Anda di halaman 1dari 4

Dari Bentangan Langit

By Emha Ainun Nadjib


Dari bentangan langit yang semu
Ia, kemarau itu, datang kepadamu

Tumbuh perlahan. Berhembus amat panjang


Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan
menyapu hutan!

Mengekal tanah berbongkahan!


datang kepadamu, Ia, kemarau itu
dari Tuhan, yang senantiasa diam
dari tangan-Nya. Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa
yang senyap. Yang tak menoleh barang sekejap.

1. Judul : Dari Bentang Langit

2. Analisis judul :

3. Buat narasi mengenai puisi : Puisi yang berjudul “Dari Bentangan Langit”
yang dimaksudkan dengan menggambarkan kehidupan yang ada muka bumi
ini. Puisi ini bertema relegius sebab puisi tersebut mengilustrasikan tentang
seseorang yang berusaha untuk mengingatkan sesamanya akan cobaan yang
akan datang dari Tuhan.

4. Judul dan puisi sesuai atau tidak : Iya

5. Makna Puisi :

 Mengingatkan kita akan ujian yang datang dari Allah SWT.


 Mengingatkan kepada manusia untuk slalu menjaga dan bersyukur atas
karunia yang sudah diberikan.

6. Figure of speech :
 Majas Metaphor adalah pemakaian kata atau kelompok kata yang bukan
dengan arti sesungguhnya, melainkan lukisan yang berdasarkan persamaan
atau perbandingan.
 Kemarau = Cobaan
Kata “Kemarau” secara konotasi melambangkan sebagai “Cobaan”,
karena Kemarau identik dengan kekeringan, kelangkaan, dan
kesulitan.
 Lautan , hutan, tanah berbongkahan = segala sumber daya alam,
segala harta yang kita miliki.
 Tangan = Tuhan

 Majas Personifikasi merupakan majas yang mengungkapkan benda yang


tidak bernyawa seolah memiliki sifat seperti manusia.
 ‘Kemarau itu, datang kepadamu’. Padahal pada kenyataannya
kemarau tidak bisa ‘datang’ seperti datangnya manusia ke suatu
tempat. Kemarau disini juga digambarkan dapat ‘menyapu’ dan juga
‘mengekal/memegang’ padahal kemarau tak punya tangan sebab
kemarau bukan manusia, kemarau –secara harfiah− adalah musim.

 Majas pars pro toto adalah majas yang menggunakan sebagian dari
objek/unsur untuk mewakilkan keseluruhan objek tersebut. ‘Tangan’ yang
dimaksud adalah ‘tangan Tuhan’. ‘Tangan’ yang berusaha menggapai
manusia dengan cara-Nya sendiri. Dengan demikian, ‘Tangan’ disini
mewakili Tuhan.

7. Tune : Dengan latar suasana yang tergambar puisi ini adalah suasana yang
cukup mencekam dan sedih sehingga intonasinya nada rendah pada bait
pertama dan tinggi pada bait kedua dan ketiga ketika bertemu dengan
kalimat yang menggunakan tanda seru.
I Shall Imagine Life Karya : E.E. Cummings

I shall imagine life


is not worth dying, if
(and when) roses complain
their beauties are in vain

but though mankind persuades


itself that every weed's
a rose, roses (you feel
certain) will only smile

8. Judul : I Shall Imagine Life

9. Analisis judul : Pengarang ingin ketika pembaca melihat judulnya untuk


pertama kali, imajinasi liarnya dan berpikir lebih dalam saat membaca
puisinya.

10.Buat narasi mengenai puisi : Puisi ini bercerita tentang sebuah pesan yang
diutarakan author untuk tidak melihat sesuatu dari luarnya saja, dan
cenderung membandingkan dirinya dengan yang lain. Sehingga adanya
usaha untuk menyamakan dirinya dengan yang lain.

11.Judul dan puisi sesuai atau tidak : Iya

12.Makna Puisi :

 Mengajarkan kepada kita untuk tidak selalu mengeluh.


 Mengajarkan kepada kita untuk tidak membandingkan diri dengan orang
lain.

 Mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan tidak ada yang instan.

 Mengajarkan kepada kita untuk bangga dengan usaha kita sendiri untuk
mencapai keberhasilan.

13.Figure of speech :
 Majas Metaphor adalah pemakaian kata atau kelompok kata yang bukan
dengan arti sesungguhnya, melainkan lukisan yang berdasarkan persamaan
atau perbandingan.
 Roses = Human / I
 Majas Antropomorfisme adalah majas yang memakai kata yang terkait
dengan manusia tapi dipakai pada benda lain.
 Roses complain their beauties are in vain.

 Majas Personifikasi merupakan majas yang mengungkapkan benda yang


tidak bernyawa seolah memiliki sifat seperti manusia.
 Roses complain
 Roses ( you feel certain)will only smile

14.Analisi Diksi

Konotasi : if (and when) roses complain their beauties are in vain.

15.Tone : puisi ini menetapkan nada tanya dan hopeful tone.