor biasanya berdalih bermitra dengan sejumlah koperasi atau
masyarakat.
Investasi perkebunan kelapa sawit terintegrasi dengan pabrik kelapa sawit secara umum terdiri
atas :
· Investasi Tanaman dan Non Tanaman
· Investasi Pembangunan Pabik CPO
· Biaya Praoperasi
· Bunga Masa Pembangunan (IDC).
Investasi Tanaman dan Non Tanaman
Rencana investasi pembangunan kebun dapat dilaksanakan dalam beberapa tahun penanaman,
namun pada umumnya dalam satu tahun tanam biasanya investor hanya dapat menanam
maksimal 3.000 hektar. Berikut kami sajikan secara ringkas contoh kebutuhan biaya investasi
untuk penanaman 5.000 hektar sawit yang terdiri dari 2 tahun tanam.
Investasi Pengolahan kelapa Sawit CPO & Kernel
Berikut kami sajikan secara ringkas contoh kebutuhan biaya investasi pembangunan pabrik
pengolahan CPO dan kernel dengan kapasitas 45 ton TBS/jam yang pada umumnya berlangsung
selama 18 bulan.
Biaya Pra Operasi
Biaya Pra Operasi adalah merupakan Biaya Umum dan Administrasi yang berkaitan dengan
Operasional perusahaan selama pembangunan kebun dilaksanakan (untuk investor perseroan
maupun koperasi). Nilai biaya yang dianggarkan rata-rata 5%dari total biaya investasi yang akan
dikeluarkan.
Ringkasan Investasi Tanaman & Non Tanaman
(Rp000)
No. URAIAN FISIK BIAYA
INVESTASI
I TANAMAN
1 Pembibitan 5.000 Ha 13.125.000
2 Pembukaan lahan 5.000 Ha 19.250.000
3 Tanam LCC 5.000 Ha 6.050.000
Penanaman kelapa 5.000 Ha 12.050.000
4 sawit + TBM-0
5 Perawatan TBM – 1 5.000 Ha 19.750.000
6 Perawatan TBM – 2 5.000 Ha 19.950.000
7 Perawatan TBM – 3 5.000 Ha 20.595.000
Sub Total I 110.770.000
No. URAIAN FISIK BIAYA
INVESTASI NON
II TANAMAN
1 Bangunan Perumahan 17.214.000
2 Bangunan perusahaan 4.731.200
3 Mesin dan instalasi 1.450.000
Alat Berat dan 7.583.000
4 Kendaraan
5 Infrastruktur 4.698.000
6 Perlengkapan Lain 2.450.000
Sub Total II 38.126.200
TOTAL I + II 148.896.200
Ringkasan Investasi Pabrik CPO & Kernel Kapasitas 45 ton TBS/Jam
No. URAIAN FISIK BIAYA
1 Preliminaries Ls 1.329.550
Ls 13.400.00
2 Civil & Structural 0
3 Bunch Fruit Reception Ls 4.300.000
4 Sterilizer Station Ls 3.700.000
5 Thressing Station Ls 2.650.000
6 Pressing Station Ls 3.840.000
7 Depericarping Station Ls 660.000
No. URAIAN FISIK BIAYA
8 Clarification Station Ls 6.450.000
9 Kernel Station Ls 2.130.000
Ls 13.670.00
10 Boiler/Power generation 0
11 Water Supply Station Ls 1.520.000
12 Effluent Treatment Plan Ls 1.250.000
Workshop & general Ls 118.300
13 Equipment
14 Empty Bunch Utilization Ls 3.206.650
15 Oil Storage Ls 3.350.000
16 Laboratorium Equipment Ls 525.000
17 Fire Fitting Equipment Ls 830.000
18 Supporting Equipment Ls 9.850.000
72.780.00
Total 0
Komposisi Pembiayaan
Kepada investor perseroan maksimal pembiayaan adalah 65% total project cost (TPC),
sedangkan untuk koperasi maupun petani diperkenankan pembiayaan sebesar 100% TPC.
Namun demikian usulan pembiayaan disesuaikan dengan kondisi kebutuhan debitur dan
keyakinan pemberi kredit. Yang perlu diingat, pinjaman dengan pola skim yang ditetapkan
Pemerintah, maka komposisi pembiayaan mengikuti aturan yang berlaku.
Proyeksi Produksi dan Penetapan Harga Jual
Produksi kelapa sawit disesuaikan dengan umur tanaman. Sesuai dengan hasil analisa kesesuaian
lahan di daerah tersebut, maka kelas lahan digolongkan Lahan kelas 3. Dengan demikian acuan
produksinya mempergunakan acuan Lahan kelas 3.
Harga jual TBS, CPO, Kernel ditetapkan dengan mengikuti faktor penentu harga pasar dan
ketentuan dari Departemen Pertanian..
Proyeksi Harga Jual masing-masing produk, untuk tahun 2007 adalah :
– TBS = Rp. 575,- /Kg
– CPO = Rp. 4.000,-/Kg
– Inti Sawit = Rp. 1.800,- /Kg
Harga jual produk diasumsikan tetap selama tahun proyeksi. Untuk lebih jelasnya perhitungan
proyeksi Penjualan :
Biaya penyusutan & Amortisasi
Biaya ini merupakan biaya penyusutan atas aktiva tetap dan Biaya amortisasi atas aktiva lain-lain
dengan menggunakan metode Straight Line, adalah sebagai berikut :
· Tanaman – prosentase 4,00 % per tahun
· Non tanaman – prosentase 5,00 % per tahun
· Biaya Pra Operasi – prosentase 10,00 % per tahun
· IDC – prosentase 10,00 % per tahun
Pajak penghasilan dan Tingkat Diskonto
Pajak penghasilan (PPh) dihitung sesuai dengan Undang-Undang Pokok Perpajakan yang
berlaku di Indonesia dengan tarif sebagai berikut :
· Laba sampai dengan Rp. 50 Juta dikenakan pajak 10%
· Laba sampai dengan Rp.100 Juta dikenakan pajak 15%
· Laba lebih dari Rp.100 Juta dikenakan pajak 30%
Tingkat diskonto adalah tingkat balikan (rate of return) yang diperlukan untuk mendorong
investor menanamkan dananya pada cash flow yang didiskonto.
Tingkat bunga yang dipakai dalam proses discounting adalah biaya rata-rata tertimbang (Weight
Average Cost of Capital, WACC) yang diperhitungkan dengan mempertimbangkan struktur atau
komposisi modal yang digunakan perusahaan yang berasal dari long term debt dan equity, biaya
atau tingkat bunga pasar pinjaman (cost of debt) dan biaya atau tingkat balikan ekuitas (market
rate of return on equity).
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas, maka tingkat diskonto dalam laporan study
kelayakan ini mengacu kepada rumus :
WACC = (Ke x We) + (Kd x (1-T)x Wd)
Dimana :
Ke : Biaya Equity
We : Prosentase Equity
Kd : Tingkat Bunga Hutang
T : Tingkat Pajak Perseroan
Wd : Prosentase Hutang (Dari Struktur Capital)
Jadi Nilai WACC = (30% x 35%) + (15,5% x(1-30%) x 65% = 17,55 %
Proyeksi Rugi Laba, Proyeksi Arus Kas dan Proyeksi Neraca
Selama tahun investasi yaitu antara tahun 2007 s/d tahun 2010, yaitu tanaman sebagian telah
menghasilkan buah, dan telah mendapatkan keuntungan maupun kerugian.
Mulai tahun 2008, kebun sudah menghasilkan/ memproduksi CPO dan Kernel/Inti Sawit.
Poyeksi Rugi/Laba menunjukkan bahwa tahun 2007 telah mengalami keuntungan sebesar Rp.
4.368.564.000,-
1. Proyeksi arus Kas terdiri dari:
a) Sumber Dana
Sumber dana penerimaan kas dan bank diperoleh dari Penerimaan Penjualan; Hutang Bank;
penyusutan.
b) Pengeluaran Dana
Pengeluaran dana kas dan bank untuk biaya investasi tanaman; non tanaman; biaya pra operasi
dan manajement fee; biaya operasional; pembayaran bunga bank KI + IDC; pembayaran pajak;
pembayaran hutang (KI & IDC); pembayaran dana talangan.
Proyeksi Neraca perusahaan menunjukkan dalam kondisi yang cukup baik. Selengkapnya
proyeksi neraca perusahaan dari tahun 2007 s/d tahun 2020 ditampilkan pada.
Analisa Kelayakan Usaha dan Internal Rate of Return
Untuk menganalisa kelayakan usaha suatu proyek, maka diperlukan adanya indikator-indikator
yang umumnya dipakai, antara lain Internal Rate of Return (IRR); Net Present Value (NPV);
Pay Back Period (PBP) dan Profitability Index (PI).
Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat balikan suatu investasi dimana pada saat itu Net
Present Value adalah 0. Suatu Investasi dapat dikatakan layak dan menguntungkan untuk
dijalankan apabil nilai IRR lebih besar dari Cost of Capital yang ditentukan (17,55 %).
Analisa Internal Rate of Return (IRR) pada proyek ini menunjukkan bahwa nilai Perhitungan
IRR adalah = 21,31 %. Sehingga proyek untuk kedua koperasi ini layak untuk dilaksanakan
dipandang dari segi finansial.
Net Present Value
Net Present Value adalah selisih antara serangkaian penerimaan dimasa yang akan datang setelah
dinilai saat ini (memakai discount factor) dengan pengeluaran (investasi) yang dilakukan pada
saat ini. Dalam perhitungan NPV ini, diasumsikan/ diperhitungkan setiap transaksi yang terjadi
akan dinilai pada akhir tahun. Suatu investasi dikatakan layak dan menguntungkan untuk
dijalankan apabila nilai NPV menunjukkan angka positif.
Profitability Index, Pay Back Period dan Analisa Sensitifitas
Profitability Index merupakan perbandingan antara nilai sekarang aliran kas masuk dibanding
dengan nilai investasi. Nilai Profitability Index (Benefit Cost Ratio) = 119 %.
Dengan demikian menunjukkan angka lebih dari angka 100%. Berarti proyek tersebut layak
untuk diusahakan.
Analisa Pay Back Period merupakan penentuan jangka waktu yang dibutuhkan untuk menutup
initial investment dari suatu proyek dengan menggunakan cash inflow yang dihasilkan dari
proyek tersebut.
Berdasarkan perhitungan dan analisa diperoleh bahwa ternyata perusahaan akan mampu
mengembalikan seluruh investasinya sesudah berjalan : 8 tahun dan 6 bulan.
Perhitungan analisa sensitifitas bermaksud menguji analisa kelayakan usaha manakala terjadi
perubahan-perubahan dalam berbagai faktor yang mempengaruhi. Biasanya analisa dilakukan
dalam beberapa skenario antara lain bila terjadi kenaikan biaya sebesar 5% atau 10% pada tahun-
tahun yang bersangkutan dengan asumsi faktor lainnya tetap atau terjadi penurunan pendapatan
sebesar 5% atau 10% pada tahun-tahun yang bersangkutan dengan asumsi faktor lainnya tetap.
Hasil analisa memberikan informasi berupa IRR, NPV, profitability index dan pay back period.

Incoming search terms / Hasil Pencarian Anda :

 yhs-fullyhosted_003
 contoh proposal perkebunan kelapa sawit
 analisa usaha perkebunan kelapa sawit
 rincian biaya tanam sawit 1ha
 contoh proposal perkebunan sawit lengkap dengan laporan keuangan
 rincian biaya penanaman sawit
 contoh proposal pendirian pabrik kelapa sawit
 kredit sawit
 pinjaman takeover kebun sawit
 analisa usaha kebun sawit
 Cara Perhitungan harga tbs dibandingkan dengan cpo
 analisa pembiayaan kelapa sawit
 pembiayaan perkebunan kakao
 idc adalah bunga masa pembangunan
 modal bisnis kelapa sawit
 modal kebun sawit
 nilai ekonomi 1hektar sawit vs kakao
 nilai investasi perkebunan kelapa sawit 2015
 pengertian depericarping pada kelapa sawit pdf
 pembiayaan kebun dan industri turunan kelapa sawit pdf
 pembiayaan menanam sawit
 pembiayaan perkebunan
 Menghitung kebutuhan lahan perkebunan doc
 menghitung biaya produksi pada kelapa sawit
 kelapa sawit terintegrasi
 keuntungan menanam sawit
 kalkulasi usaha pabrik sawet
 kredit idc adalah
 kredit kebun sawit di bank
 kalkulasi kebun sawit
 kalkulasi budidaya sawit 2015
 kalkulasi budidaya sawit
 kumpulan soal IRR
 IDC kebun kelapa sawit
 keuntungan budidaya kelapa sawit
 Pengertian idc dalam analisa usaha industri
 rincian biaya kebun sawit
 rincian biaya pembukaan perkebunan kelapa sawit
 Pengertian retirn pada perusahaan kelapa sawit
 rincian biaya tanam sawit per ha 2015
 rincian MODAL KERJA KELAPA SAWIT
 rincian modal usaha kebun karet 2015
 siapa yang menguji kelayakan bangunan industri farmasi
 standard cost perha perkebunan kelapa sawit
 struktur biaya pengelolaan kebun kelapa sawit kelas kecil
 syarat kridit usaha per kebunan kelapa sawit
 tarif penyusutan biaya pra usaha
 refinancing pada koperasi
 proyeksi cash flow untuk usaha pabrik kelapa sawit
 proposal kelapa sawit
 pengertian investasi perkebunan kelapa sawit
 perhitungan investasi kelapa sawit
 peraturan tentang kredit interest during construction 2014
 perhitungan biaya pembangunan kelapa sawit
 perhitungan biaya pembukaan kebun sawit 2015
 perhitungan biaya perkebunan karet secara rinci
 perhitungan bunga IDC
 perhitungan bunga kredit bank untuk kebun kelapa sawit
 perhitungan untung rugi menanam sawit sekarang
 persentase biaya tanam sawit
 proposal biaya penanaman kelapa sawit
 UNIT COST SAWIT PER TAHUN TANAM
 hitung keuntungan usaha sawit
 analisa bank terhadap pembiayaan kebun
 berapa keuntungan pabrik PKO
 biaya invest pabrik pko mini
 biaya pembukaan lahan kepala sawit
 biaya praoperasi kebun kelapa sawit
 biaya revitalisasi kebun sawit per hektar
 biaya sarana produksi kelapa sawit per ha per tahun
 budget kelapa sawit
 buka lahan kelapa sawit minjam bank
 cara buat laporan di pabrik kebun sawit
 cara menghitung buged Pabrik sawit
 cara menghitung idc
 bank yang penyedia pengajuan pembiayaan perkebunan kelapa sawit 2015
 bagaimana cara menghitung investasi kebun sawit
 artikel analisa usaha perkebunan kelapa sawit
 analisa bisnis bertanam kelapa sawit
 analisa finansial kebun sawit skala kecil
 analisa kebun sawit
 analisa kredit perbankan pembiayaan perkebunan kakao
 analisa laporan keuangan kelapa sawit
 Analisa pembukaan lahan
 analisa perkebunan sawit
 analisa usaha biaya perawatan kelapa sawit lengkap
 analisia bank terhadap kelapa sawit
 analisis kredit usaha perkebunan kelapa sawit
 Analisis usaha kelapa sawit
 cara menyemai biji sawit dari buah kebun sendiri
 cara pembelian kebun sawit tanpa modal
 cara pengajuan pinjaman ke bank petani sawit individu
 contoh proposal laporan biayaa pembukaan lahan kelapa sawit
 contoh proposal usaha kelapa sawit
 contoh proposal usaha perkebunan kelapa sawit
 contoh rancangan biaya kebutuhan investasi lengkap
 cost investasi kelapa sawit
 cost investasi perkebunan kelapa sawit
 cost modal tanam sawit
 cost per ha kebun sawit